My Authors
Read all threads
A Horror Thread

Uban Legend tanah Jawa : Tumbal Mati

────Indigo Zeya,🌻────

@ceritaht @bagihorror @IDN_Horor @threadhoror @Penikmathorror @horrornesia @balakarsa @bacahorror @cerita_setan #bagihorror #Zeyasix #Indigo #bacahorror #bacahoror #horrornesia
Halo semuaaaa balik lagiiiii nihhh ketemu Zeyaaa!!!!!! Hehe :v

Kali ini Zeya akan menceritakan tentang Urban legend tanah jawa. Urban legend yang sempat dialami oleh Zeya ntah itu hanya kebutulan atau nyata.

Lagi lagi dan lagi walaupun cerita ini berbesik dari urban legend,
Tapi cerita ini benar adanya. Sulit di terima oleh nalar dan terkadang bisa mengundang mereka untuk datang...

So Happy Reading gaissssssss!!! 💙💙💙

Jangan lupa Rep, Like dan RT nya ya gaidss💙💙💙
• ••———•• •
Suasana di sekolah Zeya pagi ini cukup dingin cuaca hari ini pun sedikit mendung. Sepertinya langit sedang ingin menangis hari ini.

Sudah banyak siswa yang berlalu lalang di sana dan Zeya? Ia sedang asyik berdiri di depan balkon kelas sembari melihat sekeliling sekolah.
Zeya sangat suka suasana pagi dan sendiri. Raganya memang berada di antara ratusan orang namun jiwanya tetap hening tak ada siapapun di sana.

Zeya menatap lamat-lamat lingkungan sekolahnya, sekolah nan asri yang di kelilingi oleh sawah.
Di tambah mahluk-mahluk tak kasat mata yang sedang beraktivitas di sana. Walaupun tak banyak, namun itu bisa terlihat oleh Zeya.

Tapi Zeya mencoba tak peduli dengan semua mahluk itu, toh mereka juga tak mengganggu Zeya.

Satu tetes... Dua tetes... Tiga tetes...
Perlahan bulir air turun membasahi bumi. Terlihat di bawah sana banyak siswa yang berlarian untuk meneduh ke area gedung sekolah.

Zeya memejamkan mata perlahan di hirupnya aroma khas tanah yang bercampur dengan air hujan. Zeya sangat suka itu.
"Psssttt ppsssttt Zeya... "

Saat sedang asik menikmati suasana, Zeya di kagetkan dengan suara yang samar-samar seperti memanggil namanya.

Sontak Zeya pun langsung membuka matanya dan menengok ke arah kanan tempatnya berdiri. Dan benar saja, disana sudah ada Mara. Teman Zeya.
Zeya hanya melirik Mara sekilas dan kembali menikmati bulir air yang turun semakin deras.

"Zeya... Akan ada sesuatu hari ini... "

Zeya mendengus kesal. Mara ini selalu menghancurkan mood Zeya ketika pagi hari. Selalu berceloteh tentang hal-hal yang membosankan menurut Zeya.
"Zeya, kamu jangan dekat-dekat sama anak itu ya... " Ingat Mara. "Dia siapa?" ujar Zeya dalam hati.

"Jantungmu akan sakit, kendalikan emosimu. Akan terjadi sesuatu besar hari ini, aku tak bisa menolongmu. Bahkan Selia dan Adin pun tak bisa membantu," jelas Mara panjang lebar.
"Sesuatu apa?" Beo Zeya dalam hati. Mara hanya tersenyum tipis dan sedikit mendekat ke arah Zeya. "Tetap kendalikan tubuhmu, berdoa lah pada Tuhan, kali ini kalian akan menjadi boneka... "

Setelah mengatakan itu tubuh Mara melayang di udara lalu menghilang tanpa jejak.
"Dasar hantu aneh!"

Ya, Mara adalah teman 'Hantu' Zeya yang sudah ada sejak Zeya lahir.

Tapi baru beberapa bulan lalu ia mengetahui bahwa gadis cantik itu adalah salah satu teman dan bisa di bilang sosok penjaga yang di miliki oleh Zeya.
Karena merasa bosan dan kesal kepada Mara, akhirnya Zeya memutuskan menuju kantin sekolah. Mungkin segelas Coklat hangat bisa menghangatkan tubuhnya pagi ini.

Sesampainya di kantin, Zeya memilih duduk di pojok. Ia lantas menyumpal telinganya menggunakan earphone.
Di sruputnya segelas Coklat hangat yang sudah ia pesan, lalu ia menelungkupkan wajahnya diatas meja.

Cukup lama Zeya terdiam berkelana memirkan perkataan Mara tadi. Hingga Zeya di kagetkan dengan seseorang yang menrpuk pundaknya.

"Zeya kok sendirian?"
Sontak Zeya tertegun dan langsung melepaskan kedua earphone yang tadi menyumpal telinganya. Ternyata di depan Zeya ada Bu Eli yang tak lain adalah guru mapel kejuruan di sekolah Zeya.

"Eh Bu Eli, sini duduk bu," ujar Zeya sembari sedikit bergeser.
Bu Eli tersenyum dan kini terduduk di samping Zeya. Memang Zeya sudah cukup dikenal oleh Guru, Siswa maupun Staf Tata Usaha di sekolah ini.

Walaupun bukan karena prestasi akademik, melainkan sering kerasakuan. Tapi bukankah itu juga prestasi? Prestasi untuk kerasukan hampir
Setiap hari haha.

"Kok gak bareng Adin, Selia sama Farah Ze?" tanya Bu Eli.

"Hehe iya bu, lagi pengen sendiri aja."

Bu Eli lalu mengacak puncak kepala Zeya pelan. "Nanti kalo ibu melahirkan dateng ya ke rumah. Ajak teman-teman seklian biar rame." ujar Bu Eli.
Wajah Bu Eli kini berubah drastis menjadi sedih. Ia lalu mengelus pelan perutnya yang kini mulai membuncit.

"Semoga dede bayi nya bisa kaya Zeya ya. Bisa kuat kalo nanti dia bisa melihat mereka yang halus kaya ibu. Bisa ngerasain indahnya dunia Ze."

Zeya terdiam.
Ada apa dengan Bu Eli? Biasanya beliau justru memberi semangat pada Zeya karena beliau juga memiliki keistimewaan yang sama seperti Zeya.

Tapi kali ini? Bu Eli bicara seperti melantur saja.
"Pasti dong bu Zeya datang, Zeya ajak yang lain juga biar rame liat dedek gemes nya."
ujar Zeya sembari menyengir kuda. Ia ingin menghibur gurunya agar tidak terlihat sedih.

"Ibu tunggu Zeya sama teman-teman datang ke rumah ya."

"Asiap deh bu pasti." Zeya mengacungkan dua jempolnya sembari tersenyum.

"Yaudah ibu mau ke kantor dulu."
Detik selanjutnya Bu Eli sudah terbangun dan berjalan menjauh dari Zeya. Namun baru beberapa langkah berjalan Bu Eli menunjukan gelagat aneh.

Pertama beliau memegang pelipisnya dan detik selanjutnya....

Brukkkkkkk!

Tubuh Bu Eli ambruk menghantam lantai.
Zeya yang melihat kejadian itu pun reflek berlari ke arah Bu Eli. "Bu Eliiii!!!"

Setelah berada cukup dekat dengan Bu Eli Zeya sedikit mengangkat kepala Bu Eli ke atas kakinya dan sedikit menepuk-nepuk pipi Bu Eli.

"Bu Eli bangun bu. Tolong! Tolong! Bu, bangun bu."
Suasana kantin pagi ini memang cukup sepi di tambah hujan deras turun membasahi sekolah saat ini.

"Tolong! Tolong!" teriak Zeya.

Beberapa detik kemudian beberapa pedagang dan guru pun datang menghampiri Bu Eli dan Zeya yang kini mulai terisak.

"Pak tolongin bu eli pak hiks."
"Bu Eli kenapa Ze?!" tanya Pak Haris panik.

"Bu Eli pak... Hiks... Hiks... Tad—tadi Bu Eli pingsan pak Hiks.. "

Banyak orang kini telah mengerumun mereka nampak panik.

"Bawa Bu Eli ke UKS!" perintah Pak Haris.

Dengan sigap beberapa guru membopong Bu Eli ke UKS.
Perasaan Zeya kini sangat kalut. Ia kaget melihat kejadian yang baru saja di saksikannya. Dengan sedikit terisak dan berjalan tergopoh-gopoh Zeya mengikuti Bu Eli dari belakang.

Namun saat berada di depan koridor langkah Zeya di hentikan oleh Adin, Selia dan Farah.
Mereka bertiga tampak cemas.

"Mau kemana?" tanya Adin. Zeya hanya diam dan menyeka air matanya, ia memcoba melewati ketiga temannya itu.

"Ze stop!" sarkas Farah. "Kalian kenapasih?! Hiks gue mau nolongin Bu Eli hiks."

Selia mencengkram bahu Zeya erat. "Siapa ini?!"
Zeya mencoba membrontak namun gagal karena Cengkraman Selia cukup keras. "Ini siapa?!"

"Apasih! Ini gue Zeya! Hiks minggir kalian."

Farah dengan sigap mendekap tubuh Zeya dan Adin kini telah menutup mata Zeya dengan tamganya.

"Nyawa siapa yang ingin kau ambil?!" sarkas Adin.
Tangisan Zeya semakin terdengar kini badannya sudah menegang dan kini Zeya dan ketiga temannya itu merasakan sakit yang luar biasa di bagian jantung mereka.

"Wah Sel, Din parah nih anak mainya kasar! Baru pembokatnya dia yang masuk masa jantung kita udah di tusuk!" Keluh Farah.
Adin semakin menatap sinis ke arah Zeya. "Dasar setan sialan! Kok beraninya kroyokan!"

"Bukan urusan kalian! Diam semuanya!" Kini mahluk yang ada di tubuh Zeya mulai bersuara.

"Untuk apa tumbal kali ini?" tanya Selia sinis. Kini Selia telah melepaskan cengkraman di bahu Zeya.
"Jangan coba-coba buat rusuh lagi di sekolah ini ya!" Kesal Adin.

"Sudah terlambat hahaha! Sudah ku suruh semua anak buahku untuk membuat onar! Aku ingin darah mereka! Aku ingin janin bayinya haha!"

Suasana sekolah Zeya kini berubah menjadi mencekam. Banyak teriakan—
Isak tangis dan juga rintihan minta tolong terus menggema di sekolah Zeya. Di tambah hujan deras yang turun kian menambah kesan horor di sekolah Zeya.

Zeya tetus saja meronta berusaha melepaskan diri. "Heh mau kemana kamu?!" kesal Farah. Sosok di tubuh Zeya tertawa mengerikan.
"Aku mau membawanya loncat! Aku ingin darahnya! Hahaha!"

"Tuker sama sukma dan darah saya aja mau?" tawar Adin. Sosok di tubuh Zeya semakin tertawa keras. Bahkan kini suara Zeya lah yang mendominasi.

"Tidak! Sukmamu tak seperti sukmanya hahaha!
Kini ketiga teman Zeya semakin geram. Mereka sudah terlanjur kesal dengan tingkah laku hantu pencari tumbal yang selalu membuat onar.

Yang benar saja karena kehadiran satu mahluk pembuat onar seperti ini sekolah Zeya sudah kacau tak terkendali.
"Arghhh! Diam kalian! Aku ingin tumbal! Aku ingin sukmanya! Haha! Tenaga mu tak cukup kuat untuk melawanku sekarang! Hahaha!"

Ketiga teman Zeya saling pandang. Yang di katakan mahluk itu memang benar adanya. Selia yang biasanya bisa mengeluarkan setan receh dari tubuh Zeya,
Kini seakan tak mempunyai tenaga sama sekali.

"Ajian hitammu akan kalah dengan tuhanku!" sarkas Selia.

"Kamu hanya mahluk bodoh yang mau di jadikan budak! Dasar buruk rupa!" tambah Farah.

Sosok dalam tubuh Zeya mengerang keras.
Kini Farah, Adin dan Selia merasa lemas, tubuh mereka seakan melayang tanpa tenaga. Namun mereka masih berusaha menolong Zeya.

"Hahaha! Kalian sudah tak bisa apa-apa! Akan ku tusuk jantung kalian semua! Terlebih anak ini! Ia akan mati! Hahaha!" ujar Sosok itu.
"Membuat Zeya celaka sama aja kamu cari mati sama saya!" Sarkas Selia.

"Kamu yang akan binasa! Bukan Zeya!" tukas Adin.

"Zeya tak selemah yang kamu kira buruk rupa!" timpal Farah.

Suasana sekolah semakin runyam. Sekolah yang tadinya asri kini berubah seperti tong setan.
"Ada apa ini?" Bu Anggi tiba-tiba datang dan mengambil alih tubuh Zeya. Selia, Adin dan Farah pun bernapas lega.

Setidaknya Bu Anggi bisa membantu mereka yang sedang kewalahan menangani Zeya.

"Itu bu, Zeya kemasukan lagi," tutur Farah.
Dengan sigap Bu Anggi menidurkan Zeya di matras yang berada di dekat mereka.

"Halo siapa ini?"

Sosok dalam tubuh Zeta kembali mengerang. "Bukan urusanmu!" Bu Angii tersenyum sinis ke arah Zeya. "Saya mau kenalan dong, coba salaman dulu sama saya?"

"Tidak!"
Bu Anggi perlahan menarik pergelangan tangan Zeya dan menggegam nya erat. "Nah gini dong kenalan. Boleh melek gak?"

Zeya menggeleng kuat. "Kenapa gak mau?"

"Bukan urusanmu!"

"Mau melek atau saya bakar kamu?"

Bu Anggi kini mulai geram ia seperti kehilangan kendali.
Sedangkan Selia, Adin dan juga Farah kini makin merasa lemas. Bau amis pun menyeruak di indra penciuman mereka.

"Mau apa kamu?!" tanya sosok dalam tubuh Zeya.

"Saya ingin anak ini kembali!"

"Tidak bisa! Aku ingin sukmanya!"

"Sukma apa? Temen saya ada yang namanya sukma."
"Bukan manusia!"

Bu Anggi tertawa renyah. "Kamu kalo mau cari tumbal jangan di sini gak akan ada!"

"Anak ini istimewa!"

"Tidak dia sama seperti yang lain tak ada bedanya," elak Bu Anggi. "Udah sekarang kamu keluar! Jangan ganggu semua orang di sini!"
"Aku tak akan pergi!"

"Kalo begitu aku cabut jantungmu!" Detik selanjutnya Bu Anggi menekan dada atas Zeya sembari merapalkan doa-doa di kuping Zeya.

"Aaaarrrrgggghhhhhh suruhanmu lebih kuat ternyata!"

"Kamu terlalu receh buat saya buruk rupa!"
Bu Anggi kini makin menekan dada Zeya dalam hingga beberapa menit kemudian Sosok dalam tubuh Zeya kualahan dan keluar.

"Aaarrrrggghhhhh!"

Tubuh Zeya melemas tubuhnya seperti habis di pukuli oleh 5 orang preman sekaligus. Nyeri sekali. Dan Farah, Selia serta Adin,
Mereka merasa tubuhnya berangsur membaik. Kini teriakan dari siswa yang di rasuki oleh mahluk halus pun berangsur hilang walau bau amis masih menyengat.

Perlahan Bu Anggi menepuk-nepuk pipi Zeya. Dan setelah sadar, Zeya langsung meneguk air putih yang di sodorkan Farah.
Zeya pun merubah posisinya menjadi setengah duduk ia masi menunduk dan kaget akan kejadian di kantin tadi. Ia harap Bu Eli hanya sekedar pingsan dan tak ada masalah yang serius.

"Kenapa kalian bisa di sini?" tanya Bu Anggi.

"Tadi kita nyusul Zeya bu." jawab Farah.
"Iya bu, tadi ada yang ngasih tau kita kalo Zeya bakal kenapa-napa," sambung Adin.

"Dan waktu kita ketemu sama Zeya, dia udah nangis-nagis bu, ngikutin guru-guru yang lagi bawa Bu Eli ke UKS," tambah selia.

"Emangnya kamu habis dari mana Ze?" tanya Bu Anggi lagi.
"Ze—zeya habis ke temu ss—sama Bu Eli di kantin bu... Kita baru aja ngobrol bareng hiks Bu Eli gak apa-apa kan bu? Hiks hiks." Bu Anggi mengelus pelan bahu Zeya.

Zeya ingin menangis sejadi-jadinya sekarang ia masih sangat terkejut dengan kejadian tadi pagi.
"Kalian berdoa aja semoga Bu Eli cuma pingsan. Cuma tadi Bu Eli gak ada respon waktu di tanganin di UKS jadi sekarang Pak Haris dan yang lain sedang bawa Bu Eli ke Rumah sakit," jelas Bu Anggi panjang lebar.

"Kasian dede bayinya bu... " ujar Farah.

"Mungkin cuma kecapean Far."
Farah, Adin, Selia dan juga Zeya pun mengangguk.

Kini mereka ber lima sedang asyik bercengkrama, Bu Anggi sengaja tak meninggalkan Zeya dan kawan-kawan sendiri ia paham betul bagaimana perasaan mereka saat ini.

Sebenarnya, Bu Anggi juga sama seperti Selia dan Adin
Yang sedikit bisa mengobati gangguan halus, beliau juga sama-sama indigo. Tapi beliau cenderung menutup diri dan jarang ada yang tau kalau sebenarnya Bu Anggi ini sama seperti Zeya dan yang lain.

Setelah bercengkrama selama 10 menit lamanya, akhirnya Pak Haris datang.
Dengan langkah tergopoh-gopoh dan raut wajah yang sulit diartikan. Mata dan juga wajah nya juga memerah.

"Bu— Ang—gi huh huh!" ujar Pak Haris terbata-bata.

"Ada apa pak?!"

"Bu Eli udah gak ada..."

Bagai di sambar petir di siang hari. Zeya terkejut bukan main.
Ia merasakan sesak di dadanya matanya kini memanas dan meneteskan cairan putih tanpa izin. Begitu juga dengan yang lain.

Mereka tak menyangka bahwa semua akan terjadi seperti ini. Tidak wajar sekali.

"Bapak ga bercanda kan hiks?" tanya Selia.
"Gak! Untuk apa bapak bohong? Bu Eli sudah di bawa ke rumah duka."

Tangisan Zeya semakin menjadi. Rasanya seperti mimpi. Mimpi karena belum ada 3 jam ia bertemu dengan Bu Eli.

Bahkan baru saja Bu Eli mengundang Zeya dan teman-temanya untuk main kekediamannya.
Apa ini maksud dari semua perkataan Bu Eli tadi? Apa beliau menyuruh mereka datang untuk melayat? Apa ini sebenarnya firasat? Atau ini yang di katakan Mara akan terjadi sesuatu hal yang besa?

Yang benar saja!

"Kenapa kok Bu Eli bisa meninggal pak?" tanya Adin.
"Tadi kata dokter gak ada penyakit dalam atau penyakit bawaan dari Bu Eli. Beliau juga gak punya riwayat sakit jantung atau penyakit mematikan lainnya. Semua sudah kehendak yang di atas... " jelas Pak Haris.

Bu Anggi dan ketiga teman Zeya saling pandang. Apa mungkin?
Mungkin ini ada hubungannya dengan hantu itu? Apa mungkin semua ini karena ulahnya? Apa bisa sekejam itu? Sungguh tak masuk akal bukan?

Hari itu, para siswa di pulangkan lebih awal. Para guru, Staff dan siswa juga melayat ke kediaman Bu Eli.
Jenazah Bu Eli di kebumikan setelah Sholat ashar. Dan tentunya Zeya dan yang lain hadir di sana. Zeya bahkan tak henti-hentinya menangis.

Ia juga seperti melihat sosok Bu Eli sedang tersenyum bahagia. Bu Eli cantik sekali.
Setelah makam Bu Eli benar-benar tertutup oleh tanah, Zeya tak langsung beranjak pulang. Ia bersama beberapa pelayat lain ikut mendoakan Bu Eli. Sebisa Zeya tentunya.

Hati Zeya masih teriris. Ia bahkan masih belum menyangka kalau ini benar adanya.
"Assalamualaikum Bu Eli hiks, ini Zeya da—datang hiks hiks Zeya bawa teman-teman. Ada Farah, Adin, Selia dan yang lain. Ta—tapi Ze gak bisa cium dede bayinya bu... Hiks hiks," Zeya semakin terisak. Ia mengepal tanah merah yang ada di tangannya.
Adin dan Selia mengusap bahu Zeya pelan. Mereka juga sama kagetnya seperti Zeya.

"Udah Ze, jangan di tangisin pulang yuk. Yang lain udah pada pulang loh," ajak Farah.

"Iya Ze, udah liat kan? Bu Eli cantik loh. Jadi gak boleh terus-terusan nangis ya," rayu Selia.
"Iya Ze udah yuk pulang... " tambah Adin.

Dengan perasaan sedih yang masih menyelimuti, akhirnya mereka ber empat pun beranjak pulang meninggalkan makam.

Wajar saja jika Zeya dan yang lain merasa sangat kehilangan sosok Bu Eli.
Bu Eli ada salah satu guru ter gaul dan ter favorit di sekolah. Dan juga jika membawakan materi mata pelajaran yang di ampuh sangat mudah di pahami.

Namun kini sosok Bu Eli sudah tak bisa mengajar lagi di sekolah. Tak ada candaan lagi darinya...
Bu Eli telah meninggalkan semua dengan segala kejanggalan...

Kejanggalan yang entah nyata atau tidak...

Kejanggalan yang tak bisa di terima oleh nalar...

Namun, semua sudah kehendak tuhan. Tuhan yang mengendalikan semesta.
Tuhan yang tau berapa panjang umur kita. Dan sebagai manusia kita harus bisa menerima kenyataan bukan berlarut dalam kesedihan.

----------SELESAI----------
HELOOOO GAISSSSSSS💙💙💙

GIAMAN? FEEL NYA KURANG DAPET YA???? HUHU :((

semoga kalian sukak yaaaaa💙💙💙

Maaf juga kalo ada typo dan kesalahan lain di atas sana gaisssss💙💙💙
Jangan lupa Like, Rep, Rt dan Follow juga ya gaiss biar gak ketinggalan kalo aku up New Storyyyyyyyyyyyyyyy💙💙😗
See u in the next part gaissss💙💙💙
Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh.

Keep Current with 𝒁𝒖𝒍𝒇𝒂𝒂🦄

Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

Twitter may remove this content at anytime, convert it as a PDF, save and print for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video

1) Follow Thread Reader App on Twitter so you can easily mention us!

2) Go to a Twitter thread (series of Tweets by the same owner) and mention us with a keyword "unroll" @threadreaderapp unroll

You can practice here first or read more on our help page!

Follow Us on Twitter!

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3.00/month or $30.00/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!