My Authors
Read all threads
#CeritaHororTwitter No.5 | TEROR MALAM TAKBIRAN | by @nochanacho

Sudah siap duduk manis mendengarkan?

#memetwit #bacahoror #bacahorror #bagihorror #ceritahoror
Hai, aku Nocha @nochanacho akan membagikan cerita pengalaman seram semasa bersekolah di bangku SMP. Semoga menghibur dan selamat membaca.
Aku masih ingat sekali kejadian ini. Saat itu aku masih duduk di kelas 3 SMP.
Malam itu adalah malam takbiran Idul Adha, dimana sekolahku mengadakan acara takbiran bersama di sekolah.
Acara ini tidak wajib memang, tapi karena banyak teman-temanku berniat untuk menginap di sekolah, aku dan dua orang temanku pun memutuskan untuk ikutan.
Sebut saja mereka berdua Yosi dan Iksan, bukan nama sebenarnya, mereka adalah dua temanku yang berangkat bersamaku menuju acara takbiran. Kita berangkat jam 7 malam, sehabis sholat isya dengan berjalan kaki dari rumahku.
Tapi, bukannya langsung ke sekolah, kita malah main dulu di warnet sampai jam setengah 9 malam. Maklum masih SMP dan masih demen-demennya main ke warnet.
Sesampainya di sekolah, acara takbirannya sudah hampir selesai. Acara ini ternyata dilangsungkan sampai pagi, tidak seperti yang dibayangkan.
Para guru mengizinkan murid laki-laki untuk menginap di sekolah. Namun, semua murid perempuan diharuskan untuk pulang, dan para guru pun juga pulang.
Para guru berpamitan pulang ketika semua murid perempuan dijemput oleh orang tuanya. Mereka meninggalkan sekitar 30-an murid laki-laki, termasuk aku, Yosi, dan Iksan, yang memang sudah bertekad untuk menginap di sekolah.
Kami yang tinggal di sekolah berkumpul di lantai 1, tepatnya di kelas 1-G. Sebuah kelas yang ada di tengah-tengah bangunan lama, menghadap ke lapangan dan aula yang berada di seberang lapangan.
Di depan kelas, berjejer pohon-pohon rindang sepanjang lorong, Ada sekitar 4 pohon kalau tidak salah, aku sudah agak lupa. Pohon-pohon ini membuat sejuk suasana kelas saat siang, namun membuat malam di sekolah ini terlihat suram.
Sepeninggal para guru dan murid perempuan, murid laki-laki ini mulai beraksi. Ada yang bermain remi, ada yang memainkan gitar sambil konser beramai-ramai, ada yang mengobrol di dalam kelas, dan ada juga yang main basket dan sepak bola di lapangan, meskipun sudah cukup malam.
Aku, Yosi dan Iksan yang merupakan golongan introvert memutuskan untuk memisahkan diri dari keramaian yang ada di lantai 1, dan naik ke lantai 2 bertiga, hanya bertiga. Tujuan kami adalah kelasku, kelas 3-I yang ada di lantai 2.
Kalau kuingat-ingat sekarang, aku nggak habis pikir, kok berani banget aku naik ke lantai 2 malam-malam begitu ya? Kebanyakan sekolah tentu memiliki cerita-cerita seram, dan lantai 2 sekolahku merupakan salah satunya.
Di lantai 2 ini, berjarak 1 ruangan dengan kelasku terdapat ruang musik, dimana sering terdengar suara piano yang dimainkan dari dalamnya, padahal sedang tidak ada yang berada di dalam ruang musik.
Ada juga cerita-cerita murid-murid yang melihat penampakan di lantai 2, kebanyakan cerita yang kudengar dan kualami adalah penampakan sosok hitam yang suka duduk di meja di dalam kelas.
Meskipun, mungkin masih banyak sosok-sosok lain yang menghuni area lantai 2 dan akan menunjukkan eksistensinya saat malam tiba.
Sosok hitam ini sering tampak duduk di atas salah satu meja di kelas, biasanya terlihat duduk di meja yang berada di urutan paling depan.
Sosok hitam ini pernah membuat murid-murid salah satu kelas berhamburan keluar kelas karena ia menampakkan diri di sore hari, ketika masih banyak murid yang berada di kelas.
Kelasku berada tepat di sebelah tangga, menghadap ke lapangan dan pintu masuk sekolah di seberang lapangan. Dari depan kelasku, jika menoleh ke kiri, di bawah dapat terlihat aula, dan kalau melihat ke kanan, terlihat kelas 1-G di bawah.
Karena berada di sisi berbeda dari kelas G, lorong balkon depan kelasku tidak tertutup pepohonan sama sekali, sehingga meskipun tidak menyalakan lampu, cahaya bulan dapat masuk dengan mudahnya lewat jendela kelasku yang tak berkaca.
Alasan sebenarnya kami memilih kelasku adalah karena hanya kelasku yang bisa kubuka pintunya. Pintu kelas lain dapat dikunci menggunakan kunci, sedangkan kelasku hanya bisa menggunakan kunci slot, yang ada di sisi atas pintu. Aku yang cukup tinggi dapat dengan mudah membukanya.
Aku masih sangat heran, kenapa aku berani menginap di kelasku malam itu. Kelasku ini posisinya dikelilingi lokasi yang seram. Ada ruang musik di sebelah kiri, sebelah kanan adalah ruang kelas 3-H, dimana aku pernah melihat sosok hitam itu duduk di atas meja.
Dan di belakang kelasku terdapat kamar mandi dengan beberapa bilik yang hanya dibatasi kaca buram dengan kelasku. Dan terdapat tangga naik dan tangga turun tepat di sisi kiri kelasku.
Namun aku bersyukur, malam itu kami dilindungi dari gangguan-gangguan mereka yang tak kasat mata. Atau kami saja yang kurang perhatian ya?
Kami bertiga menghabiskan malam itu dengan membaca komik. Kami memang sengaja membawa banyak komik dan saling bertukar koleksi komik untuk dibaca bersama-sama.
Berbeda dengan area lantai 1 yang dipenuhi teman-temanku yang ramai, area lantai 2 ini sangat sepi dan nyaman, cocok untuk membaca komik dan mengobrol. Meskipun begitu, kami masih dapat mendengar suara ramainya anak-anak yang berada di lantai 1.
Karena situasi yang mendukung, sepi, gelap, nyaman, sekitar jam 11 kami mulai tertidur satu per satu. Aku tertidur sangat pulas, bahkan aku adalah yang tertidur duluan diantara kami bertiga.
Aku bangun waktu mendengar adzan subuh berkumandang. Begitu terjaga, aku mendapati kelasku yang tadinya berisikan 3 orang saja termasuk aku, kini berisikan 11 orang.
Aku kaget, kok jumlahnya nambah? Ada apa ini? Aku mendapati Iksan sudah terjaga lebih dahulu. Aku bertanya singkat, “Kok pindah kesini semua?” Iksan menjawab, “Iya semalam ada penampakan.”
Aku kaget mendengarnya. Iksan segera mengajakku untuk sholat subuh berjamaah, membuatku mengurungkan niat untuk bertanya lebih jauh. Kami pun membangunkan teman-teman yang lainnya.
Setelahnya kami beranjak ke mushola dan menjalankan sholat subuh berjamaah. Seusai sholat subuh kami berebut ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap untuk mengikuti sholat hari raya Idul Adha.
Seusai sholat hari raya, barulah aku bertanya pada Iksan, perihal apa yang terjadi semalam. Iksan sendiri tidak tahu apa yang terjadi karena ia juga tertidur lelap, ia hanya mendengar cerita detail dari teman-teman yang pindah ke ruang kelasku, tempat kami tidur semalam.
Sebut aja Roni, ia adalah salah satu anak yang pindah tidur ke kelasku malam itu.
Malam itu, seperti yang kuceritakan, semua masih sibuk beraktivitas masing-masing. Bermain basket, sepak bola, bermain gitar dan menyanyi, bermain remi, dan sebagainya.
Sekitar jam 12 malam, anak-anak yang berada di lantai 1 mendengar suara bel sekolah berbunyi sekali. Mereka tersentak kaget mendengarnya. Jelas-jelas para guru sudah pulang jam 9 tadi, siapa yang menekan tombol bel sekolah?
Beberapa anak pun memberanikan diri menuju ke ruang guru, untuk mengecek. Namun, mereka mendapati ruang guru terkunci rapat.
Salah seorang dari mereka berpendapat jika mungkin ada satu-dua guru yang menginap dan mereka tidak tahu kalau guru ini menginap, dan guru ini tak sengaja menekan tombol bel. Sebuah teori yang masuk akal menurutku.
Anak itu pun mengetuk pintu ruang guru. Namun, tidak ada jawaban. Diketuk sekali lagi, dan tetap tidak ada jawaban.
Sekarang, mereka mulai berpikir kalau bel sekolah tadi sedang error atau konslet sehingga menyala sendiri. Akhirnya mereka beranjak meninggalkan ruang guru.
Baru beberapa langkah mereka berjalan, terdengar suara bel itu menyala kembali. Kaget dan takut, semuanya berhamburan berlari kembali ke kelas 1-G.
Beberapa langkah sebelum sampai di kelas 1-G, semuanya dikejutkan dengan teror lain. Semua anak di yang berada di dalam kelas berteriak.
Anak-anak yang diluar terkejut dan menoleh ke arah kelas, terlihat ada satu sosok putih berdiri di depan jendela kelas, jendela yang tepat berada di sebelah pintu.
Sosok itu adalah POCONG.
Anak-anak yang berada di kelas berteriak karena melihat pocong itu berdiri dengan wajah menatap ke dalam kelas. Yang di luar juga langsung berhenti tidak jadi masuk ke dalam kelas, begitu melihat penampakan pocong yang memunggungi mereka.
Anak-anak yang ada di dalam kelas mulai berlari keluar, berhamburan, ada yang berlari ke pintu depan, ada yang langsung ke mushola, dan ada yang naik ke lantai 2, menuju kelasku karena mereka melihat aku, Yosi, dan Iksan berjalan naik dan menuju kelasku tadi jam 9.
Yang menuju pintu depan terkejut karena ternyata pintu gerbang sekolah terkunci dari luar, yang artinya kami semua terkunci di dalam sekolah sampai pagi menjelang. Mereka langsung berlari menyusul teman-teman lainnya yang menuju mushola dan tidur bersama disana.
Entah kenapa kami yang di lantai 2 malah aman-aman saja. Bahkan dapat tertidur lelap.
Mungkin ini karena anak-anak ramai di lantai 1, padahal sudah larut malam. Bayangkan bagaimana ramainya anak-anak yang main basket, main sepak bola, main gitar dan bernyanyi bersama di sekolah malam-malam. Mungkin penghuni sekolah menjadi sangat terganggu dengan keramaian itu.
Oleh karenanya, dimanapun kita berada kita harus selalu jaga kesopanan, jaga sikap. Tidak perlu jauh-jauh membahas tempat yang baru didatangi, tempat-tempat yang kita datangi, kita tempati setiap hari juga memiliki penghuni lain selain manusia.
Meskipun sehari-hari kita berada di tempat itu, belum tentu kita mengenal tempat itu ketika malam datang. Selalu jaga sikap dan jaga perilaku dimanapun kita berada.
Semoga kita semua selalu dilindungi Tuhan Yang Maha Esa, Aamiin.
Sekian ceritaku, masih banyak cerita tentang sekolah ini, namun yang cerita ini lah yang kuingat sampai sekarang, semoga terhibur dan terima kasih sudah membaca.

-END-
Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh.

Enjoying this thread?

Keep Current with Do You See What I See?

Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

Twitter may remove this content at anytime, convert it as a PDF, save and print for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video

1) Follow Thread Reader App on Twitter so you can easily mention us!

2) Go to a Twitter thread (series of Tweets by the same owner) and mention us with a keyword "unroll" @threadreaderapp unroll

You can practice here first or read more on our help page!

Follow Us on Twitter!

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3.00/month or $30.00/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!