𝐀𝐊𝐔 𝐔𝐃𝐀𝐇 𝐂𝐔𝐑𝐈𝐆𝐀 𝐃𝐄𝐍𝐆𝐀𝐍 𝐊𝐄𝐁𝐀𝐈𝐊𝐀𝐍𝐍𝐘𝐀

[Sebuah utas]
.
.

(1) Aku tinggal sendirian di sebuah rumah di tengah ladang, menjaga ternak sapi milik orang. Blm ada rumah warga di sekitar situ. Yang ada satu dua rumah yg dihuni penjaga kebun atau ternak.
(2) Akses jalan kesana udah bisa masuk mobil, namun blm aspal. Rencananya lahan itu bakal jadi kompleks perumahan. Soalnya 2 km sblm tempatku ini udah jd perumahan. Istriku udah meninggal sejak lama. Tiga anak²ku udah pada merantau dan menikah ke pulau sebrang. Inilah kegiatanku.
(3) Kuliat seorang Bapak² dgn pakaian rapi berjalan di lahan yg aku jaga. Aku yg sedang duduk di pintu depan rumah lantas menghampirinya. Aku gak mau memasang wajah² curiga. Aku sapa dia dgn senyuman. "Ada apa, Pak?, tanyaku. "Eh, Bapak yg jaga ini?", tanyanya balik. "Iya, Pak!".
(4) Ternak apa disitu, Pak? Sapi sama apa?", tanyanya. "Sapi aja, Pak!"
"Oh, gak ada kambing?"
"Gak ada, Pak!" Aku gak mungkinlah mengira dia mau nyuri. Setelan bajunya bersih, baru, dan rapi. Dia mengenakan jeans biru dipadu dgn kemeja garis² lengan pendek, dan pantofel itam.
(5) Ada jam tangan AC chrono warna rose gold di pergelangan tangan kanannya. Dan sebuah batu bacan doko yg di ikat dgn emas terlihat terselip dijari manis kirinya. Tubuhnya menyebarkan aroma parfum yg begitu tajam namun lembut, menandakan dia orang berada. "Dari mana kita, Pak?"
(6) Liat lahan aja Pak sambil pipis!" Dia menjawab dgn penuh senyum. Ku lihat sebuah mobil pajero sport warna silver terparkir di tepi jalan. "Mau beli lahan mksdnya, Pak?", tanyaku memperjelas. "Gak sih Pak. Liat lahan ini aja, kebetulan ini punya kita.", katanya.
(7) "Oh, ini lahan Bapak toh?"
"Iya, gitulah, Pak!"
"Mari mampir, Pak! Ngobrol di dlm aja.", ajakku. Lalu kami berjalan sambil bincang² menuju rumah tinggalku. "Berarti Bapak ini Pak Sugimin ya, Pak?", tanyaku lagi. "Iya betul, Pak!", jwbnya.
"Pak Narso yg bilang dulu.", kataku.
(8) Pak Narso adalah pemilik ternak yg nyewa lahan itu. Ku persilakan Pak Sugimin duduk di kursi kayu di dlm rumah lalu kubuatkan kopi hitam. "Sendirian, Pak?", tanyanya. "Iya, Pak!"
"Mana keluarganya?"
Akupun menceritakan semuanya. Dia memperhatikan wajahku dan memandangiku.
(9) Setiap ngobrol Pak Sugimin sering² liatin aku, entah apa yg dia pikirkan. Tapi orgnya sngt ramah dan humble. Dia memberi rokok surya miliknya ku isap. Kebetulan rokok chiefku tinggal 2 batang tadi. Sementara dia bawa 2 bks rokok dikantongnya. "Ini aja isap, Pak", katanya.
(10) "Maaf Pak bukan nyuruh, ada kue di mobil, mau Bpk ambilkan?", katanya. "Boleh, Pak", jwbku. "Maaf ya Pak!", katanya lagi. "Gapapa, Pak. Saya ambilkan ya, Pak!", kataku dan bergegas berdiri. Lalu dia tekan remot mobilnya beberapa kali namun gak bunyi. Kamipun jln ke halaman.
(11) Dia kembali menekan remot ditangannya tp gak ngefek ke mobil yg ditepi jln sana. Akhirnya di kshnya remot itu kubawa. "Di dpn ya Pak, di dlm kresek Indomaret, bawa aja kreseknya kesini.", katanya. Akupun dtng membawa kresek besar itu. Isinya banyak sekali.
(12) Ada sekotak Apollo Bolu Pandan, sekotak Bembeng, 1 botol besar Pulpy Oren, dan 2 buah roti sobek sari roti rasa coklat srikaya. Itulah kami makan menemani kopi yg kubuat tadi. Seru jg dengarin Pak Sugimin bercerita. Orgnya emang asik. Ditengah perbincangan dia nanya toilet.
(13) "Udah sepi nih Pak, ada toilet?", katanya. Aku bingung apa mksdya. "Sepi mksdnya gimana, Pak?", tanyaku. "Sepi, sesak pipis, Pak. 😀!", jwbnya. "Oh, ada Pak, di dlm." Aku menunjukkan toilet ke Pak Sugimin. Lalu dia kembali duduk di dpnku dan melanjutkan cerita.
(14) Sekitar 3 jam ngobrol dgnku, dia pamit. Di tinggalkannya semua belanjaannya tadi. "Ini, Pak! Nanti ketinggalan.", kataku. "Biar aja, Pak. Buat Bapak!", katanya.
"Makasih bnyk ya, Pak!"
"Sama², Pak. Besok² saya kesini lagi ya, Pak!", katanya.
"Silakan, Pak. Datang aja."
(15) Seminggu kemudian dia datang. Kali ini dia lgsg menenteng kresek Indomaret yg sama besar kayak kemarin. Ada jg bnyk minuman di dlm seperti yakult. Juga ada rokok Surya bbrp bungkus di dlm. Udah bnyk perbincangan kami. Lalu dia seperti keseleo. Dia bilang sakit di lehernya.
(16) Ekspresi wajahnya menunjukkan lumayan sakit yg di rasakannya. "Waduh, sakit kali."
Dia memegangi leher dan bagian pundaknya. Aku yg melihatnya jg memasang wajah prihatin. "Kenapa, Pak?", kataku dgn wajah² peduli. "Saya urut ya, Pak.", kataku. "Minta tolong, Pak!", katanya.
(17) Akupun bergegas menanganinya. Aku urut bagian leher dan pundaknya. Dia meringis dan bilang pas ke yg sakit itu. "Lagi, Pak! Nah, disitu Pak!", serunya.
Akupun mengeluarkan kemampuan urutku yg memang cukup mumpuni itu. "Untung Bpk bisa urut pula.", pujinya.
(18) Emang pandai pula Bpk ngurut, ya. Lbh bagus dr tkg urut benaran.", katanya. Ya, turun dr org tua, Pak. Tp gak saya terusin.", kataku. "Kenapa, Pak?"
Ya, gitulah, Pak. Dulu di Jawa sempat jg buka urut. Tp skrg ya jd ginilah jaga ternak org aja.", kataku.
(19) "Besok² saya ngurut ke Bpk aja ya, Pak. Karna pijatan Bpk lbh enak dr langganan saya disana.", ucapnya.
"Hehe.. boleh² aja sih, Pak.", jwbku. "Benaran lho, Pak. Saya serius.", katanya.
Selesai urut dia ngasih aku 50rb. Aku tolak tp dia ngasih terus. Katanya hrs ku terima.
(20) "Apa²an nih, Pak. Kan ngurutnya sekedar aja. Cuma pundak kok. Napa mesti pake² duit segala.", elakku. "Ini syarat aja lho, Pak. Biar gak pindah penyakitnya ke Bpk. Ah masa' Bpk sbg yg prnh ngurut gak tau soal itu.", katanya. Aku sih tau soal itu, tp tetap ku tolak.
(21) "Gak papalah, Pak. Gak usahlah itu.", ucapku lagi. "Mohon di terima, Pak. Mohon!", katanya sambil memberikan duit itu. Akhirnya akupun gak bisa menolaknya lagi. "Harus pula kegitu.", kataku sambil senyum menerima duit itu. Dari kecil saya taunya kegitu, Pak.", katanya.
(22) Akhirnya seminggu sekali dia rutin dtng ngobrol². Dan sebulan sekalinya dia ngurut. Setiap dtng dia wajib nenteng makanan yg bnyk. Setelah ngobrol² dulu, dia bilang minta di urut. "Pak, urut saya, ya. Badan saya pegal² nih semua."
Lalu ku gelar tikar dan ku ramu minyaknya.
(23) Tapi Pak, saya ngasih duit jg nanti. Jgnlah di tolak. Pokoknya saya mau ngurut ke Bpk aja terus. Gak mau lg ke tkg urut langganan saya itu.", katanya. "Selingkuh nih ceritanya.", kataku.
"Haha.. Iya, Pak. Soalnya lbh mantap pijatan Bpk.", katanya.
(24) Diapun perlahan membuka baju kemeja lengan pendeknya. "Ada gantungan disitu, Pak.", kataku. Lalu dia mau membuka celana jeans hitamnya tapi agak² mikir. "Mau sarung, Pak. Bentar saya ambilkan ya."
"Iya, Pak!", jwbnya. Lalu aku ambil sarung dari lemari.
(25) Diapun memakai sarung itu dr bawah dan melepaskan celana jeansnya. Lalu dia melilitkan sarung itu di pinggangnya, lalu ku persilakan tidur telungkup. Mulailah ku urut dari bagian kakinya, yaitu betis, lalu kaki, dan naik ke pahanya. Sesekali dia merintih kesakitan.
(26) Ketika aku mengurut pahanya, dia menggelepar. Aku tau selain kesakitan, dia pasti kegelian. Karna jemariku sampai juga berselancar ke pangkal pahanya. Sangat wajar bila org kegelian di urut. Lalu aku urut punggungnya, pundaknya, lehernya, dan kepalanya. "Maaf ya, Pak."
(27) Aku permisi ketika memegang kepalanya. "Gak papa, Pak!", ucapnya. "Balikkan badannya, Pak.", ucapku. Lalu Pak Sugimin pun telentang. Kembali ku urut bagian kakinya dari jari, sampai pangkal pahanya. Ber-kali² dia hrs menggelinjang dgn pijatanku. "Sakit ya, Pak?", tanyaku.
(28) "Sakit iya, geli jg iya, Pak!", katanya sambil mengigit giginya dgn mata merem. Setelah itu aku urut dadanya yg jg membuat dia kelimpungan. Stlh urut kepalanya, aku ngurut bagian perut utk terakhir kali. "Sanggup di urut perut kan, Pak?", tanyaku. "Iya, Pak.", jwbnya.
(29) Tapi dia me-ronta² terus akibat gelinya urutanku. Ketika aku mengurut bagian bawah pusarnya, aku melihat burungnya mungkin hidup. Tapi itu jg sangat wajar dan normal. Aku sbg tkg urut sngt pengalaman soal itu. Itu bs dialami semua pasien. Selesai urut kami ngobrol kembali.
(30) Ketika dia mau pamit, dia nyalamkan aku duit. Aku sih gak prnh liat dan tau brp yg dikasih pasien. Tp biasanya cm selembar duit 50rb aja, ini kok tebal dan bnyk. Stlh mengantar Pak Sugimin ke mobilnya, aku kembali ke rmh. Kuliat duit yg dikasihnya tadi. Alhamdulillah, 150rb.
(31) Besok²nya ketika Pak Sugimin dtng ngurut aku bilang, "Pak, kebanyakan itu Pak yg Bpk kasih. Tarif urut saya biasanya 50rb aja."
"Udah gak papa, itu rezeki buat Bpk.", katanya. Aku sih bukan munafik atau sok gak butuh duit ya, atau sok nolak rezeki, bukan.
(32) Tapi menurutku dia udah baik dlm hal lain, jd gak perlulah ngasih bnyk² uang urutnya. Aku gitu orgnya, bukan tipikal yg suka makan teman, atau nguras teman, sekalipun dia org berada. Bahkan seandainya Pak Sugimin gak bayar urutnya, aku udah ikhlas. Gitulah sifatku.
(33) Tapi Pak Sugimin bilang dia jg ikhlas ngasih itu ke aku. Dia jujur bilang upah urut di langganannya emang gak sampai segitu. Namun karna aku bukan lg sbg tkg urut, makanya dia ksh segitu. Udah 7 bln Pak Sugimin ku kenal dan main² kesini, artinya udah prnh dia ku urut 6 kali.
(34) Dan ngurut yg ke 7 kali terasa asing bagiku. Karna permintaan Pak Sugimin agak aneh. Dia minta aku ngurut kelaminnya juga. "Urut sama ini ya, Pak. Gak papa, saya lebihkan aja nanti duitnya.", katanya sambil memegang jendolannya yg dibalut CD itu. Aku sih kurang setuju ya.
(35) Tapi aku gak berani nolak dia. Takutnya dia marah atau kecewa. Jujur aja gak berat sih disuruh ngurut alat kelamin. Dan aku prnh jg melakukannya. Tp aku ini laki² normal, yg gak tertarik dgn burung laki². Biasanya memang urut alat vital itu agak mahalan. Pak Sugimin tau itu.
(36) Tapi lagi² ini bukan soal duit. Biarlah bayaran biasa asal jgn aneh². Tanpa bnyk bicara, aku tetap menuruti permintaan Pak Sugimin. "Di urut ya, Pak?", tanyaku. "Iya, Pak.", katanya sambil meremas burungnya yg udah hidup itu. "Maaf ya, Pak. Saya turunkan celananya.", ucapku.
(37) Akupun menurunkan CD putih merk Hing's yg dia kenakan sampai ke lutut. Lalu aku mulai memegang batangnya dgn kedua tanganku. Lantas ku pijat dari pangkal ke arah kepala. Dia menggelinjang. Lalu ku pijat bagian jembutnya dan sela² pahanya. Sesekali ku pijat bijinya.
(38) Batang itupun ku lumuri dgn minyak yg banyak, sehingga amat licin. Sesekali dia memejamkan mata, sesekali dia memperhatikan burungnya yg lagi ku pijit itu. Sesekali dia melihat ke arahku. Aku cuek aja dan tetap fokus ngurut kelaminnya. "Udah, Pak?", tanyaku. "Belum, Pak!"
(39) "Udah saya betulkan urat2nya semua.", kataku. "Terus aja lagi, Pak. Nanti saya lebihkan duitnya.", katanya. "Bukan soal duit sih, Pak. Bpk gak byr jg gak papa, aku ikhlas. Karna selama ini Bpk udah ksh yg bnyk.", jwbku. "Tp minta tolong urut aja lagi ya, Pak.", katanya.
(40) "Aman itu, Pak!", kataku. "Tapi ntar nembak lho, Pak.", tambahku. "Iya, gak papa. Kalau apa Bpk kocok jg gak papa, biar lemas dia.", katanya. "Bapak jg lemas jadinya.", kataku. "Iya, gak papa, Pak. Biar gak susah di urut, biar gak ngaceng trus batangnya itu.", katanya.
(41) Lalu akupun sedikit me-ngocok² batangnya dan dia me-ringis². Tapi kocokan itu tekadang ku hentikan dan kulanjut dgn pijatan. "Terusin, Pak. Biar keluar. Biar lemes dia.", ucapnya. Dgn setengah hati, aku mengocok lagi batang itu sesuai permintaannya. "Owhhh...!"
Dia merintih.
(42) "Terus, Pak. Terus!", ucapnya dgn terus meringis. Akhirnya menyemburlah cairan putih kental dari lobang di ujung kepala penisnya. Tembakannya sekitar 10 cm ke atas, lalu jatuh tepat mengenai pusat dan jembutnya. "Owh... oh..., makasih, Pak!", desahnya. Selesailah aku ngurut.
(43) Setelah dia nyuci² ke kmr mandi, kami kembali ngobrol sambil merokok dan ngopi. Pulangnya dia nyalamkan 3 lbr duit seratus ribu. "Cukup ya, Pak. 300 rb nih.", katanya. "Lebih dr cukup, Pak.", jwbku. Begitulah slnjtnya asal ngurut dia minta di kocokin sampai nembak.
(44) Tapi ke 4 kali stlh minta di kocokin, dia malah raba² ke burungku. Aku ngurut dia pake celana pendek berkaret. "Maaf ya, Pak.", ucapnya sambil meraba punyaku. Akupun gak ngerti hrs bagaimana. Aku gak sanggup utk melarangnya, walau dihatiku gak suka di gitukan.
(45) "Liat dong, Pak!", pintanya. Aku tetap ngocokin batangnya, sewaktu tangannya mulai menyelinap ke dlm celanaku lewat kaki celana. Lalu dia merogoh anuku dr atas, dari pinggang celanaku yg berkaret. Dapat! Lalu dia me-remas²nya dgn lembut. "Buat apa, Pak!, kataku.
(46) Saya pengen liat, Pak.", katanya. Lalu dia membalikkan tubuhnya dr telentang ke telungkup dan meraba punyaku. Kini dia mengeluarkan batangku dr atas, lalu di mainkannya. "Gak idup ya, Pak.", ucapnya. "Iya, Pak!", jwbku. "Msh mau idup kan, Pak?", tanyanya. "Masih!", jwbku.
(47) Lalu dia meremas terus batangku itu dan menurunkan semua celanaku hingga berada di bawah lutut. "Payah itu hidup, Pak!", kataku. "Napa gitu, Pak. Karna udah tua?", tanyanya. "Bukan, ini msh jago nih. Krna bukan ke cewek.", kataku. Aku memang gak pernah nafsu sama laki².
(48) Dia tau aku normal bukan kayak dia. Sebab berapa kali megang² burungnya aku gak pernah ngaceng. Bahkan skrg dia megang² burungku aku gak ngaceng. "Izin ya, Pak. Aku ngisap!", katanya dgn lgsg melahap burungku. Bak berkompeng, dia me-nyedot² batangku itu dgn penuh nafsu.
(49) Batangku itu sngt elastis karna msh loyo. Dia me-narik² pake mulutnya berusaha membangunkannya. "Capek, Pak. Saya nyandar dulu.", ucapku. Lalu aku menggeser tubuhku ke blkg ke arah dinding. Dia ngesot ngikutiku tanpa melepas kompengnya. Dia menanggalkan celanaku dr lutut.
(50) Lalu kembali di isapnya batangku dgn lihainya. Alhasil batangku kini membesar dan mengeras. Sesekali di keluarkannya dari mulutnya guna melihat batang yg ngaceng itu. Lalu di jilatinya bijiku sampai aku menggelinjang. "Ahh..", erangku. Meliat itu dia makin smangat ngisapnya.
(51) Pak Sugimin menyuruh aku supaya rebahan. "Rebah aja, Pak. Biar lbh santai." Akupun lgsg rebahan lalu dia kembali mengisap batangku dgn ganasnya. Badanku pun di bolak baliknya sesuka hatinya. Sebentar di suruh telentang, sebentar lg di suruh telungkup. Dia sangat beringas.
(52) Kadang² pahaku di angkat²nya keatas guna menjilati bagian bijiku. Bahkan ada satu hal yg membuat logikaku gak bs menerima, dia jg menjilati lobang pantatku. Jilatannya pun begitu dahsyat sehingga akupun hrs gelagapan dibuatnya. Karna jilatan itu sungguh teramat geli sekali.
(53) Aku menggelepar ketika lidah Pak Sugimin me-nyedot² lobangku. Awal²nya aku sering menghindar karna gak sanggup menerima rangsangannya. Tapi dia menahan kedua kakiku biar gak mengatup. Lama² aku berusaha pasrah dan menerima jilatan ber-tubi² itu. Edan!, gumanku dlm hati.
(54) Aku heran lho, itu kan bukan organ seks. Itu organ atau lobang pembuangan. Apa gak jijik? Aku sih orgnya bersih ya mandinya tp kan itu tetaplah bagian jorok dr tubuh kita. Pak Sugimin terus menyedot lobang serta batangku. Dengan sngt ngos²an dia menjilatinya.
(55) "Pak, udah mau keluar itu.", seruku. "Keluarkan aja, Pak, keluarkan. Biar kutelan.", ucap Pak Sugimin. "Owhhh..... ohh.....! Ahh...!" Akupun memuntahkan spermaku di mulut Pak Sugimin. Heran aja dgn kata²nya yg bilang mau di telan. Eh ternyata benaran, dia nelan semuanya.
(56) Lalu kini dia berusaha mengeluarkan spermanya jg. Dia me-ngocok²nya. "Pak, bantu kocok. Tambah minyaknya.", ucapnya. Akupun menyuruhnya telentang dan ku kocoklah batangnya dgn minyak melimpah. "Terus Pak, cepatin Pak! Udah mau keluar. Terus Pak!", erangnya. "Ouhh.... ohh..."
(57) Spermanya pun muncrat keatas setinggi 10 cm sblm akhirnya jatuh ke perutnya. Kunjungan berikut, Pak Sugimin minta di urut. "Gak usah pake minyak, Pak. Pake ini aja.", dia memberikan lotion merk Vaseline aloe shoothe ke tanganku. Akupun melumurkan lotion itu ke tubuhnya.
(58) Selagi ku urut, dia udah grepe² burungku dan bahkan ngeluarin dari celanaku. Akupun terus mengurut tubuhnya sebagaimana biasanya, walau tangannya menjelajah ke-mana². Seperti biasa aku memang mengurut sampai ke pangkal pahanya, sampai kena² ke biji²nya.
(59) Kini dia gak segan² lagi membukakan CD-nya. Lalu akupun memijat batangnya itu. Yang pada akhirnya akan ku urut dgn cara mengocoknya. Selesai mengurut seluruh badannya, diapun membukai celanaku dan mengulum batangku. Dia juga meminum airku. Lalu stlh itu dia minta di kocok.
(60) Begitulah terus asal dia dtg mengurut, pasti akan berakhir dgn crot. Baik dia maupun aku. Dia udah meninggalkan lotion kemasan besar itu di rmhku, yg se-waktu² dpt kami pake. Selanjutnya, kadang² dia gak usah di urut lagi, tp lgsg aja minta ngisap punyaku sambil bugilan.
(61) Menurutku gak papalah, meski aku normal tp gak sulit² amatlah bagiku utk meladeni semacam ini. "Makasih lho, Pak. Udah memaklumi saya.", katanya. "Jadi sblmnya Bpk gimana cara keluarnya kalau lg pengen?", tanyanya. Gak ada, Pak. Udah jauh pikiran saya dr situ.", jwbku.
(62) "Kok bisa ya, Pak. Pdhl Bpk msh hebat lho!", katanya. "Ya, tp udah gak mikirin itu lg, Pak di usia skrg.", tandasku. Bapak baru 67 lho, msh kuat²nya sbnrnya.", ucapnya. Berarti 10 thn saya di bwh Bpk ya.", tambahnya. "Mau ya Pak kita lanjut gituan.", ucapnya. Aku diam aja.
(63) Jadi setiap sebulan sekali dia wajib nembakin spermanya di rumahku dan pada saat yg sama dia jg wajib minum spermaku. Akhir² ini dia gak lagi pake di urut dulu, dtng lgsg isap² punyaku. Ya, 3 bln sekali memang dia msh urut ilangin pegal². Tp selebihnya tujuannya cuma gituan.
(64) Jadi kalau dia dtng, aku udah tau maunya dia apa. "Saya hobi banget Pak isap²!", demikian pengakuan dia. Dia sngt telaten dlm urusan isap². Dia ngisap aku sambil ngocokin punyanya. Kalau dia blm nembak, barulah di suruhnya aku ngocokinnya.
(65) Pak Sugimin selalu ngasih 300rb - 500rb setiap kali begituan. Blm lg dia pasti bawain aneka makanan minuman. Selain beli dr toko retail, dia jg sering bawain makanan olahan dr resto atau cafe. Bahkan dia prnh bawain aku beras Topi Koki yg 20 kg dan juga minyak goreng Bimoli.
(66) Udah menjadi teman baik yg sngt akrab, aku jg bs menikmati persahabatan itu. Meski di balik persahabatan itu ada nafsu yg gak wajar. Tapi selagi aku bs menjalani, aku nikmati aja kenyataan yg ku anggap liku² hidup itu. Menikmati persahabatan ya, bukan menikmati seksnya.
(67) Tapi aku kira cara dia mendapatkan kepuasan seks itu mentok di cara itu aja. Ternyata msh metode lain yg ingin dia rasakan. Gak kusangka dan gak kuduga sblmnya, diapun memintaku utk ngisap burungnya jg. Inilah yg benar² sulit kulakukan. "Aku benar² gak bisa, Pak.", seruku.
(68) "Cobalah, Pak..!", pintanya. Aku selalu me-mohon² dgn sngt agar dia gak lg meminta itu. Tp dia msh terus memintanya. "Gak prnh aku gitu, Pak. Jd gak sanggup aku, Pak.", pintaku. "Plislah, Pak. Minta tolong nih. Dicoba aja dulu, Pak. Gak papa tuh.", ujarnya terus dan terus.
(69) "Biar pernah Pak, mungkin karna blm tau rasanya aja skrg. Makanya dicoba dulu.", ucapnya. "Maaf, Pak. Bunuh aja aku drpd aku hrs melakukan itu.", ujarku. Dia pun berusaha mengoleskan batangnya itu ke mulutku. Ya, di olesin, tp mulutku ku katupkan.
(70) "Ku lip stick i aja ya, Pak!", katanya sambil mengoles terus batang itu ke bibirku yg merapat.
Lalu dia menjilati kedua putingku dan kadang² di gigitnya keras². Aku hrs meronta saking kuatnya di gigit. Pelanin, Pak! Sakit..!, ujarku. Lalu diapun menyedot batang dan lobangku.
(71) Gak mau di suruh isap, kini dia meminta memasukkan batangnya ke lobang anusku. "Pak, aku mau masukin kesini punyaku.", ujarnya sambil menjilati lobangku. "Jangan, Pak. Tolong!", kataku. "Kita coba ya, Pak. Pelan² aja!", pintanya. Aku gak ngerti cara nolaknya.
(72) Lalu dia mencucukkan jemarinya ke dlm lobangku, yg ku rasa itu adalah sakit. Beda dgn kalau dijilat, yg ada geli. "Jgn Pak", kataku sambil menghempaskan tangannya. Tapi dia terus mencoba mencucukkan jarinya sambil menjilati dgn lidahnya tentunya. Akhirnya jarinya pun masuk.
(73) Lalu dia menggerakkan jarinya keluar masuk seraya mulutnya mendesah. Akupun hrs belajar menahan rasa yg timbul yg gak kusuka itu. Gak sampai disitu, diapun mengarahkan batangnya yg udah mengeras itu ke dlm liangku. "Permisi ya, Pak. Pelan² aja!", ucapnya sambil ngolesin.
(74) Aku seperti pasrah dikerjain oleh Pak Sugimin. Kedua pahaku udah direntangkannya. Aku merasakan batangnya di oles² ke bibir lobangku. Lalu kepala anunya di diamkan dan paskan ke lobangnya, lantas di sorongnya ke dlm. "Auhhh....! Sakiit, Pak!", erangku. "Sssttt...", bisiknya.
(75) Aku menggeser tubuhku sehingga batangnya gagal menancap. Dia menumpahkan banyak lotion ke lobangku dan jg diusapkannya ke kepala dan batangnya. Lalu dia berusaha kembali menancapkannya. Kepalanya masuk. "Ugghhttt.... uhhh...." Aku merintih menahannya. "Ah...! Pelan, Pak..!"
(76) "Gak usah lagi, Pak!", erangku. "Pelan aja, Pak!", ucapnya. Dia menyorong batangnya ke dlm dgn pelan². Perlahan batang itupun masuk makin dlm. Tak henti²nya aku mengerang pertanda kesakitan. Sesekali dia mencumbuiku dan menjilati tetekku. "Sakit, Paak!!", ucapku lagi.
(77) Lalu seluruh batang itupun masuk sampai pangkal. Batang Pak Sugimin memang terbilang kecil Palingan itu ada 10 cm. Kira² aja ya, kan aku gak ngukur pakai penggaris. Kalah besar dgn punyaku yg memang udah ku ukur 19 cm itu. Kalau sebesar punyaku gak tau lg sesakit apa.
(78) Pak Sugimin sangat semangat memacu kudanya. Akupun berusaha pasrah digenjoti. Mau gimana lagi, gak ada pilihan lain. Genjotan demi genjotan menghasilkan rasa sakit yg terasa sampai ke ulu hatiku. Aku memejamkan mata, menahan nafas, menggigit gigi, utk menahan rasa sakitnya.
(79) Nafasku tersengal selama Pak Sugimin menyodomiku. Yang aku inginkan hanya satu, semoga dia cepat nembak. Cukup lama juga aku menunggu momen itu. Tapi akhirnya yg kutunggu pun tiba, spermanya keluar di dlm lobangku. Dia mendesah makin kuat dan mengerang saat mengeluarkannya.
(80) Hentakannya pun dihentikan, keringat mengucur deras di tubuhnya. Dan menetes mengenai tubuhku. Tapi batangnya msh dibiarin tertancap di dlm. Dia menunggu sampai deru nafasnya mereda dan batang itu layu sendiri dan tercabut. "Makasih, Pak'", ucapnya. Tapi aku gak menyahut.
(81) Besok²nya ketika dia datang berkunjung, aku udah tau tujuannya. Gak pake sungkan² lagi atau berteka teki. Kan seminggu sekali wajib datang, berarti sebulan ada 4 kali kunjungan. Jadi 3 kali ngobrol²nya, sekali begituan. Kami udah kayak teman lama yg sngt dekat.
(82) Ketika jadwalnya mau begituan, aku udah tau hrs melakukan apa. Dia gak lagi hrs yg pertama menggrepeku. Tapi aku jg udah hrs siap memulai pertama. Caranya gimana, kan aku gak mau isap dia. Ya, misalnya aku lgsg ngeluarin burungku di dpnnya, atau bertelanjang bulat didpnnya.
(83) Omong kasarnya, aku udah jadi budak seksnya Pak Sugimin. Tapi bedanya, aku udah ikhlas melakukannya. Gak ada lg tekanan bathin yg bs membuatku trauma atau syok. Itu cara satu²nya biar aku tetap merasa nyaman menjalani kisah. Aku udah sangat² mengerti apa kemauan dia.
(84) Dia juga senang aku bisa memahaminya. "Tapi gak usah disodok teruslah, Pak!", ucapku suatu ketika. "Tapi Bpk gak mau ngisap! Kalau misalnya Bpk mau ngisap, mungkin gak selalu hrs kutusuk.", ungkapnya. Lalu akupun mikir, apa aku hrs belajar ngisap ya. Tp aku gak bisa!!
(85) "Pak, isaplah coba, Pak!", ucapnya. Tapi gak ada dorongan sekecil apapun yg muncul dr dlm bathinku utk bs menyanggupinya. Kata hatiku tetap berkata tidak dan jangan! "Gak bisa, Pak!, ucapku. Ya, kumasuki aja gantinya, Pak.", ucapnya. Aku pun terdiam membisu.
(86) Entah mengapa aku lbh memilih memberikan lobang anusku di obok²nya drpd mengisap burungnya. Aku gak tau alasannya. Apakah laki² diluar sana jg begitu, atau katakanlah homo² yg lain emang lbh memilih di tusuk drpd ngisap. Aku merasa aja burung itu gak pantas masuk mulutku.
(87) Mungkin rasanya gak sakit ketika aku hrs ngisap burung, tp benar² gak bs kulakukan. Sementara ketika anusku dimasukin, itu teramat sakit. Namun aku gak perlu mikirin jijik dsb. Aku hanya diam mengangkang atau menungging memasrahkannya di cucuk².
(88) Ya, aku hanya diam gak bergerak. Cukup dgn menutup mata, mulut, dan menahan nafas, apabila terasa begitu sakit. Jadi udah gak terhitung brp puluh kali Pak Sugimin menyodomi aku. Tapi aku gak prnh sama sekali ngisap burungnya. Katanya Pak Sugimin sngt puas dgn yg begitu.
(89) Setelah keseringan di tusuk, lama² aku jd terbiasa aja. Udah hilang rasa sakitnya. Jadi terasa biasa aja. Pak Sugimin tau itu. Karna aku gak prnh lagi me-ringis² atau me-ronta². "Udah gak sakit lagi kan, Pak!", ucapnya dgn sumringah. Aku diam gak menjawab.
(90) Jujur aja sih, gak sakit lagi. Sehingga kapanpun aku mau ditusuk, aku udah siap 100% tanpa bnyk mikir. Aku tinggal ngasih kok, dia yg kerja susah payah. Demikian kira². "Enak kan, Pak?!", tanyanya. Aku gak menjawab. "Enak, Pak?, tanyanya lagi. "Gak!", jawabku ketus.
(91) Tapi enak gak enak hrs kujalani, selagi Pak Sugimin berhasrat dgnku. Suatu ketika, aku kaget dgn permintaan Pak Sugimin yg lain. Dia mau aku yg nusuk dia. "Pak, gantianlah Bpk yg nusuk aku. Masa' Bpk terus yg ku tusuk.", ucapnya. "Gak papa. Biarlah!", jawabku.
(92) "Jadi Bpk gak pengen nusuk aku juga?", tanyanya. "Gak pengen, Pak. Capek saya.", ucapku. Tapi dia selalu minta² agar ku tusuk. "Sayang barang segede ini gak di manfaatin. Masa' segede ini gak dirasain borannya.", tandasnya. "Blm prnh Pak aku ditusuk segede ini.", tambahnya.
(93) "Bapak ditusuk udah mau, nusuk gak mau. Agak² aneh rasaku. Org di-mana² lbh milih nusuk drpd ditusuk.", ungkap Pak Sugimin sambil ngisapin batangku. "Kita masukin ya, Pak.", ucapnya sambil menduduki burungku dan berusaha menancapkan kepala punyaku ke lobangnya.
(94) Pak Sugimin mengambil posisi ngangkang melebarkan anusnya. "Masukin, Pak!", ucapnya. Aku gak beranjak dr tidurku. Aku tetap rebahan. Melihatpun aku gak ke arahnya, apalagi mau melihat lobangnya itu. Naudzubillah! "Malas aku, Pak! Maklumlah udah uzur!", kataku.
(95) "Ayolah, Pak!", desaknya sambil menarik tanganku. "Kalau mau di masukin kayak td aja dudukin. Aku tinggal rebahan aja!", kataku. Lalu dia kembali menaiki tubuhku dan menduduki burungku. Di tancapkannya batangku ke lobangnya. Hingga....
"Oughhttt..... awh....!" Masuk, Pak!"
(96) Batangku pun berhasil masuk ke lobangnya. Lalu dia menggenjotnya dr atas. Dia mengerang terus. "Aduuh.. sakiiit..!", ucapnya. "Sakit kok diterusin, cabutlah!", kataku. Dia terus menggoyangnya. Kadang dgn lambat kadang cepat. "Aduh.. sakitnya, Pak! Gede banget!", ucapnya.
(97) Gak bisa kandas semua batangku ke lobangnya. Diapun berkeringat dan sngt kelelahan. "Break dulu, Pak.", katanya. Lalu stlh brenti, dia kembali menggoyangnya. "Apa rasanya, Pak. Enak?", tanyanya. Aku gak menyahut. Tapi gitu² nembak juga aku dibuatnya. "Ohhhh.....", erangku.
(98) "Bapak udah keluar?", tanyanya. Aku menganggukkan kepalaku. Lalu dia mencabutnya. "Enak kan, Pak?", tanyanya lagi. Lagi² aku gak menjawab. Dihari slnjtnya, aku selalu di daulat masukin ke lobangnya. Tp lagi² aku gak mau masukin, biar dia aja yg berusaha masukin. Di dudukin!
(99) Setelah bbrp kali masukin dgn cara di dudukin, akhirnya aku menurut jg bujukan dia nusuk dr atas. "Bapak aja diatas, biar lbh enak!", ucapnya. Akupun berlutut mengarahkan batangku ke lobangnya. Begitu masuk lgsg kugoyang maju mundur. "Oh.... Ahh...! Enaknya, Pak! Owh..!
(100) Desahan dan erangan gak henti²nya keluar dr mulutnya. Ber-kali² dia bilang enak. Karna seluruh batangku bisa masuk sampai mentok ke dlm lobangnya. Akupun crot di dlm. Sebelumnya aku kasih aba² mau nembak. "Pak, mau keluar nih!", ucapku.
(101) Sblmnya aku nolak dan gak tertarik mau main anal dgn Pak Sugimin. Tp lama² jd terbiasa jg. "Sebelum kenal saya gimana Bpk kalau lg pengen??", tanyanya. "Gak pernah lagi pengen², Pak!", jwbku. Barang Bpk msh bagus lho, masa' gak prnh lg pengen?", ucapnya.
(102) Iya, gak pernah. Apa gak prnh lg ngaceng pas bangun tidur?", tanyanya. "Pernah! Sering malahan!", kataku. Trus gak lgsg Bpk kocokin?", tanyanya. "Ya, gaklah, Pak!", jwbku. "Jd sama sekali gak prnh Bpk ngocok lagi?", tanyanya. "Pernah!", jwbku. Pas kapan itu, Pak.?".
(103) "Kadang² lg dtg aja keinginannnya, trus dia bangun sendiri. Ya disitulah!", jwbku. Sekali brp minggu Bpk gitu?", tanyanya. "Ya, gak tentu. Kadang 3 bln sekali, kadang mungkin 2 bln sekali. Ya gak di hitung²lah. Gak di tentuin juga.", jwbku. "Gak ada sebulan sekali?"
(104) "Gak bisa lagi, Pak. Kadang itupun gak sampe keluar lagi.", kataku. "Bpk ngocok tp gak sampai keluar?", tanyanya. "Iya!", jwbku. "Kenapa tuh, Pak?", tanyanya. "Tangan capek.", jwbku. "Sbnrnya badan Bpk itu msh sanggup, tp karna gak ada lawan aja.", kata dia.
(105) "Buktinya keluar rutin sebulan sekali samaku Bpk biasa² aja.", tambahnya. Next time, kalau kami begituan, kadang² cuma dia yg kutusuk, dia gak nusuk aku. Begitu jg sebaliknya. Tp emang udah gak keitung jg brp puluh kali aku masukin ke dia. "Enak kan, Pak?", tanyanya.
(106) Dia pengen sekali mendengar pengakuanku bilang enak. Entahlah, maunya di nikmati aja. Gak perlulah nanya² gitu. Setiap nusuk dia, selalu aja muncul pertanyaan gitu. "Enak kan, Pak? Enak gak, Pak?" Tolong di jwb dong, Pak. Aku pengen dgr jwbn Bpk bilang iya.", katanya.
(107) "Susah kali Bpk ini bilang iya. Saya tambah senang dengarnya kalau Bpk bilang enak.", cetusnya. "Kalau enak di nikmati aja, gak usah di bilang².", kataku. "Gak asik Bpk ini.", katanya. Tapi aku emang gitu orgnya. Gak mau yg terlalu resmi² kali.
(108) Mungkin iya sih ada enaknya jg nusuk lobang anus. Ya, hampir mirip jg dgn lobang perempuan. Tapi aku gak berani aja bilang terlalu jelas. Lidahku agak² tertahan utk mengatakannya. Tp sblmnya memang gak pernah nyangka akan rasanya seperti itu.
(109) Tapi atas nama pria normal aku mau minta maaf apabila perkataanku telah mencoreng nama baik kita. Buat kaum laki² normal aku mohon maaf kalau pernyataanku dianggap gak udah merusak image lelaki normal. Itu makanya aku enggan mengatakannya dari tadi.
(110) Pak Sugiminlah yg membawaku merasakan jenis dunia begini. Entah mengapa dia begitu berani dulu mengajakku beginian. Sehingga aku jadi gak mempermasalahkan perbuatan begini. Karna setelah Pak Sugimin, muncul lagi laki² yg lain yg mengajakku berhubungan badan.
(111) Hubunganku dgn Pak Sugimin msh jalan, tiba² muncul Pak Muller, seorang pria sukses juga yg gak jls ku tau apa bisnis atau profesinya. Yang jelas pasti sesukses atau mungkin lbh sukses dr Pak Sugimin lagi. Umurnya 54th, penampilannya keren menunjukkan dia kalangan atas.
(112) Awal ketemu, dia bawa Fortuner, lalu Xpander, dan Rush. Kok semuanya Toyota ya. 😀
Tapi selain itu msh ada Captiva yg sering dikendarainya. Dugaanku dia pengusaha sukses, atau pemimpin perusahaan. Dia datang nyari kerbau utk pesta anaknya katanya. Katanya ada yg nunjukin.
(113) Cukup lama kami terlibat perbincangan. Dia jg sngt ramah dan bersahabat. Tatapannya sngt mendalam dan menyiratkan sebuah arti. Aku lgsg teringat dgn Pak Sugimin. Jangan² kayak Pak Sugimin juga nih, pikirku. Aku jd sedikit punya pengalaman di bidang ini berkat Pak Sugimin.
(114) Pertanyaannya yg nyeleneh diluar pokok bahasan, yaitu "gimana Bpk bs sanggup gak begitu?" Dan "gimana Bpk kalau tiba² pengen." Modus jg kenya pertanyaan ini, pikirku. Tapi aku menjawabnya nyeleneh pula. "Ngocok aja, Pak!", kataku dgn memperagakan dgn tangan ke arah anuku.
(115) Disitulah Pak Muller terperanjat mendengar pengakuanku. "Cuma ngocok aja, Pak?", tanyanya. Pertanyaan konyol, pikirku dlm hati. "Ya, iya. Di apain lagi?!", kataku. Lalu diapun gak sabar lg melancarkan aksinya. "Pak, mau gak Bpk saya bantu?", tanyanya. "Bantu ngapain, Pak?"
(116) Biar Bpk bs lbh menikmati yg enak², Pak!", ucapnya. "Mksdnya di apain, Pak.", tanyaku. Lalu dia terdiam, menarik nafas yg dlm lalu menghembuskannya. Nampaknya dia agak gemetaran juga. "Maaf Pak, ya. Bpk jgn marah!", katanya sambil memegang kedua pundakku dr depan.
(117) Aku mendongakkan kepalaku menatap matanya, yg mana posturnya lbh tinggi dari aku. Dia memang tingginya sekitar 174 cm, dgn badan gak kurus gak gemuk. Kulitnya putih, berkumis, rambutnya agak tebal mengembang dan disalut dgn uban putih. Hidungnya jenis hidung jambu air.
(118) Dia mengenakan kemeja putih lengan pendek dgn celana kain warna hitam. Celananya agak longgar atau kebesaran gitu. Udah pasti dong sepatunya pantofel hitam ya. Dari logatnya kenya dia dari SU. Tapi itu gak pentinglah kita bahas. Selagi memegangi kedua pundakku, dia berkata.
(119) "Jangan bilang², Pak. Saya mau isap punya Bpk!" Aku keheranan menatapi wajahnya menunggu kata selanjutnya yg akan dia sampaikan. "Mau gak, Pak. Biar saya isap aja. Itu lbh enak drpd Bpk kocok.", tambahnya dgn suara pelan dan penuh harap. Pdhl gak ada org yg dengar itu.
(120) "Gak usahlah, Pak!", kataku. "Enak lho, Pak!, gak mau dicoba dulu?", katanya dgn agak² lesu. "Buat apa gituan.", kataku sambil ketawa lepas. Lalu melihatku ketawa dia jg ketawa. "Iseng² aja, Pak. Iseng² berhadiah. Haha!", katanya. "Kok bisa suka Bpk gitu.", kataku.
(121) "Iya Pak, gak taulah kenapa. Saya suka ngisap burung yg seumuran saya atau yg di atas saya.", jelasnya. "Kok bisa ya, aneh aja.", kataku sambil ketawa lagi. "Iya, itulah, Pak. Makanya, boleh ya Pak saya isap dulu punya Bpk. Nanti saya kasih duit deh!", ucapnya.
(122) Ya owloh, kok bnyk ya Bpk² yg beginian, gumanku dlm hati. Pdhl baru kedua dia sih yg aku tau stlh Pak Sugimin. Tapi bagiku emang msh hal baru. Dan blm prnh tau yg spt itu ternyata bnyk. Apalagi mereka adalah Bpk² yg tentunya udah menikah atau punya istri.
(123) Punya istri kok malah suka ke sesama juga, gumanku. Kok payah ya di terima logikaku. Kecuali mungkin dia msh anak muda yg blm nikah baru agak² bs msk akalku. "Kenapa gak ke istri aja, Pak?", tanyaku. "Istri mana ada burung, Pak! Haha!", katanya sambil mijat pundakku.
(124) "Bapak ini ada² aja.", katanya lagi. "Boleh ya, Pak. Minta tolong kali nih!", sambungnya. "Dimana?", tanyaku memberi harapan baginya. "Ya disini kan boleh, Pak..!", serunya. Lalu aku seperti ksh signal ok ke dia, lalu diapun memberanikan diri grepe punyaku.
(125) "Besar kali nampaknya, Pak!, serunya. Aku diam aja. Lalu dia membuka celanaku dan dia terbelalak melihat senjataku. "Waduh, gila nih besarnya, Pak. Mantul kali nih!!", katanya. Lalu dia lgsg berlutut dan nyepongin punyaku. Sambil nyepong dia selalu liatin wajahku.
(126) "Kerbaunya jadi gak, Pak?", tanyaku saat dia sedang sibuk ngisapin punyaku. "Hadi, hak!", ucapnya sambil ngulum batangku. Aku dengarnya gitu. Dia sbnrnya bilang "jadi Pak". 😂
"Kalau iya biar saya tlp Pak Narso, yg punya ini", sambungku. "Nanti, nanti dulu, Pak!", ucapnya.
(127) Diapun berdiri bukain punyanya. Besar juga. Hampir imbang punya kami. Kurasa ada tuh 16 cm. Di adunya burung kami berdua. "Kenalan dulu!", ucapnya. Lalu dikocoknya kedua batang yg telah di satukan itu. "Gak enak!", ucapku. "Saya rebahan ya, Pak!, kataku.
(128) Kembali Pak Muller menyepongi batangku hingga bijiku. Burungnya jg di kocokin sendiri. "Sampai nembak ya, Pak..!, serunya. "Buatlah!", kataku. Lalu dia mengisapi sedemikian rupa tp aku gak nembak². Diapun segera menunggingiku. "Pak, masukin sini, katanya.
(129) Akupun lgsg mendobrak lobangnya dgn pentunganku yg gede. "Arghhhh......!"
Dia mengerang kenikmatan. Aku terus memacu gerakanku. "Oughhttt...!!" Kita tembakkan gini, Pak?", tanyaku. Iya, Pak! Tembak di dlm.", jwbnya.
"Srrreetttt..... sreettt....!"
"Ouh..... ohh....!"
(130) Akupun nembak di dlm lobang milik Pak Muller. Lalu dia mengocok batangnya. "Mesti dikeluarin emangnya, Pak?", tanyaku. "Iya, Pak!", jwbnya. Lalu akupun membantu mengocoknya. "Sini, Pak!", kataku. Ku genggam batang itu dan ku goyang²kan. Mungkin gak enak kocokanku dirasanya.
(131) Diapun meminta biar dia aja yg ngocokin. "Biar aku aja, Pak.", katanya. Diperketatnya genggamannya dan diguncang kasar naik turun. "Ohhh.... ohhh....!" Diapun berhasil nembak. "Pak, minta no Bpk.", katanya. Ku misscall ya, Pak. Save Pak!", ucapnya.
(132) Dua hari lg dia dtg tp dgn anak istrinya, lalu ku pertemukanlah dgn Pak Narso. Pak Muller sngt sumringah, sesekali dia nyuri² main mata ke aku. Setelah transaksi kerbau deal dan di pick up, kami msh tetap komunikasi. Bahkan dia sering² mengunjungiku seorang diri.
(133) Udah pastilah tujuannya utk melepas birahi. Singkat cerita, jd langgananlah kami. Dia membutuhkanku sbg penyaluran seks menyimpangnya. Dia jg sngt² royal soal duit. Main hamburkan aja ke aku. Dari pertama kunjungan udah gitu. Setiap dtg pasti ninggalin duit.
(134) Bahkan H-1 pesta anaknya, dia msh sempatin begituan dgnku. Pdhl mereka udah jls sngt sibuk di hari² itu. "Aku hobi nyepong, Pak. Hobi ditusuk, hobi nusuk juga.", tuturnya. Besok² tusuk saya ya, Pak!", tambahnya. "Boleh, Pak!", kataku menyanggupi.
(135) Kamipun sering²lah melakukannya. Untung gak prnh tabrakan ketemuannya dgn Pak Sugimin. Akhirnya akupun hrs ngeluarin airku sebulan 2 kali. Akupun puding yg teratur utk menjaga staminaku. Selanjutnya aku pun sering² menusuk lobang pantatnya. Dia sngt menikmati.
(136) "Puas kali aku, Pak. Karna ukuran punya Bpk diatas rata².!", ucapnya. Besok²nya dia bilang gini: "Bapak gak mungkin bisa di tusuk ya." Lalu ku jwb: "Mau, Bapak?"
Kembali dia mengajukan pertanyaan. "Bapak mau?" Eh kok dibolak balik kata²nya.", kataku. Kamipun ketawa bareng.
(137) "Serius, Bpk bs ditusuk apa gak?", tanyanya lagi. "Bisa..!", jwbku. Next, diapun nyoba nusuk aku. "Aduh, msh sempit kali, Pak. Keset..!", pujinya.
Aku gak me-lama²kan utk Pak Muller. Gampang kali dia dapatin aku. Beda dgn Pak Sugimin dulu yg penuh perjuangan berat.
(138) "Tapi kenapa Bpk gak mau isap punya saya?", tanya Pak Muller. "Gak bisa, Pak! Gak suka saya!", jwbku. "Gak papa, Pak!, gak mslh!", ucapnya. Ada yg aneh memang dgn diriku. Kok jd mau dgn cpt ke Pak Muller ya. Apa aku udah menikmati dunia baruku ini? Entahlah.
(139) Pak Muller jg beliin aku springbed. Dia bawa aja tanpa prnh bilang². Mungkin dia tau kalau dia kasihtau mau beli itu, aku akan larang. Selain itu ada juga sepasang sofa, 1 set meja makan, dan 1 bh lemari kain dibawanya. Ternyata msh bnyk org² baik di muka bumi ini, gumanku.
(140) Pak Sugimin kaget dgn adanya springbed dan perabot² lainnya. Dia senyum² liatnya. "Bagus, Pak. Itu baru mantap!", pujinya. "Iya, Pak. Duit yg Bpk kasih² aku kumpulin sampai bs beli itu semua.", kataku. Tapi boong! Bukan duit dari situ, itu msh tersimpan rapi dibalik bajuku.
(141) Aku gak mungkin dong ngasih tau di beliin Pak Muller. Aku takut aja Pak Sugimin marah atau cemburu. Makanya ku rahasiakan aja soal Pak Muller ke dia. Begitu jg ke Pak Muller, aku gak prnh cerita soal Pak Sugimin. Sementara Pak Sugimin msh tetap dgn kebaikannya.
(142) Di awal² aku sempat tanda tanya, kenapa Pak Sugimin bisa sebaik itu ke aku. Ya, tanda tanya aja. Di zaman now masa' iya msh ada org sebaik itu. Setajir apapun kenya gak relalah berbuat demikian kalau bukan ada udang di balik bakwan. Tapi apa kira² tujuannya?
(143) Aku memang gak ketemu jwbnnya wkt itu. Aku selalu berpikir positif aja. Makin kesini, makin besar yg dia kasih ke aku. Kok kelewat amat kebaikannya, pikirku. Akhirnya akupun mulai curiga dgn dia karna kebaikannya yg berlebihan itu. "Patut di curigain nih..!", gumanku.
(144) Tapi apa ya kira² mksd tujuan Pak Sugimin ngasih² ini itu?"
Udahlah, aku pusing mikirin yg gak². Lalu akupun berusaha cuek aja. Tapi stlh dia mengutarakan keinginannya, yaitu pengen ngisap aku, kuisap, dsb. Aku jd tau sendiri jawaban pertanyaan yg selama ini ada di otakku.
(145) "Oh, jadi itu tujuannya?" Tapi aku gak terlalu fokuslah nyari jawabannya. Ku anggap ajalah itu jwbnnya. Walaupun kebaikan Pak Sugimin ada mksd² tertentu, yaitu pengen menikmati tubuhku, tp aku tetaplah menilai dia org baik. Bukan karna ada maunya, tp emang real baik.
(146) Aku yakin bnyk org diluar sana yg punya hasrat begituan tp pelitnya naudzubillah, meski dia mampu. Makanya aku tetap menganggap mereka berdua adalah org² yg teramat baik. Gak ada lg bisa ku temukan org yg sebaik mereka di dunia yg fana ini. Gak ada lagi. Cuma mereka!
(147) Kebaikan mereka jg abadi. Bukan di awal² aja sblm dapat yg dia mau. Tp setelah dapatpun tetap begitu. Contohnya, Pak Sugimin beliin aku sepeda motor Supra X Sporty baru² ini. Bedanya dgn Pak Muller dia pake nanya. "Mau gak Pak pake Supra X?", tanyanya. Aku sih diam aja.
(148) Itu dia bilang ketika kami sibuk bahas² ttg motorku. Yaitu Astrea Grand yg walau udah berumur tp msh tangguh. "Bapak mau hondanya dua gak?", tanyanya lagi. "Ya duit dari mana, Pak?", jwbku. "Saya yg belikan, Pak. Asal Bpk mau aja makenya.", katanya. Aku diam.
(149) "Mau kan, Pak?", tanyanya lagi. "Ya kalau maunya mau aja, Pak. Tapi gak usah repot², Pak. Ini aja cukup kok buat saya.", ucapku. "Ok, Pak. Aku akan bawa bulan depan. Mohon diterima dgn senang hati.", katanya. "Alhamdulillah..!", ucapku sambil memeluknya.
(150) Dia lalu meng-usap² punggungku. Ku cipika cipikilah dia, dan ku kecup keningnya. "Panjang umur ya Pak, sehat selalu, sukses di semua kerjaan Bpk, banyak rezekinya!", ucapku penuh haru dgn mata ber-kaca². "Amin, Pak. Amin, Amin..!", jawabnya.
.
.
.

[Selesai]

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with AYAH PENYAYANG

AYAH PENYAYANG Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @ayahpenyayang

8 Oct
𝐀𝐊𝐔 𝐆𝐀𝐊 𝐏𝐄𝐃𝐔𝐋𝐈 𝐃𝐈𝐀 𝐍𝐎𝐑𝐌𝐀𝐋 𝐀𝐓𝐀𝐔 𝐆𝐀𝐊!

[Sebuah utas]
.
.
.

(1) Aku mengenal Pak Rahman secara gak di duga². Waktu itu siang hari ketika aku mandi di sebuah sungai kecil yg di bendung utk proyek kolam yg telah lama terbengkalai.
(2) Tempatnya di ujung perumahan yg baru ku ambil. Karna listrik blm msk ke perumahan itulah makanya aku mandinya ke sungai kecil tsb. Bnyk jg org komplek yg mandi kesana. Ibu² pun sering nyuci kesana.
(3) Tiap siang aku wajib mandi kesana karna gerahnya kota tmpt tinggalku. Dan tiap mandi siang aku wajib menjumpai Bapak2 mandi disana. Kalau bukan Bapak² tukang ambil pasir, ya Bpk² yg tinggal si gubuk di samping sungai itu. Itu pasti. Dan aku menyukai keduanya.
Read 150 tweets
3 Oct
𝐀𝐊𝐔 𝐃𝐈 𝐆𝐀𝐆𝐀𝐇𝐈 𝐏𝐑𝐈𝐀 𝐁𝐄𝐑𝐌𝐀𝐒𝐊𝐄𝐑

[Sebuah utas]
.
.

(1) Pandemi ini menyisakan kisah pilu bagi banyak orang, apalagi bagi aku pribadi. Terasa sangat² memilukan dan memalukan.
Aku di sodomi ber-kali² oleh pria yg selalu pakai masker utk menutupi wajahnya.
(2) Pandemi covid-19 ini memang mewajibkan kita pakai masker. Namun ternyata ada aja yg menyalah gunakan masker itu utk aksi biadabnya. Seperti yg dilakukan salah seorang pria paruh baya padaku secara ber-ulang². Aku sama sekali gak bisa mengenali wajahnya pria itu.
(3) Meski maskernya hanya menutupi sebagian wajahnya dan bukan menutupi semuanya layaknya topeng. Yang aku tau pria tsb sudah berumur 50-an. Itu terlihat dari guratan di dahinya, di sekitar kantong mata, dan di bagian kulit wajah disekitar matanya, dan juga dari suaranya.
Read 122 tweets
22 Sep
𝐀𝐊𝐔 𝐏𝐀𝐂𝐀𝐑𝐀𝐍 𝐃𝐄𝐍𝐆𝐀𝐍 𝐎𝐌 𝐊𝐔 𝐒𝐄𝐍𝐃𝐈𝐑𝐈

[Sebuah utas]
.
.

(1) Omku yang ku mksd adalah Abang atau saudara laki² dari Ibuku. Udah 23 th dia tinggal serumah dgn kami. Om ku sebenarnya punya keluarga sendiri, namun terpisah dari dia. Image
(2) Kerja Omku adalah jualan telor di pasar pagi. Dia memasok telor ke banyak warung dan Rumah Makan, dan kedai grosiran. Duit Omku banyak, tapi dia memilih tinggal dirumah kami, rumah adek perempuannya. Sementara anak istri Omku tinggal di kampung, di propinsi tetangga.
(3) Sejak kacil aku udah sangat dekat dgn Omku. Maklumlah udah 23 th dia tinggal dgn kami. Usaha Omku lancar terus, tp dia jarang pulang kampung nemui keluarga. Bahkan lebaranpun, dia bisa gak pulang. Cukup hanya duit yg di kirimi terus ke kampung.
Read 100 tweets
14 Sep
𝐏𝐄𝐋𝐄𝐂𝐄𝐇𝐀𝐍 𝐒𝐄𝐊𝐒𝐔𝐀𝐋 𝐎𝐋𝐄𝐇 𝐆𝐔𝐑𝐔 𝐒𝐌𝐀

[Sebuah utas]
.
.

(1) Aku gak tau harus senang atau sedih ketika mengalami pelecehan seksual oleh guru SMA-ku.

Karena jujur aja aku sangat mengaguminya. Aku sering mengkhayalkan dia. Aku sering coli membayangkan dia.
(2) Jadi ibarat ketiban rezeki, aku mendapatkan apa yg selama ini ku impikan. Meski mungkin caranya agak² mendebarkan. Dan semua itu gak ku sangka².

Selama ini akulah yg membayangkan bakal merayu dia utk ku isap. Tapi aku memang gak akan berani melakukan itu.
(3) Ssbelumnya aku blm tau apa² soal dunia LGBT. Maklumlah aku hidup di perkampungan dan jauh dari kehidupan begituan. Dan aku gak tau sama sekali apa ada orang ngeseks laki² sama laki².

Yang jelas aku menyukai Bapak² umur 50 th keatas. Dan khayalanku adalah mengisap burungnya.
Read 300 tweets
10 Sep
𝐀𝐘𝐀𝐇𝐊𝐔 𝐒𝐄𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐏𝐄𝐃𝐎𝐅𝐈𝐋

[Sebuah utas]
.
.

(1) Ditengah kehebohan pasca keluarnya Saiful Jamil dari penjara karna kasus pedofil, aku berniat membuat thread ttg pengalaman pribadiku yg jg merupakan korban pedofil oleh ayah kandungku sendiri.
(2) Ini adalah kisah nyata yg ku tulis tanpa me-nambah² atau mendramatisir cerita dan aku berusaha sebisa mungkin utk tdk mengurangi kisah demi kisah yg ku alami sejak duduk di kelas 5 SD 26 th yl. Cerita ini ku DM ke penulis thread utk bs di publish ke medsosnya.
(3) Sebut saja namaku Rinto (bukan nama sebenarnya) lahir dan besar di desa 38 th yl. Kami ada 3 bersaudara, aku merupakan anak bungsu dan aku memiliki 2 org kakak perempuan.
Aku tumbuh seperti anak lelaki pada umumnya. Aku mengalami nasib naas itu ketika aku 11 th.
Read 111 tweets
6 Sep
𝐓𝐄𝐑𝐋𝐄𝐍𝐀 𝐃𝐀𝐋𝐀𝐌 𝐊𝐄𝐇𝐎𝐌𝐎𝐀𝐍

[Sebuah utas]
.
.

(1) Sekarang usiaku udah 53 th. Bayangan menikah udah jauh dari pikiranku. Karna terhitung sejak 2008 yl, 13 th sudah aku hidup serumah dgn Pak Syamsuar, pasangan gayku yg lebih tua 3 th dariku. ImageImage
(2) Awal perkenalan kami adalah di sebuah meeting perusahaan di kota J. Aku dtg dari kota B. Kami kebetulan duduk semeja dan terlibat diskusi yg seru. Lalu Pak Syam minta no hp ku dan lgsg misscall saat itu juga. Save ya Pak, katanya.
(3) Dari awal aku udah sangat tertarik melihat ketampanan Pak Syam. Tapi aku gak tau apakah dia suka laki. Hari kedua Pak Syam makin ramah aja dan terlihat sangat bersahabat denganku. Akupun menyambut dgn kehangatan. Dan hari itu juga aku bs menangkap bahwa beliau jg suka laki.
Read 151 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!

Follow Us on Twitter!

:(