KILIRAN ATAU KALIREN?
.
.
.
.
Bacaan ga penting bagi bukan orang penting
.
.
.

Sebesar dan sehebat apa leluhur kita dulu, klik saja google dengan sedikit kata kunci dan dia akan bercerita banyak.

Mau yang terlihat dan bercerita tentang hebat kita sebagai bangsa besar, ada.
Mau yang bertutur tentang konyol kita bersama hingga kita terpecah dan betantakan, ada.

Sudut pandang kitalah yang akan menentukan ingin meniadi seperti apa kita dalam ingatan masa lalu.
Bermimpi besar tentang ujung jalan kita ingin tuju nanti, dan menangis dalam sesal ketika menengok masa lalu, pasti tentang realitas kondisi kita yang tak baik saat ini.

Sejak Indonesia merdeka 75 tahun silam, pasang surut sebagai bangsa berpancasila telah kita lewati.
Kesepakatan para pendiri bangsa ini adalah negara demokrasi dengan Pancasila sebagai ideologi dan falsafah hidupnya. Final.
Bahwa hari ini kembali kita diberi tontonan dengan hingar cara pertunjukannya yang digelar dalam kolosal demo tak puas atas cara kolektif kita memilih jalan dalam bernegara, itu bagian wajar sebagai entitas sebuah bangsa yang sedang tumbuh.
Itu tanda bahwa kita hidup, dinamika akan selalu ada.

Saling pukul dan menjatuhkan, jelas bukan cara benar harus kita pilih. Debat dialogis, perlu kita budayakan. Bukan misuh-misuh dan ancam mengancam.
Budaya bahwa kita bergerak dalam rel pasti sebuah tatanan hukum harus selalu kita jaga tanpa kenal apa itu lelah. Di sana, marwah kita sebagai bangsa beretika dipertaruhkan. Itu wajah cantik kita, tidak logis kita buang begitu saja.
Apa ukuran bahwa kita bangsa beretika, berbudaya dan paham akan aturan hukum, sekali lagi klik. Google akan memberi tahu kita.

.
.
Sebuah catatan dari China, bahwa ditahun 270 seorang pejabat bea cukai Guangzhou bernama Wan Shen
pernah menuliskan dalam buku catatan tentang sebuah kapal yang masuk ke pelabuhan itu dengan ukuran tiga kali lipat lebih besar daripada kapal-kapal yang pernah dibuat China saat itu.
.
.
Tercata pula, kapal itu berpenumpang 700 orang dan mampu mengangkut barang dagangan dengan tonase hingga mencapai beban 10.000 ton. Dan kapal tersebut berasal dari selatan, atau Indonesia saat ini.
Bisa dibayangkan betapa majunya masyarakat kita saat itu sehingga pada abad 3 kita telah mampu memiliki atau telah mampu membangun kapal sebesar itu.

Pernah dengar Ingat Kerajaan Kalingga dengan ratunya bernama Sima?
Pada tahun 648, kerajaan tersebut tercatat telah memiliki KUHP dengan 119 pasal aturan hidup bermasyarakat dan bernegara.

Kita googling lagi, ada apa atau bagaimana kondisi masyarakat dunia saat itu. Yang pasti, keterbelakangan ada di mana-mana.
Pada abad ke-7, Afrika Utara dan Timur Tengah bekas wilayah Kekaisaran Bizantin, dikuasai oleh Khilafah Bani Umayyah.

Kekaisaran Bizantin tercabik dan namun masih memiliki kekuasaan yang cukup besar di kawasan timur Eropa.
Kejatuhan imperium Romawi membawa dampak besar di Eropa barat. Sebagian besar dari kerajaan Orang Franka di bawah pimpinan raja-raja wangsa Karoling, mendirikan Kekaisaran Karoling baru pada penghujung abad ke-8 dan permulaan abad ke-9.
Invasi-invasi dari luar negeri, yakni serangan orang Viking dari arah utara, serangan orang Magyar dari arah timur, dan serangan orang Sarasen dari arah selatan terjadi

Kacau balau mereka terjatuh dalam perang dan saling bunuh.
Pada saat yang sama, kita, justru sedang dalam kondisi tenang dan makmur dengan cara hidup asli kita. Kita justru memiliki keteraturan karena cara hidup pilihan kita sendiri.
Kitab bernama Kalingga Dharma Sastra yang terdiri dari 119 pasal ini mampu menjaga negeri ini aman. Ini adalah tentang KUHP atau aturan hukum pidana maupun perdata yang disusun oleh raja Karteya Singa dan istrinya Ratu Sima.
Dulu, ukuran kehormatan adalah tentang besarnya kebaikan yang dimiliki oleh seseorang. Bukan harta, bukan pula kekuasaan.

Dalam kitab itu diatur bahwa dia yang berkuasa adalah tentang siapa yang mampu melayani, bukan memerintah apalagi menumpuk kekayaan.
Ksatria, kasta kedua dalam urutan pembagian status saat itu adalah tentang Raja, para hakim, Patih dan pamong praja.

Raja adalah kepala negara. Dia membawahi hakim dan jaksa. Patih adalah siapa yang menjalankan pemerintahan.
Dalam demokrasi yang kita yakini saat ini, Patih adalah eksekutif.

Raja menerima keluhan dan laporan dari rakyat secara langsung. Semakin banyak laporan negatif dari rakyat kepada eksekutif, semakin besar kemungkinan pejabat pemerintah itu dicopot oleh Raja.
Uniknya, pejabat negara yang dicopot, dapat dipastikan akan turun kastanya menjadi Waisya, yakni golongan petani. Dia dianggap tak pantas menyandang kasta Ksatria karena tak mampu menjaga moralnya.

Dia turun pangkat dan disatukan dengan kelas yang sepadan dengan kelas moralnya.
Kasta adalah tentang kadar keluhuran jiwa. Dia dijauhkan dari sifat "ingin dan milik" sebagai ukurannya. Semakin dia terikat dengan keduniawian, semakin jauh dia dari hakikat kebaikan.
Seorang Ksatria dipastikan tak memiliki harta pribadi, seluruh kebutuhan hidupnya dipenuhi oleh negara. Semua yang menempel pada dirinya adalah milik negara. Dia tidak akan berkekurangan, dan disanalah hakekat bersih harus melekat padanya.
Kehormatan seorang Ksatria adalah tentang perilakunya. Begitu korupsi dilakukan, dipastikan dia akan turun kelas. Dipastikan dia telah terjangkit sifat yang jauh dari ideal bagi kelas itu. Dipastikan dia adalah seseorang yang sudah terikat dengan keduniawian.
"Bagaimana dengan kita hari ini?"

Di bawah kelas ksatria ada waisya, sudra & kiliran. Entahlah, yg kita tahu, mereka yang berebut kuasa diatas sana adalah mereka yang sangat haus akan harta. Kekuasaan seringkali dimaknai dengan target awal bagi penumpukan kekayaan pribadinya.
Dulu, siapa yang dibutakan oleh nafsu dan harta ditempatkan pada kelas kiliran. Kelas budak, kelas tak bermoral karena jiwanya terpenjara pada ikatan duniawi. Dia menjadi budak dan terpenjara pada nafsunya.
Kelas terendah itu kini adalah mereka yang paling banyak menjadi pemimpin.
.
.
.
.
**Tulisan ini terinspirasi buku "Atlas Walisongo" tulisan Agus Sunyoto

@Lestari_Leonita

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with NitNot ❘

NitNot ❘ Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @__MV_llestari__

11 Jan
KOMJEN LISTYO SIGIT PRABOWO KAPOLRI?
.
.
.
Ketika ditunjuk sebagai Kabareskrim di tahun 2019, tanda-tanda bahwa Komjen Listyo Sigit akan menduduki Trunojoyo 1 semakin tampak jelas. Alasan utamanya adlh, Presiden sang pemilik prerogative sangat dekat dgn mantan Kapolda Banten ini. Image
.Sangat dekat, kenal dengan sangat baik, dan tentu saja prestasi pernah dia capai adalah modal positif tak banyak dimiliki oleh para pesaingnya.

Menangkap Joko Tjandra buron kakap tahunan itu mungkin dapat dijadikan salah satu rujukan dia berpreatasi.
Namun alasan itu tak sehebat pengaruh dari rasa nyaman Presiden karena mengenal Listyo dgn baik.

Ini posisi sangat penting bagi Presiden. Posisi sangat vital keberadaan dukungan aparat pada orang nomor 1 di Indonesia tersebut maka prerogative melekat pada jabatan Presiden. Image
Read 24 tweets
11 Jan
VAKSIN? SIAPA TAKUT..!!
.
.
.
.
Dulu, vaksinasi dapat diterjemahkan dengan sederhana yakni, memasukkan virus yang sudah dilemahkan ke dalam tubuh sehingga sel-sel dalam tubuh kita, secara alami melawan dengan munculnya antibodi. Image
Presiden Jokowi memastikan bahwa Indonesia telah memesan 329,5 juta dosis vaksin Covid-19 dari sejumlah perusahaan internasional.
Katanya, vaksinasi Covid-19 akan dimulai minggu depan, dan sebagai orang nomor satu negeri ini, beliau siap disuntik sebagai orang pertama yakni 13 Januari 2021 nanti.

Sejak Minggu (3/1) pemerintah telah mulai mendistribusikan vaksin ke seluruh provinsi di Tanah Air. Image
Read 23 tweets
10 Jan
PAK ESBEYE
.
.
.

Ketika sikap positif kita kedepankan sebagai pilihan, nilai positif lain sebagai ikutan akan kita panen. Tak berjarak apalagi berseberangan cara kita memaknai pernyataan seseorang meski terdengar tak enak, itu hal positif lain sebagai akibat kita dapat.
Memang agak sulit membuat analisa atas kritik pak Be-Ye kali ini. Untuk maksud apa atau dalam konteks menanggapai peristiwa yang mana, ga ada petunjuk spesifik.

Tiga poin beliau lempar, pandemi, krisis ekonomi, dan kerukunan kita sebagai anak bangsa.
Sebelumnya, pada pembuka, beliau ingatkan bahwa Indonesia memiliki angka korban tertinggi di Asia Tenggara, bahkan di Asia Timur.

Pertanyaan yang muncul, kenapa harus Asia Timur? Bila Asia Tenggara sebagai letak kita, cukuplah Asia tenggara dan kita akan jawab "iya benar".
Read 21 tweets
8 Jan
T R I R I S M A H A R I N I
.
.
.
Seorang Ibu Yang Menteri
.
.

Dia galak. Setarikan dengan garis lurus sifat galak sebagai takdir, lembut hatinya dan sikap solider berdiam dalam dirinya. Dia seperti kebanyakan seorang ibu asli Indonesia.
Dia marah,(ngeri ngeliatnya) dan intonasi suara yang sangat khas itu akan terdengar hingga kampung sebelah ketika keterlaluan tak lagi dapat dikompromikan.

Kedua tangannya sangat cepat memeluk ketika duka dan ketidak adilan terjadi.
Ibu ini ingin orang lain tahu bahwa mereka tidak sendirian.

Ketika marah dan tangis terdengar dalam satu cangkang, ini cerita lain. Ini keterlaluan diatas segala keterlaluan yang tak lagi dapat diterima atas alasan apapun.
Read 24 tweets
7 Jan
Ketika aparat Kepolisian tak lagi mampu menghandel sendirian, militer adalah solusinya. Tidak selalu harus diterjemahkan dengan militeristik karena melibatkan peran tentara, ada aturan hukum yang melandasinya.
Sama dengan di Indonesia, di bawah komando Kepolisian sebagai pemilik wilayah hukum militer diperbantukan.

Tiga matra darat, laut dan udara pun dilibatkan. Tiga Pasukan Khusus dari masing-masing angkatan diterjunkan.
Bukan kekhususannya adalah "nggebuk" demonstran, efek gentar seringkali adalah apa yang diharapkan. Itu apa yang sering kita saksikan bila kejadiannya di Indonesia.
Read 9 tweets
7 Jan
FROM FETAMBURAN TO MAMARIKA
.
.
.
.

Kali ini, kembali Indonesia berhasil memberi pelajaran dan menjadi guru dalam arti sebenarnya pada kepada Amerika yang katanya super power.
Ga percaya? Masih ingatkah peristiwa di Jalan KS Tubun Tanah Abang saat sidang Bawaslu atas gugatan Pilpres pada 22 Mei 2019 yang lalu?

Rusuh besar melanda Jakarta dan halaman depan Kantor Bawaslu adalah tempat paling sexy dijadikan panggung.
Mereka memberi sinyal bahwa siapapun tak boleh memimpin negeri ini selain dia yang mereka pilih.

Sebelumnya, aksi klaim menang telah dilakukan. Massif mereka berteriak agar cerita yang lain tenggelam. Mereka ingin menguasai opini dengan narasi mereka bangun.
Read 12 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!

Follow Us on Twitter!