-Rubanah-
Bagian 7
Lanjut ya...
Izin tag
Terima kasih RT/likes 🙏
@IDN_Horor @bacahorror_id @P_C_HORROR @Penikmathorror @threadhororr @ceritaht
#bacahorror #penikmathorror #ceritahorror #threadhorror
Bagian 5 & 6 di sini
-Bagian 7-
Akhir pekan akan terasa lebih panjang bagi siapa yang tidak punya rencana cukup baik. Demikian yang dirasakan Kenduri. Dua hari tersebut selalu menyebalkan karena ia tidak pernah tahu cara melewatkannya dengan baik.
Meskipun menurutnya akhir pekan tak ada sangkut pautnya dengan isu gejolak kawula muda, yaitu pacaran, tetap saja ia tidak suka.
Sebab ia lebih banyak membuang waktunya dengan cara yang membosankan; Menaruh baju kotor di laundry, beberes kamar, membaca, dan selebihnya bermalas-malas.
Untuk selanjutnya Kenduri akan melewatkan Sabtu-Ahad dengan cara yang sama.
Kenduri bangun pagi. Berjalan-jalan mengitari lingkungan lalu pulang dengan sebungkus sarapan. Makan pagi dikerjakan di ruang makan. Mulanya sendiri, tetapi tidak begitu lama datanglah satu orang penghuni, menyapa Kenduri dengan hangat.
Gadis itu menoleh untuk membalas sapa alakadarnya. Senyum pria itu agaknya mengingatkan Kenduri pada seseorang, tetapi ia tidak begitu yakin. Tetapi sebentar kemudian ia terkilas sesuatu; Lelaki itu adalah penghuni kamar nomor 16.
Pria itu duduk di depan Kenduri dengan sebelumnya bertanya, apakah ia tidak keberatan duduk berdua. Kenduri tak berberat hati.
"Bagaimana menurutmu selama tinggal di sini?" pertanyaan pria itu menjadi awal mula pembicaraan pagi.
"Biasa saja," sahut Kenduri. "Maksudnya, aku belum punya pengalaman menjadi anak kos.
"Ya," ujar lelaki itu, "Pasti ada yang pertama dalam setiap hal."
"Sudah lama tinggal di sini?"
Jawab lelaki itu, "Tujuh tahun."
"Itu termasuk lama," kata Kenduri, "kakak pasti sudah kenal setiap sudut tempat ini."
Pria itu tertawa enteng, "Kupikir aku bisa lebih lama lagi di rumah ini."
Kenduri melahap sarapannya tanpa merasa terganggu apa pun.
"Kamu bisa panggil aku Barry," kata lelaki itu.
"Seperti nama aktor laga," timpal Kenduri.
"Sebetulnya papaku juga sudah beberapa kali bekerja dalam produksi film Barry Prima."
Kenduri tertawa enteng saja. Untuk kali pertama sejak berada di Jakarta akhirnya dia bisa tertawa.
"Begitukah asal mulanya?"
"Tentu saja itu cuma kebetulan. Aku lebih dulu lahir sebelum film pertamanya."
Hasana muncul dari dalam sehingga pembicaraan itu terhenti sementara. Ibu kos segera menyirami tanaman, menyapu, dan memeriksa beberapa sudut ruangan itu.
Kenduri sesekali mengamati Hasana dan kagum, karena ia mengerjakan banyak hal dengan cepat walau pincang kaki sebelah.
Setelah ibu kos kembali ke rumahnya, Barry melanjutkan, "Bagaimana ceritanya kamu sampai kemari?"
"Seseorang memberitahuku tempat ini."
"Oh, begitu. Mungkin dia kenalan lama Bu Hasana atau Pak Nasikhin. Atau aku salah?"
Kenduri memicingkan mata sambil menerka, "Bagaimana dia begitu tepat menebak? Oh, sudah tentu diberitahu tuan tanah."
"Berarti aku benar," kata Barry diiringi senyum.
"Sebenarnya dia..."
"Tak penting lagi dia siapa, intinya seperti itu."
Kenduri sudah selesai dengan sarapannya, kemudian pergi ke pancuran air di dapur untuk membilas piring kotor, lalu kembali ke kursinya.
"Bolehkah aku berpendapat tentang sesuatu, ehm, tapi mungkin saja sensitif," kata gadis itu.
"Tentu."
"Menurutku semua orang di sini terlalu penyendiri, oh, atau mungkin aku saja yang belum terbiasa dengan keadaan."
"Seperti itulah kata pendatang."
"Maksud kakak, semua kos di Jakarta begini atau..."
"Seperti itulah di sini. Orang-orang banyak berubah beberapa tahun belakangan."
Kenduri tak mengerti maksud perkataan itu. Hanya seakan-akan ada sesuatu yang menyebabkan orang-orang itu berubah.
"Kamu boleh bertanya kalau tidak mengerti," ujar Barry.
"Ah, bukan itu. Maksudku, lupakan saja. Ehm..."
"Tapi kami saling mengenal dan mengerti satu sama lain."
"Oh, begitu, ya."
"Apakah kamu cukup betah di tempat ini?"
Kenduri merasa tidak cukup cepat menyesuaikan perasaanya dalam pembicaraan yang berlompat-lompat.
"Menurutku rumah ini seharusnya menjadi hunian yang menyenangkan, bukan?"
"Ya, aku setuju. Tetapi kamarnya terlalu besar untukku," ujar Kenduri.
"Benar juga. Itu pendapat yang umum. Karena itu sebagian kamar kos diisi berdua."
"Jadi, penghuni kos ini lebih dari 21 orang?"
"Seharusnya 26. Tetapi aku tidak yakin. Aku sendiri menyewa kamar untuk berdua."
"Kupikir kakak belum menikah."
"Bukan," tepis Barry, "satu lagi adikku."
"Dia kuliah?"
"Sesuai ingatanku, seharusnya masih."
Kenduri tertawa lagi dan Barry menimpalinya dengan tawa yang lebih kaku. Masih belum ada penghuni kamar lain yang muncul, tetapi Kenduri tak mempermasalahkan hal itu. Baginya, ada orang di rumah itu yang bisa diajak bicara sudah cukup melegakan.
Padahal Kenduri tidak terlalu mudah bergaul. Namun, keadaan kos yang terlalu sepi dan penyendiri telah mengubah pembawaannya, paling tidak untuk pagi ini.
"Seingatku, kamarmu cukup panas siang hari dan tangganya sempit," lanjut Barry.
"Itu benar! Tapi aku cepat menyesuaikan diri."
"Belum tentu. Kamu butuh waktu lebih lama beradaptasi di sini."
"Yang paling penting sewanya sangat murah," kelakar Kenduri. "Ya, omong-omong, kakak sepertinya kenal kamarku. Pernah tinggal di sana?"
"Semua orang mengenal kamar itu, bahkan kami seakan-akan lebih peduli pada kamar pojok daripada kamar kami sendiri."
Itu adalah sejenis jawaban yang membuat Kenduri tak nyaman. Hanya, di saat yang sama, ia ingin menanyakan beberapa hal yang berurusan dengan kamarnya.
Lantas bertanya gadis itu, "Apa sebenarnya rahasia yang tersimpan di kamarku?"
Begitu pun sebaliknya. Saat Kenduri bertanya tentang itu, berubahlah garis wajah Barry. Pipinya menoleh ke kanan ke kiri dan seketika ia berubah canggung.
"Benarkah kamarku berhantu?"
Barry terdiam sambil menggerakkan tangannya tidak karuan.
"Siapa sebenarnya gadis berambut ikal yang hampir kalian habisi kemarin malam?"
Perubahan sikap Barry makin karuan. Ia hendak pergi secepatnya. Tetapi baru saja berdiri, gadis itu menahan tangannya.
Barry melirik ke kiri dan Kenduri langsung melacak ke arah itu. Tanpa disadari sebelumnya, Hasana tengah mengamati mereka, berdiri sambil memegangi pegangan tangga rubanah. Kenduri berusaha memahami pemandangan itu meski ia tak mengerti apa-apa.
Sejenak berselang, Hasana beranjak turun hingga wujudnya tak lagi terlihat. Setelahnya Barry buru-buru meloloskan tangannya.
"Ceritakan tentang itu!" desis Kenduri penuh tuntutan.
Barry hanya menundukkan pandangan sembari menjauh. Tak mau menyerah, Kenduri membuntutinya sambil terus mendesak.
Akhirnya Barry berbisik di lorong, "Tidak ada hantu di kamarmu, melainkan di bawah."
"Rubanah?"
Barry mempercepat langkahnya.
***
Bersambung...
Sudah tamat di Karyakarsa. Silakan untuk baca duluan. Terima kasih dukungannya 🙏
karyakarsa.com/Creepylogy/rub…
Nyambung bagian 8
Share this Scrolly Tale with your friends.
A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.
