My Authors
Read all threads
Jaman SMA, temen sebangku meninggal karena kecelakaan. Dengan temen2, gue langsung ke rumahnya bawa handycam. Gue rekam suasananya, termasuk ayahnya yang menangis histeris. Juga wajah temen gue yang terbaring kaku.
Sampai rumah, videonya gue edit untuk dipertontonkan di sekolah. Bokap ngelihat apa yang gue edit. Dia cuma komen "Not, seumpama salah satu keluarga kita ada yg wafat terus ada orang yang merekam suasananya, diedit & dipertontonkan ke banyak orang. Gimana rasanya?"
Gue berkilah bahwa videonya dibuat murni untuk mengenang sang temen yg wafat. Bokap nanya lagi "Gimana rasanya suasana duka keluarga kita direkam & dipertontonkan ke banyak orang?"

Gue terdiam.
Sebagai seseorang yg punya latar belakang jurnalistik, bokap tidak perlu menjelaskan panjang lebar etika jurnalistik pada situasi berduka. Cukup menjelaskan dari sudut pandang empati.

Kaset itu akhirnya ngga pernah gue terusin untuk diedit, pun dipertontonkan.
Dari beliau juga gue belajar bagaimana menceritakan sebuah kisah duka dengan proper. "Jangan diungkap kesedihannya, tapi ungkap harapannya, masa depan keluarga yang ditinggalkannya. Ngga perlu visual nangis untuk membuat orang terharu."
Prinsip itu yang membawa beliau sebagai pemenang piala Citra 1982, saat membuat dokumentasi tentang pendiri Kompas PK Ojong yg wafat sebelumnya, dengan judul "Setitik Kenangan Segelombang Teladan"
Prinsip yang masih gue bawa sampai sekarang. Beberapa kali mengangkap kisah duka dari kerabat atau teman. Visualnya tidak ada sama sekali saat mereka sakit, pemakaman, wajah sedih dari kerabat yg ditinggalkan. Tapi senyum dari mereka yg wafat & yg ditinggalkan.
Dan ketika beliau wafat, dokumentasi foto & video saat-saat terakhir dilakukan keluarga inti: nyokap, gue & adik2 gue. Purposenya untuk arsip terbatas utk keluarga. Seperti ajaran beliau juga, dokumentasi & arsip tetep harus dilakukan dlm kondisi apa pun, termasuk berduka.
Tapi untuk kebutuhan publik, bukan materi foto atau video saat dikafankan & dimakamkan. Kami wanti2 kepada pelayat utk ngga unggah ke social media. Kami pun membagikan file foto resmi yg bisa digunakan. Salah satunya ini.
“Tidak perlu gambar orang nangis untuk membuat orang terharu. Cerita gambar harus utuh: ada kenangan ada harapan, ada masa lalu ada masa depan.” Terima kasih ajarannya, pak.
ralat: Sepercik Kenangan Segelombang Teladan
ralat lagi: Piala Citra FFI tahun 1981.

Duh kalau udah berdasar ingatan yg mulai soak ya gini ini. Sering salah info *ngikik*
Maaf ya pak.
Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh.

Enjoying this thread?

Keep Current with Pinot

Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

Twitter may remove this content at anytime, convert it as a PDF, save and print for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video

1) Follow Thread Reader App on Twitter so you can easily mention us!

2) Go to a Twitter thread (series of Tweets by the same owner) and mention us with a keyword "unroll" @threadreaderapp unroll

You can practice here first or read more on our help page!

Follow Us on Twitter!

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just three indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3.00/month or $30.00/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!