, 164 tweets, 24 min read
My Authors
Read all threads
-A THREAD-

“KOS ANGKER A15”

[Kisah nyata kami, penghuni kos angker di kawasan hutan kota]

@bacahorror #bacahorror
#bacahoror
#threadhorror
#threadhoror
Assalamualaikum. Sebelumnya, aku mau berterimakasih ke teman teman kosan A15 sudah mau berbagi paranormal experience yg pernah kita alami selama ngekos. Untuk kenyamanan bersama, nama dan lokasi akan disamarkan. Buat yg uda tau lokasi cerita ini, tolong jangan disebutin ya.
Perkenalkan, namaku itak. Tahun 2013 aku mulai kuliah di salah satu universitas negeri di kota Malang. Karena nggak punya kerabat yang tinggal dekat kampus jadi aku memutuskan ngekos. Kosan pertamaku ada di kawasan padat penduduk.
Setelah beberapa bulan di Malang, salah satu teman sekelasku di SMA namanya Chika ngabarin kalau dia pindah kos dekat dengan kampusku dan ngundang aku main ke kosannya. Kos putri A15.
Aku kesana jalan kaki karena letaknya nggak jauh dari tempatku. Kos A15 ada di tengah kota berdekatan dengan SMA, SMK, kampus dan kantor tapi lingkungannya tetap asri dan sepi. Banyak pohon besar dan rumah lawas di sepanjang jalan. Setelah 30 menit berjalan sampailah aku.
KosA15 letaknya di tikungan jalan berhadapan dgn hutan kota. Bangunannya 2 lantai dengan halaman luas & taman tak terawat. Sebenarnya lebih mirip villa daripada kosan. Pagar besi mengitari rumah sehingga bangunannya bisa terlihat dari depan & samping jalan tanpa terhalang tembok
Di sudut halaman tumbuh pohon beringin yg nggak terlalu besar. Tiap angin berhembus akar gantungnya berayun ayun, cukup ngeri kalau melihatnya di malam hari. Di sisi lainnya ditanami bambu dekat kolam berbentuk lingkaran lengkap dengan pancuran yg sudah lama nggak terpakai
“Chika, aku didepan, bukain gerbang. PING! PING!”

“Oy, tak... Bentar!”, serunya dari balik jendela lantai 2 lalu turun untuk membuka gerbang.
“Kosmu kok suwangar, gede nemen. Arek piro seng huni?” (Kosmu ngeri, besar banget. Berapa orang yang menghuni?)

“Piro yo...titik kok, akeh kamar sek kosong.” (Berapa ya...dikit kok, banyak kamar masih kosong)
Lantai satu terdiri dari ruang tamu yg luas,4 kamar tidur,3 kamar mandi berdekatan,1 kamar super besar plus kamar mandi dalam dan dapur. Di dekat ketiga kamar mandi, nampak tangga menuju lantai atas yg terbuat dari kayu sehingga berbuyi “dug dug dug” tanda seseorang melewatinya.
Lantai dua juga didominasi kayu. Ada 3 kamar tidur dan 1 kamar mandi yang uniknya dilengkapi wastafel dan bath up yang nggak berfungsi. Di samping kamar mandi ada pintu keluar menuju jemuran dan balkon. Kos-kosan macam apa yang se-mewah dan se-estetik ini?
Chika sekamar dengan Maya, yg juga seSMA denganku.

Lantai,dipan tingkat,tembok kamar didominasi kayu. Di samping dipan, ada 2 jendela teralis menghadap arah luar. Nampak jelas hutan kota tak tarawat. Kalau pagi, tupai dan burung sering kelihatan. Asri, tenang, sejuk, dan sunyi
Beberapa kali aku main ke kosan Chika, sampai suatu ketika berpapasan dgn Mbak Nisa.

“Lho, Mbak Nisa kos disini juga to? Aku baru tau”
Mbak Nisa ini seniorku di UKM

“Iya tak,kamu temannya Chika?”

“Iya....”

“Kamarku sebelahan sama Chika”
“Kok nggak pernah ketemu sampean sih, padahal aku sering kesini loh”

“Aku jarang di kosan, tak. Lebih sering di UKM, apalagi kalo anak kosan lagi keluar.”

“Enak yah kos disini..”

“Enak enak serem”, jawabnya tersenyum lalu pamit berangkat ke kampus.
Beberapa bulan setelahnya, Mbak Nisa dan kakaknya yg tinggal sekamar memilih pindah kos sebelum masa sewa habis. Penasaran, tapi belum ada kesempatan bertanya. Sampai akhirnya, ketika kami sedang ada kegiatan di UKM, Mbak Nisa bersedia cerita apa yg selama ini dia alami.
Pernah suatu sore, Mbak Nisa nonton tv untuk mengusir kebosanan karena pada saat itu sedang sendiri tanpa kesibukan. Saat sedang asyik nonton tiba tiba terdengar suara “klinting klinting”.
Mungkin hanger baju ke angin, batinnya menenangkan.
“Klinting klinting” terdengar lagi.

Spontan Mbak Nisa menoleh ke arah jendela. Nampak bayangan anak kecil berlari sambil tertawa dari arah jemuran sampai ke depan kamar mandi. Kejadian itu berlangsung sekitar 5-10 detik. Mencoba berfikir positif, tapi bagaimana bisa...
(Gambar denah lantai 2. Chika Maya di kamar I. Mb Nisa dan kakaknya di kamar II dengan jendela mengharap jemuran. Garis putus putus menggambarkan arah bayangan anak kecil lari. Bisa diihat jaraknya lumayan...)
Kosan ini tertutup, orang luar apalagi anak” nggak bisa sembarangan masuk. Kalaupun kerabat dari penghuni kos, Mbak Nisa pasti tau karena penghuninya hanya segelintir dan daritadi nggak ada bunyi dari anak tangga tanda orang naik ke lantai 2. Karena takut, Mbak Nisa memilih tidur
Bayangan anak kecil itu menampakan diri beberapa kali dengan tawanya yang sayup sayup. Waktu kemunculannya selalu sama, sore menjelang maghrib. Jadi, itu alasan Mbak Nisa lebih memilih berada di sekret UKM daripada sendiri di kosan.
Senin pagi, Mbak Nisa yang sedang manasin mesin motor dikagetkan tetangga samping kos yang datang menyapa. Nggak ada angin nggak ada hujan, beliau bertanya.....
”Mbak, gpp nih ngekos disitu?” tanyanya dengan raut penasaran

“Aman buk, cuma kadang ada suara jemuran kena angin” jawab Mbak Nisa paham arah pembicaraannya.

“Hati hati lho mbak, di rumah ini banyak kejadian.”
Setelah memberi peringatan tanpa penjelasan, beliau lalu pergi.
Mbak Nisa mencoba nggak berpikir ke arah mistis.
Oh, mungkin karena persaingan usaha, batinnya.
Tapi nggak dipungkiri, setelah obrolan ganjil dengan ibu itu, Mbak Nisa semakin was-was. Puncaknya...
Sekitar jam 8, Mbak Nisa yang sudah merasa ngantuk memutuskan tidur lebih awal. Malam itu sunyi, satu satunya bunyi berasal dari jarum jam dinding. Beberapa menit rebahan belum juga pulas. Masih setengah sadar, Mbak Nisa merasa ada sesuatu yang membuatnya nggak nyaman.
Ketika membuka mata, disamping kasur nampak sosok laki laki, hitam pekat sedang duduk. Sosok itu bersandar dengan lutut ditekuk, salah satu tangan menopang dagu dan tangan lainnya terbujur lurus. Mbak Nisa membeku.
Setelah berusaha memejamkan mata akhirnya Mbak Nisa tertidur.
(ilustrasi kiriman Mbak Nisa. Sosok yang dimaksud, sandaran didepan lemari)
Setelah kejadian itu, besoknya Mbak Nisa demam. Merasa sudah sangat terganggu, Mbak Nisa dan kakaknya sepakat pindah kos walaupun masih ada sisa beberapa bulan.
Singkat cerita, karena suka dengan ketenangan & kenyamanan kos A15, maka thn 2014 aku memutuskan pindah kesana. Aku ajak temanku,Arin untuk pindah dan menempati kamar samping Chika, kamar Mbk Nisa dulu. Jadi lantai 2 diisi Chika sekamar dengan Maya,aku sekamar dengan Arin
Kami menikmati kebersamaan di kos. Chika & Maya pun jadi jarang keluar. Penghuni lantai 2 hanya kami berempat, serasa rumah sendiri. Jdi, aku meragukan cerita Mbak Nisa. Kos ini terlihat suram mungkin karna besar, kurang terawat dan kebetulan lokasinya didepan hutan kota yg sepi.
Kami sering mengundang teman untuk kumpul di ruang tamu. Masak bareng, main uno, nonton yang kadang nggak tau waktu. Merasa bebas karena nggak ada penjaga kos. Suatu ketika, teman kami pamit pulang dan aku berniat mengantar ke depan untuk membuka gerbang.
Saat itu aku sadar..
“He rek, ngerti kunciku a? Kok gak onok ya?”
(Tau kunciku nggak? Kok nggak ada ya?)

“Terakhir mok deleh endi?”
(Terakhir kamu taruh dimana?), sahut Arin

“Nek aku ngerti nang endi, ra bakal nggoleki”
(Kalo aku tau dimana nggak akan nyari)

Kami sibuk mencari...
“Aku bukakno gerbang sek rek, tak muleh”
(Aku bukain gerbang dulu dong, mau pulang nih)

“Yowes, sek tak ngeterno Timo. Mariki tak ewangi nggolek"
(Aku nganter Timo dulu, abis itu aku bantuin nyari).

Maya keluar mengantar Timo lalu kembali membantuku mencari kunci.
Kami mencari di semua sudut ruang tamu, dapur, kamar, tempat tempat yang sedari tadi aku lewati.
Menyerah, kunciku nggak ketemu.
Demi kenyamanan bersama, aku gandakan lagi kunci gerbang dan kamar.
Seminggu berlalu..
Sabtu pagi, aku dan Arin tiduran di kamar sebelah.
Saat itu, Chika sedang membongkar isi lemari pakaian. Diambilnya baju baju dan dirapihkan kembali.
Di tengah tengah aktifitasnya...
“Tak, kuncimu!”, dilemparnya benda itu ke arahku.

“Lho, nemu ndek ndi iki?” (Nemu dimana ini?)

Dengan raut bingung dan heran,
“ndek njero iki” (didalam sini)
Kami berempat terdiam, berfikir bagaimana caranya kunci itu ada di dalam saku celana yg nggak pernah dipakai Chika. Bahkan celana kusam itu berada di tumpukan baju paling bawah. Lama kami mencoba merasionalkan. Kok bisa ya?
Daripada terus penasaran tapi nggak dapat jawaban. Kami abaikan kejanggalan itu. Yang terpenting kunci sudah ketemu dan nggak dimanfaatkan orang jahat.
Sudah beberapa bulan aku tinggal dan mulai akrab dengan penghuni lain. Salah satunya, Monska yang tinggal di kamar bawah. Aku, Maya, Arin dan Chika beberapa kali main ke kamarnya, nggak sering karena dia juga jarang di kos.
Monska ini salah satu penghuni lama dan anaknya cuek, jadi aku nggak menyangka kalau dia sering “diganggu” di awal awal ngekos. Dia cerita pengalaman aneh pertama yang dia alami terjadi di malam Jumat.
Saat itu, Monska lagi senang senangnya baca novel Sherlock Holmes. Karena keasyikan, nggak sadar sudah lewat tengah malam. Tiba tiba sayup sayup terdengar suara gamelan. Suaranya terdengar jauh tapi semakin lama semakin jelas.
Nggak mungkin ada kegiatan di sekitar kos, pikirnya.
Karena saat itu sunyi. Bahkan suara orang atau motor lewat pun nggak ada. Suara gamelan itu baru berhenti sekitar jam 3 pagi. Sejak kejadian itu, Monska nggak pernah bisa tidur sebelum dengar adzan subuh.
“Dan gamelan itu suaranya sering muncul semenjak hari itu tak. Sampe kadang aku nggak ngegubris sama sekali”, katanya.
Lama kelamaan suara gamelan itu nggak pernah terdengar lagi dan Monska sudah merasa nyaman.
Tapi, suatu malam..
Nggak ada tanda gerbang dibuka, nggak ada langkah kaki, nggak ada suara motor, sunyi...
Tiba tiba
“srrreeek srrreek srrreeeek”.
Suara sapu lidi menyapu jalan tengah malam. Terdengar tepat didepan kos.
“Mungkin tetangga sebelah. Eh, tapi ngapain tetangga sebelah nyapu jalanan depan hutan kota tengah malem?” katanya pada diri sendiri.
Hutan kota ini minim penerangan, satu satunya sumber cahaya dari kosan kami. Mana mungkin ada yang berani nyapu disitu jam segini?
“Srrreek srrreeek srrreeekkk”
terdengar terus selama 30-45 menit. Menghiraukan rasa takut campur penasaran, Monska mencoba tidur.
Thn 2014 penghuni kos A15 hanya aku, Chika, Maya, Arin, Monska dan Vati. Tapi, pertengahan tahun Vati pindah kos. Tersisa kami berlima menghuni kos sebesar ini.
Biar nggak merasa sepi sendiri, Monska beli kucing kecil.

“Namanya Chino, lucu kan?”

Berjam jam aku dan Maya main di kamar Monska, ngobrol sambil elus elus Chino. Tengah hari kami kembali ke kamar masing masing.
Nggak lama, Monska manggil kami dari bawah.

“Kenapa Mons?”

Monska berdiri didepan pintu kamarnya, terkunci dari dalam. “Aku tadi cuci muka trus mau balik ke kamar, tapi gak bisa dibuka padahal tadi pintunya nggak kututup. Gimana nih, kasian Chino didalam”
Benar benar terkunci. Kami bertiga pindah ke garasi untuk ngecek kondisi pintu kamar dri luar jendela. Nampak grendel pintu sudah dlm posisi lock. Kami nggak yakin angin penyebabnya. Apa Chino yg mainin? Nggak, posisinya terlalu tinggi. Jangankan grendel, naik meja aja blm bisa
(Ilustrasinya seperti ini. Butuh 3 gerakan agar slotnya bisa dalam posisi lock. Monska jarang banget ngunci pintu pake grendel. Jadi, posisi slotnya pasti dan selalu ada di no 1 dengan arah kebawah. Apa mungkin angin/getaran bisa menggeser posisi slot?)
Kami coba menyentuh slot dengan galah tapi susah karena gerakan tangan terhalang teralis jendela.
Kami menyerah. Nggak berapa lama, Doni (pacar Monska) datang melihat kondisi kamar untuk mencari celah. Dia membobol ventilasi dari kamar sebelah. Berhasil masuk dan membuka pintu.
(Udah dulu ya..Masih butuh ngerangkai cerita dari teman teman lain. Yang ini belum seberapa. Masih banyak yg lebih ekstrem. Besok disambung lagi, sekalian nunggu rame..hehe Oyasuminasai)
Warga twitter yang baik. Malam ini thread saya lanjutkan. Tapi, saya minta 1 hal. Tolong yg tau tempat yg dimaksud, simpan sendiri ya. Ngk perlu dijelasin lokasinya dimana. Sudah saya samarkan semua, saya ngk pengen merugikan pihak manapun. Murni bercerita. Semoga bisa dipahami.
Terimakasih atas antusiasmenya. Mohon maaf kalau masih banyak typo. Belum sehari thread ini tayang, sudah ada kabar terbaru dari penghuni setelahku dan tetangga kos. Sepertinya cerita ini akan lebih panjang dari perkiraan awal.
Btw, aku bukan orang yang paham hal hal mistis. Sebatas mengalami saja. Jadi, teman teman yang mungkin lebih tau, boleh bantu menjelaskan. Mari kita mulai..
Chika & Arin yg baru datang ikut penasaran. Kami coba geser geser slotnya.
“Lumayan seret lho. Kok bisa pindah ya?”

Pintu kamar Monska jadi topik menarik siang itu, dan sama seperti kasus kunci dalam saku, kami nggak tau penyebabnya. Yasudah, toh Monska sudah bisa masuk kamar
Sebenarnya aku, Chika, dan Arin masing masing pernah mengalami hal aneh saat sedang sendiri. Seperti Arin yg mendengar suara dari dalam lemari baju.
Saat itu, kosan sedang kosong. Arin pulang untuk makan, sholat dan istirahat sebentar karena kuliah selanjutnya masih 3 jam lagi.
Sudah jadi kebiasaan kalau ada waktu santai, dia main game farm heros saga. Nggak terasa 2 jam sudah dia main, lupa kalau masih ada kuliah sore. Tiba tiba...
“TokTokTokTok”, refleks Arin nengok mencari sumber suara. “TokTok” Ketukannya berasal dari dalam lemari.
Merinding, dia ambil ransel dan kunci motor. “Oke, aku berangkat”, ucapnya gemetar sambil menutup pintu kamar.
Karena Arin sekamar denganku, jadi dia cerita duluan ke aku. “Mungkin suara cicak lagi dugem”, tanggapanku bercanda biar nggak keliatan takut.
Sebenarnya, aku juga beberapa kali dengar suara yang tidak jelas penyebabnya.
Yang paling sering adalah suara langkah kaki saat nggak ada seorang pun selain aku di kos. Seperti yang aku sebutkan sebelumnya, tangga dan lantai atas seluruhnya dari kayu. Jadi, siapapun yang naik ke atas pasti terdengar langkahnya.
Hari itu aku sendiri yang nggak ada jadwal kuliah. Keempat temanku sudah berangkat sejak pagi. Mulai lapar, aku cari indomie di bank makanan bawah meja.

“Dug dug dug dug dug”

Ada yang sudah pulang nih, Alhamdulillah nggak sendiri, pikirku.
Kebiasaan kami tiap pulang kuliah pasti saling menyapa atau setidaknya ngomel mengeluhkan banyaknya tugas. Tapi ini nggak ada satupun suara dari mereka.
“Dug dug dug dug”.
Aku langsung lari ke depan tangga dan nggak ada siapa siapa.
Karena sudah terjadi beberapa kali, kesal dan penasaran, aku duduk di anak tangga teratas.

“Tak enteni iki lho, ayo munggah o”
(Kutungguin nih, ayo naik), ucapku kencang.

Lama menunggu, suara itu nggak lagi muncul.
“Ceklek”, Oh Maya pulang.
“Kon lapo tak?”
(Kamu ngapain tak?)

“Maeng enek suoro wong munggah padahal gak onok sopo sopo. Penasaran, tak enteni”
(Tadi ada suara orang naik padahal nggak ada siapa siapa. Penasaran, aku tungguin)
“Koceng paleng”
(kucing mungkin)

“Koceng seng gedhe ne sak Timo ta?”
(Kucingnya sebesar Timo kah?)

Kami tertawa..
Suara suara aneh juga beberapa kali didengar Chika. Waktu terjadinya sama seperti Monska, selalu tengah malam.
Yang paling diingat Chika, saat itu jam 02.00. Karena kebelet, dia terbangun dari tidurnya. Masih ngumpulin nyawa, tiba tiba terdengar suara tawa dari arah jemuran.
Tawa perempuan yang susah didefinisikan dengan akal sehat. Terdengar seperti campuran suara ketawa, nangis dan kokok ayam. Kencang dan jelas. Karena gagal membangunkan Maya, Chika nggak berani ke kamar mandi lalu kembali tidur.
Menurutku, satu satunya cara agar tetap nyaman tinggal disini tanpa merasa takut adalah mengabaikan suara suara aneh yang muncul, anggap hanya imajinasi. “Halah, mungkin....”, menjadi respon andalan.
Bisa jadi si pemilik suara tersinggung karena merasa diremehkan. Jadi, beberapa hari setelahnya gangguan serupa muncul...
Aku masih terjaga main twitter stalking #foodporn. Asyik memandangi foto fotonya, membayangkan rasa makanan yang nggak bisa kubeli. Jariku terhenti oleh suara sayup sayup, namun jelas. Terdengar tangisan perempuan. Suaranya..seperti jauh tapi serasa dibisikan ke telinga kiriku.
Kupejamkan mata rapat rapat. Ngapunten mbak...sepurane, rintihku dalam hati. Nggak hentinya baca ayat kursi sampai tertidur. Seingatku, aku belum pernah ceritakan ini ke teman kosku. Takut dibilang kualat.
Berbulan bulan sudah nggak ada kejadian aneh lagi. Pikiran sudah bebas dari keparnoan yang nggak perlu. Apalagi kami disibukan dengan tugas kuliah yang nggak bisa santai. Jadi, hampir setip malam kami keluar berburu wifi gratis untuk mengerjakan tugas.
Seperti malam ini, Arin dan Chika nugas diluar, tinggal aku dan Maya saja di kos. Maya ketiduran di kamarku, jadi hanya aku satu satunya yang terjaga.
Biar nggak sepi, nonton film ah, pikirku. Sedari pagi laptopku di kamar Chika jadi aku nonton disana.
Aku duduk bersandar di samping dipan. Buka stok film dari hard disk dan pilih Marmut Merah Jambu, film komedi RadityaDika. Santai nonton sambil ngemil kuaci.
Saat sedang seru serunya, terdengar langkah terburu buru dari arah tangga.
“dug dug dug dug dug dug dug”

“Biasa ae chi, gak usah mlayu”
(biasa aja chi, nggak perlu lari), teriakku tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop. Chika kalau naik tangga memang nggak bisa santai. Selang beberapa menit, kok ini anak nggak masuk kamar?
Aku pause filmku. Tanpa merubah posisi duduk, ku tengok arah tangga. Nggak ada siapa siapa..

“Chi, awakmu nang ndi? PING!” (Chi, dimana?)
“Sek ndek A3 tak, tugasku durung mari”
(Masih di A3 [salah satu gedung kampus yg ada wifinya], tugasku belum selesai)
“Mons, kencanmu sek suwe a? PING!”
(Mon, kencanmu masih lama kah?)

“Mariki moleh tak” (Abis ini pulang)

Bodo amat lah, toh suara semacam ini sudah biasa. Aku lanjut nonton lagi.
Nggak lama kemudian, terdengar suara motor dan gerbang. Oh, Monska pulang. Setelah menutup pintu, dia langsung naik ke lantai atas sambil berteriak...

“Taaaaaak!!!”
Kaget, aku langsung keluar kamar.
Begitu berdiri di depan pintu, kami bertatapan, mematung sepersekian detik.

“Kon mambu pisan gak tak?” (Kamu bau juga nggak?)
Aku mengangguk.
Bau kemenyan menyeruak sangat kuat. Heran... kenapa bau sekuat ini nggak tercium sampai kamar, padahal pintunya terbuka lebar. Kami ketakutan dan masuk ke kamarku dimana Maya masih tidur.
“May May, tangi May! Mambu menyan sak omah”
(May, bangun May! rumah bau kemenyan)

“Hmmm? Ehehe”, Maya hanya meregangkan badan sebentar lalu kembali tidur.

“Ya Allah arek iki” (Ya Allah, ni anak)
Aneh... Bau menyan juga nggak masuk ke kamarku.
Aku dan Monska nggak berani keluar kamar. Seakan ini satu satunya tempat paling aman. “Bau kemenyan ini darimana sih?”
Berjam jam kemudian, Chika dan Arin pulang. Mereka nampak curiga karena Monska jarang main ke kamarku sampai selarut ini. Kami cerita apa yang baru saja terjadi. Dari raut muka Arin, nampaknya bau itu sudah hilang.
“Kok aku tok sih seng gak tau ngalamin kejadian aneh?” (Kok aku doang sih yang nggak pernah ngalamin kejadian aneh?)

“Pengen ta May?”, sahut Arin

“Gak, makasih”
Di awal tahun 2015, karena satu dua alasan Chika memutuskan pindah kos. Artinya, tinggal Maya seorang di kamar I dan biaya kos jadi ditanggung sendiri. Sebagai bentuk solidaritas, kami bertiga meminta ijin pemilik kos untuk pindah di kamar III dan biaya kos dibagi rata.
(Biar lebih jelas, aku lampirkan lagi denah lantai 2. Jadi, sekarang kamar III terisi, sedangkan kamar I&II kosong)
Sejak awal, kamar III belum pernah dihuni, karena biaya sewanya paling mahal mengingat ukurannya yang luas, kira kira 4m x 8m. Sama seperti sebelumnya, interior didominasi kayu. Seharian kami menghabiskan waktu membersihkan kamar dari debu yang luar biasa tebal.
Kali ini, tempat tidur kami terpisah, bukan lagi dipan tingkat seperti sebelumnya. Aku dan Maya memilih tempat tidur di samping jendela. Menurutku ini spot terbaik, membayangkan esok pagi ketika bangun yang kulihat pertama adalah dahan pohon, burung dan tupai.
Tapi bagi Arin, menyeramkan kalau bisa melihat apa yang terjadi diluar sana, sehingga dia memilih tempat tidur di samping lemari.
Bulan berikutnya datang 2 penghuni baru, Tiara dan Ayu. Mereka pelajar dari salah satu sekolah sekitar kos. Kami gampang akrab dengan Tiara. Anaknya lucu jadi kami sering menggodanya dengan sebutan anak kecil. Mereka berdua menempati kamar bawah dekat pintu menuju garasi.
Pertengahan tahun 2015, pemilik kos merenovasi rumah. Lebih tapatnya menambah kamar. Ruang tamu luas yang selama ini jadi tempat berkumpul kami, diubah menjadi 3 kamar.
(Gambar denah lantai 1 sebelum dan sesudah renovasi. Aku kasih nomor biar mudah dipahami. Kamar Monska nomor B4. Kalo dipikir pikir, berani benar ya dia tinggal di bawah sendiri selama hampir setahun. Oke lanjut...)
Tiara dan Ayu pindah ke kamar yang baru jadi, mereka pilih kamar B8. Tapi nggak lama, Ayu pindah, jadi tinggal Tiara sendiri. Sejak itu, Tiara sering main ke atas. Kamar kami yang paling luas ini jadi semacam basecamp.
Di akhir bulan, kamar B6 dihuni 2 pendatang baru. Namanya Lita dan Beby. Mereka bersaudara. Lita teman Maya di kampus, sedangkan Beby adik tingkat Monska. Kos sudah nggak sesunyi dulu, apa ini artinya gangguan akan berkurang? Kami harap begitu...
(Hari ini segini dulu ya.. Aing pengen istirahat, kemarin susah tidur karena kebayang thread sendiri. Baru 2 jam pules, udah subuh aja. Kalo uda siap, aku lanjutin lagi)
(and, don't spill the tea! Biar sama sama nyaman. Sankyuu)
Terimakasih sudah sabar menunggu. Kemarin aku sempat bilang bahwa di hari pertama thread tayang, aku dapat kabar terbaru dari teman teman yg masih tinggal di kosA15. Jadi, hari ini akan aku bawakan kisah mereka. Selamat membaca....
“Mbak Mons, jadi nonton apa kita?”
Sudah 10 menit jari Tiara bermain diatas keyboard menyelami situs situs film, bingung yang mana yang mau ditonton.
“Inside Out aja”
Inside out ini film animasi tentang 5 emosi dasar dlm diri seorang anak yg divisualkan menyerupai karakter lucu. Monska suka film berbau psikologi, sesuai jurusan kuliahnya. Tiara mengambil camilan dari bawah meja belajar. Nonton sambil nyemil memang surga dunia
Udara di kamar Tiara malam itu sedikit panas mungkin karena sirkulasinya tidak lancar. Jendela kamar jarang dibuka agar nyamuk dan serangga lainnya tidak masuk. Maklum, kosan kami disamping hutan jadi nyamuknya ganas ganas.
“Buka jendelanya Ra, gerah nih”.
Tiara menyibakan gorden dan mendorong daun jendela. Nampak taman depan yang kurang terawat, rumput liar mulai tinggi dan daun daun berserakan. Remang remang cahaya dari lampu teras masih mampu menyinari sebagian halaman.
Badan Tiara menegang, keringat dingin mengalir di pelipisnya.
Disana, diantara bambu dan kolam, berdiri sesosok laki laki, perawakannya tinggi kurus dan..mukanya hancur. Darah membasahi bajunya yang putih compang camping. Sosok itu meringis menatapnya lama lalu menghilang.
Tiara kesulitan berbicara, nggak percaya apa yg dilihatnya.

Monska memegang bahu Tiara, mengguncangnya beberapa kali sambil memanggil namanya. Tiara gemetar hebat. Malam itu Monska menemani Tiara sampai tertidur. Esok paginya, Tiara cerita apa yang kemarin ia lihat.
Sepertinya ‘mereka’ mulai berani berkenalan dengan penghuni kos yang baru. Beby salah satunya.
Beby merasa ada yang nggak biasa dari kosan ini, karena hampir tiap tengah malam terdengar suara orang menyapu jalan.
Tapi malam ini lain lagi..
Beby sedang santai chattingan dengan pacarnya selagi menunggu Lita pulang dari kegiatan organisasi. Lita memang anggota aktif dan sedang persiapan untuk lomba, jadi hampir setiap hari pulang larut malam.
Jarum jam menunjukan pukul 23.45 tetapi Lita belum juga pulang. Mencoba merubah suasana biar nggak terlalu sepi, Beby memutar lagu dari playlist laptopnya.
Nggak berapa lama, Beby dikagetkan dengan suara tawa dari arah taman. Seperti tawa anak anak sedang bermain, ramaaaiii sekali.
Masa sih anak kecil main jam segini? Di depan kos orang pula...
Penasaran dan merasa terganggu, saat itu juga Beby membuka jendela kamar. Pandangannya menyapu ke arah sumber suara tadi. Sepi....nggak ada siapapun. Padahal tadi jelas jelas ada suara anak kecil. Wah, nggak bener nih.. dia tutup jendela rapat rapat dan langsung tidur.
“Kak Mons..kemarin malem aku denger suara anak kecil main main di taman depan sana, padahal itu jam setengah 1 loh. Pernah juga tengah malem aku denger suara orang nyapu, sama suara langkah kaki di tangga ini”

“Udah biasa itu..Biarin aja”
Teman teman kami yang pernah berkunjung ke kos A15 hampir semua berkomentar, “kok kamu betah disini?”

Yah... nyatanya, kenyamanan kos ini mengalahkan kengerian yang kami rasakan.
Tahun 2016 Arin pindah kos. Otomatis biaya sewa kamar yang semula ditanggung bertiga menjadi tanggungan berdua. Karena aku dan Maya keberatan, maka kami pindah kamar. Kami pindah ke kamarB3 dekat Monska.
Di 2016 pula, penghuni kosA15 bertambah dari kalangan pelajar dan mahasiswa pascasarjana. Maka, hampir seluruh kamar di lantai satu terisi.
(Dari 2016 kita lompat ke 2018 aja ya. Karena di thn 2017 aku & Maya lulus kuliah, dengan begitu selesai sudah masa kami di KosA15. Sementara Monska memutuskan pindah. Jadi, disini aku sebagai penyampai kisah dari penghuni baru)
Kamar B7 kini terisi oleh kak Keny dan kak Rani. Kak Keny cerita.. Waktu nempatin kamar itu, kak Rani pernah bermimpi didatangi sosok perempuan berambut panjang. Perempuan itu menatapnya tanpa bicara satu kata pun.
Cantik tp auranya menyeramkan hingga mampu membangunkan kak Rani dari tidurnya. Ketika membuka mata, badan kak Rani nggak bisa digerakan, sakit sekali.
Lalu, dari celah diantara daun pintu & lantai, kak Rani melihat bayangan hitam seperti sepasang kaki berdiri dari balik pintu.
Lama sekali berdiri disitu...
Kak Rani berusaha membangunkan Kak Keny, tapi nggak mampu. Lalu bayangan itu beranjak pergi. Seketika itu juga, badan kak Rani terbebas. Nafasnya tersengal.
(Man teman, mohon maaf malam ini belum bisa lanjutin threadnya. Aku lagi dikejar deadline orderan 🙏
Kalo ini beres, insyaAllah aku lanjutin cerita kosku sampe tuntas, nggak gantung gantung lagi.
nb : kasi foto karena katanya no pic, hoax 😂)
Saking takutnya, Kak Rani membangunkan Kak Keny dan menceritakan apa yang baru saja terjadi. Karena Kak Rani nggak nyaman di kamar itu, akhirnya mereka memutuskan pindah ke kamar B3. Kamarku setahun terakhir.
Kak Keny percaya dengan apa yang dialami kak Rani, karena nggak sekali dua kali matanya menangkap bayangan hitam masuk ke kamar mandi yang ada di depan kamarnya. Padahal nggak ada siapapun disitu
Sore itu mendung, nuansanya mengundang kantuk. Kak Keny hampir tertidur kalau saja tidak ada kegaduhan dari garasi dan suara kaki mondar mandir. Sepertinya Pak Beno (pengelola kos) lagi beres beres perkakas.
Pak Beno jarang mengunjungi kos, paling paling datang kalau ada masalah atau mau menagih uang sewa. Itulah mengapa kami tidak akrab bahkan ada yg menghindari beliau. Hening.... sepertinya Pak Beno sudah pulang.
"Pak Beno tadi sore kesini Ran, untung kamu nggak ketemu"

"Maksudnya? kan kamu tau dari tadi aku di teras sama anak anak. Nggak ada tuh Pak Beno dateng"
Seolah paham apa yg tadi terjadi, mereka tidak melanjutkan obrolan.
Di tahun 2018, intensitas ‘mereka’ menunjukan eksistensinya semakin tinggi. Beby yang paling terbuka menceritakan pengalamannya.

............(Rangkuman isi percakapan dengan Beby)............
“Kak itak pernah nggak denger suara orang lari di tangga? Biasanya jam 1 atau jam 2 malem itu aku denger langkah kaki di tangga, bolak balik, terus menerus. Makin lama makin keceng.....
Pernah juga dari tangga itu, ada bayangan putih melayang nembus ke kamar mandi atas. Serem banget...
Dan, yang buat aku paling nggak nyaman itu suara keran air kebuka. Ada mungkin kejadian 3 kali.
Yang pertama, waktu semester 5. Kan lagi banyak banyaknya tugas tuh, jadi aku sering begadang. Biar nggak sepi, aku suka play lagu di laptop. Sekitar jam 02.30, aku denger suara keran air. Ku turunin volume laptopku, kedengeran jelas banget dari arah dapur.
Lamaaaaaaaa bener terus berhenti. Kalau ada yang nyalain keran, pasti aku juga denger pintu kebuka atau suara langkah kaki, tapi itu nggak ada. Posisinya kosan lagi sepi. Tinggal kakak kakak depan kamarku, yang lainnya udah pada pulkam..
Yang kedua, aku denger sama temen kerjaku. Aku ajak 2 orang nginep di kos. Waktu itu kita pulang jam 11 malam. Kita nggak langsung tidur, tapi nonton drakor dulu sambil makan mie.

Tiba tiba kita denger suara air nyala dari keran taman yang deket gerbang itu.
‘Siapa tuh Beb nyalain air di luar?’, kata temenku.
Disitu aku refleks buka jendela, nggak ada siapa siapa dan suaranya juga langsung ilang. Aku sama temenku liat liatan. Daripada takut, kita lanjut nonton.
Yang terakhir...
Kejadian waktu aku lagi skripsian. Sekitar jam 1 aku mau ke kamar mandi, cuci muka sama gosok gigi.
Nah, pas aku tutup pintu kamarku.. aku denger suara itu lagi dari dapur.
Karena udah nanggung, udah keluar kamar juga, jadi aku beraniin ngecek kesana.
Dan beneran kak, posisi air di dapur itu masih nyala kenceng, padahal nggak ada orang. Aku matiin terus balik ke kamar, nggak jadi cuci muka.
Deg deg an parah.... Aku kunci kamarku, kupaksa tidur.
Pernah aku dianter pulang sama temen kuliahku. Dia bisa lihat yang begitu begitu, katanya udah biasa.
Pas perjalanan kita masih ngobrol ketawa ketawa terus pas nyampe depan kos, dia diem gak berani ngomong.
Besoknya baru dia cerita kalau di depan pager kita, pager besar yang deket kolam itu.. ada baaaanyaaaak bener.
Tapi katanya nggak ganggu.
Sebelum bangunan ini berdiri, ‘mereka’ uda ada disitu.
Nah, yang bikin dia diem itu, dia liat kakek kakek di sekitar bambu situ.
Yang bilang kaya gini uda 2 orang kak.
Yang kedua, temenku cewek. Kalau nggak salah di bulan oktober 2018, waktu itu aku sama temen temenku kumpul di teras. Kita latian nyanyi buat acara kampus. Ya namanya latian nyanyi, pasti berisik.
Salah satu temenku yang cewek ini indigo. Dia awalnya biasa aja, tapi lama kelamaan dia diem.
Aku tanyain kenapa, dia jawab jangan ribut ribut.
Nah..pas ke kamarku, dia cerita kalau ada yang ngintipin kita dari balik pohon bambu.
Dan katanya, di dekat kolam itu banyak banget, bentukannya nggak karuan. Dan, di dalam juga ada. Makhluk besar gitu di kamar mandi sebelah tangga.
Mereka ngeliatin wujudnya ke temenku ini karena mereka merasa terganggu sama ‘penjaga’nya dia.
Selama ini kita sebatas denger suara aja kan kak.
Nah, tahun lalu parah banget..
Aku pulang kerja jam 07.30. Di sebelah kamarku itu ada anak baru. Mereka lagi undang teman temannya kumpul. Ribut gitu, ada yang berantem. Tiba tiba salah satu cewek itu jerit, kenceeeng banget...
Aku kira main main, ngeprank atau apalah.
Eh, lama lama kok nangis histeris..? Ternyata dia kerasukan....
Untung waktu itu ada keluarganya kakak kakak pasca yang bantuin.
Si cewek itu diurut, badannya digosok pake bawang. Nggak lama, dia kejang kejang...kuat banget. Yang megangi sampe 4 orang. Abis gitu dia diem terus pingsan. Sumpah kak, itu pertama kali seumur hidupku ngeliat langsung orang kesurupan”

...........................................
Parah sih......
Aku nggak menyangka kalau cerita dari Beby akan se-ekstrem ini. Ternyata paranormal experience ku di kos ini belum seberapa.
Hari pertama thread ini tayang, aku dapat chat dari Chika. Dia bilang kalau ada teman kerjanya yang tinggal di dekat kos kami.

“Namanya Mbak Desi.. Coba kamu hubungi, Tak. Mungkin kamu bisa dapat penjelasan tentang semua yang kita alami”
Aku coba chat Mbak Desi untuk berbagi cerita. Orangnya ramah dan sopan. Mbak Desi bekerja di salah satu kantor media terkemuka. Tugasnya mencari berita di ranah pemerintahan kota malang. Kalau sedang banyak liputan, jangan harap pulang tepat waktu.
Seperti malam itu.....
Pukul 01.30, Mbak Desi baru keluar kantor. Jalanan sudah sepi. Udara dingin menemaninya di sepanjang perjalanan pulang. Akses terdekat ke rumah Mbak Desi ditutup kalau sudah lewat jam malam. Jadi harus ambil jalan memutar.
Mbak Desi mengendarai motornya melewati hutan kota dan kosku. Sampai di tikungan, nampak jalan dihiasi akar akar gantung dari pohon beringin yang tumbuh di halaman kos. Akar gantungnya menjuntai, sebagian melewati pagar sampai ke jalan.
Kira kira jarak 2 meter, Mbak Desi sadar ada yang aneh...

Dia melihat salah satu bagian akar gantung itu warnanya hitam, lebih panjang dan tebal dari yang lain.
"Ya Allah, itu rambut"
Karena sudah terlalu dekat dan nggak bisa menghindar, rambut itu menyentuh wajahnya.
Terdengar kikih tawa perempuan, suaranya lantang. Refleks, Mbak Desi tancap gas.

Kejadian serupa juga dialami oleh temannya. Jadi, sudah 2 orang yang mengalami. Cukup menguatkan bahwa itu bukan sekedar halusinasi.
"Mbak, ada temen kosku yang sering dengar suara orang nyapu pake sapu lidi tiap tengah malam. Mbak Desi pernah denger juga nggak?"

Ternyata suara itu juga terdengar sampai rumah mbak Desi dan terekam oleh kakaknya.
Aneh... dari hasil rekaman, suara itu terdengar makin lama makin mendekat, seakan sadar ada yang sengaja memperhatikan.
(ini rekaman suara dari kakaknya mbak desi)
"Bukan suara orang nyapu pake lidi. Tapi suara 'perempuan' itu lagi mainin roknya".

Allahu Akbar... jariku gemetar, makin gampang typo tapi aku paksa untuk terus bertanya.
Aku ingat tentang tetangga yang memperingatkan salah satu penghuni kos agar hati hati karena pernah ada kejadian.
Jadi, aku tanya ke Mbak Desi, kejadian apa yang dimaksud?
Jadi.... dulu, salah satu rumah di daerah ini pernah kemalingan. Warga yang mendengar teriakan dari pemilik rumah langsung melakukan pengejaran.
Nggak lama, maling itu ditemukan di tengah jalan. Di depan rumah kosong yang sekarang disebut kosA15. Dia pingsan.
Masih setengah sadar, maling itu dirungkus warga dan dibawa ke pos kampling. Setelah dia benar benar sadar, warga tanya
"lapo mari nyolong kok semaput tengah dalan?"
(Ngapain habis nyuri kok pingsan di tengah jalan?)
Si Maling cerita... sewaktu dia lari ngelewatin tikungan, dia denger suara tawa terkikih. Dia perlambat langkahnya untuk melihat sumber suara. Dari jendela lantai 2 rumah kosong itu, berdiri sosok perempuan.
Perempuan itu menatapnya. Dia tersenyum memiringkan kepala sambil menyisir rambut dengan jari jarinya. Tawanya terdengar lagi, lalu maling itu pingsan.

Muncul pertanyaan di kepalaku. Sebenarnya ada apa dengan bangunan kos kami?
“Bukan salah bangunannya, tapi tanah sekitarnya. Dimanapun tanah yang bau darah, itu agak angker”, jawab Mbak Desi.
Rumah Mbak Desi salah satu rumah yang tertua. Kakeknya yg pertama kali mendirikan rumah di lokasi yg semula adalah area persawahan. Lahan ini sebetulnya jatah bagi tentara perang. Ya, kakeknya adalah tentara yang pernah bertugas di peperangan 10 november dan operasi Irian Jaya.
Beliau yang membuka lahan, mengaspal dan mengalirkan listrik. Kalau kata orang jawa, babad alas.
Ada rumor yang bilang kalau area persawahan itu sempat jadi tempat penguburan korban perang.
Masuk akal, karena kawasan ini berdekatan dengan salah satu lokasi pertempuran tentara republik indonesia pelajar.

“Yang jelas, tempat ini banyak bangeeet penunggunya. Terus suara gamelan yang kamu ceritain di thread, itu ‘mereka’ lagi pesta.” kata Mbak Desi.
Mungkin benar....
Masih banyak kejadian seram yang dialami teman teman kos dan mungkin warga sekitar yang nggak bisa diceritakan disini. Terjawab sudah rasa penasaran kami.
Dari kisah ini, semoga bisa diambil hikmahnya..
Bagi siapa pun yg merasa sebagai pendatang, harus jaga perilaku. Kita nggak tau sejarah dibalik tempat kita berpijak. Kalaupun kita sudah sopan tapi masih ngalamin yg aneh aneh, mungkin 'mereka' hanya ingin menunjukan bahwa 'mereka ada’.
Kalau kata mas @Dodit_Mulyanto , "Tanah adalah tetap, manusia yang merubah-ubah fungsi dan apa yang ada diatasnya. Di bawah tanahmu terpendam sesuatu dari pendahulumu"
Sekian kisah "Kos Angker A15"
Nggak nyangka yg baca bakal serame ini. Terimakasih untuk teman teman yang mau menjaga rahasia lokasi demi kenyamanan warga sekitar, penghuni kos dan tentu saja pemilik kosA15.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh.

Keep Current with k u n a o

Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

Twitter may remove this content at anytime, convert it as a PDF, save and print for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video

1) Follow Thread Reader App on Twitter so you can easily mention us!

2) Go to a Twitter thread (series of Tweets by the same owner) and mention us with a keyword "unroll" @threadreaderapp unroll

You can practice here first or read more on our help page!

Follow Us on Twitter!

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3.00/month or $30.00/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!