My Authors
Read all threads
Banyak dari kita pernah mengalami pengalaman seram dalam perjalanan menuju suatu tempat, entah sendirian atau bersama handai tolan.

Seperti malam ini, ada teman yang ingin menceritakan pengalaman ketika dalam perjalanan lintas timur Sumatera.

Hanya di sini, di Briistory.

***
~Pertengahan 2017~

Bertha, seorang mahasiswi angkatan 2015 yang berkuliah di Universitas Sriwijaya Palembang, bersama dua temannya berencana untuk melakukan perjalanan darat menuju Jambi.
Ada keperluan apa mereka ke Jambi?

Ayah dari salah satu teman dekatnya, Dewi, meninggal dunia, mereka berniat untuk melayat ke rumah duka, di kota Jambi itulah tempatnya.
“Kamu nanti jemput aku ya, pokoknya jam lima nanti kita harus sudah jalan, biar gak terlalu tengah malam sampainya.” Ucap Bertha kepada Rendy, teman sekelas yang kebetulan memiliki mobil.

“Iya.” Jawab Rendy pendek dengan mata yang masih terus memperhatikan layar ponselnya.
“Ayu juga nanti sudah menunggu di kost aku, jadi kamu gak perlu repot jemput dia. Kamu dengar gak sih Ren?”

“Iyaaaaa, aku dengar.”
Padahal, teman-teman sekelas yang lain sudah berangkat duluan dari jam tiga. Mereka bertiga baru bisa jalan jam lima karena Bertha dan Ayu masih ada kuliah tambahan yang baru selesai pada jam tiga sore.
Karena itulah akhirnya mereka memutuskan untuk berangkat belakangan, berangkat menggunakan kendaraan milik Rendy.

Perjalanan dari Palembang menuju jambi kira-kira delapan jam, belum ada jalan tol yang menghubungkan, jadi memang harus melalui jalan lintas timur Sumatera.
Menurut perhitungan, mereka akan sampai Jambi kira-kira jam satu lewat tengah malam.
Jalan lintas timur ini membentang panjang, kondisi jalan sudah cukup bagus dan lebar, tetapi masih banyak titik daerah yang sepi dan jarang keramaian, banyak wilayah masih hutan lebat dan pepohonan karet maupun sawit. Jalur yang cukup menantang.

***
“Gak seram apa perjalanan kita nanti Ber?”
Ayu masih menggendong tasnya ketika menanyakan perihal keberangkatan mereka kepada Bertha.
“Gak lah, Rendy sudah beberapa kali melewati jalur yang sama. Lagi pula kita harus berangkat sekarang, supaya besok pagi bisa ikut proses pemakaman. Dewi bilang sebelum almarhum dikuburkan, mereka harus menunggu kakaknya yang kerja di Makasar untuk pulang.”
“Setelah pemakaman selesai kita bisa langsung pulang. Semoga bisa terkejar kuliah jam tiga sore besok ya.”

Panjang lebar Bertha menjelaskan, sambil menunggu Rendy datang ke tempat kost-nya, di daerah Indralaya.
“Pokoknya nanti dalam perjalanan aku akan tidur, jangan diganggu. Lebih baik tidur dari pada ketakutan melihat situasi perjalanan.” Begitu kata Ayu.
Gak lama, Rendy menepati janjinya, datang menjemput tepat jam lima sore.

Singkatnya, setelah semuanya siap kemudian mereka berangkat, malakukan perjalanan darat menuju Jambi, menyusuri Jalan lintas Timur Sumatera.

***
“Nanti kalau ada rumah makan kita mampir sebentar ya, aku lapar ini.” Ucap Rendy di belakang kemudi. Ayu dan Bertha menyetujuinya, karena sebenarnya mereka juga lapar.
Nyaris jam delapan malam, dan benar adanya, sepanjang perjalanan jarang menemui kota dengan keramaian, hanya satu dua kota kecil yang tergolong sepi, selebihnya adalah gelap hutan rindang menjadi pemandangan di kanan kiri jalan.
Ayu adalah seorang yang sangat penakut, dia duduk di belakang, pandangannya selalu menatap ke depan, sebisa mungkin gak melihat ke kanan atau ke kiri yang memang sungguh sangat gelap.
“Mau gantian Yu? Kamu mau duduk depan?” Tanya Bertha menawarkan.

“Gak usahlah Ber, aku mau tidur juga ini nanti setelah makan nanti.” Jawab Ayu menolak.
Lepas dari jam delapan, Rendy akhirnya menepikan kendaraan lalu masuk ke tempat parkir salah satu rumah makan besar.

Mereka makan di rumah makan itu, sambil Rendy beristirahat sebentar setelah sudah menempuh tiga jam perjalanan.

***
“Mau ke mana kalian dek?” Tanya seorang bapak yang tiba-tiba mendekat ke meja tempat mereka sedang menikmati makanan.

“Jambi Pak,” Jawab Rendy sambil tersenyum.
“Oh gitu, saran saya kalian besok saja meneruskan perjalanan, karena nanti kira-kira tiga jam lagi dari sini, kalian akan menemui daerah yang jalanannya rusak parah. Jalur dialihkan ke jalan kampung di sisi jalan utama. Jalan kampung itu sangat sepi, apa lagi malam-malam begini.”
Panjang lebar bapak itu memberi informasi, yang menurut Rendy Bertha dan Ayu merupakan informasi kurang bagus.

“Terima kasih Pak, kami akan terus jalan aja.” Ucap Rendy lagi.
“Oh ya sudah kalau begitu, saya hanya kasih info saja, karena kami tadi lewat daerah jalan jelek itu. Yang penting kalian hati-hati.” Sambung Bapak itu lagi sambil berlalu meninggalkan mereka.
“Tuh kaaaann, jalannya rusak, kita cari penginapan dekat-dekat sini aja yuuuuk.” Rajuk Ayu dengan wajah memelas setelah mendengar omongan Bapak tadi.

“Ah sudahlah, jam satu kita akan sampai kok. Aku sudah sering kali lewat jalur ini, tenang ajaaa.” Jawab Rendy menenangkan.
“Yakin kamu Ren?” Bertha coba memastikan.

“Yakin, sudah tenang aja.” Jawab Rendy tegas.

Setelah selesai makan, mereka segera meninggalkan rumah makan untuk melanjutkan perjalanan.

***
Kabut tipis turun perlahan menyelimuti rentang jalan pada satu titik jalan lintas Sumatera ini, gelap jadi semakin tebal karenanya.
Percakapan di antara tiga sahabat ini menjadi semakin jarang, sangat beda situasinya dengan beberapa jam sebelumnya, yang dipenuhi obrolan canda dan tawa, kali ini lebih banyak diam sambil terus memperhatikan jalan dan keadaan.
“Kamu gak ngantuk kan Ren?” Tanya Ayu kepada Rendy dari kursi belakang, dengan posisi duduk tanpa bersandar, kepalanya berada di antara tempat duduk Rendy dan Bertha.
Ayu sudah mulai ketakutan dan cemas sejak tadi, tergambar dari wajahnya yang kelihatan was-was dan gak nyaman.

Sementara Bertha terus menatap ke jalan, sambil sesekali membantu Rendy memberi petunjuk navigasi.
Pepohonan besar di kanan kiri berdiri angkuh dan menyeramkan, beberapa diantaranya hanya berbentuk siluet hitam ketika sama sekali gak ada cahaya yang menerpa.
Beberapa rumah penduduk sesekali terlihat, itu pun sangat jarang. Kalaupun ada, gak kelihatan ada tanda-tanda kehidupan, mungkin karena penghuninya sudah tidur atau memang rumahnya dalam keadaan kosong, entahlah.
Kontur jalan yang menanjak dan menurun, meliuk ke kanan dan ke kiri, menembus hutan gunung dan perbukitan, semakin membuat Rendy lebih banyak diam untuk berkonsentrasi. Beberapa kali juga Bertha bilang “Hati-hati Ren..” memperingatkan Rendy dalam mengendalikan kendaraan.
Sementara Ayu masih saja terus diam di kursi belakang, niat awalnya untuk tidur menjadi kacau karena kantuk sama sekali gak datang.
“Gak mau isi bendin dulu Ren, itu kan udah satu strip lagi.” Tanya Ayu setelah memperhatikan indikator bahan bakar yang sudah menunjukkan kalau sudah mendekati titik kosong.
“Kira-kira 30 menit lagi dari sini ada pom bensin, aku sudah beberapa kali mengisi di situ.” Jawab Rendy yakin.

Ayu dan Bertha hanya bisa pasrah mengikuti omongan Rendy, padahal mereka cukup cemas melihat sisa bensin pada indikatornya tinggal menyisakan satu bar saja.

***
Sudah nyaris jam dua belas malam.

Beberapa kali Rendy melirik kaca spion mengetahui kalau ternyata Ayu sudah lelap dalam tidurnya. Sedangkan Bertha masih coba bertahan menahan kantuk, dengan terus mengajak Rendy bicara, padahal Rendy tahu kalau Bertha sudah sangat ingin tidur.
“Sudahlah Ber, kamu tidurlah sana, sebentar lagi juga kita ketemu Pom bensin.” Ucap rendy.

“Yakin kamu Ren? Udah hampir dua jam sejak kamu bilang tadi, kita belum juga melihat ada pom bensin.” Kecemasan sudah terdengar di ucapan Bertha.
“Yakin. Tadi aku salah perhitungan, hehe. Sudahlah tenang aja.” Rendy terdengar yakin.
Di luar, suasana jalan semakin gelap dan sepi, kendaraan yang mereka tumpangi seperti masuk ke dalam hutan gak berpenghuni, sama sekali gak ada kendaraan datang dari belakang ataupun yang melintas datang dari arah berlawanan.

Sepi..
Tapi walaupun begitu, Rendy tetap gak berani menekan gas dalam-dalam, dia hanya mempertahankan kecepatan dengan konstan, gak cepat tapi gak lambat juga.
Sampai akhirnya, seperti Ayu, Bertha juga terlelap. Kini tinggal Rendy yang terjaga sendirian, mengendalikan kendaraan ke tempat tujuan.
Rendy sebenarnya sudah sedikit cemas sejak tadi, Pom bensin yang dia pikir sudah dekat ternyata gak juga kelihatan, bahan bakar semakin tiris, entah berapa lama lagi kendaraan ini akan sanggup berjalan.

Cemas mulai melanda pikirannya.

***
Sudah lewat dari jam dua belas tengah malam,

Perlahan Rendy mengangkat kakinya dari pedal gas, dengan maksud mengurangi kecepatan. Dia melihat sesuatu di kejauhan, kira-kira 200 meter di depan.

Setelah jarak semakin dekat akhirnya Rendy tahu apakah gerangan yang ada di hadapan.
Ternyata jalan ditutup, ada batang pohon yang melintang menghalangi jalan, kendaraan gak mungkin bisa melewatinya.
Rendy terus mendekat, coba memastikan lagi apa yang dia sedang lihat.

Benar, jalan ditutup, gak bisa lewat. Rendy menghentikan kendaraan, memperhatikan sekitar.
“Aduh, ternyata benar apa kata bapak tadi, jalan ditutup. Lalu gimana ini? Masa balik lagi?” Rendy bergumam sendirian. Bertha dan Ayu masih tetap terlelap.

Beberapa menit lamanya Rendy berdiam diri di tempat itu, memikirkan sejenak apa yang seharusnya dilakukan.
“Tok Tok Tok..” Tiba-tiba terdengar ketukan di kaca di sebelah kanan Rendy, tentu saja dia terkejut.

Langsung menoleh ke sumber suara, Rendy mencari tahu siapa yang baru saja mengetuk kaca pintunya.

Ternyata ada seseorang yang berdiri di luar, berdiri diam memperhatikan..
Gak Jelas, Rendy gak bisa melihat dengan jelas wajah orang itu, hanya seperti bayangan hitam karena sama sekali gak ada cahaya.
Masih terkaget-kaget, Rendy memberanikan diri membuka jendela mobilnya. Setelah itu dia baru bisa melihat agak jelas, ada seorang bapak yang menggunakan pakaian hitam-hitam dengan caping di kepalanya.
“Maaf Pak, ini jalan kenapa ditutup ya?” Tanya Rendy ketika keberaniannya sudah terkumpul.

“Lewat situ saja.” Bapak itu menjawab pelan, sambil tangannya menunjuk ke arah sebelah kanan jalan.
Benar, Rendy baru sadar kalau ternyata di sebelah kanan ada jalan yang masuk menembus gelap.

“Mungkin jalan ini yang dimaksud oleh Bapak di rumah makan tadi. Jalan kampung menghindar jalan yang ditutup ini.” Begitu pikir Rendy dalam hati.
“Jauh gak kalau lewat jalan itu Pak?” Tanya Rendy kemudian.

Bapak bercaping itu gak menjawab, dia hanya menggelengkan kepalanya.
Baiklah, dari pada balik lagi, Rendy akhirnya mengikuti saran orang misterius itu, belok ke kanan, masuk ke jalan kampung.

“Terima kasih Pak.” Ucap Rendy, lalu menjalankan kendaraan berbelok ke jalan yang ada di sebelah kanan.
Dari kaca spion, Rendy melihat siluet sosok misterius itu masih berdiri diam memperhatikan, sampai akhirnya hilang ditelan gelap.

“Siapa sih Bapak itu, serem kali.” Gumam Rendy pelan.

***
Rendy terus menjalankan kendaraan dengan pelan, menembus jalan yang sama sekali belum pernah dia lalui, jalanan gelap yang pada kanan kirinya hanya hutan dan pekat seram.

Rasa cemas semakin membuncah, memperhatikan jalan yang gak ada tanda-tanda kehidupan apa lagi keramaian.
Sejak masuk ke jalan ini tadi, Rendy juga sama sekali gak melihat ada kendaraan lain, baik motor ataupun mobil, sepi sama sekali.

Semakin bertambah cemas ketika melihat lampu indikator bahan bakar sudah menyala berwarna merah, menandakan kalau bensin sudah benar-benar tiris.
Bagaimana dengan Bertha dan Ayu? Mereka masih terlelap, meninggalkan Rendy sendirian dalam kecemasan.

Rasa cemas semakin menjadi-jadi ketika Rendy melihat layar ponselnya, ternyata gak ada sinyal sama sekali, blank spot!
Situasi mendekati sempurna ketika kondisi jalan semakin menakutkan, kanan kiri terlihat semak belukar, di belakang semak-semak masih berdiri barisan pohon besar yang sama sekali gak bergerak.
Penerangan hanya bersumber dari lampu kendaraan mereka saja, kendaraan satu-satunya di daerah entah daerah mana.

***
Sudah setengah jam lamanya Rendy mengemudi di tempat yang seram ini, kondisinya gak berubah, tetap sepi dan gelap mencekam, benar-benar gak ada kehidupan.
Semakin pelan Rendy menjalankan kendaraan, untuk menghindari kehabisan bahan bakar, sambil terus berdoa supaya segera bertemu lagi dengan jalan utama.
Rendy gak lagi memperhatikan Bertha dan Ayu, dia terus fokus memperhatikan jalan, lagi pula dua sahabatnya itu sama sekali gak bersuara, berarti masih terlelap.
Detik berjalan lambat untuk kemudian berganti menit, waktu masih berputar dengan semestinya namun bergerak sangat perlahan di dalam ketakutan yang mulai memuncak.

Napas Rendy tertahan, detak jantung berhenti sejenak, ketika tiba-tiba lampu mobilnya meredup..

Tanda-tanda..
Beberapa saat kemudian mesin mobil mulai batuk, antara hidup dan mati..

Yang sangat ditakutkan terjadi, mesin mobil mati total, kehabisan bahan bakar.

Akhirnya, tiga sahabat ini terdampar di tengah daerah seram yang entah apa namanya, entah di mana letak pastinya..

***
Di dalam gelap, Rendy membaca terus bait doa di dalam hati, memohon kepada-Nya untuk diberikan keselamatan.

Gak ada yang bisa dilakukan, keluar dari kendaraan bukan pilihan, karena sama sekali gak tahu arah tujuan. Berdiam diri di dalam kendaraan menjadi opsi satu-satunya.
Kemudian Rendy membuka sedikit jendela di sebelahnya, membiarkan angin dingin masuk karena di dalam sudah mulai pengap. Suara hutan jadi terdengar karenanya, binatang malam bersahutan mengiringi situasi yang terus konstan di taraf kengerian.
Baru saja Rendy menyalakan layar ponselnya, masih saja gak ada sinyal, tapi dari situ Rendy jadi tahu kalau jam sudah menunjukkan hampir pukul satu tengah malam.
Di tengah-tengah kegelisahan, tiba-tiba Rendy menyadari sesuatu..

Rendy sadar kalau ada perubahan di sekitar..
Suasana menjadi sangat sepi, gak ada lagi suara binatang malam atau angin berhembus, semua hilang menjadi senyap. Begitu senyapnya sampai sayup-sayup Rendy dapat mendengar detak jantungnya sendiri.

Hening..

Mencekam..

***
Mata rendy sudah terbiasa melihat dalam gelap, sapuan cahaya langit juga membantu sedikit penglihatan, namun tetap saja pekatnya meraja.

Sampai akhirnya ada sesuatu..
Ada pergerakan di kejauhan, ada sesuatu yang masih jauh di depan kendaraan mereka, Rendy melihatnya..

Sesuatu itu bergerak perlahan mendekat..

Memicingkan mata, Rendy coba untuk menajamkan penglihatan, coba memastikan benda apakah itu.
Masih belum terlalu jelas, tapi Rendy sudah bisa melihat bentuk dan warnanya.

Benda itu berwarna putih, bergerak meloncat-loncat perlahan mendekati kendaraan..

Semakin lama semakin dekat, sampai jaraknya menjadi cukup dekat bagi Rendy untuk melihat jelas di dalam gelap.
Pocong!, Rendy melihat pocong meloncat pelan mendekat,

Tubur Rendy gemetar, bulu kuduknya merinding semua, Rendy ketakutan..

Sampai akhirnya pocong itu berhenti bergerak, lalu diam, berdiri hanya beberapa meter di depan mobil.
Tulang-tulang Rendy seperti lepas dari engselnya, tubuhnya lemas duduk bersandar.

Beberapa belas detik lamanya pocong itu diam memperhatikan, seperti manatap tajam walau sama sekali gak terlihat wajah.
Sampai akhirnya, pocong itu bergerak lagi, meloncat pelan seperti melayang ke arah kiri, menuju pekatnya gelap pepohonan, sampai akhirnya hilang dari penglihatan sama sekali.

***
“Mobil sama sekali gak bisa nyala lagi Ren?”

Suara Ayu sangat mengagetkan Rendy.

“Gak Bisa Yu, bensinnya habis. Aku kira kamu tidur.” Jawab Rendy.

“Aku sudah bangun sejak mesin mobil ini mati tadi.” Kata Ayu.

“Jadii, kamuu..”
“Iya Ren, aku lihat tadi..” Suara ayu terdengar bergetar, dia menangis pelan.

“Coba nyalakan lagi Ren, siapa tau masih ada sisa bensin barang sedikit aja.” Kata Bertha di kegelapan.
Ternyata Bertha juga sudah terjaga. “Tadi aku juga lihat Ren..”

Rendy baru tahu kalau ternyata Bertha dan Ayujuga melihat pemandangan seram yang baru saja terjadi.
Selanjutnya mereka lebih banyak diam tanpa tahu harus berbuat apa.

Sampai akhirnya, beberapa saat kemudian ada sesuatu lagi yang terjadi..

***
Dalam kegelapan kembali muncul sesuatu..

Dimulai dengan Ayu yang berbisik pelan, “Ada yang sedang berdiri memperhatikan, di sebelah kanan.” Begitu kata Ayu sambil menangis.

Perlahan Rendy dan Ayu menoleh ke tempat yang Ayu maksud.
Iya, kalau benar diperhatikan, beberapa meter di sebelah kanan, ada sosok yang berdiri diam seperti memperhatikan.
Sosok laki-laki mengenakan pakaian hitam-hitam dengan kedua tangan berada di belakang tubuhnya.
Sosok itu hanya berdiri diam, dan benar kata Ayu, seperti memperhatikan.

Sampai akhirnya, dalam ketakutan yang teramat sangat Bertha membisikkan sesuatu kepada Rendy,
“Rendy, cepat coba nyalakan mobil sekali lagi. Cepat Ren.., Bapak itu gak ada kepalanya.”

Begitu Bertha bilang..
Rendy yang sebelumnya sudah mengalihkan pandangan ke depan, menjadi penasaran, lalu sekali lagi dia menoleh ke tempat di mana laki-laki itu berada.

Benar kata Bertha, Laki-laki itu berdiri tanpa kepala..
“Gak ada kepalanyaaaaaa…” Ucap Ayu pelan sambil menangis di kursi belakang.

Lalu perlahan Rendy mulai memutar kunci kontak.

Ajaib! Mesin mobil menyala, kemudian Rendy langsung menginjak pedal gas lalu meninggalkan tempat itu.

Mereka gak berani lagi melihat ke belakang..

***
Keajaiban terjadi sekitar 30 menit ke depan. Mobil masih bisa berjalan dengan bensin yang mereka pikir sudah kosong.

Sampai kemudian entah bagaimana caranya, tiba-tiba mereka kembali menemukan jalan utama, jalan lintas Sumatera.
Gak lama dari situ, akhirnya mereka menemukan pom bensin yang sudah sangat ditunggu-tunggu sejak beberapa jam yang lalu.
Lebih banyak diam, mereka terus melanjutkan perjalanan ke tujuan, kota Jambi.

Sungguh pengalaman yang gak akan mereka lupakan selama hidup, di Jalan Lintas Sumatera.

***
Sekian cerita malam ini, semoga ada hikmah yang dapat diambil. Sampai ketemu minggu depan di cerita-cerita selanjutnya.

Met bobo semoga mimpi indah,
Stay safe and healthy.

Salam,
~Brii~
Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh.

Enjoying this thread?

Keep Current with Brii #dirumahaja

Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

Twitter may remove this content at anytime, convert it as a PDF, save and print for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video

1) Follow Thread Reader App on Twitter so you can easily mention us!

2) Go to a Twitter thread (series of Tweets by the same owner) and mention us with a keyword "unroll" @threadreaderapp unroll

You can practice here first or read more on our help page!

Follow Us on Twitter!

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just three indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3.00/month or $30.00/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!