Brii Profile picture
Oct 3, 2019 98 tweets 12 min read
Setiap kota yang pernah gw kunjungi hampir selalu punya sisi lain, terserah mau memandangnya dari sudut mana. Tapi ya begitu adanya..

Sama dengan Jember, di beberapa sudut memberikan pengalaman yang menarik.

Gw akan coba cerita di sini, di Briistory.

@InfoMemeTwit
Sekitaran Maret atau April 2007, gw road trip ke Bali bareng Rai, Deddy, dan Ali. Rencana yang memang sudah kami rancang jauh-jauhari sebelumnya. Sengaja untuk gak milih tanggal musim liburan, supaya gak terlalu ramai wisatawan dan hotelnya juga gak terlalu mahal.
Kami berempat memang hobi jalan darat, menyusuri jalan dan tempat yang belum pernah dikunjungi. Sama juga dengan parjalanan ini, kami sengaja gak melalui jalan yang biasa orang-orang lalui, cari jalan pedesaan di selatan Jawa.

Singkatnya, perjalanan pun dimulai.
Dari awal kami merencanakan untuk mampir di Jogja, untuk menginap satu malam di kota gudeg ini.

Dulu, gw udah pernah cerita tentang pengalaman kami waktu bermalam di satu hotel di Jogja, hotel yang cukup menyeramkan.
Nah, malam ini gw akan cerita setelah bermalam di Jogja, masih dalam perjalanan menuju Bali.

***
Kami meninggalkan hotel jam delapan pagi setelah sarapan.

Matahari sudah mulai menyengat terik, gw yang berada di belakang kemudi mengarahkan kendaraan menyusuri jalan di sisi selatan pulau jawa.
Pacitan, Ponorogo, Trenggalek, Tulung agung, dan seterusnya, akan menjadi kota-kota yang akan disusuri sampai nantinya berakhir di ujung timur pulau Jawa, lalu menyeberang ke Bali.

Rencananya seperti itu..
Seperti yang gw bilang di awal, sebisa mungkin kami menghindari jalan besar, selalu memilih jalan desa dan pegunungan. Menikmati pemandangan, udara sejuk pedesaan dengan sawahnya dan pegunungan dengan hutan-hutan kecilnya.
Singkatnya, percakapan diselingi gelak tawa dalam kendaraan tiba-tiba menjadi berangsur sepi ketika menyadari kalau ternyata jalan yang sedang dilewati semakin lama semakin kecil, berangsur berubah dari jalan aspal menjadi jalan tanah.
Kota terakhir yang kami lewati tadi adalah Pacitan, itu yang gw ingat.
“Ini daerah mana sih? Lo lewat mana ini Brii?” Tanya Deddy yang mulai kelihatan bingung.

Sama, gw juga bingung, ini jalan di mana? Kok malah jadi jalan tanah.
Kanan kiri tampak seperti hutan yang cukup rindang, tapi belum bisa disebut hutan belantara karena matahari masih masuk dengan sinarnya yang terang. Jalanan yang kami lewati letaknya seperti berada di bawah, kanan kiri datarannya lebih tinggi, seperti membelah gunung.
“Buset, ini ke mana ya? Apa kita balik lagi aja Brii?” Rai mulai gelisah, tapi idenya yang menginginkan kami untuk putar balik gw tentang.

“Jangan dulu, tanggung, udah nyaris satu jam kita di jalan sepi ini.”
Oh iya, jalanan sepi, sangat sepi, sama sekali gak ada kendaraan yang melintas, entah itu motor apa lagi mobil.

Sementara itu jalan semakin kecil dan terus mengecil sampai akhirnya hanya dapat dilewati oleh hanya satu kendaraan saja.
“Udahlah, muter aja Brii, serem nih tempatnya.”

Ali akhirnya buka suara, sedari tadi dia hanya diam, seperti merasakan atau “melihat” sesuatu.
Benar, suasananya sudah mulai aneh, kami seperti melewati satu tempat antah berantah, sepertinya gak mungkin di pulau Jawa masih ada daerah yang masih gak berpenghuni.

Sepi, hening, padahal jendela mobil kami buka sebagian, hanya suara mesin mobil yang terdengar.
Akhirnya, dari kejauhan terlihat ada seorang laki-laki yang mengendarai sepeda onthel, berjalan bergerak mendekat. Kami bisa bertanya ke orang itu tentang arah jalan.

"Pak, jalan tanah seperti ini masih jauh gak ya?" Tanya gw ke bapak itu ketika kami berpapasan.
"Sebentar lagi mas, ada pasar sekitar lima belas menit lagi. Ikuti jalan ini saja.." Jawab bapak itu dengan logat jawa kentalnya.

Setelahnya kami lanjut, sedangkan bapak bersepeda itu berjalan ke arah belakang, lalu menghilang di persimpangan.
Kami ikuti sarannya, benar saja, beberapa saat kemudian terlihat ada keramaian. Cukup lega, karena akhirnya ada tanda-tanda kehidupan.
Ketika sudah semakin dekat tempat yang cukup ramai itu, semakin terlihat jelas tempat itu berbentuk apa. Mobil sengaja gw jalankan dengan sangat pelan.
Ternyata pasar, jalan yang membelah di tengahnya ternyata juga masih jalan tanah, belum jalan aspal seperti apa yang dibilang bapak pesepeda onthel tadi.
Kanan kiri jalan ada bangunan dengan fungsimya masing-masing, sebagian besar adalah toko yang menjual macam-macam barang. Di emperan ada beberapa penjual juga, yang menjajakan dagangannya di atas teras toko.
Tapi ada yang aneh, membuat kami berempat terkesima.

Setelah diperhatikan dengan seksama, ternyata semua bangunan di pasar itu berbentuk bangunan tempo dulu, seperti bangunan di kisaran tahun-tahun awal 1900-an. Sebelum Indonesia merdeka.
Orang-orangnya berpakaian seperti orang jaman dulu, yang wanita banyak yang berkebaya.

Kendaraan yang melintas hanya kami, selain itu cuma sepeda dan kereta kuda, sepeda motor pun gak terlihat.
Sebelah kanan, di balik deretan toko-toko yang bercat putih, ada sungai mengalir.

Sungai cukup besar yang airnya bersih. Di atas sungai terlihat beberapa perahu hilir mudik dengan tujuannya masing-masing.

Entahlah, itu pemandangan yang cukup unik buat kami..
"Ini kota apa ya? kok aneh." Pertanyaan Ali memecah kesunyian.

"Kita masih nyasar, kota ini gak ada di peta." Jawab Rai, sambil memandang ke luar.

"Gimana kalo berhenti dulu, udah jam makan siang nih." Gw memberi saran, karna perut sudah keroncongan.

Semua setuju..
Gw lalu menghentikan kendaraan tepat di depan warung nasi pecel yang ada di sebelah kiri jalan.

Kami semua turun,

Siang itu udara cukup panas, matahari hampir tepat di atas kepala, sinarnya menyengat membakar kulit.
"Bu, nasi pecel empat ya" Rai bicara ke Ibu penjual yang duduk di balik meja hidangannya.

Si Ibu menjawab menggunakan bahasa jawa yang sangat halus. Kami hanya berpandangan tanpa tahu harus menjawab apa, sama sekali gak mengerti apa yang beliau bicarakan.
Selama mempersiapkan pesanan, dia terus bicara, disertai dengan senyum dan tawa sekali-kali. Kami hanya tersenyum-senyum saja mendengarnya, ya karena gak tahu mau bicara apa.
Hingga tiba saatnya ketika makanan tersaji di meja, dengan lahap kami langsung menyantapnya. Nasi pecel yang cukup enak, enak sekali malah.
Ketika sedang menyantap makanan, ibu penjual pecel tampak mencoba berbicara kepada kami. Dan tentu saja, tetap gak ngerti apa yang beliau katakan, kami hanya tersenyum sambil menjawab "Iya.." sekali-kali.
Beliau berbicara sambil menunjuk-nunjuk ke belakang warung, kemudian berjalan keluar melalui pintu belakang. Karena itulah akhirnya kami menebak, mungkin ibu itu bermaksud berpamitan untuk meninggalkan warungnya sebentar.
Setelah selesai makan, kami tetap berbincang di dalam warung, warung kecil yang gak ada pengunjung lain selain kami.

Sekitar lima belas menit menunggu ibu itu kembali, cukup lama dan mulai gelisah, karna sudah harus melanjutkan perjalanan lagi.
Di sela-sela perbincangan, belakangan baru tersadar kalau ada yang aneh dengan kota ini.

Suasananya menjadi sepi,

"Di luar sepi, gak ada orang.." Ali memecah kesunyian, sambil melayangkan pandangan ke luar.
Perasaan gw mulai gak enak, karena sama sekali gak ada orang, seperti kota mati.

"Yuk ah cabut aja, hawanya mulai gak enak." Gw berdiri dan meletakkan selembar uang 50ribu di atas meja.
Kami buru-buru masuk mobil dan pergi dari tempat itu. Gw mengemudikan mobil sedikit cepat, sebisa mungkin segera menjauh.

"Itu ibu tukang pecelnya nongol.." Deddy membuka omongan sambil melihat ke arah belakang.
Dari kaca spion gw juga melihat ibu itu dari kejauhan, dia berdiri sambil melambaikan tangan. Gw gak memperdulikannya, tetap mengemudikan mobil, menjauh.
Kira-kira lima menit kemudian, kami kembali masuk hutan, hutan yang bentuknya sama dengan yang kami lalui sebelum memasuki kota aneh itu.

Suasana kembali hening dan sedikit gelap, karna pepohonan kembali rindang.
Gw lihat dari kaca spion, Ali sudah mulai terlihat komat kamit membaca doa. Gelagat Ali yang gw gak suka, kalau sudah seperti itu berarti dia merasakan atau malah melihat sesuatu.

Beberapa saat lamanya kami diam dalam lamunan masing-masing..
Sukurlah, sekitar lima belas menit kemudian kami menemukan jalan beraspal, sudah terlihat rumah penduduk juga. Akhirnya keluar dari hutan itu.
Entahlah, gw sampe sekarang gak tahu itu kota nyata atau nggak. Kota yang gak terlihat di dalam peta. Tapi yang gw ingat, gak lama setelahnya, kami memasuki satu kota kecil, Tegalombo namanya.

***
Sebenarnya kami menargetkan kalau sebelum tengah malam harus sudah sampai Banyuwangi, merencanakan untuk bermalam di kota itu, lalu melanjutkan perjalanan esok paginya.
Tapi rencana tinggal rencana, karena entah kenapa malah nyasar sekali lagi, kali ini kami berputar-putar di Lumajang. Hingga akhirnya memutuskan untuk mencari masjid untuk sholat di kota itu.

Sekaligus beristirahat sejenak setelah perjalanan seharian.
Sekitar jam sembilan malam kami melanjutkan perjalanan,

Jember adalah tujuan berikutnya.

“Mau nginep lagi di Jember apa lanjut Banyuwangi nanti?” Di antara Lumajang dan Jember gw membuka percakapan.

“Liat nanti aja deh Brii, kalo memungkinkan ya lanjut aja.” Begitu saran Rai.
Perjalanan Lumajang Jember seharusnya hanya memakan waktu dua jam, tapi karena udah agak capek dan mengantuk maka gw memacu kendaraan dengan kecepatan sedang, gak terlalu cepat. Disamping itu, gw sama sekali belum mengenali medan, gak berani untuk ngebut.
Beberapa kali berhenti juga untuk ke toilet dan mengisi bensin mobil, akhirnya batas kota Jember kami lewati, jam dua belas lewat sedikit.

"Kayaknya harus cari hotel deh, gw capek banget, gak apa ya?"
Capek, ngantuk, lemas, semua karna gw kurang tidur malam sebelumnya, ditambah nyaris delapan belas jam nonstop mengemudi tanpa bergantian. Gw nyerah, harus istirahat, lantas teman-teman setuju, akhirnya memutuskan untuk cari hotel.

Di sini mulai seru..
Jam dua belas lewat tengah malam, kami menyusuri jalan sepi kota Jember. Awalnya, pusat kota yang menjadi sasaran kunjungan, alun-alun masih ada sedikit kehidupan, beberapa angkringan menjajakan dagangan kepada beberapa gelintir pengunjungnya.
Tapi, secara keseluruhan kami menyukai kota ini, bersih dan indah, suasananya sangat "Jawa".
Oh iya, sesampainya di Jember sudah dua hotel kami masuki, hotel pertama gak layak, hotel kedua gak sesuai budget, dua hotel ini letaknya gak jauh dari alun-alun.

Setelahnya kami memutuskan untuk lanjut ke arah timur kota, sedikit demi sedikit menuju ke luar Jember.
Sampai akhirnya kami masuk ke satu hotel di daerah Mayang, kalo gak salah daerah ini sudah sedikit di luar Jember.

Letaknya hotelnya di sebelah kanan jalan, hanya papan kayu berwarna putih ukuran satu kali dua meter yang menjadi patokannya.
Pagar depan hotel hanya berbentuk tanaman yang dibuat sedemikian rupa menjadi pagar memanjang, menutupi halamannya yang luas. Beberapa pohon besar berdiri kokoh di halaman, pohon yang kelihatan sangat gelap karna sama sekali gak ada penerangan.
Beberapa belas meter kemudian ada lahan luas yang sepertinya diperuntukkan sebagai tempat parkir, hanya beberapa kendaraan yang terlihat, sepi..

Gw dan Rai turun dari mobil, sementara Deddy dan Ali tetap di dalam mobil.
Lalu kami berdua berjalan menuju lobby yang letaknya berada di dalam bangunan utama, gak jauh dari tempat parkir.
"Sepi amat nih hotel."

Rai membuka pembicaraan ketika kami sudah berada di depan meja lobby yang kosong melompong.

Ruangan tempat di mana lobby berada pun sangat sepi, sama sekali gak ada orang. Ruangan besar yang berisi meja kursi mengarah ke lemari tv yang dalam keadaan mati.
Gw memencet bel, memanggil petugasnya, namun gak ada jawaban.

Ketika bel dibunyikan untuk kedua kali barulah ada orang yang keluar dari ruangan di belakang lobby, seorang pemuda berumur belasan tahun, dengan tampang menahan kantuk.
"Masih ada kamar kosong?" Tanya gw.

"Masih ada mas," Jawab si mas penjaga.

"Boleh lihat dulu?"

"Boleh, mari silakan."

Lalu kami berjalan ke arah belakang bangunan.
Hotel ini gak seperti hotel pada umumnya, bentuknya seperti rumah besar kuno dengan banyak kamar di dalamnya. Jalan menuju kamar yang akan dilihat cukup jauh, melalui beberapa belokan, beberapa bagian melewati gang sempit yang hanya cukup dilalui satu orang aja, kebayang kan ya?
Hingga akhirnya, beberapa menit kemudian mas penjaga bilang, "Itu kamarnya di ujung." sambil menunjuk ruang gelap di pojok bangunan.

"Memang kamar penuh semua mas? Sampai harus di kamar paling ujung?" Tanya Rai.
Si mas penjaga bilang, hotel gak penuh, hanya saja yang siap pakai hanya kamar di belakang itu. Baiklah, kami menurut aja.
Posisi berjalan kami berbaris, mas penjaga paling depan, gw di belakangnya, Rai paling belakang.

Nah, ketika sedang berjalan dan lewat depan salah satu kamar yang letaknya di sebelah kanan, gw melihat sesuatu.
Kamar ini tirai jendelanya terbuka, jendela dengan kaca nako transparan tertutup. Karna tiranya setengah terbuka, gw jadi bisa melihat isi kamar. Lampu menyala redup, tapi masih sanggup menerangi.
Nyaris berhenti melangkah ketika di dalam kamar gw melihat ada perempuan yang sedang menyisir rambut panjangnya secara perlahan, dia duduk di ujung tempat tidur menghadap tv yang dalam keadaan mati, membelakangi kami.
Pemandangan yang cukup bisa membuat gw terpana merinding, itu manusia apa bukan?

Reflek gw menoleh ke belakang, ke arah Rai.

Raut wajah Rai mengatakan kalau dia melihat pemandangan yang sama. Rai tersenyum, tapi ada kecemasan.
Lalu kami meneruskan berjalan, dengan pikiran yang masih bertanya-tanya, itu tadi manusia atau bukan?

"Ini kamarnya mas," Ucap si mas penjaga ketika beberapa saat kemudian kami sampai di kamar paling pojok belakang.
Gw dan Rai sudah gak fokus lagi, pikiran kami masih tertuju kepada perempuan yang sedang menyisir rambut tadi.

Begitulah, gambaran kamar yang sedang kami lihat adalah kamar dua tempat tidur dengan meja yang di atasnya ada tv tua, lampu sangat redup, mungkin hanya lima watt.
Gw sama sekali gak tertarik dengan kamar ini, gak tertarik untuk tidur di hotel ini, gw yakin Rai juga sama.

Setelah sedikit berbasa-basi kami meminta untuk kembali ke lobby depan.
Kemudian kami berjalan melewati jalur yang sama, menuju lobby, tentu saja akan melewati kamar yang berisi perempuan tadi.
Kali ini kamar itu menjadi di sebelah kiri.

Beberapa meter sebelum tepat berada di depannya, gw lihat jendela masih dalam keadaan sama, terbuka tirainya.

Namun, ketika sudah benar-benar berada tepat di depan kamar, ternyata perempuan itu gak lagi berada di tempatnya.
Tapi masih ada, gak menghilang, hanya saja posisinya berubah.

Kali ini dia berdiri tepat dibalik jendela kaca nako, masih di dalam kamar, berdiri menghadap kami yang sedang berjalan di hadapannya.
Wajahnya putih pucat dengan rambut panjang terurai, menatap dengan senyum getir mengerikan.

Sungguh menyeramkan, pada detik itu gw yakin kalau dia bukan manusia.
Detik berikutnya, Rai mendorong seperti meminta untuk berhalan lebih cepat lagi, gw yakin Rai melihat pemandangan yang sama, ketakutan.

Kami terus berjalan, gak lagi melihat ke kamar itu.
Akhirnya sampai di lobby.

"Mas, maaf, kami gak ambil kamarnya." Ucap Rai pendek.

"Ya sudah, gak apa. Kenapa mas? Mas tadi lihat perempuan itu juga ya?, Tenang aja, dia gak bakalan ganggu tamu kok."
Jawaban Mas penjaga sungguh mengejutkan, gw dan Rai hanya tersenyum mendengarnya, lalu kami menuju parkiran, keluar hotel dan mencari hotel yang lain.

***
Melanjutkan perjalanan, gw mengarahkan kendaraan terus ke timur. Sementara situasi jalanan sudah semakin sepi, hanya beberapa bis malam terlihat melintas.
Ketika sudah hampir jam satu, kami menemukan satu hotel lagi, letaknya masih di sebelah kanan jalan. Tapi kali ini bangunannya kelihatan dari jalan, bagusnya keadaannya gak sekelam dan segelap hotel sebelumnya.
Gw berucap dalam hati, bagaimanapun keadaan hotel ini akan kami ambil, tubuh sudah sangat butuh istirahat.
Tipikal hotel di kota kecil, hotel ini juga sama, bangunannya berbentuk rumah kuno yang berukuran besar. Lahan parkirnya gak sebesar hotel sebelumnya, hanya sanggup menampung sedikit kendaraan saja.
Bangunan bertingkat dua ini benar-benar berdesain kuno, jaman dulu, klasik, sangat bernuansa jawa.

Lobbynya penuh dengan barang antik, kursi dan meja kayu berukiran, lukisan besar bergambar pemandangan.
"Oh, masih ada mas, mari saya antar untuk melihatnya dulu." Jawab seorang bapak penjaga lobby, ketika kami menanyakan perihal ketersediaan kamar.

Gak terlalu jauh, hanya beberapa belas meter dari lobby kami sudah sampai kamar yang dimaksud.
Kamarnya sangat besar, ukurannya kira-kira lima kali lima meter. Langit-langit tinggi, dengan penerangan lampu yang gak begitu terang, kamar mandi di pojok sebelah kiri.
Yang agak aneh, ada tiga tempat tidur besar di dalamnya. Iya, tiga tempat tidur besar, dan bukan spring bed, tapi tempat tidur kayu dengan kasur kapuk.

Ah, sudah sangat capek dan mengantuk, gw bilang ke teman-teman kalau kita ambil saja kamarnya, toh hanya untuk tidur sebentar.
Mereka setuju, akhirnya kami ambil kamar ini, tidur di hotel ini.

***
Setelah membereskan barang-barang, gak tahan lagi, di dalam kamar gw langsung merebahkan badan di atas tempat tidur, tempat tidur yang dekat pintu.
Gw satu ranjang dengan Ali, Rai dan Deddy menggunakan tempat tidur sebelah kanan, sementara tempat tidur satu lagi, yang letaknya dekat kamar mandi, dibiarkan kosong.

Gak lama, ketika masih mendengar teman-teman lain masih berbincang, akhirnya gw tertidur pulas, sampai pagi.
Tapi gak begitu dengan Rai, Deddy, dan Ali, semalaman itu mereka gak tidur sama sekali.

Kenapa?

***
Mereka bertiga lanjut berbincang sampai menjelang jam dua, lampu kamar sudah dalam keadaan mati, gelap, hanya mengandalkan cahaya dari luar.

Menurut Deddy, dia merasa menjadi orang terakhir yang masih terjaga, sementara lainnya sudah lelap.
Deddy semakin gak bisa tidur ketika mulai mendengar suara, dia bilang suaranya seperti desah nafas yang gak lancar, seperti sesak nafas.
Perasaannya mulai gak enak ketika merasa kalau suara nafas itu bukan berasal dari kami berempat, tapi sepertinya bersumber dari tempat tidur yang kosong, tempat tidur besar dekat kamar mandi.
Dalam gelap, Deddy memaksa diri untuk melihat ke tempat tidur kosong..

Dia melihat sesuatu..

Deddy tercengang, ketakutan..
"Ada apa De? Lo lihat juga?"

Suara Rai yang tidur di sebelah mengagetkan Deddy.

Ternyata Rai mendengar dan melihat hal yang sama.
Di atas tempat tidur itu terbaring sosok seperti Ibu tua yang kepalanya sedikit terangkat karna ada bantal di belakang kepala. Ibu itu mengenakan kebaya dan kain, rambutnya panjang terurai.
Deddy dan Rai, melihat itu semua langsung perlahan bangkit dari tidur, bermaksud untuk keluar kamar. Meninggalkan gw dan Ali yang masih nyenyak tertidur.
"Bangunin Brii Ali gak?"

Tanya Rai ketika sudah berada di teras kamar.

"Gak usahlah, mereka kan nyenyak tidur." jawab Deddy pendek.

Kemudian mereka terus duduk di teras itu sambil berbincang, membahas kejadian yang baru aja terjadi.
Ketika nyaris jam tiga, tiba-tiba Ali muncul dari dalam kamar.

"Ada nenek-nenek di tempat tidur kosong, trus bangun dan berjalan masuk kamar mandi."

Ali bilang begitu dengan mimik wajah ketakutan.

Itulah alasannya kenapa mereka gak tidur sampai pagi.

***
Jam enam pagi, gw dibangunkan oleh suara betisik teman-teman dari luar, kamar dalam keadaan kosong, hanya ada gw sendirian. Lalu gw gabung berbincang di teras kamar.

Tentu saja, mereka menceritakan tentang kejadian yang terjadi di dalam kamar tadi malam.
Untung gw kelelahan dan tertidur nyenyak, jadi gak perlu melihat sosok yang terbaring di tempat tidur kosong.

Singkat cerita, setelah sarapan kami lanjut jalan ke Banyuwangi, lalu menyeberang ke Bali.

***
Sekian cerita jalan-jalan gw malam ini, terima kasih yang masih setia membaca.

Tetap sehat, supaya bisa terus merinding bareng-bareng.

Met bobok, semoga mimpi indah..

Salam,
~Brii

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with Brii

Brii Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @BriiStory

Feb 3
Kadang keadaan memaksa kita untuk menempati tempat tinggal baru. Sering kali, susahnya proses adaptasi harus ditambah dengan terpaan seram dari sisi gelap.

Ada teman yang mau berbagi cerita pengalaman ketika harus menempati rumah baru.

Simak di sini, hanya di Briistory..

***
Lagi-lagi, aku menemukan beberapa helai rambut panjang, entah ini sudah yang keberapa kali, kali ini aku menemukannya di depan lemari ruang tengah. Beberapa helai rambut ini kalau diukur dengan tubuh perempuan dewasa, kira-kira dari kepala sampai ke pinggul, panjang memang.
Apa yang aneh? Ya anehlah, karena di rumah gak ada seorang pun yang memiliki rambut sepanjang itu. Rambutku hanya sebatas pundak, itu pun jenisnya gak sama dengan rambut yang sudah beberapa kali kami temukan.
Read 89 tweets
Jan 13
Gak memandang apa pekerjaan kita, “Mereka” akan datang dengan keseraman tanpa diduga, dengan berbagai bentuk yang gak tertebak.

Malam ini, simak pengalaman seorang supir travel di salah satu bagian Sumatera.

Hanya di sini, di Briistory…

***
~Lampung, Circa 1998~

“Hati-hati, Bang. udah malam ini, kenapa gak besok lagi ajalah nariknya.”

“Hehe, tanggung, Man. Setoran masih belum setengahnya ini, nanti bos marah.”
Nyaris jam sebelas malam, ketika aku masih berada di pelabuhan Bakauheuni, Lampung. Percakapan dengan Iman, rekan sejawat, sejenak membuyarkan lamunan.
Read 115 tweets
Dec 16, 2021
Sejarah panjang dan kelam sering kali terungkap dalam senyap, tergambar oleh tarikan garis seram.

Satu sudut di Lembang, tersaji horor tempat pelatihan, seorang teman coba bercerita pengalaman seramnya di sana.

Simak di sini, hanya di Briistory..

***
Waktu seperti berhenti, udara sama sekali gak bergerak, suara detik jam yang tadinya samar terdengar tetiba gak ada lagi. Dalam gelap, aku terus memperhatikan ujung tangga, menunggu kira-kira siapa gerangan yang akan turun dari lantai atas.
Sementara itu, suara yang sepertinya bunyi langkah kaki, terus saja kedengaran, makin jelas, makin dekat.
Read 101 tweets
Nov 25, 2021
Cadas Pangeran, satu tempat bersejarah. Ratusan tahun berusia, sahihkan kisah hitam dan putihnya, terus bergulir hingga kini.

Mamal ini, seorang teman akan menceritakan pengalamannya ketika melintasi daerah ikonik ini. Seram? Tentu saja.

Simak di sini, hanya di Briistory.

*** Image
Lepas dari pusat kota Jatinangor, aku akhirnya masuk ke daerah yang terlihat seperti gak berpenduduk.
Tahun 1998, Cadas Pangeran masih sangat sepi, jalan berkelok dikelilingi oleh pepohonan yang membentuk hutan, sama sekali gak ada penerangan, gelap gulita.
Read 64 tweets
Nov 18, 2021
Keangkeran tempat kerja kadang terpaksa harus dihadapi. Keseraman lain dimensi, sesekali menghadirkan sosok-sosok ngeri.

Malam ini, ada teman yang akan bercerita tentang seramnya pabrik tempatnya bekerja. Tahun 2001 peristiwa ini terjadi.

Simak di sini, hanya di Briistory.

***
Suara itu lagi, walaupun sudah pernah mendengar sebelumnya, tetap saja aku terkejut, tetap menoleh ke pintu walau tahu masih dalam keadaan tertutup.
Suara gesekan sapu ijuk dengan lantai, menggusur debu serta kotoran, membersihkan.

Suara sapu ini mungkin akan terdengar biasa saja kalau siang hari, tapi beda cerita ketika terdengarnya tengah malam seperti ini.
Read 85 tweets
Nov 11, 2021
Entah bagaimana cara dan prosesnya, berjalan lintas dimensi bisa saja terjadi. Siapa pun bisa mengalami, gak pandang bulu.

Malam ini, satu teman akan bercerita pengalaman seramnya, lintas dimensi merasakan kekacauan garis ruang dan waktu. Hanya di sini, di Briistory..

***
~Circa 2003, selatan Jawa~
Aku dan Virgo akhirnya menyerah, kami sudah gak kuat menahan kantuk.
Read 101 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Don't want to be a Premium member but still want to support us?

Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal

Or Donate anonymously using crypto!

Ethereum

0xfe58350B80634f60Fa6Dc149a72b4DFbc17D341E copy

Bitcoin

3ATGMxNzCUFzxpMCHL5sWSt4DVtS8UqXpi copy

Thank you for your support!

Follow Us on Twitter!

:(