Lanjutan Part 1

Sesaat mereka terdiam, hanyut dengan pikiran mereka masing-masing. Tidak terasa air sudah mulai membelai bagian lutut Pak Dadang, dan Dia pun lalu pindah naik ke punggung kapal yang bocor itu.
"Kalau di sini biasanya setiap bulan purnama bakalan ada pertunjukan yang rame Pak, Bapak mau lihat gak nanti malam?" Tanya Aying sambil senyum aneh.
"Memangnya ada hiburan apa, Ying?" Tanya Pak Dadang penasaran.
Pak Dadang termenung, sambil mengingat-ngingat semua kegiatannya di daerah itu, Dia merasa tidak pernah mendengar apalagi menyaksikan acara atau hiburan apapun.
Hiburan Pak Dadang saat perlu suasana baru, Dia akan pergi memancing ke tengah Laut, atau pergi kegunung dan memandang laut dari puncak gunung.
Atau jika ingin suasana lebih modern, Pak Dadang akan pergi nonton ke Bioskop saat ke kota dan itupun harus menempuh dua hari satu malam perjalanan menggunakan kapal.
"Kalau tidak ketiduran, kita nonton pertunjukan dari sini saja!" Kata Aying, tetap dengan senyumnya yang misterius.
Senja itu tampak kuning, adat orang kampung kalau sore memiliki aura warna kuning, semua orang tidak boleh berada di luar rumah. Kata orang tua dulu penyakit menular sedang menyebar.
Pesan Almarhum Abah, setiap hari harus menyempatkan membaca Al-Quran dan Pak Dadang membiasakan membaca seusai magrib sembari menunggu waktu Isya tiba.
Dari kecil Pak Dadang sudah memiliki kelebihan, selain telinganya yang berlafaz Allah Ia juga peka. Sewaktu usia lima tahun Pak Dadang pernah dikubur selama semalam karena disangka sudah meninggal setelah menderita sakit yang tidak tau sakit apa.
Pada malam harinya Ummi bermimpi di datangi arwah Pak Dadang. Pak Dadang datang dengan baju yang sangat kotor dan minta dimandikan.
Saat dimandikan Pak Dadang cerita katanya dia harus berjalan lewat jalan berlumpur untuk mengambil lilin di balik pintu. Dan dia minta tolong sama Ummi untuk dibukakan.
Setelah Umminya memandikan Arwah Pak Dadang kecil, Ia pun berjalan ke arah pintu yang dimaksud arwah Pak Dadang. Setelah pintu itu dibuka, Ummi pun keluar dan tiba-tiba pintu itu tertutup. Ummi menoleh ke belakang dan yang tampak adalah gundukan tanah pemakaman.
Terdengar suara Pak Dadang dari dalam menangis minta tolong untuk dibukakan pintunya. Ummi pun menangis sesenggukan memanggil-manggil nama Pak Dadang.
"Ummi! banguuun ummi," panggil Bapaknya Pak Dadang sambil menggoyang-goyangkan badan Ummi.

Ummi pun bangun, langsung memeluk Abah Pak Dadang. Sambil sesenggukan Ummi menceritakan mimpinya.
Setelah mendengar cerita Ummi dan melihat Ummi sudah agak tenang. Abah pun bergegas berwudhu dan ke ruang Khalwat.
Keesokan harinya, pagi-pagi, Abah dan Ummi serta beberapa orang Santri ke makan Pak Dadang. Seperti tradisi orang di kampung, kalau ada keluarga yang meninggal, selama tujuh hari, setiap pagi, keluarga akan menyiramkan air bacaan Doa ke tanah makam.
Waktu itu setelah membaca Doa yang dipimpin Abah, dan air Doa di siramkan. Tiba-tiba gundukan tanah itu bergerak seperti di gedor dari dalam.
Semua orang yang ada di situ terkejut, Abah buru-buru meminta semua orang untuk segera menggali gundukan itu.
Dan yang lebih mengejutkan, setelah dinding papan itu di buka, Pak Dadang kecil sudah meringkuk kedinginan berselimut kain mori.
Dengan memakai baju warna putih dan celana hitam, sama persis dengan baju yang di pakaikan Ummi saat bermimpi.
Cepat-cepat Pak Dadang di bawa pulang, dan berita itu cepat tersebar ke seluruh daerah sekitarnya.
Semenjak itu pula Pak Dadang dapat melihat mahluk yang tidak bisa dilihat manusia umumnya
Setelah selesai shalat Isya, Pak Dadang keluar rumah. Dengan membawa segelas kopi kental Pak Dadang duduk di kursi rotan kesayangannya. Beberapakali Ia menyeruput kopi dengan tenang.
Di luar sangat gelap. Angin pantai yang biasanya kencang, kini agak melembut.
Dari kejauhan, tampak kelap kelip lampu kapal nelayan. Mungkin mereka sekedar beradu nasib, karena malam ini bulan muncul agak malam.
Berkali-kali Pak Dadang mengusap tengkuknya yang sedari tadi serasa agak menebal. Tampak di wajahnya sedang memikirkan sesuatu mungkin memikirkan perkataan Aying tadi. Kemudian ia berjalan ke sudut teras sambil melihat rumah Aying.
Tanpa henti pak Dadang menggosok-gosok lengannya bergantian seolah membujuk bulu tangannya yang sedari tadi berdiri untuk tenang dan tidak perlu siaga.
Sekali lagi Pak Dadang melihat ke arah rumahnya Aying seolah berharap Aying segera keluar, tapi ternyata tidak, bahkan pintu rumahnya tertutup.
Kembali Pak Dadang hendak duduk di kursi kesayangannya sambil menunggu Aying dan menghabiskan kopinya tapi, belum sampai pantatnya menyentuh kursi rotan itu, tiba-tiba
cahaya kuning kemerahan terpendar terang melewati atap rumah pak Dadang.
Sangat terang sekali. Pak Dadang langsung meloncat dari teras panggung rumahnya. Dengan perasaan gugup dan penasaran tingkat Dewa, Ia mencari tahu cahaya apa yang tadi melintas itu. Namun cahaya itu seolah lenyap begitu saja.
Sekilas ada angin yang lewat sedikit kencang ke arah belakang pak Dadang, dan Ia pun memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat, tampak dari kejauhan dilihatnya Aying keluar dari rumahnya.
Yiiiing. . Sinii . !!" Teriakku.

Dengan santainya Aying berjalan menuju kearah ku.
Sembari menunggu Aying sampai di rumah mataku nanar mencari kemana hilangnya cahaya terang tadi. Sesekali menengok ke arah Aying yang tak kunjung sampai. Namun bayangannya yang tertutup pohon pinus, lmasih tampak jelas berjalan kearah semua orang.
Pak dadang berusaha menenangkan diri dengan mengalihkan pandangannya kearah laut yang menghitam, suara kidung ombak laut yang terkadang mirip suara langkah kaki anak kecil yang berlari pelan
Kemudian disusul dengan suara air laut yang menghantam pasir sangat lembut suaranya, membuat pak Dadang merasa tidak sendiri.
Angin laut bergerak merangsak naik semakin dingin. Di tambah suara daun kelapa yang tertiup angin laut, seperti suara bersiul. Lirih menyayat hati.
Di saat Pak Dadang menikmati itu, bulu kuduknya meremang. Dia pun berusaha mengusap-usap tengkungnya sambil di goyang-goyangkannya kepalanya.
"Wesstttt..." Tiba-tiba tercium aroma amis yang sangat menyengat dari sebelah kanannya.
Pak Dadang pun menoleh, ke arah sumber bau amis itu. Dan seketika itu juga tubuhnya kaku. Matanya terbelalak tak berkedip. Jantungnya berdetak kencang, seakan nafasnya berhenti.
Tubuhnya mematung dengan mulut menganga.
Tampak jelas didepannya yang hanya berjarak lima meter, tetapi nampak jelas sesosok tubuh berbalut kain lusuh berwarna abu.
Dengan baju kedodoran sehingga tidak membentuk lekuk tubuhnya, bahkan seperti tidak memiliki bahu.Namun, dari lubang tangan baju nya menyembul jari-jari panjang warna hitam.
Pak Dadang masih tak berkedip, kesadarannya tiba-tiba hilang.

"Plaaakk...Taaarrrr!!" Suara buah pinus terjatuh mengenai atas rumah Pak Dadang, membuat Pak Dadang tersadar.
"Astagfirullah..."

Meski masih setengah tersadar, Pak Dadang melihat sosok itu berjalan menjauhinya. Terlihat jelas arah kakinya sekalipun tertutup bajunya yang panjang, sedangkan pandangannya masih menatap lurus ke arah Pak Dadang.
Meski wajahnya tertutup rambutnya yang panjang dan hitam awut-awutan, tapi terlihat dagunya yang putih pucat menyembul saat rambut itu tersibak terkena angin pantai.
Bau anyir itu menjadi sangat pekat menyentuh hidung, hingga rasanya ada yang berontak dari dalam perutnya.
Di saat otak Pak Dadang dirundung rasa penasara, kaget dan respon tubuhnya yang tidak wajar tiba-tiba, ada yang menepuk bahunya tiga kali dari belakang.
Dan saat itu juga, seakan darahnya mengalir kembali. Spontan pak Dadang menoleh ke arah tepukan itu.
Terlihat jelas seseorang lelaki berjubah putih dengan sorban hijau dan tongkat ulin di tangannya. Tersenyum menenangkan.
"Abuya!"

"Berwudhulah!"

Suara serak berat yang selalu di rindukan itu terdengar. Belum sempat Pak Dadang menjawabnya, sosok itu menghilang.
Saat itu Pak Dadang teringat Aying yang tampak jelas dilihat keluar dari rumahnya, tapi tidak juga kunjung datang. Lehernya bergidik kembali tapi Pak Dadang langsung bergegas masuk ke dalam rumah.
Entah berapa lama Pak Dadang duduk diatas sajadahnya, tubuhnya bergetar hebat karena tangis yang tertahan. Tiba-tiba Pak Dadang merasakan rindu yang sangat hebat. Pak Dadang tidak menyangka Abuya datang menengoknya, meski hanya sesaat.
"Paaak. . Pak Dadang!" terdengar suara Aying memanggilnya, sambil mengetuk pintu berkali-kali.

Pak Dadang tidak langsung menjawab, karena Dia belum yakin itu suaranya Aying apa bukan.
Suara itu pun menghilang.
Tiba-tiba.

"Brogh...Brogh...Brogh..."

Pak Dadang terkejut, mendengar suara jendela kamarnya di gedor dengan keras, hingga rumahnya serasa ikut bergetar.
"Paaaak. .Pak Dadaaang. ." Suara Anying memanggilnya lagi. Dan akhirnya Pak Dadang pun yakin, kalau itu benar-benar suara Aying.

"Siapa!"

"Saya, Aying!"

"Iya sebentar! "
Perlahan Pak Dadang membukakan pintu rumahnya dan tampak di atas laut bulan bulat sempurna. Dari ujung muara terdengar lamat-lamat suara kentongan dari bambu dipukul bersahutan.
Pak Dadang melongokkan kepalanya keluar, tidak ada siapa pun di luar, bahkan yang tadi suara Aying memanggil itu pun tidak nampak batang hidungnya.
Pak Dadang teringat semua runutan kejadian tadi. Rasa takut itu kembali menyeruak kedalam batin Pak Dadang.

Ketika pak Dadang hendak menutupkan pintu rumahnya kembali, tiba-tiba Aying sudah berdiri di samping kursi rotan tempat duduknya tadi.
Cangkir kopi yang belum habis itu tampak bergoyang pelan.

"Pak, ayo kita kerumah yang di ujung muara itu" ajak Aying.
Matanya Pak Dadang menatap kaki Aying, ingin memastikan kalau sosok yang ada di depannya memang benar manusia.

"Tok...Tok...Tok"
"tek...tek...tek"
Suara kentongan terdengar lagi saling bersahutan. Berirama tanpa tempo yang jelas. Membuyarkan semua tanya yang memenuhi otak pak Dadang.
"Pak, kalau Bapak kurang sehat, biar Aying yang pergi sendiri ke sana Pak," kata Aying.
Wajah Pak Dadang tampak gugup.
"Oh, iya. Tunggu saya siap-siap dulu," Pak Dadang lanhsung masuk ke dalam dan tidak lama Ia keluar, kemudian mengunci pintu rumahnya.
Mereka pun berjalan kearah muara dengan melewati titian kayu. Pak Dadang mengikuti langkah Aying. Jalan itu agak gelap, karena tumbuhan bakau disepanjang jalan itu sangat rimbun dan mereka harus hati-hati. Pikiran pak Dadang melayang layang kembali.
Bagaimana jika Aying yang berjalan di fepannya itu ternyata bukan Aying tapi hanya menyerupai?Atau jika pak Dadang di sesatkan ke tempat yang lain yang mirip dengan tempat kampungnya
Berkali-kali Pak dadang menepis bayangan yang tidak-tidak dalam kepalanya.

Di tampabh sejak melewati jembatan kecil tadi, ia merasa ada yang mengikuti. Tapi Ia tak memperdulikannya, meski kuduknya merinding. Sepanjang jalan, tak hentinya pak Dadang bersholawat.
Dan saat sampai di dekat rumah yang kami tuju, Pak Dadang merasakan ada angin yang berbeda. Selain merasa lega karena bayangan di otaknya sepanjang perjalanan tidak terjadi.

Tiba-tiba pak Dadang melihat kelebatan bayangan hitam di depannya.

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with Albadina

Albadina Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!

Follow Us on Twitter!