Based on True Story

** Kisahku pada Masa Kuliah **

| - Chapter 1 - |

`Peristiwa Ketika KKN`

#bacahorror @bacahorror
#ceritaht @ceritaht
@bacahorror @ceritaht Ujian Akhir Semester sudah selesai, sisa satu mata kuliah yaitu Kuliah Kerja Nyata (KKN) untuk menggenapi nilai untuk semester 6.
@bacahorror @ceritaht Aku kuliah di salah satu Universitas terkenal di kota dmn kakek dulu tinggal. Lokasi kampus pun sangat dekat dg rumah kakek, sekitar 300 meter, sehingga aku tinggal di rumah kakek. Semenjak beliau meninggal serta Nenek & 2 tanteku tinggal di rumahku, sekarang rumah itu dikostkan.
@bacahorror @ceritaht Dulu kostan penuh sebelum ada peristiwa pencurian atas isi PC & dibobolnya salah satu kamar penghuni kostan. Dikarenakan dua kejadian tadi serta hasutan salah satu penghuni kost, akhirnya para penghuni kostan semuanya pindah. Sebenarnya Aku tahu siapa yg melakukan kedua hal tadi,
@bacahorror @ceritaht namun tanpa bukti Aku pun hanya diam. Oleh karena itu, hanya Aku sendiri yang tinggal di sana pada saat itu.

~~~

Hari ini Aku berangkat ke kampus menuju Gedung Sebaguna untuk mengetahui lokasi dan pembagian kelompok KKN.
@bacahorror @ceritaht Sesampainya di gedung tersebut, Aku mendekati papan pengumuman yang dipadati para mahasiswa. Kucari namaku di papan itu, cukup lama berada di sana sampai akhirnya kutemukan namaku.

Lalu Aku menuju ruangan tempat pertemuan anggota kelompokku sesuai informasi dari pengumuman yang
@bacahorror @ceritaht terpampang pada papan tadi untuk mendapatkan penjelasan dari dosen pembimbing.

Pada pertemuan itu dosen pembimbing memberitahukan bahwa KKN kali ini pihak kampus bekerja sama dengan pihak pemda salah satu kabupaten di Jawa Barat untuk melakukan survey dengan data-data menyusul.
@bacahorror @ceritaht Data-data dari hasil survey akan dijadikan acuan oleh pihak pemda untuk menyusun rencana pembangunan di Kabupaten tersebut. Besok setiap kelompok harus mengirimkan 2 perwakilan untuk melakukan perjalanan ke lokasi untuk bertemu pihak desa serta menentukan rumah yg akan ditempati.
@bacahorror @ceritaht Setelah memberikan informasi tadi, dosen pembimbing tersebut keluar ruangan. Karena setiap dosen pembimbing bertanggung jawab untuk setiap kecamatan, maka para mahasiswa yg berkumpul tadi terdiri dari beberapa kelompok KKN. Sebelum beliau keluar,
@bacahorror @ceritaht beliau memerintahkan setiap ketua kelompok yg terpilih untuk maju ke depan melakukan absensi anggotanya kemudian diskusi mengenai kegiatan KKN nanti.

Ketua KKN kelompokku adalah Ardan yang ternyata satu SMU denganku. Dari diskusi kelompok, Aku & Ardan yg akan berangkat besok.
@bacahorror @ceritaht Besoknya kami berdua berangkat dengan perwakilan kelompok lain menuju lokasi KKN dg menggunakan kendaraan yg sudah disediakan pihak kampus.

Setelah tiba di desa tempatku akan KKN, kami berdua menuju balai desa. Namun saat itu Kades sedang tidak ada, kami hanya bertemu dg Sekdes.
@bacahorror @ceritaht Setelah berbincang cukup lama, kami diantar Sekdes menuju rumah yang akan kami tempati saat KKN nanti. Karena lokasinya dekat, kami berjalan kaki menuju rumah tersebut. Sebelum ke lokasi kami singgah terlebih dahulu di warung yg terbuat dari bilik untuk menemui pemilik rumah.
@bacahorror @ceritaht Pemilik rumah itu adalah pak Eka dan bu Ani yg usianya kuperkirakan di atas 60 tahun. Beliau memberitahukan bahwa selama kami KKN pak Eka & bu Ani akan tinggal di warung tersebut, namun salah satu putranya akan tetap tinggal di sana. Ada rasa tidak enak mengetahui hal itu, namun
@bacahorror @ceritaht Pak Sekdes tidak bisa mencarikan tempat lain untuk kami tinggali dan pak Eka tidak merasa keberatan untuk tinggal di warung karena mereka sudah terbiasa tidur di sana. Dari bujukan pak Sekdes dan pak Eka akhirnya Aku menerima keputusan tersebut.
@bacahorror @ceritaht Kami pun berjalan menuju rumah pak Eka diantar beliau sedangkan pak Sekdes kembali ke kantornya. Untuk sampai ke rumah beliau kami menyebrangi jalan desa sekitar 20 meter kemudian belok kiri melewati jalan setapak menurun yg cukup rindang oleh pepohonan tinggi dan besar.
@bacahorror @ceritaht Sebelum mendekati rumah (sekitar 30 m) terdapat tempat penampungan air di sebelah kiri jalan dg luas sekitar 5m x 8m yg terbengkalai. Menurut beliau dulunya dipakai untuk mandi ataupun mencuci baju oleh masyarakat. Setibanya di rumah beliau, kami dipersilahkan untuk masuk.
@bacahorror @ceritaht Beliau memperkenalkan letak kamar tidur, dapur, & kamar mandi. Untuk ruang tamu & kamar tidur bangunannya sudah permanen, namun dapur & kamar mandi terpisah dmn dindingnya masih bilik dgn atap langsung melihat genteng.

"Sepertinya ada kemungkinan begadang tiap hari nih" pikirku.
@bacahorror @ceritaht Tidak lama kami pun pulang dari desa tersebut dan keesokan harinya kami laporkan kepada rekan-rekan mahasiswa lain dari kelompokku. Melihat kondisi rumah yang akan kami tempati, kami membagi beberapa tugas untuk membawa beberapa perlengkapan yg nanti akan kami butuhkan.
@bacahorror @ceritaht Hari keberangkatan pun telah tiba, Aku hanya membawa beberapa stel pakaian, kopi + creamer, dan 1 slop rokok untuk persediaan di sana.

Aku beserta rekan kelompokku berangkat menggunakan bus beserta peserta KKN lainnya yg satu kecamatan denganku.
@bacahorror @ceritaht Akhirnya bus sudah sampai di kantor kecamatan. Aku masuk ke aula untuk mendengarkan sambutan dari pihak kecamatan dan pelepasan dari perwakilan pihak kampus. Setelah acara tersebut selesai, kami menggunakan charteran angkot yg sudah disiapkan pihak desa menuju lokasi.
@bacahorror @ceritaht Pada saat perjalanan menuju lokasi, kami melewati perkebunan tebu milik masyarakat dan jarang melihat rumah warga. Kami pun harus melewati satu jembatan yg kondisinya sangat miris dan hanya bisa dilalui satu mobil .
@bacahorror @ceritaht Setelah sampai desa yg dituju, kami langsung ke bale desa. Aku kembali mendengarkan sambutan dari pihak desa dan beberapa kalimat dari ketua. Setelah selesai acara di bale desa, akhirnya Aku tiba di rumah pak Eka yg dalam sebulan ke depan akan tinggal di sana.
@bacahorror @ceritaht Sebagai gambaran untuk rumah pak Eka, ketika masuk langsung memasuki ruang tamu. Sebelah kanan ada 4 kamar dmn yg satu kamar paling belakang merupakan ruangan khusus yg saya lupa fungsinya untuk apa. Tepat di depan kamar ke 3 ada satu kamar yg dipakai oleh putra beliau dan pintu
@bacahorror @ceritaht ke kamar mandi & dapur. Kamar pertama & ke-2 digunakan oleh perempuan sedangkan kamar ke-3 oleh laki2.

Kelompokku terdiri dari 10 orang, 3 laki2 & 7 perempuan. Rekanku yg laki2 bernama Ardan dan Tommy, sedangkan yg perempuan bernama Achi, Risa, Weni, Diana, Prita, Inna & Winda.
@bacahorror @ceritaht Sesudah sampai rumah, kami langsung membagi kamar kemudian beres-beres. Aku langsung menyimpan PC di kamar & menginstal kabel2nya kemudian menghubungkan aliran listrik ke PC tersebut. Lalu kunyalakan PC + monitor tersebut, setelah terlihat beroperasi kemudian kumatikan lagi.
@bacahorror @ceritaht Ketika waktu sudah sore & hampir maghrib, Winda & Risa masuk kamar dgn wajah yg tegang. Risa dgn sedikit gemetar bicara "Aydin, gimana dong?"

Aku: "Ada apa kok kalian gemetaran begitu?"

Winda: "I .. Itu ... tadi diluar ada laki-laki kayaknya anaknya pak Eka, waktu kami mengajak
@bacahorror @ceritaht salaman, dia nolak. Ekspresinya sangar kayak nggak senang kita tinggal di sini."

"Tampangnya kayak preman lagi Ay. Pindah aja yuk, nggak enak gue tinggal di sini." Timpal Risa.

Aku: "Mau pindah ke mana, sebentar lagi maghrib? Emangnya Ardan sama Tommy kemana?"
@bacahorror @ceritaht Risa: "Ke mereka juga sama Ay, tuh di depan anak-anak lagi pada ribut masalah ini."

Aku langsung keluar kamar & menghampiri teman-temanku

Aku: "Sudah jangan ribut, cepat pada masuk, sebentar lagi maghrib."

Icha: "Kamu tadi nggak di sini sih, jadi nggak tahu kebimbangan kami".
@bacahorror @ceritaht Aku: "Iya-iya, untuk masalah anaknya pak Eka biar nanti saya yg urus. Ayo pada ambil wudhu sana, kita shalat berjamaah."

Weni: "Bener ya, kalau nggak berubah responnya ke kita kamu nanti minta pak Kades untuk memindahkan tempat tinggal kita!"

Aku: "Iya, nanti saya usahakan."
@bacahorror @ceritaht Akhirnya mereka pada masuk kemudian mengambil wudhu untuk siap-siap shalat berjamaah.

Aku lalu mendekati Ardan yg masuk ke kamar.

"Kenapa kamu diam aja saat kejadian tadi?"

Ardan: "Takutlah Ay, bingung juga saya mau ngapain lagi setelah ekspresi dia yg jutek, sangar lagi."
@bacahorror @ceritaht Aku: "Kalau kamu Tom?"

Tommy: "Sama, gue males ngadepin orang kayak gitu."

"Ada-ada saja, baru hari pertama sudah ada masalah kayak gini." gumamku.

Akhirnya kami shalat berjamaah di ruang tamu. Setelah shalat, dzikir & do'a semua rekan-rekanku langsung masuk kamar masing2.
@bacahorror @ceritaht Aku berjalan menuju kamar anaknya pak Eka, karena kamarnya tanpa pintu & hanya dibatasi gorden, aku berkata

"Assalaamu'alaikum"

"Wa 'alaikum salam"

Aku: "Kang, boleh saya masuk?"

Ade: "Silahkan kang, masuk saja."

Aku masuk kemudian menyodorkan tangan untuk mengajak salaman.
@bacahorror @ceritaht Sambil tersenyum namun mataku menatap tajam matanya

"Saya Aydin"

Lalu dia menyodorkan tangannya dan membalas salaman tanganku

"Saya Ade, silahkan duduk Kang" dengan suaranya yg cukup tegas dan raut wajah yg datar.

Aku: "Terima kasih"

Aku pun duduk dengan masih menatapnya.
@bacahorror @ceritaht Aku: "Hmm ... Akang pernah ke Desa SA ya nemuin pacar yg punya tanda di sini?" Sambil menunjuk salah satu area tubuh yg biasanya tertutupi baju.

Terlihat dia kaget, lalu berkata

"Ko Akg tahu sih kalau mantan saya di SA punya tanda di sini?"

Aku tersenyum lalu menjawab
@bacahorror @ceritaht "Sudah ach nggak perlu dibahas. Btw, betul tadi sore Akg waktu diajak salaman sama anak2 tp Akg gak mau?"

Ade: "Bukan gak mau Kang, tapi tangan saya kotor habis gembala kambing sama ngarit rumput. Maksudnya nanti saja kalau saya sudah mandi salamannya"

Aku: "Oh begitu ternyata"
@bacahorror @ceritaht Ade: "Iya kang."

Aku: "Kalau sekarang bersedia dong untuk kenalan sama rekan2 saya?"

Ade: "Ya iya lah, kenapa Nggak?"

Aku: "Kalau gitu saya kumpulkan rekan2 saya dulu ya Kang, nanti Akg saya panggil kalau mereka sudah kumpul."

Ade: "Siap Kang"
@bacahorror @ceritaht Aku keluar kamar lalu menuju ketiga kamar rekan2ku dan meminta mereka berkumpul di ruang tamu. Awalnya mereka enggan namun akhirnya mau setelah sedikit ku paksa.

Setelah semuanya berkumpul, Aku sedikit berteriak

"Kang Ade ..."

"Iya Kang" jawabnya sambil keluar kamar.
@bacahorror @ceritaht Setelah keluar Kang Ade menyalami rekan-rekanku satu persatu. Setelah itu meminta maaf atas perlakuannya kepada rekan2ku sore tadi sambil menerangkan alasannya.

Terlihat Prita memandangku kemudian berkata

"Iya Kang Ade, maaf juga kalau tadi kami ada salah ya"

"Iya, Nggak apa2"
@bacahorror @ceritaht "Alhamdulillah masalahnya sudah selesai ya?" Sambil tersenyum dan memandangi wajah rekan-rekanku.

"Iya" mereka menjawab hampir serempak.

Setelah itu kami berbincang akrab sampai waktu Isya telah tiba, lalu kami shalat berjamaah, termasuk Kang Ade.
@bacahorror @ceritaht Selepas shalat dan menyimpan perangkat alat shalat ke kamar masing2, kami berkumpul kembali untuk membicarakan langkah yg akan diambil besok. Setelah acara dibuka oleh ketua, Aku pun berbicara

"Rekan2, saya minta izin menemui Kang Ade untuk berbincang-bincang sebentar ya?"
@bacahorror @ceritaht Ardan: "Trus gimana menurutmu kegiatan untuk besok?"

Aku: "Saya ikut keputusan kalian seumpama kembali ke sini sudah ada keputusan."

Ardan: "Ya sudah silahkan."

Setelah mendapat izin dari ketua Aku melihat rekan2 yg lain & mendapatkan respon berupa anggukan kepala dari mereka.
@bacahorror @ceritaht Aku berdiri dan berjalan menuju kamar Kang Ade

"Assalaamu 'alaikum, Kang boleh masuk?"

Ade: "Wa 'alaikum salam, masuk saja Kang."

Aku: "Ngeganggu gak Kang?"

Ade: "Nggak lah Kang. Btw, jangan panggil Akg ya Kang, panggil nama saja. Usia saya kan lebih muda dari Akg."
@bacahorror @ceritaht Aku: "Boleh tapi Ade jgn panggil saya Akg, panggil saja Aa gmn?"

Ade: "Memangnya kenapa?"

Aku: "Supaya lebih familiar, kayak hubungan Adik Kakak."

Sambil tersenyum riang Ade menjawab: "Oke Aa."

Aku tertawa kecil melihat ekspresi & jwbn Ade sambil mengusap punggung atasnya.
@bacahorror @ceritaht Aku: "De, KKN kita saat ini kan tugas nya survey ke setiap rumah & pastinya memakan banyak waktu, padahal masyarakat tahunya KKN kan tidak seperti itu. Menurut Ade bagaimana?"

Ade: "Ya mau gimana lagi A, selesaikan saja surveynya."

Aku: "Trus kalau ada yg protes bagaimana?"
@bacahorror @ceritaht Ade: "Biar Ade nanti yg jelasin, Aa jangan khawatir."

Aku: "Siap, thanks ya De."

Ade: "Sama-sama A."

Aku: "Oh iya, di sekitar sini banyak anak-anak gak?"

Ade: "Banyak sih nggak A, tapi ya ... 20 orang mah lebih."

Aku: "De, Aa balik lagi ya ke rekan2, thanks waktunya."
@bacahorror @ceritaht Kemudian Aku kembali ke rekan2 dan mendapatkan mereka seperti asyik berbincang namun tidak terlihat sedang diskusi. Lalu Aku bertanya

"Bagaimana, sudah ada keputusan untuk besok?"

Pertanyaanku tadi membuat rekan2 yg asyik ngobrol menjadi berhenti dan fokus melihatku.
@bacahorror @ceritaht Ardan: "Gak tahu Ay, buntu. Kamu sendiri lihatkan ibu-ibu jadi malah pada asyik ngegosip."

Winda: "Nggak maksud ngegosip Ay, tadi kan pada-pada diem, ya sudah kami nunggu lo balik."

Prita: "Maaf ya Ay."

Aku: "Iya gpp Ta. Gmn tadi sudah ada ngasih ide atau saran buat besok?"
@bacahorror @ceritaht Inna: "Tadi nggak ada yg straight to the point Ay, pada ngembang semua idenya."

Aku: "Ya sudah kita mulai lagi pembahasannya. Maaf tadi sudah izin sebentar. Oke, ini saran saya:

1. Karena hanya ada 3 orang laki-laki maka nanti setiap hari hanya ada 3 group yg melakukan survey.
@bacahorror @ceritaht Setiap grup terdiri dari dua orang, satu laki2 & 1 perempuan.

2. Setiap pagi ada perwakilan dari kita 2 orang untuk berbakti sebagai tenaga pengajar di Sekolah Dasar desa ini. Sorenya kedua orang ini bertugas untuk memasak buat makan malam.

3. Ada dua orang yg tinggal di rumah.
@bacahorror @ceritaht Tugasnya menyiapkan sarapan & bersih2 perabotan makan. Setelah shalat Ashar mereka mengajar membaca Al-qur'an kepada anak-anak yg ada di sekitar kita. Bagaimana pendapat rekan2 thd usulan saya?"

Diana: "Saya setuju atas saran Aydin, namun apakah yg bertugas orangnya sama?"
@bacahorror @ceritaht Aku: "Untuk laki2 selalu sama, tp untuk yg perempuan tugasnya bergantian. Oh iya Teh, ngomong2 Teteh sekarang sudah hamil berapa bulan?"

Diana: "Mau 8 bulan Ay, kenapa gitu?"

Aku: "Menurut saya sebaiknya Teteh gak perlu survey ataupun ke Sekolah, takut kecapean nantinya."
@bacahorror @ceritaht Diana: "Saya nggak mau dispesialkan Ay, biar saya ikuti semua tugas berdasarkan kesepakatan kita malam ini."

Aku: "Ya sudah kalau Teteh maunya seperti itu tapi dg satu syarat, kalau sekali saja nanti saat survey/mengajar teteh terasa lelah, maka ke depannya teteh stay di rumah."
@bacahorror @ceritaht Diana: "Hmm ... Baiklah saya terima keputusannya."

Aku: "Sip, besok Teteh survey berpasangan dgn saya apabila ketiga usulan diterima rekan-rekan semua. Bagaimana ada usulan yg lain?"

Ku lihat satu-satu rekan KKNku, namun tidak ada yg berbicara. Aku pun kembali bicara
@bacahorror @ceritaht "Semuanya setuju atas rancangan kerja yg saya usulkan?"

Tidak serentak rekan-rekanku menjawab, namun semuanya setuju atas usulanku.

Kemudian Aku memanggil Ade

"De, sudah tidur?"

Tidak berapa lama Ade keluar dari kamarnya

Ade: "Iya A, ada apa?
@bacahorror @ceritaht Aku: "Ada tetangga kita yg merupakan guru SD di desa ini?"

Ade: "Ada A, namanya pak Asep."

Aku: "Bisa nganter Aa besok pagi ke rumahnya?"

Ade: "Insya Allah bisa A."

Aku: "Sip, thanks ya De."

Ade: "Iya A, sama-sama."

Aku: "Barangkali Ade mau istirahat, istirahat saja lagi."
@bacahorror @ceritaht Diskusi malam itu pun selesai, untuk pengaturan siapa saja yg survey, ngajar, atau tinggal di rumah, saya serahkan pada rekan-rekanku yg perempuan.

Aku lalu masuk kamar kemudian menyalakan Komputer untuk membuat format excel yg nanti akan menampung data hasil survey.
@bacahorror @ceritaht Tak terasa waktu sudah pkl 1 malam, banyaknya variable data yg harus diinput membuatku cukup kelelahan sehingga belum mampu menyelesaikannya. Mataku sudah mengantuk, Aku berjalan menuju kamar mandi untuk berwudhu dengan tujuan supaya tubuh kembali segar. Baru saja membuka pintu,
@bacahorror @ceritaht "radar"ku mendeteksi ada makhluk lain di area ini tidak hanya satu, namun ada tiga.

Karena mata lahirku tak mampu secara otomatis melihat penampakan mereka, maka Aku pejamkan mata dan berharap Allah mengijinkanku untuk bisa melihat mereka.
@bacahorror @ceritaht Nampak sesosok wanita dewasa yg memakai pakaian tempo dulu sdg mengasuh putrinya.

"Mana satunya lagi ya?" gumamku sambil memperhatikan sekeliling area.

Setelah masuk kamar mandi & membasuh telapak tangan, tiba-tiba ada sesosok makhluk tinggi besar berdiri tepat di belakangku.
@bacahorror @ceritaht Awalnya Aku kaget atas kemunculannya secara tiba-tiba, namun tak ada hawa negatif yg ingin mencelakaiku sehingga Aku lanjutkan berwudhu. Setelah selesai wudhu Aku berencana kembali lagi ke kamar, namun akses jalan tertutup oleh penampakan makhluk tinggi besar tersebut.
@bacahorror @ceritaht Tanpa melihat wajahnya [krn pasti kepalaku akan terasa pegal apabila memaksakan menengadah saking cukup tinggi makhluk tersebut] Aku mulai berinteraksi dengannya.

Aku: "Maaf Anda menghalangi jalanku, bisakah bergeser sedikit?"

Tanpa bicara sepatah katapun, dia lalu menghilang.
@bacahorror @ceritaht Baru saja memasuki area dapur, tiba2 sang putri kecil sudah nemplok dipunggungku layaknya digendong. Ku balik badan & melihat sang ibu tertawa kecil. Ku coba memintanya untuk mengambil putrinya, namun responnya hanya sebuah senyuman. Ku cari sang makhluk tinggi, namun tidak ada.
@bacahorror @ceritaht Bisa saja kulepas paksa, namun walau anak ini bukan manusia, tetap saja Aku tak tega menyakitinya. Terpaksa kugendong anak ini masuk ke kamar kemudian melanjutkan pekerjaanku. Lama kelamaan pundak dan punggungku mulai terasa pegal, "bagaimana caranya melepaskan anak ini" pikirku.
@bacahorror @ceritaht Aku berdiri dan berjalan ke ruang tamu, ku hampiri sofa yg ada di sana kemudian ku tekankan punggungku pada bagian bawah sofa sambil memerosotkan tubuhku hingga posisi tidur. Alhamdulillah gendongannya terlepas dari tubuhku. Aneh memang, namun itulah kenyataannya.
@bacahorror @ceritaht Karena lelah & memang sudah ngantuk sedari tadi akhirnya Aku pun tertidur & terbangun oleh suara pintu terbuka yg ternyata Prita lah yg keluar dari kamar itu. Kulihat jam dinding menunjukkan pkl setengah empat, Aku pun lalu duduk di sofa menunggu Prita kembali dari kamar mandi.
@bacahorror @ceritaht Prita yang melihatku duduk menyapa "Pagi Ay, kamu bangun gara2 mendengar suara pintu yg ku buka ya?"

Aku hanya mengangguk sambil tersenyum menjawab pertanyaannya.

Prita: "Maaf sudah mengganggu tidurmu"

Aku: "Nggak apa2, malah terima kasih."

Prita pun pamit masuk kamarnya.
@bacahorror @ceritaht Aku bergegas ke kamar mandi, namun sebelumnya kuaktifkan energiku karena tidak mau dijahili lagi seperti tadi. Aku berwudhu, masuk kamar lalu shalat sunat.

Selepas shalat kulanjutkan pekerjaanku yg terhenti tadi malam. Bertepatan adzan shubuh, pekerjaanku sudah selesai.
@bacahorror @ceritaht Karena masih lelah dan ngantuk, selepas shalat shubuh Aku tidur.

Mataku sedikit kubuka setelah mendengar suara Achi membangunkanku.

Achi: "Sarapan dulu Ay, masakannya sudah pada matang.

Aku: "Makasih Chi, ngomong2 pkl berapa sekarang?

Achi: "Pkl 6:30 Ay."
@bacahorror @ceritaht Achi pun keluar kamar, Aku bangun kemudian duduk sebentar sebelum berjalan ke kamar mandi.

Selepas mandi kulihat rekan2 sudah siap untuk sarapan. Aku masuk ke kamar lalu keluar menuju dapur sambil membawa kopi + creamer.

Karena terlihat Aku akan keluar, Anna bertanya
@bacahorror @ceritaht "Mau ke mana Ay? Gak sarapan?"

"Ini (sambil mengangkat gelas berisi kopi) mau sarapan, tp di luar takut asapnya terhirup kalian terutama Teh Diana" jawabku.

Inna: "Nggak makan dulu maksud saya?"

Aku: "Jarang makan pagi, nanti saja sepulang dari Sekolah."
@bacahorror @ceritaht Winda: "Emang mau ngapain Lo ke Sekolah?"

Aku: "Nganter yg kebagian tugas hari ini mengajar di SD, sekalian minta izin sama kepala sekolahnya."

Baru saja keluar pintu rumah Aku teringat mau ke rumah pak Asep sama Ade. Cepat2 Aku masuk menuju kamar Ade.

Aku: "De sudah bangun?"
@bacahorror @ceritaht Ade lalu keluar kamar "sudah lah A, masa jam segini masih tidur"

Aku: "Bisa ngantar sekarang ke pak Asep?"

Ade: "Bisa"

Lalu kami pun ke rumah pak Asep. Sesampainya di rumah pak Asep terlihat beliau sudah berada di luar rumah bersiap-siap berangkat ke Sekolah.
@bacahorror @ceritaht Setelah mengenalkan diri Aku pun menjelaskan alasan menemui beliau sesingkat-singkatnya takut membuat beliau telat sampai di sekolah. Setelah dijelaskan, akhirnya beliau akan menyampaikan hal ini kepada kepala sekolah dan menungguku di Sekolah nanti.
@bacahorror @ceritaht Aku dan Ade kembali ke rumah. Ku ambil gelas yg terisi kopi tadi kemudian keluar rumah. Ku duduk santai sambil merokok dan menikmati kopi yg sudah dingin di dipan yg terbuat dari bambu yg letaknya menghadap penampungan air yg sudah tak digunakan lagi.
@bacahorror @ceritaht Ada aura suatu energi yg berasal dari sana, muncul rasa penasaran tuk mengeksplorasi, namun kuredam keinginan itu. Kubalikkan tubuh menghadap rumah yg artinya membelakangi tempat tadi. Aku lupa bhw "mataku" terletak di bagian belakang tubuh sehingga nampak jelas kondisi di sana.
@bacahorror @ceritaht Aku melihat sebuah perkampungan gaib yg lumayan padat penduduknya. Karena tidak mau ada hal yg terjadi, kututup penglihatanku seketika.

"Mudah2an tak ada kejadian apapun terhadap kami" harapku.

Waktu telah menunjukkan pkl 8, Aku beserta Achi dan Inna berangkat ke Sekolah.
@bacahorror @ceritaht Setelah berbincang dg KepSek dan meminta izin beliau Aku pun pamit dan segera pulang. Sesampainya di rumah kuhampiri Prita.

"Ta, makanan masih ada?"

Prita: "Masih. Mau makan sekarang?"

Aku: "Iya."

Aku lalu masuk ke kamar untuk mengeluarkan berkas2 survey kemudian membawanya.
@bacahorror @ceritaht Berkas-berkas itu kuserahkan pada Ardan tuk dibagikan pd rekan2 yg akan survey.

"Nih Ay (Prita memberikan piring yg sudah ada nasi plus lauknya). Kalau nasinya kurang, ambil aja di dapur ya."

"Aduh jadi merepotkan, thanks ya Ta."

Prita mengangguk kemudian kembali ke dapur.
@bacahorror @ceritaht Sebelum memulai makan kupanggil Ade & Ade pun keluar dari kamarnya.

Ade: "Ada apa A?"

Aku: "Sudah makan?"

Ade: "Belum A."

Aku: "Makan yuk, ambil makanannya di dapur. Temenin Aa makan."

Ade: "Iya A."

Aktivitas makanku sudah selesai dan kami pun berangkat menuju bale desa.
@bacahorror @ceritaht Setelah mendapatkan data penduduk dari Desa kami pun berpencar untuk melakukan survey di kampung yg terdekat lebih dahulu.

Aku berjalan santai karena berpasangan dengan Diana. Baru selesai survey tiga rumah Aku melihat Diana sudah mulai terlihat letih.
@bacahorror @ceritaht Kulihat ada SMP kemudian ku ajak Diana istirahat di sana. Di kantin kami istirahat sambil membeli es teh untuk menyegarkan kerongkongan yg terasa kering akibat banyak data yg ditanyakan pd warga padahal hanya tiga rumah. Ketika istirahat, kulihat seorang pria yg menghampiri kami.
@bacahorror @ceritaht "Perasaan saya baru lihat kalian di Desa ini."

"Iya pak, Saya Aydin dan ini Diana. Kami mahasiswa yg sedang KKN di Desa ini." Aku memperkenalkan diri.

"Saya Wijaya, guru di Sekolah ini. Kalau ada yg bisa Saya bantu, jangan sungkan ke sini. Saya tinggal di mess Sekolah ini."
@bacahorror @ceritaht Pada saat Aku berbincang dengan pak Wijaya, Aku melihat wajah Diana meringis seperti menahan sakit.

Aku: "Teteh tunggu di sini ya, saya ke bale Desa dulu untuk memesan ojek"

Diana: "Iya Ay, maaf sudah merepotkan."

Wijaya: "Gak perlu manggil ojek, kamu bisa bawa motor kan Ay?"
@bacahorror @ceritaht Aku: "Bisa pak."

Wijaya: "Tunggu di sini, saya ambil motor dulu ke mess."

Aku: "Alhamdulillah, terima kasih pak."

Beliau lalu berlari & tak lama datang mengendarai motornya.

Wijaya: "Nih Ay kunci motornya"

Aku: "Saya pinjam motornya ya pak, Insya Allah sore dikembalikan."
@bacahorror @ceritaht Kujalankan motor penuh hati-hati dan akhirnya sampai di rumah. Walaupun sungkan namun Aku harus memapahnya. Melihatku memapah Diana, Prita dan Weni yg ada di rumah sigap menggantikanku memapah Diana masuk ke kamar.

Tak lama Prita keluar kemudian duduk di sofa.
@bacahorror @ceritaht Aku: "Bagaimana keadaan Diana sekarang?"

Prita: "Sudah membaik katanya Ay"

Aku: "Tolong jaga dia ya Ta, kalau ada apa-apa panggil saya di kamar."

Prita: "Siap Ay."

Aku pun ke kamar lalu merebahkan tubuhku sambil berpikir tindakan apa yg seharusnya kulakukan terhadap Diana.
@bacahorror @ceritaht Tak lama Aku pun keluar kamar, ada Prita dan Weni yg sedang duduk di sofa sambil menonton TV. Kuhampiri mereka untuk menanyakan kondisi terkini Diana dan didapatkan Diana sudah membaik dan sedang tidur. Aku pun pamit untuk pergi ke warung pak Eka.
@bacahorror @ceritaht Cukup lama Aku berbincang di sana kemudian pulang karena sebentar lagi waktu dzuhur.

Ku lihat Inna dan Achi sudah pulang dari Sekolah.

Aku: "Bagaimana Chi, Na, pengalaman mengajar di SD?"

Achi: "Lumayan cape Ay, tapi seneng lihat respon Anak-anak."

Inna: "Sama dong Chi kita."
@bacahorror @ceritaht Aku: "Prita sama Weni dmn?"

Inna: "Prita lagi masak buat kita makan siang, kalau Weni lagi di kamar nemenin Diana."

Aku pun meninggalkan mereka menuju kamar mandi dan bertemu Prita di dapur.

Aku: "Masak apa Ta?"

Prita: "Hanya Mie sama telor, soalnya kita belum belanja."
@bacahorror @ceritaht Aku: "Bilang ke Winda, kalau mau belanja nitip aja sama Bu Ani. Aydin sudah ngobrol sama Bu Ani tadi."

Prita: "Iya, nanti Prita sampaikan ke Winda. Jadi seneng satu kelompok sama kamu Ay, selalu satu langkah di depan pemikirannya."

"Kirain seneng sama Aydinnya Ta." Candaku
@bacahorror @ceritaht Tak ada kata-kata yg keluar dari Prita, tapi wajahnya yg memerah membuatku bergumam

"Wah gawat, candaanku keterlaluan"

Aku: "Bercanda Ta, bercanda, jangan dianggap serius ya."

Aku pun langsung melanjutkan langkah ke kamar mandi tanpa menunggu jawaban dari Prita.
@bacahorror @ceritaht Walaupun hanya di rumah, namun semakin hari kondisi Diana membuatku khawatir. Akhirnya pada hari ketujuh, saat pertemuan rutin tiap malam Aku membahas kondisi Diana.

Aku: "Teh, sebaiknya pulang saja. Usia kandungan 8 bulan merupakan waktu yg riskan dalam kehamilan.
@bacahorror @ceritaht Aydin tahu apa yg menjadi kecemasan Teteh, Aydin yakin rekan-rekan di sini juga mengerti kondisi teteh. Jangan takut masalah nilai, walaupun mengakhiri KKN belum pada waktunya, Nilai KKN teteh pasti sama dengan nilai kita, bagaimana?"
@bacahorror @ceritaht "Bener nggak apa-apa?" jawabnya sambil menatap rekan-rekan yg lain dan dibalas anggukan oleh mereka yg akhirnya mereka saling berpelukan penuh haru.

Dengan terbata-bata Diana menyampaikan terima kasih dan memohon maaf tidak bisa lagi berjuang bersama-sama.
@bacahorror @ceritaht Diana langsung menghubungi suaminya dan meminta dijemput untuk pulang. Keesokan harinya Diana pun dijemput oleh suaminya memakai mobil kemudian pulang.
@bacahorror @ceritaht Pada hari ke-10 Ardan harus mengikuti pertemuan di kecamatan. Pagi itu dia meminjam motor milik Ade namun Ade tidak meminjamkannya. Lalu dia menghampiriku

Ardan: "Ay, tolong pinjemin motor dong ke pihak Desa."

Aku: "Sekalian berangkat aja Ar kamu ngomong sendiri ke pihak Desa."
@bacahorror @ceritaht Ardan: "Sama Ade aja gak dikasih pinjam Ay, apalagi ke Desa."

Aku: "Ya sudah pake ojek aja, ongkosnya minta ke Winda."

Ardan: "Takut nanti meski berangkat ke tempat lain Ay kalau pakai ojek"

Aku: "Ya sudah tunggu di warung Pak Eka, saya usahakan cari pinjaman motornya."
@bacahorror @ceritaht Aku pun mendekati Ade dan minta tolong diantar ke pak Wijaya. Kami pun berangkat dan Alhamdulillah beliau bersedia meminjamkan motornya. Sesampainya di warung, kuserahkan motor pak Wijaya dan berpesan

"Kalau acaranya selesai langsung pulang jangan main dulu ke tempat yg lain!"
@bacahorror @ceritaht Ardan: "Oke Ay."

Dia pun berangkat sedangkan Aku kembali ke rumah.

Pkl 4:30 Ardan blm jg pulang. Aku mulai merasa khawatir, terutama krn mengetahui adanya pembunuhan terhadap mantan Kades desa lain oleh begal di jalan ketika melewati kebun tebu seminggu sebelum Aku KKN di sana.
@bacahorror @ceritaht Aku lari ke warung pak Eka untuk meminta Ade mengantarku mencari Ardan. Karena riskan berangkat sore2 berdua, pak Eka langsung ke rumah pak Asep untuk mendampingi kami. Akhirnya Aku, pak Asep, Ade, dan Tommy berangkat mencari Ardan.

Ku datangi setiap kelompok di kecamatan itu,
@bacahorror @ceritaht namun tak ada Ardan di sana. Sampai akhirnya kuketahui bahwa Ardan berkunjung ke rumah salah satu kelompok untuk bermain PS. Menurut mereka Ardan sudah pulang 1/2 jam yg lalu. Perasaan kesal dan khawatir bercampur menjadi satu. Setelah pamit, kami pun pulang sambil memperhatikan
@bacahorror @ceritaht kanan kiri jalan takutnya ada masalah dengan motor yg Ardan gunakan. Pemikiran ini didasari atas informasi yg mengatakan dia pulang 1/2 jam yg lalu namun tak berpapasan dg kami di jalan. Setelah sampai warung pak Eka kami tidak menemukan Ardan. Rasa cemas mulai menghinggapi kami.
@bacahorror @ceritaht Akhirnya kami putuskan apabila sampai pkl 8 malam Ardan belum kembali, maka pak Asep akan meminta masyarakat di sekitarnya untuk melakukan pencarian ulang. Aku pun pamit dan berjalan dengan gontai ke rumah.

Pada saat Aku melihat motor yg dipakai Ardan terparkir di depan rumah,
@bacahorror @ceritaht walaupun kesal namun Aku sangat bersyukur. Aku meminta Tommy untuk kembali ke warung untuk menyampaikan bahwa Ardan sudah pulang.

"Tidak bisa dibiarkan kejadian ini (merepotkan masyarakat) terulang lagi, Aku harus memberikan pelajaran buat Ardan" pikirku.
@bacahorror @ceritaht Setelah masuk rumah kulihat wajah Ardan yg merasa bersalah, dia lalu menghampiriku dan meminta maaf. Namun Aku adukan kepalaku ke kepalanya tanpa ada sepatah katapun kuucapkan. Kulihat Ardan langsung memegang kepalanya dan rekan-rekan perempuanku terlihat kaget atas tindakanku.
@bacahorror @ceritaht Aku terus berjalan menuju kamar, kubawa peralatan mandiku ke kamar mandi. Selepas mandi, kulihat semua rekanku berkumpul di ruang tamu. Wajah mereka terlihat gelisah ketika menatapku. Kulihat Prita menghampiriku, ketika Aku masuk kamar.

Prita: "Masih marah Ay?"
@bacahorror @ceritaht Aku tersenyum sambil menggelengkan kepalaku

"Bilang sama rekan2, siap-siap shalat berjamaah, sebentar lagi adzan maghrib."

Prita langsung tersenyum dengan menautkan jari telunjuk dan jempolnya. Dia lalu pergi dan menyampaikan pesanku.
@bacahorror @ceritaht Sambil menunggu adzan maghrib, kunyalakan aplikasi musik di PC & kudengarkan lagu Haddad Alwi album the way of love dg volume asal terdengar telingaku. Tak lama terdengar suara Ardan memanggilku, kutahan tawaku ketika kulihat dia hanya berdiri di pintu tak berani mendekatiku.
@bacahorror @ceritaht Aku: "Masuk Ar"

Dia masuk kemudian duduk di depanku

Ardan: "Ay, maaf ya tadi saya pulang terlalu sore. Maaf juga sudah membuat khawatir dan merepotkanmu"

Aku: "Bukan hanya merepotkanku, gara-gara kamu Aku pun merepotkan warga di sini. Selain itu Aku sudah janji mengantarkan
@bacahorror @ceritaht motor ke pak Wijaya sore hari. Nyatanya sampai sekarang motor masih terparkir di depan rumah. Mungkin beliau masih bisa menerima seandainya kamu pulang kesorean gara-gara tugas, masalahnya kamu pulang kesorean gara-gara main PS. Aku tidak terbiasa dan juga tidak mau bohong Ar.
@bacahorror @ceritaht Laki-laki itu sangat dipegang ucapannya, sekali saja tidak menepati janji atau ketahuan berbohong, orang lain sulit percaya lagi ke kita."

Ardan: "Iya saya salah Ay"

Aku: "Mungkin percuma ngerasa salah sekarang Ar, harusnya kamu berpikir dari selepas acara selesai.
@bacahorror @ceritaht Aku nggak tahu beliau masih mempercayaiku atau tidak."

Ardan: "Kalau begitu biar saya yg mengembalikan motornya."

Aku: "Aku yg meminjam maka Aku pula yg mengembalikan. Aku yg berjanji maka Aku juga yg harus mempertanggung-jawabkan. Biarlah itu menjadi urusanku dgn beliau."
@bacahorror @ceritaht Ardan: "Baiklah Ay, sekali lagi saya minta maaf. Btw, sebenarnya Saya berangkat pulang pkl 4, tp di jalan tiba-tiba motor mogok. Saya tuntun motor searah pulang, tp gak ada bengkel satupun. Sampai akhirnya ada seorang bapak & anaknya yg membantu. Motornya diperbaiki di rumahnya."
@bacahorror @ceritaht Selepas shalat maghrib Aku langsung berangkat ke pak Wijaya bersama Ade. Setelah mengembalikan motor, Aku sengaja tidak langsung pulang. Aku berbincang dengan beliau sampai pkl 9 malam, yang tentunya shalat Isya berjamaah dengan beliau & ade di sana. Pada saat akan pulang,
@bacahorror @ceritaht Aku kembali meminta maaf atas keterlambatan mengembalikan motor beliau, Alhamdulillah respon beliau sangat melegakan hati.

Sesampainya di rumah, Ardan langsung bertanya mengenai reaksi pak Wijaya setelah motornya dikembalikan, yg tentu ingin diketahui juga oleh rekan2 yg lain.
@bacahorror @ceritaht Baru saja akan menjawab, tiba2 Ade langsung bicara

"Awalnya kelihatan banget kalau beliau kecewa, namun setelah berbincang panjang lebar yg tentunya dengan gaya bicara A Aydin yg khas, pas tadi mau pulang beliau tidak lagi mempermasalahkannya.
@bacahorror @ceritaht Makanya lain kali mikir dulu sebelum bertindak."

Ade langsung masuk ke kamarnya tanpa memperdulikan Ardan yg mau berbicara, percis sama dengan kelakuannya pada saat hari pertama.

Aku: "Sudahlah tak perlu dibahas lagi. Oh ya Tom, sudah dihitung total KK yg sudah kita survey?"
@bacahorror @ceritaht Tommy: "Baru 420 KK, sisa 1300an lagi Ay."

Aku: "Hmm .. Kemungkinan gak akan bisa kita survey semuanya. Ya sudah mulai besok setiap pasangan lokasinya berbeda kampung. Mau tidak mau, suka tidak suka laporannya nanti pakai sistem sampling. Bagaimana, sepakat?"
@bacahorror @ceritaht "Seperti biasa Ay, kita mah pasti sepakat." jawab Tommy sambil tertawa yg diikuti gelak tawa semuanya.

Keesokan harinya kami berangkat survey di tiga kampung yg berbeda.

Baru saja istirahat sepulang survey, ku lihat Winda panik karena kehilangan uang kelompok yg dia pegang.
@bacahorror @ceritaht Tentu saja kepanikannya mengundang semua rekan2 berkumpul dan saling bertanya siapa yang mengambilnya.

Aku: "Sudah jangan panik. Memangnya hilang berapa?"

Winda: "200rb Ay"

Aku: "Anggap saja sedekah, gak perlu diributkan dan dipermasalahkan lagi"
@bacahorror @ceritaht Risa: "Tapi kalau gak dicari siapa yg ngambil, ke depannya bisa2 bakal hilang lagi Ay"

Inna: "Iya Ay, benar apa yg dikatakan Risa"

Baru saja Aku akan bicara, kulihat raut wajah dan tingkah laku Achi yg serba salah yg mengisyaratkan bahwa peristiwa ini telah memantik luka lama.
@bacahorror @ceritaht Terlihat sekilas sebuah bayangan mendekati Achi.

"Wah .. Wah .. Jangan-jangan ..."

Belum pikiranku selesai terlontarkan sepenuhnya dan akan berbuat sesuatu, Achi sudah terlebih dahulu kerasukan. Dia tertawa dan menangis secara bersamaan sambil memukul-mukul badannya.
@bacahorror @ceritaht Melihat itu mereka panik, kepanikan ini meredakan kepanikan sebelumnya. Risa dan Tommy berusaha langsung memegang kedua tangan Achi, namun mereka kewalahan. Ardan pun turut membantu, hasilnya tetap sama. Achi yg terlepas lalu lari ke kamar sehingga kami pun mengejarnya.
@bacahorror @ceritaht Ku dekati Achi yg sedang dipegang paksa rekan2ku, kutatap matanya dan Achi pun menyeringai. Aku hanya tersenyum melihat reaksinya. Ku baca

"Bismillaahirrahmaanirrahiim"

kemudian kupegang dahinya oleh tangan kanan dan kuusap kepala belakangnya dengan tangan kiri.
@bacahorror @ceritaht Alhamdulillah Achi pun tersadar dari kerasukannya. Ku minta rekan2 perempuan untuk memapahnya ke kasur. Aku berbisik kepada Risa

"Tolong siapkan air minum di gelas yg bening"

kemudian Aku bergegas menuju kamar mandi untuk berwudhu. Selepas itu kubawa gelas yg sdh Risa siapkan.
@bacahorror @ceritaht Aku masuk ke kamar & kuhamparkan sajadah untuk shalat sunat. Gelas yg terisi air kusimpan di sebelah kanan tempat sujud.

Setelah shalat, kugenggam gelas itu sambil berdo'a meminta kesembuhan Achi kepada Allah.

Ketika Aku berjalan menuju Achi, ternyata Achi kerasukan lagi.
@bacahorror @ceritaht Namun yg merasuki Achi saat ini berbeda sosok dengan sebelumnya. Kucoba mengeluarkannya kembali, setelah Achi sadar Aku meminta Prita untuk meminumkan air tadi buat Achi dan sisanya usapkan di kepalanya seperti berwudhu.
@bacahorror @ceritaht FYI ... Mengusap kepala seperti wudhu yg ku maksud adalah seperti bagian membasuh (bukan membasahi) rambut. Bukan hanya bagian depannya (di atas dahi) saja, namun diusapkan dari bagian depan sampai bagian leher kemudian di balikkan lagi ke depan.
@bacahorror @ceritaht Karena harus membuka jilbabnya, Aku pun keluar kamar. Ku berjalan mendekati sofa untuk istirahat, namun "mataku" mendapatkan sesosok makhluk yg akan merasuki Risa. Tidak mau kecolongan lagi, Aku langsung membentengi Risa. Ternyata Risa pun merasakan bahwa ada sesuatu yang mencoba
@bacahorror @ceritaht mendekati dia, bahkan masih tetap mencoba merasukinya walaupun Risa sudah kubentengi. Kusuruh Risa istirahat di kamar satunya lagi dan meminta Inna untuk menjaganya.

Setelah Aku duduk di Sofa, Aku baru menyadari bahwa ada perkampungan gaib di sini.
@bacahorror @ceritaht "Wah bisa-bisa kesurupan masal " pikirku.

Tanpa berpikir lagi, Aku langsung membentengi rekan-rekanku.

Tak berapa lama datang Ade, pak Eka dan bu Ani ke rumah beserta seorang wanita yg seusia dengan bu Ani. Wanita tersebut merupakan "orang pintar" yg berusaha membantu kami.
@bacahorror @ceritaht Ternyata tanpa sepengetahuanku Ardan meminta bantuan kepada pak Eka atas kejadian yg menimpa Achi.

Bu Ani: "A, dimana teh Achi nya?"

Aku: "Di kamar itu Bu (sambil menunjuk kamar 2)"

Bu: "Oh iya A, ini Bu Lastri yg sering mengobati orang kerasukan di desa ini"
@bacahorror @ceritaht "Terima kasih Bu atas kesediaannya membantu kami, maaf sudah merepotkan" ucapku sambil menyalami beliau.

"Tidak merepotkan ko A" jawab Bu Lastri sambil tersenyum.

Beliau lalu berjalan ke kamar dengan Bu Ani untuk melihat kondisi Achi.

Tidak lama mereka sudah keluar dari kamar.
@bacahorror @ceritaht Kulihat Achi, Prita dan Weni pun keluar kamar.

Pada saat melihat kamar 1 dimana Risa istirahat, Bu Lastri langsung memasuki kamar yg diikuti oleh Bu Ani.

Tak lama Bu Lastri terasuki sesosok makhluk yg sedari tadi berusaha untuk merasuki Risa. Kemudian beliau mengeluarkan suara
@bacahorror @ceritaht cekikan yg menyeramkan sehingga membuat rekan-rekanku kaget & berhamburan keluar rumah.

Risa yang sedang tidur di kamar berteriak

"Aydii...n!"

Aku yg tidak ikut keluar langsung lari menghampiri Risa dan membawanya duduk di sofa.

Aku pun mendekati Bu Lastri yg sedang ditanyai
@bacahorror @ceritaht oleh pak Eka dan bu Ani.

Pak Eka: "Siapa kamu?"

Bu Lastri kembali mengeluarkan suara cekikikannya.

Bu Ani: "Ditanya malah cekikikan"

Pak Eka: "Sekali lagi, siapa kamu dan berasal dari mana?"

Bu Lastri hanya menggeleng-gelengkan kepala tanpa menjawab.
@bacahorror @ceritaht Aku lalu bertanya kepada Bu Ani

"Bu, apakah Bu Lastri harus dibantu?"

"Nggak perlu A, beliau bisa mengeluarkannya sendiri" jawab Bu Ani.

Pak Eka: "Kalau tidak mau menjawab, cepat pergi, jangan ganggu lagi anak-anak!"

Mata Bu Lastri melotot tajam kemudian beralih menatapku.
@bacahorror @ceritaht "Jangan melihatku seperti itu dong, Aku kan jadi malu" ucapku

Pak Eka, Bu Ani, dan juga Risa tertawa mendengar celotehanku

Mendengar tawaan kami, rekan2 yg tadinya di luar penasaran atas apa yg terjadi hingga membuat mereka masuk.

Bu Ani: "Si Aa malah ngaheureuyan (bercanda)"
@bacahorror @ceritaht Sedikit berbisik Aku menjawab

"Supaya gak tegang saja bu, kasihan rekan2 saya, terutama Risa."

Bu Ani tersenyum mendengar penjelasanku kemudian melirik Risa.

Bu Ani: "Oh iya ya, dari tadi kan Risa menyaksikan semuanya"
@bacahorror @ceritaht Sadar bahwa Bu Lastri menjadi pusat perhatian, beliau menyudahi fungsinya sebagai "channeler". Beliau lalu keluar kamar kemudian duduk di sofa yg diikuti oleh pak Eka dan bu Ani, Aku pun duduk di lantai. Melihatku duduk di lantai, rekan2ku yg awalnya berdiri ikut duduk di lantai.
@bacahorror @ceritaht Bu Lastri: "Pada dasarnya setiba saya di sini, keadaan sdh terkontrol dgn baik. Anak yg katanya kerasukan berdasarkan laporan Ade waktu menjemput saya ternyata sudah ada yg mengobati. Termasuk anak ini, sudah terbentengi sehingga makhluk yg tadi merasukiku tak mampu merasukinya"
@bacahorror @ceritaht "Iya bu, tadi Aydin yg mengobati Icha" ucap Icha sambil jari jempolnya menunjukku.

"Pantas ketika pertama kali saya berinteraksi dengan nak Aydin terpancar aura yg berbeda. Ya walaupun salah satu "penjaganya" ngeselin, untung saja "penjaga" yg lainnya ramah" sahut Bu Lastri.
@bacahorror @ceritaht Aku: "Saya gak bisa apa-apa bu. Saya hanya meminta kesembuhan atas Icha dan Alhamdulillah Allah mengabulkan permintaan Aydin"

Pak Eka: "Ah Nak Aydin ini memang selalu rendah hati. Oh ya Bu Lastri, memang penjaganya nak Aydin ngapain sampai-sampai membuat ibu kesal?"
@bacahorror @ceritaht Bu Lastri: "Bicaranya kasar & ketus penyampaiannya. Gak bisa saya utarakan pak Eka"

Aku terkekeh mendengar jawaban Bu Lastri yg memang kusadari bahwa bahasa sunda "pendampingku" selama ini bkn bahasa sunda halus & terkadang sikapnya akan terlihat sombong bagi yg tak mengenalnya.
@bacahorror @ceritaht Karena anak-anak yg akan mengaji sudah berdatangan, Bu Lastri pun pamit pulang yg diantar oleh Ade sampai ke rumahnya.

Aku berbincang dgn Achi yg ternyata memiliki trauma yg berhubungan dg kehilangan uang. Melihat psikisnya sedang sakit, Aku menyarankan dia untuk pulang sekalian
@bacahorror @ceritaht registrasi ulang untuk semester depan. Kebetulan minggu ini memang kami menjadwalkan untuk bergiliran pulang selama 2 hari.

Achi dan Tommy mendapatkan giliran pertama. Hal ini tentu saja mengurangi personel yg menyebabkan hanya 2 yg kelompok melakukan survey.
@bacahorror @ceritaht Dua hari berikutnya Aku harus berangkat ke salah satu kecamatan untuk mengikuti koordinasi seluruh perwakilan kelompok KKN mengenai sikap kami terhadap pihak kampus yg memberdayakan kami (mahasiswanya) atas kerjasama mereka dengan pihak Pemda setempat.
@bacahorror @ceritaht Aku berangkat bersama Irfan menggunakan motor pak Wijaya. Irfan adalah perwakilan kelompok lain & dia sahabatku sejak SMU yg kuliah satu jurusan dgku. Sesampainya di tempat pertemuan, aku hanya mendengarkan celotehan idealis dari para mahasiswa lainnya tanpa bicara sedikitpun
@bacahorror @ceritaht mengenai pemikiranku. Hal ini dikarenakan sudah muak akan kemunafikan yg berkedok idealisme mahasiswa pada saat itu. Pengalamanku sebagai otak (penggagas) sekaligus pengkoordinir pergerakan demo penolakan atas perubahan status universitas yg akan menjadi BUMN di hari peninjauan
@bacahorror @ceritaht kelayakan perubahan statusnya.

Di awali kedatangan ketua BEM fakultasku ke himpunan jurusan selepas shalat Isya. Dia merasa takut ada intimidasi dari pihak rektorat sebelum menghadiri acara peninjauan keesokan harinya. Karena dampak perubahan status tersebut akan memberatkan
@bacahorror @ceritaht Mahasiswa dalam segi finansial di kemudian hari sekaligus membantu ketua BEM fakultas, Aku berinisiatif untuk menyelenggarakan pertemuan mendadak dengan seluruh BEM. Ku undang satu persatu BEM Jurusan untuk bersedia menghadiri pertemuan dengan menjelaskan perkara yg akan dibahas.
@bacahorror @ceritaht Akhirnya pertemuan itu terlaksana dengan mengambil keputusan untuk melakukan demo penolakan status BUMN dengan menggerakkan seluruh mahasiswa baru yg sedang mengikuti Kuliah Umum (Masa Orientasi Mahasiswa) selepas shalat dhuhur.
@bacahorror @ceritaht Pergerakan senyap itu tak terdeteksi oleh pihak rektorat sehingga kegiatan demo pun berlangsung tanpa hambatan. Demo tersebut sukses membuat para peninjau kelayakan perubahan status menunda dan akan meninjau kembali di lain waktu. Akibatnya pihak rektorat sangat marah atas demo
@bacahorror @ceritaht yang telah terjadi dimana Aku sebagai inisiatornya.

Setibanya di gedung fakultas bersama mahasiswa baru yg sudah selesai berdemo, Aku dipanggil Wakil Dekan Kemahasiswaan ke ruangannya. Selain menjadi wakil dekan, beliau juga merupakan dosen jurusanku. Beliau memanggilku karena
@bacahorror @ceritaht mengira Aku adalah ketua BEM jurusan saat itu. Ya, bukan hanya beliau yg salah mengira, namun hampir keseluruhan dosen jurusan pun berpikir seperti itu. Dikarenakan Aku bukan ketua BEM maka beliau tidak lama berbincang denganku dengan wajahnya yg cemas entah dikarenakan apa.
@bacahorror @ceritaht Aku yg lelah dan sudah tak mampu menahan rasa kantuk akhirnya pulang ke kostan.

Keesokan harinya, pada saat melintasi fakultas bahasa, terdengar teriakan2 dari jendela lantai 2 yg memanggilku

"Hey Aydin sang penghianat, mahasiswa pengecut"
@bacahorror @ceritaht Karena namaku terdengar, aku pun menoleh ke tempat asal suara. Kulihat beberapa orang mengacungkan jari tengahnya kepadaku. Sungguh Aku merasa kaget, kalimat dan perlakuan dari mereka membangunkan sedikit amarahku.

Kuberjalan memasuki gedung itu dan menaiki tangga ke lantai dua.
@bacahorror @ceritaht Kuhampiri dan kutatap mereka dengan sedikit geram.

"Kenapa kalian mengatakan hal tadi kepadaku"

"Kenapa setelah demo berlangsung kamu langsung membuat pernyataan maaf kepada pihak rektorat?" jawab seseorang."

Aku bingung dgn jawabannya

"Meminta maaf? Siapa yg meminta maaf?"
@bacahorror @ceritaht "Kalian (Seluruh BEM di fakultasku) telah membuat statement permintaan maaf dgn dibubuhi tanda tangan para pengurus inti, padahal pergerakan demo itu kalian yg menggegasnya." jelasnya.

Aku:"Serius?"

UN: "Ko nanya sih, memangnya kamu tidak tahu?"

Aku: "Aku tidak tahu apa2.
@bacahorror @ceritaht Selepas demo Aku langsung pulang karena kantuk yg tak tertahan."

UN: "Sebenarnya bukan hanya itu yg membuat kami marah, akibat demo kemarin seluruh fasilitas himpunan kami dicabut tp kami tetap pd pendirian untuk menolak perubahan status, sedangkan kalian masih menikmatinya."
@bacahorror @ceritaht Aku: "Pantas saja kalian marah, Aku pun sama marahnya dengan kalian. Aku sendiri merasa dikhianati, terutama oleh seseorang yg membuatku menggagas semua ini. Maaf atas gagasanku berdampak dicabutnya fasilitas terhadap himpunan kalian. Aku pamit pergi"
@bacahorror @ceritaht Aku pergi menuju kampus fakultas dengan dikuasai amarah yg meledak-ledak. Sepanjang jalan Aku mendumel atas tindakan kawan-kawanku yg menyelamatkan diri sendiri tanpa memikirkan kondisi kawan-kawan seperjuangannya yg berbeda fakultas.
@bacahorror @ceritaht Aku pun marah pada diriku sendiri yg tidak berusaha memahami terlebih dahulu karakter Si Penakut sebelum mengambil tindakan yg menyeret orang lain.

Kejadian itulah yg menjadi alasan utama mengapa Aku hanya menjadi pendengar setia pada pertemuan perwakilan seluruh kelompok KKN.
@bacahorror @ceritaht Selain itu, materi pembicaraan yg matrealis tak sedikitpun menggugahku untuk berbicara. Oleh karena itu, Aku & Irfan pamit sebelum pertemuan itu selesai.

Ketika motor mulai dinyalakan, terbersit keinginan untuk pulang ke rumah terlebih dahulu sebelum kembali ke lokasi KKN.
@bacahorror @ceritaht Fyi, jarak dari lokasi pertemuan ke rumahku hampir sama dengan jarak ke lokasi KKN.

Dengan persetujuan Irfan, kami pun berangkat. Sesampainya di rumah, Aku hanya bertemu adikku.

Aku: "Ram, Mamah & Papah mana?"

Rama' "Papah sedang di rawat di RS, Mamah juga di sana."
@bacahorror @ceritaht Aku: "Di rawat sejak kapan?"

Rama: "Ada 3 harian mah"

Aku: "Aa mau ke RS. Rama ditinggal sendiri gpp?"

Rama: "Gpp A, sebentar lagi juga teteh pulang."

Sesampainya di RS, Aku ke koprasi RS dulu menemui Bi Yanti yg bekerja di sana untuk mengetahui ruangan tempat Ayah di rawat.
@bacahorror @ceritaht Setelah mengetahui ruangannya, dg langkah cepat Aku pun segera menuju ruangan tersebut. Kulihat ibuku sedang duduk menemani ayah yg sedang tidur.

"Assalaamu 'alaikum" ucapku sambil mencium tangan beliau.

"Wa 'alaikum salam" jawab ibu yg kaget melihat kedatanganku.
@bacahorror @ceritaht Irfan pun mengucap salam dan mencium tangan ibuku.

Ibu: "Eh ada Irfan. Oh ya, Aa tahu Papah dirawat dari siapa?"

Aku: "Tadi kebetulan ada pertemuan koordinasi di sana, berangkat bareng Irfan. Aydin sempetin pulang dulu ke rumah. Pas sampai rumah kata Rama Papah di rawat."
@bacahorror @ceritaht Ketika Ibu berbincang dg Irfan, ku pandangi Ayah yg sedang tertidur. Jarum suntik infus terhujam di tangan kiri beliau dan alat bantu pernapasan menempel tepat di hidungnya. Kulihat ada alat pendeteksi detak jantung, namun tak ada kabel yg terhubung pada tubuh Ayah.
@bacahorror @ceritaht Aku: "Mah, Papah sakit apa?"

Ibu: "Sebelumnya Papah merasa sesak napas. Mamah langsung bawa Papah ke RS. Berdasarkan diagnosa dokter, katanya Papah kena serangan jantung."

Melihat kondisi Ayah yg terbaring lemah, Aku tak mungkin meninggalkan beliau untuk kembali ke lokasi KKN.
@bacahorror @ceritaht Aku: "Fan, kita berangkat besok pagi saja ya, malam ini Aydin mau jaga di sini."

Irfan: "Iya Ay, kamu jaga saja Papah. Kalau begitu, sekarang Aku pulang dulu ke rumah ya, besok pagi Aku ke sini lagi."

Aku: "Ya sudah Aku antar"

Irfan: "Gak perlu, Aku sendiri saja."
@bacahorror @ceritaht Kami pun keluar ruangan setelah Irfan pamit pada ibuku. Aku mencari WarTel (Warung Telepon) & menghubungi Ardan untuk memberitahu kondisi di sini & meminta tolong kepada Ade tuk menyampaikan permintaan maaf kepada pak Wijaya. Setelah selesai, Aku kembali ke ruangan Ayah dirawat.
@bacahorror @ceritaht Aku: "Mamah pulang saja, malam ini istirahat di rumah biar Aydin sendiri yg jaga Papah."

Ibu: "Iya tapi nunggu Papah bangun dulu."

Selepas shalat maghrib di mushalla RS, ku lihat Ayah sudah bangun. Kuhampiri beliau sambil tersenyum, kucium tangan dan kukecup keningnya.
@bacahorror @ceritaht Ayah: "Sejak kapan Aa di sini? Memang KKNnya sudah selesai?"

Aku: "Belum selesai Pah, masih 2 mingguan lagi. Tadi Aydin sampai sini sebelum Ashar."

Ayah: "Tahu dari mana Ayah sakit?"

Aku kembali menerangkan sama persis dengan jawaban terhadap ibuku.
@bacahorror @ceritaht Ibu: "Pah, Mamah pulang ya? Mamah tidur di rumah, besok pagi-pagi ke sini lagi."

Ayah: "Aa nginep di sini?"

Aku: "Iya"

Ayah: "Iya Mah, pulang saja, kasihan Rama sama Teteh ditinggal terus selama Papah dirawat. Gak perlu khawatir, ada Aa di sini."

Tak lama ibu pun pulang.
@bacahorror @ceritaht Sekitar pkl 11 malam, pada saat Aku duduk santai di luar ruangan, terdengar suara benda terjatuh yg berasal dari ruangan Ayah dirawat. Aku berlari masuk dan ku lihat Ayah masih tertidur pulas. Ku cari benda apa yg terjatuh, namun tak ada satu pun benda yg kutemukan.
@bacahorror @ceritaht Tiba-tiba Ayah terbangun dan katanya merasakan mual sehingga ingin muntah. Ku siapkan kantong kresek besar untuk tempat pembuangan muntahan Ayah. Tak lama Ayah pun muntah, aku terbelalak ketika yg dimuntahkan Ayah berupa lembaran darah dengan tekstur mirip cincau.
@bacahorror @ceritaht Kantong kresek besar itu penuh terisi oleh darah muntahan Ayah. Setelah Ayah sudah tdk merasakan mual, Aku langsung berlari ke ruang perawat & memberitahukan kejadian tadi. Para perawat yg berjaga pun langsung menuju ruangan dmn salah satu perawatnya menghubungi dokter jaga UGD.
@bacahorror @ceritaht Tak lama seorang dokter masuk memeriksa kondisi Ayah. Setelah itu beliau memintaku memperlihatkan muntahannya. Ku lihat dokter itu pun kaget

"Baru kali ini aku melihatnya" gumamnya.

Beliau pun memerintahkan perawat untuk segera memesan stok darah yg ada di RS tersebut.
@bacahorror @ceritaht Setelah 30 menitan, Ayah pun menerima transfusi darah.

Malam itu Ayah terlihat gelisah, begitu pula dgn ku. Namun Aku berusaha mengendalikan diri & juga menenangkan beliau serta sesekali melontarkan jokes ringan. Setelah kegelisahannya mereda, pkl 1 beliau baru bisa tidur.
@bacahorror @ceritaht Takut hal-hal yg tidak diinginkan terjadi lagi, Aku selalu duduk di dekat beliau dan tak pernah sekali pun keluar ruangan. Sebisa mungkin Aku menahan kantuk yg luar biasa dengan melakukan wudhu. Alhamdulillah semuanya tenang dan terkendali sampai kedatangan Ibu pd pkl 7 pagi.
@bacahorror @ceritaht Ibu: "A, kenapa papah ditransfusi darah? Memangnya ada apa tadi malam?"

Aku: "Papah muntah darah tadi malam. Alhamdulillah stok darahnya ada, jadi bisa langsung ditangani. Coba Mamah tanya ke perawat, barangkali ada penjelasan lebih mengenai tindakan tadi malam."
@bacahorror @ceritaht Ibu keluar menuju ruang perawat, sedangkan Aku sarapan makanan yg Ibu bawa. Tak lama Irfan masuk ruangan bersamaan kembalinya Ibu dari ruang perawat.

Irfan: "Ay, ko si Papah sekarang ditransfusi sih, bukannya kemarin nggak?"

Aku: "Nanti Aku jelaskan ya Fan, Aku mau mandi dulu."
@bacahorror @ceritaht Di dalam kamar mandi Aku termenung

"Tidak mungkin Aku meninggalkan Ayah dalam kondisi seperti ini. Namun motor yg kupakai pun harus segera ku kembalikan. Selain itu tak mungkin juga Aku menyuruh Irfan pergi sendiri menggunakan angkutan umum. Keputusan apa yg harus Aku ambil?"
@bacahorror @ceritaht Sambil mandi Aku terus berpikir untuk menentukan langkah yg harus diambil setelah keluar dari kamar mandi ini.

Selesai mandi, Aku keluar dengan sebuah keputusan yg telah kupikirkan dengan matang.

"Mah, Pah, Aydin berangkat dulu ya. Insya Allah lusa Aydin kembali lagi."
@bacahorror @ceritaht Ibu: "Kan masih 2 mingguan lagi A KKNnya, sudah biar Mamah yg merawat Papah. Aa fokus KKN saja"

Aku: "Aydin punya 3 hari buat cuti KKN, besok ke kampus dulu untuk registrasi ulang. Lusa baru ke sini lagi"

Aku dan Irfan pun pamit setelah mencium tangan Ayah dan Ibu.
@bacahorror @ceritaht Di perjalanan menuju tempat parkir Aku meminta persetujuan Irfan untuk mampir terlebih dahulu ke tempat KKN Lidya yg kebetulan lokasinya terlewati oleh kami.

Sesampainya di tempat Lidya, Aku bersalaman dg rekan-rekan KKNnya. Kuminta Lidya untuk membuatkan kopi untukku dan Irfan.
@bacahorror @ceritaht Ujung mataku melihat seorang pria mengikuti langkah Lidya menuju dapur.

"Hmm ... Ada Cinlok di sini ternyata"

Setelah Lidya membawakan kami kopi, Aku memberi tahu Lidya bhw Ayah masuk RS. Aku mengajaknya besok ke kampus & lusa ke RS sebelum dia kembali ke lokasi KKNnya.
@bacahorror @ceritaht Setelah kopi habis, Aku pun pamit pergi ke rekan-rekannya. Pada saat bersalaman dengan lelaki yg tadi mengikuti Lidya ke dapur,

"Saya tahu yg kalian bicarakan di dapur tadi" bisikku sambil tersenyum.

Lalu Aku berjalan di temani Lidya ke tempat Aku menyimpan motor.
@bacahorror @ceritaht Aku: "Neng, seuneu mah panas. Ulah lalawora kumawantun ngulinkeun seuneu, da ka beuleum mah karaosna nyeri. Teu langkung eta mah, bade dibanjur ku cai mangga, bade teras dikipasan ge sawios."
@bacahorror @ceritaht ["Neng, api itu panas. Jgn berani-beraninya mempermainkan api, kalau terbakar rasanya pasti sakit. Terserah, mau disiram oleh air silahkan, mau terus dikipas juga tidak mengapa"]

Lidya: "Apa maksudnya A? Neng gak ngerti"

Aku: "Tanyakan kepada lelaki yg tadi menemanimu di dapur"
@bacahorror @ceritaht Aku pergi & menjalankan motor dengan kecepatan tinggi. Tak terasa kami sudah sampai lokasi kelompoknya Irfan. Lalu Aku melanjutkan perjalanan tanpa mampir terlebih dahulu.

Aku tidak menuju rumah, namun menemui Ade di warung orang tuanya dan meminta di temani menemui pak Wijaya.
@bacahorror @ceritaht Karena waktu mengembalikan motor masih pd waktu Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), Aku tak lama berbincang dgn pak Wijaya kemudian pamit.

"De, tolong bawa Aa ke tempat yg enak buat "niis", Aa ingin menenangkan diri."

Ade pun membawaku ke tempat dmn banyak pohon yg rindang.
@bacahorror @ceritaht Terdapat sebuah sungai yg cukup lebar dengan debit air yg sedang.

Setelah turun dari motor, Aku menyandarkan tubuhku pada sebuah pohon. Anginnya yg sepoi-sepoi cukup membuatku nyaman untuk istirahat.

"De, kalau ada pekerjaan, pergilah, tinggalkan saja Aa di sini." Ucapku.
@bacahorror @ceritaht "Sok aja A istirahat, biar Ade temenin di sini. Ade nggak ada kerjaan apa2 ko" jawab Ade.

Aku bersyukur kepada Allah atas kebaikan Ade selama ini. Terutama hari ini dia bersedia menemaniku dalam hening.

Aku sangat menikmati suasana di tempat itu sampai akhirnya tertidur.
@bacahorror @ceritaht Aku terbangun setelah terdengar suara Ade yg mengatakan

"A, sudah dhuhur. Yuk pulang."

Ku buka mata & kulihat sang mentari sdh berada tepat di atasku. Ku akhiri sandaranku pada pohon, kupulihkan terlebih dahulu kesadaranku sepenuhnya, barulah berdiri dan berjalan ke arah motor.
@bacahorror @ceritaht Sesampainya di rumah, Aku langsung disambut Icha & Prita yg baru pulang dari sekolah. Namun melihatku tak bergairah, nampaknya mereka mengurungkan niatnya untuk menanyakan sesuatu.

Kulihat Prita masuk ke kamarku dan keluar dengan membawa kopi dan creamernya ke arah dapur.
@bacahorror @ceritaht Tak lama dia pun kembali sambil menyodorkan secangkir kopi.

"Thanks ya Ta, tahu aja kalau Aydin lagi pengen ngopi" ucapku sambil tersenyum lalu menyeruput kopinya yg masih panas.

"Iya Ay, sama-sama." jawabnya

Kusimpan cangkirnya di meja lalu berjalan menuju kamar mandi.
@bacahorror @ceritaht Setelah shalat Aku kembali duduk di sofa sambil menikmati kopi.

Aku: "Gmn Chi, sudah baik p&p nya? O ya, waktu pulang ketemu A Ustad gak?"

Achi: "Alhamdulillah Ay sudah baik. Kemarin ketemu si Aa, trus ngobrol lumayan lama."

Aku: "Pantas saja audah terlihat kembali ceria."
@bacahorror @ceritaht Wajah Achi terlihat memerah, menahan malu akibat candaanku. Dia lalu berkata

"Tapi Ay pas Achi mau balik ke sini, Si Aa malah pesen gini ke Achi,

-- "Chi, di sana kamu harus nurut sama kakakmu ya!"

Achi nanya "Kakak Achi? Siapa A?"

-- "Itu yang bantuin kamu waktu kejadian."
@bacahorror @ceritaht O iya Ay, katanya Ayahmu dirawat di RS ya?"

"Iya. Btw, Chi ada makanan apa? Aydin lapar" jawabku sambil meringis dan memegang perut. Ya, bukan hanya karena lapar, namun aku pun sengaja mengalihkan pembicaraan.

"Mie telor mau? Achi buatkan sekarang" tawarnya sambil berdiri.
@bacahorror @ceritaht "Boleh, thanks Chi" jawabku sambil mengacungkan ibu jari.

Achi langsung bergegas ke dapur, Prita yg memperhatikanku sedari tadi membuka pembicaraan.

Prita: "Selama KKN, Prita tidak pernah melihat raut wajah Aydin sekusut ini. Sebegitu pelikkah masalah yg sedang dihadapi?"
@bacahorror @ceritaht Aku: "Gak tahu Ta, permasalahan ini benar2 mampu mempermainkan emosi."

Prita: "Mau berbagi cerita?"

Aku: "Lain kali saja ya Ta, Aydin lagi gak mau membahasnya"

Prita: "Suatu saat ketika kamu ingin berbagi untuk melepas penat, ketahuilah bahwa Prita siap mendengarkan dg baik."
@bacahorror @ceritaht Aku tersenyum mendengar tawaran prita. Tak lama Achi datang membawakan semangkuk mie telor yg harumnya khas. Aku segera memakan mie tersebut dengan lahap.

Siang pun berganti malam, selepas shalat Isya aku memulai membuat laporan kelompok yg nanti diserahkan kpd pihak kampus.
@bacahorror @ceritaht Saat fokus dalam pembuatan laporan, aku merasakan ada yg memperhatikanku dari arah belakang. Ada sesosok makhluk menyerupai perempuan dg wajah yg tertutupi rambut, jari-jarinya yg kurus dan panjang dilengkapi kuku-kuku yg menajam tak kalah panjang dengan jarinya.
@bacahorror @ceritaht Aku tersenyum sinis atas penampakan makhluk tersebut.

"Mau apa sebenarnya sosok itu menampakkan dirinya?" pikirku.

Aku berdiri dengan malas kemudian membalikkan badan. Seringaiannya membuatku semakin malas menghadapinya.

Muncul sebuah penglihatan yg membawaku ke sebuah rumah.
@bacahorror @ceritaht Rumah dengan dinding yg hanya diplester semen (tidak dicat) dmn ubinnya bukanlah keramik. Di bagian dalam rumah bagian belakang, ada sebuah dipan sedang diduduki seorang perempuan paruh baya yg sedang membakar kemenyan.
@bacahorror @ceritaht Penglihatan itu menarikku pada satu kesimpulan bahwa makhluk yg kuhadapi saat ini merupakan kiriman untuk menyerang Ayahku, namun karena ada penghalang, dia mendatangi sumber penghalang tersebut yaitu diriku sendiri.
@bacahorror @ceritaht "Hmm ... Jadi kamu yg menyebabkan Ayahku muntah darah beberapa hari yg lalu. Syukurlah kau mendatangiku tanpa Aku harus cape menemukanmu" geramku pada sesosok makhluk yg berada beberapa meter dariku.

Kulihat dia berusaha bergerak mendekat ke arahku, namun usahanya sia-sia.
@bacahorror @ceritaht Perisai yg sudah kuaktifkan berhasil membuatnya tak mampu menyerangku.

"Ya Allah aku berlindung kepadamu dari makhluk apapun yg akan mencelakaiku. Ya Allah aku memohon pertolonganmu untuk menghadapinya"

Setelah berdo'a aku membaca surat Al-ikhlas, Al-falaq, dan An-naas.
@bacahorror @ceritaht Kulihat dia mulai mengerang seperti sdg merasakan sesuatu. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, kupejamkan mata, menarik napas dalam2 lalu menahannya sambil menembakkan energi ke arahnya. Tembakanku tepat mengenai tubuhnya sehingga dia terbakar & berubah menjadi gumpalan asap.
@bacahorror @ceritaht Aku teringat kepada Ayahku. Apalah artinya perisai/tahanan dariku tanpa penghambaanku kepada Yang Maha Pemilik Perisai.

Aku bergegas mengambil wudhu kemudian shalat 2 rakaat.

Selepas itu aku melanjutkan untuk menyelesaikan pekerjaanku yg tertunda akibat kejadian tadi.
@bacahorror @ceritaht Sebenarnya waktu pelaksaan KKN akan berakhir sekitar 2 minggu lagi, namun krn keadaan Ayah serta beberapa kesulitan yg dihadapi ketika survey yg lebih tepat dikatakan sensus penduduk, aku berusaha menyelesaikan laporan tersebut malam itu juga.
@bacahorror @ceritaht Alhamdulillah pembuatan laporan sudah selesai, kulihat jam pd layar monitor sdh menunjukkan pukul 2 pagi. Ku rebahkan tubuhku di kasur kemudian tertidur.

Aku terbangun oleh suara-suara yg bersumber dari rekan-rekan yg bergiliran ke kamar mandi. Aku keluar kamar & duduk di sofa.
@bacahorror @ceritaht Setelah tiba giliranku, aku pun mengambil handuk kemudian mandi. Hanya butuh waktu 5 - 10 menit untukku beraktivitas di kamar mandi yg tak beratap itu lalu shalat shubuh.

Kucek ulang pekerjaanku semalam, setelah dirasa cukup aku pun berjalan ke teras rumah dan duduk di sana.
@bacahorror @ceritaht Aku teringat pada Lidya. Selama KKN aku memang tidak pernah memberikan sedikit pun perhatian kepadanya sehingga tidak menyalahkan sepenuhnya apa yg telah dia perbuat.

"Apabila seseorang diberikan perhatian berlebih biasanya akan merasakan kenyamanan.
@bacahorror @ceritaht Rasa nyaman itu sedikit demi sedikit akan memupuk sebuah rasa dari si penerima kepada si pemberi, akibatnya rasa itu akan mampu dengan mudah melupakan rasa pada si pemberi sebelumnya."

"Nih Ay sarapannya" sahut Prita dengan memberikan secangkir kopi dan ikut duduk bersamaku.
@bacahorror @ceritaht Aku: "Thanks ya Ta"

Prita: "Iya, sama-sama. Btw, kamu lagi ngelamunin apa sih Ay? Serius gitu kelihatannya"

Aku: "Beginilah Ta, setiap manusia pasti menghadapi masalah. Semoga saja permasalahanku saat ini bisa cepat kuselesaikan dan mampu lebih mendewasakanku di kemudian hari"
@bacahorror @ceritaht Prita: "Masalahnya ada hubungan dengan Ayahmu?"

Aku: "Itu salah satunya"

Prita: "Salah satunya? Berarti kamu sedang menghadapi lebih dari satu masalah dong Ay?"

Aku: "Iya"

Prita: "Mau berbagi nggak? Barangkali Prita bisa bantu"

Aku: "Gak perlu Ta, Aydin minta do'anya saja."
@bacahorror @ceritaht Prita: "Tanpa diminta pun Prita pasti mendo'akan kesembuhan untuk Ayahmu dan juga meminta kemudahan bagi Aydin dalam menyelesaikan masalahnya."

Aku: "Bukan hanya sekedar ucapan saat ini saja kan do'anya?"

Prita: "Maksudnya apa ya Ay? Prita gak paham maksud ucapan tadi"
@bacahorror @ceritaht Aku: "Ketika seseorang meminta dido'akan oleh lawan bicaranya, biasanya lawan bicara akan berkata - 'Iya nanti saya do'akan semoga kamu ... ' -, namun si lawan bicara hanya berkata pada saat itu saja dengan anggapan bahwa perkataannya tadi merupakan sebuah do'a juga.
@bacahorror @ceritaht Padahal yg dikatakan olehnya merupakan pernyataan kesanggupan untuk mendo'akan si peminta. Jadi ketika dia tdk mendo'akan si peminta lagi, berarti dia sudah ingkar janji. Bukankah termasuk golongan orang munafik apabila kita mengingkari janji? Sdh paham maksud pernyataan Aydin?"
@bacahorror @ceritaht Prita: "Iya Ay Prita ngerti. Tapi Prita gak bohong ko Ay, sewaktu Prita dapat kabar dari Ardan bahwa Ayahmu sedang dirawat di RS, setiap shalat Prita selalu meminta kepada Allah atas kesembuhan Ayahmu."

Aku: "Iya, Aydin percaya ucapan Prita.
@bacahorror @ceritaht Aydin juga tahu ko dari raut wajahmu yg menggambarkan kekhawatiran ketika Aydin tiba kemarin. Makasih ya Ta"

"Iya Ay, sama-sama." jawab Prita dengan kikuknya lalu kemudian bertanya lagi

"Eh Ay, ko bisa sih kamu pulang dulu setelah pertemuan itu? Kayak yg tahu terjadi sesuatu"
@bacahorror @ceritaht Aku: "Entahlah Ta, Aydin juga gak tahu. Tiba-tiba saja Aydin pengen pulang"

Prita: "Ay, boleh nggak Prita curhat sekaligus nanya sesuatu?"

Aku: "Silahkan kalau mau curhat, mau nanya apa?"

Prita: "Semenjak kejadian Achi kerasukan, Prita terkadang takut malam2 ke kamar mandi.
@bacahorror @ceritaht Padahal biasanya Prita anteng-anteng aja, Aydin juga tahu kan kebiasaan Prita bangun malam."

Aku: "Lalu apa yang jadi pertanyaan?"

Prita: "Ko bisa sih seseorang kerasukan Jin? Apa benar mereka suka menampakkan diri thdp manusia? Kalau di ruangan dapur & kamar mandi ada Jinnya?"
@bacahorror @ceritaht Aku berpikir sejenak untuk mencari kata-kata yg tepat sebagai jawaban atas beberapa pertanyaan Prita.

Aku: "Seseorang bisa kerasukan dikarenakan orang tersebut secara sadar maupun tdk sadar mengijinkan jin untuk merasuki tubuhnya. Kalau yg secara sadar contohnya ibu yg kemarin.
@bacahorror @ceritaht Sedangkan yg tidak sadar contohnya Achi. Nah untuk yg tidak sadar biasanya diawali oleh rasa was-was yg berlebihan. Rasa was-was itulah yg menimbulkan kita melepaskan kontrol pada tubuh, khususnya pikiran. Oleh karena itu, usahakan untuk tetap mengontrol diri pada kondisi apapun.
@bacahorror @ceritaht Puasa merupakan cara efektif untuk melatih kita mengontrol diri.

Terkadang kita suka menyalahkan setan, jin, maupun iblis atas kesalahan yg kita perbuat. Seandainya mampu mengkontrol diri untuk menjaga hakikat Allah menciptakan kita, maka kesalahan itu tak akan pernah terjadi.
@bacahorror @ceritaht Hakikat penciptaan Jin sama dengan kita, makanya banyak kesamaan antara kita dgn jin. Manusia ada yg baik adapula yg jahat, ada yg beriman ada juga yg tidak, begitu pula dengan Jin.

Jadi tidak semua Jin suka menampakkan diri di hadapan kita, hanya Jin yg nakal yg melakukan itu.
@bacahorror @ceritaht Kamu paham atas jawabanku?"

Prita: "Iya, saya paham. Tapi pertanyaan terakhir belum dijawab Ay."

Aku: "Beneran kamu mau tahu?"

Prita: "Ya iya lah Ay, makanya nanya."

Aku: "Asal kamu janji untuk mampu mengkontrol diri, Aydin akan jawab. Bagaimana?"

Prita: "Oke, Prita janji."
@bacahorror @ceritaht Aku: "Ada satu keluarga kecil di sana. Seorang Ayah dgn perawakan yg tinggi besar, seorang ibu dgn perawakan nyaris mirip manusia & satu anak perempuan yg manja. Insya Allah mereka tidak akan mencelakai kalian, paling-paling jahil dikit."

Prita: "Oh .. Eh Apa, jahil? Maksudnya?"
@bacahorror @ceritaht Aku tertawa kecil melihat reaksinya kemudian mengedikkan bahu sambil mengangkat kedua telapak tangan seperti memberi isyarat kalau aku tak tahu & kuakhiri dengan sebuah senyuman.

Melihatku seperti tadi, Prita merubah posisinya dgn menaikkan tubuhnya ditopang oleh kedua lututnya.
@bacahorror @ceritaht Kedua lengannya memukul-mukul pelan bahu kiriku sambil berkata

"Jawab Ay, jangan senyum-senyum terus"

Kuputar tubuhku 90° lalu berdiri sambil mendekati telinganya dan membisikkan kata

"Rahasia"

Setelah itu Aku masuk dan berjalan menuju kamarku meninggalkannya sendiri.
@bacahorror @ceritaht Saat aku menoleh ke arahnya, ku lihat Prita masih terpaku pada posisinya. Lalu sedikit berteriak

"Ta, masuk"

Dia sedikit terperanjat lalu berdiri kemudian masuk dan duduk di sofa.

Kuteruskan langkahku ke kamar kemudian mengganti pakaian karena sebentar lagi akan berangkat.
@bacahorror @ceritaht Tak lama suara Risa terdengar sambil mengetuk pintu

"Ay, makan dulu. Makanannya sudah disiapkan di ruang tamu."

"Iya Ris, makasih"

Tak lama aku pun keluar. Ku lihat rekan-rekanku sdh berkumpul untuk sarapan. Walau tak biasanya, aku pun makan karena akan melakukan perjalanan.
@bacahorror @ceritaht Setelah selesai makan aku memberikan beberapa informasi kepada mereka

"Mulai hari ini kalian tidak perlu lagi survei ke penduduk, laporan KKN sudah saya selesaikan semalam. Sebagai gantinya 4 orang ke SMP untuk mengajar di sana. Saya akan mengantar kalian sebelum berangkat."
@bacahorror @ceritaht Tommy: "Serius Ay kita gak perlu survey lagi?"

Aku: "Serius. Saya sudah memperhitungkan semuanya dari mulai jumlah personal s/d aktivitas masyarakat sehari-hari. Dari 70% data yg saya olah, jawaban masyarakat hampir sama. Oleh karena itu, saya pikir gak perlu lagi survey."
@bacahorror @ceritaht Ardan: "Iya sih Tom, personal kita saja saat ini hanya 7 orang, bahkan sebentar lagi Aydin berangkat. Ya walaupun nanti sore Inna dan Weni datang, tapi besoknya Prita sama Winda yg pergi."

Tommy: "Betul juga ya."

Achi: "Ay, kapan balik lagi ke sini?"

Aku: "Insya Allah lusa."
@bacahorror @ceritaht Aku beserta Ardan, Tommy, Winda dan Prita berangkat menuju SMP. Setelah berbicara dengan pak Wijaya dan KepSek, aku pamit dan diantar Tommy sampai warung Pak Eka yg juga menjadi pangkalan ojek. Aku menaiki ojek untuk diantar ke terminal yg merupakan tempat janji temu dg Lidya.
@bacahorror @ceritaht Setelah tiba di terminal, ku lihat Lidya belum datang.

"Nekad juga dia mengantar Lidya ke sini" gumamku setelah mendapatkan sedikit penglihatan. Aku menyebrang jalan dan mencari tempat yg tepat untuk mengawasi seandainya penglihatanku benar.
@bacahorror @ceritaht Setelah 10 menit menunggu, akhirnya kulihat "teman"nya Lidya turun sedikit jauh dari terminal dan tentu saja tak lama Lidya turun di pintu masuk terminal.

Aku hanya tersenyum melihat kelakuan mereka dan mulai menyebrang jalan melangkah mendekati Lidya.
@bacahorror @ceritaht "Ko muncul dari seberang sih A, sejak kapan tiba di sini?" tanya Lidya sambil mencium tanganku.

"Belum lama, tadi malas nunggu di sini, makanya nunggu di seberang. Btw, sendirian ke sini?"

"Em .. tadi diantar Jaka" jawabnya gelagapan sambil wajahnya menunduk.
@bacahorror @ceritaht "Oh ... Ya sudah kita masuk sekarang" jawabku datar sambil membawakan tasnya. Lidya mengikutiku dari belakang dan akhirnya kami menemukan elf yg menuju kampus.

Ku masukkan tasnya di bagasi belakang kemudian duduk di bangku kedua bersama Lidya yg telah lebih dahulu naik.
@bacahorror @ceritaht Untuk beberapa lama tak ada satu kata pun keluar dari ku sampai akhirnya Lidya memulai percakapan.

Lidya: "Aa marah?"

Aku: "Kenapa nanya itu?"

Lidya: "Habis sedari tadi Aa diam saja. Neng kan jadi bingung."

Aku: "Memangnya ada hak gitu untuk marah? Lagian knp Aa mesti marah?"
@bacahorror @ceritaht "Maaf ya" ucapnya sambil menunduk.

"Sudahlah Aa ngantuk, semalam kurang tidur. Nanti saja membahasnya kalau urusan di kampus selesai." jawabku sambil memejamkan mata.

Aku tahu kalau Lidya tahu aku sedang marah, oleh karena itu dia pun diam tak berkata apa-apa lagi.
@bacahorror @ceritaht Sesampainya di terminal, kami langsung bergegas ke kampus untuk registrasi ulang. Tas yg dibawa Lidya aku titipkan di himpunan sebelum menemui dosen wali. Setelah urusan di kampus selesai Aku mengantarkan Lidya pulang ke rumahnya yg nota bene dia tinggal di kota itu.
@bacahorror @ceritaht Awalnya aku mau langsung kembali ke kostan setelah mengantarkan Lidya, namun karena ajakan ibunya untuk makan terlebih dahulu, aku pun menggagalkan rencana tadi.

Selepas makan aku berbincang sebentar dengan ibunya sebelum Lidya mengajakku keluar untuk berbicara.
@bacahorror @ceritaht "Kenapa diam saja, bukannya tadi mau berbicara?" Aku membuka percakapan setelah hening beberapa lama.

Terlihat matanya berkaca-kaca kemudian berkata

"Neng tahu kalau neng salah. Dan neng yakin kalau Aa sudah tahu kesalahan neng. Neng janji A, nggak akan bermain api lagi."
@bacahorror @ceritaht "Aa bukannya tidak mau mempercayai ucapanmu, namun saat ini Neng sedang bersama Aa bukan berada di sana dengan Jaka.

Seandainya Neng benar-benar teguh memilih Aa tuk jadi calon suamimu nanti, ketika dia "menembakmu" saat itu, maka Neng akan dengan tegas menolaknya.
@bacahorror @ceritaht Kenyataannya adalah raut wajahmu menyimpulkan bahwa sebenarnya Neng pun punya rasa ke dia sehingga dia meyakini bahwa hari ini Neng akan memutuskan hubungan kita. Bukankah sejak di elf tadi kalian sms-an membicarakan hal ini, bukan begitu?"
@bacahorror @ceritaht Dia diam membisu, wajahnya memucat setelah mendengar ucapanku.

"Diammu berarti membenarkan apa yg Aa katakan. Kali ini Aa memberikan satu kesempatan untuk Neng membuktikan janji Neng tadi. Faktor kedekatan antara kita dengan orangtua lah yg membuat Aa mengambil keputusan ini."
@bacahorror @ceritaht Aku lalu berdiri dan masuk menemui ibunya untuk pamit. Setelah mencium tangan beliau aku keluar dan kembali berkata kepada Lydia

"Besok pagi Aa mau pulang melihat kondisi Papah. Kalau mau menjenguk sekalian Neng kembali ke lokasi KKN, besok pkl 7 kita ketemu di terminal LPJG."
@bacahorror @ceritaht "Iya A, nanti Neng ke terminal pkl 7, Neng juga ingin jenguk papah." Sahutnya sedikit lebih ceria daripada tadi.

Aku pun pamit pada Lydia dan pergi setelah dia mencium tanganku.

"Assalaamu 'alaikum" ucapku

"Wa 'alaikum salam" jawabnya
@bacahorror @ceritaht Keesokan harinya kami berdua berangkat memakai bus pkl 7:30 dan sampai di RS tempat Ayahku di rawat pkl 11.

Aku memasuki ruangan dgn mengucapkan salam kemudian mencium tangan kedua orang tuaku. Begitu pula Lydia, dia mencium tangan ibu yg dibalas ibuku dgn kecupan di keningnya.
@bacahorror @ceritaht Ibu: "Berangkat pukul berapa Neng dari sana?"

"Pkl 7:30 Mah. Oh iya Mah ini ada bingkisan dari orang tua Lydia buat papah sama mamah. Maaf katanya gak bisa jenguk, mudah2an papah lekas sembuh." jawab Lydia sambil mengeluarkan bingkisan dari tas kemudian diberikan kepada ibu.
@bacahorror @ceritaht Ibu: "Bilang sama Mamah terima kasih bingkisannya"

Lidya: "Iya Mah, nanti Lidya sampaikan."

Sementara ibuku bercengkrama dg Lidya, Aku melihat kondisi Ayah yg sudah tidak menerima transfusi darah dan juga tidak lagi dibantu oksigen.

"Alhamdulillah" gumamku dalam hati
@bacahorror @ceritaht Aku: "Papah terlihat jauh lebih segar ya sekarang, masih ada yg terasa sakit Pah?"

Ayah: "Alhamdulillah sudah jauh lebih baik A. Semuanya terasa enak, gak ada bagian tubuh Papah yg terasa sakit."

Aku: "Sudah bisa pulang sore ini kalau gitu ya Pah?"
@bacahorror @ceritaht Ayah: "Mah, tuh kata Aa jg Papah udah bisa pulang. Minta pulang aja Mah ke dokter. Kalau ditunda-tunda papah malah nanti sakit lagi" sambil mengarahkan dagunya ke pasien sebelah.

Ibu: "Bener mau pulang? Kalau iya, Mamah ke ruang perawat dulu"

Ayah: "Iya, papah pengen pulang"
@bacahorror @ceritaht Ibu lalu keluar menuju ruang perawat & kembali lagi setelah 10 menit.

Ibu: "A, beres2 ya, papah sudah bisa pulang sekarang. Mamah mau menyelesaikan administrasi dulu.

Lidya: "Tenang aja Mah, nanti Lidya yg beresin"

Ibu membentuk kata OK dg jemarinya kemudian berjalan keluar.
@bacahorror @ceritaht Sementara Lidya membereskan ruangan dan memasukkan barang yg akan di bawa ke rumah ke dalam tas dan kantong plastik besar, aku berbincang-bincang dengan Ayah. Setelah beberapa lama, ibu pun sudah kembali keruangan beserta seorang suster yg membuka suntikan infus dari lengan Ayah.
@bacahorror @ceritaht Kami pulang diantar oleh pak Irwan tetangga kami yg juga bekerja di RS tersebut.

Malam itu Lidya menginap di rumahku & tidur bersama Ana, adik pertamaku.

Keesokan harinya, tepatnya pkl 7, aku & Lidya pamit. Aku mengantarkannya terlebih dahulu ke tempatnya KKN.
@bacahorror @ceritaht Sesampainya di sana aku tidak langsung pergi. Aku duduk di lantai teras depan sambil menunggu Ana membuatkan kopi. Ketika aku memejamkan mata, seseorang menepuk pundakku dan berkata

"Hey ... Aydin"

Aku membuka mata dan ternyata aku mengenalnya.
@bacahorror @ceritaht Dia adalah Fredi, seorang mahasiswa fakultas bahasa yg dulu pernah bersitegang denganku setelah aksi demo yg pernah ku ceritakan.

Aku: "Hey Fred, lo KKN di sini?"

Fredi: "Iya Ay. Nah lo ke sini ngapain?"

Aku: "Gue nganter Lidya."

Fredi: "Lidya? Oh jadi elo pacarnya Lidya?"
@bacahorror @ceritaht Aku hanya menjawabnya dengan sebuah senyuman.

Bersamaan dengan itu, Lidya keluar membawakanku secangkir kopi.

Fredi: "Lidya, kenapa Lo gak bilang sih ke gue kalo Aydin itu pacar lo?"

Lidya: "Mana Lidya tahu kamu kenal sama Aa. Lagian buat apa juga ngasih tahu kamu Fred"
@bacahorror @ceritaht Aku: "Kenapa gitu Fred? Lo ngomporin Lidya buat jadian sama seseorang yang ada di sini ya?"

Fredi: "Waduh sorry Ay, gue gak tahu sih lu pacarnya Lidya. Kalau tahu mana gue berani.

Eh Lidya, lu ngasih tahu Aydin atas kelakuan gue ya?"

Lidya: "Nggak kok, eum .."
@bacahorror @ceritaht Ku lihat Lidya gelagapan ketika menjawab pertanyaan Fredi. Aku pun langsung menimpalinya dengan berkata

"Cuman nebak aja Fred dari kesimpulan yg kutarik dari kekagetan lo setelah mengetahui status gue"

"Ay, gue mesti kumpul sama anak2 dulu ya, udah ditunggu sama mereka"
@bacahorror @ceritaht Aku: "Gue ganggu gak duduk di sini?"

Fredi: "Santai aja Bro, lo berdua aja sama Lidya di sini. Tenang aja, hari ini dia masih dianggap cuti"

Aku: "Thanks ya Fred, salam dari gue buat anak2 yg lain."

Sambil berdiri dia berkata

"Iya, nanti gue sampaikan salam dari lo ke mereka"
@bacahorror @ceritaht Fredi lalu meninggalkan kami berjalan mengarah ke teman-temannya. Ternyata perbincanganku dg Fredi menyedot perhatian mereka.

Lidya: "A, kenal Fredi di mana?"

Aku: "Dia teman seperjuangan Aa waktu demo di depan rektorat satu tahun yg lalu"

Lidya: "Oh, pantesan akrab banget."
@bacahorror @ceritaht Aku: "Ngobrol apa Neng sama si Jaka tadi di dalam?"

Lidya: "Ya gitu deh A, tp gak lama ko"

Aku: "Ya sudah, nanti selepas mereka rempugan, Aa berangkat ya. Neng ke sana saja kalau mau ikut rapat"

Lidya: "Nggak ah, Neng pengen nemenin Aa di sini."

Aku: "Kenapa, masih kangen?"
@bacahorror @ceritaht Lidya: "Ya iya lah A, berapa lama coba gak ngobrol kayak gini. Kemarin ketemu jg Aa jutek ke Neng. Bukan salah Aa sih, tp tetep aja nyebelin"

"Bukannya beberapa waktu yg lalu Aa terlupakan Neng?" sambil kulontarkan godaanku

"Tuh kan malah dibahas lagi" ucapnya sambil menunduk.
@bacahorror @ceritaht Ku usap ubun2 kepalanya sambil berkata

"Ya sudah Aa minta maaf. Yang lalu biarlah berlalu, cukup ditoleh sebagai pembelajaran. Aa hanya mau bilang, Neng harus siap "berjuang" menghadapi kengeyelan Jaka setelah nanti Aa pergi dari sini."

Lidya: "Iya A, Neng ngerti."
@bacahorror @ceritaht Fredi menghampiriku setelah rempugannya selesai.

Fredi: "Bro, gimana perkembangan survey di kelompok lo?"

Aku: "Sudah gak survey lagi, malah laporannya aja udah kelar."

Fredi: "Wah, emang anggota kelompok lo banyak bro?"

Aku: "Hanya 10 orang Fred, itu pun satu org lagi hamil"
@bacahorror @ceritaht Fredi: "Gila, kelompok gue aja yg 20 org masih banyak sisanya. Emang berapa KK di desa lo?"

Aku: "Hampir 2000 KK, yg survei per hari 6 orang, dibagi 3 kelompok lalu disebar di 3 kampung yg berbeda, sisanya ngajar di SD."

Fredi: "Iya ya, kalau disebar memang lebih efektif."
@bacahorror @ceritaht Aku: "Sebenarnya gak semua KK yg kami survei, ya sekitar 70% lah. Mengingat jumlah personal yg sedikit dan kalau pun dilanjutkan, hasilnya tidak akan bertambah banyak. Makanya sebelum gue ke kampus, gue stop surveinya dan diganti dg mengajar ke SMP yg ada di desa itu.
@bacahorror @ceritaht Selain alasan tadi, gue dapet informasi bahwa ada protes dari para pemuda di sana kalau kami tidak ada interaksi dg mereka selama KKN ini. Insya Allah rencananya siang ini gue mau nemuin mereka"

Fredi: "Lo gak takut Ay kalau pihak universitas tahu?"

Aku: "Kenapa mesti takut?
@bacahorror @ceritaht Gue lebih memilih keselamatan rekan2 gue Fred. Lagian walaupun gak semua didata, hasil laporan yg gue buat bisa dipertanggung jawabkan ke mereka"

Fredi: "Lo emang gak pernah berubah Ay"

Aku: "Satria Baja Hitam bukan, ngapain mesti berubah? Btw, gue pamit Fred. Titip Lidya ya"
@bacahorror @ceritaht Fredi: "Siap bro, lo hati2 di jalan."

Aku pun menyalami semua org yg ada di sana kemudian melangkah menuju jalan raya ditemani Lidya.

Ketika terlihat bus dari kejauhan, ku katakan pada Lidya

"Aa berangkat ya Neng, baik-baik di sini."

"Iya A" jawabnya sambil mencium tanganku.
@bacahorror @ceritaht Aku tiba pkl 10 di warung pak Eka & meminta Ade mengantarku ke SMP di mana pak Wijaya mengajar.

Aku istirahat sejenak di kantin untuk melepas lelah sebelum menemui pak Wijaya, membicarakan rencana kegiatan 17 Agustus.

Setelah dirasa cukup, aku pun melangkah menuju kantor.
@bacahorror @ceritaht Sayang pak Wijaya sedang ada mengajar, aku pun menuju musholla untuk menunggu beliau. Inna yg berada di kelas keluar setelah melihatku.

Inna: "Ay, kapan datang?"

Aku: "Baru saja dateng trus minta Ade nganter ke sini"

Inna: "Ay, temenin Inna ngajar dong di kelas, please!"
@bacahorror @ceritaht Aku: "Emang kenapa? Pake kata please segala"

Inna: "Murid-murid cowoknya "cunihin" Ay, Inna jadi bingung ngadepinnya"

Aku tertawa kecil mendengarnya sambil menganggukkan kepala.

Ketika aku masuk, seorang murid berdiri akan memimpin pengucapan salam untukku.
@bacahorror @ceritaht Namun ku angkat lenganku memberikan isyarat supaya dia duduk kemudian aku mengucapkan

"Assalaamu 'alaikum"

"Wa 'alaikum salam" jawab anak2 secara serempak.

Aku menuju kursi guru kemudian duduk, sementara Inna kembali melakukan aktivitas mengajarnya.
@bacahorror @ceritaht Setelah menerangkan teori, Inna memberikan tugas kepada para siswa untuk dikerjakan saat itu. Dia mendekatiku yg membuatku secara otomatis berdiri dan mempersilahkannya duduk, lalu Aku mengambil kursi siswa yg tidak dipakai.

Inna: "Ay, Inna pengen curhat, boleh?"
@bacahorror @ceritaht Aku: "Boleh, mau curhat apa?"

Inna: "Waktu kemarin pulang, Saya putus sama pacarku Ay. Saya yg memutuskan hubungan, gak tahu kenapa, rasanya sdh gak sreg aja"

Aku: "Ko gitu, bukannya kalian berhubungan sudah lama?"

Inna: "Gak tahu Ay, tiba2 hilang begitu saja perasaan ke dia"
@bacahorror @ceritaht Aku: "Lalu respon dia bagaimana?"

Inna: "Awalnya sih gak mau, tapi karena Inna bersikap gak perduli, ya dia gak bisa apa2 lagi selain nerima keputusan Inna?"

Aku: "Hmm, Ini sih gejala kamu jatuh cinta sama pria lain Na? Benar begitu?"

Sambil melongo dia menjawab

"Gak tahu Ay"
@bacahorror @ceritaht Aku: "Ya sudah nanti ngobrolnya dilanjut di rumah, sekarang kamu lanjutkan mengajarnya, sebentar lagi bel pulang terdengar"

Inna: "Bener ya, di rumah dilanjut?"

Aku: "Iya Na"

"Janji?" kata Inna sambil mengangkat jari kelingkingnya.

"Insya Allah" jawabku sambil tersenyum.
@bacahorror @ceritaht Dia kembali berinteraksi dg para siswa, sementara Aku mengembalikan kursi ke tempat semula kemudian keluar kelas.

"Semoga saja bukan Aku" gumamku sambil melangkah menuju ruang guru.

Tak lama bel berbunyi, Aku pun akhirnya bertemu dengan pak Wijaya.
@bacahorror @ceritaht "Kita ke Musholla Ay, ngobrolnya selepas shalat saja" ajak pak Wijaya yg dianggukkan olehku.

Selepas shalat, kami berbincang di mess guru yg beliau tempati.

"Mau kopi Ay?" tawar beliau.

"Boleh Kang" jawabku

Lalu beliau masuk dan tak lama keluar membawa 2 cangkir kopi.
@bacahorror @ceritaht FYI, usia pak Wijaya hanya berselisih 3 tahun denganku. Beliau memintaku untuk memanggilnya Akg supaya terasa lebih akrab. Tentu saja aku memanggilnya Akg apabila sedang berbincang tanpa ada murid beliau di sekitar kami.
@bacahorror @ceritaht "Bagaimana kabar Ayahmu Ay?" Beliau membuka pembicaraan.

"Baik kang, Alhamdulillah. Kemarin sudah pulang dari RS, lusa check up ke sana." jawabku.

"Syukurlah kalau sudah sembuh. Hari ini jadi pertemuan dengan para pemuda karang taruna?" tanya beliau sambil menyeruput kopinya.
@bacahorror @ceritaht Aku: "Insya Allah jadi Kang, rencananya nanti pkl 2"

Pak Wijaya: "Kalau begitu kita berangkat bersama saja dgn Akg, Akg juga mau ikut hadir"

Aku: "Baik Kang, terima kasih"

Pak Wijaya: "Ay, kita ke kantin yuk, perut Akg sudah minta diisi"

Aku: "Mari Kang, Aydin juga sama"
@bacahorror @ceritaht Kami bergerak menuju kantin & setelah makan langsung berangkat ke balai desa.

Pada pertemuan itu Aku meminta maaf atas tdk adanya interaksi dg mereka serta memberikan alasan dg menerangkan bahwa KKN saat ini diberikan tugas dari pihak universitas untuk melakukan sensus penduduk.
@bacahorror @ceritaht Setelah 1 jam pertemuan berlangsung, kami sepakat untuk menyelenggarakan pertandingan sepakbola & pd acara puncak tgl 17 Agustus diisi beberapa kegiatan hiburan. Lalu pada tgl 18, mereka akan mengadakan acara perpisahan untuk kami yg mana kami tdk diikutsertakan dlm persiapannya.
Pertemuan pun selesai, kami saling bersalaman dg para pemuda sebelum membubarkan diri. Sesaat sebelum keluar aula, Inna menghampiriku lalu berkata

"Nggak lupa kan Ay sama janji tadi di sekolah?"

"Tentu, tapi nanti selepas shalat Ashar ya Na?"

"Oke" dia menjawab dengan riang.
Aku sedikit menaruh curiga terhadap kelakuan Inna. Ada kesimpulan yg terbersit di kepalaku, namun segera kuenyahkan karena takut hanyalah sebuah prasangka saja.

Sesampainya di rumah, aku menuju ke kamar kemudian merebahkan tubuhku yg lemas dimana mataku terasa sedikit panas.
"Ya Allah Aydin sehat. Ya Allah Aydin sehat. Ya Allah Aydin sehat." Gumamku sambil melemaskan tubuh & mengatur pernapasanku.

Ingin sekali aku tidur, namun sebentar lagi memasuki waktu Ashar & aku mempunyai janji thdp Anna.

Setelah terasa membaik, aku berwudhu kemudian shalat.
Aku pergi ke dapur untuk membuat kopi, kemudian melangkah keluar rumah menuju dipan. Tak lama Inna pun keluar dan mendekatiku kemudian duduk.

Inna: "Ay, sepertinya benar mengenai ucapanmu yg menyatakan bahwa aku sedang jatuh cinta dan menaruh hati pada seseorang.
Aku sendiri tidak mengerti mengapa perasaan itu bisa muncul."

Aku: "Apa yg menyebabkanmu menyukainya sehingga dengan mudah menghilangkan rasa terhadap mantanmu?"

Inna: "Entahlah Ay, mungkin karena tatapan matanya yg teduh serta kepribadiannya yg menurutku sangat mempesona"
Aku menatapnya kemudian berkata penuh keseriusan.

"Terkadang apa yg dilihat tdk sesuai dg yg diharapkan. Walaupun tdk sedikit penilaian kita terhadap seseorang itu Benar. Aydin tak akan memaksa Inna tuk kembali dg mantan, namun coba nilai kembali pria yg saat ini kamu kagumi."
Ada guratan kecewa sekaligus sedih terpampang jelas di raut wajahnya. Dengan suara lirih dia berkata

"Apakah salah jika menyukai seseorang yg Na kagumi?"

Aku: "Tak ada yg salah, namun tindakanmu yg tiba-tiba mengakhiri hubungan dengan pria yg telah lama bersamamu itu gegabah."
Untuk beberapa lama suasana menjadi hening sebelum Ade datang dari belakang menghampiri kami.

"A, malam ini kita ke acara hiburan setelah di desa tetangga yuk!" ajak Ade.

Aku: "Boleh De, pkl berapa berangkatnya?"

Ade: "Habis shalat Isya A."

Aku: "Ajak Ardan sama Tommy jg De!"
"Iya A, nanti Ade ajak mereka." jawab Ade lalu melangkah masuk ke rumah.

Tak lama Inna pun berdiri

"Inna masuk ya Ay"

Setelah berjalan beberapa langkah, dia berhenti lalu membalikkan badannya.

"Ay, pria itu kamu" setelah mengucapkan kalimat itu, dia melanjutkan langkahnya.
Apa yg kutakutkan pun terjadi, ternyata tidak salah praduga ku sebelumnya.

Ada kebingungan yg melandaku saat itu. Aku tak tahu apa yg harus kulakukan ke depannya setelah Inna mengungkapkan perasaannya kepadaku walau secara tidak langsung.
"Biarlah air mengalir & angin berhembus, karena sesungguhnya kau tak mungkin bisa menghentikan perasaannya kepadamu.

Bahkan kau sendiri tak mampu menghilangkan rasa kekasihmu sendiri pada pria lain." bisiknya.

"Maksudmu Lidya kembali berulah?" Tanyaku dengan lantang.
Beliau tdk menjawab dg kata-kata, namun memberikan sebuah penglihatan kepadaku.

Kulihat Lydia & Jaka bergandeng tangan dg intim ketika mereka berada di dalam mini market.

Aku tersenyum sinis mengetahui tingkah mereka. Ada rasa kecewa, namun aku sdh siap menerima kenyataan ini.
Selepas shalat Isya kami berangkat menuju acara hiburan yg diselenggarakan oleh pemilik hajat pernikahan di desa tetangga.

Ketika akan melintasi jembatan, kulihat seorang pria berdiri diujung sebrang ituada saat itu motor Tommy melaju di depan kami, dg sigap Ade menekan klakson.
"Tii...id, tid tid, tii..id" nada klakson motor yg digunakan Ade terdengar lalu terlihat cahaya lampu jauh yg aktif, tak aktif, aktif, kemudian tak aktif.

Melihat & mendengar semacam kode, pria yg berdiri diujung jembatan yg akan kami lalui pergi & menghilang ditelan kegelapan.
Setelah tiba di acara hiburan hajat, Ade sedikit memarahi Tommy yg tdk menuruti perkataan Ade sebelum berangkat.

"Gara-gara kalian, nyaris saja kita berhadapan dg begal. Lain kali turuti apa yg Ade katakan!"

"Maaf, gak tahu bakal kejadian seperti tadi" ucapnya sambil tertunduk.
"Sudah jangan diperpanjang, jadikan kejadian tadi sebagai pembelajaran. Lain kali di mana bumi dipijak, di situlah langit dijunjung."

FYI, di daerah itu masih ada begal yg berkeliaran. Berdasarkan cerita dari Ade, ibunya (Bu Ani) pun pernah mengalaminya dijembatan tadi.
Karena tidak menyukai suasana yg hingar bingar, walaupun belum lama berada di sana, Aku pun mengajak Ade pulang.

Sesampainya di rumah, kulihat Inna sedang duduk sendiri sambil menonton tv.

Aku: "Belum tidur Na?"

Inna: "Belum, Inna sengaja nunggu Aydin pulang."
"Kenapa nunggu Aydin pulang?" Aku mengernyitkan mata ketika bertanya.

"Ada pembicaraan yg belum tuntas. Bisa kita bicarakan sekarang?" jawab Inna.

Kulihat jam dinding menunjukkan pkl 8 lebih. Ada rasa enggan, namun mengingat dia sudah menunggu sejak tadi, akhirnya aku bersedia.
Aku: "Kita bicara di teras depan, tapi sebelumnya Aydin mau buat kopi dulu ya"

Inna: "Biar Inna yg buatkan Ay, kamu tunggu saja di depan"

Inna melangkah menuju kamarku untuk mengambil kopi kemudian ke dapur sedangkan Aku berjalan menuju teras depan.
Tak berselang lama Inna duduk kemudian meletakkan gelas yg berisi kopi di sampingku.

"Thanks kopinya Na" ucapku sambil menyeruput kopi.

"Yaw Ay" jawabnya sambil memadu-madukan jemari tangannya.

"Na, apa yg sebenarnya kamu harapkan dariku?" Aku memulai pembicaraan.
"Hmm ... Jadi kekasihmu. Itu pun jika kamu bersedia" ucapnya dengan suara terbata-bata sambil menatap mataku.

Aku: "Na, bukannya Aydin gak mau. Tapi saat ini Aydin gak bisa.'

Inna: "Kenapa?"

Aku: "Karena Aydin masih ada hubungan dg perempuan lain."
Kulihat matanya berkaca-kaca, tak lama beberapa tetes air keluar dari matanya. Aku kebingungan melihat kondisi pada waktu itu.

Aku: "Na, seandainya memang kita berjodoh, pasti kita hidup bersama. Kalau pun tidak, Insya Allah, kau akan mendapatkan pasangan yg lebih baik dariku"
Inna: "Na gak mau nunggu sampai nanti, Na yakin kamu yg terbaik buatku"

Ku perhatikan wajahnya, ku mencoba mendalami apa yg dia pikirkan dan rasakan.

"Mau bagaimana lagi, ya sudah" pikirku.

Aku: "Baik, Aydin minta Inna berusaha tuk menjadi perempuan yg Aydin harapkan, bisa?"
Inna: "Bisa, asalkan Aydin mau membimbing Inna"

Aku: "Karena Aydin saat ini masih ada hubungan dg perempuan lain, kamu bersedia menerima konsekuensinya?"

Inna: "Apa?"

Aku: "Aydin gak bisa memprioritaskan Inna"

Inna: "Gak masalah, Inna terima itu"
Aku: "Baiklah jika memang bersedia, Aydin pun bersedia membimbing Inna"

Terlihat jelas rona wajahnya yg bahagia. Kemudian dia memegang tanganku lalu berbicara

"Inna janji akan berusaha yg terbaik untuk menjadi apa yg Aydin harapkan"

"Iya. Sekarang Na masuk, sudah malam" ucapku
Kuminum beberapa teguk kopi yg sudah dingin, ku buka bungkusan rokok dan mengambilnya sebatang lalu kunyalakan.

Mendua bukanlah tabiatku. Walaupun kondisi saat ini aku sedang diduakan, tp tak membuatku menjadi tak merasa salah.

Nasi sudah menjadi bubur, biarlah aku memakannya.
Badanku sudah mulai kembali terasa letih, Aku pun masuk dan tidur di Sofa.

Aku terbangun ketika salah satu pintu kamar dibuka. Awalnya Aku menebak itu Prita karena hanya dia yg setiap hari bangun pkl 3 pagi. Setelah sadar kalau Prita baru hari ini datang, Aku lalu membuka mata.
Kulihat Inna sedang berdiri menatapku.

"Baru saja Inna akan membangunkan Aa, eh Aa sudah bangun sendiri"

"Ada apa Na mau membangunkan Aydin?" tanyaku sambil duduk.

"Na mau ke kamar mandi A, takut. Anter yuk!" pinta Inna.

"Iya" Aku pum berdiri dan melangkah sampai pintu dapur.
Lalu Inna berjalan sendiri ke kamar mandi dengan pengawasanku dari pintu.

"Kenapa dari tadi Inna memanggilku Aa?" pikirku.

"Oh iya, Aku baru ingat" gumamku.

Tak lama Inna keluar dari kamar mandi, setelah dia sampai pintu Aku berkata

"Gak perlu Aa awasi kan sampai kamar?"
Sambil tersenyum Inna menjawab "Iya A, terima kasih." lalu dia berbisik "Love you" kemudian dia sedikit berlari menuju kamarnya.

Sebelum membuka pintu dia menolehkan kepalanya ke arahku. Aku mengedipkan kedua mataku sambil tersenyum kemudian melangkah ke kamar mandi.
Aku pun shalat sunat 2 rakaat & membaca beberapa ayat Al-qur'an.

Sambil menunggu adzan shubuh, kunyalakan PC kemudian memutar lagu2 Haddad Alwi - The Way of Love - yg merupakan album lagu favoritku. Lagu-lagunya mampu menghanyutkanku bahkan terkadang membuat mataku berkaca-kaca.
Selepas shalat shubuh Aku membawa kopi ke ke dapur. Inna yg sedang duduk di sofa sedikit berteriak ketika melihatku keluar dg membawa kopi

"A, biar Inna yg buatkan kopinya"

dia berlari menghampiriku dan mengambil kopi yg kuberikan lalu ke dapur.
Teman2ku yg lain saling berpandangan melihat gelagat Inna terutama saat mendengarnya memanggilku Aa.

Achi dan Risa berlari ke arahku dan Inna

Risa: "Na, apa Risa gak salah denger kamu manggil Aydin Aa?"

Achi: "Iya Na, Achi jg tadi dengernya kamu manggil Aydin Aa."
Inna hanya tersenyum-senyum malu melihat keduanya bertanya beriringan. Melihat Inna yg tidak menjawab pertanyaan mereka menyadarkanku akan kemungkinan Inna berharap Aku yg menjawab.

Aku: "Kalian tidak salah dengar, kami sudah bersepakat untuk saling mengenal lebih jauh."
Risa kemudian menarikku keluar dan berkata

"Tapi kan Inna"

Belum sempat dia meneruskan ucapannya, Aku berkata

"Dia sudah putus Ris, Aydin harap Risa tidak bertanya alasan kenapa mereka putus. Biarkan itu menjadi urusannya yg tentu saja menjadi tanggung jawabku mulai saat ini"
"Kalau sudah putus sih gak masalah, tadinya Risa takut Aydin salah mengambil keputusan" timpalnya.

Aku tersenyum mendengar ucapan Risa

"Terima kasih Ris. Aydin gak mungkin mengambil keputusan ini apabila Inna masih berhubungan dengan pria lain.”
Risa: "Tapi Ay, bagaimana nanti dengan Prita kalau dia tahu kalian sudah berhubungan? Walau dia tidak pernah membicarakannya dengan Risa, tapi Kamu sadari kan gelagat Prita yg kemungkinan besar dia menyukaimu?"
Aku: "Entahlah Ris, seandainya Aydin tidak berhubungan dg Inna pun, Aydin tak mungkin memintanya menjadi calon istri Aydin saat ini"

Risa: "Kenapa?"

Aku: "Maaf Aydin tak bisa memberitahu alasannya"

Risa: "Santai Ay, gak masalah bagiku kalau kamu gak mau membicarakannya"
Ya, selain memang sangat jarang membicarakan masalah yg ku alami ataupun mengenai kehidupan pribadiku, namun yg paling utama adalah Aku harus menjaga nama baik Inna.
Hari itu hari Minggu, jadi tidak ada aktivitas yg harus dilakukan.

Pkl 10 pagi Ardan sudah bersiap-siap berangkat ke kampus untuk registrasi ulang. Dia memintaku mengantarnya ke kecamatan mamakai motor Tommy, karena Tommy sendiri sedang kurang enak badan.
Sesampainya di kecamatan, Aku mampir dulu ke tempat Irfan. Setelah 30 menit berada di sana Aku pun pamit pulang. Saat keluar gerbang Aku melihat Prita sedang berdiri di pangkalan ojek yg tak ada seorang tukang ojek pun pada saat itu. Aku pun menghampirinya & menawarkan tumpangan.
Pada saat sampai di rumah, teman-teman sedang merujak di teras depan. Prita langsung menghampiri mereka & ikut memakan rujak. Risa menatapku kemudian mengarahkan pandangannya ke arah Inna. Ku lihat Inna cemberut atas kedatanganku. Ku parkirkan motor lalu memanggil Inna.
Inna menghampiriku yg duduk di dipan masih tetap dalam raut wajah yg cemberut. Ketika dia duduk di sampingku, Aku mendekat ke telinganya dg menutup sebagian wajahku dg tangan spy teman2 tidak dapat menerka apa yg kukatakan. Aku pun berbisik "I Love you too".
Kulihat wajah cemberutnya berubah seketika berganti dengan senyum kecilnya yg manis. Aku beranjak dari dipan kemudian berjalan santai menuju pintu rumah. Sesampainya di pintu ku lihat Inna masih di sana. Ku gerakkan kepalaku lalu mengarahkannya ke teman2.
Inna lalu bergegas kembali ke teman2 dan melanjutkan aktivitas memakan rujak bersama mereka. Tak sengaja Aku melihat Prita dengan raut wajah yg menandakan penuh tanda tanya atas kejadian tadi. Aku lalu masuk kemudian duduk di sofa sambil menonton TV.
Karena acaranya membosankan, kumatikan TV kemudian ke kamar untuk mengetahui perkembangan kesehatan Tommy.

Tommy masih tertidur dengan lelap, wajahnya penuh dengan keringat. Ku pegang dahinya, namun tidak panas.

Aku keluar rumah untuk menemui pak Eka atau bu Ani di warungnya.
"A, mau ke mana" tanya Inna ketika Aku akan memakai sandal.

Aku: "Ke warung pak Eka. Mau ikut?"

Inna: "Iya A, tunggu sebentar. Na mau cuci tangan dulu"

Inna bergegas ke kamar mandi dan tak lama sudah kembali lalu menghampiriku.

Kami berdua berjalan menuju warung pak Eka.
Awalnya dia berjalan di sebelah kananku, namun di satu titik (ketika melintasi perkampungan gaib) aku berpindah posisi dengannya karena sensorku memberitahu bahwa ada yg memperhatikan kami. Ku lanjutkan langkahku sambil menggenggam tangannya erat.
Sesampainya di sana Aku langsung memesan 2 gelas es teh manis dingin. Bu Ani lalu membuatkannya untuk kami dan tak lama memberikannya kepadaku.

Aku: "Terima kasih Bu. O Iya Bu, bapak kemana?"

Bu Ani: "Ke kecamatan A sama Ade"

Aku: "Bu, kalau ingin berobat biasanya ke mana?"
Bu Ani: "Biasanya ke puskesmas di kecamatan. Kenapa A?"

Aku: "Tommy sakit. Selain Puskesmas, apa ada dokter praktek yg bisa kami datangi hari ini?"

Bu Ani: "Ada A, tapi jauh di kecamatan lain, sekitar 30 menitan dari sini. Kalau mau nanti ibu bilang sama Ade untuk mengantar"
Aku: "Terima kasih bu, Aydin lihat dulu perkembangan Tommy. Bu, punya daun sirih?"

Bu Ani: "Berapa lbr A?"

Aku: "2 lbr cukup Bu."

Bu Ani: "Nanti diantar ke rumah ya A kalau Ade sudah pulang."

Aku: "Iya Bu, terima kasih."

Setelah es teh manis habis, kami pun kembali ke rumah.
Ketika melewati area yg sama, kembali kupegang tangan Inna.

Aku: "Na, kalau ada apa2, jangan teriak dan jangan pula lari. Pegang saja tangan Aa erat-erat!"

Inna: "Memangnya ada apa A?"

Aku: "Aa gak bisa jawab, tapi Inna percaya sama Aa kan?"

Inna: "Iya A, Inna percaya."
Aku pun berdo'a memohon perlindungan kepada Allah. Kupegang tangan Inna dg erat lalu meneruskan langkah dengan hati-hati. Baru saja beberapa langkah, muncul sesosok wanita dg raut wajah memendam kemarahan.

Aku: "Maaf, mengapa engkau terlihat sangat marah kepadaku?"
Dia tertawa sangat keras lalu berkata

"Kamu itu bodoh atau pura-pura bodoh HAH?"

"Aku bukan Tuhan Yang Maha Tahu, Aku hanya manusia biasa yg berusaha menjalankan tugasku sebagai manusia. Sekali lagi saya bertanya, mengapa kamu terlihat marah?" timpalku dg menatapnya tajam.
Dia kembali tertawa congkak lalu memicingkan matanya sambil berkata

"Kamu berniat mengobati temanmu sama saja dengan menantangku"

Aku kembali mendapatkan sebuah penglihatan dimana terlihat Tommy keluar rumah dg tergesa. Dia berlari menuju sebuah pohon & buang air kecil di sana.
"Oh jadi itu alasannya. Maafkan dia atas ketidaktahuannya sehingga berprilaku yg tidak seharusnya. Namun tanpa maksud menantangmu, sudah menjadi kewajibanku untuk membantunya."
ucapku dg nada lirih.

"Kalau begitu keputusanmu, jangan salahkan aku jika mencelakai kalian" ujarnya.
"Maaf, tapi aku akan meminta pertolongan Allah untuk mencegahmu"

Kulafalkan

"Bismillaahirrahmaanirrahiim"

lalu memejamkan mata.

Aku pun membuka mata ketika terdengar suara auman harimau di sisi kiri dan kananku.

"Allah telah menggerakkan mereka untuk membantuku" pikirku.
"Maaf, aku tak pernah sedikitpun menginginkan perseteruan denganmu dan kaummu. Namun dikarenakan engkau mengancamku, maka tak ada cara lain selain melawanmu."

Dia meludah kemudian berbicara

"Kamu pikir aku akan takut menghadapi mereka?"

"Aku tidak pernah berpikir seperti itu,
namun terlihat dengan jelas bahwa sebenarnya kamu itu takut. Oleh karena itu aku menawarkan kepadamu untuk menghentikan pertikaian ini dan tolong maafkan kelancangan temanku."

Aku pun kembali melangkah bersama Inna tanpa menunggu persetujuan darinya.
"Baiklah kuterima penawaranmu & memaafkan kelakuan temanmu"

Kulepas pegangan tanganku pd Inna lalu membalikkan badan menghadap wanita itu sambil tersenyum & mengucapkan terima kasih.

"Na, pergilah, ada sesuatu yg harus Aa kerjakan. Jangan takut, Aa tetap mengawasimu dari sini.
Satu hal lagi, tolong jangan katakan hal ini pada teman2."

Inna: "Iya A, tapi jangan lama-lama ya, kaki Inna masih gemeteran."

Aku: "Insya Allah Aa gak akan lama. Ingat jalan saja, jangan lari!"

Inna mengangguk kemudian berjalan menjauhiku.
Kuhampiri wanita itu dengan menatapnya penuh keseriusan.

Aku: "Terima kasih atas pengertiannya, aku harap jika terjadi sesuatu lagi yg diakibatkan oleh teman2ku, saya minta kalian memberitahu saya tanpa melakukan hal apapun. Biarkan saya yg memberikan pengertian kepada mereka."
SW: "Baik, akan ku beri tahu kaumku mengenai hal ini. Maafkan atas kelancangan sikapku."

Aku: "Tidak perlu meminta maaf, Aku mengerti akan kemarahanmu. Hanya saja mulai saat ini, mari kita hidup berdampingan dengan saling mengerti sifat jasad kita masing-masing. Aku pamit,
Assalaamu 'alaikum"

Dia langsung menghilang setelah ucapan salamku.

"Aku yg pamit malah dia yg pergi dahulu" gumamku sambil tertawa kecil.

Aku melangkah menuju kedua harimau yg masih setia menemaniku. Kupegang wajah mereka masing-masing sambil mengucapkan terima kasih.
Mereka menempelkan wajahnya padaku setelah itu pergi dgn cara seperti mereka datang.

"Alhamdulillah, Engkau telah menolong hambamu yg rendah ini"

Sewaktu berjalan menuju rumah, Ade muncul dengan menunggangi motornya dari belakang. Dia berhenti lalu mengajakku menaiki motornya.
Setelah sampai, Ade memberikan beberapa lembar sirih kepada ku. Aku langsung berwudhu lalu shalat 2 rakaat. Ku pegang gelas besar yg sudah terisi air dan daun sirih lalu berdoa meminta kesembuhan untuk Tommy.

Ku berdiri lalj menghampiri Tommy yg sudah terbangun dari tidurnya.
Aku membantunya duduk supaya bisa meminum air yg sudah kusiapkan.

"Tom, minum dulu! Baca bismillah kemudian berdoa meminta kesembuhan kepada Allah. Sisa airnya usapkan di wajah dan kepala" aku memberikan gelas itu lalu keluar sebentar untuk memastikan kondisi Inna.
Karena pintu kamarnya tertutup, Aku kembali ke kamarku. Ku ambil gelas dari tangannya Tommy lalu ku simpan di atas PC.

Aku: "Lain kali kalau ingin buang air kecil jangan sembarang tempat karena Rosulullah melarang kita buang air di beberapa tempat, salah satunya pada pohon."
Tommy: "Ya gimana Ay, udah gak tahan soalnya"

Aku: "Kamu kan bisa ke bale desa pake motor Tom"

Tommy: "Iya ya. Eh kamu tahu dari mana saya buang air di pohon?"

Aku: "Gak perlu dibahas, yg penting kamu baik2 saja sekarang. Aku mandi dulu, kalau butuh bantuan, panggil saja Ade"
Selepas mandi aku duduk di sofa sambil menunggu waktu dhuhur. Ku lihat satu persatu dari kamar perempuan keluar. Sebagian dari mereka ada yg mengambil wudhu, ada juga yg mempersiapkan alat masak dan bahan masakan di dapur.

Sebelum mengambil wudhu Inna menghampiriku.
Inna: "A, ke kecamatan yuk selepas shalat dhuhur?"

Aku: "Ada perlu apa ke kecamatan?"

Inna: "Inna pengen beli sesuatu, sekalian beli bahan makanan buat nanti malam, Inna mau masak buat Aa"

"Memangnya bisa masak gitu? Aa belum pernah lihat Inna masak di sini." Aku menggodanya.
Inna cemberut sambil memukul bahuku.

Inna: "Kalau gak percaya, sok Aa mau Inna masakin apa?"

Aku: "Masak apa saja, asal jgn ikan."

Inna: "Memang kenapa gak suka ikan?"

Aku: "Males ketemu "cucuknya". Waktu kecil pernah ke makan, tersiksa seminggu nyangkut di tenggorokan"
Inna: "Hmm, berarti nanti malam Inna masak ikan saja ya A. Biar Aa gak trauma lagi makan ikan. Tenang, nanti durinya Inna yg pisahin deh."

Aku: "Iya, nanti Aa coba makan"

Inna pun melangkah ke kamar mandi sedangkan aku masuk ke kamar untuk shalat dhuhur.
Setelah shalat aku menuju ke kamar Ade.

"De, Aa boleh masuk?"

"Masuk aja A" jawab Ade.

Aku: "De, Aa mau ke kecamatan. Ada kerjaan ga sekarang?"

Ade: "Nggak A. Ada apa?"

Aku: "Aa titip kg Tommy ya. Nanti Aa minta temen Aa buatin bubur, kalau dia masih lemas, tolong suapin?"
Ade: "Iya A, nanti Ade jagain. Btw, Aa ke kecamatan ada keperluan apa?"

Aku: "Mau nganter teh Inna, katanya ada yg mesti dibeli."

Ade: "Cie jalan2 nih ceritanya."

Ade berusaha menggodaku. Namun ketika aku menjawab

"Naik motor lah De, masa jalan."

senyumnya langsung berhenti.
"Aa berangkat ya" sambil ku usap kepala belakangnya.

"Iya A, hati2" jawabnya.

Aku ke dapur, di sana ada Risa & Prita yg sedang memasak tuk makan siang. Awalnya aku akan meminta tolong kpd mereka membuatkan bubur untuk Tommy, namun kuurungkan saat mendengar pembicaraan mereka.
Aku pun menuju ke kamar Achi. Ku ketuk pintunya yg tertutup lalu memanggil namanya. Aku sedikit mundur beberapa langkah supaya ketika pintu terbuka tak bisa melihat ke dalam kamar.

Achi keluar lalu bertanya "Ada apa Ay?"

"Chi, tolong buatkan bubur nasi untuk Tommy ya?" pintaku.
Achi: "Siap Ay, berapa banyak?"

Aku: "Cukup buatkan untuk makan siang sama nanti malam. Kalau sudah matang, sajiannya berikan saja ke Ade, nanti Ade yg memberikannya kpd Tommy"

Achi: "Oke"

Aku: "Nuhun nya Chi"

Aku bergegas ke kamar Tommy untuk meminta ijin meminjam motornya.
Aku ke teras depan dmn Inna sedang menungguku dan Kami pun berangkat.

Sebelum berbelanja, aku mengajaknya makan terlebih dahulu di warung bakso di samping kantor kecamatan.

Kami duduk di bangku kedua lalu berbincang sambil menunggu bakso pesanan kami disajikan.
Inna: "A, sejak kapan memiliki kemampuan melihat, berkomunikasi, dan melawan makhluk gaib?"

Aku: "Aa tidak merasa memiliki semua kemampuan itu Na. Terkadang Aa melihat dan berinteraksi dg mereka dikarenakan atas kehendak Allah. Apabila Allah tidak berkehendak, Aa pun tidak bisa"
Inna: "Na tahu kalau itu semua atas kehendak Allah, namun tidak semua orang bisa melakukannya"

Aku: "Begini Na, sering terjadi ketika seseorang mengatakan bahwa di tempat kami berada saat itu ada penampakan sesosok makhluk gaib, namun kenyataannya Aa tidak melihatnya bahkan Aa
tidak mampu merasakan kehadirannya. Pernah juga terjadi dmn waktu itu Aa mendekati teman Aa yg sedang melamun. Tiba-tiba muncul sebuah penglihatan mengenai apa yg dilamunkannya, bahkan Aa melihat apa yg sedang dikerjakan oleh seseorang yg sedang teman Aa lamunkan itu.
Diantara sadar & tidak sadar, Aa memberikan wejangan pada teman Aa itu. Karena dia tdk percaya, Aa suruh dia menelpon seseorang yg dia lamunkan untuk mengkonfirmasi ucapan Aa. Ternyata apa yg Aa beri tahu kan semuanya benar. Lantas dia bertanya bagaimana Aa bisa tahu semuanya.
Setelah Aa memberikan jawaban, dia menanyakan sesuatu pada Aa dan Aa tak mampu menjawabnya karena Aa tidak menerima penglihatan atau bahkan bisikan apapun untuk menjawabnya. Kejadian seperti ini bukan hanya sekali atau dua kali, tapi sering terjadi.
Oleh karena itu Aa jelaskan tadi bahwa semuanya itu atas kehendak Allah."

Inna: "Ko bisa seperti itu A? Biasanya kan kalau orang lain mengetahuinya"

Aku: "Entahlah Na, mungkin karena Aa tdk pernah memperdalam hal ini. Aa berserah diri kpd Allah untuk mengatur segalanya buat Aa"
Inna: "Lantas apa yg Aa katakan pada teman Aa ketika Aa tidak tahu jawabannya?"

Aku: "Aa katakan apa adanya saja. Aa tdk pernah mau membohongi orang lain hanya untuk menutupi ketidakmampuan Aa"

"Jadi makin sayang deh Inna sama Aa" ucap Inna sambil memegang wajahku.
Dua porsi bakso sudah tersaji di meja, kami pun segera memakannya.

Setelah membayar, kami melanjutkan perjalanan tuk berbelanja kebutuhan Inna. Setelah berbelanja, kami pun segera pulang.

Akhirnya kami tiba di rumah. Ketika aku masuk, kulihat Tommy bercengkrama dg Ade di sofa.
Aku: "Sudah terasa enak badannya Tom?"

Tommy: "Alhamdulillah Ay, sudab sembuh berkat obat dan do'a dari kamu"

Aku: "Alhamdulillah, Allah telah mengabulkan do'a kita"

Ade: "A, Ade ke warung dulu ya. Mau bantu ibu beres-beres. Sebentar lagi mau tutup warungnya"
Aku: "Iya De, thanks ya sudah bersedia menjaga Tommy. Ini buat kamu, jangan lupa dihangatkan sebelum dimakan"

Ade: "Asyik, hatur nuhun (terima kasih) A"

Aku: "Sawangsulna (sama-sama)"

Ade pun pergi sambil menenteng kantong plastik yg berisi bakso pemberianku.
"Buat aku mana Ay?" Tanya Tommy dengan raut memelas.

"Sorry Tom, gak ada. Soalnya Aku pikir kamu masih sakit. Oh iya, thanks motornya" jawabku.

"Iya sama-sama. Btw, lain waktu beliin ya? Kayaknya enak, baunya saja sudah menggoda" pinta Tommy.

"Kalau ada waktu, tp gak janji ya"
Sore itu Inna yg dibantu Winda sedang asyik memasak ikan yang dibuatkan spesial untukku. Sedangkan Aku duduk di teras depan sambil meminum kopi ditemani sebatang rokok yg kupegang di jemariku.

Tanpa kusadari kedatangannya, Prita sudah duduk di sampingku lalu memulai percakapan.
"Kata Risa kamu sudah jadian dengan Inna, betul begitu Ay?"

"Iya, sejak tadi malam" jawabku.

Kulihat wajahnya yang sendu dan matanya mulai berkaca-kaca, namun dia berusaha untuk menahan agar tidak keluar satu tetes pun.

Melihat itu, aku pun melanjutkan ucapanku
"Maaf ya Ta jika keputusanku menyebabkanmu bersedih hati"

"Gak pa-pa Ay, itu keputusanmu, Prita pasti akan menghormatinya" jawabnya sambil memaksakan tuk tersenyum.

Sempat hening beberapa detik sebelum Prita kembali berkata

"Prita masuk ya, mau ke kamar"

"Iya" jwbku singkat.
Kondisi seperti ini memang sudah kuperhitungkan semenjak aku mengambil keputusan malam itu. Namun ketika raut wajahnya yg mencerminkan kekecewaan dan kesedihan membuatku khawatir dengan kondisi psikisnya.

"Masih ada waktu" pikirku. Aku pun segera bangkit dan berjalan ke dapur.
Ku hampiri Inna yang sedang memasak, kuajak dia sedikit menjauh dari Winda.

Aku: "Inna percaya sama Aa?"

Inna: "Maksudnya apa A?"

Aku: "Tolong dijawab dulu, apakah Inna percaya sama Aa?"

Inna menelisik wajahku layaknya mencari arti dari pertanyaan yg kulontarkan kepadanya.
Inna: "Lakukanlah apa yg harus Aa lakukan. Tdk perlu menjelaskannya pada Inna, karena Inna percaya Aa."

Aku: "Betulkah tdk mesti Aa jelaskan?"

Inna: "Sepertinya Inna sudah tahu arah pembicaraan Aa. Inna takut rasa cemburu Inna lebih mendominasi setelah Aa menjelaskan semuanya."
Aku: "Terima kasih atas kepercayaanmu Na, Aa pergi sekarang ya?"

Inna: "Iya A"

Sebelum melangkah aku berbisik di telinganya

"I love you more than before"

Inna memegang tanganku yg siap untuk melangkah dan berkata

"I love you more too" kemudian dia mencium tanganku.
Ku usap lembut kepalanya sambil tersenyum kemudian melangkah menuju kamar Prita. Ku ketuk kamar sambil memanggil namanya. Tak lama Prita membuka pintu & bertanya

"Ada apa Ay?"

"Ada yg ingin Aydin bicarakan, namun sebaiknya kita bicara di luar saja sambil jalan2, bisa?" ajakku.
Dia menganggukkan kepalanya sambil mengatakan "Prita ganti pakaian dulu ya Ay?"

"Iya, Aydin tunggu di luar."

Aku pun ke kamar meminjam motor pada Tommy, setelah itu menunggu Prita di luar.

Ku lihat Prita sudah siap, kunyalakan mesin motor dan memintanya untuk segera naik.
Ita kemudian naik, kulirik jam tanganku telah menunjukkan waktu pkl 15:35, "aku harus cepat" pikirku.

"Ta, aydin sedikit ngebut ya, ga pa-pa?" ku bertanya sambil memperlihatkan jam tangan yg kupakai.

"Iya, tapi hati-hati" jawabnya.

"Ok Ta" ucapku sambil mulai melajukan motor.
Kubawa Prita ke tempat di mana dulu Ade membawaku ketika aku sedang gundah.

Sesampainya di sana aku berbincang dengan Prita, kulontarkan beberapa candaan yg membuat Prita kembali tersenyum.

Kulirik jam tanganku, tak terasa waktu telah menunjukkan hampir pkl 5 sore.
Aku: "Ta sudah sore, kita pulang ya. Ingat ucapan Aydin tadi, apapun kondisinya, jangan pernah sungkan untuk berbicara denganku."

Prita: "Siap kakak"

Aku lalu berdiri, begitu pula dengan Prita. Lalu kami melangkah menuju motor dan kemudian pergi dari sana.
Sesampainya di rumah, Prita masuk ke kamarnya. Sedangkan aku menghampiri Inna yg sedang menonton tv.

Aku: "Sudah selesai masaknya Na?"

Inna: "Kenapa, Aa mau makan sekarang?"

Aku: "Iya, Aa sudah lapar. Coba tanya teman-teman kita, mau makan sekarang nggak!"
Inna pun segera menanyakannya kepada teman2 yg lain. Aku ke kamar memberikan kunci motor pada Tommy sambil mengajaknya makan sekarang.

Saat aku keluar, kulihat Inna & Prita sedang menyiapkan makanan untuk dibawa ke ruang tamu. Aku pun duduk di lantai sambil bersandar pada sofa.
Risa mendekatiku lalu bertanya

"Ngapain tadi keluar sama Prita Ay? Pulang2 mukanya sudah kembali ceria."

"Ngajak ngobrol aja Sa, gak ada yg lain" jawabku.

"Jadi pengen tahu kamu bicara apa sama Prita, tapi Risa yakin kamu gak akan memberitahuku. Risa bantu mereka dulu Ay"
Risa pun ke dapur, aku pun berdiri dan melangkah ke kamar mandi untuk mencuci tangan.

Makanan pun sudah tersaji di ruang tengah. Inna mengambil piring dan menuangkan nasi. Dia membuka bungkusan pepes ikan, memilah dagingnya dan memasukkannya pada piring itu.
Inna memberikan piring itu kepadaku sambil berkata

"Mau sekalian Inna suapin gak A?"

"Gak perlu, Aa bisa sendiri"

Aku mulai memakan nasi dan ikan yang sudah Inna siapkan.

Setelah beberapa suap

"Na"

aku memanggilnya yang duduk di sampingku sambil mengacungkan jempol kananku.
"Mau nambah ikannya A?" sambil tersenyum senang.

"Boleh, secukupnya saja" jawabku dg menyodorkan piring.

Inna memilah lagi daging dg sangat teliti lalu menyimpannya ke piringku.

"Aku boleh nyicip gak Nak? Sedikit saja" pinta Tommy.

Inna melirikku dan aku menganggukkan kepala.
Setelah dirasa cukup, Inna memberikan piringnya kepadaku lalu memberikan pepes ikan itu kepada Tommy.

Aku meneruskan makanku dg lahap, selain rasanya yg enak, aku pun berusaha menghargai usaha Inna yg telah memasaknya.

Setelah selesai makan, aku ke kamar mandi lalu berwudhu.
Sejak saat itu hubunganku dg Inna semakin dekat. Begitu pula hubunganku dengan Prita yang kembali normal seperti biasa.

Waktu pelaksanaan KKN hampir selesai. Sehari sebelum pulang, kami mengikuti acara perpisahan yg disiapkan oleh para pemuda dan para siswa SD.
Pada acara tersebut dihadiri juga oleh Kepala Desa beserta aparatnya.

Pada saat perwakilan kami diminta untuk memberikan sambutan, Ardan memintaku untuk melakukannya sebagai wakil dari para peserta KKN.

Aku pun melangkah sambil berpikir apa yg akan kukatakan kepada mereka.
Ku pegang mic lalu berbicara

"Assalaamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuhu.

Yang saya hormati ...

Terima kasih kepada seluruh warga desa yang telah menerima dan memperlakukan kami dengan baik.

Mohon maaf tak banyak pengabdian yang bisa kami lakukan untuk desa ini.
Namun segala permasalahan dan harapan dari warga telah kami cantumkan pada laporan yang nanti akan kami berikan kepada pihak universitas. Mudah-mudahan laporan tersebut ditindak lanjuti oleh pihak pemerintah daerah kabupaten dan merealisasikan harapan warga desa ini.
Sebagai penutup, kami memohon maaf apabila ada ucapan dan tingkah laku kami yang kurang berkenan. Besar harapan kami untuk tetap diterima apabila suatu saat kami kembali ke sini.

Wassalaamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuhu."
Lalu aku kembali ke tempat duduk dan menikmati setiap acara yang disuguhkan oleh mereka.

Setelah acara selesai, kami kembali ke rumah dan mulai berkemas.

Keesokan harinya kami pun berangkat dari desa tersebut menuju kampus menggunakan bus yang sudah tersedia di kecamatan.
Pada bus itu aku dan Inna duduk bersama di jok paling depan. Inna memulai percakapan dengan bertanya

"Seandainya setiba di kampus kita bertemu Lydia, apakah Aa akan meninggalkan Inna sendirian?"

Kupandang matanya yg nampak jelas menyorotkan rasa khawatir.
Kupegang tangannya yg terasa dingin. Aku pun tersenyum sambil menjawab

"Aa belum tahu apa yg akan Aa lakukan nanti. Tapi Inna gak perlu khawatir, Aa akan mengantar Inna sampai ke kostan"

Dia memegang tanganku lebih erat sambil tersenyum dan berkata

"Terima kasih A."
"Inna tidur saja, nanti Aa bangunkan setelah sampai kampus"

"Gak mau A, Na ingin menikmati perjalanan ini berbincang dg Aa. Boleh ya?" Inna merajuk.

"Tentu boleh, tp kalau suatu saat mata Aa terpejam, jangan diajak bicara atapun dibangunkan ya"

"Siap A" jawabnya penuh riang.
Pada saat bus sudah dekat dg kampus, aku mendapatkan penglihatan ttg Lidya. Aku tersenyum lalu berkata pada Inna

"Na, Aa akan mengenalkanmu pada Lydia setibanya kita di kampus"

Inna kaget mendengar perkataanku sekaligus juga senang.

"Iya A, tapi ko mendadak memberitahunya?"
Aku tak menjawabnya dengan kata-kata, hanya sebuah senyuman yg kuberikan pada saat itu.

Sekian cerita "Peristiwa pada saat KKN"

Sampai jumpa pada chapter berikutnya dengan judul

- "Hari yang Kelam" -
Informasi:

Bagi yang ingin membaca cerita "Peristiwa pada Saat KKN" dengan cara penyampaian yang berbeda dan lebih lengkap ceritanya. Saya akan membuatnya di watpadd. Link akan saya bagikan nanti minimal setelah saya membuat 2 part.

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with Aydinlatici

Aydinlatici Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @Aydin_Latici

21 Aug
** Peristiwa Pada Pelantikan Penerimaan Anggota Baru (PAB) Himpunan Jurusan **

#bacahorror #horrorthread #PerselisihanAntarAngkatan #StrategiKonflik #CeritaPendek #BukanSekedarHoror @bacahorror @ceritaht
Kejadian ini berlangsung sekitar 20 tahun yang lalu (persekitaran 2 tahun). Pada saat itu aku menginjak tahun kedua kuliah sehingga angkatanku mendapatkan tugas sebagai panitia pelantikan anggota baru himpunan jurusan.
Pada tahun itu terjadi beberapa konflik yaitu:

1. Adanya dualisme himpunan antara mahasiswa pendidikan dan non pendidikan sehingga berdiri himpunan baru yang anggotanya beberapa mahasiswa non pendidikan.
Read 32 tweets
19 Feb
** Kisahku Pada Masa Kuliah **

√ Chapter 3 | Pasca Ayah Tiada

#horrorthread #sadness #bacahorror @bacahorror @ceritaht
Seperti yang telah diceritakan pada chapter 2, Ayah meninggal sekitar pukul 21:25 WIB di RSUD.

Pukul 22:00 ambulance membawa kami pulang. Ibuku duduk di depan bersama Rama, sedangkan Aku duduk di bagian belakang bersama jenazah Ayahku.
Suara khas ambulance mengisi kesunyian malam sepanjang jalan. Jasadnya yang telah terbujur kaku tidak mampu menghilangkan senyumannya yang manis kepadaku. Sesekali kupeluk erat beliau dalam bisu, padahal jiwaku ingin berontak dan berteriak.
Read 58 tweets
22 Jan
~~ The Vision ~~

Kumpulan cerita fiksi yang terinspirasi dari kisah nyata.

#bacahorror @bacahorror @ceritaht
Sore itu Aku sedang berada di salah satu Mall yang khusus menjual barang-barang elektronik. Tujuanku berada di sana untuk membeli kartu grafis (VGA) baru karena VGA pada PC ku rusak dan sudah tak bisa diperbaiki.
Read 168 tweets
25 Dec 19
Based on True Story

** Kisahku pada Masa Kuliah **

| - Chapter 2 - |

`Hari yang Kelam`

#bacahorror
@bacahorror

#ceritaht
@ceritaht
@bacahorror @ceritaht ~~ Prolog ~~

"Papah, jangan pergi!" teriak Aydin ketika bangun dalam tidurnya kemudian duduk. Napasnya terengah-engah, peluh keringat membasahi wajahnya dan matanya mulai berkaca-kaca.
@bacahorror @ceritaht "Apa yang sebenarnya akan terjadi? Kenapa Nenek mengucapkan selamat tinggal dan mengajak Papah untuk mengikutinya?" gumam Aydin.
Read 141 tweets
16 Nov 19
Based on True Story

** Kisahku pada Masa SMU **

| - Chapter 3 - |

`Dimulainya Pertempuran Gaib`

#bacahorror
@bacahorror
@bacahorror Ketika Kakek meninggal dunia Aku merasa sangat kehilangan dan sedih yang begitu dalam. Salah satunya yaitu tidak akan lagi ada orang seperti beliau yang tiba-tiba datang ketika keadaan sedang genting, entah berkaitan dengan hal-hal medis maupun non medis.
@bacahorror Masih ingat cerita mengenai pelepasan sukma? Secara teori lama perjalanan dari rumah beliau ke rumahku paling cepat butuh waktu sekitar 2 jam, itupun jk memakai kendaraan pribadi. Namun pd saat itu 30 menit setelah Aku pingsan beliau sudah datang padahal tidak ada yg memberitahu.
Read 76 tweets
4 Nov 19
Based on True Story

** Kisahku pada Masa SMU **

| - Chapter 2 - |

` Peristiwa Meninggalnya Kakek `

#SpiritualExperience
#bacahorror @bacahorror
@bacahorror Pagi hari itu merupakan hari Jum'at di bulan Juli tahun 99. Saat itu masih liburan sekolah dan Aku sudah menaiki tangga pendidikan ke kelas 2 SMU.
@bacahorror Sudah satu minggu ibu berada di luar kota, tepatnya di tempat Kakek dan Nenek tinggal. Di sana beliau mengurus pengobatan Kakek ke salah satu RS yg cukup terkenal di kota tersebut dan hari ini beliau akan kembali pulang.
Read 71 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!

Follow Us on Twitter!