Bang Beben Profile picture
May 26 36 tweets 7 min read
Parang Maya : Perang Santet di Tanah Dayak

Bab 9 : Amarah Pambakal Dehen

@IDN_Horor #bacahorror #bacahoror #malamjumat #ceritaserem #ceritahoror #ceritasera #ceritamalamjumat Image
"Kasno, jangan melamun!"

Sentakkan pak Salundik di pundak mengagetkanku. Ajaibnya, punggungku terasa ringan. Kulirik di kaca, nenek tadi telah menghilang.

"Sinikan tanganmu, tali sudah siap!" lanjutnya sambil nyengir.

*****
Bagai pesakitan jaman Jepang, aku diseret dengan tali menuju dermaga oleh pak Salundik. Kami berdua kembali menyusuri jalan desa yang sepi bagai kampung hantu. Sesekali tali ditarik, seperti gembala menarik sapi.
Sepertinya pak Salundik sangat senang melihatku bagai orang bodoh. Namun aku tak punya pilihan, bayangan Kamiyak tadi masih membekas di otakku. Saat ini, tidak masalah menjadi orang bodoh, asalkan selamat.
Begitu tiba di dermaga, juru mudi yang sepertinya tidur di dalam kelotok bergegas bangkit dan langsung menghampiri.

Dahinya mengernyit sewaktu melihat tanganku terikat.

"Maling, kah?" tanyanya heran.

Pak Salundik menggeleng lantas memiringkan jari telunjuk di dahi.
"Orang bojon, stress. Suka ngamuk," sahut pak Salundik datar.

Juru mudi mengangguk-angguk pertanda mengerti meski wajahnya cemas. Dengan gontai, kami lantas mengikut juru mudi itu melangkahkan kaki menuju kelotok yang bertambat.
Mungkin karena kasihan atau yakin aku tidak akan lari, pak Salundik akhirnya melepas ikatan tanganku.

"Loh, kok dilepas, mang? Kalau stressnya kumat, gimana?" tanya juru mudi khawatir.

"Tenang aja. Kalau kumat, lempar aja ke sungai biar dimakan tapah atau hantu banyu."
Aku menelan ludah mendengar jawaban pak Salundik. Bukan ikan tapah atau hantu banyu yang kutakutkan, tapi aku tidak bisa berenang.

Di buritan, mesin kelotok meraung-raung di malam yang sunyi. Asap knalpot langsung mengepul, beradu pekat dengan malam yang gelap.
Baru beberapa meter kelotok menjauh, di tangga dermaga tampak tiga cahaya senter bergerak cepat. Sepertinya ada tiga orang buru-buru, berusaha mengejar ketertinggalan. Cahaya senter itu berkedip-kedip, memberi kode agar kelotok kembali merapat.
"Biarkan!" perintah pak Salundik tegang, "lanjut saja, jangan kembali!"

Juru mudi tampak ragu, bagaimana pun juga tambahan tiga penumpang adalah rejeki yang sulit ditolak.

"Nanti kubayar lebih, kecuali kau ingin melihat pertumpahan darah."
Juru mudi menelan ludah, wajahnya kecut mendengar akan ada perkelahian.

Apa yang dirisaukan pak Salundik segera terjawab. Di dermaga, berdiri tiga orang pria dengan wajah haus darah. Mereka memegang mandau dan tombak, siap bertaruh nyawa.
Berdiri paling depan, jelas terlihat wajah bengis pambakal Dehen. Sorot matanya menyala penuh amarah. Dengan mandau di pinggang, kepala desa itu beradu mata dengan pak Salundik.

Instingku mengatakan bahwa si Dehen adalah dalang atas teror yang kualami tadi.
Aku berdiri di haluan dengan emosi bergemuruh.

"Sini, kalau berani! Kita duel satu lawan satu!" teriakku lantang.

Kuacung tinju ke udara, menantang Dehen berkelahi layaknya lelaki.

Di ujung dermaga, pambakal Dehen dan anak buahnya terlihat sangat geram.
Tidak mau kalah pengaruh, kupasang tampang sebengisnya. 

Kelotok kemudian melaju kencang membelah luasnya sungai Barito, berayun-ayun membelah arus seiring malam yang semakin larut.

*****
Sesampainya di ibukota kecamatan, pak Salundik menyuruhku untuk sholat. Katanya untuk perlindunganm Memang, aku belum sholat Maghrib dan Isya.
Kulaju motor menuju alun-alun di depan kantor camat. Selain ada mesjid yang cukup besar, di sini juga ada pasar malam yang menjual pakaian dan beraneka makanan.

Setelah memarkir motor, kami berdua lantas mencari warung makan yang banyak berjejer.
Usai makan malam, aku dan pak Salundik lalu berpisah.

Aku berjalan menuju mesjid, sedangkan ia melangkah ke dalam pasar yang ramai. Katanya, ia mau berbelanja untuk orang rumah.
Sesudah sholat jamak maghrib dan isya, aku melangkahkan kaki keluar mesjid. Namun, langkahku segera terhenti. Di antara kerumunan pengunjung pasar, terlihat tiga orang pria yang mencurigakan. Di tangan, mereka menenteng mandau dan tombak.
Celaka! Ternyata pambakal Dehen dan anak buahnya. Bergerak pelan, aku mengendap-endap kembali ke tempat wudhu. Aku sembunyi di balik tembok yang dingin dengan rasa cemas.

Kuintip, pambakal Dehen memberi perintah pada anak buahnya.
Dua orang dengan wajah beringas segera masuk dalam kerumunan. Pengunjung dan pedagang langsung menyingkir, tidak ingin jadi korban.

Karena semua orang tahu, membawa mandau adalah untuk jaga diri. Namun jika membawa tombak, pertanda akan ada pertumpahan darah.
Di dalam hati, aku berdoa semoga pak Salundik bisa selamat. Aku tidak habis pikir, kenapa di jaman modern ini masih ada orang seperti Dehen. Orang-orang yang lebih menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan masalah.
Semestinya, mereka bicara baik-baik bila ada masalah, mengutamakan musyawarah agar semua persoalan selesai dengan baik.

Deg!

Aku mendadak gugup sewaktu mendengar suara langkah di balik tembok wudhu.
Kupasang kuping baik-baik, benar saja. Suara langkah orang berjalan mengitari mesjid, diiringi desah nafas yang memburu.

Aku melangkah pelan, bersembunyi di pojok tembok yang agak gelap. Suara langkah itu terdengar lagi, sepertinya berjalan mondar-mandir di balik tembok wudhu.
Kubaca surat-surat pendek saat keringat mulai mengucur di dahi. Aku sungguh gugup, karena suara langkah itu tidak kunjung pergi. 

Kraak...
Aku menutup mulut dengan tangan saat terdengar suara-suara ranting kering yang patah. Suara langkah lalu berhenti, persis di samping tembok wudhu. Nafas kuatur sepelan mungkin, agar tidak terdengar ke balik tembok.
Suara gumam amarah tertahan, terdengar sayup-sayup di antara bunyi kepakan sayap jangkrik dan karariang. Sepertinya si Dehen berdiri di balik tembok, tapi enggan masuk ke dalam mesjid. Memang, pantang bagi orang Dayak untuk berkelahi di tempat ibadah.
Takut kena saluh, kena kutuk leluhur.

Selang beberapa waktu, suara langkah itu menjauh dan menghilang. Firasatku mengatakan si Dehen belum pergi. Bisa saja ia bersembunyi di balik belukar, lalu menyergapku saat keluar dari mesjid.
Tidak ingin menduga-duga, aku melangkah pelan ke ujung tembok. Kuintip, tidak ada siapa pun di situ.

Saat berbalik, aku terperangah hingga tersungkur dan kepalaku membentur ujung ubin.

Di hadapanku, berdiri seorang pria berwajah sangar dan haus darah.
Matanya melotot penuh amarah dengan urat leher menonjol. Tangannya yang kasar menarik kerah leher bajuku dengan paksa. Aku hendak berteriak meminta tolong, tangannya langsung membekap mulutku.

"Mmhhh....mhhmm..."
"Ssst...jangan berisik," ujarnya lirih dengan telunjuk di menempel di mulut.

Mataku terbelalak ketika menyadari lelaki itu adalah pak Salundik.

"Kita harus cepat pergi dari sini, mengerti !?"

Setelah aku mengangguk, barulah ia lepas dekapan di mulutku.
Bergegas, kami berjalan dengan perasaan was-was menuju parkiran. Kami bergerak mengendap bagai maling, sesekali bersembunyi tatkala ujung tombak terlihat menyembul di kejauhan.

Tiba di tempat parkir, kuselah motor dengan tergesa.
"Kasno, cepat!" tuntut pak Salundik, membuatku semakin gugup.

Motor tua ini justru bermasalah di saat genting. Kuselah berkali-kali, mesinnya tidak mau menyala. Keringat mulai bercucur di dahi dan tangganku basah dengan peluh.

"Cuk bensin benarin," gerutu pak Salundik.
"Heh!?"

"Keran bensin benarin posisinya. Kembalikan ke on."

Astagfirullah, bisa-bisanya aku terlupa.

Ngeeeeng...

Mesin motor ringkih ini akhirnya menyala. Tanpa pikir panjang, kami berdua tancap gas meninggalkan tempat itu.
Motor bergerak dengan sejumlah belaanjaan tergantung di depan.

Di pertigaan, tepatnya di ujung pasar, kulihat ada seorang pemuda yang tidak asing tengah berdiri mematung. Pemuda itu terlihat mengamati kerumunan dengan menenteng mandau di tangan.
Ukar! Apa yang dia lakukan di tempat ini?  

Saat berpapasan, terlihat wajahnya cemas dan gugup. Tangannya yang memegang mandau kegemataran, seolah ragu atau takut.
Aku tidak ambil pusing, kupacu motor meninggalkan ibukota kecamatan. Motor terus melaju membelah malam, melewati hutan belantara, melalui jalan panjang menuju pulang.

Tentu saja, dengan segala rintangan.

...berkentang...🤭

Sampai jumpa malam senin yak. Jangan lupa RT dan Qrt.

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with Bang Beben

Bang Beben Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @benbela

May 29
Parang Maya : Perang Santet di Tanah Dayak

Bab 10 : Jalan Pulang

Jangan lupa Rt dan Qrt yak, biar semangat nih up nya 😁

Cc @IDN_Horor #bacahoror #bacahorror #CeritaJumatan #ceritahoror #kalimantan #parangmaya #santet #borneo Image
Motor bergerak tertatih bagai kuda tua yang sakit-sakitan. Perkiraanku, kami akan tiba di desa sekitar pukul 10 malam. Karena jalur yang akan kami tempuh berupa jalan menanjak, perjalanan akan lebih lama.
Bila turun dari desa, perjalanan ke ibukota kecamatan bisa ditempuh dalam waktu setengan jam. Namun, ketika kembali ke desa biasanya antara 40 menit hingga satu jam.

Apabila musim hujan, tidak ada warga desa yang mau pergi dari desa kecuali sangat mendesak.
Read 38 tweets
May 22
Parang Maya : Perang Santet di Tanah Dayak

Bab 7 : Kamiyak

@IDN_Horor
#bacahorror #bacahoror #ceritaserem #ceritahoror #ceritaseram
Bruuk..!

Aku hempas ke tanah. Tubuhku menggelepar bagai ikan terdampar di darat. Cengkraman di leher membuat nafasku sesak dan tubuh berguncang-guncang tidak karuan.

Suara parau dengan desah nafas  mulai memanggil namaku.

"Kaaass...nooo....!"
Suara parau itu terus memangil berulang-ulang, hingga ada cahaya terang menyilaukan mataku.

"Kasno...! Kasno...!"

Aku tersentak, ternyata pak Salundik. Cahaya senter ia sorotkan ke wajahku dan tangan kirinya mengguncang pundak.

"Kasno! Kamu kenapa, hah!?"
Read 37 tweets
May 19
Parang Maya : Perang Santet di Tanah Dayak

Bab 6 : Hanjaliwan

@IDN_Horor @P_C_HORROR @ceritaht

#ceritahoror #ceritahorror #ceritaseram #malamjumat #kalimantan
"Jangan libatkan dia! Siapa kamu? Kenapa mengenalku!?" hardik pak Salundik.

Mahluk yang bersemayan di tubuh Bawi kembali tertawa melengking.

"Apa yang kau ambil harus dikembalikan. Yang ditawarkan tidak bisa ditarik lagi. Adat diisi, janji dilabuh.
Wahai Salundik, manusia pilihan Sangiang. Kik...kik...kik..."

Pak Salundik tersentak, lalu mundur dua langkah. Matanya melotot-lotot karena kaget.

"Kasno, sudah saatnya kita pulang!"
Read 42 tweets
May 17
Parang Maya : Perang Santet di Tanah Dayak

Bab 5 : Behas Bahenda

@IDN_Horor @P_C_HORROR @ceritaht
#bacahorror
#bacahoror
#ceritahorror
#kalimantan #borneo
Jangan lupa bantu retweet yak. Image
Aku gusar dengan perilaku pak Salundik. Sebagai laki-laki, ia terlalu pengecut. Tidak ada sedikitpun perasaan kasihan kepada Bawi.

Gadis kecil itu, pasti berharap ada yang bisa menolongnya.
Saat ini, jiwanya yang rapuh tengah tersesat di belantara yang luas, kedinginan dan ketakutan.

"Pak, tidak bisakah diusahakan sesuatu?" Aku akhirnya angkat bicara.
Read 45 tweets
May 15
Parang Maya : Perang Santet di Tanah Dayak

Bab 4 : Bawi

@IDN_Horor
@P_C_HORROR

#bacahoror #bacahorror #ceritahoror #kalimantan #santet #kuyang
"Ia terpaksa kupasung karena mengamuk," tutur pak Gerson lemah.

Ia duduk bersandar pada dinding di sebelah pintu. Matanya berkaca-kaca penuh kesedihan.
"Enam bulan lalu, waktu itu aku sedang sibuk kampanye untuk mencalon lagi sebagai pambakal di desa ini. Sejak saat itu, putri kecilku mendadak bertingkah seperti orang hilang ingatan. Ia berprilaku layaknya binatang, memakan ayam mentah yang masih berdarah."
Read 39 tweets
May 12
Parang Maya : Perang Santet di Tanah Dayak

Bab 3 : Jiwa Yang Hilang

@IDN_Horor @P_C_HORROR @SamarindaUpdate

#ceritahoror #ceritahorror #horror #seram #kalimantan #borneo
"Besar juga nyalimu, Salundik. Rupanya, banyak juga "baju" yang kau bawa ke sini," kata lelaki itu dengan mata melotot.

Tak gentar, pak Salundik balas melotot.
"Dengar, aku tidak mengenalmu dan kemari bukan ingin cari perkara. Tapi kau tahu siapa namaku, artinya kau tahu siapa aku. Setetes saja darahku mengalir di sini, maka akan kupastikan desa ini sesuai namanya, desa sungai darah. Kurasa, kau tak ingin berurusan dengan para Sangiang!
Read 49 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Don't want to be a Premium member but still want to support us?

Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal

Or Donate anonymously using crypto!

Ethereum

0xfe58350B80634f60Fa6Dc149a72b4DFbc17D341E copy

Bitcoin

3ATGMxNzCUFzxpMCHL5sWSt4DVtS8UqXpi copy

Thank you for your support!

Follow Us on Twitter!

:(