inTan_T Profile picture
Aug 13, 2020 133 tweets 19 min read Read on X
"Mbah Uti"

Thread

beban itu terasa berat, jangan simpan terlalu dalam.

#truestory
#bacahoror
@ceritaht Image
Satu cerita dari teman terdekatku yang ayahnya sudah seperti ayahku, yang ibunya sudah jadi ibuku, yang neneknya juga kuanggap seperti neneku sendiri.
Kami lahir dihari, tanggal dan tahun yg sama hanya saja berbeda ibu.
Mungkin ini yg membuat aku lebih peka trhadap pribadinya.
Aku akan menjadi orang pertama, sebagai temanku.
Namaku Dina.
Ini kisah nenek ku yg penuh dengan misteri karena terasuk sesuatu yg aku tak tahu apa itu.
Berawal dari tahun 2013.

Nenek ku sakit, aku dan keluargaku mengira hanya masuk angin. Tapi salah satu kakinya bengkak dn sedikit membiru.
Nenekku pun tdk begitu merasakan sakit yg berlebih pd badanya. Hanya fokus pd kakinya yg paling sakit. Kami sudah mengajak berobat kedokter
Beberapa hari keadaan nenek ku berangsur membaik. Namun masih menyisakan lebam biru dan sedikit bengkak dikakinya.
Aku yg khawatir dan sedikit penasaran mencoba menanyakan keadaan beliau.
"Mbah, mpun sae? Mpun Dhahar dereng wau?" tanyaku pada mbah uti panggilan kesayangan driku.
"Wes" jawab mbah uti dengan mata yg melirik tajam kepadaku seolah tidak begitu suka aku brtanya kepadanya.

Aku mencoba lebih lunak lagi agar mbah uti merasa baik. Tak biasanya mbah uti yg ceria bersikap acuh seperti ini. Aku brjongkok dihadapan mbah uti yg saat itu duduk.
Ku pegang kakinya dan memijatnya perlahan, sambil menanyakan kondisi kakinya.
"samparanipun pripun mbah? mpun sami sae?" tanyaku pelan pd mbah.
Tapi kali ini mbah uti hanya diam. Aku mncuri pandang dg sdkit mendongak, trnyata mbah hanya memandang lurus kedepan tatapannya kosong.
Hm..aku merasa agak aneh dan menjadi canggung. Tapi aku tetap memijat kaki mbah uti untuk beberapa saat.
"kono minggir!!" ucapan mbah uti yg sedikit membentak mengagetkanku.
karena tak ingin membuat Mbah jadi marah, aku segera brdiri dan pamit keluar dari kamar beliau.
Tak bisa kupungkiri dalam pikiranku masih berkecamuk. "Ada apa dg Mbah Uti?"
Aku berjalan ke dapur dan mencuci piring. Pikiranku masih terus penasaran, byk prtnyaan yg muncul dlm benaku. "kaki mbah kok lebam seperti hbs jatuh ya? kenapa ada sdkit luka? tapi mbah gk kmn2" hm... entah
"uhuk..." suara batuk berat Mbah Kung mengagetkan lamunanku.
"Praaang...Astagfirullah"
ocehku kaget smpai piring yg sedang kucuci trlepas dr tanganku.
"ono wong watuk kok kagete rak eram nduk2, gawean ojo karo nglamun!" ucap Mbah Kung yg keluar dri pintu samping rumah setelah mberi makan ayam.

"Nggih Kung" jawabku sambil nyengir.
aku mencoba menanyakan rasa penasaranku padabah Kung

"Kung, Mbah Uti nopo nate mlampah2 sak derenge saket?" tanyaku pd mbah kung yg membereskan makanan ayam.

"sak ngertiku yo orak nek ndi2 Din, mung ning omah wae". jawaban Mbah Kung tetap membuat hatiku tak tenang.
Mendengar jawaban Mbah Kung. Aku berhenti brtanya, aku khawatir jika prtanyaanku malah membuat Mbah Kung semakin khawatir pada Mbah Uti.
Entah berapa lama aku pun tak ingat, mungkin sudah hampir 2 minggu setelah Mbah Uti sakit. Tapi lebam biru dikakinya masih ada dan timbul lagi di beberapa titik, sekarang dikedua kakinya.
Mbah Uti sebenarnya sudah nampak normal dimata tetangga. Sudah mau bergaul kembali didepan rumah bersama tetangga, ikut berbincang. Tapi keadaanya tidak cukup normal untuk keluarga ku.
Siang hari Mbah Uti memang tampak biasa saja. Dengan senyumnya, biacaranya yg ramah. Tapi menjelang petang tepatnya magrib, Mbah Uti akan bersikap sebaliknya. Beliau akan banyak diam dengan pandangan yg kosong dan menyeramkan.
Kami keluarganyalah yg paling menyadari. Terkadang Mbah Uti masuk kamar dan berbicara sendiri dikamar, seolah mengobrol dengan seseorang.
Jika ditanya, Mbah langsung diam seketika dan bersikap acuh.
Karena kami takut Mbah Uti menjadi marah, kami hanya sering membiarkannya. Tapi kadang Mbah Kung tetap menegurnya agar tak bicara sendiri atau melamun.
Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan.

Keadaan Mbah Uti masih sama, bahkan menjadi semakin buruk. Orangtuaku sudah berusaha berobat ke dokter, yang mungkin terjadi dalam dunia kedokteran Mbah Uti terkena Alzaemer atau kepikunan.
Ya walaupun banyak hal yg bisa dipungkiri penyakit lupanya ini sedikit pilih2 pada hal2 trtentu saja.
Tapi kami sekeluarga memaklumi penyakit Mbah Uti, yang saat itu menurutku kondisinya masih bugar, rambutnya pun masih sedikit memutih.
Semakin lama keadaan Mbah Uti tak juga membaik.
Beliau masih ingat dan ingin melakukan pekerjaan rumah tapi semua pekerjaanya tidak pada tempatnya.
Pernah beberapa kali mengalirkan air menggunakan selang dan dimasukan ke kamarku, dikiranya kamarku bak mandi. Al hasil banjir lah semua kamarku.

Ini yang paling sering. Mencampur nasi yang baru dimasak dengan nasi basi bahkan yg akan diberikan ke ayam.
Tentu saja semua nasi jadi tak bisa dimakan dan harus dibuang semua. Karena hal itu ibuku selalu meletakan nasi pada tempat yg sulit dijangkau Mbah Uti. Itupun terkadang masih ketahuan lagi. Jelas bila ketahuan nasi akan dicampur lagi bahkan dengan semua lauk yg entah drmna.
Awalnya Mbah Uti hanya sering berbicara sendiri. Kadang-kadang dengan raut wajah marah berjalan kesana kemari didalam rumah.
Entah apa yg dipikirkannya. Yang paling sedih, beliau seakan lupa pada Mbah Kung. Sangat acuh.
Mbah Uti juga sering marah2 tanpa sebab. Beliau akan memarahi orang dirumah dengan nada tinggi dan ucapan yg kami sekeluargapun tk mengerti apa yg dibicarakannya..
Keadaan Mbah Uti semakin memprihatikan. Padahal ini sudah hampir setahun.
Kadang tengah malam terdengar suara tangisan beliau yg begitu menyayat. Tapi bagiku itu sangat menyeramkan.
Setiap kali manengis tengah malam, Mbah Kung dan orangtua ku selalu terbangun, dan kekamar Mbah untuk menenangkannya. Dan disaat kami masuk kamar dan memegang badan Mbah Uti, tangisannya langsung berhenti.
Raut wajahnya nampak marah. Dan beliau hanya memalingkan muka serta badannya.
Semua selalu berusaha sabar dan memaklumi.

Walau kami semua merasa janggal.
Setiap malam tiba, Mbah Uti seperti berubah menjadi sosok lain. Sikapnya akan berubah ubah seakan bisa menjadi beberapa orang.
Kadang Mbah Uti tiba2 berdandan memakai lipstik yg tebal dan sikap yg centil dan gemulai.
Kadang sikapnya diam, dingin dan suaranya berat serta sangat pemarah.

Sikapnya juga bisa berubah kekanak kanakan, suaranya kecil khas anak kecil dan suka bermain hal aneh.
Dan masih ada beberapa sikap lagi yg seolah itu berbeda. Yang menurut kami sekeluarga itu sulit dilakukan pada pribadi Mbah Uti.

Sesekali Mbah Uti juga bersenandung lagu yg tak pernah kami dengar. Sangat asing dan tak pernah kami dengar.
Yang jelas senandungnya itu seperti lagu yg sudah sangat lama, entah apa itu.

Aku selalu merinding setiap Mbah Uti membuat suara senandung itu. Padahal aku sudah berusaha membiasakan pendengaranku.
Terkadang aku sangat lelah dengan sikap Mbah Uti. Tapi aku selalu menyayanginya.

Lelahku bukan karena Mbah Uti yg selalu berbeda sikap, tapi karena harus selalu membereskan semua pekerjaan rumah yg tidak benar yg sudah dikerjakan Mbah Uti.
Karena disaat2 itu aku masih bekerja dan kuliah. Pagi sampai sore aku bekerja dan mlm hari aku kuliah.
Mungkin hampir setiap hari aku pulang lebih dari jam 10 malam. Yang saat itu kampus dan tempat kerja jaraknya cukup jauh dari rumah.
Rumah ku daerah Semarang atas sedangkan kampus di Semarang bawah. (Kondisi tanah kota semarang memang beragam dalam satu kota sudah ad dataran tinggi dan rendah, bukit juga gunung. Kota Atlas, itu sebutan kota semarang dulu)
Untuk sedikit melepaskan penat dan lelah dipikiranku. Aku sering menceritakan kondisi Mbah Uti pada teman terdekatku. Dialah "T", kami berdua seakan tak terpisahkan. Sudah seperti anak kembar, yang sakit pun kami bersamaan.
"T" ini sedikit spesial. Yang aku menyebutnya "Aneh".

Tapi dia tak pernah marah saat ku sebut orang aneh. Dia malah tertawa terbahak. 😁
Aku selalu menceritakan kondisi Mbah Uti kepada "T".
Dia juga merasa aneh. Karena T tau pastibah Uti seperti apa pribadinya. Ya, T memang tahu semua orang dikeluargaku. Keluargaku dan keluarga T sudah seperti saudara.
Aku berusaha mencari tahu apakah ada yg aneh dari Mbah Uti selain penyakit kepikunannya.

"T, kowe iso ndelok gak? Mbah Uti ku ki kenopo? ndak murni loro pikun?" Tanyaku pada T yg memang saat itu dia peka terhadap hal diluar nalar (mistis).
(T, kamu bisa lihat gak? Mbah Uti ki
kenapa? apa murni sakit lupa?)

"umm....piye nak sisuk aku moro omahmu sek? ndelok Mbah Uti koyo piye? Koyoke aku ngroso ono sing liyo, tapi aku butuh mastike" jawab T yang membuat perasanku tak enak.
(umm...gimana kalau besok aku datang kerumahmu? lihat keadaan Mbah Uti gmn? kayaknya aku merasa ada yg lain, tapi aku harus memastikan)
"Oke, sisuk nak prei kowe nginep omahku wae yo!" ajakku pada T. (oke, besok kalau libur kamu nginep di rumahku ya)

"Yo, bisa diatur. Ngko tak kondo bapak ibu sek". cletuk T yg sedikit meredam ketakutanku tiap malam.
(ya, bisa diatur. Nanti tak bilang bapak ibu dulu)
Selang beberapa hari saat libur, T baru bisa menginap drumahku.
Setibanya dirumah T selalu bersalaman (salim) pada Mbah dan orgtuaku.
Tentu tak lupa pada Mbah Uti.

T sedikit lebih lama memegang tangan Mbah Uti dan mencium punggung tangannya mbah.
Aku yang melihatnya langsung menyadari apa yg dilakukan T saat itu.
T berusaha menggali kondisi Mbah Uti.

Aku dan T segera masuk ke kamarku. Aku yg penasaran langsung bertanya pada T.
"piye T? Piye? Mbah Uti ku kenopo?"
(gimana T? gimana? Mbah Uti ku kenapa?)

"Tenaang, Sabar, tak lungguh sek".(tenang, sabar, tak duduk dulu). jawaban T yg santai malah membuatku penasaran karena ini memang kebiasaanya T, tenang tapi penuh misteri.
"heleh, cepet to!". gerutuku tapi tetap mengambilkannya minum.

"memang ono sing liyo ning Mbah Uti, Din. Tapi ojo diomongke ning kene".(memang ada yg lain di Mbah Uti, Din. Tapi jangan dibicarakan disini)
Jawaban T membuat jantungku berdegup kencang.
Aku tahu pasti ada yg tidak beres sejak awal, tapi tetap saja aku merasa takut.

Aku masih saja ingin bertanya pada T, walaupun jelas pasti T tidak akan membicarakannya saat itu juga.
"Lha nopo T? kok gk diomongke ning kene, sak iki wae?".(Lha kenapa T?kok gak diomongkan disini, sekarang saja?) tanyaku pada T yg sdh menikmati kasurku dari ujung ke ujung.

"Masalah.e ono ning kene! nk diomongke malah do moro".(masalahnya ada disini! kalau diomongin mlh pd dtg)
"Deg" aku langsung berhenti bertanya dan ikut berseluncur dikasurku bersama T.

Aku masih terus memikirkan apa sebenarnya yg terjadi.

Yang tiba2 T mengatakan sesuatu, dengan mata terpejam yg kukira dia sdh tertidur tadi.
"Din, nak iso Mbah Uti ojo ditinggal dewe! Dijak omong2 ben gk ngelamun! Diati-ati koyone iki iso luwih adoh!"
(Din, kalau bisa Mbah Uti jgn ditinggal sendiri! Diajak ngobrol biar tdk melamun! Dijaga bener,kyknya ini bisa lebih jauh!).
Mendengar perkataan T tadi, aku langsung menoleh padanya.

"Heh, heh! kowe nglindur opo omong tenan? Ojo mbek merem to nk omong!.(Heh, heh! kamu ngigau apa omong beneran? jangan sambil mejamin mata kalo omong!).
sambil kugoyang goyang badan T memastikan dia belum tertidur.
"Aku jek sadar iki, mung merem kesel awake. Koyok gak ngerti wae dewe kan nak turu butuh proses dowo".(Aku masih sadar ini, hanya mejamin mata karena badan lelah. Kayak gak tahu saja kita kalau mau tidur butuh proses panjang)
jawab T sambil nyengir dan duduk ambil minum.
"sisuk tak kandani pas ning kampus, tp ojo pas ning omah kene" ucap T setelah meneguk minumannya. (besok tak beritahu dikampus, tp jgn paa dirumah sini)

"Hm...oke".jawabku pda T.

Sebenarnya aku masih trs memikirkannya. Tapi untunglah T bisa membuatku membahas hal lain.
Seharian dirumah ku, T sudah merasakan sendiri bgmn perbedaan Mbah Uti.

Syukurlah T sangat memahami dan memaklumi. Aku tahu dia jg sangat sayang pd Mbah Uti.
Hari berikutnya kami sudah kembali dg rutinitas yg melelahkan lg. Kembali bekerja dan dilanjut kuliah disore hingga malam hari.

Aku sudah memendam rasa penasaranku dari hari kemarin.
"T, kowe ndelok opo ning Mbah Uti?" tanyaku pda T setelah kmi selesai kelas . (T, kamu lihat apa di Mbah Uti?)

"He? sini duduk dulu!" ajak T agar kami bisa bicara lebih santai.
Lalu dia melanjutkan perkataanya.
"Mbah Uti opo pernah ngrso beban Din?"
(Mbah Uti apa pernah merasa punya beban, Din?)

"Hm? Beban pikiran?" cletuku spontan. Seolah aku langsung paham dg prtanyaan T.

"Leres" (benar) .acungan jempol T menandakan jwbnku benar.
"Mbiyen, Mbah Uti ki ndambake anake lanang keri iso dadi wong banggake T. Tapi kenyataane terbalik. Bahkan karo bapak ibuku bedake banget." Ujarku pda T.
(Dulu, Mbah Uti itu mendambakan anak laki2 terakhirnya bisa membanggakan T. Tapi kenyataanya terbalik. Bahkan sama bapak
ibuku membedakan bgt).

"Terus kui malah dipikir trus karo mbah Uti ngono?" tanya T lagi.
(Terus itu malah jd pikiran trs mbah uti gtu?)

"Iya, ditambah koyone Mbah Uti kui kisinan. Bapak Ibuku sing mbyen disio2 wae, tapi malah bakti bgt karo mbah Uti. Angger dirumat ibuku,
malah nangis karo ngelus2 njaluk ngapuro." ceritaku pada T. (Iya, ditambah kyknya Mbah Uti itu malu. Bapak ibuku yg dulu disia2 trs, tapi malah berbakti sm mbah uti. Setiap dirawat ibuku,malah nangis mengelus dan minta maaf)
"Hm... mungkin krn merasa malu dan beban itu ya. Mbah Uti jd sering melamun. Dan mereka jadi seneng, dapat tempat baru" ucapan T membuatku langsung fokus kembali.

"Maksudmu piye T?,mereka?" tnyaku.
(Maksud kamu gmn T?mereka?)

"Sing tak delok wingi, Mbah Uti ki iso diampiri
werno werno. Orak mung siji."
Perkataan T membuat jantungku berdegup kencang. Takut tp juga penasaran (Yang kulihat kemarin, Mbah Uti itu bisa didatengi bermacam2. Tidak hanya satu)

"ono piro?" aku semakin penasaran (ad brpa?)
"Rungokno yo, Ojo percoyo aku ! soal.e sing melu ndelok ning motoku kui y teko setan jin. Ojo percoyo. Akehi dungo!" Ucapan T nampak serius. (Dengarkan ya, jangan percya aku! karena yg ikut melihat melalui mataku juga dari jin. Jangan percaya! banyak berdoa!)

"Oke, paling gak
aku sm keluarga bisa jg cari obat lain selain dari dokter. Bisa ruqyah dan ngaji rutin" Jawabku pada T yg sdh semakin memadam mukanya, sepertinya dia mulai melihat kembali.
"Mbah Uti kadang ndak nesu2? karo kemayu? atau kadang koyok cah cilik? njaluk werno werno bocah?"
tanya T.(Mbah uti kadang marah2? sm genit? atau kadang seperti anak kecil minta macam2?)

"Iyo T, kok ngerti?" jwabku.

"Mbah Uti kadang diparani sing teko kali mburi omah, Din.
Nak pas kemayu berarti gek dileboni wujud wong wedok klmbi abang sing ono ning pojokan kali sebelah duwur. Nak pas kyk bocah y berati gek ono bocah teko sebrang kali, bocah2e orak mung siji!" ucap T. (Mbah uti kadang didatangi yg dari sungai belakang rumah, Din. Saat genit brarti
sedang dirasuki wujud perempuan berbaju merah yg ada dipojokan sungai sebelah atas. Saat seperti anak kecil berarti baru dirasuki wujud anak kecil jadi sebrang sungai, anak2nya gk cuma satu)
Ucapan T itu mengingatkan ku pd perkataan Pakdhe (Kakak laki2 bapak), yg sebelumnya aku tidak percaya sm sekali karena tidak tahu kalau Pakdhe juga bisa melihat hal mistis.

"Lho T, Kok koyok sing diomongke Pakdhe ku winginane ya.Pakdhe ku y ngomong persis kyk sing mbek omongke"
(Lho T, kok kayak yg diomongkan Pakdheku kemarin2 ya. Pakdheku jg ngomong sm persis seperti yg kamu omongin). Cletukan ku spontan y trnyta membuat gemas T.

"Haish! Lha wes weruh ngno kok jek kon ndelok aku! Gundul !" kekesalan T padaku muncul dg jargon gundulnya.
(Haish, Lha
sudah tahu gitu kok masih suruh aku lihatin! Gundul !)

"Aku mastike sek to ya. Tenanan opo orak. Lha Pakdheku gk meyakinkan kyke. Maaph" jawabku sambil mringis. (Aku memastikan dlu to. bener apa gak. Lha pakdhe gk meyakinkan sepertinya)
"Oh Yo! diati2 ya. Kyke ono liyo mneh sing luwih serem. mulai nyedak. Dijagani trs wae Mbah Uti. Ojo lali ngaji ning ngarepe!" perkataan T ini membuatku was2.
(oh iya, dihati2 yam Kyknya ada yg lain yg lbih seram mulai mendekat. Dijaga trs sj mbah uti. jgn sampai lupa ngaji)
Setelah percakapan panjang itu. Hampir setiap bertemu T aku selalu brcerita keadaan Mbah Uti.
Kalaupun aku belum bercerita T akan lebih dulu menanyakan keadaan Mbah Uti pada ku.

Beberapa waktu keadan Mbah Uti jg tak kunjung membaik, bahkan semakin tidak baik.
Dari perkataan dokter, Mbah Uti juga mengalami Demensia. Beliau kembali pada ingatan ke masa kecilnya. Mbah Uti bahkan sering memanggil2 nama seseorang yg kami tidak kenal. Sepertinya teman masa kecilnya.
Keadaannya semakin sulit dikontrol. Mbah Uti sering berpikir untuk lari dari rumah. Entah itu alasannya main. Belanja. atau sekedar kerumah saudara. Padahal saudara kami rumahnya cukup jauh. Tentu saja tidak bisa kami ijinkan.

Pernah satu waktu. Saat fisik mbah Uti masih kuat,
tiba2 Mbah Uti pergi dri rumah tanpa sepengetahuan kami. Kami sangat kebingungan mencarinya. Sehari semalam kami tidak menemukannya, tiba2 ada telpon dari Budhe yg ada di Jakarta mengabarkan bhwa Mbah Uti sudah ad disana.
Astagfirullah. Kami semua sangat khawatir.
Lebih menyedihkan nya. Waktu sampai di Jakarta dan sampai ke rumah Budhe. dirumahnya tidak ada orang, semua bekerja.
Untungnya tetangga budhe ada yg mengenalibah Uti. Ditolonglah Mbah kerumah tetangganya budhe dulu sampai budhe pulang kerja.

Mengetahui hal itu Mbah kung
bergegas menyusul dan menjemput Mbah Uti.

Saat itu aku belum menceritakannya pada T.

Sampai satu ketika, aku berangkat kuliah sore dr rumah. Sampai dikampus aku trus gelisah. T yg mengetahui gelagatku langsung menanyaiku.
Memang dia selalu tahu gelagatku.
"Ono opo kok rak jenak?" tanya T. (ada apa kok gak tenang?)

"Mbah Uti ku ilang T. Ket awan mau sampe sak iki drung ketemu. Piye ki T?" jawabku sedih. (mbah uti ku hilang T. Daritadi siang sampe sekarang belum ketemu. Gimana ini T? )
"Ya Allah...wes digoleki arah kulon sing sebrang dalan? sing dalan lurus ngarep omahe sinta?" T brtanya lg.
(Ya Allah...sudah dicari ke arah barat yg sebrang jalan? yg jalan lurus depan rumahnya sinta?) ( sinta adalah teman rumahku)
"wes T,tapi gk ketemu" jawabku. (sudah T, tapi tidak ketemu)

"Jal kondono bapakmu kon goleki sekitar kono meneh. Iki wes wengi,kyke mbah uti mlebu ning omahe wong. Omahe putih ono cagake wesi model jaman mbyen. Ngarepe ono wit pelem.e mayan gede. Kyke Mbah uti ning kono" ucap T
(Coba bilang bapak cari disekitar situ lagi. Ini sudah malam sepertinya mbah uti masuk dirumah orang. Rumahnya putih ada tiang besi model jaman dulu. Depannya ada pohon mangga lumayan besar. Kayaknya Mbah Uti disitu)
Aku kaget sekaligus tidak begitu percaya dg perkataan T. Tapi demi Mbah Uti aku mencobanya. Aku telpon bapak dan mengatakan untuk mencari kerumah yg disebutkan T tadi.
Alhamdulillah beberapa saat Mbah Uti ketemu. Di Rumah tetangga, yg rumahnya kurang lebih sm seperti
yg didiskripsikn T tadi.
Aku menjadi penasaran, bgmn T bisa tahu. Tapi dia hanya mengatakan entah tiba2 muncul saja dibenaknya. T selalu menegaskan untuk jangan percaya perkataanya yg sering spontan seperti itu.
Semenjak itu kami semakin memperketat penjagaan dirumah agar mbah uti tidak pergi lagi.
Tapi walaupun kami sudah menjaga setiap pintu dirumah. Entah bagaimana caranya Mbah Uti bisa melarikan diri dari rumah.

Yang paling sering hilang saat tengah malam.
karena hal ini aku juga jd serimg telpon T. Kapanpun aku membutuhkannya. Untunglah T dengan senang hati membantu. Walaupun itu mengganggu waktu tidurnya. T selalu cepat mengangkat telpon walaupun itu tengah malam.
Sering kali Mbah Uti hilang tengah malam, kaminsudah mencarinya kemana mana tidak ketemu. Saat aku telpon T, dia jg sering mengatakan Mbah Uti dibelakang rumah. Lahan kosong sebrang sungai.
Aku dan keluargaku sudah mencari berkali2 ditempat itu, tapi tak menemukannya.
Sampai kadang aku meragukan perkataan T. Tapi lagi2 T hanya memberi isyarat ciri2 lokasinya. Dan itu seringnya dilahan kosong belakang rumah yg menyebrangi sungai kecil. Untuk kesana hanya melewati jembatan kecil selebar satu meter tanpa pegangan.
Ketika kami sudah mulai menyerah. Saat subuh tibabah Uti sering tiba2 muncul berjalan dijembatan kecilnsatu meter seolah dr lahan kosong sebrang sungai blkng rumah. Kami seakan tak percaya ini. Sudah berkali2 kami menyusuri bahkan membuka setiap semak tadi tidak ada Mbah Uti.
Sedangkan tidak ada jalan lain untuk keluar dr lahan itu selain lewat jembatan tadi. Karena kawasan ini rumah padat penduduk dipegunungan.Rumahku berada disekitar sebrang bawah Bukit Gombel Semarang (bukit yg terkenal karena mahluk mistisnya).Semua sudah dipadati rumah dan tebing
Akhir...

.

.

.
setelah berkali kali Mbah Uti bisa pergi dari rumah, entah bgmn caranya walaupun kami semakin memperketat penjagaan dirumah.
Kami sudah seperti pekerja shift yg terus menjaga pintu keluar rumah kami.
Pagi, Siang, sore, malam hingga pagi lagi.
Kami memang lelah, tapi kami terlalu sayang Mbah Uti.

Sampai satu kejadian yg menjadi akhir.
Mbah Uti pergi dari rumah lagi. Entah bgmn caranya. Dan itu terjadi menjelang magrib. Sekitar akhir 2014 menuju awal 2015.
Seperti biasa sore itu aku masih dikampus. Aku sedikit senang karena hari itu hanya ada satu mata kuliah yg dimulai jam 5 sore, artinya aku bisa pulang lebih awal dan istirahat lebih cepat.
Tapi semua itu tak bisa kulakukan. Selesai makul, aku masjid untuk sholat magrib.
Ditengah perjalanan ke masjid. Bapak menelpon, nada suaranya begitu khawatir dan nampak lelah.

"Din, Mbah Uti ilang meneh. Cepet balik nak wes bar kuliah.e. Ewangi goleki !"
kata Bapak dari sambungan telepon. (Din, Mbah Uti hilang lagi. Cepat pulang kalo sudah selesai kuliah.
Bantu Cari)

"Nggih Pak" jawabku tergagap karena begitu kaget. (Iya Pak)

Saat itu juga aku bergegas menarik tangan T dan sedikit berlari menuju masjid untuk segera sholat.
"Ono opo? kok kesusu?"
tanya T padaku. (Ada apa? Kok buru-buru?)

"Mbah Uti ilang meneh T, aku meh cepet balik melu goleki" jawabku tergesa. (Mbah Uti hilang lagi T, aku mau cepat pulang ikut mencari)
"Ya Allah. Ayo cepet! Lha ilange kapan?" T kembali bertanya, sepertinya dia juga khawatir. (Ya Allah. Ayo Cepat! Lha hilangnya kapan?)

"Jare entes wae magrib iki T. Ujug2 wes gk ono ning omah. Padalo lawange ditutup kabeh nak magrib". Jawabku setelah selsai berwudhu.
(katanya baru saja magrib ini T. Tiba2 sudah gak ada dirumah. Padahal pintunya ditutup semua kalau magrib)

T saat itu hanya diam..Dan aku segera sholat bersamanya.
Selesai sholat aku bergegas ketempat parkir dan bersiap pulang. Sampai tiba2 T berucap yg agak aneh. Ya itu memang kebiasaan dia. Tapi tetap saja selalu merasa kaget dan aneh.

"Din. Mbah Uti koyoke melu bocah2 mburi omah. Goleki ning cedak2 wit2 kabeh mburi omah!" celetuk T.
(Din. Mbah Uti kayaknya ikut anak2 belakang rumah. Cari dekat pohon2 semua belakang rumah!)

"He? ngomong opo kowe? bocah sing ndi? bocah tenan opo orak?" tanyaku begitu penasaran.
(He? ngomong apa kamu? anak yg mana? anak beneran apa gak?)
"Yo orak bocah tenan to nda, bocah demit" jawab T membuatku menjadi merinding.(Ya gak anak beneran to nda, anak demit)

Aku yg agak syok hanya bisa diam dan segera mengendarai motorku bersama T yg setia membonceng.
Setelah menghampirkan T kerumahnya aku sgera bergegas, dengan mengingat pesan T.
"kabari aku terus. Nak ono opo2 langsung telpon!"
(kabari aku terus kalau ada apa2 langsung telpon)

Ya..memang slalu meminta bantuan T saat mbah uti hilang. Jam brpun aku akan menelpon.
sesampainya drumah aku segera bersih2 dan ganti baju. Kemudian segera bergegas mencari Mbah Uti. Kami sekeluarga sudah mencari kemana mana bahkan dibantu para tetangga.
Kami mencari di seluruh kampung bahkan sampai kejalan besar yg menuju bukit gombel.
aku yeringat perkataan T. Cari mbah Uti di pepohonan belakang rumah.
Aku bersama salah satu tetanggaku mencoba mencarinya kesana. Tapi aku tak menemukannya.
Karena waktu itu sudah hampir jam 11 malam . Aku segera telpon T agar dia bs membantuku.
"T..Mbah Uti gak ono ning kebon sebrang kali! Ning ndi ki T? ketmau rak ketemu temu".
(T..mbah uti gak ada di kebun sebrang sungai! dimana ini T? daritadi gak ketemu)
cerocosku tanpa salam saat T baru mengangkat telpon.

"Hm..kowe goleki mburi kui jam piro? Orak mau tekan?" jwb T
(kamu nyari dibelakang itu jam brp? gk drtd pas sampai?)

"Ntes tak goleki rono T. Aku lali omonganmu mau. Maaf"
jawabku menyesal
(Baru saja tak cari kesana T. Aku lupa pesanmu tadi)
"Mbah Uti wes tekan adoh, tapi jan.e gak adoh banget. Munggah2 ning daerah wit pinus.Jal goleki ning daerah duwur sing ono wit2 pinus.e Din. Tapi..."
(Mbah Uti sudah jauh,tp sebenere gk begitu jauh banget.Naik2 didaerah pohon pinus. Coba cari didaerah atas yg ada pohon2 pinusnya)
perkataan T yg ada tapi dibelakangnya nampak ragu dan suaranya merendah. Sepertinya dia agak sedih.

"Tapi opo T?" nadaku mulai agak lemas. sepertinya ada sesuatu.
"Tapi koyoke Mbah Uti drung ketok, Din. Durung iso didelok!".(Tapi sepertinya Mbah Uti belum kelihatan, Din. Belum bisa dilihat!)
perkataan T membuat kaki ku lemas, aku sedikit paham perkataanya tapi aku tetap memastikan dan bertanya kembali.
"Maksudmu piye T? kok drung iso didelok piye?".(Maksudmu gimana T? Kok belum bisa dilihat gmn?) tanyaku dengan nada yg semakin pelan.

"Mbah Uti diumpetke. Digawe rak ketok ning motone sing goleki. Sabar2 karo moco ayat Al Qur'an, Din. Ben cepet ketemu. Sak ke Mbah Uti" ucap T.
(Mbah Uti di sembunyikan. Dibuat gak kelihatan di mata orang yg mencari. Sabar2 sama baca ayat Al Qur'an, Din. Biar cepat ketemu. Kasihan Mbah Uti)

"Yo wes T. Iki ben gantian Bapak2 goleki. Wes wengi sing wedok kon do nunggu ning omah menowo mbah uti balik dewe. Makasih Lho T.
Tak omong bapak ben do goleki ning daerah duwur sing ono pinus e".(Ya sudah T. Ini biar dicari bapak2. Sudah malam yang perempuan disuruh nunggu dirumah, sapa tau mbah utu pulang sendiri. Mkasih Lho T. Tak omong bapak biar pd nyari daerah atas yg ada pinusnya)
Jawabku pada T
"Iyo Din..podo2. Aku dikabari mneh ngko ya! Oh yo..aku delok ono tebing2 jurang!"(Iya Din..sama2. Aku di beri kabar lagi nanti ya! Oh iya..Aku lihat ada tebing2 jurang!) Balas T dari sambungan telponnya.

"He? Iyo T. Kui daerah duwur omahku. Gombel duwur ono tebing2".(He? Iya T
itu daerah atas rumahku. Gombel atas ada tebing2)
Jawabku keheranan.
Memang daerah atas ada tebing2 dgn pohon2 pinus. Tapi aku tak pernah menunjukan T ad daerah seperti itu wilayahku. Karena memang daerah tebing itu sulit di akses manusia.
Aku menutup telpon dan segera menunggu didepan rumah. Bolak balik keruang tamu, ke teras tapi belum ada kabar juga.
Aku tadi sudah mengatakan pada bapak untuk mencari ke daerah pohon pinus. Tapi aku tak mengatakan dibagian tebing dan jurang, karena aku ragu. Kurasa tak mungkin
Mbah Uti bisa sampai tebing itu. Tubuhnya terlalu renta.

Hingga dini hari Mbah Uti belum juga ditemukan. Mungkin juga terkendala malam yg gelap. Apalagi tak ada penerangan lampu di wilayah pohon pinus.
Waktu sudah menunjukan jam 4 subuh tapi bapak2 belum menemukan mbah uti. Padahal sampai bapak2 ronda dikampung2 sebelah ikut membantu.

Sampai akhirnya adzan subuh berkumandang. Seorang bapak dari kampung atas yg rumahnya dekat wilayah berpohon pinus memberi kabar.
Bapak ini berjalan terburu2 krumah kami. Dan memberi tahu kalau beliau menemukan Mbah Uti dibawah tebing pohon pinus.Bapak ini menemukan Mbah Uti saat akan pergi ke mushola untuk sholat subuh.
Beliau menemukan Mbah Uti terkapar kesakitan dibwh tebing dengan kondisi memprihatinkn
Mbah Uti penuh luka disekujur tubuh. Tangan kanan nya patah. Kakinya penuh luka sobek dan memar. Menandakan Mbah Uti jatuh dari atas tebing hingga tulang tangannya patah. Sepertinya dia banyak berjalan dan tergores banyak semak serta akar2 pohon yg keluar dari sisi tebing.
Kami langsung menuju rumah bapak ini dan membawa mbah Uti kerumah Sakit.

Mbah Uti dirawat beberapa hari di Rumah Sakit. Dan akhirnya diperbolehkan pulang. Tapi tangannya yg patah masih di gibs dan diberi penyangga.
Alhamdulillah setelah 1-2 bulan keadaan Mbah Uti mulai membaik. Luka2 nya sembuh. Tangannya membaik, hingga bisa lepas gibs. Tapi tidak dengan demensia dan alzeimernya juga gangguan2 mistisnya. Selama 2 bulan itu Mbah Uti terus mencoba kabur. Tapi kami bisa menghalaunya.
Mbah Uti masih terus seperti berubah ubah kepeibadiannya. Sering marah2. Sering bermain2 sendiri. Dan ditambah kadang sepwrti pura2 tidak bisa berjalan seolah2 lumpuh. Pdahal kakinya baik2 sja. Tapi ketika berubah lg dia akan bs langsung berdiri bhkn berlari kegirangan.
Memasuki bulan ketiga. Dan kondisi badan Mbah Uti sudah membaik. Tiba2 Mbah Uti drop. Beliau langsung sakit, seperti sakit masuk angin. Tapi lagi2 Mbah Uti mengatakan kakinya patah. Kakinya lumpuh.
Dan keadaanya benar2 memprihatinkan. Kami sudah membawa ke dokter. tp kata dokter
Mbah Uti baik2 saja.

Aku yg penasaran mencoba bertanya pada T. Sekedar bertanya iseng. Karena aku menyadari mungkin Mbah Uti hanya sakit Tua dn badannya kelelahan.
"T, Mbah Uti gerah. Samparane gpp tp kok ngomong lumpuh2 trs
.Ngomong gk duwe sikil ya T?"(T, Mbah Uti sakit. Kakinya gpp tp ngomong lumpuh. Ngomong gak punya kaki T)
tanyaku pada T saat kami bertemu dikampus.

"Hm..mbah uti digondeli wong wedok.sing mburi omah Din.
Kan demit e kui emang lumpuh". jawab T tenang.
(Hm..Mbah uti ditempeli wanita yg dibelakang rumah din. kan demitnya itu emang lumpuh)

"Opo? Mosok T? Terus kudu piye T?" Tanyaku kembali.
(Opo? Masak T? Terus harus gimana?)

"Pakdhe mu wingi. Opo ustadz minta dibuatin air ruqyah.
diunjuke Mbah Uti !" jawaban T membuatku berpikir. (Pakdhe mu kemarin atau ustadz minta dibuatin air ruqyah. Diminumkan Mbah Uti)

"Hm.. yo ngko jajal tak omong bapak ibuku ya" tambahku lagi.
(Hm..ya nanti tak coba ngomong ke bapak ibuku ya)
Akhirnya kami minta tolong ustadz agar dibuatkan air ruqyah. Setelah diminumkan Mbah Uti, keadaanya membaik tapi juga melemah. Satu minggu setelahnya keadaan Mbah Uti semakin melemah , akhirnya Mbah Uti tak bisa bertahan dan menghembuskan nafas terakhir.
Aku langsung memberi kabar pada T. Kita berdua hnya bisa saling menangis melalui telepon. Orangtua T datang bertakziah untuk mbh uti.

Selamat istirahat Mbah Uti. Semoga Amal Ibadahmu diterima. Diampuni Dosamu dan dilapangkan kuburmu. Aamiin.
Selesai.

Minta doa'nya buat mbah Uti nya Dina ya. 😢

Ingat! Jaga selalu kesehatan!
Jangan banyak melamun dan terlalu menyesali suatu kesalahn. Selalu berpikir kedepan! 😊
Terus Semangat. 💪
Jangan Lupa pake masker!
Sering Cuci Tangan!

Paling Penting Perbanyak Ibadah!

Trimakasih yg baca, RT, like.
Aku sayang kalian semua. 😉😘

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with inTan_T

inTan_T Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @gundulsilir

Mar 21, 2021
"Omah"

Thread

Ojo lali uluk salam lek e mlebu omah le ! . Omah kui orak mung dwe sing manggon. Mesti ono bongso liane.
(Jangan lupa salam kalau masuk rumah, nak!. Rumah itu tidak hanya kita yg tinggal. Pasti ada mahluk lain) : pesan alm.Bapak
#bacahorror @bacahorror
#ceritaht Image
Bismillah

Hallo semua,
Sdh cukup lama mau cerita ini, tapi agak mager. Jadi pelan-pelan ya, sambil menikmati magernya.
Akhir-akhir ini jadi kepikiran pesan alm. Bapak, jangan lupa mengucapkan salam saat masuk rumah !

Sebut saja aku. Keterpaksaan ku harus pindah2 rumah karena tuntutan keadaan. Maklum aku adalah kontraktor alias tukang kontrak rumah. (Jangan diketawain) 🤭
Read 117 tweets
May 29, 2020
"Kamar 206"

Thread

Aku tidak ingin pergi dari sini, aku ingin kalian ingat matiku yang begitu tragis disini.

(based on true story)
#bacahorror
@bacahorror
@ceritaht Image
Cerita dari salah satu teman di penghujung tahun 2019 kemarin. Sebelum Jabodetabek banjir hebat diawal tahun 2020 ini.
Dan sebelum negara api menyerang. 😆 (maksudnya sebelum virus corona mewabah di indonesia)
"Ah, gimana ini hari raya tetap kerja. Padahal sudah janji dengan keluarga" benakku.

Tetap saja terpaksa harus ku jalani. Padahal aku sudah janji pada keluarga kecilku dapat pulang ke kampung halaman.
Read 73 tweets
Apr 27, 2020
"K i r i m a n"

Thread
(based on true story)

Tiba-tiba datang, membawa rasa yang tak biasa.

#bacahorror
@bacahorror
#memetwit
@ceritaht Image
Tahun 2014

Hari ini hari Minggu. Aku sudah bangun pagi dan bersiap siap pergi bersama kakak sepupuku. Kami dari beberapa hari yg lalu sudah merencanakan kegiatan ini.
Kegiatan yg sudah lama aku ingin lakukan. Ditambah kakak sepupu ku yg ikut bersemangat karena masih berhubungan dengan jurusan kuliah yg dia ambil. Juga masih berhubungan dengan ibunya.
Read 45 tweets
Apr 27, 2020
"WARISAN LELUHUR"

Thread
(based on true story)

Tak pernah mengenal, Tak pernah bersua, tapi terwarisi.
Bukan sebuah benda juga bukan harta, tapi sebuah jiwa.

#bacahorror
@bacahorror
#memetwit
#leluhur
@ceritaht Image
Warisan. Bagi sebagian orang mendapat warisan adalah sesuatu yg menyenangkan. Warisan yg bisa manfaat baik untuk beberapa orang.
Ya jika warisan itu dpt memberi mu rasa yg membahagiakan.
Tapi tidak untukku, aku tidak mengharap, tdk meminta tetapi diwarisi. Warisan turun temurun.
"Jin" itulah nama warisan yang kudapatkan. Aku tidak tahu apa itu. Aku tidak tahu darimana itu. Aku tidak tahu nama dari lelembut itu. Aku juga tidak tahu apa guna warisan itu.

Inilah cerita ku. Cerita tak bergambar yang penuh sendu.
Read 65 tweets
Apr 11, 2020
"W e l i ng"

Thread
(Based on true story)

ketika tangismu masih terlihat olehku, walau kau tak lagi tampak pada mereka

#bacahorror
#memetwit
#truestory
@ceritaht Image
Bukan bermaksud apa2, hanya ingin menceritakan apa yg kulihat. Mohon ambil hikmah dan pesan ceritanya saja.
Ini ceritaku tentang seorang temanku yg meninggal dalam kecelakaan tragis. Seorang teman yg sudah bagaikan saudara untuk kami semua teman sekelas di masa STM.
Read 83 tweets
Mar 26, 2020
"S I J I S U R O"
(Makam Mangadeg)

Thread

Terlalu gelap untuk melihatmu, terlalu sunyi untuk mendengarmu.

#bacahorror
@bacahorror
#memetwit
@ceritaht
#utaspendekagakpanjang Image
Cerita Ziarah di Makam Mangadeg dari @FeryMenyink
Tepat malam satu suro, beberapa tahun lalu.
Aku bersama kelima temanku (Heru, Andri, Nando, Kumar dan Nisa) mengunjungi Keraton Solo. Kami ingin melihat kegitan kirap pusaka setiap malam satu suro oleh Keraton Solo.
Read 48 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Don't want to be a Premium member but still want to support us?

Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal

Or Donate anonymously using crypto!

Ethereum

0xfe58350B80634f60Fa6Dc149a72b4DFbc17D341E copy

Bitcoin

3ATGMxNzCUFzxpMCHL5sWSt4DVtS8UqXpi copy

Thank you for your support!

Follow Us!

:(