Brii Profile picture
Dec 6, 2018 80 tweets 10 min read
Hai..

Malam ini gw mau cerita tentang pengalaman #briikecil ya, cukup seru.

Kali ini bahasa dalam cerita sedikit berbeda, karna jaman kecil dulu gak menggunakan "gw" dalam percakapan..😊

Yuk..

@InfoMemeTwit
#memetwit
Perempuan itu terlihat lagi..

Duduk seperti biasanya, menghadap ke depan memandang ke halaman rumah. Duduk sendirian di atas kursi goyang yang diletakkan di teras depan.

Jarang sekali aku melihatnya ditemani oleh orang lain, nyaris selalu sendirian.
Semakin hari aku melihatnya, tubuhnya semakin bertambah kurus dengan wajah yang pucat pasi, bibirnya berwarna kehitaman, kedua matanya yang cekung terlihat sayu tak bercahaya.

Aku menebak, kalau perempuan itu sedang sakit yang berkepanjangan.
Tapi walaupun begitu, dia tetap berusaha untuk tersenyum ramah ketika melihatku lewat depan rumahnya. Memperlambat laju sepeda, lalu aku membalas senyumannya.

Setelah melewatinya, aku melanjutkan perjalanan menuju rumah salah satu teman sekelas, Henri namanya.
Aku tidak mengenal perempuan itu, tapi dia terlihat hampir seumuran dengan ibuku.

Rumah tempat dia tinggal letaknya tidak terlalu jauh dari sekolah, tapi bukan di jalur yang biasa aku lewati ketika pergi dan pulang sekolah.
Rumahnya berada di dalam kawasan perumahan yang berisi rumah-rumah berukuran besar, penghuninya adalah orang-orang yang memiliki jabatan tinggi di suatu perusahaan atau instansi pemerintah.
Rumah-rumah dengan model tahun 70/80an, yang hampir semuanya ber-cat warna putih.

Jalan di dalam perumahan cukup lebar namun sangat sepi, jarang ada mobil maupun motor yang melintas, sehingga sering kali aku bisa memacu laju sepeda BMX silver kesayangan dengan cukup cepat.
Pohon-pohon besar berdiri kokoh pada sisi kanan dan kiri jalan membuat suasana perumahan agak sedikit teduh walaupun sinar matahari cukup menyengat panasnya.
Pintu masuk ke dalam perumahan itu hanya ditandai dengan portal besi yang sudah tua dan berkarat, itupun aku tidak pernah melihatnya dalam keadaan tertutup.
Jarang sekali aku melihat penghuninya berkeliaran di luar rumah sekitaran komplek, aku juga tidak pernah melihat ada satpam atau hansip yang berkeliling menjaga keamanan. Intinya, perumahan ini sangat sepi, seperti perumahan yang tidak berpenghuni.

Perumahan yang menyeramkan..
Yang pasti, aku harus masuk dan melalui perumahan ini apabila sedang menuju ke rumah Henri.

Ada alternatif jalan yang lain, tapi akan memutar lebih jauh, akan memakan waktu lebih banyak.

***
Sudah beberapa bulan terakhir aku harus berkunjung ke rumah Henri selepas jam sekolah, kebetulan pada waktu itu kami berada satu kelompok dalam mata pelajaran IPA.
Ada satu tugas dari Pak Wasidi yang mengharuskan kami menanam tanaman dan memperhatikan perkembangannya.

Kebetulan juga, di rumah Henri tersedia lahan yang cukup luas untuk bercocok tanam.
Untuk alasan itulah kenapa aku menjadi sering berkunjung ke rumah Henri, dua kali dalam seminggu bisa dipastikan aku akan datang ke sana.

Terkadang baru pulang malam hari, selepas isya.
Dan tentu saja, dengan begitu aku juga harus melewati perumahan yang cukup menyeramkan itu dua kali seminggu.

***
"Brii, sudah hampir jam delapan malam loh ini.."

Ayahnya Henri mengingatkanku untuk pulang, mungkin karena aku terlihat masih asik bermain PlayStation bersama anaknya.

"Iya om, ini sudah mau pulang." Aku langsung membereskan tas dan bersiap untuk pulang
Seperti biasa, sebelum pulang aku meminjam telpon untuk menghubungi Bapak/Ibu di rumah, untuk mengabarkan kalau aku sudah mau pulang.

Setelah beres semuanya, aku pamit dan jalan pulang..

***
Masih berseragam putih merah dengan tas gendong menempel di punggung, aku pulang dengan mengayuh pedal BMX silver yang selalu menemani kemanapun aku pergi.

Ku kayuh sepeda dengan kecepatan sedang.
Jalan kampung yang tidak terlalu besar menjadi pemandangan awal yang harus kulalui.

Pada bagian perjalalanan ini suasana masih ramai, masih banyak orang lalu lalang atau sekedar berbincang di luar rumah. Aku masih cukup tenang selama melewatinya.
Tapi, sekitar 15 menit kemudian, tiba saatnya aku untuk masuk dan melewati komplek perumahan yang cukup menyeramkan itu.

Perumahan yang sangat sepi walaupun pada siang hari, apalagi malam hari.
Laju sepeda sengaja aku perlambat ketika akan melewati gerbangnya, gerbang yang hanya di tandai oleh portal besi yang sudah tua dan berkarat, portal besi yang tidak pernah terlihat tertutup.

Akhirnya aku memasuki komplek itu..
Jam masih menunjukkan hampir di pukul sembilan malam, namun suasananya sudah sangat sepi, lebih sepi dari biasanya.
Beberapa rumah terlihat lampunya menyala semua, lampu taman, lampu teras, dan juga lampu yang ada di dalam.

Beberapa rumah lain ada yang hanya terlihat lampu terasnya saja yang menyala, malah ada pula yang gelap gulita, tidak ada satupun lampu yang menyala.
Aku mengayuh pedal dengan perlahan, menyusuri jalan aspal yang terkadang berlubang pada sedikit bagiannya.

Penerangan hanya dibantu oleh lampu jalan yang terletak di atas trotoar, tidak terlalu terang namun cukup membantu penglihatanku untuk berjalan dalam sepinya perumahan itu.
Angin malam mulai bertiup menerpa wajah, angin yang sudah mulai terasa dingin walaupun belum terlalu malam.

Suara yang terdengar hanyalah suara ban sepedaku yang bergesekan dengan aspal jalan, tidak ada suara lain.

Sepi..
Beberapa menit kemudian, akhirnya aku tiba di depan rumah yang biasanya ada perempuan setengah baya yang sedang duduk di teras.

Rumah dalam keadaan sepi seperti biasanya, hanya lampu taman dan lampu teras yang menyala.
Lampu taman berbentuk bola kaca ~yang disanggah oleh sebatang tiang besi~ itu menyala cukup terang untuk menerangi sekitarnya, sedangkan lampu teras terlihat redup.
Di dalam rumah tidak ada lampu yang menyala, gelap gulita.
Tapi, lampu depan yang redup itu cukup buatku untuk dapat melihat suasana teras di rumah itu, cukup membantuku untuk melihat kalau ternyata perempuan itu ada..

Segera aku memperlambat laju sepeda, berjalan nyaris berhenti sambil memperhatikannya.
“Ini sudah malam, kenapa Ibu itu masih saja duduk di luar rumah?”

Begitu gumamku dalam hati.
Perempuan itu tetap duduk seperti biasa, duduk di atas kursi goyangnya, yang bergoyang perlahan ke depan dan ke belakang.

Mengenakan jaket tipis berwarna gelap, dengan kain selendang yang melilit di lehernya.
Rambut panjangnya terurai tidak seperti biasanya, namun walaupun begitu wajahnya masih dapat terlihat, wajah yang terus mengikuti pergerakanku yang melintas berjalan di depan rumahnya.
“Hati-hati nak, sudah malam..”

Tiba-tiba dia menyapaku dengan suara pelan, tapi masih terdengar cukup jelas. Menyapa dengan senyum yang mengembang di wajahnya.

“Iya Bu..”

Aku menjawab sambil tersenyum juga.
“Kasihan Ibu itu, terlihat sakit namun malam-malam masih di luar rumah.”

Aku bergumam dalam hati seraya terus melanjutkan perjalanan, mempercepat laju sepeda agar segera sampai di rumah.

***
Satu minggu kemudian, seperti biasanya aku kembali harus ke rumah Henri, melanjutkan mengerjakan tugas sekolah yang hampir selesai.
Kali ini aku berjalan berdua dengan Henri menuju ke rumahnya, mengendarai sepeda masing-masing kami berjalan menyusuri jalur seperti biasanya.

Jalur yang harus melewati komplek perumahan yang sepi itu.
Ketika kami sudah memasuki perumahan itu, lagi-lagi aku tertarik dengan rumah yang biasanya ada perempuan duduk di kursi goyang di teras rumah.

Aku memperhatikan rumah itu ketika kami sudah benar-benar sedang melintas di depannya.
Rumah dalam keadaan kosong, perempuan itu tidak terlihat, di teras rumah tidak ada siapa-siapa.

Sepi..

“Kamu melihat apa sih Brii?”

Suara Henri mengagetkanku.
“Gak kok Hen. Aneh saja, biasanya di depan rumah itu ada Ibu-ibu sedang duduk di kursi goyang, dan biasanya kami saling melempar senyum. Tapi kali ini Ibu itu tidak ada.”

Aku menjawab panjang lebar.
Seketika itu pula tiba-tiba Henri menghentikan sepedanya secara mendadak, aku terkejut dan ikut berhenti di sampingnya.

“Kamu tidak sedang bercanda kan Brii?, Rumah itu kan kosong sudah lama.”

Henri bilang seperti itu dengan mimik wajah yang serius.
“Ah kamu salah rumah mungkin Hen.., aku benar-benar sering melihat Ibu itu kok.”

Aku bersikeras mempertahankan pendapat, karena memang aku yakin kalau ibu itu benar-benar ada.
“Ya sudah kalau tidak percaya. Pokoknya yang aku tahu rumah ini sudah lama kosong, pokoknya kamu hati-hati kalau lewat sini,”

Apa yang Henri bicarakan ada benarnya juga, rumah itu memang terlihat kosong.

Suasananya juga memang terasa kalau rumah itu tidak berpenghuni.
Tapi pada akhirnya aku tetap berpikir kalau Henri yang salah, aku yakin kalau dia membicarakan rumah yang berbeda di komplek itu.
“Yuk Ah.., jalan lagi Brii.”

Lalu kami melanjutkan perjalanan.

Selama perjalanan kami masih saja berdebat mengenai rumah itu, masih bersikukuh dengan pendapat masing-masing.

***
“Brii, ada telpon dari Bapak tuh.”

Wajah ayahnya Henri muncul dari balik pintu kamar, memberi tahu kalau Bapakku menelpon ke rumahnya untuk mencariku.
“Ini sudah jam delapan lewat, kamu pulang sekarang ya. Berani pulang sendiri atau mau Papa jemput?”

Suara Bapak di ujung telpon menyuruhku untuk segera pulang, karena hari sudah semakin malam.

"Tidak usah jemput Pa, aku pulang sendiri saja.."
Memang, malam itu aku terlalu asik bermain game sampai lupa waktu, ternyata sudah jam delapan lewat sedikit.

Setelah itu aku langsung bersiap untuk pulang.

Berpamitan, aku langsung naik ke atas sepeda dan mengayuhnya cepat-cepat.

***
Malam jumat itu, suasananya sedikit berbeda, tiba-tiba rintik hujan kecil mulai turun dari langit hanya beberapa puluh meter setelah aku meninggalkan rumah Henri.
Kayuhan kaki pada pedal sepeda semakin kupercepat, fakta bahwa Jas hujan tidak ada di dalam tas gendong yang ada di punggung, semakin membulatkan tekad untuk segera sampai di rumah.
Aku memilih untuk hujan-hujanan di atas sepeda dari pada harus berteduh menunggu hujan reda, lagi pula hujannya juga tidak besar, hanya gerimis kecil.

Sekitar beberapa puluh menit kemudian, akhirnya aku sampai di depan komplek perumahan yang sepi itu.
Karena teringat oleh omongan Henri pada sore sebelumya, sempat terbersit niat untuk memilih jalan lain yang lebih jauh, menghindari komplek perumahan itu.
Tapi aku urungkan niat itu, rasa khawatir apabila hujan akan semakin deras memaksaku untuk memilih jalur yang lebih pendek dan cepat, melewati perumahan sepi itu.
Sudah jam sembilan tepat, ketika kulirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kiri.

Sempat ragu, tapi akhirnya aku melintas masuk ke dalam komplek.
Air hujan membasahi aspal jalanan, membuat jalan menjadi sedikit licin, aku lebih berhati-hati lagi walaupun laju sepeda tetap berjalan cukup cepat.

Beberapa kali harus membasuh wajah yang basah tersiram air hujan, karena yang kurasakan hujan turun semakin deras.
Seperti biasa, suasana perumahan itu sangat sepi..

Aku perhatikan, malam itu lampu rumah lebih banyak yang dalam keadaan mati, lebih banyak rumah gelap gulita dari pada yang terang benderang.
Lampu jalan yang berbaris di atas trotoar lagi-lagi membantu penglihatanku menelusuri jalan sepi itu.

Suara gesekan ban sepeda tidak sendiran lagi, kali ini ditemani oleh suara rintik hujan yang sudah mulai bertambah deras.
Akhirnya, beberapa belas meter di depan, sebelah kanan jalan, aku melihat rumah yang biasanya ada perempuan duduk di terasnya.

Rumah yang menurut Henri sudah lama kosong.
Rumah itu terlihat menyala lampu tamannya, karena memang lampu itu yang paling pertama terlihat.

Beberapa meter kemudian baru aku dapat melihat terasnya..

Perempuan itu ada di situ..

Dari kejauhan, aku lihat dia duduk di atas kursi goyangnya seperti biasa..
Aku mengayuh sepeda perlahan, membuat jarak dengan rumah itu semakin dekat dengan perlahan juga.

Dari kejauhan, kelihatan kalau perempuan itu sudah memandang ke arahku.

Seperti biasa, tubuhnya tetap bergoyang pelan ke depan dan ke belakang, mengikuti ayunan kursi.
Ketika jarak kami sudah cukup dekat, tiba-tiba dia berdiri dari kursinya..

Berdiri menatap ke arahku sambil tersenyum, kemudian melambaikan tangan.

“Nak mampir dulu sini, jangan hujan-hujanan.”

Dia memanggilku, dia mengundangku untuk mampir ke rumahnya.
Aku semakin memperlambat laju sepeda, sampai nyaris berhenti.

“Terima kasih Bu, aku pulang saja.”

Aku membalas ajakannya dengan sopan.
“Mampir dulu sebentar, sampai hujan reda. Tidak apa-apa.”

Hujan yang sudah mulai cukup deras memaksaku untuk berhenti dan mempertimbangkan ajakannya untuk mampir.
Iya, pada akhirnya aku memutuskan untuk mampir, dan kemudian membelokkan sepeda ke kanan untuk masuk ke halaman rumahnya.
Perempuan itu berdiri di samping kursi goyangnya, dengan rambut panjang terurai hingga sebatas pinggang.

Berpakaian daster berwarna putih, tubuh bagian atasnya memakai jaket wol tipis berwarna gelap, ditambah dengan selendang yang cukup tebal melilit di lehernya seperti biasa.
Kemudian aku menyandarkan sepeda di tembok garasi, kemudian mendekat ke tempat ibu itu berdiri.

“Sudah, berteduh dulu di sini sampai Hujan reda. Kamu pulang ke mana? Di mana rumah kamu?”

Suara lirih dan pelan terdengar keluar dari mulutnya.
Ada yang aneh, perempuan ini terlihat lebih segar dari biasanya, wajahnya tidak terlihat pucat, tubuhnya sudah tidak terlalu kurus lagi. Terlihat seperti sudah sembuh dari sakitnya.

“Rumah saya di Ramanuju Bu..”
“Tuh kan, masih cukup jauh dari sini. Sudah, kamu di sini saja dulu sampai hujan reda.”

Mimik wajah perempuan itu terlihat cemas..
Setelah perbincangan singkat itu, kami hanya diam tanpa berbicara satu sama lain.

Kami sama-sama memandang ke halaman rumah yang masih diguyur hujan, ibu itu duduk diam di kursi goyangnya, sementara aku berdiri di sebelah kanannya.
Cukup lama kami dalam situasi yang saling terdiam itu, sampai pada akhirnya dia berkata..

“Ibu ambil teh hangat dulu ke dalam ya, kamu tunggu di sini saja.”
Kemudian dia berdiri dan berjalan pelan masuk ke dalam rumah, sementara aku akhirnya memutuskan untuk duduk di atas tembok teras yang letaknya ada di sebelah garasi.

Suasana kembali hening, hanya suara rintik hujan yang masih turun yang terdengar.
Cukup lama aku berdiri sendirian, menunggu perampuan itu keluar rumah..

Hingga tiba-tiba lampu teras dan lampu taman yang ada di rumah itu mati, suasana menjadi gelap gulita, hanya lampu jalan yang sedikit membantu penerangan.
Perasaanku menjadi tidak enak, aku langsung berdiri dan memperhatikan sekitar.

“Bu..?”

Aku memanggil perempuan itu dari dalam rumahnya, namun tidak ada jawaban.
Aku mulai merinding ketakutan, karena ketika mengintip dari jendela di depan rumah, terlihat kalau rumah benar-benar dalam keadaan kosong.
Mundur beberapa langkah, aku berniat untuk naik ke atas sepeda dan pergi dari situ.

Namun tiba-tiba dari kejauhan aku melihat ada kilatan cahaya, kilatan cahaya lampu yang muncul dari sebelah kanan jalan.
Ternyata itu adalah lampu motor,

Motor yang kemudian semakin mendekat dan akhirnya berhenti tepat di depan rumah.

Aku dorong sepeda sambil berjalan menuju pagar rumah dan keluar dari halaman.
“Kamu ngapain di dalam rumah itu tadi Dek?”

Bapak pengemudi motor yang melintas tadi bertanya kepadaku.

“Berteduh pak, tadi hujannya deras.”

Aku menjawab singkat,
“Kamu jangan masuk ke rumah itu lagi ya, rumah itu sudah lama kosong, rumah angker, banyak setannya. Sudah, kamu cepat pulang, hujannya sudah berhenti.”

“Iya Pak, saya pulang sekarang.”
Setelah mendengar omongan Bapak itu tadi aku jadi semakin ketakutan, langsung bergegas pergi meninggalkan tempat itu, mengayuh sepeda dengan cepat supaya segera sampai di rumah.
Siapa perempuan itu?

Bagaimana kisahnya?

Ternyata itu bukanlah terakhir kali bertemu dengannya, dalam beberapa bulan ke depan aku akan bertemu dengan dia lagi.

***
Sekian cerita #briikecil malam ini ya, kapan-kapan dilanjut lagi..☺️

Sampai jumpa minggu depan,

Met bobo, met istirahat..

Salam
~Brii~

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with Brii

Brii Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @BriiStory

Feb 3
Kadang keadaan memaksa kita untuk menempati tempat tinggal baru. Sering kali, susahnya proses adaptasi harus ditambah dengan terpaan seram dari sisi gelap.

Ada teman yang mau berbagi cerita pengalaman ketika harus menempati rumah baru.

Simak di sini, hanya di Briistory..

***
Lagi-lagi, aku menemukan beberapa helai rambut panjang, entah ini sudah yang keberapa kali, kali ini aku menemukannya di depan lemari ruang tengah. Beberapa helai rambut ini kalau diukur dengan tubuh perempuan dewasa, kira-kira dari kepala sampai ke pinggul, panjang memang.
Apa yang aneh? Ya anehlah, karena di rumah gak ada seorang pun yang memiliki rambut sepanjang itu. Rambutku hanya sebatas pundak, itu pun jenisnya gak sama dengan rambut yang sudah beberapa kali kami temukan.
Read 89 tweets
Jan 13
Gak memandang apa pekerjaan kita, “Mereka” akan datang dengan keseraman tanpa diduga, dengan berbagai bentuk yang gak tertebak.

Malam ini, simak pengalaman seorang supir travel di salah satu bagian Sumatera.

Hanya di sini, di Briistory…

***
~Lampung, Circa 1998~

“Hati-hati, Bang. udah malam ini, kenapa gak besok lagi ajalah nariknya.”

“Hehe, tanggung, Man. Setoran masih belum setengahnya ini, nanti bos marah.”
Nyaris jam sebelas malam, ketika aku masih berada di pelabuhan Bakauheuni, Lampung. Percakapan dengan Iman, rekan sejawat, sejenak membuyarkan lamunan.
Read 115 tweets
Dec 16, 2021
Sejarah panjang dan kelam sering kali terungkap dalam senyap, tergambar oleh tarikan garis seram.

Satu sudut di Lembang, tersaji horor tempat pelatihan, seorang teman coba bercerita pengalaman seramnya di sana.

Simak di sini, hanya di Briistory..

***
Waktu seperti berhenti, udara sama sekali gak bergerak, suara detik jam yang tadinya samar terdengar tetiba gak ada lagi. Dalam gelap, aku terus memperhatikan ujung tangga, menunggu kira-kira siapa gerangan yang akan turun dari lantai atas.
Sementara itu, suara yang sepertinya bunyi langkah kaki, terus saja kedengaran, makin jelas, makin dekat.
Read 101 tweets
Nov 25, 2021
Cadas Pangeran, satu tempat bersejarah. Ratusan tahun berusia, sahihkan kisah hitam dan putihnya, terus bergulir hingga kini.

Mamal ini, seorang teman akan menceritakan pengalamannya ketika melintasi daerah ikonik ini. Seram? Tentu saja.

Simak di sini, hanya di Briistory.

*** Image
Lepas dari pusat kota Jatinangor, aku akhirnya masuk ke daerah yang terlihat seperti gak berpenduduk.
Tahun 1998, Cadas Pangeran masih sangat sepi, jalan berkelok dikelilingi oleh pepohonan yang membentuk hutan, sama sekali gak ada penerangan, gelap gulita.
Read 64 tweets
Nov 18, 2021
Keangkeran tempat kerja kadang terpaksa harus dihadapi. Keseraman lain dimensi, sesekali menghadirkan sosok-sosok ngeri.

Malam ini, ada teman yang akan bercerita tentang seramnya pabrik tempatnya bekerja. Tahun 2001 peristiwa ini terjadi.

Simak di sini, hanya di Briistory.

***
Suara itu lagi, walaupun sudah pernah mendengar sebelumnya, tetap saja aku terkejut, tetap menoleh ke pintu walau tahu masih dalam keadaan tertutup.
Suara gesekan sapu ijuk dengan lantai, menggusur debu serta kotoran, membersihkan.

Suara sapu ini mungkin akan terdengar biasa saja kalau siang hari, tapi beda cerita ketika terdengarnya tengah malam seperti ini.
Read 85 tweets
Nov 11, 2021
Entah bagaimana cara dan prosesnya, berjalan lintas dimensi bisa saja terjadi. Siapa pun bisa mengalami, gak pandang bulu.

Malam ini, satu teman akan bercerita pengalaman seramnya, lintas dimensi merasakan kekacauan garis ruang dan waktu. Hanya di sini, di Briistory..

***
~Circa 2003, selatan Jawa~
Aku dan Virgo akhirnya menyerah, kami sudah gak kuat menahan kantuk.
Read 101 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Don't want to be a Premium member but still want to support us?

Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal

Or Donate anonymously using crypto!

Ethereum

0xfe58350B80634f60Fa6Dc149a72b4DFbc17D341E copy

Bitcoin

3ATGMxNzCUFzxpMCHL5sWSt4DVtS8UqXpi copy

Thank you for your support!

Follow Us on Twitter!

:(