kalong Profile picture
30 Jan, 198 tweets, 23 min read
A thread
Creepy horror story

"GUNUNG DEMPO"

#bacahorror #bacahoror #threadhorror
Story of Jerri Ramdanu

Assalamuallaikum
Kembali dengan saya Iphend Alzikra, akan mengangkat sebuah kisah pendakian horor.
Gunung beselimut kabut, menghias memutih menjadi sebuah keindahan yang menyembunyikan misteri nya. Dempo, gunung yang Indah di Sumatra selatan berdiri dengan gagah menjulang langit.
Aku Jerri menyusun rencana untuk kembali menaiki ketinggian bersama dengan teman-teman ku, sahabat gokil yang selalu ada disaat susah mau senang. Mereka lah yang mengikuti langkah kaki menyusuri kemegahan raya nan agung.
Muara Enim 23 juni
Kami delapan sahabat memulai petualangan seru yang akan selalu teringat akan keindahan juga kejanggalan beberapa kejadian mistis.
Jam 10 pagi dengan berboncengan empat motor kami meluncur dengan semangat jiwa muda yang pantang menyerah menaklukan ketinggian.
Hujan mulai turun ditengah pertengahan perjalanan, membuat kami harus singgah di suatu warung. Ngopi disuasana hari hujan yang dingin membuat jadi sangat istimewa. Namun keusilan sahabatku Jack dimulai dengan mengeluarkan pupuik tanduk (terompet yang terbuat dari tanduk binatang)
"Sangsakala oe"
Teriak nya usil memain kan pupuik itu

"Udah jangan usil lah"
Ucap ku pada Jack.

"Ga papa lah, biar seru"
Teriak Nanda, yang berlari ikut meniupkan terompet itu.
Ketika pupuik dibunyikan alam serasa lain, suasana yang semula adem, tenang, berubah dengan berhamburan nya burung disekitar. Kami yang tidak memahami hal ghaib hanya mengacuhkannya, disini mungkin hanya aku yang merasakan satu keanehan itu.
Pupuik tanduk dimasa kuno itu untuk pertanda pemanggilan, meyerukan peperangan, bisa juga untuk mengabarkan peristiwa. Dan kali ini bunyi itu seperti menandakan kami datang membawa peperangan dengan penghuni Dempo.
Hujan reda kami lanjutkan kembali perjalanan menyusuri kelokan jalan yg terjal dan rawan akan kecelakaan itu. Sampai disebuah jembatan yg berpapan selamat datang, kami istirahat lg diarea ini.
Kembali pupuik itu dikeluarkan lalu dibunyikan oleh Jack, dan bergantian dengan yang lain nya.

"Videoin lah Jerr, buat dokumentasi"
Pinta Jack pada ku.
Padahal disini perasaan ganjil sudah sangat bisa aku rasakan, entah seperti diawasi oleh mata astral yang membuat tak nyaman, was-was muncul dengan tiba-tiba. Entah ini salah atau tidak, yang jelas memainkan pupuik seakan membangunkan jin yang berada disitu.
"Udah belum oe...

"Iya, iya... siap"
Tiga kali terompet itu dibunyikan, lalu kami kembali kumpul untuk menyaksikan video itu namun hasil nya zonk. Video tidak bisa diputar, sementara kondisi hp sangat normal, memori juga OK, hanya tidak bisa diputar sama sekali hasil nya.
Berulang kali ku restart handphone hasil nya tetap sama.

"Kok ngebug gini ya!"
Kata ku pada yang lain.

"Hp mu kali itu, minta ganti baru"
Celetukan salah satu sahabat ku.

"Coba videokan yang lain Jerr"
Aku coba video kan kami semua yang berada disitu, dan beberapa background alam sekitar semua nya hasil normal, saat diulang untuk kedua kali nya video dengan membunyikan pupuik, hasil tetap sama bug, video eror patah-patah, macet.
"Sudah lah foto aja"
Kata ku yang sudah tidak nyaman lagi berada diarea jembatan ini, dengan tingkah konyol teman-teman.

****
Siang sehabis dhuhur sekitaran pukul dua siang, rombongan tiba dirumah teman ku di Pagar alam. Sambil beristirahat, menikmati nikamatnya kopi asli daerah situ dengan dibarengi ngobrol ala pendaki, menceritakan perjalanan dulu, keseruan mendaki juga misteri nya.
Alam tidak akan pernah lepas dari hal ganjil dan kelam nya mistis, karena alam adalah keelokan yang menjadi sumber para dedemit. Kita yang mencintai alam maka akan faham jika kita sangat dekat dengan mereka tanpa jarak.
"Pada mau naik gunung ya nak?"
Kakek sahabat ku itu bertanya.

"Iya kek, mau mendaki gunung"
Jawab ku

"Cuaca sedang tidak bagus, jangan naik"
Imbuh nya.
Kami hanya saling pandang mendengar ucapan itu, "sudah sampai sejauh ini kalau sampai ga jadi muncak kan rugi banget" hanya itu yang keluar dari dalam batin.
Benno yang sudah siap menenteng carriel nya mulai mengajak kami berangkat, takut kemalaman dijalan saat naik.

"Ben, kalau mau naik sebaik nya besok saja" Kakek nya menginggatkan kembali
"Lah, ga papa kek, pelan-pelan naik nya"
Jawab Benno.

"Diatas badai, juga penunggu gunung sedang ada pesta, kalian kalau memamang nekat naik sebaiknya sebelum gelap" jelas kakek pada kami semua, yang hanya mengiyakan nasehat orang tua itu.
Mungkin kebatinan kakeknya Benno sudah sangat dekat dengan penunggu Dempo hingga bisa tau keadaan alam diatas sana, baliau juga tau jika astral sedang ada kegiatan dalam alam lain.
Kita bisa sembunyikan kecemasan dalam hati dimata telanjang kakek itu, namun mata hati nya menyaksikan ketakutan kami semua.

***
"Keraguan terkadang akan menjadi sugest yang akhirnya menuntun dalam alam ketakutan, sementara aura ketakutan itu yang akan menjadi senyum diwajah-wajah para lelembut. Lawan rasa takut sebisa mungkin, jangan jadikan diri menjadi mainan mereka"
Mendung sore menghias diperjalanan kami, air langit yang menggantung itu belum tuntas selesaikan basahi bumi. Dengan laju motor yang pelan kini kami bersembilan , menyusup kabut yang basah itu, hamparan perkebunan teh kami nikmati dengan badan yang mulai menggigil.
Sebelum itu, kami singgah disalah satu mini market untuk mencari tambahan logistic. Beberapa barang sudah dibeli, saat packing ulang kembali hujan mengguyur bumi, ditambah angin yang mengelus air yang berjatuhan itu terlihat bagai barisan jarum menggelombang.
Gelap nya langit masih terlihat tebal menandakan akan lama hujan reda.

"Kamu beli apa saja?"
Tanya ku

"Ya bahan makanan, air, sama rokok"
Jawab Sam bendahara team.

"Sisa dana masih berapa?, beliin anggur merah saja, haha" Nanda yang bertanya.
"Jangan oe, pantangan naik gunung minum begituan" Ujar Benno

"Ga lah dia bercanda bro" Sahut Jack, menjelaskan.
Akan menjadi salah satu peraturan, jika dilarang membawa atau mengkonsumsi minuman beralkohol selama melakukan pendakian digunung mana pun.
Karena akan sangat berbahaya jika kehilangan akal sehat selama memasuki belantara.
Walau tidak sedikit masih sering ditemui pendaki yang demikian dengan dalih untuk menghangatkan badan, tidak sebanding dengan resiko nya, sangat berbahaya.
Meredanya guyuran hujan menunjukan hari kian sore, remangan alam mulai menghantarkan gelap dengan mentari yang menghilang berlagan. Bergerak lagi kami sampai ke kampung empat, kabut yang sangat tebal, seakan menandakan halangan untuk kami melakukan pendakian kali ini.
Wejangan kakek nya Benno juga menjadi bahan timbangan untuk kami semua.

Hanya kami berlima yang sudah diarea ngecamp sembari menunggu kami berfoto-foto, namun disitu terdengar suara anak burung yang berada dibawah kami,
sontak kami berpencar mencari sumber suara itu, namun sudah sangat lama tidak ditemukan apa-apa.
"Udah jangan dicari lagi"
Ajak ku ke yang lain.

"Ya sudah kita buka tenda saja sambil nunggu yang lain tiba"
Ajak Benno pada kami.

Keganjilan mulai terjadi lagi disore yang gelap ini. Ketika sahabat ku bertanya.
"Jerr lu manggil gua"
Tanya Ilham

"Engga lah, Salah denger kali kamu"
Terang ku dia.

"Seriusan lah, kagak manggil kah? Asli gua denger suara elu panggil barusan"

"Ahh ellah, engga bro, sumpah"

Sampai obrolan kami dipotong oleh Benno yang ngajak ngecamp segera.
Lalu kami membuka tenda disebuah pelataran yang datar diarea kebun teh ini, mengharap hujan tidak terlalu dasyat menerpa kami yang hanya bersembunyi dibalik tenda. Setelah satu tenda berdiri,akhirnya rombongan yang lain baru tiba, dan langsung nyusul mendirikan satu tenda lagi.
Aku dapat bagian setenda dengan Benno, Ilham, juga Tian. Sementara tenda stau nya diisi oleh lima orang, Jack, Nanda, Sam, Irfan, dan Fadly.
Dua tenda yang berhadapan itu kami gunakan, di sela ditengah nya untuk memasak makan malam. Menyeduh kopi, sambil menghembuskan kepulan asap rokok adalah cara yang nikmat untuk menunggu masakan siap.
Beberapa tenda terlihat menghias berbaris dibawah kami, warna-warni samar terhalang pekat nya kabut.
Andai malam ini tidak berkabut dan mendung, alam akan sangat indah dinikmati ketika petang hari.
Terkadang alam juga susah diprediksi, menyembunyikan keindahannya agar menjadi Tanya dan mengajak kembali hadir untuk melengkapi perjalanan selanjutnya.
Di balik semua itu juga pasti ada keindahan lain yang tidak begitu sempurna, sebagai mana pun alam masih selalu menyuguhkan pesonanya.

"Siapa saja ni yang mau temenin aku turun ambil air?"
Tanya ku kepada yg lain.

"Yok, biar aku temenin, siapa lagi?"
Benno yg kini bertanya.
"Kami cari kayu bakar ya jadi ga ikut ambil air" Kata Ilham yang mengajak Tian.

Sementara yang lain masih sibuk bereskan tenda juga peralatan lain, hanya aku dengan Benno yang turun mengambil air.

****
Sesampainya dimata air kami mengambil wudhu, hingga terdengar suara berisik para rombongan. Ada juga yang melempar batu ke dekat kami.

"Woe bang, jangan lempar gitu donk"
Teriak ku
Namun sama sekali tidak ada jawaban dari atas sungai, lalu setelah botol air terisi, kami naik juga sambil memastikan siapa yang jail tadi.
Tapi suasana sepi tidak ada rombongan yang terlihat. Sampai kami tiba di tenda tidak menjumpai rombongan yang baru saja naik.
Kopi panas dan makan sudah menyambut ku dan Benno, kami pun menikmati karunia Tuhan yang tidak akan terbantahkan lagi. Sampai.

"Aku turun bentar ya, ada perlu sama teman ku di desa bawah"
Kata Nanda.
Lalu dia pergi dengan motor nya turun menghilang dibalik kabut, entah janjian apa dia dengan temannya, kami pun tidak tau.
Karena rokok juga sudah habis aku pun turun dengan ditemani Benno untuk mencari warung dibawah, hari makin gelap dengan kondisi motor ku yang normal pencahayaan saja terlihat sangat redup, menyisakan jarak pandang yang sangat minim karena tebal nya kabut malam ini.
"Terkadang satu kesalahan akan berujung hal yang sangat fatal, sebisa nya sebagai manusia yang membawa diri harus bisa menempatkan diri. Yang terlihat wajar buat manusia belum tentu jadi kewajaran bagi makhluk lain"
Malam berkabut, jalanan sepi tanpa terlihat apa pun. Jarak pandang yang hanya beberapa meter aku yang harus merapal menuruni sisiran beraspal dengan motor mencari sebuah warung.
Dingin sudah sangat menusuk kedalam tulang, jemari yang serasa membeku berat mengendalikan laju motor.
Tidak heran jika banyak terjadinya kecelakaan dengan suasana alam seperti ini, karana mata susah membedakan mana jalan atau jurang. Harus sangat berhati-hati, menuruni curamnya jalan dan tikungan yang tidak terduga akan adanya kendaraan lain dari lawan arah.
Sebuah warung kecil masih buka, kami singgah untuk membeli rokok.

"Kamu ga beli apa-apa lagi?"
Tanya Benno

"Ga bro, beli rokok saja dua bungkus"
Jawab ku

"Ya sudah, biar sekalian ga bolak-balik lagi"
Terang sahabat ku ini
"Ga lah, ini saja.. memang kamu ga cari apa-apa buat besok naik ke puncak?"
Kini aku yang bertanya

"Udah ga sih, semua masih ada kelengkapan ku"
Sejenak kami beristirahat mengembalikan kondisi suhu tubuh, sebelum kembali naik keatas. Duduk didepan warung dan menghisap sebatang rokok untuk mengusir dingin.
Perjalanan naik yang kami lakukan berasa sangat lama, sampai berjam-jam tidak juga sampai ke area ngecamp, bahkan teringat jika sudah melewati satu area berulang kali, sampai menemukan satu rombongan pendaki yang tengah berjalan naik.
"Bang, mau ke kampung empat ya?"
Tanya ku menyapa

"Iya, kenapa?"
Salah satu orang menjawab dengan nada yang terlihat emosi.

Tiba-tiba Benno tancapkan gass, lajukan motor meninggalkan rombongan tadi.
"Ehh, kenapa sih?
Tanya ku.

"Kamu ga perhatikan tadi, wajah mereka semua kayak mayat, pucat banget bro"
Jawab Benno.

"Hah, aku ga begitu perhatikan bro"

"Sudah Bismillah saja"
Setelah kami baca basmalah dan berdoa ga sampai lima menit kami sudah tiba di pelataran tenda. Memang terlihat sangat menakutkan wajah-wajah tadi setelah kembali aku ingat.

****
Disini akan ada yang saya skip sedikit dari kisah asli nya, untuk menjaga beberapa privasi pendaki, dan menjaga nama baik dari alam Dempo itu sendiri.
Singkat cerita ketika fajar menyingsing, mentari terlihat bersinar cerah menggantikan malam yang diguyur derasnya hujan berkepanjangan. Kabut mulai berangsur mengurang hingga menyisakan halangan putih yang tipis.
Aktivitas telah terlihat oleh beberapa pendaki lain, disini kami sembilan orang hanya memilih santai menikmati hangat nya kopi dan sarapan pagi.
Rencana siang ini pendakian hanya akan dilakukan oleh kami berlima saja, yang empat orang terpaksa turun, karena hal semalam yang membuat kami tidak bisa mengajak mereka melanjutkan pendakian.
Tentunya dengan rundingan juga kesepakatan bersama untuk menghindari resiko yang akan team tanggung.
Kami setelah berpisah dengan empat sahabat kini menyisakan aku, Benno, Jack, Sam, juga Ilham untuk meneruskan langkah.
Dengan berbagai obrolan dan pembahasan kami memulai petualangan ini dengan doa yang dipimpin oleh Benno sebagai Kepala team, aku di bagian depan, sweeper yang dipegang oleh Sam.
Pintu rimba kini terlihat dengan kelebatan hutan dengan berbagai ekosistem pepohonan yang tumbuh di sana, akar belukar menjadi hiasan jalur perjalanan. Suasana redup tanpa bias mentari yang terhalang rimbunnya rimba mengusung kami menjejakkan langkah menuju alam Dempo.
"OK bro, kini kita akan memulai perjalanan yang sesungguhnya, mari kita panjatkan doa agar diberi keselamatan dari detik ini sampai pulang nanti".
Ketua team memberi arahan pada kami.

"Berdoa selesai, Bismillah kita jalan"
Tidak akan terhenti langkah kecil ku menyusuri alam nusantara, meski hanya berbekal tekat juga doa semata. Batin selalu yakin jika perlindungan Tuhan itu sangat nyata, dan akan mengirimkan malaikat kepada kami yang selalu memeluk keyakinan.
Masih terbaca disalah satu papan didepan pintu rimba yang menjadi pengingat ku sampai saat ini.

"BUKAN GUNUNG YANG DITAKLUKAN TAPI DIRI KITA SENDIRI"
Sebuah pesan yang harus diemban selama pendakian untuk kita semua, meski seribu kali melakukan pendakian itu bukan berarti kita sanggup menaklukan alam, namun cenderung kita yang mesti menaklukan ego, kesombongan, sikap, perilaku, dan takabur nya diri, -
untuk mencari keberhasilan dengan selamat.
Keseruan menjadi awal lima sahabat yang sudah memulai memasuki pintu rimba, meski di pagi cerah namun keangkeran hutan dijalur ini sangat bisa dirasakan oleh ku, jalur licin menanjak yang memaksakan diri lebih berhati-hati, karena sangat berbahaya kondisi jalur saat ini.
Bebatuan dan akar pohon yang keluar dari tanah keras itu bisa membantu untuk pijakan kaki, namun juga sangat berbahaya jika salah memijak.

Baru saja memulai langkah kaki suara aneh sudah mulai terdengar, suara lonceng menggema terdengar.
"Kalian dengar itu ga?"
Ungkap Sam

"Stttttt, kalau mendengar atau melihat sesuatu diem saja"
Ujar ku pada dia.

"Ohh iya lupa aku, astaga"
Imbuh nya
"Sudah fokus saja, berdoa terus"
Ajak ku ke mereka.

Was-was sudah mulai menyelimuti perjalanan ini, mulai terlihat kecemasan diwajah-wajah kami, fikiran yang mulai diselimuti oleh rasa ketakutan.
Baru saja melangkah lagi mata astral seakan mengawasi dan tiba-tiba kabut kembali turun dengan sangat cepat, seketika sekeliling sudah berselimut hanimun putih.

"Astagfirullah, apa lagi ini"
Tanya ku dalam hati.
Mungkin ini datang dari alam yang sangat cepat berubah, namun disini fikiran ku mulai tidak setenang tadi. Sangat aneh dengan perubahan yang begitu drastis ini.

"Kita lanjut, rapat kan jarak jangan sampai renggang" Kata leader team.
"Lanjut"
Seru sweeper dibelakang ku.

Kami bertiga yang berada ditengah hanya mengikuti arah, juga komando dari ketua rombongan, dengan doa yang aku lantunkan dalam hati. Ku berserah akan langkah kami semua hanya kepada Tuhan.
Perjalanan berjam-jam kita lalui dengan pengawasan ghaib, sampai memasuki shelter satu. Disini kami beristirahat, membicarakan keanehan yang terjadi. Namun disini kembali ku ingatkan yang lain untuk tetap fokus dan berfikir positif saja.
Bukan tidak mempercayai adanya mereka yang berdiri dibalik kabut, namun menekan ketakutan dengan cara mengangkat keberanian agar menjadi perisai pelindung diri.

Hanya disitu terlihat wajah-wajah cemas, telah lelah juga ditambah takut menghadapi misteri.
"Jadi kita mau lanjut apa turun nih?"
Tanya ku

"Udah lanjut saja, Bismillah ga papa, banyak berdoa dan saling jaga"
Ujar Benno menenangkan kami.

"Oke baik lah"
Jawab ku, sambil melihat kesemua wajah teman-teman ku satu persatu.
Dalam keadaan seperti ini persedian air pun habis, mengharuskan harus mengambil air dimata air. Curam nya tebing dengan halangan kabut membuat ku harus meraba turun,tangan berpenganan rumput disisi, licin nya tanah dengan bebatuan kerikil menjadi medan mematikan untuk aku, -
jika sekali terlepas pegangan maka akan terperosok kebawah.

"Jerri.....
"Jerri.....
Suara terdengar sangat berat dibalik kabut.

Aku abaikan suara panggilan itu, karena sangat paham jika itu bukan ulah dari teman ku, dibalik semak terlihat samar sosok berambut panjang, namun mata terbatas oleh pandangan jadi tidak terlihat jelas,-
hanya terlihat tangannya seakan melambai ke arah ku.
Lalu terdorong tubuh ku oleh Sam yang terperosok karena licin.

"Oeee, sorry... sorry Jerr, licin"
Kata nya
Aku hanya menahan nafas karena pinggang ku cukup sakit terkena benturan kaki Sam yang bersepatu itu. Sangat bersyukur pengangan tangan ku kuat sehingga tidak membuat kami berdua jatuh kebawah.
Setelah kondisi sakit mereda kembali ku menoleh kearah sosok tadi yang kini sudah tidak terlihat lagi. Sosok itu terlihat seperti kuntilanak, hanya wajah nya tidak terlihat jelas.
Sesampainya dimata air langsung membersihkan diri dari lumpur, mencuci sepatu, juga cuci muka. Botol air kami berdua isi penuh, sebelum kembali naik Sam sempat menunjuk sesuatu dibelakang ku, katanya dia melihat kuntilanak berdiri tepat dibelakang ku.
Merinding seluruh tubuh ini, dengan memberanikan diri menoleh kebelakang, namun tidak terlihat apa-apa.

"Ahh, buruan Naik kita"
Ajak ku

"Ayo lah, aku duluan"
Jawab nya dengan nada yang ketakutan.
Bersusah payah kami berdua naik, berkali-kali terpeleset dan jatuh namun akhirnya sampai di atas bergabung dengan yang lain.

Setibanya kami entah kenapa pandangan mata ketiga sahabat ku terlihat kosong, tanpa mulut berucap sepatah kata pun.
Saat ku tawari minum mereka hanya menyambut lalu meminum tanpa bergeming sama sekali.

Aku yang hanya berbisik pada Sam untuk memberitahu keadaan tidak wajar ini. Sam hanya melihat semua wajah-wajah itu.
Saat kami merasakan kebingungan itu terdengar suara dari Benno hanya satu kata.

"Jalan!!"

Lalu ketiganya bergerak naik, yang aku susul barengan Sam. kini aku berada diurutan paling belakang dengan Sam.
"Tidak akan ada keganjilan tanpa adanya suatu perkara, entah itu disengaja mau pun tidak. Keusilan mereka untuk mengukur seberapa mampukah manusia bertahan dengan iman. Selamat atau binasa!"
Alam Dempo yang tidak sewajarnya ini aku dengan Sam mengikuti langlah ketiga sahabat ku didepan yang terus berjalan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, mereka hanya lurus menatap kedepan tanpa menoleh.
Siapa mereka bertiga itu?
Sampai aku berulang kali melihat wujud penampakan dari sisi kanan juga kiri jalur, tapi mereka bertiga hanya terus berjalan.
Sam yang terjatuh karena sudah merasakan lelah, hingga pelipisnya terluka cukup parah tertancap akar yang mencuat sangat runcing, mengeram kesakitan. Dia menutup pelipis kanannya yang mengucurkan darah sangat banyak itu.
"Oeee, stop.. berhenti dulu"
Panggil ku pada mereka bertiga
Mereka pun kembali melihat kondisi luka Sam, buru- buru mengeluarkan peralatan P3k dari dalam carriel, mengusap luka yg cukup dalam dengan alkohol, lalu menekan kapas jg menempelkan kasa yang aku basahi dengan alkohol, merekatkan banyak plaster mengikatkan slayer dipelipis Sam.
Kondisi sahabat ku kini gemetaran, mungkin karena kesakitan, dia hanya bisa meringis sambil mengaduh.

"Ahhh, Jerr sakit sekali"
"Oke kita turun saja, tidak usah lanjutkan perjalanan ini Sam" Kata ku

Namun Benno dengan wajah tidak suka dan menyeramkan terus berkata.

"Jalan....
"Jalan....
"Jalan....
"Eh bro lihat kondisi Sam, dia tidak bisa lanjut lagi lukanya cukup dalam mesti dijahit" Teriak ku emosi setelah mendengar kata itu.

Namun tiba-tiba
Prakkkkk...
Sebuah benda menghantam kepala ku yang membuat ku jatuh pingsan.
"Bangun... bangun..."
Suara itu terdengar lirih ditelinga ku, sangat berat untuk membuka mata, bahkan kepala sangat sakit terasa.
Kuraba nyeri dikepala belakang ku yang ternyata benjol sebesar bola tennis, sangat sakit merasakannya sampai berat kepala.
Entah siapa yang membangunkan ku, semua pandangan ku putih, alam yang masih berkabut tebal tanpa ada jarak pandang sama sekali, sampai melihat tangan ku sendiri saja samar terlihat.

"Ya Allah, berikan aku kekuatan melewati ini"
Keyakinan ku tetap tidak terpudarkan bahwa hanya iman lah yang bisa menuntun ku kembali menuju keselamatan.
Ku coba bangkit namun badan masih terasa lemas, cuaca yang membekukan ini sangat tidak karuan ku rasakan, dingin yang amat sangat, menggigil sekujur tubuh ini. Aku hanya takut kena hippo dengan kondisi seperti ini.
"Tidak... aku mesti bangun, aku harus bisa", "Jerri jangan kalah oleh keadaan ini"

Aku menguatkan diri lalu perlahan membangunkan tubuh ku, hingga bisa terduduk. Carriel ku yang berada disebelah, ku mencoba meraihnya dengan gemetar kedinginan.
Aku harus mengganti pakaian basah ku dengan yang kering, agar tidak terserang demam mematikan itu.

Dengan usaha yang cukup Lama aku ganti semua pakaian, juga kaus kaki ku, merasakan lumayan ada perubahan suhu dalam diri ku, lalu meminum air untuk mencari energy.
Baru aku tersadar jika aku hanya sendirian di area ini, dimana mereka, dimana Sam.

"Adzan..

Sepintas ku dengar suara itu, dengan samar dan rilih, hingga aku fokus kan untuk mendengarkan lagi.

"Adzan..
Sebuah suara menyuruh ku untuk kumandangkan adzan, lalu aku adzan dengan suara sekeras-kerasnya, semampu ku, dengan menutupkan mata, berpusat penuh menuju Tuhan.
Sampai saat ku membuka mata, kabut yang setebal tadi berangsur membuka dengan tertiup angin yang perlahan berhembus.

Bukan hanya hilangnya kabut yang bikin aku takjub, namun kini aku tengah berdiri diatas puncak dengan menyaksikan kawah merapi gunung Dempo.
Merasa sangat bingung, dengan keadaan ini. Namun aku harus mencari teman-teman ku yang entah dimana mereka berada.
Ku pandang sekeliling juga kebawah kawah namun tidak menjumpai satu orang pun, mencari mereka sekeliling area dengan menyebutkan nama Sam, Benno, Ilham, juga Jack secara bergantian namun tidak ada balasan teriakan. Sampai hari telah masuk gelap.
"Dimana kalian teman-teman"
Batin ku memanggil mereka.

Aku putuskan untuk turun kepelataran mengharap ada pertolongan dari pendaki yang ngecamp di area sana, bersyukur jika bisa menemukan Sam dan yang lain nya.
Namun dikesendirian ku menuruni tebing gangguan astral mulai datang lagi.

Bebatuan yang aku pijak itu seketika seakan bergetar, suara gemuruh yang datang dari belakang ku seperti suara banjir bandang.
Sori sori sembari jualan tadi 🙏
Namun tidak terlihat apa pun hanya suara dahsyat terdengar. kuambil headlamps ku sorotkan cahaya kearah atas tebing, mata ku menyaksikan tanah yang mulai membelah, lalu bermunculan kepala yang sangat banyak dengan berbagai bentuk menyeramkan menggelinding turun kearah ku.
Sontak aku langsung lari turun sekencang-kencang nya, menghindari setan yang mengejar itu.

Pepohonan yang berubah menjadi sosok tengkorak, pocong, juga kuntilanak seakan ingin meraih tubuh ku, aku hanya terus berlari dan berteriak meminta tolong.
Sampai aku tersungkur dan terjatuh namun aneh nya tidak terjungkal bergulingan kebawah.
Saat ku lihat sangat banyak tangan putih pucat yang muncul dari tanah tengah memegangi kaki ku, dan mulai muncul tangan-tangan lain disemua tubuh sampai kepala ku, semua tangan itu menarik ku kedalam tanah.
"Hey raih tangan ku"
Suara yang ada didepan ku, mengulurkan tangan nya.

Sektika ku meraih uluran tangannya lalu berusaha lepaskan diri dari cengkraman ratusan tangan itu. Saat aku sudah berdiri disamping laki-laki ini,
kepala yang menatap kami berjumlah sangat banyak itu semua tertawa mengerikan.
"Lari..."
Ajak laki-laki ini

Kami berdua berlari menuruni tebing sampai menemukan tanah datar yang sangat luas, area pelataran yang dipadati oleh berbagai maghluk ghaib itu kami terobos.
"Jangan berhenti, ikuti aku, lari terus"
Teriak nya

Awan menggumpal diatas langit yang terlihat sangat dekat diatas kami, mulai angin kencang menerpa dari arah depan juga belakang kami, guntur juga kilatan-kilatan petir menyambari kami.
Sangat menakutkan malam dengan kegaduhan alam yang dicampurkan berbagai fenomena mematikan dari dedemit ini.

Sangat terasa sakit dada ini merasakan sesaknya nafas yang berlari sedari tadi, hingga membuat ku terjatuh.
"Bangun, cepat lari atau kamu mati"
Ucap nya terngiang mendenging dalam telinga ku

Kepala yang terus mengejar itu dengan wajah dan tawa yang mengerikan, pocong, kuntilanak, bahkan bola api semua berterbangan sangat menakutkan.
Sangat sesak nafas ini untuk bernafas, mau mengangkat tubuh yang masih tertimpa carriel pun sangat berat aku rasa kan.

Ku buang tas gunung ku, lalu mengerahkan tenaga untuk berdiri.
"Ayo lari, jangan mati disini" kata-kata laki-laki ini terus menyemangati ku.

Semua lelembut para jin penghuni Dempo telah berterbangan mengitari kami, alam juga murka terhadap ku entah kesalahan apa yang telah aku dan teman-teman ku buat di gunung ini.
Sampai sambaran halilintar menghantam tanah yang membuat kami berdua terpental sangat jauh, badan ini rasa nya sekujur tubuh sakit semua. Sangat lelah dan sudah tidak lagi kuat melalui semua ini.
"Bangun, bangun, terus berlari"
Dia yang tengah berdiri didepan ku kembali mengulurkan tangan nya.
"Jangan pernah berhenti keluar dari dunia kelam, hanya melalui keyakinan diri dan keberanian, yakini jalan pulang itu pasti didapati. Berdiam diri menunggu keajaiban itu adalah hal mustahil, hanya orang hebat yang mampu bangkit dalam jatuh nya untuk kembali meraih kemenangan".
"Bangun.. jangan mati disini"

Aku kuat kan diri, sementara semua tidak sanggup lagi untuk digerakan, gemetar karena semua membuat ngeri, terlebih dua ekor harimau yang menuruni tebing secara pelan itu, tatap mata nya luruhkan keberanian, menggeram menakutkan jiwa.
Laki-laki itu menatap ku dengan pandangan cemas, menarik ku menjauh dari siluman macan loreng yang semakin mendekat. Meski dengan semua kejadian ini wajah nya tetap tenang, entah siapa laki-laki ini, pendaki yang menyelamatkan hidup ku.
Menggelegar terdengar auman kedua harimau itu menyibakkan mendung diatas kepala ku, semua maghluk kepala menyeramkan itu, pocong, kuntilanak, banas pati, juga maghluk jrangkong tengkorak itu semua nya sirna bagai debu yang tertiup angin.
Mata nanar berselimut ketakutan yang tidak bisa di ungkap lagi.

Kedua hewan buas itu menatap kepada kami berdua seakan siap menerkam dengan taring yang putih terlihat.
"Lari, kamu harus kuat"
Ajak laki-laki pendaki itu.

Dengan dipapah nya kami berdua lari semampu nya menaiki tebing terjal itu menuju puncak Dempo tanpa pencahayaan apa pun, headlamps sumber penerangan satu-satu nya telah hilang entah kemana.
Aku hanya mengimbangi langkah kaki nya sebisa ku, akar yang menghalang sering kaki menyantuk dan terjatuh. Dia hanya terus membangunkan ku dan mengucapkan kata untuk terus berlari.

****
Puncak Dempo, aku berdiri setelah berlari cukup lama. Namun disini dari kejauhan terlihat api yang sangat besar melesat ke arah kami, kobaran itu membesar lalu berhenti didepan kami dengan berjarak tidak begitu jauh, -
sampai perlahan merubah wujud menjadi seorang putri yang berparas sangat cantik dengan tatap mata penuh amarah.

"Tinggalkah anak manusie itu, die dide kah selamat"
(Tinggalkan anak manusia itu, dia tidak akan selamat)
Kata sosok putri itu
"udm lah banyak manusie nk jiwenye tinggal di sini putri, nengkala anak ini balek dengan selamat"
(Sudah terlalu banyak manusia yang jiwa nya tertinggal disini putri, biarkan anak ini pulang dengan selamat)
Jawab laki-laki pendaki
"rumbungan lh ngaruk ketenangan tanah ku, rumbungan itu gale kah tinggal disini"
(Mereka telah mengusik ketenangan tanah ku, mereka semua akan tinggal disini)
"Nengkala cukup jiwe aku bae nek betanam di tanah Dempo, dide bie agi nek laen e"
(Biar lah cukup jiwa saya saja yang tertanam ditanah Dempo, tanpa ada lagi yang lain nya)
"haha batak lah tughun sampai ahi tu malam atau tu die ke mati"
(Hahaha, bawa lah dia turun sampai waktu terbit fajar, atau dia mati)
Lalu sosok itu menghilang dari pandangan ku, meninggalkan aku dengan sang pendaki misterius ini, entah dia manusia atau bangsa lain yang jelas aku dengar dia rela menggantikan kesalahan kami dengan jiwa nya.
Ingin mengucapkan kata berterima kasih pada nya namun membuka mulut saja aku tidak sanggup, hanya bisa berdiri gemetaran menyaksikan ini semua.
Entah kesalahan apa yang telah kami buat sampai Putri Dempu sangat begitu murka, hingga sosok itu meminta nyawa kami untuk menebus suatu kesalahan yang sama sekali tidak aku tau.

"Ini belum berakhir, lari semampu kaki mu sebelum matahari terbit"
Kata nya.
Kami pun kembali mengejar waktu untuk segera menuruni gunung, kini langit terlihat begitu cerah dengan Purnama yang besar menjadi penerang perjalanan ini.

Semak belukar yang bergerak oleh terpaan angin, masih menyembunyikan dedemit di balik nya.
"Kenapa hanya aku sendiri, dimana yang lain nya?"
Batin ku bertanya.

"Terus lari, banyak berdoa, jangan fikirkan apa pun"
Kata lelaki didepan ku, seakan dia tau isi hati ku.

Tiba-tiba langkah kaki nya terhenti, dengan tangan yang menghalangi ku.

"Apa lagi sekarang"
Sesosok wanita tua yang terlihat berdiri membelakangi kami, ada benjolan dipunggung bungkuk nya, perlahan kepala nya berputar ke arah ku, dengan badan tetap pada posisi nya. Mata nya hitam pekat, keriput kulit dengan tutul hitam menghias mengerikan,
lalu dia tersenyum menunjukan sepasang taring.
Dengan jari yang kurus berkuku panjang, ia menunjuk pada barisan manusia-manusia pucat dengan berbagai wujud menjijikan, banyak wajah yang hancur membusuk, mengeluarkan bau yang sangat busuk.
Rombongan seperti barisan tentara belanda dengan seragam coklat nya yang lusuh juga banyak lubang juga sobekan. Langkah mereka menuju kearah kami.

"Tenang, ini tidak begitu berbahaya"
Kata si pendaki.
Hihiiihiiiiiii
Tertawa nenek itu mengikik, dengan mata hitam nya yang melotot pada kami.

Walau dibilang nya maghluk-maghluk ini tidak begitu berbahaya bagi nya, tetapi tetap membuat ku ketakutan dan ngeri.
"Jangan bergerak, mereka hanya mendengar gerakan mu tidak bisa melihat mu"

Namun tiba-tiba nenek bungkuk itu sudah dibelakang ku, cakarnya mencekek leher ku dari belakang, tubuh nya menggantung dipunggung ku, lalu suara nya terdengar.

'Kau mati malam ini'
Dengan gerakan yang sangat cepat laki-laki pendaki itu menarik tubuh nenek setan itu hingga membuat ku ikut terjatuh dengan cengkraman jemari nya yang masih mencekik leherku.
dengan gerakan secepat kilat ditarik nya tubuh itu dengan menyisakan jatung hitam yang masih berdenyut ditangan nya.

Lalu melihat senyum sipendaki memperlihatkan taring nya juga, lalu dipecahkan jantung itu, hingga sinenek bungkuk berubah menjadi seekor macan kumbang,
lalu sirna meninggalkan asap yang membumbung ke angkasa.

Barisan tentara mayat itu juga ikut lenyap dengan sirna nya sosok wanita tua tadi.

Kini meninggalkan tanya dalam tertegun "'siapa wujud ini?'

"Bangun, lanjut berlari, waktu kita tidak banyak lagi".
Seakan keberanian juga tenaga ku seketika kembali, setelah menyaksikan semua ini.

Seperti aku kembali mendapati mustika keberanian yang sedari tadi menghilang dari ku. Sosok laki-laki berpakaian pendaki ini pasti bukan manusia sembarangan,
karena sempat mata ku melihat ia mengeluarkan taring nya saat amarah menyelimuti nya.

Langkah ku yang terasa ringan, mengikuti lari nya, bahkan terbangan kuntilanak juga pocong kini ikut mengejar.
Dari kejauhan juga terdengar auman harimau, juga ketawa wanita; seakan terus mengejar langkah lari kami.
Tidak semua bangsa halus akan membawa kita kedalam dunia kelam, mereka juga ada yang terlahir dengan tugas menjadi pendamping manusia, begitu banyak cara Tuhan memberi pertolongan dalam langkah hidup umat nya. Semua kembali atas kehendak Nya.
Purnama penuh dengan cahaya nya, menjadi satu-satu nya penerangan malam, menjadi penunjuk arah dalam lari ku bersama sosok misterius ini. Pikiran yang masih dipenuhi dengan berjuta ketakutan, aku hanya menguatkan diri dengan hati yang selalu melantunkan doa.
Berbagai luka tidak aku rasa, yang aku rasakan hanya malam yang makin mencekam mendengarkan suara berbagai lelembut gunung Dempo. Tidak bisa memikirkan dimana semua sahabat ku, karena waktu semakin terus bergulir memutar,
waktu yang menanti langkah ku terhenti dan mencabik nyawa ku dengan tangan astral nya.
"Kak, sebentar kepala ku sakit sekali"
Teriak ku kepada lelaki itu.

Lalu dia menghentikan langkah lari nya.
Menatap ku dengan keprihatinan.

"Tarik nafas, istirahat sebentar, jangan pernah takut dengan yang akan datang kali ini" Kata nya yang mengingatkan ku.
Dalam lelah ku saat beristirahat.
Ku lihat Sam terbaring berlumuran darah diatas sebuah tebing tepat di atas ku yang berjarak tidak begitu jauh, namun tidak ada jalur jalan untuk menjangkau nya.

"Jerr.. Jerri..."
Suara Sam sangat lemah memanggil ku
"Sam, tenang aku kesitu, sabar"
Teriak ku.

Namun bahu ku di pengang oleh si pendaki itu sambil menggelengkan kepala nya.

"Kak itu teman ku, butuh pertolongan"
Ujar ku pada nya.
Dia hanya tersenyum kepada ku, lalu berkata.

"Jangan mudah di kelabuhi jin, itu bukan teman mu"

"Itu jelas Sam teman ku kak, sumpah"

"Hmmmm, kapan kamu paham manusia"
Lalu dia mengusap mata ku dengan telapak tangan nya, Sam yang terkapar itu telah berubah menjadi sosok pocong yang menakutkan, disebelah nya berdiri anjing hutan dengan mata merah. Makhluk itu menatap ku seakan aku akan dimangsa nya.
Terbang sebuah sosok wanita bertubuh sangat besar mengenakan kain putih yang lusuh, kulit yang dipenuhi benjolan-benjolan mengeluarkan darah busuk, rambut panjang berantakan, dengan wajah yang menyeramkan.
Tidak hanya sosok itu yang muncul, dari arah belakang keempat sahabat ku juga terbang berhenti dibelakang kolong wewe itu, mereka tidak bergerak, seperti mayat dengan kulit yang sangat pucat.
Ketawa itu memekikkan telinga ku, sampai kedua tangan ku menutup telinga yang berdenging sakit. Sekedip mata dari semua sisi sudah kembali dipenuhi oleh berbagai makhluk astral dengan berbagai wujud.
Disela makhluk-makhluk itu sangat banyak manusia pucat dengan berpakaian seperti pendaki.

Apa kah itu semua yang meninggal di tanah Dempo?
Aku tersimpuh dalam tangis, merasa sudah pasrah akan keadaan ini, sudah tidak ada lagi semangat berlari turun, setelah menyaksikan empat sahabat ku juga banyak pendaki yang mati itu.
Hanya tangis ku keluar, sungguh sangat menyesali perjalanan ku. Untuk apa jika aku diselamatkan tetapi mereka semua mati di pendakian ini.

"Bangun, waktu sudah mau habis, cepat kita tinggalkan ini semua"
Ajak laki-laki pendaki itu.
Aku hanya diam bersimpuh dengan tangis penyesalan.

"Bangun, atau nasib mu sama seperti yang lain nya".
Nada nya membentak
Perlahan aku berdiri, lalu tangan ku ditarik lagi oleh si pendaki dengan mengajak ku berlari, namun tidak seberapa lama laki-laki itu berhenti lagi.
Dua sosok harimau loreng telah menghalang jalur yang akan kami lalui. Mengeram siap mencabik kami berdua, semakin aku berpasrah dengan keadaan yang tidak akan pernah berhasil aku lewati.
"Biarkan kami selesaikan perjalanan ini Datuk, anak manusia ini tidak bersalah, jika pun ada kesalahan biarkan saya yang menanggung nya"
Kepulan asap keluar dari tanah tempat dua harimau itu berdiri, ketika asap putih itu perlahan memudar, dua sosok itu sudah berubah menjadi dua laki-laki tua yang satu berjubah dan surban putih, satu nya lagi mengenakan pakaian seperti seorang raja.
Hembusan angin tiba-tiba menerpa ku dengan harum yang entah seperti bau apa, tidak bisa mengingat atau menggambarkan wangi itu.

"Aku disini untuk menjawab ketulusan hati mu, yang rela membantu anak manusia ini" Kata si kakek bersorban itu.
"Terimakasih Datuk"
Jawab laki-laki didepan ku ini.

"Melangkah lah, akan aku hentikan Putri Dempu dengan semua pengikutnya yg mengejar kalian" Kakek itu berkata lagi.
"Jiwa putra Sriwijaya yang memiliki iman dan kesucian hati tidak akan tersesat di tanah Kerajaan ini" Ucap sosok yang berpakaian raja itu.

Kobaran api yang menyilaukan mata, seakan hadir hendak membakar kami dari atas langit.
Lalu kembali sosok putri itu terlihat dengan tatapan yang sama penuh kebencian, amarah yang menyala seperti wujud nya ketika menjadi api.

Tertawa nya terdengar penuh gelak amarah, mendengar nya saja lemas persendian terasa.
Kembali gemetar seluruh badan ku, merasakan kembali ketakutan yang tidak pernah aku rasakan seumur hidup.

"Pergilah, bawa anak itu turun"
Suruh kakek tua itu.
Lalu aku kembali mengikuti lari si pendaki menuruni gunung, jauh terdengar auman harimau.
Hanya yang aku tau selain sosok pendaki ini aku juga ditolong oleh dua manusia harimau dari maut yang dihadirkan Putri Dempu bersama pengikut ghaib nya.

****
Langit sudah terlihat mulai terpancar warna jingga, menandakan fajar telah tiba. Disini aku masih mengikuti langkah lari nya, sampai dia berhenti sambil menunjukan hamparan kebun teh yang sangat luas, di kejauhan pemukiman penduduk sudah terlihat.
Beberapa tenda menghias diarea perkebunan, apa aku berhasil? Apa aku sudah selamat?
"Kamu telah berhasil, jalani kehidupan mu kembali, jadikan ini suatu pelajaran hidup, jika memijakkan kaki ditempat para jin berperilaku lah yang sopan, bawa kedatangan dengan tata krama. Kesombongan dan kesalahan teman-teman mu cukup sebagai pelajaran buat mu"
"Terimakasih kak, namun bagai mana dengan teman-teman ku?. Apa mereka bisa diselamatkan?"
Tanya ku dengan kesedihan dan rasa penyesalan.

"Teman-teman mu tidak ada yang naik Dempo, hanya kamu sendirian"
Jawab nya

"Hah kan aku barengan mereka?, siapa kakak sebenar nya?"
Dengan senyum memperlihatkan taring nya, aku juga melihat jika mata nya berwarna kuning menyala.

"Aku Pandu, yang dulu nya sama seperti mu"

"Pulang lah, jangan kapok datang ke Dempo, aku selalu ada untuk mu juga semua para pendaki gunung Dempo"

****
Entah bagai mana, aku tersadar sudah di rumah sakit yang disitu ada sahabat ku, team SAR, juga beberapa polisi.

Pendakian kami berlima yang gagal karena aku dinyatakan hilang saat mengambil air di shelter satu.
cuaca yang saat itu sangat tidak bersahabat dengan kabut yang sangat tebal, pencarian yang dilakukan keempat sahabat ku pun sia-sia, akhir nya mereka berempat memutuskan turun untuk meminta bantuan dari petugas setempat.
Aku ditemukan pingsan satu hari setelah nya di area mata air shelter satu lereng Dempo.

Namun yang lebih parah dari aku, keempat sahabat ku yang turun lebih dulu dari hari ngecamp pertama, mereka naas terjadi kecelakaan yang cukup parah.
Masih kita sering jumpai banyak pendaki di jaman saat ini, yang melakukan hal yang melanggar peraturan. Gunung memiliki banyak pantangan juga peraturan masing-masing, kita yang hanya bertamu berperilaku lah menjadi tamu yang baik dan sopan.
Terkadang dampak kita yang menerima nya meski bukan kita pelaku nya.

Setiap perbuatan pasti menuai hasil, tergantung dari diri menanamkan perbuatan baik atau buruk. Baik dan buruk memiliki buah nya masing-masing.
Demikian kisah perjalanan misteri dari bang Jerri dan teman-teman nya.
Saya Iphend Alzikra dan team Pena Hitam mengucapkan banyak terimakasih.

Sampai jumpa di kisah misteri selanjut nya

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with kalong

kalong Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @cerita_setann

29 Jan
Halo Sobat Horor 🖖

Yuk ikuti dan ramaikan sayembara "Menulis Cerpen Horor" Caranya mudah kok.

#lombamenuliscerpenhoror
#bacahorror @wahyuariyantn_
@ceritaht @RestuPa71830152 @Desyprayogo1 @BulanPurnama0 Image
Persyaratan Umum
- Gabung denga grup FB Pena hitam
- Tag teman-teman kalian sebanyak-banyaknya. Min 5 org.
- Share postingan ini ke media sosial kalian
- Dan yang paling penting temanya HOROR ya.

*BEBAS MAU DARI KISAH NYATA ATAU FIKSI.*
*NASKAH CERITA BERBENTUK DOC ATAU PDF YA* (WAJIB)

Kriteria penilaian
1. Menulis sesuai dengan ketentuan panitia.
2. Cerita ditulis dalam bahasa Indonesia yang literer (indah, menarik, mengalir) serta komunikatif.
Read 16 tweets
20 Jan
A thread
Horror stories

"KUYANG"

#bacahorror #bacahoror #threadhorror Image
Halo...
Sebelum masuk ke cerita yang kemarin, saya suguhkan kisah ini dulu.

Kalian pasti sudah tidak asing dengan demit yang satu ini. Tapi bagaimana ceritanya, kuyang, jadi seorang istri manusia. Saya juga gedek setelah mendengarnya.
KUYANG
#kisahnyata

Cerita ini adalah kisah nyata yang pernah aku alami. Namun untuk menjaga privasi, nama beberapa tokoh akan aku samarkan. Semoga para pembaca dapat menikmati kisah ku ini.

***
Read 317 tweets
14 Jan
A thread

"JULUNG KEMBANG"

#bacahorror #bacahoror #threadhorror Image
Halo.
Kali ini saya akan membagikan cerita dari salah satu narasumber, sebut saja Mayang. Dia di juluki sebagai julung kembang.
"Untuk menambah pengetahuan kita soal beberapa tradisi dan pengetahuan jawa kejawen, Tetap diambil positifnya dan sebijak mungkin memaknai arti julung kembang.
Read 170 tweets
31 Dec 20
A Thread
Horror stories

"TUMBAL PERJANJIAN"

#bacahorror #bacahoror #threadhorror
Assalamu'alaikum.
Hallo sahabat bagaimana kabar kalian semua? Semoga selalu sehat dan di berikan rizki yang melimpah ya..Amin

Kali ini saya akan membagikan cerita pengalaman mistis dari salah satu Narasumber sebut saja Putri (nama saya samarkan karena alasan privasi).
Dimana Putri menjadi korban tumbal dari perjanjian ilmu hitam yang di anut oleh ayahnya sendiri.

Tapi sebelum kita masuk ke cerita, mari sama-sama kita berdoa menurut kepercayaan masing-masing agar terhindar dari gangguan selama membaca ataupun setelah nya.
Read 82 tweets
29 Dec 20
A THREAD

"AJIAN SEGORO GENI"

kita mundur kebelakang dulu di era Majapahit. Cerita ini di angkat dari kisah nyata yang tentunya akan membuat para pembaca sedikit menambah sejarah dan faham akan ilmu kuno.

#bacahorror #bacahoror #threadhoror Image
Tapi sebelum saya tuliskan ceritanya. Silahkan RT sebanyak-banyaknya. Agar banyak pembaca yang tahu. 😁🙏

Jangan lupa kalau di atas langit masih ada langit.
Haha
Maaf lama menunggu.
Mari kita mulai.
Read 206 tweets
29 Dec 20
A thread

Sedikit cerita seram dari mbak windi (samaran) terkait pemakaman di pekarangan rumahnya.

"KUBURAN DI PEKARANGAN RUMAH"

#bacahorror #bacahoror #threadhorror
Assalamuallaikum

Sudah sering kita jumpai kalau pemakaman akan terpisah dari perumahan warga. Namun kisah ini berbeda, kisah yang di alami oleh mbak Windi.
Aku pengantin baru dan alhamdulillah diberikan jodoh oleh Allah dengan seorang pria yang baik, pekerjaan keras dan tanggung jawab. Aku harus ikut suami pindah ke jawa barat. Dimana suami ku sudah membeli rumah di sana.
Read 56 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!

Follow Us on Twitter!