, 25 tweets, 6 min read
My Authors
Read all threads
Mentari menyinari hari.Ku pegang erat pinggang kakak ku dari belakang.Ku rasakan hembusan angin pagi menerpa wajah.Terdengar suara sepeda motor yang kami kendarai.Terlihat kendaraan berlalu lalang dan begitu padat.Sekarang memang waktu dimana semua orang mulai sibuk dengan segala
aktivitasnya. Aku satu sekolah dengan kakakku. Aku kelas 10, dan kakakku kelas 12. Kakakku ini kakak yang terlihat cuek, tapi sebenarnya dia yang paling sayang, paling pengertian dan perhatian padaku. Sebenarnya ada rasa ingin jujur dengannya mengenai kemampuan ku ini, aku tahu
dia pasti bisa memahaminya,tapi karena bingung mau mulai cerita darimana,aku pun selalu mengurungkan niatku.Dan memilih membiarkan waktu yang akan bercerita dengan sendirinya.

Suatu hari aku pernah sengaja ingin melihat aura dari kakakku yang ini.
Di keluarga, dia memiliki warna
yang spesial dari kami semua. Dia cenderung memiliki aura warna putih bersih bercahaya hampir mirip dengan aura warna Ibuku. Tapi hal itu memang aku maklumi, diantara kami empat bersaudara, dialah yang paling religius.Aku mendapat dan memahami ilmu agama juga dari kakak-kakakku,
Ku akui mereka adalah kakak yang luar biasa.
Sebentar lagi aku dan kakak akan tiba di sekolah. Aku lupa untuk tidak memakai jaket pagi ini. Sedikit aku merasakan kedinginan, spontan aku memeluk kakak. Tak lama kakak menggerakkan badan dan berkata,
"Hei, kamu tuh berat banget tau,
tuh sudah mau sampai."
Aku pun segera melepas pelukan, sedikit jengkel tapi aku mengerti, dia pasti malu. Kakakku ini memang selalu populer di sekolah. Banyak siswa siswi dan guru yang mengenal dan paham dia. Sebenarnya aku juga populer di sekolah, hanya saja di dimensi yang
berbeda. Dan akan ada hari dimana hal itu berubah.Siswa siswi para guru dan karyawan sekolah akan sangat paham siapa aku.
---
Laju sepeda motor mulai ke tengah jalan bersiap untuk menyebrang masuk ke dalam parkiran sekolah. Sudah ku rasakan ada yang janggal,bau melati yang sangat
pekat dan hawa suasana seperti di pinggir pantai. Aku mencoba menengok ke berbagai arah mencari di mana sumber bau, dan saat motor berbelok menyebrang, ku lihat samar di depan gerbang sekolah, kereta kencana megah berwarna emas terang tanpa kuda sedang diam tak bergerak seperti
menunggu sesuatu.Aku mengkerut kan kening seraya berpikir,apa itu??
Jantungku mulai berdebar kencang, aku mulai merasa gelisah.Ada sesuatu yang akan terjadi,dan ini bukan sesuatu yang baik.Aku mengatur nafas,beristighfar,menenangkan diri.Berdoa berharap semua akan baik-baik saja.
Tak lama kemudian aku melangkah berjalan menyusuri lorong sekolah tepat di belakang kakak sambil mengusap-usap telapak tangan.
Ku tatap lama punggung kakak, Muncul rasa tak ingin jauh darinya. Saat kakak akan berbelok menuju kelasnya, aku memanggilnya dengan sedikit berteriak,
"Mas!"
Kakak ku yang terkejut pun menoleh dan bertanya," ada apa sih?!"
Aku terdiam sejenak,kemudian tersenyum,"hehe tidak ada apa-apa." Kakak ku kembali melangkah menuju kelas dengan raut muka sebal.
Sebenarnya aku ingin menangis dan mengatakan,jangan jauh dariku, jangan biarkan
aku sendiri, aku tidak baik-baik saja, tolong aku. Tapi entah kenapa mulut ini terasa terkunci enggan bicara sebenarnya. Aku terus menatap kakak ku sampai dia hilang dari pandangan. Aku yang tiba-tiba tersadar segera bergegas ke kelas, aku tahu ada sesuatu yang terjadi, ada yang
aneh dengan sekolah ini, tidak bukan sekolah tapi kerajaan ini. Kereta kencana itu pasti ada kaitannya.
-
Air mataku menetes,aku menangis sejadinya,aku sudah tidak sanggup menahan sedihnya hati.Aku pun jatuh terduduk sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Aku tak kuat
melihat kakak ku yang sangat marah dan juga sedih, dia mendorong ke tembok depan kelas dan mencengkram pipi dengan keras dan berteriak," kamu bukan adikku! Dimana adikku!"
Ragaku yang sudah sebagian terisi makhluk mengerikan itu, hanya tersenyum dan tertawa sinis. Aku sekarang
hanya ruh. Biasanya aku merasakan suasana hampa saat melepas ruh, anehnya kali ini tidak. Sangat panas dan sesak. Mereka yang mengikuti ku saat ini mengelilingi ku, seolah melindungi. Wanita ungu berada di depanku, wanita merah berada di belakangku, si kakek sebelah kananku, dan
sebelah kiri ku si bocah. Aku perhatikan si bocah seperti ketakutan tapi dia berusaha melawan rasa takutnya sendiri. Ku dengar dia bergumam," aku harus menjaga majikan, aku harus menjaga majikan."
Aku belum mengerti apa yang sedang terjadi saat ini, tapi yang ku tahu saat ini
suasana sangat genting. Wanita ungu berkata," jangan sampai ruh dan raganya terpisah jauh, akan sulit kembalinya nanti."
Kulihat wanita merah melawan beberapa makhluk yang mulai mendekati. Dia sedikit marah dan berkata," sial!! kenapa aku harus berurusan dengan makhluk rendah
seperti mereka!"
Aku memperhatikan makhluk yang telah berhasil memasuki separuh ragaku.Dia sangat tinggi sedikit bongkok,kepalanya menunduk, wajahnya tak begitu jelas terlihat, tapi yang aku tahu dia tidak memiliki bola mata.Jari-jarinya sangat panjang dan tajam.Air liur menetes.
Rambutnya panjang lurus jatuh hingga ke bawah.
Aku tak begitu ingat dan tak begitu tahu apa yang terjadi pada ragaku. Si kakek terus memantau, dan berkata," ku harap pria kecil itu secepatnya datang, agar kamu tidak terlalu lama di sini, keadaan masih belum membaik."
Wanita ungu
datang dan mendekap ku kemudian berkata," dengarkan aku, kamu harus kuat, di sana ada ragamu, kamu harus yakin akan kembali lagi ke ragamu, di sini kami hanya membantumu, dan jangan pernah lalai untuk selalu memohon pada Sang Pencipta, karena sebaik baiknya penolong hanyalah Dia"
Aku mengangguk mengerti, aku mengusap air mataku yang terus menetes di pipi. Ku dengar suara ibu dan keluarga ku membaca doa, ternyata doa yang mereka kirim padaku sampai terdengar oleh ku. Hati ku terasa nyaman. Aku pun kembali bersemangat, aku memperhatikan ragaku yang entah
bagaimana sudah berada di rumah.
Kakek mendekati ku dan berkata,
"Pria kecil itu datang."
Wanita ungu kemudian menggenggam tanganku, dan baru kali ini aku merasakan sentuhan tangannya yang begitu dingin. Ku lihat raut wajahnya yang cemas. Begitu banyak pertanyaan di benak ku tapi
aku tahu ini bukanlah waktu yang tepat untuk bertanya. Aku pun hanya bisa diam.
Tak lama makhluk tanpa bola mata itu berhasil keluar dari ragaku, tapi dengan cepat makhluk lain membayangi ragaku, dan jumlahnya memang tidak sedikit. Ku lihat pria kecil berkeringat kelelahan.
Aku sangat berharap dia tidak akan menyerah. Kemudian terdengar lonceng kereta kencana datang menghampiri. Terlihat dari kejauhan kereta kencana emas tanpa kuda datang mendekat dan berhenti di hadapan kami sekarang. Si kakek berkata," Dia adalah penguasa laut selatan"

-selesai-
Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh.

Keep Current with Awuh

Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

Twitter may remove this content at anytime, convert it as a PDF, save and print for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video

1) Follow Thread Reader App on Twitter so you can easily mention us!

2) Go to a Twitter thread (series of Tweets by the same owner) and mention us with a keyword "unroll" @threadreaderapp unroll

You can practice here first or read more on our help page!

Follow Us on Twitter!

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3.00/month or $30.00/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!