𝐀𝐊𝐔 𝐆𝐀𝐊 𝐏𝐄𝐃𝐔𝐋𝐈 𝐃𝐈𝐀 𝐍𝐎𝐑𝐌𝐀𝐋 𝐀𝐓𝐀𝐔 𝐆𝐀𝐊!

[Sebuah utas]
.
.
.

(1) Aku mengenal Pak Rahman secara gak di duga². Waktu itu siang hari ketika aku mandi di sebuah sungai kecil yg di bendung utk proyek kolam yg telah lama terbengkalai.
(2) Tempatnya di ujung perumahan yg baru ku ambil. Karna listrik blm msk ke perumahan itulah makanya aku mandinya ke sungai kecil tsb. Bnyk jg org komplek yg mandi kesana. Ibu² pun sering nyuci kesana.
(3) Tiap siang aku wajib mandi kesana karna gerahnya kota tmpt tinggalku. Dan tiap mandi siang aku wajib menjumpai Bapak2 mandi disana. Kalau bukan Bapak² tukang ambil pasir, ya Bpk² yg tinggal si gubuk di samping sungai itu. Itu pasti. Dan aku menyukai keduanya.
(4) Bahkan pernah aku menjumpai mereka berdua sedang mandi disana. "Duh para idola.", gumanku. Tapi kalau di suruh milih, aku pasti dgn cpt milih Bpk tukang ambil pasir. Soalnya orgnya sangat ganteng. Badannya gempal, wajahnya tampan dgn kumis yg manis dan gagah.
(5) Orgnya ramah suka nyapa. Tipe wajahnya tipe yg suka senyum. Meski tukang pasir, kulitnya putih, ada sedikit bulu dadanya. Kami udah kompak karna tiap hari ketemu mandi. Aku suka nanya² ke dia sbg cara utk komunikasi. Itulah karna aku menyukainya. Tatapanku lengket ke dia.
(6) Aku sering perhatikan gerakan bibirnya yg dilingkari kumis itu ketika berbicara. Asik aja liatnya. Lama² bikin horni aja. Ditambah liat badannya yg sdg di gosok²nya. Meski gak prnh mandi telanjang bulat, tp aku sngt horni liatnya. Mataku sngt penasaran dgn burungnya.
(7) Bapak itu se-hari²nya kerja telanjang dada dgn celana pendek bersleting. Kenya dari celana pnjg yg di ptng sngt pendek. Hingga dia terlihat seksi. Dan kalau mandi, dia tinggal nyemplung ke dlm sungai yg di bendung buat ngilangin aneka lumpur, pasir yg menempel ditubuhnya.
(8) Nanti ada momen dimana dia pasti akan buka celananya di dlm air lalu mencucinya ke bibir tembok. Dia akan membersihkan celana itu hingga benar² bersih. Aku lgsg horni aja bayangin dia skrg telanjang. Namun gak nampak karna di dlm air yg memang agak keruh jg.
(9) Yang jelas dia gak pake CD ya. Jadi kerja ambil pasir dia gak pake CD. Aku bs liat jendolan dia di balik celana basahnya. Meski celananya agak tebal, namun bisa kuliat. Udah lama aku pengen main grepe aja ke dia saking gak tahannya lagi. Tapi niat itu gak pernah kesampaian.
(10) Apalagi ketika dia lepasin celananya. Akupun nyemplung ke air, ya pengen aja meraba burungnya. Mau liat aja reaksi dia gimana. Kalau agak² gak suka, tinggal ketawa aja biar kayak bercanda. Tapi semua itu hanya ada dlm khayalanku, tanpa berani mencobanya.
(11) Aku sampai tau namanya Pak Rahman karna kutanya. Sedangkan satu org lagi teman dia tukang ambil pasir, gak prnh kutanya namanya siapa. Kalau itu benar² telanjang bulat mandinya. Burungnya besar panjang. Tapi entah mengapa wkt itu aku gak suka ke dia, makanya aku gak nafsuan.
(12) Padahal wajahnya ganteng lho, putih, berkumis tebal namun kumisnya itu pirang. Pirang bukan karna di cat ya, tp emang gt aslinya. Aku sih gak suka dia karna msh kurang tua dikit lagi buat seleraku. Pdhl waktu itu dia pasti udah ada 45 atau 47 th tuh.
(13) Biasanya umur segitu msh bnyk yg gak masuk ke seleraku. Ada yg masuk ada yg gak. Jd kebetulan Bpk itu blm masuk pula. Andai Pak Rahmanlah yg suka mandi telanjang, pikirku. Akhirnya stlh sekian lama memendam rasa ke Pak Rahman, akupun mengungkapkannya.
(14) "Napa gak dibuka aja lgsg celananya, Pak. Biar bisa bersih semuanya.", kataku ke Pak Rahman yg me-rogoh² bagian selangkangannya ke dlm celananya buat membersihkan. Kebetulan dia mandi di pancurannya yg dibuat dr tembok pembendung airnya. Dia cuma ketawa aja waktu itu.
(15) Biar gak bingung aku jelasin ya, ada 3 cara mandi di sungai kecil yg dibendung itu. Nyemplung ke dlm, nimba pake gayung atau ember kecil dr luar, atau berdiri di pancuran bagian bwh temboknya. Syg kita hrs agak menunduk krna pancurannya rendah.
(16) Pak Rahman gak prnh mau buka celananya kalau mandi di pancuran. Dia pasti akan nyemplung agar bisa nyuci celananya. Aku yg dr td pengen merayunya tp gak jadi² itu akhirnya gemetaran sendiri. Aku memang gt orgnya, kalau udah ada niat gitu, dan udah di ancang², akan gemetaran.
(17) Suatu siang yg cerah, aku beranikan wujudkan semua apa yg di khayalanku selama ini. "Besar kali kenya punya Bapak.", kataku. Dia melihat aku tanpa sepatah kata. "Iya, Pak. Besar kan.", susulku menganggap kepalang tanggung. "Gak tau!", jwbnya. "Kok gak tau", kataku.
(18) Aku udah agak tengsin sih. Takutnya bentar lg dia marah. Akupun makin gemetaran. "Kalau gt siapa yg tau lg, Pak?!", kataku sambil ketawa. Dan sampi disitu aja. Besoknya ketika mandi siang, ku ulang lagi. "Pak, coba dibuka aja semua."
"Biar apa?", dia balik bertanya.
(19) Biar Bpk bs gosok anunya bersih, nanti kurapan. Hehe.", kataku. "Gaklah, malu!", katanya. "Kok malu sama² laki²?!", kataku. "Kamu mandi pake kolor, kenapa gak buka juga?", tanyanya monohok. Punyaku kecil, Pak. Jadi gak pede aja.", kataku. Apa urusannya mau besar kecil?"
(20) Dia kembali melancarkan pertanyaan. "Malu aja Pak, kalau besar malah bangga pamerin. Hehe.", jwbku. "Gitu, ya.", jwbnya simpel. "Bapak gt juga?", tanyaku. Dia diam. Lgsg aku susul ucapanku. "Gak mslh sbnrnya mau besar atau kecil punya Bpk. Aku gak akan ngetawai."
(21) "Tapi pengalamanku Pak sewaktu di kampung, kalau aku mandi sama teman² sebaya, mereka suka mengetawai burung kawannya yg kecil². Membully gitulah Pak.", ucapku. "Makanya aku gak prnh pede dgn burungku.", tambahku kayak curhat. "Boleh liat gak Pak, bentar aja.", pintaku.
(22) "Untuk apa, kan kamu jg ada.", jwbnya. Aku pengen liat punya Bapak. Gak mslh besar atau kecilnya.", tambahku. Gak usahlah, kamu ngapa suka liat itu.", katanya bergegas selesai mandi dan pergi ke tmpt dia kerja. Aku jd malu sendiri, takut dia cerita ke temannya yg satu lagi.
(23) Aku orangnya pemalu utk hal² yg kegitu. Aku jadi baper. Aku gak tau kalau mereka akan menggosipi aku gimana². "Hati² sm anak itu, dia kenya homo, kemarin aku di rayu²nya." Aku takut aja Pak Rahman bilang gitu ke temannya. Tapi aku msh tetap mandi kesana dan ketemu mereka.
(24) Aku liat kenya mereka biasa² aja, gak ada yg menatapku curiga atau gimana. Berarti Pak Rahman gak ada cerita apa² ttg aku, pikirku. Lalu suatu siang aku ketemu lg dgn Pak Rahman disana, aku sapa dia dgn ramah utk ngetes apa dia udah berubah. Ternyata sm aja dgn biasanya.
(25) Pak Rahman msh ramah dan bersahabat. Malah dia nanya² ttg jam brp aku kerja. Lalu akupun sedikit lega. Kembali aku minta liat burungnya. Tetap gak dikasih liat. Lalu ketika dia msk ke dlm air, aku menyusulnya. Ketika dia nyabunin celananya, aku meraba burungnya.
(26) Cuma nyentuh gitu aja lgsg ku lepas. Tapi dia kaget dan sampai seperti melompat di dlm air. "Ngapa?", katanya sambil liat aku. "Gak ada, Pak.", kataku sambil ketawa. Aku gemetaran. Aku ngambil ancang² lg mau megang. Satu.. dua... tapi gak jadi. Satu... dua... lagi² gak jadi.
(27) Satu.. dua... ti... Aku gak brani megang lg. Aku makin gemetaran.
Satu... dua... tigaa... Akhirnya akupun memberanikan megang lagi. Kali ini agak ku lamain megangnya. Dia menghempaskan tanganku di dlm air. "Maaf ya, Pak! Pegang bentar.", kataku. Ku ulangi lagi megangnya.
(28) "Napa kamu?!", ucapnya. "Suka megang aja, Pak.", kataku. Dia diam. "Jangan marah ya, Pak! Masa' Bpk ganteng marah gara² gitu aja.", kataku sambil senyum. "Aku tau Bapak itu org baik!", rayuku. Lalu akupun curhat pnjg lebar ke dia soal kelainanku yg suka sama Bpk².
(29) Bagai radio bunyi, aku terus yg bicara tanpa terdengar sahutan dari Pak Rahman. Aku nyerocos terus tanpa ngasih dia kesempatan bicara. Emang dia jg sih yg diam² aja cm jd pendengar setia. Kadang² ku tanya sesuatu gak ada di jwbnya. Tp yg jls dia dgr semua ceritaku.
(30) Aku ceritain gimana aku begitu suka dgn Bpk² kayak dia. Dan gimana pengennya aku mau menikmati tubuh atau burung Bpk² tsb. Juga ku ceritain udah brp bnyk Bpk² yg kudapatin, udh brp puluh kali aku prnh ngisap burung Bpk². Aku blg yg mau ku kerjain itu gak semuanya homo.
(31) Pasti ada aja yg normal. Tp begitu ku utarakan keinginan mau isap dia, aku minta tolong, ya bnyk jg yg mau. "Habis itu kan gak sakit dan gak merugikannya. Aku cm minta tolong dan mereka² pada mau mengerti. Mereka jg kan dpt enaknya." Demikian penjelasanku ke dia.
(32) "Jadi Bpk jg aku mohon kshlah aku kesempatan. Aku penasaran dgn punya Bpk. Pasti enak kali tuh di isap. Bpk cuma pasrah aja aku kerjain. Anggap iseng² aja, Pak. Kita coba aja dulu sekali. Aku gak muluk² minta ulang lagi dan lagi.", kataku. Dia msh diam aja. "Gimana, Pak?"
(33) Aku terus mendesaknya. "Boleh ya, Pak. Kasih aku kesempatan sekali aja!", kataku. "Aku jamin Bpk pasti keenakan jg. Karna isapanku enak kali, Pak. Aku jago kali ngisap. Gak ada yg nyesal ku isap. Semuanya puas dan bilang enak!". Pak Rahman msh aja diam. "Ayolah, Pak!"
(34) Sambil terus merayu Pak Rahman, sesekali ku pegang² jg burungnya di dlm air. Pengen liat, Pak. Megang udah, tp liat blm.", kataku. Diapun usai mandinya dan mengumpulkan sabunnya ke dlm ember kecil. "Pak, aku berharap mau besok², ya. Aku terlalu suka sama Bpk!", kataku.
(35) "Liat nantilah!", ucapnya. Dia melompat naik ke bibir tembok dgn kaki kiri duluan. Kuliat jendolannya dr balik celana hitamnya. "Makasih, Pak. Aku tunggu janji Bpk.", kataku. Diapun berlalu. Aku pun ngocok di air itu utk melepaskan hasratku yg dr tadi udah memuncak.
(36) Begitu spermaku keluar dan naik ke permukaan air, dtg Bpk tukang ambil pasir yg satu lagi, yg ku bilang aku gak selera itu. "Bang.!", sapaku. "Iya, Bang!", jwbnya. Lalu dia lgsg membuka semua bajunya sampai bugilan dan mandi di pancurannya. Besoknya ku rayu terus Pak Rahman.
(37) Setiap mandi aku pastikan akan megang² burungnya barang sebentar. Aku minta dia naik bentar dr dlm air biar aku bs liat burungnya. Tp dia gak mau. Lalu ketika dia bersih² di pancuran, aku minta di liatkan. "Pak, keluarkan bentar batangnya.", pintaku. Tp dia gak mau.
(38) Dia sibuk gosokin burungnya ke dlm celananya. Kancing celananya emang udah rusak, cuma tenaga resliting nutupnya. Perutnya agak buncit tp buncit manis. Selain di dada, di perut jg ada bulu²nya. Itu membuat aku makin gairah meliatnya. "Liat bentar, Pak!", kataku.
(39) "Coba turunin dikit, Pak!", kataku. Lalu dia nurunin reslitingnya hingga nampak jembutnya. Akupun meliat tanpa berkedip. Batangnya liatin, Pak!", kataku. Lalu dia membukakan semua reslitingnya dan menahan sisi celananya dgn sebelah tangan supaya gak melorot ke bawah.
(40) Sedang tangan satunya lagi sibuk meng-gosok² ke dlm. "Lalu dia keluarin kepalanya. Akupun menatapnya terus. "Lagi, Pak. Sama batangnya.", kataku. Lalu diapun mengeluarkan batangnya dan menimpanya dgn air pancuran. Aku makin gemetaran. Aku terdiam menikmati pemandangan itu.
(41) Melihat aku cuma terdiam memandanginya, dia menatap ke mataku. Lalu akupun menatap matanya. "Mantap kali, Pak!", seruku. Burungnya sedang aja, kepalanya besar, kulit batangnya gak terlalu hitam. Itu menaikkan nafsuku pengen segera mengulumnya. "Ku isap ya, Pak.", kataku.
(42) "Jangan, nanti dtng org.", katanya. Aku mendekat, dan menyentuh burungnya. Sebentar² dia tutup celananya dan celingak celinguk. Aku jg gt, pegang² bentar, ku lepasin dan sibuk liat ada org apa gak. Tapi burungnya gak idup. Lalu terdengarlah suara anak² dtg.
(43) Anak kawannya yg satu lagi dtg perbaiki mesin penyedot air. Sampai disitu aja utk kali itu. Besoknya kejadian yg sama terulang kembali. Aku udah berani lgsg megang² anunya, dan minta nunjukin di pancuran. Sambil pura² gosok², dia nurunin reslitingnya sampai kandas.
(44) Akupun megangin batangnya dan jg bijinya. Aku lgsg menunduk. "Liat org, Pak!", ucapku. Segera ku masukin batangnya ke dlm mulutku. Aku emutin di bawah percikan air. Gak lama! Aku lgsg lepasin dan berdiri kembali. Setelah memastikan aman, aku kembali merunduk. Gitulah terus.
(45) Gak sampai hidup burungnya. Namanya jg nyuri² kesempatan. Lagian ngisapnya sebentar² kali. "Udah! Gitu aja. Nanti ada org.", katanya. Akupun menjauh dr dia dan ngobrol² kembali. "Makasih lho, Pak. Tp aku blm puas, karna gak tenang itu.", kataku.
(46) "Bapak mau kan kita pergi ke tmpt yg lbh aman. Aku mau ngisap sampai nembak.", kataku. "Besok²lah!", jwbnya. "Iya, Pak. "Aku mau puasin Bpk. Aku suka ngisap!", jelasku. "Dimana kira²?", tanyanya. "Terserah, Pak. Bnyk kok tempat.", jwbku.
(47) "Hari minggu kan org Bpk gak kerja.", kataku. "Iya..! Tp kadang masuk juga.", jwbnya. "Datang aja Bpk kesini hr minggu bsk.", kataku. "Kan kalau pas libur ini sepi gak ada org.", ucapku. "Ya bisa juga disitu ya.", ucapnya. "Hari minggu bsk dtg aja kesini, Pak.", ucapku.
(48) "Kita ketemuan disini aja.", tambahku. "Ok!", jwbnya. "Jam brp, Pak?"
"Jam² segini aja!"
Tibalah hari yg ditunggu. Kami ketemuan disana. Lalu kami jln ke area pengambilan pasir mereka. Disana ada jg pondok² mereka. Aku isaplah dia di kaki tebing pengambilan pasir.
(49) Lokasinya menurun ke bwh. Sisi²nya di tutupi tebing pasir yg tinggi bekas tembakan pake selang air. Diatas tebing itu bnyk pepohonan akasia. Semilir angin bertiup lembut dikala itu. Tempatnya sngt tersembunyi dan aman. Hiduplah burung Pak Rahman di mulutku. "Ouhhh.....!!"
(50) Lumayan besar jg burung Pak Rahman kalau udah hidup. Batangnya msh sangat keras. Usia Pak Rahman udah 55th. Kepala burungnya lbh besar dr batangnya. Ku jilati sama biji²nya. "Renggangkan kakinya, Pak.", seruku. Lalu dia melebarkan kakinya biar aku bebas jilatin bijinya.
(51) "Kita di pondok aja, biar bisa duduk.", ucap Pak Rahman. Kamipun berjalan kesana. Pondok itu lengkap pake pintu tp gak berkunci. Istri kawannya itu yg masak disana makanan mereka se-hari². Kamipun masuk ke dlm dan duduk di lantai papan yg merupakan pondok berpanggung itu.
(52) Akupun berlutut di hadapan Pak Rahman yg posisinya duduk ditepi itu. Kakinya dijatuhkan ke bawah. Ku manjakan Pak Rahman dgn isapanku yg maha enak itu. Apalagi dia benar² nelepas celananya, tinggal bajunya yg msh dipake. Dia duduk santai sambil merokok dikala ku isap.
(53) Pak Rahman tergolong cuek dgn rangsangan yg dia terima. Dia sibuk garuk² lengan dan menyedot rokok Dji Sam Soe-nya. Lumayan jarang dia peratiin aku. Padahal aku lbh senang kalau diliatin saat sedang ngisap. "Paak!!", ucapku yg seketika mengalihkan perhatiannya.
(54) Pak Rahman melihat ke bawah, ke wajahku. "Pak...! Enak kali, Pak!", ucapku sambil menatap matanya. Tapi dia diam aja. "Pak!! Enak, Pak!! Enak kali burung Bapak ini.", ucapku lagi. "Isaplah kalau enak.", ucapnya. Akupun senang dengar responnya. "Iya, Pak. Enak kali!", kataku.
(55) Lalu aku pun berdiri dan bukain celanaku. Aku ngisap Pak Rahman dgn melepas celana jg. Aku kocok² burungku, namun gak bs fokus dan enak. Karna beda ritmenya dgn isapanku. Gak bs kubuat sama ketukannya. Jadinya ngisapnya jd kurang mantab. Ku hentikanlah kocokanku tsb.
(56) Sempat ku adu batangku dgn punyanya. Lalu kembali aku merunduk ngisapnya. "Naikkan kakinya, Pak. Aku mau diatas.", ucapku. Lalu Pak Rahman menaikkan kakinya dan menggeser posisi duduknya ke tengah. Akupun ngisap dr sampingnya. "Kocokin punyaku, Pak!", ujarku.
(57) Jujur, aku gak yakin dia mau. Tapi alangkah terkejutnya aku karna tiba² Pak Rahman memegangi batangku dan mengocoknya. Akupun menikmati kocokan tangannya sambil terus ngemutin punya dia. "Mau nembak lagi!", ucapnya. "Kocok terus, Pak!, ucapku. Aku mau kami crot barengan.
(58) Aku meliat Pak Rahman udah makin dekat crotnya. Akupun memaksa spermaku biar keluar. Ku kecilin lobang anusku. "Arghhhh......!" "Owh......h....!" Pak Rahman gak tahan lagi menahan laju airnya. Dia crot di mulutku, sementara aku blm jg crot. Pdhl tangannya udah makin cepat.
(59) Ku sedot terus batangnya tanpa ku lepasin dari mulutku. Aku telan semua air mani Pak Rahman yg ganteng. "Udah!" Dia meringis ngilu setelah batangnya mulai melembek. Akupun menghentikan sedotanku. Tapi aku tetap tahan batangnya berada dlm mulutku. Aku fokus mau crot.
(60) Pak Rahman terus mengocokku dan akupun berupaya keras utk ngeluarinnya. Itulah makanya msh ku tahan batangnya di mulutku, biar aku nafsuan. "Aaahhhh.....! Ahhh...!! Akhirnya akupun crot juga. Spermaku nyembur ke lantai. Pak Rahman ngelapkan tangannya ke dinding dgn jijik.
(61) Selesai crot kami ngobrol² disana sambil merokok. "Enak gak Pak?", tanyaku. Dia mengangguk. "Gitulah kalau aku ngisap, Pak. Semua bilang enak. Bukan sombong, tp emang kenyataan. Bnyk yg malah ketagihan.", kataku. "Aku mau Bpk msh mau kita ulang besok² dan slnjtnya."
(62) Lalu singkat cerita, kami jadi sering melakukannya. Seringan di lokasi itulah. Pdhl rumah Pak Rahman jauh dr lokasi itu. Cuman memang sblm²nya pun dia sering dtg hari² minggu itu kesana utk beresin sesuatu. Apalagilah stlh ada urusan lain. Kadang kami pindah² lokasi juga.
(63) Tapi tetap outdoor. Masih cukup luas lahan kosong atau hutan² yg bisa tempat mesum disana. Hutan yg ku mksd bukanlah hutan lebat dimana kita hrs masuk semak belukar. Kami tetap milih tempat yg bersih yg gak nyaman. Disana itu adalah tmpt pengerukan tanah timbun dan pasir.
(64) Bahkan kami udah menjelajah ke lokasi penambangan pasir lain yg bukan job mereka. Asik juga outdoor. Ada kisahku ngisap dia di antara pohon kemunting. Aku ter-kagum² liat hamparan kemunting disana. Hembusan angin terasa begitu kuat dan segar, meski itu siang bolong.
(65) Selain kemunting, pohon akasia dan karet juga jadi saksi bisu perbuatan kami. "Pak, siapa nama kawan Bpk tuh? Yang punya anak itu.", tanyaku. "Oh, si Hasibuan.", jwbnya. "Dia kalau mandi telanjang terus itu, Pak!", kataku. "Iya! Pengen kau isap juga?", tanyanya.
(66) "Gak, Pak. Aku gak selera liat dia. Pdhl ganteng jg tuh. Tp gak tau dimana salahnya.", kataku. "Dari awal aku selalu berharap Bpk jg kalau mandi kek dia itu.", kataku. "Besar kali punya dia, msh lbh bsr dr punya Bpk.", kataku. Dia menaikkan alisnya sambil senyum.
(67) "Tapi kalau Bapak yg tinggal disitu tuh aku suka, Pak. Aku jg pengen isap punya dia.", kataku. "Oh, Hasibuan jg tuh.", jwbnya. "Iya! Dia tinggal sendirian tuh. Jd pengen merayu dia jg. Pengen jg aku main² ke rumahnya bawa cerita². Nanti lama² aku pancing² kesana.", kataku.
(68) "Cobalah, siapa tau dia mau, kan.", katanya. "Kira² nau gak ya?", tanyaku. "Gak tau, coba aja!", jwbnya. Dia kan gak ada istri lagi. Biasanya yg gitu² tuh gampang dirayu sih, Pak.", kataku. "Aku cobalah. Nanti gimana hslnya aku mau cerita ke Bpk.", kataku.
(69) Suatu ketika, aku mandi dan ada Pak Hasibuan yg tinggal sebatang kara itu. Kami ngobrol sambil membersihkan badan msg². Aku nyuri² liat ke arah anunya yg pake CD itu. Udah pengen ku ungkapin lewat kata². Tapi gak berat mulutku memulainya. Apa lewat tangan aja ya?, pikirku.
(70) Udah mau ku pegang tp gak jadi. Lalu stlh menarik nafas dlm² dan melepaskannya, aku lgsg beraksi tanpa pikir panjang. "Pak, kalau tinggal menyendiri itu pikiran Bpk gak ke-mana², Pak?, tanyaku. Kemana mksdnya ke-mana²?, tanyanya balik. "Ya ntah jd jorok aja pikiran terus."
(71) "Gak lah!", jwbnya. "Siapa tau bawaannya jd ngocok ke ngocok aja terus.", kataku sambil ketawa. "Gak prnh saya mikirin kesitu lagi.", jwbnya. "Maaf, Pak. Apa Bpk msh punya nafsu begituan?", tanyaku. "Udah kurang!", katanya. "Udah lama istri Bpk meninggal?", tanyaku.
(72) "Udah lbh 12 th.", ucapnya. "Jadi sejak itu Bpk gak prnh jajan ntah ke lonte?", tanyaku. "Gak pernah!", jwbnya. "Ke waria?"
"Gak juga!"
"Padahal msh bisa hidup kan, Pak?!", tanyaku. "Masih.. Tapi udah jarang. Pas bangun pagi aja.", tuturnya. "Trus, Bpk lgsg ngocok?"
(73) "Gak pernah saya ngocok!"
"Lho, kok tahan ya, Pak!"
Kami pun sempat terdiam.
"Malas mungkin ya, Pak bikin tangan pegal aja.", ucapku. "Pegal iya juga!", jwbnya. "Ada yg gak bikin pegal, Pak. Mau tau gak?", ucapku. Tapi dia diam aja. "Mau yg gak bikin pegal, Pak?", tanyaku.
(74) Tetap dia gak mau nyahut. "Kalau gak mau pegal, Pak. Kasih di kocokin orang!", ucapku. Tapi dia diam juga. "Kalau gak, lgsg ksh di isap aja. Lbh enak lagi tuh.", ucapku. Dia diam dan terus nyuci pakaiannya. "Pernah di isap gak, Pak?", tanyaku. "Gak pernah!", jwbnya.
(75) "Se-umur²?, tanyaku. Dia pun mengangguk. "Sayang kali, Pak. Kemana aja selama ini. Pdhl itu enak kali lho, Pak!", ucapku. "Kok tau, kamu prnh di isap?", tanyanya. "Pernahlah, Pak!", jwbku. "Sama siapa, cewekmu?", tanyanya. "Cewekku iya jg, laki² iya juga.", kataku lgsg.
(76) "Laki²? Ada laki² mau kegitu?", tanyanya. "Ya adalah, Pak. Bukan ada lagi, tp bnyk!", kataku. "Ada² aja!!", ucapnya. "Aku jg mau, Pak!", kataku. "Mau kau?", tanyanya sambil melihat ke arahku. "Iya! Sini ku isap punya Bpk tuh. Pasti Bpk menjerit dan merintih.", kataku.
(77) Lalu kuraba burungnya dr balik CD gak bermerek miliknya. "Awas tanganmu tuh!", katanya. Ku pegang lagi. "Awas situ!", katanya. Akupun melepas tanganku dan sibuk liatin org. Lalu kupegang lagi. Dihempaskannya tanganku. "Jangan pegang²!", katanya. "Liat dulu bentar!", kataku.
(78) Aku berusaha ngeluarin kepalanya dari sisi samping, tp gak berhasil. "Keluarin dulu, Pak. Biar kuliat dulu.", pintaku. "Ku isaplah, Pak!", bujukku. "Nampak org nanti!!", katanya. "Di rmh Bpk ajalah, ya.", kataku. Dia gak nyahut. "Iya kan, Pak. Ku isap dirmh Bpk ya!", kataku.
(79) "Dirumah Bpk nanti ya.", kataku. "Aku ke rmh nanti ya, Pak.", kataku lg. "Aku lg capek!", katanya. "Biar sekalian ku kusuk Bpk nanti.", kataku. "Emang bisa kau ngurut?", tanyanya. "Ahli!", jwbku. "Percuma di urut klu di apain juga. Hbs tenaga saya nanti.", katanya.
(80) "Gak usah sampai nembak.", kataku. "Datang nanti aku ya, Pak?", kataku lg. "Terserah!!", katanya. Lalu akupun dtg stlh 40 mnt kemudian. Aku bingung hrs mulai dr mana. Aku canggung gak brani lgsg ngerjain. Sementara dia gak mau ngajak atau nyuruh biar di gerayangin.
(81) "Bentar lagi saya mau keluar nih. Ada urusan!", katanya. Dgn sedikit ragu, aku mendekatinya dan duduk di sblhnya. "Ku isaplah skrg ya.", kataku sambil meraba burungnya. Dia membiarkan aja aku megangin tanpa berusaha menghindar kayak di sungai td. Akupun ngeluarkan batangnya.
(82) Kecil! Jembutnya udah banyakan putihnya. Aku remas² batang itu berharap bs hidup. "Bukalah, Pak.", kataku. Kutariklah celananya ke bwh, lalu dia mengangkat pantatnya ke atas. Akupun bs meliat seluruh burungnya serta bijinya yg kendor itu. Ku dekatkan kepalaku kesana.
(83) Ku ciumi burung itu lalu ku jilat kepalanya. Stlh itu ku sedot batangnya dan jg bijinya. Gak ada reaksi dr dia. Ekspresi wjhnya jg biasa aja. Ku isap terus dgn telaten, hingga batang itupun memuai. Tapi alangkah kagetnya aku meliat ukurannya kini yg besarnya diluar dugaanku.
(84) "Besar kali ya, Pak. Gak nyangka aku sebesar ini. Matinya kecil.", kataku. Terlihat ekspresi wajahnya udah berubah, dikerutkan sampai keriting. "Enak kan, Pak?", tanyaku. "Udah mau keluar!", katanya. Ku isaplah terus sampai akhirnya dia crot. "Ahhh..... udah, udah.. perih!"
(85) Dapat juga kau!, gumanku dlm hati. Tiap hari kami slalu jumpa mandi. Aku sering bahas² ttg itu, tp dia cendrung tertutup. Sebulan lg aku ke rmhnya. Dia udah tau apa keinginanku. Begitulah seterusnya, aku isap dia kira² sebulan sekali. Udah ada 4 kali dia ku isap.
(86) Bulan kelima, aku gak mampir kesana. Pdhl tiap hr aku lwt dpn pintunya ke sungai, tp gak prnh lg mampir. Aku udah kurang slera, mnurutku cukuplah yg 4 kali itu. Karna ke Pak Rahman kan msh jln terus. Kalau ketemu di sungai pun aku gak mau bahas² itu lagi.
(87) Tiba² dia bilang: "Kok gak prnh mampir ke rmh lagi?" Ya lg gak sempat!", jwbku. Gak sempat, tiap harinya kau lewat sini.", katanya. "Kan itu mandi!", kataku. Pengen di isap lg kenya si tubang ini, pikirku. Butuh juga dia? Tp slama ini diam² aja macam gak di nikmati.
(88) Ah, munafik kali kegitu, pikirku. Kalau msh mau bilang aja. Ini mau tp malu². Butuh tp gak mau terus terang. Hrs pula aku yg ngajak. Gengsi ya ngajak duluan? Matilah! Pikirku. Apalagi di bulan itu aku udah dpt Pak Suroso pula, tukang gali kubur dekat sungai itu.
(89) Gimana pun aku lbh suka nyoba sesuatu yg baru. Yang lama² boleh di museumkan dululah. Kecuali aku teramat suka ya tetap msh dipakelah kayak Pak Rahmat ganteng sayang. Aku mau ceritain ttg Pak Suroso aja ya, waktu itu dia dtg mandi siang² bolong. Aku udah duluan dr dia.
(90) Pak Suroso dtg bertelanjang dada dgn celana pendek tipis dan lebar. Dia menurunkan celananya, terlihatlah CD merk campiro abu² menutup alat kelaminnya. CD itu sngt ngejendol pertanda isinya besar. "Pasti besar nih!", gumanku. Lalu dia menurunkan CD itu. "Srrttt...!"
(91) Benar kan dugaanku. Burungnya besar kali menjuntai ke bawah. Lalu dia menggayung air dan mengguyur ke tubuhnya. Aku pun sering² me-lirik² batangnya itu sambil ngomong dgnnya. Jujur aku nafsu dan selera ke orgnya, makanya aku suka liatin batangnya itu.
(92) Selesai mandi dia minjam handukku. "Pake handuknya bang, ya!", katanya. "Pake aja, Pak!", kataku. Aku agak heran kok mau dia make handuk org? Aku gak mau gt, takut aja ketular panu kadas kurap gatal² oleskan saja kalpanax. Eh itu lagu iklan kalpanax di radio dulu, ya. 😀
(93) Aku senang aja dia make handukku. Nanti handukku yg udah kena² ke burungnya itu akan ku usapkan ke wajahku. Tapi dia gak menggosok burungnya, mungkin dia segan atau takut aku jd jijay. Aku gak mau gelay...! Gitu. Meliat itu aku lgsg bilang: "Pak pentungannya gak di lap?"
(94) "Udah!", jwbnya. "Mana, msh basah² gt. Gak ada jg kuliat Bpk ngelap. Apa gunanya handukan kegitu.", kataku. "Udah kering kok, Bang!, katanya sambil liatin burungnya. Aku jg kesempatan liatin lbh lama. "Masih kurang lap itu, Pak! Lap lagi!", kataku sok care kali ke org.
(95) "Segan aku, Bang. Siapa tau Abg jd jijik make handuknya.", katanya. "Sudah ku dugem!", kataku. "Apa?", tanyanya. "Udah ku duga! Pasti gegara itu.", kataku. "Udah gak papa, Pak. Santuy ajalah. Lap aja aku gak jijik kok!", tambahku. Tp dia msh agak ragu ngelapkan burungnya.
(96) "Udah lapkan aja, Pak. Biar lengket aroma²nya disana. Biar ku cium²!", kataku. Dia heran ku bilang gt, dia menatapku. "Iya, Pak! Aku udah pengen kali ngisap burung Bpk itu.", kataku. Dia kehabisan kata² utk menjawabnya. "Udah hidup pula punyaku, Pak!", kataku.
(97) "Hobi ya?", tanyanya. "Iya, Pak!", jwbku. "Boleh gak, Pak?", tanyaku. Blm di jwbnya, aku susul ngomong lagi. "Bolehlah ya, Pak. Biar puas Bpk kubuat. Isapanku mantul."
"Apa tadi? Haha!", katanya sambil ketawa. "Pura² gak nyambung pula ya, Pak. Aku mau isap Bpk!", kataku.
(98) Akhirnya dia nyuruh aku nyusul dia ke kuburan, kira² jam 6 sore. Nanti biar aku pulang belakangan, kalau udah pulang teman aku, boleh nanti kita disitu.", katanya. Akupun dtg, dan kami ketemuan di kuburan itu. Lalu dia bawa aku ke rumah tmpt istirahat mereka.
(99) Rumahnya berukuran kecil tmpt mereka nyimpan peralatan². "Kok bs suka gitu?", tanyanya. Akhirnya ku ladeni jg dia menjawab pertanyaan²nya. Aku pengennya lgsg isap² aja tanpa bnyk basa/i lagi. "Udah gak tahan aku, Pak. Lgsg aja kuisap ya!", kataku. "Isaplah!", ucapnya.
(100) Di pelorotinnya celananya sambil duduk di hadapanku. Akupun lgsg bekerja sepenuh hati. Burungnya pun seketika itu lgsg hidup. Gila besarnya, panjang lagi! Namun agak kurang keras rasaku. Umurnya katanya mau jalan 60. "Udah kurang keras punyaku.", ucapnya dgn muka sedih.
(101) Mulutku gak sanggup menampung seluruh batang Pak Suroso saking panjangnya. Bulu²nya tipis dan halus dan agak pirang. Bijinya menggelantung kendor. Sesekali ku sedot dan kujilati kantung biji itu yg mengakibatkan dia hrs menggelepar. Aku meliat lobang Pak Suroso sngt sempit.
(102) Lobang itupun cuma ditumbuhi sedikit bulu, terlihat garis² mataharinya sngt bnyk dan jelas. Blm prnh dibobol nih, gumanku. Tapi aku gak sanggup menjilat itu. Lobang itu terlihat cukup hitam. Tapi aku gelitik² jg pake jariku yg membuat efek kejut disana.
(103) Lobang itu rutin mengatup pertanda dia sngt kegelian. Aku gak bnyk bicara wkt itu. Pak Suroso jg hanya meringis kecil². Diameternya memang sngt fantastis, sehingga membuatku begitu puas mengulumnya. Jarang² dpt yg ukuran jumbo gini, pikirku. Aku terus memanja batang itu.
(104) "Nembak lagi tuh, Bang!", ucapnya. Aku terus menyedot. "Bang... bang... awas bang... mau keluar!", katanya dgn nada panik. Aku makin mengatur cara ngisapku biar bs ku tampung spermanya di dlm mulutku. "Ahh...hh...!" Erangannya ckp panjang. Dia kaget liat aku santai aja.
(105) Dia kira aku akan cpt² melepas burungnya dan membiarkannya begitu aja batangnya ter-jungkal² menyemprotkan air maninya. Nyatanya aku tetap menyedot tanpa merasa risih dan jijik sama sekali. Selesai sudah aku memuaskannya. Lalu Pak Suroso ngekap burungnya pake kain basah.
(106) Di pasangnya kembali celananya lalu dinyalakannya sebatang rokok merk Luffman. "Udah biasa ya kamu?", tanyanya memulai pembicaraan. "Iya!!", jwbku singkat. "Kirain td kamu jijik pas keluarnya itu. Makanya ku ksh aba² mau keluar. Biar bs siap² lepasin.", ucapnya.
(107) "Nelan aja aku udah biasa, Pak!", kataku. "Iya??", tanyanya. "Tapi aku tergantung mood jg nelan, Pak!", sambungku. "Gak jijik kamu, ya.", katanya. Aku liat² orgnya jg kalau nelan, Pak. Hehe!!", ucapku. Lalu kamipun jd sahabatan. Aku sering main² ke kuburan jumpai dia.
(108) Dan kalau pengen ngisap, aku datang sorean kesana. Tentunya stlh janjian dulu via call. Udah brp kali dia ku isap di lokasi kuburan itu. Tp prnh jg bbrp kali kami ke lokasi penambangan pasir itu. Ngisap burung Pak Suroso bener² gangenin banget. Gak bs aku lupain gedenya.
(109) Kini aku msh terus ngisap² burung Pak Suroso dan juga Pak Rahman. Tapi gak lg dgn Pak Hasibuan. Beberapa bulan kemudian, msh di sekitaran lokasi itu juga, aku lg melintas dgn sepeda motor Satria F biruku, aku meliat ada Bpk² kencing ditepi jln, di sebuah semak ilalang.
(110) Aku gak bs liat wajahnya karna membelakangi jln. Tapi yg jls udah 50-an tuh. Rambutnya udah agak putih². Akupun memutar motorku 10 mtr ke dpn dan balik arah meliatnya. Kuliatlah wajah dia dr samping. "Ya Owloh, ganteng banget!", ucapku pelan. Akupun melambatkan motorku.
(111) Akupun berhenti dan nekat memutar lagi dan menepi mendekati ke arahnya. Diapun menoleh ke kanan melihat ke aku. Dia msh sibuk megangi batangnya yg ngeluarkan air deras itu. "Maaf, Pak. Mengganggu bentar!", kataku. Aku mau nompang cuci tangan, Pak!", ucapku sambil mendekat.
(112) Akupun berdiri tepat di sampingnya mandangi burungnya. Gak mau buang wkt lama², takut kencingnya keburu habis, aku lgsg mengarahkan kedua tanganku ke bawah pancuran airnya. "Cuci tangan dulu, Pak!", kataku. Dia keheranan meliat tingkah anehku. Dia sedikit bergeser ke blkg.
(113) Antara kaget, heran, bingung, dan panik. Itulah yg dia alami. Dia mau menghindar blm bs, karna msh posisi pipis. Kebetulan pipisnya sngt bnyk dan deras. "Ngapa nih?", tanyanya meliat aku nyuci tangan pake air kencingnya. Aku tersenyum melihat wajah kagetnya.
(114) "Tadi banku kena paku, Pak. Aku cabut, makanya tanganku kotor.", kataku. Pipisnya pun habis. Aku lgsg jaga jarak dr dia, karna ada org yg melintas. "Deras kali pipis Bpk, banyak kali pula tuh. Iyalah, pancurannya aja besar, wajarlah airnya jg bnyk, ya.", kataku dgn konyol.
(115) "Gila kamu nyuci tangan pake kencing orang. Itu kan jorok juga, jd gak ada gunanya kamu cuci tangan.", katanya. "Ah, manalah jorok itu. Kencing yg keluar dr burung Om ganteng masa' jorok. Itu bersih!", kataku. Dia msh keheranan meliatin aku terus. "Bapak kan ganteng...!"
(116) Lantaran ganteng itulah aku sanggup melakukannya. Coba aja Bpk jelek, yg ada aku jijik kali.", kataku. "Jadi kalau ganteng, kencingnya gak jorok?", tanyanya. "Betullll, Pak! Kencing Om ganteng itu layak dijadiin cuci tangan. Bahkan cuci muka!", kataku.
(117) "Cuci muka?", tanyanya heran. "Iya, Pak. Aku mau jg cuci mukaku pake kencing Bpk. "Aje gile!", ucapnya. "Bahkan buat kumur² juga!", tambahku. "Ah, gak beres kamu lagi. Udah agak² kena kamu dikit!", ucapnya. "Enak aja, Pak!", kataku. Iyalah, kamu ada kelainan!", katanya.
(118) "Iya emang aku ada kelainan. Aku suka isap² burung Bpk² ganteng. Kayak Bpk ini contohnya. Aku pastikan bakal ter-gila² ngisap burung org seganteng Bpk.", ucapku. "Udah kuduga kesitu larinya.", katanya. "Baguslah kalau Bpk udah paham.", kataku. "Kok bisa gitu, mas?".
(119) "Masing² org beda² seleranya, Pak. Aku seleranya ke Bpk² ganteng.", kataku dgn blak²an. Kamipun duduk di motor msg². "Yok ke bwh pohon itu, Pak. Panas disini.", ajakku. Aku mau pergi, ada urusan!", katanya menolak ajakanku. "Bentar aja, Pak!", Bentar aja!" pintaku.
(120) Ayolah, Pak!", ajakku. Akhirnya dia mau jg ngobrol di bwh pohon akasia yg besar itu. "Andai jalan sepi gak ada org yg lewat², aku mau td cuci muka sama kumur² lgsg!", tandasku. Gak ada sepatah kata sbg tanggapan dari dia. "Pak! Langsung² aja ya. Aku mau terus terang."
(121) "Tanpa bnyk makan wkt aku mau bilang to the point, aku suka sama Bpk. Aku pengen kali isap burung Bpk. Aku ini gak banci Pak tp aku suka sm Bpk². Dan aku pengen kali ngisap² burung. Tp hrs Bpk² ganteng ya. Yang muda² aku gak selera, walaupun dibayar!", tandasku.
(122) "Aneh kamu!", katanya. "Bukan aneh, ya namanya juga homo, Pak..!", kataku. "Bapak mau kan ngasih burungnya ku isap?", kataku. "Gak usahlah mas. Saya gak biasa. Yang lain aja.", elaknya. "Aku pengennya sm Bpk, kok nyuruh ke yg lain pula?!", kataku. "Aku mohon ya, Pak!"
(123) "Lain kali ajalah ya!", ucapnya. "Lain kali kapan, Pak. Bilang aja Bpk gak mau. Jgn PHP gitulah!", kataku. "Ya, kapan² aja ya!", ucapnya sambil hidupin starter motornya. "Tunggu, Pak! Kshlah no hapenya. Mana bakal jumpa kita lagi!", ucapku. Akhirnya dia ngasih no hapenya.
(124) Ku misscall nmr itu, tlng save, Pak!", ucapku. "Jgn biarkan aku mati penasaran, Pak. Kasih kesempatan sekali aja!", kataku. "Kapan kira² bisanya, Pak?", tanyaku. Dia berpikir sejenak. "Sekarang ajalah ya, Pak! Biar lgsg selesai perkara.", kataku.
(125) "Lebih baik skrg lgsg Pak, selesai skrg, selesai urusan. Gak terbebani lg Bpk soal utang janji bsk². Kelar saat ini juga! Gimana?", kataku. Dia msh berpikir. "Udahlah ayo skrg aja!", pintaku lagi. "Dimana?", tanyanya. "Ayo, ikuti aja aku!", kataku sambil bawa dia ke dlm².
(126) "Kemana kita nih?", tanyanya. "Tenang ajalah, Pak. Ikut aja. Aku gak org jahat, kok!", kataku. Kubawalah dia ke sebuah bekas tmpt pengambilan tanah timbun dan pengerukan pasir. Tmpt itu udah lama ditinggal. Gak ada lg aktifitas disana, dan gak ada org yg masuk² kesana lg.
(127) Tempatnya sngt bersih blm di tumbuhi rumput. Tempat itu kelihatan gersang & tandus. Tempat itu merupakan hutan akasia. Jauh di sebelah kiri kami berdiri, ada hamparan karet yg udah menjulang tinggi. "Aman disini?", tanyanya. "100% aman, Pak! Bukan inshaallah, ya!", kataku.
(128) Mulailah kubuka celana cadorai hitam yg dikenakannya. "Dengan Bpk siapa, Pak?", tanyaku. "Pak Awan!", jwbnya. "Pak Awan ganteng kali! Bpk meruntuhkan imanku pula.", kataku. "Ku mainkanlah burungnya dgn tanganku. "Udah besar, ganteng lagi!", pujiku. "Nama kamu siapa?"
(129) "Charles, Pak!", jwbku. Aku mau ksh tau dulu ciri² Pak Awan ya. Orangnya 165 cm, gemuk, putih, berkumis, bibirnya merah, alisnya tebal, tangannya berbulu, pahanya berbulu, perutnya agak buncit, pantatnya besar. Pokoknya chubby deh. Om² banget! Burungnya lumayanlah.
(130) Aku lgsg emutin burung Pak Awan. Ku kerahkan kemampuan mengisapku yg sangat mumpuni itu guna memberikan sentuhan lembut, indah, dan memuaskan Pak Awan. Aku gak mau dia kecewa dgn rasanya. Udah susah² kubujuk sampai mau, kalau biasa aja rasanya pasti bakalan kapok.
(131) Gak menunggu lama, batang milik Pak Awan pun membesar dan tegang. Pemuaian itu disertai dgn ringisan² kecil dari mulut manis yg dipagari kumis itu. "Semoga Bpk suka ya. Semoga Bpk suka rasanya.", kataku. Dia diam aja menikmati permainan lidah dan mulutku.
(132) Capek juga ngisapin batang itu. Aku berdiri sejenak lalu ku rangkul dia. Ku tempelin pipiku ke pipinya, lalu ku ciumi. Dia menghindar spt jijik, di tahannya nafasnya dgn ekspresi muka jelek yg tetap ganteng. Aku kembali menunduk dan ku sedotin batang berbulu itu.
(133) Sekian alam ku isap, aku makin nafsu. Ku suruh Pak Awan membelakangiku. "Nungging, Pak!", kataku. "Mau di apain?", tanyanya heran. "Liat ajalah, Pak! Buka yg lebar!", kataku. Agak menunduk Bpk!", kataku. Lalu aku menyibakkan kedua belahan pantatnya dgn kedua tanganku.
(134) Ku gapai lobang anus Pak Awan dgn menjulurkan lidahku. Ku putar² lidahku, kujilat, ku sedot, ku sapu, ku celupin lidahku, hingga dia menggelinjang menahan gelinya. "Gila kali kamu!", ucapnya. Ber-kali² dia hrs berdiri tegak mengatupkan pantatnya. "Jgn ber-gerak², Pak!"
(135) Ku suruh dia menungging kembali dgn melebarkan kedudukan kakinya. Lalu aku kembali menjilati lobangnya dgn lidahku. Satu hal gila yg hanya kulakukan ke Bpk² yg teramat ku kagumi. "Ampun, geli kali!", katanya. Akupun makin melahap lobang itu, batang dan bijinya.
(136) "Udah gak tahan aku lagi... udah mau keluar!", ucapnya. Tembak aja, Pak.", kataku. "Ouggghtttt.....!" "Achh....!"
Pak Awanpun crot di dlm mulutku, yg seketika itu lgsg ku telan semua. Pak Awan kehabisan kata² melihat kegilaanku. "Salut saya...! Luar biasa kamu!", katanya.
(137) Lalu Pak Awan ngelap burung serta lobangnya dgn tissue. "Gimana, Pak. Bapak puas gak?", tanyaku. Dia gak mau jwb. "Tolong di jwb jujur, Pak. Gak usah jaim!", kataku. "Enak kan Pak isapanku? Ayo di jwb. Kalau enak bilang enak, kalau gak bilang gak!", kataku lagi.
(138) "Gila... gila...! Ruaarrr biasa!", ucapnya. "Artinya enak, dong!", kataku. "Jd Pak, skrg tergantung Bpk apa msh mau ku isap slnjtnya. Yg jls aku siap kapan aja kalau Bpk butuhkan. Tanpa malu aku ngakui itu, aku msh pengen terus isap Bpk.", tambahku.
(139) "Gak perlu gengsi, Pak. Kalau Bpk msh mau aku malah sngt senang. Aku berharap kabar baik dr Bpk slnjtnya.", kataku. "Aku pengen jd sahabat baiknya Bpk. Aku bangga bs mengenal Bpk!", tambahku. Lalu kamipun jd kompak. Aku sering2 nlp dia nanya² kabar.
(140) Dan udah bbrp kali kami mengulangi kegiatan itu. Rata² kami outdoor. Di kebun orang, di semak², di ruko kosong yg terbengkalai, dll.
Suatu saat, kami ketemuan di tmpt yg jauh dr kejadian pertama. Ada hamparan hijau yg di tanami pohon angsana dan pohon trembesi. Sangat asri.
(141) Di bawah rindangnya pohon angsana, disitulah ku isap batang kemaluan Pak Awan dan juga merimming ass holenya sampai dia seperti kejang². Disitulah Pak Awan orgasme sampai klimax. Dan aku sngt bangga bs mencicipi tubuh indah, seksi, dan gagahnya Pak Awan.
(142) Suatu saat, kami menyusuri lahan kosong yg sudah bersemak. Tepat dibawah pohon ketapang nan rindang, Pak Awan bersandar ku kerjain. Betapa asiknya kami berdua disana. Sampai² kami gak perhatiin ada motor yg masuk. Motor itu mendekat ke arah kami. Aku sangat panik waktu itu.
(143) Seorang wanita paruh bawa menggunakan hijab melintas dgn mengendarai Vario. Aku lgsg melepas kompeng itu dari mulutku, aku berdiri mematung kayak gak tau hrs berbuat apa. Pak Awan juga melongo melihat kejadian itu. Dia termangu dgn burung yg msh terbuka.
(144) Pak Awan pucat pasi. Untungnya Ibu itu gak melihat ke arah kami ketika melintas tepat di dekat kami. Entah pura² gak tau atau pura² gak liat. Kurasa dia udah liat tuh dari jauh tadi. Menyadari kami dlm bahaya, kami segera bergegas pergi dr tmpt itu.
(145) Kami takut Ibu itu ngasih tau ke orang² lalu massa dtng menghakimi kami. "Gak liat Bpk tadi?", tanyaku. "Sumpah, Bpk benar² gak liat sama sekali!", akunya. "Aku jg gak dengar bunyi motornya sama sekali, Pak!", kataku. "Iya, kalau Bpk liat gak mungkinlah diam aja.", ucapnya.
(146) Sejak kejadian itu, Pak Awan gak mau lagi main outdoor. Dia takut, benar² takut. Gimanapun caraku ngajaknya gak mau lagi. "Gak usah lagi dek, dr pd malu kita nanti!", katanya. Tapi bukan berarti kisah kami telah usai ya. Msh tetap berlanjut. Caranya? Kami nyewa hotel.
(147) Ada juga hikmah dari kejadian itu, pikirku. Skrg kami jd lbh aman dan nyaman dlm begituan. Jujur aja aku sngt menyukai kejadian ini. Dengan begitu, Pak Awan jd rela keluar modal demi sesuatu yg enak. Biasanya gak ada keluar modal sama sekali. Kami nyewa hotel pindah².
(148) Pak Awan gak mau kami jd langganan di salah satu hotel sampai hrs dikenali oleh petugasnya. Bpk malu aja ngapain org ini, pikir mereka. Pak Awan gak mau dia di anggap homo spt aku. Aku gitu jg sih meskipun aku homo, aku gak mau dituduh homo. Jangan sampailah ya.
(149) Sekarang aku punya 3 org langganan tetap utk ku isap. Dan ke ketiga org ini, cuma aku yg ngisap, mereka gak ngapa²in aku. Mereka sih normal ya, bukan homo. Tapi oleh rayuanku, mereka berhasil jg ku isap. Hanya dgn mengajak berimajinasi akhirnya mereka takluk.
(150) Aku memang sngt piawai merayu Om². Udah bukan kali pertama aku melakukan hal kegini. Udah banyak yg kurayu, dan mau. Aku gak peduli mereka homo atau normal. Yang penting mereka mau ngasih burungnya ku isap. Itu aja.
.
.
.

[Selesai]

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with AYAH PENYAYANG

AYAH PENYAYANG Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @ayahpenyayang

8 Oct
𝐀𝐊𝐔 𝐔𝐃𝐀𝐇 𝐂𝐔𝐑𝐈𝐆𝐀 𝐃𝐄𝐍𝐆𝐀𝐍 𝐊𝐄𝐁𝐀𝐈𝐊𝐀𝐍𝐍𝐘𝐀

[Sebuah utas]
.
.

(1) Aku tinggal sendirian di sebuah rumah di tengah ladang, menjaga ternak sapi milik orang. Blm ada rumah warga di sekitar situ. Yang ada satu dua rumah yg dihuni penjaga kebun atau ternak.
(2) Akses jalan kesana udah bisa masuk mobil, namun blm aspal. Rencananya lahan itu bakal jadi kompleks perumahan. Soalnya 2 km sblm tempatku ini udah jd perumahan. Istriku udah meninggal sejak lama. Tiga anak²ku udah pada merantau dan menikah ke pulau sebrang. Inilah kegiatanku.
(3) Kuliat seorang Bapak² dgn pakaian rapi berjalan di lahan yg aku jaga. Aku yg sedang duduk di pintu depan rumah lantas menghampirinya. Aku gak mau memasang wajah² curiga. Aku sapa dia dgn senyuman. "Ada apa, Pak?, tanyaku. "Eh, Bapak yg jaga ini?", tanyanya balik. "Iya, Pak!".
Read 150 tweets
3 Oct
𝐀𝐊𝐔 𝐃𝐈 𝐆𝐀𝐆𝐀𝐇𝐈 𝐏𝐑𝐈𝐀 𝐁𝐄𝐑𝐌𝐀𝐒𝐊𝐄𝐑

[Sebuah utas]
.
.

(1) Pandemi ini menyisakan kisah pilu bagi banyak orang, apalagi bagi aku pribadi. Terasa sangat² memilukan dan memalukan.
Aku di sodomi ber-kali² oleh pria yg selalu pakai masker utk menutupi wajahnya.
(2) Pandemi covid-19 ini memang mewajibkan kita pakai masker. Namun ternyata ada aja yg menyalah gunakan masker itu utk aksi biadabnya. Seperti yg dilakukan salah seorang pria paruh baya padaku secara ber-ulang². Aku sama sekali gak bisa mengenali wajahnya pria itu.
(3) Meski maskernya hanya menutupi sebagian wajahnya dan bukan menutupi semuanya layaknya topeng. Yang aku tau pria tsb sudah berumur 50-an. Itu terlihat dari guratan di dahinya, di sekitar kantong mata, dan di bagian kulit wajah disekitar matanya, dan juga dari suaranya.
Read 122 tweets
22 Sep
𝐀𝐊𝐔 𝐏𝐀𝐂𝐀𝐑𝐀𝐍 𝐃𝐄𝐍𝐆𝐀𝐍 𝐎𝐌 𝐊𝐔 𝐒𝐄𝐍𝐃𝐈𝐑𝐈

[Sebuah utas]
.
.

(1) Omku yang ku mksd adalah Abang atau saudara laki² dari Ibuku. Udah 23 th dia tinggal serumah dgn kami. Om ku sebenarnya punya keluarga sendiri, namun terpisah dari dia. Image
(2) Kerja Omku adalah jualan telor di pasar pagi. Dia memasok telor ke banyak warung dan Rumah Makan, dan kedai grosiran. Duit Omku banyak, tapi dia memilih tinggal dirumah kami, rumah adek perempuannya. Sementara anak istri Omku tinggal di kampung, di propinsi tetangga.
(3) Sejak kacil aku udah sangat dekat dgn Omku. Maklumlah udah 23 th dia tinggal dgn kami. Usaha Omku lancar terus, tp dia jarang pulang kampung nemui keluarga. Bahkan lebaranpun, dia bisa gak pulang. Cukup hanya duit yg di kirimi terus ke kampung.
Read 100 tweets
14 Sep
𝐏𝐄𝐋𝐄𝐂𝐄𝐇𝐀𝐍 𝐒𝐄𝐊𝐒𝐔𝐀𝐋 𝐎𝐋𝐄𝐇 𝐆𝐔𝐑𝐔 𝐒𝐌𝐀

[Sebuah utas]
.
.

(1) Aku gak tau harus senang atau sedih ketika mengalami pelecehan seksual oleh guru SMA-ku.

Karena jujur aja aku sangat mengaguminya. Aku sering mengkhayalkan dia. Aku sering coli membayangkan dia.
(2) Jadi ibarat ketiban rezeki, aku mendapatkan apa yg selama ini ku impikan. Meski mungkin caranya agak² mendebarkan. Dan semua itu gak ku sangka².

Selama ini akulah yg membayangkan bakal merayu dia utk ku isap. Tapi aku memang gak akan berani melakukan itu.
(3) Ssbelumnya aku blm tau apa² soal dunia LGBT. Maklumlah aku hidup di perkampungan dan jauh dari kehidupan begituan. Dan aku gak tau sama sekali apa ada orang ngeseks laki² sama laki².

Yang jelas aku menyukai Bapak² umur 50 th keatas. Dan khayalanku adalah mengisap burungnya.
Read 300 tweets
10 Sep
𝐀𝐘𝐀𝐇𝐊𝐔 𝐒𝐄𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐏𝐄𝐃𝐎𝐅𝐈𝐋

[Sebuah utas]
.
.

(1) Ditengah kehebohan pasca keluarnya Saiful Jamil dari penjara karna kasus pedofil, aku berniat membuat thread ttg pengalaman pribadiku yg jg merupakan korban pedofil oleh ayah kandungku sendiri.
(2) Ini adalah kisah nyata yg ku tulis tanpa me-nambah² atau mendramatisir cerita dan aku berusaha sebisa mungkin utk tdk mengurangi kisah demi kisah yg ku alami sejak duduk di kelas 5 SD 26 th yl. Cerita ini ku DM ke penulis thread utk bs di publish ke medsosnya.
(3) Sebut saja namaku Rinto (bukan nama sebenarnya) lahir dan besar di desa 38 th yl. Kami ada 3 bersaudara, aku merupakan anak bungsu dan aku memiliki 2 org kakak perempuan.
Aku tumbuh seperti anak lelaki pada umumnya. Aku mengalami nasib naas itu ketika aku 11 th.
Read 111 tweets
6 Sep
𝐓𝐄𝐑𝐋𝐄𝐍𝐀 𝐃𝐀𝐋𝐀𝐌 𝐊𝐄𝐇𝐎𝐌𝐎𝐀𝐍

[Sebuah utas]
.
.

(1) Sekarang usiaku udah 53 th. Bayangan menikah udah jauh dari pikiranku. Karna terhitung sejak 2008 yl, 13 th sudah aku hidup serumah dgn Pak Syamsuar, pasangan gayku yg lebih tua 3 th dariku. ImageImage
(2) Awal perkenalan kami adalah di sebuah meeting perusahaan di kota J. Aku dtg dari kota B. Kami kebetulan duduk semeja dan terlibat diskusi yg seru. Lalu Pak Syam minta no hp ku dan lgsg misscall saat itu juga. Save ya Pak, katanya.
(3) Dari awal aku udah sangat tertarik melihat ketampanan Pak Syam. Tapi aku gak tau apakah dia suka laki. Hari kedua Pak Syam makin ramah aja dan terlihat sangat bersahabat denganku. Akupun menyambut dgn kehangatan. Dan hari itu juga aku bs menangkap bahwa beliau jg suka laki.
Read 151 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!

Follow Us on Twitter!

:(