Dan ingatlah aturan yg berbunyi "Aturan dibuat untuk dilanggar". 😂
Kenapa Pengidean? Karena buat gw ide juga hasil proses. Jadi "Ide" adlh hal terbuka yang bisa berubah seiring proses.
Salah satu hal penting yg harus dikuasai adalah membedakan, mana yg disebut ide, bibit-ide, atau malah nyampah doang.
Buat gue, itu 👆BUKAN ide. Itu cuma celetukan yang BISA jadi ide.
Nah! Celetukan itu harus diuji feasibility-nya utk jadi Ide. Caranya?
Percayalah, kalau kita gagal menjelaskan cerita kita dalam satu kalimat singkat, 50ribu kata nggak akan ada gunanya buat bikin ide itu jadi jelas.
Kalaupun celetukan itu 'Selesai' hasilnya paling2 cuma cerita ngalor-ngidul ke sana kemari yang nggak ngiket n gak jelas arahnya.
Ada tokoh (dg karakterisasi xxx mengalami initial occurance) ingin mencapai (tujuan tertentu) tapi terhalang (sesuatu) sehingga akhirnya dia (berhasil/tidak-berhasil mencapai tujuannya dalam keadaan xxx).
Trus? Gw buat beberapa keputusan utama tokoh yg bikin dia sampai (atau tidak sampai) ke tujuan. Ini namanya Key Moments.
Sya bikinnya urutan.
Opening dan Closing cerita.
Jadi di proses ini gw belum bener2 tahu karakterisasi si Protagonis akan macam apa kecuali hal yg mendasar (jenis kelamin, umur, pekerjaan/posisi dalam cerita).
Melainkan, Protagonis langsung saya hadapkan sama masalah yang harus dipecahkan.
Di akhir cerita HALANGAN pasti hilang. Bukan berarti karena dia brhasil. Bisa aja krn dia gagal atau malah mati. Orang mati gak bakal punya halangan lagi, kan? 😂
Cara tokoh merespon masalah.
Catat: Karakterisasi adalah totalitas respon karakter atas masalah dan kejadian yang muncul di dunianya.
Dari proses penulisan Opening dan Ending saya jg mulai merencanakan STILISTIKA, alias gaya tulisan yang akan saya pake (pertimbangan lain: pangsa pembaca).
1. Impetus
2. Dramatic Question
3. Midpoint
4. Lowpoint
5. Climax
6. New World
Hmmm. Duh, harusnya thread ini pendek. Jadi panjang. :))))
Bentuknya bisa ancaman atau kesempatan. Misal: Diancam DO kalo skripsi gak selesai dalam 2 bulan. Kesempatan Beasiswa ke luar negeri. Dsb.
Tp, Kesempatan/Ancaman gak berguna kalo tokohnya gak mau menyambut, kan? Mau diancam DO kek, klo tokohnya gak mau ngerjain skripsi ya cerita selesai!
DRAMATIC QUESTION: Tokoh menyambut ancaman/kesempatan yang datang walau dia tidak tahu pasti apakah dia sanggup atau nggak. Pokoknya, tokoh pede aja buat lanjut. Harus. Harus. Harus.
Midpoint bisa dimanfaatkan utk menunjukkan bhw masalah kecil yang dia lihat ternyata menyembunyikan masalah besar!
Ya gitu deh pokoknya. Karang2 ndiri aja. :))
Bangkek, kan? Tapi gimanaaa? Dia terjebak!
Di titik inilah tokoh menjalankan strategi hidup-mati. Like: ya udah deh. Gimana lagi? Nyerah atau nggak nyerah, kemungkinan matinya gede banget! Mari kita bertaruh segalanya!
Ingat! Climax tidak terjadi dadakan. Intensitasnya harus dibangun sejak awal. Like? Sejak mulai ngetik. 😂
Hiks. :(
Kalo mau ngelibatin petugas KPK, harus dari awal dikasih tanda2nya. Jangan makjreng turun dari langit!
Misal: Tokoh gagal skripsi n di-DO, TAPI dia direkrut jadi agen KPK! 😂
Tp, inget. Di dunia nyata, kamu gak bakal direkrut KPK kalo nyelesaiin skripsi aja gagal! :))
Entah kenapa bisa begitu. 🤔
Akhirnya, yg mbedakan satu cerita dg cerita lain adalah: STILISTIKA dan VOICE pribadi milik penulis.
Being Authentic is bloody important.
Ini masih ada lanjutannya sbnrnya. Tapi, ketikannya belom jadi. :)))
Yasud. Ditunggu yaaaa.
Thread ini akan dilanjutkan besok, keknya. 🤣🙏🏻
Egimana? 🤣
goodreads.com/book/show/4286…
Amin! 🙏🏻 Makin banyak penulis makin baik. 👍👍👍
Buat yg baru ngeh,sila cek thread yg ini biar nggak bingung gw ngomong apaan. 🤣
Semoga gak antiteori yaaa. Soalnya fiksi sendiri sbnrnya teori ttg kemungkinan kejadian.
Kalau Anda cukup teliti akan ngeh bahwa POLA 6 LANDMARK itu cuma berlaku utk cerita yg alur waktunya satu, satu protagonis, dan satu cerita linear. Kek, pelem2 holiwut.
PADAHAL—
Apakah sy pake pola lain? Nggak, kok.
Di sinilah pentingnya penulis punya kemampuan utk sensitif sama celah utk ngakal2in peraturan. 🤣
Menulis itu BISA sederhana (scr pola) tapi NGGAK sesederhana itu pas dilakukan. So, perlu gw bilang dulu, kalo aturan di atas BUKAN satu2nya aturan yg gw pakai.
Jadi, jgn pikir bakal jadi ahli nulis dengan cuma baca thread ini yaaa. Thread ini cuma SEDIKIT letupan utk baca materi lain yg dibutuhkan.
My Greatest Salute upon him. Hail yeah! 🔥
Walaupun keliatannya sederhana, hal2 sederhana bisa dikombinasikan dan menghasilkan kerumitan.
3 ACT STRUCTURE yg digagas oleh ARISTOTELES ribuan tahun lalu. Termasuk gagasan Adam Skelter ini. Atau THE HERO'S JOURNEY-nya JOSEPH CAMPBELL. Dsb.
Silakan googling dulu, utk liat itu apa. Okeh?
1
2
3
Go!
Gw rasa, maksud dr Aristoteles BUKAN ITU. Grafik itu bukan ttg urutan WAKTU scr linear, melainkan WAKTU NARATIF dan grafik itu adalah alur INTENSITAS EMOSIONAL TOKOH.
Waktu Naratif adlh urutan waktu yg muncul dlm naskah pas DIBACA. Jadi, WAKTU dlm grafiknya Aristoteles lebih ttg WAKTU UNTUK PEMBACA, bukan TOKOH cerita.
Wlo, bisa aja Waktu Pembacaan n Waktu Tokoh sejalan (misal: dlm cerita2 yg alur waktunya cuma maju)
Gini 👉
Begitu kita dapet 6 Landmark cerita. Perhatiin baik2. Jadiin ADEGAN. Seperti apa momen itu berlangsung. Lalu .... perhatikan INTENSITAS EMOSIONAL yg ada dalam tiap adegan/kejadian itu.
Di proses ini, kamu bisa tukar2 posisi. Yg sebelumnya Klimaks dijadiin Impetus. Yg sblmnya Impetus jadi Klimaks, dsb.
Kok bisa?
Jd, adegan APAPUN yg INTENSITAS-nya TINGGI berpotensi jd CLIMAX
Ini yg bisa bikin: Tokoh mati di awal cerita, n klimaks cerita terjadi pas tokoh masih kecil.
Seakan2 waktu berbalik. Catet: cuma seakan2.
Mo kek gimana waktu dibolak-balik dalam fiksi, si Tokoh PASTI ngalamin waktunya lurus, maju, dan ke masa depan DIA.
Apakah waktu mundur buat si tokoh? Tidak. Tokoh kembali ke masa lalu, tapi waktu PRIBADI dia ttp maju.
Benjamin Button? Waktu tetep maju, fisiknya dia yg mundur jd muda seiring waktu yg maju.
1. PLOT KRONOLOGIS: Plot yg dialami oleh PROTAGONIS yang berurutan waktu secara linear; dan
2. PLOT NARATIF: Plot yg dialami oleh PEMBACA lewat naskah yang urutannya bisa ACAK (klo penulisnya mau).
Awal semua plot selalu KRONOLOGIS.
Baru dijadiin PLOT NARATIF dg mempertimbangkan INTENSITAS EMOSI dalam kejadian/adegan yg ditulis.
Hukumnya selalu sama.
Semua berawal dr plot kronologis yg berlaku secara masing2, untuk kemudian disatukan dalam Plot Naratif yng urutannya terkait intensitas emosional.
Linieritas WAKTU boleh banget dilanggar.
Akibatnya memang: 6 Landmark yg disusun jadi seperti NGGAK NYAMBUNG.
Daaaaaaan Inilah gunanya SUBPLOT dan TRANSISI: membuat ketidaknyambungan itu jadi secara ILUSIF terasa nyambung. 🤣
Inilah dosa banyak penulis: "Meremehkan Kecerdasan Pembaca utk Memahami Cerita" apalagi kalo menganggap dirinya lebih cerdas dari pembaca.
Segeralah bertobat. 🤣
SEMUA yg CHAOS akan dijadikan ORDER di dalam kepala pembaca.
Ini salah satu teori penting buat penulis yg mau CERITANYA MENGALIR. 😂
Percaya: mengalir2an ini cuma ilusi yg dibangun penulis. 🤣
Tugas penulis adalah "Giving an anatomy to the chaotic incident(s) so it becomes order".
Kurleb gitu lah.
Weits! Jangan macem2 sama kesederhanaan. Old Man and The Sea-nya Ernest Hemingway sederhana juga plot-nya. TAPI, doi menang NOBEL, tuh!
Sebaiknya, ide cerita bagus = tidak bisa ditebak = ide cerita rumit. Dihapuslah saja. 😁
Adegan/Kejadian yg nggak berhubungan sama Protagonis mending disimpen aja.
Mereka ujug2 nulis cerita yang lompat ke sana kemari, tanpa paham KRONOLOGIS kejadian sbnrnya yg dialami si protagonis.
Alias: keburu mengada-ada sblm bener2 paham ceritanya apa.
Buat 6 Landmark utk tokoh2 kunci. Lalu, PILIH. Landmarks yg produktif utk ceritanya si Protagonis.
Masukin hanya yg berguna.
PLOT NARATIF adalah tempat kita menyatukan semua plot kronologis itu jd satu ke dalam urutan tertentu yang kelak kita tulis jadi novel.
Jangan lupa, perhatikan intensitasnya.
Yg bisa TIDAK LINIER adlh SETTING WAKTU.
Gmn jg Plot Kronologisnya, hasil yg muncul di naskah PASTI Plot Naratif yg secara intensitas emosi ttp urutan.
Bisa dan BOLEH.
Hasilnya kemungkinan besar Anti Klimaks dan kalau memang itu tujuan menulisnya, ya, terserah aja.
Antiklimaks nggak berarti jelek, kok.
Jangan merumit2kan cerita sebelumnya waktunya. Buat cerita jadi rumit kalo cerita memang butuh kerumitan alias perlu pake banyak argumen.
Sip! Sisanya sila discroll ke atas.
See youuu. 🙏🏻😄
Bukan cuma perkara biar beda sm versi daring, TAPI secara teknis: premis, landmark, karakter, dsb, ud terpisah dari novel intinya.
So, Bab ini muncul sbg CERPEN.
Belum baca? Monggo dibaca dulu.
Silakan dibedah baik-buruknya apa yg ada di novel itu.
goodreads.com/book/show/4286…
Dalam proses pembuatan outline penulisan, subplot adalah bagian tersulit. Karena?
Subplot "tampak remeh", pdhl kalo diliat dr proporsi, 75% isi novel adalah SUBPLOT.
Smoga sempet. 😅
Ini THREAD ke-3.
Sekarang, gmn gw menjahit semuanya jadi satu lewat SUBPLOT.
Ini link thread sblmnya👇
Karena: Menulis SUBPLOT jauuuuh lebih riweuh dibanding Landmark.
Baca aja ke bawah.
Setelah nemu 6 landmark. Then, gw langsung mulai nulis SEDIKIT.
Semua landmark yg ada dijadiin adegan singkat. Masih blm detail. Seperti apa kira2 kejadiannya?
Kalo ada DIALOG penting, gw masukin. Gw jg bikin karakter2 tambahan.
Tips oot: Kalo karakter cuma nongol sekali, mending dihapus, tugasnya dikasi ke karakter lain, atau jangan dikasih nama.
Lalu? Diemiin bntr. Ngopi kek. Main gaplek. Gali sumur. Atau apaan, seterah.
Intinya: endapkan dulu. Istirohat.
Karena kita masih butuh satu langkah lagi terkait outline, yaitu: membuat SUBPLOT.
Termasuk jelasin tokoh2 tambahan yg belum ketahuan muncul dr mana.
Jgn pernah kepikiran utk masukin karakter tambahan kek malaikat turun dari langit.
Bagian tersulitnya justru ada di SUBPLOT.
Sedihnya, subplot sering dianggap anak bawang yg gak diperhatiin. Pdhl, sbnrnya jalan cerita TIDAK TERJADI di landmark, melainkan di SUBPLOT.
Gw sering denger penulis ngeluh: "Gue ud bikin plotpoin, tapi pas nulis tetep mampet n gue gak tau mau kemana lagi."
Lah? Gimana, sih? Bukannya udh punya arah, kenapa bisa kesasar?
Penulis yg mampet walau ud bikin "plotpoin" adlh mereka yg (sengaja atau nggak sngaja) meremehkan SUBPLOT. Mereka pikir cerita bisa ngalir gitu aja dr satu titik ke titik lain dg mengandalkan: ILHAM!
Wataw!
Percaya deh, mostly penulis novel adlh orang biasa n bukan nabi yg punya akses Ilham langsung dr Tuhan.
Ini kek minta bantuan tuyul biar kaya! Duit bs dtg tiba2. INSPIRASI menulis mnkn ada, tapi yg lebih sering adlh INSPIRASI muncul sbg MITOS.
SUBPLOT = ARGUMEN yg bikin kejadian di landmark terhubung sbg KURVA sebab akibat yg nyambung.
LANDMARK adlh SENDI yg bikin cerita bisa jalan, dan SUBPLOT adlh TULANG dan OTOT yg bikin sendi itu ada n bisa digerakkan. 💪🏻
Sederhananya, Landmark adlh PERTEMUAN minimal 2 (dua) rangkaian SUBPLOT.
Meremehkan subplot adlh penyebab utama kemacetan menulis.
Subplot yg lemah akan bikin landmark (yg seharusnya) penting jadi (selain) gak masuk akal, juga remeh.
Landmark cerita berdiri di atas subplot sbg fondasi. Bhkn, Landmark boleh aja diganti gegara subplot.
Inilah sebabnya, jumlah Subplot jauuuh lebih banyak dr Landmark. Bisa 3 atau 4 kali jumlah landmark. Kerumitan cerita ada di Subplot.
1 Hook;
6 Landmark; dan
17 SUBPLOT (catet!)
Ntar, ada gambarnya. Ikutin aja thread ini.
Mengapa perlu diakal2in? Karena eh karena sistemnya Adam Skelter sbnrnya lebih cocok buat naskah pelem, bukan utk novel.
Klo mau dipake buat novel, harus ada penyesuaian sedikit.
Jumlahnya bisa dobel kalo protagonisnya dua. Jd tripel kalo protagonisnya tiga. Dst.
Subplot bisa bikin penulis kesasar. Hrsny ke Z eh ke Y (atau muter2 di B). Gagal di subplot, gagal ceritanya. Landmark kita bisa keren BGT, subplot babak belur yaaaa ceritanya ancur.
Makanya, gw sering ngernyit pas baca cerita yg tokohnya berubah tiba2, smcam patah hati satu kali TIBA2 trauma trus fobia cinta! Wataw!
Tiba2 gosong!
Plot milik Salinem memiliki rentang puluhan tahun (antara 1924-2013), sementara plot milik Tyo rentangnya cuma kurleb 2 (bulan).
Waktu yg kerja di NASKAH bukan waktu kronologikal tapi WAKTU NARATIF yg berjalan DI ATAS KERTAS (konsep waktu naratif ini wajib dipahami n dikuasai).
Jgn bikin karakter trauma, fobia, depresi, n berbagai gangguan tanpa pemahaman ini.
Semua perubahan dilakukan di SUBPLOT.
Ini sederhana banget.
Pertama: Saya lihat adegan2 landmark yg sudah saya reka secara kira2 sblmnya.
Tidak ada yg bisa 100% pasti kalau terkait tindakan manusia.
Jangan mencari kepastian.
3 > 6 > 12 > 18 > 21 > 24
Catat: dg asumsi, plotpoin-nya dibuat plek ketiplek kek urutannya Adam Skelter.
CATATAN: untuk novel, klo urutan itu diikutin persis sama, hasilnya adlh novel kaku kek tiang bendera!
Klo penulisnya punya pacar, boleh lah bingung sama pacarnya. 😅
Inilah salah satu yg bikin subplot malah kesasar.
Catat: Kejadian hidup mmng urutan, tapi NOVEL bukan kehidupan. Itu cuma tiruan taksempurna.
1-3
3-6
6-12
12-18
18-21
21-24
Yang TERPISAH-PISAH.
Maksudnya bijimana? Bukannya itu satu cerita?
Itu adalah 6 Kejadian yg berbeda.
Jadi, bisa aja dikerjakan secara RANDOM dan melompat2.
Berdasarkan 2 tiang pertama cerita itu, gw mulai merangkai subplot dr BELAKANG.
Gw mulai di titik (18-21).
Plot (21-24) adlh HASIL yg bisa dianggap TETAP. Begitu pula kurva (1-3) yg jadi titik berangkat.
Titik 21 adlh CLIMAX cerita.
Gw mulai proses pembuatan Subplot dr titik CLIMAX.
Kemudian, gw cek titik 18—LOWPOINT (titik tokoh kehilangan semuanya tp dpt semacam kekuatan utk gerak ke Climax).
Artinya, gw punya 2 (dua) titik kosong yaitu 19 n 20. Inilah titik Subplot yng membuat Lowpoint bergerak ke Climax.
Gw bisa memperkirakan kejadian2 apa yg mungkin terjadi sebelum klimaks.
Selanjutnya: Terjadi di mana? Adakah tokoh lain yg mendorong? Dengan cara apa?
Proses ini menuntut Kreatifitas, krn jawabannya ada di "Out Of Nowhere" yaitu: IMAJINASI.
Pertama, penyebab langsung (kejadian yg mendorong tindakan FISIK yg dilakukan tokoh).
Kedua, penyebab tidak langsung (serangkaian kejadian yg menimbulkan MOTIVASI dalam benak tokoh).
Klopun cuma gegara satu kejadian, Respon tokoh BUKAN HANYA dipicu kejadian melainkan KEPRIBADIAN-nya yg nggak bisa muncul di satu kejadian.
MOTIF dlm CLIMAX dibangun sejak awal tulisan.
JANGAN bikin semua adegan berintensitas tinggi. Kecuali mau bikin: Novel yg "teriak-teriak" n bikin pembaca pengang.
Kek pelem yg sound-effect-nya bikin budeg.
Mampet di titik 18? Nggak bisa lanjut ke titik 17?
Gak usah khawatir, pindah aja ke bagian kurva yg lain. Jangan maksa. KREATIVITAS nggak bisa dipaksa.
Tapi, jangan berhenti dulu.
Lagi2, krn gw udh bikin adegan di dua titik itu. Gw tinggal nyeberangin aja.
(((TINGGAL))) 😂
Artinya, makin lama motif tokoh di Climax makin lengkap n rumit. Alias, Protagonis yg awalnya berkarakter FLAT-STATIS perlahan2 jadi ROUND-DINAMIS.
Yg jelas, proses ini yg bikin kita gak perlu bikin KARAKTERISASI di awal kek lagi bikin laporan medical-checkup
(Hampir) Semua terjadi di proses.
Catat: Nggak perlu urutan. Makin dipaksa urutan, kemungkinan kena MITOS writer's block jg makin tinggi. Kreatifitas tidak linear, tapi lateral.
Proses ini butuh IMAJINASI yg sangat memeras otak. 😅
Pertimbangannya: KECUKUPAN ARGUMEN.
Alias: yakin aja dulu.
Termasuk yakin aja klo trnyata kelak harus menghapus bagian yg gak perlu. 😅
Mengapa? Karena HOOK sebenarnya adalah RINGKASAN isi novel yang TIDAK BOLEH sampai membocorkan jalan cerita.
Catat! PENGETAHUAN.
Pengetahuan dapat dari mana? PENGALAMAN dan BELAJAR.
Iya. Manusia terbatas, nggak mungkin mengalami semua hal. Klo cuma mengandalkan pengalaman utk nulis bisa2 kita cuma nulis itu2 lg, atau nggak nulis apa2.
Kita BELAJAR lewat RISET.
Lewat riset, kita bisa tahu ttg setting dsb. Setting adalah AKAR dari kejadian dalam ADEGAN. Bahkan PLOT. Bukan cuma latar.
Kemampuan bikin SUBPLOT trgantung sama kemampuan RISET.
Klo nggak bikin setting, pembaca-lah yg akan bikin sendiri, yaitu: RUANG HAMPA.
Kecuali, tujuannya mmng itu.
Hubungan setting n adegan fiksi adlh Romeo-Juliet. Cinta yg ndak mungkin dihalangi. 😓
Proses ini adalah proses PEMBANGUNAN ARGUMEN.
Tidak.
Ada penulis2 cerdas yg "seakan2" nggak nulis subplot. Dia cuma punya titik2 penting cerita.
Tapiiii, itu krn mereka cerdas! Ingatan n logika mrk bekerja dg baik utk nggak perlu detail nulis outline sblm mulai nulis naskah.
Semoga, kita adlh PENULIS PEMBELAJAR yg CERDAS.
Amin. Amin dong ah. 😇
Baca ulang.
Periksa, adakah bagian yg sebab-akibat-nya nggak logis? Semua kejadian penting HARUS ada sebabnya.
Klo semua2nya dijelasin, itu bukan novel, melainkan tutorial make-up.😓
Proses bongkar pasang ini TIDAK TERJADI sekali dua kali. Bisa terjadi bongkar pasang ratusan kali!
Bisa ratusan kali bongkar pasang! Sampai, semua kejadian dan plotpoin dalam outline novel kita "terkunci" ketat dan terkait.
Kapan2, gue cerita ttg proses membangun ADEGAN alias SCENE.
Abis itu selesai? Jangan sedih .... Belum.
Hasil dari proses ini cuma untuk penulisnya sendiri. 🤣
DRAF PERTAMA adlh utk menguji apkh kita benar2 paham sama ide cerita n FORMAT penceritaan yg dipake.
Apa itu memahami cerita?
Kemungkinan proses ini gagal: SANGAT BESAR. Tapi, gagal bukan akhir dunia, kok.
Inilah gunanya: REWRITING. (proses ini nyebelin, tapi seru
tapi boong.)🤣
Udah selesai rewriting masih salah? Rewriting lagi.
Ud ditangan pembaca n masih ada kesalahan. Ya, udah. Jadi pbelajaran buat novel berikutnya aja biar lebih okeh.
Amin.
Makanya! JANGAN BELI BAJAKAN.
Sip! Ini lebih dr Subplot, yak??? Wkwkwk. Gpp lah ya ...
Kapan2 gw lanjut. Semoga bermanfaat.
Siyu! 🙏🏻😇
Tentang Penulis PLOTTER.
Menulis Novel
Thread
Buat yg pantser boleh baca, kali aja berguna.
Sila cek, like, n RT pinned-twit di profil twitter gw.
Jangan lupa follow (kalo mau). 😅
Pada dasarnya, tipe penulis terbagi jadi dua bagian besar, yaitu Plotter n Pantser.
Namun, harus diingat kalo kategorisasi ini BUKAN kek kelompok Hitam-Putih. Plotter dan Pantser adalah SPEKTRUM metode pendekatan pada proses menulis.
Mungkin, cuma kadarnya aja yg beda2.
Semntara, Tipe Pantser adalah penulis yang langsung terjun ke tulisan bahkan sblm dia tahu ttg ceritanya selain IDE DASAR.
Mana yg lebih bagus? Tidak ada yg lebih bagus. Ini cocok2an aja.
Apa yang sebenarnya ditulis dalam outline?
Bagian terbesar dari Outline adalah PLOT. Penulis Plotter menyusun serangkaian Plotpoint yang menjadi acuan dalam menulis.
Jadi, dlm outline juga ada informasi karakter, setting, adegan, narator, bahkan POV, data2 hasil riset, jumlah kata, dan perencanaan pembagian bab, dsb ... dsb ... yg dianggap perlu.
Tempel foto pacar jg boleh, buat penyemangat. 😍
(KALAU outline-nya dibuat superlengkap komponennya).
Plot yang masuk akal adalah plot yang seluruh susunan plotpoint di dalamnya BERHASIL menunjukkan hubungan sebab-akibat yang memenuhi standar LOGIKA.
Contoh: Outline-nya #RahasiaSalinem keknya antara 20-30 halaman. Gw nggak ngitung persisnya, soalnya outline-nya tulis tangan.
Skrg, gw pake dua cara. Tulis tangan dulu trus disusun struktural pake MWord (xls jg bole). Biar gampang diikutin.
ALAT untuk menguji pola-pikirnya sendiri. Lewat outline, kita sudah bisa memeriksa apakah jalan cerita yang kita susun MUNGKIN untuk dieksekusi, diperbaiki, atau malah mending dibuang aja. 😅
Keahlian menghapus tulisan adalah ketrampilan terpenting untuk seorang penulis stlh tidak buta huruf.
😅
Apakah ada argumen bolong? Ada kejadian gak masuk akal? Ada deus-ex-machina? Ada karakter sia-sia? Kurang data? Harus riset lagi? Apakah ketebalannya cukup? Berapa lama pengerjaannya?
Misal: minta tolong temen utk liat "eh, cerita ini gimana? Masuk akal nggak?"
MENTOK!
Yup! Penulis Plotter sebenrnya sedang mnghindari terjadinya MENTOK di tengah proses penulisan.
Nggak ada lg proses riset, ngecek data, mikir mau ke mana, dsb. Doi cuma menulis novelnya dg cara ngecek outline.
Sisanya ud dilakukan sblmnya.
Proses Aktual Menulis-nya jadi terasa sangat TEKNIS (dan bisa membosankan). TIDAK ADA lagi kejutan dan petualangan selama proses menulis karena semua kejadian sudah diketahui sejak awal.
Pas Proses Aktual Menulis, seorang plotter "cuma" menyusun kata-kata untuk membangun DRAMATISASI lewat struktur permukaan tulisan.
(Dramatisasi cerita sudah dilakukan di outline).
Apakah tokoh ini akan gw buat mati? No! Dr awal udah ketahuan si tokoh bakal kenapa2 apa nggak.
Atau, eh! Atau mati trus idup lagi? Nggak.
Krn sy cenderung plotter, sy ceritain pengalaman sy yaaa.
Dalam outline PERTAMA #RahasiaSalinem, sbnrnya Tokoh Giyo dan Parjo adalah 1 (satu) orang.
JengJeng! 😅🤔
Tokoh ITU saya pecah jadi dua, karena saya butuh "serve the plot" aka "serve the climax".
Yaudlah sih saya brenti dulu dan kembali ke outline.
Perubahan itu membuat PLOT berubah signifikan bahkan terhadap Protagonis Salinem dan seluruh novel.
Soalnya gw hrs bisa jawab: Dari mana tokoh baru ini muncul? Gmn bisa ketemu ama Salinem? N yg trpenting: Protagonis gw siap menjalani the final battle di klimaks.
Bisa kebayang?
Bahkan sampai ke isi dialog masa kecil Tyo (protagonis pertama) dg Salinem.
Hati2 makanya kalo bikin perubahan. This is somekind of butterfly effect. 🦋🦋🦋
Kita bisa memeriksa apa efek perubahan yg kita buat. Seberapa jauh akibatnya. Cuma berakibat sama satu kejadian, atau malah berentet ke mana2?
Bayangkan kalo saya Pantser, perubahan ini bakal bikin proses rewriting yg masif.
Saya tetep membuka kemungkinan perubahan outline bahkan ketika sedang dalam proses menulis.
Outline should serve the story and not the other way around.
Outline harus tunduk sama cerita.
Kaku n ketebak adalah salah satu jebakan betmen buat penulis tipe Plotter.
Apakah terus2an di tempat yg sama? Apakah terus2an indoor? Atau outdoor semua?
Setting BUKAN cuma latar cerita "biar bisa dibayangin".
Gw sering banget denger "biar bisa dibayangin" pas nanya "kenapa ditulis dg cara ini?"
Coba cari alasan lain yg lebih bagus, lah. 😅🤔
Contoh: Adegan dialog antar tokoh.
Apa sih dialog? Dialog sbnrnya cuma adegan tanya-jawab.
Nembak cewek/cowok di kelas ama nembak di atas metromini beda, kan?
Bikin adegan nembak cewek di kuburan? Pernah nyoba?
Sy pernah. 🤣
Js, awalnya, coba ubah2 setting. Pindahin tokoh ke mana, kek. Jgn di sekolah muluk. Klo pun di sekolah, pindahin ke pojok2 aneh.
Detik ini, Kantin itu klise. Kecuali di kantin ada portal menuju dimensi lain. 🚀
Ih! Kapan2 cerita apa itu Model Situasi.
Eh, harusnya ini ngomongin Plotter, yaaa. Mulai melantur saaayah. 😅😂😂
Tiap titik plot, tiap adegan, tiap karakter, dan semua yg ada di outline harus sempet ditanyain:
"Kalau bukan ini, ada cara lain?"
Sy pernah nyoba jadi pantser, eternyata kurang cocok. Nah! Kali aja dikau cocok, sodara. Semoga berguna
Well, siii yuuu. 😄🙏🏻
THREAD ttg Menulis Novel
Sila dilike, diRT n follow.
😍
NARATOR adalah konsep penting dalam penulisan NASKAH fiksi. Cara kita menulis cerita tergantung pada bgmn Narator dimunculkan dalam naskah.
Tanpa Narator (penulis bicara langsung ke pembaca), naskah jdi Nonfiksi (laporan ilmiah, berita, atau biografi) yg isinya "kebohongan".
Fiksi tanpa narator adlh mustahil.
Narator TIDAK BISA menceritakan apa yang dia nggak tahu.
Penulis-lah yg bikin Narator mengetahui suatu informasi terkait ceritanya.
Dlm karya2 berbahasa Inggris, HUBUNGAN NARATOR dg CERITA bisa tampak jelas krn Bahasa Inggris memiliki bentuk Past-Tense.
"Ada suatu kejadian yang SUDAH TERJADI scr fiksional, disampaikan oleh penulis kepada Narator, dan Narator menceritakannya pd pembaca."
Bingung? Kenapa gak penulis langsung ke pembaca?
Ikuti Thread ini.
Seperti dalam kalimat:
"NOW, I deeply SWAM into your eyes. They were glowing like stars drowning into the darkest part of an unknown sea."
Ada kata "NOW" tapi kata kerja "SWAM" dalam bentuk past-tense.
Bayangkan gmn kalimat itu bisa jadi Bahasa Indonesia tanpa kehilangan makna "masa lalu". Kalimat itu akan jd sangat rumit.
Itu bukan cuma perkara grammar. Itu adalah BUKTI bahwa dalam cerita fiksi SELALU ada NARATOR.
Misal: "NOW, I WANT to tell you story about a boy who FELL in love with a girl".
Dlm naskah berbahasa Indonesia, fenomena ini TIDAK MUNCUL LITERAL krn nggak ada perbedaan gramatikal terkait waktu kejadian.
Kecuali, ada kata keterangan waktu lampau (kemarin, dsb).
Akibatnya, seakan2 "Saya duduk" disampaikan sekarang oleh penulis.
Padahal, cerita SELALU ditulis oleh penulis di kertas, dan DISAMPAIKAN oleh Narator sbg kejadian Masa Lalu kpd pbaca.
Apakah Narator = Penulis?
Seharusnya pertanyaan ini ud kejawab dg baca cerita2 yg pake Ekspresi POV AKU.
Klo cerita kita berisi protagonis berumur 7 (tujuh) tahun yg mengakui dirinya sbg Narator
apakah KITA (sbg penulis) adalah anak umur 7 thn juga?
Apakah saya 7 tahun? Saya suka makan beling?
Jelas, Tidak.
Saya bukan narator dlm kalimat fiksi itu. Saya penulisnya yang tidak suka makan beling.
Juga TIDAK.
Narator dalam naskah yg pake Ekspresi POV Dia adalah "SAKSI MURNI" atas sebuah kejadian fiksional.
Alias, Narator yang TIDAK terlibat dalam cerita.
Dalam FIKSI, NARATOR adalah hasil invensi (penemuan) penulis. Penulis TIDAK BISA secara langsung masuk ke dalam naskah FIKSI.
Penulis masuk ke dalam FIKSI harus lewat sosok Narator.
Novel FORGIVEN karya @Miss_Morra.
Novel ini WAJIB BACA terutama buat yg seneng nulis Teenlit.
Di antara banyak novel Indonesia bergenre Remaja, novel ini salah satu yang terbaik (sy blm baca novel Mb Morra yg lain, tapi sy yakin bagus juga).
Narator dan Tokoh Aku dlm novel FORGIVEN ada di lokasi dan waktu yang berbeda WALAUPUN keduanya menyebut dirinya sebagai "AKU".
Kita akan menemukan banyak kalimat sepola ini (di setting masa lalu):
"..., bertahun-tahun kemudian, aku akan mendapati Will masih menyimpan kertas itu."
Pengucapnya adlh Narator yg mewakili dirinya sebagai TOKOH AKU di masa depan. Ini adlh hasil invensi (penemuan) Mbak Morra atas cerita fiksinya; dan
@Miss_Morra konsisten mempertahankan eksistensi dan POV Naratornya sepanjang cerita.
Wajib dibaca pokoknya.
Thank you, Mba Morra. 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Dan, krn "Narator = Alat Pencerita bagi Penulis" maka posisinya bisa diganti2 semau2nya sm si Penulis. Kelak ini akan berhubungan dg POV (point of view) yg digunakan dlm tulisan.
Penulis PERLU merumuskan SIAPA Naratornya seperti dia merumuskan tokohnya.
Penulis fiksi sdg menulis ttg NARATOR yg sdg menceritakan Protagonis dan tokoh2nya kpd pembaca.
Penulis >>> Narator >>> Cerita
Bagan di atas sudah seperti takdir. Tidak bisa dihindari. 😂
Mau ditulis "berdasarkan kisah nyata" kek ... Cerita Fiksi SELALU diceritakan oleh Narator.
Kecuali, yang kita tulis adalah OTOBIOGRAFI. Dalam Otobiografi fungsi Narator dan Penulis menyatu.
Yaitu: Teknik yang digunakan penulis untuk MENGAMBIL JARAK dengan cerita dalam tulisan.
Dalam cerita2 ber-NARATOR AKU, penulis "memasukkan" Narator ke dlm salah satu TOKOH cerita.
Narator cenderung SUBJEKTIF, dan terbatas. Pengetahuan Tokoh menjadi sama persis dengan pengetahuan Narator.
Kelebihannya: Bisa emosional.