"Bang, lu meleng apa gimana, bisa nyusruk ke got kaya gitu?"
Dari gorong-gorong gelap pria korban kecelakaan itu nyengir, tak percaya harinya bisa seapes itu. "Gua lihat kuntilanak bang di rumah itu!"
Dan orang-orang di sekitarnya pun tertawa.
Saya akan menceritakan suatu fenomena yang menurut saya aneh bercampur lucu. Tentang kuntilanak yang kerap menampilkan wujudnya di balkon sebuah rumah di kawasan Pejaten.
Sebagian pembaca mungkin pernah mendengar kisah ini.
Kalau kamu dari arah Pejaten Barat/Kemang, lampu merah Republika, ambil lurus, Jalan Pejaten Raya. Sampai di pertigaan UNAS, ada convenience store tusuk sate (sebut saja namanya Famima). Nah, di situ kejadiannya.
Tetapi jangan salah. Store itu baru dibuka sekitar 2012 atau 2013. Sebelumnya digunakan oleh sebuah yayasan/organisasi Islam. Gue lupa ICC atau apa gitu.
Waktu dipakai yayasan, rumah itu masih bentuk aslinya. Rumah khas Pejaten/jaksel lah. Di samping sebagai kantor, tempat itu juga menampung beberapa anak. Mereka sekolah di luar. Namun secara umum bangunan itu dapat dikatakang lengang.
Saya enggak akan menceritakan detail bangunan dan aktivitas di sana. Fokus saya adalah balkon lantai 2 rumah itu yang menghadap Jalan Raya Pejaten.
Jadi, suatu malam tahun 2009, saya pulang dari kampus. Baru keluar, ada yang telepon. Maka saya berhenti di pertigaan. Saat itu belum terlalu malam. Kira-kira masih jam 10. Keadaan sekitar juga masih ramai.
Selesai telepon saya berencana lanjut perjalanan. Enggak sengaja saya mendongak persis ke balkon bangunan yayasan itu. Tampak sesosok wanita, wujudnya cukup jelas, berdaster, sedang mengitari balkon dengan langkah kecil. Ya, seperti wanita umumnya aja.
Di seberang rumah itu ada warkop legend, sampai sekarang masih ada. Banyak orang nongkrong di sana, termasuk saya dan kawan-kawan. Kalau ramai tongkrongan bisa meluber ke jalan. Jangan keliru ya, iniΒ bukan warkop gorengan anjing yang di pertigaan tanjakan itu.
Singkat kata, beberapa waktu kemudian saya nongkrong di warkop itu, ndelosor di jalan gardu yang yang ada di sebelahnya. Nah, mata saya seliweran lagi sampai berhenti di balkon rumah itu. Lampu balkon kebetulan gak nyala. Tapi saya kembali melihat sosok wanita di atas sana.
Saya enggak bisa melihat dia dari depan, karena dia membelakangi jalan sambil memegangi besi balkon. Saya penasaran, jadi terus melihat ke situ. Ngapain udah hampir subuh dia cari angin sendirian.
Tiba-tiba kakak angkatan saya negur, "Woi, ngapain lo lihat-lihat ke sana?"
Saya jawab seadanya, melihat perempuan itu. Dan saya juga bilang beberapa waktu lalu pernah melihatnya di tempat itu.
"Itu kuntilanak, pe'ak," kata senior saya sambil terkekeh.
"Halah, ngarang. Mana mungkin kuntilanak vulgar begitu."
"Serius, lo perhatiin aja kalau enggak percaya, lama-lama juga ngilang."
Karena enggak percaya, saya buktiin. Ternyata benar, lama kelamaan dia lenyap tiba-tiba.
Saya lapor dong ke senior, "Wah, bang, benar lu bilang, tau-tau ngilang dia."
"Emang begitu. Udah dari dulu dia nongkrong di situ. Dari gua semester satu juga udah ada."
Usut punya usut, teman-teman saya seangkatan sebagiannya juga ada yang lebih dulu tahu soal itu. Dan seperti senior saya yang tadi, mereka cuek aja.
Meski sukar dipercaya, saya jadi lebih sering melihat perempuan itu. Orang-orang menyebutnya kuntilanak balkon. Dia bisa muncul kapan saja dan pergi semaunya. Kadangkala dia bertingkah sok manis, duduk di tembok balkon dengan kaki menjuntai. Kakinya bahkan suka bergoyang.
Dan konyolnya, seturut pengalaman saya, saat lagi nongkrong gitu dan si kunti muncul, semua teman saya juga bisa melihat dia. Pokoknya tanpa pandang bulu, tidak pilih kasih, sama rata sama rasa, egaliter dan menjunjung tinggi prinsip equality before the ghost.
Biasanya penampakan jin cuma bisa dilihat sebagian orang dalam perkumpulan. Tapi itu gak berlaku buat kuntinalak balkon. Dia mungkin gak mau satu-dua orang dituduh skizofrenia paranoid gara-gara kehadirannya, jadi dia berbuat adil.
Maka saya menyimpulkan, kuntilanak balkon itu adalah sosok yang terpelajar, setidaknya membaca Pram, karena dia adil sejak dalam pikiran apalagi perbuatan.
Namun, sewaktu-waktu kemunculan perempuan itu juga mendatangkan kesulitan. Ada saja orang asing yang lari ketakutan atau lebih parah lagi menyebabkan kecelakaan kendaraan.
Pertigaan UNAS itu berdempetan juga dengan tikungan agak tajam. Saya beberapa kali melihat kecelakaan sepeda motor. Ada yang fatal, ada yang ringan. Kebanyakan karena faktor lengah, over dosis dumolid, atau memang apes.
Tapi sekali malam ada sebuah kecelakaan yang kelihatannya serius. Motornya berguling-guling, orangnya terpental dan naasnya nyemplung ke selokan atau gorong-gorong yang agak dalam dan lebar.
Semua orang berusaha menolong sembari berharap ia baik-baik saja.
Saat diintip, syukurlah, pengemudi motor itu bergerak, bahkan sanggup berdiri sendiri. Hanya mukanya saja hitam lantaran gelap dan mungkin berlumur lumpur.
Itu ajaib, sebab kecelakaannya terlihat mengerikan, tetapi orangnya masih sehat. Jadi, teman saya bertanya,
"Bang, lu meleng apa gimana, bisa nyusruk ke got kaya gitu?"
Dari gorong-gorong gelap pria korban kecelakaan itu nyengir, tak percaya harinya bisa seapes itu. "Gua lihat kuntilanak bang di rumah itu!"
Dan orang-orang di sekitarnya pun tertawa.
Tahun 2012 atau 2013 rumah itu beralih fungsi jadi store. Meja dan kursi di mana-mana, di lantai satu dan dua. Lampunya bukan main terang, ramai pengunjung melebihi pasar, apalagi setelah ada kopi susu gula aren. Sejak itu kuntilanak balkon tak pernah lagi muncul.
Apakah saya sedang merindukannya?
-Tamat-
Untuk yang mau berbagi pengalaman horror silakan dm ya.
β’ β’ β’
Missing some Tweet in this thread? You can try to
force a refresh
Jin berwujud perempuan ada di mana-mana. Maksudnya, di banyak negara juga kenal yang bentuknya spt itu. Beda nama dan mungkin asal usul yang memperkuat itu aja. Termasuk juga fenomena lain, misalnya hantu lain atau kutukan, mereka pun percaya.
Film incantation kan dari Taiwan, tetangga hongkong. True events itu. Jadi, di manapun ada. Gimana baiknya kalau kebetulan berinteraksi/diganggu mereka? Hm, tiap orang punya sikapnya sendiri sih. Tapi kalau saya pribadi berusaha cuek. Gak usah ditanggepin.
Pokoknya sabodo teuing lah. Jin biasanya mengganggu secara bertahap. Pertama gak langsung heboh. Cuma tanda2 kecil, gejala. Pengalaman saya, semakin merespon, mereka semakin ada.
Agar mempersingkat waktu, ceritanya kuringkas seperti ini.
Sore itu aku berkenalan di aplikasi dengan seorang pria muda yang kelihatannya menarik. Tak hanya itu, ternyata ia punya hobi yang sama denganku. Maka tak lama kemudian kami bertemu.
Lelaki itu pergi kedalam bus setelah mengutarakan alasannya bahwa badannya sedang tidak terlalu kuat digigit udara dingin. Aku tak beranjak dari tempatku memandangi lapangan. Terkilas lagi suara anak kecil tadi. Siapakah dia?
Awak bus terlalu lama untuk dapat memastikan kapan armada kembali melaju. Telah satu jam berlalu. Supir dan keneknya masih bersekongkol dengan perkakasnya.