DI PULAU HARAPAN
: sebuah kisah yang akan terus kau kenang dalam waktu yang sangat lama.
© Hadiwinata
A thread.
RT & follow biar rame, biar author-nya semangat lanjutin sampai kisahnya selesai.
#fiksi #horror #ceritahoror #ceritaseram #bacahoror #threadstorytime #karyakarsa
Rinai gerimis turun di saat seorang nelayan tua sedang berusaha menghidupkan motor sampannya, sekali-dua kali belum berhasil. Dia mencobanya lagi, dalam gelap malam hari.
Warna langit sekelam air teluk yang menjurus ke laut lepas. Tak ada bulan saat itu. Tiada pula bintang-gemintang. Hanya desir kesiur angin yang ganjil dalam udara gigil bulan April.
“Awak cepatlah sikit!” sergahnya kepada seorang pemuda.
Lelaki itu maju, menurunkan buntalan bawaanya ke dalam sampan. Kemudian barulah dia turun perlahan-lahan. Berjalan melewati sang nelayan, kotak-kotak ikan, dan perkakas-perkakas lain yang ditutupi secarik terpal biru.
Lalu duduklah dia di belakang seorang pria tua yang memeluk ransel kumalnya. “Selamat malam.” Tegur si pemuda. Tapi pria tua itu tak bergeming sama sekali, dan malah tampak seperti bisu.
Tak ada jawaban dari si pria tua, sang pemuda pun melupakannya. Dia menatap teluk dan sampan-sampan yang terikat pada temali, lalu sampannya pun berjalan. Suara motornya ribut memecah kesunyian yang masih perawan. Ombak-ombak pun muncul.
Martin: pemuda itu benar-benar tak mengenali sang nelayan atau pun pria tua di hadapannya. Dia bisa sampai ke dermaga ini berdasarkan alamat yang dikirimkan oleh seseorang yang dikenalnya di Facebook.
Orang itu berkata jika sang nelayan bisa membantu Martin menunaikan hajatnya. Dan tentu, untuk itu, harga yang harus dibayar tidak murah.
Martin ingin pulang ke kampung halamannya di ujung bawah pulau Sumatera. Sesungguhnya rencana ini sudah lama Martin pikirkan—sejak tahun kedua dia berada di sana. Tapi dia terus-menerus memendam hasrat itu.
Rencana pertama gagal karena uang yang ditabungnya habis dipinjam kakak kandungnya. Lalu dia bekerja dan menabung lagi. Rencana kedua gagal kembali sebab dia merasa tabungannya masih kurang jika hendak menyunting gadis impiannya di kampung halaman.
Jadi Martin kerja keras lagi, berharap dia bisa mengumpulkan uang sebanyak dan secepat mungkin. Tapi dia sempat ditangkap polisi sewaktu dia hendak berangkat kerja ke kilang. Uang tabungannya habis diminta, berikut hape dan baju-celana yang dikenakannya sampai dia telanjang.
Kemudian Martin bekerja setahun lagi. Dia makan kadang sekali kadang dua kali dalam sehari—demi bisa pulang dan kawin dan berjumpa dengan keluarganya. Tapi wabah keparat tiba! Korona, virus itu, menyebabkan semua aktivitas ekonomi dan sosial terhenti.
Martin terjebak di bilik sewanya selama tiga bulan tanpa pemasukan sama sekali sebab tak ada kerja. Pelan-pelan tabungannya menipis dipakai untuk keperluannya sehari-hari. Meskipun dia sudah sangat berusaha berhemat: sehari puasa, sehari tidak. Begitu terus-menerus.
Tapi uang itu tetap terkikis juga. Padahal dia sudah menyiapkannya untuk pesta perkawinannya nanti di kampung halaman.
Sewaktu Perdana Menteri mengumumkan keputusan perjarakan sosial sedikit dilonggarkan, Martin mengambil keputusan jika dia harus pulang—bagaimana pun kondisi keuangannya. Tak ada pilihan lain. Sudah terlalu lama dia berada di perantauan, di negeri Johor.
Beribu macam hal sudah dia alami dan rasakan. Kini, pikirnya, semua sudah cukup. Meski tabungannya tinggal seujung kuku: hanya cukup untuk modal pulang.
Sementara untuk kembali bekerja di sana rasanya sudah tidak mungkin. Pengawasan oleh polisi dan militer semakin diperketat semenjak wabah itu tiba.
Lagi pula sejak lima tahun lalu Martin sudah menjalani macam-macam profesi. Dari memanen sawit, mengecat jalanan, hingga tukang sapu. Dari buruh bangunan, buruh kilang, pelayan kedai, sampai bikin kue hari raya. Semua sudah Martin kerjakan. Apa lagi?
Sehingga di petang itu Martin naik taxi dan meminta tolong kepada sang supir untuk diantarkan ke alamat tertera: kampung nelayan di Tanjung Piai. Jaraknya barang 45 km atau 1,5 jam dari kota Johor Bahru. Martin harus merogoh kocek cukup dalam untuk membayar ongkosnya.
Jika di awal kedatangannya Martin bisa berangkat melalui Pelabuhan Stulang Laut via Pelabuhan Batam Center, kini dia tak lagi bisa. Dia harus pulang lewat jalan lain—jalur belakang. Sebab untuk pulang jalur depan dia mesti punya paspor dan permit izin bekerja.
Sementara paspornya sudah lama hilang sewaktu dia kabur dari kontrak kerja di perkebunan sawit. Sejatinya paspor itu tidak hilang. Paspor itu ada, tapi ditahan oleh bos.
Untuk mendapatkan kembali paspor itu ialah ketika kontrak kerjanya selesai, atau Martin sanggup membayar denda 10.000 ribu ringgit.
Syahdan, sampan berlayar dengan tenang dan dalam kesendiriannya. Kelepak burung malam tampak di ufuk barat. Bunyi jangkrik terdengar dari kejauhan.
Sang nelayan meminta Martin serta si pria tua yang bisu itu untuk masuk ke dalam kotak ikan dan menutupi diri mereka dengan terpal di bagian atas.
Part 2, udh sy up ya gais!
Bantu RT! Thanks!
PART 3? Here we goooo. Bagiku bagian ini seru banget si!!! Rugi kalo ga baca~
PART 4 (TERAKHIR)
Please bantu retweet, like, comment, dan follow!! Makasih~
Share this Scrolly Tale with your friends.
A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.
