Profile picture
Brii.. @BriiStory
, 81 tweets, 9 min read Read on Twitter
Kita lanjut cerita om Heri dan Wahyu waktu tinggal di tengah perkebunan karet ya..

Seperti biasa, yang cerita adalah om Heri, bukan brii..

Sekali lagi, jangan baca sendirian..

Yuk..

Ps: gambar hanya ilustrasi, sumber: google.
#memetwit
@InfoMemeTwit
Hari-hari berikutnya kami jalani seperti layaknya pekerja, menjalankan tugas sebaik-baiknya.

Tentu saja, diiringi dengan banyak kejadian yang aneh dan menyeramkan. Kami jalani semuanya, sambil mencoba tabah dan sabar.
Hampir setiap malam, nenek yang menyapu dengan sapu lidi terdengar aktivitasnya, namun om dan Wahyu gak pernah lagi menghiraukan, apalagi sampai berniat melihat wujudnya.

Kami hanya membiarkan dia dengan kegiatannya sampai menghilang gak terdengar lagi.
Terkadang nenek itu menyapu sambil mengeluarkan suara, kadang tertawa kadang menangis, seperti hendak menarik perhatian kami.

Namun kami gak bergeming, dalam ketakutan kami tetap gak menghiraukan dan mencoba untuk tidur.

***
Setelah sudah beberapa lama tinggal dan bekerja di tampat itu, om sudah mulai hafal dengan seluk beluk hampir di setiap sudut perkebunan.

Ada satu sudut perkebunan yang sering menarik perhatian om, ketika om sedang patroli berkeliling wilayahnya.
Sudut wilayah yang cukup menyeramkan ini berbatasan langsung dengan hutan rindang yang berada di luar wilayah perkebunan.
Jadi, hanya beberapa meter kemudian kami gak akan menemui lagi pohon karet, hanya ada pepohonan yang besar dan rindang, hanya sedikit sinar matahari yang dapat menembus masuk ke dalamnya.

Seram melihatnya, walaupun pada siang hari.
Wilayah yang cukup jauh dari rumah tempat tinggal kami.

Tapi mau gak mau kami harus berpatroli sampai ke tempat itu. Kalau pada malam hari om dan wahyu berdua yang berpatroli ke tempat itu. Kalau masih siang, om sering kali hanya sendirian.

***
Waktu itu, pada sore hari yang biasa dan normal, om berjalan kaki mengelilingi perkebunan sendirian.

Para pekerja penyadap karet sudah selesai mengerjakan tugasnya, suasana sudah sangat sepi, gak ada orang sama sekali.
Cuaca sangat bersahabat, sore yang cerah tapi gak terlalu panas. Om berjalan kaki menyusuri jalan tanah yang kadang diselingi rerumputan, jalan setapak yang membelah sela-sela barisan pohon karet.
Sampai pada akhirnya, om tiba di tempat yang menurut om sangat menyeramkan itu.

Sudah sangat sepi..
Hari sudah menjelang gelap ketika om sudah sampai di sana.
Angin semilir menghembus pelan, membuat suasana manjadi sedikit sejuk.

Om tetap melanjutkan langkah, hingga mencapai sudut paling ujung wilayah perkebunan. Berniat memeriksa keadaan sampai benar-benar pasti kalau semuanya terlihat aman.
Langkah om berhenti, tepat di ujung pepohonan karet yang paling terakhir.

Om memperhatikan sekeliling.

Sekitar 20 meter di depan om berdiri sudah masuk ke wilayah hutan rimba yang sepi dan gelap itu.
Tiba-tiba pandangan om terhenti pada salah satu sudut hutan.

Ada pemandangan yang cukup menarik perhatian.
Dalam suasana sore menjelang maghrib yang sudah mulai gelap itu, om melihat ada dua orang yang sedang mengerjakan sesuatu.

Mereka seperti sedang menggali tanah.
Menggali tanah yang berada di bawah satu pohon yang sangat besar.

Penasaran, om berjalan mendekati mereka..
Setelah sudah cukup dekat, barulah om dapat melihat dengan jelas penampilan mereka.

Dua orang laki-laki yang menggunakan pakaian hitam-hitam, mengenakan topi caping di kepala masing-masing.

Mereka menggunakan cangkul untuk manggali tanah..
Dengan cangkul itu, mereka tampak sedang manggali dengan fokus. Masing-masing menggali satu lubang, jadi ada dua lubang yang mereka gali.

Lubang berukuran kira-kira dua kali satu meter.
Tampak seperti lubang kuburan..
Iya, tampaknya mereka sedang menggali dua liang kubur..
Aneh, karna setelah sudah beberapa lama tinggal di situ, om gak pernah melihat ada pekuburan di wilayah itu.

Dua orang itu tampak gak terganggu dengan kehadiran om yang sudah berdiri hanya beberapa meter di belakang mereka.
Om masih tetap diam dan gak mengganggu, masih hanya berdiri memperhatikan mereka menggali.
Kembali ada yang menarik perhatiam, yang membuat om semakin yakin kalau mereka sedang menggali liang kubur.

Tepat di sebelah salah satu liang kubur, tergeletak dua papan kayu berbentuk nisan. Posisi om berdiri cukup dekat untuk membaca tulisan yang ada pada papan itu.
Papan pertama tertulis "SUPRI", sedangkan papan kedua tertulis "MARYONO". Tulisan menggunakan cat hitam yang cukup besar.
Suasana sudah mulai semakin gelap, ketika kedua orang itu akhirnya menghentikan kegiatannya.

Barulah keduanya melihat ke arah om berdiri..
"Assalamualaikum, saya Heri, yang bekerja di perkebunan sebelah. Warga mana yang baru saja meninggal Pak?"

Om membuka percakapan sambil memperkenalkan diri, gak lupa menjulurkan tangan ke salah satu lelaki itu untuk mengajak bersalaman.
Salah satu dari mereka berjalan perlahan ke arah om, seorang lelaki berkumis tipis berumur sekitar 50tahun.

Dia menyambut juluran tangan om, dan kami bersalaman.
Om kaget, karena ketika bersalaman, om merasakan kalau tangan Bapak itu terasa sangat dingin, seperti mayat.

"Saya Supri, itu teman saya Maryono."

..................
Reflek, om langsung melepaskan genggaman tangan kami yang tengah bersalaman.

Nama yang mereka sebutkan adalah nama yang tertera pada dua papan nisan yang tergeletak di sebelah liang kubur...
Sosok lelaki yang mengaku bernama Supri, di bawah topi capingnya tersenyum menyeramkan, dengan wajah pucat dan mata melotot.

Sementara rekannya yang berdiri di sebelahnya hanya diam tanpa kata, wajahnya tampak pucat juga.

Om merinding ketakutan.
Om berjalan mundur menjauh perlahan, kemudian membalikkan badan dan berjalan dengan langkah yang cukup cepat.

Ketika sudah agak jauh, om memberanikan diri menoleh ke belakang. Mereka masih ada, dalam kegelapan hutan, berdiri menghadap ke arah om berjalan.
Semakin cepat langkah om untuk menjauhi, hingga akhirnya mereka gak terlihat lagi.

Hilang dari pandangan..

***
Kejadian yang cukup aneh itu langsung om ceritakan kepada Wahyu pada malamnya.

Wahyu bilang dia belum pernah melihat kejadian itu, karna katanya belum pernah berjalan sendirian sampai ke tempat yang om maksud.
Dia hanya cerita, pernah ada kisah yang beredar dari mulut ke mulut kalau dulunya ada satu wilayah di hutan itu pernah ada kejadian yang menyeramkan.

Kejadiannya terjadi bertahun-tahun yang lalu, sudah lama sekali.
Pernah ada dua orang yang yang dibunuh oleh sekelompok orang, menurut kabar yang beredar pembunuhan itu terjadi karna ada perselisihan bisnis antar kelompok.
Sebelum dibunuh, kedua orang itu disuruh untuk menggali kuburannya sendiri oleh yang membunuhnya.

Cukup mengerikan kisahnya, tapi untuk kebenaranya om gak tau, entahlah..

***
Beberapa hari setelah kejadian itu, kami kedatangan tamu, Pak RT dari desa sebelah datang berkunjung. Pak Roni namanya.

Sebelumnya, Pak Roni sudah beberapa kali datang, kali ini adalah kunjungan yang kesekian kali nya.
Sore itu kami berbincang seru sambil ditemani kopi dan singkong rebus hasil menanam sendiri, hasil berkebun Wahyu disela-sela waktunya.
Seperti biasa, beliau bercerita dengan semangat, setiap kalimat yang keluar dari mulutnya selalu diiringi dengan mimik muka dan gestur tubuh untuk menambah jelas cerita.

Seru mendengarnya..
"Jadi, rumah yang kalian tinggali ini sudah lama berdiri, berbarengan dengan perkebunan ini, sekitar tahun 1950an. Waktu itu saya masih kecil, tapi kurang lebihnya saya paham sejarah tempat ini."

Pak Roni mulai membahas tentang rumah yang om dan Wahyu tinggali.
"Sebelumnya, perkebunan ini adalah desa kecil yang jumlah penduduknya gak terlalu banyak, desa yang cukup terpencil."

"Tapi ada yang cukup menyeramkan dari desa itu"

"Apa yang menyeramkan pak?" Tanya om mulai penasaran.
Dengan logat melayu yang kental beliau melanjutkan cerita, kali ini setengah berbisik, ada raut ketakutan tersirat di wajahnya.

"Ada pemakaman yang cukup besar di dalam wilayah desa itu. Sangat besar, luasnya hampir separuh dari luas keseluruhan desa."
"Kenapa sampai seluas itu?, karena pemakaman itu bukan hanya diperuntukkan bagi orang meninggal di dekat situ, tapi juga untuk orang meninggal di desa-desa sekelilinya, yang kadang jaraknya cukup jauh."
"Dan juga, pemakaman itu sudah cukup tua, menurut cerita yang beredar, sudah ada sejak tahun 1800an."
"Hingga pada akhirnya, desa tersebut di gusur untuk penanaman pohon karet untuk perkebunan ini. Termasuk pemakaman besar itu, ikut juga digusur, dan dipindahkan ke tempat pemakaman baru yang jauh dari sini."
Kemudian Pak Roni mendekatkan posisi duduknya ke tempat kami duduk, suaranya semakin kecil, mimik ketakutan semakin tampak di wajahnya,
"Menurut cerita yang beredar, ada banyak makam yang tidak terbawa untuk dipindahkan, karena kurangnya data mengenai pemakaman itu. Hanya makam-makam yang masih terlihat yang dipindahkan, sisanya tertinggal, di wilayah ini.."
Om dan Wahyu terkejut mendengarnya.

Setelah mendengar cerita beliau, kami jadi teringat satu peristiwa yang terjadi beberapa hari sebelumnya, peristiwa seram yang sepertinya berhubungan dengan kisah yang diceritakan oleh Pak Roni.

**
Seperti biasa, hari itu om dan Wahyu pergi ke kota terdekat untuk membeli kebutuhan harian.

Biasanya kami belanja setiap dua minggu sekali.

Perjalanan menggunakan motor, sekitar dua jam lebih perjalanan pulang pergi.
Gak seperti biasanya, disebabkan karna satu dan lain hal kami terpaksa pergi ke kota pada sore hari, biasanya pagi atau siang.

Sekitar jam lima sore kami mulai perjalanan.
Ketika waktu maghrib tiba, kami sampai di tujuan.
Selepas isya baru kami selesai berbelanja, dan mulai bersiap pulang.
Nah, ketika baru keluar dari satu toko, kami berjumpa dengan atasan kami yang kebetulan baru sore harinya datang mengunjungi kami di perkebunan.

Dia menyempatkan diri untuk beristirahat di kota itu sebentar sebelum melanjutkan perjalanan ke Palembang.
"Wah..., kebetulan ketemu kalian, ayo kita cari makan dulu.." Begitu pak Burhan bilang.

Iya, namanya pak Burhan..

Ajakannya sangat berat untuk ditolak, karna memang kami sudah sangat lapar, dan kami yakin kalau beliau pasti mengajak makan di restoran besar.
Benar, kami mampir di salah satu restoran padang yang cukup terkenal, pucuk di cinta ulam tiba, kami makan enak malam itu.

***
Kami berbincang cukup lama di restoran itu, karena masih cukup banyak cerita dan keluh kesah yang belum diceritakan kepada beliau mengenai pekerjaan dan hal lainnya.

Kami jadi lupa waktu..
Hingga pada akhirnya Wahyu memberi kode dengan menendang-nendang kaki om,

Om langsung melihat jam, sudah hampir jam 10 malam..

Om langsung menutup pembicaraan dan segera pamit pulang.
"Oh ya sudah, kalian hati-hati di jalan ya. Saya lanjut ke Palembang." Begitu pak Burhan menutup pertemuan.

Kamipun pulang..

***
Malam jumat itu udara cukup dingin, angin berhembus kencang menerpa wajah om yang duduk di belakang.

Wahyu terlihat cukup sigap mengendalikan motor dengan kecepatan agak cepat.

"Hati-hati yu, sudah gelap banget ini." Om mengingatkan.

"Iya pak, saya ingin cepat sampai rumah."
15 menit awal perjalanan, kami masih terlibat percakapan, masih bisa berbincang seru, walaupun dengan barang belanjaan yang cukup banyak di atas motor.

Namun ketika sudah memasuki wilayah hutan, kami lebih banyak diam, mulai gak ada perbincangan.

Kami lebih banyak terdiam.
Takut? Iya.., om mulai takut. Dan om yakin kalau Wahyu juga merasakan hal yang sama.

Jalan sudah mulai memasuki jalan tanah, kanan kiri hanya pohon rindang yang terlihat, amat sangat gelap..
Cahaya yang terlihat hanya cahaya yang bersumber dari motor yang kami tunggangi, dan hanya suara deru motor yang terdengar di tengah-tengah hutan itu.
Hanya tinggal beberapa kilometer lagi kami sampai, ketika lampu motor mulai berkedap kedip seperti hendak mati, ditambah suara mesinnya yang mulai terdengar berebet (batuk-batuk).
Dan benar, mesin motorpun akhirnya mari. Sesuatu yang sangat om takutkan terjadi, kami terdampar di tengah hutan itu di malam hari.

Om turun dari motor, Wahyu langsung mencoba memperbaiki motor.

Terlihat wajah wahyu cukup cemas.
"Apa kita dorong aja motornya yu? Kita jalan kaki." Om memberi ide..

"Saya coba memperbaikinya dulu pak, paling hanya businya yang kotor."
Suasana mulai mencekam, jam sudah lewat dari pukul sebelas malam.

Gak ada suara sama sekali, hanya terdengar suara peralatan wahyu yang mencoba memperbaiki motor.
Sangat hening..
Semakin mencekam, ketika terdengar suara lolongan anjing dari kejauhan, lolongan yang panjang, lolongan yang biasanya menandakan sesuatu.

Om coba mengalihkan pikiran dengan ikut berjongkok di sebelah Wahyu..

Suara lolongan anjing semakin jelas dan dekat terdengar..
Om melihat ke arah Wahyu, ketika tiba-tiba dia mencolek tangan om, dan kemudian menunjuk ke arah hutan.

Di tengah gelapnya malam itu, om mencoba melihat ke arah yang Wahyu tunjuk.

Tapi om gak melihat apa-apa, cuma deretan pohon dalam gelap gulita..
Suara lolongan anjing kembali terdengar, ketika om akhirnya bisa melihat apa yang dimaksud oleh Wahyu..
Dari kejauhan, om melihat ada beberapa orang yang berjalan berbaris, saking gelapnya orang-orang itu masih terlihat berbentuk siluet hitam.

Mereka berjalan dari dalam hutan menuju tempat dimana kami berada..
Ketika semakin dekat, barulah terlihat semakin jelas kalau mereka berjalan membawa sesuatu..

Beberapa orang yang paling depan memanggul keranda mayat..

Iya, mereka berbaris membawa keranda mayat, berjalan cukup cepat..
Suasana sangat mencekam, kami hanya terdiam gak mengeluarkan sepatahkatapun. Sangat menyeramkan, ketika tengah malam, di tengah-tengah hutan, melihat orang yang berbaris membawa keranda mayat.

Om merinding ketakutan, begitu juga dengan Wahyu..
Ketika sudah cukup dekat, baru terlihat kalau orang-orang itu berpakaian serba hitam, berbaris memanjang, sambil berjalan..
Ah ternyata bukan berjalan, mereka terlihat seperti melayang, gak menyentuh tanah, walaupun kaki-kakinya bergerak seperti melangkah..

Kami semakin terdiam, ketakutan..
Untunglah, ketika sudah tinggal beberapa meter jarak kami, mereka berbelok ke arah kanan, ke arah dimana rumah kami berada.

Setelah semuanya berbelok, kemudian berjalan menjauh...
Hingga akhirnya semua menghilang ditelan gelapnya malam..

Suara lolongan anjing ikut menghilang..

**
Setelah sudah mulai hilang ketakutan dan rasa kaget, Wahyu mencoba untuk kembali menghidupkan motor.

Alhamdulillah, motor kembali hidup seperti semula. Buru-buru kami melanjutkan perjalanan.

Masih tanpa banyak kata yang keluar dari mulut kami..
Kali ini, Wahyu sangat pelan mengendarai motor, dia masih merasa ketakutan..

Gak sampai lima belas menit kemudian, om kaget, nyaris terjatuh dari motor.

Karena tiba-tiba Wahyu ngerem mendadak, menghentikan motor.

Ada apa? Kok Wahyu berhenti?

***
Balik ke gw lagi ya, Brii..:)

Cukup sekian cerita dari om Heri dan Wahyu malam ini.
Suasana di dekat gw udah mulai aneh, gw gak sanggup lagi..:)

Minggu depan aja dilanjutkan ya..
InsyaAllah..

Met bobo, met istirahat..

Salam
~Brii~
Missing some Tweet in this thread?
You can try to force a refresh.

Like this thread? Get email updates or save it to PDF!

Subscribe to Brii..
Profile picture

Get real-time email alerts when new unrolls are available from this author!

This content may be removed anytime!

Twitter may remove this content at anytime, convert it as a PDF, save and print for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video

1) Follow Thread Reader App on Twitter so you can easily mention us!

2) Go to a Twitter thread (series of Tweets by the same owner) and mention us with a keyword "unroll" @threadreaderapp unroll

You can practice here first or read more on our help page!

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just three indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member and get exclusive features!

Premium member ($30.00/year)

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!