Micka Profile picture
Jan 14 50 tweets 9 min read
“Mendekati jam 12 malam suasana yang tadinya hening dipecahkan oleh teriakan-terikan
histeris dan tangisan dari salah satu ruang kelas yang menjadi tempat tidur murid perempuan.
Bahkan beberapa murid perempuan terlihat berlarian berhamburan keluar kelas. Suasananya
menjadi heboh. Para kaka Pembina berlarian menuju ruang kelas dimana para murid histeris.”
Yang sedikit ada perdebatan adalah bunyi angklung di ruang penyimpanan peralatan. SDN X memiliki satu ruang khusus untuk menyimpan peralatan olah raga seperti kasur busa untuk
lompat tinggi berikut seperangkat tiangnya, bola-bola baik volley, bola sepak dan basket,
lalu
panggung kecil tempat berdiri pemimpin upacara bendera pada setiap hari Senin pagi,
kemudian sound system, dan seperangkat angklung.
Mas Rebo berkisah bahwa pada suatu malam dia mendengar suara dari ruang peralatan.
Saat
itu sebenarnya belumlah terlalu larut malam. Masih sekitar jam setengah sebelas. Saat kejadian
itu ia sedang mendengarkan lagu dari pemutar musiknya sambil tidur-tiduran di dipannya. Saat
sedang asyik menikmati lagu kesukaannya telinganya menangkap bebunyian lain.
Awalnya dia pikir suara itu dari lagu yang sedang ia dengar, namun seingatnya lagu
kesukaannya itu tidak ada alunan angklungnya. Mas Rebo kemudian mengecilkan suara pemutar musiknya. Benar saja, itu suara angklung, dan itu bukan dari musik yang sedang ia
dengarkan!
Mas Rebo beranjak keluar sambil membawa senter. Dikarenakan seperangkat angklung hanya
ada di ruang peralatan, maka ia memastikan langkahnya langsung menuju ruang itu. Saat
berjalan menuju ruang peralatan suara angklung masih terdengar namun tidak jelas lagu apa
yang mengalun.
Nadanya sembarang namun benar-benar seperti ada yang sedang
memainkannya.
Sebelum membuka kunci pintu ruang perlatan terlebih dahulu mas Rebo menyalakan senternya
kemudian ia sorot cahayanya ke dalam ruangan melalui kaca jendelanya.
Suara itu seketika
berhenti, namun terlihat beberapa bilah angklung bergoyang pertanda sehabis dimainkan.
Kemudian ia membuka pintu ruang peralatan dengan maksud hendak memastikan saja. Ia lalu
menyoroti ke berbagai arah dengan cahaya senter, tidak ada siapapun. Untuk lebih memastikan
ia lalu menyalakan lampu ruangan itu.
Tetap, tidak terlihat siapapun, yang ia lihat hanya
beberapa barang yang tetap pada tempatnya.
Keesokan harinya ketika mas Rebo menceritakan apa yang dialaminya semalam itu kepada
beberapa guru.
Sebagian menganggap itu adalah perbuatan para penunggu sekolah namun
sebagian lain yakin itu dilakukan oleh tikus yang menggelantungi angklung sehingga menghasilkan bunyi.
Boleh jadi pendapat yang mengatakan bahwa itu perbuatan tikus benar adanya. Namun seingat mas Rebo sejak saat pertama ia menyoroti ruangan dengan cahaya senter ia tidak melihat
seekor tikus pun lari.
Lagi pula untuk membunyikan angklung yang seperangkat itu meskipun mengalunkan nada yang tidak jelas mestilah lebih dari tiga ekor tikus yang menggelayuti, kenyataannya sekali lagi,
mas Rebo tidak melihat seekor tikuspun.
Pada malam-malam berikutnya terkadang alunan bunyi angklung kembali terdengar. Mas Rebo mendiamkan saja. Ia mulai terbiasa dengannya, sebagaimana juga sudah terbiasa mendengar
suara orang sedang menyapu dan seseorang yang sedang mandi sambil bersenandung.
#

Namanya Ibu Sri. Dia salah satu staf guru di SDN X. “Bu Sri”, demikian rekan guru dan para
murid memanggilnya saat mengajar mata pelajaran matematika.
Pelajaran yang bagi sebagian
murid SD adalah pelajaran yang paling tidak difavoritkan dan terasa menakutkan paling tidak
bagi murid kelas 5 dan kelas 6 SDN X.
Terasa menakutkan dikarenakan ibu Sri yang mengajar matematika adalah guru yang sangat
tegas, alias galak atau bahasa kerennya adalah guru killer. Personanya sangat jarang
tersenyum.
Dia sangat tidak suka apabila sedang menjelaskan pelajaran dipergokinya ada
murid yang bercakap.
Jika bu Sri murka maka penggaris kayu 60 cm yang selalu ia bawa-bawa sebagai alat penunjuk di papan tulis ketika sedang menjelaskan materi ia pakai juga untuk memukul meja murid yang ia tuju kemurkaannya. “CETARR!!”, “Perhatikan kalo saya sedang menjelaskan!!” hardiknya.
Maka itulah jika bu Sri sedang mengajar maka dipastikan suasananya kelas itu menjadi sepi senyap mencekam bak kuburan. Ada saja komentar usil anak-anak SD mencocok-cocokannya
sifat galak bu Sri itu dengan hewan menakutkan, yakni menjadi ibu Sri-gala.
Bicara bu Sri yang jika sedang mengajar maka suasana kelas menjadi sepi senyap mencekam
bak kuburan, suatu kali SDN X mengadakan kegiatan Pramuka yang diperuntukan bagi murid
kelas 5. Kegiatan Pramuka itu adalah kenaikan tinggat dari Siaga menjadi Penggalang.
Kegiatan kenaikan tingkat itu dimulainya sore hari hingga malam. Maka murid kelas 5 dan
beberapa guru yang menjadi Pembina akan bermalam di sekolah. Beberapa guru turut menjadi
“kakak” Pembina yang bertugas juga sebagai panitia kegiatan, termasuk bu Sri.
Para alumni
SDN X yang masih aktif di kegiatan Pramuka juga turut membantu menjadi Pembina sekaligus
panitia.
Setelah rangkaian kegiatan ketrampilan dan pengetahuan Pramuka tingkat dasar Penggalang
yang digelar semenjak petang hingga menjelang waktu maghrib maka malam harinya tibalah
pada acara puncak inisiasi yakni “Jurit Malam”, ada juga yang menyebutnya “Jerit Malam”.
Jurit Malam intinya adalah kegiatan uji nyali para Pramuka yang akan menjadi Penggalang.
Tiap regu yang biasanya beranggotakan 10 orang berjalan pada malam hari berjalan melewati
tempat yang dianggap menyeramkan.
Di kalangan para siswa Pramuka peserta, pada sore hari saat istirahat makan berlanjut sholat Isya sudah menggunjingkan info dari kaka kelas peserta tahun lalu
bahwa biasanya bu Sri pada
acara Jurit Malam akan menyamar menjadi kuntilanak untuk menambah “tingkat kesulitan” uji nyali. Selain guling yang digantungkan pada pohon dengan maksud seolah-olah pocongan.
Namun demikian meskipun sudah mendapat bocoran info tetap saja mereka merasa cemas.
Rute berjalan Jurit Malam sebenarnya tidak terlalu jauh, sekitar wilayah dekat-dekat SDN X
saja.
Namun tidak jauh dari wilayah pemukiman masih terdapat makam tua milik warga Betawi
asli setempat yang dinamakan “Kober”. Kober itulah yang akan dilewati para peserta Jurit
Malam.
Tiba saat Jurit Malam. Agung, Surya, Adi, Ari, dan Daru tergabung dalam satu regu.
Mereka
menamakan regu mereka “Elang”. Pada pos pertama sampai ketiga mereka akan menjumpai kakak Pembina yang memberi pertanyaan semacam tes. Pertanyaannya adalah seputar Pancasila, Tri Satya dan Dasa Dharma Pramuka, sandi-sandi, dan hal lainnya terkait
kepanduan.
Setelah ketiga pos itulah sebagai tes terakhir mereka harus melewati kober. Dari jarak
beberapa meter dari kober mereka sudah melihat sosok dengan rambut panjang terurai
memakai
pakaian entah gaun atau daster warna serba putih berdiri saja mematung tidak jauh dari kober yang hanya terdiri dari lima makam itu. Dua pocongan yang sebenarnya adalah
guling juga terlihat menggantung di pohon yang ada di sekitar kober.
Ketika persis melewati kober itu, para anggota regu Elang berusaha tenang berjalan meskipun
jantung mereka berdebar dan dengkul rasanya gemetar. Namun dalam hati mereka berdoa. Si
“kuntilanak” saat dilewati tidak berbuat apa-apa, hanya diam saja sambil menunduk.
Namun
beberapa dari anggota regu Elang sudah menebak bahwa itu memang bu Sri, dikarenakan ibu
Sri sendiri sempat menampakkan wajahnya.
Betapa leganya anak-anak Pramuka itu,
apalagi tidak jauh dari kober dimana bu Sri menyamar
sebagai kuntilanak ternyata ada tiga orang kakak Pembina lainnya yang berjaga.
Setelah
berhenti kemudian berbaris dan melapor kepada ketiga kaka Pembina itu merekapun diizinkan
untuk kembali ke SDN X yang berarti pula selesailah seluruh rangkaian tes.
Pukul 11 malam seluruh peserta kegiatan Pramuka sudah kembali di SDN X. Sebagai tempat
bermalam para murid maka 4 ruang kelas dirubah fungsinya menjadi barak tempat tidur
mereka. Murid laki-laki dan perempuan dipisahkan.
Saat di ruang kelas suara riuh tawa dan percakapan terdengar dari murid-murid menceritakan
keseruan pengalaman mereka. Namun para kakak Pembina memerintahkan agar segera lekas
istirahat tidur. Suasana pun menjadi hening.
Mendekati jam 12 malam suasana yang tadinya hening dipecahkan oleh teriakan-teriakan
histeris dan tangisan dari salah satu ruang kelas yang menjadi tempat tidur murid perempuan.
Bahkan beberapa murid perempuan terlihat berlarian berhamburan keluar kelas.
Suasananya
menjadi heboh. Para kakak Pembina berlarian menuju ruang kelas dimana para murid histeris.
“Adik adik ada apa?, ada apa? Tenang… tenang…” kata para Pembina. “Itu kak,…itu..foto ibu Kartini… foto ibu Kartini…” jawab mereka sambil menangis gemetaran.
“Kenapa foto ibu
Kartini?” tanya kakak Pembina heran. Sebagaimana kita tahu bahwa pada ruang kelas baik di
tingkat SD sampai SMA dipajang beberapa foto Pahlawan Nasional. “Ma..ma..matanya ka…mata ibu Kartini keluar darah….” kata mereka sambil sesenggukan.
Lalu mereka semua ditenangkan dengan diberi minum. Saat murid-murid sudah terlihat sedikit tenang, Pak Maulana guru IPA yang juga Ketua Pembina Pramuka SDN X menanyakan
kembali apa yang sebenarnya terjadi.
Indah, salah seorang siswi yang tadi berada dalam kelas itu bercerita bahwa Eka yang tidak
bisa memejamkan matanya karena tidak terbiasa tidur selain di kamarnya terkejut ketika
melihat foto Ibu Kartini matanya mendelik-delik sambil melotot kemudian mengeluarkan darah.
Eka menjerit histeris sambil menunjuk-nunjuk ke foto ibu Kartini. Jeritan Eka membangunkan seisi kelas. Di tengah kebingungan mereka melihat ke arah jari Eka menunjuk. Lalu mereka
semua pun histeris.
“Beneran pak, saya juga liat mata bu Kartini ngelirik-ngelirik sambil melotot
terus nangis darah”, papar Indah. “Pas kita semua lari keluar saya ngeliat ada bu Sri masih jadi kuntilanak malah diem aja berdiri di depan kelas,” lanjutnya.
Mendengar penuturan Indah, Pak Maulana dan Pembina lainnya tertegun. Setelah kejadian
heboh itu, para panitia menyalakan lampu kelas. Tidak ada yang aneh pada foto ibu Kartini
sebagaimana diutarakan murid-murid yang histeris.
Dan bu Sri, setelah tugasnya menyamar
menjadi kuntilanak selesai ia tidak bermalam di sekolah, sudah langsung pulang dijemput suaminya.
- S E L E S A I -

Catatan tambahan: kejadian ini berlatar di Bekasi di tahun 90an.

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with Micka

Micka Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @Micka0619

Jan 7
Cerita Sebentar – Cerita Horor (Cetar-Cetor) #10

“PARA PENUNGGU SEKOLAHAN“ (Bagian 1)

@bacahorror @ceritaht @IDN_Horor @mwv_mystic @bagihorror

#bacahorror #ceritaserem #ceritahoror #threadstorytime #threadhorror #horror #horor #threadhoror Image
“Mas Rebo menengadahkan kepalanya ke atas batang pohon jambu air. Terlihat wujud sosok seorang perempuan sedang berdiri. Sosok itu mengenakan pakaian seperti gaun putih, kakinya
tidak nampak, rambutnya yang panjang sebahu terlihat berantakan…....”
(Disclamer: Ini adalah beberapa cerita mistis yang pernah terjadi di sebuah Sekolah Dasar
Negeri “X” (SDN X) yang terletak di kota Bekasi. Nama-nama karakter adalah bukan nama
sebenarnya)
Read 42 tweets
Dec 2, 2022
Wujud Asap di Hargo Dalem (warung mbok Yem), Gunung Lawu (3.265 mdpl)

Gunung Lawu adalah gunung yang dianggap sakral oleh masyarakat Jawa.

#threadstorytime #threadhorror #ceritaserem #ceritahoror #ceritahorror #flashhorror #ceritahantu #gununglawu #hargodalem #pendaki #gunung ImageImage
Di gunung inilah dikisahkan Raja terakhir Majapahit yakni Prabu Brawijaya V melakukan Moksa, yakni sirnanya raga dari alam dunia kasat mata ke alam ghaib yang tak kasat mata. Beda dengan manusia pada umumnya yang mengalami meninggal dunia jika "tugasnya selesai" di dunia.
Banyak kejadian atau kisah mistis di luar nalar logika di Gunung Lawu. Seperti yang belum lama dialami pendaki ini.

Saat mencapai puncak Hargo Dalem dia berfoto di warung mbok Yem. Sebagai catatan, mbok Yem adalah seorang tokoh ikonik di Gunung Lawu.
Read 4 tweets
Nov 18, 2022
Namaku Norman (bukan nama sebenarnya. Penulis). Aku akan menceritakan pengalaman
mendaki gunungku di tahun 2006. Waktu itu aku masih kuliah di semester 7. Aku menyukai
kegiatan mendaki gunung.
Meskipun belum bisa juga dikategorikan sebagai “Anak Pecinta
Alam” yang kegiatannya rutin mendaki berbagai gunung. Mendaki gunung kulakukan semata-mata karena aku menyukai dan mengagumi keindahan
gunung dengan hutan rimbanya, hawanya yang sejuk, dan udaranya yang menyegarkan.
Read 86 tweets
Nov 11, 2022
Disclaimer : Nama tokoh dan lokasi spesifik dalam cerita ini telah disamarkan.
Pada suatu sore sebuah truk melaju dengan deras. Si supir tampak kesulitan berusaha
mengendalikan truk yang menjadi liar. Truk itu mengalami masalah pada pedal gasnya. Saat
melaju pada gigi 4 dengan kecepatan 80 km/jam pedal gas tidak kembali ke posisi semula.
Read 70 tweets
Nov 1, 2022
Disclaimer : Kisah ini berlatar Bandung di tahun 2000. Nama tokoh dan lokasi spesifik telah disamarkan.
Tidak terasa Rizki telah memasuki tahap akhir perkuliahannya. Rizki seorang mahasiswa
sebuah universitas swasta di Jakarta, mengambil jurusan hukum. Saat itu dia sedang bersiap
menyusun skripsi.
Read 51 tweets
Oct 24, 2022
7 HARI (cetar-cetor #5)

Disclamer : Nama tokoh dan lokasi spesifik dalam cerita ini telah disamarkan.
Yadi seorang supir angkutan umum minibus yang melayani rute kota M ke kota S dan
sebaliknya. M adalah sebuah kota kecil setingkat kecamatan yang berjarak sekitar 100 km dari
kota S. Durasi perjalanannya ± 5 jam. Yadi sendiri bertempat tinggal di kota M.
Read 39 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Don't want to be a Premium member but still want to support us?

Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal

Or Donate anonymously using crypto!

Ethereum

0xfe58350B80634f60Fa6Dc149a72b4DFbc17D341E copy

Bitcoin

3ATGMxNzCUFzxpMCHL5sWSt4DVtS8UqXpi copy

Thank you for your support!

Follow Us on Twitter!

:(