Brii Profile picture
18 Nov, 85 tweets, 10 min read
Keangkeran tempat kerja kadang terpaksa harus dihadapi. Keseraman lain dimensi, sesekali menghadirkan sosok-sosok ngeri.

Malam ini, ada teman yang akan bercerita tentang seramnya pabrik tempatnya bekerja. Tahun 2001 peristiwa ini terjadi.

Simak di sini, hanya di Briistory.

***
Suara itu lagi, walaupun sudah pernah mendengar sebelumnya, tetap saja aku terkejut, tetap menoleh ke pintu walau tahu masih dalam keadaan tertutup.
Suara gesekan sapu ijuk dengan lantai, menggusur debu serta kotoran, membersihkan.

Suara sapu ini mungkin akan terdengar biasa saja kalau siang hari, tapi beda cerita ketika terdengarnya tengah malam seperti ini.
Suaranya makin mendekat dan mendekat, menuju pintu gudang, gudang tempat aku sedang mencoba tidur.
Perlahan aku bangkit dari posisi rebahan, kemudian duduk bersandar pada dinding. Gudang sangat gelap, karena aku sengaja gak menghidupkan lampu, penerangan hanya mengandalkan lampu luar yang cahayanya masuk melalui jendela kaca.
Seperti sebelum-sebelumnya, awalnya hanya terdengar suara gesekan sapu ijuk dengan lantai, tapi lama kelamaan karena si empunya suara terdengar seperti makin dekat dan mendekat, maka suara berikutnya mulai terdengar juga.
Iya, aku mulai mendengar suara langkah kaki, selangkah demi selangkah. Langkah ini terdengar seperti kaki yang menggunakan sandal karet, sehingga ketika bersinggungan dengan lantai semen menimbulkan suara khas, “Keteplek, keteplek, keteplek..” kira-kira seperti itu.
Langkahnya sangat pelan, begitu juga proses menyapunya, aku tentu saja sungguh sangat tegang dan ketakutan mendengarnya..

Udara Bandung yang sudah dingin, jadi terasa makin dingin.
“Ibu itu dulunya emang kerja di sini, tukang bersih-bersih. Kerja di sini lama banget, puluhan tahun. Sampe akhirnya dia meninggal 10 tahun yang lalu. Katanya temen-temen yang suka kerja malem, almarhum masih suka keliatan bebersih, nyapu, ngelap, ngepel. Serem ih..”
Terngiang-ngiang kalimat panjang dari Asep, teman yang kerja di perusahaan ini juga, Asep kerja di sini sudah lama, sedangkan aku baru kira-kira tiga bulan.
Asep bilang begitu, cerita tentang penampakan yang sering terjadi di pabrik ini, salah satunya ya hantu Ibu ini, Ibu yang sepertinya sedang aku dengar tengah menyapu di depan gudang, ibu yang sudah meninggal lama.
Aku terus menajamkan pendengaran, coba menangkap suara yang terus kedengaran.

Suara sapu ijuk dan langkah kaki makin jelas..

Detik berikutnya, ada suara lain lagi yang sebelumnya belum pernah aku dengar, dan sungguh menyeramkan..
Suara perempuan, perempuan yang suaranya masih seperti bergumam, gak jelas. Gumaman diselingi dengan tawa kikih tertahan.

Tuhaaaan, aku ketakutan, sangat menyeramkan, posisi duduk makin ke sudut ruangan..
Terus memperhatikan pintu dan jendela, aku yakin kalau sosok itu akan datang dari sebelah kanan, dia akan terlebih dulu lewat depan pintu baru kemudian jendela.
Sudah sangat dekat, perhitunganku beberapa detik lagi dia akan sampai di depan gudang.

Benar! dari celah kecil di bawah pintu aku akhirnya melihat sesuatu..
Seiring dengan suara-suara menyeramkan, dari celah kecil itu aku bisa melihat memang ada yang sedang bergerak, langkah perlahan sambil sesekali sapuan sapu ijuk kelihatan juga.

Sosok ibu itu sedang berada persis di depan pintu!
Suara gumamannya makin jelas terdengar, dengan tawa cekikikan sesekali.

Aku merinding ketakutan, sedikit pun gak berani bergerak.

Ketakutanku makin menggila, ketika melihat dia tetiba berhenti melangkah, lalu diam. Iya, ibu itu sekarang diam berdiri di depan pintu.
Kemudian hening meraja, menguasai hawa dingin berbalut kengerian. Dalam diam aku menerka-nerka, apa kiranya yang akan terjadi kemudian.

“Tok, tok, tok..”

Ada ketukan pintu,

Ibu itu mengetuk pintu!

Keringat dingin berjatuhan, makin meringkuk aku di sudut ruangan..
“Tok, tok, tok..”

Ketukan terdengar lagi,

Gak, sama sekali aku gak ada niat untuk membuka pintu, gak ada nyali untuk itu.
Bait-bait doa mengalir terbata dalam hati, aku sangat butuh pertolonganNya saat ini.

Hanya dua ketukan itu saja, selebihnya sepi kembali terjadi. Selama puluhan detik berlangsung seperti itu..
Gak lama setelahnya, ibu itu terlihat bergerak lagi, melangkah menuju ke kiri, ke jendela kaca yang letaknya persis di sebelah pintu.
Jendela kaca ini cukup besar, berukuran sekitar dua kali satu meter, memanjang. Dari jendela ini dapat terlihat dengan jelas semua yang ada di luar gudang, gak terhalang apa pun.
Dengan pergerakan seperti itu, aku sangat yakin kalau sebentar lagi dia akan berjalan persis di depan jendela, aku akan bisa dengan jelas melihat sosoknya.

Sekali lagi dugaanku benar, aku akhirnya melihat wujudnya.
Sosok perempuan tua, dengan rambut panjang terikat di belakang seperti sanggul, berpakaian warna gelap.

Walau aku hanya dapat melihatnya sebatas pinggang, tapi dengan jelas kalau dia memang sedang berjalan, sambil tangannya memegang sapu.
Gumaman dan cekikikan pelan terus mengiringi pergerakannya.

Terpaku aku terus memandang sosok seram itu.
Waktu terasa berjalan sangat lambat, begitu lama dia berjalan di depan jendela.
Sampai akhirnya dia gak terlihat lagi, pandanganku terhalang dinding, dia gak lagi berada di depan jendela kaca.
Masih terdiam, aku menunggu dalam keheningan, berharap cemas apa yang akan terjadi kemudian.
Ternyata gak ada apa-apa, gak kedengaran suara apa pun juga, gak ada pergerakan. Saat inilah keberanianku mulai timbul.
Pelan, aku berdiri lalu berjalan mendekat ke pintu. Dari pintu, kemudian mengintip jendela kaca sebentar, memperhatikan ke luar, kawatir sosok ibu itu masih ada. Ternyata nggak, gak ada apa-apa, hanya ruang mesin kosong yang jadi pemandangan.
Detik berikutnya, aku langsung membuka pintu, tanpa menoleh kiri kanan kemudian aku lari ke luar, meninggalkan gudang menuju pintu pabrik yang letaknya paling ujung seberang.
Sama sekali gak melihat sekitar, aku terus berlari di celah-celah deretan mesin dan peralatan pabrik. Tujuannya cuma satu, yaitu pos satpam di gerbang depan.
“Hey, Amri, kunaon maneh? Hehehe”

Pak Romli, satpam pabrik yang sedang bertugas, menyapa ketika aku sudah sampai di pos-nya.

Sambil mengatur nafas, aku mulai menceritakan semuanya, kejadian seram yang baru saja aku alami.

***
Selepas lulus STM, tahun 2001, aku memutuskan untuk langsung mencari kerja, karena sama sekali gak ada biaya kalau ingin berkuliah melanjutkan kuliah. Pikirku, aku akan kuliah kalau sudah terkumpul uang dari keringatku sendiri nantinya.
Kebetulan yang menyenangkan, masa menganggur hanya enam bulan saja, karena gak lama setelah lulus, ada tetangga rumah memberi info kalau ada perusahaan tekstil di Bandung yang sedang mencari karyawan sebagai operator mesin, kebetulan di masa sekolah jurusanku memang tehnik mesin.
Ya, sudah, mungkin memang sudah jalannya, tanpa pikir panjang aku langsung meninggalkan Garut untuk mengadu nasib di kota kembang Bandung.
Perusahaan tempatku bekerja ini sudah lama berdiri, sejak tahun 70an. Ketika aku sampai di sana, semuanya menunjukkan seperti itu, dari beberapa bangunan dalam kawasannya terlihat dari bentuknya memang bangunan lama, gedung tua.

Perusahaan ini letaknya di bilangan Cicadas.
Singkat cerita, tanpa wawancara dan tes yang bertele-tele, ditambah dengan referensi bagus dari tetanggaku, akhirnya aku diterima kerja. Jabatan awal adalah membantu operator mesin yang sudah ada, dalam hal ini bertujuan supaya aku bisa mendapatkan pelatihan terlebih dahulu.
Kebetulan juga, pemilik perusahaan sangat baik hati, karyawan yang sudah lama bekerja juga bilang seperti itu.

“Amri, sebelum dapat tempat tinggal, kamu boleh tinggal di sini dulu sementara,” pemilik pabrik bilang begitu, pada suatu hari setelah aku sudah mulai bekerja.
Ya, sudah, Alhamdulillah, rejeki nomplok, hehe. Tapi ya begitu, perusahaan gak menyediakan mess tempat tinggal, jadi selama sekitar enam bulan lamanya gudang pabrik menjadi tempat tinggalku sementara.
Gudang ini berada di dalam salah satu gedung besar yang kita sebut saja pabrik, karena di dalamnya banyak terdapat mesin-mesin pembuat tekstil.

Pabrik ini sangat besar, namun di beberapa sudutnya ada ruang-ruang kecil, entah itu ruang operator, ruang bahan baku, dan gudang.
Gudang inilah yang jadi tempatku tidur dan beristirahat. Aku harus rela berbagi ruang dengan segala macam peralatan mesin dan bahan baku, ya aku sih senang-senang saja, karena pernah merasakan tinggal di tempat yang lebih sedih dari ini.
Tapi ya itu, banyak cerita yang beredar tentang angkernya pabrik ini, pabrik yang letaknya benar-benar di paling ujung kawasan.
Menurut teman-teman, karena semua gedung bisa dibilang gedung tua makanya banyak kejadian seram yang dialami karyawannya. Banyak yang bilang sering melihat penampakan seram di kawasan pabrik. Aku gak bisa menceritakannya satu persatu, karena banyak sekali versi yang beredar.
Salah satunya ya tentang sosok ibu yang pernah aku lihat itu, konon katanya si ibu sering terlihat mengerjakan pekerjaan yang rutin dia lakukan semasa hidupnya dulu. Sosok itu juga sudah sangat menyeramkan, aku gak bisa membayangkan kalau harus bertemu dengan sosok seram lainnya.
Pokoknya gitu, banyak cerita seram yang beredar.
“Makanya, kamu hati-hati kalau tidur di pabrik, kunci pintu, gak usah ke luar lagi, diam aja di gudang sampai pagi”, begitu Asep bilang mewanti-wanti.
Oh iya, pabrik ini waktu aku masuk belum ada system shift, jam kerja dari 8 pagi sampai lima sore, kecuali sedang ada load tinggi, pekerjaan bisa selesai maksimal jam 10 malam, setelah itu karyawan pulang, pabrik hanya menyisakan tim sekuriti, mesin dalam keadaan mati semua, sepi
Selama enam bulan, aku juga sering merasakan atau sesekali melihat keseraman di pabrik, tapi masih bisa melawan rasa takut, lebih banyak mengikuti saran Asep untuk sama sekali gak ke luar gudang kalau malam tiba.

***
Awalnya, tidur di gudang hanya beralaskan beberapa kardus yang aku susun bertumpuk, cukuplah untuk menghangatkan.

Tapi gak lama, atasanku membawakan aku karpet tebal dan lebar menggantikan kardus-kardus, ditambah dengan bantal dan selimut jadinya sudah sangat nyaman buatku.
Kabiasaan tidur, aku akan mematikan lampu gudang, jadinya gelap gulita, hanya lampu luar saja yang memberikan sedikit cahaya. Sudah terbiasa seperti itu, nyaman.
Nah, seperti yang aku bilang tadi, selama kurang lebih enam bulan aku tinggal, beberapa kali merasakan keanehan menjurus seram di dalam pabrik, tapi aku masih bisa melaluinya, entah itu mengabaikan atau menahan ketakutan hingga pagi menjelang.
Tapi ada satu peristiwa yang sungguh sangat menyeramkan, peristiwa yang pada akhirnya membuatku bertekad untuk segera mencari tempat tinggal sendiri, peristiwa yang menurutku sangat menyeramkan.

Begini runutan detail kejadiannya..
Waktu itu seperti biasa aku menghabiskan waktu di pos sekuriti hingga malam, kalau ngantuk sudah gak tertahan aku akan pergi ke gudang.
Jarak dari pos sekuriti dengan pabrik tempat di mana gudang berada sebenarnya gak terlalu jauh, hanya sekitar 200 meter, tapi tetap saja aku harus berjalan kaki menyusuri kawasan pabrik, beberapa bangunan kantor harus aku lalui sampai akhirnya tiba di pabrik belakang.
Sekitar jam 10 malam aku pulang ke gudang.

Seperti yang aku bilang tadi, jam-jam seperti ini kawasan sudah sangat sepi, gak ada orang sama sekali. Aku berjalan kaki..
Banyak lampu sudah dalam keadaan mati, hanya sebagian kecil saja yang dibiarkan menyala, jadinya sangat redup walau masih bisa melihat sekitar.
Gak ada perasaan apa-apa, ketika akhirnya aku sampai juga di pabrik belakang, lalu masuk ke dalamnya.

Deratan mesin dengan berbagai macam ukuran harus aku lewati untuk sampai gudang, bangunan pabrik ini juga gelap, hanya beberapa lampu kecil saja yang dibiarkan menyala.
Dinginnya udara Bandung menyelusup masuk ke dalam, aku kedinginan, makanya semakin cepat langkahku untuk segera masuk gudang.
Sesampainya di gudang, aku langsung masuk dan mengunci pintu. Menggelar karpet yang biasa kugunakan sebagai alas.

Terakhir kali melihat jam, jarum pendeknya menunjuk ke angka 11. Setelah itu aku gak ingat apa-apa lagi, terlelap.

Tapi hanya sebentar..

***
Mengucek-ngucek mata, terpaan cahaya terang menyadarkanku dari tidur.

Iya, cahaya terang.
Tapi aku sadar kalau masih berada di atas karpet tempat tidur, lengkap dengan bantal dan selimut.

Cahaya ini terang sekali, menyilaukan, dalam keadaan mata tertutup pun aku bisa merasakan silaunya.

Cahaya dari mana sih?
Aku lalu perlahan mambuka mata, sangat perlahan karena sambil menahan silau.
Benar, ternyata gudang ini sudah terang benderang, lampu di dalam menyala semua, siapa yang menyalakan lampu?

Apa aku bangun kesiangan? Ah ternyata nggak,

karena setelah melirik jam dinding ternyata masih jam setengah dua, jadi aku tidur hanya sekitar dua jam, pikirku begitu.
Aku lalu duduk, masih mengucek-ngucek mata, coba mengumpulkan nyawa.
Kemudian, ada pemandangan aneh, pintu gudang ternyata sudah dalam keadaan terbuka, padahal aku yakin kalau sebelum tidur sudah menutup dan menguncinya. Kenapa sekarang malah terbuka?
Dari pintu terbuka itu tentu saja aku jadi bisa melihat luar. Di luar juga sama, pabrik yang berisi mesin-mesin ternyata dalam keadaan terang benderang, lampu nyala semua.

Ada apa ini? apa ada pekerjaan mendadak yang harus dikerjakan segera? atau apa? sumpah aku kebingungan.
Di sekitaran mesin juga aku lihat ada beberapa orang yang sedang wara wiri layaknya karyawan sedang bekerja.
Nah, ketika masih bingung itu, tiba-tiba ada orang yang melangkah masuk gudang, berseragam karyawan pabrik!
Aku lalu berdiri, dan bertanya kepada orang itu, “Pak, memang ada produksi malam ini?”

Orang itu gak menjawab, dia hanya diam sambil terus mengerjakan entah apa yang sedang dia kerjakan.
Kemudian aku kaget, setelah tersadar kalau sama sekali gak mengenal orang itu, aku belum pernah melihatnya di sini, lalu siapa dia?

Gak lama, orang itu lalu pergi ke luar gudang.

Masih kebingungan, aku lalu mengikutinya ke luar. Ternyata dia menuju ruang mesin.
Di depan pintu gudang, aku berdiri diam, memperhatikan semuanya, memperhatikan seluruh isi pabrik.

Benar, lampu menyala semua, ruang mesin terang benderang. Beberapa orang terlihat bekerja mengerjakan tugas layaknya ketika sedang dalam proses produksi.
Pemandangan yang normal ketika sedang ada kesibukan di pabrik..

Kemudian aku berjalan meninggalkan gudang, langkahku pelan, sambil terus memperhatikan sekitar, kebingungan.

Semua orang kelihatan sibuk tanpa sedikit pun memperhatikan aku, aku seperti gak ada di situ.
Tepat di tengah-tengah pabrik, di antara mesin-mesin, aku berhenti melangkah, karena lagi-lagi menyadari sesuatu.

Ternyata, dari wajah-wajah orang yang seliweran itu, gak ada satu pun yang aku kenal, semuanya asing. Namun mereka berseragam layaknya karyawan pabrik.
Siapa mereka ini? orang barukah?

Masih terdiam memperhatikan semuanya, aku tetap berdiri di tempat.

Kemudian, tiba-tiba sesuatu yang mengerikan mulai terjadi..
Aku melihat, kalau mereka para karyawan ini, perlahan tubuhnya menghitam. Iya, perlahan, gak serta merta.
Yang awalnya kelihatan normal layaknya manusia pekerja, lama kelamaan tubuhnya menghitam, legam, berangsur jadi tubuh seperti hangus terbakar, makin mengerikan lagi karena tubuh mereka juga masih terlihat berasap! Namun masih terus bergerak layaknya orang yang sedang bekerja!
Tuhan, apa lagi ini..
Sontak aku merinding ketakutan, ketika akhirnya sadar kalau ternyata mereka semua bukan manusia.
Di tengah kepanikan, tiba-tiba ada sesuatu lagi terjadi..

Pabrik yang tadinya terang benderang, mendadak lampunya mati semua!, jadi gelap gulita seperti semula. Tapi, sosok-sosok seram itu masih terlihat terus bergerak “bekerja”.
Nah, tapi beberapa detik kemudian mereka tiba-tiba berhenti bergerak, diam di tempat. Lalu perlahan membalikkan tubuhnya, semua jadi menghadap aku, mereka jadi terlihat seperti sedang memperhatikan aku!
Tambah panik, ketika dalam gelap aku melihat kalau ada satu sosok seram yang bergerak melangkah mendekat dari kejauhan.

Yang mengerikan, sosok yang satu ini ternyata tubuhnya tanpa kepala, dia berjalan perlahan mendekat ke arahku!
Tubuhku kaku, sama sekali gak bisa bergerak.

Lagi-lagi, untaian bait doa mengalir dalam hati, aku memohon keselamatan dariNya.
Alhamdulillah, detik berikutnya aku akhirnya bisa menggerakkan kaki.

Aku langsung lari menuju pintu keluar, tanpa sekali pun menoleh ke belakang. Lagi-lagi, pos satpam depan jadi tujuan.

Selesailah teror malam itu..
Peristiwa yang sangat mengerikan, saat itulah aku memutuskan untuk segera mencari tempat kost untuk tinggal.

***
Hai, balik lagi ke gw ya, Brii.

Sekian cerita malam ini, insyaAllah akan ada cerita lagi minggu depan,

Tetap sehat, jaga hati dan perasaan diri sendiri juga orang lain, supaya bisa terus merinding bareng.

Salam,
~Brii~

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with Brii

Brii Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @BriiStory

11 Nov
Entah bagaimana cara dan prosesnya, berjalan lintas dimensi bisa saja terjadi. Siapa pun bisa mengalami, gak pandang bulu.

Malam ini, satu teman akan bercerita pengalaman seramnya, lintas dimensi merasakan kekacauan garis ruang dan waktu. Hanya di sini, di Briistory..

***
~Circa 2003, selatan Jawa~
Aku dan Virgo akhirnya menyerah, kami sudah gak kuat menahan kantuk.
Read 101 tweets
28 Oct
Banyak peristiwa menjurus seram terjadi ketika kita sedang berada di tempat asing, tempat yang belum pernah dikunjungi sebelumnya.

So, simak cerita pengalaman salah satu teman, ketika dia terdampar di losmen hantu, di jalan lintas Sumatera.

Hanya di sini, di Briistory.
***
“Ada, Mas. Gak jauh lagi, kok.”

“Besar bangunannya, Pak?”

“Gak terlalu, tapi kamarnya lumayan banyak.”

“Oh, gitu. Ya sudah, nanti saya ke sana deh, Pak.”
Kemudian Bapak pemilik warung kecil ini kembali melanjutkan kegiatannya, membereskan warung untuk menutupnya segera, aku pelanggan terakhir.
Read 96 tweets
14 Oct
Sering kali dalam kondisi tertentu kita terpaksa harus tinggal di satu tempat, walau sebenarnya tinggal di situ sangat menguji ketahanan nyali.

Salah satu teman akan bercerita pengalaman ketika terpaksa tinggal di salah satu apartemen.

Simak di sini, hanya di Briistory.

***
***
~Beberapa hari sebelumnya~

“Ya udah, sih. Lo nginep di apartemen gw aja dulu, sampe dapet kostan yang baru, ribet banget hidup lo.”

“Takut aku, Hes..”

“Takut apaan, deh?”

“Takut malah betah, hahahahahaha. Ntar gak pindah-pindah aku, hahaha.”
Read 97 tweets
30 Sep
Tempat kost, harusnya jadi tempat yang nyaman untuk tinggal, tapi kadang malah jadi tempat yang sungguh menyeramkan.

Salah satu teman akan menceritakan kisah seram di tempat kost-nya di Bandung.

Simak di sini, di Briistory.

***
Aku langsung mematikan lampu, lalu memastikan kalau pintu sudah terkunci. Situasinya nyaris sama dengan beberapa hari yang lalu..

Sepinya beda, hawanya gak biasa.
Derit lantai kayu terdengar samar, suara yang seharusnya timbul karena ada seseorang yang sedang melangkah, masih samar karena sepertinya sumber suara masih jauh.
Read 101 tweets
23 Sep
Liburan bersama teman memang sangat menyenangkan, seru. Tetapi banyak pula acara liburan yang malah berubah jadi pengalaman seram, mengerikan.

Salah satu teman akan bercerita pengalaman seramnya ketika menginap di Villa Puncak, Bogor.

Simak di sini, hanya di Briistory.

***
“Lumayan, kan. Villa gratis, hehehe.” Rimba bilang begitu.

“Liburnya lama pula. Sedap beneeerr..”, Vero gak kalah antusiasnya.

“Iya, kata bokap, yang penting bisa jaga kelakuan dan kebersihan, soalnya gak ada yang bantu-bantu, jadi kita bener-bener sendirian,” ucap Deasi.
Percakapan menyenangkan itu terjadi di dalam kampus, tempat kami semua berkuliah.

Oh, iya, aku Bara, mahasiswa angkatan 2016 salah satu universitas di Jakarta.
Read 95 tweets
9 Sep
Jakarta, banyak terselip kisah seram, entah di kantor atau tempat tinggal.
Salah satu bentuk tempat tinggal adalah apartemen. Sama seperti tempat lain, banyak apartemen yang punya cerita seram. Salah satu teman akan menceritakan kisahnya.

Simak di sini, di briistory..

***
Pintu kamar sengaja aku buka, supaya tetap bisa melihat ke ruang tengah, imajinasi jadi gak melayang ke mana-mana.

Namun, tetap saja susah untuk tidur.
Terkadang, mata sudah terpejam, tetapi aku malah merasa seperti ada yang sedang berdiri memperhatikan. Was-was jadinya.

Awalnya, aku pikir mungkin itu hanya perasaan saja, awalnya begitu.
Read 121 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal

Thank you for your support!

Follow Us on Twitter!

:(