-A THREAD-
.
Teror di Gunung Prau
.
#malamjumat #kamistis
#ceritahoror #hororstory Image
Cerita ini dimulai saat saya dan kelima teman saya berangkat menuju dieng untuk mendaki gunung prau
Tim kami beranggotakan 6 orang, yang terdiri dari 4 laki-laki dan 2 perempuan (yaitu; saya, dinda, rifqi, arul, lukman dan ana). Image
Rencananya kami akan lintas jalur, naik dari patak banteng dan turun dari dieng. Pendakian kami mulai hari jumat, pukul 2 siang.
Mengingat ada 2 perempuan di kelompok kami, perjalanan kami lalui dengan sangat santai. Bersamaan dengan para pendaki lain, jalur demi jalur pelan-pelan kami lewati.
Kurang lebih jam 3, kami sudah sampai dipintu rimba. Sejenak kami sempatkan untuk beristirahat dan berfoto ria
Setelah itu perjalanan kami lanjutkan, singkat cerita sampailah kami di trek cacingan (trek yang paling menguras tenaga, sekaligus ujian terberat yang ada disepanjang jalur pendakian gunung prau via patak banteng)
Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, dan kami sudah lepas dari siksaan trek cacingan. Tak lama kemudian, perlahan kabut mulai turun. Membuat udara disekitar menjadi lebih dingin, juga membuat jarak pandang semakin menipis.
Awalnya kami masih sama-sama, namun mengingat kabut yang makin tebal dan kondisi hari yang mulai gelap. Rifqi memutuskan untuk mendahului kami, dengan maksud ingin menggelar tenda duluan agar nantinya kami bisa langsung beristirahat
Tak tega melihat Rifqi jalan sendiri, Lukman akhirnya menyusul. Ana dan dinda pun juga turut serta menyusul Lukman.
Tadinya saya juga ingin menyusul mereka, namun ternyata Arul bilang ke saya kalo kakinya keram. Akhirnya saya memutuskan untuk menemani Arul, sampai kondisi kakinya membaik
10 menit berlalu, Arul bilang kakinya sudah lebih baik. Akhirnya setapak demi setapak, kami menyicil setiap anak tangga yang ada. Namun tak bisa dipungkiri, kabut yang tebal juga heningnya suasana membuat nyali saya bergetar.
Bersamaan dengan kondisi hari yang semakin gelap, saya mempercepat langkah kaki. Posisi saya kini berada didepan Arul, mata saya tak pernah lepas memandang sekitar. Kini disana benar-benar tinggal saya berdua dengan Arul, tak terdengar lagi suara Lukman, Dinda juga Ana.
Saya sampai lebih dulu di Plawangan (pos terakhir sebelum sunrise camp), dengan posisi Arul 5 meter dibelakang saya. Namun melihat pelawangan yang begitu sepi, justru malah membuat rasa kekhawatiran saya bertambah.
Pelan-pelan saya lanjutkan perjalanan, bersamaan dengan Arul dibelakang saya. Dan akhirnya saya bertemu trek landai, yang menandakan kalo sunrise camp sudah didepan mata. Namun tiba-tiba Arul berteriak ke arah saya, dan bilang kalo kakinya lagi-lagi keram.
Saya langsung membanting carriel saya, dan berlari ke arah Arul. Disana saya sudah mulai panik, karna disatu sisi kondisi kaki Arul yang mungkin sulit untuk dipakai berjalan dan disisi lain saya belum bertemu teman-teman saya yang lain.
Saya memaksa untuk membopong Arul dan mengajaknya untuk terlebih dahulu sampai ke sunrise camp, untuk menghindari hari yang semakin gelap. Dan setelah 10 menit kami berjalan, akhirnya kami sampai di sunrise camp
Dari kejauhan juga terlihat Rifqi dan yang lainnya sedang memasukan barang-barang ke dalam tenda, saya dan Arul pun langsung menghampiri.
Namun ketika sampai di tenda, saya agak merasa aneh dengan posisi tenda yang didirikan oleh Rifqi. Tenda itu berada ditengah-tengah diantara kedua pohon yang serupa, feeling saya mulai tidak enak.
Tapi tidak mungkin juga saya memaksa untuk memindahkan posisi tenda yang sudah terbangun, sedangkan bersamaan dengan itu kami juga berkejaran dengan hari yang hampir gelap. Akhirnya saya menghiraukan perasaan itu, lalu memilih membangun tenda kedua.
Tenda kedua saya bangun dengan posisi berhadapan dengan tenda pertama yg dibangun oleh Rifqi, secepat mungkin kami membangun tenda dan memasukan semua barang-barang.
Setelah kedua tenda sudah terbangun, dan semua barang-barang sudah dibereskan. Saya bertanya ke teman-teman "ada yang mau pipis ga? mumpung belum malem nih, nanti kalo udah malem repot" Lalu Lukman, Dinda dan Ana mengacungkan jari
Diantara kabut yang tebal, kami ber4 berjalan menuju tempat sepi untuk mencari spot pipis. Pertama-tama saya menunjukkan satu tempat dibalik semak-semak yang tertutup pohon, untuk spot pipis Ana dan Dinda. Lalu saya dan Lukman menjauh ke arah sebrang, dan pipis disana.
Saya dan Lukman selesai lebih dulu, dan kami berdua menunggu Ana dan Dinda yang belum selesai. Dari kejauhan saya melihat ke arah gudukan tanah tinggi jauh dibelakang tempat Ana dan Dinda pipis, samar-samar seperti ada makhluk besar yang melihat ke arah mereka.
Namun perlahan menghilang bersamaan dengan kabut yang mulai menipis, dan saya menghiraukan itu. Setelah kami ber4 selesai kami kembali ke tenda untuk beristirahat
Tim kami dibagi dua; Saya, Dinda dan Rifqi (tidur di tenda pertama yang dibuat Rifqi).
sedangkan; Lukman, Arul dan Ana (tidur di tenda kedua yang saya bangun)
Malampun tiba, Saya dan Dinda menyiapkan makan malam untuk yang lain. Sedangkan yang lain asik dengan kesibukannya masing-masing sambil menunggu makan malam. Selesai kami makan malam, rencananya kami ingin langsung beristirahat karna sudah lelah.
Tapi dari tenda sebrang, terdengar suara Ana "Ka Dinda, temenin aku pipis yu". Karna mungkin takut, Dinda pun mengajak saya. Akhirnya Saya dan Dinda keluar dari tenda, diluar tenda sudah ada Ana yang menunggu kita berdua. Singkatnya saya menemani mereka berdua pipis
Nah setelah selesai mengantar mereka berdua pipis, Saya dan Dinda berjalan ke arah tenda kami. Disitu ada hal yang membuat kita berdua heran, diatas terlihat seperti ada keramaian. Saya melihat seperti ada pertunjukkan layar tancap dengan banyak lampu sorot disekitarnya.
Begitupula dengan Dinda, dia juga menyaksikan hal yang sama. Namun menurut pengakuan Dinda, dia hanya melihat banyak lampu sorot dan tak melihat layar tancap seperti yang saya lihat. Kami berdua saling pandang, namun kami tak memusingkannya.
Saya dan Dinda lebih memilih buru-buru masuk ke dalam tenda, karna diluar sangat dingin (suhu waktu itu 7°). Didalam tenda Rifqi sudah menyiapkan sleeping bag, untuk kemudian bersiap untuk tidur. Kurang lebih jam 9 malam, akhirnya kita bertiga memutuskan untuk tidur
Kurang lebih jam 10 malam, saya terbangun karna angin kencang yang membuat tenda kami bergoyang. Awalnya saya bangun sendiri, dan mencoba menahan frame tenda agar tidak patah. Kemudian Dinda terbangun, namun masih dalam posisi badan tertidur. Dia hanya memperhatikan saya
Awalnya saya mengira ini badai, karna gemuruh angin yang begitu kencang dan lumayan menakutkan. Tapi tak lama dari situ, saya dibuat bingung. Kenapa angin menyerang saya dari segala arah, sedangkan badai-badai pada umumnya tidak seperti itu (angin hanya datang dari satu arah)
Saya mulai panik dan mencoba membangunkan Rifqi, dengan posisi kedua tangan menahan frame tenda. Saya berteriak membangunkan Rifqi, saya takut kalo frame tenda patah dan tenda akan roboh. Dinda mungkin masih bingung dengan apa yang terjadi, terlihat dari wajahnya yang keheranan.
Mungkin karna tak tau apa yang harus dilakukan, Dinda akhirnya mencoba membantu saya membangunkan Rifqi. Namun saya dibuat kesal, ditengah suasana yang genting. Rifqi tak kunjung bangun dari tidurnya, perasaan saya bercampur aduk saat itu.
Selanjutnya keanehan makin menjadi-jadi, ketika kedua frame sudah saya tahan dengan sekuat tenaga. Tiba-tiba frame itu seperti bertenaga lebih besar daripada saya, keempat sisinya menyempit seperti ingin menjepit saya.
Melihat saya yang kewalahan menahan frame, Dinda pun bangun dari tidurnya dan menahan satu frame. Disitu saya menahan 2 frame, dan Dinda 1 frame. Dan Rifqi pun bangun dari tidurnya, lalu merespon dengan menahan 1 frame lainnya.
Keempat frame tenda sudah kami tahan, namun saya masih cemas karna angin besar terus berdatangan menghantam tenda kami. Hingga tiba-tiba "brushhh", fly sheet kami copot dari pasaknya. Kami panik, disitu saya mengajak Rifqi keluar untuk membenarkan fly sheet, namun dia tidak mau.
Rifqi tidak mau karna beralasan diluar sangat dingin, dan dia tidak kuat. Daripada keadaan makin buruk, Saya beranikan diri untuk keluar tenda sendiri. Dan betapa terkejutnya saya, menyaksikan pemandangan yang baru pertama kali saya saksikan seumur hidup
Yang terkena badai hanya tenda kami bertiga saja, tenda yang lain baik-baik saja. Bahkan yang ngecamp diatas sunrise camp (yang posisinya minim vegetasi), tendanya anteng-anteng saja. Semua tenda tidak ada yang terkena angin besar, kecuali tenda kami.
Begitupula kondisi langit malam itu pun ternyata sangat cerah, bahkan ribuan bintang menampakkan dirinya dimalam itu. Tapi kenapa tenda kami kena badai? entahlah, saya juga bingung.
Karna tujuan saya keluar untuk membenarkan fly sheet, akhirnya saya melupakan sejenak apa yang baru saya saksikan. Saya membenarkan fly sheet, lalu kemudian mencari batu-batu untuk ditibang ke pasak agar fly sheet kami tidak terbang lagi kalo dihantam angin
Lagi-lagi hal lucu kembali saya jumpai, ketika saya mencari batu-batu ke atas sunrise camp. Yang mana tempat itu adalah tempat dimana tadi saya dan Dinda melihat ada keramaian, ketika saya disana ternyata nihil.. Saya hanya menemukan beberapa tenda berdiri disana
Sama sekali tidak ada tanda-tanda keramaian, lantas tadi yang Saya liat dengan Dinda itu apa? entahlah, kami masih bertanya-tanya sampai sekarang. Setelah saya liat posisi tenda sudah aman, saya bergegas ingin masuk ke dalam tenda
Belum sampai ke pintu tenda, dari arah kanan ada senter yang menyorot ke muka saya. Dengan spontan saya balik menyorotkan senter dan berteriak "siapa tuh?", namun tak ada satu orang pun terlihat dipandangan saya (yang ada hanya pohon-pohon dan semak belukar).
Saya mulai merinding dan langsung buru-buru masuk ke dalam tenda, dan didalam tenda saya bercerita ke Dinda dan Rifqi kalo hanya tenda kami saja yang kena badai. Mereka pun seperti tak percaya dan menganggap saya bercanda, saya berusaha meyakinkan tapi sudahlah.
Tak lama kemudian kami memutuskan untuk membuat kopi, bersamaan kami ingin membuat kopi. Angin perlahan menghilang, semua tenang kembali. Akhirnya kami bertiga berbincang sambil minum kopi, hingga kurang lebih jam 1 malam. Kami memutuskan untuk melanjutkan istirahat
Namun baru saja kami ingin memejamkan mata, tiba-tiba angin kembali berdatangan. Bahkan jauh lebih besar dari sebelumnya, suara gemuruhnya sangat menyeramkan. Kami bertiga kembali terjaga dan membuat posisi seperti sebelumnya.
Akhirnya sesuatu yang kami takutkan pun terjadi, salah satu frame tenda kami patah. Dan membuat tenda kami hampir ambruk. Saya menyuruh Rifqi untuk mengecek keluar, tapi lagi-lagi Rifqi takut. Dengan terpaksa keluar lagi, dan mencoba membenarkan frame dari luar. Namun sia-sia..
Akhirnya saya berinisiatif untuk menopangnya dengan tracking pol, syukurnya bisa. Dengan begitu saya kembali kedalam tenda, tak lama saya masuk ke dalam. Tiba-tiba tenda kedua (yang isinya Lukman, Arul dan Ana) mengalami hal yang sama yaitu fly sheetnya copot dari pasak.
Kami teriak-teriak memberi kode ke mereka, namun tak ada respon (mungkin mereka sudah tidur). Akhirnya kali ini saya memaksa Rifqi untuk gantian keluar, membenarkan fly sheet tenda kedua. Dengan sedikit terpaksa, akhirnya Rifqi memberanikan diri keluar.
Baru 1 menit Rifqi keluar tenda, tiba-tiba dari luar dia berkata "Eh bener lu, tenda kita doang yang kena badai. Tenda yang lain ko engga si?". Saya hanya tersenyum didalam tenda, dalam hati saya berkata "Dibilangin ga percaya si, tuh liat sendiri dah"
10 menit berlalu, Rifqi masuk ke dalam tenda dengan tergesa-gesa. Dia bilang "sumpah aneh banget, langit diluar cerah tapi ko kita kena badai?", kita bertiga pun dibuat terheran-heran saat itu.
Kali ini badainya tak kunjung hilang, sekian lama kami terjaga dan akhirnya kelelahan juga. Kami bertiga hanya bisa berdoa dan berharap agar semua cepat berlalu, namun entah kenapa waktu saat itu terasa lama sekali.
Sampai akhirnya kami bertiga menyerah dan memilih pasrah, karna kami sudah lelah sekali. Tak peduli lagi perihal tenda yang mau ambruk, bahkan kami berpikir "ambruk aja sekalian, gapapa deh tidur dengan kondisi tenda ambruk"
Waktu menunjukkan pukul 3 pagi, dan satu-persatu kami mulai ambil posisi untuk tidur dengan posisi tenda yang sudah setengah ambruk. Baru saja setengah jam kami tertidur, tiba-tiba terdengar suara Arul memanggil dari tenda sebrang.
Namun kami tak menghiraukan, karna pikir kami paling dia minta sesuatu. Yang ada dipikiran kami bertiga saat itu hanyalah "gua harus tidur", karna besok mau lintas ke dieng.
Tak lama kemudian Arul membuka resleting pintu tenda kami, dia membangunkan saya dan berkata "Bon, Lukman kambuh Bon". Saya yang dengan setengah sadar, bilang "Gua baru banget tidur Rul, lu urusin dulu deh". Kemudian saya kembali tidur, tapi Arul seperti mencari sesuatu
Oh iya, fyi yang dimaksud Lukman "kambuh" itu adalah Lukman punya penyakit asam lambung. Yang apabila asam lambungnya kambuh itu, membuat dia jadi rentan sama hal-hal seperti itu. Mungkin orang liatnya seperti orang kesurupan atau kerasukan, kurang lebih gitu deh..
Lanjut ya, ketika saya ngerasa Arul kebingungan. Dengan setengah sadar saya langsung mengambilkan kompor, nesting beserta gula dan teh. Saya bilang "Rul lu bikinin teh anget dulu, suruh dia minum", setelah itu saya kembali tidur
Lalu kemudian Arul kembali ke tendanya, dan saya bisa melanjutkan tidur saya. Setelah 15 menit berlalu, Arul balik lagi. Dia bilang "Bon itu Lukman Bon, masih kambuh dia". Belum sempat saya menjawab, Dinda sudah duluan menjawab "Boni baru tidur Rul, Lu bangunin Rifqi aja"
Karna memang sedari tadi, diantara Saya, Rifqi dan Dinda. Rifqi selalu tidur duluan, dan bangun terakhir (jadi dia lebih cukup secara waktu istirahat). Akhirnya Arul membangunkan Rifqi, Rifqi terbangun dan langsung bergegas ke tenda kedua untuk membantu Arul menangani Lukman.
Setelah itu saya tidak tau lagi apa yang terjadi selanjutnya, karna saya langsung tertidur hingga pagi datang.
(BERSAMBUNG)
.
nanti saya akan melanjutkan ceritanya, namun bukan lagi tentang apa yang saya rasakan. Melainkan pengakuan dari Lukman, karna apa yang saya alami malam itu belum seberapa dibanding apa yang Lukman alami.
.
see ya

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with D E W A B I R U

D E W A B I R U Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @rembulanbulat

16 Jan
-A THREAD-
.
Teror di Gunung Prau (Jilid 2)
.
#malamjumat #kamistis
#ceritahoror #hororstory
@bacahorror #bacahorror
@IDN_Horor Image
oke, jadi gua mau lanjutin cerita dari thread sebelumnya. untuk yang belum tau, disarankan baca thread sebelumnya (biar tau jalan ceritanya dari awal)
di part 2 ini gua akan menuturkan cerita berdasarkan pengakuan dari lukman, karna apa yang lukman alami dengan apa yang gua, rifqi dan dinda alami sangat-sangat berbeda.
Read 54 tweets
6 Aug 20
-A THREAD-
.
PENDAKIAN GUNUNG SEMERU
.
#malamjumat #Ceritahoror #CeritaHororTwitter #kamistis
Cerita ini terjadi pada pertengahan Desember 2018 lalu, ketika saya dan 8 orang lainnya tergabung dalam satu tim untuk mendaki gunung tertinggi di pulau Jawa yaitu Gunung Semeru, Malang.
Tim saya terdiri dari 7 orang laki-laki dan 2 orang perempuan (Saya, Rifqi, Putri, Sonya, Yoga, Teguh, Alfi, Bang Del dan Bang Baim), dengan Bang Baim sebagai Leader/Pemimpin perjalanan
Read 81 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal

Or Donate anonymously using crypto!

Ethereum

0xfe58350B80634f60Fa6Dc149a72b4DFbc17D341E copy

Bitcoin

3ATGMxNzCUFzxpMCHL5sWSt4DVtS8UqXpi copy

Thank you for your support!

Follow Us on Twitter!

:(