𝐀𝐊𝐔 𝐃𝐈 𝐆𝐀𝐆𝐀𝐇𝐈 𝐏𝐑𝐈𝐀 𝐁𝐄𝐑𝐌𝐀𝐒𝐊𝐄𝐑

[Sebuah utas]
.
.

(1) Pandemi ini menyisakan kisah pilu bagi banyak orang, apalagi bagi aku pribadi. Terasa sangat² memilukan dan memalukan.
Aku di sodomi ber-kali² oleh pria yg selalu pakai masker utk menutupi wajahnya.
(2) Pandemi covid-19 ini memang mewajibkan kita pakai masker. Namun ternyata ada aja yg menyalah gunakan masker itu utk aksi biadabnya. Seperti yg dilakukan salah seorang pria paruh baya padaku secara ber-ulang². Aku sama sekali gak bisa mengenali wajahnya pria itu.
(3) Meski maskernya hanya menutupi sebagian wajahnya dan bukan menutupi semuanya layaknya topeng. Yang aku tau pria tsb sudah berumur 50-an. Itu terlihat dari guratan di dahinya, di sekitar kantong mata, dan di bagian kulit wajah disekitar matanya, dan juga dari suaranya.
(4) Namaku Mbah Paijo, 72 th, seorang kakek sebatang kara yg tinggal di gubuk sederhana di tengah ladang sayur mayur dan ladang pepaya. Tinggalku cukup jauh dari keramaian, namun jarak gubuk ku ke jalan raya hanyalah 100 meter.
(5) Istriku udah meninggal 15 th yl. Dan anak perempuan semata wayangku merantau cukup jauh ke negeri jiran, malaysia. Gubukku dialiri listrik juga, dan aku punya sepeda motor butut juga yg bisa menemaniku ke-mana².
(6) Ketika itu 4 Okt 2020, tepat setaun yl, seorang pria paruh bawa dtng berjalan kaki ke gubukku dgn alasan mau beli sayur²an dan juga nanya² ttg pupuk utk sayur²an dan buah²an. Pakaiannya rapi, kemeja abu² polos lengan panjang dan celana bahan warna hitam, sepatu pantofel.
(7) Tingginya sekitar 174 cm, badannya sedang. Tercium semerbak aroma minyak wangi dari tubuhnya. Dia memanggilku dan menyapa dgn ramah, lalu menyalam tanganku. Aku sempat ragu jg apakah aku akan menjabat tangannya, sementara di masa pandemi kita dilarang salaman.
(8) Tapi aku segan gak menerima tangannya, takut dia tersinggung. Akhirnya akupun tetap salaman dengannya. Lalu dia memuji keasrian tmpt tinggalku, dan hijaunya tanam²anku. "Sejuk disini Pak, jd ingat kampung.", katanya. Lalu dia jalan² liat² sayur mayurku dan di foto²nya.
(9) Sambil ngobrol, kubawa dia keliling ladang melihat semua yg tumbuh disana. Lalu kami kembali ke gubuk, bincang² sambil duduk. Menurutku dia orang baik dan humble. Dari cara ngomongnya keliatan dia orang berpendidikan dan jg punya kedudukan. Tapi aku gak nanya kerjanya apa.
(10) Dia memilih beberapa sayuran segar serta buah pepaya utk dibawa pulang. "Bawa aja Pak, gak usah dibayar.", kataku. Aku memang gak pelit berbagi kalau ada org yg minta. Aku tambahin lagi sayur dan buahnya dan ku masukin semuanya ke dlm kresek besar.
(11) Tapi ternyata dia juga gak tega menerima gratisan dari aku. Dia bilang akan bayar namun ku tolak. "Saya beli aja Pak, gak enaklah gratisan, kan Bapak nanam itu pake modal juga.", katanya. "Terimalah Pak, aku tulus.., ikhlas.", tambahnya. "Gak usah Pak, bawa aja.", kataku.
(12) Lalu dia berusaha menyalamkannya ke tanganku, tapi tanganku ku kepal. Dia berusaha memasukkan ke kantong bajuku tapi ku tutupi kantongku dgn tangan. Dia berusaha menyematkan ke bagian leher bajuku tapi ku hindari. "Terimalah Pak. Mohon di terima..." ucapnya dgn tulus.
(13) Dia memegang pundak kiriku dgn tangan kirinya. Aku dipeluk dari samping dan tangannya berusaha memberikan duit itu ke tanganku. Sambil ketawa² tentunya kami berdua. Kuingat dia menempelkan pipinya ke pipiku dan seperti menciumku. "Terima aja ya Pak!", ucapnya terus.
(14) Lalu akhirnya akupun menerimanya. Aku gak liat itu berapa, lgsg masuk kantong aja. Lalu kami ngobrol kembali. Cukup lama dia disana. Dia bilang senang bertemu dan berkenalan dgnku. Dia bilang msh pengen ketemu besok².
"Pak, besok² saya main kesini lagi boleh?", tanyanya.
(15) "Boleh! Datang aja gak papa.", jawabku. "Benaran ya Pak, saya serius lho. Pengen kesini lagi karna tmpt ini adem, bisa ilangin suntuk.", tambahnya lagi. "Iya Pak, silakan dtng lagi. Saya gak keberatan kalau Bpk mau dtng lagi kesini. Malah saya senang.", tambahku.
(16) "Ok Pak!", katanya sambil maju ke dpnku dan me-nepuk² pundakku. Tapi kalau aku mau bawa sayuran tolong Bpk terima duitnya, pokoknya aku gak bisa terima gt aja dr Bpk, hitung² bantu Bpk juga.", ucapnya. "Hehe.. iya Pak!", jawabku. "Saya tau Bpk org baik, gak pelit.", katanya.
(17) "Tapi saya pengen ngasih juga ke Bapak.", tambahnya. "Tapi besok² kalau dtng bawa sayur, gak usah ksh duit teruslah Pak. Terima se²kali pemberian saya.", kataku. Lalu dia senyum menatap ke mataku. "Iyalah Pak kalau gitu. Bapak pengen bnyk kali nih amalnya. Haha!", katanya.
(18) Dia ketawa lepas dan nyubit kedua pipiku. Sepertinya dia ingin ber-lama² dan nampaknya ada yg mau dia ungkapkan namun tertahan. Akhirnya diapun pulang. Aku mengiringnya sampai ke jalan raya menuju mobilnya. Ternyata mobilnya Toyota Fortuner warna hitam.
(19) "Hati² ya Pak!", ucapku. "Iya Pak, Bapak juga. Sehat² ya Pak, panjang umur, sampai jumpa lagi.", ucapnya. Aku berdiri mematung ditepi jln itu menatap mobilnya yg melaju makin jauh sampai gak keliatan. Barulah aku kembali ke gubukku.
(20) Aku gak yakin dia bakal dtng lagi. Mungkin ucapannya yg bilang sampai jumpa lagi kemarin cuma basa basi. Ku ambil duit yg dikasihnya tadi dari kantongku, Astaghfirullahaladzim, banyak sekali. 😱
"Masya Allah, ini mah kebanyakan Pak.", gumanku. "Alhamdulillah.", ucapku.
(21) Ternyata tiga hari lagi Bapak itu datang lagi. Dia membawa mobilnya sampai ke samping gubukku. Karna kemarin udah ku bilang bisa juga mobil masuk sampai kesini. Kali ini dia pakai kemeja kotak² lengan pendek, celana bahan warna coklat, dgn masker kayak kemarin, masker medis.
(22) Sama dgn kemarin, hbs jg waktu 3 jam lbh buat ngobrol dgn dia. Tak lupa dia keliling ladang dan foto². Pulangnya dia bawa sayu dan buah lagi. Tapi kali ini aku lgsg terus terang ke di waktu mau menerima duitnya. "Pak, duit Bpk kemarin kebayakan.", ucapku.
(23) "Biasa tuh Pak.", jawabnya. "Gak usah kegitu Pak.", kataku. "Gak papa Pak, saya sengaja tuh!", pungkasnya. Akhirnya dia juga memberikan sejumlah uang ke aku. Sblm pamitan dia memelukku, mengusap punggungku, dan cipika cipiki. Udah kayak anak yg pamitan dgn orangtuanya.
(24) Dan tiga hari kemudian dia dtng lagi. Itulah pertemuan kami yg ketiga. Begitulah slnjtnya sampai pertemuan kelima, jarak² tiga hari dia selalu dtng. Dan asal mau pamitan wajib memelukku dan cipika cipiki. Akupun makin yakin dia orang baik, bahkan aku merasa bangga kenal dia.
(25) Pertemuan ke 6 kami terasa beda, karna disitulah dia mulai menjurus ke hal² yg sblmnya gak prnh dia bahas, yaitu ttg seks. Dia jg menawarkan memijat tubuhku. Meski gak aku iyakan, dia me-mijat² kaki dan pundakku. Kuakui pijatannya enak layaknya profesional.
(26) "Saya pijat Bapak ya."
"Gak usah Pak."
"Udah, gak papa. Sambil ngobrol²."
"Emang bisa mijit Pak?"
"Bisa!"
Lalu dia me-mijit² kaki kananku dari jari kaki hingga atas lutut, lalu pindah ke kaki kiri. Setelah itu dia mijitin kepala, pundak, dan pelipis mataku. "Enak Pak?"
(27) Dia bertanya. "Iya, urutan Bpk mantap.", pujiku. "Urut lgsg aja gimana Pak? Buka aja bajunya, rebahan aja.", bujuknya. "Gak usah Pak.", kataku karna segan. Bagiku di urut iseng ajalah gak usah resmi kali. Tapi dia menawarkan terus. "Udah, urut badan aja sekalian, Pak!".
(28) "Udah santuy aja. Biar lbh dpt semuanya.", kata dia. "Santui? Apa td kata Bpk. Santui?", tanyaku dgn serius. "Hehe.. iya Pak. Santuy tuh santai.", jawabnya. Oh, sengaja toh, kirain tadi lidah Bapak kepleset.", kataku. "Enggak, Pak!", jwbnya. "Jadi gimana, Pak?, tanyanya.
(29) "Urut sekalian aja, kan?!", tambahnya. "Bapak capek nanti.", kataku. "Gak papa Pak, sambil ngobrol.", katanya. Lalu akupun membuka kemeja usang lengan pendek yg ku kenakan. "Celananya buka aja Pak. Pake sarung aja!", katanya. Akupun memakai sarung dan lucuti celana pendekku.
(30) "Telungkup, Pak!", ujarnya. Akupun telungkup. Yang pertama di urutnya adalah betis kananku, lalu telapak kaki, semua jari, lalu paha. Pijatannya kuat. Ber-kali² aku menyerukan sakit dan pelanin. "Pelanin dikit, Pak. Sakit.", kataku meringis. Tapi cara ngurutnya telaten.
(31) Aku terpaksa mengatupkan mulutku, menggigit gigiku, menahan rasa sakitnya. Aku memang butuh di urut, dan urutannya bagus, lega otot²ku dibuatnya. Pijatannya antara rasa sakit dan geli. Apalagi ketika dia mijit pahaku sampai ke pangkalnya. Geli sekali! Lagi² harus gigit gigi.
(32) Kadang² jari²nya bersentuhan dgn bijiku. Aku menggelinding. Lalu dia ngurut pinggangku, tulang ekorku, dan pantatku. Di turunkannya sedikit CD-ku hingga nampak belahan. Di masukkannya tangannya ke dlm utk memijit pantatku. Lalu dia memijit tulang punggungku dr bawah ke atas.
(33) Dia memijat tulang belakangku secara berulang sampai ke pundak. Lalu otot² punggungku yg tipis kering namun keras itu di lunakkannya. "Udah lama Bapak gak berkusuk, ya.", ungkapnya. "Benar, Pak!", kataku. "Otot² Bapak udah kaku, menggumpal. Selain itu masuk angin iya juga."
(34) Dia menjelaskan ke aku kondisi badanku yg di urutnya. Lalu dia mengurut pundak dan leherku. Terasa enak sekali. Masih dgn posisi telungkup, dia juga memijit kepalaku. "Duh, terasa longgar, Pak!", pujiku. "Sekarang berbalik, Pak!", suruhnya. Akupun telentang.
(35) Lalu dia kembali mengurut kakiku, menarik semua jari² kakiku hingga bunyi. Lalu naik ke atas hingga paha. Disini kembali aku hrs menggelinjang saking gelinya. Dia mengurut sampai ke pangkal paha. Sarung yg ku kenakan kini hanyalah formalitas, karna udah tersingkap semua.
(36) Sarung itu kadang tersingkap ke atas ketika dia mengurut pangkal pahaku. Dan aku melipat serta mengangkat kakiku keatas sambil menggelepar. Pastilah gundukan CD-ku udah jelas dilihatnya. Selama dia ngurut disana, burungku nyaris ngaceng pula. Iyalah, geli kali soalnya.
(37) Kadang sarung itu dia turunkan ketika ngurut bagian bawah pusatku. Dia mijitin sampai ke bagian jembut²ku. Bahkan dia juga masukin tangannya meraba ke dlm. Itulah yg membuat aku gak kuasa menahan supaya gak ngaceng. Aku akhirnya ngaceng juga meskipun dia gak menyentuh joni.
(38) Kurasa dia tau dan liat, CD longgarku kini agak padatan. Apalagi dia ber-lama² pula mijit disana, sehingga burungku ngaceng terus. Lalu dia mengurut tangan kananku dari lengan hingga jari, lalu tangan kiri. Setelah itu dia ngurut kepalaku. Urutannya begitu bagus.
(39) Keningku, pelipis mataku, bagian bawah kelopak mataku, pipiku, sekitaran telingaku, bahkan telingaku jg di pijitnya secara teratur dan merata. Akupun merasa sngt plong. Lepas semua rasa² suntuk di kepalaku. Lalu dia mengurut dadaku. Antara geli dan enak.
(40) Kembali aku hrs menggigit gigiku. Dengan bantuan minyak goreng, tangannya begitu lembut berselancar di dadaku. "Perut di urut gak, Pak?", tanyanya. "Boleh, Pak!", jwbku. Diapun mengurut perutku. Tapi geli sekali. Aku gak tahan, aku menggelepar. "Tahan, Pak, tahan!", ucapnya.
(41) "Jangan dikerasin, Pak. Nanti salah urat.", ucapnya. "Habis geli, Pak.", kataku. Ketika ngurut perutku, kadang tangannya kena² ke gundukan CD-ku yg mengeras. "Aduh, kena!", gumanku dlm hati. "Nafasnya biasa aja, Pak. Di lepasin, dilepasin! Jgn ditahan!", katanya terus.
(42) Lalu ku tenangkan diri. Aku berusaha memampukan utk menahan rasa geli di perutku. Dia memijit terus hingga ke bagian kantung kemihku, dan juga jembut²ku. Ujung burungku mengeluarkan cairan, aku yakin CD-ku udah basah, pasti tembus itu keluar. Apalagi burungku gak mati² lagi.
(43) "Masih keras ya, Pak.", ucapnya. Aku diam gak menyahut. Aku gak tau apa yg dia bilang msh keras. Badanku atau burungku. Masih mantap Bapak ini eh, usia segini msh keras.", ucapnya lg. Aku bingung. Tapi menutupi kebingunganku, aku menyahut. "Maklumlah, Pak. Petani.", kataku.
(44) Iya, keras semua otot² Bapak.", katanya. Tapi itu perkunya di urut, biar di pecah Pak otot²nya. Karna kerja keras itu kan otot jd kekar, tp takutnya ada gumpalan darah disana.", ucapnya. "Sekarang mana lagi Pak yg blm di urut.", tanyanya. Aku diam. Oh ya, duduk, Pak."
(45) Lalu aku duduk bersila. Lalu dia mengurut punggungku lagi dr atas ke bawah. Tangan kirinya memegang dadaku. Lalu dia mengurut bagian kelapaku lagi. Badannya menempel ke badanku. Di pijit, ditekan, sampai benar² longgar dan ringan. Lepas semua kepenatan di otakku.
(46) Aku kirain udah siap, eh lanjut lagi dia ngurut ke dada, perut, dan pahaku. Tapi kali ini pijatannya pelan dan lembut. Aku gak lagi me-nahan² rasa sakit. Yang ada hanyalah rasa geli. Burungku yg tadi udah sempat tidur, kini di bangunkan kembali.
(47) "Maaf Pak, mau nanya sesuatu boleh, ya.", ucapnya. "Mau naya apa, Pak. Silakan!", kataku. Bapak di usia skrg ini msh ada selera seks gak, Pak?", tanyanya. "Udah gak lagi, Pak.", jwbku. "O gitu, ya. Jadi maaf.. burung Bapak udah gak mau hidup lagi?", tanyanya lagi.
(48) "Masih mau sesekali, tp udah jarang.", jwbku. "Oh, karna apa tuh Pak kok bisa hidup?", tanyanya. "Ya, gak ada. Gitu aja.", jwbku. Bukan karna Bapak bayang²kan sesuatu atau cewek cantik?", katanyanya. "Bukan, Pak!", jwbku. "Jadi kalau hidup gitu jd gimana slnjtnya, Pak?"
(49) Dia bertanya. "Gak ada, gitu aja.", jwbku. "Gak jd Bapak kocok gitu?", tanyanya. Udah malas ngocok, Pak. Capek!", jwbku. "Ya, mksdnya kan pas kebetulan hidup itu, apa gak ngocok lgsg?", tanyanya lagi. "Jarang!", jwbku. "Jarang, berarti msh pernah kan, Pak?", tanyanya.
(50) Ya, kadang prnh jg tp jarang lah.", jwbku. Jarang itu sekali berapa bulan, Pak?", tanyanya. Gak tentu! Kadang sekali 3 bln.", jwbku. "Tapi besar kali nampaknya, Pak.", ucapnya. "Gak juga.", jwbku. "Tapi nampak tuh besar jendolannya.", tambahnya. "Itu lagi ngaceng.", kataku.
(51) "Oh, lagi ngaceng skrg?", ucapnya. "Kok bisa, Pak? Kok bisa ngaceng skrg?", desaknya. "Mungkin karna geli itu.", jwbku. Maaf, Pak. Boleh ku sentuh?", tanyanya. Aku diam aja. "Boleh ya ,Pak!", katanya sambil lgsg meraba burungku. "Besar nih!", katanya sambil terus meremas.
(52) Aku menanggapinya secara biasa dan blm ada pikiran yg aneh menurutku. Dia meraba lembut burungku yg msh pake CD itu. "Saya keluarin kepalanya ya, Pak!", ucapnya. "Untuk apa, Pak!, kataku. Mau liat aja, Pak!, jwbnya. Lalu dia mengeluarkan kepalanya. Ya allah, besarnya Pak!"
(53) Dia kaget melihat batangku yg memang ukurannya diatas rata² orang Indonesia. Udah besar, panjang lagi. Sambil ngomong terus, dia memegangi terus batang itu. "Masih keras kali, Pak!", pujinya. Dia memijit lembut di bagian batang dan kepalanya, sehingga akupun kegelian.
(54) "Kita urut aja ini sekalian, Pak.", ucapnya. "Ah, buat apa itu di urut.", kataku. "Biar tetap bagus, Pak.", katanya. "Ah, buat apa lagi. Bukannya dipakai lagi.", kataku. "Biarpun, gak ada salahnya.", katanya. Liat telornya, Pak!, katanya sambil berusaha turunin CD-ku.
(55) Akhirnya dia bisa melihat dan meraba telorku juga. Perlahan di kocok²nya batangku itu. "Saya kocok aja ya Pak..!", ucapnya. Mau liat apa msh bagus sperma Bapak.", tambahnya. "Udah gak kental.", jwbku dgn senyum kurang pede. "Oh, tp msh bnyk kan , Pak?, tanyanya.
(56) "Kalau msh bnyk msh bagus tuh, Pak. Gak usah takut. Biarpun udah agak encer.", katanya. "Ya, takut jg ngapain, wong bukan di pake lagi.", kataku. "Bukan gitu Pak, usia² Bapak ini rentan kena penyakit prostat, Pak. Itu disebabkan menumpuknya sperma di dlm tubuh.", katanya.
(57) "Apa iya, Pak?", tanyaku. "Iya benaran, Pak. Apalagi sperma itu udah berubah warna jd ke-kuning²an, tp jarang di buang, itulah yg jd penyakit.", kata dia melanjutkan. "Jadi minimal sebulan 2 kali atau kalau gak sanggup sebulan sekali aja gpp, itu hrs dibuang!", katanya.
(58) "Iya ya.", jwbku menanggapinya. "Ini kita keluarkan aja skrg, Pak!", katanya sambil terus ngocokin burungku. "Bapak msh lama nembaknya atau sebentar?", tanyanya. "Lama!", jwbku. "Wah, iya ya.", katanya. "Kalau bisa Bpk keluarin aja sebulan sekali, ya.", ucapnya.
(59) "Sanggup Bapak?", tanyanya. "Ya sanggup sih, Pak. Tapi malas. Capek tangan saya ngocoknya.", jwbku. Minta bantuan tangan oranglah, Pak!, tukasnya. "Minta tolong siapa, mana mau orang. Hehe. Yang ada kita dipukulnya.", kataku. "Saya aja Pak, saya mau bantu² Bapak.", katanya.
(60) Gak enaklah Pak merepotin terus. Hehe.", kataku. "Gak papa Pak, gak usah pikirin itu. Kita kan udah kompak gini, udah seperti teman dekat. Jd santui aja.", katanya. "Bukan santuy? Hehe..!", tanyaku sambil ketawa. "Haha.. iya, Pak!", jwbnya. "Gimana, Pak?, tanyanya lagi.
(61) Aku gak menjawab. "Asal Bapak ok, saya ok!", katanya lagi. Bapak kan malas ngocok sendiri karna cpek. Biar saya aja yg ngocokin. Bapak gak perlu capek!", tambahnya. "Ok ya Pak..!", katanya sambil mencubit pipiku. Lalu diapun mengocok batangku terus dan meremas bijiku.
(62) Agak di cepatin, Pak. Dan dikuatin genggamnya, biar cepat nembak.", kataku. Gak usah, Pak! Gak usah di paksakan. Gak usah Bpk paksa keluar. Itu bahaya jg buat kesehatan. Hrs keluar sesuai waktunya, Pak. Ke prostat jg kenanya nanti, sama ambeyen.", tambahnya.
(63) Diapun mengocok dgn perlahan batangku tsb. "Udah brp lama nih gak dipake, Pak?", tanyanya. "Udah puluhan tahunlah, Pak!", jwbku. "Selain ke istri, gak prnh Bpk pake ke yg lain?"
"Gak pernah, Pak!"
"Waktu agak² muda dulu, gak pernah jajan ke lonte?
"Gak prnh Pak!"
"Ke waria?"
(64) "Gak pernah jg.", jwbku. "Jadi Bpk blm prnh tau di isap?", tanyanya. "Gak pernah. Hehe.", jwbku. "Enak lho, Pak di isap itu.", katanya. "Bpk prnh berarti.", kataku. "Pernahlah!", jwbnya enteng. Tapi aku gak nanya dgn siapa. "Ngisap jg enak, Pak!", tambahnya. Aku diam aja.
(65) "Pak!", katanya. "Eh, iya Pak!, jwbku. "Ngisap jg enak, Pak!, katanya. "Hehe..", jwbku cuma dgn ketawa. "Saya jg suka ngisap, Pak.", katanya cukup mengejutkanku. "Mau saya isap, Pak?, tanyanya. "Gak usahlah ndak?!", jwbku. "Gak papa, Pak. Kita coba aja, ya!", ucapnya.
(66) "Intinya kan kita mau ngeluarin sperma Bpk nih. Jd gimana caranya terserah. Gak hrs dikocok. Lagian lbh enak Pak di isap dr dikocok.", rayunya. "Kan tujuannya bukan biar enak, tp biar keluar aja spermanya, biar gak kena prostat.", kataku. "Eh, gak cuma itulah, Pak!", jwbnya.
(67) "Skrg ku tanya Bpk, pas ku kocok gini ada rasa enaknya gak? Coba Bpk jwb jujur!", katanya. Aku diam. "Tolong Bpk jwb, apa emang gak ada rasanya sama sekali, atau emang enak?", tanyanya lagi. "Kalau Bpk bilang gak ada, aku gak percaya, karna aku ahli kesehatan, Pak!", ktnya.
(68) "Ketika ada rangsangan ke alat kelamin se²org, dan reaksinya msh bs ereksi, itu tandanya se²org tsb msh punya gairah/nafsu, Pak. Dan ketika bereaksi dgn ereksi, maka org tsb pasti merasakan enaknya rangsangan itu. Itu pasti. Gak mungkin hambar!", tambahnya lagi.
(69) "Makanya kalau Bpk bilang gak ada rasanya, gak enak, itu gak benar. Sedangkan org impoten aja Pak, yg udah gak bisa ereksi, tetap enak yg di rasakannya. Tapi kita gak tau, tp kalau kita tanya pasti itu jwbnya. Dan dia jg tetap bs ejakulasi, meski gak ereksi.", tambahnya.
(70) "Apa iya msh bs keluar punya mereka?", tanyaku. "Lho, Bpk gak percaya. Bpk kira saya boong!, saya Dokter, Pak. Dokter seksologi saya Pak. Makanya saya paham semuanya ttg alat vital kita ini", pungkasnya. "Oh, ternyata Dokter Bpk ini, pantaslah mobilnya bagus.", gumanku.
(71) "Bapak tau kan dr. Boyke atau dr. Naek L. Tobing? Nah kegitulah saya Pak. Tapi kan gak terkenal kek mereka yg di Jakarta sana. Haha..", sambungnya. "Iya ya Pak!", jwbku. "Jd sbnrnya kalau ku isap punya Bpk ini, itu bukan karna apa, karna profesionalitas aja..!", katanya.
(72) "Bapak tau gak, kalau ada pasien dgn keluhan gak bisa ngaceng, kami punya metode utk merangsangnya supaya bisa ngaceng. Semisal mengisapnya. Dan itu kami lakukan sbg bagian dr profesionalitas semata. Bagian dr profesi yg kami lakukan dari hati, bukan secara terpaksa."
(73) Aku banyak diam aja menyimak apa yg dia omongin. Serasa lg kontrol di ruang prakteknya. "Kalaupun saya bilang td saya suka ngisap, itu karna udah terbiasa Pak, efek profesi. Jadinya udah kami nikmati.", tambahnya. Sambil ngobrol sepanjang itu, dia malah gak serius ngocokin.
(74) Kebanyakan ngobrol, akhirnya tangannya seringan berhenti. Sampai² burungku layu ditangannya. "Udah mati!", katanya. Lalu dia mendekatkan kepalanya ke bagian batangku. Seketika di masukkannya semua batang itu ke dlm mulutnya. "Sraappp...!"
Dia mengulum terus batang itu.
(75) Geli kali rasanya ketika dgn lihainya lidahnya me-nari² menjilati batang dan kepala kemaluanku hingga ke telornya. Gak pake lama akhirnya aku lgsg ngaceng dgn sngt keras. Dia terus menyedot batang itu dan mengisap naik turun. "Apa rasanya, Pak? Enak gak?", tanyanya.
(76) Setelah mendengar penjelasan dia yg pnjg lebar tadi, aku jd takut bilang gak enak. Karna memang enak. Tapi namanya kakek yg udah uzur, aku cuma gak mau aja lbh fokus ke seks. Sehingga di awal sempat aku enggan berkata jujur dan terkesan membohongi diri sendiri dan org lain.
(77) Lagian menurutku, ini kan cuma sebatas di kocokin orglain, yg akhirnya berlanjut dgn isapan. Jd menurutku gak pantas aja ini dibilang enak. Karna menurutku yg layak dibilang enak itu adalah ketika bersetubuh dgn istri. Eh ternyata Bpk Dokter ini udah meluruskan pandanganku.
(78) Pola pikirku seketika itu diubah oleh penjelasannya. Diapun mengulum terus batangku itu dgn serius. Ber-kali² dia nanya apa enak. Akupun gak kaku lagi jwb enak. "Iya, Pak.. enak!", jwbku yg kini udah berusaha menikmati isapannya. Akhirnya akupun merasakan bakal nembak.
(79) "Pak, udah mau keluar.", seruku. "Iya Pak, keluarin aja.", jwbnya. "Arrrggghhhh...!"
"Owhhhh....!!"
Spermaku pun keluar di dlm mulut Bpk itu. Lalu ditumpahkannya di genggaman tangannya. Agak kuning ya, Pak.", tp kuantitasnya msh ok!", katanya sambil mencermati sperma itu.
(80) Itulah kisah pertama dan awal dari semua cerita. Setiap 3 hari sekali dia wajib dtng. Tapi gak begituan. Kadang dia cuma ngobrol² aja kadang mijit badanku. "Kalau kita keluarin agak sering sanggup gak kira², Pak?", tanyanya. "Jangan Pak. Nanti saya kehabisan tenaga.", jwbku.
(81) "Bapak puding aja yg rajin. Bikin telor separoh masak, atau biasa gak nelan kuning tekor?", katanya. "Iya, bisa Pak!", jwbku. Seminggu sekali bisa gak, Pak?", tanyanya. "Gak bisa kenya Pak. Sekali 10 hari aja.", jwbku. Akhirnya sekali 10 hari aku di isap Bpk itu di gubukku.
(82) Apalagi Bpk itu asal pulang wajib ngasih duit yg lumayan samaku sbg bayaran sayur dan buah yg dibawanya. Jadi aku gak mikir² buat beli telor bebek dan bir itam buat puding. Lama² Bpk itu memintaku melakukan hal yg sama dgnku. Yaitu mengisap burungnya. Inilah yg sngt² sulit.
(83) Kalau dia ngisap punyaku, skrg dia udah ngeluarin punyanya. Dia ngocok² punyanya sampai nembak juga. "Pak, pegang Pak!", katanya. Aku sngt enggan dan malas megangnya. Aku gak mau, tp terus dibujuknya. Akhirnya akupun megang. Lalu disuruh ngocokin. Aku terpaksa nurut aja.
(84) Mau kutolak, segan. Dia udah baik sekali selama ini. Udah bnyk duitnya ku makan. Aku jg udah dekat dgn dia, jdnya aku gak bisa ngelak. Begitu jg halnya stlh dia nyuruh aku ngisap burungnya. Satu hal yg blm pernah kubayangin sblmnya. Sungguh! Ini benar² jauh dr bayanganku.
(85) Bapak itu membujuk setengah memaksa. Dua menyuruh dgn sngt² serius. Akhirnya gak ada pilihan lagi, di usiaku yg udah sngt uzur ini, yaitu umur 73 th, aku hrs meladeni nafsu seorang pria, yg jg bukan lagi muda itu. Caranya dgn mengisap burungnya sampai nembak.
(86) Pertama kali mulutku kemasukan burung, aku muntah. Apalagi kepalanya itu menyentuh langit² mulutku, dan mentok di kerongkonganku hingga menyentuh anak lidahku. Tapi dia terus membujuk dan memaksa, dgn cara menyodorkan batangnya ke dlm mulutku. "Buka mulutnya!", katanya.
(87) Burungnya memang lbh kecil dari punyaku. Tapi entah mengapa selalu mentok di dlm mulutku dan menyebabkan aku muntah. Tapi burungku yg begitu jumbo gak prnh membuat dia mual. Singkat cerita, udah beberapa kali aku ngisap burungnya. Bahkan sampai nembak di mulutku.
(88) Momen keluarnya spermanya di dlm mulutku jg merupakan satu hal yg agt sulit bagiku. Ber-kali² aku hrs muntah se-jadi²nya. Aroma sperma itu terasa mengganggu bagiku. Besok²nya dia kadang menumpahkan spermanya di mukaku dan menyapukannya dgn tangannya hingga merata semua.
(89) Selanjutnya Bpk itu kadang memuntahkan spermanya di rambut kepalaku dan mengusapkannya. Kadang di dadaku dan diperutku. Lalu slnjtnya dia sering menggesekkan burungnya ke belahan pantatku dari blkg. Atau minta ku jepit diantara kedua pahaku dari atas. Disitu dia nembak.
(90) Aku bingung, mendingan mana ditembak dimulut atau dipaha. Dipaha agak lbh mendingan karna aku gak hrs jijik menampung spermanya. Tapi ada satu hal yg gak kusuka, yaitu rasa geli yg berlebihan ketika batangnya bergesek dipaha atau pantatku. Geli yg teramat dahsyat!
(91) Iya, teramat sangat geli sekali. Aku gak sanggup menahannya. Aku hrs me-ronta² dan menggelepar saking gelinya. Apalagi sewaktu menjepit di pahaku. Yang sblmnya udah dia lumuri ludahnya. Licin ai dan sngt² geli. Tapi penderitaan dan pengorbananku gak cukup sampai disitu.
(92) Berikutnya Bpk itu meminta memasukkan batangnya ke dlm lobangku. Aku yg polos dan gak tau itu gak keberatan dgn tuntutannya itu. Aku mempersilakannya aja memasukkan batangnya ke anusku. Aku gak tau kalau itu sakit. Iya, aku sama sekali gak tau kalau itu sakit. Kenapa?
(93) Karna selama ini dia udah sering menggesekkan batangnya di belahan pantatku, dan itu rasanya sngt geli. Atau aku bilang aja enak. Jadu kirain gitu juga rasanya kau di masukin ke lobangnya. Ternyata astaghfirullah, sakit kali ya allah. Gak nyangka bakal sesakit ini.
(94) Pertama kali dia mau memasukkan, benar² gak bisa. Gagal dan gagal terus karna aku gak sanggup diam. Aku meronta, menggelepar, menghindari tusukan benda tumpul itu. Tapi utk hari berikutnya gak ada kata gagal lagi bagi dia. Dia akan berusaha keras supaya batangnya bs masuk.
(95) Berbagai upaya dilakukan utk menancapkan batang kemaluannya itu. Dari melumuri lobangku dgn ludah yg banyak, serta mengolesi batangnya juga, membawa lotion atau pelicin, dsb. Akhirnya tepat 10 Mei 2021 yl, aku berhasil di jebolnya. Batang itu menghujam ke dlm lobang ekorku.
(96) Dengan suara parau aku meringis kesakitan. "Sakit Paaakk...! Aduh Pak, sakiiit...!"
Tapi aku gak punya tenaga menghindari atau melawannya. Badannya terlalu gagah dan perkasa buat menaklukkan badan kurus keding dan peot ini. Aku uda kehilangan ¾ tenagaku memang.
(97) Aku hanya bisa pasrah dan menyerah. Aku hanya bisa menerima apa yg dia lakukan padaku. Aku sangat menderita, apalagi goyangannya makin dipercepat di hentak² kuat dan dalam. Aku di cengkramnya biar gak bisa ber-gerak². Ku dengar dia mendesah keenakan, sedangkan aku kesakitan.
(98) Aku sedang berpikir kapanlah dia nembak biar selesai deritaku. Tapi dia sangat lama gak nembak². Tubuh kurus dan reyotku pun di bolak balik sesukanya. Aku gak tau gaya apa lagi yg mau dia praktekkan ke aku. Aku capek, pinggangku terasa sakit, kepalaku juga pusing.
(99) Bahkan dari sudut mataku keluar air mata yg menahan rasa sakit itu. Mulutnya terus mendesah dan mengucapkan beberapa kata. "Makasih Pak...!"
"Enaknya Pak...!"
"Tenang Pak!!"
"Tahan ya Pak..!"
"Gak papa Pak!"
"Bentar lagi Pak."
Inilah kata² yg diucapkannya ber-ulang².
(100) "Tembakkanlah Pak!", seruku menahan sakit. "Iya bentar lagi Pak.", katanya. Terus bentar lagi tapi gak nembak². Sambil menusukku dia menciumi bibirku, menjilati putingku, sehingga ada efek geli yg timbul disana yg sedikit bisa menyamarkan rasa sakit di pantat.
(101) Akhirnya setelah kira² satu jam, diapun nembak. Perlahan goyangannya dipelanin dan diperlambat.
"Ouugggghhhhttttt.....!
"Argghhhhhhh.....!
Sreeett..... sreetttt.....!!"
Akupun agak lega mengetahui dia udha nembak. Berakhirlah deritaku utk kali ini. Tapi bukan utk slnjtnya.
(102) Aku msh harus mengalami penderitaan itu lagi dan lagi. Dia wajib menggagahiku per-10 hari. Fyi, ukuran burungnya bukanlah kecil, bukan sedang, itu udah tergolong kategori besar. Mungkin kalau di ukur dgn rol, ada itu 16 cm ketika hidup. Itulah yg merobek lobang anusku.
(103) Gak tau apa tujuannya, stlh menggagahiku, dia makin menambah jumlah duit yg diberikan. Entah utk menutup mulutku, membuatku nyaman, atau gimana. Sementara sayur atau buah yg dibawanya bukannya banyak.
Suatu saat ketika kami udah sama² telanjang, aku meminta satu hal.
(104) "Pak, kali ini gak usah masukkan dulu. Cukup ke mulut aja."
"Tapi Bpk gak pandai ngisap. Kalau pandai gak papa.", jwbnya.
Akhirnya aku belajar dan berusaha supaya aku makin pandai ngisap. Aku pengen isapanku enak bagi dia, biar gak harus main anal terus dia.
(105) Tapi apalah daya, entah mengapa aku gak mahir² dlm urusan nyepong. Meski udah sering dan terbiasa, dia tetap bilang isapanku gak enak sama sekali. Dia bilang aku gak pandai² ngisap. Buat kayak yg ku buat itu!", ujarnya. Akhirnya lobang pantatlah sasaran terus.
(106) Sampai detik ini, ketika tulisan ini kubuat, udah gak kehitung lagi berapa puluh kali aku sodominya. Jujur aja, skrg ini udah gak sesakit dulu² lagi. Udah agak mendinganlah. Tapi tetap aja aku blm bisa menikmatinya. "Bapak hrs nikmati, masa' gak enak² udah sering ditusuk?!"
(107) "Di-mana2 org kalau udah terbiasa di tusuk jadi enak juga.", katanya.
Gimana ya, aku jg msh bingung, seingatku blm ada rasa enak kurasa. Bukan kayak soal di isap dulu, itu aku yg sempat gak jujur ngaku enak. Ini? Emang blm dapat enaknya dimana. Gak taulah bsk² ya.
(108) Tapi udah berapa puluh kali dia datang kesini selama setahun ini, aku blm prnh melihat wajahnya. Iya, aku blm tau wajahnya gimana. Dia gak prnh melepas maskernya sama sekali. Selalu dipakainya walaupun sedang menggagahiku. Jelek? Gak mungkinlah. Aku yakin dia ganteng tuh.
(109) Tapi mungkin biar aku gak mengenali wajahnya aja. Padahal aku kan gak akan nyari dia kemana. Walaupun di sodomi, aku gak prnh sakit hati, atau memendam benci dan dendam ke dia. Aku tetaplah menganggap dia sabahatku yg baik. Meskipun ada cacatnya dlm persahabatan kami.
(110) Kalau seandainya dia nunjukin mukanya gak papa juga sih. Aku gak ada gadget atau smartphone yg bisa mengcandid dia lalu menyebarkan ke org² atau sekedar menanyakan ke org² apakah mengenal dia. Bagiku itu gak penting. Bahkan utk sekedar tau nama aslinya aja gak pentinglah.
(111) Aku gitu orangnya. Gak tipikal yg kepo apalagi julid ke orang². Bisa kenal dia begitu aja udahlah, gak perlu ku tau siapa dia diluar sana. Aku jg gak terlalu mikirin itu. Yang jelas dia org baik, namun dibalik kebaikannya ada mksd tertentu. Cuma itu aja kesimpulanku.
(112) Dan mksd tertentunya itu udah disalurkan. Dan udah ku alami. Jadi, udah sampai disitu aja. Mungkin ini udah nasibku pula. Dia sering² dtng utk menyalurkan gairah seksualnya ke aku. Apa boleh buat, kujalani aja sampai dia yg bosan sendiri. Kalau bosan pasti dia gak mau lagi.
(113) Mungkin dia punya kelainan seksual. Sehingga meski udah menikah dan punya anak, dia tetap menyukai laki². Hanya itu yg mau dia salurkan lewat aku. Udah! Aku menanggapinya sesimpel itu. Di usia segini, aku gak mau terlalu mikirin bnyk hal, sehingga kesehatanku bisa drop.
(114) Oya, satu hal yg nyaris lupa kusebut, Bpk itu memperkenalkan dirinya dgn nama Guntur. Pak Guntur memang udah mengaku blak²an ke aku kalau dia suka Bapak² diatas umurnya. Umur dia aja udah 55 katanya. Dia teramat nafsu dgn kakek² seumuran aku katanya.
(115) Pak Guntur punya anak 3 katanya, 2 perempuan, dan yg bontot laki². Yang paling besar udah kerja sbg Dokter juga di Jakarta, yg bontot msh kuliah di Yogya. Sedangkan kisah ini di Sumatera. Tadi aku bilang aku yakin dia ganteng meski liat dari balik maskernya.
(116) Sebenarnya gak persoalan bagiku mau dia ganteng atau jelek. Untuk sejauh ini aku blm punya rasa tertarik melihat laki² ganteng manapun. Cuman, aku bisa menebak aja orangnya pasti ganteng itu. Dan pasti berkumis. Karna org berada itu dia putih bersih dan wangi parfum mahal.
(117) Dia udah mengabadikan bnyk sekali foto² burungku, baik dlm keadaan mati ataupun hidup. Yang lagi crot jg ada. Banyak foto telanjangku di koleksinya. Ada yg lagi ngisap burungnya, ada yg lagi di gagahinya. Bahkan ada dokumentasi video ketika aku ngisap dan di sodomi.
(118) Aku gak sungkan² di foto atau direkamnya lengkap dgn wajahku. Katanya utk bahan khayalan dia di rumah. Tapi ada satu hal yg cukup mengagetkanku ketika melihat isi mobilnya. Aku melihat di sandaran jok tengah ada seragam dinas aparat keamanan yg gak perlu kusebutkan itu apa.
(119) Disana ada tergantung bed name atau name tag lengkap dgn pasphoto ukuran 3.4. Dari situ bisa kuliat kalau wajahnya memang ganteng/gagah dgn kumis yg melintang bagus. Tapi aku gak sanggup membaca nama yg tertera disana. "Oh, dia bukan Dokter.", gumanku. Tapi gak masalah sih.
(120) Besok²nya lagi, aku melihat stelan jas digantung di hanger, dibagian kaca kanan bagian tengah. Untuk kali ini aku bisa membaca jelas nama yg disematkan disana. Ternyata bukan Guntur. 😁🤭 Tapi Irwansyah. 😆😂
Tapi sekali lagi gak masalah sih. Itu gak ngaruh.
(121) Adalah hak dia utk boong atau jujur soal identitasnya padaku. Dan juga soal profesinya. Yang pasti dia tetaplah orang baik menurutku. Kalaupun kalian mikir, aku bilang gitu karna di-kasih²nya duit bnyk terus, itu terserah kalian. Karna kalian punya hak jg utk menganalisa.
(122) Yang jelas, aku gak prnh menilai bahwa uang adalah koentji kebaikan se²org. Orang baik itu gak selalu harus di nilai dari uang pemberiannya. Ya, dia kusebut baik bukan karna uangnya.
Okelah, sampai jumpa di thread berikutnya ya. 🙏

.
.
.

[End]

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with AYAH PENYAYANG

AYAH PENYAYANG Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @ayahpenyayang

22 Sep
𝐀𝐊𝐔 𝐏𝐀𝐂𝐀𝐑𝐀𝐍 𝐃𝐄𝐍𝐆𝐀𝐍 𝐎𝐌 𝐊𝐔 𝐒𝐄𝐍𝐃𝐈𝐑𝐈

[Sebuah utas]
.
.

(1) Omku yang ku mksd adalah Abang atau saudara laki² dari Ibuku. Udah 23 th dia tinggal serumah dgn kami. Om ku sebenarnya punya keluarga sendiri, namun terpisah dari dia. Image
(2) Kerja Omku adalah jualan telor di pasar pagi. Dia memasok telor ke banyak warung dan Rumah Makan, dan kedai grosiran. Duit Omku banyak, tapi dia memilih tinggal dirumah kami, rumah adek perempuannya. Sementara anak istri Omku tinggal di kampung, di propinsi tetangga.
(3) Sejak kacil aku udah sangat dekat dgn Omku. Maklumlah udah 23 th dia tinggal dgn kami. Usaha Omku lancar terus, tp dia jarang pulang kampung nemui keluarga. Bahkan lebaranpun, dia bisa gak pulang. Cukup hanya duit yg di kirimi terus ke kampung.
Read 100 tweets
14 Sep
𝐏𝐄𝐋𝐄𝐂𝐄𝐇𝐀𝐍 𝐒𝐄𝐊𝐒𝐔𝐀𝐋 𝐎𝐋𝐄𝐇 𝐆𝐔𝐑𝐔 𝐒𝐌𝐀

[Sebuah utas]
.
.

(1) Aku gak tau harus senang atau sedih ketika mengalami pelecehan seksual oleh guru SMA-ku.

Karena jujur aja aku sangat mengaguminya. Aku sering mengkhayalkan dia. Aku sering coli membayangkan dia.
(2) Jadi ibarat ketiban rezeki, aku mendapatkan apa yg selama ini ku impikan. Meski mungkin caranya agak² mendebarkan. Dan semua itu gak ku sangka².

Selama ini akulah yg membayangkan bakal merayu dia utk ku isap. Tapi aku memang gak akan berani melakukan itu.
(3) Ssbelumnya aku blm tau apa² soal dunia LGBT. Maklumlah aku hidup di perkampungan dan jauh dari kehidupan begituan. Dan aku gak tau sama sekali apa ada orang ngeseks laki² sama laki².

Yang jelas aku menyukai Bapak² umur 50 th keatas. Dan khayalanku adalah mengisap burungnya.
Read 300 tweets
10 Sep
𝐀𝐘𝐀𝐇𝐊𝐔 𝐒𝐄𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐏𝐄𝐃𝐎𝐅𝐈𝐋

[Sebuah utas]
.
.

(1) Ditengah kehebohan pasca keluarnya Saiful Jamil dari penjara karna kasus pedofil, aku berniat membuat thread ttg pengalaman pribadiku yg jg merupakan korban pedofil oleh ayah kandungku sendiri.
(2) Ini adalah kisah nyata yg ku tulis tanpa me-nambah² atau mendramatisir cerita dan aku berusaha sebisa mungkin utk tdk mengurangi kisah demi kisah yg ku alami sejak duduk di kelas 5 SD 26 th yl. Cerita ini ku DM ke penulis thread utk bs di publish ke medsosnya.
(3) Sebut saja namaku Rinto (bukan nama sebenarnya) lahir dan besar di desa 38 th yl. Kami ada 3 bersaudara, aku merupakan anak bungsu dan aku memiliki 2 org kakak perempuan.
Aku tumbuh seperti anak lelaki pada umumnya. Aku mengalami nasib naas itu ketika aku 11 th.
Read 111 tweets
6 Sep
𝐓𝐄𝐑𝐋𝐄𝐍𝐀 𝐃𝐀𝐋𝐀𝐌 𝐊𝐄𝐇𝐎𝐌𝐎𝐀𝐍

[Sebuah utas]
.
.

(1) Sekarang usiaku udah 53 th. Bayangan menikah udah jauh dari pikiranku. Karna terhitung sejak 2008 yl, 13 th sudah aku hidup serumah dgn Pak Syamsuar, pasangan gayku yg lebih tua 3 th dariku. ImageImage
(2) Awal perkenalan kami adalah di sebuah meeting perusahaan di kota J. Aku dtg dari kota B. Kami kebetulan duduk semeja dan terlibat diskusi yg seru. Lalu Pak Syam minta no hp ku dan lgsg misscall saat itu juga. Save ya Pak, katanya.
(3) Dari awal aku udah sangat tertarik melihat ketampanan Pak Syam. Tapi aku gak tau apakah dia suka laki. Hari kedua Pak Syam makin ramah aja dan terlihat sangat bersahabat denganku. Akupun menyambut dgn kehangatan. Dan hari itu juga aku bs menangkap bahwa beliau jg suka laki.
Read 151 tweets
29 Jun
𝐀𝐊𝐔 𝐁𝐄𝐑𝐇𝐀𝐒𝐈𝐋 𝐌𝐄𝐍𝐂𝐈𝐂𝐈𝐏𝐈 𝐌𝐄𝐑𝐄𝐊𝐀 𝐒𝐔𝐀𝐌𝐈 𝐈𝐒𝐓𝐑𝐈

[Sebuah utas]
.
.

(1) Awalnya aku cuma pacaran dgn si suami dan aku diajak tinggal dirumahnya. Tapi tanpa dia tau aku juga memakai istrinya. Rahasia itu kusimpan rapi sampai kini.
(2) Usiaku ketika kenal Bapak itu 26 th, dan Bapak itu 48 th. Aku merasa dialah Bapak² yg kuimpikan selama ini. Dia berwajah ganteng dgn kulit putih, punya kumis tebal dgn postur 172 cm. Awalnya aku mengira dia cuma sekali pakai denganku, karna wajahku sadar aku sedang² aja.
(3) Aku msh ingat kali pertama kami ketemu dan langsung sepakat ML. Kami ML di semak² dibelakang deretan ruko yg udah lama dibangun namun blm laku terjual alias msh pada kosong. Dari awal aku udah grogian sampai gemetaran ketika menyusuri belakang ruko dengannya.
Read 227 tweets
30 Apr
𝐇𝐀𝐈, 𝐏𝐄𝐑𝐄𝐌𝐏𝐔𝐀𝐍! 𝐍𝐎𝐑𝐌𝐀𝐋𝐊𝐀𝐇 𝐒𝐔𝐀𝐌𝐈𝐌𝐔?

[Sebuah utas]
.
.

(1) Kali ini saya akan membahas soal normal atau gaknya seorang laki2. Sebelumnya kita sepakat dulu, berhasil nikah dan punya anak bukan patokan utk menyandang predikat normal.
(2) Normal yg saya maksud adalah laki2 yg gak pernah sejarahnya ngeseks dgn sesama laki2. Dan bahkan gak punya rasa atau selera sama sekali ke laki2. Emang ada yg kek gitu? Ada! Tapi udah langka. Dan ini fakta. Bukan mengada ada.
(3) Persoalan homoseks bukanlah persoalan yg baru muncul. Tapi udah ada sejak jaman nabi dulu, yg dikisahkan dlm kitab2 suci. Gak tau mengapa harus ada yg kek gitu. Apa emang sengaja dirancang kemudian di klaim itu salah. Tapi dari pada salah tafsir, kita gak usah bahas itu.
Read 155 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!

Follow Us on Twitter!

:(