Brii Profile picture
5 Nov, 91 tweets, 10 min read
~Sekujur tubuh merinding, darah seperti berhenti mengalir, ketika sadar ada sosok lain yang menyeramkan, berdiri di dalam lift.~

Simak cerita Hani dan Putra, tentang pengalaman seram yang mereka alami ketika sedang di dalam lift, sendiran?

Simak di sini, di Briistory..

*** Image
~Hani, 25 tahun, Jakarta.~

“Lo ke sini aja ya, biar cepet, gak makan waktu. Dari sini kita langsung ke Kemang deh. Ok ok ok? Hehe.”

“Ah bilang aja lo mau dijemput, dasar kelakuan. Ya udah tunggu, habis maghrib gw jalan.”
“Ah emang lo temen gw paling baik sedunia, hahaha. Nanti langsung naik aja ke lantai 7 ya Han, takut kerjaan gw belum kelar.”

“Iya, iya, bawel.”
Itu percakapan dengan Inda, sahabatku sejak kuliah dulu. Kami berencana untuk reuni kecil-kecilan dengan beberapa teman kampus tempat kami kuliah dulu, tempatnya di Kemang.
Bukan yang pertama juga sih acara kumpul-kumpul seperti ini, sebelumnya sudah beberapa kali ada. Bedanya, kali ini aku harus menyempatkan diri untuk mampir ke kantor Inda, menjemputnya lalu berangkat bareng.
Gedung di mana kantor Inda berada memang gak terlalu jauh dari kemang, hanya sekitar 15 menit jaraknya. Sedangkan aku berkantor di Jakarta Barat, kira-kira satu jam lebih perjalanan ke kantor Inda pada jam sibuk pulang kantor.
Begitulah, dan seperti perbincangan kami melalui telpon tadi, selepas maghrib aku berangkat, sekitar jam setengah tujuh.
Perhitunganku, jam setengah delapan seharusnya sudah sampai tujuan, tapi ternyata pada hari jumat itu jalanan Jakarta macetnya lebih parah dari biasanya, gak tahu apa sebabnya. Alhasil, nyaris jam setengah sembilan aku baru sampai parkiran gedung kantor Inda.
Aku gak parkir di basement, karena parkiran gedung sudah sepi, penghuninya sudah pulang semua.

Sebelum turun, aku coba untuk menelpon Inda, mau bilang kalau sudah di parkiran, tapi ponselnya gak aktif, dua atau tiga kali aku coba tapi tetap gak aktif juga.
Ya sudah, akhirnya aku putuskan untuk langsung saja ke lantai 7, jemput Inda di ruangannya, karena dia tadi sempat bilang begitu.
“Malam Pak, saya mau ketemu Inda, di lantai 7.” Ucapku ke Pak Satpam ketika aku sudah sampai di lobby.

“Silakan mba, langsung aja.” Jawab Pak Satpam sambil tangannya menunjuk ke arah lift.”

Letak meja sekuriti sekitar 15-20 meter jaraknya dari pintu lift.
Gedung ini sepertinya sudah benar-benar kosong, di lobby-nya hanya ada aku dan Pak Satpam, suara yang terdengar pun hanya suara langkah kakiku yang sedang bergerak menuju lift.

Ya mungkin karena ini hari jumat, jadinya orang-orang sudah buru-buru pulang untuk berakhir pekan.
Benar, gedung ini kosong, sangat sepi.

Mungkin karena sudah sepi, ketika menekan tombol lift, pintunya langsung terbuka, jadi gak perlu menunggu lama.
Ketika pintu sudah terbuka penuh, barulah terlihat kalau lift dalam keadaan kosong. Kemudian aku masuk ke dalamnya.

Menekan tombol lantai 7, lalu pintu menutup.

Lift bergerak ke atas..

Lantai dua..

Lantai tiga..
Ting! Tiba-tiba Lift berhenti di lantai 3A, kemudian perlahan pintunya terbuka.

Aku hanya diam memperhatikan prosesnya, sambil bersandar pada dinding lift bagian belakang.
Gelap, lantai 3A dalam keadaan gelap, aku hanya bisa melihat meja resepsionis yang letaknya gak jauh di depan pintu lift.

Aku masih menunggu sambil bersandar, tapi gak terlihat ada orang, sama sekali gak ada orang yang masuk ke dalam lift, sepi aja.
Penasaran, aku lalu maju beberapa langkah, melongokkan kepala ke luar, untuk melihat sekitar, siapa tahu ada orang yang hendak naik.

Tapi gak ada, kosong, aku gak melihat ada orang sama sekali. Pada saat inilah perasaan mulai gak enak..
Aku yang sangat penakut ini langsung berpikir yang nggak-enggak, siapa yang memencet tombol lift sehingga berhenti di lantai 3A? Padahal lantai 3A kelihatannya sudah sama sekali kosong, sama sekali gak ada orang..
Merinding, aku lalu masuk lagi ke dalam, lalu menekan tombol tutup pintu berkali-kali.

Sukurlah, lift akhirnya menutup.
Tapi, ketika sudah agak sedikit lega, aku mulai panik lagi, kenapa? Karena ternyata lift gak bergerak sama sekali. Hanya diam di tempat, di lantai 3A, gak ke lantai 7, padahal pintunya sudah tertutup rapat.
Kembali aku menekan tombol lantai 7 berkali-kali, berharap lift akan bergerak ke atas.

Harapan tinggal harapan, lift gak bergerak juga.
Aku mulai panik, lalu merogoh tas mencari ponsel, berniat untuk coba menghubungi Inda.

Tapi tiba-tiba, TING!

Pintu lift kembali terbuka,

Aku terkejut sangat, jantungku seperti berhenti.
Masih di lantai 3A, masih sangat gelap juga keadaanya, persis sama dengan ketika tadi pintu terbuka pertama kali.

Meja kosong resepsionis, sendirian dalam gelap, gak ada orang sama sekali..
Kembali aku tekan tombol tutup pintu berkali-kali. Sukurlah, perlahan pintu lift kembali menutup.

Nyaris menangis, aku coba untuk menghubungi Inda lagi. Sial, gak ada sinyal!
Semakin panik, karena lagi-lagi lift gak juga mau bergerak, tetap diam di tempatnya. Pandanganku masih fokus ke layar ponsel, berusaha untuk menghubungi Inda, namun masih tanpa hasil.

Ting!
Sekali lagi suara itu mucul mengangetkanku, suara pertanda kalau pintu lift akan terbuka.

Dan benar, perlahan pintu terbuka untuk yang ketiga kali. Masih di lantai yang sama, lantai 3A. Keadaannya juga masih sama, gelap dan gak ada orang sama sekali, sepi dan kosong.
Pintu terbuka lebar, bertahan seperti itu selama beberapa belas detik. Aku sudah menangis pelan sambil bersandar di dinding lift sebelah kiri, ketakutan, panik.
Sekali lagi, aku tekan tombol tutup pintu berkali-kali, memaksa pintu agar cepat tertutup.

Tapi sebentar, kali ini aku mendengar sesuatu,
Ada suara langkah kaki, langkah yang sepertinya menuju lift, tapi bukan langkah terburu-buru, hanya langkah kaki berjalan biasa.

Bukan lega karena mendengar itu, aku malah tambah panik, takut itu setan atau hantu, aku ketakutan.
Sementara langkah itu seperti terus mendekati lift..

Sampai akhirnya, ada sosok yang tiba-tiba muncul di depan pintu lift..
“Aaaahh, elu Nda, gila lo ya, ngagetin aja. Aduuuuuhh..”

Ternyata yang muncul adalah Inda, suara langkah kaki tadi adalah langkah kakinya. Lalu dia masuk ke dalam lift.

Ah leganya..
Kemudian pintu menutup, kali ini lift bergerak, tapi bukan ke lantai 7, tapi malah turun ke lantai dasar. Pada saat itu aku gak terlalu memperhatikan keanehan ini, hati dan pikiran terlanjur gembira karena sudah bersama Inda.
“Ngapain lo dari lantai 3A Nda? Udah sepi gitu, nakutin tau..” Ucapku, tanpa melihat ke arah Inda, fokusku masih ke layar ponsel.

“Ada teman.” Jawab Inda datar.
“Knapa lo sakit? Lemes amat.” Tanyaku lagi, masih belum menatap Inda, karena ada sesuatu di ponsel yang lebih menarik perhatian.

Tapi Inda gak menjawab, dia diam saja sambil berdiri di bagian belakang, aku melihatnya dari sudut mata.
Ting!

Sampai juga di lantai dasar, lalu pintu lift terbuka.

“Ayok ah buruan, kita udah telat nih, gara-gara macet tadi.” Ucapku setelah pintu sudah terbuka, lalu melangkah keluar.

Tapi sekali lagi Inda gak menjawab. Lalu aku menoleh ke belakang, melihat ke arah lift.
Betapa kagetnya aku, ternyata lift dalam keadaan kosong, gak ada Inda di dalamnya.

Inda ke mana?

Dalam keadaan masih kebingungan, tiba-tiba ponselku berdering, muncul tulisan “Inda” pada layarnya.
“Inda? Lo di mana deh?”

“Lah, lo di mana? Gw dah di parkiran dari tadi ini, di depan mobil lo.”

Inda sudah di parkiran dari tadi? Lalu siapa tadi yang naik lift bersamaku dari lantai 3A?
Setelah sudah bertemu, lalu kami mulai bercerita.

Ternyata Inda sudah ada di selesai sejak sejak jam delapan, kemudian menungguku di minimarket depan gedung.
Sampai akhirnya dia masuk lagi ke dalam, lalu melihat mobilku sudah ada di parkiran dalam keadaan kosong.

Sungguh peristiwa di lift yang menyerramkan..

***
Putra, 35 Tahun, Bandung.

Aku bekerja di satu mall di kota kembang Bandung, mall ini salah satu yang sudah cukup lama berdiri, yaitu awal tahun 2000an.
Lokasinya pun masih di tengah kota, salah satu tempat favorit wisatawan kalau sedang datang berkunjung di kota ini. Nama jalannya sangat terkenal, jaman dulu terkenal sebagai pusat penjual jeans.
Mall ini banyak fasilitasnya, tersedia taman dan tempat makan di area terbuka, merupakan mall yang sebenarnya gak seperti mall pada umumnya karena jumlah lantainya gak banyak.
Karena jumlah lantai yang sedikit inilah jadinya lift yang ada di dalam jadi jarang ada yang menggunakan, pengunjung lebih banyak menggunakan eskalator.
Aku sebagai staff maitenance, bekerja mengontrol semua fasilitas yang ada di dalam mall, termasuk eskalator dan lift. Aku dan team bekerja dengan sistem shifting, dua shift, pagi dan sore. Untuk shift sore akan pulang jam 11 malam, kalau gak ada lembur pekerjaan.
Ngomong-ngomong soal lift, seperti yang aku bilang tadi, pengunjung atau pemilik toko lebih banyak menggunakan eskalator dari pada lift, sehingga lift lebih sering sepi, apa lagi kalau bukan akhir pekan.
Sukurlah, walaupun begitu lift di mall ini nyaris gak pernah ada kerusakan, karena kami memang melakukan perawatan dan pemeriksaan dengan baik secara berkala.
Lift letaknya di sudut bangunan, agak di paling belakang, cukup jarang ada pengunjung yang berjalan sampai ke lokasi itu. Jadi, sekitaran lift lebih sering sepi dari seliweran manusia.
Baik, kita akan masuk ke pambahasan yang seru.

Sama dengan mall-mall lain, di mall ini juga punya cerita ngerinya, ada beberapa kejadian aneh menjurus seram.
Ada teman sekuriti yang bilang, kalau beberapa kali eskalator berjalan bergerak dengan sendirinya di tengah malam, padahal jam operasionalnya sudah selesai dan sudah dalam keadaan mati.
Lift juga sama, sering kali di tengah malam terdengar atau bahkan terlihat kalau lift berjalan naik turun dan buka tutup pintunya, padahal gak ada siapa-siapa di dalam.
Masih tentang lift, katanya ada yang beberapa kali melihat anak kecil berlarian keluar dari dalam lift, di tengah malam.
Yang lebih seram, ada beberapa laporan dari pengunjung yang bilang kalau di dalam lift ditemani oleh kuntilanak, ada juga yang satu lift dengan pocong.

Masih banyak lagi versi cerita yang beredar.
Cerita-cerita seram ini awalnya aku hanya mendengar dari obrolan teman-teman. Alhamdulillah, selama sudah nyaris 7 tahun aku bekerja di sini belum pernah melihat penampakan secara langsung, hanya sebatas perasaan gak enak atau melihat sekelebatan bayangan melintas sesekali,
Hanya sebatas itu.

Sampai akhirnya, pada tahun 2018, aku merasakannya sendiri.

Begini ceritanya..
Masih menempel di kepala detil peristiwa yang terjadi dua tahun lalu ini. Waktu itu hari kamis, aku shift sore.

Seperti biasa, kegiatan rutin adalah memeriksa semua fasilitas yang ada di mall, akan aku perbaiki sekalian apa bila ada yang rusak.
Singkatnya, hari beranjak malam.

Pengunjung semakin berkurang seiring semakin larutnya hari. Karena belum masuk akhir pekan dan gak ada acara festival atau apa pun, mall jadi gak terlalu ramai, sudah nyaris kosong pada lewat jam sembilan.
Oh iya, secara berkala aku akan memeriksa lift dan eskalator, memastikan kalau semuanya masih dalam keadaan baik, pemeriksaan biasanya kami lakukan di luar jam operasional, ketika sudah gak ada pengunjung, lebih seringnya malam hari.
Hari itu aku memang sudah merencanakan untuk melakukan pemeriksaan rutin. Rencananya juga, lift akan diperiksa paling terakhir. Seharusnya tugas berdua malam itu, tapi rekanku ijin gak masuk kerja, jadilah aku sendirian.
Satu persatu aku memeriksa eskalator, satu demi satu, lantai demi lantai. Karena ini hanya pengecekan rutin biasa jadinya gak perlu sampai harus ada yang dibongkar.
Aku benar-benar sendirian berkeliling di mall ini, walau sesekali melihat dari kejauhan rekan sekuriti yang tengah patroli dengan lampu senternya, tapi gak sering, hanya satu atau dua kali.
Amat sangat sepi dan temaram karena sebagian besar lampu sudah dalam keadaan mati.
Sekitar jam setengah dua belas, ketika sedang berada di lantai tiga dan sudah hampir selesai memeriksa eskalator, perhatian tertarik kepada lift yang walaupun jaraknya cukup jauh tapi aku masih bisa melihatnya.
Lampu di atas pintunya menyala, itu pertanda kalau lift sedang bergerak, ada yang sedang menggunakan, makanya aku memperhatikan.

Dari kejauhan, mata terus melihat ke arah lift, penasaran siapakah gerangan yang sedang menggunakannya.
Benar, akhirnya pintu lift terbuka di lantai tiga tempat di mana aku sedang berada.
Hal itu semakin membuatku semakin penasaran dengan gak mengalihkan pandangan sedikit pun juga, aku melihatnya dari samping, jadi ketika lift terbuka aku gak bisa melihat ke dalam, hanya terlihat sinar lampu dari dalamnya saja yang menyorot ke luar.
Lalu aku menunggu.

Dua detik..

Lima detik..

10 detik..

20 detik..

30 detik..

Gak ada seorang pun yang keluar, selama itu pula pintu lift terus dalam keadaan terbuka, gak juga menutup.
Ini lift kenapa? Kenapa berhenti di lantai tiga, gak ada orang keluar, dan pintunya gak tertutup lagi, ada apakah?
Penasaran, aku lalu melangkah mendekatinya.

Selama berjalan itu, suasana semakin sangat sepi, semakin terasa kosong, praktis hanya suara langkah kakiku saja yang terdengar.
Hingga akhirnya aku sampai juga di depan lift.

Benar, pintu terbuka lebar, lampunya menyala terang, di dalamnya kosong gak ada siapa-siapa.

Aku berdiri diam di depannya dengan beberapa pertanyaan dalam kepala.
Pertama, tadi siapa yang menekan tombol lift lantai tiga? Sehingga jadi bergerak dari lantai dasar menuju lantai tiga.

Kedua, kenapa lift dalam keadaan kosong?

Ketiga, Kenapa pintunya terus terbuka? Seharusnya langsung menutup ketika gak ada orang yang melewati sensor di pintu.
Ada perasaan takut ketika memikirkan itu semua, tapi karena tugas dan tanggung jawab aku harus memeriksa lift ini, takut ada masalah tekhnis.

Ya sudah, akhirnya perlahan aku melangkah masuk ke dalam.
Ketika sudah berada di dalam, dengan posisi setengah jongkok aku lalu coba memeriksa panel yang ada di sebelah pintu, membuka tutupnya lalu memperhatikan kalau-kalau ada kerusakan.

Pada saat ini pintu lift masih terus dalam keadaan terbuka.
Setelah beberapa saat lamanya memeriksa, aku melihat kalau semuanya normal, gak ada yang salah, gak ada yang rusak. Lalu kenapa lift gak juga mau menutup?
Hmmmmm, aku mulai bingung, sambil sesekali menekan tombol menutup pintu, tapi tetap saja gak mau tertutup.
Dalam keheningan, tiba-tiba aku dikagetkan oleh adanya hembusan angin yang bergerak masuk ke dalam lift.

Di dalam mall tertutup, dan AC pendingin yang sudah mati seluruhnya, seharusnya gak akan ada angin bergerak, tapi ini ada, hembusan pelan menerpa wajah dan tubuh.
“Angin dari mana itu?” Ucapku dalam hati sambil melihat ke luar.

Aku melongokkan kepala ke luar lift, menengok kanan dan kiri, gak ada siapa-siapa.

Tapi aku sangat yakin kalau merasakan ada hembusan angin itu.

Tiba-tiba merinding..
Ketika sudah mulai merasa ada yang aneh, sekali lagi aku menekan tombol penutup setelah sebelumnya sudah menekan tombol lantai dasar. Aku ingin turun aja lalu pulang, kengerian sudah menyeruak isi kepala.

Sukurlah, beberapa detik kemudian tiba-tiba pintu lift bergerak menutup.
Setelah pintu sudah benar-benar tertutup, perlahan lift mulai bergerak turun.

Tapi..
Aku yang berdiri di sudut depan sebelah kanan, terdiam membeku seketika, darah seperti berhenti mengalir menelusuri urat nadi, ketika menyadari kalau ternyata aku gak sendirian di dalam lift ini!
Pintu dan dinding lift terbuat dari bahan menyerupai cermin, dari pantulannya aku dapat melihat pemandangan yang ada di belakang tempat aku berdiri, aku dapat melihat bagian belakang lift.
Gak secara langsung, tapi aku melihat kalau ada sosok perempuan berdiri tepat di belakangku. Sosok perempuan ini mengenakan baju panjang berwarna gelap, rambutnya tergerai sebahu.
Dan yang lebih mengerikan, aku dapat melihat wajahnya secara utuh, wajah pucat dengan lingkar gelap di sekitar mata.

Wajahnya datar tanpa ekspresi, tapi lambat laun mulai tersenyum menatapku, masih lewat pantulan pintu lift.
Senyumnya mengerikan, sambil perlahan memiringkan wajah, matanya terus menatap dengan sayu.
Perjalanan lift dari lantai tiga yang seharusnya hanya sebentar, jadi terasa sangat lama.
Hingga akhirnya, TING! Sampai juga di lantai dasar.

Tapi, pintu gak langsung terbuka, masih tertutup beberapa belas detik lamanya.
Dalam beberapa belas detik inilah aku mendengar kalau sosok yang ada di belakangku ini tertawa pelan, pelan sekali.

“Heheeheheee.” Kira-kira seperti itu suaranya.
Membaca doa sebisanya dalam hati, berharap pintu cepat terbuka, aku sangat ketakutan, keringat dingin mengucur deras..

Sukurlah, tiba-tiba pintu terbuka perlahan.
Ketika sudah cukup ada ruang, aku lalu menyelinap ke luar walau pintu belum terbuka lebar. Lalu berjalan cepat menjauh dari lift.
Setelah beberapa detik, aku menoleh ke belakang, sosok seram itu masih ada, berdiri diam menatapku dari dalam lift.

Aku mulai berlari kecil, hingga akhirnya sampai di pintu kaca, pintu keluar mall, lalu membuka pintu kaca itu.
Ketika sudah di luar, sekali lagi melirik ke arah lift, ternyata sosok perempuan itu sudah gak ada, kemudian aku lihat lift kosong itu pintunya menutup kembali.

***
Begitulah, cerita Hani dan Putra terkait dengan lift.

Sebenarnya masih banyak cerita seram tentang lift, tapi nanti aja gw ceritain kapan-kapan, gak malam ini.

Tetap sehat ya, supaya bisa terus merinding bareng.

Met bobok, semoga mimpi indah,

Salam,
~Brii~

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with Brii

Brii Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @BriiStory

22 Oct
Candi Borobudur adalah salah satu bangunan bersejarah di Indonesia, merupakan satu keajaiban dunia.

Tapi, ternyata Candi ini juga banyak menyimpan cerita misterinya sendiri.

Salah satu teman akan berbagi kisah aneh yang dia alami di Borobudur, simak di sini, di Briistory..

*** Image
Aku Jibran, pekerja swasta yang tinggal di Jakarta.

Kali ini aku akan menceritakan pengalaman aneh yang aku alami ketika sedang berwisata dengan teman kampus sewaktu kuliah dulu.
Peristiwa ini terjadi tahun 2005, waktu itu aku masih mahasiswa tingkat dua di salah satu universitas di Palembang.

Ketika itu kampus mengadakan acara wisata ke Jawa Tengah, tentu saja Candi Borobudur menjadi salah satu destinasinya.
Read 95 tweets
15 Oct
Lingkungan kerja baru, pasti menyajikan cerita baru juga, apa lagi kalau sampai harus tinggal di tempat baru. Kita gak tahu ada sejarah apa di belakangnya.

Fadli, akan menceritakan kisah seram ketika tinggal di mess berhantu di Tasikmalaya.

Simak di sini, di Briistory..

***
“Ok Mas Fadli, sampai ketemu hari senin ya.”

“Ok ok. Eh tapi saya minggu sore udah ada di Tasik. Saya udah ada di mess minggu sore, insyaAllah.”
“Oh gitu. Tapi Mas, kalau minggu sore mess masih kosong, belum pada datang. Biasanya penghuni baru berdatangan senin pagi.”

“Ya gak apa-apa lah mas, biar santai. Kalau senin pagi saya harus berangkat malam dari Jakarta.”

“Tapiii...,”
Read 138 tweets
1 Oct
Kita Lanjut cerita pengalaman Alena dan teman-temannya ketika menginap di villa seram pangandaran ya.

Simak kisah mencekamnya di sini, di Briistory.

Ingat, jangan baca sendirian, kadang "mereka" gak hanya sekadar hadir dalam cerita.

***
Teman-teman yang lain begitu menikmati suasana pagi hingga menjelang siang di pantai, tapi aku masih saja memikirkan kejadian yang baru saja terjadi di villa.

Gak mau merusak suasana, aku bersikeras untuk gak menceritakannya ke teman-teman.
Singkat cerita, kamis pagi itu kami habiskan dengan menikmati suasana pantai.

Setelahnya kami pulang kembali ke villa.

Masih jam 12, kami sudah sampai di villa. Tapi, sementara teman yang lain langsung istirahat, aku malah berkeliling untuk melihat-lihat lingkungan sekitar.
Read 90 tweets
24 Sep
Sangat menyenangkan kalau liburan diisi dengan pergi ke pantai bersama sahabat.

Tapi akan jadi trauma mendalam kalau akhirnya malah terjebak di tempat dan waktu yang salah.

Alena akan bercerita pengalaman seramnya ketika berlibur di Pangandaran, di sini, di Briistory..

***
“Lo denger gak?” Bisik Della pelan, sambil menatapku yang duduk di sampingnya.

“Denger apaan?” Jawabku.

“Kecilin tv-nya coba bentar.” Kata Della lagi.

Aku turuti kemauannya, lalu mengecilkan volume suara tv.

Kemudian hening, karena villa sebesar ini hanya berisi kami berdua,
“Ah, gak ada suara apa-apa Dellaaaaaa. Udah ah, lagi seru nih acaranya.” Begitu aku bilang ketika sudah mengecilkan volume tv tapi tetap gak mendengar suara apa-apa.

“Tadi ada suara, gw denger, sekarang hilang.” Jawab Della..
Read 87 tweets
17 Sep
Gak ada jalan lain, selain harus menghadapi semua, walau nyali sudah ada di batas bawah. Harus tetap menjalankan tugas dan menyelesaikan pekerjan, di tengah cekam hantu di dalam kantor.

Sekali lagi, ada teman yang akan menceritakan pengalaman seramnya di sini, di Briistory.

***
Biasanya jam lima atau paling lambat jam enam sore aku sudah di jalan pulang, tapi hari ini jam sembilan malam masih di kantor. Memang sih, memasuki akhir bulan kantorku semakin tinggi aktivitasnya.
Load pekerjaan semakin tinggi, bukan hanya untuk rekan-rekan sales dan pemasaran saja, tapi nyaris semua divisi, termasuk aku.
Read 105 tweets
10 Sep
Sebagai pekerja kita harus terus berjuang mencari nafkah, bergulat dengan situasi dan keadaan.

Terkadang harus menghadapi kenyataan, memaksa nyali menyentuh titik terendah, menghadapi satu dimensi seram di perkantoran Jakarta.

Simak beberapa kisahnya di sini, di Briistory..
*** Image
Malam ini, Restu masih akan melanjutkan cerita tentang seramnya kantor tempat dia bekerja.

Setelahnya, giliran Aldo akan berbagi cerita tentang pengalaman seram ketika datang memenuhi panggilan wawancara kerja.

Yuk simak yuk..

***
Setelah kejadian itu, kejadian ketika melihat hantu perempuan di gudang, aku jadi semakin percaya dengan cerita kejadian seram yang dialami oleh teman-teman kantor.
Read 115 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!

Follow Us on Twitter!