“Pentingnya Logika dalam Beragama”
-utas-

Berbicara tentang Tuhan atau tentang agama, mau tak mau kita mengorbankan sedikit logika untuk kita sandarkan pada sebuah dasar yaitu: keyakinan.

Namun, tak mungkin juga kita beragama tanpa logika.

#islammasadepan #islamdenganlogika
Saya tak akan membahas bukti ilmiah keberadaan Tuhan seperti tuntutan para penganut atheisme karena memang itu tak bisa dibuktikan. Tapi justru saya harus akui bahwa saya adalah salah satu dari 90% penduduk bumi yang percaya bahwa Tuhan itu ada.
Keberadaan Tuhan pasti akan disangkal bagi orang yang menomorsatukan logika dan bukti ilmiah. Namun, bagi saya yang percaya bahwa Tuhan itu ada, keberadaan Tuhan itu kepentingan diri saya. Saya memeluk agama itu untuk mengatur saya, bukan untuk mengatur orang lain.
Kadang orang yang sudah tak percaya Tuhan itu ya ekstrim. Mengkritik yang beragama secara ekstrim tapi dia sendiri ekstrim. Mengkritik yang ada di kanan, tapi ketika ada yang beragama di sebelah kiri, tetap saja dianggap kurang ke kiri. Yang nyerang saya ekstrim kanan atau kiri.
Bagi saya, Allah adalah Tuhan. The one and only. Saya juga yakin bahwa Nabi Muhammad adalah pembawa pesan dari Allah. Bukan ilmiah, itu wilayah iman saya. Namun di luar hal-hal yang saya sandarkan pada iman, saya tetap menggunakan akal saya dalam beragama.
Saya yakin Islam itu agama yang dipersiapkan hingga manusia punah. Untuk itu, jika penafsiran Islam itu berhenti seperti yang diajarkan saat ini, menurut saya tak mungkin bisa diterima logika manusia di masa depan.
Jangankan di masa depan, untuk saat ini saja, banyak sekali ajaran "yang diklaim ajaran Islam" itu susah diterima akal sehat. Bagaimana mungkin ajaran yang dipersiapkan hingga akhir zaman namun tidak bisa diterima akal sehat?
Korban dari penafsiran agama Islam yang konvensional ini adalah banyaknya orang Islam yang “keluar”. Kita bisa lihat banyak orang yang bangga dengan status atheis-nya dengan memamerkan bahwa dulunya dia adalah muslim. Banyak juga orang bangga dengan status murtadnya.
Saya tak bisa begitu bisa menyalahkan orang yang keluar Islam jika ajaran Islam tetap tak ada “pembaharuan”. Jika kita terus bersikukuh bahwa penafsiran Islam harus bersandar pada pendapat 4 imam Mazhab yang sudah ada, Islam akan semakin ditinggalkan.
Apalagi jika ada yang masih ngotot bahwa Syariat Islam harus ditegakkan. Masih ngotot bahwa negara harus dibubarkan karena sistem yang benar adalah sistem khilafah. Padahal jelas bahwa Nabi tak pernah punya sistem yang baku dalam memimpin negara.
Nabi hanya mencontohkan bahwa saat itu, sebagai pemimpin, beliau juga bersepakat dengan elemen lain dalam bermasyarakat berupa perjanjian-perjanjian. Dalam Al Quran pun jelas bahwa perjanjian itu harus ditaati.
Namun, di zaman sekarang ini, kita jelas punya perjanjian yang berbeda. Kita punya kesepakatan yang berbeda. Kita sudah bersepakat untuk hidup bersama dalam satu bangsa. Apapun keyakinan kita, kita sudah bersepakat dengan sistem negara yang berdasarkan Pancasila.
Bagi saya, Islam harus menyesuaikan diri dengan logika manusia saat ini. Bukan berarti kita mengubah ajaran Islam, namun kita menafsirkan ulang. Dunia sudah sedemikian berubahnya. Tanpa pembaharuan penafsiran, agama Islam akan ditinggalkan.
Pilihannya sebenarnya sangat sederhana, berubah atau ditinggalkan. Cepat atau lambat. Misal ada yang berpendapat Islam pasti diterima di masa depan tanpa tafsir ulang, itu berarti dia tak sadar bahwa Islam bisa sebanyak ini sekarang ya karena dulu ulama pakai logika sesuai zaman.
Dikiranya Wali Songo dulu tak pakai akalnya untuk membuat Islam bisa diterima? Dipikir orang yang dakwah di negara China sana ulamanya tak menyesuaikan dengan budaya setempat? Menyesuaikan dengan logika manusia itu keniscayaan.
Pendapat saya pasti banyak ditentang oleh muslim sendiri. Namun ke depan, pemikiran seperti ini akan semakin banyak disuarakan dan banyak yang setuju. Kalau sekarang, cenderung banyak yang mencaci dulu sebelum benar-benar mencerna tulisan saya.
Biasanya mereka berargumen dalil bahwa agama Islam itu “sudah sempurna” jadi tak perlu diubah-ubah. Bagi saya, justru karena Islam itu sempurna, makanya Islam bisa menyesuaikan diri dengan zaman yang terus berganti. Islam bisa dibawa sesuai perkembangan logika manusia.
Di sisi lain, orang-orang yang mengaku murtad atau mengaku atheis biasanya menyerang dengan nyinyir, “Tuhan kok bikin aturan nggak jelas dan berubah-ubah!? Jelas-jelas tulisan dalam Quran itu tak masuk akal!”
Islam bisa bertahan dan sebesar ini sejak abad ke-6 lalu itu karena Tuhan punya metode dahsyat seperti itu. Bisa diterima banyak manusia justru karena Quran punya copywriting seperti itu. Jika sekarang logika manusia berkembang, Islam akan tetap punya jalan untuk beradaptasi.
Dan bagi saya, dengan metode penafsiran ajaran Islam yang memisahkan antara ibadah dan hubungan sesama manusia ini, maka Islam sangat siap untuk logika manusia di masa depan.
Islam tetap didirikan dengan Rukun Islam dan mengimani Rukun Iman. Selebihnya, untuk urusan sesama manusia, tak ada aturan baku dalam Islam. Aturan sesama manusia sudah seharusnya disepakati oleh sesama manusia.
Mungkin dulu, aturan yang diklaim sebagai hukum Islam itu perlu dilaksanakan karena hukum negara dan dunia secara luas belum ada. Namun jika saat ini, seluruh dunia sudah saling bersepakat dengan sistem negara dan hubungan antar-negara, maka kita sudah mengikuti itu.
Saatnya mengembalikan Islam sebagai ajaran untuk beribadah sesuai ajaran Nabi Muhammad, sedangkan untuk urusan hubungan kemanusiaan, kita hanya berpegang teguh prinsip yang dibawa dan dicontohnya oleh Nabi Muhammad yaitu: Akhlaqul karimah.
Kita beribadah secara Islam, lalu berbuat baik ke sesama manusia dengan menjalankan kesepakatan untuk saling menghormati, saling menjunjung kemanusiaan, saling menjaga aturan, dan saling mewujudkan kedamaian. Itulah wajah Islam yang seharusnya kita wujudkan.
Itulah rahmatan lil alamin. Bukan agamanya, tapi pemeluknya. Saat pemeluk Islam sdh menjadi rahmat dgn memberi manfaat bagi dunia, maka dengan sendirinya Islam di saat itu akan menjadi rahmatan lil alamin. Dimulai dari diri kita.

-akhir utas-

#islammasadepan #islamdenganlogika

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with Hasyim Muhammad

Hasyim Muhammad Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @hasyimmah

4 Sep
“Memilah Agama dan Budaya”
-utas-

Saat Nabi bersabda tentang siwak sebagai pembersih gigi, lalu ada yang mencatat dan memasukkan itu dalam buku hadis, tiba-tiba siwak menjadi ajaran agama. Sekarang masih banyak yang anggap siwak adalah sunnah yang harus diikuti. Salah kaprah!
#islammasadepan #islamdenganlogika

Bagaimana jika saat Nabi bicara, “Kalau keluar kota naiklah unta,” lalu ada yang mencatat dan memasukkan sabda itu dalam buku hadis? Apakah naik unta jadi ajaran agama?
Atau misal saat Nabi bicara, “Kalau masak, pakailah kayu bakar dari kayu apel karena kayu apel adalah kayu paling bagus,” lalu sabda Nabi itu dicatat dan masuk buku hadis, apakah lalu kita harus ikut memasak memakai kayu bakar karena itu kita anggap sunnah Nabi dan ajaran agama?
Read 31 tweets
23 May
"Menafsirkan Agama"
-utas-

Tahukah Anda bahwa umat Islam selalu ditakut-takuti (oleh orang Islam sendiri) untuk tidak membaca makna Quran. Membaca Quran terjemahan seperti dilarang. Apalagi menafsirkan sendiri.

Akhirnya Quran hanya jadi semacam mantra yang tak dipahami umatnya.
Islam itu diturunkan untuk jadi agama sampai akhir zaman dengan Quran sebagai petunjuknya. Namun, untuk urusan fiqih saja kita semacam dilarang keluar dari tafsir 4 mazhab yang ditulis 12 abad lalu.
Empat imam mazhab itu berjasa telah mengantarkan Islam hingga saat ini. Namun untuk ke depan, kita punya Quran untuk kita jadikan petunjuk ke masa depan. Penafsiran zaman dulu tentu sangat berbeda dengan kondisi sekarang. Apa lagi masa depan.
Read 15 tweets
29 Nov 20
Saya org Islam. Dan secara moral saya ikut bertanggung jawab atas tindakan teroris di Sigi.

Jelas teroris itu beragama Islam dan berbuat jahat atas nama Islam, agama saya.

Saya rela dicaci oleh yg dirugikan atas perbuatan para teroris itu. Maaf baru sebatas itu yg saya bisa.
Misal saya bertemu keluarga korban, saya mau bersujud di kakinya untuk minta maaf. Saya serius.
Mungkin byk yg tahu bahwa Islam yg saya yakini tak seperti mereka, tapi saya malu atas tindakan mereka karena jelas bawa nama Islam. Dan saya malu karena saya tak bisa berbuat apa2 terhadap mereka ataupun mencegah mereka.

Maka dari itu saya minta maaf kepada semua yg dirugikan.
Read 4 tweets
6 Mar 20
Apakah Khilafah itu Hukum Allah?
-utasjumat-

Sunnah secara bahasa artinya metode, atau jalan, atau ketentuan. Jika kita ditanya mana yang lebih tinggi sunnatullah atau sunnah rasul? Tentu jawabannya sunnatullah. Lalu hukum Islam itu termasuk sunnatullah atau sunnah rasul?
Saya pernah melihat sebuah foto yang menunjukkan mahasiswa sedang demo dengan membawa spanduk bertuliskan: "Numpang hidup di bumi Allah, harus patuh pada aturan Allah." Sekarang, mari kita gali lebih dalam, sebenarnya "aturan Allah" itu aturan yang mana?
Apakah aturan Allah itu maksudnya adalah agama Islam? Bukan! Agama Islam itu dalam lingkup sunnah Rasul atau aturan yang dibawa Nabi Muhammad saw. Sedangkan sunnatullah, alias ketentuan Allah, alias hukum Allah, itu jauh lebih luas dari agama Islam. Image
Read 13 tweets
17 Feb 20
Menyikapi Ibadah Agama Lain
-utas-

Dari mempersulit pembangunan rumah ibadah hingga meributkan acara ibadah yg dilakukan di luar rumah ibadah. Kejadian itu tampaknya makin sering terjadi. Yang perlu Anda tahu, itu bukan ajaran Islam, bahkan melanggar ajarannya. Saya coba bahas.
Pertama, perintah AlQur'an dan hadits agar umat Islam berbuat adil itu sangat jelas.

Lalu kenapa saat umat agama lain ibadah di mall, di ruko, di rumah, kok diributkan? Bangun rumah ibadah dipersulit.
Padahal umat Islam sendiri boleh beribadah dan bikin acara agama kapanpun dan di manapun tanpa ada yang melarang. Bangun musholla dan masjid di manapun bisa.

Itu jelas tidak adil. Dan jelas melanggar ajaran agama Islam itu sendiri.
Read 20 tweets
1 Feb 20
Runtuhnya Kesombongan Sang Gubernur
-utas-

Anda ingin tahu kenapa kita "sedikit pantas" untuk menyalahkan gubernur DKI jika ada banjir di Jakarta? Semua itu karena ucapan beliau sendiri. Berikut saya coba rangkai penyebabnya.
Saya sebenarnya malas menuliskan ini karena bagi saya banjir adalah musibah yang tak perlu dicari siapa yang salah. Namun, saya juga tidak suka saat para buzzer gubernur selalu pamer tentang banjir di kota lain.
Terutama Surabaya. Entah kenapa buzzer Anies suka sekali jika ada kabar Surabaya banjir. Bahkan kalau di WAG, mereka pakai metode sok peduli sok konfirmasi, "Surabaya banjir, ya?" Habis itu posting video-video banjir Surabaya.

Cepat sebarkan video banjir Surabaya, keburu surut!
Read 37 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!

Follow Us on Twitter!

:(