Berkaca pada perjuangan kemerdekaan, perbedaan dapat ditepis, karena adanya rasa persamaan nasib, kesamaan rasa.
Pertanyaannya apakah saat ini tak ada rasa yang sama di dalam masyarakat ?
Ada tentunya, sama sama susah cari makan, terancam Covid 19 yang terus mengintai.
Terjadi juga di masa VOC, tak sedikit rakyat jajahan yang menjadi Antek para penjajah, memata mati, melaporkan bahkan menjadi bagian dari tentara kompeni untuk menindas rakyat, dan menerima upah atas tindakannya mendukung penjajah.
Saat ini juga ada, yg merasa jangan marah ya😀
Coba diabsen dulu yang merasa menjadi KNIL ( Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger) dikekinian siapa? Ayo tunjuk tangan✋
Gak adalah yang mau ngaku. Tapi ciri cirinya jelas terlihat, kita semua tahu siapa siapa saja yang menjadi KNIL ini.
Cirinya apa ?
Kalau KNIL jaman VOC, jelas terlihat dari seragam yang digunakan, KNIL era milenial gak pakai seragam, tapi seragam pemikiran dan pernyataannya, membela kepentingan VOC di kekinian.
Mereka yang jadi KNIL dikekinian mungkin sadar, mungkin juga tak sadarkan diri.😀
KNIL itu bukanlah musuh yang sesungguhnya, mereka hanya mengharapkan pendapatan agar dapat hidup sejahtera, sebaiknya tak usah dilayani dan dihadapi, mari fokus untuk berjuang melawan VOC yg menjadi mindmaster dari semua penjajahan ini.
Fokus,
Persisten,
Sabar,
Semangat kakak💪
Bicara soal perjuangan menjahit kekuatan, tak hanya melalui ormas yang memiliki pendukung tambun, tapi memerlukan seluruh komponen yang ada di negeri.
Ibarat "Avatar" dalam melawan negara api, seluruh elemen harus disatukan.
Tanah, Air, udara bahkan elemen apipun ikut dijahit🙏
Lantas siapa saja yang harus disatukan?
Semua kekuatan yang ada, selain ormas besar, partai politik, ASN dalam pemerintahan, TNI, Polri, buruh, tani, pedagang dstnya, Intinya seluruh elemen bangsa musti disatukan.
Bersatu, mudah diucapkan, nyatanya sangat sulit dipraktekkan😭😭
Menyatukan kekuatan bangsa usaha yang berat.
Lantas, apakah menyerah kalah dan pasrah melepaskan nasib pada kekuatan Alam semata.
Gak lah, kita bukanlah tipikal lemah, mental krupuk yang anyep terkena air.
Skuy berjuanglah, mulai sedikit demi sedikit, lama lama menjadi bukit.
Apa yg diperlukan utk perjuangan panjang ini?
RoadMap, Milestone, detail aktifitas dan tentunya Timeline, agar semuanya terukur dan dapat dievaluasi, dipertajam, hingga tujuan yg ingin dicapai dapat terwujud.
Tujuannya apa?
Indonesia Sejahtera!
Kuncinya apa?
Robohkan oligarki!
Beda jaman, beda cara. Dikekinian tak ada lagi cara untuk bersembunyi dari radar, semua terbaca dan mudah diakses.
Perjuangan bawah tanah tak lagi cocok, bergerak secara nyata, tetap siaga dari semua perangkap yang ditebar, hati hati jangan sampai dikriminalisasi. Waspadalah.
Oligarki memang harus dirobohkan, oligarki itu buruh untuk negeri.
Dan Oligarki tak pernah mengakui dirinya sebagai oligarki.
Jadi gerakan merobohkan oligarki bukanlah pelanggaran hukum, dan tak layak diproses hukum, kalau terjadi, namanya kriminalisasi😀
Kembali ke laptop.
Kata kunci perjuangan adalah bersatu.
Siapa yang harus disatukan?
Banyak tokoh, partai, organisasi yang memiliki visi yang sama dengan perjuangan merobohkan oligarki.
Di era perjuangan kemerdekaan, tak sedikit pejuang yang bergerak sendiri sendiri.
Andai saja seluruh kerajaan yang ada di Nusantara bergerak serentak, terkoodinir melawan penjajah, tentu Indonesia takkan lama dijajah.
Dulu tak ada internet, berkomunikasipun susah, butuh waktu lama untuk menyampaikan info dari satu kerajaan ke kerajaan lain.
Sekarang Mudah.
Saling komunikasi adalah langkah awal yang harus dilakukan.
Siapa yang harus berkomunikasi?
Seluruh elemen bangsa yang memiliki kesamaan visi, merobohkan oligarki.
Di TL rakyat Twitter menyaksikan banyak tokoh tokoh yang mempunyai visi sama, tapi tak saling komunikasi😭😭
Masing masing sibuk dengan urusan kerajaan masing masing. Padahal yang diperjuangkan sama, yang diucapkan dan pemikiran juga kurang lebih sama, tapi tak bersatu dalam satu perjuangan yang sama.
Bisa 350 tahun nih dijajah lagi 😭😭😭
Tak harus melepas atribut kerajaan masing masing, tapi saling berkomunikasi dalam perjuangan nampaknya harus segera dilakukan.
Dapat dimulai dari jaringan pertemanan, pertemuan antar tokoh, diskusi, Webinar, dst.
Ada Googlemeet dan Zoom yang dapat digunakan, berkomunikasilah.
Hak Interpelasi: hak DPR untuk meminta keterangan kepada Pemerintah mengenai kebijakan pemerintah yang penting dan strategis serta berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Sudah digunakan belum?
Hak Angket: hak DPR untuk melakukan penyelidikan terhadap pelaksanaan suatu UU/kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan hal penting, strategis, dan berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yg diduga bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.
Kerumunan saat Pak @jokowi bagi bagi sembako masih terus terjadi.
WNA masuk saat diterapkan PPKM untuk mencegah penularan Covid dari Luar Negeri juga terus berlangsung.
Banyak protes yg disampaikan melalui sosial media dan media.
Apakah tidak ada cara utk menghentikannya?
Disisi lain peradilan terhadap HRS yang didasari oleh kerumunan dan hal terkait hasil swab terus berjalan, padahal para pejabat negara yg melakukan hal yg sama bebas dari hukum, boro boro disidang, diperiksapun tidak.
Ketidak Adilan dipertontonkan secara gamblang Dimata publik
Apakah memang sudah tak ada lagi Cars untuk menghentikan semua ini?
Dimana peran partai politik yg memiliki perwakilan di DPR, kemana wakil rakyat yg meraup suara, duduk di Senayan?
Apakah tak ada yg dapat dilakukan untuk menghentikan semua ini?
Persoalan vaksin itu bukan lagi soal warga yang tak mau divaksin, tetapi ketersediaan vaksinnya. Kalaupun ada yang belum divaksin kemungkinan kondisi kesehatan yang tak memungkinkan, kalau yang menolak divaksin ada, tapi gak banyak.
Rasanya tak perlu lagi pemaksaan.
Untuk @DKIJakarta jumlah yang terpapar sudah menurun, ketersediaan ruang rumah sakit juga cukup, jumlah yang meninggal juga berkurang.
Diputuskan PPKM level 4 karena jumlah tes, tracingnya yang kurang. Seharusnya yang diperkuat adalah Tracing dan tesnya ditingkatkan.
Kalau menurutku, @pdi_perjuangan tak perlu mengkritisi pemerintah, sebagai partai penguasa semua bisa langsung dijalankan, Bu Mega tinggal perintahkan saja Petugas Partai untuk putuskan Lockdown.
Dalam politik biasa sih manuver seperti ini, bisa jadi sebagai buang badan, agar kegagalan @jokowi dalam menangani pandemi tidak menjadi beban bagi partainya.
Posisi sebagai nomor satu dari bawah dalam penanganan pandemi itu memang sangat memalukan.
Tak mau ikut menanggung.
Yang paling penting saat ini adalah tindaklanjut terhadap kritik yang dilakukan @pdi_perjuangan .
Langkah yang perlu diambil oleh Bang @EffendiSimbolon adalah mengkonsolidasikan kekuatan di dalam Partai untuk menyampaikan aspirasi tersebut kepada Bu Mega.