2018

Ini hari kedua Milo dan Devi mengikuti kegiatan pelatihan di Balai Perikanan. Besok pagi, puluhan siswa SMA yg ikut pelatihan sudah bisa pulang. Sore iti keduanya memilih untuk berjalan2 ke daerah Pantai. Warga setempat memanggilnya Pantai Tanjungan.
Lokasi pantai yang tersembunyi membuat Milo dan Devi betah berlama2 di sana.Cipratan air laut sore yg sejuk menjalar saat Milo merendamkan kakinya.Gadis SMA itu merasakan ada yg mengawasinya di balik pepohonan.Dia sempat menoleh tapi tak menemukan apa-apa selain daun ketapang.
"Lo, balik yuk. Kebelet pipis, " kata Devi menarik Milo. Karena merasa sudah tak nyaman, Milo ikut beranjak. Diikutinya langkah Devi ke kamar mandi yang ada di batas tembok balai perikanan.

"Aku duluan ya, tunggu dulu Lo, "
Devi lalu berlari ke dalam kamar mandi.
Milo berdiri mengamati toilet yg dipakai Devi, angin laut berhembus pelan. diamatinya sekeliling Balai Perikanan yg mulai gelap. 15 menit kemudian Devi keluar dan menghampiri Milo.

"Loh, kok udah di sini. cepet banget, " kata Devi.

"Memang daritadi aku disini Vi"
Devi mengangkat alis, seperti heran. "Lah tadi kamu kan ngajak ngobrol di depan pintu"

Milo menggeleng, karena tak ingin berdebat lama, Milo mengajak Devi kembali ke Mess. Adzan magrib sudah mulai terdengar menjemput.

"Ayolah balik ke dalam, dingin"
Keduanya langsung masuk kembali ke dalam mess. Entah kenapa, setelah itu Milo merasakan ada sesuatu yg berat di lehernya. Saat jam materi malam, Milo merasakan kesadaranya beberapa kali seperti hilang. Sigit, teman sebangku Milo terus memperhatikan gerak gerik Milo.
Sigit melihat Milo seperti orang dalam keadaan mengantuk berat. Tapi tanganya masih mencorat coretkan tangan di atas kertas HVS yg ada di meja. Karena penasaran, Sigit merebut kertas dari meja Milo.
Diamatinya gambaran Milo, lalu Sigit begidik ngeri.
"Kamu nggambar apa ini! jangan dilanjutkan" Sigit meremas gambar yg dibuat Milo. Lalu membuangnya ke bawah kursi. Milo masih tampak bingung dengan apa yg dilakukan Sigit. "Memang aku nggambar apa? "

tapi Sigit tak menjawab, wajahnya tampak ketakutan sambil menatap ke papan tulis
Setelah kelas Malam, Devi kembali menghampiri Milo.

"Lo anterin ke belakang ya"

"Mau, ngapain? " tanya Milo.

"Aku mau buka HP, biar gak ketahuan pelatih, ayo sebentar" pinta Devi.

Milo menurut, diikutinya lagi Devi berjalan ke arah kebun yg ada di belakang Mess
Lokasi ini memang sangat sepi, karena berada di balik bangunan mess. Tidak ada penerangan selain sisa cahaya dari ventilasi mess yang temeram. Devi langsung masuk ke sekitar pepohonan sambil mengacungkan hp mencari sinyal. Milo mengikuti di belakangnya sambil mencuri pandang
setelah menoleh ke belakang,Milo kembali melihat ke arah Devi yang sedang berdiri di balik pepohonan. Sebagian tubuhnya terhalang batang pohon.Devi lalu melangkah ke depan mendekati Milo. tiba2 Milo menjerit kencang. Dilihatnya sosok wanita tua tengah merangkul Devi dari belakang
Wanita tua itu memiliki rambut panjang berwarna putih. Dia seolah paham jika Milo bisa melihat sosoknya, wanita tua itu pun meringis menunjukan barisan giginya yang runcing kepada Milo.. Gadis itu berteriak lagi lalu pingsan.
sekitar jam 10 malam Milo baru siuman dari pingsanya. tiba2 dia sudah berada di mess panitia. Devi dilihatnya masih tertidur di ranjang sebelahnya.
dua orang panitia langsung beranjak setelah melihat Milo siuman.

" Kamu gak apa2 dek? " tanya Bagus salah satu pelatih senior
sambil mengedipkan mata, Milo menggeleng. Malam itu dia diminta tidur di mess panitia.

Milo lalu pergi ke mess tempatnya menginap untuk mengambil barang2nya yang masih ada di sana. Jam dinding menunjukkan pukul 11 malam. Bagus berjalan di depan dan Milo mengikuti dari belakang
Mess Panitia dan mess siswa terpisah dengan dua ruangan mess kosong. keduanya harus melewati lorong gelap tanpa penerangan.Milo hanya menunduk saat melewati dua lorong gelap itu.Setelah pingsan tadi, Dia merasa lebih peka.Seolah ada banyak mata yang mengamatinya selama perjalanan
Milo menunduk melihat kaki Bagus yang berjalan di depanya. bunyi tapak kaki menggema pelan di gelapnya lorong. Tiba-tiba Milo mendengar ada suara banyak langkah. Suara itu terdengar di belakang, kanan dan kiri. Milo semakin menunduk tak berani menoleh.
Tapi, ketika melirik ke bawah dia justru bisa melihat ada kaki kaki keriput yg mengiringi langkahnya. "Kaki siapa ini" batin Milo. keringat dinginya bercucuran sambil terus melangkah. Untung tak lama kemudian dia sampai ke mess nya.
setelah mengambil tas dan selimut, Milo kembali ke mess panitia. Kali ini dia meminta agar melewati jalan yg berbeda. yg lebih terang dari lorong tadi. Bagus akhirnya membawa Milo melewati jalan paving yg lebih jauh tapi lebih terang.
Di mess panitia, Milo melihat Devi sudah siuman. Dia sedang duduk sambil meminum teh hangat.

"Dev.. " panggil Milo.

Devi yg dipanggil melirik ke arah Milo. Mata Devi melotot dan langsung mengambil selimut menutupi wajahnya. Seisi ruangan heran melihat Devi. termasuk Milo.
sejak hari itu, Devi seolah menjauhi Milo. mulai dari perjalanan pulang dari Balai Perikanan sampai mereka masuk sekolah.

Milo tak mengerti apa yang membuat Devi menjauhinya. yg dia rasakan, sepulang dari Balai Perikanan. kesadaran sering kali menghilang.
Di rumah, tingkah laku Milo berubah drastis. Ibunya merasakan ada yg tidak beres dengan anaknya. Milo banyak tidur di siang hari. Dan baru terbangun selepas magrib. Milo juga tak pernah mau makan sepulang dari Balai Perikanan.

"Makan dulu Lo, mama beli lontong sayur tadi"
tak ada jawaban dari kamar Milo.Ibunya lalu membuka kamar dan melihat Milo masih tertidur membelakanginya.Dia mendekati Milo lalu mencoba menarik pundak Milo.
"Astagfirullah... " ibu Milo melompat mundur. Dia melihat wajah Milo berubah seperti wanita tua. Lalu meringis kearahnya
Ibunya buru2 menutup pintu dan berulang kali mengucapkan istigfar. Di rumah hanya ada Milo, ibunya dan dua adiknya yg masih kecil. Ibunya sebenarnya ingin keluar meminta bantuan ke salah satu tetangga. Tapi Ibu Milo mengungkan niatnya dan lebih memilih sholat, menenangkan diri
esoknya Milo berangkat ke sekolah. Dia memilih berjalan kaki. Ibunya menawarkan untuk mengantar, tapi Milo menolak. Milo menatap lurus berjalan menuju ke sekolah. Ada perasaan tidak enak yg kembali dirasakan ibunya.
Di sekolah Milo tidak banyak bicara. Pelajaran Kewirausahaan yg berlangsung pagi itu hanya dilihatnya dengan tatapan kosong. Di saat para siswa sedang fokus menatap papan tulis, Riyanti teman sebangku Milo tiba2 menjerit histeris. Seisi kelas langsung menatap ke arah Riyanti
Siswi itu terjatuh dari kursinya lalu berlari ke arah Pak Darmo yang sedang mengajar. Riyanti memperlihatkan lengan tanganya yang membentuk tiga garis berdarah.

"Milo pak, tiba-tiba saya dicakar" Riyanti menunjuk ke arah Milo sambil menahan sakit
Milo terlihat meringis ke arah Riyanti. seisi kelas terlihat ketakutan.Belum pernah Milo bertingkah seperti itu.Devi yg duduk di pojok depan terlihat yg paling ketakutan.Dia memeluk erat tas sambil menutupi wajahnya.
"Tenang- tenang, ayo semuanya kembali duduk" perintah Pak Darmo
Dua orang siswa disuruh Pak Darmo untuk membawa Milo ke ruang BK. sedangakan Riyanti yg masih menangis menahan sakit dibawa ke UKS. Milo hanya tersenyum saja ketika digiring ke ruang BK. Pak Darmo lalu mencari Pak Fauzi, pembina BK sekaligus guru agama di sana.
begitu Pak Fauzi masuk ke dalam ruang BK. Raut Milo yg awalnya terang mendadak berubah. Mata Pak Fauzi lekat melihat wajah Milo.

"Assalamualaikum.. " Pak Fauzi mengucapkan salam dengan sedikit keras ke arah Milo. Salam itu dibalas suara menggeram dari mulut Milo
Belum sempat Pak Fauzi duduk, Milo tiba-tiba menerjang. Dua orang siswa dan seorang staf TU yg ada di ruang itu nyaris telat memegangi Milo. Pak Fauzi mengambil langkah mundur lalu merapalkan sesuatu. Milo masih menggeram seperti akan menyerang Pak Fauzi
"Kita bawa pulang saja, siapa yg tahu rumahnya Milo? " tanya Pak Fauzi.

Salah satu siswa mengangkat tangan. Pak Fauzi mengangguk lalu menyuruh tiga orang itu membawa Milo pulang. Milo dibopong ke tempat parkir, beberapa siswa tampak mencuri2 tahu.
Devi yg berdiri di salah satu pojok kelas tampak melihat dengan ngeri ke arah Milo.

Pak Darmo, dua orang siswa dan satu staf TU menggotong Milo yg masih terus menggeram sejak dibawa ke atas mobil. Pak Fauzi masuk lebih dulu ke dalam rumah untuk menjelaskan ke Ibu Milo
ternyata di dalam rumah sudah ada Ustad Halim dan Ibu Milo. Rupanya, setelah Milo berangkat sekolah, Ibunya menghubungi Ustad Halim untuk membantu mengobati Milo. Pak Fauzi lalu menceritakan apa yang terjadi pada Milo selama di sekolah
"Mulai pulang dari pelatihan dia tidak mau makan Pak. Kalau dipaksa marah, " kata Ibu Milo ke Pak Fauzi.

"Di kelas katanya juga banyak diam Bu, saya melihat ada yang mengganggu, " jawab Pak Fauzi.

Tak lama empat orang laki2 yg menggendong tubuh Milo masuk ke dalam rumah.
Ustad Halim langsung berdiri dari duduk silanya.

"Taruh ke ruang tengah yang agak gelap. Kalian yg masih muda boleh kembali, pak guru saya minta tolong disini dulu"

Pak Fauzi dan Pak Darmo mengangguk. Dua siswa yang tadi ikut mengantar Milo disuruh kembali ke sekolah
"Padahal aku pengen lihat bro, " bisik salah satu siswa sambil berjalan ke luar rumah.
"iya aku juga, apa kita ngintip saja, ? " sahut temanya.
karena sama-sama penasaran akhirnya kedua siswa itu memilih berputar ke samping rumah. ada lorong kecil yg bisa mengakses jendela rumah
Mereka berdua memilih mengendap dan mengintip di sana.

Di ruang tengah, Milo tiba2 sudah dalam posisi duduk. Kondisi ruang tengah lebih gelap meskipun hari masih terang. Ustad Halim kembali duduk bersila didampingi Pak Fauzi. Pak Darmo dan Ibu Milo duduk di belakang Milo
Ustad halim mulai mengulur tasbihnya. Dia mengisyaratkan Pak Fauzi dan Pak Darmo untuk bersiap2 memegangi Milo. Pada putaran tasbih ke dua Milo yg awalnya tenang tiba2 menggeram marah dan berusaha menyerang Ustad Halim. Pak Fauzi dengan cepat menahan pundak Milo
sementara Pak Darmo kerepotan meraih pergelangan kaki Milo. Hawa di ruang tengah mendadak berubah. Ruangan yg memang gelap itu seolah menjadi lebih pekat. Lalu suara tawa wanita tua terdengar mengelilingi ruangan.

"Aku pengen melu cah ayu iki (aku ingin ikut anak cantik ini) "
Suara berat terdengar muncul dari mulut Milo. Matanya melirik ke semua orang yg ada di dalam ruangan. Di luar, Dua orang anak yg mengintip kejadian itu mulai bergidik takut.Belum pernah mereka melihat hal semacam itu terjadi.
"Bismillahirahmanirahim 3x" Ustad Halim memulai doanya
kali ini lampu dop lima wat yg menerangi ruang tengah meletus. Seisi rumah terkejut. Termasuk Pak Darmo yang memegangi kaki Milo. Kini cahaya ruang tengah hanya memgandalkan bias terang yang muncul dari sela2 ventilasi rumah.

Milo masih meringis sambil menggeram
Perlahan, ada asap yg keluar dari punggung Milo. Ibunya yg ada di belakangnya mencoba mendekat melihat apa yang terjadi kepada Milo. Belum semeter sampai ke tubuh Milo, tubuh ibunya tiba2 terpental. Tubuhnya terjengkang hingga tergeletak.
Ibu Milo merasakan sesak di dadanya seolah ada orang yang menindih tubuhnya.Saat membuka mata,Ibu Milo melihat ada sosok nenek dengan rambut putih dan kebaya lusuh sudah mencengkeram dadanya

"Mulih.. Mulih.. Mulih" Ustad halim berteriak.
Wanita tua itu lalu menoleh dan melompat
Kini giliran Pak Darmo yang dihinggapi wanita tua itu. Pak Darmo menjerit ketakutan seperti orang kesakitan. Dilepasnya kaki Milo yang tadi digenggamnya. "Aaaaaa.... Aaaaaaaaa"
Pak Darmo terus menjerit

Ustad Halim lalu mendekat, menjerat leher wanita tua itu dengan tasbihnya.
Sekejap,Ustad Halim menyeret wanita tua itu ke dalam gelap. Sempat ada suara erangan, lalu sunyi.

Pak Darmo masih mengatur nafas sambil melotot. Pak Fauzi terlihat lebih tenang meskipun tampak ketakutan. Ibu Milo mencoba berdiri lalu mendekati anaknya yg pingsan.
Satu menit berselang, Ustad Halim muncul lalu membuka jendela ruang tengah yg terhubung ke lorong. Dua siswa yg tadi mengintip sudah lari ketakutan ketika melihat Pak Darmo diduduki wanita tua.

Raut Wajah Ustad Halim tampak lega. Meskipun wajahnya dipenuhi keringat
"Mahluk itu sudah pergi, Milo sudah aman bu. Nanti dikasih makan sama minum saja yang banyak" kata Ustad Halim sambil duduk di atas kursi. Milo masih tertidur di pelukan ibunya. Pak Fauzi lalu beranjak mengambil air putih kemasan di ruang tamu.
Setelah keadaan tenang. Ustad Halim bercerita jika Sosok wanita tua itu adalah Jin penunggu pantai yg sempat dikunjungi Milo. Sebenarnya tidak ada masalah antara Milo dengan penunggu pantai. Justru, jin itu sebenarnya menyukai teman Milo yg saat itu sedang menstruasi
Jin itu awalnya menepel pada Devi,Sebelum kemudian berpindah ke Milo. Karena secara tidak sengaja Milo yg sedang melamun melihat sosok Jin yg menyerupai nenek tua itu.Sehingga mahluk itu berpindah dari Devi ke Milo.
"Tadi memang dia tidak mau kembali.Jadi saya usir dengan paksa"
Esok harinya, Milo kembali bersekolah seperti biasa. Tak seperti seminggu sebelumnya, kali ini Devi yg menghampiri Milo dan mengajaknya berbicara seperti sebelum sebelumnya.

Selepas jam pelajaran kedua, Devi mengajak Milo duduk di kursi kosong dekat ruang penyimpanan kursi
"Milo, aku mau cerita banyak. Maaf ya kalau aku menjauhi kamu beberapa hari ini" Devi membuka obrolan.

"Iya Vi, gak apa apa, aku juga sepertinya harus tahu. Kesadaranku sering hilang beberapa hari terakhir, " jawab Milo.

>>>>> lanjut ke thread sudut pandang Devi.

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with Fredyaspiree

Fredyaspiree Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @fredyraskin

21 Jan
Cerita ini saya dapat setelah berbincang dengan salah satu juragan bisnis kuliner.Karena penasaran,saya mencoba menanyai apa resepnya sehingga bisa sedemikian sukses. Ternyata,alurnya cukup panjang.Selain perjuangan keras tentunya,ternyata ada cara yang tidak biasa yg dia lakukan
2014.

RUMAH tangga yang dibangung Wardoyo dan istrinya Sasmi terasa semakin panas. Di usia pernikahan mereka yang keenam, hubungan Wardoyo dan mertuanya terus bermasalah. Puncaknya ketika Wardoyo dan Sasmi harus rela tinggal di rumah bagian belakang.
Read 73 tweets
8 Jan
1999.

AKU sama seperti remaja lainya yg tumbuh di tahun itu. Remaja desa, tak punya pekerjaan tetap. Uang apalagi. tapi ini bukan ceritaku. Ini cerita salah satu orang kaya di kampungku. Aku memanggilnya Pak Kuri.

Saat itu, Pak Kuri masih berusia 40an tahun. Masih gagah.
Pak Kuri punya usaha toko sembako. Tak banyak di Desa ku yang punya toko sembako. Hanya tiga orang. Bu Haji Mah, Wak Mustain dan Pak Kuri. Sisanya hanya warung2 kecil yg hanya menjual permen atau silet Tatra. Tak menarik pokoknya, terutama untuk remaja sepertiku.
Read 57 tweets
2 Jan
"Las, ojo lali ngko bengi bar magrib kondangan neng Wak Aji. Mas Waras mbojo (Las jangan lupa nanti malam setelah magrib kondangan ke Wak Aji. Mas Waras menikah) " kata Rudi kepada Muklas yang sedang sibuk mengampelas kaki meja.

yang diajak berbicara seperti tak mendengar.
"Tenan loh Las, tak tunggu neng Wakaf karo arek-arek. (beneran loh Las, saya tunggu bersama teman2) " Rudi kembali mempertegas omonganya. Kali ini Muklas mengangguk, lalu membalikan badan meja. Mengampelas bagian dalamnya.
Read 33 tweets
23 Dec 20
insyAllah saya tulis dan selesaikan malam ini.
2019.

Mobil pickup yang ditumpangi empat orang tukang ukur tanah melaju cepat. Jalanan Gumitir yg berkelok kelok membuat keempat orang bujangan itu harus mencengkeram kuat pinggiran bak pickup. Sesekali mereka tertawa saat ada yang terkejut karena hempasan mobil
Read 95 tweets
14 Dec 20
2003

Hari itu, aku memiliki kesempatan untuk berkunjung ke rumah salah satu kawan lama. Rumahnya berada tak jauh dari tepi pantai. Kawanku ini Jupri namanya. Kebetulan selepas SD, dia memilih mengikuti jejak bapaknya yang bekerja sebagai nelayan tradisional.
Kebetulan sekali, saat aku berkunjung ke rumahnya Jupri sedang merancang jadwal melaut yang rencananya akan dimulai sore hari. Aku yang belum pernah sekalipun ikut aktifitas melaut merasa perlu menjajal tantangan.Setelah menyesap segelas kopi dan menandaskan sepiring tahu goreng,
Read 53 tweets
11 Dec 20
Itu Kursiku

- Kalau ada kursi di rumah kosong, biarkan saja. Jangan dipindah!

@ceritaht
@BacahorrorCom
@IDN_Horor
@cerita_setann
@FaktaSejarah
@threadreaderapp

#bacahorror #ceritahoror #bacahoror #kisahhoror
Sementara belum ada cerita panjang, narasumbernya masih belum lengkap. Jadi diceritain cerita singkat dari pengalaman salah satu teman dulu ya. Semoga menghibur penggemar kisah horor.

Bismillah
2014.

Di dekat rumahku ada sebuah rumah tua.Dulunya rumah itu adalah milik slah satu orang kaya. Ada dua rumah yang digandeng mnjadi menjadi satu bagian.yg di depan dijadikan toko sembako,dan yg sebelah dijadikan rumah. Tapi sejak sepuluh tahun lalu, rumah itu dibiarkan kosong.
Read 34 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!

Follow Us on Twitter!