Profile picture
Brii.. @BriiStory
, 116 tweets, 15 min read Read on Twitter
Malam ini kita kembali ke #rumahteteh ya..

Masih akan membahas cerita dari sudut pandang Sisi dan Memi, beberapa pertanyaan akan terjawab.

Kali ini gak terlalu seram kok, tenang aja. Kalo kata Teh Lena, "Jangan takut..."

Yuk mulai..

#memetwit
@InfoMemeTwit
Oh iya, supaya lebih masuk ke dalam cerita, gw rekomendasikan untuk sambil mendengarkan musik di bawah..
Akan lebih syahdu jadinya..
Beberapa hari kemudian om Aan dan tante Lusi datang ke Bandung, tentu saja untuk membicarakan niat mereka untuk membeli rumah.

Dari awal, mereka memang menyerahkan sepenuhnya pemilihan rumah yang akan dibeli kepada Sisi dan Memi, hanya mengikuti kemauan kedua anaknya.

Tapi tentu saja, mereka ingin datang mengunjungi rumah itu terlebih dahulu, rumah yang sudah membuat Memi dan Sisi jatuh hati.

***
Pak Trisno sudah menunggu di depan rumah ketika tante Lusi, om Aan, Memi, dan Sisi akhirnya tiba, dengan senyum khasnya pak Trisno menyambut dengan ramah.

Setelah dipersilahkan masuk, mereka berbincang di dalam rumah, di ruang tengah.
Rumah sudah dalam keadaan bersih dan rapih, sangat berbeda keadaannya dengan waktu Sisi dan Memi pertama kali datang, sepertinya pak Trisno sudah membersihkan dan merapihkannya terlebih dahulu.
“Pak, rumahnya bersih sekali ya, senang melihatnya. Dan di beberapa sudut rumah tercium wangi bunga, memang ada tanaman bunga di sekitar sini ya Pak?” Tante Lusi membuka perbincangan ketika mereka selesai berkeliling.
“Oh, memang ada beberapa tanaman bunga di taman belakang Bu. Dan ditambah juga saya tadi menyemprotkan parfum aroma bunga, supaya segar saja.” Jawab pak Trisno.
Sisi melihat ada gelagat yang aneh dari pak Trisno ketika menjawab pertanyaan tante Lusi, dia terlihat gugup dan gelagapan, seperti gak siap dengan jawaban dari pertanyaan itu.
Memang, menurut Sisi dan memi, di rumah itu beberapa kali tercium aroma wangi bunga yang hanya selintas kemudian menghilang, di beberapa sudut ruangan.

Wangi bunga yang mereka gak tau wangi dari bunga apa.
Dan benar apa yang dikatakan oleh pak Trisno, di taman belakang memang ada beberapa tanaman bunga, tapi wanginya gak seperti wangi yang ada di dalam rumah.

Memi dan Sisi gak terlalu memikirkan hal itu, mereka sudah terlanjur jatuh cinta dengan rumahnya.

**
"Oke pak, atas dasar keinginan anak-anak, kami setuju membeli rumah ini. Pertemuan berikutnya kita sudah bisa transaksi ya Pak, surat-surat dan dokumen yang terkait dengan rumah ini mohon pak Trisno siapkan semuanya, supaya transaksi dapat berjalan lancar dan cepat selesai.”
Senyum om Aan mengiringi kalimat panjang yang keluar dari mulutnya, kalimat yang menyatakan bahwa mereka setuju untuk membeli rumah itu.

Pak Trisno tersenyum sumringah mendengarnya, terlihat ada beban yang lepas dari pundaknya.

Setelah itu mereka pamit pulang.

**
Beberapa hari kemudian transaksi jual beli selesai dilaksanakan di depan notaris dan pihak berwenang lainnya. Pada hari itu pula, om Aan dan keluarga dinyatakan sah sebagai pemilik rumah.

Mulai saat itu, Sisi dan Memi menjadi penghuni di rumah baru,

Rumah teteh..

***
Gak membutuhkan waktu lama bagi Memi dan Sisi untuk memutuskan kapan untuk pindah ke rumah baru, mereka sangat bersemangat.

Sekitar satu minggu setelah proses jual beli, mereka sudah mulai pindah. Gak ada bantuan dari siapapun pada prosesnya, mereka melakukannya sendirian.
Kebetulan juga, gak ada perbaikan besar yang dibutuhkan, pak Trisno sebagai pemilik rumah sebelumnya, dengan baik hati melakukan perbaikan-perbaikan yang diperlukan sebelum proses jual beli selesai. Sisi dan memi tinggal menempatinya saja, sudah siap semuanya.
Waktu itu sabtu sore, ketika mereka berdua akhirnya selesai malaksanakan pindahan, semua barang-barang sudah berada di tempatnya masing-masing, belum terlalu rapih namun sudah cukup buat Sisi dan Memi bermalam di rumah baru.
Sejak awal, mereka sudah memutuskan untuk tinggal di lantai atas, yang terdiri dari dua kamar, dengan balkon depan memanjang di depannya.

Lantai bawah dibiarkan tetap kosong sampai ada penghuni yang menempati sebagai tempat kost nantinya.
Tapi, lantai atas hanya memiliki satu toilet, yang berada di dalam salah satu kamar, yaitu kamar Sisi, itulah salah satu alasannya kenapa kamar Sisi ukurannya lebih besar dari pada kamar Memi.
Malam harinya, sekitar jam delapan, karena cukup melelahkan hari itu, membuat Sisi memutuskan beristirahat sejenak dengan duduk di atas balkon di depan kamarnya.

Yang Sisi tahu, Memi ada di dalam kamar dari selepas maghrib tadi, dan gak terlihat keluar dari kamarnya setelah itu.
Pemandangan dari balkon lantai atas ini cukup bagus, posisi rumah yang sedikit lebih tinggi dari bangunan lainnya membuat sudut pandang dari tempat ini cukup luas dan jauh.
Duduk membelakangi kamarnya, menghadap ke depan dengan mengangkat kaki, ditemani secangkir teh hangat, Sisi sangat menikmati malam minggu itu.

Udara dingin Bandung menambah suasana menjadi semakin syahdu, semakin dalam Sisi tenggelam dalam lamunan yang menyenangkan.
Dia sangat menikmati rumah barunya..

Tapi tiba-tiba, “Brakk..”

Terdengar suara pintu tertutup dari arah belakang tempat Sisi duduk, dari dalam kamarnya, suara yang gak terlalu keras, tetapi cukup untuk membuyarkan lamunan Sisi.
Menoleh ke belakang, Sisi berkesimpulan kalau itu adalah suara pintu toilet, karena pintu masuk ke kamarnya, yang mengarah ke dalam rumah, terlihat terbuka.
“Memi bikin kaget aja deh..” dalam hati Sisi berkata seperti itu, meyakinkan diri kalau yang masuk ke dalam toilet adalah Memi, karena memang gak ada orang di dalam rumah selain mereka berdua.
Suasana kembali hening, gak terdengar juga suara aktivitas dari dalam toilet, benar-benar sepi.

Sambil menunggu Memi keluar dari dalam toilet, Sisi melanjutkan lamunannya.
Namun nyaris 30 menit berlalu, Memi belum juga keluar.

“Lama banget Memi di dalam toilet..” Gumam Sisi dalam hati.

Wangi bunga tiba-tiba menyergap penciumannya, wangi bunga yang Sisi sudah mulai hapal dan terbiasa menciumnya.
Dari pagi ketika baru datang, Sisi dan memi beberapa kali mencium wangi yang sama, aroma yang juga tercium ketika mereka pertama kali survey ke rumah ini.
Sisi belum terlalu memikirkan tentang hal ini, karena dia pikir mungkin wangi bunga itu bersumber dari halaman tetangga rumah, belum ada pikiran macam-macam.
Tiba-tiba ponsel yang ada di meja berbunyi, tertulis “Mama” pada layarnya.

Kemudian Sisi terlibat percakapan dengan sang mama. Dia sangat senang berbincang dengan tante Lusi, dia menceritakan kegiatannya bersama Memi sedari pagi menyelesaikan pindahan rumah.
Gak lama kemudian, Memi muncul dari dalam kamarnya, dan duduk di sebelah Sisi.

“Kak, aku mau ngomong sama mama dong.”

Sisi langsung memberikan ponselnya, kemudian pembicaraan dilanjutkan oleh Memi.
Aneh, kenapa Memi malah muncul dari dalam kamarnya sendiri? Kenapa gak keluar dari pintu kamar Sisi?
“Dek, kamu di toilet lama benget sih.” Sisi membuka obrolan dengan pertanyaan, setelah Memi selesai melakukan perbincangan telpon.

“Aku gak ke toilet kak, aku baru bangun tidur terus langsung ke depan sini, karena mendengar kakak berbincang dengan mama lewat telpon.”
Jawaban Memi sedikit mengejutkan..

Ah mungkin tadi pintu toilet tertutup karena tertiup angin, begitu pikir Sisi mencoba berpikir positif.

Mereka berdua berlanjut berbincang sampai larut malam.
Walaupun kakak beradik, yang nyaris selalu bertemu setiap hari, tapi mereka selalu memiliki bahan perbincangan yang seru, seperti teman akrab.

Tapi akhirnya, sekitar jam sebelas malam, mereka memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya masing-masing.
Selesailah hari pertama mereka tinggal di rumah baru. Gak ada kejadian aneh yang mereka rasakan, hanya semerbak wangi bunga dan pintu toilet yang tertutup karena (mungkin) tertiup angin.

***
Hari kedua dan hari-hari selanjutnya, mereka masih akan tetap hanya berdua tinggal di rumah itu, mencoba semampunya untuk melakukan pekerjaan rumah oleh mereka sendiri, tanpa bantuan orang lain.

Suasana rumah yang sangat nyaman, membuat mereka semakin betah menempatinya.
Oh iya, satu minggu setelah tinggal di situ, mereka mengadakan pengajian. Dengan bantuan dari Pak RT setempat, mereka mengundang para tetangga dan beberapa anak yatim dari panti asuhan yang letaknya gak terlalu jauh.

Acara pengajian berjalan cukup lancar, gak ada kendala apapun.
Pada acara pengajian inilah Rudi mengetahui kalau rumah ini akan dijadikan sebagai tempat kost untuk sisa kamar yang kosong.

Kebetulan, Rudi tinggal persis di depan rumah, dia datang memenuhi undangan pengajian mewakili keluarganya.
Ingat Rudi kan? Rudi adalah teman kuliah yang memberitahu gw dan teman-teman tentang rumah ini, rumah yang akan dijadikan sebagai tempat kost.

Sebagai tetangga yang sangat dekat letaknya, Memi, Sisi, dan Rudi terlibat perbincangan setelah pengajian.
Disamping memperkenalkan diri, Sisi juga banyak bertanya mengenai rumah barunya kepada Rudi, menanyakan keadaan rumah sebelum mereka tempati. Rudi menjawab pertanyaan sebisa yang dia tahu, gak kurang gak lebih, seadanya saja.
Tapi tentu saja, ada beberapa informasi yang Rudi tahu, tapi gak dia ceritakan kepada mereka.

Beberapa informasi yang nantinya cukup bisa membuat Memi dan Sisi cemas. Rudi gak mau membuat mereka ketakutan, akhirnya memilih untuk gak menceritakan semuanya.
Pada awalnya, Memi dan Sisi berencana untuk hanya menerima penghuni kost wanita, mereka membicarakan hal itu kepada Rudi.

Tapi ternyata Rudi menyarankan sebaliknya, dia menyarankan agar hanya menerima kost pria, dengan alasan agar mereka berdua ada yang menjaga di rumah itu.
Perbincangan akhirnya mengarah kepada pembahasan tentang kami, karena Rudi tahu kalau gw dan teman-teman sedang mencari rumah untuk dijadikan tempat kost bersama.
Rudi memberikan rekomendasi yang baik tentang kami, karena memang sudah kenal lama dan kebetulan satu kampus.

Sisi dan Memi bilang akan mempertimbangkan saran dari Rudi.
Kemudian selesailah perbincangan malam itu.

***
Setelah selesai membereskan rumah, Memi dan Sisi bersantai sejenak di tempat favorit mereka, balkon atas.
Waktu itu hampir jam sebelas malam, perbincangan diiringi oleh gerimis kecil yang membuat udara semakin dingin. Teh hangat di tangan Sisi dan kopi di tangan Memi, menemani mereka melepas lelah.

Saran dari Rudi menjadi topik pembahasan, yang kemudian menjadi pertimbangan mereka.
Memi setuju dengan Rudi, dia pikir kalau ada lelaki di dalam rumah dapat menambah rasa aman.

Sedangkan Sisi masih merasa lebih baik jika perempuan saja yang jadi penghuni kost, dengan pertimbangan wanita akan lebih cocok dengan mereka.
Tapi pada akhirnya, pembahasan itu gak tuntas, keburu kantuk datang, dan mereka memutuskan untuk tidur, kemudian masuk ke dalam kamarnya masing-masing.

***
Jam 12 tengah malam, Sisi masih terjaga, kantuk belum datang juga. Lampu kamar sengaja dibiarkan menyala, karena memang dia gak terbiasa tidur dalam keadaan gelap.
Suara gerimis hujan masih terdengar dari luar, gerimis yang membuat suasana malam semakin dingin terasa. Sisi gak mendengar suara apapun dari kamar Memi, yang membuatnya beranggapan kalau adiknya sudah lelap dalam tidurnya.
Tapi ketika sedang asik melamun dalam keheningan, tiba-tiba wangi bunga tercium lagi..

Wangi bunga yang sangat khas, yang sudah sering kali tercium di rumah ini.

Pada saat itu Sisi mulai penasaran, dari mana sebenarnya wangi bunga ini berasal.
Bangkit dari tempat tidurnya, Sisi berjalan mendekati pintu. Di situ, wangi bunga semakin jelas tercium. Perlahan Sisi kemudian membuka pintu.

Setelah pintu terbuka, terlihat lorong depan kamar yang temaram, lampunya memang sengaja dimatikan sejak mereka masuk ke dalam kamar.
Di lorong, sisi merasa kalau wangi bunga itu semakin kuat, semakin tajam baunya.

Melangkahkan kaki keluar kamar, Sisi berjalan menuju tangga, mengikuti kemana penciumannya membawanya.
Langkan Sisi terhenti di depan dua kursi kayu di ujung lorong, dia menoleh ke arah tangga, melihat ke bawah.

Lorong tangga yang gelap membuatnya semakin penasaran, kemudian dia memutuskan untuk berjalan menuruni tangga.

Wangi bunga masih tercium, tetapi mulai samar.
Ketika tangga sudah berbelok ke kanan, dari situ Sisi sudah dapat melihat ke lantai bawah.

Ruang tengah yang gelap, hanya secercah cahaya dari luar yang membantu Sisi melihat sebagian ruangan.
Di tengah tangga Sisi berdiri cukup lama, dia merasakan kalau wangi bunga manghilang, gak tercium lagi.

Ini yang membuat Sisi berpikir kalau wangi bunga itu sumbernya bukan dari bawah, tapi dari lantai atas.
Sisi mulai melangkah kembali ke lantai atas.

Perlahan dia langkahkan kakinya pada anak tangga satu persatu..

Pada anak tangga terakhir, wanginya kembali muncul menyeruak, Sisi kembali menghentikan langkahnya.
Dia semakin penasaran dengan sumbernya, berpikir keras untuk bisa menemukan jawaban.

Kembali dia melangkahkan kakinya, mengikuti aroma khas yang semakin kuat.

Beberapa detik kemudian langkahnya kembali terhenti, kali ini Sisi berhenti tepat di depan pintu kamar Memi.
Sisi merasakan kalau wangi bunga itu ternyata tercium sangat kuat di depan kamar Memi.

Berdiri menghadap pintu, Sisi diam membisu, mencoba menajamkan indera penciumannya. Sangat jelas, dia menjadi sangat yakin kalau sember wangi yang tercium berasal dari kamar Memi.
“Memi..” Sisi mencoba memanggil nama adiknya.

Gak ada respon dari dalam..

Wangi bunga semakin kuat..

Perasaan Sisi mulai gak enak, saat dia mulai merasakan ada yang aneh.
Perlahan, dia memberanikan diri untuk membuka pintu kamar Memi.

Sedikit demi sedikit pintu mulai terbuka..

Bagian dalam kamar mulai sedikit terlihat. Berbeda dengan Sisi, kebiasaan Memi adalah tidur dengan mematikan semua lampu, kamar dalam keadaan gelap.
Sebagian ruangan kamar sudah terlihat ketika pintu sudah terbuka setengah, dibantu dengan penerangan yang seadanya, hanya cahaya dari luar yang masuk melalui sela-sela jendela.

Kembali Sisi mendorong pintu perlahan agar terbuka sepenuhnya..

Sangat perlahan..
Suara engsel pintu yang berderit pelan terdengar, menambah mencekamnya suasana saat itu..

"Memi..." Sekali lagi Sisi memanggil nama adiknya..

Belum ada respon juga dari Memi..
Tiba-tiba..

Sisi terdiam terpana, berdiri kaku gak bisa bergerak,

Itu terjadi ketika dia pada akhirnya dapat melihat dengan jelas seluruh isi kamar..

Sisi ketakutan, jantungnya berdegup kencang..
Dia melihat sang adik tertidur lelap di atas tempat tidur, di balik selimut yang nyaris menutupi seluruh tubuh.

Bukan..

Tapi bukan itu yang menyebabkan Sisi merinding dalam ketakutan, ada hal lain..
Sisi melihat pemandangan yang cukup menyeramkan, dia melihat ada sosok perempuan yang berdiri tepat di samping tempat tidur..

Sosok itu berdiri diam menghadap ke arah tempat Memi terbaring, yang masih larut dalam mimpinya
Perempuan berambut panjang, berpakaian baju terusan warna putih dan bermotif bunga.

Di temaramnya cahaya, Sisi dapat melihat wajahnya, Sisi mengenali wajah itu..

Sisi kaget namun gak bisa berbuat apa-apa..
Itu adalah perempuan yang pernah Sisi temui sebelumnya, perempuan yang memberitahu tentang rumah ini ketika motor mogok tempo hari.

Tiba-tiba, perlahan perempuan itu menolehkan wajahnya ke arah tempat Sisi berdiri..
Sisi gak bisa berbuat apapun, tubuhnya terpaku gak bisa bergerak, sama sekali..

Kemudian dia tersenyum, wajah cantiknya terlihat pucat, walaupun gerai rambut panjang menutupi sebagian wajahnya..
Beberapa detik mereka saling berpandangan..

Sisi memaksa diri untuk tersenyum, walau dia yakin kalau sosok di hadapannya itu bukan manusia..

Sisi ingin berteriak untuk membangunkan Memi, namun tenggorokannya tercekat gak bisa mengeluarkan suara sedikitpun.
Kemudian perempuan itu terlihat seperti berbicara, seperti ingin menyampaikan sesuatu.

Sisi berusaha untuk menangkap apa yang hendak dikatakan perempuan itu, karena Sisi hanya dapat melihat gerakan bibirnya saja, tanpa mengeluarkan suara..
Beberapa detik kemudian, Sisi akhirnya dapat menangkap apa yang coba sosok katakan..

“Jangan takut..”,

Begitu ucapnya sambil tersenyum..

Sisi masih terdiam gak bergerak, ketika kemudian secara perlahan perempuan itu mulai menghilang,..
Menghilang dalam remang dan gelapnya kamar Memi..
Sisi langsung menutup pintu kamar dan masuk ke dalam kamarnya sendiri, meninggalkan Memi yang masih terlelap dalam tidurnya.

Setelah itu Sisi menghabiskan malam dalam ketakutan, mengunci pintu dari dalam dan menutup semua jendela, lampu dibiarkan menyala sampai pagi menjelang.
Banyak pertanyaan di dalam benaknya, siapa perempuan itu?,

bukankah dia yang pertama kali memberitahu kalau rumah ini akan dijual?,

kenapa dia mengucapkan “Jangan takut..”?.
Pertanyaan-pertanyaan itu menghantuinya sepanjang malam, sampai akhirnya suara orang mengaji mulai terdengar dari kejauhan, perlahan membuatnya sedikit demi sedikit menjadi tenang.

Kemudian Sisi terlelap..

***
Kejadian yang terjadi pada malam itu gak Sisi ceritakan kepada Memi, memutuskan untuk menyimpannya sendiri, Sisi gak mau nantinya membuat Memi ketakutan.
Pertanyaan-pertanyaan tetap ada di dalam kepalanya, pertanyaan tentang keberadaan perempuan itu.

Dalam hati Sisi berharap beliau gak akan mengganggu mereka nantinya, dan gak pernah muncul lagi sosoknya.
Tapi harapan tinggal harapan, kenyataannya ternyata gak sesuai dengan apa yang diinginkan..

***
“Dek, setelah kakak pikir-pikir, kakak akan ikut omongan kamu deh..”

Sisi membuka percakapan pada suatu siang. Waktu itu kondisi rumah sudah rapih dan bersih, lantai bawah maupun atas.
Setiap ruangan sudah memiliki perabot dasarnya masing-masing, tempat tidur, meja kursi, dan lemari pakaian. Sudah benar- benar siap untuk digunakan sebagai kamar kost.
Sebelumnya, Tante Lusi dan Om Aan sudah datang berkunjung, membiayai pembelian seluruh perlengkapan rumah. ketika rumah sudah benar-benar layak isi, mereka pulang.
“Omongan yang mana kak?” Memi sedikit bingung.

“Omongan yang kamu bilang kalau kita seharusnya menerima kost mahasiswa laki-laki saja, dari pada perempuan.”
“Kenapa kakak berubah pikiran?”

“Iya, setelah kakak pikir-pikir, kalau laki-laki nantinya bisa menjaga rumah ini lebih baik dari pada perempuan.” Jawab Sisi.

“Ya benar begitu kak. Jadi kakak setuju nih kalau kita terima mahasiswa aja?”
“Iya dek, kita terima kost mahasiswa saja deh.”

“Oke kak, kalau begitu nanti aku bilang ke Mas Rudi deh, kan kemarin dia bilang ada beberapa temannya yang sedang mencari kost-kostan” Memi menutup pembicaraan pada topik itu.
Sebenarnya, Sisi
mempertimbangkan hal lain tentang keputusannya untuk menerima kost mahasiswa, bukannya mahasiswi.
Dia memikirkan kejadian yang menimpanya beberapa hari sebelumnya, tentang sosok perempuan yang muncul di kamar Memi, yang sampai saat itu Sisi belum menemukan jawaban dari banyak pertanyaan pada benaknya.
Dia berpikir kalau menerima mahasiswa sebagai pengguna kost, nantinya mungkin akan lebih berani tinggal di rumah itu dari pada mahasiswi.

Itulah awalnya, ketika Sisi dan Memi pada akhirnya nanti akan bertemu dengan gw dan kawan-kawan.

***
Waktu itu malam jumat, Memi baru saja pulang kuliah. Jadwal kuliah yang padat dan kegiatan di luar kuliah yang harus dijalani memaksa dia untuk pulang cukup malam, hampir jam sebelas malam baru sampai di rumah.
Saat itu, gw dan teman-teman belum pindah ke rumah itu, jadi penghuninya masih hanya ada Sisi dan Memi.

Seperti biasa, Memi masuk melalui pintu depan. Lampu halaman menyala terang ketika datang, dan yang dia tahu, Sisi sudah ada di dalam rumah pada saat itu, di dalam kamarnya.
Setelah membuka pintu dan masuk, Memi duduk di sofa ruang tamu untuk melepas sepatu.

Ruang tamu sudah dalam keadaan gelap, hanya secercah cahaya lampu dari halaman yang masuk melalui sela-sela jendela yang membantu penglihatan.
Gak ada perasaan apa-apa, Memi melangkah masuk ke ruang tengah.

Sebelum naik ke lantai dua, dia memutuskan untuk ke dapur dahulu untuk mengambil air minum.

Sama dengan ruang tamu, ruang tengah juga sudah dalam keadaan temaram, hanya dibantu cahaya dari halaman belakang.
Berjalan ke dapur dengan letih sedikit lunglai, karena kondisi badan yang sudah cukup lelah..

Pada saat itulah tiba-tiba Memi mencium aroma bunga, tepat ketika dia sedang berada di depan lorong tangga yang menuju ke lantai dua.
Aroma bunga yang sebelumnya sudah pernah tercium olehnya, dan Sisi juga.

Aroma wangi bunga yang sampai detik itu dia belum tahu aroma bunga apa, tetapi tercium sangat wangi.

Gak terlalu ambil pusing, Memi melanjutkan jalan ke dapur.
Sesampainya di dapur, dia langsung membuka lemari es dan mengambil segelas air.

Cahaya yang keluar dari lemari es memantulkan sinar yang cukup membantunya untuk dapat melihat ke ruang tengah.
Hanya sekilas, tetapi Memi sempat melihat ada sosok perempuan yang berjalan keluar dari kamar yang letaknya di sebelah kamar mandi.

“Ah, Kakak ngapain sudah tengah malam begini masuk ke kamar bawah.” Sisi bergumam dalam hati sambil meminum air putih yang ada di tangannya.
Dari perawakan dan cara berjalannya, memi berpikir kalau perempuan itu adalah Sisi.

Setelah selesai minum, Memi melangkahkan kakinya keluar dapur, dan berniat untuk langsung naik ke lantai dua menuju kamarnya.
Aroma wangi bunga kembali tercium ketika dia mulai menginjakkan kakinya di depan lorong tangga.

Kali ini, perasaannya mulai gak enak, karena aromanya semakin tajam tercium ketika dia mulai melangkah naik.
Perlahan Memi menaiki anak tangga satu persatu, rasa takut perlahan mulai hinggap di pikirannya.

"Kak...?" Memi mencoba menenangkan diri dengan memanggil kakaknya,

Tapi gak ada jawaban..
Dia melanjutkan langkahnya, semakin pelan..

Perasaannya semakin gak enak, semakin berat langkah kakinya untuk menaiki tangga..
Dan benar saja, ketika Memi sudah sampai di depan lukisan bunga di tengah-tengah lorong tangga, dan dia mengikuti arah tangga yang berbelok ke arah kiri, dia melihat sesuatu..
Seperti yang sudah diceritakan di awal, di depan ujung tangga paling atas, ada kursi dan meja kayu yang letaknya juga persis di depan kamar.

Dan di kursi kayu itulah Memi melihat sesuatu..

Ada perempuan yang tengah duduk di kursi yang letaknya paling dekat dengan lorong tangga.
Perempuan itu duduk bersandar dengan wajah menatap lurus ke depan.

“Kak..?”,

Memi menghentikan langkahnya.

Mencoba memastikan, dan menyingkirkan keraguan yang sudah menyergap, Memi mencoba berpikir positif kalau itu adalah Sisi, kakaknya.
Tinggal beberapa anak tangga lagi sebenarnya Memi sudah sampai di lantai atas, dan bisa memastikan siapa perempuan yang tengah duduk di kursi itu.

Tapi, rasa takut memaksa dia untuk diam berdiri di tempatnya, ketika perempuan itu hanya diam gak bergerak ketika di panggil.
“Kak Sisi..?”, Memi kembali memanggil nama kakaknya untuk memastikan.

Tapi, secara perlahan tiba-tiba perempuan itu mulai menggerakkan wajahnya ke arah kiri, memalingkan wajahnya ke arah lorong tangga tempat Memi berdiri.
Dalam temaramnya cahaya ruangan, ketika perempuan itu sudah benar-benar dalam posisi menoleh ke arahnya, akhirnya Memi dapat melihat wajahnya..

Itu bukan Sisi..

Bukan kakaknya..
Perempuan itu lantas tersenyum, dengan wajah cantiknya yang terlihat pucat..

Memi gak balas tersenyum, dia hanya terdiam terkesima dengan pemandangan yang ada di hadapannya.

Banyak pertanyaan di benaknya, siapa dia? Kenapa dia duduk di situ?
Memi masih diam membeku, gak bisa menggerakkan badannya sedikitpun. Cukup lama keadaan itu berlangsung.

Kemudian perempuan itu perlahan berdiri.

Dengan baju panjang bermotif bunga, dia mulai berjalan ke arah depan, ke arah lorong kamar..
Kemudian menghilang dari sudut pandang tempat Memi berdiri.

Sosok perempuan itu menghilang, begitu juga aroma wangi bunga yang dari awal sudah mengiringi.
Ketika akhirnya sudah bisa menggerakkan kakinya, Memi gak melanjutkan langkahnya ke atas, dia memilih untuk turun kembali ke bawah, kemudian berlari menuju ruang tamu dan membuka pintu depan,

Dia keluar rumah..
Di teras, Memi mencoba menghubungi ponsel kakaknya.

“Kakak dimana?” Memi langsung menanyakan kebaradaan Sisi ketika telpon sudah tersambung.
“Kakak di rumah tante May, ponsel kamu gak bisa dihubungi dari tadi. Kakak gak berani di rumah sendirian.” Agak panjang Sisi menjelaskan keberadaannya dari ujung telpon.
“Ya sudah, kakak di situ aja. Aku ke rumah tante May juga sekarang.”

Selesailah percakapan singkat melalui telpon, setelah itu Memi langsung meluncur ke rumah tante May yang terletak di Buah Batu.
Sekian dulu episode #rumahteteh malam ini..

Masih banyak pertanyaan kan? Nanti akan terjawab semuanya..☺️

Met bobo, met istirahat..

Salam
~Brii~ ~Teteh~
Missing some Tweet in this thread?
You can try to force a refresh.

Like this thread? Get email updates or save it to PDF!

Subscribe to Brii..
Profile picture

Get real-time email alerts when new unrolls are available from this author!

This content may be removed anytime!

Twitter may remove this content at anytime, convert it as a PDF, save and print for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video

1) Follow Thread Reader App on Twitter so you can easily mention us!

2) Go to a Twitter thread (series of Tweets by the same owner) and mention us with a keyword "unroll" @threadreaderapp unroll

You can practice here first or read more on our help page!

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just three indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member and get exclusive features!

Premium member ($30.00/year)

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!