Disembunyikan Jin
Bapak sudah melanggar “pantangan”

[A Thread]
@bacahorror @bacahorror
Halo, nunda upload ini maaf banget ya karena aku sibuk magang, jadi capek banget, padahal cerita narasumber udah antri nih, ya walaupun bukan mereka yg minta diupload si, tp akunya malah yang ngejar mereka untuk cerita hehe.
Oke, langsung aja. jadi thread ini pengalaman dari narasumber kami bernama Vivi, cerita ini dialami oleh ayahnya sendiri, kejadian ini bermula di tahun 2002, yang bakal terus tertanam di memori ayahnya, karena menyangkut keselamatan nyawanya.
***
Kenalkan, aku Vivi, kejadian ini aku ingat waktu aku masih di bangku SMP, waktu itu ayahku sebut saja Namanya Pak Hamir lagi ada rezeki untuk membeli rumah baru di desa terpencil dan juga 1 hektar kebun. Aku dan keluargaku, ayah,
ibu dan adikku berdomisili di Sulawesi, tapi aku gak bisa spesifik ya.
Kami tinggal di kota besar, ayahku juga seorang karyawan di salah satu perusahaan di kota kami. Tujuan ayahku membeli kebun dan rumah di desa terpencil jauh dari kota tempat tinggal kami karena ayahku suka melepas penat dari urusan kerjanya ke tempat yang tenang,
menyendiri dan juga sekaligus mengurusi kebun yang ia beli, letak kebunnya masih 1 wilayah dengan rumah yang ayahku beli, tapi tidak terlalu dekat juga.
Aku dan keluargaku pernah mengunjungi rumahnya dan juga kebunnya, tapi menurut aku kurang asik aja disana, karena terlalu sepi dan jauh dari fasilitas kehidupan. Keluargaku yang lain juga anggap disana kurang nyaman, maka dari itu aku dan keluargaku Cuma 1x aja kesana.
Selebihnya ayahku yang sering mengunjunginya bahkan menginap beberapa hari disana, bisa-bisa 4-5 hari malah. Letak desanya pun ada seperti di ujung dunia karena saking jauhnya aku amati juga gak ada lagi desa setelah itu yang kulihat. Jadi des aitu betul2 terpelosok.
Pekerjaan ayahku juga hanya pengurus proyek bangunan yang mana kalau memang belum ada panggilan kerja, ia bisa punya waktu banyak untuk melepas penat dan mengurusi kebunnya. Ayahku juga orang yang mudah bersosial jadi ia mudah diterima dengan lingkungan barunya.
Singkat cerita awal2 ayahku datang kesana sangat disambut hangat dengan warga, pas banget dengan kepribadian ayahku. Ia suka menyapa orang dan juga sekadar berbasa basi, bahkan warga pun pernah ada yang sampai berkunjung hanya harena ingin bersilaturahmi,
sebegitu antusiasnya, dan sebegitu erat kekeluargaannya disana.
Bagus kalau begitu karena ayahku juga keliatannya menyukai suasana dan lingkungan disana. Dan akhirnya pada saat itu kebetulan ayahku kesana pada hari kamis, setelah pulang bekebun sekitar jam 4 sore, warga khususnya bapak2 mengajak ayahku ikut pengajian yang diadakan di mushola
disana setelah sholat maghrib. Rutinitas warga disana sering mengadakan pengajian memang setelah sholat maghrib di malam jumat.
Seperti biasa selepas pengajian dan beberapa perempuan dan anak2 sudah pulang, bapak2 itu suka ngobrol2, segala hal dibahas termasuk apa apa saja mitos dan pantangan disana, kebetulan juga ayahku warga baru disana, yang harus diberi pengarahan agar tidak salah berpijak.
“Pak, sebelumnya ini bukan menakuti ya, tapi saya mengingatkan saja, disebelah sana ada bukit kan? Bapak liat?” Kata salah satu bapak2 di situ
“Iya tahu pak, saya lihat” kaya ayahku
“Disana itu lokasi yang betul2 gak boleh dijamah manusia, kalau pun mau kesana,
harus ada kepentingan mendesak saja” kata bapak2 yang tadi
“Loh kenapa memangnya disana?” Tanya ayahku penasaran
“Bukit itu sebetulnya tempat orang2 mencari barang2 haram, seperti ilmu hitam, kepuasan dunia, santet, bersekutu dengan jin seperti memelihara jin, ya karena disana lah jinnya tinggal,
mereka yang menunggu area itu. maka dari itu, bukit itu hitam sekali auranya” jelas bapak2 yang tadi
“Terus kalaupun ada keperluan mendesak bagaimana?” Tanya ayahku lagi
“Setidaknya kalau mau kesana harus ditemani seseorang yang punya pagar ghoib. Atau kalau sendirian pun harus punya pagar ghoib. Ah tapi lebih baik gak usah kesana lah pak, mau apa juga lagian kan?!” Kata bapak2 itu lagi menjelaskan
Ayahku mengangguk paham.
pemahaman warga desa juga dipahami ayahku soal menghargai kehidupan lain selain dunia, alias kehidupan ghoib. Manusia pun akan merasa risih dan terganggu kalau kehidupannya yang nyaman terusik apalagi diusih makhluk ghoib, begitu juga sebaliknya.
“Kalau kita kesana tanpa adanya pagar ghoib, apa konsekuensinya pak?” Tanya ayahku lagi penasaran
“Ya ditempelin, bakal sakit2an nantinya, menyusahkan pokoknya” jelas bapak itu
Tapi juga ayahku berpikir, kalaupun melewati bukit itu, yg penting jangan melanggar pantangannya saja.
Ayahku jadi tidak terlalu ambil pusing dan tidak terlalu takut dengan cerita tersebut.
Singkat cerita 1 tahun berlalu. Ayahku sering bolak balik ke desa itu dari kota, warga pun sudah total menganggap ayahku keluarganya. bagian dari keluarga mereka. Sampai suatu hari, memang sedang apesnya, ayahku ingin pulang kerumah dari kebunnya sore sekitar jam 4.
Ayahku memilih untuk menunggu hujannya reda tapi lama sekali, ayahku memang gak mempersiapkan apapun jika turun hujan. Ditambah lagi pada saat hujan, sungai yang biasa dilalui ayahku meluap, sampai2 jembatan batang pohon yang tadinya terlihat, kini tertutup genangan air.
Daripada beresiko celaka karena nekat lewati jembatan itu, akhirnya ayahku memilih memutar dan memilih jalan lain, yang tanpa ayahku sadari ternyata jalan yang dipilih ayahku adalah kaki dari bukit terlarang itu.
Melintasi kaki bukit itu tanpa sadar karena ayahku memang gak merasakan keanehan apapun, ditambah konsentrasi ayahku juga pada jalanan yang licin, jadi gak memperhatikan sekitar, semua norma2 saja.
Setelah sampai dirumah, ayahku membersihkan diri karena basah dan lumpur tapi gak mandi karena sudah terlalu sore, makan malam dan juga istirahat. Yang sedari tadi ayahku belum sadari dan ia sadar setelah sedang istirahat,
hawa dirumah ini terasa berbeda, anyep dan hangat, padahal diluar hujan, akhirnya ayahku memutuskan untuk mandi padahal sempat sebelumnya ayahku ragu mau mandi atau gak karena pasti dingin airnya sudah sore begini.
Hawa betul2 hangat ayahku berkeringat hingga bajunya basah terus menerus dan merasakan haus yang gak wajar juga, tapi ayahku selalu positif thinking aja mungkin ia terlalu Lelah jadi butuh banyak minum air putih.
Saat malam hari ayahku memutuskan untuk tidur, disela2 tidurnya ayahku seperti mendengar pintu belakang terbuka, bukan terdobrak tapi bunyinya seperti tertiup angin. Takut ada penyusup atau perampok, akhirnya ayahku bangun untuk cek sekeliling rumah.
Setelah dirasa aman, ayahku ingin mengunci pintunya, didorong lah dari dalam untuk ditutup, tapi terasa seret dan berat sekali, ayahku beberapa kali sampai mengeluarkan tenaga, mengecek di sisi2 pintu tidak ada yg mengganjal.
Tapi setelah diamati lagi, pintu itu tertiup angin lalu melambai seakan enteng.
Ayahku merasa ini ada yang gak beres, dengan pasrah dan sekuat tenaga akhirnya pintu belakang bisa ditutup ayahku. Dikunci dan langsung minum ke dapur, melanjutkan tidur setelah itu.
Menjelang subuh ayahku terbangun lagi, ayahku kaget karena mendengar ada suara air mengalir di samping tempat tidurnya, deras seperti aliran sungai.
terhenyak beberapa saat mendapati dirinya masih diatas Kasur, lalu ayahku teringat ia juga mimpi melihat sebuah kapak menancap di atas pohon yang sudah ditebang.
Entah maksudnya apa dari mimpi itu, intinya ayahku merasa gak nyaman dan banyak kejanggalan. Akhirnya ayahku memutuskan untuk ke dapur lagi menenangkan diri dan minum beberapa gelas air putih.
Kini yang dirasa ayahku pusing, mual, dan perasaan yang gak karuan, linglung dan juga terus2an merasa haus juga kepanasan dengan hawa yang sedari kemarin sore ia rasakan.
Saat sedang menenggak air, ayahku tersadar lagi pintu belakang terbuka, padahal semalam ia sudah menguncinya rapat.
Semenjak kejadian itu ayahku sering sekali melakukan sesuatu dibawah kesadarannya, ia baru sadar beberapa saat setelah ia melakukan kegiatan.
Seperti yang paling aneh ayahku ke kamar mandi dan duduk di bak mandi, beberapa saat itu ia sadar dan bingung sendiri mendapati dirinya duduk di bak mandi tanpa alasan.
Dari subuh itu, menuju pagi ayahku merasakan banyak keanehan terutama pada dirinya, merasa juga badannya berat dan gak bisa mengontrol dirinya. Paginya waktu matahari sudah mulai terbit, hujan turun juga dengan deras,
Tapi ayahku justru keluar rumah jalan kaki tanpa menggunakan jas hujan atau payung, alias hujan2an di jalanan. Beberapa warga disana yang sedang berteduh menyaksikan ayahku hujan2an dan menawarkan untuk bergabung dengan mereka,
Tetapi ayahku tidak menyambut sapaannya,
“pak Hamir!! Sini berteduh loh pak! Jangan hujan2an nanti sakit!” teriak salah satu warga
Ayahku Cuma mengangguk saja dan tersenyum, selanjutnya ia jalan terus tanpa bicara sepatah kata pun.
Disini ayahku sudah tidak lagi sadar, tidak mengingat apapun, warga awalnya gak merasa curiga, dan gak tau kalau ayahku sebetulnya ga sadar diri, tapi tidak bisa berbuat apapun karena mereka juga mau pergi ke kebun dan gak mau terlanjur basah karena hujan.
Tapi yang membuat warga agak heran, ayahku berjalan menuju bukit yang terlarang itu.
Singkat cerita, tersadarlah ayahku, disaksikan dihadapannya ada sungai kecil, harinya terik, padahal sebelumnya hujan deras. Lokasinya betul2 gak dikenali ayahku, bukan perkebunan, Cuma hutan sepi tanpa manusia.
Ayahku teriak ingin tau apa disini ada orang, tapi sia2, tidak ada sahutan dari siapapun. Karena hari terasa terik dan panas, akhirnya ayahku memutuskan minum air dari sungai itu menggunakan angannya, mau seperti apa lagi, sudah tak tertahankan dahaganya.
Baju ayahku kering seperti gak kehujanan sebelumnya. Aneh. Ayahku akhirnya mencari jalan keluar dari hutan tersebut tapi selalu hasil yang nihil, segala cara dilakukan tapi teteap saja berujung menemukan sungai yang tadi.
Ia akhirnya mencoba cara dengan mengikuti sungai mengalir, tetap saja, dia balik ke tempat semula, seolah sungainya Cuma membentuk huruf O. lama lama ayahku Lelah juga, tapi ia tidak merasakan lapar sekalipun. Malah ayahku Cuma merasakan haus yg teramat sangat dan terus menerus.
Di malam hari, ayahku juga gak merasa kedinginan, yang lebih gak wajar lagi, ayahku ga merasa dan ga ngeliat ada nyamuk disitu, padahal itu hutan yang lebat, biasanya nyamuk2 hutan bakal sadis banget. Ini, terlihat pun nggak.
Di malam berikutnya ayahku mulai pasrah dan merebahkan dirinya dibawah tanah di tepi kanan sungai, menatap langit, kalau memang ia harus mati disini, bagaimana, tapi ia masih punya tenaga untuk cari pertolongan.
Sepi, sunyi, gelap gulita dengan cahaya bulan, meresap dalam jiwa ayahku. Ayahku Cuma bisa berdoa memohon keselamatan dan tetap hidup dan utuh sampai nanti pulang kerumah.
Ditengah2 lamunan ayahku, ia melihat tepat di sebelah kirinya ayahku, alias diatas air sungainya seperti ada cahaya, bukan kunang2, cahayanya besar seperti senter segenggaman orang dewasa, ayahku sempat berharap itu orang, tapi mana mungkin ada manusia jalan di atas air.
Ayahku memperhatikan langkanya juga, tapi tak terdengar apapun, masih sunyi, hanya saja cahaya itu terus bergerak mendekat. Masih kurang yakin, ayahku akhirnya memanggil dari sumber cahaya, tidak ada jawaban.
Lama kelamaan cahayanya menghilang saat ayahku menegaskan pengelihatannya di atas sungai itu.
Pasrah lagi, ayahku pun akhirnya tidur, berharap besok pagi ia mendapat banyak tenaga untuk pulang. Pagi harinya ia bangun berharap semalam mimpi, ternyata ia masih di tempat yang sama,
ditambah terkejut melihat banyak jejak kaki sepatu manusia saat ayahku sedang bersiap2 mencuci muka dan minum di sungai.
Kali ini ayahku sedikit mengeksplor dan berteriak berharap ada seseorang mendengarnya karena ia melihat ada jejak kaki disitu, tetap, ia tidak mendapati siapapun disana. 3 hari lamanya ayahku tersesat disana, sampai akhirnya ia bertemu seorang wanita tua.
Terlihat menggendong kayu2 bakar, ayahku yang sedang terduduk, didekati nenek itu, dan tanpa banyak bas abasi, terjulur tangan dari sang nenek untuk membangunkan ayahku, karena nenek itu satu2 nya manusia yang menemukan ayahku, ayahku langsung sungkem meminta pertolongan.
Seolah paham, nenek itu langsung memberi ayahku sebuah wadah dari bamboo berisikan air putih, diminumnya langsung oleh ayahku, dan perasaan ayahku Ketika begitu lemas, berkunang kunang pandangannya,
merasakan lapar yang teramat sangat, kemudian karena pandangan ayahku semua berkunang2, buram, akhirnya pingsan.
Ayahku sampai gak tau kemana perginya nenek yang tadi karena terlanjur tak sadarkan diri, setelah itu ayahku gak ingat apapun. Ini dari kesaksian warga, warga yang saat itu memang mencari ayahku, menemukan ayahku tergeletak lemas gak jauh dari tepi sungai.
Warga yang menemukan terkejut tapi gak heran, karena sudah beberapa kali menyisir wilayah sungai tetap ga menemukan tanda2 adanya ayahku. Tanpa berlama2 akhirnya ayahku dibawa pulang dan diurus dengan warga, setelah sadar dan pulih,
barulah warga siap untuk memberi tahu yang sebenarnya.
Awalnya beberapa warga merasa heran melihat keadaan pintu rumah ayahku pintunya terbuka lebar selama beberapa hari, muncul pertanyaan yang akhirnya warga berusaha mengecek kedalam takutnya ada terjadi sesuatu, tapi warga gak mendapatkan ayahku di rumah.
Keadaan rumah sepi dan kosong. Dari kesaksian warga itu, melaporlah ke warga yang lain termasuk bapak2 yang tengah neduh waktu itu, yang melihat ayahku berjalan menuju bukit yang dilarang tersebut.
Kekompakan dan kekeluargaan warga desa begitu erat sehingga kesadaran mereka mengenai hilangnya ayahku cepat ditanggapi. Setelah berunding dengan beberapa warga yang mempunyai pagar ghoib, akhirnya disetujui lah untuk mencari ke bukit itu.
Pertimbangan terus dilakukan karena bukit itu pantang sekali dipijak, warga yang sudah lama tinggal disitu pun berfikir 1000x, gimana kayak ayahku yang baru 1 tahun tinggal disitu. Kesepakatan bulat lalu dicarilah ayahku di bukit.
Ayahku bertanya saat sedang diceritakan, ia melihat jejak kaki, apa betul mereka telah melewati wilayah dengan ciri2 yang ayahku sebut, kata mereka memang iya, mereka melewati wilayah tersebut karena sungai itulah akses pertama yang akan mereka lewati Ketika memasuki area
perbukitannya, berarti betul dugaan warga dan ayahku, raga ayahku dibuat tak terlihat oleh warga yang tengah mencari.
“bagaimana soal wanita tua yang memberi saya minum di wadah bamboo? Apa termasuk warga sini yang ikut mencari?” tanya ayahku pada warga
“gak ada lansia yang ikut dengan kami pak, kami semua laki2 dewasa yang menyisir bukir, bahkan sedari kami melakukan penyisiran,
kami gak liat ada 1 pun warga disana apalagi nenek2” jelas salah satu warga.
Mungkin itu cara tuhan menunjukan ayahku supaya ditemukan. Dijelaskan juga sama warga kalau air yang diberikan nenek itu bukan air biasa, dan itulah yang menghantarkan ayahku bisa terlihat di mata para warga yang sedang mencari.
Dan air pemberian dari nenek itulah yang menyadarkan seutuhnya ayahku menjadi manusia, dari situ ayahku langsung merasakan hal manusiawi yaitu lapar, dingin dan lemas yang ia gak rasakan sebelumnya saat sebelum meminumnya.
Saat ayah memasuki wilayah bukit tersebut, tanpa disadari kehadirannya memancing perhatian dari penunggu disana, ditambah ayahku tidak memakai pagar ghoib. Sampai akhirnya ada beberapa penunggu yang mengikuti ayahku sampai kerumah,
alias ayahku sudah ketempelan sejak ia pulang sore dari kebunnya.
Pada saat itu ayahku pulang ke rumah kami yang di kota dengan keadaan selamat dan utuh, sehat walafiat, tapi barulah ia cerita kalau ia telah menghilang disana selama 3 hari. Kami terkejut dan betul2 khawatir, kesal, dan menyesal juga,
tapi entah mau siapa yang disalahkan karena kejadian sudah terjadi, dan sebelumnya memang baik2 aja kan.
Saking khawatirnya kami, kami akhirnya tidak lagi mengizinkan ayahku pergi ke rumah di desa, atau ke kebun itu sendirian, harus ditemani, mau gak mau, karena belajar dari kesalahan, amit2 bakal terjadi lagi.
-Tamat-

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with Payung Hitam

Payung Hitam Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @PayungH11101101

12 Mar
NGUNTIT
Makhluk ini mengganggu keluargaku dan menewaskan orang yang tidak bersalah sama sekali.

[A Thread]
@bacahorror #bacahorror Image
halo readers payung hitam!
Cerita yang aku bawain kali ini berasal dari teman dekat admin sendiri. Teman semasa SMK dulu, kita sudah kenal lama, sering main bareng bahkan orang tua kita pun dekat,
tapi dia baru cerita sekarang soalnya ini menyangkut aib dan juga rasa bersalah dan penyesalan orang tua dari narasumber.
Read 105 tweets
5 Mar
Mendiang Kakakku
[A THREAD] by Follower
@bacahorror #bacahorror Image
Halo teman2 pembaca setia Payung Hitam,
Malam ini aku mau bawakan pengalaman cukup pilu dari keluarga salah satu followers kami yang bersedia menceritakan kejadian ini.
Terimakasih banyak sebelumnya sudah mengizinkan share cerita ini dan pertama kalinya admin bawakan cerita dari followers, kurang lebihnya mohon maaf ya temen2.
Read 77 tweets
24 Feb
Punagi Mbah Raju
[A THREAD]
@bacahorror #bacahorror
Hey apa kabar kalian semua? malem ini aku mau share cerita yang sebetulnya niatnya tuh minggu kemaren mau upload, tapi pihak keluarga sempat menolak, pada akhirnya aku diskusikan ulang dengan narsum untuk tidak menceritakan beberapa hal intim yang ada di bagian ceritanya
gausah lama2 yuk langsung aja.....
Read 130 tweets
14 Feb
Pitutur (Nasihat)
[A THREAD]
@bacahorror #bacahorror Image
Namaku Galuh, punya dendam dengan kakak kandungku sendiri, dendamku didukung kuat oleh suamiku sendiri yang aku sudah nikahi sekitar 8 tahun yang lalu.

***
Cerita mundur di umurku yang masih 15 tahun pada tahun 2010, saat itu pulang sekolah aku langsung nyusul mbok (ibu) ke pasar, karena dia jual ikan2 segar disana. Sekolahku jaraknya ga terlalu jauh, tapi kalau jalan kaki bisa 15 menit baru sampe.
Read 96 tweets
11 Feb
Aku mau curhat dengan kalian semua, sejak pagi tadi ada yg dm, ngirim beberapa link,
Ternyta cerita dari PayungHitam, di jadikan content di beberapa Channel YouTube yg terbilang udah gede.
Tapi aku selaku Admin PayungHitam sedih, krn di contentnya sama sekali tidak menyertakan sumber,
aku merasa PayungHitam tidak di anggap sama sekali setelah kisah dari kami di jadikan Content(ADS) yg bersifat commercial.
Aku tidak menjual cerita, lagi pula itu cerita dari beberapa orang yg berniat berbagi kisah, aku juga mengizinkan siapapun yg mau share kisah yg ada disni di via apapun.
Tapi sudikah kiranya kalian memberikan sumber 😔
Read 4 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!

Follow Us on Twitter!