Ngaji Bab Aqidah

بسم الله الرحمن الرحيم

Ahlussunnah Asyariyah :
ALLAH TIDAK MEMERLUKAN TEMPAT

Jahmiyah :
ALLAAH BERTEMPAT DI MANA MANA SETIAP TEMPAT

Salafiyah (Wahabi):
ALLAH BERTEMPAT DI ATAS LANGIT DI ATAS ARASY (Aqidah Fir’un)

Kita berakidah Ahlussunnah Asyariyah.👇🏿
Selain mrk mengikuti aqidah perawi mualaf yakni aqidah Muawiyah bin al-Hakam as-Sulami yg ketika meriwayatkan kisah budak Jariyah baru masuk Islam, pada kenyataannya ada pula yg mengaku-ngaku mengikuti manhaj Salaf namun mrk menggunakan perkataan Fir'aun sebagai dalil aqidah mrk
Mereka mengatakan bahwa Nabi Musa alahissalam yang memberitahu Fir’aun bahwa Tuhan berada atau bertempat di langit sehingga Fir’aun minta dibuatkan bangunan yang tinggi untuk melihat Tuhannya Nabi Musa.
Fir’aun sendiri yang MENDUGA Tuhannya Nabi Musa berada atau bertempat di langit BUKAN karena MENDENGAR dari Nabi Musa alaihissalam.

Nabi Musa alaihissalam tidak pernah mengatakan bahwa Tuhan berada atau bertempat di langit.
Berikut percakapan antara Nabi Musa alaihissalam dengan Fir'aun sebagaimana Firman Allah Ta’ala yang artinya

“Dan Musa berkata: “Hai Fir’aun, sesungguhnya aku ini adalah seorang utusan dari Tuhan semesta alam”
(QS Al A’raf [7]:104)
Fir’aun bertanya: “Siapa Tuhan semesta alam itu?”
(QS Asy Syu’ara [26]:23)

Musa menjawab: “Tuhan Pencipta langit dan bumi dan apa-apa yang di antara keduanya (Itulah Tuhanmu), jika kamu sekalian(orang-orang) mempercayai-Nya”
(QS Asy Syu’ara [26]:24)
Jadi justru asumsi Fir’aun yang mengatakan bahwa setiap yang ada harus bertempat.

Memang sangat wajar bila seorang Fir’aun menyangka demikian, karena ia telah mengaku diri nya Tuhan, tentu dipikirannya Tuhan Nabi Musa as juga seperti diri nya, harus punya tempat yang jelas.
Akan tetapi yang sangat tidak wajar bila asumsi Fir’aun itu (setiap yang ada pasti punya tempat) datang dari mereka yang menisbatkan sebagai SALAFI, mereka yang merasa (mengaku-ngaku) mengikuti pemahaman para Sahabat,
merasa (mengaku-ngaku) penegak tauhid dan tentu percaya bahwa Tuhan berbeda dengan makhluk yang membutuhkan tempat (semoga kita dijauhkan dari pemikiran Fir’aun).
Dari asumsi tersebut, Fir’aun mencoba meraba apa yang disampaikan oleh Nabi Musa bahwa Nabi Musa adalah utusan “Tuhan yang memiliki langit dan bumi”, tentu saja Fir’aun mempertanyakan di mana keberadaan Tuhan Nabi Musa itu, karena ia yakin “setiap yang ada pasti punya tempat”.
Dan pilihan yang ada cuma dua yakni di langit atau di bumi, bila di bumi tentu Nabi Musa telah menunjukkannya, bila di langit bagaimana Nabi Musa bisa tahu, bagaimana mendapatkan risalahnya
Fir’aun yang telah termakan dengan asumsinya yang salah dan tidak percaya sesuatu yang ada tapi tanpa bertempat.

Fir’aun telah membuktikan kepada kaum nya bahwa tidak ada Tuhan lain di bumi selain dari dia, dan hanya satu tempat lagi yang belum ia buktikan yaitu di langit,
sehingga ia perintahkan pembantu nya untuk membangun bangunan yang tinggi di atas gunung, agar ia bisa melihat Tuhan Nabi Musa alaihissalam, sebagaimana diceritakan dalam Al-Quran Surat Ghafir ayat 36-37:
Firman Allah Ta'ala yang artinya

“Dan berkatalah Fir`aun: “Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu.
(QS. Ghafir / Al Mu'min [40] : 36)
(yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan nya Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta”.
Demikianlah dijadikan Fir`aun memandang baik perbuatan yang buruk itu, dan dia dihalangi dari jalan (yang benar); dan tipu daya Fir`aun itu tidak lain hanyalah membawa kerugian"
(QS. Ghafir / Al Mu'min [40] : 37)
Imam Ar-Razi berkata:

”sesungguhnya mereka (musyabbihah) adalah orang-orang yang sangat bodoh,yang membuat mereka semakin lengkap dalam kehinaan dan kesesatan, oleh karena mereka telah menjadikan perkataan Fir’aun yang terlaknat, sebagai dalil mereka atas kebenaran agama mereka.
sementara Nabi Musa alaihissalam dalam memperkenalkan Tuhan, tidak pernah melebihkan dari menyebutkan sifat penciptaan, sebagaimana dalam surat Thoha :50 “Tuhan kita adalah yang memberikan tiap sesuatu bagi makhluk-Nya kemudian memberi petunjuk”
dan sebagaimana dalam surat Asy-Syu’araayat 26, 28 “Tuhan kalian dan Tuhan bapak kalian yang terdahulu – Tuhan timur dan barat dan diantara kedua nya”.
Maka nyatalah bahwa memperkenalkan Tuhan dengan keberadaannya di langit adalah agama Fir’aun, dan memperkenalkan Tuhan dengan penciptaan dan makhluk adalah agama Nabi Musa alaihissalam.
Siapa yang berpendapat dengan yang pertama, adalah ia diatas agama Fir’aun, dan siapa yang berpendapat dengan yang kedua, adalah ia di atas agama Nabi Musa alaihissalam.
Kemudian kita menjawab, kita tidak bisa menerima bahwa semua yang disebutkan Fir’aun tentang sifat Allah Ta’ala karena ia pernah mendengar dari Nabi Musa alaihissalam, tapi karena Fir’aun berada dalam keyakinan Musyabbihah.
maka tentu ia berkeyakinan jika memang Tuhan ada, pasti Dia berada di langit, maka keyakinan Fir’aun ini sungguh datang dari diri nya, bukan karena mendengar dari Nabi Musa alaihissalam

(Lihat Tafsir Ar-Razi,surat Ghafir : ayat 36-37)
Imam Ahlus Sunnah Imam Abu Mansur Al-Maturidi berkata :

“Kaum Musyabbihah (menyerupakan Allah dengan makhluk) berpegang dengan dzahirnya ayat ini, mereka beralasan : Seandainya bukan karena Musa alaihissalam telah menyebut dan memberitahu Fir’aun bahwa Tuhan di atas langit,
sungguh Fir’aun tidak menyuruh Haman membangun bangunan agar ia dapat naik ke langit dan melihat Tuhan Nabi Musa alaihissalam, sebagaimana Firman Allah menceritakan pernyataan Fir’aun Tetapi kita menjawab :
Tidak ada dalil bagi mereka, karena kemungkinan pernyataan Fir’aun tersebut sebagian dari kebohongan Fir’aun kepada kaum nya tentang Musa alaihissalam”.

(Lihat Tafsir Ta’wilat Ahlus Sunnah surat Ghafir ayat 37)
Begitupula mereka yang gemar bertanya di mana Allah berdalilkan riwayat Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhu

Dari Zaid bin Aslam beliau berkata: Ibnu Umar melewati seorang penggembala (kambing), kemudian beliau bertanya: apakah ada kambing yang bisa disembelih?
Penggembala itu menyatakan: Pemiliknya tidak ada di sini. Ibnu Umar menyatakan: Katakan saja bahwa kambing tersebut telah dimangsa serigala. Kemudian penggembala kambing tersebut menengadahkan pandangannya ke langit dan berkata: Kalau demikian, di mana Allah?
Maka Ibnu Umar berkata: Aku, Demi Allah, lebih berhak untuk berkata: Di mana Allah? Sehingga kemudian Ibnu Umar membeli penggembala dan kambingnya, memerdekakan penggembala tersebut dan memberikan padanya satu kambing itu”
Pengembala bertanya "Di mana Allah" BUKANLAH menanyakan keberadaan Allah"

Pengembala tersebut menolak berdusta kepada pemiliknya bahwa kambingnya telah dimangsa serigala namun akan diserahkan kepada Ibnu Umar

Oleh karena atas kejujurannya Ibnu Umar memerdekakan pengembala tsb.
Begitupula pengembala menengadahkan pandangannya ke langit serupa dengan seseorang berdoa mengangkatkan tangan ke langit.
Imam Abu Mansur Al-Maturidi ketika ditanya, apakah seseorang MENGANGKAT PANDANGAN ke langit atau berdoa mengangkatkan tangan ke langit menunjukkan bahwa Tuhan berada atau bertempat di (atas) langit atau di atas Arsy.
Imam Abu Mansur Al-Maturidi berkata, “Adapun mengangkat tangan ke langit adalah ibadah, hak Allah menyuruh hamba-Nya dgn apa yg Ia kehendaki, dan mengarahkan mrk kemana yg Ia kehendaki, dan sesungguhnya sangkaan seseorang bahwa MENGANGKAT PANDANGAN ke langit krn Allah di arah itu
sungguh sangkaan itu sama dengan sangkaan seseorang bahwa Allah di dasar bumi karena ia meletakkan muka nya di bumi ketika shalat dan lainnya, dan juga sama seperti sangkaan seseorang bahwa Allah di Timur/ Barat karena ia menghadap ke arah tersebut ketika Shalat,
atau Allah di Mekkah karena ia menunaikan haji ke Mekkah” [Kitab At-Tauhid – 75]
Berkata Imam Nawawi: “Dan Dialah Allah yang apabila orang menyeru-Nya, orang itu menghadap ke langit (dengan tangan), sebagaimana orang Shalat menghadap Ka’bah, dan tidaklah demikian itu karena Allah di langit, sebagaimana bahwa sungguh Allah tidak berada di arah Ka’bah,
karena sesungguhnya langit itu qiblat orang berdoa sebagaimana bahwa sungguh Ka’bah itu Qiblat orang Shalat”

(Syarah Shahih Muslim jilid :5 hal :22)
Imam Al-Hafidh Murtadha Az-Zabidi berkata: “Maka adapun angkat tangan ke arah langit ketika berdoa, karena sesungguhnya langit itu qiblat doa” kemudian Beliau juga berkata, disebutkan oleh At-Thurthusyi bahwa manakala langit itu adalah tempat turun nya rezeki dan wahyu,
dan tempat rahmat dan berkat, karena bahwa hujan turun dari langit ke bumi hingga tumbuhlah tumbuhan, dan juga langit adalah tempat Malaikat, maka apabila Allah menunaikan perkara, maka Allah memberikan perkara itu kepada Malaikat,
dan Malaikat-lah yang memberikan kepada penduduk bumi, dan begitu juga tentang diangkat nya segala amalan (kepada Malaikat juga), dan dilangit juga ada para Nabi, dan langit ada syurga yang menjadi cita-cita tertinggi,
manakala adalah langit itu tempat bagi perkara-perkara mulia tersebut, dan tempat tersimpan Qadha dan Qadar, niscaya tertujulah semua kepentingan ke langit, dan orang-orang berdoa pun menunaikan ke atas langit”

(Ittihaf, jilid 5, hal 244)
Begitupula Al Imam Al Hafizh as-Suyuthi menjelaskan bahwa firman Allah Ta'ala yang ARTINYA "Naiklah malaikat-malaikat dan Jibril kepada-Nya MAKNANYA adalah naik ke tempat turun bagi perintahNya di langit .

(Tafsir Al-Jalalain, QS Al-Ma’arij [70] :4)
Tempat turun bagi perintahNya bukan berarti tempat bagi Allah karena Allah Subhanahu wa Ta’ala suci dari arah dan tempat.
Begitupula Rasulullah SAW bermunajat di Sidratul Muntaha, Nabi Musa as bermohon di lembah Thursina, umat Islam berdoa di Baitullah ataupun umat Islam berdoa di Masjid bukan berarti Allah berada atau bertempat di tempat hambaNya bermunajat atau berdoa.
Sayyid Muhammad bin Alwi Maliki dalam kitab karyanya yang berjudul “Wahuwa bi al’ufuq al-a’la” dan telah diterjemahkan oleh penerbit Sahara publisher dengan judul “Semalam bersama Jibril ‘alaihissalam” menjelaskan
Walaupun dalam kisah mi’raj yang didengar terdapat keterangan mengenai naik-turunnya Rasulullah, seorang muslim tidak boleh menyangka bahwa antara hamba dan Tuhannya terdapat jarak tertentu, karena hal itu termasuk perbuatan kufur. Na’udzu billah min dzalik.
Meskipun Nabi Muhammad SAW pada malam Isra’ sampai pada jarak dua busur atau lebih pendek lagi dari itu, tetapi Beliau tidak melewati maqam ubudiyah (kedudukan sebagai seorang hamba).
Nabi SAW dan Nabi Yunus bin Matta as ketika ditelan hiu dan dibawa ke samudera lepas ke dasar laut adalah sama hal ketiadaan jarak Allah Ta’ala dengan ciptaan-Nya, ketiadaan arahNya, ketiadaan menempati ruang, ketidakterbatasannya dan ketidaktertangkapnya.
Menurut suatu pendapat ikan hiu itu membawa Nabi Yunus alaihissalam sejauh perjalanan enam ribu tahun. Hal ini disebutkan oleh al Baghawi dan yang lainnya.
Ketahuilah bahwa bolak-baliknya Nabi Muhammad saw antara Nabi Musa as dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala pada malam yang diberkahi itu tidak berarti adanya arah bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maha suci Allah dari hal itu dengan sesuci-sucinya.
Ucapan Nabi Musa as kepada Rasulullah, “Kembalilah kepada Tuhanmu,” artinya: “kembalilah ke tempat engkau bermunajat kepada Tuhanmu”.
Jadi kembalinya Rasulullah kepadaNya adalah kembali Beliau meminta di tempat itu karena mulianya tempat itu dibandingkan dengan yang lain. Sebagaimana lembah Thursina adalah tempat permohonan Nabi Musa alaihissalam di bumi.
Apabila anda telah mengetahui hal itu, maka yang dimaksud bahwa Nabi Shallallahu walaihi wasallam naik dan menempuh jarak sejauh ini adalah untuk menunjukkan kedudukan Beliau di hadapan penduduk langit dan Beliau adalah makhluk Allah yang paling utama.
Pengertian ini dikuatkan dengan dinaikkannya Beliau diatas Buraq oleh Allah Ta’ala dan dijadikan sebagai penghulu para Nabi dan Malaikat, walaupun Allah Mahakuasa untuk mengangkat Beliau tanpa menggunakan buraq.
Salah satu pokok permasalahan mereka yang gemar bertanya di mana Allah adalah mereka menganggap lafadz aina Allah berasal dari lisannya Rasulullah
Mereka yg gemar bertanya di mana Allah berpegang pada hadits panjang yg terdiri dari beberapa bagian dan merupakan hadits ahad (satu jalur perawi) yg diriwayatkan oleh Muawiyah bin al-Hakam as-Sulami yang ketika itu BARU MASUK ISLAM
memang shahih dari segi (sisi) rantai sanad atau susunan perawinya

Namun dari segi (sisi) matan (redaksi) hadits KHUSUSNYA pada bagian kisah budak Jariyah, Muawiyah bin al-Hakam as-Sulami meriwayatkan hadits TIDAK dengan MATAN (redaksi) ASLI sabda Nabi saw
sehingga BERBEDA dengan matan (redaksi) riwayat lainnya yang tidak memuat pertanyaan "aina Allah" (di mana Allah).
Ia meriwayatkannya dgn ma’nan (hanya kandungan maknanya saja) alias MATAN dari Muawiyah bin al-Hakam SECARA PRIBADI berdasarkan penyaksiannya terhadap percakapan secara isyarat yg dapat pula DIPENGARUHI oleh KEADAANNYA yg BARU MASUK ISLAM sehingga ia terjatuh dalam kesalahan.
Hal ini dapat diketahui dari pernyataan Muawiyah bin al-Hakam as-Sulami, “Wahai Rasul shallallahu alaihi wasallam sesungguhnya aku adalah seorang yang baru saja berada di dalam kejahiliyahan kemudian datang Islam”.
Sebenarnya keyakinan bahwa Tuhan bertempat terimbas oleh cerita-cerita tradisional bahwa ‘alam Tuhan’ itu berada di langit, seiring dengan ‘alam dewa-dewa’ keyakinan non muslim.
Alam dewa dan alam Tuhan selalu dikaitkan dgn alam tinggi, yg dipersepsi berada di langit, dalam arti ruang yg sesungguhnya. Sehingga, kita sering mendengar cerita tentang ‘turunnya’ para dewa-dewi, bidadari, atau bahkan ‘Tuhan’ sendiri dari langit nun jauh di sana menuju ke Bumi
Konsep seperti itu bukan konsep Islam yang justru diluruskan oleh datangnya Islam yang dibawa oleh para Nabi dan keluarga Nabi Ibrahim alaihi salam – termasuk keturunan terakhirnya Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam
Oleh karenanya para ulama terdahulu sepakat bahwa hadits ahad (satu jalur perawi) yang diriwayatkan Muawiyah bin al-Hakam as-Sulami KHUSUSNYA pada bagian kisah budak Jariyah dikategorikan sebagai hadits mudhtharib, hadits kacau (guncang) matannya (redaksinya)
atau hadits yang DIPERSELISIHKAN matannya (redaksinya) karena perbedaan yang cukup tajam dengan matan (redaksi) yang lainnya seperti:

Imam Malik meriwayatkan dalam kitab Muwatha`, Imam Abdurrazzaq dalam Musnannaf,
Imam Ahmad bin Hanbal dalam kitab Musnad dan ulama-ulama hadits lainnya, bahwa Rasulullah bertanya kepada budak itu :

أَتَشْهَدِينَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ ؟ فَقَالَتْ: نَعَمْ، قَالَ: أَفَتَشْهَدِينَ أَنَّ مُحَمَّداً رَسُولُ اللهِ؟ قَالَتْ: نَعَمْ
“Apakah engkau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah?” Budak itu menjawab, “Ya.” Rasulullah Saw bertanya lagi, “Apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah?” Ia menjawab, “Ya.”
Syekh Syu’aib Arnauth mengomentari redaksi ini :

هذا هو اللفظ الصحيح للحديث إن شاء الله

"Inilah redaksi hadis yang
sahih, insya Allah.”
(hamisy Musnad 13/286).
Hadits ini didukung beberapa syawahid di dalam Sunan ad-Darimi dari Syarid radhiyallahu 'anhu, al-Bazzar dalam Musnadnya dan ath-Thabarani dalam Mu’jam al-Kabir dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhu.
Jadi, redaksinya bukan ‘dimana Allah’, melainkan ‘apakah engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah?”

Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Syarid bin Suwaid ra dengan redaksi yang berbeda lagi.
Nabi SAW tidak bertanya kepada budak yang ingin diuji keimanannya itu dengan kalimat, “Dimana Allah?” melainkan dengan kalimat:

مَنْ رَبُّكِ ؟

"Siapa Tuhanmu"
Begitupula pada kenyataannya Imam Muslim TIDAK MELETAKKAN hadits tersebut pada BAB AQIDAH atau KEIMANAN melainkan pada BAB SHALAT yakni haramnya berbicara saat shalat karena hal pokok yang SHAHIH dan TIDAK DIPERSELISIHKAN adalah pada bagian sabda Rasulullah yang artinya:
“Sesungguhnya shalat ini, tidak pantas di dalamnya ada percakapan manusia, karena shalat itu hanyalah tasbih, takbir dan membaca al-Qur’an.”
(HR Muslim 836)
Alasan lafadz aina Allah bukan berasal dari lisannya Rasulullah namun MATAN (redaksi) dari Muawiyah bin al-Hakam as-Sulami SECARA PRIBADI yang dapat pula DIPENGARUHI oleh KEADAANNYA yang BARU MASUK ISLAM
adalah karena adanya larangan dari Rasulullah yakni larangan memikirkan atau menanyakan keberadaan Allah Ta'ala.

Rasulullah bersabda ”Berpikirlah tentang nikmat-nikmat Allah, dan jangan sekali-kali engkau berpikir tentang Dzat-Nya“
Rasulullah bersabda,

تَفَكَّرُوْا فِيْ أَلاَءِ اللهِ وَلاَ تَفَكَّرُوْا فِيْ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

"Berpikirlah kamu tentang ciptaan-ciptaan Allah dan janganlah kamu memikirkan Allah Azza wa Jalla" (HR. Abu Nuaim dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu)
Rasulullah bersabda

تَفَكًّرُوْافِىْ آيَاتِ اللَّهِ وَلَا تَفَكَّرُوْافِى اللَّهِ فَإِنَّكُمْ لَمْ تُقَدِّرُوْهُ حَقَّ قَدْرِهِ.

Pikirkanlah kekuasaan kekuasaan Allah dan janganlah kau pikirkan Dzat-Nya. Sesungguhnya kamu tak akan mampu memikirkan hakikat-Nya
HR. Ibnu Hibban
Jadi kalau ada "anak kecil" bertanya "di mana Allah" maka ikutilah sunnah Rasulullah tersebut bahwa untuk meyakini KEBERADAAN Allah adalah dengan mengajak "anak kecil" itu memikirkan nikmat-nikmat yang telah diberikanNya atau dengan memikirkan tanda-tanda (kekuasaan) Allah Ta'ala
Oleh karenanya ungkapan seperti "Allah ada di mana-mana" sebaiknya janganlah DIPAHAMI dengan MAKNA DZAHIR atau secara hissi (materi/fisikal) bahwa Allah Ta'ala berada atau bertempat di mana-mana.
NAMUN maknanya adalah bahwa kita bisa mengetahui dan meyakini keberadaan dan kebesaran Allah serta mengenal Allah (makrifatullah) adalah dengan memperhatikan alam dan isinya atau semua yang terlihat oleh mata yang merupakan tanda-tanda kekuasaanNya
atau disebut juga ayat-ayat kauniyah, ayat-ayat yang meliputi segala macam ciptaan Allah, baik itu yang kecil (mikrokosmos) ataupun yang besar (makrokosmos).
Firman Allah Ta’ala yang artinya

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an itu adalah benar.
Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?“
(QS. Fush Shilat [41]:53)
“Katakanlah: “Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman“. (QS Yunus [10] : 101).
Begitupula alasan lain lafadz aina Allah bukan berasal dari lisannya Rasulullah namun MATAN (redaksi) dari Muawiyah bin al-Hakam as-Sulami SECARA PRIBADI yang dapat pula DIPENGARUHI oleh KEADAANNYA yang BARU MASUK ISLAM
adalah karena para ulama terdahulu telah mengingatkan bahwa bagi orang-orang yang sudah mendalami tentang aqidah maka pertanyaan "di mana" dan "bagaimana" TIDAK PATUT atau TIDAK BOLEH ditujukan kepada Allah Ta'ala

Contohnya Imam sayyidina Ali bin Abi Thalib mengingatkan
وقال سيدنا علي رضي الله عنه :” إن الذي أين الأين لا يقال له أين وإن الذي كيف الكيف لا يقال له كيف

رواه أبو المظفر الإسفراييني في كتابه في التبصير في الدين / ص: 98
“Sesungguhnya yg menciptakan aina (tempat) tdk boleh dikatakan baginya dimana (pertanyaan tentang tempat)dan yg menciptakan kayfa (sifat-sifat makhluk) tdk boleh dikatakan baginya bagaimana”
(diriwayatkan oleh Abu Muzhaffar al-Asfarayini dalam kitabnya at-Tabshir fi ad-Din, hal98
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani mengatakan:

إِنَّ إِدْرَاكَ الْعُقُولِ لِأَسْرَارِ الرُّبُوبِيَّةِ قَاصِرٌ فَلَا يَتَوَجَّهُ عَلَى حُكْمِهِ لِمَ وَلَا كَيْفَ كَمَا لَا يَتَوَجَّهُ عَلَيْهِ فِي وجوده أَيْن وَحَيْثُ
Sesungguhnya akal manusia sangat lemah untuk memahami rahasia ketuhanan. Maka tidaklah pantas diarahkan kepada berbagai ketetapan-Nya pertanyaan ‘kenapa’ atau ‘bagaimana’. Sebagaimana halnya tidak pantas diarahkan pada eksistensi-Nya pertanyaan ‘dimana’
(Fathul Bari 1/221)
Al Imam Fakhruddin ibn ‘Asakir (W. 620 H) dalam risalah aqidahnya mengatakan: “Allah ada sebelum ciptaan, tidak ada bagi-Nya sebelum dan sesudah, atas dan bawah, kanan dan kiri, depan dan belakang,
keseluruhan dan bagian-bagian, tidak boleh dikatakan “Kapan ada-Nya ?”, “Di mana Dia ?” atau “Bagaimana Dia ?”, Dia ada tanpa tempat”.
Imam Syafi'i menjelaskan bahwa jika matan (redaksi) pertanyaan Rasulullah, aina Allah (di mana Allah) dianggap shahih maka jika budak menunjuk di langit maka Rasulullah mengetahui bahwa ia TERLEPAS dari BERHALA bukan arah dan tempat bagiNya.
Berikut kutipan penjelasan Imam Syafi'i dalam Manaqib Imam Syafi’I, al-Baihaqi : 1/396)

واختلف عليه في إسناده ومتنه،

Dan telah terjadi khilaf pada sanad dan matan nya
وهو إن صحفكان النبي – صلى الله عليه وسلم – خاطبها على قَدرِ معرفتها

dan seandainya dianggap shahih hadits tersebut, maka adalah Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- bertanya kepada hamba tersebut (budak Jariyah) disesuaikan dengan kadar pemahamannya,
فإنها وأمثالها قبل الإسلام كانوا يعتقدون فيالأوثان أنها آلهة في الأرض، فأراد أن يعرف إيمانها، فقال لها: أين اللَّه؟
karena dia (budak Jariyah) dan kawan-kawannya sebelum masuk Islam, mereka percaya kepada berhala yakni sesembahan mereka yang ada di bumi, maka Nabi ingin mengetahui keimanannya, maka Nabi bertanya : “Di mana Allah ?”
حتى إذا أشارت إلى الأصنام عرف أنها غير مؤمنة، فلما قالت: في السماء، عرفأنها برئت من الأوثان، وأنها مؤمنة بالله الذي في السماء إله وفي الأرض إله
sehingga apabila ia menunjuk kepada berhala, Nabi mengetahui bahwa ia bukan Islam (bukan orang yg beriman) , maka manakala ia menunjuk di langit, Nabi mengetahui bahwa ia TERLEPAS dari BERHALA dan bahwa ia adalah org yg percaya kepada Allah yaitu Tuhan di langit dan Tuhan di bumi
Begitupula Imam An-Nawawi menulis di kitabnya Syarh shahih muslim jilid 5 hal. 24-25:

صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيْنَ اللَّهُ قَالَتْ فِي السَّمَاءِ قَالَ مَنْ أَنَا قَالَتْ أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ قَالَ أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ
Tentang pertanyaan Nabi shallallahu alaihi wasallam kepada seorang jariyah (budak wanita): “di mana Allah?”, kemudian jariyah tersebut menjawab: “di langit”, kemudian beliau bertanya: “Siapakah aku?” Jariyah tersebut menjawab: “Engkau adalah Rasulullah”.
Lalu beliau bersabda: “Merdekakanlah ia karena sesungguhnya dia orang yg mukmin (beriman)”.
الْحَدِيثُ مِنْ أحَادِيثِ الصِّفَاتِ وَفِيهَا مَذْهَبَانِ تَقَدَّمَ ذِكْرُهُمَا مَرَّاتٍ فِي كِتَابِ الْإِيمَانِ
Hadits ini termasuk hadits-hadits tentang sifat Allah. Ada dua madzhab mengenai hadits-hadits sifat. Perbincangan tentang dua madzhab tersebut telah disebutkan beberapa kali di kitab Al-Iman
الْإِيمَانُ بِهِ مِنْ غَيْرِ خَوْضٍ فِي مَعْنَاهُ مَعَ اعْتِقَادِ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَتَنْزِيهِهِ عَنْ سِمَاتِ الْمَخْلُوقَاتِ

Pendapat pertama menyatakan bahwa (wajib) beriman kepada ayat-ayat sifat tanpa berdalam-dalam mengenai maknanya.
Bersamaan dengan itu, berkeyakinan bahwa Allah Maha Tinggi tidak ada yang serupa dengan-Nya sesuatupun, serta menyucikan Allah dari sifat-sifat kekhususan makhluk.
تَأْوِيلُهُ بِمَا يَلِيقُ بِهِ فَمَنْ قَالَ بِهَذَا قَالَ كَانَ الْمُرَادُ امْتِحَانَهَا هَلْ هِيَ مُوَحِّدَةٌ تُقِرُّ بِأَنَّ الْخَالِقَ الْمُدَبِّرَ الْفَعَّالَ هُوَ اللَّهُ وَحْدَهُ وَهُوَ الَّذِي إِذَا دَعَاهُ الدَّاعِي اسْتَقْبَلَ السَّمَاءَ كَمَا إِذَا صَلَّى الْمُصَلِّي
اسْتَقْبَلَ الْكَعْبَةَ وَلَيْسَ ذَلِكَ لِأَنَّهُ مُنْحَصِرٌ فِي السَّمَاءِ كَمَا أَنَّهُ لَيْسَ مُنْحَصِرًا فِي جِهَةِ الْكَعْبَةِ بَلْ ذَلِكَ لِأَنَّ السَّمَاءَ قِبْلَةُ الدَّاعِينَ كَمَا أَنَّ الْكَعْبَةَ قِبْلَةُ الْمُصَلِّينَ
Pendapat kedua mentakwilnya (memalingkan makna-nya) kepada makna lain yang sesuai untuk Allah. Golongan yang memilih pendapat ini berkata bahwa maksud dari ujian Nabi kepada budak wanita tersebut adalah (untuk mengetahui) apakah dia seorang yang bertauhid
yang mengikrarkan bahwa sesungguhnya Al-Khaliq (Pencipta), Al-Mudabbar (Yang mengatur), Al-Fa’al (Yang berbuat) adalah Allah yang Maha Esa.
Dialah Allah yang apabila seorang hamba berdoa menghadap ke langit sebagaimana apabila orang shalat menghadap ke ka’bah. Bukan maksudnya bahwa Allah dibatasi oleh langit sebagaimana Allah tidak dibatasi di arah ka’bah.
Akan tetapi yang demikian itu karena sesungguhnya langit adalah kiblatnya orang-orang yang berdoa sebagaimana bahwa ka’bah adalah kiblatnya orang-orang yang shalat.
أَوْ هِيَ مِنْ عَبَدَةِ الْأَوْثَانِ الْعَابِدِينَ لِلْأَوْثَانِ الَّتِي بَيْنَ أَيْدِيهِمْ فَلَمَّا قَالَتْ فِي السَّمَاءِ عَلِمَ أَنَّهَا مُوَحِّدَةٌ وَلَيْسَتْ عَابِدَةً لِلْأَوْثَانِ
Ujian ini untuk mengetahui atau apakah budak wanita tersebut termasuk penyembah berhala. Yakni menyembah berhala yang ada di tengah-tengah mereka. Ketika budak wanita tersebut menjawab di langit,
Tahulah Rasulullah bahwa sesungguhnya budak wanita ini seorang yang bertauhid dan bukanlah seorang penyembah berhala.
Para ulama menegaskan bahwa budak perempuan tersebut berisyarat dengan telunjuknya ke arah langit adalah untuk mengungkapkan keagungan atau ketinggian derajat Allah Ta’ala bukan arah maupun tempat bagiNya.
Contohnya ulama Hambali Al Imam al-Hafidz Ibn Al Jawzi berkata “Aku (Ibnul Jawzi) berkata: “Adapun bahwa budak perempuan tersebut berisyarat dengan mengatakan di arah langit adalah untuk tujuan mengagungkan.
Bahkan hujjatul Islam Abu Hamid Al Ghazali mengabarkan bahwa budak itu adalah seorang yang bisu dan ia tidak memiliki cara lain untuk menunjukkan ketinggian Allah Yang Maha Kamal kecuali dengan menggunakan bahasa isyarat menunjuk langit.
(DR. Muhyiddin Al Shafi, Muhadharat Fie Al `Aqidah Al Islamiyyah Qism Al Ilahiyyat, Maktabah Iman dan Maktabah Al Jami`ah Al Azhariyyah, Kairo, cet. ke II, 2010)
Sedangkan Imam Nawawi (w. 676 H/1277 M) dalam Syarah Shahih Muslim (Juz 5 Hal 24-25)
maka ia mentakwilnya agar tidak menyalahi Hadis Mutawatir dan sesuai dengan ushulus syariah. Yakni pertanyaan ‘Aina Allah? diartikan sebagai pertanyaan tentang kedudukan Allah bukan tempat Allah,
karena aina dalam bahasa Arab bisa digunakan untuk menanyakan tempat dan juga bisa digunakan untuk menanyakan kedudukan atau derajat. Jadi maknanya; “Seberapa besar pengagunganmu kepada Allah?”.
Mereka melarang takwil berdalilkan firman Allah Ta'ala surat Al Imran [3] ayat 7.
Allah Ta’ala BUKAN MELARANG TAKWIL namun MELARANG “MENCARI-CARI takwil” atau “mengada-ngada takwil” yakni MENTAKWIL atau MEMAKNAI TANPA ILMU seperti orang-orang yang mengikuti ayat-ayat mutasyabihat (selalu dengan makna dzahir) sehingga menimbulkan FITNAH
(Q.S. Al Imran [3] : 7)
Jadi orang-orang yang MENCARI-CARI takwil adalah mereka yang tidak dikaruniai kemampuan takwil atau hikmah oleh Allah Ta'ala sehingga mereka SESAT dan MENYESATKAN
karena mereka MENTAKWIL atau MEMAKNAI TANPA ILMU yakni mereka MENGIKUTI ayat-ayat mutasyabihat (banyak makna) terkait sifat Allah SELALU dengan MAKNA DZAHIR sehingga menimbulkan FITNAH.
Rasulullah bersabda, "ketika mereka ditanya mereka berfatwa TANPA ILMU, mereka SESAT dan MENYESATKAN" (HR Bukhari 98)

Dalam kitab tafsir Jalalain, Imam Suyuthi ketika menafsirkan (Q.S. Al Imran [3] : 7) menjelaskan bahwa FITNAH berasal dari
لجهالهم بوقوعهم في الشبهات واللبس

kalangan orang-orang bodoh yang justru menjerumuskan mereka ke dalam hal-hal yang syubhat dan kabur pengertiannya.
FITNAH terhadap Salafush Sholeh timbul AKIBAT Ibnu Taimiyyah (W 728 H) MENISBATKAN atau tepatnya MELABELKAN MAZHABNYA atau METODE PEMAHAMANNYA SELALU dengan MAKNA DZAHIR dan MENGINGKARI atau MELARANG TAKWIL
dengan MAKNA MAJAZ sebagai MAZHAB atau MANHAJ Salaf sebagaimana fatwanya dalam Majmu Fatawa 4/149

Barangsiapa mengingkari penisbatan kepada salaf dan mencelanya, maka perkataannya terbantah dan tertolak ‘karena tidak ada aib untuk orang-orang yang menampakkan mazhab salaf
dan bernisbat kepadanya bahkan hal itu wajib diterima menurut kesepakatan ulama, karena MAZHAB SALAF itu PASTI BENAR
Bahkan disebarluaskan dongeng atau tepatnya fitnah bahwa Imam Abu Al Hasan Al Asy'ari (W 324 H atau yang lain mengatakan 330 H) melalui 3 marhalah kehidupan atau 3 fase pemikiran yakni fase ketiga (terakhir) mengikuti MAZHAB atau METODE PEMAHAMAN SELALU dengan MAKNA DZAHIR
dan MENGINGKARI atau MELARANG TAKWIL dengan MAKNA MAJAZ serupa dengan MAZHAB Ibnu Taimiyyah (W 728 H) yang DILABELI sebagai MAZHAB atau MANHAJ SALAF
Ibnu Taimiyyah dikabarkan masih sempat bertaubat kepada Allah Ta'ala sebelum Beliau wafat dipenjara sehingga Beliau belum sempat menulis kitab-kitab untuk mengkoreksi kekeliruannya akibat MAZHAB atau METODE PEMAHAMAN
Ibnu Taimiyyah dalam memahami apa yang telah Allah Ta’ala sifatkan untuk diri-Nya dalam ayat-ayat mutasyabihat (banyak makna) SELALU dengan MAKNA DZAHIR dan mengingkari makna majaz (Ma’alim Ushulil Fiqh hal. 114-115).
Begitupula Ibnu Taimiyyah dalam Al Iman hal 94 berkata,

"maka ini adalah dengan prakiraan adanya bentuk metafor (majaz) dalam bahasa. Sementara dalam al-Qur'an tidak ada bentuk metafor.
Bahkan pembagian bahasa kepada hakekat dan metafor adalah pembagian bid'ah, perkara baharu yang tidak pernah diungkapkan oleh para ulama Salaf.
Bahkan Ibnu Qoyyim al Jauziyah (w 751 H) murid dari Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa MAJAZ adalah THAGHUT yang KETIGA (Ath thaghut Ats Tsalits), karena menurut Beliau dengan adanya MAJAZ,
akan membuka pintu bagi ahlu tahrif untuk menafsirkan ayat dan hadist dengan makna yang menyimpang (As Showa’iqul Mursalah 2/632)
Ibnu Taimiyyah BUKAN ulama SALAF (terdahulu) namun ulama KHALAF (kemudian) karena wafat 728 H artinya Beliau hidup di atas 300 Hijriah.
Begitupula Ibnu Qoyyim al Jauziyah (w 751 H) maupun Adz Dzahabi (w 748 H) adalah murid dari Ibnu Taimiyyah atau pengikut Ibnu Taimiyyah yang bertemu muka langsung.
Sedangkan pengikut Ibnu Taimiyyah yang tidak bertemu muka langsung alias berdasarkan mutholaah (menelaah kitab) dengan akal pikiran mereka sendiri, contohnya adalah Muhammad bin Abdul Wahhab (W 1206 H) dan Al Albani (w 1420H)
Jadi mereka tentu tidak bertemu dengan Salaf karena tidak semasa kehidupannya sehinga mereka tidak mendapatkan pemahaman Salaf yang sesungguhnya.
Jadi timbulnya KERUSAKAN seperti TERJERUMUS KEKUFURAN dalam PERKARA I'TIQOD akibat orang awam TERKELABUI dengan LABEL mazhab atau manhaj Salaf dan penisbatan atau tepatnya PELABELAN Salafi maupun Atsari
Mereka membeli atau memiliki kitab-kitab hadits dan mereka membaca hadits-hadits dimana dalam hadits tercantum sanad hadits yakni nama para Sahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in lalu dikatakan oleh mereka bahwa mereka mengikuti PEMAHAMAN Salafush Sholeh
dan DILABELI MAZHAB SALAF atau MANHAJ SALAF

Apa yang disampaikan dari hadits-hadits yang dibaca oleh mereka adalah PEMAHAMAN MEREKA sendiri BUKAN PEMAHAMAN Salafush Sholeh.
Sumbernya memang hadits tersebut tapi apa yang mereka sampaikan semata lahir dari kepala mereka sendiri yakni PEMAHAMAN MEREKA SENDIRI dengan MAZHAB atau METODE PEMAHAMAN mereka SELALU dengan MAKNA DZAHIR.
Syaikhul Islam Imam Ahmad bin Hajar al-Haitami al-Makki al-Syafi’i dalam kitabnya Al Fatawa Al Haditsiyah ketika ditanya tentang perkataan Sufyan bin Uyainah,

الحديث مضلة إلا الفقهاء

Hadits itu menyesatkan kecuali untuk para fuqaha (ahli fiqih)
Sufyan bin Uyainah bin Abi Imran adalah salah seorang guru dari Imam Syafi’i. Beliau adalah salah seorang Tabi’ut Tabi’in tsiqoh yang sempat bertemu sekitar 87 Tabi’in, dilahirkan pada tahun 107 H dan wafat di Makkah pada tahun 198 H
Imam Ibnu Hajar al-Haitami mencontohkan hadits yang dapat menyesatkan bagi ahli (membaca) hadits adalah hadits Nuzul yakni,

“Rabb Tabaraka wa Ta’la turun ke langit dunia pada setiap malam, yakni saat sepertiga malam terakhir seraya berfirman;
‘Siapa yang berdo’a kepadaKu niscaya akan Aku kabulkan dan siapa yang meminta kepadaKu niscaya akan Aku berikan dan siapa yang memohon ampun kepadaKu, niscaya akan Aku ampuni.” (HR Muslim 1261)
Imam Ibnu Hajar al-Haitami mengatakan bahwa,

ولا يعرف معنى هذه إلا الفقهاء بخلاف من لايعرف إلا مجرد الحديث ، فإنه يضل فيه كما وقع لبعض متقدمي الحديث . بل ومتأخريهم ، كابن تيمية وأتباعه
“tidak ada yang memahami makna hadits itu kecuali para ahli fiqih. Berbeda dengan mereka yang hanya mengerti hadits saja, mereka tersesat dalam memahaminya, sebagaimana sebagian ahli hadits zaman dahulu, bahkan di zaman belakangan seperti Ibnu Taimiyah dan para pengikutnya.
Ibnu Taimiyyah (W 728 H) sebelum bertaubat ketika membaca hadits Nuzul terjerumus MENG-KAIFA-KAN atau MEMBAGAIMANAKAN nuzul dengan mengatakan bahwa

“Sesungguhnya turunnya Allah tidak menjadikan ‘arsy-Nya KOSONG”
Perkataan Ibnu Taimiyyah ini termuat dalam risalah al ‘Arsiyyah sebagaimana contohnya yang disampaikan oleh ulama mereka, Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dalam tulisannya berjudul “100 Pelajaran dari Kitab Aqidah Wasithiyah” (kitab karya Ibnu Taimiyyah)
Begitupula ini adalah sebuah contoh KEBID'AHAN Ibnu Taimiyyah dalam perkara i'tiqod karena tidak pernah disabdakan Rasulullah maupun diriwayatkan oleh Salafush Sholeh.

Tidak ada satupun ulama yang mengaitkan hadits nuzul dengan syubhat tempat bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Jumhur ulama telah sepakat bahwa hadits nuzul dalam pengertian bahwa Allah mengaruniakan dan mengabulkan segala permintaan yang dimintakan kepada-Nya pada saat itu. Oleh karenanya, waktu sepertiga akhir malam adalah waktu yang sangat mustajab untuk meminta kepada Allah.
Ibnu Taimiyyah mengatakan

- Tuhan BERTEMPAT di atas Arsy, maka keduanya ini memiliki BENTUK dan BATASAN (Muwafaqat Sharih al Ma'qul j.2 h 29)

- Tuhan BERTEMPAT di langit dan dia diliputi dan DIBATASI oleh langit (Muwafaqat Sharih al Ma'qul j.2 h 30)
Nabi Muhammad DIDUDUKAN oleh Allah di atas Arsy bersama-Nya (Majmu Fatawa juz 4, hal.374)
Bahkan ada pula pula mereka mengatakan bahwa Tuhan yang BERTEMPAT di atas Arsy berambut keriting dan memiliki pantat jika bergeser terdengarlah darinya suara ‘Kret Kret’ seperti suara yang biasa keluar dari kursi yang masih baru
Begitupula sifat keterpisahan bagi Allah Ta'ala dengan makhluk BUKANLAH menjauh secara hissi (materi / fisikal) dalam pengertian batasan, arah, jarak maupun tempat sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyyah dalam Majmu al-Fatawa, juz 2, hal.126.
Ulama yang diakui sebagai mujaddid abad ke 4 hijriah, Imam al Baihaqi (W 458 H) berpendapat bahwa pengertian keterpisahan (mubayanah) bagi Allah Ta'ala adalah "Laisa Kamitslihi Syaiun" (QS. Asy Syura [42] : 11) yakni Allah Ta’ala “ tidak serupa dengan makhlukNya dari sisi apapun.
Firman Allah Ta'ala dalam Al Qur'an surat Asy Syura [42] ayat 11 inilah sebagai salah satu dalil yang digunakan oleh para ulama terdahulu untuk menetapkan salah satu sifat wajib bagi Allah Ta'ala yakni Mukholafatu Lilhawadist
(Berbeda dengan makhluknya) lawannya Mumatsalatu Lilhawadist (Menyerupai makhluknya).

Begitupula para ulama terdahulu seperti Syekh Ibnu Khaldun (808 H) dalam kitab Târîkh-nya menjelaskan

وأمّا المعنى الآخر للمباينة، فهو المغايرة والمخالفة
Adapun makna keterpisahan (mubayanah) bagi Allah Ta'ala dengan makhluk adalah perbedaan dan ketidaksamaan
فيقال: البارئ مباين لمخلوقاته في ذاته وهويّته ووجوده وصفاته

Maka dikatakan bahwa Allah berbeda dari makhluk-makhluk-Nya dalam hal Dzat, hakikat, keberadaan dan sifat-sifatnya.
Jadi pengertian keterpisahan (mubayanah) bagi Allah Ta'ala dengan makhluk adalah Allah ba’in ‘an al-khalq yakni Allah Ta'ala TERPISAH dalam makna BERBEDA dari makhluk-makhluk-Nya

Contohnya kalau makhlukNya seperti manusia itu dekat BERSENTUH dan jauh BERJARAK
Sedangkan Allah Ta'ala itu dekat TIDAK BERSENTUH dan jauh TIDAK BERJARAK sebagaimana firman Allah Ta'ala yang artinya "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat (QS Al Baqarah [2] : 186)
Imam Abu al Hasan al Asy'ari dalam "Maqalatul Islamiyin" jilid I hal 281 dengan JELAS dan TEGAS menuliskan apa yang telah disepakati oleh para ahlus sunnah:

أنهم يقولون: إن البارىء ليس بجسم ولا محدود ولا ذي نهاية
Mereka (ahlus sunnah) berkata, "Sesungguhnya Allah bukan jism, tidak berhadd (TIDAK TERBATAS) dan TIDAK BERJARAK"
Begitupula Imam Abul Wahid At Tamimi (W 410 H) ulama yang paling dekat zamannya dengan Imam Ahmad membawakan riwayat Imam Ahmad di dalam kitab Beliau "I'tiqad Imam Al Munabbal Abi Abdillah Ahmad bin Hanbal hal 38;
والله تعالى لم يلحقه تغير ولا تبدل ولا يلحقه الحدود قبل خلق العرش ولا بعد خلق العرش

"Dan Allah Ta'ala tidak mengalami perubahan dan TIDAK TERBATAS oleh hadd, baik sebelum Allah menciptakan Arsy, maupun setelah Allah menciptakan Arsy".
Hal serupa disampaikan oleh Imam al Baihaqi (W 458 H) mengingatkan bahwa

من فوق السماء علی معنی نفي الحد عنه

Dzat di atas langit berdasarkan makna MENAFIKAN BATAS (al hadd) darinya.

Imam Sayyidina Ali karamallahu wajhah berkata

من زعمأن إلهنا محدود فقد جهل الخالق المعبود
”Barang siapa menganggap bahwa Tuhan kita mahdud (TERBATAS) maka ia telah JAHIL yakni TIDAK MENGENAL Tuhan Sang Pencipta.” (Hilyatul Awliyâ’; Abu Nu’aim al Isfahani,1/73)
Jadi orang-orang yang MENG-KAIFA-KAN atau MEMBAGAIMANAKAN ISTAWA Allah sebagai BERTEMPAT sehingga mereka seolah-olah MEMENJARAKAN Allah Ta'ala BERBATAS dengan Arsy adalah mereka yang JAHIL yakni BELUM MENGENAL Allah (makrifatullah) dengan sebenar keagungan-Nya.
Imam Abu Al Hasan Al Asy'ari dalam kitab Al Ibanah menegaskan bahwa istawa Allah di atas Arsy

بلا كيف ولا استقرار

Tanpa kaifa (sifat makhluk/benda) dan bukan dalam pengertian istiqrar (bertempat/menetap tinggi).
Jadi BUKAN Allah (berada) di atas Arsy atau ISTAQARRA (bertempat/menetap tinggi) di atas Arsy.

NAMUN Allah di atas Arsy BILA KAIFA artinya TANPA KAIFA yakni tanpa sifat-sifat makhluk/benda seperti arah (jihah), jarak, ruang, waktu, berbatas (al hadd) dengan arsy
Oleh karenanya perkara aqidah sebaiknya didahulukan karena tidak sah ibadah jika belum mengenal Allah (makrifatullah)

Hujjatul Islam Imam Al Ghazali berkata:
لا تصح العبادة إلا بعد معرفة المعبود

“Tidak sah ibadah (seorang hamba) kecuali setelah mengetahui (mengenal Allah) yang wajib disembah”.

“Awaluddin makrifatullah, akhiruddin makrifatullah”.
Artinya, awal beragama adalah mengenal Allah (makrifatullah) dan tujuan akhir beragama adalah menyaksikan Allah (makrifatullah) dengan hati (ain bashirah).
Oleh karenanya SEJAK DINI sebaiknya disampaikan tentang aqidatul khomsin (lima puluh aqidah) dimana di dalamnya diuraikan tentang 20 sifat wajib bagi Allah sebagai SARANA untuk MENGENAL Allah yg merupakan hasil istiqro (telaah) para ulama yang bersumber dari Al Qur’an dan Hadits.
Begitupula 20 sifat wajib bagi Allah dipergunakan sebagai pedoman dan batasan-batasan untuk dapat memahami ayat-ayat mutasyabihat (banyak makna) tentang sifat-sifat Allah.

Semoga bermanfaat 🙏🏿🌹

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with Sayid Machmoed BSA

Sayid Machmoed BSA Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @sayidmachmoed

19 Mar
Ngaji Ba’da Jumat

بسم الله الرحمن الرحيم

Ada sebuah riwayat "asbabul wurud" (sebab munculnya hadist) Memandang Wajah Orang Tua Adalah Ibadah Image
Pada suatu pagi Ali bin Abi Thalib seperti biasa pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat jama'ah subuh bersama Rasulullah. Tiba-tiba di tengah jalan ada seorang laki-laki yg sudah lanjut usia, rambutnya sudah putih. Menurut perasaan Ali, laki-laki itu akan pergi ke masjid.
Dengan rasa ta'zhir (adab yg luhur) dan penuh kasih Ali berjalan di belakangnya, tidak tega mendahuluinya. Ketika sampai di depan masjid, Ali terperanjat. Ternyata laki-laki tua itu tidak masuk masjid, terus jalan. Dan ternyata dia adalah seorang Nasrani.
Read 23 tweets
18 Mar
Cinta Istana, Lupa Astana

Salah satu kisah terkenal,
percakapan antara Harun ar Rasyid dengan Bahlul sebagai berikut :

“Bahlul,
kapan kau akan sembuh dari kegilaanmu?
Kuberi tempat di istana,
kau malah tidur di kuburan.”

Ujar harun menghardik.
“Aku takut dikategorikan orang lupa, sebagaimana sabda junjungan kita Nabi Muhammad Saw :
“yuhibbunal qusur wa yansaunal qubur”.

“Cinta istana, lupa astana”.

“Lagi pula,
yang gila itu siapa?
Aku atau engkau?”
“Kurasa engkaulah yang gila.
Gila harta, gila kekuasaan,
dan gila-gila lainnya yg menjauhkan engkau dari akhirat, karena tenggelam
dalam kesenangan duniawi,”jawab Bahlul.
Read 4 tweets
18 Mar
Perbedaan Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husein Dalam Metode Perjuangan Dzurriyah-nya

Dikatakan bahwa Sayyidina Hasan lebih lembut daripada Sayyidina Husein yang tegas dan lantang.
Namun sebaliknya, keturunan Husein lebih lembut daripada keturunan Hasan. Image
Seakan seperti terjadi pertukaran. Dalam sejarah, keturunan Hasan bin Ali banyak yang memiliki cara dakwah yang cenderung mengikuti metode sayyidina Husein, lantang dan tegas.

Sedangkan keturunan sayyidina Husein justru mengikuti metode dakwah sayyidina Hasan, lembut dan tenang
Di zaman Hajjaj bin Yusuf, seorang bernama Abdurrahman bin Muhammad al Asyat hendak menggalakkan gerakan perlawanan terhadap Bani Umayyah.
Maka dirinya mengirimkan surat kepada pemuka Bani Alawi saat itu : imam Ali Zainal Abidin bin Husein dan imam Hasan al Mutsanna bin Hasan
Read 22 tweets
16 Mar
Wanita Dunia Lebih Mulia Dari Bidadari Surga

Aku berkata (Ummu Salamah) : "Wahai Rasulullah ﷺ, manakah yang lebih mulia antar wanita dunia atau bidadari surga?
Rasulullah ﷺ menjawab : "Wanita dunia lebih utama daripada bidadari surga, seperti halnya keutamaannya bagian luar dari pakaian dibandingkan bagian dalam dari pakaian tersebut".
Aku berkata (Ummu Salamah) : "Dengan sebab apa wahai Rasulullahﷺ, wanita dunia lebih utama dibandingkan bidadari surga ?
Read 6 tweets
16 Mar
Ijin nambahin Gus ku🙏🏿😁

Rasulullah penyayang binatang termasuk anjing

Ketika Nabi saw sampai di Araj saat menuju Makkah, Nabi melihat anjing betina sedang menyusui anak-anaknya.
Nabi memerintahkan Jamil bin Suraqah untuk berdiri menjaga anjing dan anak-anaknya agar tidak diganggu oleh pasukan.

(Syekh Sholihi Asy-Syami, Subul Al-Huda wa Rasyad, 5/212)
Menyayangi Burung

Kami bersama Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dalam perjalanan, Nabi berangkat untuk keperluan beliau. Kami menemukan burung kecil dengan dua anaknya. Lalu kami ambil keduanya. Ternyata induk burung mengepak-epakkan kedua sayapnya.
Read 6 tweets
16 Mar
PERISTIWA PENTING DI BULAN SYA’BAN

Dalam kitab Ma Dza fi Sya’ban? karya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki
menyebutkan tiga peristiwa penting yang berimbas
pada kehidupan beragama seorang Muslim.
1. PERALIHAN KIBLAT

Peralihan kiblat dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram terjadi pada bulan Sya’ban.
Menurut Al-Qurthubi ketika menafsirkan Surat Al-Baqarah ayat 144
dalam kitab Al-Jami’ li Ahkāmil Qur’an dengan mengutip pendapat
Abu Hatim Al-Basti
Mengatakan bahwa Allah subhaanahu wata'aala memerintahkan
Nabi Muhammad shollallaahu 'alaihi wasalam untuk mengalihkan kiblat pada malam Selasa bulan Sya’ban
yang bertepatan dengan malam nisfu Sya’ban.
Read 15 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!

Follow Us on Twitter!