My Authors
Read all threads
Pocong Sumar •••
Manuk Kedasih #2



@bacahorror
#bacahorror
#threadhorror

Pict: Pinterest
Sebelum saya memulai cerita ini, silahkan baca cerita bagian 1 karena ada keterkaitan.



Silahkan RT & Like sebanyak-banyaknya 🤗
Setelah Pak Sumar dimakamkan, seperti biasa tradisi orang Jawa, keluarga Pak Sumar mengadakan tahlillan (kenduri) selama 7 hari berturut-turut. Selama 7 hari tersebut semua berjalan lancar dan baik-baik saja tanpa ada hal yang terjadi.
Setelah 7 hari berlalu, kejadian diluar nalar mulai dirasakan oleh beberapa warga di sekitar rumahku, termasuk aku sendiri pun mengalaminya.
Semua dimulai dari cerita Pak Darso yang mengaku telah dihantui oleh arwah Pak Sumar.

Malam itu Pak Darso sedang bersiap-siap akan berangkat ronda. Jam menunjukkan pukul 21.30 WIB. Ketika baru membulka pintu depan rumahnya. Tiba-tiba perutnya merasa sakit dan ingin buang air.
Akhirnya Pak Darso pun menutup kembali pintu rumahnya, dan berlari menuju kamar mandi. Waktu itu istri dan anaknya sudah terlelap tidur.
Kamar mandi Pak Darso tidak berada di dalam rumah, akan tetapi terpisah dari rumah. Jadi setelah pintu dapur, harus berjalan sekitar
5 meter untuk menuju kamar mandi. Di sebelah kamar mandi terdapat sumur yang biasa ditimba airnya untuk kebutuhan keluarga Pak Darso. Pak Darso buru-buru masuk ke kamar mandi, karena perutnya sudah sangat mules. Pak Darso pun sesegera mungkin menyelesaikan hajatnya,
karena teman-teman yang lain sudah menunggu di pos ronda. Namun, ketika hendak membasuh menggunakan air Pak Darso baru sadar bahwa ember di kamar mandinya kosong, yang berarti dia harus menimba di sumur terlebih dahulu. Akhirnya dengan terpaksa dia pun keluar dari kamar mandi,
dan mulai menimba air di sumur. Tiba-tiba, Pak Darso mendengar suara laki-laki menangis tersedu-sedu, terdengar sangat pilu dan sedih, suaranya begitu dekat. Pak Darso menghentikan timbaan airnya, dan mencoba lebih seksama mendengar apa yang dia dengar.
Dan benar saja, ada suara laki-laki menangis. Pak Darso curiga, bahwa itu adalah anaknya yang nomor 1 yang menangis. Karena anak pertamanya adalah laki-laki bujang yang sudah duduk di kelas 3 SMK. Dia pun sedikit mengintip ke balik sumur, karena sumur Pak Darso cukup tinggi,
jadi tidak dapat melihat apa yang ada dibalik sumur tanpa memutarinya. Ketika Pak Darso berjalan ke balik sumur, alangkah terkejutnya dia, bahwa ternyata yang dia lihat adalah bungkusan kain putih sedang berjongkok, dengan muka setengah hancur dan sangat mirip dengan Pak Sumar.
Pak Darso pun langsung lari terbirit-birit menuju dalam rumah, tanpa memperdulikan bahwa dia belum membasuh dengan air. Dia pun lari ke kamar membangunkan istrinya.
"Dek..dek..dek!! Tangi dek!!" (Dek..dek..dek!! Bangun dek!!) ucap Pak Darso sambil mencoba mengatur nafasnya yang
terengah-engah, tangannya yang basah oleh keringat dingin menggoyang-goyangkan tubuh istrinya.
"Ono opo to mas? Sampean ngopo kok megap-megap ngono?" (Ada apa sih mas? Kamu kenapa kok terengah-engah begitu?) jawab istrinya setengah terkejut.
"Aku ndelok pocong e Pak Sumar neng sumur dek!!" (Aku melihat pocong Pak Sumar di sumur dek) ucap Pak Darso terbata-bata sambil jari telunjuknya mengarah ke belakang rumah.
"Ora waton to Mas! Ora mungkin wong wis mati iso bangkit maneh!" (Jangan ngawur Mas! Nggak mungkin orang
sudah mati bisa bangkit lagi!) bantah istrinya kesal.
"Tenan dek! Aku ora ngapusi, dekne lagi ndodok neng pinggir sumur karo nangis." (Beneran dek! Aku nggak bohong, dia lagi jongkok di pinggir sumur sambil nangis) ucap Pak Darso masih meyakinkan istrinya.
"Halah wes Mas, sampean ki nglindur! Aku ngantuk!" (Halah sudah Mas, kamu tuh mengigau! Aku ngantuk!) ucap istrinya sambil berpaling membelakangi Pak Darso.

Pak Darso pun keluar dari kamar lalu menuju pintu depan dan bergegas ke pos ronda. Disana sudah berkumpul teman-teman
seperondanya. Disana ada Pak Rusdi, Mas Hendi, dan Pak Salim. Mereka bertiga nampak sedang bermain kartu remi sambil merokok dan minum kopi.
"Sampean nangndi wae kok lagi teko?" (Kamu darimana saja kok baru dateng?) tanya Pak Salim yang pertama melihat kedatangan Pak Darso.
Pak Darso tidak menjawab. Dia langsung duduk di samping teman-temannya, dia mengambil segelas kopi lalu meminumnya. Sementara teman-temannya masih asik bermain kartu.
"Kowe do ngandel ra, nek aku ngomong aku bar diweruih pocong e Pak Sumar?"
(Kalian bakal pada percaya gak, kalau aku ngomong aku habis digentayangi pocongnya Pak Sumar?) tanya Pak Darso spontan. Teman-temannya yang mendengar perkataan Pak Darso pun spontan tertawa terbahak-bahak. Mereka mengejek Pak Darso bahwa dia sedang mengigau dan berimajinasi.
"So..so..kowe ki ngopo to? Teko-teko kok yo ngomong ra cetho, ketoke kowe ki kurang piknik hahahaha" (So..so..kamu ini kenapa sih? Dateng-dateng kok malah ngomong yang nggak jelas, kayaknya kamu ini kurang piknik hahahaha) ejek Pak Rusdi menertawai Pak Darso yang disambut
tertawaan dari Mas Hendi dan Pak Salim.
"Pak, kadose jenengan niki namung keton-ketonen kaleh Pak Sumar, lha wong riyin kan rencang kenthel to Pak?" (Pak, kayaknya kamu ini hanya kebayang-bayang sama Pak Sumar, lah orang dulu kan teman dekat kan Pak?) ucap Mas Hendi menengahi.
Pak Darso hanya diam dengan ekspresi kesal kepada teman-temannya. Belum sampai Pak Darso menjawab. Tiba-tiba...
"Dug...dug...dug..." ada yang mengetuk-ngetuk kayu bagian belakang pos ronda.
Pak Darso dan lainnya pun terdiam sejenak. Namun suara itu masih berulang-ulang.
"He suara opo iku? Mesti ono sing jail iki! Heh sopo ning mburi? Ra gojeg!!" (He suara apa itu? Pasti ada yang usil ini! Heh siapa yang dibelakang? Jangan bercanda!!) bentak Pak Salim kesal.
Tidak ada jawaban. Justru suara orang mengetuk-ngetuk kayu belakang semakin cepat dan kencang. Pak Darso pun ketakutan.
"Ketok e iku Pak Sumar..ketok e dekne yo!!" (Kayaknya itu Pak Sumar..kayaknya dia nih!!) ucap Pak Darso dengan bibir gemetar dan ekspresi ketakutan.
Mereka pun sepakat untuk mengecek bersama-sama ke belakang pos ronda. Mereka berempat saling dorong satu sama lain agar menjadi yang paling depan. Akhirnya setelah sampai dibagian belakang pos ronda, yang mereka lihat adalah pocong yang sedang mengetuk-ngetukan kepalanya
di kayu bagian belakang pos ronda. Wajahnya setengah hancur, ketika menengok ke arah Pak Darso dan ketiga temannya. Mereka berempat pun lari tunggang langgang menuju rumah masing-masing, dan tak ada yang berani keluar rumah lagi.
Selepas kejadian tersebut, berita tentang arwah Pak Sumar yang gentayangan pun tersebar dengan cepat dari mulut ke mulut. Warga di sekitar rumahku pun menjadi sangat ketakutan dan tidak ada yang berani berada di luar rumah setelah maghrib tiba.
Berita tersebut pun sampai di telinga Bu Saodah dan Mas Robi. Mereka tidak percaya dan tidak terima dengan kabar yang beredar di warga sekitar. Mereka mengaku tidak pernah sekalipun dihantui oleh arwah suami dan bapaknya itu. Akibat berita yang beredar, Bu Saodah dan Mas Robi
memilih mengucilkan diri dari masyarakat. Mereka jarang sekali terlihat keluar rumah, kecuali saat Mas Robi sekolah. Bu Saodah hanya mengandalkan uang pesangon dan uang asuransi almarhum suaminya untuk hidup sehari-hari.
Malam itu selepas isya, Pak Mislam yang merupakan seorang takmir mushola di dekat rumahku, baru saja selesai membersihkan mushola hendak bersiap untuk pulang. Pak Mislam ini bisa dibilang orang yang sangat religius, tak heran dia dijadikan takmir mushola oleh warga di sekitar
rumahku. Pak Mislam telah selesai menyapu seluruh bagian lantai mushola dan membereskan sajadah serta peralatan ibadah yang lain. Dia pun mematikan semua lampu mushola dan bergegas mengunci pintu mushola. Ketika dia sedang mengunci, dia seperti melihat bayangan putih
memantul di kaca pintu mushola, yang berarti bayangan tersebut ada di belakang Pak Mislam. Karena mata Pak Mislam sudah sedikit rabun, dia tidak begitu jelas melihat bayangan apa sebenarnya itu. Dia pun membalikkan badannya, dan dia melihat pocong sedang berdiri tegap
di halaman mushola tepat dibawah tangga musholah. Pak Mislam yang imannya kuat pun beristighfar dan merapalkan ayat kursi. Menurut penuturan Pak Mislam, pocong itu memang mirip dengan wajah Pak Sumar yang sudah setengah hancur. Terhitung sudah 7 kali Pak Sumar merapalkan
ayat kursi, akan tetapi pocong itu bukannya pergi dan menghilang, justru menangis tersedu-sedu. Pak Mislam pun mencoba bertanya, "Jenengan wonten perlu nopo kok ngganggu warga mriki?" (Kamu ada keperluan apa kok mengganggu warga sini?) tanya Pak Mislam kepada pocong tersebut.
Pocong itu tidak menjawab dan tetap menangis.
"Nek jenengan boten purun sanjang, njih sampun kula pamit badhe wangsul riyin." (Kalau kamu nggakmau bilang, yasudah saya pamit mau pulang dulu) ucap Pak Mislam seraya berlalu meninggalkan pocong tersebut. Baru beberapa langkah
Pak Mislam berjalan, Pak Mislam menengok ke belakang dan sosok tersebut sudah menghilang. Pak Mislam pun mulai merasa merinding dan mempercepat langkahnya menuju rumah lalu menceritakan kejadian yang baru saja dia alami kepada istrinya.
Keesokan paginya, istri Pak Mislam menceritakan kejadian yang dialami oleh suaminya kepada para tetangga, Ibu-ibu yang kebetulan sedang berbelanja sayur bersama.
"YaAllah, kok iso yo almarhum Pak Sumar ki gentayangan, ngopo kok ra tenang neng alam kono.." (YaAllah, kok bisa ya
almarhum Pak Sumar gentayangan, kenapa kok nggak tenang di alam sana..) tanggap salah satu Ibu yang sedang berbelanja ketika selesai mendengar cerita istri Pak Mislam.
"Iyo e, padahal Pak Sumar ki biyen uwong e apikan yo? Ya walaupun emang jarang srawung karo tonggo,
tapi seorane ratau gawe polah sek macem-macem ki.." (Iya, padahal Pak Sumar dulu orangnya baik ya? Ya walaupun emang jarang berkumpul dengan tetangga, tapi seenggaknya gak pernah bikin tingkah yang macam macam) sahut Ibu yang lain.

***
Pagi-pagi buta, sekitar pukul 02.30, Bu Misem, seorang pedagang sayur keliling, dia hendak berangkat ke pasar besar di kota. Karena dia berdagang menggunakan sepeda ontel dengan keranjang di samping kanan dan kiri, maka mau tidak mau dia harus berangkat lebih awal
ke pasar agar masih mendapatkan sayur-sayuran segar dan lengkap. Bu Misem ini rumahnya ada di atas rumahku agak jauh, hampir di dekat hutan karet. Jadi ketika dia berangkat dan pulang, dia selalu menuntun sepedanya.
Kebetulan sebelah barat rumah Pak Sumar persis merupakan jalan kecil alternatif menuju desa sebelah yang mengarah langsung ke pasar. Jalan tersebut hanya berkapasitas satu pengendara sepeda/sepeda motor. Jika berpapasan pun akan sangat sulit sekali, sangking sempitnya jalan itu.
Dan Bu Misem memang selalu lewat jalan tersebut ketika pergi dan pulang dari pasar. Saat dia sampai di sebelah barat rumah Pak Sumar, dia merasakan hawa yang lebih dingin dari sebelumnya. Bulu kuduknya pun berdiri, dia berusaha mempercepat langkahnya,
karena perasaannya benar-benar tidak enak, dia memutuskan untuk menaiki sepedanya, jalan disitu masih turunan, jadi bisa melaju tanpa perlu dikayuh. Bu Misem melaju beberapa meter sebelum ada yang menghadang, bukan di tengah jalan, tetapi di tepi jalan kecil tersebut.
Buntalan putih yang tengah berdiri di tepi jalan dengan kepala menunduk. Bu Misem yang sudah melihat beberapa meter sebelumnya pun begidik ngeri dan berteriak ketakutan. Sepeda yang dinaikinya oleng dan akhirnya terjatuh tepat satu meter sebelum sosok itu berdiri.
Kepala Bu Misem menghantam batu yang cukup besar, awalnya dia masih sadar namun matanya sudah berkunang-kunang. Dengan setengah kesadarannya, Bu Misem mendengar suara laki-laki berbicara dengan nada yang sedih.
"Yu, tulungi aku Yu..." (Mbak, tolongin aku mbak...) ucap sosok tsb.
Setelah itu Bu Misem pingsan. Dan baru ditemukan oleh warga yang hendak ke kota saat hari mulai terang. Bu Misem dibawa ke rumahku, karena rumahku adalah yang paling dekat kedua dari lokasi kejadian. Sebenarnya lebih dekat dengan rumah almarhum Pak Sumar, namun
karena Bu Saodah dan Mas Robi tidak pernah keluar dari rumah, warga pun tidak enak hati jika harus menganggunya. Aku yang melihat Bu Misem pingsan dengan sedikit luka di dahinya terkejut. Ibuku mengambilkan air putih hangat dan minyak kayu putih.
Bu Misem diberi minum, dan beberapa saat kemudian tersadar. Dia sangat ketakutan dan badannya gemetar. Tak lama setelah itu, suami Bu Misem datang untuk menjemput, karena memang ada satu warga yang memberi kabar kepada suami Bu Misem dirumah.
Saat suaminya datang, Bu Misem menangis sejadi-jadinya sambil memeluk suaminya. Dia meracau tidak jelas. Seperti ingin menceritakan sesuatu, tetapi masih sangat ketakutan. Setelah ditenangkan oleh suaminya, akhirnya Bu Misem bisa bercerita walaupun dengan sedikit terbata.
"Mau pas aku lewat neng kulon omahe Pak Sumar, onok pocong e Pak Sumar ngadang aku neng dalan kui. Aku yo keweden banget trus oleng trus tibo, aku sempet ngorong-ngorong tapi jam semono durung enek sing tangi yoan.." (Tadi waktu aku lewat di barat rumah Pak Sumar, ada pocongnya
Pak Sumar menghadangku di jalan itu. Aku ya ketakutan banget trus oleng trus jatuh, aku sempat teriak-teriak tapi jam segitu belum ada yang bangun sih..) jelas Bu Misem sambil mengelap sisa air matanya.
Beberapa warga yang berkerumun di rumahku dan mendengar cerita Bu Misem pun
mulai geram dengan gangguan yang dilakukan almarhum Pak Sumar yang mulai merugikan warga.
"Wah nek ngene ki terus, iso-iso kabeh warga neng kene bakal diganggu. Nek nganti gawe warga cidro yo gelem ra gelem awakdewe kudu ambil tindakan!" (Wah kalau begini terus, bisa-bisa semua
warga disini bakal diganggu. Kalau sampai bikin warga terluka ya mau nggak mau kita harus ambil tindakan!) teriak salah satu warga dan di setujui oleh warga yang lain. Namun Bu Misem kembali angkat suara.
"Eh, sek sek, Bapak-bapak, Ibu-Ibu.. mau ki pas aku wis arep semaput, aku
seh krungu pocong e kui ngomong 'Yu tulungi aku yu..' ngono kui, jal? Opo ojo-ojo ono sing ra beres?" (Eh, sebentar-sebentar, Bapak-bapak, Ibu-Ibu.. tadi itu waktu aku sudah mau pingsan, aku sempat mendengar pocongnya ngomong 'Mbak tolongin aku Mbak.." gitu, coba?
Apa jangan-jangan ada yang tidak beres?) ucap Bu Misem menenangkan warga.
Warga disitu terdiam sejenak dan saling pandang satu sama lain. Mereka pun bertanya-tanya ada apa sebenarnya. Tak berselang lama, Bu Misem dan suaminya pamit untuk pulang dan mengucapkan terimakasih
kepada keluargaku karena telah menyediakan tempat untuk menolongnya.
Sedangkan warga yang lain, satu persatu membubarkan diri dengan pertanyaan yang masih mengganjal di pikiran mereka masing-masing.

***
Selepas shalat maghrib aku diperintah Ibu untuk membeli gula di warung. Kebetulan warung terdekat dari rumahku ada di atas sekitar 20 meter. Awalnya aku menolak karena takut. Akan tetapi Ibu memaksa, aku pun luluh karena aku kasihan melihat Ibu yang sedang menidurkan adikku,
sementara seharian tadi Ibu sudah lelah bekerja. Aku pun pergi ke warung sendirian. Jalanan sangat sepi malam itu, karena seperti sudah ku bilang sejak ada kabar yang beredar tentang arwah Pak Sumar gentayangan, tidak ada warga yang berani berada di luar rumah setelah
maghrib tiba. Aku setengah berlari menuju warung, beruntung warung masih buka walaupun sudah tertutup setengahnya. Aku pun membeli gula lalu bergegas pulang. Di jalan pulang, aku lagi-lagi setengah berlari. Aku melewati 2 rumah warga dan 2 kebun milik warga.
Ketika sudah mendekati rumahku, di pojokan kebun ada semak-semak dan ilalang yang cukup tinggi, aku mendengar ada suara laki-laki menangis. Dan ku dengar sumber suara tersebut dari semak-semak. Awalnya aku ragu, aku pikir aku hanyalah terlalu parno dan termakan sugestiku sendiri.
Aku mencoba mendengarkan lebih seksama dengan berhenti di samping semak-semak, dan semak-semak tersebut bergoyang-goyang seperti ada yang bersembunyi dibaliknya. Aku melihat ada kain putih yang bergerak-gerak dibalik semak-semak tersebut. Aku pun langsung berlari
menuju rumahku dan buru-buru masuk ke dalam.
"Ono opo to nduk kok playon?" (Ada apa nak kok lari-lari?) tanya Ibuku di ruang tamu setengah mengagetkanku.
"Gara-gara Ibu ki mekso aku neng warung, miki pas balik aku diweruih Pak Sumar neng grusekan pojok kebon kui!"
(Gara-gara Ibu nih maksa aku ke warung, tadi pas balik aku di hantui Pak Sumar di semak-semak pojokan kebun situ!) umpatku dengan sedikit kesal kepada Ibu.
Hari-hari berlalu, semakin banyak warga yang memgaku telah dihantui oleh pocong Pak Sumar. Desas-desus itu semakin luas tersebar sampai ke seluruh penjuru desa. Salah satu warga di dekat rumahku melaporkan hal ini kepada Kepala Desa. Namun, sampai sejauh ini tidak ada
tindakan ataupun musyawarah apapun mengenai hal ini.
***
Sampai pada akhirnya, pada suatu malam, lagi-lagi Pak Mislam selepas shalat isya sedang beberes di mushola, bersiap hendak pulang. Dan lagi-lagi sudah ada yang menunggu di halaman mushola, masih sosok yang sama seperti
sebelumnya. Sosok itu lagi-lagi menangis tersedu-sedu dengan kepala menunduk.
Pak Mislam pun beristighfar sebanyak 3x lalu menarik nafas panjang.
"Bismillah...ngapunten nggih Pak utawi Mas, panjenengan sakjane wonten perlu nopo ten dusun mriki? Panjenengan mestine sampun
mangertos, nek warga mriki sampun resah sanget kaleh gangguan e sampeyan. Kula nyuwun sanget kaleh sampeyan, nek memang boten wonten perlu nopo-nopo, sumonggo kerso ampun balik-balik maleh ten dusun mriki, sing tenang ten alam mriko. Nanging nek memang wonten sing
badhe jenengan sampaikan monggo saged disampaikan ten kula, mbok menawi kula saged biantu masalah jenengan.." (Bismillah...maaf ya Pak atau Mas, kamu sebenarnya ada keperluan apa di desa sini? Kamu pastinya sudah mengerti, kalau warga sini sudah resah banget dengan gangguan
yang dilakukan olehmu. Saya minta dengan sangat ke kamu, kalau memang tidak ada keperluan apa-apa, silahkan jangan kembali lagi ke desa sini, yang tenang di alam sana. Tapi kalau memang ada yang mau kamu sampaikan ke saya, silahkan siapa tau saya bisa bantu masalahmu..)
ucap Pak Mislam dengan tenang kepada sosok itu. Sosok itu masih menangis, dan tak lama kemudian sosok tersebut mulai bicara.
"Pak, kula niki kudune dereng wayaeh mati. Nek kula mati sinten sing ngurusi anak kula Robi? Jenengan ngertos to kahanane Robi kados pundi.."
(Pak, saya ini harusnya belum waktunya mati. Kalau saya mati, siapa yang mengurus anak saya Robi? Kamu tau kan keadaannya Robi kaya gimana..) jawab sosok tersebut masih menangis.
"Pak..ikhlas nggih, sedoyo niki sampun takdir sangking Gusti Allah, Pak Sumar tenang mawon
kan teksih wonten garwo sampeyan Bu Saodah sing saged ngrumat Robi.." (Pak..yang ikhlas ya, semua ini sudah takdir dari Allah, Pak Sumar tenang saja kan masih ada istrimu Bu Saodah yang bisa merawat Robi..) jawab Pak Mislam menenangkan.
Mendengar jawaban Pak Mislam, sosok tersebut justru semakin menangis sesenggukan.
"Pak..kula sanjang jujur niki kaleh sampeyan, bojo kula niku onten hubungan kaleh priyai benten. Piyambak e nggih mboten dipenggalih le ngrumat Robi, mergo kahanane Robi kados niku. Boten sempurna.
Kadang malah boten purun mengakui nek Robi niku putrane.." (Pak..saya bicara jujur dengan kamu, istri saya itu ada hubungan dengan pria lain. Dia juga nggak sampai hati dalam merawat Robi karena kondisi Robi yang seperti itu. Nggak sempurna. Kadang malah nggak mau mengakui kalau
Robi itu anaknya..) ucap sosok tsb dengan tangis yang tersedu-sedu.
Akhirnya Pak Mislam pun mengetahui segala permasalahan yang membuat arwah Pak Sumar tidak tenang. Pak Mislam mencoba membujuk Pak Sumar untuk tidak mengganggu warga disini lagi,
sementara Pak Mislam akan merundingkan dengan beberapa warga yang dapat dipercaya tentang masalah Pak Sumar ini.
Keesokan harinya selepas shalat isya berjamaah di mushola, Pak Mislam melarang beberapa warga untuk pulang terlebih dahulu. Pak Mislam menyampaikan bahwa ada hal yang perlu dirundingkan bersama.
Disana ada Pak Salim, Pak Darso, Pak Riswan, dan Mas Ipul.
Mereka pun melingkar di dalam mushola. Dan dibuka dengan salam oleh Pak Mislam. Kemudian dilanjutkan dengan basa-basi untuk mengawali musyawarah malam itu.
"Ngoten loh Bapak-Bapak, kula nglumpukke ten mriki mergo wonten sing badhe kula sampaikan, nggih berkaitan kaleh almarhum
Pak Sumar.." (Begini loh Bapak-Bapak, saya kumpulkan disini karena ada yang mau saya sampaikan, berkaitan dengan almarhum Pak Sumar..) ucap Pak Mislam mengawali perundingan.
Semua orang yang ada disitu tampak mendengarkan dengan seksama apa yang disampaikan oleh Pak Mislam.
Pak Mislam menceritakan bahwa semalam dia ditemui oleh almarhum lagi, dan almarhum mau menceritakan apa penyebab dia masih bergentayangan. Sebenarnya tidak ada maksud mengganggu, hanya ingin meminta pertolongan. Arwah Pak Sumar sudah mencoba mendatangi istrinya, Bu Saodah untuk
menyampaikan apa yang membuatnya tidak tenang. Akan tetapi Bu Saodah sudah keras hatinya, tidak terpengaruh apapun dengan ucapan arwah Pak Sumar dan justru menganggap dirinya sedang berimajinasi saja bertemu dengan almarhum suaminya itu.
Menurut Pak Sumar, selama Pak Sumar masih hidup, dia lah yang selalu merawat Robi sepenuh hati, bahkan dari Robi masih bayi. Pak Sumar menerima segala kekurangan anaknya itu. Ketika Robi beranjak dewasa, beberapa kali Pak Sumar menemukan Bu Saodah sedang memukuli anaknya itu.
Tubuh Robi sering memar-memar karena dipukul sapu atau sulak. Kadang jika Pak Sumar sedang ada urusan pekerjaan ke luar kota, Robi tidak diberi makan. Karena Pak Sumar memiliki sebuah usaha jual beli barang dan bisnisnya sudah lumayan berkembang, akhirnya mengharuskan
dia sering ke luar kota untuk bertemu dengan klien-kliennya. Ketika Pak Sumar pulang dari kota, tak jarang dia menemukan Robi dalam keadaan demam dan sakit karena kelaparan dan dehidrasi. Pak Sumar sempat akan mempekerjakan orang khusus untuk merawat Robi ketika dia pergi ke kota
Akan tetapi, istrinya selalu melarang dan selalu berjanji tidak akan menyakiti Robi lagi. Namun nyatanya selalu berakhir sama.
Sampai suatu ketika Pak Sumar memergoki Bu Saodah sedang bertelfonan dengan seorang laki-laki dengan panggilan yang mesra, akan tetapi karena Pak Sumar
ingin menjaga perasaan Robi, akhirnya Pak Sumar memilih untuk pura-pura tidak tahu istrinya itu selingkuh.
Semenjak Pak Sumar meninggal, Bu Saodah dan Robi memang sangat jarang terlihat keluar rumah. Robi hanya keluar ketika dirinya sekolah itupun selalu dipesankan ojek
oleh Bu Saodah untuk mengantar jemput Robi. Memang beberapa kali aku melihat Mas Robi di sekolah belakangan ini badannya semakin kurus dan tak terawat. Sementara Bu Saodah, sangat jarang ada warga yang melihat batang hidungnya.
Almarhum Pak Sumar menceritakan bahwa sejak dirinya meninggal, Robi semakin sering disiksa oleh istrinya. Bahkan Bu Saodah sering berhari-hari tidak pulang ke rumah hanya karena berkencan dengan selingkuhannya.
Disitu aku baru tahu, berarti Mas Robi pun sering membolos sekolah.
Pak Sumar hanya ingin meminta pertolongan kepada warga di sekitar rumahnya, agar membantu menjaga Robi dan membantu selalu menasehati istrinya agar berubah.
Selesai Pak Mislam menyampaikan seluruh cerita yang dia ketahui dari almarhum Pak Sumar, warga yang berunding pun
memutuskan untuk merawat Robi secara bergotong royong dengan cara setiap hari membawakan makanan untuk Robi dan rutin mengecek keadaan Robi. Akhirnya mulai keesokan harinya, warga bergantian ke rumah Bu Saodah membawakan makanan untuk Robi.
Karena Bu Saodah ketika ada warga yang berkunjung ke rumah selalu berlagak baik kepada Robi. Sangat berbeda dengan yang diceritakan almarhum Pak Sumar.
Semenjak perundingan itu, Pak Sumar tidak pernah lagi menampakkan dirinya lagi.
Prinsip warga disini yang terpenting warga sudah berusaha membantu merawat Robi semampunya. Entah di belakang Bu Saodah bertindak seperti apa kepada Robi, warga sudah tak bisa ikut campur.
Beberapa bulan kemudian Bu Saodah menikah lagi dengan laki-laki yang Pak Sumar sebut
sebagai selingkuhan Bu Saodah.
Lambat laun, sekitar 2 tahun kemudian, Robi meninggal dunia. Menurut Bu Saodah Robi terkena kanker tulang, warga pun percaya saja karena memang seminggu sebelum Robi meninggal, Robi sempat dirawat di Rumah Sakit. Namun lagi-lagi tidak bisa
dipastikan apakah Robi benar-benar mengidap kanker tulang atau justru karena di siksa oleh Bu Saodah.
Sekian.
Cerita Pocong Sumar selesai-tamat.

Terimakasih sudah membaca, nantikan cerita selanjutnya 🙏😊

- @niskala_sekala -
Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh.

Enjoying this thread?

Keep Current with Sekala Niskala

Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

Twitter may remove this content at anytime, convert it as a PDF, save and print for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video

1) Follow Thread Reader App on Twitter so you can easily mention us!

2) Go to a Twitter thread (series of Tweets by the same owner) and mention us with a keyword "unroll" @threadreaderapp unroll

You can practice here first or read more on our help page!

Follow Us on Twitter!

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just three indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3.00/month or $30.00/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!