, 398 tweets, 140 min read
My Authors
Read all threads
DI SUDUT

“Harus gelap sama sekali! Dalam beberapa saat matamu akan menyesuaikan. Terlentanglah di lantai. Tepukkan telapak tanganmu tiga kali ke bawah. Ke lantai. Tunggu sejenak, lalu berjongkoklah dan bungkukkan badanmu. Lihat di antara sesela kakimu.”

@bacahorror #bacahorror
@bacahorror Sebuah cangkir berisikan teh lemon diletakkan di meja. Berikutnya tabung V60 Aceh Gayo dan sebuah gelas kaca bening. Disusul sebuah gelas besar berisi air putih. Sebuah kertas tipis diletakkan di atas gelas air putih itu, supaya airnya tidak terkena debu.
@bacahorror “Ada lagi. Mbak?” Pria berseragam hitam berlogo kedai 5th coffe itu tersenyum tidak terpaksa. Gadis itu menggeleng dan mengucapkan terima kasih.

(OK sampai di sini aku lagi-lagi kudu bilang, bahwa semua tokoh dan tempat disamarkan. Yang bercerita kepadaku adalah gadis ini dan
@bacahorror aku mendapatkan beberapa tambahan sumber dari beberapa orang yang nanti mengetahui peristiwanya maupun yang mengetahui lokasinya)

“Snack mungkin? Ada French fries, mendoan, singkong keju, pisang bakar?”

Gadis itu menyangka senyatanya pria itu lebih ingin berlama-lama di mejanya
@bacahorror daripada benar-benar menawarkan menu. Dia menunjuk buku menu yang masih ada di atas meja dengan telunjuk kanannya, sambil terkikik kecil “Saya udah minta menunya ditinggal di sini kok tadi. Jadi kalau mau pesen lagi saya panggil masnya nanti ya.”

“Siap!” Masih dalam senyuman
@bacahorror serupa pria itu menggamit nampan aluminium itu di dadanya, lalu menampakkan dirinya hendak berbalik ke meja barista. Namun baru dua langkah pria itu berbalik kepadanya, “Ini sendirian?”

Gadis itu tertawa, “Iya… but… come on! What is it about, actually?”
@bacahorror (Serius! Ini ada apa sebenarnya?)
Pria itu menyungging senyum malu-malu, lalu tiba-tiba mencomot kursi sebelah sang gadis, mendudukinya, Meletakkan nampannya di atas meja, “Saya tadi taruhan sama teman saya barista lain itu…”

Sang gadis melihat pria yang dimaksud, pria seusia
@bacahorror dengan yang ada di depannya ini. Pria itu sedang mengelap coffee bar, sambil cengar-cengir geli. Mengetahui bahwa sang gadis melihatnya, kawan barista itu membuang muka sambil tetap cengengesan. Mengelap sisi meja yang lain.

“… saya harus bisa dapat nomor Mbaknya.!”
@bacahorror Gadis itu membuka rahangnya dan menggeleng-geleng, “What!”

Pria itu menampakkan wajah bersungguh-sungguh, “Usaha, Mbak. Usaha….”

“Im not that kinda girl, you know! (Aku bukan cewek macam itu). Mungkin masnya pikir apa yang mas lakukan itu lucu-lucuan, tapi enggak banget.”
@bacahorror Dia mengangkat tangan kirinya dan menunjukkan selingkar cincin di sana, “Im engaged (aku udah tunangan).” Dia menampakkan wajah serius. Pria itu menjadi nampak bersalah. Tapi tak selang beberapa detik, sang gadis tersenyum kembali dan tertawanya, “Sorry! Sorry! Aku kebawa terlalu
@bacahorror serius juga.” Gadis itu masih meneruskan tertawanya.

“Mas, kalau mau kenalan sama cewek tuh hari ini ada Instagram, Tinder. Cantik-cantik tuh. Banyak. Mau model apa pun juga ada. But you cant do this to any girl, you know. Put some respect and you will get it back. (Tapi kamu
@bacahorror gak bisa ngelakuin barusan ke sembarang cewek. Respeklah dan kamu bakal juga dihargai). Tapi sorry, hariku hari ini juga agak berat, jadinya aku agak gak bisa guyonan juga. Biasanya aku juga nganggep perkara gini ini enteng. Tapi kebawa masalah tadi siang jadinya uring-uringan.”
@bacahorror Gadis itu tertawa, “Sorry too much information, ya (Sorry, banyak omong, ya)”

Pria itu menundukkan kepalanya, “Maaf, Mbak! Gak bermaksud gak menghargai juga. Becandanya kami kelewatan.”

“No! No! No! Take it easy! Aku juga yang terlalu serius. Kenalan aja ya…” Ella tersenyum
@bacahorror mengulurkan tangannya, “Aku Ella.” Dan pria itu membalas uluran tangan Ella dan menjabatnya, menyebutkan namanya. Dia bangkit dari kursi, memajukannya kembali ke bibir meja. Dan bersiap pergi.

Ella memanggilnya, “Mas, bentar!” Dia membuka tasnya dan mengambil kertas yang
@bacahorror menutupi gelas air putih di depannya. Dia membuka handphonenya, menggeser layarnya beberapa kali. Lalu menuliskan sebaris nomor di sana. Ella memberikan nomor itu kepada sang pria. Pria itu menerimanya dengan sumringah sambil melirik kepada teman baristanya yang nampak mengumpat
@bacahorror ikut kegirangan.

“Itu nomor toko papa saya. BM di Jalan GM. Toko bangunan itu, tahu kan? Kalau masnya butuh semen, kayu, atau sekalian paku buat nyantet orang bisa hubungi nomor itu.”

Suara Ella jelas cukup keras, karena teman barista di coffee bar tertawa ngakak. Ella
@bacahorror tertawa keras juga, “Nanti tak bilangin sama papa, kalau yang beli masnya biar dikasih potongan!” Ella ngakak. Pria itu akhirnya ikut tertawa juga. Mukanya merah padam, tertawa dan malu sekaligus.

“Minta nomor anaknya dikasih bapaknya.” Dia melanjutkan, “Ya selama janur kuning
@bacahorror belum melengkung ya, Mbak. Siapa tahu jadi mertua.” Ella terpingkal semakin keras. Mengangguk-anggukkan kepalanya dengan keras sambil memegang perutnya.

“Makasih, calon istri...” Sambung sang pria, lalu melihat nomor yang ada di kertas itu, “Salam kenal, mertua.”
@bacahorror Dia mengangguk kepada Ella. Ella masih tertawa, begitu juga dengan teman barista. Ella mendegar kawan barista itu menggoblok-goblokkan kawannya itu. Ella mengganggukkan kepalanya kepada mereka berdua. Berusaha untuk berhenti tertawa. Dia mengambil cangkir yang berisi teh lemon.
@bacahorror Menyesapnya sedikit. Dia mengambil tisu, tertawa itu membuatnya sampai berkeringat.

Dia menggeser tabung V60, gelas kaca dan gelas air putih ke depannya. Minuman itu memang bukan untuknya. Dia tidak biasa minum kopi. Jantungnya akan berdebar-debar. Ketika itu sebuah motor
@bacahorror diparkir di depan kafe. Ella hapal bunyinya.

Seorang pria muda membawa tas ransel dengan rambut acak-acakan masuk. Duduk di kursi di depan V60 itu. Lalu meminum air putihnya. Pria yang baru datang itu mencari-cari sesuatu di dalam tasnya. Ella tersenyum nakal, dia mengangkat
@bacahorror tangannya dan menatap sejenak kepada barista yang tadi menggodanya. Dia menekuk jari-jarinya, kecuali jari manis di mana cincinnya berada. Memuntir-puntir cincin itu sejenak. Lalu meletakkan kembali tangannya di meja.

Ella bisa mendengar pria itu dan kawannya mengumpat-umpat
@bacahorror sambil tertawa. Lalu si pria barista itu mengatakan dengan keras, “Kena sliding sodara-sodara!” Suaranya cukup keras hingga membuat beberapa pengunjung kafe melihatnya. Beberapa orang yang melihat adegan Ella bersamanya ikut tertawa. Demikian juga tiga waiter yang duduk di meja
@bacahorror tersendiri di ujung kafe. Tetapi pria yang baru datang menatap pria itu dengan bingung dan menghadap kepada Ella.

“Kenapa?” Tanya Tio, si pria yang barusan datang. Ella menggeleng, “Gak apa-apa.”

Cincin yang dikenakan di jari manis itu jelas bukan cincin dari Tio. Mereka
@bacahorror berdua masih sama-sama mahasiswa, tidak akan cukup kuat untuk membeli cincin serupa itu dari uang saku mereka. Cincin itu diberikan ibunya beberapa tahun lalu ketika ulang tahunnya ke-17. Menandai bahwa dia sudah gadis dewasa dan setelah ini harus bisa menjaga dirinya.
@bacahorror Apalagi perempuan, tanggung jawab menjaga diri menjadi kewajiban yang sering kali lebih berat daripada laki-laki. Tapi cincin itu bisa digunakannya untuk mengelabui orang-orang yang menggoda dan mengganggunya. Kalau bisa berguna untuk tujuan lain, mengapa tidak?
@bacahorror “Tumben ngajak sini. Mahal kan?” Tanya Ella.

Tio tersenyum, “Awal bulan. Lagian 5th coffee itu masih harga Indonesia kok. Masih harga mahasiswa. Biar kamu pernah ke tempat yang sering kuceritain. Lagian ini kan malah lebih dekat ke rumah kamu. Keliling-keliling, Non!
@bacahorror Kalau pulang jangan di rumah aja. Dolannya malah ke tempat-tempat lain, kotanya sendiri gak dijelajahi.”

“Idih ngapain main ke tempat-tempat ngopi gini? Lagian di M ada apa? Adanya cuma waduk sama air terjun. Kamu janji ngajak naik Gunung W juga sampai sekarang gak
@bacahorror kejadian-kejadian.” Ella memberondong. Tio hanya tertawa kecil saja, “Minggu depan aja kita ke W, aku janji.”

Kota M bukan kota besar. Kota itu merupakan kota persinggahan dari perjalanan ke Timur dan ke Barat. Namun, bukan kota yang sangat ramai.

“Mau makan di sini sekalian?”
@bacahorror Tanya Ella. “Teh lemonnya enak banget. Manisnya Pas.” Tapi dia lalu menahan perkataannya sejenak. Melihat wajah Tio sebentar, apakah ada yang berubah dari wajahnya. Ternyata tidak, Ella lalu melanjutkan, “Tapi aku lihat gak ada makanan berat, ada snack gitu doang. Kelihatannya
@bacahorror dagangan utamanya emang kopi.”

Tio mengambil buku menu yang disediakan, “Ada nih spaghetti sama pasta-pastaan.”

Ella menggeleng, “Gak deh, perutku perut Indonesia. Cari pecel lele aja nanti sambil ke tempat yang kamu bilang kemarin.”

“Jadi mau ke sana sekarang.”
@bacahorror “Jadilah! Lihat nih!” Dia menunjukkan dirinya yang berkaus longgar berlapis sweater rajut dengan leher yang luas hingga ke bahu dan jeans tiga per empat. “Siap bertualang!”

“Bukan petualangan kali. Aku bantu Pak No di sana. Dia baru beli rumah itu. Masih diberes-bereskan.
@bacahorror Aku bantu-bantu sedikit. Lumayan nambah-nambah duit kalau buat pas kepepet. Bisa buat nonton CGV.”

Ella melihatnya. Menghembuskan napas, “Udah lah kalau buat acara begitu-begitu biar aku aja. Kamu simpen duit kamu. Kan sayang juga, dapetnya berapa keluar berapa. Dihemat.”
@bacahorror Tio menatap sekeliling kafe. Kafe itu sebenarnya tak terlalu besar. Ruangannya hanya sekitar 10 x 10 meter, ditata dengan apik. Tidak kalah dengan kafe-kafe lain di kota-kota besar.

Pemilik kafe itu seorang kawannya. Tio selalu menceritakan kawan pemilik kafe ini dengan cara
@bacahorror khusus, dia masih muda tetapi sudah berani berwirausaha. Ella tahu sebenarnya Tio tidak cukup percaya diri, selalu menbandingkan dirinya dengan kawannya itu. Ella selalu mengatakan, “Orang tuanya kan mampu. Modalnya ada. Ya gak usah membanding-bandingkan lah!” Tapi Tio adalah
@bacahorror Tio. Ella menyukainya karena dia pria yang berdaya juang, apa saja dilakukan untuk hidup. Jenis-jenis pri yang tak banyak bicara tapi banyak kerja. Hingga membuat dia berkesan misterius. Itu yang membuat dia banyak disukai oleh teman-teman di kampusnya. Bahkan hingga hari ini
@bacahorror Ella merasa banyak sisi dari kekasihnya itu yang belum benar-benar dia pahami.

Ella dan Tio sendiri tidak berasal dari kampus yang sama, Tio berkuliah di M, sedangkan Ella kuliah di Y. Mereka hanya bisa bertemu kalau Jumat sore-Minggu. Perjumpaan mereka terjadi ketika ada
@bacahorror Book Fair di Y. Tio datang ke Book Fair itu sedang Ella menjaga salah satu stand buku dari penerbit yang cukup terkenal. Ella bisa membaca bahwa pria yang datang ke standnya itu cerdas. Penyataan-pernyataan bernas diungkapkannya dalam pembicaraannya. Menjadikannya betah
@bacahorror berbicara lama. Hingga mereka sama-sama tahu bahwa mereka berasal dari M. Lama kelamaan mereka akhirnya dekat dan jadianlah. Peristiwa di kafe itu adalah lima bulan jadian mereka.

“Dia baru beli mesin roasting baru.” Ujar Tio.

Ella selalu kesal kalau Tio sudah mulai
@bacahorror berbicara tentang temannya itu. Karena jatuhnya dia lalu akan merasa dirinya tidak mampu, temannya hebat, dan dia tidak ada apa-apanya. “Habisin kopinya, cari makan aja yuk. Warung -warung depan kampus kamu itu makanannya enak-enak.” Ella sebenarnya mengatakan itu lebih sebagai
@bacahorror usahanya menjaga perasaan Tio.

“Ngapain buru-buru? Tempat gini enaknya buat santai.” Sang pria menatap sang perempuan, dia lalu angkat suara kembali, “Gak usah terlalu menjaga perasaanku juga. Aku ngerti kok.”

Ella mendesahkan napasnya, “Aku gak suka kalau kamu mulai
@bacahorror ngomongkan Bram. Pasti nanti gitu-gitu melulu, lalu jadi uring-uringan sendiri.”

Tio tertawa, “Yailah! Santai aja kali… Biasa tiap orang kan punya ciutnya sendiri-sendiri. Aku sadar kok aku sering ciut kalau urusan gini-gini ini. Maaf…” Dia menatap kekasihnya itu, “Udah dibawa
@bacahorror santai. Kita ketemu bukan buat ngomongkan Bram juga kok. Ini tentang kita.”

Ella memegang tangan Tio. Dan segera suara pria berdehem dari meja barista. Dua orang barista di sana memandang mereka dengan muka ngambek. Ella melirik sebentar lalu tertawa. Dia semakin mengeratkan
@bacahorror pengangan tangannya kepada Tio.

Si barista yang tadi datang kepadanya langsung bernyanyi dengan keras, “Hancur hatiku mengenang dikau, menjadi keeping-keping setelah kau pergi, tinggalkan kasih sayang yang pernah singgah antara kita, masihkah ada sayang itu.” Lalu temannya
@bacahorror barista yang lain ikur menyahut dengan menyanyikan reffnya bersama-sama.

Tio melihat dengan bingung dan tersenyum, “Kenapa sih?” Ella tertawa melepaskan tangan kekasihnya itu, “Gak apa-apa. Songong tuh mas-masnya. Tadi dia ngajak kenalan” Dia masih terus tertawa. Tio ikut
@bacahorror tertawa, lalu berteriak kepada sang barista yang masih bernyanyi, “Sorry, mas! Udah diinden, coba cek toko sebelah!” Kedua barista itu bernyanyi semakin keras. Tamu yang hadir ikut tertawa keras. Beberapa bahkan ikut bernyanyi bersama kedua barista itu.

---
@bacahorror “Gila beneran lewat sini?” Ella memegang pinggang Tio kencang. Jembatan itu tidak memiliki pembatas di kiri dan kanannya. Baru saja mereka menelusur sepanjang sungai yang tergolong sepi. Hanya ada beberapa rumah di pinggir sungai itu. Dan sekarang mereka harus menyeberang
@bacahorror jembatan kecil yang tak beramping-amping.

“Santai aja! Gini mau naik W. Lewat jembatan gini aja udah keder.”

Motor itu melaju dengan kecepatan stabil di jembatan. Tio tiba-tiba mengerem motornya mendadak. Dan mematikan mesin. Persis di tengah jembatan. Ella memegang pinggang
@bacahorror kekasihnya itu semakin dekap. “Kenapa, Yo?” Jantungnya tetiba berdegub kencang.

Tio diam sejenak. Lalu menoleh ke kanan, berbicara cukup keras dari balik helmnya, “Pegangan yang kencang ya, katanya sayang.” Lalu tertawa cekikikan.

“Sial! Kupikir ada apa-apa. Ih! Gak lucu
@bacahorror deh! Serem tahu! Ini di tengah jembatan, Dodol!” Dia melepas sebelah pegangannya lalu memukul helm Tio dengan tangan kanannya, “Payah!”

Tio tertawa lalu menghidupkan motornya kembali. Mereka menyeberangi jembatan itu. Aman. Lalu menelusur kembali jalan sisi sungai yang lain.
@bacahorror Jalanan ini lebih sepi. Pohon-pohon besar dan bambu berkelompok-kelompok di beberapa rimbunan. Jika sisi di seberang jembatan masih ada rumah-rumah, di sisi ini murni tanah dengan pohon-pohon besar.

Mereka keluar dari jalan tepi sawah itu melewati sebuah persawahan tebu. Dan
@bacahorror di samping persawahan itu nampak lampu-lampu. Sebuah desa.

Tio berhenti di rumah pertama. Rumah yang berjarak cukup jauh dari rumah-rumah lain dari desa itu. Dia menghentikan motornya. Di sekeliling rumah itu pohon-pohon besar. Tanaman-tanaman rambat yang memenuhi kebun.
@bacahorror Hanya sebuah lampu putih kecil di depan rumah itu yang menunjukkan keberadaan rumah tersebut. Jika lampu itu dimatikan, bahkan dari rumah terdekat, rumah ini hanya akan nampak seperti bayangan hitam yang menggunuk.

“Tio, aku gak lagi pingin wisata horror loh ini!” Ella
@bacahorror memegang keras lengan kekasihnya itu dan berjalan mendekat kepadanya sekali.

Tio menampakkan wajah jail. Tapi melihat Ella benar-benar ketakutan dia kemudian memeluk bahu gadis itu. “Iya. Kita ke sini bukan buat main horror-horroran. Sini bentar.” Tio mengajak kekasihnya itu
@bacahorror berjalan beberapa meter sampai ke jalan desa aspal. “Tahu jalan ini?”

Ella melepaskan pegangan tangannya, lalu melihat ke kiri dan ke kanan. Sebuah spanduk di sebuah warung bertuliskan “Warung Lejar” berjarak 100 meter dari tempatnya berdiri. Beberapa orang berkerumum di depan
@bacahorror warung itu. Beberapa rumah juga ramai. Ella melihat kepada Tio, “Lah ini desa kamu kan?” Ella mengenali spanduk itu adalah spanduk warung Bu Ani tempat ibu Tio bantu-bantu masak dan cuci piring. Bu Ani punya anak kecil perempuan imut berusia 5 tahun yang selalu ikut Tio ke mana-
@bacahorror mana ketika Tio sedang di rumah, namanya Bening. Namun, setiap kali Tio membawa Ella ke rumahnya, Bening selalu nempel dengan Ella. Tio dibuat sewot karenanya.

Tio memutar bola matanya, “Iya! Siapa yang mau ngajak kamu uji nyali. Aku itu ngajak kamu ke rumah yang aku perbaikin
@bacahorror sama Pak No!”

“What the heck! You’re really really … And then ngapain tadi lewat situ? Kan bisa lewat jalan biasanya?” Tio cekikikan. Ella memukul dada pria itu, “Kamu ngerjain aku, ya! Sialan! Sialan!” Tio tertawa semakin keras. Ella melihat jalan yang baru dilewati motor
@bacahorror mereka tadi, “Tapi aku kok gak pernah lewat jalan tadi ya?”

Tio masih tertawa, “Itu jalan pintas, lebih dekat sebenarnya kalo dari kota. Tapi kalau malam emang sepi. Tapi ini loh masih jam berapa? Masih jam delapan. Ngapain ketakutan gitu?”

“Sengaja nih orang ya!” Ella masih
@bacahorror cemberut.

“Sini!” Tio menggandengn tangan Ella dan mengajaknya duduk di depan rumah itu. “Lihat!” Tio menunjukk ke atas. Langit bertaburan bintang. Seolah semuanya ditumpahkan di angkasa. Ella tahu beberapa gugus bintang dan Tio tahu selain musik klasik, astrofisika adalah
@bacahorror sesuatu yang disukai Ella.

“What! Look at that star!” Ella tercengang, “Gak mungkin jam segini Sirius udah nampak.” Ella menatap Tio, “Kamu tahu yang biasa disebut orang rasi anjing?” Tio menggeleng, “Itu dia! Coba perhatiin ya… ada sembilan bintang yang paling terang di situ.
@bacahorror Itu kalau disambungkan bentuknya akan seperti anjing. Lihat!”

Tio berusaha mengikuti arah telunjuk Ella, “Wow!”

“Great, right? Jadi sembilan titik itu bagian dari sebuah gugus yang biasa disebut orang Rasi Anjing. Tapi para astronom menamainya Canis Majoris. Dan Sirius yang
@bacahorror nyambungin antara tubuh anjing dengan kepalanya itu adalah salah satu bintang paling terang yang bisa kita lihat dari bumi.” Ella bisa berpanjang-panjang menjelaskan hal seperti itu, “Biasanya kita bisa lihat dia kalau menjelang tengah malam, eh, ya di bulan-bulan ini.”Dia
@bacahorror memandang kepada Tio dan memeluk badannya dari samping, “Wow! Makasih ya!”

Tio tersenyum, “Kamu tahu kenapa aku suka tempat ini?”

Ella memandangnya.

“Aku ngerasa tempat ini kayak anomali. Rumah ini. Bayangin beberapa ratus meter dari rumah ini sudah perkampungan warga.
@bacahorror Kalau kita naik motor, tidak lebih dari setengah jam kita sudah sampai di kedai kopinya Bram di pusat kota. Dalam jarak sedemikian dekat, tempat ini seperti ruang yang sama sekali lain. Di sana tadi kita merasa kita seperti didesak-desak oleh keramaian. Kita adalah orang yang
@bacahorror kecil di tengah kerumunan. Cahaya-cahaya yang kita jumpai adlah cahaya-cahaya yang dibuat manusia. Kita seolah-olah terhubung dengan semuanya, namun diam-diam kita merasa kita terpisah dari yang ada di sekitar kita. Semua sibuk dengan cerita masing-masing”

Tio masih terus
@bacahorror berbicara dan Ella menyimak dengan teduh, “Tapi di sini, kita adalah kemerdekaan sejati. Kita menjadi satu dengan alam dalam bentuknya yang paling asali. Tak ada suara buatan di sini. Kita bisa mendengarkan setiap suara jengkerik bahkan angin di dedaunan.” Ella memeluk
@bacahorror kekasihnya itu lebih lekat, Tio melanjutkan, “Hanya dalam hening kita berjumpa kesejatian. Wajah tanpa kepura-puraan.”

Ella melepaskan pelukannya dan mengusap-usapkan kedua telapak tangannya. Tio menyadari hal itu, “Dingin?”

Ella mengangguk. Dia lalu berdiri depan Tio,
@bacahorror mengangkat suara, “Tapi aku ngerasa kota itu juga punya ritmenya sendiri ya. Dan aku rasa gak ada ritme yang salah. Sebut aja Beethoven, dia punya Symphony 9 yang bergelora. Tapi dia juga punya Moonlight Sonata yang menyentuh dan trenyuh. Segalanya ada tempatnya.”
@bacahorror Ella tersenyum, tapi lalu menampakkan wajah tengil, “Tapi apa salahnya juga dengan keramaian? Ngapain sih orang-orang kayak kamu itu kayak anti pada keramaian. Kita kan makhluk sosial juga, kali!”
@bacahorror Tio mengangguk, “Kamu tahu, La… Ketika kita kecil kita mendapatkan cerita-cerita yang berakhir dengan sukacita. Karenanya kita belajar bahwa kebahagiaan sejati adalah ketika kita mampu menemukan sukacita kita. Kita berjuang untuk meraih sukacita dan kecewa ketika yang terjadi
@bacahorror justru sebaliknya. Kita membenci kesedihan. Siapa yang tidak begitu? Kita senang ketika menang dan sedih ketika kalah. Kita melompat ketika jatuh cinta dan tersuruk ketika terluka. Gak ada yang salah dengan itu. Kita diajarkan begitu. Tapi kita berhenti mendengarkan sepi.”
@bacahorror Dia menatap ke arah langit, lalu kepada gadis yang ada di depannya, “Namun, ketika dewasa kita belajar menerima bahwa kebahagiaan sejati adalah memeluk kehidupan seutuhnya. Memeluk sukacita, namun juga memeluk kesedihan. Kemenangan juga kekalahan. Cinta dan luka.
@bacahorror Berdamai dengan keduanya. Keduanya tetap berarti. Tapi mana yang lebih sering kita jumpai sekarang?”

Ella berdiri dengan teguh di depan kekasihnya, “Kamu tahu, Yo, kenapa aku milih kamu dan bukan milih Bram?” Tio diam mendengarkan. Tapi Ella tak segera menyambung perkataannya.
@bacahorror Dia pun bertanya, “Kenapa?”

Dan Ella duduk di sebelahnya kembali perlahan-lahan, “Rahasia!”

“Sialan!” Mereka berdua tertawa sekencang-kencangnya.

Tio kembali berbicara, “By the way? Yakin gak mau wisata horror?”
@bacahorror “Kamu sialan ya! Suasananya udah khidmat. Dirusak sama uji nyali.”

“Rumah ini katanya angker lo!”

“Stop! Stop! Aku gak mau ngarah ke situ! Cukup!” Ella mengangkat kedua tangannya.

“Ayolah!” Tio menarik tangan kekasihnya itu dan membuka pintu rumah yang ternyata tidak dikunci.
@bacahorror Gelap dan bau apak menyerbu hidup mereka. Dia menghidupkan saklar lampu dan sebuah lampu neon di tengah berkedip-kedip sebentar sebelum menyala terang. Ruang tamu rumah itu cukup luas. Ada beberapa alat pertukangan di situ. Agaknya bekas digunakan oleh Pak No dan Tio siang tadi.
@bacahorror Serbuk-serbuk kayu juga masih bertebaran di sana-sini.

Ella berusaha melepas tangannya, tapi tenaganya jelas kalah kuat dibandingkan Tio. Tio menggenggamnya dengan sangat erat membimbingnya ke tengah ruangan. “Tio lepasin! Sakit tahu!”

Tio melepaskan pegangannya.
@bacahorror Lalu menatap kepada Ella, “Sorry! Sorry! Aku gak sengaja. Aku gak maksud kasar.” Dia melihat wajah Ella yang tiba-tiba nampak kesal. Dia memegang tangan gadis itu dengan lembut dan tersenyum dengan sangat lembut. “Maaf banget! Maaf, ya! Dimaafin dong.” Ella jelas masih belum
@bacahorror bisa tersenyum.

“La! Maaf… Let’s take an adventure, you know, to the unknown!” Dia kemudian mengajak gadis itu duduk di lantai, “Ini teoriku. Kita itu seringkali takut dengan hal-hal yang gak kita ketahui. Jaman dulu orang gak tahu matahari itu apa, makanya mereka menganggap
@bacahorror matahari itu sebagai Dewa. Ra yang disembah. Demikian juga dengan yang kita sebut dengan angker itu. Kita takut dengan sesuatu yang tidak kita ketahui. Padahal bisa jadi sebenarnya tidak menakutkan. Jaman dulu orang menganggap pesawat itu burung besi yang terbang. Mereka takjub
@bacahorror dengan itu. Tapi hari ini pesawat bukan lagi sesuatu yang ajaib, kecuali buat orang-orang teknik tentu. Hanya karena kita tidak tahu kita kemudian menjadi takut.”

Wajah cemberut Ella hilang karena penjelasan Tio masuk akal.

“Tahu cara mengalahkan ketakutan? Face your fear!
@bacahorror Hadapi ketakutan kamu! Buktikan bahwa sesuatu yang kamu anggap nakutin itu sebenarnya biasa aja!”

Ella merasa penjelasan Tio ada benarnya. Tetapi juga ada sisi dirinya yang tidak terima dengan penjelasan itu, “Kamu gak serius, kan?”

Namun Tio masih melanjutkan,
@bacahorror “Katanya di setiap sudut rumah, bahkan setiap sudut ruangan selalu ada yang jaga. Ayo dibuktiin. Kalau memang mereka ada kita bakalan tahu. Ada cara yang biasa digunain orang, begini caranya…” Tio meluruskan kakinya,
@bacahorror “Harus gelap sama sekali! Dalam beberapa saat matamu akan menyesuaikan. Terlentanglah di lantai. Tepukkan telapak tanganmu tiga kali ke bawah. Ke lantai. Tunggu sejenak, lalu berjongkoklah dan bungkukkan badanmu. Lihat di antara sesela kakimu.
@bacahorror Kalau mereka memang ada kamu akan bisa melihat mereka.”

Ella terkejut. Bukan oleh apa yang dikatakan Tio. Tetapi di belakangnya. “Apa itu tadi ada di situ?” Tio ikut menoleh ke belakang. Di bawah alat pasrahan.
@bacahorror Di antara serbuk kayu yang tersebar ke sekitarnya tergambar bercak-bercak jejak. Jejak-jejak itu menyerupai jejak kaki-kaki kecil. Berjalan dari luar ke sudut ruangan di dekat pintu ruang tengah.

Tio menoleh kepada Ella, “Kita keluar dari sini!”
@bacahorror Ella masih sempat melihat ke ujung ruangan itu. Nampak bekas ada yang menempati sudut itu. Bekas-bekas serbuk kayu seperti disingkirkan dengan paksa. Seperti bekas ada orang yang mendudukinya dan ngesot di sudut itu. Bulu kuduknya merinding.
@bacahorror “Ayo, keluar! La!” Teriak Tio kepada Ella. Kembali pria itu meraup lengan gadis itu dengan keras. Tio mematikan lampu di ruang tamu itu dan menarik Ella keluar. Pintu itu ditutup dengan keras. Dan segera mereka berjalan cepat menuju motor Tio.
@bacahorror Ella merasa rasa kesal yang berlipat ganda kepada kekasihnya itu. Pria yang selama ini selalu penuh misteri itu benar-benar telah membuatnya ketakutan luar biasa. Ditambah bagaimana perlakuannya kepadanya ketika dia sedang panik dan memaksakan sesuatu.

Ella melepasakan
@bacahorror genggaman tangan Tio dengan mendidih, “Sudah aku bilang aku gak mau main-main horror! Aku itu gak tahu ya kalau kamu itu bisa maksa kayak gitu!”

“Sorry!” Tio mengusap lengan Ella. Dia sempat melirik ke rumah itu sebelum berbalik kembali kepada kekasihnya tersebut,
@bacahorror “Jangan di sini. Kita cari tempat lain. Aku jelaskan.”

Ella sudah tidak lagi bisa tenang. Dia berjalan ke jalan kampung, meninggalkan Tio di belakang dengan motornya. Tio menghidupkan motornya, mengenakan helm, dan mengendarainya dengan cepat ke sebelah sang gadis.
@bacahorror Tio berhenti persis di sebelahnya mengulurkan helm kepada gadis itu, “Please! Ini penting aku jelaskan.”

Dengan terpaksa Ella mengambil helm itu dan naik di boncengan. Tio memboncengnya ke rumahnya. Namun, ketika sampai di rumahnya, ternyata rumah itu terkunci. Ibunya masih
@bacahorror membantu di warung Bu Ani dan dia tak membawa kunci cadangan.

“Kita ke Bu Ani ya, La. Ambil kunci dulu.”

Ella masih menampakkan wajah yang dongkol karena dia memang masih belum bisa memaafkan sikap Ella kepadanya. Tio jelas-jelas tahu bahwa Ella bukan seorang pemberani.
@bacahorror Tetapi pria itu masih memaksakan apa yang dia inginkan. Bermain dengan hantu memang kelihatannya seru untuk banyak orang. Mungkin beberapa orang menganggap hal seperti itu permainan yang menyenangkan. Tapi nyatakan kita bermain dengan sesuatu yang tidak kita ketahui,
@bacahorror kita tidak bisa mengukur risikonya. Sesuatu yang buruk bisa saja terjadi.

“Aku nggak suka cara kamu memperlakukan aku tadi!”

Tio menatapnya. Mata pria itu yang tadinya tampak khawatir dan tegang nampak diusahakannya untuk menenang. Dia menatap gadis itu lekat-lekat.
@bacahorror Hingga Ella mengenal kembali tatapan mata itu. Itu adalah tatapan mata kekasihnya yang dia kenal, tatapan mata yang dalam dan teduh, tetapi tetap menyimpan teka-teki untuk diurai. Tapi mata itu jelas lebih menentramkan daripada mata yang penuh ketakutan beberapa menit yang lalu.
@bacahorror “Yo, aku sudah bilang sama kamu kan tadi. Aku sudah senang tadi kamu menunjukkan rumah yang kamu kerjain sama Pak No itu bukan rumah yang serem, tapi rumah yang indah. Aku bisa kerasa nyaman di tempat yang biasanya aku tidak akan bisa tenang.
@bacahorror Tapi kamu mengubah kembali suasananya. Kamu bahkan menarik aku dengan paksa…” Ella memegang pergelangan tangannya yang masih sakit, “Aku itu gak ngerti ya sikap kamu. Kadang kamu itu bisa sangat gentle, tapi kadang sisi dirimu yang penuh teka-teki itu menakutkan dan memuakkan!”
@bacahorror Namun Ella tiba-tiba merinding kembali melihat bekas tapak kaki anak kecil dan bekas serupa ngesot di sudut ruang tamu tadi. Dengan wajah yang tak berubah dia menumpahkan rasa kesal dan ketakutan yang tiba-tiba membayang, “Kamu lihat kan tadi jejak anak kecil di lantai?”
@bacahorror Tio mengangguk.

“Kamu lihat sudut ruangan tadi. Seperti bekas ada orang yang duduk di situ?”

Tio mengangguk dan kali itu dia menundukkan kepalanya.

“Apa yang kamu inginkan, Yo? Kamu pingin aku melihat yang tidak-tidak di tempat itu tadi?” Dia membuang napasnya,
@bacahorror “Sore ini sempurna, Yo! Apa yang kamu lakukan di kafe tadi … sampai kamu sendiri merusaknya.”

Tio masih menunduk. Entahlah apakah Ella mengharapkan permintaan maaf lagi dari Tio. Tapi rasanya untuk sekarang dia masih belum bisa merelakan pemaafannya.
@bacahorror Tio mengangkat wajahnya sedikit, sejenak melihat Ella, lalu kembali menunduk, “Maaf aku terlalu jauh …”

“Aku sudah hapal! Setelah kamu melakukan sesuatu kamu akan dengan gampang mengucapkan minta maaf. Yang seperti itu memang gampang! Aku tahunya kamu itu orang yang mikir
@bacahorror mendalam apa yang mau kamu lakuin. Ternyata payah! Orang yang bersembunyi di belakang kata maaf.” Ella mendekat kepada Tio, “Antar aku pulang.”

“Ella …” Tio mengangkat suaranya dan berhenti cukup lama sebelum dia akhirnya bisa memandang wajah kekasihnya itu lagi,
@bacahorror “OK kalau maafku sudah gak berarti gak apa-apa. Tapi … ada cerita tentang rumah itu. Aku gak percaya selama ini. Ada yang menunggu rumah itu, seorang perempuan yang ditinggalkan suaminya berbulan-bulan ketika dia sedang hamil. Dan ternyata dia baru tahu bahwa suaminya juga
@bacahorror menghamili perempuan lain. Perempuan di rumah itu memutuskan untuk menggantung dirinya di kuda-kuda rumah. Di dekat jejak anak kecil tadi.”

Ella tiba-tiba terbungkam. Rasa marahnya berganti dengan ketakutan. Sekaligus semuanya menjadi lebih masuk akal, termasuk mengapa Tio
@bacahorror menariknya dengan keras dari ruang tamu itu tadi.

“Kuntilanak?”

Tio mengangguk. Dia tetap memandang wajah Ella, “Ketika ditemukan orang, janin yang ada di dalam perutnya jatuh ke lantai. Pecah seperti daging yang diselimuti gumpalan darah beku. Mungkin karena reaksi tubuhnya
@bacahorror ketika dia lehernya tercekik. Tapi janin itu katanya sudah hampir enam bulan. Orang-orang yang menemukannya bisa melihat mata bayi itu yang terlempar ke penjuru ruangan, otak yang berserakan karena tulang tengkorak yang belum mengeras. Tangan dan kaki yang tertekuk dan
@bacahorror terpuntir-puntir ke arah sebaliknya. Tulang-tulang mudanya yang ambyar di dalam tubuhnya yang masih lunak …”

“Stop!” Ella menahan mulutnya dengan tangan. Tapi gejolak di dalam perutnya tidak tertahankan. Rasa mual dan ketakutan menyerbu naik dari lambung hingga ke rongga
@bacahorror mulutnya. Dia memuntahkan isi perutnya. Cairan bening berlumur potongan-potongan kentang goreng yang tidak terkunyah sempurna, lembek bercampur, keluar dari mulutnya. Bekas makanan yang dimakannya di kafe tadi. Semuanya terlempar ke tanah dalam balutan bau asam dari lambungnya.
@bacahorror Bau dan muntahannya membuat perutnya kembali bergolak.

Tio mendekati gadis itu. Memegang pundaknya, mengelusnya perlahan. Ella masih memuntahkan beberapa isi perutnya beberapa kali. Tio memijat sedikit bahu kekasihnya itu, “Maaf!”

Ella berusahan menahan dirinya.
@bacahorror Beberapa titik air keluar dari matanya.

“Mungkin permintaan maafku tidak akan berarti. Tapi itu kenyataannya. Aku sadar aku mengajakmu terlalu jauh.”

Ketika Ella mulai bisa mengontrol perutnya. Dia mengambil selembar tisu basah di dalam tasnya. Ella mengelap bekas muntahan
@bacahorror di bibirnya. Dia mengambil tisu yang lain untuk mengusap matanya. Dia membuang tisu bekas itu sudut halaman, lalu dengan sepatunya menutup bekas muntahannya dengan tanah di sekitarnya, “Maaf aku nyampah.” Dia lalu memandang kekasihnya, “Jangan lakuin itu lagi, ya.
@bacahorror Kalau aku memang gak mau jangan dipaksa ya.”

Pria di depannya menatap gadis itu dengan tatapan yang mendalam. Pria itu tersenyum sedikit, “Dimaafkan, ya?”

“Jangan pernah gitu lagi, ya…”

“Iya, aku janji.” Tio mengulurkan kedua lengannya kepada Ella. Gadis itu mendekat dan
@bacahorror merangkul pinggal pria itu. Sang pria merungkupkan lengannya ke tubuh gadis itu. “Aku janji. Aku sayang kamu.”

Mereka berdua kemudian berjalan ke rumah Bu Ani. Ella memang tetap minta diantarkan pulang. Tapi Tio mengatakan bahwa ada sesuatu di rumah yang hendak dia tunjukkan
@bacahorror kepada gadis itu. Sebenarnya perasaan Ella masih bercampur aduk. Dia masih belum mampu mencerna semua peristiwa yang baru saja terjadi.

“Ada yang pernah melihat kuntilanak atau bayinya di rumah itu?”

Mereka berdua masih berjalan beriringin, sang pria menjawab.
@bacahorror “Itu cerita yang sering diceritakan orang-orang di sini. Ada yang bilang pernah dengan perempuan tertawa, ada yang melihat perempuan pakai baju putih di jendela, ada yang bilang dengar suara tangisan bayi. Karena itu rumah itu harganya murah.”

“Tapi kamu tadi benaran lihat kan
@bacahorror jejak tadi, bukan cuma aku kan yang lihat?”

“Iya aku lihat, makanya aku pingin segera keluar dari sana. Maaf ya!”

Perasaan Ella masih ruwet, tapi dia mencoba tersenyum, “Gak apa-apa.” Tapi dia kemudian melanjutkan, “Kamu tadi ngajak aku ngelakuin nungging lihat di antara kaki
@bacahorror kita tadi maksudnya membuktikan itu?”

Tio mengangguk, “Aku kelewatan!”

“Iya kamu kelewatan!”

Bu Ani menemui di depan. Tio diminta untuk ke Dapur belakang karena ibunya ada di dapur. Ella ditinggalkan di depan bersama orang-orang yang berkumpul di warung itu, mengocehkan
@bacahorror masalah desa sampai masalah politik sekenanya. Melihat Ella orang-orang itu mengangguk. Mereka jelas mengenal Ella karena Tio beberapa kali membawa Ella ke rumahnya. Mereka sering mengatakan, ‘Beruntung kamu, Yo! Masa depan cerah!’ dalam kelakar mereka.
@bacahorror Tapi Ella selalu merasa bahwa dialah yang beruntung mendapatkan Tio. Pria itu jenis yang sulit didapatkan, ada banyak sisinya yang menimbulkan tanda tanya, tetapi setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya serupa kata-kata yang hanya ditemukannya dalam buku-buku sastra.
@bacahorror Dia hampir mengetahui tentang segala hal. Jika tidak karena tarikan keras di tangannya ketika membawanya keluar dan masuk rumah itu tadi, Tio biasanya adalah seorang pria yang lembut.

“Eh! Bening!”

Seorang gadis kecil keluar dari rumah itu. Gadis yang hanya setinggi pahanya.
@bacahorror Ella duduk menyamakan tingginya dengan gadis itu. Namun Bening malam itu bukanlah Bening yang biasanya dia lihat. Dia melihat mata gadis itu membengkak, “Hai kenapa, sayang?” Gadis itu tidak menjawab. Tapi seperti biasa dia langsung melendot kepada Ella.

Ella bertanya kepada
@bacahorror ibunya yang melayani pelanggan warung, “Kenapa, Tante?”

“Gak tahu, Mbak Ella. Dari tadi sore pulang dari rumah pojok itu. Biasanya ke situ lihat Mas Tio kerja. Tapi kok tadi pulang-pulang nangis diantar Mas Tio, ketakutan. Tak tanya kenapa gak jawab malah nangis terus.
@bacahorror Tak tanyakan ke Mas Tio, eh katanya dia tadi berhenti di halaman lama banget, terus lihat kea rah rumah. Tapi terus tiba-tiba nangis. Sama Mas Tio diantar ke sini. Gak mau ngomong apa-apa.”

Mungkin benar. Anak-anak seringkali sensitif dengan hal-hal yang seperti itu.
@bacahorror Ella bisa membayangkan Bening yang berdiri di depan rumah, mematung, lalu tiba-tiba menangis. Apakah ada sesuatu yang dilihatnya tetapi tidak dilihat oleh orang dewasa sepertinya.

“Tante, rumah itu benar ya katanya angker?”

Bu Ani kelihatan tidak mau menjawab.
@bacahorror Para pria yang berkerumun di depan warung itu yang kemudian menjawabnya. Mereka mengatakan hal yang persis dikatakan Tio tadi. Tentang perempuan yang bunuh diri dan beberapa orang yang melihat sosok perempuan dan anak kecil di rumah itu.

“Sering ganggu, Pak?”
@bacahorror Seorang pria yang duduk berdiri mendekati Bening, “Kamu tadi lihat apa, Nduk?” Bening tidak menjawab. Pria itu menatap Ella dan menambahkan, “Anak-anak itu kalau sudah surup tidak ada yang berani mendekat ke situ. Katanya yang aneh-aneh gampang terjadi kalau surup, apalagi di
@bacahorror rumah-rumah yang sudah ditinggalkan kosong begitu.”

Bening tiba-tiba membisikkan lirih dalam pelukan Ella, “Jahat…” Ella menatap mata gadis itu. Ibunya juga mendekat. Menunduk di depan anak itu. Ibunya memegang anaknya. Ella melepaskan tangannya memberikan Bening kepada ibunya.
@bacahorror Ibunya mengorek, “Siapa yang jahat?” Tapi Bening tidak menjawab. Dia bergantian menatap ibunya dan Ella. Bu Ani membisikkan kepada Ella, “Ini pertama kalinya dia bilang jahat, Mbak!”

Bening mengangkat tangannya ke sebuah arah. Rumah kosong yang tertutup oleh rimbunan kebun dan
@bacahorror beberapa rumah lain tak nampak dari warung Bu Ani. Namun, baik Ella maupun Bu Ani tahu bahwa gadis kecilnya itu menunjuk ke arah rumah itu.

“Besok jangan main-main ke sana. Kalau mau ketemu Mas Tio di rumahnya saja. Rumah itu nggak aman Bening!” Ibunya berteriak sedikit panik.
@bacahorror “Ya!” Suara ibunya memaksa. Gadis itu mengangguk-angguk ketakutan entah kepada apa yang diingatnya tentang rumah itu atau kepada ibunya yang mendesaknya. Ella kemudian mengingat kembali apa yang tadi dilakukan Tio kepadanya, menyeret tangannya keluar. Kita kadang melakukan
@bacahorror sesuatu yang terkesan keras untuk menjauhkan apa yang paling kita cintai dari bahaya. Kita tidak ingin apa yang kita cintai terluka, dan kekerasan kadang menjadi cara kita membela dan membawanya jauh dari hal yang mungkin melukainya.

Namun tiba-tiba, bulu kuduk Ella merinding.
@bacahorror Karena seperti ada keping-kepingan tentang rumah itu yang saling bersambung. Dia merasa rumah itu pun tidak aman untuk Tio. Berada terus menerus di tengah aura makhluk-makhluk demikian bisa membawanya pada sesuatu yang buruk. Namun di sisi lain dia bersyukur karena malam itu di
@bacahorror rumah tadi dia tidak sampai melakukan apa yang dikatakan oleh Tio untuk melihat di antara kakinya. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan dilihatnya jika hal tersebut benar-benar dilakukannya.

Tepat ketika itu Tio keluar dengan membawa kunci rumah di tangan kananya.
@bacahorror Ella tidak bisa menunda untuk mengatakan itu kepada Tio, tetapi yang terjadi justru Bening menangis dengan keras. Semua yang ada di sana terkejut. Tio kelihatan kaget tapi juga ketakutan. Bening menunjuk-nunjuk kepada Tio, sambil menangis dia meneriakkan “Takut! Takut!”
@bacahorror Tio melihat di belakang tubuhnya. Tidak ada apa pun di situ.

Ibunya berusaha menenangkannya menggendongnya, tapi gadis kecil itu masih menjerit-jerit sambil meneriakkan takut. Ibunya berusaha menekankan, “Itu Mas Tio.” Tapi gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya dan terus
@bacahorror meneriakkan takut.

Bu Ani bertanya kepada Tio, “Tio tadi dari rumah sana ya sama Ella?”

Ella bergidik karena akumulasi dari segala hal yang dialaminya malam itu. Beberapa orang di warung itu bahkan berbicara satu dengan yang lain bahwa Tio ketempelan. Semua orang panik.
@bacahorror Tio dan Ella nampak tidak tahu harus bagaimana. Tio mengulurkan tangannya kepada Bening, “Ini Mas Tio, Bening. Ada apa?” Tetapi jeritan gadis kecil itu meneriakkan berulang-ulang kata takut. Semakin keras ketika tangan Tio semakin dekat.

“Mas Tio pergi saja dulu.
@bacahorror Biar dia tenang.” Ujar Bu Ani yang jelas-jelas menampilkan kekhawatiran mutlak di wajahnya. Melihat gadis kecil semata wayangnya it uterus menangis dan berteriak.

“Kamu ta kantar pulang dulu, ya. Coba aku lihat ada apa ini sebenarnya.” Ujar Tio kepada Ella. Ella mengangguk.
@bacahorror Mereka berjalan menjauh meninggalkan Bening yang terus menangis dan suara orang-orang yang mulai ramai berbicara secara terbuka tentang kemungkinan apa yang dialami oleh Tio di rumah ujung itu.

“Kamu gak apa-apa kan?” Tanya Ella serius. Tio menggeleng-geleng,
@bacahorror lalu mengangkat bahunya. Dia menjawab, “Aku gak tahu. Rasanya ya gak apa-apa?”

“Kata orang kan biasanya kalau gitu itu terasa berat atau gimana gitu. Kamu kerasa gak?”
Tio menggeleng. Mereka sampai di depan rumah Tio. Tio membuka pintu rumahnya. Masuk sebentar dan keluar lagi
@bacahorror dengan sebuah kotak berisi kue kering, “Ini tadi dibuatkan Ibuk buat kamu.” Jika situasinya tidak seperti itu, pasti momen memberikan kue itu akan menjadi momen yang indah dan romantis. Tetapi dengan suara bening yang masih menjerit-jerit di kejauhan. Dan suara orang-orang yang
@bacahorror ribut dan agaknya semakin banyak orang yang berdatangan ke warung Bu Ani, jelas situasi malam itu jauh dari indah dan romantis.

Ketika suara motor Tio menjauh. Berpasang-pasang mata melihat pasangan itu pergi dari desa itu. Ella terus berdoa sepanjang jalan supaya
@bacahorror tidak terjadi apa-apa. Tio jelas ngebut dan cara berkendaranya tidak seperti biasnaya. Beberapa kali Ella meneriakkan hati-hati. Tetapi kalut agaknya sudah memakan mereka.

Sampai di rumah Ella. Ella turun dan menggenggam tangan Tio, “Tio, aku sayang kamu. Hati-hati, ya!
@bacahorror Please! Jangan Sampai pikiran kamu kosong.” Tio hanya mengangguk sekenanya. Dia mencoba untuk tersenyum namun kekhawatiran masih terpancar jelas di matanya. Mata memang tidak bisa menipu. Sekalipun bibir kita berkata lain dan wajah kita menampilkan ekspresi yang berbeda,
@bacahorror namun mata menceritakan kejujuran. Mata seolah muara bagi jiwa yang tak bisa berkata lain selain kejujuran.

Ella menatap kekasihnya itu pergi. Doanya tidak berhenti demi kebaikan kekasihnya itu. Semoga tidak ada hal buruk yang terjadi. Semoga Bening hanya sedang ngambek tidak
@bacahorror mau digendong Tio. Tapi Ella bisa melihat sendiri ketakutan di wajah dan jeritan gadis itu. Dia seperti tidak melihat Tio, namun sesuatu yang ada di balik tubuhnya. Sesuatu yang setipis angin yang hanya bisa dilihat oleh jiwa-jiwa yang murni. Jiwa yang bening.

---
@bacahorror Hampir satu jam kemudian. Ella turun untuk menutup gerbang rumahnya. Dia masih tidak bisa berhenti berpikir tentang kekasihnya. Dia menyesal mengapa tadi dia harus sempat bertengkar dengan kekasihnya itu. Belum ada tanda kekasihnya memberikan dia pesan sekalipun dia sudah
@bacahorror menuliskan dalam WAnya supaya ketika kekasihnya itu sampai dia segera menghubungi Ella dan melakukan doa malam.

Namun Ella dibuat terkejut karena di balik rerimbunan bonsai beringin di halamannya. Kekasihnya itu sedang berdiri di sudut halaman rumahnya. Tio tidak menghadapkan
@bacahorror wajahnya kepada Ella, namun justru menghadapkan dirinya ke tembok. Tidak bergerak. Rambut di sepanjang lengan Ella meremang. Dan sebuah pesan WA di HPnya. Dia melepas pandang matanya dari kekasihnya yang berdiri di sudut halaman.
@bacahorror Ibu Tio. Sebuah WA. Bulu kuduk Ella semakin merinding membaca pesan WA itu, ‘Tio kecelakaan. Sekarang kritis di RSUD G.” Ella menatap ke arah kekasihnya lagi di sudut halaman. Tidak ada siapa pun di sana.
@bacahorror ---

Ella menunggu Tio sendirian. Ibunya beberapa jam yang lalu pulang untuk mengambil beberapa keperluan yang akan mereka gunakan untuk berjaga di selasar ruangan. Selasar itu penuh dengan orang-orang yang bergelung tidur atau sekadar menyetuh handphone mereka, membaca berita
@bacahorror atau menonton video. Menunggu yang sedang sakit di dalam ruang. Sudah dua malam. Hanya boleh seorang yang berjaga di ruangan itu. Itu pun harus dengan mengenakan sebuah pakaian khusus berwarna hijau. Ruangan yang agak terlalu luas untuk empat tempat tidur saja sebenarnya.
@bacahorror Sampai kemarin malam hanya Tio sendirian. Tetapi malam itu ada dua orang lagi yang masuk.

Ada alat-alat medis yang tidak biasa yang dipasangkan ke tubuh Tio yang sudah hampir tidak berbentuk. Wajah tegas yang tajam dan kerap menghadirkan pertanyaan itu kini enam puluh persen
@bacahorror tertutup perban. Hanya bagian hidup mulut dan mata kirinya yang nampak. Mata yang ditunggu untuk segera membuka tapi semalaman pun tak menampakkan reaksi apa pun. Terjadi pendarahan di otak karena tulang tempurung kelapa yang retak menabrak aspal dan terseret hingga lima meter.
@bacahorror Kulit yang menutup tulang tengkoraknya mengelupas. Tindakan akan dilakukan sekalian dengan melihat pendarahan di otaknya. Jika memang pendarahan terus menyebar, maka tulang tengkorak harus dibuka sehingga darah bisa diambil. Kulit kepala yang kosong akan diambilkan dari bagian
@bacahorror paha kanan belakang.

Beberapa rerusuknya patah. Tiga rusuk kanan dan dua rusuk kiri. Tulang lengan kanannya remuk sehingga tangannya bengkok menjadi dua, bengkokan biasa di sendi sebelah lengan dan bengkokan karena tulang lengan yang remuk.
@bacahorror Tempurung kaki kanan entah terkena apa, karena bisa memutar hingga sampai di belakang kaki.

Tabrakan yang sangat keras, konon menurut beberapa saksi. Mereka melihat motor itu seperti dikendari oleh orang mabuk, oleng ke kanan dan ke kiri sebelum menabrak tonggak penunjuk jarak,
@bacahorror motor menggobet ke kiri dan masih di atas motor dia terlinting oleh motor dengan kaki-kaki yang masih mencengkeram tubuh motor. Diakhiri dengan seretan panjang di aspal. Dokter yang memeriksanya mengatakan bahwa Tio masih bisa hidup adalah sebuah keajaiban.
@bacahorror Sebenarnya dokter sudah merujuk Tio ker RS S karena perlengkapan di RSUD itu tidak cukup untuk memberikan tindakan kepada Tio. Tetapi karena menunggu kamar di RS S maka sementara Tio menunggu di tempat itu.

Air mata Ella masih menetes mengingat kenangan-kenangan yang mereka
@bacahorror buat dalam beberapa bulan ini. Namun kejadian hari itu adalah kejadian yang masih sangat membayang di benaknya. Bagaimana mereka menghabiskan sore hari di 5th coffee tanpa bertengkar tentang Bram, memandang bintang, hingga tangisan Bening yang tidak tertahan.

Sampai saat ini
@bacahorror jika ditanya apa yang dilihat Bening pada diri Tio malam itu, bening tak berbicara apa pun. Gadis kecil yang biasanya ceria dan selalu bergelendot kepada Tio atau Ella itu bahkan menjadi seorang gadis yang sama sekali pendiam. Ibunya berusahan untuk mencari cara dan membujuknya
@bacahorror dengan hadiah, dengan handphone, dan mengajak teman-temannya bermain ke rumah. Tetapi gadis itu lebih memilih untuk bermain sendiri dan mengabaikan semua tawaran ibunya. Hal yang cukup berat bagi ibunya sejak dia adalah seorang janda ditinggal meninggal suaminya. Dan satu-satunya
@bacahorror sukacitanya adalah Bening.

Ibu Tio mondar-mandir diantarkan warga desa. Perempuan yang juga single parent dan harapannya hanya bergantung kepada Tio. Dan kini harapan itu terbaring dengan tanda tanya besar masihkan bisa berharap. Dia bergantian dengan Ella.
@bacahorror Ya, Ella diijinkan oleh papa mamanya untuk tidak kuliah dulu selama seminggu ini dan menemani Tio. Mereka tahu bahwa hal tesebut adalah hal penting bagi Ella sekarang. Memaksanya kuliah hanya akan menjadikannya lebih buruk. Hatinya tak ada di sana.
@bacahorror Dulu orang tuanya melarang anaknya untuk berpacaran dengan Tio, mungkin karena latar belakang Tio yang berbeda dengannya. Namun sesudah beberapa kali bertemu Tio mereka akhirnya berubah menerima pria muda itu terbuka. Mempercayakan Ella kepadanya. Entah bagaimana setelah ini.
@bacahorror Menunggu dalam ketidakpastian ini menyiksa. Lebih menyiksa daripada rasa sakit. Rasa sakit bisa jelas, tetapi menunggu dalam ketidakpastian adalah bersedia hidup dalam ketidaktahuan sama sekali. Terbuka pada berbagai kemungkinan termasuk ketiadaan kemungkinan.
@bacahorror Menunggu memang menyakitkan.

Ella kadang-kadang ingat dengan perkataan-perkataan mendalam dari Tio. Perkataan tentang mendewasa. Dia ingat di rumah itu malam itu Tio mengatakan tentang ketika anak-anak orang biasanya akan menikmati hal-hal yang menyenangkan, hal-hal yang
@bacahorror menggembirakan. Tetapi ketika seseorang mendewasa maka dia juga siap memeluk sakit. Kebahagiaan dewasa adalah memeluk gembira dan sakit bersama-sama. Tapi siapa yang bisa? Siapa yang ikhlas? Jika boleh Ella tetap ingin menjadi anak-anak di mana semua cerita
@bacahorror berakhir membahagiakan. Ah Tio dengan segala filosofinya… siapa yang bisa hidup seperti itu dalam kehidupan nyata?

Dari jendela Ella melihat Ibu Tio, Pak No, dan Bu Ani yang menggendong Bening datang. Ibu Tio melambaikan tangannya kepada Ella memberikan isyarat supaya dia
@bacahorror bergantian. Ya Ella tidak tidur dua hari ini. Harinya dihabiskan dengan meratap, menyesal, dan berdoa. Ketiganya seolah tak mendatangkan apa pun yang dapat mengubah kondisi Tio.

Ella berjalan keluar. Tersenyum kepada ibu Tio. Melepaskan pakaian khusus hijaunya dan memberikan
@bacahorror kepada perempuan yang lebih tua itu. Suster sebenarnya mengatakan tak perlu dijaga, karena dia dalam perawatan intensif. Jika ada apa-apa akan diberi tahu, mengingat perkembangan Tio tergolong lambat, sampai saat ini dia belum sadar dari komanya.

Ella menjabat tangan Bu Ani dan
@bacahorror Pak No, tersenyum kepada Bening yang tidak menbalas senyumannya. Gadis kecil itu telah menjelma gadis yang tak dikenalnya. Bening tak mau lepas dari gendongan ibunya.

“Saya lihat Tio malam itu tante, di pojok halaman saya. Persis sebelum saya terima kabar…” Ella tidak bisa
@bacahorror menahan air matanya yang lagi-lagi harus terjatuh. Bu Ani mengangguk, dia sudah mendengar cerita itu sebelumnya.

“Kita gak tahu, La, apa yang akan terjadi. Yang penting sekarang pasrah. Kan seperti itu tidak selalu berarti buruk, kan?”
@bacahorror “Kenyataannya buruk, Tante… lihat saja Tio sekarang.” Masih dalam tangisnya.

“Maaf ya, La. Tante tahu beratnya perasaan kamu. Kita tunggu saja ya, jangan mikir yang macam-macam.”

Tanpa disangkakan oleh semuanya, Bening mengeluarkan tiga buah permen dari sakunya.
@bacahorror Tio memang sering memberikan permen kepada Bening. Gadis kecil itu menyerahkan permennya tanpa mengatakan apa pun. Lalu kembali menempel kepada ibunya.

“Buat Mas Tio?” Ella mengusap air matanya dan mencoba tersenyum, “Makasih ya, Bening. Nanti Mbak Ella kasihkan, ya.”
@bacahorror Bening masih tidak tersenyum, dia melihat kepada Ella, “Aku gak suka!” Suara kecilnya terdengar ketus. Tapi lalu gadis kecil itu menempel ibunya dan menangis lagi.

“Maaf ya, jadi gampang nangisan sejak malam itu. Saya bawa minggu dulu, biar gak menggangu.” Bu Ani pergi.
@bacahorror Ella bisa merasakan bahwa apa yang dialami Tio seperti menyedot semangat orang-orang yang ada di sekitarnya. Semuanya sekarang terlihat lebih gontai. Tempo berjalan lebih pelan. Tidak ada lagi kepala yang mendongak, semuanya menunduk.

Ella tersenyum kepada Pak No.
@bacahorror Pak No justru menatapnya dengan sangat lekat. Namun Pak No bukan pria yang senang beramai-ramai. Pak No orang yang lebih banyak menyimpan dalam diri dan membungkusnya dengan diam. Ella merasa perlu membuka pembicaraan, paling tidak dia tidak ingin terus menerus diserang sepi,
@bacahorror “Sekarang kerja sendiri, ya Pak No?”

Pak No menggeleng, “Sejak hari itu, saya belum ke rumah itu lagi. Takut.”

Lalu hening lagi. Ella tidak tahu harus berbicara apa karena memang tak terlalu dekat dengan Pak No. Ella melirik pria itu, dia masih menatap Ella dengan lekat.
@bacahorror Seolah ada sesuatu yang dibimbangkannya di benak.

“Kenapa, Pak No?”

Pak No lagi-lagi menggeleng. Dia masih diam dalam mata yang nampak bimbang. Namun akhirnya perkataan keluar dari mulutnya, “Ella lihat ada yang beda gak dengan Tio hari itu?”

“Ya biasa Pak No. Cuma memang kami
@bacahorror sempat bertengkar di rumah Pak No itu waktu itu. Dia mengajak saya malam-malam kan.” Ella menunduk, “Saya menyesal Pak No kenapa harus bertengkar malam itu.”

“Bukan itu…” Pak No jelas menekankan kata-kata yang baru saja dikatakannya. Ella kembali memperhatikan.
@bacahorror Namun wajah pria itu kali ini bukan lagi bimbang, tetapi lebih pada tegang, “… apakah Ella mencium sesuatu dari Tio?”

Ella tidak mengerti maksud pertanyaan ini.

“Saya nggak paham maksud pertanyaannya Pak No.”

Pak No berusaha untuk mengungkapkan apa yang dipikirkannya tetapi
@bacahorror dia tidak bisa mengatakan pikirannya. Dia lalu cuma menggeleng dan tersenyum.

Ella tidak paham dengan Pak No sama sekali. Apa hubungan bau dengan yang dialami Tio saat ini. Apakah yang dimaksud Pak No adalah bahwa kedatangan makhluk halus itu memiliki bau-bau khusus?
@bacahorror Lalu bau apa yang dimaksud? Dia tidak mencium bau apa pun. Tidak ada bau melati, tidak ada bau wangi sesajen, hio, atau kemenyan. Dia bau seperti Tio yang biasanya. Yang ada adalah kekasihnya itu bau keringatnya seperti biasa. Tak ada yang khusus. Tak ada bau darah atau anyir.
@bacahorror Namun ketika melihat Pak No, jelas Ella tahu bahwa pria itu menyimpan sesuatu dalam benaknya. Apakah Pak No memiliki kemampuan khusus dengan hal-hal gaib? Membaca yang tidak terbaca orang pada umumnya, melihat yang tidak bisa dilihat mata biasa?

“Ada apa to Pak No. Saya jadi
@bacahorror kepikiran pertanyaan Pak No?”

Pak No menatap gadis itu kembali dengan tatapannya yang tadi, “Maaf yang Mbak Ella jangan tersinggung, ya. Apakah Mbak Ella pernah berhubungan badan dengan Mas Tio?”

Ella terlonjak. Lebih dari pertanyaan apa pun pertanyaan itu jelas bukan
@bacahorror pertanyaan yang dia persiapkan. Dia meradang. Mukanya merah padam dan napasnya menggebu, dia berdiri dari tempat duduknya, “Pak No! Saya tahu gaya saya seperti cewek yang bebas. Tapi saya bisa menjaga diri saya sendiri. ” Ella beranjak dari tempat duduknya, dia hendak
@bacahorror pergi dari tempat itu, namun berbalik sejenak, menghadap pria yang menanyakan pertanyaan konyol dan tidak tahu diri itu, "Lagipula urusan seperti itu bukan wilayahnya Pak No!"

Ella pergi. Lebih baik bersama Bening yang tidak bisa tersenyum daripada bersama pria hidung belang.
@bacahorror ---

Ella berbaring sendirian dia lantai kamarnya. Dia memutar beberapa voice note dari Tio sekadar untuk mendengar suaranya. Namun semuanya tak pernah sama. Foto-foto pun tak menggantikan kehadirannya. Yang dia butuhkan ada Tio, bukan kepingan-kepingan masa lalu Tio.
@bacahorror Dia membutuhkan Tio untuk saat ini di sini. Tio yang seutuhnya.

Maka dia sudah meniatkan. Sudah sepuluh menit dia di tengah kegelapan utuh. Seluruh lampu kamarnya dimatikan. Bahkan lampu dari keyboard laptop dan mousenya. Tak ada cahaya apa pun.
@bacahorror Perlahan-lahan dia mulai bisa melihat samar-samar kamarnya serupa siluet. Dia masih diam dan menunggu sampai beberapa menit lagi, sehingga dia mulai melihat kegelapan itu sebagai pendar-pendar tipis.

Dia ingat langkah-langkah yang harus dilakukan berikutnya. Memukulkan telapak
@bacahorror tangannya ke bawah tiga kali. Sudah. Dia perlu menunggu beberapa saat. Apakah ini kesempatan untuk menantikan sesuatu untuk datang? Dia berharap yang datang adalah apa yang dilihatnya di sudut halamannya ketika itu. Sekalipun samar-samar tapi dia berharap berjumpa dengan Tio.
@bacahorror Dia menghitung dalam hati. Setidaknya seratus hitungan mungkin cukup. Lalu dia bangkit bejongkok. Dia menutup matanya, karena diam-diam ada kekhawatiran bahwa dia tidak akan siap melihat apa yang akan dilihatnnya. Dia tundukkan kepalanya sehingga bisa berada di tengah-tengah
@bacahorror kakinya. Seharusnya dia membuka matanya. Tapi dia masih khawatir, ketakutan masih menguasainya. Bagaimana jika yang muncul ternyata sebentuk pocong atau hantu yang ngesot di lantai dengan wajah yang tercabik-cabik.
@bacahorror Namun sudah beberapa lama kepalanya berada di antara kedua kakinya. Dia mulai merasakan aliran darahnya lebih banyak berkumpul di kepala. Dia membuka matanya pelan-pelan.

Hening. Masih kegelapan yang sama. Pendar-pendar tipis cahaya yang terikat pada benda-benda.
@bacahorror Ella melihat berkeliling. Tak ada apa pun. Tak ada siapa pun. Dia menunggu tetap dalam kondisi kepala di bawah di antara kaki. Dia tak melihat apa pun.

Permainan bodoh. Mana ada yang seperti itu. Hanya permainan anak-anak yang kurang kerjaan.

Dia bangkit dan terduduk lesu.
@bacahorror Mencari saklar kamar. Meraihnya dan menghidupnya.

Setelah lama dalam kegelapan, kini matanya harus menyesuaikan dengan terang. Silau yang terlalu berlebihan. Dia kembali melihat berkeliling taka da apa pun yang berubah. Dia berharap sesuatu yang berbeda.
@bacahorror Bukan yang biasa-biasa saja. Dia berharap hidupnya serupa film-film horror yang ditontonnya. Hantu-hantu yang bisa diundang dengan permainan jelangkung. Dia berharap tiba-tiba kekasihnya muncul di sisinya lalu membuat keramik bersama-sama.
@bacahorror Dia berharap kekasihnya ada dalam bentuk yang dia kenal. Bukan sebagai seonggok tubuh yang terbaring di rumah sakit. Tapi tak ada. Mengapa cerita dan film-film horror itu bisa sedemikian dramatis, padahal nyatanya hidup ya biasa-biasa saja seperti ini. Dia berharap bisa bertemu
@bacahorror dengan seorang kyai, pendeta, anak indigo, cenayang, atau dukun sakti yang maha tahu, yang bisa memberitahu bagaimana nasib kekasihnya saat ini. Lalu dengan segala ilmu dan kemahatahuan mereka memberi tahu langkah-langkah yang bisa dilakukan utnuk menyelamatkan kekasihnya.
@bacahorror Bukankah di film-film itu selalu ada tokoh yang demikian? Tetapi mengapa dalam hidup ini semua orang biasa saja.

Dia kelelahan dengan harapannya. Sudah waktunya tidur. Dia benar-benar tak bisa tidur beberapa hari ini.
@bacahorror Dia mematikan lampu besar di kamarnya dan hanya menghidupkan lampu meja. Membaringkan tubuhnya dan mencoba menutup matanya.

Matanya sudah mulai liyer, ketika dia tiba-tiba melihat sosok di belakang pintu. Persis di sudut kamarnya. Sosok yang dilihatnya seperti sebuah bayangan
@bacahorror yang berdiri tegak. Masih dalam pakaian yang sama, yang dikenakannya pada malam dia mengalami kecelakaan. Wajahnya tak tersenyum, nampak dingin dan tanpa rasa. Bibir itu membuka sejenak. Mengucapkan sebuah kata.

Ella segera mencoba duduk lebih baik. Berharap bisa menghadap
@bacahorror wajah yang dirindukannya itu dengan lebih jelas. Tapi sudah tidak ada lagi. Bayangan itu sudah hilang. Dia menghidupkan lampu kamarnya. Masih tak ada. Dia mematikan lampu kamarnya. Dan bayangan Tio tak juga muncul.

Dia menangis. Ada rasa tersedak di dalam hatinya.
@bacahorror Rasa rindu yang ditahannya sekian lama. Dan perjumpaan yang tidak serupa harapan. Dia menangis bersenggukan. Bahkan dalam bayangannya sang kekasih tak mengucapkan aku mencintaimu atau aku merindukanmu. Tio justru mengucapkan, “Bening”.
@bacahorror ---

Ella kembali menjaga Tio sore itu. Belum ada perkembangan. Ruang di RS S juga belum ada yang tersedia. Dikatakan paling tidak dia menunggu empat hingga tujuh hari tapi begitu ada akan segera dikabari.

Ella keluar dari ruangan itu. Tidak ada yang bisa dikerjakan selain
@bacahorror menunggu. Dia tersenyum kepada suster, dan suster itu membalas senyumnya. Nampak wajah para suster itu menunjukkan rasa kasihan kepadanya. Biasanya dia bukan seseorang yang senang dikasihani. Tapi kali itu dia memang merasa butuh dikasihani. Dalam suasana kritis dunia kita kadang
@bacahorror menjadi terbalik-balik.

Ibu Tio duduk di luar. Tersenyum kepada Ella, “Capek, Ndhuk?” Ella menjawab dengan senyuman.

“Kalau sore begini ini biasanya dia pulang kuliah langsung bantu-bantu apa. Kadang ya bantu di temannya yang kerja antar-antar barang.
@bacahorror Kalau beberapa hari ini ya bantu-bantu di Pak No itu. Tidak pernah mau berhenti, seperti bapaknya dulu waktu masih hidup.” Dia menatap Ella, “Dia bisa sembuh kan ya, La?”

Ella menghindari tatapan mata Ibu Tio. Mengambil napas panjang, “Iya, Bu! Pasti.” Menggenggam tangan
@bacahorror perempuan di sebelahnya, “Tio itu kan pejuang. Dia gak akan menyerah, Bu! Kita juga jangan.”

Ibu Tio mengangguk, “Dia itu kuliah apa-apa ya semua biaya sendiri. Dulu pas lulus SMA saya minta supaya kerja saja dulu. Nanti kalau sudah punya uang dari kerjanya dipakai buat kuliah.
@bacahorror Tapi dia malah bilang, kalau sudah kerasa megang uang, biasanya orang sudah males mau belajar lagi. Akhirnya ya begitu, pagi kuliah, sorenya kerja kadang sampai hampir tengah malam. Eh, kalau Ella gimana ini kuliahnya, kok malah ditinggal jagain Tio?”

“Gak apa-apa, Bu.
@bacahorror Kami itu kan bisa punya jatah ijin tiga kali tiap mata kuliah. Minggu depan pun saya masih bisa ijin. Di Y pun hati saya gak tenang. Papa mama juga sudah ijinin.”

Ella hendak mengatakan tentang apa yang dilihatnya tentang Tio semalam, tetapi dia khawatir itu malah membuat
@bacahorror ibunya khawatir.

HPnya bergetar dan sebuah pesan berpendar di layarnya, ‘Mbak Ella mohon maaf, saya Bram 5th Coffee. Bisa ketemu? Ada yang mau saya omongkan tentang Tio.’

---

Kembali di kafe itu. Sang gadis duduk di tempatnya duduk seperti kali pertama dia datang ke
@bacahorror tempat itu. Seorang barista yang menggodanya dulu ada di tempatnya, temannya tidak, mungkin berbeda shift. Tapi barista itu tak nampak seperti dulu. Dia yang dulu begitu beringas meminta nomornya, kini hanya menyapanya, itu pun dengan kesopanan yang ditata. Kesopanan yang agak
@bacahorror tidak pas dengan wajahnya.

Mengapa semua mendadak serba murung ketika dia sedang murung? Benarkah semesta punya cara menyesuaikan alirannya dengan aliran tubuh seseorang. Dan dunia yang dia jumpai sejak kecelakaan Tio adalah dunia yang serba murung.
@bacahorror Dia hanya ingin tertawa lagi. Berat. Ah dalam situasi seperti ini dia berharap barista itu menggodanya. Entahlah mengapa pikiran semacam itu terlintas dalam pikirannya. Dia ingin diinginkan. Ingin dihasrati. Apakah dukanya telah menjadikannya sedemikian tak menarik lagi?
@bacahorror Hingga dulu orang yang menggodanya pun telah berubah menjadi kalem dan penuh tata krama.

Ella mengangkat tangannya. Bukan barista itu yang datang kepadanya. Seorang pramusaji perempuan. Mungkin usianya sedikit lebih muda daripadanya. Benar, duka ini telah mengubah dirinya.
@bacahorror Dia bukan lagi yang menarik, bukan lagi yang menantang dan mengundang orang datang. Dia adalah gadis lesu yang tak menarik lagi. Bunga yang layu di sore yang gelap dengan petal-petal yang menguning kusam. Siapa yang akan melihat bunga ya lusuh begitu? Dia tak lagi bersinar.
@bacahorror Kehilangan bisa mengubah seseorang sama sekali.

Ah tapi siapa juga yang sebenarnya mau digoda. Dia hanya ingin Tio kembali. Dia tidak butuh rayuan pria yang lain. Dia ingin diingini tapi bukan dihargai murah seperti tidak berharga. Ah entahlah, perasaan itu bersaling-silang
@bacahorror dalam dirinya. Dia seperti tak mengenal dirinya lagi.

Namun, nyatanya sang barista datang juga mengantarkan pesanannya. Barista itu tersenyum simpul, bukan senyum menggoda, bukan senyum pemangsa. Dia meletakkan teh lemonnya di meja, “Bram masih perjalanan ke sini.
@bacahorror Ella tunggu sebentar, paling lima atau 10 menitan lagi.” Dia tak menawarkan apa pun lagi, tidak seperti dulu. Mungkin barista itu tahu untuk apa dia datang ke sana. Bukan untuk diajak bercanda atau bernyanyi lagu-lagu setengah gila, atau tertawa-tawa yang tidak semestinya.
@bacahorror Tapi sial! Mengapa suasananya seperti dia baru saja ditinggalkan mati seseorang. Lalu semua orang ikut berduka kepadanya.

Dan benar tidak lebih dari 10 menit. Pria muda itu keluar dari mobilnya. Lalu tersenyum dan berjalan cepat ke arahnya. Dia mengulurkan tangannya, “Bram!”
@bacahorror Ella membalas dan menyebutkan namanya juga. Bram persis seperti yang diduganya. Seorang pria muda di awal 20an tahun. Berkulit langsat dan terawat dalam tubuh berotot sekal. Jelas bukan otot yang dibentuk oleh kerja paksa, seperti otot kekasihnya, otot-otot Bram dibangun dengan
@bacahorror latihan yang terencana di gym ber-AC dingin tanpa paparan cahaya matahari. Wajahnya serupa artis-artis muda yang gampang dijumpai di sinetron dan film-film. Wajah yang gampang membuat para gadis merana-rana mendamba untuk bersama. Tapi bukan Ella.
@bacahorror Bagi Ella, sekalipun jenis seperti Bram sangat mudah membuat orang tertarik, namun bukan dibentuk oleh hidup. Akan selalu ada yang hilang dalam proses yang ditata. Hidup selalu penuh ketidakteraturan dan lompatan-lompatan. Program gym apa pun bisa menata keteraturan,
@bacahorror tapi justru anti pada ketidakteraruran. Lagi pula, dia sering berjumpa dengan orang-orang seperti Bram di mall-mall di kota-kota. Wajah dan tubuh yang semakin seragam hari-hari ini. Orang mungkin melihat Bram sebagai dambaan, pria muda sukses dan bermasa depan. Baginya
@bacahorror Bram adalah cerita yang tak memesona. Enak dilihat tapi tak membuat lapar.

Atau dia hanya sedang rindu saja dengan Tio? Lalu segalanya diukur dengan Tio sebagai standar. Ah perasaan dan pikiran manusia memang rumit berkelit-kelit. Kelindannya seperti pacuan yang ke sana
@bacahorror dan kemari.

“Sorry! Nunggu lama ya?”

Ella menggeleng.

“Aku sampai meminta-minta nomor kamu ke papamu. Dan dia orang yang gak gampang dibujuk.” Bram tersenyum. “Oh ya, aku dapat nomor kamu, maksudku nomor papa kamu dari anak-anak barista di sini. Aku cerita mereka tentang
@bacahorror temanku yang kecelakaan. Aku kasih tahu fotonya sama mereka. Mereka ingat kalau mereka pernah lihat Tio sama kamu di sini. Dan pas namanya Ella.”

“Pas namanya Ella?”

“Nanti kuceritain.” Bram melihat teh lemon gadis itu, “Mau nambah sesuatu?”
@bacahorror Ella menggeleng saja, “Tempat kamu asik. Tio sering cerita tentang tempat ini. Dia sering cerita tentang kamu juga.” Lalu dia menatap entah ke mana, bayangan Tio yang terbaring hampir tak berbentuk di rumah sakit membuatnya segera saja ngilu. Dia terbayang bagaimana ketika Tio
@bacahorror menceritakan Bram dengan tatapan yang mengandung rasa tak terima dengan keberuntungan kawannya itu. Dalam mata yang berkobar penuh semangat, kekesalan, tapi juga harapan, “Ah! Anak itu…” Mata gadis itu pun tetiba berkaca-kaca.
@bacahorror Bram cukup bijaksana untuk tidak menanggapi apa pun. Bahkan tidak muncul hiburan-hiburan kosong semacam, ‘sabar ya’ ‘tabah ya’. Pria itu hanya diam sambil memandang Ella. Seperti ikut merasakan kesedihan yang dialami.

“Tio itu inspirasiku, La.” Sambil mengeluarkan sapu tangan
@bacahorror dari sakunya, “Bersih kok, tenang aja.” Ella mengambil sapu tangan itu dan mengelap basah di batas matanya. “Dia itu pekerja keras. Ada sesuatu dalam dirinya yang gak bakalan aku samain. Dia selalu berjalan beberapa langkah di depan orang lain, termasuk di depanku.”
@bacahorror Ella berusaha untuk tersenyum. Dia bingung antara mau mengembalikan sapu tangan yang sudah basah oleh air matanya itu atau tidak. Bram jelas membaca itu, “Simpan aja. Nanti dipakai lagi kalau matanya kelilipan lagi.”

Ella tertawa kecil. Bram tidak seburuk yang disangkanya,
@bacahorror “Dia itu sering iri sama kamu.”

Bram tertawa kecil, “Aku yang iri sama dia. Orang hebat. Tapi ya gitu, kenapa ya orang hebat selalu keras kepala.” Dia mengangkat tangannya kepada barista, “Biasa!” Barista itu mengerti dan tak berapa lama mengirimkan sebuah kopi tubruk hitam
@bacahorror kepada Bram, “Yang alami lebih berasa. Yang natural tak bisa digantikan.” Sambil menyeruput kopinya, “Seperti emosi yang alami, bukan yang dibuat-buat. Kelilipan alami misalnya.”

Ella bisa tertawa lagi.

“Aku ini cuma apa, La! Cuma ngurus duitnya orang tua.
@bacahorror Mengelola harta mereka. Hasilku sendiri ya belum ada. Apa yang bisa dibanggakan dari semacam itu?” Dia meletakkan kopinya kembali di meja, “Beda sama Tio. Kerjanya macam-macam. Bisa kuliah sendiri. Bisa kredit motor sendiri.”

“Iya motor yang diajaknya jatuh gulung-gulung.”
@bacahorror Ella tersenyum. Bram membalas senyuman itu. Entahlah hatinya tiba-tiba lebih ringan. Kadang memang butuh teman yang memiliki frekuensi yang sama. Dan dia tidak menyangka itu datang dari Bram yang selama ini bahkan hingga beberapa menit lalu dianggapnya sebagai anak lembek yang
@bacahorror dimanjakan orang tua. Ternyata pria di depannya cukup bisa mengejutkannya.

“Awal buka ini aku mengajak dia. Tapi dia ya begitu keras kepala. Tidak mau kalau dianggap lebih rendah dari temannya. Padahal aku ya masak akan memperlakukan dia begitu. Maksudku kayak rekanan.
@bacahorror Dia bilang gak, ya aku gak bisa maksa.”

Bram melihat Ella, “Tapi bukan itu yang mau tak omongin hari ini.”

Ella menyamankan posisi duduknya menghadap kepada Bram yang agaknya mulai serius.

“Jangan mikir macam-macam, ya, La. Aku mimpi ketemu Tio.” Lalu pria itu mengoreksi
@bacahorror perkataannya, “Bukan mimpi, aku seperti melihat dia dua hari yang lalu di kamarku.”

Ella terhenyak hingga kursinya berderit bergeser beberapa sentimeter ke belakang. Bram menunjukkan bahwa dia bukan sedang bercanda, “Jangan mikir macam-macam…”

Belum selesai Bram menyelesaikan
@bacahorror kalimatnya, Ella memotong, “Aku juga semalam.”

“Oh, ya?” Pria itu seperti merasa ingin tahu tapi juga lega pada saat yang sama, “Aku khawatir ketika aku cerita seperti ini kamu akan nganggep aku bohong karena Tio masih koma, tidak mungkin dia menampakkan diri kepada orang lain.
@bacahorror Hanya orang yang meninggal yang menampakkan dirinya. Aku benar-benar tidak bermaksud mengatakan bahwa dia akan bagaimana-bagaimana. Aku berharap dia sembuh. Jadi aku gak enak mau ngomong ini sama kamu.”

Ella bisa sangat mengerti apa yang dirasakan Bram. Karena dia juga tidak
@bacahorror rela jika yang menampakkan diri kepadanya itu adalah arwah Tio. Tio belum arwah. Tio akan selamat. Itu doanya. Tio akan sembuh, demikian selalu dia mengucapkan harapannya dalam hati.

“Bagaimana kamu melihat dia?” Ella menanggapi Bram dengan sama-sama serius. Semoga ini sesuatu
@bacahorror yang lain. Dia berharap kabar gembira.

“Aku seperti tidur-tidur ayam kapan hari itu. Tapi rasanya setengah sadar setengah tidak sadar, aku seperti tidak ada di kamarku sendiri. Aku di sebuah rumah kosong. Rumah itu gelap, tapi aku masih bisa melihat sekitar, bukan gelap yang
@bacahorror gelap sekali. Aku melihat beberapa orang bergerombol di sudut salah satu ruangan di rumah itu. Ada perempuan, ada anak kecil, ada beberapa laki-laki. Aku tidak mengenal mereka semua. Mereka seperti mengerumuni sesuatu di pojokan itu. Aku tidak tahu keberanian dari mana,
@bacahorror aku mendekat kepada mereka. Lalu mereka tiba-tiba menghilang. Aku justru melihat Tio duduk di pojokan itu. Kakinya ditekuk dan kepalanya menunduk. Ketika kau mendekatinya. Aku melihat wajahnya yang sedemikian sedih, dia lalu mengatakan sesuatu kepadaku.”

Ella hendak memotong
@bacahorror cerita Bram, karena ekspresi yang dilihatnya dari Tio dalam dua kali ini melihat Tio dalam setengah sadarnya juga Tio yang bersedih. Tapi Ella tertarik pada hal yang lain, “Dia bilang apa?”

“Aku gak ingat persisnya. Beberapa saat kemudian kan aku seperti bangun di kamarku.
@bacahorror Aku merasa bukan seperti mimpi. Tapi apa ya. Aku gak tahu. Aku merasa yang aku alami itu benar-benar nyata. Tapi yang pasti inti dari yang dia katakan, sejauh aku bisa ingat, dia meminta maaf kepadamu…”

Ella tersedak oleh air mata. Dia tidak mengharapkan kata-kata itu.
@bacahorror Dia tidak mengharapkan perpisahan. Dia akan menemani Tio apa pun kondisinya setelah ini, asalkan Tio bisa sehat kembali. Bram pasti bisa melihat air mata yang tidak dapat digantungkan lagi itu. Menderas di kedua mata memerah gadis itu.

“Tapi bukan hanya itu yang dia katakan.
@bacahorror Dia bilang dia minta tolong. Dan katanya hanya kamu yang bisa nolong. Makanya malam itu aku langsung ke rumah sakit. Tapi kamu pas gak ada di sana. Aku cari alamatmu. Aku tanya kepada ibunya dia gak tahu rumah kamu. Sampai aku cerita ke anak-anak barista di sini.”
@bacahorror “Minta tolong?”

Bram mengangguk. Ella tidak mengerti maksudnya. Tapi dia tersengat sebuah perasaan, “Rumah dalam mimpimu itu, apakah rumah itu sedang diperbaiki?”

Bram mencoba mengingat-ingat. “Aku gak ingat persis. Tapi yang jelas rumah kosong. Di sekelilingnya kebun-kebun
@bacahorror lalu sawah tebu. Aku tidak pernah lihat rumah itu.”

Ella berdiri, “Aku tahu rumah itu di mana.”

Ella mengambil dompetnya dan mau mengeluarkan beberapa lembar uang. Bram menahannya mengatakan tidak usah, “Kamu mau ke sana?”

Ella mengangguk.

“Aku antar.”

---
@bacahorror Rumah itu menggunuk hitam, lampu depannya tak hidup seperti pertama kali Ella ke situ. Malam ini rumah itu seram, tak ada bintang yang menempel di lelangit. Hanya awan yang saling bersinambung.

“Bentar!” Bram masuk kembali ke dalam mobilnya dan menyalakan lampu mobilnya.
@bacahorror Ella melihat kepada Bram, “Benar rumah ini?”

Bram melihat sejenak, “Aku gak tahu. Aku sudah ada di dalam rumah itu. Aku melihat bayang-bayang pepohonan dari jendela sisi dalam.

“Lihat!” Ella menunjuk sawah tebu di sebelah Timur. Namun, Bram agaknya masih tak begitu yakin.
@bacahorror “Kita masuk ya.” Ujar sang gadis.

Bram menemani gadis itu berjalan di sisinya. Bayangan mereka yang disorot oleh lampu mobil di belakang mereka merupa dua raksasa besar. Ella memegang gagang pintu itu. Terkunci.

“Kamu tahu yang punya rumah ini?”
@bacahorror Ella tiba-tiba mengingat apa yang terjadi kali terakhir perjumpaannya dengan Pak No. Dia melengos.

“Aku tanyakan ke Tante Ani.”

Mereka kembali ke mobil. Hanya dalam beberapa menit mereka sudah berada di depanm warung itu. Warung Bu Ani tutup. Mungkin karena Ibu Tio harus
@bacahorror berjaga di RS. Tidak ada yang membantunya. Ella berjalan masuk ke depan pintu rumah perempuan itu. Dan di ruang tamu Bu Ani sedang menonton televisi.

“Permisi, Tante.”

Bu Ani terkejut melihat Ella, tapi segera keterkejutan itu berganti dengan wajah kasihan, “Ya, Mbak Ella?
@bacahorror Gimana? Sini masuk dulu.”

Ella masuk diikuti Bram. Ella memperkenalkan Bram sebagai teman Tio. Bu Ani menerima Bram dengan ramah. Penggunaan sebutan teman Tio menyebabkan perempuan itu nampak prihatin.

“Mau ambil barang di rumah Tio? Terkunci apa rumahnya? Duduk, Mbak.”
@bacahorror Ella duduk dan Bram mengambil kursi di sebelahnya.

“Bukan, Tante.”

“Lah terus? Tante pikir mau ambil barang terus lupa bawa kunci. Saya juga gak punya kalau kunci rumahnya Tio.” Perempuan itu bergerak dari tempat duduknya, “Sebentar ya, saya ambil minum apa gitu dari warung.”
@bacahorror “Gak usah, Tante. Ini cepat aja kok.”

Bening keluar dari ruang tengah membawa sebuah kertas bergambar krayon. Semua gambar itu hanya coret moret hitam tidak berbentuk. Melihat Ella, gadis kecil itu sempat tersenyum sejenak hendak berlari kepadanya. Namun, ada yang menahan
@bacahorror gadis kecil itu. Dia kemudian justru mengarah kepada mamanya dan memeluk mamanya.

“Dia jadi diam, Mbak Ella sekarang. Gak kayak dulu.” Mamanya melihat gambar yang dipegangnya, “Apa ini, Bening?” Bening melihat kepada Ella, lalu kepada Bram, lalu kepada mamanya. Dia menggeleng.
@bacahorror Lalu memeluk mamanya lagi. Dia membenamkan dirinya dalam daster mamanya. Sambil menarik-narik ujung kerudungnya.

“Sejak Mas Tio masuk RS, rasanya semuanya jadi beda. Ya, Bening. Ya orang-orang sini. Banyak yang tanya ke bening apa yang ditangisinya pada waktu malam itu, Mbak.
@bacahorror Tapi ya Bening tidak menjawab. Dia kadang tiba-tiba menangis kalau begitu. Saya suapin makan menangis. Saya mandikan menangis. Mungkin anak kecil bisa merasakan juga ya. Dia bilang sakit.” Perempuan itu lalu sadar bahwa dia justru bercerita tentang hal yang lain, bukan tujuan
@bacahorror tamunya. Dia langsung kembali, “Gimana kondisi Mas Tio hari ini, Mbak?”

“Belum ada perkembangan Tante. Tadi saya telpon di RS S juga di sana belum ada ruang. Sedangkan di sini, cuma bisa ditangani yang kecelakaan tangan dan kakinya. Kepala sama rusuk yang patah belum
@bacahorror bisa ditindak. Masih belum sadar juga. Tapi ya mungkin lebih baik begitu, kalau sadar gimana sakitnya. Ah, bingung juga saya, Tante.”

Bram menyenggol Ella.

“Oh ya, saya datang ke sini tadi mau menanyakan rumah Pak No, Tante.”
@bacahorror Wajah perempuan itu berubah. Dia nampak tegang mendengar rumah itu disebutkannya. Bening yang juga mendengar rumah itu tiba-tiba menjadi memegang mamanya lebih keras, menyembunyikan dirinya lebih dalam kepada mamanya. Hanya dalam beberapa detik kemudian gadis kecl itu menangis.
@bacahorror Mamanya kelihatan lelah, kesal, namun juga kasihan. Dia memeluk anak it uke dadanya. Bening masih menangis sekeras-kerasnya.

“Sudah, Bening! Jangan menangis lagi ya. Sudah ini lo ada Mbak Ella sama masnya … siapa tadi namanya?”

Bram menyebutkan namanya.
@bacahorror “Iya ini lo ada Mbak Ella sama Mas Bram.” Tapi anak itu tak juga mau diam.

“Maaf, Tante.”

Perempuan itu menggendong anak itu dengan berdiri. Bening yang berusia lima tahun jelas sudah bukan bayi dan ibunya sudah kesulitan menggendongnya.

“Ya gini ini terus, lo, Mbak Ella.
@bacahorror Sedih saya ini.” Dia mencup-cup anaknya tapi Bening masih terus menangis.

“Bukan ruamh yang itu Tante. Maksud saya rumah Pak No yang ditinggali sekarang.”

Perempuan itu kelihatan bingung. Tapi dia kemudian menjelaskan, “Oh kalau sekarang Pak No tinggal bersama anaknya di desa
@bacahorror sebelah. Mbak Ella keluar gapura desa ini. Ada gapura yang nanti kiri dan kananya ada neonnya. Di gang itu ada rumah bercat biru yang di depannya ada patung macannya. Ada apa memangnya, Mbak?”

“Enggak apa-apa, Tante. Cuma mau tanya-tanya saja. Makasih ya, Tante.” Ella kemudian
@bacahorror mengelus Bening tapi Bening menangis semakin keras. Ella ingat kalau saat-saat seperti itu Tio biasanya akan memeberikan permen kepada Bening untuk menenangnya. Ella membuka tasnya, dan mencari-cari. Ada beberapa permen di sana. Bukan permen yang biasa disukai Bening.
@bacahorror Tapi dikasihkan saja, siapa tahu bisa menenangkan. Ella memegangkan permen itu kepada Bening, “Ini Bening, Mbak Ella punya permen. Cup cup ya, Sayang.”

Bening justru membuang permen itu dan menangis semakin keras. Dia meronta-ronta di dada mamanya, “Maaf ya Mbak Ella.
@bacahorror Bening kok gitu sih. Mbak Ella sudah baik-baik kasih kok malah kayak gitu.” Tapi Bening tak menunjukkan tanda-tanda membaik, “Sudah Mbak Ella ditinggal saja, nanti lama-lama kan ya capek, berhenti sendiri. Kalau begini tidurnya biasanya lebih tenaang. Ah, anak mama ya…
@bacahorror Dia sudah beberapa hari ini seperti terbangun-bangun waktu tidur.”

Bu Ani mendekati Ella, “Saya khawatir dia melihat kuntilanak atau anaknya atau apa yang ada di rumah itu.”

Ella tak bisa menjawab apa pun.

“Mbak, jangan main-main di rumah itu, ya. Rumah itu angker katanya
@bacahorror banyak orang. Banyak yang sudah lihat yang aneh-aneh di rumah itu.”

Ella mengangguk. Lalu dia mengucapkan terima kasih dan permisi. Bening tak akan bisa ditakhlukkannya malam itu. Yang terpenting adalah bagaimana perasaannya nanti ketika bertemu Pak No.
@bacahorror Ella jelas tidak menyukai pria itu. Dia bahkan tidak tahu harus membuka pembicaraan dengan bagaimana nanti.

Ella keluar dari rumah itu. Bram membuka mobilnya. Ella masuk dan diam sejenak. Bram kelihatannya tahu betapa bingungnya gadis di sebelahnya. “Ada apa ya, La?
@bacahorror Rumah itu kelihatannya menakutkan sekali untuk orang-orang di sini.”

Ella mengangkat bahunya, “Nanti kamu yang ngomong sama Pak No. Aku males ngomong sama orang itu.”

“Kenapa?”

Pertanyaan itu tak berjawab. Bram melihat Ella tidak hendak melanjutkan pembicaraan.
@bacahorror Dia mengendarai mobilnya ke ujung ke rumah yang ditunjukkan. Rumah biru dengan patung macan di depannya.

---

Rumah itu asri. Berbagai pohon-pohonan buah ditanam berderet. Lalu ada sebuah petak halaman yang ditanami cabai dan tomat. Halaman rumah itu dipelester kasar dari
@bacahorror pagar depan ke teras. Bram menghentikan mobilnya di samping pagar. Ella nampak tak mau keluar.

“Ayo!” Ujar Bram.

Ella menghembuskan napas panjang. Dia berdecak. Ck! Bram jelas tidak mengerti kekesalannya. Tapi pria itu melihat keengganan sang gadis. Bagi pria itu mungkin itu
@bacahorror sikap yang aneh. Bahkan Ella tadi bersemangat masuk ke rumah angker di tengah kebun tadi. Tapi justru ke rumah normal di depannya rasa tak hendaknya jelas terlihat.

Bram keluar lebih dulu.

Ella akhirnya keluar dari mobil itu dan mengikuti Bram berjalan ke halaman rumah
@bacahorror biru itu. Rumah itu jelas lebih kecil dari rumah angker. Tapi rumah itu nampak lebih hidup. Ella sekarang bisa melihat halaman rumah itu lebih jelas. Beberapa pohon yang ditanam di halaman itu adalah mangga, kelengkeng, dan kedondong. Sebuah rumah kecil, separuh dari semen
@bacahorror separuh dari anyaman bamboo terletak agak menjorok ke dalam. Mungkin kendang atau Gudang. Sedang rumah utamanya khas seperti rumah desa, tidak ada yang istimewa, kecuali catnya yang nampak norak. Bahkan di tengah kegelapan malam seperti ini. Warna biru yang tidak tua tidak juga
@bacahorror muda itu ngejreng.

Namun ketika Ella melihat sudut halaman berada di dekat kendang atau gudang itu, langkahnya terhenti. Bulu kuduknya merinding. Sesosok pria berdiri di sana. Di sisi yang tak terpapar cahaya. Di sudut gelap di belakang pohon kelengkeng.
@bacahorror Ella hapal dengan postur itu. Hapal dengan pakaian yang dikenakan. Karena hingga hari ini, pakaiannya masih sama. Postur berdirinya pun sama. Tio.

Bram yang melihat Ella terhenti ikut berhenti. Lalu melihat gadis itu. Pria itu jelas melihat rambut tipis di sepanjang tangan
@bacahorror perempuan itu yang berdiri, “Ada apa?”

Ella melihat kepada Bram. Lalu menatap sosok yang berada di ujung rumah anyaman bambu itu. Sosok itu tak lagi di sana.

“Aku lihat Tio barusan.”

Ella bisa juga melihat lengan Bram yang bereaksi pada pernyataannya. Bram segera menggosok
@bacahorror lengannya, “Sudah, kita cari Pak No.”

Mereka berjalan bergegas menuju ke pintu rumah itu. Terdengar suara televisi.

“Permisi!” Bram mengetuk pintu. Lalu melakukan itu lagi beberapa kali. Suara TV di dalam rumah dikecilkan. Seorang perempuan membukakan pintu.
@bacahorror Jelas istri Pak No, usia mereka tak berpaut jauh. Bram menyatakan bahwa dia ingin bertemu Pak No, “Oh ya, saya Bram dan ini Ella, kami teman Tio.”

Perempuan itu segera menyilakan mereka masuk dan duduk. Tak berapa lama kemudian Pak No keluar dalam kaos dalam dan sarung.
@bacahorror Dia menatap kepada Ella, ada perasaan bersalah yang segera nampak di matanya. Ah mata memang tak pernah membohongi. Namun, dia masih mencoba tersenyum dan duduk berhadapan dengan kedua tamunya.

“Pak No, saya Bram, saya temannya Tio.”

Pria itu mengangguk-angguk,
@bacahorror “Bagaimana kondisi Tio sekarang?”

Bram menatap kepada Ella. Tapi jelas Ella nampak tak ingin menjawab. Maka Bram melanjutkan, “Masih seperti kemarin Pak No. Belum ada perkembangan.”

“Tio itu anaknya rajin.” Pernyataan itu justru yang keluar, “Tapi kayak kurang terbuka.
@bacahorror Banyak diamnya.” Pria itu menatap Ella, tapi Ella membuang mukanya dengan menunduk ke bawah.

“Pak No, kami langsung saja ya. Saya itu bermimpi ketemu Tio. Pas saya cerita ke Ella, katanya lokasi mimpi saya itu di rumahnya Pak No. Kalau boleh kami mau mengecek ke sana.
@bacahorror Mungkin ada apa-apa yang ditinggalkan Tio di sana. Atau ada apa-apa yang tidak beres di sana.”

Pak No ingin mengatakan sesuatu tapi dia seperti ragu antara akan mengatakannya atau tidak, “Saya ke rumah itu pagi-pagi setelah Tio kecelakaan. Saya membereskan peralatan saya.
@bacahorror Lalu mengunci rumah itu. Sampai sekarang saya belum ke sana lagi.”

Bram ragu-ragu mengatakannya, “Pak No, apakah ada yang aneh di rumah itu selama ini? Kami berpikir mungkin ada sesuatu yang tidak biasa, di luar kemampuan manusia, yang menjadikan Tio sekarang seperti itu.”
@bacahorror Bram berhenti sebentar sebelum menambahkan, “Tio memang kecelakaan, tapi mungkin ada yang membuatnya seperti itu. Bukan murni kecelakaan biasa. Saya… saya seperti melihat ada orang yang mengelilingi Tio di rumah itu dalam bayangan yang saya lihat.”
@bacahorror Ella tiba-tiba angkat bicara, “Pak No lihat jejak anak kecil di serbuk kayu bekas pasrahan kayu Pak No?” Jelas-jelas dia tidak nampak antusias dengan pertanyaannya. Atau tidak antusias kepada orang yang ditanyainya.

Namun mendengar pertanyaan Ella, justru Pak No
@bacahorror yang membelalakkan matanya, “Jejak anak kecil?”

“Iya ceritanya kan ada orang bunuh diri di rumah itu. Perempuan yang sedang mengandung.”

Pak No kemudian menyandarkan dirinya di kursi. Dia nampak berpikir dalam, perlu beberapa detik ketika Pak No akhirnya membuka mulutnya,
@bacahorror “Saya dengar cerita tentang rumah itu. Saya tahu kenapa rumah itu juga harganya lebih murah. Rumah itu niat saya juga saya beli untuk dipakai anak saya, dia sudah berkeluarga, pasti gak enak tinggal sama orang tua. Tapi dia tidak mau karena dengan riwayat rumah itu.
@bacahorror Akhinya saya memutuskan biar saya saja yang tinggal disana. Tapi kalau yang dimaksud memang tentang hal itu, kejadiannya terjadi ketika saya masih anak-anak. Istri yang tinggal di sana menggantung dirinya.”

“Jadi benar rumah itu angker, Pak No?”

Pak No menarik napas dan
@bacahorror menghembuskannya, panjang. “Selama saya di sana. Saya sering di sana sendiri. Tapi saya tidak pernah diganggu atau melihat atau merasa hal-hal yang aneh.”

“Lalu jejak anak kecil itu?” Ella mendedas.

Pak No diam. Dia menarik napas panjang, “Ella, Pak No tanya ini
@bacahorror sungguh-sungguh, tapi mohon Ella jangan tersinggung.”

Ella langsung berdiri, “Kita pergi Bram!” Bram nampak bingung apakah harus mengikuti Ella atau tidak. Tapi pria muda itu lalu memanggil sang gadis, “Duduk dulu, La. Jangan terbawa emosi. Biar masalahnya selesai.”
@bacahorror Ella masih berdiri. Dia enggan diminta duduk, “Urusan saya pernah berhubungan dengan laki-laki atau tidak itu urusan pribadi saya.” Dia berhenti masih dalam kemarahan, “Tapi saya bukan perempuan murahan. Saya bisa menjaga diri saya sampai hari ini.”
@bacahorror “Berarti Mbak Ella tidak pernah berhubungan badan dengan pria mana pun?”

Ella jelas sangat tidak nyaman. Dia mendengus-denguskan hidungnya. Bram yang melihat itu segera mengambil tindakan, “Waduh! Itu pertanyaan di luar konteks deh, Pak! Kalau saya jadi Ella saya juga tidak
@bacahorror akan jawab. Maaf, ya Pak No, saya rasa Bapak sudah tidak sopan. Sudah keterlaluan.”

Pak No mengangguk-angguk. Berpikir dalam, “Saya minta maaf, Ella.” Dia juga melihat kepada Bram, “Saya minta maaf, Bram. Saya tahu kedengarannya pertanyaan saya itu tidak sopan…”
@bacahorror “Ya memang tidak sopan, bukan hanya kedengarannya!” Ella menukas.

“Iya, iya. Saya antar ke rumah saya itu sekarang.”

“Pak No bawa kendaraan sendiri!” Ella tegas, dia menatap Bram, “Aku nggak mau semobil sama pria nggak tahu adat!”

---
@bacahorror Pak No dengan motor tuanya sampai di rumah itu lebih dulu. Mobil Bram diparkir di sebelahnya. Pak No mengambil kunci dan membuka rumahnya. Dia mengidupkan lampu ruang tamu, lalu menghidupkan lampu teras.

Bram dan Ella masuk ke rumah itu. Ella jelas-jelas memilih lebih dekat
@bacahorror dengan Bram. Dia khawatir Pak No berbuat tidak sopan kepadanya.

Ketika Ella masuk, serbuk kayu itu masih berserakan di lantai. Namun ada langkah-langkah baru di sana. Langkah-langkah yang lebih besar. Ada beberapa bekas seperti langkah yang diseret tak teratur juga.
@bacahorror Mungkin itu bekas langkah Pak No dan langkah-langkahnya beserta Tio yang takut malam itu dan menariknya keluar.

Tapi dari sampingnya. Dia melihat Bram menggosokkan telapak tangannya ke lengannya. Ella mulai sadar bahwa Bram melakukan itu setiap kali dia merasakan bulu kuduknya
@bacahorror merinding. Dia menolah kepada Ella, “Benar ini rumahnya.”

Mendengar itu Ella segera hilang akal. “Tio! Kamu di sini?”

Bram dan Pak No jelas melihat sikap Ella barusan aneh. Tapi mereka membiarkan saja. Bram mengikuti Pak No yang menghidupkan lampu di ruang tengah dan beberapa
@bacahorror ruang yang lain. Sedang Ella mengamati serbuk kayu yang ada di bawahnya. Berusaha mencari-cari.

“Bram!”

Bram dan Pak No berlari mendekati Ella yang memanggil. Ella menunjuk ke bawah. Di antara jejak-jejak orang dewasa yang lebih baru, samar-samar tergambar jejak kaki anak
@bacahorror kecil.

“Ini jejak anaknya kuntilanak itu, Bram!” Gadis itu bergantian menatap kepada Bram dan Pak No. Pak No melihat lebih dekat jejak itu. Dia menatap kepada Ella lalu kepada Bram.

“Ikut saya ke dalam!” Ujar Pak No. Keduanya mengikuti Pak No. Rumah itu cukup besar.
@bacahorror Walaupun tidak terawatt namun masih nampak kokoh. Nampak bagian dalam rumah itu walaupun lembab tetapi sudah disapu bersih sebelumnya. Mungkin Pak No dan Tio ketika mereka di situ.

Pak No melihat-lihat ruangan tengah. Beberapa kayu bertumpuk di beberapa tempat. Beberapa daun
@bacahorror jendela baru yang ditumpuk di dekat kayu-kayu itu. Mungkin itu yang dikerjakan Pak No dan Tio selama mereka berada di sini.

Di ruang yang dulunya nampak bekas dapur, sebuah rak dari kayu tampak masih tersandar di sana. Usiaanya jelas sudah sangat tua. Lalu ada beberapa
@bacahorror peralatan masak yang ditumpuk begitu saja. Beberapa sudah berkarat. Ketiganya terus berkeliling.

Di sebuah kamar yang terletak agak ke belakang, berisikan kayu-kayu tua. Agaknya bukan kayu yang sama dari kayu yang baru di ruang tengah. Kayu-kayu itu lembab dan mulai lapuk.
@bacahorror Angin dingin masuk dari sebuah bekas jendela yang ternyata tidak berdaun jendela. Dari jendela itu nampak siluet kebun dan sawah tebu yang cukup jauh. Bram memegang tangan Ella seketika.

“Ruangan ini!” Ujar Bram kepada Ella, “Benar ruangan ini yang aku lihat dalam bayanganku
@bacahorror waktu itu.”

Pak No yang berada di ruangan sebelah mendekat. Ella melihat ke atas. Apakah ada bekas kayu di atap atau sejenisnya yang digunakan untuk bekas perempuan penghuni rumah ini dulu menggantung dirinya. Tapi atap ruangan itu tertutup oleh asbes.
@bacahorror “Tio!” Ella memanggil kembali.

Pak No berjalan ke sudut. Dia terkejut, “Bram! Ella! Ke sini!”

Di sudut itu, beberapa titik kecil coklat kering. Mereka bertiga tahu titik-titik apa. Darah. Di sekitar titik-titik itu ada beberapa bekas titik cairan yang mengering lain.
@bacahorror Seperti cairan getah buah yang menetes lalu dibiarkan kering di tempat.

“Tio! Kamu di sini?” Ella kembali memanggil dengan lebih keras. Napasnya memburu antara ngeri dan kesedihan yang tiba-tiba meruap di sepanjang tubuhnya.

“Bram kamu tahu bau ini?”

“Bau apa, Pak No?”
@bacahorror “Coba kamu cium baik-baik!”

Bram mendengus-dengus. Begitu dia agaknya mengerti bau yang dimaksud, dia menatap wajah Pak No. Bram jelas nampak bingung, “Pak No? Apa ini …”

Pak No mengangguk kepadanya. “Iya, kan, Bram?” Keduanya berpandangan. Pak No dan Bram segera mencari di
@bacahorror sekitar ruangan itu. Mungkin mereka mencari sumber bau itu.

Dan di antara sela-sela kayu lapuk itu, Bram mengambil sebuah kain yang terselip tersembunyi. Sebuah kain putih berbercak-bercak kuning dan coklat kering, “Pak No?”

Pak No mencium kain itu. Tetapi belum juga
@bacahorror hidungnya dekat dengan kain itu dia segera mengembalikannya kepada Bram, “Benar, kan, Bram?”

Ella yang melihat mereka berdua segera mendekat dan mengambil kain yang berada di tangan Bram. Dia bergidik melihat bercak-bercak di kain itu. Ella mencium bau kain itu.
@bacahorror Baunya busuk, seperti bau buah yang membusuk atau telur busuk yang disimpan sekian lama dan mengering. Bau yang tidak dikenalinya tapi segera membuatnya merasa jijik dan takut, “Ini kain apa?”

“Tio! Kamu di sini? Kamu dengar suaraku?” Ella kembali berteriak.
@bacahorror Tangisnya pecah tidak kuat menahan berat yang seketika membuncah di dalam dadanya. Perutnya masih mual oleh bekas bau yang diciumnya di kain putih berbercak-bercak itu. Dia mengusap-usapkan telapak tangannya ke bajunya untuk menghilangakn bekas sentuhannya pada kain putih itu.
@bacahorror “Keluar! Pak No sama Bram keluar sekarang! Matikan semua lampu!”

“Ella kamu mau ngapain?” Bram sangat terkejut.

“Kalian berjaga di dekat saklar lampu. Kalian matikan semua lampunya! Nanti kalau aku minta hidupin, kalian hidupin!”

“Kamu gila ya! Kamu mau ngapain, La?”
@bacahorror Bram berubah panik melihat Ella yang agaknya tidak mau dihentikan.

“Ella, tenang dulu. Kita omong baik-baik.” Ujar Pak No.

“Pak No, Tio kena sesuatu di tempat ini. Saya harus tahu apa yang terjadi di sini. Ada apa di sini.” Ella mengatakan kata-katanya dalam tangisan yang
@bacahorror sejadi-jadinya. Dia benar-benar histeris.

“Dengarkan, Pak No ya Ella. Kita keluar dari rumah ini sekarang. Tio tidak di sini.”

Ella masih menangis sekeras-kerasnya, “Please, Pak No! Bantulah Ella kali ini, Pak No!” Lalu gadis itu berlari ke Bram yang masih kain itu.
@bacahorror Ella berhenti tak mau menyentuh kain itu lagi, “Bram tolong Bram! Aku tahu ini kedengarannya gak masuk akal. Tapi aku pingin lihat apa yang mengganggu Tio di sini. Apa yang nempel sama dia.”

“La! Bukan itu…” Bram tidak bisa berbicara karena Ella terus menangis.
@bacahorror “Bantu aku kali ini saja. Jagain aku!” Dia melihat kepada Pak No, “Ya, Pak No! Jagain saya! Saya mau lihat apa yang mengikuti Tio selama ini.”

Pak No dan Bram tahu bahwa mereka tidak akan bisa berbantah dengan Ella kali itu. Bram membuang kain itu ke lantai.
@bacahorror Mengelapkan tangannya ke celananya, “Mana tas kamu.” Ella tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Bram, tapi dia memberikan tasnya kepada Bram.

Bram mengeluarkan sapu tangan yang tadi diberikannya kepada Ella dari dalam tas Ella.
@bacahorror Dia memberikan kembali sapu tangan itu kepadanya, “Kamu usap air mata kamu. Berhenti menangis.” Pria itu menghadap kepada Pak No, “Aku sama Pak No akan berjaga. Lakukan apa yang perlu kamu lakukan. Kami tidak ke mana-mana.”

Ella mengusap air matanya dengan sapu tangan yang
@bacahorror diberikan Bram kepadanya. Dia menata napasnya.

“Baik sekarang apa yang perlu kami lakukan?” Tanya Bram.

Ella menjelaskan cara melihat hantu seperti yang diajarkan Tio kepadanya. Maka mereka diminta untuk menjaga di saklar lampu dan Ella akan mempraktikkan apa yang pernah
@bacahorror dilakukannya di kamarnya kemarin malam.

“OK! Kalau ada apa-apa kamu panggil kami, ya.”

Ella yang sudah mulai berhenti sesenggukan mengganggukkan kepalanya.

---
@bacahorror Ruangan itu gelap. Pak No berjaga di dekat saklar ruang tamu dan Bram berjaga di sacral ruang tengah yang pas berbalik-balikan dengan saklar kamar.

Ella terbaring terlentang di dalam kegelapan. Dia mengatur napasnya. Cahaya bulan yang tipis temaram masuk melalui jendela yang
@bacahorror bolong itu. Baru setelah semua lampu dimatikan dia sadar bahwa rembulan bersinar malam itu. Dia tahu memang tidak gelap sempurna. Tetapi tidak apa, dia ingat kali itu pun ketika dia bisa melihat Tio keadaannya juga tidak benar-benar gelap, ada cahaya lampu mejanya yang bersinar.
@bacahorror Ella menutup matanya dan mengucapkan sebaris doa pendek. Dia menutup matanya. Dan dia bisa mendengarkan napas Bram di luar. Semuanya menjadi jelas dalam kesunyian. Ella membuka mata dan membiarkan matanya terbiasa dengan kegelapan yang hanya diterangi oleh cahaya tipis
@bacahorror dari langit.

Ketika matanya sudah mulai terbiasa dan segala hal yang tadinya gelap sudah mulai nampak. Dia memukulkan telapak tangannya tiga kali ke lantai. Setelah itu dia menunggu sejenak. Rasanya waktu berjalan lebih lambat daripada biasanya.

Dia bangkit dan berjongkok.
@bacahorror Namun belum siap membungkuk. Dia menata hatinya jika dia akan melihat hal-hal yang tidak dia siapkan. Harus ini harus dilakukan. Dia tidak tahu setelah ini akan bagaimana, tapi dia merasa berhak tahu. Dia bisa mendengarkan napasnya sendiri. Dia mengatur setiap hembusan,
@bacahorror seperti dia yang sekarang sedang mengatur hatinya.

Dia pun menunjukkan kepalanya ke depan sampai dalam posisi nungging. Dia membuka matanya pelan-pelan dan melihat apa yang berada di belakangnya melalui antara kedua kakinya.

Dan Ella segera menggigil.
@bacahorror Di sudut ruangan itu tiga sosok sedang mengerumuni sudut ruangan itu. Sesosok perempuan tua dengan rambut yang digelung berantakan. Seorang laki-laki dengan lengan yang sangat panjang dan bola mata yang terlepas dari lubang matanya.
@bacahorror Dan seorang anak kecil seperti anak berusia SD akhir, dengan kepala yang pecah, tubuhnya yang tak berpakaian seperti tercabik. Menampakkan tulang dada dan rerusuk yang bertonjolan keluar, terbungkus beberapa daging tipis. Mereka seperti tak menyadari bahwa Ella sedang menatapnya.
@bacahorror Mereka sibuk mengerumuni sesuatu yang berada di sudut ruangan itu. Lelaki dengan lengan panjang itu menjulurkan kepalanya ke bawah lalu menjilat lantai itu. Ella baru sadar bahwa ketiganya melakukan yang sama. Mereka menjilati lantai itu.
@bacahorror Bukan mereka sedang menjilati titik-titik darah yang mengering di lantai itu.

Namun Ella menyadari ada sesosok yang lain. Sosok itu seorang perempuan tinggi. Berpakaian daster dalam rambut diuraikan di kiri dan kanan. Dalam kegelapan Ella bisa melihat wajah perempuan itu
@bacahorror sedemikian pucat. Dia duduk mengendus-endus kain putih yang tadi dibuang oleh Bram ke lantai.

Namun napas Ella semakin tak tertahan. Sosok yang lain seperti tak menyadari, tapi Ella tahu perempuan berpakaian putih dengan rambut panjang itu sadar akan kehadiran Ella di
@bacahorror ruangan itu. Perempuan itu berdiri dan mendekat kepadanya. Berjalan melayang semakin dekat kepadanya.

Ella berusaha berteriak. Namun suaranya tercekat di lehernya. Bibirnya tak mampu membuka. Sedang perempuan itu semakin dekat kepadanya.
@bacahorror Ella ingin membalikkan badannya ke posisi berjongkok biasa. Tapi dia kaku. Dari bibirnya hanya terdengar Mmm Mmmm karena dia yang tak mampu membuka bibirnya. Ella kemudian sadar bahwa ketiga sosok di sudut itu mulai menyadari kehadiran Ella di situ. Ketiganya membalikkan wajah
@bacahorror mereka perlahan-lahan. Ella bisa melihat wajah mereka. Mereka bertiga berhadap-hadapan dengan Ella. Muka dengan muka.

Namun, perempuan berdaster putih… bukan itu bukan daster, itu kain kafan yang ditelunkupkan ke badan. Perempuan itu sudah berjarak semeter saja darinya.
@bacahorror Perempuan itu mendukkan badannya. Menekuk punggungnya. Dan Ella bisa melihat kepalanya yang turun mendekat ke kepala Ella. Perempuan itu memuntir kepalanya sehingga hampir seperti patah. Kini wajah perempuan itu sedemikian dekat dengan wajahnya.
@bacahorror Ella bisa merasakan semakin perempuan itu dekat, udara semakin dingin. Wajah mereka saling berhadap-hadapan dalam jarak yang sedemikian dekat.

Lalu perempuan itu tersenyum.
@bacahorror Ketika itulah Ella bisa membuka mulutnya, “Tolooongg! Braaaam! Pak Nooo! Aaaa…..!”

Dalam sepersekian detik lampu di ruangan itu dan agaknya juga di ruangan lain menyala. Ella kaku dalam posisinya berjongkok dan menunduk. Bram dan Pak No membantunya duduk dengan benar.
@bacahorror Tubuhnya tiba-tiba lemas. Napasnya tak teratur. Tubuhnya menggigil dan berdecakan. Tulang-tulangnya terasa remuk. Dia bahkan tak kuat mengangkat tangannya.

“Pak No! Bram! Aku melihat mereka!”

Bram berhadap-hadapan dengan Pak No.
@bacahorror Masih dalam napas yang tidak karuan, Ella membuka bibirnya, “Mereka di sudut itu, tiga, menjilati darah kering itu. Lalu satu lagi mencium kain putih itu. Lalu mendekat…”

“La…” Bram yang menerima tubuh Ella menggosok-gosok punggung Ella dengan telapak tangannya.
@bacahorror Ella baru sadar, Pak No memijit-mijit kakinya lalu bergantian menggosokkan tangannya. “Tubuhmu dingin sekali.” Ujar Bram.

“Bram!” Pak No melihat kepada Bram. Bram agaknya mengerti.

“La, kita keluar dari tempat ini.” Ella berusaha mengangkat tangannya, belum bertenaga.
@bacahorror “Aku gak kuat.” Suara Ella lemah.

“Kamu tahu bau di kain itu bau apa?” Bram bertanya kembali, lebih tegas.

“Bram!” Pak No makin mendesak. Bram mengangkat Ella di kepala dan tubuh, sedang Pak No membopong Ella di kaki.

Ella dengan sisa tenaga yang dimiliki, “Bau apa?”

---
@bacahorror Masa lalu serupa hantu, ketika belum bisa didamaikan, dia akan terus membayang, menyerang. Satu-satunya cara adalah berdamai dan melepaskannya. Namun sering kali sedemikian sulit, karena hantu masa lalu itu mengikat dalam ruang yang paling rapat.
@bacahorror Paling tertutup, tersembunyi dalam sekat-sekat yang tak rela untuk sekadar ditilik dan dilihat.

Bagi Ella tentu pengalaman yang hampir lewat setahun itu masih membayanginya sesekali. Namun baginya lebih mudah untuk lepas, karena ikatannya pada peristiwa itu bukan yang terkuat.
@bacahorror Seandainya korban, dia sekunder. Dia merasa terluka, tapi ada yang lebih sakit daripada perasaannya.

Ella duduk di dipan yang digelar tikar di depan warung itu. Memegang sebuah kertas gambar dengan gambar tak karuan di sebuah sisi halamannya.
@bacahorror Warung itu lebih sering tutup daripada dulu. Maklum, tak ada lagi yang membantu Bu Ani di warungnya. Sedangkan dia harus beberapa kali membawa Bening ke dokter dan beberapa psikolog anak. Namun Ella tahu, peristiwa semacam itu akan terus membekas hingga bertahun-tahun.
@bacahorror Mungkin selamanya. Bayang-bayang itu akan terus membekap Bening. Menjadi mimpi buruk di tidurnya. Menjadi hantu di malam-malamnya. Dan demikianlah adanya. Bening berubah.

Dia mulai masuk SD tahun ini, tapi Bening bukan gadis kecil yang sering dijumpainya dulu, yang melendot
@bacahorror kepadanya minta digendong dalam tawa kecil yang menggemaskan. Bening adalah anak yang jauh lebih pendiam.

Ella bisa melihat anak kecil itu berusaha untuk bergembira seperti anak lain di usianya. Kadang dia ingin melompat gembira lalu ada yang seperti menahannya dan kemudian
@bacahorror lagi-lagi menjadi diam. Dia bahkan mengalami kelambatan dalam berbicara bahasa verbal, padahal dulu dia gampang sekali menceritakan apa pun, dari mainannya hingga teman-temannya, atau apa pun dalam bahasa anak-anaknya. Namun
@bacahorror Bu Ani melakukan berbagai macam cara untuk menyemangati anaknya itu. Dia berharap ia tumbuh normal seperti anak-anak lain pada umumnya. Namun Bening tak lagi pernah seperti anak-anak pada umumnya. Trauma memakannya lebih ganas daripada segala sukacita yang dijejalkan kemudian.
@bacahorror Dia dibelikan banyak mainan. Namun, Bening lebih sering merusak daripada memainkannya. Lalu membiarkan saja mainan itu tergeletak begitu saja.

Bu Ani duduk di sebelahnya, menutup warung lebih sore, karena ada jadwal konsultasi dengan psikolog anak.
@bacahorror Dia duduk di sebelah Ella, “Mau tambah minumnya Mbak Ella? Masih ada es-es pecahan di dalam. Nanti mencair malah nggak kepakai. Sayang kalau dibuang.” Ella mengangguk. Perempun itu kembali masuk.

Sore itu kemerahan. Langit serupa pulasan krayon anak-anak bernuansa pastel.
@bacahorror Bukan pilihan krayon Bening. Kertas yang dipegangnya hanya dilabur warna hitam, dan setitik warna hitam di sebuah sudut. Namun Ella masih bisa mengira-ira apa yang ada di gambar itu. Di tengah ada seorang anak kecil dengan tangan dan kaki yang terlepas dari tubuhnya.
@bacahorror Anak kecil itu dikelilingi oleh rumput-rumput hitam di sekelilingnya. Rumput-tumput tinggi gelap tak tembus cahaya. Rumput-rumput yang menaunginya itu menyerupai monster yang hendak menerkamnya. Di sebuah sudut kiri bawah ada seorang yang terbaring dengan tubuh berlumur darah.
@bacahorror Kepala orang itu terlepas dari badannya karena ada sebuah pisau yang mengiris lehernya.

Bu Ani keluar membawa sebuah gelas besar ketika Ella sedang menatap lekat gambar itu. “Gimana, Mbak Ella?” Meletakkan gelas itu di sebelah Ella.

Ella tak menjawab apa pun.
@bacahorror Dia menatap gadis yang bermain tanah di halaman warungnya. Bermain sendiri.

“Masih belum mau dimandikan, Tante?”

Bu Ani menggeleng. Sejak peristiwa itu Bening tak mau lagi dimandikan mamanya.

Ella memberikan gambar itu kepada sang mama. Bu Ani melihat gambar itu
@bacahorror lalu menghela napas panjang. Bahkan sesudah setahun, beban berat itu tak kunjung terangkat. Masih menindihnya dengan berat. Menghunus serupa pedang tajam yang tak berhentian.

“Saya takut kalau besar dia akan tumbuh entah jadi bagaimana.”
@bacahorror Dia tersenyum pahit seperti mengingat sesuatu, “Kemarin ada teman SMA saya dulu mendekati saya. Dia duda anak satu, cerai ditinggal istrinya. Punya anak kecil juga, lebih tua dua tahun dari Bening.” Lalu perempuan yang lebih tua itu melihat kepada Bening,
@bacahorror “Tapi saya mana bisa mikir begitu sekarang. Pikiran saya ya masih anak saya itu.”

“Bu Ani berhak bahagia.” Ella menahan sejenak, “Bening juga…”

Bu Ani justru menatap langit sore yang kemerahan. Hanya menjawab pendek, “Belum.” Lalu menatap kepada Ella perlahan,
@bacahorror “Nggak tahu kapan.”

“Tante…” Ella membalas tatapan Bu Ani, “Sebelum peristiwa malam di rumah itu, Tio seperti datang beberapa kali kepada saya. Dia nampak bersalah. Mungkin meminta pemaafan.”

Perempuan yang di sebelahnya justru membuang muka, wajahnya keras tersenyum kecut,
@bacahorror “Kalau Mbak Ella gimana? Memangnya Mbak Ella bisa memaafkan?”

Mereka berdua diam dalam hening sekian lama. Ella tahu jawabannya. Pikiran-pikiran berlompatan di benak Ella. Ella teringat persis malam itu. Bram dan Pak No membawanya ke mobil.
@bacahorror Lalu mobil itu dikendarai dengan cepat ke rumah Bu Ani. Untung sekali warungnya tutup.

Kain putih itu diletakkan di dalam sebuah plastik yang ditemukan entah di mana oleh Pak No. Ella tidak paham situasi yang terjadi.
@bacahorror Bram tidak juga menjawab bau apa yang diciumnya dari kain itu. Ella baru mengerti ketika di rumah Bu Ani. Ah, Ella… sekalipun dia seolah mengetahui berbagai macam hal, dia tak tahu apa yang tak pernah dialaminya.
@bacahorror Betapa naifnya dia sehingga dia sempat berpikir Pak No menanyakan apakah di pernah kawin karena Pak No seorang hidung belang. Pak No justru sedang menanyakan sebuah pertanyaan penting.

Dia tak tahu bau sperma kering yang membasi di sebuah kain.
@bacahorror Darah yang tercecer kering di kain dan di sudut ruangan itu jelas bukan darah lama. Darah itu darah yang masih beberapa hari lamanya. Ella sibuk dengan pikirannya tentang permainan melihat setan dan bahwa ada setan yang menguntit Tio sejak malam itu.
@bacahorror Setan yang membuatnya jatuh hingga celaka. Betapa naifnya dia, termakan oleh berbagai cerita setan hingga dia tak benar-benar mampu membaca tanda.

Bu Ani terkejut luar biasa ketika Pak No menunjukkan kain itu. Lalu memanggil Bening saat itu juga. Bening ditanya.
@bacahorror Tapi tak menjawab. Gadis kecil itu justru menangis sejadi-jadinya. Lalu peristiwa seperti tergambar jelas bahkan tanpa kata-kata. Apa yang terjadi di rumah itu. Apa yang terjadi di sudut itu.

Baru esok harinya, ketika Ella datang lagi ke rumah itu,
@bacahorror Ella tahu ceritanya lebih genap. Sejak beberapa hari Bening tak mau dimandikan mamanya. Mamanya sempat berpikir itu sebuah langkah anak yang mendewasa. Namun tidak. Bekas-bekas lebam di paha, pinggang, dan selangkangannya menceritakan segalanya dengan terang benderang.
@bacahorror Bening bercerita dengan bahasa anak-anaknya. Sejak Tio bekerja bersama Pak No di rumah itu. Dia memberi Bening permen kesukaannya. Dan peristiwa itu terjadi bukan hanya sekali. Beberapa kali hingga Bening tak mau dipanggil lagi.
@bacahorror Sudut ruangan kamar itu menjadi saksi seorang anak kecil dirampas dengan paksa.

Ella akhirnya tahu hantu yang membayangi Tio hingga menyeretnya celaka bukanlah hantu yang berkelebat di bubungan rumah atau di hutan.
@bacahorror Hantu itu adalah rasa takut yang berkelindan dengan rasa bersalahnya. Namun lebih dari semuanya dia kacau karena takut segala perbuatannya terbongkar. Dia diserang oleh hantu masa lalunya. Hantu yang diciptakan dan ditumbuhkannya sendiri.

Sejak malam itu, Ella tak pernah lagi
@bacahorror melihat bayangan Tio dalam malam-malam gelapnya. Ella juga tidak tahu apakah yang dilihatnya di sudut kamar itu benar-benar nyata atau hanya gambaran dari ketakutannya dan rasa kalutnya. Yang jelas Ella tak akan lagi mencoba melakukan langkah-langkah melihat hantu itu lagi.
@bacahorror Tidak akan dengan harga berapa pun.

Namun yang aneh adalah ketika dia ingat ucapan Tio tentang anak kuntilakan yang jatuh dari rahim sang ibu ketika perempuan itu menggantung dirinya. Kecelakaan Tio sama persis dengan kondisi bayi yang diceritakannya.
@bacahorror Tangan dan kaki yang terpuntir, kepala yang pecah, dan rerusuk yang patah. Apakah semua itu kebetulan belaka? Entahlah.

Ella ingat ketika Tio mengatakan ketika seorang dewasa maka dia memeluk sukacita namun juga memeluk sakit. Namun bagaimana dengan Bening.
@bacahorror Bahagia masa kecilnya dirampas oleh rasa sakit hingga dia tak merasakannya. Apakah Tio bisa mengatakan serupa itu kepada Bening?

Bu Ani bersama Pak No melaporkan Tio ke polisi. Polisi menyatakan akan menindak begitu Tio selesai mendapat tindakan medisnya dan dinyatakan sembuh.
@bacahorror Tapi berkas sudah diterima, bukti sudah ada. Tapi Tio tak pernah benar-benar sembuh. Dia masih hidup hingga hari ini. Tapi hanya terbaring tanpa kesadaran. Lukanya masih merembes basah dan bernanah bahkan pasca operasi. Polisi belum bisa melakukan tindakan apa pun.
@bacahorror Kini ibunya hanya tinggal di sebuah rumah petak kecil, meminjam dari saudaranya. Jauh dari desa. Dari orang-orang yang mengenalnya. Rumah mereka dijual untuk menutup biaya rumah sakit. Hubungannya dengan Bu Ani jelas rusak.
@bacahorror Ella tahu kemarahan Ibu Tio kepada anaknya, tapi mau bagaimana, Tio tetap anaknya. Mereka hanya berdua di dunia ini.

Pak No tak jadi menempati rumah itu. Rumah itu dibiarkan terbengkalai. Dia memilih tinggal berdesak-desakan dengan anaknya di satu lokasi.
@bacahorror Dia membangun kamar tambahan di sebelah rumah birunya. Rumah biru dengan patung macan di depannya.

Ella bahkan tidak bisa melihat Tio lagi. Bukan karena kondisinya pasca kecelakaan yang rusak, tapi karena setiap kali melihat pria itu, bayangan tentang apa yang dilakukannya
@bacahorror kepada Bening segera tergambar nyata di hadapannya.

Bram kerap menghubungi Ella. Ella tahu bahwa Bram sejak peristiwa malam itu menyimpan perasaan kepadanya. Tapi Ella tak bisa menerimanya.
@bacahorror Ella tidak ingin menjadikan Bram hanya sekadar sebagai penambal sulam ceritanya yang koyak oleh Tio. Tidak ada orang yang berhak diperlakukan sekadar sebagai tempat bersembunyi dari rasa sakit dan ketakutan. Ella pun tak bisa mencintai Bram seperti dia dulu mencintai Tio.
@bacahorror Dia tak merasakan apa pun kepada pria itu.

Atau mungkin diam-diam ada sebuah hantu lain yang tinggal di benak Ella dan terus menghantuinya. Dia ketakutan bertemu dengan pria yang nampaknya sempurna. Bukankah Tio adalah gambaran dari seorang yang dapat disebut sebagai idaman.
@bacahorror Tapi ternyata pria seperti itu pun tak lulus uji kebaikan. Orang tak selalu serupa dengan wajah yang ditampilkannya.

Ella meneguk es di gelasnya hingga habis, “Saya pamit, Tante!” Bu Ani tersenyum dan memanggil anaknya, “Bening! Ini Mbak Ella mau pulang.”
@bacahorror Gadis kecil itu hanya melihat sejenak lalu kembali ke mainan tanahnya. Dia bahkan tak berniat mengatakan sampai jumpa atau sekadar tersenyum saja. Ella melihat kembali gambar di lembar kertas itu.

Ya. Masa lalu serupa hantu, ketika belum bisa didamaikan, dia akan terus
@bacahorror membayang, menyerang. Satu-satunya cara adalah berdamai dan melepaskannya. Namun sering kali sedemikian sulit, karena hantu masa lalu itu mengikat dalam ruang yang paling rapat. Paling tertutup, tersembunyi dalam sekat-sekat yang tak rela untuk sekadar ditilik dan dilihat.
@bacahorror Ah, Bening. Hantu masa lalu itu akan terus merungkupnya. Akan terus menyisaksanya. Sampai dia mendapatkan pendamaiannya. Entah kapan. Entah akankah.

SELESAI
Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh.

Enjoying this thread?

Keep Current with Gui Ernald

Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

Twitter may remove this content at anytime, convert it as a PDF, save and print for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video

1) Follow Thread Reader App on Twitter so you can easily mention us!

2) Go to a Twitter thread (series of Tweets by the same owner) and mention us with a keyword "unroll" @threadreaderapp unroll

You can practice here first or read more on our help page!

Follow Us on Twitter!

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just three indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3.00/month or $30.00/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!