, 457 tweets, 65 min read Read on Twitter
= MISTERI PEMBUNUHAN =
---- DI GARASI PABRIK ----

Bagian I : Mayat yang bersimbah DARAH

Ini adalah kisah tentang awal mula sebuah Kejadian yang menjadi Kasus yang tak kunjung terselesaikan.

Masih kisah yang menceritakan tentang "alm. Mbak Nia"

#bacahorror @bacahorror
Pagi itu, 04 Desember 2016.

Ira, seorang karyawan pabrik tekstil, berjalan dari rumahnya, berangkat ke pabrik tempat kerja nya yang berada tidak jauh dari rumahnya.

Saat itu hari Minggu, sekitar pukul 08.00 WIB, Ira sudah berada di Area Pabrik.

Perlu diketahui, hari kerja -
- di Pabrik itu, dimulai dari hari sabtu hingga hari Kamis. Libur di hari Jumat.

Sesampainya di area pabrik, suasana masih sepi, karena kebanyakan karyawan berasal dari desa sekitar kampungnya.

Karena belum ada aktifitas orang kerja, Ira berjalan dengan agak santai menuju-
Tempat kerjanya yang berada dibagian depan, tepatnya berada disamping gudang. Di sisi lain dari gudang itu lah terdapat sebuah garasi mobil.

Denah pabrik itu, bagian paling depan adalah garasi, disamping garasi ada sebuah gudang, disamping gudang itu tempat kerja Ira, dan-
di sisi lain tempat kerja Ira adalah ruang utama pabrik, dimana tempat itu dipenuhi mesin-mesin produksi yang tertata.

Ruang utama pabrik berhimpitan dengan rumah milik bos pabrik tersebut. Dimana sudah saya perkenalkan sebagai H. Takur.
Rumah H. Takur memanjang dari ruang utama pabrik sampai ke depan, hingga berhadapan dengan lokasi garasi. Membentuk bangunan tipe "U".

Terdapat halaman cukup luas di depan garasi dan rumah H. Takur, yang biasanya menjadi area bongkar muat barang dari pabrik.
*** Butuh ilustrasi tempat?
Nyoh, saya teringat, dulu sempat bikin ilustrasi tempat kejadian saat masih berpartisipasi dalam upaya pengungkapan kasus ini.

Cerita akan berlanjut setelah ini.
Ira berjalan menuju tempat kerjanya. Sesekali ia memperhatikan area sekitar, termasuk rumah H. Takur.
Menerka-nerka apakah sudah ada aktifitas dari dalam rumah atau belum.

Ira tak menyadari ada hal aneh disekitarnya, yang dia ingat, saat itu pintu garasi seperti sedikit terbuka.
Ira tak menghiraukan, ia terus berjalan menuju ke arah tempat kerjanya, seperti biasa.

Sambil menunggu salah satu teman kerjanya, Ira sesekali bermain HP.
Sedang asik bermain HP, ira menyadari ada seseorang yang datang dari pintu ruangan, H. Takur masuk kedalam tempat kerjanya.

H. Takur melihat ira yang sedang bermain Hp, namun hanya tersenyum dan berlalu masuk ke arah gudang, yang memang bisa diakses melalui ruang kerja Ira.
Bisa di lihat di gambar ilustrasi, ada pintu penghubung antara tempat kerja Ira dan gudang pabrik.

Saat itu, Ira mengira kunci gudang masih dibawa oleh mas Saud, karyawan pabrik yang bertugas di gudang.
Jadi, untuk menuju gudang, H. Takur harus melewati tempat Ira.
Ira kembali melanjutkan pekerjaannya, sebelum H. Takur kembali ke tempat Ira dan meminta bantuan pada Ira.

"Mbak, biso njaluk tulung sedilut?"
(Mbak, bisa minta tolong sebentar?)

"Nggih, wonten nopo pak Kaji?" sahut Ira.
(Ya, ada apa pak Haji?)

"Tulung aku direwangi ngerugupi mobil, wingi bar tak kumbah klalen ora tak krugupi"
(Tolong bantu saya nutup mobil, kemarin baru saya cuci, lupa belum saya tutup).

"Lha ora pak dinggo emang e pak? Kok meh di krugupi?" Tanya Ira sekedarnya.
(Memang tidak-
- akan dipakai pak, kok mau ditutupi?)

"Ora mbak, soale wingi bar dinggo lamaran."
(Nggak mbak, karena kemarin baru dipakai untuk acara lamaran).

Karena dimintai tolong oleh bos nya, Ira pun bersedia membantu.
Keduanya menuju ke garasi mobil melalui gudang.
- lihat ilustrasi, diantara gudang dan garasi juga ada pintu penghubung-

Saat di dekat pintu, H. Takur meminta Ira mengambil penutup mobil yang berada di pojok ruangan, saat itu posisinya di belakang mobil yang terparkir.
Sedangkan H. Takur berniat membuka pintu garasi.

Saat masih kesulitan membawa penutup mobil, H. Takur tiba-tiba berujar dengan nada yang seperti orang terkejut.

"Mbak, mbak, iki mbak Nia nangopo mbak?"
(Mbak, ini mbak Nia kenapa mbak?)

Ira keheranan mendengar nama mbak Nia disebut. Bergegas Ira meletakkan penutup mobil yang sudah diseretnya kelantai, dan menghampiri H. Takur yang terlihat agak ketakutan.

Ira pun, seketika kaget-
- melihat sesosok tubuh tergeletak di lantai garasi, tepat di depan bagian mobil.

Dan seketika berteriak menjerit histeris, lalu berlari keluar, melalui arah yang sama seperti ia masuk ke garasi.

Di pintu ruang kerjanya ia bertemu dengan Mbak Diah, sekretaris pabrik itu.
"Mbak Nia, mbak, mbak Nia", teriak Ira yang masih histeris dan akhirnya menangis di pelukan mbak Diah.

"Mbak Nia nangopo?"
(Mbak Nia kenapa?)

"Kae mbak, mbak nia mati, nang garasi".
(Itu mbak, mbak Nia meninggal, di garasi)
"Sing bener kowe?"
(Serius kamu?)

H. Takur pun terlihat bergegas menyusul Ira keluar sambil agak berlari.
Ira masih menangis di pelukan mbak Diah.

"Mbak, kae mbak, tulungi" ujar H. Takur yang masih terlihat panik.
Mbak Diah memberanikan diri masuk ke arah garasi sambil-
- menggandeng, agak menarik tangan Ira yang sebenarnya tidak mau masuk ke garasi lagi.

H. Takur sudah berlari ke arah rumahnya, berganti pakaian dan berniat menghubungi kerabatnya dan tetangga yang lain.

Mbak Gina, Istrinya pun kaget dan histeris mendengar penuturan H. Takur.
"Ya Allah, Mbak Nia priye?" Seru Gina yang langsung berlari mencari ke arah pintu garasi yang dari arah luar.

Bersamaan dengan itu, terdengar suara teriakan mbak Diah.

Pak Bowo, tetangga H. Takur yang rumahnya berada di depan pabrik mendengar suara teriakan itu dan bergegas -
- lari dari dalam rumahnya.
Begitu sampai di halaman pabrik, Pak Bowo berpapasan dengan H. Takur yang panik dan mengendarai motor menuju rumah kerabat yang masih berada satu kampung.

Di depan garasi Mbak Gina baru saja membuka pintu, dan langsung histeris. Pak Bowo pun kaget -
Seakan tidak percaya apa yang dilihatnya.

Di dalam garasi, tepatnya disamping pintu yang terhubung ke gudang, terlihat Ira dan mbak Diah yang sedang berpelukan. Wajah ira tampak ditutupi dengan tangannya. Dan pandangan mbak Diah masih melihat dengan tatapan ngeri ke arah lantai-
Semua mata pun tertuju pada satu hal yang membuat siapa pun histeris saat melihatnya.

Sesosok tubuh wanita yang tergeletak bersimbah darah, dengan mata yang sedikit terbuka, salah satu tangannya seperti mengepal berada diatas kepalanya, dan tangan yang lain disamping tubuhnya.
Pak Bowo pun langsung berusaha membuka pintu garasi, dan tidak lama kemudian warga kampung berdatangan, dan seperti orang-orang yang sudah berada di lokasi, semua orang terkejut melihat tubuh mbak Nia yang tergeletak tak bernyawa di garasi pabrik itu.
Mbak Gina Histeris dan menangis sesenggukan melihat kondisi mbak Nia yang terlihat mengenaskan.

Anak perempuan mbak Nia, berlari dari arah rumahnya sampai salah satu sendalnya terlepas.

Ia terlihat sangat histeris saat mendengar berita, ibunya ditemukan.
Orang orang masih mengerumuni area garasi. Mbak Gina menangis dan meratap, seakan ingin berteriak minta tolong agar tubuh mbak Nia segera di evakuasi.

Anak mbak Nia langsung berlari kearah tubuh ibunya yang tergeletak, namun salah seorang warga berusaha menghalaunya.
"Ibuuuk... Ibukku kenopo? Ibukku kenopo? Buuuk!" Jerit anak mbak Nia, histeris.

Mbak Gina semakin tak karuan, merasa di satu sisi merasa kasihan dengan tubuh mbak Ira, disisi yang lain juga merasa iba melihat putri mbak Nia yang meratapi ibunya.

"Lek, mbok tulung, ditulungi si"
(Pak, tolonglah, dibantu)
Mbak Gina hampir tersungkur, sambil menangis, memohon agar orang orang yang berada disekitar mau mengevakuasi tubuh mbak Nia.

Teringat, mbak Nia sudah bekerja cukup lama di keluarganya, dari sejak bekerja dengan kakak mbak Gina, dan akhirnya-
- diminta bekerja di rumah mbak Gina, mbak Nia sudah dianggap seperti keluarganya sendiri. Bahkan putri mbak gina sudah menganggapnya seperti ibunya sendiri.

Perasaan tak tega itu terus berkecamuk dihati mbak Gina.
"Pripun niki pak ustad?" (Bagaimana ini pak ustad?)
Bisik pak Bowo, pada salah satu tokoh desa yang telah ikut berada di lokasi.

"Nopo jenazah ajeng dipindah mawon?"
(Apa tubuh korban perlu dipindah saja?)

Tapi, dari belakang, tangan pak bowo ditarik istrinya.
"Pak, opo-oponan si njenengan niku".
(Apa-apaan sih bapak!)
"Ora usah melu-melu pak. Medeni"
(Jangan ikut campur pak, bahaya).
"Lapor polisi bae"
(Laporkan polisi saja).

Istri pak Bowo, mencegah agar pak Bowo tidak ikut campur dalam masalah.

H. Takur pun terlihat kembali ke-
- lokasi.

Agak terkejut, tapi merasa lega, karena sudah banyak warga yang berdatangan ingin membantu.

Sebenarnya H. Takur khawatir kejadian itu akan berdampak buruk untuk dirinya. Maka dari itu, ia langsung meminta bantuan beberapa kerabatnya yang tinggal di sekitar kampung.
H. Takur bergegas memarkirkan motor dan menghampiri kerumunan yang mengitari jasad Mbak Nia.

Ketika itu, mbak Gina, Istrinya masih terus meratap, memohon agar jenazah Mbak Nia dipindahkan.
H. Takur mendekati tokoh desa yang berada di samping pak Bowo.

"Pripun niki pak ustad? Ajeng dipindah mawon nopo pripun?"
(Bagaimana ini pak Ustad? Apa dipindahkan saja?)

"Kulo nggih bingung mas kaji"
(Saya juga binggung mas kaji)
"Wes sih, mbok tulung iku mbak Nia dipindah disik. Melaske". Ujar mbak Gina terus meratap.
(Sudah lah, tolong itu tubuh mbak Nia dipindahkan dulu. Kasihan)

"Lapor polisi mawon pak. Men boten kesalahan" Sahut pak Bowo, dengan nada seperti orang menggerutu.
(Lapor polisi saja pak)
"Wes wes. Kang, lek, tulungi disik kui mbak Nia. Ya Allah, kok tego temen mung ndelokke wong ngenes koyo kui"
(Sudah. Mas, pak, ditolong dulu itu mbak Nia. Ya Allah, kok tega sekali cuma menonton orang yang kondisinya mengenaskan seperti itu)

Seru mbak Gina-
- yang masih terus meratap memohon, sambil memanggil beberapa orang yang ada disana.

Setelah ada beberapa perdebatan dan pertimbangan, mbak Gina yang terus memohon agar jasad mbak Nia dipindahkan, keadaan anak mbak Nia yang terus histeris, dan semakin banyak warga yang-
-berdatangan, seakan berdesakan ingin melihat secara langsung keadaan mbak Nia, akhirnya tindakan itu pun dilakukan.

Jasad mbak Nia pun, dipindahkan ke dalam rumah H. Takur.
Beberapa karyawan, dibantu oleh Pak Bowo, dan seorang Tokoh desa, membantu proses pemindahan jasad Mbak Nia ke dalam rumah.

Anak mbak Nia semakin histeris, melihat kondisi tubuh ibunya yang sudah hampir kaku, dengan darah yang berceceran di lantai Garasi.
Pak bowo, dan Ustad Bahi, tokoh desa yang ikut membantu menggotong tubuh mbak Nia agak merasakan keganjian saat prosesi pemindahan jasad itu.

Pasalnya, seperti masih ada darah yang mengalir keluar dari bagian leher, tubuh mbak Nia. Selain itu, bagian rambutnya pun agak terasa-
- cepal, lengket, dan basah. Entah, basah oleh darah atau embun. Berhubung jasad itu ditemukan dipagi hari. Disangka nya, jasad itu mungkin terkena embun dari lantai garasi.

Pak Bowo masih mencuci tangannya di kran depan rumahnya, saat rombongan polisi berdatangan.
Tindakan pertama yang dilakukan pihak kepolisian adalah menghimbau para warga agar menjaga jarak dari Tempat kejadian Perkara, dan segera memasang Garis polisi disekitar Pabrik, utamanya di pintu Garasi.

Satu hal yang disayangkan pihak kepolisian adalah telah dipindahkannya-
- jasad mbak Nia dari TKP awal.

"Priye iki, priye kejadiane? Sopo sing mateni mbak yu ku?"
(Bagaimana ini, bagaimana kejadiannya? Siapa yang tega membunuh kakak ku?)

Suara adik mbak Nia terdengar dari arah pintu rumah H. Takur.
Rupanya, kabar penemuan jasad mbak Nia telah sampai ditelinga Tiyo, adik laki-lakinya. Namun ternyata kabar yang didengar oleh adik Tyo adalah bahwa kakaknya telah menjadi korban pembunuhan.

Tyo datang ke lokasi untuk memastikan kebenaran kabar yang didengarnya.
"Bener iki. Iki mesti ono sing mateni mbak yu ku". (Benar. Pasti ada yang telah membunuh kakakku) seru Tyo, setengah emosi.

"Sopo si, sing tego mateni mbak Nia? Kok kejem temen."
(Siapa yang tega membunuh mbak Nia? Kejam sekali) ucap mbak Gina, yang terlihat masih terus menangis
Tuti, anak mbak Nia, pun terus menangis meratapi kematian ibunya.

Pihak kepolisian masih sibuk memeriksa keadaan TKP saat Tyo mencoba mendatangi lokasi kakaknya ditemukan. Ia pun penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi di tempat itu.
Terlihat, darah yang semula tercecer di lantai garasi sedikit menghilang, seperti ada seseorang yang telah berusaha membersihkannya.

Saat jasad mbak Nia telah dipindahkan, sebelum pihak kepolisian datang, rupanya ada yang menutup sebagian pintu garasi, sehingga-
- tidak ada yang mengetahui, siapa yang mencoba membersihkan darah mbak Nia di TKP, karena memang saat itu semua orang terlihat panik.

Hal itu pula yang sedang dipermasalahkan oleh pihak kepolisian yang masih menyisir daerah sekitar TKP.

Beberapa orang terlihat-
- masih saling melempar keterangan ketika ditanya oleh polisi.

Tyo mendekati tempat itu, sambil menanyakan kronologi kejadian pada setiap orang yang ditemuinya. Termasuk menanyakan keterangan apa yang sementara itu telah berhasil ditemukan oleh polisi.
Belum ada hasil yang bisa dijadikan petunjuk. Polisi masih butuh waktu untuk memeriksa lebih lanjut lokasi sekitar TKP.

Keterangan sementara saat itu, telah ditemukan bercak yang di duga bekas darah yang agak mengering di kusen pintu yang menghubungkan area gudang dengan Garasi.
Polisi pun terlihat masih sangat menyayangkan, bahkan ada yang menyalahkan orang yang telah memindahkan jasad korban dari TKP semula. Termasuk mencari tau siapa yang telah mengelap darah yang tadinya tercecer di lokasi.

Beberapa orang yang baru datang ke lokasi pun, banyak yang-
-merasa penasaran, penyebab kematian mbak Nia, yang beritanya sudah gempar di lingkungan kampung itu.

Ambulan pun datang, dan membawa jasad mbak Nia untuk dilakukan Visum dan Autopsi di rumah sakit.
Beberapa orang pun diminta bersiap untuk dimintai keterangan ke kantor polisi. Terutama pihak pemilik rumah dan pabrik itu, serta beberapa saksi ditempat kejadian.

Tyo, masih terus mencari tau keterangan dari beberapa orang yang masih berada disana, termasuk Tuti.
Pagi itu, sebelum ditemukannya jasad mbak Nia, Tuti memang mengabarkan pada Tyo bahwa Ibunya tidak pulang sejak sore di hari sebelumnya.

Tidak ada yang mengetahui dimana sebenarnya mbak Nia saat itu. Pihak keluarga Mbak Nia sendiri mengira-
- Mbak Nia sedang berada di rumah salah seorang warga kampung itu yang baru menggelar acara lamaran. Mbak Nia memang sempat dimintai tolong untuk membantu persiapannya.
Namun, sampai malam harinya pun, tidak ada yang menyadari dimana keberadaan mbak Nia, hingga akhirnya -
- jasadnya ditemukan Tidak bernyawa di Garasi Pabrik pada Minggu pagi itu.

Keterangan yang disampaikan oleh Tuti pun, beberapa kali ia mencoba menelpon ibunya, tapi tidak diangkat. Bahkan, Tuti menuturkan bahwa HP ibunya sempat tidak aktif saat coba dihubungi.
Mendengar penuturan Tuti itu, Tyo langsung menanyakan pada polisi yang masih berada ditempat itu, apakah HP kakaknya ditemukan di lokasi tersebut.

Namun, polisi tidak menemukannya. Tyo pun menanyakan pada majikan kakaknya. Dan dipersilakan mencari sendiri-
- kedalam rumahnya. Karena di hari sebelumnya, memang mbak Nia masih mengerjakan pekerjaan di rumah itu.

Saat memeriksa ke area dapur, tepatnya ditempat mesin cuci yang terletak di samping mushola di dalam rumah itu, Tyo berhasil menemukan Hp kakaknya.
Hp mbak Nia, ditemukan sedang di "charge", disekitar tempat setrika. Dengan kondisi daya baterai yang belum penuh.

Merasa ada kecurigaan terhadap kondisi HP mbak Nia, Tyo pun menyerahkan Hp tersebut pada pihak kepolisian.

Dari situ lah, awal petunjuk terkait kejadian itu-
- diperoleh.

Kejanggalan dari penemuan HP mbak Nia diantaranya, kondisi HP yang masih menyala sedangkan menurut penuturan Tuti, Hp ibunya sempat tidak aktif saat dihubungi. Daya baterai yang belum penuh, seakan menjadi sebuah dugaan ada orang lain yang meletakkan Hp tersebut -
- dan sengaja men-charge Hpnya di lokasi itu.

Tyo pun, menyerahkan penyelidikan lebih lanjut dari HP mbak Nia kepada pihak kepolisian.
Kondisi di sekitar pabrik dan rumah H. Takur belum sepenuhnya tenang. Tiba-tiba, Ayah mbak Nia yang baru saja sampai di lokasi, terlihat ribut dan marah-marah. Emosinya tersulut karena mendengar kabar putrinya ditemukan meninggal dengan keadaan tidak wajar.
Ayah mbak Nia, adalah seorang penarik becak di pasar. Meskipun sudah sepuh, tenaganya bisa dikatakan masih cukup kuat.

Saat mendengar kabar tentang putrinya, beliau benar-benar emosi dan marah terhadap keluarga H. Takur.
"Sopo sing mateni anakku? Anakku duwe salah opo, Kok sampe tego dipateni kui?"
(Siapa yang membunuh anakku? Apa salahnya, kok sampai tega dibunuh?)
Teriak Ayah mbak Nia, emosi. Air mata keluar dari sela matanya, seakan tidak bisa tertahan.
"Koe sing mateni anakku po? Salah opo anakku?"
(Kamu yang kembunuh anakku? Apa salahnya?)
Teriak Ayah mbak Nia, menunjuk ke arah H. Takur dan istrinya.

"Saestu pak, kulo nggih mboten ngertos nopo-nopo."
(Yakin, pak. Saya juga tidak tau apa-apa).
Ujar H. Takur membela diri.
Beberapa orang terlihat berusaha menenangkan Ayah mbak Nia.

"Anakku, mati nang gon omahmu, sopo meneh sing mateni nek dudu koe?"
(Anakku, meninggal di rumahmu, siapa lagi pelakunya kalau bukan kamu?)

Ayah mbak Nia masih terus menyalahkan.
"Sabar lek, durung jelas kabeh kejadiane. Kae sek diurus polisi."
(Sabar pak. Belum jelas kejadiannya. Masih diurus polisi).
Ucap salah seorang warga yang ada di lokasi.

Situasi semakin memanas dengan kejadian itu. Tyo pun berusaha meredam emosi ayahnya, bersama dengan-
- pamannya yang tiba di lokasi.

Semua orang pun saling berusaha menenangkan situasi. Tyo dan beberapa orang mencoba mengantar ayah mbak Nia pulang, agar situasi tidak semakin buruk.
Keluarga mbak Nia, Tyo termasuk Pak Rusdi, pamannya menuju rumah sakit, setelah pihak kepolisian meminta ijin agar jasad mbak Nia bersedia di Autopsi.

Sedangkan Pak Roni, paman korban yang lain, masih mencoba mencari tau keterangan tentang penemuan jasad ponakannya pada -
- beberapa orang yang masih berada di lokasi, termasuk menanyakan kejadian itu pada H. Takur, mbak Gina, ustad Bahi, Pak Bowo, dan Ira.

Pak Roni, adalah salah satu paman mbak Nia yang terpelajar, sehingga masih bisa mengendalikan diri dan tenang menghadapi suatu permasalahan.
Pak Roni berusaha menghubungkan satu keterangan dengan keterangan yang lain. Berharap ada hal yang bisa dijadikan petunjuk.
Beberapa keterangan, yang menurutnya penting, berhasil direkamnya. Dengan harapan bisa menjadi bukti petunjuk.
------
NB : Salah satu sumber data dari cerita ini pun saya peroleh dari penuturan cerita dan rekaman yang diberikan oleh paman korban.
------
Siang itu, pasca kejadian penemuan jasad mbak Nia di Garasi Pabrik milik H. Takur, keadaan pabrik sudah kembali normal.

Garis polisi yang sudah terlihat terbentang disekitar area garasi dan Gudang pabrik, pun menjadi penanda bahwa disekitar lokasi tersebut baru saja terjadi -
- peristiwa yang diduga ada pelanggaran hukum.

Setiap warga yang melihat, termasuk karyawan pabrik, akan langsung teringat dan membicarakan perihal kejadian yang menghebohkan kampung, di pagi itu.
Di rumah alm. mbak Nia, beberapa warga dan sanak saudara mulai terlihat berdatangan. Dari yang berniat untuk berbelasungkawa, hingga yang penasaran dengan peristiwa musibah yang menimpa keluarga itu.

Ayah mbak Nia, pun terlihat masih terus gelisah. Perasaannya campur aduk -
- antara perasaan sakit karena kehilangan buah hatinya, dan rasa emosi mengingat kematian anaknya yang tidak wajar. Beliau pun, masih terus menyalahkan pihak keluarga H. Takur.

"Aku tetep ora terimo. Anakku mati ning gon e kaji Takur. Ora wajar. Keluarga ne kudu tanggung jawab-
- sopo sing mateni anakku, kudu ketemu. Kudu dihukum setimpal"
(Saya tetap tidak terima. Anakku meninggal di tempat H. Takur. Tak wajar. Keluarganya harus bertanggung jawab mencari pembunuhnya. Harus menerima balasan yang setimpal)
Ayah mbak Nia terus mencerca ucapan itu.
"Anakku salah opo? Kok sampe tego dipateni koyo kae?"
(Apa salah anakku? Kok sampai tega dibunuh seperti itu?)

Gerutu Ayahnya mbak Nia, yang terlihat sudah tidak mampu menahan air matanya, pun sama halnya dengan istrinya, ibu mbak Nia.

Tuti masih terus menangis -
Beberapa kali, terdengar ratapan Tuti, yang sedang berada dipelukan Bibi mbak Nia, istri pak Roni.

"Ibuk... Nek ibuk ora ono, aku meh karo sopo buk?" (Ibu... Kalau ibu tidak ada, aku sama siapa buk?)

"Sabar nduk. Di ikhlaske ibumu. Tuti sek duwe simbah, sek ono ibuk juga".
(Sabar ya nak. Ikhlaskan ibumu. Tuti masih punya kakek-nenek, masih ada ibuk juga)
Istri pak Roni terus berusaha menenangkan Tuti. Tuti, memang sering memanggil istri pak Roni dengan panggilan Ibuk. Karena sifat keibuannya, memang sudah menganggap Tuti seperti anak sendiri.
Terlebih, sejak ayah Tuti meninggal, dulu saat dia masih kanak-kanak.

Setiap kejadian di pagi itu pun kembali dibahas oleh warga. Termasuk pak Roni yang sudah cukup mendengar beberapa keterangan dari beberapa orang yang menjadi saksi kejadian.
Salah satu warga yang baru datang, menanyakan perihal sebab kematian mbak Nia. Pasalnya, kabar yang didengar oleh beberapa orang sekitar, ada yang mengatakan mbak Nia meninggal karena kesetrum.

Pihak keluarga pun bingung dengan hal itu.
Pak Roni sempat tidak terima oleh tersebarnya berita tak jelas tentang kematian ponakannya.

Pasalnya, semua orang yang menyaksikan kejadian itu, pasti bisa menyimpulkan bahwa jasad itu adalah korban pembunuhan.
Selama beberapa hari setelah kejadian, pihak kepolisian pun terus menggali keterangan dari beberapa saksi yang di duga terkait dengan kejadian itu.
Termasuk, pihak keluarga H. Takur yang paling dicurigai sebagai terduga pelaku pembunuhan.

Bahkan, status hukum seluruh keluarga -
- kabarnya telah ditetapkan sebagai tahanan kota. Tapi, kabar tersebut belum bisa di konfirmasi kejelasannya.

Lebih dari satu bulan sejak kejadian itu, pihak kepolisian belum juga bisa menemukan keterangan yang mengarah pada terduga pelaku.

Keresahan pun sangat dirasakan oleh-
- kalangan masyarakat. Pasalnya, H. Takur dan keluarganya selalu digunjingkan sebagai terduga pelaku pembunuhan. Meski pun selalu ada pembelaan dari pihak sanak saudara Istri H. Takur, namun hal itu justru semakin menguatkan dugaan warga.
Resah, dan seakan tidak puas dengan perkembangan penyelidikan kasus oleh pihak kepolisian, pihak keluarga mbak Nia, dimotori oleh Pak H. Rusdi dan Pak Roni yang terpaksa mengikuti usulan H. Rusdi, berniat menanyakan perihal kematian ponakannya pada salah satu orang pintar di -
- daerah T***l, salah satu daerah di bagian utara, barat jawa tengah. Lalu, berangkatlah mereka bersama dengan Tyo yang juga ikut serta.

- dari sini lah, hal-hal mistis terkait dengan kejadian ini mulai bermunculan.
Dari cerita yang telah saya sampaikan, awal mula kejadian ini adalah peristiwa penemuan jasad mbak Nia di Garasi Pabrik. Penemuan jasad yang penuh dengan kejanggalan, mengarah pada peristiwa pembunuhan.

Cerita tersebut, saya per-jelas dari cerita awal yang sempat saya sampaikan.
Bahwa jasad mbak Nia, ditemukan dengan kondisi bersimbah darah.

Dan hal mistis yang sering terjadi, pada lokasi tempat kejadian pembunuhan, tentunya adalah mulai munculnya sosok arwah penasaran sang korban, yang menginginkan pembalasan.

Apakah hal itu terjadi?
= MISTERI PEMBUNUHAN =
---- DI GARASI PABRIK ----

Bagian II : ARWAH yang dikawal Ghaib

Ini adalah kisah tentang hal-hal mistis yang terjadi semenjak penemuan jasad mbak Nia di Garasi Pabrik.

Tetap simak dan pantau ceritanya.
#misteriPembunuhan #exploretwitter #bacahorror
Ada banyak cerita yang disampaikan oleh warga masyarakat sekitar, dari lingkungan tetangga H. Takur, tetangga mbak Nia, karyawan pabrik, keluarga mbak Nia, juga dari putri mbak Nia.

Agak sulit mengurutkan alur ceritanya. Karena sumber cerita yang diantaranya lupa waktu kejadian
Mungkin, satu cerita yang disampaikan oleh tetangga dan kerabat H. Takur ini saling berhubungan.

Malam itu, keadaan sekitar rumah H. Takur terlihat sepi. Senyap, bagai tak berpenghuni. Garis polisi masih mengitari lokasi tempat mbak Nia ditemukan bersimbah darah.
Kesunyian itu bukan karena rumah itu kosong. H. Takur dan istrinya, nyatanya berada di dalam rumah.

Memang, sejak kejadian itu, keluarga H. Takur jadi jarang berbaur di kalangan tetangga sekitar. Dikarenakan, pihak keluarga merasa tidak nyaman, selalu dituduh sebagai pembunuh-
- padahal, pihak keluarga sudah sering meyakinkan warga sekitar bahwa bukan anggota keluarganya lah yang membunuh mbak Nia. Namun, pembelaan yang dilakukan seakan tidak berarti. Pasalnya, pelaku pembunuhan tersebut belum juga ditemukan.
Karena hal itu lah, mbak Gina sering menangis. Mbak Gina sering merasa tidak nyaman, dan tersakiti oleh gunjingan yang terkadang ia dengar dari warga yang secara diam-diam membicarakan tentang kematian mbak Nia.

Keluarganya, seakan terjebak dalam suatu permasalahan yang begitu-
- berat untuk dihadapi.

Malam itu, mbak gina sedang menangis di dalam kamarnya. Entah, saat itu H. Takur berada bersamanya atau tidak.

Saat ia hampir terlelap seusai menangis, tiba-tiba terdengar suara berisik dari luar kamarnya. Sepertinya, dari arah dapur.
Mendengar hal itu, ia merasa agak merinding dan ketakutan. Dilihatnya putrinya sudah tidur lelap.

Dengan rasa takut yang bercampur dengan rasa khawatir, dikira ada seseorang yang berniat jahat di dalam rumahnya, ia memberanikan diri untuk keluar kamar.
Suara itu semakin berisik didengarnya dari arah dapur. Sesekali suara itu berhenti saat langkah kaki mbak gina terdengar. Sesampainya di area dapur, tidak ada seorang pun yang ia temukan berada disana.

Bulu kuduknya pun seakan berdiri, seiring dengan rasa takut yang ia rasakan
Tak ada siapa pun, mbak gina berniat kembali ke kamarnya. Namun, saat ia hampir sampai di depan pintu kamarnya, sesosok mata seakan sedang mengintainya dari arah jendela.

Mbak gina terkaget, dan hampir berteriak, saat jendela tersebut seakan diketuk pelan.
Mbak gina pun mulai histeris ketakutan. Buru-buru ia masuk kedalam kamarnya, dan tidur memeluk anaknya, sambil sesekali matanya mengawasi arah pintu kamarnya.

Dan dari luar kamar itu, mulai terdengar suara tangis, yang bernada meratap.
Kejadian seperti itu beberapa kali terus ia alami.

Mbak Gina pun, menceritakan hal-hal yang dialami pada salah satu kerabatnya. Dan ia pun, pernah curhat, bahwa ia mulai tidak nyaman berada di rumahnya itu.
Kejadian lain yang dialami oleh mbak gina adalah kedatangan alm. Mbak Nia di mimpinya. Dalam mimpi tersebut, mbak Nia seakan meminta tolong pada mbak Gina, selain agar berusaha mengungkap penyebab kematiannya, juga memohon agar mbak Gina lebih peduli kepada keluarganya.
Terkait usaha pengungkapan penyebab kematian mbak Nia, sepertinya dalam mimpi mbak Gina pernah diberitahu perihal siapa pelakunya. Namun, mungkin karena suatu hal, mbak Gina tidak berani memberitahu siapa pun.

Suatu hal apakah itu?
Jawaban dari pertanyaan itu, akan terjawab nanti.

Kembali pada mimpi mbak Gina, disini saya ingin menceritakan sisi psikologis mbak Gina yang sebenarnya telah merasa tidak nyaman, dan seperti tertekan oleh omongan warga sekitar.
Dalam mimpinya, mbak Nia berpesan agar mbak Gina lebih peduli dengan keluarganya, terutama kedua anak mbak Nia yang setelah kejadian itu berstatus Yatim Piatu. Namun, pihak keluarga mbak Nia yang terlanjur terbawa emosi, terkesan jadi antipati dengan keluarga H. Takur.
Disitulah rasa bersalah itu selalu ia rasakan. Sebagai seseorang yang telah dianggap sebagai keluarga, mbak Gina tidak bisa memenuhi pesan yang diberikan oleh mbak Nia padanya.
Tidak hanya hadir dalam mimpi mbak Gina, mbak Nia pun beberapa kali diceritakan hadir di mimpi orang lain, termasuk putrinya, Tuti.

Entah mimpi Tuti ini sama dengan mimpi mbak Gina atau tidak, tapi sepertinya ada kemiripan.

Dan saya akan ceritakan apa yang dialami Tuti dalam-
- mimpinya.

Seperti yang pernah saya bahas di Sesi sebelumnya, dalam mimpi Tuti, ia dibawa pada Hari sebelum jasad ibunya ditemukan tak bernyawa di Garasi Pabrik.
Sebelum ke cerita tentang Mimpi Tuti, salah seorang tetangga H. Takur pun pernah bermimpi tentang Mbak Nia. Mimpi tetangga H. Takur ini, juga ternyata berkaitan dengan sesuatu di mimpi Tuti.
Di sesi sebelumnya, saya mencampurkan sudut pandang beberapa saksi menjadi satu sudut pandang tokoh.
Di sesi ini, akan saya detailkan keterangan tokoh-tokoh yang pernah saya gabungkan.

Jadi, nama tokoh pun akan bertambah dari sebelumnya.
Beberapa saksi memberikan keterangan tentang sehari sebelum kejadian penemuan jasad Mbak Nia di Garasi Pabrik. Setiap cerita pun seolah saling melengkapi.

Dan mimpi seorang tetangga H. Takur ini, adalah kelanjutan dari beberapa keterangan tentang sehari kejadian.
Sehari sebelum kejadian, mbak Nia memang terlihat oleh beberapa warga dan tetangga H. Takur di sekitar kampung. Dari mengantar jajan lamaran, berinteraksi dengan tetangga, dan masih terlihat menjemur pakaian di rumah H. Takur.

Namun, sore itu mbak Nia menghilang, entah kemana.
Tidak ada yang mengetahui keberadaan mbak Nia sore itu.

Sampai seorang tetangga H. Takur menceritakan sebuah kejadian yang ia yakini adalah sebuah mimpi, beberapa hari setelah jasad mbak Nia ditemukan. Mimpi itu, diceritakan pada suaminya.
Mbak Fira adalah istri dari mas Adin, salah seorang pekerja di pabrik itu yang rumahnya masih disekitar kampung. Masih bertetangga dengan H. Takur, namun cukup jauh dari lokasi pabrik.

Saat suaminya pulang, mbak Fira menceritakan sebuah mimpi yang belum sempat ia ceritakan.
Dalam mimpi itu situasinya seolah mbak Nia belum meninggal.

Ia melintas di depan rumah mas Adin, saat Fira sedang menyuapi anaknya di depan rumah.
Fira berteriak menyapa Mbak Nia,
"Pak ring ngendi mbak?, sore-sore kok durung bali"
(Mau kemana mbak, sudah sore belum pulang?)
Mbak Fira melihat mbak Nia muncul dari jalan setapak di sebuah tanah rimbun yang arahnya menuju rumah salah satu warga yang baru saja mengadakan hajatan.

Mbak fira tidak terlalu mengingat apa saja yang dilihatnya. Yang di ingat, hanya pakaian dan kerudung yang dipakai mbak Nia.
Pakaiannya sama seperti yang dipakai oleh mbak Nia, saat jasadnya ditemukan. Dan kerudung yang dipakai, menurut mbak Fira adalah kerudung yang beberapa kali ia lihat sering di pakai mbak Nia.

Suaminya pun terheran mendengar cerita itu. Karena saat ditemukan-
Jasad mbak Nia tidak mengenakan kerudung.

Rasa penasaran terkait kerudung itu, membuatnya bertanya pada Tyo. Dan benar saja, keberadaan kerudung itu pun masih menjadi pertanyaan.
Setelah mas Adin menceritakan mimpi Mbak Fira itu, Tyo juga diberitahu tentang apa yang pernah di impikan ponakannya, Tuti, beberapa hari setelah jasad Ibunya ditemukan.

Hal itu pun, kembali menjadi diskusi diantara keluarganya.
Dalam mimpinya, Tuti dibawa ke sebuah kejadian yang terasa seperti nyata.

Siang itu, setelah menjemput Tuti pulang dari sekolah, mbak Nia kembali ke rumah majikan.

Sebelum pergi meninggalkannya, ibunya berpesan sesuatu padanya.
"Nduk, mengko susul ibuk yo, ngomong karo mas Man, kon gowo ondo".
(Nduk, nanti susul ibu ya, bilang pada Mas Man, suruh bawa tangga.)

"Ondo? Nggo opo buk?"
(Tangga? Buat apa bu?)

"Ngomong bae karo Mas Man, nduwur plapon ono serbet, kon jupuk"
(Bilang saja pada Mas Man, ambilkan serbet yang ada di atas plapon rumah).

Yang belum saya sampaikan di sesi sebelumnya adalah perihal siapa Tokoh Mas Man yang dimaksud dalam mimpi Tuti.

Lalu, siapa kah Mas Man?
Mas Man adalah seorang tukang yang mengabdi pada seorang tokoh desa, yang pernah menjadi majikan mbak Nia.
Tokoh desa tersebut biasa dipanggil dengan panggilan Abah, yang masih merupakan keluarga H. Takur, kakak dari mbak Gina.
Kembali pada kejadian dalam mimpi Tuti.

Tuti, anak perempuan Mbak Nia, pun kemudian menuruti perintah ibunya. Dia pergi mencari Mas Man.

Tapi, tidak juga bertemu Mas Man, Tuti justru melihat sesuatu yang mencurigakan di area pabrik.
Tuti memberanikan diri untuk masuk ke dalam pabrik. Entah bagaimana caranya ia bisa masuk dalam pabrik. Yang di ingatnya, tiba-tiba melihat kejadian yang tak bisa ia lupakan.
Di dalam area pabrik, Tuti melihat seseorang yang berjubah hitam, sedang memukuli ibunya, wajahnya tak terlihat karena jubahnya menutupi hampir seluruh tubuhnya.

Melihat kejadian itu, Tuti berusaha berteriak sekeras ia bisa, namun aneh suaranya tak terdengar sedikitpun.
Tuti berusaha mendekat untuk menolong ibunya, namun tubuhnya seakan seperti hologram yang tidak mampu menyentuh apa pun.
Orang berjubah itu seakan menatap kearahnya, namun wajahnya masih tak terlihat.
Tuti menyaksikan orang itu menggorok leher ibunya dengan kawat tajam.
Menyadari keberadaan Tuti, orang berjubah itu berusaha mengejar Tuti. Lalu, terdengar mbak Nia bersuara, "mlayu nduk. Mlayu!"
(Lari nak. Lari!)

Tuti yang ketakutan, berlari sekuat tenaga, hingga keluar dari area pabrik.
Sesampainya di luar pabrik, Tuti melihat majikan ibunya yang sedang menelpon. Dengan raut wajah yang ketakutan, ia meratap meminta tolong.

Tuti berusaha memberitahu majikan ibunya, tapi seakan tidak ditanggapi.
Mungkin karena keberadaan Tuti seakan tidak terlihat.
Tuti teringat dengan Mas Man, dan kembali mencarinya, namun tak kunjung bertemu Mas Man, Tuti memberanikan diri kembali masuk kedalam pabrik.

Tapi, yang dilihat olehnya adalah jasad ibunya yang sudah tak bernyawa sedang -
- diseret ke arah garasi. Namun, dari sampingnya tiba-tiba muncul sosok Ibunya yang menyuruh Tuti untuk pergi dari tempat itu.

Saat itulah Tuti terbangun, dan kembali menangis. Sedih, meratap, teringat ibunya sudah tak ada lagi disampingnya.
Ada kemungkinan, mbak Gina mengalami mimpi yang sama.

Dari cerita seorang narasumber, dirinya pernah mendengar kabar bahwa mbak Gina sering menceritakan mimpi yang masih berkaitan dengan mbak Nia, pada salah satu kerabat yang rumahnya masih sekampung dengannya.
Tidak hanya Mbak Gina dan Tuti yang seringkali di datangi mbak Nia dalam mimpinya. Hal yang sama juga dialami oleh beberapa pihak keluarga Mbak Nia dan warga kampung.

Sosok yang diyakini arwah mbak Nia pun beberapa kali dikabarkan sering menampakkan diri.
Dengan pertimbangan bahwa pihak kepolisian cukup kesulitan menyelidiki kasus ini, dan keresahan yang dirasakan oleh beberapa orang yang sering diberi pertanda oleh sosok mbak Nia, maka Pak H. Rusdi dan pihak keluarga pun akhirnya berniat mempertanyakan kasus ini pada paranormal.
Ada beberapa tokoh disarankan pada Pak H. Rusdi saat itu. Dan yang pertama di datangi oleh pak H. Rusdi dan pihak keluarga adalah salah seorang tokoh di wilayah T****.
Setelah mempertimbangkan banyak hal, pak H. Rusdi dan keluarga pun mendatangi tokoh tersebut dengan harapan bisa mendapatkan petunjuk terkait kematian mbak Nia.

Disana, tokoh yang dikenal sebagai paranormal itu mencoba melakukan mediumisasi arwah korban pada seorang mediator.
Terkait mediator, pernah saya sebut di sesi sebelumnya dengan nama Mbak Fira. Mbak Fira yang menjadi mediator, bukan istri mas Adin. Tapi orang lain yang bisa dikatakan sebagai murid dari tokoh yang di datangi oleh Pak H. Rusdi dan keluarga.
Pak Roni yang saat itu ikut dalam rombongan, sebenarnya tidak begitu percaya dengan hal-hal yang berkaitan dengan paranormal. Selain karena beliau sosok orang terpelajar, beliau juga dikenal sebagai orang yang mengerti dan taat agama.

Keikut sertaannya dalam upaya itu pun-
- hanya sekedar menuruti keinginan Pak H. Rusdi yang memang paling greget memperjuangkan kasus itu. Sama halnya dengan Tyo, yang hanya sekedar penasaran, namun ingin kasus ini segera terungkap.
Pak Roni agak sedikit heran dengan gerakan yang dilakukan oleh tokoh paranormal itu. Pasalnya, baru pertama kali beliau menyaksikan prosesi pemanggilan arwah dan mediumisasi.

Tak seperti yang sering ditontonkan di televisi, gerakannya lebih sederhana. Namun tetap terlihat aneh
Tak berapa lama, Fira, seorang relawan yang menjadi mediator dalam prosesi itu mulai berubah sikap.

Badannya tiba-tiba tegap, seperti mendapat dorongan dari arah belakang. Dan entah disadarinya atau tidak, ia mulai menggelengkan kepala-
Dan perlahan melemas, dan tertunduk.
Pak Roni yang duduk bersila bersama yang lain pun, sampai berusaha menunduk untuk memperhatikan raut wajah Fira.

Pak Roni seperti ingin lebih memperhatikan sorot mata Fira yang berubah sayu.
Sang Tokoh itu mulai memberi bisikan pada pak Rusdi, mengisaratkan bahwa sudah ada sosok yang telah masuk dalam tubuh mediator.

Kemudian, dengan suara lirih mempersilakan pak Rusdi untuk mengajukan pertanyaan pada Fira yang telah dirasuki.
Pak Rusdi enggan menanyakan sendiri pada mediator, dan hanya menjelaskan apa yang ingin ditanyakan pada sang Tokoh.

Dan dimulai lah interaksi dengan sosok arwah yang telah berada di tubuh Fira.
Pertanyaan pertama yang diajukan Tokoh paranormal itu, adalah memastikan siapa yang merasuki Fira.

"Saiki aku arep takon, sampean kui sopo?"
(Sekarang, aku ingin bertanya, kamu siapa?)

Fira sedikit menggerakkan kepalanya, dan sekali lagi tokoh paranormal itu kembali bertanya.
"Aku kui klalen aku ki sopo. Sing jelas iki dudu awakku"
(Aku lupa siapa aku. Yang jelas ini bukan tubuhku).

Mendengar jawaban itu, sosok yang ada dalam tubuh fira terus diberi pertanyaan yang sama.

"Aku klalen, aku kui sopo. Masalahe, matiku ora wajar. Dadi ora penak kabeh".
(Aku itu lupa, siapa aku. Karena, kematianku tak wajar. Jadi aku tak tenang).

Pak Roni, yang mendengar jawaban itu mulai ragu. Jangan-jangan bukan ponakannya yang telah merasuk di tubuh Fira. Bahkan, pak Roni sempat berfikir, sebenarnya Fira tidak sedang dirasuki.
Sedangkan Tyo, masih agak serius mengamati.

"Aku kui rak penak kabeh. Aku kepikirane wong tuoku. Aku ki pokok e, pingin nguber wong kui bae".
(Aku benar-benar tak tenang. Aku kepikiran orang tuaku. Pokoknya, aku ingin mengejar orang itu saja).

"Wong kui sopo? Sing mateni koe?"
(Orang itu, siapa? Yang membunuhmu?)
Tubuh Fira menganggukkan kepalanya. Seolah membenarkan.

"Aku pingin nguber wong kui bae. Men biso sadar. Asale bakale cok dilakoni maneh"
(Aku ingin ngejar orang itu saja. Supaya sadar. Karena nantinya bisa jadi melakukan lagi)
"Lah aku, pingine yo wong tuoku kui biso ngiklaske bae. Soale, bakale dadi lorone. Wes, aku pasrah, men sing bales gusti Allah bae"
(Aku berharap, orang tuaku bisa ikhlas. Karena, nantinya jadi sakit hati. Aku pasrah. Biar Allah yang membalas)

"Aku yo pingin diwajarke."
(Aku juga ingin kematianku segera diwajarkan).

Tyo yang terus mengamati, sedikit merasa yakin bahwa itu adalah sosok kakaknya.

Tokoh paranormal itu memandang ke arah pihak keluarga, seolah bertanya apakah akan langsung dilanjutkan ke pertanyaan lain?
"Keluargamu kan jaluk tulung aku, saiki aku pak takon. Saiki ceritake sakabehane kejadiane awakmu"
(Keluargamu kan meminta bantuanku, sekarang aku ingin bertanya. Ceritakan semua kejadian kematianmu)

Fira yang masih dirasuki, mulai mengangkat kepalanya, memperhatikan sekitar.
"Pas kui ki ho, wong do lungo kabeh. Nyong diundang, yo aku ngelakokke opo sing biasane. Lah pas sorene pak maghrib kae, aku ning mburi, ngentasi. Kok moro-moro ono krusuk-krusuk. Ngertiku curut"
(Saat itu, semua pergi. Aku dipanggil. Aku melakukan kegiatan seperti biasa. Sore-
- harinya, sebelum maghrib, aku di belakang, angkat jemuran. Tiba-tiba ada suara berisik. Kukira ada tikus)

"Tak teruske, moro-moro aku digebug. Aku kan montal. Aku montal, aku dibopong."
(Saat aku melanjutkan aktifitasku, ada yang memukulku hingga tersungkur. Lalu aku dibopong)
"Diboponge ki wagu, yo loro kabeh. Terus di gowo ring ngendi, aku dibanting otok"
(Dibopong agak dipaksa, sakit semua. Lalu entah dibawa kemana, aku pun dibanting)

"Aku e ngolak koyo kae aku ne malah dinganu."
(Aku melawan malah dipukul)
"Lha sing paling orak penak kui kupingku. Disogok diuntir-untir. Kan loro".
(Yang paling menyakitkan itu kupingku, ditusuk -dg gerakan seperti orang nge-bor-)

Pak Roni, tiba-tiba tersentak heran mendengar cerita itu. Seakan kaget tak percaya mendengar penuturan mediator tentang-
- kronologi kejadian. Pak Roni yang awalnya tak begitu percaya, beliau teringat dengan bekas luka yang ada di bagian leher dekat telinga dari jasad mbak Nia saat ditemukan.

Pak Roni yakin, tak ada orang lain yang tau selain yang ada dilokasi saat jasad mbak Nia ditemukan.
Dari situ, pihak keluarga pun meyakini bahwa yang merasuk ditubuh Fira adalah benar sosok mbak Nia.

Sebelumnya, yang diketahui pihak keluarga hanya terkait kondisi luka di jasad mbak Nia.

Penuturan Fira saat mediasi itu, seakan memberikan gambaran penyebab luka-luka itu.
Sedangkan Tyo, mulai menyimpulkan bahwa penuturan itu, bisa dikatakan sama dengan kejadian di mimpi yang diceritakan Tuti.

Mungkin kah keduanya merupakan sebuah petunjuk yang menggambarkan kejadian sebenarnya?

Lalu, siapa kah yang memukul dan membunuh mbak Nia?
Proses mediasi belum selesai. Masih ada beberapa hal yang belum disampaikan oleh sosok mbak Nia, di dalam tubuh Fira.

Setelah menceritakan kronologis kejadian, penyebab kematiannya, pertanyaan selanjutnya adalah terkait barang bukti yang dipakai pelaku.
"Saiki aku pak takon, barang sing nggo nggebuk awakmu saiki nangendi?"
(Sekarang aku tanya, benda yang dipakai untuk memukulmu, dimana?)

"Sek ono nang kono"
(Masih disana)

"Lha sing nggo nyogok kupingmu?"
(Yang dipakai untuk menusuk kupingmu?)
Mediator terdiam, kepalanya mendongak dan menatap salah seorang pendamping yang memegangi tubuhnya.

"Sampean wes tak wenehi reti si?"
(Kamu sudah saya beri tahu kan?)

Sang Tokoh paranormal itu pun tertuju pada pendamping itu.

"Iyo, iyo tah. Tapi aku ora patio paham, nek kui -
- sing mok maksud"
(Iya, benar. Tapi aku tak menyadari kalau itu yang kamu maksud)

"Karang mung bayangan, imajinasine sampean tak temoke karo imajinasiku"
(Karena memang sekedar bayangan, penglihatanmu tersambungkan dengan penglihatanku.)

"Iyo. Tapi mbuh saiki sek nang kono -
- opo ora".
(Iya. Tapi, tak tau apa masih ada disana atau tidak).

Mendengar hal itu, Pak Roni seakan menemukan petunjuk. Setelah pulang dari tempat itu, ia pun berencana akan mengajak Pak Rusdi untuk memeriksa ke TKP.
Berbeda dengan pak Rusdi, mendengar penuturan mediator dari awal, beliau sudah keburu berkesimpulan ada keterlibatan majikan mbak Nia atas kematian ponakannya itu.
Seandainya barang bukti itu ditemukan, beliau akan memastikan pelakunya untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.
"Wong e juga sik nang sekitaran kono"
(Orangnya juga masih disekitar tempat itu)

"Sing mateni koe pok?"
(Yang membunuhmu?)

"Iyo. Sing sijine ki koyo wong pinter kae. Tapi sijine maneh, wong e ora tenang, keluarga ne yo ora tenang"
(Iya. Salah satunya seperti orang berilmu -
Tapi yang satunya lagi, sudah merasa tak tenang, keluarganya pun tak tenang)

"Dudu kerono wes mateni aku. Tapi wedi konangan"
(Bukan karena telah membunuhku. Tapi takut ketahuan)

Mendengar hal itu, Pak Roni agak bertanya-tanya. Mungkin kah pelakunya lebih dari satu orang?
"Saiki aku pak takon. Kok biso, awakmu ketemu ne nang garasi pabrik?"
(Sekarang pertanyaannya, kok bisa tubuhmu ditemukan di garasi pabrik?)

Tubuh mediator agak menggeliat, terlihat dari tubuh pendamping yang seakan berusaha lebih keras memegangi tubuh mediator.
"Pas kui, bar mateni aku, wong e do ribut dewe. Ono sing ngomong, buak kebon, ono sing ngomong buak kali bae, mengko ketemu ne ning kono."
(Saat setelah membunuhku, orangnya panik. Ada yang bilang, buang dikebon. Ada yang bilang buang di sungai saja. Nanti ketemu di suatu tempat)
"Borone ora sido. Asale keweden. Karo koyone ono sing weruh."
(Untungnya tidak jadi. Karena ketakutan. Dan sepertinya ada yang melihat).

Tiba-tiba, pandangan mediator tertuju ke arah lain. Matanya melotot, seperti ketakutan.
Sang Tokoh paranormal itu mencoba menenangkan mediator. Setelah itu, mediasi itu pun selesai setelah mediator menyampaikan pesan terakhirnya.

"Tapi mengko bakale ketemu. Mbuh bakale dipenjara opo ora, aku rak reti. Tapi, nek sampe wong kui dipenjara, urusane biso dowo".
(Tapi, nantinya pasti terungkap. Entah akan ditangkap atau tidak, aku tak tau. Tapi, kalau sampai orang itu tertangkap, urusannya akan semakin panjang).

Selain pesan terakhir itu, mediator pun menyampaikan keinginan sosok yang merasukinya, agar kematiannya diperlakukan secara -
- wajar, dan berharap pihak keluarga terus mengirimkan doa untuknya.

Prosesi mediasi pun selesai. Dan pihak keluarga dipersilakan keluar ruangan. Sedangkan sang tokoh paranormal itu, ingin menetralisir tubuh mediator terlebih dahulu sebelum menyusul pihak keluarga.
Di luar ruangan, pihak keluarga mbak Nia mulai membahas petunjuk yang disampaikan oleh sosok mbak Nia yang di mediasi.

Pak H. Rusdi begitu yakin, bahwa pasti ada keterlibatan pihak majikan. Namun, Pak Roni, berusaha memberi pengertian.

Kasus ini, harus diselesaikan secara hukum
- dan prosesnya, tetap harus diserahkan pada pihak kepolisian. Begitu pula dengan Tyo, yang memahami apa yang disampaikan Pak Roni.

Perdebatan kecil pun sempat terjadi. Dan setelah menunggu, Tokoh Paranormal itu pun keluar ruangan.
Namun, ada perbedaan yang terlihat dari raut wajah tokoh paranormal itu.
Seakan gelisah, entah karena apa.

Sebelum pihak keluarga mbak Nia pamit pulang, tokoh paranormal itu sempat menyampaikan sesuatu yang terjadi setelah pihak keluarga keluar ruangan.
Tokoh paranormal itu menuturkan bahwa saat mencoba menetralisir tubuh mediator, tiba-tiba ada sosok lain yang merasuki tubuh mediator itu.

Sosok yang menurutnya sudah mengikuti arwah mbak Nia sebelum di mediasi. Tokoh paranormal itu sedikit mengetahui darimana asalnya-
- tapi tak disampaikan pada pihak keluarganya.

Mediator yang dirasuki sosok itu pun sempat menyerang dan memperingatkannya agar tidak ikut campur terlalu dalam dengan kasus yang terjadi. Karena konsekuensinya adalah Nyawa nya sendiri.
Perkataan terakhir paranormal itu sedikit menjelaskan alasan kenapa raut wajahnya saat keluar dari ruangan tampak gelisah dan agak ketakutan.

Dalam benak pihak keluarga korban, muncul berbagai pertanyaan yang diluar nalar.
Kenapa kasus ini sampai melibatkan pihak lain (ghaib)? Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa pelaku yang bisa sampai melakukan hal yang seharusnya bertentangan dengan Agama, hanya untuk menutupi kasus ini?

Pertanyaan-pertanyaan itu, tidak mudah hilang dari benak mereka.
= MISTERI PEMBUNUHAN =
---- DI GARASI PABRIK ----

Bagian III : Sumpah POCONG!

"Angel-angel, kon sumpah pocong bae sak keluargane." Ujar seorang warga kampung.

"Hus. Ojo sembrono. Sumpah pocong kui ono resikone" Sahut mas Saud.

Cerita tentang Mbak Nia pun berlanjut ...
Hampir dua bulan sejak kejadian penemuan jasad mbak Nia di Garasi Pabrik, belum juga ada titik terang dari pihak kepolisian.
Hal itu menimbulkan keresahan di masyarakat.

Berbagai dugaan, bahkan tuduhan sudah mulai muncul di kalangan warga sekitar.
Prasangka negatif terhadap pihak kepolisian pun beberapa kali jadi topik bahasan di kumpulan warga yang sering ronda malam.

Tak kalah, bahasan tentang kabar ghaib pun mulai beredar.

Tak hanya pihak keluarga, ada juga dari kalangan masyarakat yang percaya dengan hal ghaib -
- mempertanyakan pendapat beberapa paranormal terkait kejadian itu.
Anehnya, hampir setiap paranormal yang mendengar kabar itu, tidak mau banyak bicara.

"Angel. Sing mateni, dudu wong sembarangan"
(Susah. Pelakunya bukan orang sembarangan)
Salah satu yang pernah berbicara cukup banyak, hanya mengingatkan, bahwa setelah kejadian itu, ada pengawalan ghaib terhadap arwah korbannya.
Seakan menjaga, agar tidak ada yang berupaya mencaritahu kebenaran cerita tentang kejadian itu secara ghaib.
Hanya yang berilmu lebih tinggi, yang bisa menahan pengawalan itu, itu pun tidak bisa lebih jauh melakukan perlawanan.
Sebatas berinteraksi dengan arwah korbannya.
Upaya melalui jalur hukum juga belum mampu memberikan titik terang.
Beberapa warga berprasangka, bahwa ada kemungkinan kasus ini memang sengaja dibiarkan, bahkan sebisa mungkin kasus itu seakan harus ditutup.
"Edan. Mosok tekan kapolseke podo bae ngomong kon ngiklaske bae. Ora perlu kasuse diteruske."
(Gila! Bisa-bisanya sampai kapolsek pun menyuruh untuk mengikhlaskan. Tak perlu kasus ini diteruskan.)
Ujar pak Rusdi saat bercerita pada warga yang datang ke rumahnya.

"Pak priye kui?"
(Maunya apa kalau seperti itu?)
"Iki mesti ono opo-opone"
(Ini pasti ada apa-apanya)

Beberapa kali, pak Rusdi memang rutin mempertanyakan kasus itu ke pihak Polsek. Tapi jawaban yang diperoleh dari pihak kepolisian masih terus sama.
Belum ada perkembangan terkait kasus itu.
Bahkan, yang membuatnya kecewa, pihak kepolisian justru menyarankan agar pihak keluarga mengikhlaskan kematian mbak Nia.

"Pokok e, kudu temu sopo sing mateni. Iki urusane nyowo ne wong! Tur wong rak duwe!"
(Pokoknya harus ketemu pelakunya. Ini masalah nyawa seseorang! Apa lagi-
- orang kecil)

Pak Rusdi selalu menggebu-gebu saat menceritakan jawaban dari pihak kepolisian saat beliau mempertanyakan perkembangan kasus itu.

"Pripun nggih pak Kaji. Kok biso kados niku kui."
(Bagaimana ya pak. Kok bisa jawabannya seperti itu)
Sahut salah seorang warga.
"Mosok polisi nyerah?" Keluh pak Rusdi.
"Nek polisi nyerah, terus kon priye? Opo perlu warga sing bertindak?"
(Kalau polisi nyerah, terus bagaimana? Apa perlu warga bergerak?)

"Mengko dianggep main hakim sendiri?"
(Nanti dianggap main hakim sendiri)
Pak Rusdi terus melanjutkan perkataannya.
"Opo temenan dudu kaji takur si pelakune? Wes jelas kan, sing nang ngomah wong kae. Ora ono liyane. Nek dudu deweke Sopo meneh?"
(Apa bener bukan H. Takur pelakunya? Sudah jelas, orang itu yang ada di rumah. Kalau bukan dia, siapa lagi?)
"Lha tapi buktine kui ji, sing ora ono"
(Tapi tidak ada buktinya pak)
Sahut warga yang lain.

Malam itu, memang beberapa warga berkumpul di kediaman Pak Rusdi, membahas perihal kasus itu.
Seorang warga tiba-tiba mendekati Pak Rusdi. Agak berbisik, ia mengatakan sesuatu padanya.

"Opo perlu keluargane kaji takur diajak sumpah pocong?" Bisik orang itu.
"Aku ono info lokasi sing manjur dinggo sumpah pocong, ji. Sopo reti, biso terungkap lewat coro kui".
(Apa perlu keluarga H. Takur diajak sumpah pocong? Aku dapat info lokasi yang tepat untuk sumpah pocong. Siapa tau bisa terungkap dengan cara itu)

Bahasan tentang rencana sumpah pocong pun mulai terbangun sejak malam itu.
Keesokan harinya, pak Rusdi bersama Pak Roni, diantar oleh orang yang menyarankan sumpah pocong, ke sebuah makam keramat di suatu desa.

Mereka menemui juru kunci makam itu, dan menceritakan permasalahan yang menjadi maksud kedatangan mereka.
"Nopo njenengan mpun yakin, badhe ngadake sumpah pocong ten mriki pak?" Tanya juru kunci.
(Apa anda sudah yakin, ingin mengadakan sumpah pocong disini pak?)

"Opo njenengan kro pihak sing meh di sumpah, tenan wani nanggung resikone?"
(Apa anda dan pihak yang akan disumpah, benar-
-benar sanggup menanggung resikonya?)

Mendengar pertanyaan itu, sebenarnya pak Rusdi sedikit merasa ragu. Namun, keraguan itu bertentangan dengan keinginannya agar kasus yang dialami oleh keluarganya bisa cepat selesai.
"Lha resiko ne nopo pak?"
(Apa resikonya, pak?)

"Yo, sing sampun rumiyin nggih macem-macem akibate. Wonten sing dadi edan, wonten sing keno musibah gede, malah ono juga sing taruhan e nyowo".
(Yang sudah terjadi bermacam-macam akibatnya. Ada yang gila, ada yang kena musibah -
- bahkan ada juga yang taruhannya nyawa.)

"Monggo dirembug rumiyin, dimantepke disik karepane. Asale, ritual koyo kui mau resikone abot. Dan ora sembarangan"
(Silakan dipertimbangkan lagi, diyakinkan dulu. Karena ritual seperti itu resikonya berat. Dan tidak sembarangan).
Pak Roni tidak terlalu banyak bicara saat bertemu dengan juru kunci makam keramat itu.
Sekali lagi, ia hanya mengikuti ajakan pak Rusdi.
Pak Roni masih tetap yakin, bahwa kasus ini masih bisa diselesaikan secara hukum.
Kalau tidak oleh polsek, masih ada tingkat polres, bahkan kalau perlu sampai ke mabes polri.

Saat dimintai pendapat oleh Pak Rusdi, pak Roni hanya mempersilakan upaya apa pun yang ingin ditempuh, termasuk rencana sumpah pocong.
Namun, bukan sepenuhnya karena pak Roni percaya dengan ritual sumpah pocong itu.
Tapi Pak Roni ingin tau, bagaimana reaksi pihak majikan mbak Nia jika diajak melakukan sumpah pocong.
Reaksinya nanti, setidaknya bisa menjadi pertimbangan, apakah H. Takur pelakunya atau bukan.
Setelah mendatangi juru kunci makam keramat itu, pak Rusdi, Pak Roni, ditemani beberapa warga mendatangi rumah H. Takur.
Mereka sepakat, ingin mengajak H. Takur dan beberapa anggota keluarganya yang diduga terkait dengan penyebab kematian mbak Nia, untuk melakukan sumpah pocong.
Mendengar ajakan itu, memang raut wajah H. Takur sempat berubah pucat. Seperti ada rasa takut dan khawatir.
Reaksi itu lah yang ingin diketahui pak Roni.

H. Takur pun seakan mulai pasrah. Ia seperti sudah merasa lelah dengan tekanan batin akibat tuduhan dan gunjingan warga.
Dengan terpaksa, beliau mengikuti ajakan Pak Rusdi dan warga yang lain.

"Nggih, menawi nyuwun kados niku, kulo terimo. Mung, sepisan maleh kulo saestu, sanes kulo sing mateni mbak Nia".
(Kalau maunya seperti itu, saya terima. Tapi, sekali lagi saya yakinkan bukan saya pelakunya)
Kabar rencana Sumpah Pocong pun mulai tersebar di kalangan warga sekitar, dan ditanggapi dengan penuh antusias.
Warga sudah cukup dibuat penasaran oleh kasus itu. Terlebih, belum ada kejelasan siapa pelakunya.
Tiba lah saatnya, prosesi sumpah pocong itu hendak dilaksanakan.

Saat itu, jumat tanggal 3 Maret 2017, selepas salat jumat puluhan warga, dengan naik berbagai kendaraan mendatangi komplek makam keramat yang sebelumnya sudah ditetapkan sebagai lokasi sumpah pocong.
Warga ingin menyaksikan secara langsung pelaksanaan sumpah yang akan dilakukan oleh keluarga H Takur dan keluarganya.
“Sumpah pocong ini memang atas permintaan warga dan kerabat korban kepada keluarga majikan, disebabkan kasus kematian janda beranak 2 itu hingga kini masih belum terungkap,” ungkap tetangga mbak Nia, yang sempat diwawancarai oleh wartawan sebuah media cetak.
Semua pihak sudah terlihat berkumpul di lokasi makam keramat. Disertai oleh pihak kepolisian dan koramil yang memang telah diberitahu perihal rencana sumpah pocong itu.

Dan sebelum ritual dimulai, Kedua pihak keluarga kembali diyakinkan.
"Sepisan maleh, kulo badhe tangkled, nopo panjenengan sedoyo sampun yakin?"
(Sekali lagi, saya tanyakan, apa kalian semua sudah yakin?)

"Siap nampi resikone?"
(Siap menerima resikonya?)

"Sinten sing bener, lan sing salah, gusti Allah sampun ngertos"
(Siapab yang benar dan salah
Allah sudah mengetahuinya).

"Ritual meniko, mung sekedar kanggo ngeyakinke, dewe sing urip. Sopo sing salah, mesti oleh ganjaran e"
(Ritual ini, hanya sekedar untuk meyakinkan kita yang hidup. Bahwa siapa yang salah pasti akan mendapat ganjarannya).
"Nanging, kulo sekedar ngelekke. Wonten ing acara sumpah meniko, sinten sing salah mboten cuman sing dituduh. Sing nuduh ugi salah yen ternyata tuduhane ora pas. Resikone, ugi saged mbalek kalian njenengan sing nuduh"
(Tapi, saya sekedar mengingatkan. Di acara sumpah ini -
- siapa yang bersalah bukan cuma yang dituduh. Yang menuduh pun juga bersalah jika ternyata tuduhannya tidak terbukti. Resiko dari ritual ini, bisa saja berbalik pada pihak yang menuduh)

"Gusti Allah Maha Adil"
Pak Rusdi, nampak semakin ragu dengan acara ini. Apa lagi saat beliau kembali mengingat resiko apa yang akan diterima pihak yang bersalah.
Beliau mulai bimbang.

Salah seorang warga yang ikut mendampingi, ikut menyampaikan pendapatnya.
"Priye, ji? Sampean yakin po ra?"
(Gimana pak? Anda yakin atau tidak?)

Pak Rusdi semakin bimbang. Dan dengan terbata-bata, mengeluarkan sebuah pertanyaan.

"Tapi niki nggih sami karepane wong-wong kampung pak. Terus opo berarti wong kampung bakal nerimo resikone juga?"
Pada akhirnya, terjadi perdebatan di lokasi itu. Beberapa warga yang hadir dan mendengar penjelasan juru kunci, ada yang merasa khawatir dengan resiko yang juga akan berimbas pada warga sekitar.
Termasuk Pak Rusdi pun semakin merasa bimbang.
Dia akan merasa bersalah jika warga-
- ikut merasakan resiko dari ritual itu.

Perdebatan itu pada akhirnya menjadi alasan dibatalkannya Ritual Sumpah Pocong itu. Menurut juru kunci, tidak ada keyakinan penuh dari kedua pihak untuk melakukan Ritual yang penuh resiko itu. Yang jika diteruskan, justru akan berakibat-
- fatal.

Dengan berat hati, pihak keluarga mbak Nia, yang diwakili oleh Pak Rusdi, pun merelakan acara itu dibatalkan.

Dan ditempat itu pula, akhirnya dibuatkan kesepakatan antara pihak keluarga mbak Nia dan H. Takur.
Pihak H. Takur menghendaki, setelah acara itu, tidak ada lagi tuduhan-tuduhan yang ditujukan pada keluarganya. Dan menyanggupi, untuk terus kooperatif dengan pihak kepolisian sampai kasus ini selesai.
Tak hanya pihak keluarga Mbak Nia yang merasa kecewa atas dibatalkannya ritual sumpah pocong itu. Beberapa warga pun merasakan hal yang sama. Pasalnya, warga yang hadir sudah ber-ekspektasi bahwa melalui acara itu, akan terkuak misteri pembunuhan yang merenggut nyawa mbak Nia.
Kasus itu pun kembali diserahkan pada pihak kepolisian.

-gambar ilustrasi-
Pasca gagalnya acara sumpah pocong, ternyata situasi di kampung belum juga lega. Peristiwa penemuan jasad mbak Nia di Garasi pabrik, masih terus menjadi bahan pembicaraan.

Upaya mencari solusi lain pun, terus dibahas baik oleh pihak keluarga mbak Nia maupun warga sekitar.
Namun, yang disesalkan baik oleh pihak keluarga mbak Nia dan warga yang ikut peduli, adalah setelah itu pihak keluarga H. Takur seakan pasif dalam mengupayakan kasus itu.
Dan suatu ketika, datang kabar dari seorang anggota kepolisian yang berkunjung ke rumah pak Rusdi. Sebut saja pak Bhabin.
Ditemani pula oleh seorang anggota koramil, sebut saja Pak Mandan. Keduanya bermaksud menawarkan sebuah jalan yang bisa ditempuh.
Keduanya menyarankan agar pihak keluarga menyiapkan surat yang ditanda tangani oleh warga sekitar, untuk dibawa sebagai pengaduan ke beberapa instansi terkait di ibu kota.
Saran itu dianggap bagus oleh pak Roni. Beliau sangat mendukung upaya seperti itu, ketimbang melalui jalan lain.

Saran tersebut pun, akhirnya dibahas bersama warga yang kemudian sepakat membuat surat aduan ke berbagai instansi terkait di Ibu kota.
Tanpa waktu lama, pihak pak Roni pun telah mempersiapkan dokumen yang dibutuhkan. Dan setelah dibahas dengan warga yang lain, akhirnya diputuskan pihak keluarga mbak Nia yang diwakili oleh Tyo dan kedua pamannya disertai beberapa orang warga, bersedia untuk mengantarkan -
- pengaduan itu secara langsung, dengan mendatangi beberapa kantor instansi tersebut.

Diantara Instansi yang diberi surat pengaduan yaitu, Komnasham, Ombudsman, Kontras, Polda Jateng, Mabes Polri, bahkan memberikan tembusan ke Presiden.
Sekitar dua bulan setelah itu, sekitar bulan juni 2017, saya baru ikut berpartisipasi dalam upaya pengungkapan Kasus ini.

Seluruh cerita yang telah saya sampaikan, merupakan hasil dari Investigasi yang saya lakukan bersama beberapa pemuda kampung itu.
Di sesi terakhir dari thread ini, saya ingin menceritakan tentang hal-hal yang kami lakukan dan alami selama proses Investigasi.

Dan nanti akan saya sertakan beberapa dokumen terkait kasus, yang pasti, untuk nama orang dan tempat yang tercantum, akan saya sensor.
Dan ada satu orang saksi penting, yang belum saya sampaikan ceritanya. Sebuah keterangan tentang sehari sebelum penemuan jasad Mbak Nia, serta apa yang dialaminya setelah kejadian.

Bagian terakhir dari thread tentang kasus pembunuhan mbak Nia di Garasi Pabrik.

Segera dimulai...
= MISTERI PEMBUNUHAN =
---- DI GARASI PABRIK ----

Bagian IV : Pencarian Fakta

Aruf, teman SD saya dulu, adalah salah seorang warga yang tinggal satu kampung dengan Keluarga Mbak Nia.
Waktu itu, saya sedang servis motor di bengkel tempatnya bekerja.
Sambil menunggu-
- motor saya yang sedang di servis, seperti biasanya saya memulai pembicaraan.

"Bro, kasus nggon kampungmu kae durung rampung yo kabare?" tanya saya membuka obrolan.
(Bro, kasus di kampungmu itu kabarnya belum selesai ya?)
"Sampe digaweke spanduk koyo kae. Sopo si sing gawe?"
(Sampai dibuatkan sepanduk seperti itu. Siapa si yang membuat?)

Pertanyaan itu sekenanya saya tanyakan pada Aruf, karena beberapa hari sebelumnya di ruas jalan desa kami terpasang sebuah spanduk yang cukup membuat geger masyarakat.

Spanduk terkait kasus pembunuhan yang sempat-
membuat geger masyarakat.

"Durung. Mbuh kae, kabare sek mandhek ning kepolisian"
(Belum. Entahlah, kabarnya masih berhenti di kepolisian)

"Lha asline cerito ne kui priye?" tanyaku penasaran.

Sambil nyervis motor saya, Aruf menceritakan secara singkat tentang kronologi kejadian
"kabare koyo kui ceritane. Nek detail e aku juga kurang ngerti"
(Kabar ceritanya seperti itu. Kalau detailnya, aku juga kurang mengerti)

"Kok biso yo, tekan saiki durung ketemu pelakune"
(Kok bisa ya, sampai sekarang belum ketemu pelakunya).

"Ah, mbuh kabeh nek kui"
(Entah lah)
Mendengar sedikit penuturan dari Aruf, selama beberapa hari, saya terus memikirkan kasus itu. Masih merasa tidak percaya, kejadian seperti itu bisa terjadi di sekitar desa saya.

Selama ini, saya pun prihatin saat melihat beberapa kasus pembunuhan di televisi, yang dibuat -
- menjadi sebuah sinetron mini seri.

Sore itu, beberapa hari setelah saya servis motor di bengkel Aruf, saya menerima pesan WA dari teman masa kecil saya itu.

"Bro, kowe sek penasaran karo kasus kae po ra?"
(Bro, kamu masih penasaran dengan kasus itu gak?)
"Iki cah-cah oleh info tentang kasus kae. Ono wong sing ngerti tentang kasus iki. Kabare wong penting."
(anak-anak dapat info tentang kasus. Ada orang yang tau kasus ini. Kabarnya orang penting).

"Nek meh melu nemoni wong e, mengko melu kumpul bae."
(Kalau ingin ikut menemui -
- orang itu, nanti ikut kumpul saja)

Rasa penasaran saya semakin kuat. Berawal dari iseng sekedar ingin tau cerita sebenarnya, pada akhirnya saya pun terbawa cukup jauh terhadap upaya pengungkapan kasus itu bersama Aruf dan beberapa temannya yang lain.
Malam itu, kami diajak ke kediaman seorang anggota kepolisian. Disana, rupanya ada satu orang lain yang juga merupakan anggota aparatur negara.

Kedua orang itu, awalnya menanyakan keseriusan kami yang ingin membantu upaya pengungkapan kasus. Dan sedikit menjelaskan resikonya.
Salah seorang dari kami, adalah Rohman. Teman saya yang ternyata masih punya hubungan saudara dengan Mbak Nia.
Rohman terlihat tidak terlalu antusias saat mengetahui orang yang dimaksud oleh Aruf adalah kedua orang itu.
Ada alasan kenapa ia tak begitu antusias.
Saya yang saat itu masih belum mendalami kasus itu, hanya berusaha mendengar dan mengamati beberapa informasi yang disampaikan.
Belum ada yang bisa saya komentari, sampai pada saatnya terucap sebuah rencana yang disarankan oleh si empunya rumah.
Sebuah rencana yang saya anggap cukup tidak mungkin untuk dilakukan oleh kami yang hadir. Namun, berbeda dengan anggapan saya, Aruf dan Rohman, seakan menganggap positif rencana itu.
Akhirnya, berhubung saya sudah terlanjur bergabung, saya pun hanya berusaha mengikuti keputusan
Menurut saya, pertemuan itu menjadi awal munculnya kembali kasus itu setelah beberapa bulan belum terungkap.

Malam selanjutnya, Aruf mengajak saya dan beberapa teman termasuk Rohman, untuk menemui Pak Roni. Dan itu, merupakan awal pertama saya mengenal beliau.
Di rumah Pak Roni, kami semua mendengar cerita keseluruhan terkait perkembangan Kasus itu dari pihak keluarga Mbak Nia.
Penjelasan dari pak Roni, begitu jelas, tertata dan diceritakan dengan cara dan alur yang rapih. Bagi saya, mencerminkan bahwa orang itu bukan orang yang -
- berpendidikan rendah. Yang kami temui ini adalah orang yang terpelajar, dengan pengalaman yang pasti cukup luar biasa.

Tak hanya menceritakan terkait perkembangan kasus, Pak Roni pun menunjukkan beberapa dokumen dari berbagai Instansi. Tak hanya dari pihak kepolisian -
- bahkan, ada dokumen lain yang asalnya dari badan pengawas aparatur negara dan organisasi pegiat kemanusiaan.
Dokumen-dokumen itu ter-arsip dengan rapih. Tak ada yang kurang sedikit pun.

Saya pun sempat terkagum tak percaya, dan penasaran dengan sosok Pak Roni.
Salah satu dokumen penting yang ditunjukkan Pak Roni adalah sebuah Surat keterangan dari Pihak Kepolisian yang berisi hasil penyelidikan. Terdapat beberapa keterangan Saksi Utama dan juga hasil Visum dan Autopsi.

Sebagai orang yang baru bergabung dalam upaya penanganan kasus-
- saya cukup beruntung, karena bisa langsung mengetahui perihal kasus itu dari pihak keluarga korban, bahkan sampai mendapatkan informasi penting yang sumbernya dari dokumen resmi.

Bukan sekedar mendengar kabar burung atau sekedar "Katanya".
Di rumah Pak Roni, kami pun membahas sebuah rencana yang sempat disarankan pada kami. Namun, saat kami menceritakan siapa orang yang menyarankan rencana itu, raut wajah Pak Roni seakan berubah. Ada kesan heran dan curiga dengan orang-orang itu.
Pak Roni pun menceritakan sedikit hal tentang orang yang sempat kami temui di malam sebelumnya.
Kedua orang itu adalah pak Bhabin dan pak Mandan, dua orang yang pernah membantu pihak keluarga untuk memperjuangkan kasus ini hingga ke Ibu Kota.
Ada hal yang tak perlu diceritakan tentang Pak Bhabin dan Pak Mandan. Pak Roni hanya berpesan, selama yang disarankan itu adalah hal positif dan berkemungkinan menjadi titik terang kasus ini, beliau akan mendukung dan ikut serta membantu.
Dan Pak Roni memberitahu, jika memang kami serius akan menjalankan rencana itu, kami disarankan untuk berkoordinasi dengan Pak Rusdi.

Keesokan harinya, kami pun menemui Pak Rusdi di rumahnya. Pak Roni turut hadir dalam pertemuan itu.
Rencana apa yang setelah itu jadi kami lakukan?
Dokumentasi ini, mungkin bisa sedikit mengingatkan...
Sebelum menjalankan rencana itu, kami sempat mendatangi beberapa tokoh desa. Termasuk pihak keluarga H. Takur.
Keluarga H. Takur yang kami datangi adalah Abah.
Di kampung Aruf, Abah adalah seorang pemuka agama yang ditokohkan. Beliau pun pernah menjadi majikan mbak Nia, sebelum -
- bekerja di rumah H. Takur.

Ada cerita menarik saat Aruf mendatangi kediaman Abah.
Awalnya, Aruf sowan dengan maksud silaturahmi hari raya. Dan akhirnya membahas terkait kasus yang terjadi di kampungnya. Saat Aruf menanyakan pendapat Abah terkait kasus itu, Abah tidak ingin-
- terlalu banyak berkomentar. Beliau hanya mengatakan, bahwa kasus itu sedang diproses pihak kepolisian.

Menurut Abah sendiri, penyebab kematian Mbak Nia juga belum jelas. Belum tentu suatu tindak pembunuhan. Karena pihak kepolisian pun saat itu belum menyatakan secara resmi.
Aruf sempat terheran mendengar penuturan Abah.
Hampir semua warga Kampung sudah meyakini bahwa kasus itu adalah kasus pembunuhan. Tapi kenapa Abah masih belum percaya?

Aruf pun jadi berfikir, "pantas saja orang-orang jadi menuduh pihak keluarga majikan mbak Nia-
- ternyata pihak keluarga majikan sendiri memang terkesan menutup-nutupi perihal kasus itu".
Tapi, Aruf mencoba menghilangkan prasangka itu. Dengan sabar, ia menjelaskan pada Abah terkait hasil dari penyelidikaan pihak kepolisian.

Dan saat itu, Aruf menunjukkan salinan surat -
- yang berisi hasil penyelidikan sementara pihak kepolisian, yang ia dapatkan dari Pak Roni. Aruf menunjukkan detail demi detail penjelasan yang tertera dalam salinan surat itu.

Dan sedikit menekankan pada sebuah kalimat yang menyatakan bahwa kasus itu merupakan kasus -
- dugaan pembunuhan.
Tak lupa, ia tunjukkan keterangan Hasil Visum dan Hasil Autopsi yang menjadi penjelasan yang cukup panjang dalam surat itu.

Abah seakan tak percaya. Ia baru melihat ada surat seperti itu yang telah dikeluarkan oleh pihak kepolisian.
Pada akhirnya, Abah pun ikut memberikan dukungan pada Kami.

Kami menyampaikan, akan mengadakan acara doa bersama yang dikhususkan untuk Almarhumah mbak Nia. Dan abah bersedia ikut serta dalam acara doa bersama itu.
Tak seperti yang disangkakan oleh kebanyakan orang. Kami benar-benar mempersiapkan setiap detail dari rencana itu dengan matang.
Dengan dibantu para pemuda di kampung Aruf yang sangat antusias, kami mempersiapkan acara doa bersama.

Saya dan Aruf pun bekerja sama dalam -
- mempersiapkan segala perijinan. Dari undangan, surat pemberitahuan ke pihak pemerintah Desa, pihak kepolisian dari polsek hingga polres, pihak koramil, bahkan surat pemberitahuan itu kami tembuskan hingga kantor sekretariat daerah. Dengan harapan, acara yang kami adakan -
- tertib secara administratif. Bukan sekedar acara amatir yang hanya terbawa emosi.

Susunan acara telah sesuai dengan rencana kami saat itu. Diawali dengan acara doa bersama pada malam hari, dan dilanjutkan dengan acara Demonstrasi Warga di pagi harinya.
Dan benar saja. Aksi yang dilakukan oleh warga desa kami saat itu, berhasil menggugah pihak kepolisian untuk bekerja lebih maksimal dalam mengungkap kasus ini.

Aksi tersebut dimulai dari berkumpulnya peserta demo di depan kantor balai desa, dilanjutkan berjalan kaki menuju -
- aksi di depan kantor Polsek, dan terakhir di depan kantor polres.
Aksi tersebut pun gempar diberitakan di hampir semua surat kabar yang beredar di kota dan kabupaten.

Sebuah acara yang tidak pernah kami duga akan berjalan dengan lancar dan sukses.
Berkat kesuksesan acara itu, akhirnya pihak kepolisian kembali melanjutkan proses penyelidikan kasus itu. Tak hanya pihak kepolisian, pihak pemerintah Desa pun pada akhirnya melakukan rembug warga untuk membahas permasalahan ini.

Kami pun, ikut serta dalam rembug warga itu.
Rembug warga itu diadakan di kantor balai desa. Pihak keluarga H. Takur, Keluarga Mbak Nia, pemuda desa, dan Tokoh-tokoh desa pun hadir dalam rembug saat itu.

Acara itu pun, kami manfaatkan untuk menyebarkan informasi terkait perkembangan kasus yang kami peroleh dari Pak Roni.
Salinan surat keterangan hasil penyelidikan dari pihak Polda kami perbanyak dan bagikan dalam acara tersebut.

Acara rembug warga itu pun akhirnya memberikan penegasan pada warga bahwa kasus itu adalah kasus pembunuhan.

Surat keterangan dari pihak kepolisian yang kami bagikan
pada akhirnya mampu menepis kabar yang tidak tepat terkait kasus ini.

Sebelumnya, memang ada pihak yang mengabarkan bahwa meninggalnya mbak Nia disebabkan oleh kecelakaan kerja. Ada kabar tersetrum, diserang binatang buas, bahkan ada yang mengabarkan kalau mbak Nia terkena -
serangan jantung.
Tak peduli siapa yang pernah menyebarkan berita itu, yang pasti, pada akhirnya warga dapat diyakinkan bahwa kematian mbak Nia, adalah disebabkan oleh tindak pidana pembunuhan.
Real Story dari keterangan polda, silakan disimak.
Sumber dokumen didapatkan dari pak Roni.
Sesi terakhir ini saya ceritakan dengan sudut pandang diri sendiri. Belum selesai.
Setelah dua kejadian itu, aksi demo warga dan rembug desa, proses pencarian fakta yang saya lakukan bersama Aruf mulai berjalan.

Kami mendatangi beberapa saksi kejadian dan menggali keterangan-
- dari mereka.
Disela proses investigasi kami, ada beberapa hal mistis yang terjadi. Di alami oleh Aruf dan Rohman, yang memang tinggal di sekitar kampung itu.
Malam itu, saya mendapat sebuah pesan dari Aruf.
"Bro, iki wes do ning lokasi. Cepet nusul".

Kami berencana mendatangi seorang saksi yang cukup penting, saksi yang menjadi salah satu orang pertama yang menemukan jasad mbak Nia di Garasi.
Mendapat kabar bahwa Aruf dan beberapa orang yang lain sudah berkumpul, saya langsung menuju sebuah tempat disekitar kampungnya Aruf.

Sesampainya saya di lokasi, sudah ada disana Rohman yang sedang duduk sambil berinteraksi dengan beberapa orang yang belum terlalu saya kenal.
Setelah tau saya sudah tiba di lokasi, Aruf segera mengajak kami untuk menemui seseorang, yang saat itu cukup dikenal oleh Rohman karena pernah satu pabrik dengannya.

Orang yang akan kami temui adalah Ira. Yang diajak oleh H. Takur menutup mobil sebelum menemukan jasad mbak Nia.
Ira, ternyata adalah salah satu adik kelas kami saat di madrasah (setingkat SD) dulu.
Setelah lulus sekolah, ia bekerja di pabrik yang lokasinya bebarengan dengan rumah H. Takur itu.
Dalam perbincangan dengan Ira, kami menemukan keterangan terkait kronologis kejadian penemuan jasad Mbak Nia, sesuai yang telah saya sampaikan di awal cerita ini.

Ira masih cukup trauma dengan kejadian itu. Ia tak bisa melupakan bagaimana keadaan jasad mbak Nia saat ditemukan
Bayangannya masih terus terlintas dipikirannya. Selain itu, Ira juga bercerita bahwa semenjak kejadian itu, ia sering parno dengan keadaan tempatnya bekerja.

Menurut penuturan Ira, beberapa kali saat ia sedang bekerja, sering tercium bau aroma melati disekitar tempat kejadian
Tak hanya itu, terkadang ia merasakan ada angin lembut yang berhembus disekitarnya, seakan ada sosok yang mengawasinya saat bekerja ditempatnya, yang memang ruangannya berdekatan dan terhubung dengan area Garasi.

Sebenarnya, bukan hal mistis yang menjadi konsentrasi kami.
Yang ingin kami ketahui adalah keterangan Ira baik sebelum, saat kejadian, dan setelahnya.
Hal-hal apa saja yang terjadi di pabrik itu menurut kesaksian Ira.
Setelah cerita tentang kronologis kejadian penemuan jasad, Ira menceritakan sebuah kabar yang ia dengar terkait satu hari sebelum kejadian.

Namun, ia tak benar-benar tau kejadian sebenarnya.
"Nek sampean pingin ngerti ceritane, kui sing ngerti mbak Fia."
(Kalau kalian ingin-
- tau bagaimana ceritanya, yang tau mbak Fia).
"Mbak Fia kui sopo, Ir?"
(Mbak Fia itu siapa, Ir?)
Tanya Aruf.
"Kae lho, sing nunggoni Toko ne mbak Gina"
(Itu lho, penjaga tokonya mbak Gina).

Dari keterangan yang diperoleh, mbak Gina istri H. Takur, punya usaha toko kerudung-
- yang dijual secara online, di rumahnya. Usaha toko kerudung itu, dibantu oleh salah seorang cewek yang bukan berasal dari desa kami. Namanya Mbak Fia.

Menurut Ira, mbak Fia adalah seseorang yang tau kejadian disekitar rumah & pabrik pada hari sebelum kejadian menghebohkan itu.
Kami cukup penasaran dengan mbak Fia. Rumahnya yang bukan disekitar kampung, membuat kami cukup sulit menemukan lokasi rumahnya.
Belum juga menemukan lokasi rumah mbak Fia, Aruf dan Rohman berencana melakukan rencana lain.

Rohman bercerita bahwa ia pernah diajak oleh temannya mendalami ilmu spiritual ditempat seorang guru, di salah satu daerah di kabupaten. Dan beberapa hari sebelumnya, Rohman sempat-
- berkomunikasi dengan gurunya itu.

Mengetahui bahwa kasus yang menimpa salah satu kerabat Rohman belum juga terselesaikan, sang Guru menawarkan salah satu cara alternatif yang bisa ditempuh.

Rohman mengajak Aruf yang kemudian mengajak saya, untuk ikut menemui gurunya.
Sayangnya, saat itu saya tidak bisa ikut bersama mereka, karena suatu hal.

Saat Aruf dan Rohman pergi ke kediaman gurunya, saya sempat merasa kepikiran sekaligus penasaran dengan apa yang terjadi disana.
Tepat sebelum tengah malam, tiba-tiba saya merasa mengantuk dan tertidur-
- digelaran lantai di ruang tamu rumah orang tua saya.

Belum berapa lama saya tertidur, tiba-tiba saya seakan terbangun dan berjumpa dengan Pak Roni.
Keadaannya saya masih berada di rumah saya, sampai saya tidak bisa membedakan apakah itu mimpi atau nyata.
Pak Roni berbincang dengan saya cukup lama, mengeluhkan musibah yang menimpa keponakannya dan memikirkan bagaimana tindakan yang perlu dilakukan.

Ditengah pembicaraan, Pak Roni mengajak saya pergi ke suatu tempat.
Dengan motor butut, entah milik siapa, saya dan pak Roni pergi-
- meninggalkan rumah saya yang saat itu sepi, meski lampu disekitar rumah masih menyala, seakan lebih terang dari biasanya.

Saya tidak tau pasti kemana pak Roni mengajak saya pergi. Rasanya, perjalanan itu terasa begitu lama. Entah karena jarak tujuan yang jauh, atau karena -
- kendaraan kami sudah tidak layak jalan.
Namun, ditengah perjalanan, tiba-tiba cuaca terlihat mendung, langit berubah menjadi gelap.

Saya agak menyadari, bahwa sebenarnya apa yang sedang saya alami saat itu adalah mimpi. Meskipun saya tidak terlalu memikirkannya.
Pasalnya, saat saya mulai terlelap, saya masih mengingat bahwa keadaannya malam hari. Namun diperjalanan, sebelum langit tiba-tiba berubah jadi gelap, saya dan pak Roni melalui jalanan dengan keadaan sudah siang hari, bahkan saking lamanya perjalanan saat itu, waktu yang kami -
- tempuh, hampir selama seharian penuh.

Melihat langit yang sudah tidak kondusif untuk meneruskan perjalanan, kami pun memutuskan untuk membatalkan pergi ke tempat tujuan.

Pak Roni merasa tidak enak, dikarenakan kami baru saja mengenal karena kasus ini, tapi beliau sudah -
- melibatkan saya terlalu jauh, sampai merepotkan.

Dalam perjalanan pulang itulah, kami dihadang oleh badai. Badai yang seharusnya tak biasa terjadi di daerah sekitar kami.

Angin bergejolak, hingga menerbangkan debu dan tanah disekitarnya.

Anehnya, Pak Roni berani menerjang -
- badai itu. Seakan, ia merasa bertanggung jawab untuk mengembalikan saya pulang ke rumah.

Saya sudah cukup khawatir dengan keadaan, ada rasa takut kami tersapu badai yang mengamuk sangat dahsyat itu. Tapi pak Roni terus menarik gas lebih kuat untuk mempercepat laju motor.
Dengan penuh perjuangan, akhirnya kami dapat selamat sampai di halaman rumah orang tua saya.

Saya masih merasa sangat syok, setelah berhasil menerjang badai saat perjalanan pulang.

Muka Pak Roni pun saya amati telah berubah memerah. Seakan ada perasaan yang campur aduk, sedang-
- beliau rasakan.

Beliau pun pamit pulang setelah merasa agak tenang.

Saya baru menyadari selama kejadian yang baru saja saya alami, saya tak berkata sepatah katapun.
Setelah Pak Roni pamit pergi. Saya termenung, memikirkan apa sebenarnya yang baru saya alami bersama pak Roni.

Saya kembali terduduk di tempat yang sama seperti saat saya terlelap. Saya terus kepikiran, dan belum bisa mengalihkan pikiran dari kejadian itu.

Karena merasa lelah -
- saya coba merebahkan diri.
Seketika itu pula, saya terbangun dan berusaha memperhatikan ruangan sekitar.

Ruangan itu, terasa tak seterang sebelumnya. Lampu ruangan sudah dimatikan, hanya cahaya dari luar ruangan yang terlihat masuk melalui celah jendela.
Saat itu lah, saya baru menyadari bahwa kejadian yang saya alami hanyalah sebuah mimpi.

Mimpi yang aneh. Karena belum lama saya mengenal pak Roni, beliau sudah hadir dalam mimpi saya.

Saya mulai memikirkan, kenapa saya bisa bermimpi kejadian seperti itu?
Mungkin kah, mimpi itu berkaitan dengan kasus yang terjadi di keluarga Pak Roni? Dan karena saya telah terlanjur ikut serta, apakah saya jadi terbawa dalam sebuah masalah yang tidak benar-benar saya pahami?
Setelah malam itu, Aruf menghubungi saya melalui sebuah pesan singkat. Dia berencana untuk meneruskan investigasi kami, mencari rumah Mbak Fia.
"Bro, ono kabar, Rohman wes oleh alamate mbak Fia"
(Bro, ada kabar, Rohman sudah mendapat alamat mbak Fia)
Mendapat kabar bahwa Aruf dan Rohman sudah mendapatkan alamat tempat tinggal mbak Fia, siang itu saya pun pergi menemui Aruf di bengkelnya.

Sebelum menanyakan perilhal alamat mbak Fia, saya menanyakan bagaimana hasil pertemuannya dengan Guru spiritualnya Rohman.
Sambil mengerjakan pekerjaannya, Aruf mulai menceritakan apa yang ia alami di kediaman gurunya Rohman.

Ia bercerita, malam itu ia berangkat ke kediaman gurunya Rohman sekitar pukul 11 malam. Perjalanan menuju kediaman gurunya Rohman cukup menyeramkan.
Pasalnya, ia harus melewati jalan penghubung antar desa yang kondisi kanan-kirinya beberapa kali masih berupa hutan atau perkebunan yang lebat, karena lokasi kediaman gurunya Rohman itu berada di sebuah desa yang bisa dikatakan cukup jauh dari wilayah kota.
Perjalanan saat itu terasa sangat dingin, tak seperti biasanya. Namun, waktu yang mereka butuhkan untuk sampai di desa itu seakan tidak terlalu lama, padahal jaraknya sendiri sangat jauh dari desa kami.

Sesampainya di rumah sang Guru, kedatangan mereka-
- ternyata sudah ditunggu.

Setelah berbincang sebentar, sang guru langsung mengajak Aruf dan Rohman untuk mulai melafadzkan doa. Saat itu, mereka duduk digelaran karpet yang tidak terlalu lebar, disekitar ruang tamu. Pencahayaan ruangan sendiri cukup terang, tidak terlalu redup
Aruf yang baru datang ke tempat itu, dan belum terlalu mengerti doa-doa khusus yang harus dilafadzkan, disarankan untuk membaca surat-surat dan ayat Al-Quran yang ia hafal.

Selama beberapa saat, mereka melakukan amalan yang menurut Aruf masih wajar dilakukan, karena sesekali-
- Aruf mendengar lantunan doa yang ia pahami.

Sampai dipertengahan pelaksanaan amalan itu, Aruf mulai merasakan keadaan yang tidak biasa. Ada keanehan yang ia rasakan berasal dari luar rumah itu.

Aruf berusaha tak mempedulikan itu, dan terus melafadzkan surat Al-Ikhlas yang -
- menurutnya merupakan surat yang penuh dengan khasiat.

Sayangnya, keanehan itu bukannya hilang, justru dirasa lebih kuat. Pandangannya tak sengaja tertuju pada celah jendela ruangan itu.

Di luar ruangan, seakan terjadi badai, karena dari celah jendela itu aruf bisa melihat-
- pepohonan disekitar rumah itu mulai bergoyang seperti diterpa angin. Anehnya, menurut Aruf, badai itu seakan hanya menerpa pepohonan, sedangkan benda lain disekitarnya tak tersentuh sedikit pun. Mungkin karena Aruf tidak melihat secara utuh apa yang sebenarnya sedang terjadi -
- di luar rumah.

Seakan menyadari adanya keanehan itu, tiba-tiba sang guru beranjak dari tempatnya. Aruf mengatakan, bahwa saat itu sang guru menyuruh mereka untuk terus melafadzkan doa dan tidak beranjak dari tempat itu. Dan setelah menyampaikan pesan itu, -
- sang guru pergi keluar ruangan. Aruf dan Rohman mulai merasa ngeri. Dengan rasa khawatir yang semakin berkecamuk, dan disertai rasa takut, mereka terus melafadzkan doa.

Tapi, ditengah situasi itu, Aruf masih sempat mencuri pandang ke celah jendela.
Di luar ruangan, badai itu seakan lebih kencang menerpa pepohonan. Yang mengherankan, meski diterpa badai yang sedahsyat itu tidak ada satu pohon pun yang tumbang.

Tiba-tiba, aruf terkejut, saat dari celah jendela yang ia perhatikan, ada sosok yang hanya bisa ia lihat matanya -
- sosok itu berada di kejauhan, namun pandangannya seakan tertuju pada Aruf yang terus berusaha mencuri pandang ke celah jendela itu.

Aruf tak menceritakan apa yang terjadi setelah itu. Tapi, satu hal yang ia pastikan bahwa ia sempat pinsan dan terbangun setelah sang guru-
- masuk kembali ke dalam ruangan itu, serta keadaan di luar seperti sudah kembali normal.

Saya yang mendengarkan penuturan Aruf, ikut merasa ngeri dengan cerita pengalamannya itu. Karena saya jadi teringat dengan mimpi yang saya alami pada malam yang sama.
Dalam mimpi saya pun ada badai yang juga terjadi cukup hebat. Saya jadi merasa ada kesamaan kejadian antara yang terjadi di kediaman gurunya Rohman dengan yang terjadi di mimpi saya, dan entah kenapa saya merasa kedua hal itu saling terkait.
Saya pun sempat memotong cerita aruf untuk memberitahu perihal mimpi yang saya alami.

Setelah itu, Aruf kembali melanjutkan, setelah saya menanyakan bagaimana cerita selanjutnya, setelah ia terbangun dari pingsannya.
Aruf mengatakan, bahwa setelah ia bangun dari pingsan, sang guru mulai menjelaskan pada Aruf dan Rohman apa yang sebenarnya terjadi di luar rumah itu.

Saat itu, menurut penjelasan sang guru, kediamannya telah dikepung oleh ribuan pasukan tak terlihat. Terdiri dari bermacam-
- siluman dan makhluk ghaib, berusaha menyerang masuk kedalam rumah.

Apa yang terjadi pada malam hari itu, sang guru mengatakan bahwa beliau sebelumnya sempat berusaha memanggil arwah mbak Nia, tapi ada yang datang bersama arwah itu.

Tapi, hal itu ternyata berakibat tidak -
- baik.

Sosok yang hadir bersama Arwah Mbak Nia, ternyata datang kembali bersama ribuan pasukan, bahkan membawa salah satu pemimpinnya.
Dan saat Aruf menceritakan hal itu, saya jadi teringat dengan cerita pak Roni, perihal Arwah yang dikawal, seperti keterangan yang didapat pihak keluarga mbak Nia dari paranormal yang pernah didatangi.
Penjelasan dari gurunya Rohman, seperti melengkapi cerita yang disampaikan oleh Pak Roni. Dan seakan mengungkapkan sosok apa yang telah memberikan pengawalan itu.
Setelah menyampaikan cerita itu, Aruf kembali mengingatkan perihal rencana untuk menemui mbak Fia.

Dan kami pun sepakat untuk mendatangi rumah mbak Fia, sehari setelah itu.
Aruf menjemput saya ke rumah. Malam itu kami berencana mendatangi rumah mbak Fia.

Sebelumnya, Aruf meminta saya agar menunggu di rumah saja sampai dia menjemput. Dia agak keberatan kalau saya yang datang.

Saya agak penasaran, kenapa? Ada apa kok sampai dia tidak mengijinkan -
- saya yang ke rumahnya.

Saat di perjalanan, saya menanyakan alasan kenapa saya diminta untuk tidak menjemputnya.

"Gerak gerik e dewe koyo wes diawasi."
(Gerak gerik kita seperti sudah diawasi).
Mendengar apa yang dikatakan Aruf, saya agak merasa heran dan penasaran.

Diawasi?

Siapa yang mengawasi? Dan kenapa di awasi?
Rasa penasaran itu coba saya abaikan.
Saya lebih penasaran dengan keterangan apa yang malam itu akan kami dapatkan dari mbak Fia.

Dari apa yang disampaikan oleh Ira, sosok mbak Fia ini mempunyai keterangan yang bisa dijadikan informasi terkait kejadian sebelum penemuan jasad-
- mbak Nia. Mungkin saja ada petunjuk tentang siapa yang berkemungkinan menjadi pelaku yang menghilangkan nyawanya.

Tak lama, kami hampir sampai di alamat yang kami dapatkan. Rumah mbak Fia.

Lokasi rumah mbak Fia, dikabarkan dekat dengan jalur perlintasan kreta api.
Kami pun mencari rumahnya dengan petunjuk yang sudah kami dapatkan.
Karena tidak begitu mengetahui daerah yang kami tuju, kami sempat bertanya pada beberapa orang yang kami jumpai.

Dan sampai lah kami di kediaman mbak Fia.
Benar saja, lokasinya memang tidak begitu jauh dari stasiun kota. Saat berada disana, beberapa kali saat ada kereta api yang melintas, suaranya terdengar cukup keras hingga kedalam ruang tamu tempat kami dipersilakan menunggu.

Orang tua mbak Fia yang pertama menyambut kami.
"Ono opo mas, sampean luru anakku?"
(Ada apa mas, kalian mencari anakku?)

Ayah mbak Fia, penasaran dan heran dengan kedatangan kami yang berniat ingin bertemu mbak Fia.

"Ngeten pak, kulo niki saking desa G*****."
(Begini pak, saya ini dari desa G*****)
Mendengar Aruf menyebut nama desa kami, Ayah mbak Fia agak terkejut.
Seperti keluarganya sudah begitu antipati dengan orang yang berasal dari desa kami.

Terlebih, saat kami mengatakan maksud dan tujuan kami datang, Ayah mbak Fia sampai tergugup merespon kami.
"Aku kui wes ngeroso sungkan, nek ono wong nggon sampean moro mrene ketemu anakku."
(Aku sudah tidak suka, kalau ada orang dari desamu datang kesini bertemu anakku.)

"Kenopo? Yo soale anakku koyo disangkut pautke karo kejadian sing ono ning kono".
(Kenapa? Ya karena anakku seakan disangkut pautkan dengan kejadian disana)

"Anakku, kui rak ngerti opo-opo, tapi kok sampe ono sing nuduh anakku mateni wong, malah sampe difitnah".
(Anakku itu tak tau apa-apa, tapi sampai ada yang menuduh membunuh orang, bahkan difitnah).
"Aku nganti gemes, nek krungu omongane wong nggon sampean, sing nuduh anakku saingan karo sing dipateni, opo meneh saingane masalah seneng karo majikane"
(Saya sampe gemas, kalau dengar perkataan orang ditempatmu, yang nuduh anakku saingan dengan yang dibunuh, -
- apa lagi saingannya masalah suka dengan majikannya).

Saya agak tertegun mendengar apa yang dikatakan Ayah mbak Fia.
Saya jadi bertanya-tanya, siapa yang mengatakan hal yang disampaikan oleh ayah mbak Fia itu?
Benar kah ada persaingan antara mbak Fia dengan Mbak Nia? Atau hal itu hanya sekedar rumor yang ikut beredar di kampung setelah kejadian itu?

Tak ingin terbawa prasangka, Aruf pun akhirnya mengutarakan maksud kedatangan kami yang sebenarnya.
"Anakku kui wes meh nikah mas. Dadi ora mungkin anakku saingan karo mbak kae"
(Anakku itu sudah hampir menikah mas. Jadi tak mungkin sampai bersaing dengan mbak itu)

Sekali lagi ayah mbak Fia menyela Aruf yang belum selesai menjelaskan.
"Mulone niku pak, kulo mriki niku badhe ngertos saking mbak Fia, cerito sing sebenere kui pripun."
(Makanya pak, saya kesini itu ingin tau dari mbak Fia, cerita yang sebenarnya bagaimana.)

Dari dalam, muncul seorang perempuan yang bisa dikatakan masih muda. Sepertinya seusia -
- dengan Ira. Perempuan itu bergabung bersama kami, duduk di ruang tamu.
Baru lah kami tau, bahwa yang dimaksud sebagai mbak Fia adalah perempuan itu.

Kalau diperhatikan dari sosoknya, rasanya tidak mungkin apa yang sempat disampaikan oleh Ayahnya. Bahwa ada persaingan -
- antara dia dan mbak Nia dalam memperebutkan majikan mereka.

Pasalnya, mbak Nia adalah seorang wanita yang sudah berumur, pun majikan mereka pun orang yang sudah tidak muda lagi, sedangkan mbak Fia ini, masih seorang gadis yang mungkin belum lama lulus sekolah.
Kami coba mengabaikan hal itu. Keterangan langsung dari mbak Fia, adalah yang kami tunggu dan harapkan.

Dengan kondisi ruangan yang cukup berisik saat terdengar suara kereta api melintas, mbak Fia menjelaskan hal-hal yang diketahuinya.
Mbak Fia mengatakan, bahwa ia tak begitu tau perihal kejadian penemuan jasad mbak Nia di Garasi Pabrik. Karena saat itu, Mbak Fia belum tiba di lokasi kejadian. Jarak rumahnya, memang cukup jauh dengan desa kami. Dan saat kejadian itu terjadi pun, belum masuk jam kerjanya.
Justru ia mengetahui bahwa mbak Nia ditemukan meninggal, saat ia melihat keramaian di depan rumah majikannya dan beberapa orang saling berkata "ono pembunuhan".
Tak banyak keterangan baru dari mbak Fia terkait kejadian itu. Jadi, kami pun menanyakan perihal bagaimana kondisi dan keadaan rumah majikannya sehari sebelum kejadian. Tak lupa, kami pun menanyakan kapan terakhir kali mbak Fia melihat Mbak Nia di rumah itu.
Mbak Fia menceritakan, bahwa hari itu, seperti biasa ia berangkat dari rumah pagi hari. Tiba di tempat kerjanya, ia langsung memulai aktifitas.

Saat itu, bos nya sedang sibuk mempersiapkan acara lamaran di rumah kerabatnya, yang masih berada satu kampung.
Hari itu, bisa dikatakan mbak Fia tidak banyak berinteraksi dengan bos nya, istri H. Takur.

Menurut mbak Fia, mbak Nia memang di hari itu pun jarang berada di rumah, karena ikut membantu persiapan acara lamaran.
Mbak Nia hanya berada di rumah itu pagi hari, saat menjemur pakaian dan bersih-bersih. Lalu pergi ke rumah tetangga yang ada acara lamaran, dan kembali ke rumah itu setelah pulang menjemput anaknya.
Mbak Nia sempat berinteraksi dengan mbak Fia saat mbak Nia menemaninya di ruang tamu, tempat kerjanya.
Saat itu, mbak Nia sambil melipat baju yang sepertinya belum sempat dilipat dari hari sebelumnya.

Bahkan, saat itu mbak Nia sempat curhat tentang repotnya dia hari itu.
Menurut mbak Fia, terakhir kali mbak Nia ada di rumah itu adalah sore hari. Saat majikannya pulang dari acara lamaran.

Mbak Nia sempat terlihat membantu membuka garasi saat majikannya hendak memasukkan mobil.
Setelah itu mbak Nia tak terlihat lagi.
Lalu, mbak Fia mengatakan, pada hari itu juga dua kali ada orang yang bertamu ke rumah majikannya.

Menurut pernyataan mbak Fia, tamu pertama mengaku sebagai gurunya H. Takur datang hendak bersilaturahmi. Mbak Fia bahkan sempat mengamati tamu itu menelpon majikannya.
Setelah menelpon H. Takur, gurunya itu pun berpamitan.
Tamu kedua, mbak Fia tidak begitu ingat dengan orangnya. Mbak Fia mengatakan bahwa tamu kedua itu mencari "Pak Kaji".
Mbak Fia sempat heran, pak kaji siapa yang dimaksud orang itu.
Menurut cerita mbak Fia, mungkin pak kaji yang dimaksud bukan H. Takur. Karena kata orang yang berada disana, sebelum ditempati oleh H. Takur dan keluarganya, rumah itu pernah ditempati oleh kakak mbak Gina, yang sering disebut "Abah".

Hal itu dibenarkan oleh Aruf.
Kemungkinan, orang yang dimaksud sebagai "pak kaji" oleh tamu kedua itu adalah "Abah". Karena menurut mbak Fia, orang itu tidak menjawab saat ditanya.

Orang itu langsung berpamitan, bahkan sebelum mengatakan maksud dan tujuannya mencari "Pak Kaji" di rumah itu.
Kata mbak Fia, sebelum pergi dari rumah itu, salah seorang yang datang bersama tamu itu sempat menunjuk sesuatu yang berada di dalam rumah.

"Owalah kae. Wes njo tinggal lungo, kajine ora ono kok".
(Oh itu. Sudahlah, ayok pergi, pak Kaji nya tidak ada kok).
Mbak Fia sempat bingung dan bertanya-tanya, tamu kedua itu terkesan bertingkah aneh. Tapi mbak Fia sendiri tidak sempat curiga dengan kedua orang itu, karena saat itu kebetulan toko majikannya sedang ramai pembeli.
Dan satu hal lagi yang disampaikan oleh mbak Fia.
Sore hari sebelum ia pulang, ia sempat mempertanyakan keberadaan mbak Nia.
Pasalnya, beberapa pekerjaan mbak Nia banyak yang belum dikerjakan.

Anak majikan belum dimandikan, jemuran baru juga belum diangkat.
Mbak Fia terpaksa mengambil alih tugas mbak Nia untuk memandikan anak bos nya.

Selesai menandikan anak bos nya itu, mbak Fia sempat bertemu dengan H. Takur, yang mempertanyakan kenapa mbak Fia yang memandikan anaknya.

Mbak Fia sedikit menggerutu menyalahkan mbak Nia -
Saat menjawab pertanyaan H. Takur.

Sebelum pulang, mbak Fia mengatakan sempat mandi di rumah itu. Sehabis mandi pun ia masih sempat menerka-nerka keberadaan mbak Nia, sampai akhirnya mbak Fia memutuskan untuk pulang, karena sudah terlalu sore.
Berdasarkan cerita mbak Fia, orang terakhir yang ia tau berada di rumah itu, adalah H. Takur dan anaknya yang masih kecil.

Saya dan Aruf sempat mencurigai H. Takur, setelah mendapatkan keterangan dari mbak Fia. Banyak alasan, kenapa kecurigaan itu mengarah pada orang itu.
Sebelum kami mengakhiri ceritanya, mbak Fia memberikan sebuah informasi terkait orang yang berkemungkinan tau perihal kematian mbak Nia.

Selama beberapa hari setelah kejadian itu, dia sering mendengar orang yang membahas tentang seseorang bernama "mas Man".
Selain mbak Fia, orang yang juga menjadi pembicaraan disekitar rumah bos nya adalah "mas Man".
Pasalnya, semenjak kejadian itu, mas Man tidak pernah terlihat lagi di kampung itu.

Aruf pun sempat teringat, bahwa ada nama yang ikut disebut dalam keterangan hasil penyelidikan-
- dari polda. Nama itu tidak tercantum sebagai saksi, tapi disebut dalam keterangan yang disampaikan oleh H. Takur.

"Ono sing ngomong, bengine kui mas Man ning ngomah kono. Jarene si, kon nunggoni anake mbak Gina."
(Ada yang bilang, malam itu mas Man di rumah itu. -
- katanya sih, disuruh menemani anak mbak gina).

"Nek jareku, malah cok'e wong kui sing mateni. Lha wong bar kejadian wong e ngilang kok".
(Menurutku, mungkin orang itu pembunuhnya. Soalnya setelah kejadian orang itu menghilang).
Keterangan terakhir yang disampaikan oleh mbak Fia, seakan menjadi informasi penting, yang memberikan petunjuk terkait misteri itu.

Tapi, benar kah pelakunya adalah mas Man?
Terkait pelaku pembunuhan mbak Nia, saya kembali teringat dengan apa yang disampaikan arwah mbak Nia saat mediasi.

Samar-samar teringat bahwa pelaku pembunuhan itu ada dua orang.
Jika memang terlibat, mas Man mungkin adalah salah satu dari kedua pelaku itu.
Setelah mendapat keterangan dari Ira dan Mbak Fia, saya dan Aruf menghubungi Rohman dan mengajaknya menemui pak Roni.

Ada banyak hal yang perlu dibahas setelah kami mendapatkan keterangan beberapa orang.
Kami menceritakan setiap keterangan yang kami dapatkan dan Pak Roni cukup serius mendengarkan.

Sesekali beliau memberikan tanggapan, dan membenarkan keterangan yang kami dapatkan.

Ternyata bukan hanya kami yang melakukan investigasi. Pak Roni pun ternyata sudah pernah -
- melakukan hal yang sama.

Setiap kami mendapat informasi dari orang-orang yang kami datangi, kami selalu membahasnya dengan Pak Roni.

Dan dugaan kami pun bisa dikatakan hampir sama.
Keterangan terakhir yang kami dapatkan, adalah keterangan dari mas Man.

Kami berhasil mencari dan mengetahui tempat tinggal mas Man.
Aruf lah yang pertama kali mendatangi mas Man bersama seseorang yang mengenalnya.
Awalnya, aruf menceritakan pada saya tentang latar belakang mas Man.
Berdasarkan informasi yang didapatkan Aruf, mas Man adalah seseorang yang bekerja atau mengabdi di rumah Abah, kakak mbak Gina.
Kesehariannya adalah bantu-bantu di rumah abah.
Mas Man sendiri bukan warga desa-
- kami. Dia berada di desa kami untuk mengabdi dan berguru dengan Abah, yang memang seorang Tokoh Agama di desa kami.
Sebelum kejadian itu, mas Man memang sering berada di rumah Abah, tak jarang sampai menginap disana.
Ia pun sempat ikut mengurus tempat ngaji yang dibina Abah.
Bahkan, setiap ada kegiatan mengaji atau tahlilan di mushola kampung itu, mas Man juga sering ikut.

Namun, semenjak kejadian penemuan jasad mbak Nia, sosok mas Man tak pernah lagi terlihat di kampung itu.
Aruf kembali menceritakan saat ia mendatangi mas Man bersama dengan temannya yang mengetahui rumah mas Man.

Sama seperti saat kami mendatangi mbak Fia, mas Man pun mengatakan bahwa bukan dia pelaku pembunuhan itu.
Aruf pun menceritakan alasan kenapa mas Man tidak lagi terlihat di kampungnya. Salah satu alasannya adalah karena tempat ngajinya Abah sudah mulai sepi.
Selain itu, juga dikarenakan mas Man sudah punya kesibukan sebagai tukang bangunan.
Tapi, saat ditanya oleh Aruf tentang peristiwa penemuan jasad mbak Nia, mas Man tidak banyak bercerita.
Dia hanya mengatakan tidak tau menau, bukan dia pelakunya, dan menjelaskan alasannya tidak lagi di kampung itu.

Tak puas hanya mendengar cerita dari Aruf, saya mengajaknya -
- untuk kembali mendatangi mas Man.

Kedatangan kami yang pertama, kami tidak berjumpa dengan mas Man. Yang kami temui adalah ibunya, yang sudah lanjut usia. Menurut ibunya, saat itu mas Man sedang pergi. Dan akhirnya kami pulang tanpa bertemu mas Man.
Kali kedua, saya mengajak Tyo untuk menemui mas Man. Tyo sendiri penasaran dengan sosok mas Man, dan keterangan seperti apa yang akan didapatkan dari mas Man.

Saya yang sudah sempat kesana bersama Aruf, cukup ingat dengan arah menuju rumah mas Man.
Rumah mas Man berada di sebuah desa yang cukup jauh dari desa kami. Desa itu, masih berada di wilayah kota P.
Lokasi rumahnya sendiri harus masuk ke dalam sebuah gang perkampungan, cukup jauh dari jalan raya utama.

Malam itu kami sampai di rumah mas Man-
- yang dalam keadaan sepi. Tak ada pencahayaan di depan area rumah. Cukup aneh, mengingat di beberapa rumah disekitarnya punya lampu yang dipasang untuk menerangi area luar rumah. Rumah itu seakan berbeda dengan yang lain.

Dinding rumahnya masih menggunakan papan kayu-
- sehingga cahaya redup dari dalam rumahnya sedikit terlihat melalui celah-celah kecil di dindingnya.
Kondisi yang mengesankan bahwa orang yang menempati rumah itu adalah benar-benar orang yang sangat kesulitan ekonominya.

Saya yang pertama mengetuk pintu rumah.
Dari dalam rumah itu kembali yang terdengar adalah suara orang tua. Ibu mas Man yang sudah lanjut usia itu, sedikit berteriak dari dalam rumah dengan suaranya yang sudah serak.
Ada orang lain juga yang menjawab salam kami, dan akhirnya membukakan pintu.
Ternyata orang itu adalah kakak mas Man. Saat kami mengatakan ingin bertemu mas man, orang itu mempersilakan kami masuk.
Kondisi rumah mas Man benar-benar sangat memprihatinkan, tak hanya berdinding papan kayu, lantai rumahnya pun masih berupa tanah, yang dibagian tertentu-
- hanya diplester agar bisa dipakai lebih nyaman. Kakak mas Man, sempat menanyakan maksud kami yang ingin bertemu mas man.
Dan benar saja, respon orang itu saat kami mengatakan dari desa G*****, cukup tertegun. Seakan desa kami sudah dianggap tabu.
Mas Man sendiri dikatakan belum pulang, biasanya sejak waktu maghrib hingga selepas isya, mas Man berada di masjid sekitar rumahnya.
Kami pun dipersilakan menunggu sampai mas Man pulang.
Tak berapa lama, sosok yang kami duga sebagai mas Man, terlihat dari kejauhan. Dengan berpakaian putih, dan peci yang juga putih, serasi dengan pakaiannya, berjalan menuju rumah itu.

Penampilannya, benar-benar seperti seorang santri pondok, tapi untuk orangnya sendiri -
- memang lebih terlihat seperti seorang tukang, dengan kulit yang sudah berkeriput, namun cukup bersih.

Mas Man sempat terheran melihat kami yang sedang duduk menunggu di depan rumahnya.
Setelah memperkenalkan diri dan mengatakan maksud kedatangan kami, akhirnya perbincangan itu pun dimulai.

Mas man mulai bercerita dari latar belakang ia bisa sampai di desa kami. Dan memang apa yang dia katakan sama seperti apa yang dikatakan Aruf.
Lalu, dia pun menceritakan beberapa kejadian yang terjadi sehari sebelum penemuan jasad mbak Nia.

Mas Man menuturkan bahwa ia memang sempat bersama mbak Nia saat membantu persiapan acara lamaran. Bahkan mas Man sendiri beberapa kali menemani mbak Nia mengantar jajan dari rumah-
- Abah, ketempat kerabatnya yang punya hajatan itu.
Katanya, tidak ada yang aneh saat itu.

Keterangan yang bagi kami cukup penting adalah tentang kejadian di malam sebelum penemuan jasad mbak Nia.
Sesuai dengan kabar yang beredar disekitar kampung, yang juga disampaikan mbak Fia
- mas Man, memang diminta oleh istri abah untuk menggantikan H. Takur menemani putrinya yang berada sendirian di rumah. Dikarenakan H. Takur saat itu harus menghadiri acara tahlilan di rumah tetangganya.

Mas Man yang sebenarnya sudah pulang rumahnya, akhirnya bersedia kembali
- ke rumah Abah, dan kemudian berjalan menuju rumah H. Takur.

Malam itu, mas Man tak merasa curiga sedikit pun. Tak ada perasaan aneh yang menandakan akan terjadi sesuatu yang menghebohkan ditempat itu.

Menurut penuturannya, malam itu disekitar rumah H. Takur sepi-
- bahkan tak ada tetangga sekitar yang berada diluar rumah.
Saat sampai di depan rumah H. Takur, mas Man melihat pintu rumah yang sudah sedikit terbuka.

Karena sudah terbiasa di rumah itu, mas Man pun langsung masuk kedalam rumah, dan menemui H. Takur yang sedang rebahan -
- diatas sofa. Dan anaknya terlihat sedang tidur di kasur, depan Tv.

Mengetahui mas Man sudah datang, H. Takur pun segera bersiap untuk berangkat ke acara tahlilan.
Setelah mandi dan berganti pakaian, H. Takur pun pamit pada mas Man, dan menitipkan anak dan rumahnya.
Mas Man yang merasa sangat lelah, akhirnya memutuskan untuk tidur diatas sofa.
Saat H. Takur kembali, mas Man masih terlelap, sampai dibangunkan, dan ditawari untuk makan sebelum pulang ke rumahnya.
Kabar mengenai menginggalnya mbak Nia diketahui keesokan harinya.
Tapi, mas Man tidak terlalu banyak menceritakan alasan kenapa dia tidak lagi datang ke desa kami lagi.
Ia hanya mengatakan sudah punya kesibukan, dan tidak punya waktu lagi untuk kesana.

Kami pun menanyakan -
- apakah ia pernah dipanggil dan datang memberikan kesaksian pada pihak kepolisian terkait kejadian penemuan jasad mbak Nia.
Dan mas Man mengiyakan, ia mengaku sempat diberi surat panggilan dan dimintai keterangan pada pihak kepolisian.
Mas Man sendiri sempat kaget, saat mengetahui kalau Tyo adalah adik mbak Nia.
Entah kenapa raut wajahnya yang mulanya tenang saat bercerita, berubah agak gelisah, meski akhirnya kembali tenang.
Dan setelah mendapat keterangan dari Mas Man, kami pun pamit pulang, meskipun kami merasa ada hal yang tidak diceritakan bahkan seolah ditutupi olehnya.
Keterangan dari mas Man, melengkapi hasil investigasi kami. Kami pun kembali membahas dan mendiskusikan seluruh keterangan yang kami dapatkan. Tak ketinggalan, dokumen yang terdiri dari surat balasan yang dikirimkan oleh beberapa instansi di ibu kota juga menjadi referensi kami.
Terhitung ada 12 orang yang telah kami temui, dan ada beberapa surat dari komnas HAM, Ombudsman RI, kontras, 2 buah SP2HP dari polsek, dan 1 SP2HP dari Polres, serta 1 surat tembusan dari Polda.

Semua itu, adalah kumpulan data terkait kasus tersebut.
Dari pembahasan terakhir, kami sudah menemukan titik terang terkait kasus itu. Bahkan, pihak keluarga mbak Nia pun, sudah meyakini seseorang yang merupakan salah satu pelaku pembunuhan itu.

Sayangnya, keyakinan itu belum disertai bukti yang kuat untuk bertindak lebih lanjut.
Yang menjadi pertanyaan oleh kami dan keluarga mbak Nia, harusnya jika pihak kepolisian sudah melakukan penyelidikan dan menggali keterangan dari saksi yang sama dengan yang kami temui, sudah bisa diambil kesimpulan siapa pelaku pembunuhan itu.
Cerita terakhir yang akan saya sampaikan terkait kasus, akan menjadi penutup thread ini.
Perlu saya tekankan bahwa kasus ini belum selesai, sehingga di cerita terakhir ini tidak akan berujung pada ditemukannya pelaku pembunuhan.
Penutup cerita ini berkaitan dengan upaya terakhir yang sudah dilakukan oleh pihak keluarga mbak Nia, serta hal-hal apa saja yang dialami oleh orang-orang yang pernah berusaha mengupayakan pengungkapan kasus ini.
Malam itu, saya baru saja selesai melakukan aktifitas pekerjaan saya di sebuah daerah di kabupaten.
Saat sedang beristirahat, makan di sebuah warung, saya berjumpa dengan seseorang.

Perbincangan kami diawali dari saling menanyakan daerah asal kami.
Saat saya mengatakan bahwa saya berasal dari desa G, tak lama kemudian orang itu menanyakan sesuatu yang tidak saya duga.

Yang ditanyakan olehnya adalah tentang kelanjutan dan perkembangan kasus yang pernah heboh beberapa tahun yang lalu itu.
Saya tidak terlalu menanggapi dan menceritakan apa yang saya ketahui. Justru, saya menanyakan apa yang dia ketahui.
Saya pun ingin tau, bagaimana kabar yang tersebar di luar desa.

Dan orang itu pun menceritakan sebuah cerita.
Dia mengatakan, mengenal salah seorang oknum pihak kepolisian yang pernah ikut dalam upaya pengungkapan kasus.

Setelah saya tanyakan nama dan jabatannya, oknum polisi yang dimaksud itu, ternyata adalah pak Bhabin, yang dulu pernah datang ke rumah H. Rusdi bersama pak mandan.
Orang itu mengabarkan, bagaimana keadaan pak bhabin setelah ikut serta mengupayakan kasus itu.
Selang beberapa bulan setelah kasus itu heboh kembali melalui acara demo warga, pak Bhabin akhirnya dipindah tugaskan ditempat lain.

Sama halnya dengan anggota yang pernah menjadi-
- tim penyidik di tingkat polsek. Kapolsek sendiri sudah terlebih dulu dipindah dan digantikan dengan orang baru.

Saya tak terlalu kaget dengan penuturannya, karena saya juga sudah mengetahuinya.

Tak hanya di tingkatan polsek, di tingkat polres pun beberapa kali terjadi -
- perombakan anggota. Dari jabatan penyidik hingga kasatreskrim, termasuk jabatan kapolsek dan wakil nya pun telah diganti.

Saya menganggap hal itu sebagai hal yang biasa. Mungkin saja, ada ketentuan yang memang mengatur tentang pergantian jabatan.
Meski beberapa orang menganggap ada ketidakwajaran. Pasalnya hingga saat ini, sudah 2 kali pergantian kasatreskrim, dan kabar terbaru, sedang terjadi pergantian kapolres dan wakilnya untuk yang kedua kali dalam rentang waktu 3 tahun sejak munculnya kasus itu.
Lanjut ke cerita yang disampaikan orang itu.

Katanya, ia sering bertemu dengan pak Bhabin, dan tak jarang diceritakan tentang hal-hal yang berkaitan dengan kasus itu.

Dalam ceritanya, pak bhabin sempat curhat bahwa semenjak ikut serta dalam kasus itu, ia sering mendapat-
- gangguan. Gangguan yang dimaksud adalah gangguan ghaib. Seakan ada pihak yang mencoba menakut-nakuti dan mengancamnya melalui cara yang diluar nalar.

Selain gangguan itu, pak bhabin pun pernah mengatakan sering didatangi oleh arwah mbak Nia.
Dan rasanya saya dibuat kepikiran tentang kasus itu lagi.

Pak bhabin pernah membawa kasus itu ke seorang paranormal, dan ada kemungkinan gangguan yang dialami oleh pak bhabin berawal dari tindakannya itu.
Saya hanya bisa berkata dalam hati.
"Berarti, pengawalan ghaib terhadap kasus ini masih terus berjalan".

Orang itu tidak menceritakan cukup detail dan panjang lebar terkait pengalaman yang dialami Pak Bhabin.
Hanya satu kalimat yang menjadi penutup pembicaraan waktu itu.
"Karang sing mateni kui wong pinter, tur duwe duit, yo angel mas."
(Berhubung pelakunya itu orang yang punya ilmu dan berduit, ya susah mas)

Saya pun kembali termenung, ingin rasanya kembali mengupayakan kasus itu lagi, dan menyelesaikan apa yang sudah pernah saya mulai bersama-
- teman-teman saya.
Tapi, keterbatasan waktu dan pengetahuan lah yang menjadi masalah bagi kami.

Selain itu, Aruf pun sudah merasa tidak nyaman dan enggan untuk terlalu aktif dalam mengupayakan kasus itu.
Saya sempat membahas pertemuan saya dengan orang di warung itu bersama Aruf.

Dan ternyata, tidak hanya saya yang bertemu dengan orang asing yang menanyakan kasus itu. Aruf pun mengalaminya.
Aruf menceritakan bahwa saat dirinya dan beberapa temannya sedang ada acara di desa sebelah, dirinya bertemu dengan seorang yang mengaku punya ilmu spiritual.

Iseng saja, aruf menanyakan perihal kejadian yang belum selesai di kampungnya.
Ternyata, pertanyaan Aruf ditanggapi -
- dengan tawaran.
"Tak undangke po priye?"
(Mau saya panggilkan?)

Aruf hanya mempersilakan jika memang orang itu tidak keberatan.
Menurut Aruf, apa yang disampaikan oleh arwah mbak nia, tidak terlalu berbeda dengan apa yang sudah dia ketahui. Oleh karena itu, ia tak terlalu-
- membahasnya.

Namun, ada satu hal yang menjadi inti dari apa yang ingin disampaikannya.

"Sakwise arwahe korban metu, terus ono sing moro liyane"
(Setelah arwah korban keluar, ada sosok lain yang datang)
Aruf diberitahu oleh orang itu ciri sosok yang datang saat itu. Dan Aruf pun cukup tau siapa sosok yang dimaksud.

"Ternyata wong kae"
(Ternyata orang itu).
"Tapi, jare wong e, si **** kae cuman meringatke, kon ojo melu-melu perkoro kui"
(Tapi, kata orangnya, si **** itu hanya-
- mengingatkan agar tidak ikut campur dengan urusannya).

Si **** yang dimaksud oleh Aruf, kemungkinan bukan pelaku, orang itu adalah orang baru yang belum lama tinggal di salah satu rumah di kampungnya.

Aruf pun sempat heran, kenapa sosok orang itu jadi berkaitan dengan -
- kasus itu. Siapa sebenarnya dia? Dan apakah dia yang selama ini menjadi pengawal?

Terkait si **** itu, saya belum mendapatkan informasinya secara detail. Jadi, tidak akan saya bahas dalam thread ini.
Kabar terakhir disampaikan oleh rohman dan Pak Roni.

Berdasarkan cerita mereka, pihak keluarga korban, sempat mengupayakan kasus itu pada salah seorang tokoh agama yang dianggap punya kelebihan, di daerah kabupaten sebelah.
Disana, pihak keluarga mbak Nia diberi semacam amalan doa yang harus dikerjakan selama beberapa hari tanpa terputus, dan dilakukan pada waktu yang sama.

Menurut tokoh tersebut, amalan doa itu bertujuan untuk menjauhkan hal-hal ghaib yang berusaha mengganggu dan menghalangi -
- upaya pengungkapan kasus.

Dijelaskan pula, bahwa dengan menjalankan amalan yang disarankan, ada kemungkinan hal-hal ghaib yang mengganggu itu, akan berbalik menyerang pengirimnya.

Tokoh tersebut pun mengatakan, bahwa kalau sampai hal itu terjadi -
- ada kemungkinan, orang yang mengirim hal-hal ghaib itu, bahkan pelaku pembunuhan itu akan terungkap.

"Kabeh kabeh sedoyo, kersanipun gusti Allah"
(Semua itu, tergantung kehendak Allah).
Menurut penjelasan pak Roni, selama menjalankan amalan doa tersebut, ada keanehan yang diamati dari seseorang yang ada di kampung itu.

Seseorang yang memang sudah di duga oleh pak Roni dan pihak keluarga sebagai pelaku pembunuhan.
Yang ditekankan oleh Pak Roni, seseorang yang diduga sebagai pelaku, bukan lah H. Takur atau pun Istrinya.
Ada orang lain, yang pasti tidak akan pernah disangka dan dicurigai oleh siapa pun.

Karena kasus itu, bukan kasus pembunuhan biasa.
Entah mendapat informasi darimana, pak Roni menjelaskan, bahwa mungkin saja peristiwa pembunuhan yang sebenarnya tidak terjadi di Garasi Pabrik. Melainkan ditempat lain.
Ada orang yang disuruh untuk membuang / menyingkirkan jasadnya. Seperti yang pernah disampaikan oleh arwah mbak Nia dalam mediasi. Namun, perintah itu tidak selesai dikerjakan. Akhirnya jasad mbak Nia malah ditemukan di Garasi Pabrik.
Mungkin, itulah alasan kenapa tidak ditemukan barang bukti pembunuhan di lokasi jasad mbak Nia ditemukan.
Misteri pembunuhan mbak Nia pun masih tetap menjadi teka-teki yang tak kunjung terselesaikan hingga saat ini.

Seseorang yang di duga sebagai pelaku, masih bebas dan berada di kampung itu. Sedangkan keluarga H. Takur, harus menanggung beban tuduhan orang-orang yang masih terus -
- bertanya-tanya tentang kelanjutan kasus itu.

Akan kah pada akhirnya kasus itu menemui titik terang? Atau justru terabaikan seiring dengan berjalannya waktu.
Yang menjadi perhatian dalam kasus itu adalah kasus tersebut menimpa seseorang yang berasal dari masyarakat kecil, masyarakat yang tidak mampu, dan tidak punya kemampuan hukum untuk memperjuangkan nasib anggota keluarganya.
Ayah mbak Nia hanya seorang pengayuh becak, ibunya seorang penjual sayuran. Setelah kematiannya, mbak Nia meninggalkan dua orang anak Yatim-Piatu, yang saat ini diurus oleh kakek neneknya, dibantu oleh sanak saudara yang lain.

Tak bisa terbayangkan bagaimana perasaan mereka.
Orang tua yang sudah renta, harus menerima kenyataan bahwa anaknya telah dibunuh oleh pelaku yang belum tertangkap.
Kedua anak mbak Nia, harus menerima nasib dan takdir mereka menjadi anak Yatim-Piatu, setelah ayah mereka sudah terlebih dulu meninggalkan mereka, dan seorang ibu -
- yang harusnya menjadi satu-satunya orang yang bisa diandalkan, telah meninggalkan mereka dengan cara yang tidak wajar.

Apakah hukum memang seakan mengabaikan orang kecil?

Miris. Mungkin hal seperti ini tidak hanya terjadi di desa saya. Bisa jadi, ada hal serupa -
- dimana keadilan hukum belum sepenuhnya terasa bagi orang kecil.

Kasus ini sudah berjalan hampir 3 tahun lamanya. Pihak kepolisian pun, belum menemukan titik terang.
Terlebih, peristiwa itu pun pada akhirnya bersangkutan dengan hal-hal ghaib, yang mungkin siapa pun yang melakukannya, sudah berani melanggar larangan Agama, agar tidak bersekutu dengan setan untuk tujuan tertentu.

Wallaahua'lam.
Thread ini saya buat, sesuai dengan keterangan yang saya dapatkan bersama beberapa orang teman saya, termasuk adik mbak Nia, juga Paman mbak Nia.

Saya tidak bermaksud untuk menyinggung apa lagi menuduh suatu pihak dalam thread ini.

Jadi, terkait dengan seseorang yang di duga -
- sebagai pelaku, tidak berhak saya sampaikan di akhir thread ini.

Ada sekitar 22 tokoh yang saya sebut dalam thread ini, bisa jadi diantaranya merupakan dua orang yang di duga sebagai pelaku.
Dan sampai disini, thread saya tutup.
Mohon doa agar kasus ini segera dapat terselesaikan.

Dapat salam dari Aruf, untuk pembaca thread ini.

Nih, pesan dan harapan dari Aruf.
Missing some Tweet in this thread?
You can try to force a refresh.

Like this thread? Get email updates or save it to PDF!

Subscribe to No Name
Profile picture

Get real-time email alerts when new unrolls are available from this author!

This content may be removed anytime!

Twitter may remove this content at anytime, convert it as a PDF, save and print for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video

1) Follow Thread Reader App on Twitter so you can easily mention us!

2) Go to a Twitter thread (series of Tweets by the same owner) and mention us with a keyword "unroll" @threadreaderapp unroll

You can practice here first or read more on our help page!

Follow Us on Twitter!

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just three indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3.00/month or $30.00/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!