Tanpopo Profile picture
Jun 15, 2021 482 tweets >60 min read Read on X
"Desa Misterius di Pedalaman Kalimantan"
(Based on a True Story)
Penulis : benbela

#rewrite a thread from Kaskus SFTH
@bacahorror @IDN_Horor @ceritaht
#bacahorror #bacahoror #Horrorthread #horrorthread Image
Cerita ini merupakan rewrite dari salah satu kisah yg ada di SFTH Kaskus.
Sudah mendapat persetujuan dari Penulisnya sendiri 🙂
Bagi yg tidak sabaran, bisa langsung baca di link di bawah ini :
kask.us/iIrlK
Selamat Menikmati 😉
"Ada yang janggal di kampung ini. Penduduknya hanya beberapa orang saja. Itupun rata-rata berusia sudah tua. Wajah mereka sangat muram dengan pakaian yang lusuh.
Tubuh mereka kurus dan pucat, seperti orang yang terkena penyakit.
Tatapan mereka kosong tanpa pengharapan.."
"..seolah-olah ajal siap menjemput mereka kapan saja.

Istriku mencengkram erat pergelangan tanganku. Kami bergegas menuju tempat yang kami tuju.

Rumah-rumah penduduk yang terbuat dari kayu, rupanya banyak yang kosong tanpa penghuni. Seperti sengaja ditinggalkan.."
"..dalam keadaan terburu-buru. Banyak yang sudah lapuk tertutup tanaman merambat. Sebagian lagi sudah rata dengan tanah, tertutup rerumputan dan belukar.
Hanya ada anjing liar dengan tubuh kurus kering penuh lalat yang menghuni rumah-rumah tersebut"
"Dan yang lebih aneh lagi...

tidak terlihat satupun anak kecil di kampung ini"

***
2018.

Akhirnya, aku dan istriku menginjakan kaki di Kalimantan. Tanah harapan dan impian, setelah bertahun-tahun hidup dalam kemiskinan di tanah kelahiranku, di Gunung Kidul, Yogyakarta.

"Amplop ini serahkan dengan Pak Kasno ya. Dia akan mengurus segala keperluan di sana."
"Ingat.. enam bulan lagi prajabatan di provinsi.
Nanti akan ada surat pemanggilan. Kamu akan berangkat bersama-sama CPNS lainnya. Nanti akan dilepas langsung oleh Pak Bupati"

"Inggih pak, Terima kasih banyak. Akan saya sampaikan salam bapak buat Pak Kasno".
Aku kemudian menyimpan amplop dari lelaki setengah baya tersebut ke dalam tas punggung yang kubawa. Aku sisipkan diantara berkas-berkas lainnya, yang disatukan dalam wadah plastik khusus untuk menyimpan berkas.
Setelah keluar ruangan, beberapa orang lainnya kemudian masuk ke ruangan tersebut. Sama seperti diriku, mereka adalah CPNS yang akan ditugaskan ke sekolah masing-masing, sebelum nantinya secara resmi dikukuhkan sebagai abdi negara.
Aku kemudian segera pergi dari gedung dinas Pendidikan Barito Utara, menggunakan tukang ojek menuju penginapan dimana istriku telah menunggu.

***
Setiba di penginapan, aku segera bergegas menuju kamar kami yang ada di lantai dua. Istriku masih tertidur pulas setelah menempuh perjalanan darat selama 10 jam dari Banjarmasin.
Wajahnya teduh, khas wajah wanita Jawa yang hitam manis.
Sebenarnya aku ingin dia tinggal dulu bersama mertuaku di Jawa, menanti hingga aku resmi dilantik sebagai PNS. Namun ia bersikeras, takut aku kepincut gadis Dayak dan menghilang tanpa kabar katanya. Apalagi omongan tetangga yg mengatakan bahwa tanah Kalimantan penuh hal mistis.
.. dibumbui cerita tentang banyaknya orang Jawa yang tidak bisa pulang setelah menikah dengan orang Dayak, membuat istriku semakin memaksa untuk ikut.

Orang tuaku juga sempat melarang, takut peristiwa yang menimpa mas Tarno, tetangga kami, juga terjadi padaku.
Aku masih teringat peristiwa beberapa tahun lalu. Saat mas Tarno baru sampai di halaman rumah, ibunya langsung teriak histeris dan memeluknya dengan isakan tangis. Saudaranya yg lain juga berhamburan menyambut mas Tarno, karena mengira ia telah meninggal dunia di tanah perantauan
Sehari setelah kedatangannya, keluarga mas Tarno langsung mengadakan malam syukuran atas kepulangannya. Setelah Isya, Aku dan para tetangga lainnya turut hadir, sekaligus penasaran dengan cerita mas Tarno selama bekerja di Kalimantan.
Rumah orang tua mas Tarno yang kecil, penuh warga yang duduk berdesakan. Kami ingin mendengar langsung tentang pengalamannya selama di Kalimantan. Apalagi, baru sehari tiba di kampung halaman, sudah beredar kabar bahwa mas Tarno seharusnya sudah mati, tapi dihidupkan lagi..
.. oleh orang Dayak.

Aku dan Herman, sengaja memilih duduk agak dekat dengan mas Tarno. Siapa tahu, ada informasi menarik yang bisa kami dapatkan, misalnya informasi tentang lowongan pekerjaaan.

" Bim, kamu lihat gak? Di leher mas Tarno ada bekas luka tebasan..."
".. Pasti dia bikin ulah dengan orang Dayak" tanya Herman yang duduk di sampingku.
Aku yang sedari tadi sibuk mainan Hp, segera mengalihkan perhatian dan memandang bagian leher mas Tarno. Benar juga, di bagian lehernya terdapat bekas luka memanjang.
"Sstt... Jangan keras-keras, nanti didengar mas Tarno atau keluarganya ga enak.." kataku sambil berbisik pada Herman.

Mas Tarno memang dikenal sebagai pemuda yang pemberani di kampungku. Meski tidak pernah bersikap sok preman, namun ia tak takut untuk menghajar..
.. apabila ada pemuda atau warga yang berlagak sok jagoan. Ditambah lagi, ia salah seorang pelatih silat sebuah perguruan yang berasal dari Madiun, sehingga ia memiliki banyak murid yang siap membantunya bila terlibat perkelahian.
Bahkan, banyak murid perguruannya yang berasal dari beberapa kampung sebelah, sehingga namanya semakin disegani.

Usai Pak Ustad membacakan doa, giliran Pak Kades memberikan sambutan.
Kemudian, tibalah giliran mas Tarno diminta menceritakan tentang pengalamannya selama di Kalimantan.

" Kalian lihat luka bekas tebasan di leher saya ini? Leher saya hampir putus ditebas orang Dayak. Waktu itu saya kira saya akan mati di tanah perantauan, di tengah hutan."
".. Tapi Alhamdulillah, Allah masih mengijinkan saya hidup sampai sekarang".

Wargapun tiba-tiba hening saat mas Tarno memulai ceritanya, terhanyut akan suasana.

" Suatu ketika, saya memeriksa kebun karet milik perusahaan tempat saya bekerja."
"Biasanya tugas seperti itu kami lakukan 2 hingga 3 orang. Namun entah kenapa, 2 orang teman saya tidak bisa datang sehingga saya nekat berangkat sendirian. Untuk jaga-jaga, aku membawa mandau, senjatanya orang Dayak. "
" Nah... Saat sudah di kebun yang berada di tengah hutan, saya bertemu dengan seorang warga lokal. Sepertinya waktu itu dia sedang berburu, sebab dia tidak hanya membawa mandau, tapi juga sumpit dan memakai tas punggung terbuat dari anyaman rotan."
Mas Tarno lalu menyeruput kopi dan menghisap rokok, kemudian melanjutkan ceritanya.

" Waktu itu kami saling bertatap mata. Mungkin karena merasa jumawa, aku tidak takut sedikitpun saat itu. Toh aku sudah sering berkelahi juga di kampung halaman,.."
"..satu orang Dayak bukanlah masalah pikirku. Hanya saja, aku terbiasa berkelahi tangan kosong, tidak pernah berniat untuk mencabut nyawa orang"

Mas Tarno kemudian menghela nafas, mengumpulkan serpihan-serpihan memori yang bisa diingatnya tentang peristiwa tersebut.
"Yang aku tidak sangka, kalau orang Dayak berkelahi maka niatnya sudah pasti ingin membunuh. Bukan hanya sekedar menghajar agar musuhnya jera."

"Mungkin saja, waktu itu dia ingin menjajal kemampuanku, sebab sepertinya dia tahu kalau aku bawa bekal ke Kalimantan.."
"..Saat sudah hampir berpapasan, tiba-tiba saja mandaunya sudah menebas leherku. Aku yang tidak siap dapat serangan tiba-tiba, langsung saja kabur ke arah sungai"

"Aku ingat sekali, baju yang kupakai sudah bermandikan darah.."
"..Orang Dayak itu tidak mengejar, tapi mengarahkan sumpitnya. Beruntunglah, belum sempat ia meniup sumpitnya aku sudah terjun ke sungai Barito"

"Setelah terbawa arus, Aku lalu diselamatkan warga yang menjala ikan. Aku kemudian dibawa ke kampung dan diobati oleh tetua adat.."
".. orang Dayak menyebutnya mantir. Leherku yang luka diolesi minyak yang disebut minyak bintang. Kata Pak Mantir, kalau malam ini terlihat bintang, maka aku masih bisa selamat. Tapi kalau tidak ada bintang, maka aku akan meninggal.."
"..Alhamdulillah, malam itu ada bintang terlihat, sehingga aku masih selamat. Sepertinya Allah masih ingin aku panjang umur. Kalau tidak, mungkin aku sudah meninggal di tanah orang"

" Wah...pasti mas Tarno menggoda istri orang, makanya ditebas orang Dayak" celetuk Pak Kades..
sehingga semua yang hadir tertawa.

"Itu gimana rasanya mas, waktu dikasih minyak bintang. Apa urat-uratnya nyambung lagi atau gimana? " Tanya salah seorang warga yang penasaran
"Waktu itu saya sudah gak sadar lagi mas, antara hidup dan mati. Saya hanya pasrah. Saya ditaroh di luar rumah biar terkena cahaya bintang.
Rasanya sakit sekali saat urat-urat leher dan daging saya kembali menyambung. Kretek...kretek...kretek...bunyi yang saya dengar saat .."
"..urat-urat leher saya kembali menyatu"

"Wah...benar juga ya, orang Dayak itu sakti...yang katanya bisa jalan di atas air, atau mandau terbang itu benar gak mas?" Tanya Pak Kades lagi.

"Kalau itu saya gak pernah ketemu Pak. Sebenarnya orang Dayak ya sama seperti kita juga.."
".. Asal ga diganggu, mereka juga gak akan ganggu kita"

"Yang penting, kita berprilaku sopan di kampung orang. Gak usah petantang petenteng, nanti kayak saya. Merasa jagoan, merasa punya ilmu, malah hampir mati di tanah orang. Hahaha..."
Melihat mas Tarno tertawa, warga lain pun otomatis ikut tertawa. Setelah mulai reda, aku memberanikan diri untuk bertanya.

" Nuwun sewu mas Tarno...jenengan kan udah 14 tahun gak pulang kampung. Itu kenapa mas? Apa benar mas Tarno dipelet orang Dayak?"
Mas Tarno kemudian menoleh kearahku. Jujur, saat itu aku kaget, takut dia marah atau tersinggung. Tapi kemudian senyum mengembang di wajahnya, sehingga akupun kembali tenang.

"Maaf nggih, adek ini sinten ya? Maklum...saya sudah lama gak pulang kampung.."
".. Jadi agak lupa sama tetangga"

"Saya Bimo mas...anaknya Pak Supri" ujarku sambil menunjuk dengan jempol ke arah ayahku yang duduk beberapa jarak di samping Pak Kades.
Ayahku lalu mengangguk kepada mas Tarno.
"Owalah...si Bimo,udah gede toh le..dulu masih SD, sekarang udah besar. Sebentar lagi punya istri, atau malah sudah punya anak, hehehe..."

"Belum mas... Baru lulus kuliah. Sekarang masih cari kerja yang layak"

"Iya...iya.. " mas Tarno tampak mengangguk angguk.
"Sebenarnya,setelah setahun pertama di Kalimantan saya sudah berniat pulang"

Mas Tarno lalu menghentikan kalimatnya, kembali menyalakan rokok lalu menyeruput kopi. Warga kembali hening, antusias mendengar cerita mas Tarno.
"Apalagi, baru beberapa bulan di Kalimantan saya sudah hampir kehilangan nyawa. Saya takut jika saya diserang lagi. Tapi Alhamdulillah, setelah itu saya gak pernah punya masalah lagi di Kalimantan"

"Namun anehnya, setiap kali saya ingin pulang, tiba-tiba saja saya sakit.."
"..Entah demam, entah terluka saat bekerja, yang mengharuskan saya harus dirawat beberapa hari di klinik perusahaan "

"Saya bahkan beberapa kali sudah tiba di pelabuhan Trisakti Banjarmasin. Hanya tinggal menaiki tangga kapal.."
".. saya tiba-tiba tanpa sadar langsung kembali ke daerah pedalaman Barito. Begitu sadar, saya sudah berada di mess karyawan. Begitu pula saat tiba di bandara, saya pasti kembali tanpa sadar ke mess perusahaan"
Warga kembali hening. Terdiam. Seakan takut peristiwa yang dialami mas Tarno juga menimpa mereka atau keluarga mereka yang di Kalimantan.

"Kenapa gak pernah kirim kabar mas? Kan ada Hp atau Facebook?" Tanya salah seorang warga.
"Itulah masalahnya mas. Tempat saya bekerja tidak ada sinyal. Sinyal hanya ada di kecamatan. Jaraknya lumayan jauh. Sekitar 2 jam. Begitu sampai kecamatan, saya selalu lupa menghubungi keluarga. Sepertinya ada yang sengaja menghalangi saya kasih kabar buat keluarga di kampung"
"Terus...akhirnya bisa pulang kampung itu bagaimana ceritanya mas? " Tanya Pak Kades lagi.

"Kata kawan saya yang orang Dayak, saya kemungkinan kena palarangan. Guna-guna orang Dayak. Saya lalu berobat ke orang pintar, juga beberapa ustad di Martapura. Tapi gak juga berhasil."
"..Saya baru terbebas setelah dimandikan oleh orang Dayak Maanyan. Kata beliau, saya kepuhunan"

"Kepuhunan...? Apa itu mas? " Aku kembali bertanya penuh penasaran.
***
"Sudah selesai mas?" Pertanyaan istriku membuyarkan segala ingatanku tentang mas Tarno.

"Alhamdulillah... Sudah selesai. Tinggal berangkat aja ke tempat tugas"

Aku meletakan tas punggungku di sebelah lemari, lalu berganti baju dengan T-shirt.
" kira-kira kapan mas kita berangkat?"

"Nanti subuh, jam 2."

"Hah...!?" Istriku kaget mendengar jawabanku barusan.

"Kenapa gak besok pagi aja mas? Atau siang sekalian? "

"Kata tukang ojek tadi, desa tempatku bertugas cukup terpencil. Hanya bisa ditempuh lewat jalur sungai."
Perahu motor yang menuju ke sana hanya ada di ibu kota kecamatan, dan mereka adanya cuman pagi. Kalau tidak, kita terpaksa menunggu sehari lagi. Jadi, kita harus sudah ada di ibu kota kecamatan saat pagi. Makanya kita harus berangkat subuh.."
"..sebab ibu kota kecamatan lumayan jauh dari sini. Sekitar dua jam."

Istriku menghela nafas, terlihat agak kesal. Rupanya rasa lelahnya masih belum hilang. Namun apa boleh buat, inilah resiko yang harus kami tempuh bila ingin memperbaiki nasib.
Aku mendekati istriku yang duduk di pinggir ranjang, mengelus rambutnya lalu mencium keningnya.

"Kita cari makan aja yuk..aku lapar."

Istriku tersenyum mendengar ajakanku.

"Yuk mas...aku juga lapar. Sekalian ingin merasakan kuliner kalimantan.."
"..Tunggu sebentar ya, aku pasang jilbab dulu."
"Aku tunggu di depan penginapan ya. Sekalian mau ngerokok."
"Iya..."

Aku sengaja memilih menunggu di depan penginapan, karena istriku untuk urusan memakai jilbab saja bisa hampir satu jam.
Aku duduk di salah satu kursi panjang yang ada di depan penginapan. Menikmati rokok dan kopi dingin botolan yang di jual di lemari pendingin.

Di depanku, membentang sungai Barito yang begitu megah. Sungai-sungai di Jawa seolah tidak ada artinya dibandingkan lebarnya sungai ini.
Saya perkirakan, lebarnya 5 kali lapangan sepak bola. Mungkin juga lebih.
Kapal-kapal tongkang pengangkut batu bara, perahu dan speed boat terlihat lalu lalang.
Di pinggirnya, trdapat taman yang luas yang tertata rapi, sehingga membuat pemandangan dari tepian Barito sungguh indah
Mungkin karena masih siang dan cuaca sedang terik, tidak ada seorangpun di situ.

Jujur, aku malu pada diriku sendiri.
Ternyata Kalimantan tidak semengerikan yang kubayangkan. Dulu, Kalimantan yang kubayangkan hanyalah hutan, daerah tertinggal, dan hal-hal mistis.
Kini aku sadar, berbagai stereotip tentang Kalimantan hanya kudapatkan dari televisi, koran maupun internet.

Berbagai informasi tersebut ternyata juga mempengaruhi orang tuaku dan mertuaku. Terutama ibuku.
Aku ingat beberapa minggu lalu dia bersikeras agar membatalkan niatku untuk bekerja di Kalimantan, setelah aku dinyatakan lolos tes CPNS.

Sore itu, hanya ada aku, ibu dan ayah di rumah. Sementara istriku sedang memberi les tambahan kepada beberapa anak tetangga yang cukup kaya.
Dua orang adikku, Bagus dan Irma, sudah kebiasaan mereka kalau sore hari bermain entah dimana, & baru pulang menjelang magrib.

"Le...Apa gak bisa dibatalkan saja. Ibu khawatir. Nanti kamu seperti mas Tarno. Ga pulang bertahun-tahun. Bahkan saat ayahnya meninggal dia gak datang
Suara ibu parau, jelas sekali kalau dia cemas tentang nasibku dan istri bila nekat merantau ke Kalimantan. Cerita dari mas Tarno beberapa tahun lalu rupanya masih menghantui pikiran ibu.
"Gapapa Bu, cuman ini kesempatan saya memperbaiki nasib. Ibu tahu sendiri kan berapa gaji guru honorer. Itupun kadang telat. Ngasih les tambahan juga gak cukup. Saya tidak mungkin terus bergantung pada ayah dan ibu. Apalagi saya sekarang sudah punya istri."
Aku berusaha menjelaskan sebisanya pada ibuku, berharap dia memberikan restunya tentang keinginanku untuk merantau.

Ibu menoleh pada ayah, meminta dukungan.
Ayah yang sedari tadi hanya mendengarkan perbincangan kami, akhirnya mulai bicara.

"Bimo sudah dewasa bu, sudah beristri.
".. Apalagi dia laki-laki, dia kepala keluarga. Kita sebagai orang tua sudah tidak berhak ikut campur urusannya. Siapa tahu, setelah di Kalimantan hidupnya berubah. Mungkin saja, rezekinya di seberang pulau." ujar ayahku panjang lebar.
Mendengar perkataan ayah, ibuku langsung merengut. "Huh... Dasar, ayah dan anak sama saja. Ini pasti gara-gara si Sri, menantu kesayanganmu. Sejak dia ada di rumah, kalian selalu menentang aku"

"Ibu..! Istriku gak ada sangkut pautnya dengan keinginanku."
Suaraku langsung meninggi mendengar ibu yang selalu berusaha menyalahkan istriku.

"Mas...kok melamun?" tepukan istriku di pundak membuat aku tersadar dari lamunan.

"Tadi habis video call sama Simbok juga Bapak. Kalau ayah lagi di luar. Sedangkan ibu, seperti biasa, cerewet.
"..Makanya lama baru keluar kamar."

Simbok dan Bapak adalah panggilan istriku untuk orang tuanya. Sedangkan ayah dan ibu adalah panggilannya untuk orang tuaku, mengikuti kebiasaanku.

***
Aku dan istriku berjalan-jalan di sekitar penginapan untuk memilih salah satu warung makan yang kira-kira cocok dengan selera kami. Sepanjang jalan, istriku bercerita bahwa betapa cerewetnya ibuku yang meminta istriku untuk selalu memperhatikanku.
Mengingatkanku untuk makan dan sebagainya. Ibuku memang kadang berlebihan dalam mengurusku. Sudah beristripun, dia masih saja ikut campur urusanku. Sejak kecil, perhatian ibu memang selalu lebih besar kepadaku dibanding kedua adikku.
Setelah berjalan hampir 100 meter, akhirnya pilihan kami jatuh pada salah satu rumah makan yang agak ramai pengunjung. Kami berdua sama-sama memilih lauk ikan sungai. Aku memilih ikan Lais bakar sedangkan istriku memilih ikan Baung bakar.
Untuk sayur, kami mencoba merasakan rotan rebus dan juga kulit cempedak gorek, dengan sambal daging durian goreng yang disebut Tampuyak.

Istriku kembali bercerita betapa senangnya bisa terbebas dari mertua cerewet seperti ibuku. Aku hanya mendengarkan segala curhatnya,
dan sesekali menasehati bila sudah berlebihan.

Beberapa saat kemudian, dua orang pelayan mengantarkan pesanan kami. Ikan bakarnya memang enak,tapi untuk sayur rasanya masih asing dengan lidah kami. Demikian juga sambalnya. Untung saja, di meja juga tersedia sambal biasa.
"Tadi aku sudah ketemu dengan orang yang bisa mengantarkan kita ke ibu kota kecamatan. Saudaranya tukang ojek yang antar jemput saya ke Dinas Pendidikan tadi pagi. Nanti, kita akan dijemput di penginapan jam 2 subuh."

"Ongkosnya berapa mas?" tanya istriku.
"Lumayan mahal. Tapi mau gimana lagi, kita gak ada pilihan lain"

Usai dari warung makan, aku dan istri jalan-jalan sebentar di sekitar penginapan, menikmati pemandangan di tepian sungai Barito. Istriku mengajakku berhenti di salah satu toko yang menjual cinderamata khas Dayak.
Istriku membeli dua gelang yang terbuat dari anyaman rotan, serta beberapa gantungan kunci model perisai dan mandau, lalu kami kembali ke penginapan.

***
Pukul setengah 2 malam, aku terbangun dari tidur. Dari tadi tidurku memang tak nyenyak. Aku gelisah memikirkan tentang perjalanan nanti ke tempat tugas. Ada rasa bahagia juga bercampur keraguan.
Bahagia karena masa depanku cerah, dalam 6 bulan kedepan aku akan resmi dinyatakan sebagai PNS. Namun juga ragu, karena tempatku bertugas sebagai guru berada jauh di pelosok Kalimantan yang terisolir dan jauh dari peradaban.
Aku tidak mengenal siapa-siapa, juga adat istiadatnya. Bahkan, warga lokal saja tidak berminat mengisi formasi CPNS di tempat itu.

Kutatap wajah istriku yang tertidur pulas di sampingku. Salah satu alasannya memaksa ikut, karena tidak betah dengan sikap ibuku.
Entah kenapa, ibuku selalu berusaha mencari-cari kesalahan istriku. Apalagi setelah lebih dari 3 tahun menikah, kami belum diberikan momongan. Lengkaplah kalimat tidak enak yang keluar dari mulut ibu kepada istriku.
"Mas...kalau aku tinggal di tempat orang tuaku selama mas di Kalimantan, nanti omongan ibu semakin macam-macam. Nanti dibilangin istri tidak taat suami. Aku capek mas dengar celotehan ibu." ucap istriku beberapa waktu lalu, sewaktu kami belum berangkat ke Kalimantan.
Aku membuka jendela agar angin segar masuk ke dalam kamar. AC yang tidak menyala sempurna membuat kamar terasa cukup pengap.

Membuang kejenuhan, aku menyulut rokok dan menyalakan televisi. Baru seperempat batang, panggilan telpon di whatsapp ku berbunyi.
Tertera nama Junai, sopir yang akan mengantarkan kami ke Ibu Kota Kecamatan.

" Mas Bimo...ini Junai mas, sopir yang tadi siang ketemu. Saya udah di depan penginapan. Gimana ? Udah siap?"
"Oh iya mas...sebentar ya, kami siap-siap dulu. Tunggu aja di depan. Sebentar lagi kami turun."

Setelah mematikan sambungan telpon aku membangunkan istriku. Setengah sadar, dia mengucek-ngucek matanya sambil menguap.
Istriku menanyakan ulang apa yang aku ucapkan, setelah mendengar jawaban ia segera bangun dan menuju kamar mandi untuk cuci muka.

Keluar dari kamar mandi, istriku lalu mengenakan jilbabnya. Dia lalu memasukan peralatan mandi yang dibungkus kresek hitam ke dalam tas punggungnya.
Setelah itu, dia memasukan beberapa snack untuk bekal perjalanan ke dalam tas kresek hitam. Snack itu terdiri dari dua botol aqua ukuran sedang, beberapa roti basah dan kering, kacang telur dan taro, serta beberapa biji telur asin kegemaranku.
Selesai berkemas, kami kemudian segera menuruni tangga penginapan. Masing-masing dari kami membawa satu tas punggung dan satu koper besar berisi pakaian.

Setelah selesai urusan check out di resepsionis, kami berdua segera keluar penginapan.
Di depan penginapan telah terparkir mobil Hilux double cabin. Di bagian bak, penuh muatan yang ditutup terpal berwarna biru.

Melihat kami berdua keluar dari pintu penginapan, Bang Junai langsung menyambut kami dengan senyuman.
Beberapa meter di belakangnya, berdiri seorang pria yang wajahnya seperti ku kenal. Sambil menghisap rokoknya, pria itu menatapku penuh selidik, lalu mendekat.

" Loh...mas Tarno !? " tanyaku kaget.
Tanpa kusadari, perjumpaan dengan mas Tarno adalah awal dari petaka yang segera menimpaku dan istri di tanah Kalimantan.

***
-Perjalanan di Tengah Belantara-

"Owalah...Kalian kok bisa nyasar ke Kalimantan sih?" mas Tarno juga tak kalah kaget begitu mengetahui bahwa orang yang dari ditunggunya adalah aku dan istri.

"Loh...kalian kok saling kenal?" Bang Junai mengernyitkan dahinya pada mas Tarno.
"Mereka ini tetanggaku satu kampung." ujar mas Tarno sembari menyurungkan tangan padaku dan istri bergantian.

"Ini istrimu Bim ? Wah cantik ternyata. Namamu siapa nduk?" mas Tarno bertanya pada istriku.
"Sriatun mas... Dulu satu kampus sama mas Bimo. Cuman beda jurusan." Istriku memperkenalkan diri sambil tersenyum, berusaha untuk ramah.

Mas Tarno memang tak mengenal istriku, karena pada saat pernikahan kami dia telah pergi entah kemana bersama anak dan istrinya.
Setahun kepulangannya, mas Tarno menikah dengan mbak Ajeng, masih satu kampung dengan kami. Seingatku, mereka hanya pulang setahun sekali saat lebaran.

"Asal darimana ?"

"Magelang mas. Kaliangkrik." Jawab istriku.

"Oh iya..iya.. yaudah masukin barang kalian ke dalam mobil.."
Perjalanan kita masih panjang. Nanti masalah ongkos gampanglah...bisa di diskon. Iyakan Jun?" mas Tarno menoleh pada Bang Junai, meminta penegasan.

"Gampang lah, bisa diatur." Ujar bang Junai.

Mereka lalu membantu kami memasukan barang bawaan kami ke dalam mobil.
Aku dan istri duduk di kursi belakang. Bang Junai bertindak sebagi sopir, sedangkan mas Tarno bertugas sebagai kernet.

Ada perasaan tenang dan bahagia, bertemu orang satu kampung di tanah perantauan.
Perasaan yang tidak bisa dilukiskan, hanya orang-orang yang merantau yang bisa merasakannya.

Perlahan, mobil kami dengan bak belakang penuh muatan bergerak kearah luar kota.

Di samping jok kiri kanan mobil bagian depan, terselip masing-masing satu buah Mandau.
Bagian gagangnya yang berhiaskan rambut, terlihat jelas olehku yang duduk di jok belakang.
Selain itu, juga ada sebuah senapan angin kaliber besar, cukup untuk membunuh seekor babi hutan.

"Buat jaga-jaga, soalnya kita lewat hutan." ucap Bang Junai,
seolah tahu pertanyaan di kepalaku.

"Kalian kok bisa nyasar ke Kalimantan ini gimana ceritanya?" tanya mas Tarno.

Aku lalu menceritakan awal mula perjalananku dan istri hingga sampai ke sini.
Berawal dari ikut tes CPNS akhir tahun lalu di Palangkaraya, ketidak setujuan ibuku, hingga akhirnya tiba di sini.

Kulihat istriku sudah tertidur. Kepalanya menyender pada jendela, sedangkan jaketnya dia jadikan selimut.

"Mbak Ajeng dan anak-anak juga di sini mas?"
"Iya Bim...kami masih tinggal di kontrakan. Kapan-kapan kalian main lah. Sesama satu kampung harus sering-sering silaturrahmi"

Malam semakin sepi, tidak ada satu kendaraan yang lewat. Obrolan semakin panjang, sesekali bang Junai juga ikut terlibat.
Mobil kami mulai memasuki jembatan sungai Barito. Di plank jembatan bagian atas, tertulis ucapan Selamat Jalan dari Kota Muara Teweh.

"Setelah menikah, aku sempat buka warung bakso di Sleman. Namun tidak sampai setahun sudah bangkrut.
Setelah itu aku merantau Surabaya dan Bandung, lalu kembali lagi ke sini. Istri dan anak-anakku juga kuboyong sekalian."

Mas Tarno lantas mulai menceritakan perjalanan hidupnya, sejak awal mula ia merantau hingga kembali lagi ke tanah perantauan.
Ternyata Bang Junai adalah kawannya ketika masih bekerja di perusahaan dulu. Bang Junai lah orang yang dulu mendadak sakit, sewaktu mereka ditugaskan untuk memeriksa kebun karet milik perusahaan.
Setelah berhenti dari pekerjaannya, Bang Junai membeli mobil dengan uang pesangon yang ia dapat dari perusahaan. Mobil itu ia gunakan untuk membuka usaha jasa antar angkut muatan ke daerah pedalaman.
Muatannya sebagian besar sembako, kadang juga BBM, sesekali ia juga membawa penumpang. Pelanggannya adalah para pedagang besar di pedalaman, namun lebih sering mengangkut pesanan perusahaan.
"Beginilah hidup Bim, kadang di atas kadang di bawah. Kalau Junai gak ngasih aku pekerjaan jadi kernetnya, keluargaku mungkin mati keparan."

"Hussh...kamu ini ngomong sembarangan. Pamali..!" Ujar Bang Junai. Mas Tarno hanya tertawa mendengar ucapan sahabatnya itu.
Setelah melewati jembatan, mobil terus melaju melewati jalan beraspal yang naik turun dan berkelok-kelok. Rumah-rumah penduduk segera berganti dengan tanaman pohon sawit di kiri-kanan jalan. Image
Tikungan yang mendadak serta jalan yang tiba-tiba menanjak dan tiba-tiba menurun, membuat kepalaku pusing. Padahal, selama di Jawa aku tak pernah mabuk darat. Daripada muntah, aku pamit untuk tidur pada mas Tarno dan Bang Junai.
Jalanan beraspal berganti dengan tanah merah yang dilapisi kerikil. Pohon-pohon sawit di kiri kanan jalan sudah berganti dengan hutan belantara. Aku yang sudah tidak kuat lagi menahan kantuk lalu tertidur bersender pada jendela mobil.

***
Hentakan demi hentakan pada mobil, membuat aku terbangun dari tidur. Disebelahku, istriku masih terlelap berjaketkan selimut. Di bagian depan, Mas Tarno dan Bang Junai asyik mengobrol dalam bahasa Dayak. Aku kagum dengan mas Tarno,ternyata ia sudah menyatu dengan budaya setempat
Karena pusingku belum hilang, aku masih menyender pada jendela mobil. Kuperhatikan pemandangan melalui jendela, hanya ada pohon-pohon besar yang terlihat seperti bayangan yang menakutkan karena langit masih gelap.
Akar-akar yang menggantung di pepohonan seperti tangan-tangan panjang yang melambai-lambai kearah kami.
Sedangkan belukar yang lebat di bagian bawah, bila terkena lampu mobil bagaikan sekelompok mahluk mirip manusia dengan posisi sedang jongkok namun dengan tubuh pucat,..
,yang antusias memperhatikan mobil kami yang lewat di depan mereka.

Aku mencoba kembali memejamkan mata untuk menghilangkan pikiran-pikiran yang hanya membuatku takut. Namun sekilas, aku melihat cahaya di antara pepohonan yang terbang seperti nyala bola api.
Hanya sekejap, cahaya itu kemudian menghilang dibalik pepohonan.

"Ahh... Palingan hanya bintang jatuh atau meteor." batinku. Mobil terus melaju di tengah belantara hutan. Tiba-tiba berbelok saat menurun, lalu tiba-tiba menanjak lagi membuat aku malah semakin susah tidur.
Dan tiba-tiba saja, hanya beberapa meter di belakang kami, cahaya itu menyebrang menuju hutan di sebelah jalan. Jelas sekali itu bukanlah meteor atau bintang jatuh, tapi bola api.

Selama beberapa detik, aku hanya duduk mematung. Tidak percaya dengan yang baru kulihat.
Sakit kepalaku rasanya tiba-tiba saja hilang karena kekagetanku.

Mas Tarno dan Bang Junai masih asyik mengobrol dan sesekali tertawa. Aku menarik nafas dalam-dalam, mencoba menenangkan pikiran.
Setelah detak jantungku mulai teratur, aku berusaha memberitahu mas Tarno dan Bang Junai tentang yang kulihat barusan.

Namun belum sempat mengucapkan kata, bola api tadi kembali muncul di antara pepohonan. Bola api itu terbang seolah sengaja mengikuti mobil kami.
Bodohnya aku, tubuhku lagi-lagi tidak bisa bergerak. Mulutku tiba-tiba terkunci. Jantungku berdegub semakin kencang. Aku berusaha untuk memberitahu mas Tarno dan Bang Junai, tapi tak ada satu katapun yang keluar. Ternyata ketakutanku lebih besar daripada nyaliku.
Bola api itu semakin mendekat ke arah kami, dan kini hanya beberapa meter dari jendela mobil. Bukan, itu bukanlah bola api. Tapi itu adalah kepala manusia. Iya..jelas sekali itu adalah kepala manusia dengan isi perutnya.
Nyala api tadi ternyata berasal dari jantungnya. Rambutnya terlihat acak-acakan dengan wajah yang tidak kalah menyeramkan. Matanya menatap tajam ke arahku.
Dua taring menyembul di celah bibirnya. Dan di mulutnya...
"Astagfirullahullazzim..." Aku hanya bisa berdoa dalam hati. Di mulutnya ternyata ada seorang bayi. Taring-taringnya yang tajam menancap di perut bayi malang yang sudah tak bernyawa itu, darah segar menetes dari perutnya.
Aku membaca ayat kursi dalam hati, namun bacaanku malah amburadul. Mahluk itu kemudian menyeringai, seperti sengaja memamerkan bayi tak berdosa yang di mulutnya, lalu kembali melesat ke dalam hutan.

Aku bernafas lega. Mahluk itu menghilang di balik gelapnya malam.
Tubuhku kembali bisa digerakkan, meski degub jantungku belum normal. Meski AC mobil sangat dingin, namun tubuhku justru bermandikan keringat.

Aku lalu mencoba memberitahu mas Tarno tentang apa yang kulihat barusan.
Namun, belum sempat aku mengucapkan sesuatu, tiba-tiba...

....Braakk....

Ada benturan keras diatas atap mobil. Istriku terbangun dan langsung menjerit.

"Allahu akbar...!" Istriku berteriak.
"Allahu akbar...allahu akbar..!"
Mobil kami oleng kearah jurang di sisi kiri jalan. Suara ban berdecit karena gesekan rem. Di sampingku, istriku terus mengucapkan takbir sambil menjerit ketakutan.

Benturan tadi membuat mobil kami oleng ke kiri dan ke kanan.
Jalan tanah yang berlapis pasir dan kerikil membuat mobil semakin tidak bisa dikendalikan.

Istriku terus menjerit histeris sambil menangis. Aku berusaha menjangkau istriku, namun laju mobil yang liar membuat aku terpaksa berpegangan dengan apa saja yang bisa kugapai.
Bang Junai berusaha mengendalikan laju mobil. Namun sia-sia, mobil kami telah keluar dari badan jalan dan meluncur kearah jurang.

Aku pasrah, ajal kami telah tiba.

....Braaakkkk....
Kembali terdengar suara benturan, tapi kali ini suaranya berasal dari samping kiri. Mobil seketika berhenti, raungan suara mesin menggema di tengah kegelapan.

Kami semua terdiam, bungkam di kursi masing-masing.
Tubuhku kembali kaku tidak bisa digerakan, tangganku bergetar tanpa terkendali.

Suara nafas yang memburu terdengar di sampingku. Kuperhatikan, istriku menggigit bibirnya. Air mata mengalir di kiri kanan batang hidungnya.
"Semua keluar..." suara Bang Junai kembali menyadarkan kami. Akupun sudah mulai menguasai keadaan. Tanganku yang masih bergetar meraih gagang pintu mobil yang dingin. Kami semua keluar dari pintu sisi kanan.
Setelah menginjakan kaki di tanah, kubantu istriku keluar dari mobil secara perlahan. Begitu kedua kakinya sudah berada di atas tanah, tubuhnya langsung lemas. Segera kuraih badannya agar tidak jatuh, mas Tarno juga sigap membantu.
Kami papah tubuhnya beberapa meter agak menjauh dari mobil, dan mendudukannya dia atas tanah yang ditumbuhi rerumputan.

"Kalian tidak apa-apa?" Bang Junai bertanya sambil menyodorkan satu botol air mineral. Air itu lalu kuminumkan pada istriku yang masih shock.
"Tidak apa-apa bang, hanya sedikit shock." Ujarku dengan nafas tersengal-sengal.

Headlamp terpasang di kepala Bang Junai, cahayanya yang terang menembus pekatnya kabut belantara.
Satu headlamp diserahkan pada Mas Tarno yang sudah berdiri di sampingku,
,satu buah senter ia serahkan padaku.

"Kalian tenangkan diri saja, kami mau memeriksa mobil dulu." Ucap masTarno, lalu mereka berdua mulai memeriksa keadaan mobil. Mesin mobil dimatikan, hanya lampu depan dan belakang yang terus menyala.
Istriku merangkul erat pinggangku. Ia terus menangis tanpa suara. Sesekali, tubuhnya bergoncang karena sesenggukan. Aku mencoba menangkannya, mengelus-mengelus bagian belakang kepalanya yang tertutup jilbab.
Langit masih gelap, hanya ada cahaya bintang yang bertebaran. Disini, di jalan yang berada di tengah belantara, kami terdampar jauh dari peradaban manusia. Angin bertiup dari arah hutan, menggerakan dedaunan dan juga belukar.
Di padang gelap seperti ini, pepohonan bisa terlihat seperti sosok hitam yang mengerikan.

Suara jangkrik bersahutan, diiringi suara burung hantu dan binatang malam lainnya. Bayangan setan kepala dengan bayi di mulutnya tadi, membuat bulu kudukku merinding.
Aku berusaha menghilangkan pikiran-pikiran yg membuatku takut. Namun, semakin coba dihilangkan justru pikiran itu terasa semakin menjadi-jadi.

Aku menyalakan rokok, mencoba menghilangkan rasa takut, skaligus menenangkan diri atas kecelakaan yang hampir saja merenggut nyawa kami.
Udara terasa dingin, namun aku dan istri justru bermandikan keringat. Keringat juga membasahi tubuh mas Tarno dan Bang Junai yang tengah mengotak-atik mobil.

...brum...brum...

Suara mesin mobil kembali menyala, meraung-raung di tengah belantara.
"Bimo...!" Mas Tarno memanggil namaku, melambaikan tangan, memberi kode agar kami segera mendekat.
Aku dan istri lalu berdiri dan melangkahkan kaki ke arah Mas Tarno dan Bang Junai.
"Mobil aman. Hanya penyok sedikit di sebelah kiri. Kamu bantu Tarno mendorong mobil ya, agar bisa kembali ke badan jalan." Pinta Bang Junai.

Aku mematikan rokok dengan menginjaknya di tanah, dan menyerahkan senter pada istriku.
Aku segera bergeser ke samping mas Tarno di belakang mobil. Sedangkan Bang Junai sudah duduk di kursi sopir.

Istriku berdiri satu meter di belakang kami, membantu memberi cahaya kepadaku dan mas Tarno dengan senter yang dipegangnya.
Cahaya senter dari istriku mengenai sebuah pohon yang ada di samping mobil. Rupanya, mobil kami tertahan oleh pohon sawit yang besar. Suara keras di bagian samping tadi adalah suara benturan badan mobil dengan pohon sawit ini.
Beberapa langkah di sampingnya menganga jurang yang sangat besar. Karena hari masih gelap, dasar jurang itupun tidak terlihat.

"Untung saja ada pohon sawit ini, kalau tidak, entah bagaimana nasib kita." ujar Mas Tarno.
Bulu-bulu di tangan dan tengkukku langsung merinding, membayangkan betapa ngerinya kalau saja mobil kami tadi tidak terhalang pohon sawit. Mobil kami pasti sudah jatuh berguling-guling kedalam jurang di tengah hutan.
Kalau itu terjadi, bisa saja tidak ada seorangpun yang menyadari tentang peristiwa kecelakaan kami.

"Untung saja, kita tidak kepuhunan." lanjut mas Tarno. Walau tidak mengerti yang dikatakannya, aku mengangguk tanda setuju.

"Iya mas." balasku.
Mendengar aba-aba dari Bang Junai, aku dan mas Tarno mengerahkan seluruh tenaga untuk mendorong mobil. Suara mesin terus meraung-raung, dan ban mobil berputar sangat cepat. Tapi, mobil tetap saja tidak mau bergeser dari tempatnya.
Sudah hampir 20 menit, namun usaha kami tetap sia-sia. Istriku juga turut membantu, tapi tetap percuma. Tenaga kami sudah hampir habis, keringat terus keluar, namun mobil tetap tidak bergerak barang satu senti.
Padahal, lubang yang menenggelamkan ban belakang sebelah kanan, tidak begitu dalam. Tidak lebih dari seperempat ban.

"Istirahat sebentar ! "ucap Mas Tarno sambil berteriak kepada Bang Junai.
Istriku menyerahkan sebotol air mineral yang diletakkan di tanah dekat mobil kepada mas Tarno. Mas Tarno langsung menenggak air itu hingga tumpah-tumpah di mulutnya.

Istriku lalu bergegas kedalam mobil, mengambil dua botol air mineral yang tadi kami bawa,
lalu menyerahkan satu botol kepadaku.

Setelah mematikan mesin, Bang Junai turun dari mobil, menghampiri kami di bagian belakang lalu menyalakan rokok. Hanya lampu depan dan belakang dibiarkan tetap menyala.
"Aneh sekali, padahal lubangnya gak terlalu dalam tapi kok bisa amblas seperti ini." Bang Junai menghela nafas, lalu kembali menghisap rokoknya. Tubuhnya bersandar pada badan mobil, beberapa langkah di samping mas Tarno yang juga bersandar.
"Mungkin ada yang ikut." Ucap Mas Tarno.
"Hushh...jangan macam-macam. Kita ini di tengah hutan." balas Bang Junai.

Kami lalu tenggelam dalam pikiran kami masing-masing. Mungkin karena iseng, istriku mengarahkan senter ke segala penjuru.
Cahayanya mengarah ke pepohonan di kiri kanan jalan, lalu ke semak belukar, lalu kembali lagi ke pepohonan.

" Sudah...kamu itu penakut. Nanti malah melihat yang bukan-bukan, malah repot." tegurku pada istriku.
"Gapapa...daripada bete." ucap istriku kesal, mungkin jengkel dengan teguranku barusan.

Tiba-tiba, sorot cahaya senter istriku mengarah pada satu titik di semak belukar. Dia tertegun, hidungnya kembang kempis dan wajahnya pucat.
"Mas... Apa itu?" Dia menggigit bibirnya, sedangkan tangannya yang memegang senter terlihat gemetaran.

Aku langsung menoleh kearah belukar yang tersorot cahaya. Mas Tarno dan Bang Junai juga melakukan hal yang sama.
Namun, tidak terlihat apa-apa di sana. Sejenak, kami bernafas lega. Beberapa saat berlalu, terdengar suara krasak krasuk dari belukar. Bang Junai mengarahkan cahaya dari headlampnya untuk mencari sumber suara.
Sorot cahaya itu bergerak ke kanan dan ke kiri, kadang ke belukar di seberang jalan. Pandangan kami mengikuti bulatan cahaya headlamp
dengan perasaan waswas. Di satu titik, sorot cahaya headlamp berhenti, sekitar 10 meter dari titik sorotan senter istriku tadi.
Belukar itu tampak bergoyang-goyang, pucuk-pucuknya membelah karena ada sesuatu yang bergerak disitu. Kini sudah jelas, suara krasak krasuk disebabkan gesekan sesuatu itu dengan belukar. Jarak kami dengan sesuatu di belukar itu hanya 100 meter.
Mas Tarno bergegas ke dalam mobil, lalu kembali lagi dengan dua buah mandau dan sebuah senapan angin.

"Sri...masuk ke dalam mobil!" perintah mas Tarno pada istriku. Tanpa banyak suara, istriku langsung masuk ke dalam mobil dengan panik.
Aku dan Bang Junai kini masing-masing memegang mandau. Bang Junai mengikat mandau di pinggangnya, lalu menghunuskan bilahnya yang berwarna hitam mengkilat dengan tangan kanannya. Cahaya headlamp dari kepalanya tetap menyorot kearah belukar yang terus bergoyang.
Mas Tarno mengarahkan senapan angin ke arah belukar itu, siap menarik pelalatuknya sewaktu-waktu. Mungkin saja itu binatang buas, entah beruang atau ular.

Sedangkan aku, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dengan mandau ini.
Tubuhku gemetaran, dan jantungku berdetak lebih kencang.

Sesuatu dari belukar itu mulai keluar ke badan jalan secara perlahan.

"Astagfirullahulazzim !" Bang Junai berteriak sangat kencang. Ternyata yang keluar dari belukar bukanlah binatang buas, tapi sebuah PETI MATI.
" Semua masuk ke mobil. Ada Raung! " bang Junai berteriak memberi perintah. Ia menyarungkan mandaunya terburu-buru lalu bergegas masuk ke kursi sopir dengan panik.

Sepersekian detik, kami semua sudah di dalam mobil. Istriku langsung merangkul erat lenganku.
Dengan mata terpejam, mulut istriku komat kamit membaca ayat kursi. Suaranya bergetar bercampur tangis dan takut.
Aku juga membaca ayat kursi, yang lagi-lagi bacaannya salah-salah, tertukar dengan ayat yang lain. Di saat panik seperti ini aku kesulitan untuk konsentrasi.
Teriakan Takbir dan Istighfar terus keluar berulang-ulang dari mulut mas Tarno.

"Allahu Akbar...Astagfirullahulazim.." ucap Mas Tarno dengan lantang, berharap peti mati itu pergi menjauh.

...brum..brum...sssshhhh...
Beberapa kali distarter, mesin mobil selalu gagal menyala. Aku mengintip ke belakang dari balik jendela. Peti mati itu sudah berada di bahu jalan, bergerak terseok-seok menempel di atas tanah. Setiap satu langkah orang dewasa, peti itu berhenti, lalu bergerak lagi,
bagaikan ada yang menyeretnya.
Warnanya hitam pekat, dengan kondisi papan yang kelihatan lapuk termakan usia. Di beberapa sisi terlihat ukiran pahat dengan motif yang rumit.
Terus bergerak tertatih, peti mati itu sudah berhasil mencapai badan jalan, sedangkan mesin mobil tetap gagal menyala. Walaupun berhasil menyala, belum tentu kami bisa lepas dari lobang yang dari tadi mengganjal di ban belakang mobil.

...sreeekkk....sreeekkk....
Suara gesekan peti mati dengan tanah berpasir menimbulkan suara yang membuat jantung hampir lepas. Peti mati itu terus mendekat, tidak menghiraukan lantunan ayat suci yang keluar dari mulut istriku maupun pekikan takbir dari mas Tarno.

......sreeekkk....sreeekkk....
Suaranya semakin jelas terdengar, menandakan ia semakin dekat.

Bang Junai yang putus asa memukul-mukul setir mobil, sumpah serapah keluar dari mulutnya.

"Aneh...! Ada yang aneh...ada yang janggal." ucap bang Junai sambil terus memukul-mukul setir mobil.
Lalu ia berhenti, mencoba berpikir tenang ditengah ketakutannya. Dari kursi depan, Bang Junai menoleh kepada kami.

"Apa kalian bawa ketan, atau telur?" Nada suara Bang Junai tinggi penuh emosi.

Aku dan istri saling pandang, tidak mengerti maksud pertanyannya.
"Apa kalian ada bawa ketan atau telur?" Bentak mas Tarno.

"i-iya mas...telur asin"ucap istriku ketakutan. Ia lalu mencari-cari bungkusan kresek hitam perbekalan kami tadi di bagian kolong tempat pijakan kaki.
Aku bergegas membantu, setelah ketemu, aku langsung mengangkat bungkusan kresek hitam itu. Bang Junai langsung menyambar bungkusan di tanganku, menurunkan kaca jendela kemudian melempar bungkusan snack kami melalui jendela ke arah peti mati yang semakin dekat.
Masih dalam keadaan panik, Bang Junai kembali mencoba menstarter mesin mobil, dan...

...brum..brum..

Anehnya, mesin mobil langsung menyala. Bergerak perlahan, terseok-seok dan bergoncang-goncang, mobil akhirnya berhasil kembali ke badan jalan.
Dari balik jendela, aku melihat peti mati itu terus bergerak, lalu berhenti beberapa meter dari kantongan kresek yang tadi dilempar bang Junai.
Peti mati itu lalu berdiri di tengah jalan, pintunya terbuka menghempas tanah. Ada sesuatu yang keluar dari peti itu.
Sepasang kaki melangkah dengan bentuk tidak sempurna. Bagian tulang tungkainya terlihat, karena dagingnya banyak yang lepas. Rambutnya sangat panjang hingga menyapu tanah yang berlapis kerikil dan pasir. Mayat hidup, batinku.
Belum sempat kulihat wajahnya, tiba-tiba pandanganku menjadi gelap.

"Jangan dilihat ! " ujar mas Tarno. Rupanya ia telah mematikan lampu belakang.

Mobil terus melaju menembus kegelapan, di antara hutan belantara dan kabut tipis yang mulai naik.

***
Sisa perjalanan kami hanya ada kesunyian. Tidak ada seorangpun yang berniat untuk membicarakan perihal kejadian mengerikan yang kami lalui beberapa saat lalu. Aku menggenggam jari-jari istriku, dan ia membalas menggengamnya, lalu menyandarkan kepalanya di pundakku.
Sungguh tidak terpikir, baru beberapa hari di Kalimantan kami sudah mengalami kejadian yang di luar nalar.

Akhirnya, jalan tanah berganti aspal dan langit mulai terang. Jalan aspal yang membelah hutan terasa mulus, tidak ada getaran di dalam mobil.
Matahari yang dikelilingi warna merah kekuning-kuningan muncul di balik deretan bukit yang berselimut kabut.

"Sebentar lagi kita sampai" ujar bang Junai.

Hutan yang lebat mulai berganti dengan perkebunan sawit yang tumbuh di kiri kanan jalan.
Rumah penduduk berbahan kayu mulai kelihatan di antara pohon-pohon sawit. Rumah itu jaraknya saling berjauhan, lalu makin lama semakin rapat hingga kami tiba di gerbang selamat datang.

Melewati gerbang kecamatan, laju mobil mulai berkurang.
Kami melewati para pelajar SD hingga SMA yang jalan kaki. Sebagian lagi menggunakan sepeda motor dengan knalpot berisik tanpa helem.

"Alhamdulillah mas...ibu kota kecamatan." ucap istriku lega. Wajahnya sudah mulai rileks.

"Iya..Alhamdulillah." balasku sambil tersenyum.
"Kalian kami antar ke dermaga, setelah itu kita sarapan sama-sama."
kata Mas Tarno sembari merapikan senapan angin dan juga mandau ke tempat semula.

Mobil terus bergerak di dalam ibu kota kecamatan yang ternyata cukup luas dan ramai penduduk.
Dibandingkan kota Muara Teweh, jalannya lebih sempit. Beberapa kali mobil harus mepet hingga selokan karena berpapasan dengan mobil lainnya. Pengendara sepeda motor juga lalu lalang tanpa helm. Setelah beberapa saat, kami tiba di dermaga di tepi sungai Barito.
Bang Junai lalu memarkir mobil ke tanah kosong yang agak lapang, persis di samping kantor Polsek. Beberapa mobil dan sepeda motor juga terparkir di sana.

Jam di telpon genggamku menunjukan pukul 07.10. Lewat satu jam dari rencana semula, pikirku.
Tapi tak masalah, yang penting kami bisa selamat.

Aku dan istri lantas mengirim pesan WA kepada orangtua masing-masing, namun belum ada balasan.

Aku melemparkan pandang pada orang-orang yang lalu lalang di dermaga.
Jarak dermaga dengan tepian sungai kurang lebih 10 meter, terpisahkan tangga dari kayu ulin selebar 3 meter.

Aku dan istri melepas jaket kami, memasukan ke dalam tas koper bawaan kami.

Sambil menggendong tas punggung masing-masing, kami meniti tangga selangkah demi selangkah.
Didepanku, Bang Junai dan mas Tarno membantu membawakan tas koper kami.
Istriku lagi-lagi merangkul tanganku, takut jatuh katanya. Padahal, kami berdua sama-sama tidak bisa berenang.

Sampai di dek dermaga, bang Junai dan mas Tarno menunggu kami yang masih di belakang.
Setelah semua berkumpul, kami menggerakkan kaki ke salah satu warung rumah terapung di sekitar dek dermaga.

Selain kami, beberapa orang juga tengah menikmati sarapan dengan menu nasi kuning yang dibungkus daun pisang.
"Kopi hitam tiga, teh panas satu, cil..!" pesan bang Junai kepada ibu yang menjaga warung. Baru aku tahu, acil adalah panggilan kepada wanita yang lebih tua atau dihormati di Kalimantan.

Di dalam warung, kami duduk di salah satu meja yang kosong.
Tas kami letakan di bawah meja, beradu dengan kaki kami yang kelelahan.

"Mas, aku mau ke WC." ujar istriku.

"Di dalam aja mbak, jangan di dermaga. Banyak orang. Gak baik kalau perempuan." celetuk acil penjaga warung dari meja kasir.
Ia lalu mengantar istriku ke wc di bagian dapur, yang ternyata lebih tepat disebut jamban.

Dermaga ini lumayan ramai. Orang-orang hilir mudik dengan kesibukan masing-masing. Mereka saling bicara dengan bahasa daerah setempat.
Beberapa perahu motor, yang disebut kelotok, bertambat pada beberapa sisi dermaga. Sebagian lagi lalu lalang membawa penumpang di sungai Barito. Terdapat juga sebuah speed boat yang sarat penumpang.
Beberapa orang terlihat sedang berteriak-teriak di atas atap kelotok sambil melambaikan tangan untuk memanggil penumpang. Seorang lelaki muda dengan perawakan kurus dan bertopi, beberapa kali turun dari atap kelotok lalu kembali lagi membawa tas.
Tas itu ia taroh di atas atap kelotok yang memiliki penyangga dari kayu di kiri kanannya.

Acil penjaga warung yang tadi mengantar istriku, menghampiri meja kami membawa teh dan kopi yang masih panas, lalu kembali lagi ke meja kasir untuk melayani pengunjung lain.
"Aku mau ngerokok dulu sambil ngopi. Tadi subuh hampir kepuhunan." ujar bang Junai sambil menyalakan sebatang rokok. Mas Tarno juga sudah menikmati rokok dan kopinya yang masih mengepul, lalu asyik dengan handphone nya.
"Kepuhunan itu apa bang? Dari kemarin saya dengar kepuhunan terus" tanyaku sambil merogoh rokok dari kantong celanaku, lalu menyalakan sebatang.

"Kepuhunan itu celaka, sial, apes. Gara-gara mau minum kopi tapi gak jadi. Malah langsung berangkat aja." jelas bang Junai.
"Lain kali, kalau perjalanan jauh, jangan bawa ketan atau di telur. Di Kalimantan, itu pamali.Bisa ada mahluk halus yang ikut." lanjutnya.

Aku hanya mengangguk saja mendengar perkataan bang Junai.

Tidak berapa lama, istriku kembali ke meja kami.
Wajahnya tampak lebih segar setelah cuci muka. Kami lalu menikmati sarapan kami. Aku dan istri memilih nasi kuning dengan lauk ikan haruan, sedang bang Junai dan mas Tarno memilih lauk ayam dan telor.
Air putih sudah disiapkan pemilik warung di setiap meja.
Di masing-masing meja, tersedia es platik berisi air matang, lengkap dengan gelas dan sendok.

"Bang..yang tadi subuh, peti mati...itu apa bang? " tanya istriku pelan pada bang Junai. Sambil menyantap hidangannya, bang Junai menatap wajah kami satu persatu.
Setelah menghela nafas, ia lalu berucap.

"Peti mati itu namanya Raung. Dulu, orang Dayak kalau meninggal peti matinya gak dikubur. Tapi digantung di pohon di tengah hutan. Setelah beberapa tahun, tulangnya diambil kemudian diadakan ritual Tiwah.."
"..Tulang-tulang itu disimpan di rumah kecil yang disebut Sandung, yang dibangun di depan rumah keluarga yang meninggal."

"Terus, kok bisa ngejar kaya tadi subuh?" Tanya istriku lagi.
"Yang bisa ngejar itu, biasanya sewaktu masih hidup dia punya ajian, tapi keluarganya gak ada yang nerusin. Karena takut, Raungnya dibiarkan di tengah hutan tidak terurus. Makanya Raung itu gentayangan cari mangsa.."
".. Raung itu makan daging manusia, dengan harapan mereka bisa hidup lagi jadi manusia."

"hiihh...ngeri. Amit-amit dimakan Raung." ucap istriku bergidik.

Nyaliku juga langsung ciut mendengar penjelasan bang Junai. Sedangkan mas Tarno, dia tampak santai menikmati hidangannya.
Dugaanku, bertemu Raung seperti subuh tadi bukanlah hal yang pertama baginya.

Kami lantas kembali menikmati sarapan kami. Tidak lama kemudian, seorang pria muda menghampiri kami. Perawakannya kurus & ia memakai topi yang sudah kusam.

"Mau kemana bang ? Ke hulu atau ke hilir?"
"Desa Muara Tapah."

Lelaki muda itu tampak bingung dengan jawabanku. Seakan tidak percaya, ia mengulang pertanyaannya.

"Kemana bang? " Ia bertanya sekali lagi dengan tatapan yang ganjil.

"Desa Muara Tapah. Memang Kenapa?"
Lelaki muda itu melepas topinya, lalu ia gunakan untuk mengipas-ngipas wajahnya.

" Sudah 10 tahun terakhir, hampir tidak ada orang yang datang dan pergi dari desa Muara Tapah."
Mendengar perkataanya, kami berempat secara bersamaan menatap wajah pemuda itu dengan penasaran sekaligus bingung.

"Terakhir, 5 tahun yang lalu ada seorang penumpang ke desa Muara Tapah. Orang Jawa. Katanya ia tugas jadi kepala sekolah.."
"..Setelah itu, ia tidak pernah terlihat lagi meninggalkan desa Muara Tapah."

Kami berempat terperangah mendengar ucapan pemuda itu. Seketika aku menjadi ragu, apakah harus melanjutkan perjalanan ini atau lebih baik pulang ke Jawa.
Kupandang wajah istriku, meminta kepastian. Sepertinya ia juga bingung harus berkata apa.

Bang Junai menggeser kursinya ke belakang, berdiri, lantas mendekati pemuda itu. Dengan emosi, bang Junqai mencengkeram kerah kaosnya pemuda tadi. Sepertinya ia mengetahui kegamangan kami.
"Masbro...jangan becanda macam-macam. Aku ini sudah lama tidak berantem." Bang Junai mengancam pemuda tersebut. Mas Tarno memasang wajah sangarnya. Melihat bekas luka di lehernya, pemuda itu menjadi semakin takut.
"I-iya bang...maaf...becanda saya kelewatan." Jawab pemuda tersebut terbata-bata.

" Udah tenang aja, kalau ada apa-apa kalian tinggal telpon aku. Aku akan datang jemput kalian." Mas Tarno berusaha menenangkan aku dan istri.
"Sudah... Sekarang bawa tas dan koper mereka ke kelotok. Selesai sarapan mereka akan ke sana." lanjut bang Junai.

Pemuda itu bergegas melaksanakan perintah bang Junai. Ia segera memanggil temannya untuk membantu membawakan barang kami ke dalam kelotok.
Setelah pemuda itu berlalu, kami melanjutkan menghabiskan sisa makanan kami. Istriku memain-mainkan gelang rotan di tangan kirinya, yang kemarin ia beli di dekat penginapan. Aku tahu ia ragu, gelisah dan juga takut. Perasaan yang sama juga sedang melanda diriku.
Peristiwa naas yang kami lalui tadi subuh, membuat siapapun akan ketakutan.

"Dik...terserah kamu saja. Atau kita pulang saja hari ini. Kita kembali ke Jawa." kataku perlahan.

Istriku terdiam. Pilihan di hadapan kami saat ini memang sulit.
Pulang ke Jawa, artinya melewati kesempatan jadi PNS. Belum lagi denda yang harus dibayarkan karena membatalkan perjanjian secara sepihak. Gunjingan dan cemoohan tetangga juga pasti akan jadi makanan sehari-hari.
" Dik Bimo, saya hanya sumbang saran. Semua ada resikonya. Usul saya, lanjut saja. Tidak semua orang bisa jadi PNS. Jaman sekarang cari kerja semakin Sulit." kata mas Tarno.
" Gak ada kesuksesan tanpa rintangan. Lagian, kejadian tadi subuh belum tentu terulang lagi. Sekarang udah canggih. Kalau ada apa-apa kalian bisa WA atau telpon aku. Gak seperti jamanku dulu, di pedalaman gak ada sinyal. Itupun hanya bisa telpon dan sms. " lanjut mas Tarno.
Aku memalingkan wajah kearah istriku, meminta pendapatnya.

"Bagaimana dik? Lanjut atau pulang ke Jawa ?"

Istriku lalu memandang wajahku dengan tatapan datar.

" Kita lanjut aja mas." ujarnya yakin.
"Lagian, omongan ibu kayaknya lebih seram daripada kejadian tadi subuh."tambahnya sambil tersenyum.

Kami semua bernafas lega mendengar jawaban istriku. Keyakinannya mengembalikan semangatku untuk melanjutkan merantau. Memang, di saat aku ragu dia selalu memnberikan ketenangan.
Usai membayar makanan kami, aku lalu menyerahkan sejumlah uang kepada bang Junai. Walau sudah didiskon, ternyata ongkosnya masih saja tetap mahal. Ongkos transportasi yang mahal adalah hal lumrah di Kalimantan, apalagi di daerah pedalaman.
Aku dan istriku kembali mengirim kabar ke orang rumah, menyampaikan bahwa kami baik-baik saja dan sebentar lagi berangkat ke desa tujuan kami. Hampir setengah jam kami ngobrol melalui video call yang kadang putus-putus.
Sedangkan bang Junai dan mas Tarno, mereka bilang akan melanjutkan perjalanan ke sebuah perusahaan tambang, mengantarkan muatan pesanan mereka.

Kemudian pemuda kurus tadi kembali menghampiri kami.

"Bang, ayo berangkat. Sudah jam 8 lewat 5. Nanti kesiangan."
Kami mengikuti langkahnya ke arah kelotok, berjalan hati-hati di atas titian yang sebagian lapuk tergerus air. Bang Junai dan mas Tarno mengiringi langkah kami di belakang.
"Kita berpisah di sini. Ingat, kalau ada apa-apa hubungi aku. Di tanah perantauan kita harus saling bantu." kata mas Tarno mengingatkan.

" Jangan lupa selalu hati-hati." lanjutnya.

"Iya mas, akan kuhubungi kalau ada apa-apa."
Aku dan istri lalu masuk ke dalam kelotok, kami duduk agak di tengah. Sedangkan tas kami dan tas beberapa penumpang lainnya di taroh di atas atap. Selain kami, ada 6 penumpang lainnya yang menuju arah yang sama dengan kami.
Tumpukan sembako terlihat di bagian depan, yang dihalangi papan melintang sebagai pembatas dengan penumpang.

Sejenak kemudian, kelotok mulai bergerak ke arah hulu sungai Barito. Ibu kota kecamatan yang tadi cukup ramai, terlihat semakin mengecil dari kejauhan.

***
Sepanjang perjalanan, kami disuguhi pemandangan indah di tepi sungai Barito. Hutan rindang yang hijau dengan berbagai hewan liarnya, seperti pemandangan yang biasa terlihat pada film dokumenter. Image
Image
Monyet-monyet bergelantungan di dahan-dahan pohon, saling berebut buah hutan yang tumbuh liar. Di bawah pepohonan, tepatnya di bagian pantai sungai, biawak maupun ular nampak sedang menikmati mangsanya.
Sedangkan di badan sungai, burung-burung kecil saling berlomba untuk menukik tajam ke air, lalu terbang lagi ke udara dengan ikan di cengkraman kakinya.

Tidak hanya aku, istriku juga terpesona dengan panorama alam di hadapan kami saat ini.
Pemandangan ini tidak akan kami temukan di tanah Jawa. Sejenak, kami lupa bahwa subuh tadi kami hampir kehilangan nyawa.

Kelotok lalu menyeberang ke sisi kanan sungai Barito yang luas, kemudian bergerak lagi kearah hulu.
Setelah melewati sebuah perkampungan, kelotok berbelok ke arah kanan masuk ke dalam anak sungai.

Dibandingkan sungai Barito, anak sungai ini jauh lebih sempit. Lebarnya tidak lebih dari 30 meter, dan semakin menyempit ke arah hulu.
Kadang kelotok harus bergerak pelan untuk menghindari batu-batu besar yang muncul di tengah sungai.

Kadang pula, motoris harus meliuk-liukan gerak kelotok guna menghindari jeram. Untung saja, motoris kelotok sudah berpengalaman.
Kalau tidak, bisa saja kelotok kami menabrak batu yang tajam atau terbalik diseret arus jeram.

Tidak banyak yang bisa dilakukan di dalam kelotok, selain duduk, ngobrol dan sesekali tidur dengan posisi yang dipaksakan. Satu-persatu, penumpang turun di desa tujuannya.
Kini, hanya tersisa tiga orang penumpang, aku dan istriku, dan seorang lelaki paruh baya.

Setelah perjalanan selama kurang lebih 5 jam, akhirnya kami tiba di desa tujuan kami. Kelotok bergerak merambat, merapat ke arah dermaga yang sepi.
Beberapa jukung dan kelotok dengan ukuran lebih kecil bertambat di sana.
Motoris kemudian mematikan mesin, dan perahu bergerak pelan dengan sisa dorongan mesin tadi.

Lelaki muda yang berada di bagian depan kelotok, dengan sigap melompat ke dermaga.
Tali tambatan perahu di tangannya ia tarik, agar kelotok semakin rapat. Tali tambatan kemudian diikat pada sela-sela lubang lantai dermaga, dan kelotok kini sudah benar-benar bersandar.

Aku dan istriku kemudian keluar dari kelotok, menginjakan kaki dengan hati-hati di dermaga.
Lelaki muda dan motoris kemudian menurunkan barang-barang bawaan kami.

Terlihat aneh, sikap mereka seperti tergesa-gesa hendak segera beralih dari desa ini. Berbeda seperti saat menurunkan penumpang di desa-desa sebelumnya, tidak ada basa basi yang keluar dari mulut mereka.
Sesekali, mereka melirik kearah desa lalu memalingkan wajah. Entah apa yang mereka lihat, tapi tingkah mereka membuatku dan istri merasa tidak nyaman. Aku dan istri juga memalingkan muka, melihat kearah desa. Tapi tidak ada apa-apa di sana, kecuali barisan rumah kayu yang kosong.
Setelah menerima ongkos, kelotok bergegas berlalu dengan kecepatan penuh. Suara mesin meraung-raung di tengah sungai, meninggalkan jejak asap hitam yang mengepul dari knalpotnya.
Jam di telpon genggamku menunjukan pukul 13.33. Aku mencoba menghubungi orang tuaku, tapi sial, tidak ada sinyal. Jangankan sinyal internet, untuk telpon atau sms saja tidak bisa. Aku merenung, memikirkan bagaimana caranya menyampaikan kabar ke kampung halaman.
Raut keraguan kembali terlihat di wajah istriku. Tapi tidak ada pilihan, kami sudah sampai di desa ini.

Selangkah demi selangkah, kaki kami menapaki anak tangga dermaga dengan perasaan was-was. Apapun yang terjadi, kami harus berjumpa Pak Kasno hari ini.
Dialah satu-satunya harapan kami.

***
Image
Usai melewati anak tangga, kami berdiri tepat di tengah gerbang desa. Gerbang itu berupa gapura dengan bahan kayu ulin sebagai penyangga di kiri dan kanan. Papan melintang di bagian atas sudah lapuk, dengan tulisan selamat datang yang sudah luntur.
Beberapa hurufnya bahkan sudah hilang.

Aku dan istriku menyeret tas koper kami di jalan desa yang masih berupa tanah merah. Roda-roda kecil di bagian bawah tas mempermudah gerakan kami. Tas punggung kami panggul masing-masing.
Kami terus berjalan melewati rumah-rumah penduduk yang terbuat dari kayu.

Baru beberapa langkah, ada rasa tidak nyaman memasuki desa ini.
Terlalu sepi. Aktivitas di desa ini seperti lumpuh. Bagaikan kampung mati, tidak ada satupun warga yang terlihat kecuali kesunyian.
Rumah penduduk banyak yang telah runtuh, menyisakan puing berserakan. Sebagian lagi, kosong tanpa penghuni diselimuti tanaman merambat dan rumput liar. Rumah-rumah itu seperti ditinggalkan dalam keadaan terburu-buru.
Entah apa yang terjadi dengan desa ini. Setiap kaki melangkah, serasa ada tangan tak terlihat yang menempel di bagian tengkuk. Bulu-bulu halus di tangan dan belakang leher berdiri tanpa sebab.
Bayangan hitam di sudut-sudut rumah akibat tidak terkena cahaya, seperti sosok yang sedang mengawasi kami.

Aku berusaha berpikir logis, menghilangkan seluruh pikiran buruk yang bersemayam di otakku.
Lalu, samar-samar terdengar suara orang tertawa cekikikan dari salah satu rumah yang kosong. Suara itu, sesekali terdengar sangat jelas, sesekali seperti bisikan. Dengan berat hati, aku mengumpulkan keberanian untuk melihat asal suara.
Setelah mengucap bismillah, kutolehkan kepala ke asal suara, dan...
Alhamdulillah, ternyata hanyalah suara seng atap rumah yang tertiup angin. Atap seng itu melambai-lambai, seakan memberitahukan bahwa rumah itu telah ditinggalkan bertahun-tahun.
Kami terus berjalan, berharap ada seseorang yang bisa ditemui untuk tempat bertanya. Istriku tampak kelelahan, dengan sisa tenaganya ia memaksa melangkahkan kaki.

"Mas, cari warung yuk. Aku lapar." ucapnya lirih.

"Ayo..sambil jalan. Aku juga lapar."
Kami terus menapakan kaki dengan kondisi perut seperti terlilit. Kalimantan yang berada di garis khatulistiwa, membuat cuaca terasa lebih terik daripada di Jawa. Keringat sudah mulai membasahi tubuh kami. Kami meminum air mineral yang tersisa separo secara bergantian.
Tiupan angin dari balik pepohonan tidak cukup mendinginkan suhu tubuh kami.

Setelah melewati beberapa rumah, akhirnya kami bertemu juga dengan penduduk desa. Seorang wanita tua terlihat sedang duduk di teras rumahnya.
Dari kejauhan, ia memperhatikan kami dengan seksama tanpa bergerak. Ia mengenakan kebaya lusuh yang warnanya sudah pudar. Rambutnya yang penuh uban ia sanggul rapi di belakang. Wajahnya cekung dan tubuhnya kurus. Mulutnya komat-kamit sedang mengunyah sesuatu.
Kami melangkah pelan untuk mendekat, wanita tua itu terus memperhatikan kami dengan sorot mata kosong.
Setelah cukup dekat, aku memberanikan diri untuk bertanya pada wanita itu.

"Permisi nek...rumah pak Kasno dimana ya? "
Bukannya menjawab pertanyaanku, nenek itu malah memalingkan muka.

Cuuh...!

Nenek itu meludah ke samping. Aku dan istriku kaget, lalu terdiam. Cairan yang keluar dari mulutnya berwarna merah pekat. Perlahan, ia memalingkan wajahnya sambil tersenyum.
Senyumnya sangat lebar dengan sorot mata yang tajam. Giginya berwarna merah kental kehitaman.

"Mau kemana? " tiba-tiba ada seorang lelaki paruh baya berdiri di depan pintu.
Seketika jantungku rasanya mau copot karena kaget.
Lelaki itu menatap kami dengan wajah tidak ramah.
Hanya memakai celana pendek dan kaos singlet putih. Tubuhnya kurus namun berisi. Urat-urat di pergelangan tangannya terlihat menonjol.

"Ibuku sudah tidak bisa mendengar dengan jelas. Harus berteriak baru ia bisa mendengar." lanjut bapak itu.
"Permisi pak,kami mau ke tempat Pak Kasno. Kmi.."

" Pak Kasno kepala sekolah ? Ada urusan apa kalian dengan dia? " potong bapak itu dengan ketus.

"A-anu pak. Saya guru baru di sini. Saya ditugaskan mengajar di desa ini. Makanya, kami harus ke rumah Pak Kasno hari ini." jawabku.
"Owwhhh...guru baru." Seketika bapak itu berubah jadi ramah. Namun, tetap saja sikap ketusnya tadi sudah menimbulkan kesan tidak nyaman.

"Rumah Pak Kasno lurus aja. Perempatan kedua, belok kiri. Jalannya agak menanjak. Sebelum perempatan, nanti ada lapangan."
"Kalau warung makan, dimana pak?"

"Di sini tidak ada warung makan. Kami memasak sendiri di rumah, tidak seperti di kota. Kalau pun ada, belum tentu ada yang belanja. Penduduknya sudah banyak yang pergi." jawabnya dengan senyum yang dipaksakan.
Aku dan istri saling pandang keheranan. Entah apa maksud bapak itu.

"Makasih pak. Kami permisi dulu."ucapku

Aku dan istri lalu melirik bekas ludahan nenek tadi. Cairan merah pekat terlihat menggumpal di atas tanah.
Di beberapa titik, terlihat bekas cairan merah yang telah mengering di sana sini.

"Ibuku memang suka menginang sirih. Kebiasan penduduk di sini." ucap bapak itu lagi. Ia masih berdiri di depan pintu. Sepertinya ia tahu kalau kami bertanya-tanya dengan bekas ludah nenek itu.
Kemudian kami pamit undur diri, lalu kembali berjalan sesuai petunjuk bapak tadi.

Semakin masuk ke dalam desa, kami berjumpa lagi dengan beberapa penduduk. Beberapa orang kami dapati sedang duduk di teras rumah, sebagian lagi mengintip dari jendela.
Sepertinya mereka sengaja bersembunyi.
Sesekali kami menyapa mereka, namun mereka tidak menjawab sepatah katapun.

Aku merasa ada yang janggal di kampung ini. Penduduknya hanya beberapa orang saja. Berbeda seperti desa sebelumnya di pinggir sungai.
Sepanjang perjalanan, tidak ada anak muda maupun anak kecil yang kami jumpai. Semuanya rata-rata sudah berusia paruh baya maupun lansia.

Wajah mereka sangat muram dengan pakaian yang lusuh. Tubuh mereka kurus dan pucat, seperti orang yang terkena penyakit.
Tatapan mereka kosong tanpa pengharapan, seolah-olah ajal siap menjemput mereka kapan saja.

Sambil menahan lapar, kami terus berjalan melewati rumah-rumah penduduk yang saling berhadapan.
Sejak dari gerbang tadi, aku merasa ada yang mengikuti kami. Mengamati tiap langkah kami dari kejauhan. Namun entah dimana. Rupanya istriku juga merasakan hal yang sama. Kami menoleh ke belakang, tapi tidak ada siapa-siapa.
Kami juga mengedarkan pandang ke sekeliling, hanya ada rumah-rumah kosong dan terbengkalai. Mungkin hanya perasaan saja.

Akhirnya kami melewati tanah yang cukup lapang seperti kata bapak tadi.
Tanah lapang itu berada persis di samping bangunan puskesmas yang telah lapuk dan hampir roboh.

"Disana, dekat lagi." Aku menunjuk kearah perempatan dengan cara mendongakkan wajah dan memonyongkan bibir.
"Mas, itu siapa?" Tiba-tiba istriku mengcengkram pergelangan tanganku dengan erat. Suaranya tertahan dengan nafas tidak beraturan. Aku mengarahkan pandang ke arah tatapan mata istriku.
Benar saja, di sudut lapangan yang cukup jauh dari posisi kami, berdiri sepasang kakek nenek dengan tingkah yang ganjil. Keduanya berdiri tanpa alas kaki.

Entah muncul darimana, mereka tiba-tiba ada disitu. Mereka hanya menatap kami dari kejauhan tanpa bergerak sedikitpun.
Sang nenek, badannya agak membungkuk. Tongkat kayu ia genggam sebagai penopang tubuh. Sehelai selendang dari kain kerudung melingkar di lehernya. Rambutnya yang memutih terurai acak-acakan. Ia memakai baju kebaya putih compang camping dan bawahan kain jarik lusuh.
Sedangkan sang kakek, berdiri tegak sempurna dan berpakaian serba hitam. Di tangannya, terhunus sebuah mandau panjang yang berwarna hitam legam.

"Ayo cepat." Kami bergegas pergi dari situ, menuju perempatan jalan.
Aku membantu menyeret tas istriku agar kami bisa segera mencapai tujuan.

Setelah berbelok, jalan yang menanjak memperlambat langkah kami. Belum lagi batu dan kerikil di tengah jalan membuat tas harus berbenturan, sehingga gerak kami semakin lambat.
Sesekali aku menoleh ke belakang, memastikan tidak ada yang mengikuti kami. Untung saja, kakek nenek itu sudah tidak terlihat lagi.

Langkah kami terasa ringan saat jalan mulai datar. Kiri kanan jalan ditumbuhi semak belukar dan pohon-pohon tinggi menjulang.
Daun yang rindang melindungi kami dari teriknya matahari.

Kami mencari tempat yang agak lapang untuk beristirahat. Di bawah pohon yang cukup besar, kami langsung duduk di atas rerumputan. Setelah melepas tas punggung, badan kami sandarkan berdempet pada batang pohon.
Sedangkan tas koper, kami biarkan saja tergeletak di depan kami.

Dengan wajah penuh keringat, nafas kami masih tersengal-sengal. Kami menarik nafas dalam-dalam, menghirup udara sebanyak-banyaknya ke dalam paru-paru kami.
Tidak ada bising knalpot kendaraan, tidak ada pula suara keributan orang-orang. Hanya ada suara serangga dan burung dari balik hutan.

Istriku menyerahkan botol air mineral kepadaku, kami minum secara bergantian. Hanya air ini sisa bekal kami, lainnya sudah habis di kelotok tadi
Aku memandang ke balik semak belukar di seberang jalan. Samar-samar, terlihat sesuatu berwarna hitam memanjang, tertutup daun-daun liar dan rumput ilalang. Aku perhatikan lebih jelas, Astagfirullahul azim ! Image
Itu adalah peti mati alias Raung. Bulu kudukku mulai merinding.
Jantungku kembali berdegup dengan kencang.

Tidak hanya satu, Raung di hadapanku ini jumlahnya puluhan. Peti-peti mati itu berjejer, dua meter dari atas tanah disangga tiang-tiang ulin.
Tidak salah lagi, di depan kami adalah komplek pemakaman. Hanya saja, ukurannya lebih kecil dibandingkan peti mati orang dewasa.

Bayangan dikejar Raung tadi subuh membuatku kembali merasa ngeri.

Aku segera bangkit berdiri, mengajak istriku segera beranjak dari situ.
"Ayo..kita harus cepat!"

Melihat aku panik,istriku bergegas bangkit dari duduknya. Wajahnya kebingungan, namun raut mukanya lebih terlihat ketakutan.

"Kenapa mas ?"

Belum sempat kujelaskan, terdengar suara sesuatu dari semak belukar di belakang kami.
Suara-suara ranting patah dan langkah kaki.

Kami lalu berpaling, melihat kearah semak belukar yang tiba-tiba terpotong ditebas sesuatu. Aku dan istri kaget, hingga genggaman tas kami terlepas.

Sesuatu keluar dari semak belukar, sorot matanya yang tajam menatap ke arah kami.
Aku dan istri terpaku melihat sosok itu. Dia berdiri tepat di depan kami. Dia adalah kakek tadi. Di tangan kanannya, terhunus mandau yang sangat tajam.
Kakek itu terus mengamati kami yang berdiri ketakutan. Ia mengenakan pakaian serba hitam tanpa alas kaki. Garis keriput menyembul di wajahnya yang pucat.

Istriku menggeser badannya, bersembunyi di balik punggungku.
Wajahnya ia rapatkan di belakang leherku, sehingga aku bisa merasakan hembusan nafasnya di bawah telingaku.

Andaikan aku sendiri, pasti aku sudah kabur dari tadi. Tapi, dibelakangku ada seorang wanita yang harus kulindungi. Apapun resikonya, aku harus selalu menjaganya.
Aku mundur dua langkah. Istriku kaget kerena wajahnya terantuk bagian belakang kepalaku. Namun, ia tetap mengikuti gerakanku, mundur dua langkah. Aku harus hati-hati dan tidak boleh gegabah. Bisa-bisa, nyawa kami melayang.
Aku mengambil posisi bersiap apabila kakek itu menyerang tiba-tiba.

Kakek itu mengambil gerakan, memasukan mandau ke sarungnya di sebelah kiri pinggangnya.

"Kalian mau kemana?"Kakek itu tiba-tiba bertanya sambil matanya mendelik. Mandau di pinggangnya sudah tersarung sempurna.
Aku dan istri masih terdiam.

"Mau ke tempat Pak Kasno? Biar kuantar." ucap kakek itu tegas.

"I-iya kek." ucapku terbata-bata.

Melihat kami masih kebingungan, ia lalu mengambil wadah bambu yang tergantung dari pinggangnya, dan menyerahkan padaku.
"Minum dulu, kalian pasti haus."

Aku menuruti perintahnya, meminum air dari wadah bambu itu lalu menyerahkannya pada istriku. Kami meminum air itu bergantian hingga dahaga di tenggorakan kami mulai hilang.
"Bagaimana rasanya ? Enak? " Kakek kembali bertanya dengan gurat senyum di bibirnya yang keriput. Aku dan istri lega,ternyat lelaki tua di depan kami tidak ada niat jahat. Istriku mengembalikan wadah bambu tadi kepada kakek.
"Rasanya aneh kek, ada pait campur manis. Juga ada rasa tawar. Beda dengan air putih biasa" jawab istriku.

"Itu air dari akar pohon yang bergelantungan di hutan. Bagus buat obat."
Istriku lalu mencium tangan keriput kakek itu. Aku juga melakukan hal yang sama, mencium tangan kakek yang ada di hadapan kami ini.

"Aku Sriatun kek. Kami dari Jawa."

"Aku Bimo kek. Tugas ngajar di desa ini."
Kakek kembali tersenyum, berusaha menghilangkan sisa-sisa ketakutan di wajah kami.

"Namaku Alang Linggau. Kalian boleh memanggilku bue Alang. Atau cukup bue saja." ujarnya dengan suara datar.

"Biar kuantar saja ke tempak pak Kasno. Kasian kalian, nanti bisa tersesat."
Tanpa diminta, bue Alang langsung berjalan di depan. Tas di tangan istriku diraihnya lalu diseret menyusuri tanah merah yang penuh batu-batu kecil dan kerikil.

Aku dan istri segera mengiringi langkah kaki Bue Alang.
Sesekali, Bue Alang mengangkat tas di tangannya bila ada batu cukup besar di tengah jalan. Tas itu kadang ia dorong di depan, kadang ia seret di belakang. Walau sudah tua, bue Alang masih terlihat kuat.

Jujur saja, ada perasaan lega dan tenang berjalan bersama Bue Alang.
Setidaknya, ada orang kampung yang menemani kami ke tempat tujuan. Rupanya Bue Alang baru pulang setelah memeriksa jebakan babi hutan, namun hasilnya nihil.

Sepanjang jalan, Bue Alang juga bercerita bahwa dahulu ia adalah pejuang. Melawan Jepang dan Belanda pada perang Barito.
"Kawan-kawanku banyak yang mati kena peluru. Sebagian lagi tewas disiksa Belanda. Jepang lebih kejam lagi. Mereka tidak segan-segan membantai penduduk satu kampung bila ada yang melawan. Kepala semua laki-laki dipenggal, lalu mayatnya dibuang ke sungai. Rumah-rumah dibakar.."
"..Banyak penduduk yang sembunyi ke hutan untuk menyelamatkan diri." Bue Alang menghentikan langkahnya, seperti mengingat masa lalu. Sejurus kemudian, ia kembali melangkahkan kakinya.

"Setelah merdeka, kawan yang beruntung, menjadi pegawai pemerintah.."
"..Bahkan tidak sedikit jadi pejabat. Sedangkan yang tidak beruntung, ya seperti saya ini. Kembali ke kampung menjadi petani miskin."

"Anak cucu Bue dimana?" tanya istriku.

Sambil terus berjalan, Bue Alang kembali melanjutkan ceritanya.
"Aku punya lima orang anak. Empat laki-laki, dan satu orang perempuan yang paling bungsu. Tiga orang laki-laki meninggal terseret banjir 10 tahun lalu. Yang perempuan meninggal beberapa hari setelah melahirkan. Anaknya juga tidak berhasil selamat.
Setelah itu suaminya pergi entah kemana. Hanya satu orang yang masih hidup sampai sekarang."

"Yang masih hidup, sekarang ada dimana Bue? " tanyaku pada Bue Alang.

Bue Alang menghentikan langkah kakinya. Raut wajahnya berubah menjadi sedih.
Garis-garis keriput di wajahnya semakin mengkerut.

"Setelah banjir 10 tahun lalu, ia pergi entah kemana. Semoga...semoga ia kembali lagi." ucap Bue Alang dengan suara tertahan.

Aku dan istri terdiam, mencoba memahami kesedihan yang ia rasakan.
"Ayo, cepat. Sebentar lagi sampai." lanjut bue Alang.

Hari menjelang sore, kaki kami terus melangkah di bawah pepohonan. Angin berhembus pelan dari celah-celah hutan, menggerakan ranting-ranting dan dedaunan.
Setelah beberapa langkah, kami memasuki halaman gedung sebuah Sekolah Dasar. Papan nama dengan cat yang putih yang terkelupas, berdiri tegak di balik pagar yang tertutup rumput ilalang. Halamannya cukup luas dengan tiang bendera di tengah.
Di sekeliling gedung, hanya ada hutan hijau sejauh mata memandang.

Bue Alang mengajak kami berjalan memutar ke belakang gedung dewan guru. Di sana, seorang lelaki berusia sekitar 40an tahun sedang mencangkul.
Ia mengenakan baju kaos lusuh dan celana pendek, sedangkan di kedua kakinya terpasang sepatu boot berwarna hitam. Menyadari ada yang datang, lelaki itu kemudian menghentikan aktivitasnya.

"Bueeee..!!! " Lelaki itu berteriak sambil tersenyum lebar.
Tangannya melambai-lambai menyuruh kami segera mendekat.

Langkah kami pun semakin cepat menghampiri pria itu.

"Apa kabar Bue? " ucapnya dengan raut wajah bahagia. Mungkin, sudah lama tidak ada orang yang berkunjung ke tempatnya.
Lelaki itu lantas mengibas-ibas telapak tangan ke celana pendek yang ia kenakan, membersihkan pasir dan tanah yang menempel. Setelah cukup bersih, lelaki itu mengulurkan tangannya kepada Bue Alang. Lalu, ia menyalami aku dan istri secara bergantian.
"Kasno Suprapto. Kepala sekolah SDN 1 Muara Tapah." Lelaki itu memperkenalkan dirinya, Ternyata, dialah orang yang kami cari selama ini.

" Saya Bimo pak. Bimo Santoso, guru baru yang tugas ngajar olahraga di sini." Aku menyambut uluran tangannya.
Mendengar perkataanku, senyum Pak Kasno semakin lebar. Dua bola matanya membesar di bawah dahinya.

"Bagus..bagus. Kita memang butuh tambahan guru buat ngajar anak-anak di sini. "

Pak Kasno lalu mengulurkan tangan pada istriku.

"Saya Sriatun, Pak. Istrinya Mas Bimo."
Pak Kasno memandang wajah istriku dengan tertegun, seperti ada yang mengganjal.

" Yaudah...kita masuk dulu. Kalian pasti masih cape. Istirahat di dalam." ujar pak Kasno seperti memendam sesuatu.

"Saya permisi dulu. Saya harus ke kebun." ujar Bue Alang.
Pak Kasno memandang wajah Bue Alang, lalu mengulurkan tangannya sekali lagi.

"Makasih Bue, udah mau ngantarkan mereka. Kapan-kapan mampir lagi."

Bue Alang hanya tersenyum sambil mengangguk. Ia kemudian berbalik, melangkahkan kakinya dan menghilang di balik gedung ruang guru.
"Ayo, ke rumah" ucap Pak Kasno. Setelah menaruh cangkul di bawah tangga, ia melepas sepatu bootnya dan meletakan di tangga paling bawah. Aku dan istriku juga melakukan hal yang sama.
Pak Kasno dengan tergesa-gesa membantu membawakan tas istriku meniti tangga, lalu menaruh tas di teras di samping pagar kayu. Aku dan istri menyusul di belakangnya, meniti tangga dengan perlahan.

Perumahan guru ini memang cukup tinggi dari tanah, sekitar 3 meter.
Bentuknya berupa rumah panggung, ciri khas rumah di pedalaman Kalimantan. Rumah pak Kasno terletak paling ujung di sebelah kanan. Ada empat pintu lagi yang bersebelahan langsung dengan rumah pak Kasno, namun terlihat kosong tanpa penghuni.
"Ayo masuk, istirahat dulu." Ujar pak Kasno dengan senyum lebarnya. Entah kenapa, pas Kasno sepertinya orang paling ceria yang kami temui di desa ini.

Aku dan istri segera duduk di ruang tamu yang sederhana, tanpa kursi dan meja, hanya beralas karpet plastik.
"Tunggu sebentar, saya buatkan minum dulu." Pak Kasno kemudian berjalan ke arah dapur.

Guna menghilangkan penat, aku segera berdiri mendekati jendela di sebelah samping. Sejurus kemudian, istriku juga mengikuti. Kami memandang hutan luas yang membentang.
Memikirkan tentang segala peristiwa yang kami alami, memikirkan tentang masa depan kami di tanah perantauan.

"Mas, lihat. Itu Bue Alang." kata istriku.

Benar saja, samar-samar terlihat Bue Alang berjalan di antara pepohonan.
Tidak lama, sesosok perempuan tua muncul dari balik pohon. Ia berjalan membungkuk dengan tongkat, mendekati Bue Alang.

"Itu nenek yang tadi mas. Ngapain mereka di hutan?"

Aku hanya diam saja, terus memperhatikan tingkah sepasang kakek nenek itu di kejauhan.
Mereka terlihat berdebat, lalu Bue Alang menyerahkan sesuatu pada nenek itu. Ternyata, Bue Alang menyerahkan wadah bambu tempat air minum tadi.

Lalu, dengan susah payah mereka berdua berjongkok di atas tanah. Wadah bambu itu diletakan di depan mereka.
Si nenek terlihat menggerak-gerakan telapak tangannya dengan teratur, beberapa jengkal diatas wadah bambu.

Tiba-tiba, wadah bambu itu terbakar. Nyala api segera menari-nari tertiup angin. Aku dan istri terdiam melihat kejadian itu. Kami berdua saling pandang tanpa suara.
Lidah kami tercekat di tenggorokan.

Bue Alang dan nenek itu menghilang ke dalam hutan, meninggalkan wadah bambu yang masih menyala dimakan api.

Wadah bambu itu terus menyala, api menari-nari tertiup angin lalu perlahan padam.

"Monggo mas, mbak, diminum dulu."
Pak Kasno tiba-tiba sudah ada di ruang tamu, membawa tiga gelas teh hangat dan roti kering dalam nampan. Di cuaca seterik ini, rasanya paling pas kalau minum es. Tapi apa boleh buat, rejeki tidak boleh ditolak.
Sembari menikmati hidangan, aku menyerahkan amplop coklat dari Dinas Pendidikan ke pak Kasno. Pak Kasno membaca isi surat itu sambil mengangguk-angguk.

"Berarti mas Bimo yang lulus tes CPNS tahun kemaren ya. Untuk rumah dinas, bisa pilih yang bagian tengah. Ada kosong dua.."
".. Yang paling ujung udah diisi Pak Tingen, guru Agama Hindu Kaharingan."

"Beliau datang satu minggu sekali, sesuai jadwal ngajar. Soalnya beliau juga ngajar beberapa sekolah di kecamatan ini. Tapi, kadang beliau nginap berhari-hari untuk berburu.."
".. Kalo beruntung, saya bisa dapat daging kijang gratis. He..he..he "

Aku dan istri memperhatikan penjelasan Pak Kasno, sambil menikmati teh kami yang masih panas.

"Di sebelah pak Tingen, ada pak Ancah. Wali kelas lima. Beliau biasanya datang pagi, pulang sore.."
"..Di sini cuman istirahat siang. Rumah beliau di kampung sebelah, di hilir desa ini. Biasanya bawa kelotok sendiri. Sesekali nginap, klo sekolah ada acara atau keperluan lainnya."

Aku lalu mengambil asbak dari samping Pak Kasno, lantas menyalakan rokok yang tersisa tiga batang.
"Amit nggih pak. Kalau ibu sama anak-anak dimana ya? Kok kayaknya sepi?" tanya istriku.

Pak Kasno terdiam sejenak, menyalakan rokok kretek miliknya, lalu lanjut bercerita.

"Dulu pernah ikut, sama anak-anak juga. Tapi cuman bertahan 2 bulan. Katanya gak betah.."
"..Maklumlah mbak, di sini terlalu sepi. Yaudah balik lagi ke rumah kami di kota Muara Teweh. Lagian di sana ada mertua. Saya biasanya ke kota satu bulan atau 2 minggu sekali."

" Biasanya kalau saya pulang ke kota, bisa sampai 1 minggu. Di sini muridnya sangat sedikit.."
"..Hanya ada dua kelas, yaitu kelas tiga sama kelas lima. Kalau saya pulang, sekolah saya titipkan sama Pak Ancah atau Pak Tingen." kata Pak Kasno sambil meminun tehnya. Setelah gelas tehnya sudah di nampan, Pak Kasno kembali bercerita.
" Kelas lima cuman ada 4 murid. Kelas tiga cuman 3 murid. Sedangkan kelas lainnya kosong.
Itu juga bukan berasal dari desa ini. Tapi murid dari kampung seberang, juga desa di pinggiran sungai lainnya. Mereka kemari pake kelotok kecil. "ujar Pak Kasno sambil menghisap rokoknya.
"Lima tahun lalu, waktu saya pertama kali diangkat jadi kepala sekolah, cuman ada satu kelas. Ya yang sekarang pada duduk di kelas lima."

"Sebenarnya, ada kampung lagi di balik bukit. Tapi mereka menolak sekolah di desa ini. Kudengar, mereka bermusuhan dengan desa ini.."
"..Desa ini dan desa di balik bukit, tidak pernah saling berhubungan dalam 10 tahun terakhir."

"Kenapa pak?" tanya istriku.

"Kurang tahu. Paling masalah batas desa."

Pak Kasno menghentikan ceritanya, seperti ada yang disembunyikan.
Aku masih penasaran dengan desa dibalik bukit, tapi pak Kasno sepertinya sudah tidak mau melanjutkan kisahnya.

Lalu, tiba-tiba perutku bersuara, menandakan rasa lapar yang cukup parah.

"Kalian sudah makan?" tanya Pak Kasno padaku dan istri.
"Belum, Pak." jawabku sambil tersenyum tanpa rasa malu. Istriku mendelik dan cemberut padaku. Tapi aku cuek aja, soalnya memang sudah terasa lapar sekali.

"Kalian makan di sini aja. Sebentar saya masak dulu. Tapi seadanya."

Pak Kasno bergegas berdiri, tapi dipotong istriku.
"Pak, kalau mau belanja sembako dimana ya? "tanya istriku.

"Mm...kalau mau belanja, di kampung sebelah. 2 jam pake kelotok."

Wah, apes batinku. Aku harus menahan untuk tidak merokok selama beberapa hari kedepan.
"Di sana ada pasar mingguan tiap hari rabu dan jumat. 2 hari lagi kita barengan aja kesana, pake kelotok Pak Kades." ucap Pak Kasno lagi.

"Sementara, pake punya saya aja dulu. Ada beras sama minyak goreng. Nanti balikin kapan-kapan aja, atau setelah kita belanja di desa sebelah.
Saya ambil kunci dulu ya, tunggu sebentar." Pak Kasno bergegas ke dalam kamar, lalu kembali lagi. Aku kemudian menerima dua buah kunci, ada tulisan nomor 2 dan nomor 3 di gantungannya.

***
Hari kian sore, waktu sudah menunjukkan pukul setengah 4.
Aku dan istri sepakat memilih rumah nomor 2 , persis bersebelahan dengan rumah Pak Kasno. Biar kalau ada apa-apa, kami bisa cepat menghubungi Pak Kasno.
Rumah dinas ini ternyata cukup nyaman walau sederhana. Hanya ada satu kamar tidur layaknya rumah petak mess karyawan.
Beberapa lampu minyak menempel di dinding.

Meskipun berdebu, beberapa peralatan dapur masih ada, seperti piring, gelas dan kompor minyak tanah.
Hanya saja tidak ada panci dan wajan.

Aku mencoba membuka kran di kamar mandi, ternyata airnya keluar cukup deras dan jernih. Tetesan air segera ditampung pada bak berupa drum plastik ukuran 200 liter.
Air tersebut mengalir dari dua tangki air plastik yang berada di depan rumah Pak Kasno.

Dengan meminjam sapu dan pel dari tempat Pak Kasno, kami berdua mulai membersihkan rumah dinas ini.
Beberapa kali kami bersin dan terbatuk, karena harus membersihkan debu dan sarang laba-laba yang ada dimana-mana.

Aku memencet saklar lampu di kamar tidur, ternyata tidak menyala.
Tentu saja, rumah ini hanya mengandalkan genset yang hanya menyala dari jam 6 sore hingga jam 10 malam.

Sebuah kasur usang terlihat tergulung rapi di sudut kamar, lengkap dengan kelambu. Aku segera membuka jendela, agar udara segar bisa segera masuk.
Beberapa kali, pak Kasno bolak balik ke rumah kami mengantarkan beberapa alat dapur seperti panci dan wajan, termasuk beras,minyak goreng dan kebutuhan lain.
Kata beliau, alat dapur itu milik penghuni sebelumnya, dan dititipkan ke dia.
"Pakai aja. Dulu dititipin Bu Sinta sama saya. Beliau pindah tugas ke kecamatan. Tapi udah bertahun-tahun gak diambil-ambil. Kayaknya ga bakal balik lagi."

"Inggih pak, makasih banyak." ucapku dan istri hampir bersamaan.
Hampir satu jam kami membersih rumah dinas ini. Aku dan istri mandi secara bergantian. Tidak lama, pak Kasno mengajak kami makan di rumahnya.

***
Setelah mandi, badan terasa segar. Aku dan istri makan dengan lahap di tempat Pak Kasno. Menunya sangat sederhana, hanya nasi dingin dengan lauk ikan sarden campur mie serta ikan asin.
Sambil makan, Pak Kasno bercerita bahwa dulu sewaktu kecil ia ikut orang tuanya jadi transmigran di Kalimantan.
Mereka berasal dari daerah di Jawa Tengah. Tapi karena saking lamanya, pak Kasno merasa Kalimantan adalah kampung halamannya.
"Keluarga sih ada di Jawa. Tapi sudah lama gak mudik ke Jawa. Terakhir pas meninggalnya Pak De, hampir 10 tahun lalu. Apalagi setelah orang tua saya meninggal semua, benar-benar gak pernah pulang ke Jawa. Soalnya bingung mas, ke Jawa mau ke tempat siapa juga.."
"..sama saudara-saudaranya orang tua udah banyak yang gak kenal."

"Astagfirullah..hampir kelupaan." ujar Pak Kasno. Ia lalu berdiri dengan piring di tangannya, kemudian melangkah hingga sampai teras.
Pak Kasno kemudian melempar beberapa sendok nasi dan ikan sarden ke tanah, lalu kembali lagi.

"Kenapa Pak?" tanya istriku heran. Ia mengkerutkan keningnya sambil memutar-mutar gelang rotan di tangan kirinya.

"Gak apa apa. Cuman kebiasaan masyarakat disini.."
"..Bagi-bagi rejeki sama sekitar. Kalian juga, kalau masak jangan lupa sisihkan sebagian makanan kalian."ucap Pak Kasno sambil memasukan nasi ke mulutnya.

Aku dan istri saling tatap karena terheran-heran dengan tingkah Pak Kasno.
Tapi kami juga tidak ingin bertanya lebih lanjut apalagi membantah. Mungkin sudah adat masyarakat sini, tidak salah diikuti.

Pak Kasno kemudian menambah nasinya ke dalam piring, lalu melanjutkan ceritanya.
"Bagi saya, Kalimantan ini ya kampung halaman. Adik-adik saya di sini semua, dengan keluarga masing-masing. Apalagi, istri saya orang asli Kalimantan mas." ucap Pak Kasno sambil menikmati makanannya.

Selesai mendengar cerita Pak Kasno, kini gantian giliranku yang bercerita.
Aku menceritakan awal mula perjumpaanku dengan istri di kampus, menikah, lalu ikut tes CPNS hingga akhirnya sampai di desa ini. Sesekali, istriku juga ikut menimpali.

"Kalau begitu, Mbak Sri ngajar aja disini. Jadi guru honor. Kebetulan kita gak ada guru bahasa Inggris."
Mendengar tawaran Pak Kasno, istriku terlihat senang. Wajahnya berbinar dan senyum merekah di bibirnya.

"Boleh pak...buat isi waktu,"ujar istriku bersemangat, "bosan juga di rumah terus."

"Kalau gitu, siapkan berkasnya. Besok atau lusa udah bisa ngajar.."
"..Bulan depan saya usulkan ke Dinas Pendidikan. "

Waktu berlalu, acara makan bersama pun selesai. Sebagai ucapan terima kasih, istriku menawarkan diri untuk mencuci piring. Pak Kasno lantas mengantarkan istriku ke bagian belakang rumahnya, lalu kembali lagi ke ruang tamu.
Melihat rokokku sisa satu batang, Pak Kasno lalu membuka laci di samping tv dan menyerahkan dua bungkus rokok murah untukku.

"Seadanya. Yang penting ada asapnya." ujar Pak Kasno seraya tertawa. Aku pun menerima rokok pemberian Pak Kasno sambil tertawa.
Kami lalu duduk bersender di dinding kayu di ruang tamu. Merokok setelah makan memang rasanya sangat nikmat.

Setelah suasana agak santai, rasa penasaranku kembali muncul terkait cerita Pak Kasno sebelumnya.
"Pak, tadi bapak cerita kalau murid di sekolah ini sedikit. Terus semua berasal dari kampung sebelah, itu kenapa, Pak?"

Sambil bersandar, Pak Kasno menatap langit-langit rumahnya. Ia menghela nafas pelan lalu menghisap rokoknya dalam-dalam.
Dengan suara tertahan, Pak Kasno mulai menjawab pertanyaanku.

"Murid-murid yang dari desa ini...semuanya mati."

"Hah!?" kataku tidak percaya.
"Yang benar, Pak?"tanyaku penasaran.
"Kata penduduk sini, dahulu sekolah ini ramai. Bahkan muridnya lebih dari 200an orang." ujar Pak Kasno memulai ceritanya.

"Kejadiannya sekitar 10 tahun lalu, sebelum aku bertugas disini. Dahulu ada wabah penyakit yang menyerang anak-anak.."
"..Banyak anak kecil yang meninggal mendadak karena sakit misterius. Anak kecil dari bayi hingga awal remaja, meninggal tanpa sebab."

"Dalam satu minggu, bisa ada 2 hingga 4 orang yang meninggal. Bahkan, dalam satu hari pernah ada 3 orang yang meninggal sekaligus.."
"Warga desa geger, tidak tahu kejadian apa yang terjadi di desa mereka.Petugas puskesmas juga gak tahu penyakitnya apa. Beberapa dirujuk ke rumah sakit di kota, tapi meninggal di dalam perjalanan. Tdk sedikit yang baru beberapa langkah dari gerbang desa, langsung meregang nyawa."
Pak Kasno memandang wajahku dengan tatapan datar. Asap rokok mengepul dari mulut dan hidungnya secara bergantian.

"Terus Pak? tanyaku lagi ingin tahu.

"Hanya dalam beberapa bulan, ratusan anak kecil meninggal. Yang ngeri, bayi dalam kandungan juga meninggal.."
"..Banyak ibu yang keguguran. Yang melahirkan, usia bayinya hanya bertahan beberapa hari. Tidak sedikit ibu yang hamil atau melahirkan, juga turut jadi korban."

Aku duduk terpaku mendengar cerita Pak Kasno. Membayangkan kematian massal di desa ini, membuat aku bergidik.
Untung saja istriku sedang di belakang, jadi dia tidak tahu ada kejadian kelam di desa ini.

Pak Kasno bangkit dari duduknya, lalu menoleh ke jendela. Kepalanya celingak celinguk, lalu kembali lagi ke tempat duduknya.

"Kenapa Pak?" tanyaku heran.
"Gak apa-apa. Takut ada yang nguping, kan ga enak. Nanti dikira kita menjelek-jelekan desa ini, kan bisa repot." kata Pak Kasno tertawa. Aku hanya senyum-senyum saja, mengusir ketegangan.

"Kamu lihat kan, penduduk disini rata-rata udah tua. Tahu kenapa?"
"Gak tahu Pak. Memang ada apa Pak?" jawabku sambil menggeleng.

"Penduduknya banyak yang ngungsi. Kabur. Yang anaknya masih hidup, pergi terburu-buru meninggalkan kampung ini. Takut jadi korban."
Pak Kasno menghela nafasnya sejenak, menikmati tiap isapan rokoknya lalu kembali melanjutkan cerita.

"Kemudian pada suatu malam, banjir bandang menyapu desa ini. Banjir datang tiba-tiba, menghancurkan rumah-rumah penduduk.
Banyak yang tewas seketika, sebagian besar para pemuda yang tengah berkumpul. Yang lainnya, meninggal beberapa hari kemudian."

"Setelah itu, desa ini jadi sepi. Sekolah juga sempat tutup, karena gak ada muridnya. Guru-guru banyak yang pindah.."
"..Pegawai puskesmas juga gak mau bertahan, apalagi beberapa orang rekannya turut jadi korban banjir."

"Kemudian, lima tahun lalu sekolah ini kembali dibuka atas permintaan kepala desa. Dan...beginilah nasibku sekarang, terdampar di desa terpencil, jauh dari keluarga."
Suasana hening seketika. Aku dan Pak Kasno sama-sama memandang langit-langit rumah, memikirkan entah seperti apa nasib kami di desa ini kedepan.

Istriku telah selesai dengan kerjaannya. Setelah mengucapkan terima kasih, aku dan istriku lalu pamit.
Masih ada beberapa hal yang harus kami bereskan di rumah dinas kami yang baru.

Senja berganti malam, tidak terdengar kumandang adzan magrib di desa ini.

***
Hari berubah jadi gelap, aku membantu Pak Kasno menyalakan mesin genset yang terletak di samping rumah dinas. Karena dibuatkan ruang khusus, suara mesin yang berisik tidak terlalu terdengar.

Dari arah hutan, suara jangkrik dan binatang malam saling bersahutan.
Suara burung hantu yang terus memanggil-manggil dari belakang rumah juga tidak kalah lantang. Andai di kota, suara hutan di malam hari pastilah menenangkan. Tapi di desa yang sepi seperti ini, suara-suara itu begitu mencekam.
Pak Kasno mengajak kami sholat Magrib dan Isya berjamaah di tempatnya. Ujar Pak Kasno, hanya kami bertiga yang muslim, sedangkan lainnya menganut agama Hindu Kaharingan.
Pak Kasno yang jadi imam, sedangkan aku jadi muadzin. Istriku tersenyum melihat aku tidak bisa menolak, soalnya ia tahu aku jarang sholat.

Usai sholat, kami nyantai di ruang tamu Pak Kasno. Sambil mengobrol, kami menonton tv yang siarannya dari parabola di depan rumahnya.
Tentu saja, juga ada hidangan kopi dan teh serta roti kering.

Pak Kasno sempat menawarkan kami untuk makan malam, namun karena masih kenyang kami tolak dengan halus.

Obrolan kami kesana kemari tentang kegiatan sekolah, tentang masa muda Pak Kasno dan sebagainya.
"Pak, apa jenengan gak takut tinggal sendiri?" tanya istriku.

"Seminggu pertama sih takut. Tapi lama-lama jadi biasa. Hanya saja, desa ini terlalu sepi, jadi kadang gak betah." ucap Pak Kasno sembari menghisap dalam-dalam rokok kreteknya.
"Semoga saja, gak ada lagi yang mendaftar di sekolah ini. Jadi sekolah ini bisa tutup, dan kita tugas di kota." Kata Pak Kasno sambil tertawa.

"Kalian tadi ketemu Bue Alang dimana?" tanya Pak Kasno.
"Di jalan Pak, dekat pemakaman. Bue Alang tiba-tiba aja muncul dari hutan." jawabku.

Pak Kasno terlihat mangut-mangut saja, sambil sesekali menatap layar televisi.

"Pemakaman yang banyak ilalang itu kan? Itu raung anak-anak yang dulu meninggal saat wabah."
Istriku kaget, karena ia tidak mendengar cerita sebelumnya. Kulit dahinya mengkerut dan pupil matanya membesar. Aku melotot kearahnya, kode agar dia tidak bertanya lebih lanjut. Walau kesal, tapi ia menurut kemauanku.
"Aku prihatin dengan nasib Bue Alang dan istrinya, Tambi Nyai. Mereka dikucilkan oleh penduduk desa. Bukan dikucilkan, tapi takut."

Pak Kasno menatap kearahku dan istri bergantian,seakan sengaja membiarkan kami penasaran.
"Beredar desas desus, kalau segala hal buruk di desa ini, disebabkan ulah mereka. Bukan,bukan mereka...tapi.."ujar Pak Kasno setengah berbisik.

"Tapi apa Pak?" tanya istriku penasaran.

"Tapi istrinya, Tambi Nyai."

Aku dan istri kembali saling pandang.
Istriku menggeser duduknya agar lebih rapat denganku. Ingatan akan kemampuan Tambi Nyai membakar wadah bambu tadi sore masih membekas. Jadi tidak heran kalau warga desa takut dengannya.
"Makanya, mereka lebih sering tinggal di pondok mereka di ladang. Sesekali pulang ke rumah, berharap anak mereka yang pergi akan kembali."

"Sebenarnya mereka juga korban. Tiga orang anaknya tewas terseret banjir 10 tahun lalu.."
"..Yang perempuan meninggal setelah melahirkan bersama bayinya. Yang masih hidup pergi entah kemana."

Pak Kasno menghentikan kalimatnya sejenak, menunggu respon kami. Karena tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut kami, Pak Kasno melanjutkan cerita.
"Akibat peristiwa itu, Tambi Nyai seperti orang depresi. Tingkahnya aneh, dan penduduk desa semakin menjauhi. Padahal mereka orang baik. Bue Alang sering mengantarkan daging rusa hasil buruan. Kadang sayuran atau buah hasil kebun mereka."
"Sebagai ungkapan terima kasih, aku sering ngasih mereka beras, sarden atau mie instan."

Pak Kasno kembali menghisap rokoknya. Asap rokok yang mengepul segera pecah tertiup hembusan kipas angin di samping televisi.
" Aku gak tega melihat mereka. Membayangkan dua orang tua hidup di ladang di tengah hutan. Mencoba bertahan hidup dengan hasil kebun seadanya. Tanpa anak dan cucu."

"Di sisi lain, aku juga tidak bisa menyalahkan warga desa. Sikap Tambi Nyai memang aneh.."
"..Bahkan kadang aku merasa ngeri. Beberapa kali ia muncul di sudut sekolah, mengamati anak-anak dari kejauhan. Anak-anak yang ketakutan langsung lari dan sembunyi di ruang guru. Tingkahnya bagai hewan buas yang mengintai mangsa."
Kami bertiga kembali terdiam. Siaran televisi berita yang membahas politik tidak menarik minat kami. Apapun kebijakan politik di Jakarta tidak akan berpengaruh pada kami, apalagi di daerah pelosok seperti ini.
Hari semakin malam, jam dinding di ruang tamu Pak Kasno sudah menunjukkan pukul 9 malam. Aku dan istri kemudian pamit untuk istirahat.

Begitu tiba di rumah, aku dan istri menyalakan lampu minyak yang menempel di dinding papan.
Lampu itu kami nyalakan di ruang tamu, dapur dan juga kamar.

Melihat keadaan ini, wajahku rasanya seperti ditampar. Betapa aku selama ini tidak pernah bersyukur. Ternyata di belahan lain negeri ini, masih banyak yang belum bisa menikmati listrik.
Di dalam kamar, aku segera mengaitkan empat sisi kelambu pada paku yang tertancap pada di dinding kayu. Bau obat nyamuk bakar juga langsung menyebar ke segala sudut kamar. .

Tidak berapa lama, mesin genset yang tadi meraung di tempatnya telah mati.
Lampu listrik telah berganti dengan cahaya lampu minyak. Rumah yang tadinya terang, berubah jadi temaram.

Istriku yang kelelahan, sudah terlelap dalam mimpi. Tubuhnya mengkerut bagai udang. Meskipun hanya berbantal tas punggung yang ditutup sarung, ia masih bisa tidur nyenyak.
Ada rasa bersalah, karena sebagai suami aku belum bisa membahagiakannya.
Andaikan tidak ada denda ratusan juta, aku pasti sudah menyerah meski belum berjuang.

Malam semakin hening, suara burung hantu di belakang rumah dinas terus memanggil.
Jujur saja, bulu kuduk ikut merinding mendengar suaranya yang tidak pernah berhenti. Ditambah suara jangkrik dan serangga yang ikut menyahut dari hutan, membuat keadaan makin terasa seram.

Aku memaksa memejamkan mata, mencoba menikmati segala kekurangan yang kami jalani saat ini
Agar cepat terlelap, baju kaos kugunakan untuk menutup mata.

Yang tidak aku sadari, ada sosok yang sedari tadi mengawasi kami dari balik pepohonan. Sosok itu bersembunyi di pekatnya gelap malam. Sorot matanya penuh amarah dan kebencian, serta rasa lapar yang tidak terpuaskan.
Ditutupi kegelapan, sosok itu telah mengitari rumah kami tiga kali sambil menaburkan beras kuning. Dan, sebentar lagi ia akan datang menghampiri.
Rasanya baru saja aku terlelap, lalu tiba-tiba saja aku terbangun tanpa sebab. Mungkin karena suara burung hantu yang terus mengganggu. Bisa juga karena suara jangkrik yang berisik. Dengan masih dibalut kantuk, tanganku mencari-cari hp di dekat tas punggung yang kujadikan bantal.
Setelah ketemu, kuraih benda itu dalam genggaman.

Layarnya menunjukan pukul 22.40, sedangkan sinyal masih kosong. Kulihat istriku sudah terbuai dalam mimpi. Tubuhnya mengkerut seperti udang karena cuaca yang dingin. Gelang rotan di tangan kirinya rupanya lupa ia lepaskan.
Kubenarkan sarung yang menutup tubuhnya, lalu aku kembali menutup mata.

10 menit berlalu, namun usahaku untuk kembali tertidur semakin sia-sia. Kubalikan tubuh kekiri dan kekanan untuk mencari posisi nyaman, tapi tetap tidak membuahkan hasil.
Semakin kucoba, semakin mataku tidak bisa terpejam. Mungkin belum baca doa mau tidur, ujarku dalam hati. Aku kemudian membaca doa yang sudah kuhafalkan sejak SD. Kupeluk istri yang membelakangiku dan kuatur tarikan nafas agar kantuk segera menyerang.
Lalu kemudian, suara burung hantu dan serangga malam berhenti seketika. Hanya ada sunyi dan hening malam.

Aneh, kenapa suara ribut binatang tiba-tiba hilang?

Aku tidak mau risau, kembali kupejamkan mata.

Baru saja kantuk menyerang, samar-samar terdengar suara di teras rumah.
Seperti suara papan yang kena injak sesuatu.

..tap...tap..tap...

Aku kaget dan segera duduk agar bisa mendengar lebih jelas. Suara langkah itu kadang menjauh, kadang mendekat. Kupasang telinga baik-baik untuk memastikan.
Nafas kuatur sepelan mungkin agar tidak terdengar dari luar.

...tap...tap..tap...

Jantungku rasanya mau copot. Benar saja, itu suara langkah kaki. Suara langkah itu seperti orang atau sesuatu berjalan mondar mandir. Kadang berhenti, kadang berjalan.
Suara itu mendekat dan terus mendekat, lalu menjauh lagi. Bulu kudukku mulai merinding dan tanganku berkeringat. Suara tapak kaki kembali terdengar lalu berhenti di depan pintu rumah dinas paling ujung, rumah pak Tingen. Hening...
Siapa yang malam-malam begini mondar mandi di depan rumah kami? Apakah pencuri atau orang yang berniat jahat? Apakah pak Kasno? Tapi untuk apa dia mondar mandir di tengah malam buta?

...tap...tap...tap...

Suara langkah itu kembali terdengar. Dan kini suaranya semakin mendekat.
Setiap satu langkah, disitulah aku menahan nafas. Darahku terasa mengalir lebih cepat, dan degub jantung semakin kencang.

Kemudian...

..tok...tok..tok..

Ada ketukan di pintu. Suaranya berulang-ulang. Namun aku takut kalau yang mengetuk itu hantu.
Aku tidak menghiraukan dan pura-pura tidur.

..tok...tok..tok...

Ternyata dia tidak pergi, malah suara ketukan semakin kencang. Suara ketukannya semakin cepat dan tidak beraturan. Kaca jendela di dalam kamar ikut bergetar.

Dan entah kenapa, pak Kasno di sebelah tidak terbangun.
Atau, ia juga pura-pura tidur?

...tok...tok..tok...

Suara ketukan terakhir teramat keras, seperti dipukul dengan benda tumpul.
Saking kerasnya, istriku terbangun dari tidur.

...sstt...

Aku memberi kode dengan jari telunjuk di mulut, agar ia tidak bersuara.
Istriku memandang wajahku dengan heran. Suara ketukan kembali terdengar, istriku mengigit bibirnya.

"siapa ? " Istriku menggerakan bibir tanpa suara.
Aku hanya menggeleng dan meminta ia untuk tetap diam.

Suara ketukan di pintu masih belum berhenti.
Dengan suara berbisik aku meminta istriku untuk tetap di kamar, dan menyuruhnya berteriak kalau ada apa-apa.

Dengan setengah berjinjit, aku berjalan menuju dapur. Berharap menemukan sesuatu yang bisa dijadikan senjata.
Namun, tidak ada sesuatu pun yang bisa dipakai sebagai senjata. Tidak ada pisau atau parang. Pandanganku tertuju pada rak sendok dan garpu. Tanpa pikir panjang, aku meraih garpu dari tempatnya.

...tok...tok..tok...
Suara ketukan tetap tidak berhenti, malah semakin keras dan semakin cepat.

Setengah takut setengah berani, aku bergegas menuju pintu depan. Aku sudah tidak peduli bila suara langkah kakiku terdengar.

Sambil gemetar, jari-jariku tangan kiriku meraih gagang pintu.
Tangan kananku yang menggengam garpu, kusembunyikan di belakang badan.

Bismillah, aku membuka pintu secara perlahan.

..sreettt...

Pintupun terbuka. Didepanku berdiri seorang nenek tua. Dia adalah tambi Nyai. Bola matanya melotot diantara kulitnya yang keriput.
Mulutnya komat kamit seperti membaca mantra.
Rambutnya yang memutih terlihat acak-acakan. Hembusan nafasnya terasa begitu panas di wajahku. Sebuah tongkat ia pegang untuk menopang tubuhnya yang ringkih.

Aku hanya berdiri mematung, tidak tahu harus berbuat apa.
Garpu di genggamanku terjatuh di lantai. Lututku rasanya gemetaran.

Tambi Nyai melirik garpu yang tadi terjatuh, lalu menatap mataku.

Tusukan matanya membuat aku seperti terhipnotis.Tambi Nyai terus menatapku tanpa berkedip. Bola matanya semakin membesar.
Selendang kumal ia lilitkan di lehernya. Kakinya yang tanpa alas kali, begitu kotor penuh tanah dan lumpur.

Entah apa yang dilakukannya tengah malam seperti ini? Tidak mungkin untuk bertamu.

Tambi Nyai mengalihkan pandangan ke sebelahku.
Aku terperanjat. Entah sejak kapan istriku ada di sebelahku.

Dan tanpa basa-basi, jari-jari keriput tambi Nyai ia tempelkan di perut istriku.

"Haah !?" Istriku kaget. Mulutnya menganga dan matanya membesar.

"Mau apa !?" ucapku kasar.
Kutepiskan tangannya yang mengelus perut istriku.

Tambi Nyai melotot kearahku. Tak mau kalah, aku juga balas melotot. Walau sebenarnya aku takut. Aku tidak menatap matanya, tapi 5 cm diatas kepalanya.
Meski diliputi rasa takut, jari-jari tangan kanan kukepalkan, siap menghantam muka keriputnya bila ia berbuat masalah. Entah berhasil atau tidak, tidak salahnya mencoba.

"Ada apa?" Rupanya pak Kasno sudah berdiri di teras rumah, beberapa langkah di belakang tambi Nyai.
Tambi Nyai menolehkan kepala kearah pak Kasno yang hanya mengenakan celan pendek dan kaos singlet. Tanpa suara, tambi Nyai lalu memandang wajahku dan istri bergantian.

Setelah beberapa saat, tambi Nyai langsung masuk ke dalam rumah tanpa permisi.
Aku dan istri terperangah dengan ulahnya yang tanpa sopan santun.

Aku ingin menegurnya, namun pak Kasno menahanku agar tetap tenang. Jari telunjuk ia miringkan di jidatnya.

Bekas tapak kaki yang penuh tanah dan lumpur memenuhi lantai yang tertutup karpet plastik.
Istriku menekuk muka dan cemberut. Mungkin ia kesal, soalnya rumah baru saja kami bersihkan tadi sore.

Tambi Nyai terus berjalan di dalam rumah tanpa peduli apapun.
Langkahnya terhenti di depan kamar tidur.
Setelah membuka pintu dan menjenguk kedalam, tambi Nyai kembali menapakan kaki ke arah dapur.

Kami bertiga terus mengikuti kemana ia melangkah. Entah apa yang dilakukannya. Matanya ia edarkan ke setiap pojok ruangan, seperti mencari sesuatu.
Tambi Nyai kini sudah masuk ke bagian belakang hingga kamar mandi, namun apa yang ia cari sepertinya tidak ketemu.

Setelah melirik ke tiap sudut, tambi Nyai melangkah pendek menuju pintu luar. Suara tongkatnya di lantai menimbulkan bunyi ketukan yang tidak teratur.
Setelah melewati pintu, Tambi Nyai membalikan badan. Sorot matanya masih seperti tadi, menusuk tajam.

"Kalian harus segera pergi dari sini !"

Suara tambi Nyai terdengar parau.
Kami bertiga hanya memandangnya saja tanpa bicara. Istriku merapatkan badannya ketubuhku.
Jari-jarinya yang hangat menggengan pergelangan tanganku.

"Kalau tidak menurut, kalian akan jadi tumbal !"
Tambi Nyai mengucapkan ancamannya dengan suara tertahan di kerongkongan. Tonjolan urat di dahinya yang keriput terlihat berkedut-kedut. Giginya bergemeretak sehingga menimbulkan bunyi.

"Jangan salahkan aku, aku tidak sanggup menahannya !" Tambi Nyai melotot.
Istriku menunduk, menghindari tatapan mata Tambi Nyai. Aku hanya berani menatap di atas kepalanya, pura-pura berani

Tambi Nyai lalu berbalik badan, melangkahkan kaki meniti tangga teras.
Setelah kakinya berpijak pada tanah, ia lantas bergerak perlahan menuju pepohonan di samping ruang guru. Kakinya yang telanjang menginjak sebuah ranting yang berduri. Begitu tapak kakinya terangkat, duri-duri itu telah patah.
Gila ! Duri itu tidak menembus kulitnya.
Tambi Nyai terus berjalan tanpa penerangan. Tubuhnya yang bungkuk segera hilang ditelan gelap malam dan rimbun belantara.

Setelah dia tak terlihat, aku langsung menarik nafas lega. Dadaku rasanya seperti terbebas dari himpitan beban ratusan kilo.

***
Beberapa menit setelah tambi Nyai pergi, istriku segera membersihkan bekas jejak kaki yang tersebar di tiap penjuru rumah kami. Sambil menggerutu tidak jelas, istriku membersikannya dengan meminjam kain pel milik pak Kasno.
Anehnya, suara burung hantu dan binatang malam kembali terdengar bersahutan dari arah hutan sekitar.

Aku dan pak Kasno berdiri di teras, bersandar di pagar kayu. Sambil merokok, dua gelas kopi panas sudah menemani kami di gelap malam.
Wangi aroma kopi langsung mengurangi ketegangan kami barusan. Ujar pak Kasno, tambi Nyai juga pernah datang tiba-tiba ke rumah dinas ini.
Dahulu, lima tahun lalu, tambi Nyai tiba-tiba mengetok pintu rumah pak Kasno di tengah malam buta.
"Dulu, kejadiannya juga hampir sama seperti ini. Tambi Nyai tiba-tiba datang dan menyuruh kami pergi. Tapi nyatanya, aku baik-baik saja sampai saat ini. Jangan dipikirkan."

Aku hanya mendengarkan saja kata-kata Pak Kasno, tidak tahu harus menjawab apa.
Aku memutar badan, menyandarkan tanganku pada pagar sambil memandang tempat dimana tambi Nyai menghilang.

"Hanya saja, satu minggu setelah kedatangan tambi Nyai, istriku langsung membawa ketiga anak kami pergi terburu-buru.
Sampai sekarang, istriku tidak pernah bercerita apa yang dia lihat di rumah ini." ucap Pak Kasno.

***
Malam berganti pagi. Suara burung dan monyet saling bersahutan dari arah hutan untuk membangunkan para penghuni desa.

Aku dan istri telah siap dengan pakaian putih hitam, seperti pakaian mahasiswa calon guru saat PPL di sekolah.
Hari ini Pak Kasno akan mengenalkan kami pada guru lainnys dan juga murid-murid. Dan kami telah melupakan perihal perilaku aneh Tambi Nyai tadi malam. Lebih tepatnya, pura-pura melupakan.

Matahari belum tinggi, dan embun berlapis kabut membasahi dedaunan dan rerumputan.
Kami bertiga menuju sekolah yang hanya beberapa langkah dari rumah dinas kami.
Aku mengedarkan pandang menatap bangunan sekolah ini. Sebagian kelas tampak kosong dan terkunci. Sarang laba-laba dan debu menghiasi tiap sudutnya.
Plafon banyak yang terkelupas dan menjuntai di langit-langit. Bekas rembesan hujan bagaikan peta benua yang tersebar dimana-mana. Dindingnya juga banyak yang berlubang termakan usia.

Di ruang guru, ternyata sudah ada Pak Ancah dan seorang lelaki paruh baya tengah mengobrol.
Kopi panas yang masih mengepul tersaji di meja di depan mereka. Masing-masing jari tangan mereka mengapit sebatang rokok, sedangkan piring kaca kecil mereja jadikan asbak. Dan sesekali mereka tertawa.

Melihat kami bertiga datang, mereka lantas berhenti mengobrol.
Pak Kasno kemudian segera memperkenalkan kami pada mereka berdua. Mengetahui ada guru baru, wajah Pak Ancah langsung berbinar bahagia.

Aku dan istri lalu menyalami mereka berdua dan menyebut nama masing-masing.

"Bimo Santoso, Pak. Guru Olahraga"
"Sriatunisa pak. Guru Bahasa Inggris."

"Mantap, mantap. Semoga betah. Sekolah kita memang butuh guru baru." ujar Pak Ancah sambil menyambut tangan kami. Senyum di bibirnya begitu lebar, memamerkan barisan giginya yang putih.

Sedangkan lelaki di sampingnya, namanya Pak Sahen.
Dia bertugas sehari-hari untuk merawat serta menjaga sekolah ini. Ternyata, pak Sahen adalah laki-laki yang kami temui kemarin saat pertama kali tiba di sini.

Pak Sahen meminta maaf atas prilakunya kemarin, tapi kami sudah melupakan dan menganggap hal biasa.
Ada satu orang guru lagi yang belum kami jumpai, yaitu Pak Tingen. Jadwalnya untuk mengajar tiap hari jumat, artinya esok hari.

Sementara itu, anak-anak tanpa sepatu & berseragam putih merah kumal sudah berdatangan ke sekolah. Baju-baju mereka sudah menguning & tidak brsetrika.
Diantara mereka, hanya beberapa orang saja yang memakai tas. Sedangkan lainnya menggunakan kantong kresek untuk wadah menyimpan buku, pensil dan polpen.

Anak-anak polos itu berlarian di halaman, saling kejar.
Sebagian lagi asyik bermain dengan kelompoknya.
Tepat pukul tujuh, pak Kasno meminta pak Sahen untuk memukul lonceng panjang.

...teng..teng..teng...

Murid yang hanya 7 orang itu segera berkumpul di depan ruang guru. Mereka berbaris berjejer. Anak-anak itu masih bercanda & tertawa. Beberapa masih saling dorong dan bertengkar.
Keributan anak-anak langsung hilang ketika Pak Kasno berdiri di depan.

"Anak anak...hari ini kita ada guru baru."

"Horeee....!!!" Anak-anak yang masih polos itu terlihat gembira. Tangan mereka menari-nari udara, ada juga yang melompat-lompat kegirangan.
Melihat tingkah anak-anak tersebut, aku dan istri langsung tersenyum simpul. Di tengah pelosok belantara seperti ini, ada anak-anak negeri yang berjuang meraih cita-cita dengan kondisi serba terbatas.

Pak Kasno meminta kami maju kedepan untuk memperkenalkan diri.
Anak-anak menyambut antusias saat kami menyebut nama masing-masing. Istriku disebut ibu cantik oleh anak-anak tersebut. Istriku tersipu malu karena godaan anak-anak itu.

Bocah-bocah itu segera memberondongi kami dengan berbagai pertanyaan lugu khas anak-anak.
Usai perkenalan, anak-anak kemudian bubar menuju kelas masing-masing.
Pak Kasno langsung meminta kami untuk mengajar. Istriku mengajar kelas 3, sedangkan aku mengajar kelas 5.
"Udah gak apa-apa. Di sini di desa, gak kayak di kota. Yang penting anak-anak ada gurunya. Nanti kubuatkan jadwal ngajar yang baru."ucap Pak Kasno.

Beberapa menit berlalu, kini aku sudah di lapangan sekolah. Tanpa baju olahraga, anak-anak segera kubariskan berjejer.
Mereka adalah 2 perempuan dan 2 laki-laki.
Rencananya aku akan mengajak anak-anak melakukan beberapa permainan tanpa alat.

Saat memperkenalkan diri masing-masing, ada satu kesamaan pada anak-anak itu.
Di kaki kanan mereka melingkar gelang hitam dari jalinan akar kayu, dirajut rapi dengan benang hitam yang seperti rambut.

"Itu gelang apa? " tanyaku pada salah seorang anak laki-laki yang bernama Diwak.
"Ini basal pak. Jimat dari akar ulin. Supaya kami gak diganggu roh jahat. Dulu...anak-anak di kampung ini banyak yang mati. Soalnya ada..."

"Diwak, jangan diomongin. Nanti dia dengar " seorang gadis kecil di sebelahnya setengah berbisik.
Diwak terdiam, lalu menundukan kepala seolah menyadari kesalahanya. Mukanya merengut dan matanya berkaca-kaca. Cengeng juga bocah ini, batinku.

Aku segera mendekat dan memegang pundaknya dalam posisi jongkok.

"Sudah gak apa-apa." ucapku sambil mengusap kepala Diwak.
"Jimatnya dapat dari mana? "

"Dikasih ibu. Katanya dikasih Pak Tingen."

"Iya, saya juga dapat." Jawab bocah lelaki lainnya.

"Pak.." gadis kecil tadi bicara terbata. Ia merapatkan tubuhnya dan berlindung di belakangku. Anak-anak yang lain juga segera mengikuti.
"Itu, disana" lanjut gadis kecil tadi. Ia menunjuk arah dengan dongakan kepala.

Aku berdiri lalu mengikuti arah pandangannya. Tapi tidak ada siapa-siapa di sudut lapangan.

" Dimana?"

" Itu di sana pak. Di atas pohon."
Setelah mencari kesana kemari, akhirnya pandanganku fokus pada salah satu pohon di dekat perpus dan wc siswa.

Benar juga, ada wajah nenek-nenek muncul di antara rimbun dedaunan. Wajahnya hanya cengengesan. Karena jarak yang cukup jauh, aku tidak bisa memastikan wajah siapa itu.
Apakah Tambi Nyai? Tapi sepertinya tidak mungkin. Dia berjalan saja harus ditopang tongkat, apalagi memanjat pohon.

Nenek itu hanya diam mengawasi, lalu kembali terkekeh tanpa suara.

Tapi, dimana badannya? Apa yang dilakukannya di atas pohon?
Setelah beberapa saat, wajah itu kemudian masuk kedalam dedaunan. Ranting pohon tempatnya bersembunyi tampak bergoyang-goyang.

"Benarkan pak. Dia mendengar omongan kita." ujar gadis kecil tadi ketakutan.

Aku memandang wajah mereka. Mereka menunduk dengan tubuh gemetaran.
Mereka hanya diam tanpa suara sambil terus merapatkan badan di kakiku.

Guna menghilangkan rasa penasaran, aku melangkahkan kaki menuju pohon itu. Anak-anak kusuruh diam menunggu.

Namun, baru beberapa langkah,...

....arrrggghhh....
Terdengar suara jeritan dari dalam kelas istriku. Dua orang anak berhamburan dari kelas sambil menangis ketakutan. Mereka lari terbiri ke ruang guru. Tidak lama, istriku menyusul mereka di belakang.

Aku segera berlari menghampiri istriku.
Empat orang anak yang tadi bersamaku juga terlari terbirit-birit ke ruang guru.

"Ada apa? Dimana Mayang? "tanya Pak Kasno.
Belum sempat istriku menjawab, terdengar suara cekikikan dari ruang kelas.

Suara cekikikan itu melengking, terasa menyayat hati yang mendengar.
"Pak Sahen, jaga anak-anak dan Bu Sri. Yang lain ikut aku !"

Kami bertiga bergegas menuju ruang kelas tiga. Begitu sampai pintu, suara cekikikan tadi langsung hilang. Murid yang bernama Mayang juga tidak terlihat.

Beberapa murid laki-laki juga ternyata mengikuti kami.
Namanya anak kecil, pasti susah diatur. Pak Sahen terlihat kewalahan mengejar mereka, meninggalkan istriku dan murid lainnya di ruang guru.

Masih di depan pintu, kami mengedarkan pandangan ke dalam kelas, namun tidak ada siapa-siapa di situ.
Hanya ada tumpukan kursi dan meja yang berhamburan.

Beberapa saat kemudian, terdengar suara cekikikan.

"Di situ!" tunjuk Pak Ancah.

Di salah satu sudut ruangan, ada sepasang kaki yang menjuntai dari atas plafon.
Kaki itu bergoyang-goyang dengan tenang bagaikan ranting yang ditiup angin.

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with Tanpopo

Tanpopo Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @ki_ayu

Aug 23, 2021
"Kalagenda : Ritual"
Author : @Redear_Redear
Link : kask.us/iGZ3V

NB: Cerita ini sudah disetujui penulisnya utk direwrite :)
#ceritahoror #ceritahorror #ceritaserem #ilmusunda @bacahorror @IDN_Horor @ceritaht
"Sejatinya tidak ada ilmu hitam dan ilmu putih, ilmu tetaplah ilmu. Yang ada hanyalah pelakunya menapaki jalan yang mana." Image
Chapter: Sajen

Kang Adul Ojol

Resto Fiktif

Cerita ini saya dapat dari Mas Yus (bukan nama samaran yang diaslikan), saat itu kebetulan saya sedang onbid hingga lewat tengah malam. Pasalnya anak saya besok harus bayar SPP sekolah TK-nya.

Ok cukup curhatnya.
Read 123 tweets
Jul 16, 2021
"Wulan"

Rewrite berdasarkan ijin dari sang penulis :)
Author : @gunawanindra4
Thread : kask.us/iH3sn

Selamat menikmati.
@bacahorror @ceritaht @IDN_Horor #threadhorror #dendam #ceritahorror
"Ada apa gerangan sampai Eyang mendatangiku? Bukankah malam purnama masih beberapa hari lagi?"

"Aku datang bukan untuk menagih janji, tapi untuk mengajukan sebuah penawaran!"

"Penawaran?"

"Kau ingin harta lebih banyak lagi?"

"Eh, tentu saja, Eyang."
"Bagus! Aku menginginkan anak istimewa itu untuk tumbalku di malam purnama kali ini!"

"Anak istimewa?"

"Kau pasti tau yang kumaksud!"

"Eh, tapi Eyang ...."

"AKU MAU ANAK ITU!!!"

"Bb .... Ba .... Baik Eyang."
Read 1161 tweets
Nov 22, 2019
Disini aku bercerita. "Pekerjaan" lain disamping kesibukanku sendiri.
Buat orang lain, horor itu menyeramkan. Tp buatku, horor itu punya kisah tersendiri yg bisa diambil hikmahnya :)
Selamat Menikmati.

#threadhoror #bacahorror #bacahoror @bacahorror Image
Case Pertama : Pelet Darah Haid.

Aku memandangi jalanan di depan yg masih ramai. Sebuah suara notif membuatku menyambar Smartphone yg sedari tadi menganggur. Belum ada customer.
Mas Rio : Pagi mbak
Aku : Pagi mas. Urusan semalam kelar?
Mas Rio : Oh iya, sudah. Yang terpenting..
".. semalam salah pahamnya sudah clear dengan Puh Gema"
Aku : Syukurlah mas. Semoga dia mau mengerti dan memahami :)
Mas Rio : Semoga mbak. Aku aja capek kok, mesakke ngurusi cah siji ae angel tenan (nyesek, mengurus anak satu saja susah sekali).
Aku : Wkwk Maklum mas, indigo dia
Read 39 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Don't want to be a Premium member but still want to support us?

Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal

Or Donate anonymously using crypto!

Ethereum

0xfe58350B80634f60Fa6Dc149a72b4DFbc17D341E copy

Bitcoin

3ATGMxNzCUFzxpMCHL5sWSt4DVtS8UqXpi copy

Thank you for your support!

Follow Us!

:(