, 103 tweets, 16 min read
My Authors
Read all threads
- Warga Perumahan -

Sebuah cerita tentang pengalaman beberapa orang yang berinteraksi dengan warga penghuni perumahan misterius.

Pernah viral pada masanya...

#bacahorror @bacahorror
Lek Mus, begitulah orang-orang di desanya, memanggil seorang lelaki berperawakan pendek itu.

Lek Mus sebelumnya tinggal di sebuah desa terpencil di daerah kabupaten "B". Karena cukup lama menganggur tanpa pekerjaan, akhirnya ia memutuskan untuk menjadi seorang penjual bakso-
- keliling. Tapi, bukan di desanya sendiri.

Dengan harapan punya omset yang lebih besar, ia memutuskan untuk menjajakan dagangannya ke wilayah kota "P".

Sambil nge-kos di sebuah kos-kosan kecil, ia pun mulai menjajakan dagangannya setiap sore hingga malam hari.
Sebagai pedagang baru, lek Mus belum punya banyak pelanggan, itu sebabnya ia sering kali berkeliling ke setiap daerah di kota itu.

Tak jarang, untuk menghabiskan dagangan, ia berkeliling ke daerah yang belum pernah dilaluinya. Bahkan hingga larut malam pun tetap ia jalani.
Sore itu, lek Mus agak lesu karena hampir masuk waktu maghrib, belum ada seorang pun yang membeli baksonya.

Namun, ia terus melangkahkan kakinya sambil mendorong gerobak dan membunyikan suara mangkoknya.

Hingga sampai lah ia di sebuah pangkalan ojek, dan beberapa orang-
- tukang ojek yang masih mangkal membeli baksonya.

"Nembe mangkat po lek? Kok sek akeh?"
(Baru berangkat ya pak? Kok masih banyak?) tanya seorang tukang ojek.

"Yo metu ne sih wes awet mau kang, tapi sing jenenge rejeki yo ngene"
(Ya kalau keluarnya sih sudah dari tadi mas, tapi
- yang namanya rejeki ya begini).

"Cok laris cok ora"
(Kadang laris, kadang tidak), lanjutnya.

"Wah, mesakke, yo wes aku gawekke siji. Nggo penglaris"
(Wah, kasihan, ya sudah buatkan satu. Untuk penglaris) ujar si tukang ojek.

Lek Mus pun, agak lama berada dipangkalan ojek itu
- sambil menunggu tukang ojek itu menghabiskan baksonya, beberapa orang pun jadi ikut membeli dagangannya.

Sambil mengamati beberapa orang yang sedang menikmati baksonya, lek Mus pun coba membuka obrolan.

"Daerah kene sing mending rame ngendi yo kang?"
(Daerah sini yang agak -
- ramai daerah mana ya mas?)

"Lha sampean wong anyar pok?"
(Anda orang baru ya?) tanya salah seorang tukang ojek yang baru menghabiskan semangkuk baksonya.

"Yo, pancen durung suwi tah."
(Ya, memang belum lama sih).

"Sampean nek luru nggon rame, jajal wae mrono ning daerah -K-"
(Kamu kalau cari tempat yang rame, coba saja ke daerah "K") celetuk si tukang ojek.

"Kae, mrono nggon e. sampean lempeng bae. Daerah kono wes mending rame"
(Itu, kesana tempatnya. Kamu lurus saja. Daerah sana sudah agak rame.)

"... Tapi, ati-ati lek, sampean wong anyar, -
- mbok an klayah.
(... Tapi, hati-hati pak. Kamu orang baru, siapa tau tersesat).

"Ah, jenenge wong usaha yo kudu dilakoni kang. Nek wedinan yo sido ora mangan anak bojoku"
(Ah, namanya orang berusaha ya harus dijalani mas. Kalau penakut bisa tidak makan anak istriku)
"Yo wes, sing penting wes tak kandani lho"
(Yasudah, yang penting sudah saya kasih tau), gumam si tukang ojek.

Mungkin rejekinya Lek Mus baru mulai keluar di pangkalan ojek itu. Cukup banyak orang lewat dan beberapa tukang ojek yang membeli baksonya.

Dan setelah maghrib -
- lek Mus mulai beranjak dari pangkalan ojek itu, karena sudah agak sepi pembeli.

"Sesuk mrene meneh yo lek. Bakso ne sampean mending enak ge"
(Besok kesini lagi ya pak. Baksonya agak enak nih) seru tukang ojek terakhir yang masih berada di lokasi itu.

"Beres bos"
Lek Mus pun mulai berjalan ke arah yang sebelumnya ditunjukkan oleh salah seorang tukang ojek.

Dengan terus membunyikan suara mangkuknya, ia berjalan sambil sesekali beristirahat.

Ternyata, daerah yang ditunjukkan oleh si tukang ojek cukup jauh dari pangkalan.
Memang ada perkampungan warga di daerah yang ia lewati, tapi tetap saja tak ada yang memanggil dan membeli baksonya.

Dan sampai lah dia di sebuah jembatan yang cukup besar. Sepertinya sungai yang ada di bawah jembatan itu memisahkan dua daerah yang berbeda.

Tiba-tiba -
- dari arah belakang, ada seorang pengendara sepeda yang menepuk gerobaknya.

"Lek, mandeg, aku pak tuku"
(Pak, berhenti, aku mau beli)
Rupanya, seorang gadis muda yang ingin membeli baksonya.

Lek Mus pun menyuruhnya untuk menunggu di seberang jembatan.
Gadis muda itu menunggunya dipinggir trotoar, masih diatas sepeda model klasik yang sedang hits pada masa itu.
Dengan agak gembira, lek Mus pun mulai meracikkan bakso untuknya, sambil sesekali membuka obrolan dengan gadis itu.

"Sampean wong ndi mbak? Kok yahmene durung bali?"
(Kamu orang mana mbak? Kok jam segini belum di rumah?) tanya lek Mus.

Gadis itu, agak malu-malu menjawab pertanyaan lek Mus.

"Ngomahku kono lek, perumahan Sit* Patl*t"
(Rumahku disana pak, perumahan Sit* Patl*t)

Mendengar nama perumahan itu, lek Mus jadi agak penasaran.
Lek Mus pun berniat untuk menuju perumahan itu. Pikirnya, daerah perumahan pasti agak rame.

Lek Mus hampir menyelesaikan racikan baksonya, saat tiba-tiba ada mobil yang melintas di depannya. Mobil itu, seperti membunyikan klakson, sehingga lek Mus Pun sempat menengok dari-
-samping gerobaknya.
Ia memperhatikan wajah sopir mobil yang seperti ngeri ketakutan. Tangannya melambai kearahnya, seakan menyuruhnya agar segera pergi.

Akan tetapi, lek Mus tak menyadari maksud dari sopir mobil itu. Ia malah meneruskan untuk menyelesaikan racikan baksonya.
Setelah hampir menepi, mobil itu justru mempercepat laju mobilnya, hingga lek Mus agak kaget.

Tiba-tiba gadis yang ada di belakangnya seperti mengeluarkan suara tawa aneh.
Lek Mus yang masih kaget, tak menghiraukan suara tawa gadis itu.

"Dasar, wong edan. Nompak mobil kok-
- umbrus."
(Dasar, orang gila. Naik mobil kok seenaknya sendiri), gerutu Kang Mus.

Bakso pesanan gadis itu pun selesai, dan kang Mus menyerahkannya. Sambil gadis itu menyodorkan selembar uang.

"Wah, duit cilik bae mbak. Ora ono susuk e iki"
(Wah, uang kecil aja mbak. Tidak ada-
- kembaliannya nih), kata Lek Mus.

"Wah, lha podo bae lek. Aku yo ora ono duit cilik"
(Wah, sama saja pak. Aku juga tidak ada uang kecil), sahut gadis itu.

Lek Mus hampir menggratiskan baksonya, sebelum si gadis malah menyuruh lek Mus mengambil uangnya saja.
Seperti mendapat rejeki nomplok, lek Mus pun sangat berterima kasih pada gadis itu. Pasalnya, uang yang diberikan gadis itu lumayan besar.

Setelah menerima baksonya, gadis itu pun buru-buru meninggalkan lek Mus, yang terus memperhatikannya.

Dengan wajah yang masih riang,-
- lek Mus memasukkan uang itu ke kantongnya, dan bersiap untuk meneruskan perjalanan.

Begitu ia mulai mendorong gerobaknya, tiba-tiba ada hembusan angin yang seperti menyebarkan aroma harum yang cukup menyengat.

Aroma harum yang tidak asing bagi orang-orang desanya.
Menurut orang-orang di desanya, jika tercium bau harum seperti itu, pertanda ada sosok makhluk halus disekitarnya.

Karena aroma bunga melati, memang identik dengan aroma mistis.

Karena mulai merasa ketakutan Lek Mus pun bergegas meninggalkan tempat itu.
Lek Mus bergegas mendorong gerobaknya, namun suara mangkuknya tak lagi terdengar. Hanya gumaman doa yang terus diucapkanya dengan lirih, sehingga cuma ia sendiri yang bisa mendengar suaranya.

Saking ketakutannya, lek Mus melupakan bahwa sebelumnya ada seorang gadis yang membeli-
- baksonya. Dan sepanjang perjalanannya mendorong gerobak, ia tak lagi bertemu dengan gadis itu. Sepertinya, ia pun tak tau kemana arah gadis itu pergi.

Keadaan sekitar sudah mulai gelap. Tak seperti yang diceritakan si tukang ojek yang ditemuinya, kawasan yang ia lewati-
- ternyata adalah kawasan jalan yang masih gelap. Memang ada rumah-rumah disekitar jalanan itu, tapi penerangan jalan yang merupakan jalan penghubung antar kota itu masih belum maksimal.

Hanya cahaya lampu tiap rumah yang terlihat menerangi jalan. Sehingga, tiap kali melewati-
- rumah yang tak diberi penerangan, ia mempercepat langkahnya meski dengan agak kesulitan.

Cukup jauh ia berjalan, tapi seperti sebelum berada di pangkalan ojek, tak ada seorang pun yang membeli baksonya.

Waktu isya telah tiba, suara adzan pun mulai terdengar, tapi disekitar -
- jalanan itu, lek Mus tidak menjumpai adanya mushola. Sebenarnya lek Mus sudah hampir berniat untuk berbelok kembali ke arah asalnya. Tapi sepertinya ia ragu dan bingung.

Ia masih merasa merinding jika harus melewati lokasi yang berbau melati, di sisi lain, ia tak tau apakah -
- ada jalan lain untuk kembali selain melewati jalanan yang sebelumnya. Lek Mus terus berjalan, sambil berharap ia menjumpai seseorang untuk ditanyai jalan.

Sebenarnya, dijalanan itu beberapa kali ada pengendara sepeda atau pun becak yang melintas. Tapi, ia merasa tak enak-
- untuk menghentikan salah satu pengendara.

Dan sampai lah lek Mus di area jalanan yang disebelah kanannya terdapat permukiman warga. Lek Mus pun mencoba untuk menyeberang dan masuk ke setiap gang yang ternyata saling terhubung.

Di permukiman warga itu -
- nasibnya cukup baik. Beberapa warga ada yang membeli bakso dagangannya, meski porsi yang terjual tak sebanyak saat ia berada di pangkalan ojek.

Seorang warga memberitahunya, bahwa ada jalan lain untuk kembali, tapi jalanan yang harus dilaluinya berputar cukup jauh.
Tapi, orang itu tidak memberitahu bahwa jalan alternatif itu justru punya lebih banyak cerita mistis yang membuat orang merinding saat melewatinya.

Lewat waktu isya, sepertinya waktu berputar lebih cepat. Tak terasa, saat lek Mus keluar dari gang terakhir, sudah hampir jam 9.
Tak seperti saat ini, dulu lepas pukul 9 malam, jalanan itu sudah sepi. Jarang sekali ada pengendara sepeda yang melewati jalanan itu, terlebih orang-orang yang mengetahui cerita mistis di beberapa lokasi di sekitar jalan itu.

Lek Mus berhenti tepat di depan gang, ia seperti-
- menunggu adanya pengendara sepeda yang melintas. Beberapa kali ia menengok kiri kanan jalan, sambil membunyikan suara mangkuknya.

Dan akhirnya di kejauhan, lek mus melihat seorang pengendara yang masih mengayuh sepedanya.

Tentu, melihat ada pengendara sepeda yang akan -
- melintas, lek Mus agak merasa lega.

Akan tetapi, ia agak kecewa saat pengendara sepeda itu berbelok masuk ke sebuah gang.

Karena merasa penasaran, sekaligus berharap masih ada lagi perkampungan disekitar jalan, ia pun mendorong kembali gerobaknya. Ia mencoba menuju ke tempat-
-dimana pengendara sepeda itu berbelok.

Benar saja, disekitar area itu ia menjumpai sebuah perkampungan.

Dengan harapan ada pembeli di perkampungan itu, ia pun mendorong gerobaknya masuk ke area perkampungan.

Awalnya, lek Mus tak terlalu mengamati kondisi perkampungan itu.
Tapi begitu ia menghentikan gerobak dan mulai membunyikan suara mangkuknya, ia merasa ada sesuatu yang unik di perkampungan itu.

Mulai di amatinya bentuk rumah yang ada, hampir terlihat memiliki bentuk dan model yang sama. Seperti sebuah perumahan, dengan arsitektur bangunan-
- yang masih kuno. Di tengah perumahan, ia melihat sebuah pos ronda yang cukup terang, sehingga ia pun mengarahkan gerobaknya menuju tempat itu.

Belum lama ia menunggu, seorang penghuni rumah keluar dan membeli baksonya.

Belum sempat ia membuka pembicaraan, datang pembeli lain.
Saat itu, ia seperti dibuat cukup sibuk melayani pembeli yang dirasanya cukup banyak berdatangan, bahkan diantara para pembelinya, ada beberapa anak kecil yang entah kenapa masih dibiarkan keluar rumah oleh orang tuanya.

Lek Mus, sama sekali tak menaruh curiga. Pikirnya, ia -
- sangat bersyukur banyak pembeli yang akhirnya menghabiskan bakso dagangannya sampai hampir tak tersisa.

Dibalik kesibukannya melayani pembeli, ia pun terus bertanya-tanya dalam hatinya. Meski banyak warga yang berdatangan, mereka seperti tak bertegur sapa satu sama lain.
Bahkan dengan orang baru seperti lek Mus yang baru terlihat di sekitar tempat itu pun tak membuat warganya penasaran atau curiga terhadapnya.

Benar-benar berbeda dengan kondisi di perkampungan yang sempat ia lewati, dimana ia beberapa kali diajak berinteraksi oleh warganya.
Saat bakso dagangannya habis, lek Mus tidak langsung pergi meninggalkan tempat itu. Ia berniat menghitung hasil jualannya terlebih dahulu.

Anehnya, bolak balik ia hitung hasil penjualan baksonya, pendapatannya seperti masih sama dengan hasil sebelum ia masuk ke perumahan itu.
Dengan heran, ia kembali memeriksa dandangnya, bakso dagangannya memang sudah habis tak bersisa. Tinggal kuah nya saja yang masih tersisa sedikit.

Ia pun memutuskan untuk keluar dari perkampungan yang mirip pumahan itu, dan berencana menghitung kembali hasil jualannya nanti-
- setelah ia sampai di kos nya.

Lek Mus kembali mendorong gerobaknya menuju jalanan. Baru beberapa langkah, tiba-tiba saja ia teringat dengan sebuah nama perumahan yang sempat dikatakan oleh pembeli baksonya.

"Sit* P*tlot"

Mungkin kah perumahan yang dimaksud adalah tempat itu?
Tiba-tiba saja, lek Mus melihat kembali seorang pengendara sepeda yang pernah membeli baksonya. Seorang gadis muda yang memberitahu bahwa ia tinggal di sebuah perumahan yang baru saja lek Mus ingat namanya.

Namun, gerobak Lek Mus menabrak sesuatu, sehingga tubuhnya agak -
- terhentak dan menabrak grobak baksonya.

Seketika itu pula, tempat yang sebelumnya terlihat sebagai perumahan, berubah gelap dan lek Mus pun tersadar bahwa tempat itu sebenarnya adalah sebuah area pemakaman.

Ia benar-benar terkejut, dan saat ia melihat ke arah gadis pesepeda-
- itu, gadis itu berubah menjadi sosok lain, berbaju putih kotor, dan rambutnya seperti acak-acakan.

Sosok itu memandang ke arah Lek Mus, sehingga lek Mus merasa sangat ketakutan. Saat ia mulai melebarkan senyumnya, ia pun tertawa lepas, dengan suara yang begitu menyeramkan.
Karena panik, lek Mus pun berlari dari tempat itu meninggalkan gerobak baksonya. Ia berlari sekencang ia bisa. Tapi, sosok itu seperti terus mengejarnya hingga keluar gang.

Beruntung, ada seorang tukang becak lewat di jalanan depan lokasi itu.

Hampir saja lek Mus tertabrak.
Tukang becak itu keheranan melihat lek Mus keluar dari lokasi itu. Malahan, tukang becak itu mengira kalau lek Mus adalah salah satu sosok penunggunya.

"Lek, tulungi lek." Teriak lek Mus, dengan suara yang terengah-engah.
Tukang becak itu menghentikan becaknya dengan perasaan was-was. Ia memperhatikan lek Mus dengan pandangan curiga, dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Setelah ia yakin, bahwa Lek Mus benar-benar manusia, ia pun memberanikan diri turun dari becaknya.
"Sampean kui sopo? Kok bisone mlayu dek kono iku?"
(Kamu ini siapa? Kok bisa-bisanya lari dari arah sana?) tanya si Tukang becak itu pada Lek Mus yang masih terengah, dengan wajah yang sudah sangat pucat.

"Tulungi lek, aku diweruhi Kun*****ak", jelas Lek Mus, buru-buru.
(Tolong pak, aku ditakuti *sosok makhluk ghaib*).

Mendengar perkataan lek Mus, seketika tukang becak itu pun merasa merinding. Ia buru-buru menaiki becaknya kembali dan menyuruh Lek Mus segera ikut naik.

"Lek, njo sampean melu aku disik bae. Nggon kene kui pancen medeni"
(Pak, ayo kamu ikut aku dulu saja. Tempat ini memang menyeramkan)

Tanpa disuruh dua kali, lek Mus langsung naik keatas becak, masih dengan tubuh yang gemetaran karena ketakutan.

Becak itu pun dikayuh dengan cepat, dengan maksud segera menjauh dari tempat itu.

"Sampean kendel-
-temenanan yakin lek. Jam semene wani-wani ne isek kluyuran nang daerah kono" Kata tukang becak itu.
(Kamu benar-benar bernyali pak. Jam segini berani masih keluyuran di daerah itu).

Lek Mus yang belum hilang rasa takutnya, menjawab tukang becak dengan tergagap.

"Aku... Aku..."
"... Aku klayah lek" (Aku tersesat pak).

"Lah sampean kui jam semene kui pak nang ngendi?" tanya Tukang becak itu.
(Lah kamu itu jam segini mau kemana?)

Mendengar pertanyaan tukang becak itu, Lek Mus merasa ada kejanggalan.

"Emang iki jam piro lek?"
(Memangnya ini jam berapa?)
"Nembe kui wes meh jam setengah loro. Lah sampean kui priye? Jam semene malah mlebu kuburan. Luru nomer pok?" sahut si Tukang becak dengan agak bernada sindiran.
(Barusan sudah hampir jam setengah dua. Lah kamu itu gimana? Jam segini malah masuk kuburan. Cari nomer -togel- ya?)
"Ora lek, yakin... Sumpah... Aku kui... wong.. adol bakso.. Yakin.. Sumpah" jawab lek Mus, yang terus saja gagap dalam berbicara.
(Bukan pak. -*berusaha meyakinkan*- aku itu... tukang bakso.)

"Lah, sampean dodol bakso tekan Kuburan... Priye sih?"
(Lah, kamu jualan bakso ke-
-kuburan... Gimana sih?)

Lek Mus sendiri masih belum percaya kalau tempat yang ia datangi itu ternyata sebuah area pemakaman. Pasalnya, sebelum tersadar, ia sangat yakin bahwa area itu adalah area perumahan.

"Sumpah lek.. Gerobakku.. Gerobakku.. we.. Sek tak tinggal nang kono".
Lek Mus tak henti menjelaskan keadaan yang ia alami kepada si tukang becak.

"Sampean... nek ora ngandel... mono tiliki dewe... gerobakku."
(Kamu, kalau tak percaya, sana periksa sendiri gerobakku)

Tukang becak itu masih mengayuh becaknya sekuat tenaga, sambil sesekali menengok-
-kearah belakang. Sepertinya, ia sudah tak peduli lagi dengan penjelasan Lek Mus.

Keduanya, akhirnya sampai di area pangkalan ojek yang berada disekitar pasar. Setelah ia turun dari becaknya, ia segera mengajak Lek Mus untuk duduk di pangkalan, sambil menenangkan diri.
"Priye iki lek?... Gerobakku... Gerobakku..." kata lek Mus, dengan nada meratap.
(Bagaimana ini pak? Gerobakku)

"Wes. Ora usah pikiri ndisik gerobakmu. Sampean biso selamet kui wes mending" sahut tukang becak.
(Sudah. Tak usah dipikirin dulu gerobakmu. Kamu bisa selamat-
- itu sudah lumayan).

Bagaimana pun, gerobak itu adalah modalnya berjualan bakso. Meski pun ia sudah merasa lega bisa keluar dan menjauh dari tempat itu, ia masih tetap kepikiran dengan gerobak baksonya.

"Wes, jupuk ngesok bae", tambah si tukang becak.
Keduanya pun memutuskan untuk berada di pangkalan ojek itu. Lek Mus masih kebingungan, memikirkan nasib gerobak baksonya, sedangkan si tukang becak, terus memandangi lek Mus.

Sepertinya, ada sesuatu yang membuatnya teringat dengan sebuah kejadian.

Kejadian yang hampir serupa?
"Nggon mau kae, arane daerah opo lek?" tanya lek Mus, membuyarkan pandangan si tukang becak yang terlihat seperti orang yang sedang melamun.
(Tempat itu tadi, namanya daerah apa pak?)

Ada rasa enggan untuk menjawab pertanyaan itu. Tapi, si tukang becak berfikir, mungkin saja-
-dengan memberi tahu nama daerah itu, lek Mus dapat lebih berhati-hati lagi jika suatu saat melewati tempat itu kembali.

"Jenenge, kuburan sit* pat**t" terang si tukang becak.
(Namanya, pemakaman sit* pat**t).

"Ora ono sing wani lewat nggon mau kae, nek wes kelewat jam songo"
(Tidak ada yang berani lewat tempat itu, kalau sudah lewat jam sembilan), jelas si tukang becak itu menambahi.

Tukang becak itu pun, akhirnya membuka sebuah cerita pengalaman salah seorang teman se-profesinya yang juga pernah mengalami hal yang sama dengan lek Mus.
Ada sebuah misteri tersembunyi di tempat yang dikenal sebagai salah satu daerah angker di wilayah kota itu. Dengan hati-hati, si Tukang becak itu pun menceritakan kabar yang agak simpang siur mengenai tempat itu.

Awalnya, tempat itu tak beda dari pemakaman biasa. Namun-
- dari beberapa cerita yang di dengarnya dari pedagang di pasar, pemakaman itu mulai berubah menjadi angker sejak adanya makam salah seorang dukun perempuan ditempat itu.

Daerah yang mulanya biasa saja, berubah menjadi daerah yang penuh nuansa mistis. Terutama bagi siapa yang-
-mendengar atau mengetahui cerita yang pernah terjadi.

Beberapa kali pun terjadi kecelakaan di jalanan sekitarnya. Dimana penyebab kecelakaan bisa dikatakan masih hal yang sama.

Korbannya melihat sesosok penampakan yang berdiri disekitar lokasi, maupun sedang menyeberang jalan.
Setelah keduanya saling berkenalan, si tukang becak pun akhirnya menceritakan sebuah kejadian kecelakaan maut yang pernah terjadi di tempat itu pada lek Mus.

Tukang becak itu bernama pak Maliki, sebut saja dengan nama itu.

Beliau mulai menarik becak setelah ia berumah tangga.
Rute yang biasa ia lewati adalah dari arah perbatasan kabupaten dengan kota itu, hingga ke arah pasar yang ada di pusat kota. Dan tentunya, memang harus melewati daerah pemakaman itu.

Suatu ketika, saat ia sedang mengantar salah seorang penumpang, ia melihat ada keramaian-
-di jalanan depan pemakaman. Pak Maliki sudah mengira, keramaian itu pasti disebabkan karena adanya kecelakaan di lokasi itu.

Rasa penasarannya membuat ia memelankan laju becaknya. Hingga penumpangnya memintanya untuk berhenti sekedar mengamati korban kecelakaan itu.
Betapa kagetnya Pak Maliki dan penumpangnya, mengetahui keadaan si korban kecelakaan.

Tubuhnya hancur hampir berantakan. Hanya bagian bawah tubuh si korban yang bisa dengan jelas dilihat oleh pak Maliki. Sedangkan saat penumpangnya melihat tubuh bagian atas si korban-
- ia langsung meminta pak Maliki untuk kembali mempercepat laju becaknya meninggalkan kerumunan orang yang sudah berdatangan di lokasi itu.

Pak Maliki pun menuruti permintaan penumpangnya. Namun, rasa penasaran membuatnya belum bisa mengalihkan perhatiannya dari tempat itu.
Ia mengayuh becaknya, sambil sesekali menoleh untuk melihat ke arah kerumunan orang. Di sekitar kerumunan itu, pak Maliki melihat sebuah badan sepeda tanpa roda depan, yang tergeletak diatas trotoar jalan.

Pikirnya, sepeda itu adalah yang dikendarai oleh korban kecelakaan itu.
Pak Maliki sempat berpapasan dengan mobil ambulan sebelum akhirnya ia berlalu meninggalkan tempat itu dengan masih membawa rasa penasarannya.

Penumpang becaknya pun, jadi membicarakan tentang kejadian itu di sepanjang jalan.
Setelah mengantarkan penumpang ke tempat tujuannya, pak Maliki berniat kembali ke arah kota. Sudah pasti, ia pun melewati jalanan tempat kecelakaan itu.

Suasana jalanan sudah tidak seramai sebelumnya, tapi masih ada beberapa orang yang tetap berada di tempat itu.
Pak Maliki mendekat ke arah seseorang yang sedang berdiri memperhatikan bekas kecelakaan. Darah segar masih membekas dijalanan itu, melebar hampir sampai ke bibir trotoar.

"Mau kecelakaane priye mbak? Kok nganti korbane parah koyo kae kui?"
(Tadi kronologi kecelakaannya gimana-
- mbak? Kok sampai korbannya parah seperti itu?)

"Mbuh lek. Kejadiane cepet. Aku ora patio paham." jawabnya singkat.
(Tak tau pak. Kejadiannya cepat. Aku tak terlalu tau)

Tak puas dengan jawaban itu, pak Maliki mencoba mencari orang lain untuk ditanyai.

Akan tetapi ...
Belum jauh ia beranjak dari tempat itu, saat ia menoleh ke belakang, orang yang baru saja ia tanyai sudah menghilang. Pergi, entah kemana.

Pak Maliki agak merasa merinding, ia pun mendorong becaknya dengan agak cepat. Ia mengikuti pengguna jalan yang lain, berusaha menghindari-
- tempat yang masih ada darah bekas kecelakaan. Di seberang jalan, dilihatnya ada beberapa orang yang sedang berbincang. Sudah pasti membahas tentang kejadian kecelakaan tragis itu.

Dari mereka lah pak Maliki mendapat informasi bahwa seorang perempuan pengendara sepeda, menjadi-
- korban dalam kecelakaan itu. Tubuh bagian atasnya hancur, terlindas mobil yang melaju dengan cepat.

Sudah pasti, perempuan naas itu langsung meninggal ditempat kejadian.

Entah kenapa, setelah mendengar penjelasan itu, pak Maliki merasa curiga dengan orang sempat ditanyai nya.
Bisa jadi, orang itu adalah...

Setelah kejadian kecelakaan itu, pak Maliki selalu merasa merinding saat melewati jalanan sekitar tempat itu. Karena setiap kali melintas, pak Maliki seakan diamati oleh sosok yang berada disana.

Setelah cukup lama, ia baru bisa merasa biasa saja-
- meski pun memori tentang kecelakaan itu tak hilang dari ingatannya.

Wajah Lek Mus kembali menampakkan ketakutannya. Ia teringat dengan gadis bersepeda yang membeli baksonya sebelum ia memasuki area pemakaman yang terlihat seperti perumahan di matanya saat itu.
Ketakutan lek Mus kembali muncul karena ia mulai menyadari bahwa gadis itu mungkin saja sosok hantu perempuan korban kecelakaan yang diceritakan oleh pak Maliki.

Lebih-lebih, yang dilihat Lek Mus sebelum ia sadar tengah berada di area pemakaman, adalah sosok yang sama.
Lek Mus berusaha merogoh, mencari sesuatu dalam saku celananya. Ia teringat bahwa gadis itu membayar baksonya dengan uang yang cukup besar nominalnya, dan tidak meminta kembalian.

"Mau kui, aku juga ditukoni cah wadok lek, duete gedi tapi ora jaluk susuk. Nangendi yo duit e?"
(Tadi, juga ada gadis yang membeli bakso ku pak, uangnya besar, tapi tidak minta kembalian. Dimana ya uangnya?) Ujar Lek Mus, yang masih terus merogoh saku celananya.

Pak Maliki memperhatikan Lek Mus dengan pandangan penasaran.

"Astaghfirullah, lek. Iki opo?"
(Pak, apa ini?)
Kedua orang itu terkejut melihat sesuatu yang dikeluarkan Lek Mus dari dalam saku celananya.

Digenggaman tangan lek Mus, terdapat beberapa lembar uang ribuan dan uang receh. Namun, bukan itu yang membuat mereka terkejut.

Ada beberapa bunga layu yang hampir mengering, ikut-
- dikeluarkan dari saku celana Lek Mus. Pak Maliki mengenali jenis bunga yang hampir mengering itu. Bunga Kamboja.

Rupanya, kecurigaan lek Mus benar. Malam itu, bisa dibilang ia memang dikerjai oleh para penunggu makam, yang menjelma menjadi warga perumahan.
Mengingat apa yang telah terjadi pada lek Mus malam itu, pak Maliki menawarkan untuk mengantarkan lek Mus pulang. Pak Maliki menyuruhnya untuk kembali mengambil gerobak bakso yang ditinggalkan di area pemakaman itu besok paginya saja.

Keduanya pun segera beranjak dari pangkalan-
- ojek, yang sebenarnya masih sepi itu.
Dalam perjalanan, keduanya masih terus membahas hal-hal yang pernah terjadi di area pemakaman itu.

Lek Mus, rupanya mulai penasaran dengan cerita-cerita yang berkembang terkait tempat itu. Khususnya, cerita tentang kuburan seorang dukun-
- yang berada di tempat itu. Sayangnya, Pak Maliki tidak tau bagaimana cerita sebenarnya, sehingga rasa penasaran lek Mus pun tidak mendapatkan jawabannya.

Rumah tempar kos Lek Mus masih terlihat sepi dan agak gelap. Hanya lampu penerangan jalan yang masih terlihat menyala.
Pak Maliki menurunkan lek Mus di halaman kos-kosan itu. Ia pun menolak saat lek Mus hendak memberikan upah jasanya.

Ia langsung pergi meninggalkan rumah Kos lek Mus dengan terburu-buru. Begitu juga dengan lek Mus, yang langsung bergegas masuk dalam kamar kos nya.

Tepat sebelum-
-lek Mus menutup pintu kamar kosnya, ia sempat melihat ke arah pagar rumah kosnya, dan ia sangat terkejut saat sesosok wanita muncul dengan menghadap kearahnya.

Lek Mus yang sempat melihat sosok wanita itu melambai, sebelum akhirnya lek Mus menutup pintu kamarnya dengan keras.
Cerita tentang tukang bakso yang masuk kedalam area pemakaman itu langsung tersebar dan menjadi perbincangan dikalangan tukang ojek dan pedagang pasar.

Saya sendiri pertama kali mendengar cerita itu ketika saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar.

Untungnya ada narasumber yang-
- masih ingat dengan cerita itu. Seorang kenalan dari Eks-tukang ojek konvensional, yang dulu sering nongkrong di pangkalan ojek di pasar G*****an, yang sekarang sudah pensiun dari profesinya.

Salah satu pesan dari beliau, bahwa sosok ghaib itu bisa saja muncul disekitar kita, -
- kapanpun, dimana pun. Karena alam keberadaan mereka, berdampingan dengan alam dimana kita berada.

Kita dan mereka berada di dunia yang sama, namun dalam dimensi yang berbeda.

Hati-hati dengan orang yang tak dikenal, apa lagi saat bertemunya di jalanan.
Oke. Terkait lokasi pemakaman yang dulu pernah sering terlihat sebagai area perumahan, saat ini area samping kiri kanannya sudah ada beberapa rumah warga. Jalanannya pun saat ini sudah cukup ramai, bahkan sampai tengah malam.

Berbeda dengan dulu, saat pengguna sepeda motor masih
-belum banyak, jalanan tempat itu pun saat ini sudah mendapat fasilitas penerangan jalan yang cukup memadai.

Lalu, apakah lokasinya masih tetap angker?

Saya pun masih menantikan cerita dari orang-orang yang pernah punya pengalaman di tempat itu.

Jadi, threat "Warga Perumahan"-
-ini saya tutup dulu, supaya kita bisa lanjut ke Thread yang lain.

Akhir kata, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, apabila dalam menyampaikan thread ada banyak kekurangan dan jangka waktu pending terlalu lama.

Wassalam.
Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh.

Enjoying this thread?

Keep Current with No Name

Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

Twitter may remove this content at anytime, convert it as a PDF, save and print for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video

1) Follow Thread Reader App on Twitter so you can easily mention us!

2) Go to a Twitter thread (series of Tweets by the same owner) and mention us with a keyword "unroll" @threadreaderapp unroll

You can practice here first or read more on our help page!

Follow Us on Twitter!

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just three indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3.00/month or $30.00/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!