gil Profile picture
Sep 15 103 tweets 19 min read
Cerita ini sudah tamat di karyakarsa :

Bagian 3 - karyakarsa.com/AgilRSapoetra/…

Bagian 4 - karyakarsa.com/AgilRSapoetra/…
Bagian 1 dan 2 udah up di twitter ya, bisa dibaca dulu buat yang belum sempet baca biar nyambung ya.

Bagian 1 :

Bagian 2 :

Kalau udah langsung aja kita mulai tipis-tipis ya!!! :))
Seminggu berlalu sejak kematian Suryani, kini Waluyo memilih mengamankan diri pergi dari rumahnya pindah kerumah ibunya (Mbah Sosro) untuk sementara waktu. Mbok Menik dan Sulis mungkin tak akan banyak disebut dalam bagian ini, karena sejak saat itu juga mereka di perkenankan-
-untuk pulang kerumahnya masing-masing.

Tinggalah Waluyo kini bersama Ibunya dan Pamannya Lik Dirman yang rumahnya bersebelahan, sejak kamatian sang istri, Waluyo tampak stres, pikirannya selalu dihantui oleh serangan teluh di rumahnya yang diduga kuat telah merenggut nyawa-
- istrinya itu. Apakah ini sudah berakhir?.

“Man iki kepiye yo apike?, Luyo kok dadi koyo wong ‘Ngengleng’ ngono saiki?”.

(Man ini gimana ya baiknya?, Waluyo kok sekarang jadi seperti orang stres begitu?). Ucap Mbah Sosro kepada Lik Dirman di dalam obrolan sore itu.
“Kui isih lumrah Mbakyu, Luyo iku bar ngalami cobo sing abot, abot banget Mbakyu”.

(Itu masih wajar Mbakyu, Waluyo kan habis mengalami cobaan yang berat, sangat berat Mbakyu). Jawab Lik Dirman menanggapi kegelisahan Mbah Sosro itu.
“Saiki piye carane wae, awak dewe ngerti sopo sing ngirim teluh kui, mungkin kabeh iki iso mandek”.

(Sekaramg bagaimana caranya saja kita tahu siapa yang mengirim teluh itu, mungkin semua ini masih bisa dihentikan). Ucap Lik Dirman lagi.
“Angel, Man, angel!! Waluyo wes keno ‘SURENGKALA’, Mungsuhe wes nangdi-nangdi!!”.

(Sulit Man, Sulit!! Untuk memetakan itu, Waluyo sudah terkena ‘SURENGKALA’, Musuhnya ada dimana-mana!!). Kata Mbah Sosro dengan nada yang terdengar agak putus asa.
Hingga pembicaraan itu pun terhenti oleh suara langkah kaki Waluyo yang keluar dari kamar, dengan langkah gontai Waluyo datang menghampiri ibu dan pamannya yang tengah berbincang diruang tamu itu. Wajahnya tampak pucat, lusuh dan badannya yang terlihat mengurus. Waluyo duduk-
-di tengah-tengah ibu dan pamannya itu dan berkata :

“Mbok..Pocong kui ngadeg terus ning njero kamar..”.

(ibu.. Pocong itu berdiri terus di dalam kamar..). Kata Waluyo kepada Mbah Sosro dengan gemetar.
Mbah Sosro hanya terdiam dan melirik ke arah Lik Dirman yang bergegas berlari ke kamar Waluyo, memeriksa dan mengobrak-abrik seluruh kamar. Namun tak ditemukan apa-apa, selain bau wangi bunga kemuning yang tak berhasil di temukan sumbernya di dalam kamar itu. Lik Dirman dengan-
- penciumannya mulai mengikuti bau wangi itu yang justru menuntunnya keluar dan melangkah hingga akhirnya ditemukanlah titik bau itu yang ternyata berada dalam tubuh Waluyo.

“Onooo..opo Lik”.
(Ada apa paman?). Ucap Waluyo layu, seraya melihat Lik Dirman yang tampak ‘Membaui’-
- badannya.

“Oo..ra popo nang..”.
(ti..tidak apa-apa kok..). Jawab Lik Dirman dengan sedikit gugup.

-------

Singkat cerita malam pun tiba, Waluyo sudah berada dikamarnya, entah tidur atau mengurung diri, yang jelas pintunya-
Dikunci, Mbah Sosro yang sempat beberapa kali mengetuk untuk memeriksa keadaan anaknya itu pun cukup dibuat panik setelah tak ada jawaban dari Waluyo. Malam itu sekitar pukul 10 malam, Mbah Sosro pergi ke rumah Lik Dirman untuk memberitahukan hal ini. Dengan tergopoh-gopoh--
-ia menerobos masuk kerumah Lik Dirman yang untungnya masih terjaga.

“Ono opo Mbakyu!!?”.
(Ada apa Mbakyu!!?). Kata Lik Dirman yang waktu itu tengah menyesap kopi di ruang tamunya.

“Luyo!! Kancingan ning kamar!!, tak dodok-dodok kit mau ra nyaut!!”.
(Waluyo mengunci dirinya-
-di dalam kamar, aku ketuk-ketuk dan panggil, dari tadi ndak mau nyaut!!). Kata Mbah Sosro dengan sedikit panik.

Lik Dirman pun bangkit dan bergegas memeriksa Waluyo di rumah Kakak itu.

“Ayo didobrak wae Mbakyu!!”.
(Ayo kita dobrak saja Mbakyu!!). Kata Lik Dirman-
seraya berjalan kerumah Mbah Sosro yang hanya berjarak beberapa meter saja.

Setelah sampai mereka pun masuk, Lik Dirman langsung menuju kamar dimana Waluyo berada dan mengetuknya.

“tok..tok..tok..yoo.. Luyooo”. Begitu ketuk Lik Dirman secara berulang kali.
Hingga setelah dirasa cukup lama dan tidak ada sambutan dari Waluyo, Lik Dirman pun meminta ijin kepada Mbah Sosro untuk membuka paksa pintu itu.

“Tak congkel yo Mbakyu lawange?”.
(Saya congkel ya Mbakyu pintunya?). Kata Lik Dirman yg direspon oleh Mbah Sosro dgn anggukan-
-kepala.

Lik Dirman bergegas mengambil linggis kerumahnya dan kembali lagi beberapa saat kemudian untuk mencongkel pintu itu, hingga setelah beberapa menit berusaha akhirnya pintu kamar itu berhasil dibuka dengan paksa. Mbah Sosro dan Lik Dirman bergegas masuk dan menghampiri-
-Waluyo yang tampak terbaring, dengan penuh kekhawatiran, Mbah Sosro menggoyangkan tubuh anaknya itu.

“yo... Luyo...!!!, tangi!!”. Ucap Mbah Sosro dengan wajah yang tampak panik.
Namun akhirnya merekapun bernafas lega ketika mendengar sambutan dari Waluyo yang terbangun.

“Opo to Mbok... “
(apa sih buk??). Ucap Waluyo seraya mengusap-usap matanya.

Namun seakan tak terjadi apa-apa, Waluyo kembali memalingkan tubuh dan seperti melanjutkan tidurnya,-
- hingga Mbah Sosro yang sempat sedikit heran pun memutuskan untuk kembali membiarkan anaknya itu kembali melanjutkan tidurnya.

Mbah Sosro dan Lik Dirman keluar dari kamar seraya menggeleng-gelengkan kepalanya, seakan heran tapi tak bisa menjelaskan semua ini dengan kata-kata.
“Wes Mbakyu, ojo terlalu khawatir”.
(sudah Mbakyu, jgn terlalu khawatir). Ucap Lik Dirman yg kini duduk diruang tamu bersama Mbah Sosro.

Selang satu jam kemudian sekira pukul 23.30, Lik Dirman pulang kembali kerumahnya meninggalkan Mbah Sosro yg juga tampak berjalan masuk-
-menuju kamarnya untuk beristirahat, sebelum memasuki kamarnya, sejenak Mbah Sosro menengok ke kamar Waluyo, & terlihat disana dia baik-baik saja, tertidur seperti orang sewajarnya. Mbah Sosro menghela nafas panjang & berjalan perlahan masuk ke kamarnya.

karyakarsa.com/AgilRSapoetra/…
Detik berganti menit, menit pun berganti dengan jam, suasana rumah nampak sepi dan tenang Mbah Sosro sudah terlelap begitu juga dengan Waluyo. Namun ternyata tidak untuk Lik Dirman yang berada di rumahnya. Beliau masih terjaga memikirkan keadaan kakak dan keponakannya.
Lik Dirman gelisah menghubak-habik ke kanan dan ke kiri di atas tempat tidurnya, hingga akhirnya kegelisahan itu membuatnya bangkit dan beranjak, Lik Dirman membuat kopi dan kini ia duduk diruang tamu sambil menghisap rokoknya.
“Santet macam apa ini!!”. Batin Lik Dirman seraya merenung memandang luar rumahnya dari balik jendela.
Renungan itu tak jg terhenti hingga ia tak sengaja tertidur di atas kursi yg ia duduki. Entah berapa lama Lik Dirman tertidur yg jelas ia kembali di bangunkan oleh sesuatu.
“Tok..tok..tok..tok..tok..tok..”. Seperti Suara jentikan jari yg mengetuk kaca jendela itu membangunkannya.

Dengan mata yg masih sayu, Lik Dirman terbangun, memandang lurus ke kaca jendela dimana suara ketukan itu berasal, namun kini hening. “Ah mungkin cuma mimpi”. Batinnya.
Hingga ia pun kini bangkit & hendak beranjak menuju kamarnya.

Namun beberapa saat ia berjalan, suara itu muncul lagi.
“Tokkk...tokkkk..tokkk.tok..tok..tokk!!!”.

Mendengar itu, tentu spontan Lik Dirman menghentikan langkahnya dan tanpa ragu membalikkan tubuhnya, dengan cepat-
- Lik Dirman memeriksa jendela itu, meregangkan matanya sampai hampir menempel di kaca jendela itu, matanya menerawang kearah luar rumahnya, tak ada apapun selain kegelapan dan temaram lampu jalan di depan pagar rumahnya. “Angin mungkin”. Pikirnya seraya melepaskan-
-pandangannya berpindah ke arah depan rumah kakaknya yang berada tepat di samping rumahnya itu. Dan disinilah ia terkejut!! Karena ketukan itu terdengar lagi, dan lebih jelas getaran yang Lik Dirman rasakan diwajahnya. “Tok..tok..tok..!!!”.
Sontak pandangannya kembali ke arah sumber suara dan betapa kagetnya ketika sosok wajah berbungkus kain putih kini berada di balik kaca jendelanya. Matanya merah!!! Dan mulutnya terbuka!!. Image
“Aghstafirullah!!!!”. Ucap Lik Dirman yang terkejut dan terjatuh di lantai ruang tamunya.

“Ssssopo kowe!!!! Lungo seko kene!!!”.

(Ss..ssiapa kamu!!! Pergi dari sini!!!). Ucap Lik Dirman dengan terbata kepada sosok pocong itu.
Sosok itu hanya terdiam dgn masih terus membuka mulutnya. Lik Dirman merangkak mundur tanpa sedetik pun pandangannya berpaling dari sosok itu. Ia berdoa sebisanya dlm hati meski itu tak cukup bekerja. Hingga akhirnya sosok pocong di balik jendela itu pun hilang dengan sendirinya.
Jam sudah menunjukan pukul 03.30, sudah hampir subuh. Lik Dirman yg masih dibayangi sosok itu pun kini mencoba bangkit & kembali masuk ke kamarnya. Didalam ia merenung, ia yg biasanya tak takut bersentuhan dengan hal seperti ini pun seketika nyalinya runtuh, luluh lantah!!.
Baru kali ini ia berhadapan dengan lelembut sejelas itu. Tangannya gemetar seraya berdzikir memegang tasbih hingga adzan subuh terdengar.

Singkat waktu sekira pukul 05.00 saat mentari mulai muncul, buru-buru Lik Dirman bergegas ke rumah Mbah Sosro kakaknya.
"Mau bengi, aku wes ditemoni pocong iku Mbakyu”.

(Semalam aku sudah ditemui oleh pocong itu Mbakyu). Kata Lik Dirman kepada Mbah Sosro didepan tungku perapian di ruang dapur.

“Podo Man..”.
(Sama Man..). Jwb Mbah Sosro singkat.

“Opo Luyo kudu di pangan karo kui yo, Man,-
-njuk kabeh iki iso rampung?”.
(Apa Waluyo harus direnggut dulu ya Man, baru semua ini bisa berakhir?). Kata Mbah Sosro lagi setelah beberapa saat mereka terdiam.

Namun belum sempat Lik Dirman menanggapi, suara teriakan Waluyo terdengar dari kamarnya, memecah pembicaraan itu.
Bergegas mereka berdua memeriksanya. Dan tampaklah Waluyo yang tengah menggelinjang kesakitan di atas tempat tidurnya.

“Nyebut nang!!..nyebut!!”. Ucap Lik Dirman yang dalam waktu yang bersamaan juga menyadari ada ruam-ruam dan lebam yang muncul di tangan dan kaki Waluyo.
“Panas..panas..panas.!!!”. Erang Waluyo yang tampak kesakitan.

“Opo sing dirasakke!?”.
(Apa yang kamu rasakan!?). Ucap Lik Dirman dengan gugup dan panik.

“Panas Lik.. Gatel, Panas!!”. Jawab Waluyo seraya mengerang dan kini tampak menggaruk-garuk luka ruam dan lebam itu.
Mbah Sosro segera mengambil kain sarung, dan mengipas-ngipaskannya ke tubuh Waluyo.

“Ning rumah sakit wae yo nang.. Ning rumah sakit!!”.
(Ke rumah sakit saja ya nak.. Ke rumah sakit!!”. Kata Mbah Sosro sambil terus mengipaskan kain sarung untuk meringankan rasa--
-- sakit yang dialami oleh anaknya itu.

Singkat cerita Hari itu juga, Waluyo dibawa ke rumah sakit untuk dirawat. Dan kabar yang cukup mencengangkan pun terdengar dari keterangan pihak medis yang menangani Waluyo. Bahwasanya Waluyo sepertinya sudah mengalami penyiksaan karena--
--dilihat dari luka-luka bakar dan lebam yang terdapat di tubuh Waluyo. Lantas siapa yang menyiksanya?. Mata Mbah Sosro dan Lik Dirman tampak terbelalak mendengar keterangan dokter itu. Namun mereka tak bisa bicara banyak ketika pihak rumah sakit bertanya apakah Waluyo habis--
--mengalami pengeroyokan, penganiayaan atau semacamnya?.

Hingga hari pun berlalu setelah seminggu Waluyo berada dirumah sakit ia pun mulai stabil dan dibawa pulang kembali kerumah Mbah Sosro.

“Mengko aku arek berseh ning kuburane Yani Mbok”.
(Nanti aku mau ziarah ke makam--
-- Suryani Buk). Ucap Waluyo didalam perjalanan mobil dari rumah sakit menuju rumahnya.

“Sesuk wae bar matangpuluh, saiki kowe ngaso sek ben seger awake”.
(Besok saja setelah 40hari, sekarang kamu istirahat dulu biar bugar badannya). Jawab Mbah Sosro didalam mobil itu.
Hingga kejadian aneh terjadi di perjalanan itu, saat mobil yang mereka naiki berhenti di lampu merah. Seorang pria tua tiba-tiba menghampiri, dengan pakaian yang lusuh dan compang-camping, entah itu pengemis atau orang gila, yang jelas pria tua itu mulai menempelkan wajahnya--
-- di kaca mobil yang mereka naiki itu. Berkeliling seakan ingin melihat siapa dan apa yang ada didalam.

Hingga ketika pria tua itu sampai di area kaca yang dekat dengan dimana Waluyo duduk, pria tua itu terhenti, dan semakin melihat menerawang seraya menguncupkan kedua--
-- tangannya yang mungkin untuk memperjelas pandangannya. Dan setelah melihat Waluyo, Pria tua itu tersenyum dan berkata.

“MATI...!!!! MATI!!!!!.... MATI!!!!”. Ucap pria misterius itu hingga mobil pun kembali melaju karena lampu sudah hijau. Image
Waluyo hanya menatap kebingungan setelah melihat itu. Ia sedikit menggeser posisi duduknya mendekati Mbah Sosro yang juga tampak syok. Namun tak ada kata yang terucap hingga akhirnya mereka semua sampai di rumah.

Bersambung karyakarsa.com/AgilRSapoetra/…
Dengan hati-hati Lik Dirman memapah Waluyo yang sebenarnya masih agak lemah untuk masuk ke dlm rumah. Menuntunnya hingga masuk ke kamar.

“Wegah..wegah!!, aku ora’an ning kamar iki”.
(Tidak!!..tidak.. Aku tidak mau dikamar ini). Ucap Waluyo yg sepertinya mengingat sesuatu
.
Hingga Mbah Sosro yang menyusul dari belakang pun menunjukkan kamar yang lain. Yaitu kamar Mbah Cokro mendiang Ayah Waluyo. Ia masuk dengan perlahan dituntun oleh Lik Dirman dan Mbah Sosro dibelakangnya. Sepasang keris yang terpajang didinding kamar itu seketika mengalihkan--
--pandangan Mbah Sosro yang kini terlihat menghela nafas panjang.

“Seandainya dahulu aku tidak pisah ranjang, mungkin aku bisa mendidik Waluyo menjadi manusia yang lebih luhur”. Begitu batin Mbah Sosro dalam lamunan sejenak didalam kamar mendiang suaminya itu.
“Wes kowe turu kene sik, mengko Mbok Menik tak undange rene, ben ngrewangi aku ngurus-urus omah”.

(Sudah, kamu tidur sini dulu, nanti Mbok Menik aku panggil kesini, untuk membantuku mengurusi rumah ini). Kata Mbah Sosro kpd Waluyo kala itu.
Tak terasa sore pun tiba, Lik Dirman yg sudah selesai dgn urusan rumahnya tampak berjalan kembali menuju rumah kakaknya itu.

“Luyo gek opo Mbakyu?”.
(Waluyo sedang apa Mbakyu). Kata Lik Dirman setelah masuk kedalam rumah & melihat Mbah Sosro yg tengah menjahit di ruang tamu.
“Lagi turu, mau bar mangan, entek akeh banget”.
(Lagi tidur.. Tadi habis makan banyak banget). Jwb Mbah Sosro yg tampak sedang menjahit sebuah kain sarung.

“Oh Sokor nek ngono”.
(oh.. Syukurlah kalau begitu..). Ucap Lik Dirman sambil berjalan masuk menuju dapur karena ingin--
--membuat kopi.

Lik Dirman berjalan santai, tapi pendengarannya teralihkan ketika ia melewati kamar yg kini ditempati Waluyo. Sempat terlewat beberapa langkah, Lik Dirman pun kini menghentikan langkahnya dan mengendap mundur. Dan tepat di depan kamar itu,--
--sayup-sayup Lik Dirman mendengar suara, lebih tepatnya suara 2 orang yg tengah berbicara.

“Sedang ngobrol dengan siapa Waluyo ini?”. Batin Lik Dirman seraya mendekati kamar itu dan meraih gagang pintunya.

“Luyo...Luyo...luyo”. Panggil Lik Dirman pelan dari luar kamar. Image
Suara itu masih terdengar, Lik Dirman yg penasaran pun perlahan membuka pintu dan masuk kedalam kamar. Dengan jantung yang berdegup kencang, ia memeriksa ke kanan & ke kiri, suara itu seketika hilang, tak ada yg terlihat kecuali Waluyo yg tampak terlelap di atas tempat tidur.
“Opo to iki!!!”. Batin Lik Dirman seraya keluar dari kamar itu tanpa sempat menutup pintunya kembali.
Namun baru beberapa langkah Lik Dirman meninggalkan kamar itu. Tiba-tiba.. “krenyiiiieettttt!!”. Suara krenyitan pintu yang bergerak menghentikan langkahnya.
Sontak ia yang membalikkan pandangannya kini melihat pintu itu tertutup dengan sendirinya, perlahan namun kuat di akhirnya. “jegleg!!!!”.

Lik Dirman yang merasa janggal pun urung membuat kopi dan kembali keluar menuju ruang tamu, duduk di samping Mbah Sosro yang masih--
--belum selesai dengan jahitannya.
“Lha ndi, tak kiro kowe ki nggawe kopi to?”.
(Lha mana, aku kira kamu itu bikin kopi to?). Tanya Mbah Sosro yang melihat Lik Dirman kembali ke ruangan itu dengan tangan hampa.

“Ora sido Mbakyu, kopine kopi warung dudu kopi asli”.
(Gak jadi-
--Mbakyu, kopinya kopi warung, bukan kopi asli). Kata Lik Dirman mengarang-ngarang alasan.

“Mulo nek goleki kui gowo Mripat!!, ojo gowo dengkul!!, wes tunggu kene tak gawekke aku!!”.
(Makanya kalau nyari itu pakai mata, jangan pakai dengkul!!,--
-- sudah tunggu sini, aku buatkan!!). Kata Mbah Sosro sambil bercanda.

Diruang tamu, Lik Dirman tampak gelisah, tentu memikirkan suara dikamar itu, nalarnya mulai kacau memikirkannya. Diambilah sebatang rokok dari sakunya, Lik Dirman mulai menghisap rokoknya dengan penuh--
--kegelisahan. “apa harus aku ceritakan ya?”. Batin Lik Dirman diantara sesapan rokok kreteknya itu.

Tak selang beberapa lama, Mbah Sosro pun datang membawa dua cangkir kopi untuk dirinya dan Lik Dirman.

“Iki Man!!, kopi bubuk khas persil Sosrosoemantri!!!”.
(Ini Man!!!--
-- Kopi bubuk khas kebun Sosrosoemantri!!!). Canda Mbah Sosro seraya menyodorkan cangkir ke depan Lik Dirman.

Lik Dirman pun sedikit tertawa sambil menyambut & menyeruput kopi yang diberikan oleh kakaknya itu. Sejenak mereka mengobrol tentang masa lalu hingga akhirnya ditengah-
--pembicaraan, Lik Dirman pun mulai membuka topik yang memang sangat ingin ia ungkapkan saat ini.

“Sakdurunge sepurane lho Mbakyu”.
(Sebelumnya minta maaf lho Mbakyu). Ucap Lik Dirman membuka topik itu.

“Sepurane piye Man?, masalah Waluyo?”.
(Minta maaf gimana Man?,--
--masalah Waluyo). Jawab Mbah Sosro yang langsung tahu arah topik pembicaraan itu.

“Eh, ho’o Mbakyu, sampean ngroso ra? Nek Luyo saiki malih koyo cah cilik?”.
(Eh, iya Mbakyu, dirimu ngerasa gak?Kalau Waluyo sekarang berubah sikapnya seperti anak kecil?").
--Kata Lik Dirman seraya mendekatkan posisi duduknya ke Mbah Sosro.

“Iyo sih Man, aku ngeroso, tapi mungkin kui mergo deknen loro kui to?, tapi aneh sih”.
(iya sih Man, aku merasa, tapi bukankah itu karena dia sakit itu kan, tapi kalau dilihat-lihat, aneh juga sih). Jwb Mbah-
--Sosro seraya mengrenyitkan dahinya.

“Sampean kroso ra, nek Luyo saiki aneh?”

(Apakah dirimu merasa kalau sekarang Waluyo aneh?). Kata Lik Dirman yg mulai tampak kesulitan menjelaskan ini semua.

Obrolan itu pun makin panjang & dalam hingga mencapai kesimpulan bahwasanya-
-Mbah Sosro yg sudah bersama Waluyo hampir sebulan ini merasa ada sesuatu yg mengikuti Waluyo, Meski Mbah Sosro tak bisa menjelaskannya tapi ia sepertinya sangat yakin dgn hal itu, begitu jg Lik Dirman yg juga menyakini ini semua. “Ada sesuatu jahat, bersemayan dlm tubuh Waluyo”.
Semua ini didukung juga oleh perubahan Waluyo seiring bergulirnya waktu.

Tak terasa obrolan itu pun terhenti oleh suara adzan magrib yg berkumandang. Tampak perubahan raut wajah dari Mbah Sosro setelah pembicaran yang cukup panjang itu.
“Mengko bengi, kowe turu kene yo Man, aku dikancani!!”.

(Nanti malam, km tidur disini ya Man, aku ditemani!!). Kata Mbah Sosro saat Lik Dirman hendak pulang.
Ia pun mengiyakannya meski sebenarnya ia mulai merasa takut,

tapi siapa lagi saat ini yg harus ada kalau bukan dia?.
Singkat cerita malam pun tiba, sesuai permintaan kakaknya, Lik Dirman pun tidur dirumah Mbah Sosro dgn keberanian yg tak seberapa itu. “Cuma tidur saja!!, sangat sederhana!!”. Batin nya yang duduk di ruang tamu sambil mendengarkan siaran radio untuk membunuh waktu di malam itu.
Jam pun terus bergulir, Lik Dirman, Mbah Sosro dan Waluyo yang sempat makan bersama pun kini tampak bersiap untuk beristirahat. Lik Dirman memilih untuk tidur di ruang tamu. Gerah menjadi alasannya saat itu.

karyakarsa.com/AgilRSapoetra/…
Kita kembali ke Lik Dirman yg kini berada di ruang tamu, ia merebah kekenyangan, seraya menghisap rokoknya & mendengarkan siaran radio. Ia memandangi langit-langit, mencoba untuk menepis pikirannya agar tak memikirkan hal itu. Ya!! Hal-hal aneh yang belakangan ini terjadi!!.
Tentu pikiran itu tak bisa dihilangkan begitu saja, ia pun mulai bangkit & meraih radio yg berada di sampingnya itu, mencari-cari saluran yg mungkin bisa sedikit merubah perasaannya saat itu. & setelah beberapa saat ia mencari, ketemulah siaran wayang kulit.
“Wah cocok ik!!”. Ucap Lik Dirman yg kembali menyamankan posisi tidurnya.

Lik Dirman memejamkan matanya sambil menikmati siaran wayang itu. Sampai tak terasa ia pun mulai mengantuk beriring dengan suara gamelan dari siaran radio yang ia dengarkan itu.
Namun baru beberapa saat saja Lik Dirman yang masih tidur-tidur ayam, kini harus terpaksa terbangun karena secara aneh saluran radio itu tiba-tiba berganti sendiri.

Ia yg agak kaget seketika bangkit & memandangi radio itu dgn heran. Tapi Lik Dirman yg sejatinya sudah tak tahan-
--dengan kantuknya itu pun memutuskan untuk mengabaikannya & mencoba tidak menghubung-hubungkan hal itu dgn sesuatu yg macam2. Ia pun mematikan radio itu & kembali merebah untuk melanjutkan tidurnya.
Namun “Sreeeg!!!”.

Terdengar suara yang tentu mengagetkan Lik Dirman disusul dengan Waluyo yang kini tampak duduk di kursi depan Lik Dirman tadi merebahkan tubuhnya.

“Luyo!!!!!!!!!!”. Ucap Lik Dirman seraya beranjak bangkit dan terduduk di atas kursi panjang itu.
Waluyo hanya duduk mematung didepan Lik Dirman yg kini tampak keheranan, pandangannya kosong & wajahnya yang terlihat pucat, membuat Lik Dirman terpaksa beranjak & mendekati.

“heh... Yo...Luyo!!!”. Kata Lik Dirman membisik seraya mendekat & memegang tubuh Waluyo.
Waluyo tak bergeming dan masih duduk mematung dengan anehnya.

“Dari mana anak ini datang!! Tiba-tiba sudah duduk disini!!”. Batin Lik Dirman yg semakin menyadari kejanggalan ini.

Dengan menghela nafas panjang terlebih dahulu, Lik Dirman pun segera berjalan masuk.
Ia ingin memeriksa kalau ini benar2 Waluyo pasti dia tidak berada dikamar. Lik Dirman mulai berjalan masuk, sedikit mengendap & membuka kamar dimana seharusnya Waluyo berada, & benar saja!! Waluyo tak ada di kamar itu. Lik Dirman pun menghela nafas lega & berjalan kembali ke--
--ruang tamu dgn maksut ingin mengajak keponakannya itu kembali masuk ke dalam kamarnya.

Namun ketika ia sampai ke ruang tamu, Waluyo tak ada disana!!!

“Luyo!!!Luyo!!!”. Panggil Lik Dirman dengan agak membisik.
Lik Dirman tampak memeriksa setiap sudut diruangan itu, --
--namun memang kenyataannya Waluyo yang tadi duduk kini sudah tak ada. Seketika Lik Dirman bergidik namun ia tetap harus mencari, takut kalau keponakannya itu berada di tempat lain yg mungkin berbahaya.

Ia pun kembali masuk, & tempat pertama yang ia periksa adalah kamar Waluyo,-
-kamar yg tadi sempat ia masuki. & betapa herannya Lik Dirman ketika ia masuk dan melihat Waluyo tengah tertidur. “Lhoh!!!”. Kata Lik Dirman keheranan seraya mengrenyitkan dahinya. “apa aku tadi salah lihat ya!!”. Batinnya.

Tapi yg tadi ia lihat di ruang tamu jelas Waluyo!!!--
--“aku ndak mungkin salah lihat!!!”. Batin Lik Dirman seraya memegang tengkuknya yg kini terasa semakin bergidik.

Dengan terburu Lik Dirman pun kembali ke ruang tamu, kembali menyalakan radionya dan merebah, meringkuk dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
“Asu!! bajingan..bajingann..bajingann!!!”. Ucap Lik Dirman pelan dari balik selimut itu.

Ia yg memejamkan mata tentu percuma, bukannya bisa tidur justru keringatnya yg kini mulai bercucuran karena kegerahan. “Pancen demit sikak!!!!”. Umpat Lik Dirman sambil membuka selimut--
--sarungnya setelah beberapa saat bersembunyi di balik itu.

Lik Dirman pun kini menyalakan rokok untuk menenangkan diri. matanya yang terus menerawang kesana kemari.
“Ojo undang aku Dirman, nek ora wani!!!”.
(Jangan panggil aku Dirman kalau tidak berani!!). Ucapnya sekedar--
-- untuk membangkitkan keberaniannya itu.

& benar saja, tak lama setelah itu, radio pun tiba-tiba mati. Begitu juga dgn lampu ruangan itu yg ikut padam. Lik Dirman yg terkejut spontan menaikkan kedua kakinya di atas kursi & bersamaan dgn itu suara pun terdengar, beriring dgn--
--bau kembang kemuning yg tempo hari sempat Lik Dirman cium juga.

“Asuuuu..asuuu...asu...”. Batin Lik Dirman dgn tangannya yg mulai bergetar.

“Dug..dug...dug..”. Suara hentakan di lantai itu terdengar mendekat ke arah Lik Dirman. menghentak dari dlm rumah menuju ruang tamu.
“Dug..dug..dug!!”. Suara itu terdengar semakin dekat. Lik Dirman yang spontan menoleh kearah kanan seketika memalingkan pandangannya ke arah lain ketika ia merasa melihat sesuatu putih diantara ruas-ruas rak hias pembatas antara ruang tengah dan ruang tamu.
“Dug...dug..dug!!”. Suara itu kini benar-benar dekat!!. Lik Dirman tak berani membuka matanya, ia menunduk seiring hentakan yg kini terdengar jelas berada didepanya.

“Sreg!!!!”. Meski Lik Dirman tak membuka matanya tapi ia merasa sosok yg menimbulkan hentakan itu kini tengah--
--duduk di depannya.

Lik Dirman hanya menunduk sambil mencoba untuk mengucap Doa, tapi tak ada satu doa pun yang bisa ia keluar dari mulutnya, lidahnya mendadak kelu, tubuh dan tangannya gemetar hebat, sementara sosok itu memang sepertinya benar ada di depannya,--
--sungguh rasa takut yg tak bisa lagi digambarkan!!, dan dalam waktu yg bersamaan Lik Dirman mendengar suara desahan-desahan parau yg sepertinya berasal dari sosok didepannya itu. Sosok itu sepertinya sedang mangatakan sesuatu. Tapi Lik Dirman tak mengerti.
Suara desahan aneh itu bertahan cukup lama hingga akhirnya Lik Dirman yg sudah mengumpulkan sedikit keberanian pun mencoba untuk menengadahkan kepalanya. Perlahan Lik Dirman membuka matanya, terlihat sosok putih yg kini duduk didepannya!! Menatapnya dgn mata merah menyala.
Dan sosok itu berkata.

“AREP MELU-MELU SISAN KOWE?!!!!”

(MAU IKUT-IKUTAN SEKALIAN YA KAMU!?). Kata yang keluar dari sosok pocong itu seraya berdiri dan memajukan kepalanya.

Lik Dirman hanya ternganga, terpaku melihat sosok pocong itu yang kini mulai melayang mendekatinya. Image
Tak ada kata yang bisa terucap, sempat melihat sosok itu untuk beberapa saat kini Lik Dirman hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil memejamkan mata.

“Agstafirullah!!! Agstafirullah!! Agstafirulllah!!”. Ucap Lik Dirman pelan kala itu.
Hingga beberapa saat kemudian angin pun seperti menghempas tubuhnya diiringi dgn suara desahan parau yg perlahan hilang. dgn Perlahan Lik Dirman mencoba menengadahkan kepalanya lagi untuk memeriksa, dan Sosok itu pun telah hilang.
Tanpa berfikir panjang, Lik Dirman langsung keluar dari rumah kakaknya itu, dan berlari kecil menuju rumahnya. Memasuki kamarnya dengan terburu, dan tidur meringkuk dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Lik Dirman benar-benar ketakutan!!!.

Bagian 3 selesai..
Bagian 4 (tamat) , sementara masih dikaryakarsa ya :)) - karyakarsa.com/AgilRSapoetra/…
Bila berkenan mari dukung saya di @karyakarsa_id karyakarsa.com/AgilRSapoetra

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with gil

gil Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @AgilRSapoetra

Sep 22
SURENGKALA - Bagian 4 ( TAMAT )

@bacahorror_id @IDN_Horor @ceritaht @menghorror #bacahorror Image
Sampailah kita di bagian 4 (akhir) dari kisah SURENGKALA ini, karyakarsa.com/AgilRSapoetra/…
Read 25 tweets
Sep 8
- SURENGKALA -

(Bagian 2) -'Pocong Pati'

@bacahorror_id @menghorror @gudangmistery @ceritaht #bacahorror Image
Cerita ini sudah tamat ya di Karyakarsa

Bagian 2 - karyakarsa.com/AgilRSapoetra/…

Bagian 3 - karyakarsa.com/AgilRSapoetra/…

Bagian 4 - karyakarsa.com/AgilRSapoetra/…
Bagian 1 udah ada ditwitter ya , bisa baca dulu kalo temen-temen belum baca biar nyambung. Kalau udah langsung aja kita mulai tipis-tipis ya :))
Read 92 tweets
Aug 29
SURENGKALA

(Bagian 1)

"Teluh dan karma, seakan datang bersama-sama dikehidupan Waluyo dan Suryani disaat mereka ingin meninggalkan keburukan dan dosa dimasa lalu".

@bacahorror_id @IDN_Horor @menghorror #kisahnyata #teluh #Karma Image
Kisah yang diyakini oleh narasumber saya sebagai kisah nyata ini saya dapatkan secara tidak sengaja sekira 3 tahun yang lalu, berlatar belakang tahun 90an, tentang pasangan "Lintah darat" Yang ingin bertobat setelah anak satu-satunya meninggal.
Namun ternyata seiring dengan pertobatannya itu, gangguan-gangguan aneh terus muncul, berupa teror lelembut dan teluh yang mengancam jiwa mereka & orang-orang disekitarnya. Bagaimana kisahnya?? Karena cerita ini cukup panjang, akan saya up menjadi beberapa bagian secara bertahap.
Read 166 tweets
Aug 22
Jawa tengah Awal tahun 2000,

Malam itu, mungkin sekitar pukul 22.00, terlihat Rudi tengah membaca koran di ruang TV, membaca koran pagi yang selalu tak sempat ia baca saat matahari masih di atas.
Suasana rumah sudah sepi, Ayah dan ibunya sepertinya sudah terlelap di kamarnya.

Rudi masih fokus membaca lembar demi lembar koran itu tanpa melewatkan satu artikel pun di temani siaran dari televisinya yang sengaja dibiarkan menyala.
Read 154 tweets
Jul 17
-- MAYANG --
'Hantu Penghuni kontrakan'

@bacahorror @IDN_Horor @menghorror Image
Pada suatu siang..

"Semoga kalian krasan ya..". Ucap Pak Wirjo seraya memberikan sebuah kunci kepada 4 orang wanita-wanita muda itu.
"Nggih Pak Matursuwun". Jawab Marta, Ani, Rina dan Lisa secara bersama-sama.

Merekapun segera menuju pintu setelah Pak Wirjo pergi, pintu sebuah kontrakan yang terlihat wajar dan biasa saja.
Read 124 tweets
Jun 14
Kisah ini berlanjut lagi, ketika Sigit si anak yang dulu di inginkan oleh Mbah Gandul sosok Wewe Gombel pemilik kain popok itu sudah menginjak dewasa dan pulang kembali ke rumah masa kecilnya. Rumah dimana Sigit sering kali menghilang di dalam rumah.
Read 198 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Don't want to be a Premium member but still want to support us?

Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal

Or Donate anonymously using crypto!

Ethereum

0xfe58350B80634f60Fa6Dc149a72b4DFbc17D341E copy

Bitcoin

3ATGMxNzCUFzxpMCHL5sWSt4DVtS8UqXpi copy

Thank you for your support!

Follow Us on Twitter!

:(