Nyata Profile picture
26 Sep, 153 tweets, 20 min read
*Petaka Sungai Serayu*
Iya semua salah ku.

@bacahorror @IDN_Horor @horrorstw @Penikmathorror
#bacahorror #horor Image
Cahaya mentari samar bersinar, seakan malu dengan hempitan langit yg berwarna abu kehitaman.

Saat itu baru jam 6 pagi, namun hujan sepertinya akan turun seiring guntur yg terus berdentum mengetarkan dinding rumah Mbah Dirgo pagi hari itu.
5 bulan lamanya Mbah Dirgo sudah hidup sebatang kara tanpa aktivitas jelas, hari hari nya hanya dihabiskan sendiri, maklum saja istri tercinta nya sudah 2 tahun lalu berpulang, sementara anak semata wayangnya Burhan sudah membina rumah tangga, dan memilih tinggal ditempat lain.
Sementar status nya sebagai karyawan abdi negara alias PNS, sudah berakhir seiring usianya yg menginjak 55 tahun di januari lalu.
Pagi itu rencana Mbah Dirgo untuk berkunjung ke rumah burhan seperti nya akan batal, hujan menahan niat nya untuk melihat dan bermain bersama ke 2 anak Burhan.

Hanya bersantai sembari menikmati secangkir teh jawa yg dia lakukan untuk mengusir kejenuhan dipagi tak bertuah itu.
Tangan nya cekatan mengscrol layar Handphone, kedua mata itu tajam menatap cataan digital dari berbagai sumber.
Bagi nya membaca merupakan aktivitas rutin yg wajib dilakukan di setiap hari.

Mbah Dirgo sangat khusyuk, sampai dia sudah melupakan waktu yg trs berputar, bahkan secangkir teh yg tadi dibuatnya pun adem termakan dinginnya cuaca di pagi itu.
Kekhusyukan itu cukup bertahan lama, sebelum matanya sampai kepada 1 berita, dia terlihat terhenti dari aktivitas, diletakannya Hp itu dimeja, air mata tetiba mengalir dari pria tua itu.
Berita itu memuat informasi akan korban meninggal di Sungai Serayu, membaca tulisan itu membuat Jantung Mbah Dirgo seperti terhenti, dadanya terasa sesak bak mengulang kembali pengalaman buruk tengelam disungai itu.
Saat ini 2020, sudah 40 tahun lebih kejadian itu terjadi, dalam benaknya ada sedikit penyesalan, bayang masa lalu seketika nyata hadir di alam sadarnya, rincian detail pristiwa lawas itu muncul tanpa ada sedikit pun yg terlupa.
*Iya Semua Salah Ku, Kalau saja aku tidak kesana mungkin Mas Ilham masih hidup* Ucap nya dalam hati.
*1980, welldone tu serayu lever*
Teriak seorang bocah remaja bernama Dirgo Erlangga di sore hari nan cerah.
Perkataan Dirgo disambut tawa dan ejekan oleh teman teman sejabat yg turut ada disana kala itu.

Ha. Ha.. Ha..

Welcome cuk, lever lever koe pikir penyakit opo. River.. R. i.. i.. Ver. River canda salah seorag remaja yg ada disana sembari mengeja perkataan.
Galuh, Mitro, Rizky, Ivan dan Dirgo masih tampak bersantai di tepian sungai, sekalipun langit sudah mulai gelap menandakan senja akan segera tiba, mereka ttp asik dgn cerita cerita mistis yg sedari tadi dijadikan candaan tak beradab yg seharusnya tdk terucap.
Siapun akan bergedik bila mendengar cerita sungai Serayu, banyak Mitos akan keangkeran serayu terus berhembus lepas waktu, namun bagi mereka, Serayu bak mainan kecil yg tidak brbahaya.

Status sebagai putra asli daerah mlah mmbuat mereka melupakan pntingnya mnjaga kearipan lokal.
*Sudah cukup bahagia kan kalian*
Kata Dirgo sembari meperagakan sosok wanita, dia mengangkat celana nya, Hi. Hi. Hi. Canda nya seolah melecehkan reputasi menyeramkan Kuntilanak
Beberapa sosok demid lain pun tak luput menjadi bahan ejekannya, mereka tertawa lepas diheningnya malam, canda mereka semakin keterlaluan tak terkontrol, kala lakon yg diperankan Dirgo berubah menjadi rencana nakal untuk bermabuk mabukan di malam minggu nanti.
*Cah Setan, kuwi utek kudu disikat, mabok kok ning papane dedemit*

--Anak setan, itu otak perlu disikat, segala mabuk ditempat demid@--
ucap Galuh protes akan rencana gila yg tercetus dari mulut Dirgo.
Apa daya, satu mulut tak akan cukup kuat memenangkan voting rapat kala itu, belum lagi lisan Dirgo bak ular berkepala dua, yg pasti membuat semua merestui agenda yg kelak hanya membawa tangis bagi mereka.
Langit memang tampak cerah, ditambah perpaduan alam yg masih hijau serta alunan air serayu yg mengalir pelan pasti membuat siapa pun terhanyut dan engan beranjak.
Sama seperti kala itu, Isya berlalu, namun kebosanan tak kunjung datang menghampiri, masih saja mereka melanjutkan bincang ngidul ngalor yg tak berarti.
Langkah Dirgo menepi, rasa sesak memaksa dia untuk membuang hajat pada tempat yg tdk seharusnya.

Tanpa ada kata permisi, air seni nya tertumpah deras mengikuti aliran sungai serayu. Mata nya tertutup menahan nikmat kebebasan melepaskan hajat.
Tak lama rasa nikmat didapatkan, tubuh nya tetiba kaku, menatap lurus ke satu arah yg mungkin membuat dia bergedik, hampir 5 mnit lamanya dia tertahan.

Hingga prilaku itu kemudian disadari oleh 4 rekan lainnya.

*Go... Lama asu.. ayo muleh sudah jam 8*
Kata Irvan kepadanya.
Dirgo membalikan badan, tatapannya lurus menatap ke arah mereka, matanya melotot.

*Tak pateni saiki*
Terdengar perkataan Dirgo pada mereka, suara itu terasa berat, tdk seperti suara Dirgo yg mereka kenal.
*Asem,, kabur cuk*
Teriak Galuh yg langsung diiringi oleh hamburan ke 4 orang itu.

Mereka pergi, kabur meninggalkan Dirgo sendiri disana.

Langkah mereka luluh lantah, malah Galuh dan Irvan sempat terjatuh beberapa kali.
Hi.... Hi.... Hi.....
Dirgo tertawa cekikikan, aksi nakal nya berhasil membuat teman teman nya lari.

*Dasar penakut*
Teriak nya sesumbar.

Dia tdk mengetahui bawasannya sosok hitam bersisik buaya dengan wajah sangat mengerikanlah, yg membuat ke 4 temannya kabur ketakutan.
Sstttt....
Hembusan angin menerpa lembut di kuping nya. Dirgo bergedik, tubuhnya seketika merinding, seperti mengisyaratkan ada seseorang yg hadir menemani.
Sosok Demid itu memang tepat berada dibelakang Dirgo, Wajahnya tampak marah akan apa yg mereka katakan sedari tadi.

Begitulah cerita yg di dengar Dirgo keeson harinya dari mulut ke 4 sahabatnya.

Batinnya bersyukur, karna semalam Dirgo lebih memilih lari dibanding harus menoleh.
Insiden itu sempat membuat mereka vakum berkunjung kesana, belum lagi salah 1 dari mereka (Irvan) tetiba jatuh sakit selang sehari dari kejadian. 2 hari lamanya irvan terkapar di ranjang dengan suhu tubuh hampir 40 derajat.
Benar tidak ada yg dapat menjamin demamnya Irvan karna peristiwa itu, hanya saja selama 2 hari berturut dirinya selalu bermimpi berada di sungai itu sendiri, dengan keadaan yg sangat gelap dan sunyi, setiap matanya terpejam, mimpi itu selalu hadir seakan nyata terjadi.
Sempat dia menceritakan hal terkait kepada yg lain, namun Dirgo malah tertawa, begitu juga dengan yg lain.

*koe iku terlalu paranoid, jadi kepikiran terus, nyata nya kami ga kenapa kenapa*
Seru Dirgo padanya.
Beberapa minggu berlalu kejadian itu mulai terlupakan, walau masih ada sedikit rasa trauma, tidak membuat mereka jera berkunjung guna sejenak melepas penat dibantaran sungai.
Seperti biasa, Dirga selalu hadir sebagai aktor utama, memerankan peran antagonis yg mengusik penghuni alam lain sungai serayu. Rayuan maut nya kembali dilontarkan, layaknya sales MLM yg tdk ingin kehilangan customer.
*Enak tenan tidur disini malam malam lur, nikmati alam sembari dengari jangkrik bernyanyi, belum lagi cuaca saiki memasuki cuaca cuaca eropa, makin jos karo segelas Bir* Rayunya kepada mereka semua.
Irvan menjadi orang pertama yang menolak agenda sesat yg di wacanakan Dirgo, dia pastinya tidak mau merealisasikan mimpinya menjadi kenyataan, Galuh pun berpikir demikian.
*cari tempat lain saja lah!!
Rumah Irvan, Mirjo atau dimana kek, ra sudi ngetem nengendi kulo!!*
Ucap Galuh mendukung permintaan Irvan.
Namun bukan Dirgo Namanya bila tak mampu mengujudkan keinginannya, MoU yang dicetuskannya menjadi jalan penentu berjalan tidaknya acara tersebut.
*Kita Uji Nyali aja, sekalian mengetes sejauh mana ketaaan kita sama Allah, masak sama makhluk yang lebih rendah dibanding derajat manusia kita takut, Manusia makhuk tersempurna ciptaan Allah*.
Terangnya kepada mereka 4.
Perkataan Dirgo tidak langsung mendapat perseujuan, hanya Mirzo yang masih mengiyakan ajakan itu, Galuh dan Irvan masih bersikeras agar agenda gila itu dibatalakan, keberadaaan saat itu sama kuat dengan 2 kubu yang berbeda pendapat, tinggal Rizky yang mngkin bisa menjadi penentu.
Rizky tidak nerkata iya namun tidak juga mentidakan ajakan itu,

*Aku manut wae, jadi yo ayuk, endak pun rapopo*

Jawabnya yang semakin menambah panas keadaan.
Disinilah Dirgo selangkah lebih maju, dia memang orang yg handal dalam memastikan 1 proyek berjalan dengan lancar, bermodalkan pena dan kertas yg ada ditas nya, dikeluarkannya benda itu.
*Ini kita tulis, dan tanda tangani, siapa yg ga ikut atau lari di malam acara, akan menjadi aib seumur hidup sebagai penakut*

Pungkasnya pada saat itu.

Galuh dan Irvan terbawa suasana, seketika mereka mengiyakan perkataan dirgo, karna engan dicap Penakut.
Min 3 dari hari H, keadaan kian rumit, tak kala hal itu malah menjadi bahasan teman teman lainnya, lagi lagi Dirgo yg menjadi sebab akibat acara ngecam disana menjadi hits, tak akan seru bila tdk ada wanita yg ikut pikirnya.
Buah dari keiinginannya membuat penambahan personil bertambah 2, Intan dan Siska memastikan ikut dalam acara persami ilegal pembawa petaka.

Dengan kata lain tak mungkin bagi Galuh dan Irvan kabur bak pecundang, apalagi kabar uji nyali itu juga sdh menjadi berita seantero sekolah
Krekk.... kuk.ku....
Ronta seekor ayam yg baru saja dismbelih Dirgo, ayam itu akan mnjadi menu utama pikirnya.

Tenda 2 buah juga disewanya dgn bermodal tabungan yg ada, dia ingin persami sedayu kelak akan menjadi cerita hangat yg akan menjadi kenangan tak terlupakan dikala tua.
Hari yg dinanti tiba, semua personil bersiap, hanya Dirgo yg hadir dengan perlengkapan penuh, bagi yg lain berkemah ditempat ini tak hayal hanya menginap di rumah orang lain.

Wong ratarata rumah hanya berjarak 4 km dari sungai ini kata mereka.
Sore hari, mereka sudah mendapatkan tempat strategis, sigap 1 per 1 mereka mengerjakan tugas pada bagian masing masing.

Sejauh ini semua berjalan lancar sesuai dengan harapan Dirgo, hanya saja Dirgo tak menyadari bswasannya kala senja menyapa tragedi buruk itu menanti mereka.
Selepas santap malam bermenu ayam bakar, 2 botol minum yg disiapkan pun digelar, canda tawa riuh di tempat sakral yg seharusnya dijaga.

Api ungun berada tepat di tengah mereka, tiba saat yg dinanti Dirgo, *Jerit Malam kita mulai*
Ucap nya
*Empat pat pat... berlipat siapa yg lewat ayo merapat, pat pat berlipat siapa yg lewat ayo merapat*.

Mulut Dirgo menjampe jampe hasil kata yg semalam suntuk dia pikirkan, dia kembali berniat mempermainkan teman nya dengan berpura pura kerasukan.
Selang melantunkan ayat ayat sesat itu, Dargo langsung berpura pura terjatuh, dia merayap ditanah sembari meraung,
Aaaaarggg.. Argggg...
Pasti akan seru, melihat Galuh dan Irvan ketakutan lagi, dia sangat berharap hal itu akan terulang kembali.
Langkah pertama berhasil, tawa histeris dari ke 2 wanita itu, makin membuat Dirgo tersenyum lebar dalam hati, dia melihat wajah wajah pucat penuh dengan rasa takut.

Mata Dirgo memelototi mereka semua 1-1, Dirgo hampir kelepasan tertawa dan mebongkar aksinya malam itu.
Sebelum Mata nya terpaku menatap Irvan, irvan tdk menampakan raut wajah takut, malah Irvan menatap wajah Dirgo dengan penuh rasa marah, dan seperti ingin menantang.
Dirgo semakin berutal melakukan aksi konyol, mata nya terus melotot ke arah irvan, fokus utama membuat irvan takut, bila itu terjadi akan ku akhiri permainan ini pikir nya.
*Tak Pateni Koe van*(Tak bunuh kau Van)

*Impenmu dadi nyoto, kowe sak lawase urip ning pepetengan*
(Mimpi mu akan menjadi nyata, engkau akan selalu hidup dalam kegelapan). Seru Dirgo padanya.
*Lakonono sak karepmu, aku wedi kowe sing mati bengi iki*(Lakukan sebisa mu, Aku kwatir kau yg mati saat ini). Balas Irvan pada Dirgo.

Mendegar itu sempat membuat Dirgo merinding, namun dia masih berpikir positive Irvan mungkin membantu aksinya kala itu.
Dirgo dan irvan saling bertarung tatap, tiada satu org pun yg memalingkan pandangan,

Sementar yg lainnya hanya bisa terdiam, Galuh, Mirzo dan Rizky tdk tau harus berbuat apa.

*Dan*uk kalian udah jangan bercanda lagi* Teriak Galuh yg sangat terganggu dengan kejadian itu.
Ini kesempatan terakhir, aku akan berlari ke arah irvan berpura mau menyerang, bila dia tidak takut, aku kalah dan akan ku akhiri semua ini.
Baru juga Dirgo mengambil ancang ancang, langkahnya langsung terhenti.

Satu hembusan angin yg teramat kencang, memporandakan nyala api dari api unggun yg mereka buat, bara berhamburan, berserak dimana mana.
*Astagfirullah* ucap Dirgo spontan.

Semua bergedik, tangis dari intan dan siska pecah di tengah keadaan gelap gulita, hanya ampasan dari bara yg bercahaya menjadi satu satunya penerangan malam itu.
Dirgo terdiam, dingin nya malam malah membuat dia berkeringat, Irvan tetiba ada di belakang nya.

*Jadi mau bunuh aku ora Dir*
Bisiknya tepat di telinga Dirgo.

Entah bagaimana Irvan bisa berada di belakang Dirgo secepat itu, keberanian Dirgo seketika luntur.
*Ya wes, kalau jenengan ra nyali, Tak tawari muleh barang karo kulo*
ucapnya kembali.

Tangan Irvan Mengengam tubuh Dirgo kuat, diangkatnya Dirgo ke bahunya, sebelum dia berlari sembari mengendong Dirgo melompat ke dalam Sungai Serayu.
Intan yg samar melihat kejadia itu jatuh pingsan, dia tidak kuasa menyaksikan kejadian horor yg benar terjadi di depan ke 2 matanya.

*Ky, Mirjo teriak Galuh, kalian lari cari bantuan, intan, santi biar aku yg jaga* teriak Galuh kepada 2 rekan lainnya.
20 menit lamanya Rizky dan Mirzo baru kembali membawa bala bantuan, beberapa warga dan keluarga dari mereka datang kesana.

Terlihat raut wajah panik dari orang tua mereka, terutama keluarga Ilham dan Dirgo malam itu.
Mereka diserbu beribu pertanyaan, keadaan shock membuat mreka tak dpt mnjelaskan apa yg terjadi.
Belum lagi satu satu nya orang yg melihat kjadian Ilham dan Dirgo terjun ke sungai, sedari tadi masih tidak sadarkan diri dgn mulut yg terus mengingau.

*Ham.. Go ... aku mau plang saja, aku takut* kata itu berulang intan ucapkan dalam pingsannya.
Malam itu sungai serayu terasa ramai, agak lama terdiam, baru lah galuh menjadi orang yg menceritakan awal petaka itu terjadi.

Kondisi mereka yg belum stabil membuat warga masih bingung harus berbuat apa.
Belum lagi keadaan yg larut malam, penerangan yg masih mengandalkan obor bambu semakin membuat pencarian Ilham dan Dirgo mustahil dilakukan.
Sedikit koreksi ya, karna banyaknya nama yg terpakai dalam cerita ini, saya malah salah sendiri menetapkan pelaku pelaku tragedi Sungai Serayu.

Ilham = Irvan, karna sudah terlalu banyak pakai nama Irvan, Fix kita gunakan nama Irvan saja.
Hatur tq, Salam Hi Hi Hi....
Atau biar tetap sesuai dgn pembuka cerita yg dibuat, angap saja nama lengkap irvan itu.
Ilham Rirvani alias Irvan . ok Lanjut lagi .....xi..xi.xii......
Saya jadi gila sendiri.
1 lagi intermezzo nya,

Madang ndesik lur.

sebentar kita lanjut.

Hatur TQ.
Tubuh Dirgo penuh dengan literan air yg masuk ke dalam mulutnya, semua berlangsung cepat, Dirgo seperti tak dapat melawan kala mereka ber 2 terjatuh masuk ke dalam sungai serayu.
Dia hanya mengingat irvan terus membawanya menyelam hampir kedasar sungai itu, yg membuat dirinya hilang kesadaran.
Sementara di tepian bantaran sungai serayu beberapan warga masih setia mencari keberadaan Irvan dan Dirgo.

Sesekali teriakan mereka terdengar lantang memangil nama ke 2 orang itu, sembari berharap ke 2 nya dapat ditemukan dengan selamat.
*Irvan.... Dirgo.....*
Teriakan itu sahut menyahut terdengar di antara suara deburan air serayu yg mengalir deras.
*Dir.. Dir...*
Suara irvan terdengar memangil nama Dirgo, Dirgo tampak lelah, dia terbangun dari pingsan nya.

Matanya masih berkunang menatap sosok Irvan yg ada di depannya, dia sedikit takut dan mencoba menjauh dari Irvan.

*Kamu bukan irvan*
Teriak Dirgo kepada sosok itu.
*Hus....
Ngaur kamu, sadar Dir. Ini aku Irvan sahabat mu. Ayo bangun, cari jalan pulang, bosan aku nunguin kamu sadar sedari tadi*
Ketus Irvan menjawab pertanyaan Dirgo.
Ucapan Irvan tak lantas membuat Dirgo percaya, ada perasaan trauma akan kejadain yg baru saja dialaminya, untuk meyakinkan dirinya, Dirgo melantunkan ayat ayat suci Al-Qur’an sebanyak yang dia hafal.
Sebelum seruan Irvan Kembali berbicara, dia mengikuti setiap lantunan ayat yg diucapkan Dirgo, seketika hal itu membuat Dirgo merasa tenang.

*Udah belum bacanya?? masih mikir aku demid, setan atau apa? Ucap Irvan kembali.
*Kita dimana ini lur?*

* Mbuh*
Jawab Irvan sembari menoleh kesegala penjur.

Jarak pandang mereka sangat terbatas, keadaan gelap terhadang himpitan pepohonan yg berjejer rimbun dan menjulang tinggi.
Baik Dirgo maupun Irvan terdiam, diperhatiakan nya tempat itu dengan seksama, mereka sangat asing, belum lagi suara aliran sungai yg jelas terdengar, namun jauh mereka memandang tidak ada aliran sungai serayu di depan mereka.
Kata kata irvan semakin membuat mereka bergedik, Irvan lebih duluan tersadar dan menemukan diri sudah berada disni, tepat disampingnya Dirgo, saat itu Dirgo masih blm sadarkan diri.
Malah irvan balik bertanya, dalam ingatan terakhir yg diingatnya, mereka menikmati makan malam ditengah api unggun itu, dia sama sekali tidak mengingat bagaimana dia menarik Dirgo terjun ke dasar sungai serayu.
*Aku bingung Dir, Tadi kan kita asik makan ayam bakar mu, lah tau tau kita ada dsini, malah baju lepek basah semua smpai ke cd cd* katanya polos.
Dirgo enggan menceritakan apa yg sesungguhnya terjadi, namun pakaian mereka yg benar basah kuyup, meyakinkan Dirgo, bawasannya semua nyata terjadi.

Semua bukan lg skenario yg dirancangnya, melainkan petaka yg datang diwaktu yg na'as.
*Bagaimana ini Dir, ke kanan apa kiri?*

*Aku manut fan, kali ini kamu aja yg nentuin* pungkas dirgo dgn rasa bersalah, berdebat bukan solusi, terlebih Dirgo memahami sebagai dalang penyebab kejadian ini.
Keputusan irvan jatuh pada menelusuri jalan ke kanan, tidak ada alasan khusus, dia hanya berpatok kalau kanan lebih baik dari kiri.

Langkah mereka perlahan menelusuri jalan tanah berbatuan itu, setapak demi setapak.
Jalan itu terus dilalui mereka, tanpa ada tanda tanda kehidupan, hanya hamparan pohon rimbun yg sedari tadi menemani perjalan itu.
Mereka tidak dapat memastikan sudah sejauh apa mereka berjalan, karna sedari awal mulai pergerakan, hingga nafas terasa sesak melangkah jauh, tempat berpijak saat ini, sama dengan tempat awal mereka terbangun.
Mencoba merubah haluan, irvan dan dirgo pun nekat menelusuri jalan melepati pohon pohon rimbun itu, mereka tdk lagi melalu jalan setapak yg sedari tadi dilalui.

Alhasil semua sama saja, langkah mereka ttap berujung di jalan setapak itu, seolah mereka hanya berjalan ditempat.
Irvan malah sempat terlihat berteriak, geram dengan apa.yg terjadi.
*Ah. Tae. dsini lagi, Asu... Ini ada apa*Kras suara nya bergema.

Dirgo mncba menenangkan, tdk mau drinya tersulut emosi, didalam hatinya pun Dirgo merasa takut, tkut mngatakan kejujuran kenapa mrka ada di sini.
Dia berpikir bila menceritakan semua, hanya akan membuat mereka bertengkar, bukan tdk mungkin terjadi perkelahian atau membuat mereka mencari jalan masing masing, dan itu bukan lah Hal yg bijak dilakukan.
*Uis Mas... udah kita tenang dulu, coba kita sama sama berdoa, mohon petunjuk dari Allah* terang Dirgo sabar meredam emosi Irvan.

Dirgo paham, saat ini mereka tidaklah berada di alam manusia, batinnya trus berbisik saat ini mereka berada di Alam para Demid.
Usai mereka berdoa, dirgo mengajak irvan sekali lagi menelusuri jalan setapak itu, ranting dari bberapa pohon dijadikannya patokan, penanda perjalanan yg tak berujung.

Lma berjalan, mereka tidak lagi mnemui tanda yg dibuat Dirgo, nmun ttp saja, tdk ada perbedaan tempat yg d rasa
Mereka kembali melangkah, menelusuri jalan, masuk membabat pepohonan rimbun, berkali kali langkah itu terus menapaki jalanan, semua terasa semu.

Lagi dan Lagi kembali ke area yg sama.
Belum juga Dirgo mengatakan kebenaran awal mula tragedi.

Irvan sudah tersulut emosi.

*Bangsat, tah kenapa aku kenal kau* Teriak nya ke Dirgo.

*Sesat..sesat.. *
Tambahnya lg kepada Dirgo.
Dirgo masih menahan emosi, sekalipun rasa lelah sudah cukup memberatkan, kini emosi nya ikut memuncak tak kala Irvan sudah mulai memancing dirinya dengan 1 dorongan yg dilakukannya kepada Dirgo.
Hampir saja mereka baku hantam, karna Dirgo sudah merasa lelah mengalah dan menahan emosinya, bagi dirinya, sekalipun benar ini karna dirinya, bukan berarti semerta merta Irvan boleh memperlakukannya semena mena, terlebih kata maaf sudah berulang kali terucap dari mulut Dirgo.
Adu mulut terjadi diantara ke 2 nya, irvan sudah mencengkram baju dirgo. Didorongnya Dirgo sampai terjatuh ketanah.

Keadaan semakin panas, tak kala Irvan sudah mulai serius menghajar Dirgo, sebelum satu suara menghentikannya.
Krencing... Krencing...
Tak.. Tak... Tak....

Suara kerincingan nyaring terdengar, seiring langkah kaki seseorang yg seperti menelusuri langkah.
Irvan terdiam, mata nya fokus melihat kearah suara, samar terlihat oleh matanya beberapa org berjalan sembari mengiring kerbau, suara kerincing itu berasal dari rantai yg dikenakan kerbau itu.
*Woi.... Tunggu..*
Irvan berteriak kencang, sembari berlari mengejar mereka, dia tidak memperdulikan Dirgo, ditinggalkan nya dirgo sendiri

Baginya ini adalah kesempatan emas, mana tau dia bisa lepas dari tempat laknat ini dengan bantuan orang itu, pikirnya.
Lepas kejadian itu tinggalah Dirgo sendiri, dirinya mulai panik.

Dia berusaha bangkit secepat mungkin, mengejar irvan dan gerombolan orang yg tadi mereka lihat.

Bak terbenam oleh gelap malam, tidak sampai semenit Irvan maupun mereka lenyap dalam sekejap mata memandang.
Rasa cemas menyelimuti Dirgo, dia lemas terduduk, membayangkan apa yg terjadi pada dirinya atau irvan, Matahari yg sedari tadi diharapkan muncul jua tdk menampak diri, entah sudah berapa lama dia berada di alam ini.
Dirgo tdk lagi berani melangkah, dia hanya duduk mencoba berserah, mulut nya tak henti meminta pertolongan kepada Sang Kuasa.
Baju yg sedari tadi bsah mulai mengering tdk jua membuat Dirgo melangkah, dia hanya khusyuk membaca doa, sebelum lantunan itu terhenti oleh teriakan Irvan.

*Tolong... Tolong.....*

Suara itu semakin kencang terdengar, dari kejauhan Dirgo dapat melihat sosok Irvan berlari kencang
Dirgo bangun dari duduk nya, menunggu kedatangan Irvan, tepat berada di depan dirinya, irvan masih terus berlari, seolah mengacuhkan keberaan Dirgo, sontak Dirgo ikut berlari mengejar langkah Irvan.

*Van.. berhenti... Van... Koe kenapa* ucap Dirgo sembari berlari mengejar irvan
Satu lompatan Dirgo, pas menangkap Irvan, mereka terjatuh berguling.

Pushh,... tangan Dirgo sontak menampar Irvan.

*Tenang.. Tenang... ini aku*
Ucap nya menenangkan Irvan, yg terlihat pucat ketakutan.
Irvan masih terlihat merinding, bahasa yg dikeluarkan mulutnya pun tdk dapat dicerna oleh Dirgo, dibangunkan nya Irvan sembari merangkul badanya.

Ada kekwatiran dlm diri Dirgo, Irvan akan kabur lagi, belum lagi cerita irvan kembali tergiang di otak Dirgo.
*Set.. Setan Dir, ini bukan alam kita*
Ucap Irvan terbatah batah.

Dirgo merinding, sekalipun sedari tadi hal itu sudah dirasakannya.

Belum lagi melihat keadaan Irvan sebenarya membuat diri nya bergedik, sewaktu dia menangkap irvan, baju yg dikenakannya masih tampak basah.
Sama seperti diawal mereka bertemu, sementara baju yg dikenakan Dirgo nyaris sudah kering, belum lagi sekilas tubuh irvan tampak mengeluarkan air yg menetes tiada henti.
Entah itu keringat, atau aliran air.
Takut menyingung perasaan irvan, Dirgo tdk mau menanyakan hal tersebut, dia hanya terus berdoa dalam hati meminta pertolongan agar mereka dapat selamat dari sini.
Kembali lagi, suara kerincing itu hadir, kali ini terdengar lebih riuh, seakan tidak 1 melainkan berpuluh kerbau serta langkah kaki menuju mereka semua.

*La...Lari ...Dir *
Ucap Irvan dengan tangan gemetar.
Dirgo membungkap mulut irvan, ditarikmya irvan masuk ke dalam rerimbunan pohon.

*Sssttt.....*
Bisik Dirgo sembari mengandeng tangan Irvan mencari tempat untuk bersembunyi.
Deg.. Deg.. Deg....
Jantung mereka berdetak kencang, Irvan terduduk dengan mata tertutup, seolah engam untuk melihat untuk ke 2 kalinya rombongan itu.

Beda hal nya dgn Dirgo, ada sedikit penasaran dalam dirinya akan sosok apa yg lewat ini, hingga membuat sahabatnya terdiam kaku
Dari balik dedaunan, sekalipun jantung Dirgo semakin kencang berdebar, masih dipaksakannya untuk mengintip kearah rombongan itu.
Tampak di hadapanya, rombongan itu bak pasukan, dengan pakaian tempur khas adat jawa, wajah mereka terlihat sangat pucat. dengan pandangan kosong melotot lurus kedepan.
Krincing.. Krincing...
Suara lonceng yg diikat pada rantai yg dikenakan kerbau itu membuat suasana kian horor.

2 ekor kerbau itu tepat berada di belakang pasukan tersebut, dimana setiap kerbau menarik 1 gerobak.
Apa yg ditakutkan Dirgo semakin menjadi, mata nya terpaku membuat tubuhnya kaku dan tdk dapat digerakan, dia menatap tajam kearah gerobak, 1 tangan terjuntai keluar dari gerobak itu,
Baru saja dia menerka nerka isi didalam gerobak, jantung seakan tidak mampu untuk berdetak, tak kala samar langkah roda gerobak itu menghajar batu, membuat sesaat sosok yg ada di salah 1 gerobak sedikit terangkat.
*Irvan*

Suara nya keluar tanpa dia sengaja, yg membuat langkah rombongan itu terhenti dan menatap ke arah mereka.

*Lari Dir*
Seru Irvan tetiba sembari meninggalkan Dirgo.
Dirgo bimbang memutuskan jalan mana yg harus di ikuti, saat itu dia sudah tdk dapat mengetahui baik dirinya maupun irvan apakah masih layak dikatakan manusia, atau mereka sudah menjadi roh penasaran di alam lain.
Ada rasa takut bila ikut mengejar Irvan, dan sebalikya melewati tempat ini sendiri pun bukan pilihan yg bijak, dengan sangat berat hati Dirgo turut menelusur arah Irvan berlari.
Untuk ke 2 kali nya mereka terpisah, kali ini Dirgo tdk memikirkan nasib irvan lagi, sedari tadi dia trs berlari sekencang mungkin, engan rasanya untuk menoleh belakang, terlebih suara gemuruh dan langkah langkah kaki yg seakan tak henti mengikuti dirinya
Nafas nya habis seiring dengan ayunan langkahnya yg menghantam bebatuan, Dirgo terjatuh.

*Tolong........*
Teriak nya kencang, dia semakin histeris tak kala sosok makhluk wanita dengan wajah hancur tepat di berada di depan matanya.
Hi...Hi..Hi...
Terdengar suara kuntilanak itu menyerigai kepada Dirgo.

Dirgo sigap berdiri, dia kembali berlari sebelum tubuhnya menghantam seseorang yg ada di depan nya.
Semua jauh lebih mengerikan, didepannya sosok manusia buaya yg dulu sempat diceritakan oleh ke 4 sahabatnya, tampak berdiri penuh emosi memeloti Dirgo.
Tubuh nya kaku, dia meronta kesakitan tak kala makhluk beringas itu mulai menginjak dan berdiri di atas tubuh Dirgo.

Prak,...., bunyi tulang tangan kiri Dirgo yg sepertinya remuk menahan berat dari injakan demid terkutuk.
Di detik terakhir sebelum seluruh badan Dirgo hancur berkeping keping, Irvan datang di waktu yg tepat.

Irvan memberanikan diri mendorong makhluk itu dan merangkuk Dirgo, sembari memaksa tubuh Dirgo untuk kembali berlari.
*Aku dah nemu jalan pulang, bertahan sedikit, kamu pasti selamat dari sini* ucap Irvan padanya.

Dirgo hanya bisa terharu, saat itu perkataan irvan tdk sepenuhnya dapat dicerna utuh oleh pikirannya.
Belum lagi Irvan setengah mengendong dirinya, dan ttap berjalan cepat, sekalipun tdk lagi dalam kondisi berlari.

Semua terasa aneh, tetapi Dirgo tdk memiliki tenaga lagi untuk menelaah dengan akal sehat.

Ckup lma mereka berjalan, sebelum Serayu tampak kembali dimata mereka.
*Alhamdulilah* ucap Dirgo merasa tenang kembali mengenali area yg tampak di depan.

*Udah kita jangan kemana mana, tunggu disini saja sampai Matahari terbit* pinta Irvan padanya.
*Van, aku mohon maaf, ini terakhir aku usil seperti ini, terima kasih udah bantuin aku tadi*

*Halah kita itu sahabat, aku dah maafin kamu, semua dluar dugaan mu, moga hari ini bisa jadi pelajaran, nanti jangan lupa minta maaf sama yg lain* timpal nya pada Dirgo.
*Iya terima kasih, tapi aku bingung kenapa sedari tadi tubuh mu masih terus basah ya fan, aku aja sudah kering*

Ha..ha.. ha..
Ketawa irvan pecah,

*jgn bilang kamu mau baca ayat lag, kalau mau baca besok saja, pada tempat nya* katanya yg membuat aku semakim penuh tanda tanya.
Sejenak kami bersantai sambil menungu matahari terbit, percakapan di kala itu lebih kepada kegilaan yg sering kami lakukan, Dirgo terhanyut begitu juga irvan.
Sesekali kokokan ayam terdengar, cerita Irvan sepenuhnya juga telah tersampaikan, aku mengetahui dari apa yg dikatakannya bahwa dia sempat ikut rombongan itu menuju masuk ke dalam pendesaan.
Desa itu awalnya biasa saja, ramai oleh hiruk pikuk aktivitas warganya, *malah aku sempat berinteraksi dengan beberapa warga* kata irvan kembali.

Nah aku mulai sadar saat aku menyadari mereka tdk napak ke tanah, saat aku paham, seakan mereka sudah mengetahui.
Seketika itu juga perawakan asli mereka keluar, pocong, kuntilanak segala macam bentuk demid.

Asli sangat seram Dir, terangnya kembali.

Saat itu yg aku tau hanya berlari mencoba menjauhi dusun itu, belum lagi isi dari gerobak gerobak yg dibawa kerbau itu.

*Semuanya Mayat*
*MAYAT*

Kata Dirgo spontan memotong pembicaraan sembari menatap irvan.
Irvan sejenak terdiam, pandangannya lurus menatap ke depan.

Sebelum satu tawa mengerikan keluar dari mulutnya.

Ha..ha..ha..
Iya Dir, semua isinya MAYAT,
mayat seperti ku, kata Irvan sembari menolehkan wajahnya yg hancur ke arah Dirgo.
Dirgo kaget, dia kehilngan pijakan dan terjatuh kembali ke sungai serayu...

***********************

*Woiii.. kesini .. buruan.......*

Dirgo sudah ketemu, buruan tolong.

teriak salah seorang warga yg berhasil menemukan tubuh Dirgo.
Setengah 5 pagi tubuh dirgo diketemukan sangkut pada tepian batu sungai serayu, tangannya patah, dengan beberapa bagian tubuh terlihat memar lebam.

Untungnya nafas masih bertiup, Segera Dirgo digotong menuju ke RS terdekat guna mendapatkan perawatan.
Lama Dirgo menginap di Rs tersebut, selain memang banyak luka dan patah tangan yg dialami, kondisi mental Dirgo sempat tergangu.

Dia sering histeris, menangis bahkan mengingau layaknya org yg tenggelam.
Tak hanya sampai disitu, dikala sadar pun Dirgo tak jarang berbicara sendiri, dengan Kata MAAF, yg selalu terlontar dari mulutnya.
*Maaf...Iya semua salah ku*
Dirinya selalu berkata seperti itu sembari menatap fokus ke satu titik, seakan disana ada seseorang yg sedang berkunjung.
Sementara Ilham Rivani alias Irvan hingga saat ini tidak pernah di ketemukan, dia hanyut kedalam dasar sungai Serayu.
Jauh dari semua itu hanya sosok Dirgo lah yg menjadi kunci akan apa yg terjadi, beberapa kali juga Irvan hadir menceritakan kejadian pada saat itu,

*Maaf* Almarhum sebelum pristiwa sempat melakukan hal tidak senonoh, dimana irvan *na*i di sekitran bantaran sungai.
Hal itu belum tentu benar terjadi, namun rentetan pristiwa itu hadir seperti menceritakan kembali ke pada Dirgo lewat alam bawah sadarnya.

Beberapa kali juga Dirgo bermimpi mengenai apa yg dikatakan Irvan, dimana dia berada di jalan setapak itu dan tdk dapat beranjak dari sana.
Selang kesembuhan Dirgo semua berubah, Galuh, Rizky dan Mirzo enggan tuk mengenal dirinya lagi.

Dirgo pun sadar diri, dia tdk ingin kembali memaksakan egonya.
Pernah sekali Dirgo mencoba menemui mereka, mencoba merealisasikan janjiya pada Irvan.

Bawasannya kelak dia akan meminta maaf pada teman teman lainnya, dan menyampaikan permohonan maaf irvan jua.
Hanya saja perlakuan kasar yg diterima Dirgo kala itu, ke 3 nya malah melayangkan pukulan sembari terus memaki dirinya. Mereka semua menyalahkan Dirgo atas kepergian Irvan.

Malah terucap dari perkataan Galuh,
*Kenapa ga kamu aja yg mati Dir*
Ucapnya.
Dan di penutup cerita aku masih selalu mengirimkan doa, doa kepada Ilham Rivani, Sungai itu merupakan kuburnya, walau sudah tdk sering ku lakukan semasa aku masih tinggal disana.
Namun tak kala aku kembali kesana, Aku pasti menyempatkan diri menyekar ke kubur mu kawan, Di sungai serayu ini ku hantarkan doa terbaik, semoga engkau tenang disana.

*Tamat*
1 lagu sebagai penghantar tidur, terima kasih telah membaca, jangan lupa tngalkan jejak nya.

Salam Hi.. Hi.. Hi...
Hatur Tq

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with Nyata

Nyata Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @nyata74042956

4 Sep
Kamu Harus Mati
*TELUH*

#bacahorror @bacahorror @IDN_Horor #Penikmathorror #threadhorror #horor #Thread

Gas tipis tipis lagi ketika senja mulai menyapa.
Salam Hi.Hi.Hi.. Image
Saya terima Nikah nya Karina bin Yustria dengan maskawin seperangkat alat sholat dan uang tunai 1 juta rupiah.

Sah..

Sah....

Alhamdulilah....
Riuh suara tamu undangan memberikan selamat kepada ku dan suami ku pada pagi hari itu.

Oiya..

Perkenalkan saya Karina Yustika, orang yg akan menjadi korban pesakitan dalam cerita kali ini.
Read 228 tweets
18 Aug
Kala senja kembali tertawa, saat itu pula mereka mendapat PETAKA.

Kisah tentang pembangunan kantor baru yg penuh dengan teror hal hal GOIB.

*KANTOR BARU*

@nyata74042956
@bacahorror
#hororthread
#HOROR
#nyata
#kisah

Rilis tipis tipis ketika senja mulai menyapa. Image
seperti biasa nama dan tempat disamarkan, dan jgn lp follow, share akun ini.

dukungan anda, merupakan boster saya dlm berkarya.
#bacahorror #bacahoror

Selamat ya Mas bro, semoga sukses dan amanah ditempat baru terdengar ucapan satu persatu karyawan memberikan ucapan kepada ku.
Read 67 tweets
17 Aug
Kisah nyata, nama/tempat disamarkan.
jangan lupa follow dan share nya ya pembaca, sebagai boster penyemangat saya menulis.

*TALI GAIB KEMAMANG*
#bacahorror
#bacahoror
#hororthread
#horror

PICT BY @Google
Siang itu keadaan gudang disalah satu kawasan ibu kota tampak semeraut. Tensi kerjaan terasa sesak mengisi seantero ruang penggap tak bertuah, seiring dengan lalu lalang supir dan petugas packaging yang akan melakukan rutinitas bongkar muat.
Ditengah aktivitas para pekerja, samar terdengar suara gaduh yang seketika mengheningkan aktivitas saat itu. Seorang pria baya bernama Asep mencoba menegur partner kerjanya dalam mengantarkan barang.
Read 89 tweets
16 Aug
(sudut pandang mbak leny dan suaminya). Waktu itu 2006, mbak leny merupakan ibu rumah tangga, dia mempunyai anak lelaki yg saat itu baru berumur 2 tahun bernama luiz paskah, sementara suami mas wanda, nya merupakan abdi negara di salah satu instansi pemerintah.
Jam telah menunjukan angka 10 malam, agenda miting akir nya usai setelah seharian berkutat pada pembahasan rencana kerja yg tiada akhir, Mas Wanda bergegas pulang untuk menjemput anak dan istri nya yg dititpkan di rumah mertuanya.
Kuda roda 4 miliknya dipacu dengan kencang seolah menembus angin malam yg mulai mengrogoti tubuh, dengan sebatang rokok kretek sebagai penghangat dinginnya malam itu, dan baru di sekitar jam 11 malam mas wanda tiba dilokasi.
Read 76 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!

Follow Us on Twitter!

:(