My Authors
Read all threads
Jangan pernah berurusan dan main-main dengannya, jika tidak mau menyesal selamanya. Dengan keberadaan sang ratu yang sampai saat ini masih tetap ada dengan kekayaannya.

“Nyi Ratu Blorong” [Based On True Story]

-Horror Thread-

@bacahorror # bacahorror
@bacahorror Kisah seorang pemuja "Nyi Ratu Blorong", legenda pesugihan dipantai selatan pulau Jawa. Silahkan di Like & RT sepuas-puasnya, mudah-mudahan besok bisa saya ceritakan…
@bacahorror Berkat persetujuan para narasumber, syukur akhirnya kisah ini bisa saya ceritakan. Meski dalam pengetikan masih banyak yang amburadul, typo dan ngebosenin…saya mohon maaf untuk para reader. Yang penting bisa diambil hikmahnya…
Legenda pesugihan dari laut selatan pulau Jawa yang selama ini dianggap dongeng sebelum tidur oleh sebagian orang. Nyi ratu “Blorong“ Sosok siluman ratu ular sebagai simbol kekayaan, sejauh ini sang ratu hanya dianggap mitos yang sangat kental dengan dunia mistis.
Faktanya ia ada dengan jati dirinya yang tak kasat mata dan tetap setia sampai detik ini dengan para sekutunya. Inilah kenyataan yang ada dan tak disadari sepenuhnya oleh manusia dikehidupan masyarakat milenial,
sebenarnya para pengikut sang ratu sebagian kecil masih tetap ada disekeliling lingkungan kita tanpa ada yang tahu. Inilah salah satu kisahnya dari banyak cerita Nyi Ratu Blorong, kisah ini berasal dari teman saya sendiri yang pernah mengalaminya.
Peristiwa ini terjadi diera akhir tahun1997 – 1999, saat krisis moneter melanda dinegeri ini. Nilai rupiah terpuruk, diperberat dengan kejatuhan ekonomi dinegeri kita tercinta.
Keadaan ini memaksa sebagian pengusaha terpaksa menutup usahanya sebelum menanggung kerugian yang lebih dahsyat lagi. Akibat tutupnya sebagian besar industri dan pabrik menyebabkan PHK massal mulai meraja lela.
Otomatis pengangguran meningkat dengan cepat begitu juga index kemiskinan serta kemlaratan ikut melesat tak terkendali. Hanya sebagian kecil pemegang dolar yang aman dan untung serta nyaman dikursi bisnisnya, tapi tidak untuk masyarakat pemegang rupiah.
Lokasi kejadian kali ini berada di Provinsi Jawa Timur, tepatnya dari kabupaten ****. Disaat kebanyakan pabrik tutup, para buruh banyak dirumahkan alias PHK.
Nasib pemutusan hubungan kerja sepihak itu juga dialami Udin dan Sarji, karena mereka berdua juga buruh pabrik yang terkena imbas dari krisis ekonomi moneter.
Gelar pengangganguran baru yang tersemat dalam diri mereka ini juga memaksa mereka jatuh kedalam jurang kemiskinan akut dalam waktu singkat. Mereka harus memeras otak untuk bisa bertahan hidup dan menafkahi keluarganya.
Ditempat asalnya, Udin hanya mempunyai sepetak tanah dengan rumah sederhana diatasnya, sedangkan semua anggota keluarga menggantungkan hidup kepadanya. Udin mempunyai satu istri dan tiga orang anak yang masih kecil-kecil, sedang mertua dan kedua orang tuanya sudah tiada lagi.
Tiap hari Udin sibuk mencari pekerjaan, pekerjaan apa saja siap dia lakukan, tapi keadaan waktu itu sungguh tidak memungkinkan. Kesana-kemari tanpa hasil yang jelas, hingga akhirnya ia disibukkan untuk mencari pinjaman sebagai penutup kebutuhan sehari – hari.
Mulai bank harian, mingguan dan bulanan pun lengkap ia koleksi. Dari lintah darat sampai lintah laut iapun selami untuk berhutang, nasib baik memang tak lagi berpihak kepada udin. Tapi ia masih mempunyai keyakinan untuk berusaha untuk bekerja secara wajar.
Udin ini kebetulan bertetangga dengan Sarji, tepatnya rumah udin saling membelakangi satu sama lain. Kebun berukuran lebar enam meter yang memanjang sebagai batas rumah mereka, dibelakang rumah ini mereka juga sering bertemu dan berkumpul.
Mereka berdua dulunya memang berteman sejak kecil hingga sampai sekarang berkeluarga. Di belakang rumah, ada sebuah pohon keres yang lumayan besar dengan daun yang sangat rindang, dibawahnya terdapat tempat duduk dari kayu seadanya.
Kursi kayu dibawah pohon ini mereka gunakan sebagai ajang kumpul-kumpul sesama mantan buruh pabrik. Mereka berkumpul untuk membahas pekerjaan dan peluang usaha yang mungkin masih bisa diraih, tapi tidak dengan Sarji.
Kehidupan Sarji sebenarnya tak berbeda jauh dengan kondisi ekonomi dengan udin. Mentalitas sarji setelah terkena PHK besar-besaran malah turun drastis, mulai bermalas-malasan, suka foya-foya dan mengandalkan harta dari orang tua.
Sarji seakan lupa dengan tanggung jawabnya sebagai seorang kepala keluarga. Dia terus melakukan kebiasan buruk itu tanpa memikirkan masa depannya. Tapi keadaan itu tidak berlangsung lama, seketika harta kedua orang tuanya mulai menipis semua berubah.
Uang pensiunan kedua orang tuanya lama kelamaan juga tak mampu menyokong gaya hidup Sarji, sampai akhirnya hartanya habis juga. Kedua orang tua Sarji masih menyisakan sebidang tanah dan rumah yang ia tempati, sedangkan untuk uang sudah tak lagi.
Sarji setiap harinya hanya berhutang dan hutang, semakin lama hutang sarji semakin menumpuk melebihi hutang Udin.

Setiap hari, kegiatan Sarji hanya main ke warung, makan, rokok, kopi dan mencatatkan hutang-hutang baru di buku Bon.
Sedang istrinya dirumah belum dikaruniai buah hati juga berpangku tangan. Selain kewarung Sarji juga hobby berjudi togel, dari kebiasaan inilah pundi-pundi kemlaratan mulai bertambah parah kepada keluarga sarji.
Kehidupan Sarji semakin hari semakin melarat, hidup tidak tenang karena terus dikejar hutang dan hutang. Dia sudah tidak bisa berfikir lagi, apa yang harus dilakukan untuk keluar dari kubangan hutang. Semakin hari, hutang semakin menumpuk karena bunga-bunganya.
Desember 1997, disiang hari yang sangat terik, Udin dan sarji sedang duduk-duduk di warung langganannya sekedar mencari hiburan. Saat mereka sedang asyik ngobrol tak karuan, sebuah mobil kinclong datang dan parkir di depan warung.
Udin terus memperhatikan mobil tersebut, tak lama kemudian keluar seorang pria yang wajahnya tidak asing dimata Udin dan Sarji. Pria itu berjalan menuju warung dan langsung menghampiri mereka,
sekian detik ia mengamati wajah sosok yang baru datang ternyata adalah temannya satu pabrik dulu. Sebut saja namanya Ronald, kawan akrab di pabrik yang berasal dari kota sebelah. Saat itu, warung lagi sepi pengunjung dan hanya ada mereka bertiga.
Maklum jam segitu waktunya orang kerja bukan malah bermalas-malasan. Udin mempersilahkan Ronald untuk duduk bergabung, berkumpulah tiga teman akrab yang sekian lama tidak ketemu.
“Whoi...dari mana kamu Nald, tak kira siapa?” Tanya Udin penasaran.

“Dari hotel mau cari kopi disini din?” Jawab Ronald dengan senyuman tipis.

“Gaya kamu kayak orang paling tajir sekarang Nald?” Celetuk sarji
“Loooh belum tahu? Biasa Ji, horang kaya” Jawab Ronald sambil menggoda Sarji

Obrolan santai dan akbrab terus berlanjut, semakin lama semakin seru. Satu persatu saling cerita tentang kehidupan masing-masing lengkap dengan masalah yang dihadapi.
Bumbu hidup satu dengan yang lain memang beda, tapi permasalahn Udin dan Sarji hampir sama. Mereka berdua berkeluh kesah akan keadaanya sekarang kepada Ronald, tapi Ronald belum merespon keluh kesahnya karena masih asyik ngobrol tentang nostalgia mereka selama ini.
Selain itu, Ronald yang sekarang sudah berubah drastis, banyak pikiran yang harus dicurahkan untuk urusan bisnisnya. Sekian lama mereka bicara ngelantur kesana kemari dan berkhayal tidak jelas, akhirnya Ronald mulai iba kepada mereka berdua dan memulai pembicaraan serius…
“Eh... kalian mau hutang kalian lunas dan bisa kaya kayak aku gak?” Tawar Ronald dengan tatapan matanya yang tajam kepada Sarji dan Udin.

“Jangan ngelindur nald, kau ini kaya kan karena harta dari orang tua kamu kan?” Bantah Sarji dengan sedikit mengejek.
“Enggak goblok, aku bisa seperti ini karena kerja keras dan banting tulang. Tapi.... ada juga yang bantu. Dukun andalanku!!!” Tegas Ronald

“Kok bisa Nald, lha dukunnya juga kaya ta…?” Ejek Udin yang tak mempercayai perkataan Ronald dengan senyumnya yang sinis.
“Matamu din, beneran aku ini” Bentak Ronald tapi kemudian tersenyum.

“Ayok Nald, aku juga pengen kayak kamu. Gak usah dihiraukan orang satu itu” Sahut Sarji serius yang mulai tertarik dengan ajakan Ronald.
“Ya udah, besok jam 10 pagi kita kumpul disini. Aku yang jemput, gimana?” ajak Ronald dengan nada serius.

“Kamu ikut gak Din?” Tawar sarji serta kepalanya menoleh dengan wajah serius kepada Udin.
Seketika itu juga tatapan mata semua tertuju pada udin, karena dari awal ia ogah-ogahan dan meremehkan Ronald. Udin hanya terdiam dan terpaku mendengar Ronald dan Sarji.
Sedang Ronald dengan rasa iba dan rasa solidaritas pertemanan ingin membuktikan serta membantu kepada kedua kawannya ini.

“Ikut sana Din, biar kamu bisa bayar hutang!” Sahut ibuk pemilik warung dari belakang meja
“Ogah buk, aku nguli saja” Jawab Udin tenang sambil menikmati rokok.

“Meski aku mlarat banyak utang, mending kerja seadanya buk” Tegas udin yang menyeruput Kopinya

“Eh..orang sudah kere banyak gaya” Ejek Ronald serta tangannya meraih kaca mata hitam dibelahan bajunya.
“Iya tuh mas, dimana otakmu Din. Diajak bisnis sama temennya yang sudah sukses malah ngejek” Timpal ibu pemilik warung dengan sedikit sewot.

“Sudahlah din, ayok kita rubah nasib kita. Kalau tidak kita yang rubah siapa lagi?” Paksa sarji serius
“Ya mau saja Ji, tapi kalau ke dukun lebih baik aku gak ikut. Paling Ronald juga bohong Ji” Jawab udin tetap kekeuh pada pendiriannya.

“Ya wes, kalau begitu kamu temani aku saja Din. Nanti kalau aku berhasil, kamu tak kasih bagian”. Bujuk sarji kepada udin
“Besok mampir kerumahku dulu din kalau gak percaya! Susah memang ngomong sama kamu” Jeda Ronald

“Ok..Ok..Ok…, Tapi aku ikut tapi hanya menemani Sarji saja. Maksa amat kalian.” Jawab udin yang sudah tak tahan karena paksaan dan tekanan diwarung.
“Lha gitu donk din, kamu kan teman sejatiku…hehehehe.” Sahut Sarji mulai bahagia serta tangannya menepuk pundak udin beberapa kali.

Obrolan tiga teman lama masih terus berlanjut hingga sore hari. Mereka makan siang bersama di warung itu.
Semua makanan, minuman, rokok, kopi, kue, gorengan dan apapun yang mereka nikmati di warung itu di bayar oleh Ronald. Udin dan Sarji dengan senang hati tidak menambahkan catatan hutang di buku bon mereka.
Saat matahari mulai menyinsing, mereka beranjak pulang dan menyisihkan janji esok hari. Ronald langsung pulang kembali kehotel tempat ia menginap, sementara kedua temannya pulang kerumah masing-masing, sarji pulang dengan membawa harapan besar untuk esok hari.
Tapi udin sebagai sahabat setia hanya perasaan dongkol terbawa sampai ke rumah, karena ia harus ikut berangkat menemani kawan sejatinya.
Esok hari yang sangat ditunggu Sarji telah tiba. Jam sepuluh tepat, setelah mendapatkan izin dari keluarga masing-masing tadi malam mereka berangkat dengan membawa bekal seadanya. Langkah sarji dengan semangat pergi kewarung sesuai janji Ronald kemarin,
sedang udin langkahnya gontai saat menemani sarji disisinya. Beberapa saat Sarji dan udin sudah menunggu di warung, tapi ronald belum kelihatan. Hari beranjak siang, panas mulai teresa. Kegelisahan terpancar jelas di wajah mereka berdua.
Sarji terus melihat ke arah jalan di luar warung, hingga hauspun tak terbendung.

“Buk es teh dua” Pesan Sarji

“Hutang lagi mas” Sahut ibuk pemilik warung

“Tenang...! Kali ini saya bayar bu, Kan teman saya bos bu…hehehe” Jawab Sarji
“Halah…mas yang bos itu temen mas, bukan mas Sarji” Jawabnya sinis.

“Iya bu, bentar lagi sarji jadi bos di daerah sini” Terang sarji berusaha membanggakan diri.
Sejenak mereka minikmati es teh manis dalam gelas kaca besar, sambil menunggu Ronald tiba. Segar dan nikmat rasanya, panas terik di suguhi dengan es tesh manis. Udin yang dari awal kurang setuju masih terus menggerutu, meragukan perkataan Ronald kemarin.
Tapi tidak dengan Sarji yang sudah 100 persen percaya dengan janji Ronald. “Sudahlah din kamu ikut saja, jangan menggerutu terus”. Dua gelas besar kosong mereka taruh di atas meja, minuman sudah habis.
Nampak di kejauhan mobil MPV hitam dari arah jalan besar masuk keparkiran warung sederhana. Sarji nampak senang karena ia tahu mobil itu kepunyaan Ronald. Putaran roda ban mobil Ronald berhenti tepat disamping warung, ronald dengan semangat turun dari kendaraannya.
“Ayo ji, kita langsung berangkat saja sekarang” Kata Ronald yang tetap berdiri disamping mobilnya.

“Ayo nald.” Sahut Sarji dengan langkah kakinya mendekati Ronald, disertai telapak tangannya memegang erat pergelangan tangan udin dan menyeretnya untuk masuk kedalam mobil.
Beggg…Beggg...beggg (suara pintu mulai tertutup dan ditarik dari dalam)

Mereka bertiga masuk kemobil, dan Ronaldpun langsung bergegas menjalankan mobilnya kejalan raya kembali. Sarji duduk disamping Ronald didepan sedang Udin duduk dikursi tengah sendirian.
Saat mulai perjalanan Ronald membuka perbincangan didalam mobilnya...

“Ji, kita jadi mampir kerumahku dulu ya” Pinta Ronald

“Terus kapan kita kedukunnya Nald” Jawab Sarji
“Nanti habis dari rumah, kita ke mbah dukun. Aku mau jenguk istri dulu Ji, soalnya sudah lama aku gak pulang. Sekalian udin sama kamu biar tahu kalau aku dirumah sudah kaya..hahahaha” Jelas Ronald

“Ya sudah terserah kamu saja Nald” Sahut Udin yang duduk dibelakang Sarji
“Iya Nald gak papa” Jawab Sarji
Mobil tetap dikemudikan sarji menuju rumahnya ke arah barat provinsi. Perjalanan ditempuh sekitar 5 jam dari warung tadi. Merekapun harus sesekali berhenti untuk sekedar ngopi.
Setelah beberapa lama penantian di perjalanan, tibalah rombongan bertiga dirumah Ronald yang besar dan mewah.

“Ayo turun dulu, kita mandi dan makan dulu” Ajak ronald.

“Ok nald.” Jawab Sarji
Udin masih duduk terdiam berdecak kagum melihat rumah ronald yang besar dan mewah dari dalam mobil. Sarji yang mengetahui hal ini langsung mengajaknya keluar.

“Ayok Din, jangan melamun saja” Kata Sarji
“Iyyyaaa,,,yaa Ji.” Jawab singkat terbata-batanya Udin
Setelah semua berdiri diteras, sejenak mereka bertiga memandangi rumah mewah itu sambil menggerakkan kepala serta bagian tubuh yang kaku.

“Gimana din, sudah percaya?” Kata Ronald.
“Iya Nald” Jawab Udin kesal dan malu karena meragukan perkataan Ronald dari kemarin.

Mereka mulai berjalan memasuki Rumah bergaya modern bercat putih dua lantai dengan garasi mobil yang cukup besar disebelah kanan.
Pandangan udin dan sarji tak henti-hentinya melihat dengan seksama tiap sudut rumah mewah ronald dan sekelilingnya. Mereka sangat takjub dengan pencapaian temannya dalam waktu singkat, hingga mereka hanya bisa berdiri dan terdiam menikmati kemewahan rumah Ronald.
Ronald tetap masuk kedalam rumahnya dan meninggalkan kedua temannya yang tetap berdiri. Beberapa saat kemudian Ronald kembali tapi ia mendapati kedua temannya masih diluar. Dengan perasan agak gusar ia mendekati Sarji dan udin.
“Ayo masuk dulu Ji, Din. Kayak orang kampung saja kamu ini, baru lihat rumah mewah wajah pada kelihatan begonya.” Kata Ronald dan langsung menarik kedua tangan temannya masuk kerumahnya.
Sarji dan Udin dipersilahkan duduk langsung diruang tamu ronald yang mewah, beberapa saat kemudian pembantu Ronald datang menghampiri. Pembantu Ronald membawakan minuman dingin serta makanan ringan.
Sarji terlihat sangat semangat untuk mengikuti jejak Ronald setelah melihat keberhasilan Ronald, tapi Udin hanya rasa malu akan keluh kesahnya tadi pagi. Saat mulai memakan hidangan..

“Gimana din, percaya gak sama aku?” Tanya ronald
“Iya nald, aku percaya.” Jawabnya udin yang datar
“Hebat kamu Nald sudah bisa sekaya ini, ngomong-ngomong istri kamu kemana” tanya Sarji

“Lagi keluar, biasa Ji. Sosialita jaman sekarang…hehehe” Jawab bahagia Ronald
“Sekarang kalian mandi dulu, habis itu kita langsung pergi” Pinta Ronald

“Iya nald” Jawab sarji dan udin bergantian

Setelah mendapat perintah dari Ronald, Sarji lebih dahulu pergi kekamar mandi, melihat udin yang masih santai ronald menatap kepada udin.
“Din mandi sekalian sana, rumah besar ini ada tiga kamar mandi ditengah.” Perintah Ronald

“Oooohhh, kirain cuma satu Nald” Jawab udin yang lugu.

“Ehhh rumah orang kaya ini din, cepetan mandi sana” Kata Ronald lagi.
“Nald rumahmu didalam kok bau amis banget, habis masak apaan?” tanya Udin

“Halah gak usah dicium din, cepetan mandi dulu. Bawel amat kamu din jadi orang” Kata Ronald

Udin akhirnya menuruti perintah Ronald, dengan cepat berjalan menuju ruang tengah untuk mandi.
Ronald menunggu sambil menikmati minuman di ruang tamu. Beberapa saat kemudian, mereka berdua nampak sudah selesai mandi dan kembali lagi keruang tamu Ronald.

“Gimana sudah siap semua” tanya Ronald

“Sudah nald, ayo cepetan” Jawab Sarji
Ronald berjalan menuju garasi mobilnya yang besar, kedua temanya ikut masuk ke garasi. Ada lima mobil mewah yang berada dalam garasi ronald, kedua teman ini hanya mengamati dan diam tertegun.
Beberapa kali Ronald mondar – mandir mengelilingi mobil-mobilnya sampai akhirnya ia memilih mobil SUV mewahnya, ia tahu karena medan yang akan ia lalui cukup berat. Dia harus menyesuaikan mobil yang akan dipakai dengan medan yang akan di lalui.
Sore itu mereka bertiga langsung pergi dengan mobil Ronald, mobil SUV offroad mewah yang nyaman. Selama perjalanan, rumah mewah ronald masih terus terngiang dalam pikiran Sarji. Ia Sangat berambisi ingin cepat sukses seperti Ronald.
Sedang sahabat karibnya udin hanya diam membisu, dianggapnya Udin malu karena perbuatannya yang meremehkan Ronald dari kemarin.

Perjalanan panjang tanpa tahu tujuan mereka kemana, intinya mereka sudah pasrah ikut dengan Ronald.
Arah mobil yang ditumpangi mereka bertiga menuju keselatan pulau Jawa. Saat ditengah perjalanan Sarji yang masih penasaran langsung bertanya kepada ronald.

“Nald, sebenarnya ini kemana, kok lama gak sampai-sampai?” Tanya sarji yang duduk disamping kemudi Ronald.
“Sudah diam saja kamu, nanti tau sendiri.” Jawab Ronald yang masih serius memegang kemudi mobil.

“Kok jauh amat Nald, paling kamu bohong” Sahut udin dari bangku tengah mobil seakan ia tahu pikiran Ronald.
“Ngawur kamu din, aku ini beneran ingin bantu sarji. Sudah tidur saja kamu, nanti kalau sudah sampai aku bangunkan” Jawab ketus Ronald.

Mobil terus berjalan, sampai menembus kegelapan malam. Dari jalan nasional hingga jalan tak beraspal.
Beberapa jam mobil itu melewati jalan sepi ditengah hutan, dan akhirnya mobil Ronald terhenti di sebuah lereng gunung, tepatnya gunung itu persis bersebelahan dengan laut selatan.

Setelah Ronald membuka HP ia melihat waktu sudah menunjukkan jam satu malam.
Saat didalam mobil yang sudah terparkir miring, Ronald membangunkan kedua temannya satu persatu.

“Whoi bangun…bangun. Sudah sampai” Kata ronald. Dan Ia segera turun terlebih dahulu dari kendaraannya.
Sambil menunggu temannya keluar Ronald yang dari tadi jadi sopir, berjalan mondar mandir diatas kerikil lereng gunung tanpa alas kaki. Kebiasaannya sehabis mengemudi jarak jauh ialah melemaskan otot yang tegang, dan menghilangkan rasa nyeri dikaki.
Beberapa menit kemudian satu persatu temannya keluar dari mobilnya.

“Gimana Ji, din sudah siap” Kata Ronald

“Ok, Nald ayok berangkat” Jawab Sarji penuh semangat

“Nald ini dimana sebenarnya” Tanya Udin penasaran
“Sudahlah Ayok cepet ikuti aku, jangan banyak tanya Din!!! Mau kaya apa tidak kamu Ji?” Bentaknya Ronald kepada Udin serta ajaknya Ronald pada Sarji.

“Iya mau Nald, sebentar nald” jawab sarji yang sedang membetulkan posisi tas dan isinya.
Mereka bertiga yang sudah bersiap dengan memakai jaket tebal mulai jalan. Dari bawah bukit mereka masuk ke jalan setapak menuju keatas dengan bantuan cahaya senter kecil ditangan Ronald.
Dalam kegelapan malam mereka tetap berjalan menanjak dengan undakan tanah sedikit berkerikil dan berbatu. Kanan kiri jalan rumput hijau yang basah mengikuti pemandangan sampai tengah perjalanan.
Jalan kaki ini sangat melelahan, karena pada dasarnya udin dan sarji tak biasa jalan jauh apalagi menanjak. Selama perjalanan itu, mereka berulang kali berhenti untuk istirahat. Sekitar dua jam perjalanan, akhirnya mereka melihat sorotan cahaya kecil dari sebuah bangunan.
Mata yang semakin mendekat melihat sebuah pendopo kecil yang terlihat tak terawat. Ronald sebagai pimpinan rombongan itu menambah kecepatan jalan kakinya, karena tujuannya sudah terlihat.
Langkah kaki mereka bertiga terhenti ketika sudah berada tepat di depan pendopo, Udin dan Sarji hanya berdiri terdiam dan saling bertatap mata. Ronald mengamati setiap pojok, atas dan bawah pendopo yang sepi, dan tidak terlihat ada tanda-tanda kemunculan seseorang.
Tak lama kemudian, dari semak-semak perlahan muncul suara kaki dan gesekan daun. Secara perlahan penampakan samar – samar seseorang pria tua yang memakai pakaian loreng hitam cokelat mulai terlihat. Seorangpria tua memakai blangkon batik di kepalanya dan bawahan berbalut sewek,
persis seperti abdi dalem sebuah keraton. Dengan sembulan rambut putih yang mencuat dari blangkon, serta kumis dan jenggotnya yang ikut menguning dan memutih. Ia berjalan mendekati kami yang masih berdiri mematung didepan pendopo.
Ronald yang sudah mengenalnya dengan cepat menjabat tangan dan mencium tangan kanan pria tua ini, begitupun Udin dan Sarji mengikuti apa yang telah dilakukan Ronald.
“Mbah, Ngapunten dalem dangu mboten sowan ten njenegan (mbah, maaf saya lama tidak berkunjung ke anda)”Kata Ronald setengah menundukkan bahunya
“Hehehe..gak popo le, pancen ngunu nak wis sugih lali karo mbah’e (tidak apa-apa nak, memang begitu kalau sudah kaya lupa sama mbahnya).” Jawab dukun tua menyindir Ronald. Pria tua ini lalu berjalan menuju ke pendopo kecilnya.
“Nggih mboten ngonten mbah, kulo kan ewet ngerawat usaha dalem ten kota” (ya tidak begitu mbah kan saya repot ngurus usaha saya dikota) Jawab Ronald yang mengikuti dibelakang kakek tua ini.
Sarji dan Udin mengikuti mereka berdua dari belakang, dan duduk dibawah lampu tempel yang berada diatas tiang pojok penyangga. Dalam keremangan cahayanya dan dinginnya pendopo, mbah tua ini mulai melinting rokok klobotnya.
Selesai melinting ia mengambil korek dari saku kanan dan mulai menyulutnya…kami semua duduk melingkar, sedang kakek tua ini bersandar di tiang kayu sebagai salah satu penopangnya.

“Mbah kenalaken niki rencang kulo sedanten” (mbah kenalkan ini teman saya semua) Pinta Ronald.
Setelah sarji dan udin berjabatat tangan, mulut Ronald mendekat kepada telinga sarji saat duduk disampingnya.

“Iki ji seng jenenge mbah Dirjo, wingi seng tak ceritakno neng awakmu” Bisik lirih Ronald kepada Sarji.
“Ono opo le, adoh-adoh mrene melu ronald (ada apa nak, jauh jauh kesini ikut ronald)” Tanya mbah Dirjo

“Dalem pengen kados mas Ronal mbah, saget sukses kalian sugih (saya ingin seperti mas Ronald mbah, bisa sukses dan kaya)” Jawab Sarji
“Ooohh dadi ngono karepmu le (oooh jadi begitu maumu nak)” Kata mbah Dirjo sambil menggerakkan kepalanya naik turun serta senyum kecilnya dari bibirnya mulai mengikuti

“Pripun mbah, saget nopo mboten? (gimana mbah, bisa apa tidak)” Tanya Sarji yang penasaran
“Iso..iso…tapi enek syarate, opo wes dikandani karo Ronald syarate (Bisa…bisa tapi ada syaratnya, apa sudah diberi tau sama ronald syarate)” Jawab Mbah Dirjo serius menatap Sarji dan Ronald.
Ronald hanya menggelengkan kepalanya pelan dan tetap menatap mbah dirjo, sedang Sarji dan Udin hanya menundukkan kepala. Tertunduk akan ketidaktahuaannya tentang seluk beluk syarat yang harus dipenuhi.
Udin sendiri tetap tertunduk diam seakan tak mau ambil pusing atas keinginan Sarji.

“Ngene le syarate [begini nak syaratnya], (lantas mbah Dirjo menjelaskan secara panjang lebar dan terperinci akan tata cara serta syarat yang harus dipenuhi Sarji).
Semua yang ada di lingkaran itu sejenak senyap memperhatikan dengan seksama wejangan Mbah Dirjo perihal semua syarat yang harus di siapkan untuk ritual yang wajib dilaksanakan.
Mbah Dirjo menyebut syarat ritual satu persatu, dari yang mudah didapat sampai dengan yang sulit didapat. Dalam syarat itu tersebut bunga-bungaan dan wangi-wangian serta beberapa syarat lain yang jarang sekali orang mengenalnya.
Udin yang tidak tertarik dengan semua itu, hanya tetap tertunduk dan mendengarkan suara mbah Dirjo yang masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Tapi tidak dengan Sarji, dia dengan seksama mendengarkan dan memperhatikan dengan serius apa yang diwejangkan oleh Mbah Dirjo.
Kalo diperbolehkan mencatat, mungkin Sarji sudah mencatatnya sampai dengan satu halaman penuh. Akhirnya mbah Dirjo sampai pada rangkaian kata terakhir wejangan tentang ritual itu. Dan sekali lagi menanyakan kesiapan Sarji atas ritual perjanjian yang akan dijalaninya.
Karena kesepakatan itu tidak hanya akan mengikat Sarji seorang, tapi juga semua anggota keluarganya sampai akhir hanyat. Bukan persoalan main-main, sehingga harus difikirkan dengan matang dan sudah dipertimbangkan dengan baik.
“Njih mbah, dalem pun siap. Kinten-kinten dimulainipun ritual kapan nggih?” (iya mbah, saya sudah siap. Kira-kira dimulainya ritual kapan ya) Jawab dan tanya Sarji yang tak sabar dan sudah ingin cepat kaya.
“Sak iki ora popo le, sesajene ben di siapno kancamu Ronald. Pie nald?” (sekarang tidak apa-apa nak, sesajennya biar disiapkan temanmu ronald) Kata mbah Dirjo setelah memberi lampu hijau kepada sarji, dan ia menoleh kearah Ronald untuk meminta persetujuanya untuk membantu Sarji.
“Injih Mbah, kulo siapaken” (iya mbah saya siapkan) Jawab Ronald.

Selesai kesepakatan, sekitar jam dua dini hari Ronald dan Udin kembali kebawah untuk belanja kebutuhan ritualnya Sarji.
Waktu mau turun kebawah mbah Dirjo berpesan “Nald, Ritual kancamu sarji bakale mangan wektu kiro-kiro sodok sui. Dadi gawakno bekale mesisan”. (Nald ritual temanmu sarji akan mekan waktu lama, jadi bawakan bekalnya sekalian).
Ronald hanya mengangguk sebagai jawaban sepakat kepada mbah Dirjo. Kemudian mbah Dirjo langsung kembali pulang. Sedangkan Ronald dan Udin pergi untuk membeli perlengkapan yang disyaratkan. Malam itu juga,
Sarji menetap dipendopo dan mulai melakukan ritual bersemedi menghadap keselatan. Mulai saat itu perjanjian Sarji untuk mencari kekayaan dunia sudah dimulai. Dan tidak ada kata mundur lagi bagi dia karena tekadnya sudah bulat.
Esok harinya, Ronald dan Udin kembali datang ke pendopo kecil dengan membawa sesajen lengkap. Susah payah dua orang teman Sarji ini membawa sesajen yang disyaratkan melalui jalan naik yang tidak mudah dan juga menguras tenaga.
Saat mereka berdua sampai di depan pendodo, ternyata Mbah Dirjo sudah menunggu dan tidak ada yang tahu dari jam berapa ia disana. Ronald menemui Mbah Dirjo dan langsung memberikan sesajen lengkap untuk memenuhi syarat ritual Sarji.
Setelah itu, mbah Dirjo dengan cekatan menata rapi sesajen didepan sarji yang sudah bersemedi sejak malam hari. Sejenak mereka bertiga melihat sarji yang sedang serius melakukan laku ritualnya.
Sarji tetap duduk bersila menghadap ke laut selatan tanpa menghiraukan kehadiran mereka bertiga. Terlihat Sarji sangat khusyu’ menjalani ritual itu dan pancaran wajahnya menujukkan keseriusan niat untuk cepat kaya raya.
Akhirnya Ronald, Udin dan mbah Dirjo memutuskan untuk meninggalkan Sarji sendirian dipendopo. Mereka pergi kerumah mbah Dirjo dibawah lereng bukit. Rumah mbah Dirjo terbuat dari kayu biasa yang sederhana berukuran kecil dan nampak seperti rumah kuno, jauh dari kesan mewah.
Sampai didepan rumah, mereka langsung menuju ke teras rumah dan duduk di kursi kayu kusam yang tertata melingkat. Udin dan Ronald rehat sejenak sambil bercengkrama dengan Mbah Dirjo. Obrolan santai terus mengalir diantara mereka, sungguh akrab.
Pagi hari yang sangat sejuk dan menyenangkan. Selanjutnya ronald dan udin pamitan untuk pergi mencari sarapan. Kemudian dua orang ini beranjak pergi dari rumah Mbah Dirjo menuju ke Pasar di bawah. Memang selama Sarji masih melaksanakan ritualnya,
Ronald mengajak Udin untuk menemaninya. Hanya kata “iya” yang bisa diucapkan Udin untuk temannya.
Waktu terus berjalan, hari berganti hari dan siang berganti malam, semua harus dilalui Sarji. Sarji sudah tidak lagi menghiraukan kondisi apapun yang ada disekitarnya,
hanya fokus untuk bisa bertemu dan bersekutu dengan sang ratu. Sang ratu pujaan yang akan membawa perubahan hidupnya. Sedang kedua temannya harus naik turun untuk melihat serta mengawasi Sarji, baik pagi dan sore hari. Akhirnya, Ritual Sarji sudah memasuki hari ketujuh.
Pagi hari Sesuai perhitungan mbah Dirjo, malam itu ialah malam bulan purnama penuh. Mbah Dirjo memerintahkan Sarji untuk pergi ke pantai dan melanjutkan ritualnya disana. Sarji harus bersemedi di atas batu karang yang telah ditentukan oleh Mbah Dirjo,
sebuah batu karang yang langsung menghadap ke laut selatan. Ketika malam telah tiba, Sarji bersiap-siap untuk turung bukit menuju ke tempat semedi baru. Dia harus turun bukit sendiri sambil membawa beberapa sesajen yang telah ditentukan oleh Mbah Dirjo.
Sekitar jam 8 malam, Sesajen di tata dengan rapi sekitar tempat semedi. Sarji mulai menaiki batu karang dengan penuh harap dan hati yang telah mantap. Dia lalu bersila dan melakukan ritual langsung menghadap pantai selatan diatas batu karang.
Malam semakin larut, Sarji tetap dalam semedinya. Sekitar jam dua belas malam, suasana disekitar tempat semedi mulai berbeda.

Sampai pada suatu keadaan dimana Sarji tidak bisa menyadari dia sedang berada di alam mana, nyata tau ghaib.
Tubuh serta pikiran Sarji antara sadar dan tidak sadar mulai merasakan suatu cahaya yang terang dihadapannya. Secercah cahaya yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Perlahan dan sangat hati-hati Ia mulai memberanikan diri untuk membuka kelopak mata.
Semakin lebar kelopat mata dibuka, semakin besar cahaya yang memancar didepan mata. Pancaran kilauan cahaya seperti kilauan emas yang tersebar dimana-mana, sungguh menakjubkan. Istana megah berhiaskan emas berkilau menerangi area semedi Sarji.
Dia yang masih duduk bersemedi merasakan dekatnya jarak antara dirinya dengan istana yang megah itu, sekitar tiga puluh meteran.

Ia mulai bangkit untuk berdiri, tubuhnya seakan ada yang memanggil untuk masuk kedalam istana.
Sarji berjalan pelan masuk kearah istana dengan mengamati keindahannya, sampai diistana matanya tetap melirik pemandangan kanan kiri. Setiap gerbang yang ada penjaganya dengan sigap langsung membuka pintu istana seperti kedatangannya sudah ditunggu.
Ia disambut suasana keraton yang tenang dengan bau harum tapi sedikit amis. Mata sarji tak henti-hentinya melihat bangunan tinggi menjulang yang begitu megah dengan tiang-tiang besar berwarna keemasan.
Ukiran-ukiran yang melekat disemua istana Nyi ratu begitu indah menghiasi setiap jengkal semua bangunan Nyi ratu. Ketika langkahnya sampai dipintu istana ia melihat sosok Nyi Ratu yang berwibawa duduk diatas singgasana.
Disamping kanan kirinya terdapat masing-masing satu orang perempuan yang berpakain serba hijau, berselendang hijau pula. Mereka berdua memegang kipas besar warna hijau yang diayunkan dari samping kepada sang ratu secara perlahan.

Sosok Nyi Ratu yang memakai kemben warna hijau,
bawahan kain batik warna merah gelap sampai menutup kakinya. Sedang bentuk tubuh ular kuning keemasan melilit dibawah singgasananya. Dikanan kiri bahunya berbalut selendang hijau yang menjuntai kebawah, sedang untaian kembang kanthil yang menjulur tiga helai sampai ke perut.
Mata sang ratu menatap tajam sarji dari singgasananya, sarji tetap berjalan dan mengamati bentuk singgasana yang berwarna kuning keemasan dengan pegangan tangan kanan kirinya berbentuk kepala ular.
Masih dalam diam tertegun dan tercengang, sarji berdiri tepat dihadapan Nyi ratu.
Belum pernah Sarji jumpai didunia istana sebesar dan semegah ini didunia nyata. Sampai akhirnya ia sadar sedang berada didalam istana Nyi ratu, seketika itu juga sarji langsung duduk bersimpuh memelas dengan wajah penuh harap.
Dari jarak yang dekat inilah ia benar-benar bisa melihat dengan jelas sosok sang ratu, yang selama ini ia cari sesuai petunjuk Mbah Dirjo. Dengan mata kepalanya sendiri ia melihat seorang Nyi Ratu dengan paras wajahnya sangat cantik jelita, menawan,
menggairahkan dan berkulit cerah seperti gadis yang masih baru berumur sembilan belas tahunan. Sang ratu ini berambut hitam tergerai kebelakang sampai pinggang sedang diatas kepalanya dihiasi sebuah mahkota berwarna keemasan, dengan hiasan beberapa kepala ular diatas mahkotanya.
“Nyi….” Ucap sarji membuka pembicaraan dengan kepala setengah menunduk.

“Yo, aku wes ngerti karepmu (Ya saya sudah tahu maumu)” Jawab Tegas Nyi Ratu dengan suara lantang
“Mbalik’o muleh, siapno kamar siji seng khusus gawe aku. Sakben padang mbulan, awakmu kudu mujo aku neng kamar iku” (kembalilah pulang, siapno kamar satu yang khusus buat saya. Setiap bulan purnama, kamu harus memuja saya dikamar itu) Jelas Singkat Nyi Ratu Blorong
“Injih nyi” (Iya Nyi) Jawab Sarji dalam kondisi kepalanya tertunduk total kebawah.

Sarji yang merasa sudah berhasil ia berjalan mundur pelan dengan tubuh setengah membungkuk sampai ketempat duduknya semula.
Ketika ia sudah duduk kembali dengan memejamkan matanya kembali, tiba-tiba keadaan berubah.

“Byuuuurrrrr” (hempasan ombak pantai yang mengenai tubuhnya)

Perasaan kaget dan bingung, sarji langsung berdiri dan melihat sekeliling. Ia mengamati dengan seksama,
ternyata ia sudah berada dipantai tepat dibawah karang. Setelah sadar ia sangat senang sudah kembali kedunia nyata, dan ia juga merasa sudah berhasil bertemu dengan Nyi Ratu.

Perasaan bahagia atas keberhasilan ritualnya membuat dirinya langsung kembali dengan cepat kependopo,
Sampai dipendopo ia tak menemukan siapapun, karena waktu sudah menjelang subuh. Sarji putuskan untuk langsung membersihkan diri di samping pendopo dan melanjutkan untuk istirahat sambil menunggu teman-temannya dan mbah Dirjo.
Pagi menjelang, sekitar jam tujuh pagi Sarji masih terlelap. Kedua temannya datang tanpa sepengetahuan Sarji, sedang Ronald dan Udin hanya menunggui sarji yang tidur disampingnya. Tak lama kemudian mbah Dirjo pun datang dan ikut duduk dengan mereka…
“Piye le hasile?(Gimana hasilnya)” Tanya mbah Dirjo

“Kirangan mbah, dalem dereng ngertos. Sarji nggih niki, tasek sare” (tidak tahu mbah, saya belum mengerti. Sarji ini, masih tidur) Jawab Ronald sambil menunjuk sarji yang masih tidur lelap disampingnya.
“Oh..ya wes, babahno cek turu sek” (Oh ya sudah biarkan biar tidur dulu) Jawab mbah Dirjo Tenang
Sambil menunggu bangunnya sarji mbah Dirjo mulai perbincangan bersama ronald dan udin.
Beberapa jam kemudian sarji terbangun dengan sendirinya, ia langsung duduk sambil menguap dan mengucek mata merahnya.

“Jam piro iki Nald” (jam berapa ini Nald)Tanya sarji

“Jam rolas ji, wes ndang raup disek kono”(Jam duabelas Ji, sudah cepet cuci muka dulu sana).Jawab Ronald
Dirjo kembali melanjutkan ceritanya, beberapa saat sarji kembali dan ikut duduk bersama didalam pendopo.

“Piye le, wes kasil?”(gimana nak sudah berhasil).Tanya Mbah Dirjo

“Sampun mbah, wau dalu kulo sampun ketemu nyi ratu. (sudah mbah, tadi malam saya sudah bertemu Nyi Ratu).
‘selanjutnya sarji menceritakan secara detail kepada mereka dari awal sampai akhir tentang kejadian bertemu dengan nyi ratu’.

“Wes maringene dang balik muleh, siapno opo sing dijaluk karo nyi ratu” (sudah habis ini cepat balik pulang,
siapkan apa yang diminta sama Nyi Ratu). Perintah Mbah Dirjo

“Injih mbah, matur nuwun sanget” (Iya mbah, terima kasih banyak). Kata Sarji

“yo le, podo-podo” (ya sama-sama nak). Jawab mbah Dirjo
“Menawi ngonten, dalem nyuwun pamit wangsul sepindah njih mbah” (kalau begitu, saya minta ijin pulang sekalian mbah). Pinta Sarji

“yo wes, ngati-ngati neng dalan le”(Ya sudah, hati-hati dijalan nak). Jawab Mbah Dirjo

“Njih mbah” (Iya mbah). Jawab Sarji
Hari masih siang, tapi hawa dingin digunung masih tetap sejuk menusuk tulang. Sarji dan kedua temannya langsung berkemas untuk segera pulang, setelah bersalaman dan memberi amplop kepada mbah Dirjo mereka langsung turun kebawah menuju mobil.
Sampai diparkiran bawah, mobil Ronald tetap diisi tiga orang, Perjalanan dimulai dari jalan berbatu yang menggoyangkan isi didalamnya, sampai goyangan mereda dijalan beraspal.Ketiga orang yang berada dalam mobil masih terdiam,belum ada sepatah kata yang keluar dari mulut mereka.
Sarji duduk terdiam di jok depan, tatapannya kosong kedepan. Dalam lamunannya harapan kaya raya dan bahagia sarji mulai tertanam diotaknya. Tapi kenyataannya waktu itu, sarji masih miskin.
Lambat laun dari tempat duduknya yang berada di samping kemudi ia mulai tersadar akan kondisinya yang terkini, tatapan matanya mulai berisi…

(Tinnnn…tinnnn...tinnn,,,Ciiiittttt) suara klakson dan rem mobil Ronald mendadak membuyarkan lamunan sarji dan udin,
mobil seketika dihentikan dengan spontan. Bersamaan dengan itu semua badan dan kepala yang berada didalam mobil terayun kedepan.

“Enek opo nald (ada apa nald)” Tanya sarji dengan tatapan kaget terhenyak kepada Ronald,
sedangkan udin hanya setengah berdiri berjongkok kedepan ikut melihat tanpa berkata apapun.

“Onok…, iku mau koyok ulo gede liwat (ada….itu tadi kayak ular bersar lewat)” Jawab Ronald tetap memandangi jalan beraspal yang sepi, tanpa ada mahluk apapun
“Lha endi sak iki ulone (Lha mana sekarang ularnya)” Tanya Sarji mulai memperhatikan jalan didepannya

“Embuh, mau liwat neng ngarep kunu. Mlakune cepet, tapi kok wis gak enek ya (Gak tahu, tadi lewat didepan itu.
Jalannya cepat, tapi kok sudah tidak ada ya)” Jawab Ronald yang mematung dan tertegun

Selesai kejadian secara tiba-tiba itu, Ronald mulai melajukan kembali mobilnya dengan pelan-pelan dijalan beraspal, sedangkan sarji dan udin kembali duduk dengan tenang.
Mereka berdua memikirkan untuk cara membawa uang saat sampai dirumah. Sebab waktu itu mereka berdua benar-benar tak ada uang sama sekali dikantongnya.

“Nald, aku oleh nyileh duit” (Nald, saya boleh pinjam uang). Tanya Sarji

“Gae opo Ji” (buat apa ji). Jawab Ronald
“Gae mangan Nald, Minggu wingi pas ape budal aku pamit neng bojoku, arep kerjo neng nggonmu” (buat makan nald, minggu kemaren tepatnya mau berangkat saya pamit keistriku mau kerja ditempatmu). Jelas Sarji dengan memelas
“Terus” Ucap Ronald yang masih tegang karena habis melihat sosok ular yang tiba-tiba menghilang

“Yo mosok aku pamite kerjo neng nggonmu, suwine seminggu muleh ora gowo duit Nald”(ya masak aku pamitnya kerja ditempatmu, selama satu minggu pulang tidak bawa uang nald).Jelas Sarji
Ronald masih diam dan tetap mengemudikan mobilnya, ia tidak langsung memutuskan untuk memberi pinjaman. Dalam diamnya masih berpikir antara memberi pinjaman atau tidak, setelah beberapa menit ia menoleh ke arah sarji disampingnya sambil mengemudi.
“Butuh piro awakmu ji” (butuh berapa kamu Ji). Tanya Ronald

“Yo nak iso seng akeh Nald, soale ape gae mangan, nyaur utang terus paling penting nyiapno kamar lan ubo rampene gae kanjeng ratu?” (ya kalau bisa yang banyak Nald, masalahnya mau buat makan,
bayar hutang terus yang paling penting untuk mempersiapkan kamar sama perlengkapannya kanjeng ratu). Tegas Sarji lirih

Udin dibelakang hanya tiduran tak menanggapi serius pembicaraan mereka berdua.
Hanya deru mobil yang terdengar jelas ditelinganya, sedang matanya hanya memandangi dedaunan pohon-pohon menghijau dari dalam mobil.

“Rong puluh juta cukup ji” (dua puluh juta cukup Ji). Ucap Ronald tanpa banyak curiga kepada Sarji
“Cukup Nald” Jawab Sarji dengan senyum melebar

“Aku yo gelem rek nak disilihi duwit, aku wingi pamite nang mbok’e arek-arek kerjo nang nggonmu yoan nald” (aku ya mau rek, kalau dipinjami uang. Aku kemarin pamitnya ke ibunya anak-anak kerja di tempatmu juga nald).
Sahut Udin dari kursi belakang Ronald.

“Awakmu iki Din melu ae, opo maneh nek bahasan utang-utangan bakale cair langsung cepet nyaut, nek diajak meguru emoh!!!”
(kamu ini din ikut saja, apalagi kalau pembahasan hutang piutang mau langsung cair langsung ikut, kalau diajak berguru gak mau). Jawab Ronald dengan ketus.

“Yo ora oleh din, iki sarji jelas bayare utang, lha nek awakmu piye?
soale awakmu ora melu meguru neng mbah Dirjo”(ya tidak boleh din, ini sarji sudah jelas pembayarane. Lha kalau kamu gimana? masalahnya kamu tidak ikut berguru kepada Mbah Dirjo). Terang Ronald dengan jelas
“Yo jelas Nald, bakale tak saur nald sok mben nek wes due duit” (ya jelas nald, Pasti aku bayar nald besok lusa kalau sudah punya uang”. Jawab Udin dengan keyakinannya

“Ra iso din, soale sarji iki nyileh duit mergo wes sak peguron karo aku. Salae dewe awakmu gak melu meguru”
(tidak bisa din, masalahnya sarji ini pinjam uang karena sudah satu perguruan sama saya. Salah kamu sendiri tidak ikut berguru). Tegas Ronald lagi dari kursi depannya

“Asu tenan awakmu Nald, asli medit koen Nald. lha terus nasibku piye iki?”
(Anjing beneran kamu Nald, asli pelit kamu Nald. Lha terus nasibku gimana ini?) keluh udin yang sudah jengkel

“yo embuh din!!!( ya gak tahu din) Jawab Ronald cuek

“Wes ngene ae Nald, tambahono utangku.
aku sing nyileh, seng nyaur mengko aku ae. Udin engko urusanku” (sudah gini saja nald, tambahi saja pinjamannya. aku yang pinjam, yang bayar nanti aku saja. Udin nanti urusanku). Jawab Sarji untuk menengahi perdebatan diantara mereka berdua
“Ngunu ta?”(begitu ta). Sahut Ronald

“Yo, yo wes. Engko nak wis teko omahmu ae duite tak wenehno awakmu. Aku percoyo karo awakmu Ji...hehehe” (Ya...ya sudah. Nanti kalau sudah sampai rumahmu saja uangnya tak kasihkan kamu. Aku percaya sama kamu ji...hehehe). Jawab Ronald
Sekian jam perjalanan dan sekian kali berhenti untuk melepas lelah,beberapa jam kemudian mereka sampai dirumah Sarji pada malam hari.Ronald turun dari mobilnya dan berjalan kebelakang mobil,tangannya dengan cepat langsung mengambil tas ransel yg berisi penuh gepokan uang tunai.
Setelah mengambil beberapa gepok ia berjalan menemui sarji yang masih disamping mobil dan memberikan uangnya kepada Sarji. Selesai itu ronald langsung pamit ke kota,
rencananya ia menginap dihotel karena pagi hari Ronald harus belanja dalam jumlah besar untuk menyuplai toko bangunannya, dan beberapa toko bangunan didaerahnya.

Sarji dan udin masih berdiri dihalaman rumahnya,
sarji sendiri yang habis mendapat pinjaman dari Ronald menepati janjinya kepada Udin. Saat mereka berjalan menuju rumah masing-masing, sarji langsung memberikan uang pinjaman kepada Udin.
Tapi dengan perjanjian udin yang berhutang kepada sarji, Setelah itu mereka pulang kerumah masing-masing.
Pagi yang cerah mewarnai rumah Sarji, karena ia telah mendapatkan uang banyak meski pinjaman.
Sarji memberikan sebagian uang kepada istrinya dan meminta persetujuan gudangnya dijadikan kamar khusus untuk ritualnya, dengan berbagai alasan serta bujuk rayunya akhirnya ia mendapat persetujuan sang istri juga.
Selanjutnya ia beralih menemui kedua orang tuanya yang sedang duduk-duduk dibelakang rumah, dengan basa-basi sebentar sambil sarji memberikan uang kepada ayah dan ibunya.
Berbagai alasan ia utarakan, sarji meminta gudangnya digunakan untuk ibadah khususnya karena diperintah sang guru, sejenak dalam diam kedua orang tua Sarji berpikir. Tapi akhirnya dengan berat hati orang tuanya menuruti keinginan anak semata wayangnya.
Setelah mendapat persetujuan dari semua penghuni rumah ia pergi kerumah udin lewat pintu dapurnya.

Tok..tokk..tok..din…???

“Eh mas sarji monggo melbet” (Eh Mas sarji mari masuk). Tawar istri udin

“Mas udin ten pundi mbak, kulo wonten perlu sekedap”
(mas udin dimana mbak, saya ada perlu sebentar). Tanya Sarji

“Mas udin tasek tilem ten ngajeng”( ini mas udin masih tidur didepan) Jawab istri Udin sambil membersihkan kedua tangannya.
“Sekedap mas kulo tangek’aken riyen” (sebentar mas, saya bangunkan dulu). Jawabnya istri udin dengan berjalan kedepan

“Nggih kulo tenggo ten wengkeng mawon mbak” (ya, saya tunggu di belakang saja mbak) Sahut Sarji
Beberapa menit kemudian udin bangun,
ia berjalan kebelakang rumah dengan bekas air yang masih menempel diwajahnya dan menemui sarji dibawah pohon keres.

“Enek opo ji, isuk-isuk wes golek’i aku” (ada apa Ji, pagi-pagi sudah cari aku). Tanya udin yang mulai duduk disamping Sarji
“Din, awakmu kan iso nukang! Sak iki garapen gudangku seng ndek ngguri iku dadi kamar.” Pinta Sarji

“Lha arep gae opo ji” (lha mau buat apa Ji). Tanya udin yang tak tahu tujuan Sarji
“Gae nggon khusus ngaji gawe aku din, aku dikongkon mbah Dirjo pas neng nggunung wingi.” (buat tempat khusus ngaji buat aku din, aku disuruh mbah Dirjo waktu di gunung kemarin). Terang sarji
“Ooohhh ngono ji ceritane. Ya wes, itung-itung wingi mari kok utangi. Ayok digarap sak iki ae, mumpung jek isuk.” (oooh begitu ceritanya. Ya sudah, hitung-hitung kemarin habis kamu beri pinjaman ayo dikerjakan sekarang, mumpung masih pagi). Jawab udin dengan bersemangat
Saat itu juga mereka berjalan menuju gudang yang mau dijadikan kamar khusus. Dengan cekatan udin langsung membersihkan dahulu gudang berukuran 4 x 4, dengan satu jendela kecil sebagai sumber penerangan disiang hari dan sebagai sirkulasi udara.
Saat udin masih bersih-bersih, sarji pergi ketoko bangunan untuk belanja semua kebutuhan. Sesaat kemudian sarji datang dengan membawa bahan bangunan, ia juga ikut membantu udin mulai membenahi plafond, pintu dan mengecat ulang tembok yang lusuh.
Hari demi hari udin mengerjakan kamar itu tapi udin tetap tidak tahu maksud dan tujuan sarji sebenarnya, sampai akhirnya tempat benar-benar terlihat bersih dan terlihat seperti kamar yang cukup mewah.
Minggu berganti minggu,
sarji tetap masih jadi pengangguran sedang udin kerja serabutan. Terkadang udin sehari kerja, tiga hari ia menganggur, hal ini yang sering dijalani Udin. Siang itu sarji duduk diteras rumahnya sambil menghitung hari, pada hitungannya hari itu nanti malam terjadi bulan purnama,
karena petunjuk ini adalah wawasan dan pengalaman dari Ronald. Diwaktu sore hari ia kebelakang rumah berusaha menemui Udin yang tengah duduk sendirian dibawah pohon keres, sambil mengawasi kedua anaknya yang masih kecil-kecil bermain.
“Din engko bar magrib terno aku golek jamu” (din nanti habis magrib antarkan aku cari jamu). Pinta Sarji

“Halah golek dewe kono ji, aku kesel lagek leren iki Ji” (halah cari sendiri sana Ji, aku capek barusan istirahat ini Ji). Tutur Udin
“Wes talah engko tak tukokno jamu sisan”(sudahlah nanti aku belikan jamu sekalian). Rayu sarji

“Temen ta iki, tumben awakmu ji” (bener ta ini, tumben kamu ji). Jawab Udin
“Iyo wingi Ronald mampir, terus arek’e gemei aku duit maneh din”(Iya, kemarin ronald mampir terus dia kasih aku uang lagi din). Jelas Sarji

“Oooh dadi mari oleh rejeki awakmu ji” (Ooohhh jadi habis dapat rezeki lagi kamu Ji). Kata Udin
“Hehehe iyo din” (hehehe iya din). Jawab senyum Sarji
Sehabis magrib sesuai janji sarji, Mereka berdua langsung pergi ke toko jamu tradisional yang berada didesa sebelah. Waktu di toko jamu,
Sarji langsung pesan dengan lima telur ayam kampung untuk dicampur kedalam minumannya dengan maksud menyambut tamu dimalam hari. Udin sedikit penasaran karena baru kali ini temannya begitu banyak minum jamu pakai telur ayam kampung.
“Ape pelampiasan terus imbuh ta ji engko bengi” (mau pelampiasan terus nambah ta ji nanti malam). Tanya udin sedikit menggoda

“Jelas din” Jawab Sarji dengan memulai minum jamunya
(jangan terlalu sama istrimu sendiri Ji, kasihan). Celetuk udin

Hanya senyum sarji yang terlempar pada wajah udin sebagai jawaban, Setelah itu mereka langsung pulang. Sarji sendiri sekitar jam delapan malam langsung berdiam diri di atas ranjang kamar khususnya.
Tak lupa ia mengunci rapat-rapat pintu dari dalam kamar, sebelumnya Ia sendiri berpesan kepada seluruh anggota keluarganya, kalau dia didalam kamar tidak boleh diganggu apapun yang terjadi.
Didalam kamar, penerangannya memakai lampu neon kuning remang-remang, dipan kayu yang mewah dengan kasur empuk telah ditaburi bunga-bunga diatasnya sudah disiapkan. Tak lupa kelambu putih bergelayut menghiasi kamarnya.
Kondisi kamar sarji mirip seperti kamar pengantin baru. Sedang tiga sudut kamar masing – masing diberi sesajen lengkap satu nampan, sampai diseluruh penjuru ruangan kamar Sarji dipenuhi bau harum bunga dan dupa khusus.
Sarji memulai ritual seperti yang ia lakukan ditempat mbah Dirjo sampai sekitar Jam dua belas malam, tiba-tiba ada suara dari atap kamarnya…
“ketoplak…ketoplak…Krimpying…Krimpying…Krimpying…”[suara kaki kuda serta lonceng kereta kencana yang berjalan dan berhenti tepat diatap kamar sarji]

Sarji yang mendengar suara itu hanya diam dan terus konsentrasi membaca mantranya.
Perasaan sarji pertama kali ialah sangat takut bercampur bahagia mendengar pertanda itu, dengan sedikit keringat yang mulai muncul dikulitnya karena gugup. Sedangkan jantungnya mulai berdebar-debar terpacu dengan dengan cepat,
sesekali matanya terbuka untuk melihat isi ranjangnya yang masih kosong. Saat matanya sedang tertutup Tiba – tiba bau harum bercampur amis mengusik semedinya, timbul rasa penasaran pada dirinya.
Akhirnya ia membuka mata lagi dan tiba-tiba Sarji melihat sosok sang Nyi Ratu yang cantik jelita sudah berada didepannya dengan duduk bersimpuh. Nyi Ratu kali ini hanya memakai kemben hijau, tanpa perhiasan sama sekali saat dikamar Sarji,
tapi kecantikannya sungguh sangat luar biasa menggodanya.
Dalam kondisi tercengang mata sarji tak berkedip sama sekali, ia hanya mematung menatap Nyi Ratu yang mempesona. Beberapa saat kemudian semedi sarji dihentikan oleh Nyi ratu,
tanpa ada kata terucap sama sekali Nyi Ratu langsung memulai dan mengajak hubungan suami istri dengan sarji. Beberapa kali dalam kondisi yang penuh nafsu, antara sadar dan tidak sadar tangan sarji merasa beberapa bagian tubuh Nyi ratu licin dan membulat kecil seperti sisik ular.
Tapi dalam otaknya sarji sudah kepalang tanggung, ia terus bergulat hebat malam itu sampai ia benar-benar terkulai lemas. Entah berapa lama ia melakukan dengan Nyi ratu, sampai akhirnya ia tak sadar dan langsung tertidur dikamar khususnya.
Beberapa jam kemudian saat kesadarannya kembali ia merasa hanya sendirian dikamar. Sarji sendiri tak tahu kapan persisnya Nyi Ratu pergi meninggalkannya. Menjelang pagi ia sudah mulai benar-benar pulih dan sadar, sarji mulai bangun dari posisinya yang masih terlentang.
Sarji mulai bangun dan duduk, matanya langsung melihat uang dan lempengan emas seperti ujung sendok (oval) berserakan diatas spreinya bercampur keringat dan bunga. Setelah melihat dengan seksama kenyataan didalam kamar, sarji mulai senyum-senyum sendiri…
“Aku berhasil…sugehhhhh…sugehhhhh….hahahaha” (Au berhasil…kayaaa…kayaa..kayaa) teriaknya dengan menaburkan keatas beberapa kepingan emas dan uang dari ranjangnya.
Usai uforia didalam kamar sendirian, Dengan cepat sarji mengumpulkan uang dan emas dikantong kain yang sudah disiapkan sebelumnya dan memasukkan kedalam tas ransel. Kemudian ia keluar kamar dengan wajah bahagia tapi badan masih lemas.
Sarji langsung menemui istrinya didapur dan menciumnya, ia merasa bahagia pagi itu dengan cepat ia memberi sejumlah uang kepada istri tercintanya. Setelah itu ia mandi dan berganti baju, ia bersiap untuk menjual emas-emas yang ia dapat dengan cepat.
Karena khawatir emas – emas itu akan hilang dengan sendirinya.

Belakang rumah, tepat di bawah pohon keres. Udin dipagi hari yang cerah sudah duduk-duduk santai karena tidak ada kerjaan, sementara temannya sarji datang menghampirinya.
“din ayok melu aku” (din ayo ikut aku). Ajak Sarji

“nang ndi ji, isuk-isuk ngene”(kemana Ji, pagi-pagi begini). Jawab udin

“wes talah, pokok’e melu aku” (sudahlah, pokonya ikut aku). Paksa Sarji

“males ji nek gak jelas” (males Ji, kalau tidak jelas). Jawab udin lagi
“iki din ayo ngedol emas” (ini din, ayo jual emas) Kata sarji dengan menunjukkan isi tasnya

“Luh temenan iki ji” (Luh, beneran ini Ji). Jawab udin dengan mata terbelalak karena kaget

“Mangkane ayo cepetan..”(makanya ayo cepetan). Kata Sarji
“yo ayo..tapi jok lali ji bagianku” (Ya..ayo tapi jangan lupa Ji bagianku).

“iyooo..yo din tenang ae.”(iyaaa..ya din tenang saja). Kata Sarji

Pagi itu mereka bergegas berangkat kejuragan toko emas yang berada dikota, mereka membawa sepeda onthel penuh karat.
Karena Sepeda itu kendaraan satu-satunya yang dimiliki udin, dan Sarji dibonceng dibelakangnya. Jarak ditempuh memang jauh, sampai nafas udin tersengal-sengal meski jalan sebagian sudah beraspal.
Sampai ditempat sang juragan, pembeli emas itu tidak mempertanyakan dan curiga dari mana asal emas tersebut. Juragan emas denga cepat juga langsung menghitung dan membayar kepada sarji dengan uang cash.
Sarji yang senang bukan kepalang langsung memasukkan uangnya di tas ranselnya. Dirasa transaksi sudah selesai ia mengajak udin cepat kembali pulang, ditengah perjalanan ia melihat show room sepeda motor.
Merasa sudah punya uang akhirnya ia mampir dan membelikan motor dari hasil penjualan emasnya.
Sarji pulang dengan membawa motor perdananya,sedang udin tetap mengayuh sepedanya sampai rumah.Udin yg merasa dapat bagian,setelah menaruh sepedanya dirumah ia langsung kerumah sarji.
Udin dengan cepat langsung duduk diruang tamu Sarji, sambil menunggu temannya keluar dari kamar. Waktu pintu kamar terbuka terlihat wajah sarji dan senyumnya bahagia mengembang…

“Ji bagianku endi” (Ji bagianku mana). Tanya udin yang sudah tidak sabar.
“oohhh…Yo sek din, entenono diluk”(oooh yo sebentar din, tunggu dulu). Jawab Sarji

Sarji kembali masuk kedalam kamar mengambil uang dan keluar memberikan uang kepada udin. Tapi bagiannya setelah dipotong hutang kemarin.Dengan wajah sumringah udin berjalan cepat kembali pulang.
Ditengah perjalanan ia melihat ayah Sarji, sebut saja pak de Karto. Ia sedang meringis kesakitan memegangi kakinya dibawah pohon keres. Udin pun menghampirinya…

“Kengeng nopo dhe” (kena apa dhe) tanya udin
“sikilku dicokot ulo din” (kakiku digigit ular din). Jawab pak de karto yang meringis menahan sakit

“loh kok iso dhe, dicokot ten pundi” (loh kok bisa dhe, digigit dimana). Tanya udin sambil melihat kaki pak dhe karto
“Pas mlaku liwat ngguri omahku mau din, ndek suket-suket sebelah kui” (waktu jalan lewat belakang rumahku tadi din, di rumput-rumput sebelah itu) jawab pak dhe Karto dengan menunjukkan tempat dimana ia digigit ular pertama kali
“Oohh pundi dhe seng dicokot” (ooohhh mana dhe yang digigit) tanya udin sambil melihat kaki pak dhe karto udin mengamati pelan-pelan dan seksama. Tapi tidak ada bekas apapun dikaki kananya.
“kok mboten wonten bekase cokotane ulo dhe” (kok tidak ada bekase gigitannya ular dhe). Jawab udin yang masih memegangi kaki kanannya pak dhe karto
“yo embuh din, aku mau langsung jingkat kaget pas dicokot. Terus aku sekilas delok ulone langsung mlayu cepet ngidul, tapi durung sempet nguber ulone uwes ngilang.” (ya tidak tahu din, aku tadi langsung berjingkat kaget waktu digigit.
Terus aku sekilas melihat ularnya lari cepat keselatan, tapi belum sempat mengejar ularnya sudah hilang). Jawab pak dhe Karto

Menantu pakdhe karto dari belakang rumah sarji muncul, matanya memandang mertuanya kesakitan dengan cepat dia mendatangi udin dan pak dhe karto.
Saat istri sarji sampai ditempat pak de karto kesakitan, udin langsung menceritakan kejadinnya. Sore itu istri sarji langsung menuntun mertuanya masuk ke dalam rumah, dan selang beberapa saat sarji yang mengetahui hal ini, ia langsung mengantarkan ayahnya berobat kedokter.
Udinpun langsung pulang kerumah dengan membawa uang banyak, ia langsung memberikan uang itu kepada istrinya. Hari bahagia buat udin malam itu, sedikit hutang bisa tertutup. Dan ketiga anaknya bisa makan enak pagi harinya.
Pagi kenyataan yang tidak sesuai harapan udin, teriakan dan tangis histeris terdengar kencang dari belakang rumahnya tepatnya dari rumah Sarji. Udin yang sudah bangun langsung berlari bersama istri dan anak-anaknya menuju rumah sarji.
Kenyataan pahit yang ia lihat, pak dhe karto sudah terbaring membujur kaku dikamarnya. Ibu dan istri sarji menangis disampingnya, sedang sarji hanya tertunduk lesu dipintu kamar.

“Kaet kapan gak enek’e bapakmu ji” (mulai kapan tidak adanya bapak kamu ji) tanya udin
“Gak ngerti aku din, mau bengi wonge langsung turu sak wise ngombe obat soko dokter. Tapi ibuk bar subuh langsung mbengok lan nangis nyeluk-nyelok bapak soko kamar” (tidak tahu aku din, tadi malam orangnya langsung tidur sehabis minum obat dari dokter.
Tapi ibu habis subuh sudah langsung berteriak serta menangis memanggil-manggil bapak dari dalam kamar). Jelas Sarji dengan mata berkaca-kaca

“Seng sabar ji” (yang sabar Ji).Kata udin dengan menepuk-nepuk pundak sarji

“Iyo din” Jawab sarji
“din tolong celokno masmu moden, cek ndang cepet diramut bapakku iki” (din tolong panggilkan kakakmu yang pemuka agama, biar cepat dirawat bapakku ini). Pinta Sarji
Udin hanya menggangguk pelan, ia langsung bergegas menuju pemuka agama dikampungnya (moden) yang berada diujung pertigaan desa. Setelah sampai dan memberitahukan kepada moden, udin mengumumkan berita duka kematian ayahnya Sarji dimasjid.
Jam delapan pagi semua warga dan sanak saudara pak dhe karto berdatangan kerumah sarji, warga mulai memenuhi sekitar rumah sarji karena ayahnya yang meninggal tiba-tiba. Tapi kematian pakdhe karto waktu itu masih dirasa wajar oleh masyarakat,
hal itu masih umum disekitar lingkungan kampung Sarji. Jam sembilan pagi jenazah pak dhe Karto dimandikan, selanjutnya dirawat dan siap untuk disholati. Saat jenazah masih dirumah sarji banyak warga ikut mensholatinya,
sebab Pak dhe karto sendiri didesa terkenal orangnya baik dan rajin beribadah, jadi wajar banyak yang ikut mensholatinya.

Setengah jam kemudian para pria dan sebagian keluarga sarji mengantarkan jenazah pak dhe karto ke pemakaman untuk menguburkannya.
Beberapa saat acara pemakaman selesai, udin dan kakaknya moden berjalan keluar pemakan...

“Cak, aku tak melu meguru neng nggone sarji yo” (kak, aku tak ikut berguru di tempatnya sarji ya?) pinta udin

“neng ndi iku din”(dimana din). Tanya Moden
“neng gunung kidul” (di gunung selatan). Jawab udin

“ora usah aneh-aneh din, awakmu adekku siji-sijine. Kon lak yo wes melu meguru nang kiai sofyan se, opo durung cukup” (tidak usah aneh-aneh din, kamu adikku satu-satunya.
Kamu kan ya sudah ikut berguru di kiai sofyan, apa belum cukup). Jelas moden

“piye cak yo, aku yo pengen sugeh terus nutup cepet utang-utangku” (gimana ka ya, aku ya ingin kaya terus menutup cepat hutag-hutangku). Jelas udin memelas
“sabar din, kalem-kalem ae. Kerjo seng temen, awas ! ora usah aneh-aneh awakmu” (sabar din, pelan-pelan saja. Kerja yan bener, Awas!!! Jangan macam-macam kamu). Ancam moden
“yo wes lah cak nek ngunu, tapi seumpomo aku melu kerjo neng nggone sarji gak popo to cak”(ya sudahlah ka kalau begitu, tapi seumpama aku ikut kerja di tempat sarji tidak apa-apa kan kak). Tawar Udin
“Yo rapopo din, penting kerjo tenanan tur halal” (ya gak papa din, yang penting kerja beneran dan halal). Kata moden

“ya wes, nak ngunu. Suwun cak.” (ya sudah kak, kalau begitu terima kasih). Jawab udin pasrah karena harus patuh kepada sang kakaknya.
Hari itu ditutup dengan kesedihan mendalam bagi keluarga sarji, udin dan moden pulang kerumah masing-masing. Seperti pada umumnya setelah ada orang meninggal, dikampung sehabis magrib acara keagamaan diadakan dirumah duka.
Malam itu udin membantu keluarga Sarji dengan mulai menyiapkan perlengkapan acara sampai beres-beres selepas acara keagamaan. Serta duduk sejenak ikut menemani dan menemui tamu-tamu sarji yang datang dimalam hari.
Sekitar jam dua belas malam ia pulang untuk tidur, dikarenakan ketiga anaknya tidur satu ranjang bersama istrinya udin memutuskan untuk tidur sendirian. Udin merebahkan tubuhnya dikursi bambu panjang yang berada diruang tamu.
Malam itu, udin yang baru beberapa jam memejamkan mata bermimpi bertemu pak dhe karto. Udin melihat pak dhe karto sendirian ditanah lapang yang luas dan sepi, ia yang masih terbungkus kain kafan sedang dililit ular hitam dan besar.
Suara rintihan dan jerit kesakitan seakan memenuhi padang yang luas itu…

“Diiinnn tolongen pak dhe le…Aduuuhhh…krekkkkk,,,huhu,,huuu” (Diiinnn tolongin pak dhe le) Pinta dan tangis pak dhe karto yang menyedihkan,
dan suara tulang-tulangnya seperti remuk dililit dengan kencang oleh ular hitam besar itu…

Udin hanya terdiam, dia tak bisa melakukan apapun. Seluruh tubuhnya terasa tak bisa bergerak sedikitpun.
Jantungnya mulai berdegup kencang serta bibirnya bergetar…pak dheeee….. pak dheeee… pak dheeee…tangannya mencoba bergerak dan kakinya juga ikut mulai berjalan,perlahan tangan udin mau meraih tubuh pak dhe karto yang terlilit ular besar…
“mas..mas..mas..tangi…tangi…tangi?”
(mas..mas..mas..bangun…bangun..bangun) suara istri udin yang membangunkannya

Udin langsung membuka mata dan duduk, keringat dingin mulai mengucur dari sela-sela kulitnya. Nafasnya masih ngos-ngosan perlahan ditenangkan istrinya.
Udin hanya duduk termenung dengan tatapan kosong kebawah, ia merasa pak dhe karto sangat nyata dilihatnya barusan. Istrinya udin berjalan kedapur mengambil segelas iar dan memberikan kepada udin. Tangan istrinya mulai meminumkan dengan pelan air putih itu sampai habis.
“sak jane ngipi opo pak, kok mbengok-mbengok nyeluk pak dhe..pak…dhe… sampe kaget aku pak”( sebenarnya mimpi apa pak, kok sampai berteriak-teriak panggil Pak dhe… Pak dhe, sampai kaget aku pak). Tanya istri udin
“Aku ngipi pak dhe karto digubet ulo guede buk” (aku mimpi pak dhe karto dililit ular besar bu). Kata udin dengan raut muka sedih dan takut

“seng temen pak” (yang bener pak). Sahut istri udin
“iyo buk,”[iya buk] (setelah ketegangan dan kesadaran udin pulih ia menceritakan mimpinya secara detail kepada istrinya, tapi istrinya menanggapi dengan tenang).
“kembange turu iku pak, seng akeh istighfar sampean pak, nyebut pak” (bunganya tidur itu pak, yang banyak istighfar pak, nyebut pak). Pinta istri udin
Malam itu seusai bermimpi, udin istrinya duduk berdua diruang tamunya, beberapa saat kemudian udin disuruh istrinya untuk sholat malam. Udin pun mengikuti perintah istrinya, waktu sholat udin masih teringat jelas dalam pikirannya tentang permintaan pak dhe karto.
Hingga pagi menjelang udin masih duduk terjaga diatas sajadah dan tetap terdiam dalam kamarnya,padahal istri udin sendiri sudah sibuk didapur sehabis subuh untuk menyiapkan sarapan dan bersih-bersih rumah.Ketiga anak udin juga sudah selesai mandi dan sudah siap pergi bersekolah.
Rumah udin semakin sepi ketika anak-anaknya pergi bersekolah, Kelambu kamar udin tersibak dan terbuka oleh tangannya. Langkah kaki Udin keluar menuju belakang rumah, dalam perjalanannya melewati dapur ia tidak memperhatikan apapun yang berada dirumah.
Udin langsung duduk dikursi kayu dibawah pohon keres dengan tatapan kosong dan perasaan gelisah, tak berapa lama sarji dari belakang rumahnya datang menghampirinya seperti biasa.

“Enek opo din” (ada apa din). Tanya sarji yang mengagetkan Udin ditengah lamunannya
“Gak enek opo-opo Ji” (tidak ada apa-apa ji). Jawab udin yang mulai reda rasa gelisahnya

“Gak biasane awakmu koyok ngene”(tidak biasanya kamu seperti ini). Sergah sarji yang tak percaya atas gerak-gerik dan ekspersi wajah Udin.
Lama terdiam, Perlahan bibir Udin mulai menceritakan mimpinya semalam kepada sarji, sedangkan sarji yang duduk disampingnya mengamati dan memperhatikan penjelasan udin dengan serius.
Diakhir cerita Udin menoleh kepada sarji yang masih disampingnya, “piye ji menurutmu?” (gimana Ji menurut kamu). Tanya udin serius. “Yo anggepen ae kembange turu din, toh bapakku ya wes gak enek, ojok diangen-engen terus.
” (ya anggap saja bunganya tidur din, toh bapakku sudah tidak ada, jangan diingat-ingat terus)” Udin kembali diam karena jawaban yang didapat sama dengan jawaban istrinya.

Merasa belum puas dan kecewa atas jawaban yang didapat pagi hari,
udin tanpa pamit kepada sarji serta istrinya ia langsung pergi ketemannya yang lain untuk menanyakan pekerjaan baru.Ia bermaksud mencari pekerjaan dengan tujuan utamanya adalah untuk menutup hutang yang sudah membelit pedih dan menghilangkan kenangan mimpi bersama Pak dhe Karto.
Tiga hari selanjutnya, akhirnya udin dipanggil temannya untuk bekerja meski sebagai kuli pasar.

Meski penghasilannya masih dibilang kurang dari cukup dalam sehari, tetapi ia jalani dari pada tidak ada pemasukan sama sekali.
Kegiatan keagamaan dirumah sarji terus berlanjut sampai tujuh hari. Hari ketujuh Seperti biasa disore hari selepas dari pasar, sekitar jam lima udin membantu mempersiapkan perlengkapan dan ikut acara keagamaan selepas magrib.
Malam hari ketujuh udin pulang larut lagi, ia langsung tidur di kamarnya bersama istrinya.

Sekitar jam tiga dini hari, ia terbangun karena ia sudah tak tahan ingin buang air kecil. Kaki udin berjalan dengan cepat menuju kamar mandi yang berada dibelakang rumah,
letaknya kamar mandinya kebetulan terpisah dari rumah utama. Udin berjalan melewati dapur dan membuka daun pintunya dengan cepat, ia berjalan tanpa memperhatikan keadaan sekitar sama sekali karena sudah tak tahan lagi menahan untuk buang air kecil.
Selesai dari kamar mandi dengan kesadarannya sudah pulih seratus persen, ia berjalan masuk kerumah dengan pelan, tak sengaja kepalanya menoleh kearah pohon keres yang menjadi tempat faforitnya selama ini.
Dari sorot sinar kuning belakang rumah udin dan sarji saling bertemu, nampak sosok pak dhe karto duduk sendirian dengan wajah menghitam hidung masih tersumpal kapas, bibir pucat dan kain kafannya sangat lusuh kecoklatan.
Keadaan pak dhe karto yang berdiri menatap udin sudah menjadi pocong dan kondisinya diseluruh tubuhnya terlihat seperti habis tercabik-cabik sesuatu yang tajam. Seluruh kain kafannya terkoyak dengan kain yang lusuh serta mengeluarkan darah, bau amis dan busuk.
Melihat kondisi Pak dhe Karto yang menyeramkan, udin langsung berlari cepat kembali kerumahnya. “Braakkk” suara pintu dapur yang dibanting udin tanpa menguncinya kembali, ia berlari secepat kuda serta membaca do’a sebisa-bisanya.
Sampai dikamar, sempat mengunci daun pintu kamarnya yang terbuat dari triplek. Sampai dikamar Udin langsung membantingkan tubuhnya diranjang. Tubuh udin tidur tertelungkup, ikut berdesakan dengan istri dan anaknya tanpa ada kata yang terucap.
Istri dan anak-anak udin pun tak ada yang bangun atas desakan tubuh udin, hanya gerakan tak sadar anaknya yang memeluknya dari samping. Samar – samar dari belakang rumah udin ada yang memanggil “Diiiinnnn….udiiiiinnnnnnn…..udinnnnnn…”iki pak dhe le…., tulungono pak dhe leee”
Udinpun tak menghiraukan panggilan itu. Karena ia sadar pak dhe karto sudah meninggal, dalam ketakutan sendirian ia langsung menuntup telinganya dengan bantal rapat-rapat.Meski rasa sesak didada dan bernafas sulit ia tetap membaca doa atau kalimat apapun sebisanya karena takut,
“Braakkkk…Nggikkk…ngikkk” Suara pintu dapur udin yang terbanting dan melambai karena belum terkunci. Hembusan angin yang kencang dari dapurnya tiba-tiba ikut masuk kedalam kamar udin melewati sela-sela pintu kamarnya.
Udin yang ketakutan tetap berusaha tidur dan membaca do’a sebisanya sampai akhirnya ia tertidur dalam ketakutan.

Pagi harinya udin bangun paling akhir, udin langsung berjalan kesetiap sudut rumah mencari dan memeriksa keberadaan istrinya.
Sampai akhirnya Udin menemukan istrinya berjalan masuk dari depan rumah, istrinya udin habis mengantar anaknya sekolah dan belanja diwarung. Saat istrinya baru berjalan melewati ruang tamu udin langsung menghampiri istrinya dan menceritakan yang dia alami tadi malam,
belum selesai udin bercerita. “Alah pak isuk-isuk cerito demit pak dhe karto maneh, wes to ndang mangkat makaryo sek kono. Wes awan iki” (alah pak, pagi-pagi cerita hantu pak dhe karto lagi, sudah cepet berangkat kerja dulu sana pak. Sudah siang ini)
Jawab istri udin yang kesal dan mengomel tak jelas. Pada dasarnya istri udin tidak mempercayai hal-hal semacam itu dalam hidupnya. Dengan sedikit amarah istrinya udin memintanya untuk banyak – banyak berdo’a.
Tanpa banyak kata Udin langsung mandi dan berkemas, tanpa sarapan pagi ia langsung menuju pasar. Kuli panggul waktu itu memang banyak saingan jadi untuk hari itu udin tidak mendapat jatah untuk membawa barang, karena udin juga berangkatnya sudah siang.
Dengan langkah sedih Udin bukannya pulang malah pergi kewarung langganan, ia kembali mencatat hutangnya dan tak perduli berapa banyak lagi hutangnya sudah menumpuk. Sedang para pengunjung yang lain tahu akan keadaan udin memandangnya dengan tatapan sinis.
Tapi udin tak memperdulikan bisikan dan pandangan miring terhadapanya, karena disisi lain pikiran udin sudah berat dan kalut ia hanya ingin sejenak melepas kepenatan dalam hidupnya diwarung kesayangan.
Sesaat baru duduk didalam warung kakaknya yang sebagai moden datang yang lewat depan warung langsung menghampirinya, karena tahu ada adiknya yang duduk menyendiri didalam.
Setelah bersalaman dan menanyakan kabar tanpa basa basi udin langsung menceritakan kejadian yang dialami semalam. Udin siang itu yang masih sedikit takut langsung diberi do’a sama moden agar tidak diganggu lagi sama hantu pak dhe Karto.
Dengan kesibukan moden saat itu, ia tidak bisa lama-lama menemani adiknya diwarung. Siang itu juga moden yang sudah ada janji dengan warga memutuskan beranjak pergi meninggalkan udin duduk sendirian.
Sekian lama dia duduk selonjoran sendirian dan bermain angan-angannya bersama rokoknya sisa semalam tinggal separuh. Waktu siang beranjak ke sore hari, teman karibnya datang menyusulnya kewarung, udin masih terdiam sendiri dalam lamunannya.
Tiba- tiba Udin dikagetkan tepukan tangan dipundaknya “lapo awakmu din ngelamun ae”(kenapa kamu din ngelamu saja). Tanya sarji yang ikut duduk disampingnya…”eh awakmu ji, ngagetno ae!!!”(eh kamu ji, mengagetkan saja).
Jawab udin yang mulai membenarkan posisi duduknya dari selonjoran. “teko endi awakmu”(dari mana kamu) tanya udin. “teko golek’i awakmu din”(dari nyariin kamu din). Jawab sarji.
“ancen awakmu nek gak ketemu aku sedino ae kangen yo” (memang kamu kalau tidak ketemu saya sehari saja kangen ya). Goda udin dengan kesal. “hahaha iso ae koen iki din” (hahaha bisa saja kamu ini din). Jawab sarji Bahagia.
Obrolan mereka pun berlanjut, sarji tahu apa yang dipikirkan udin. “wes tenang ae nak butuh duit ngomong, ojok koyok ngene din”(sudah tenang saja, kalau butuh uang bicara saja. Jangan seperti ini). Pinta sarji. “Yo Ji”, (ya Ji). Jawab udin.
Sarji sore itu menghibur udin, candaan sarji yang jenaka membuat udin sendiri cukup terhibur dan melupakan beban hidupnya. Tapi disaat kebersamaan yang akrab itu, Udin enggan untuk menceritakan kejadian semalam kepada Sarji.
Khawatir Sarji akan berburuk sangka kepadanya, selanjutnya udin dan sarji melanjutkan canda tawa sampai sore hari. Menjelang magrib mereka pulang bersama kerumah, sarji yang membayar makan dan minumnya udin.
Saat sampai dirumah tak lupa sarji membantu Udin lagi dengan memberikan sejumlah uang untuk kebutuhan keluarga Udin.

Hari berganti minggu, udin sudah tidak mendapat gangguan lagi dari hantu pakdhe karto. Bulan purnama kedua datang menyambut.
Sarji melakukan hal seperti malam purnama pertama dengan Nyi Ratu Blorong. Paginya juga ia pergi menjual hasil jerih payahnya tetap bersama udin, setelah mendapatkan uang sarji juga memberikan bagian kepada Udin meski tambah sedikit bagiannya.
Hari terus berjalan, disaat mejelang empat puluh harinya pak dhe Karto, pagi yang masih buta Ronald datang kerumah sarji. Seperti biasa ia bertamu kepada kawan seperguruan dan menagih uang kepada sarji,
si tuan rumah sendiripun sudah menyiapkan sejumlah uang untuk melunasi hutangnya kepada Ronald. Bahkan dalam dua bulan sarji sudah mampu melunasi hutang-hutangnya ditempat lain. Pagi itu Transaksi berjalan lancar, pembayaran hutang diterima Ronald dengan senang hati.
Ronald sendiri mengajak bercengkrama sarji diruang tamunya setelah melihat temannya sudah berhasil, kedekatan mereka sudah seperti saudara kandung sendiri. Matahari mulai meninggi, sinarnya ikut masuk menerangi ruang tamu sarji.
Ronald melihat kedatangan tamu masuk kerumah sarji semakin siang semakin banyak yang datang, dengan rasa semakin penasaran ia bertanya kepada sarji.

“Enek opo ji, kok wong-wong podo moro.”(ada apa ji, kok orang-orang pada berdatangan)
“Oooh, wong-wong iku ape rewang gae acara patang puluh dinoe bapak”(ooohh, orang-orang itu mau membantu buat acara empat puluh harinya bapak). Jawab sarji dengan tenang

“loh bapakmu kenek opo ji” (loh bapak kamu kena apa Ji). Tanya Ronald penasaran
“bapakku mati nald” (bapakku meninggal nald) jawab sarji mulai sedih

“kok gak kondo kaet mau awakmu,” (kok tidak bialang dari tadi kamu). Tegas ronald
“halah gae opo nald, penting awakmu sak iki wes ngerti dewe lak uuwes?” (halah buat apa nald, penting kamu sekarang sudah tahu sendiri kan sudah beres). Kata sarji
“podo ji bojoku mari mati, wingi lagek pitung dinane” (sama ji, istriku habis meninggal. Kemarin habis tujuh harinya”. Kata Ronald serta menekuk wajahnya kebawah

“mosok nald?” (masak Nald). Tanya sarji kaget
“erna bojomu iku mati, ??? kenek opo Nald? (Erna istrimu itu meninggal??? Kena apa nald?) cerocos sarji serius

“kecelakaan Ji, !!! jawab Ronald singkat
Selanjutnya Ronald menjelaskan Panjang lebar dan detail, perihal kronologi istrinya Ronald meninggal.
Sedangkan sarji menyambung cerita Ronald dengan cerita bapaknya sendiri yang meninggal. Mereka berdua merasa sedih karena ada kesamaan dalam nasib yang hampir bersamaan. Tapi ada sesuatu hal dari sarji dan ronald yang masing-masing disembunyikan,
merekapun tak mau terbuka seutuhnya tentang masalah kematian anggota keluarganya. Diakhir pertemuan, Ronald menawarkkan kerjasama kepada sarji untuk usaha.
Perlahan Ronald membujuk Sarji melakukan hal itu agar kekayaan sarji yang didapat secara singkat dari Nyi Ratu tidak menimbulkan kecurigaan dimata masyarakat.
Sarji yang habis mendengar tawaran Ronald tanpa pikir panjang mengiyakan kerjasama tersebut, ia berpikir ada benarnya juga pendapat dan tawaran Ronald ini. Mereka berdua sepakat kerjasama akan dimulai minggu depan,
karena sarji sendiri sudah punya gambaran toko dan gudang yang siap disewa.

Besoknya sarji mengajak Udin pergi untuk menemui serta bernegosiasi dengan pemilik toko dan gudang,
setelah bertemu dirumah pemiliknya perdebatan panjang tawar menawar sewa antara sarji dan pemilik sangat lama. Sampai akhirnya sore hari kesepaktan tercapai, udin yang masih kerja kuli panggul dipasar ditunjuk oleh sarji untuk mengelola usaha tersebut.
Dengan sennag hati udin menerimanya dan pensiun jadi kuli panggul hari itu juga, keesokan hari udin membersihkan toko dan gudang dibantu para pekerja lain. Sarji sendiri pergi bersama ronald untuk belanja mengisi toko dan gudangnya.
Sebagian isi toko sarji barangnya dipasok oleh Ronald, mulai besi, semen, cat dan barang yang bersifat fabrikasi. Tak begitu lama toko sarji seminggu kemudian dibuka. Diawal pembukaan langsung ramai pengunjung karena toko sarji terbilang besar.
Karena juga ditempat sarji masih jarang toko bangunan yang serba lengkap serta tempanya yang terbilang strategis. Usaha yang pada awalnya hanya sebagai topeng dengan berjalannya waktu kini benar-benar berjalan diluar dugaannya.
Bulan demi bulan, purnama demi purnama telah dilewati Sarji. Pundi-pundi Kekayaannya semakin meningkat pesat, kebahagiaan ditahun pertama keluarga sarji semakin terlihat. Mulai dari merenovasi rumahnya dan membuat garasi kendaraan pribadinya yang besar serta mewah.
Sarji juga membeli kendaraan roda dua, roda empat dan roda enam, begitu juga tanah-tanahnya semakin bertambah. Sarji juga membeli beberapa sawah didaerahnya, dengan bertambahnya semua itu udin selaku orang kepercayaannya tetap mengelola semua harta sarji.
Menumpuknya beban udin, gaji yang ia dapat juga semakin besar sampai akhirnya ia bisa melunasi semua hutang-hutangnya. Dengan kesuksesan sarji sikap udin selama itu juga tidak menaruh kecurigaan apapun kepadanya, karena setahu udin selama ini sarji masih bertingkah normal.
Udin beranggapan bahwa sarji selama itu hanya melakukan amalan yang dikasih Mbah dirjo.
Sedangkan Kematian bapaknya sarji sudah terlupakan oleh harta yang datang tiba-tiba serta melimpah.
Tapi ibunya masih belum bisa melupakan pak dhe karto, dan istri sarji juga sampai saat itu juga masih belum dikaruniai anak.

Selepas bulan purnama ketiga belas, ibu sarji atau bu dhe karto tidak seperti biasanya. Pagi hari selepas sholat subuh ia memasak didapur sendirian.
Budhe karto masak dengan semangat, entah apa yang menjadikannya demikian pagi itu. Pertama budhe menanak nasi terlebih dahulu, sambil menunggu nasi matang, budhe karto mulai memasak sayur.
Budhe karto mengambil sayur sop yang sudah tersedia di almari dapur atas ke lantai dekat pintu, perlahan dia duduk dibawah bersiap mengupas kulit kentang. Ia dengan perlahan dan hati-hati mengupas, memotong wortel dan kentang kecil-kecil di atas talenan kayu,
ditengah kegiatannya memotong semua sayuran yang hampir selesai ada ular kecil hitam mendatanginya dari bawah sela-sela pintu disampingnya.
Spontan bu dhe karto yang kebetulan melihatnya, dengan cepat mendatangi ular kecil itu.
budhe karto yang sudah membawa pisau melekat digenggamannya, tanpa berpikir panjang dia langsung mencincangnya jadi kecil – kecil seperti potongan sayuran. Melihat ular kecil sudah mati budhe karto mengumpulkan potongan tubuh ular itu dengan sapu lidi,
dengan segera ia memasukkan ke kantong plastik hitam dan membuang dibelakang rumah. Tepatnya sampah ular itu masuk direrimbunan semak-semak rumput yang agak tinggi. Tapi tak berapa lama potongan-potongan ular memanjang membentuk kepala dan ekor kembali,
dari sekian banyak bagian potongan akhirnya menjadi ular kecil yang utuh seperti sedia kala. Ular yang kembali hidup mendatangi budhe karto dengan cepat didapur.
Disaat budhe karto yang berdiri didapur mencuci sayuran,
tak sadar dibawah kaki bedhe karto telah berkumpul banyak ular, diwaktu kepalanya menunduk budhe karto kaget bukan kepalang. Karena hal yang aneh terjadi didepan matanya begitu banyak ular dilantai, ia tertegun sejenak melihat kejadian ini.
Masih dalam diamnya budeh karto, ular-ular kecil yang sudah dibawahnya dengan cepat kepalanya naik sedikit untuk menggigit kakinya. Sadar ular itu akan mengingit, budhe karto berlari kedepan dan berteriak
”Tolong..tolong…Ji…enek ulo akeh…,(tolong..tolong Ji ada banyak ular) tapi apa daya dalam pelariannya kedepan tak sadar kaki budhe karto sudah terpatuk beberapa ular.
Sarji yang gaget, langsung keluar kamar dan menghampiri ibunya. “enek opo buk” (ada apa bu).
tanya sarji dengan memegangi kedua bahu ibunya. “Iku le, enek ulo uakeh nguber aku”(itu nak banyak ular mengejar aku). Jawab ibunya menatap sarji serta berjingkrak-jingkrak karena panik dan takut.

Sarji melihat dibelakang ibunya tidak ada apapun, dan ia kembali menatap ibunya.
“endi buk, gak enek opo-opo ngunu”( mana buk, tidak ada apa-apa gitu). Jawabnya dengan meyakinkan dan menenangkan ibunya. Budhe karto ikut melihat dibelakangnya ternyata ular-ular kecil tadi sudah tidak ada, saat ia perasaan budhe karto mulai tenang.
Tapi ia merasakan sakit dikedua kakinya seperti ditusuk-tusuk jarum.

“Tapi sikilku kok loro ngene le” (tapi kakiku kok sakit begini le). Kata ibunya yang memegangi kaki kanannya.“sek buk sampean lungguh sek neng kursi, tak delok’ane disek”(sebentar bu, anda duduk dulu dikursi.
Saya lihat dulu). Perintah Sarji

Sarji kemudian berjongkok untuk melihat kedua kaki ibunya yang dirasa sakit, dia melihat dengan cermat dan perlahan.Sekian kali diamati dengan mata sarji sangat dekat,Kedua Kaki ibunya tidak ada bekas apapun, semua kulit kakinya terlihat normal.
Dalam lubuk hatinya teringat kejadian akan hal dialami oleh bapaknya satu tahun yang lalu, dalam keadaan panik dan sedih ia langsung memutuskan untuk mengajak ibunya dokter terbaik dikotanya.
Karena semakin lama ibunya merasa semakin merasakan sakit di kakinya, sampai rasa sakit itu menjalar keseluruh tubuhnya.

Dalam kondisi kesakitan, ibunya dibawa dengan cepat oleh sarji dan istrinya kedokter.
Waktu ditempat dokter ibunya diperiksa dan langsung disuntik, perlahan sakit ibunya sarji mereda untuk sementara. Dalam kondisi ibu sarji yang sudah tenang dan merasa baikkan mereka kembali membawa ibunya pulang kerumah.
Sampai dirumah Ibunya dibaringkan ditempat tidur kamarnya, dan dijaga oleh istri sarji. Sementara sarji pergi ke toko dan sawah untuk sekedar mengawasi serta melihat hasil kerja udin dilapangan.
Hari menjelang malam, udin dan sarji pulang bersama. Kedatangan mereka berdua dikagetkan dengan banyak orang yang sudah memenuhi rumah sarji, dan tangis pilu dari beberapa tetangga serta kerabat sarji yang sudah berada dirumahnya.
Sarji masuk perlahan kerumahnya ditengah kerumunan warga, beberapa warga yang dan kerabat yang sudah berdiri berjajar didalam rumahnya. ia melewati beberapa kerabatnya dan menepuk pundak sarji dengan mengatakan “seng sabar Ji” (yang sabar Ji).
Setelah tiba dikamar ibunya ia melihat ibunya sudah tiada lagi, sedangkan istrinya tetap setia menangis disamping mayat ibu sarji.
Singkat kata, malam itu sekitar jam sebelas malam ibu sarji langsung dikebumikan.

Dari sinilah kekacauan hidup mereka dan inti dari cerita Nyi Ratu Blorong dimulai…
Sebut saja retno untuk panggilan istri sarji, ia masih sedih dimalam kematian ibu mertuanya. Dari hubungan kekeluargaan, beberapa kerabat ikut menginap dirumahnya, saudara yang menginap dirumah Sarji ikut menenangkan kondisi Retno.
Saat itu kondisi retno sangat terpukul karena kehilangan ibu mertua secara tiba-tiba, rumah mereka yang mewah kini diisi dengan kesedihannya. Dari sorot mata yang sayu dia kelihatan memikirkan kedepan tentang rumahnya akan menjadi sepi tanpa mertua dan anak.
Pagi menjelang, tamu dari jauh yang baru tahu mulai berdatangan. Sedang keluarga yang menginap ikut membantu untuk acara keagamaan dimalam hari. Hari terus berjalan sesuai arahnya, Dihari ketiga kematian ibu mertuanya Retno, ia tidur ditemani mbak sri.
Karena Retno keluarga yang menginap sudah pulang semua. Kebetulan mbak sri ini juga adalah tetangga belakang rumah, istrinya udin. Mereka selain tetangga dekat, juga sudah kenal lama sebelum berumah tangga.
Malam hari, Setelah acara selesai mereka membereskan rumah dan tidur diwaktu tidak terlalu malam sekitar jam sepuluh. Retno dan Sri serta ketiga anaknya tidur berjajar diruang tengah beralaskan kasur yang tipis.
Sedangkan Udin dan Sarji sendiri setelah acara keagamaan langsung keluar berdua kegudang, karena ada banyak barang yang datang dan harus masuk malam itu juga.

Sekitar jam satu dini hari, Retno terbangun dari tidurnya.
Ia mendengar ada yang memanggil-manggil namanya dari belakang rumah. “Ndukkk…nduk…nduk Retno…iki ibuk karo bapak” (nak..nak…nak retno..ini ibu sama bapak). Panggilan ini berulang kali sehingga Retno yang mulai jengah dengan suara-suara panggilan ini,
dengan kepala yang masih kantuk ia memberanikan diri berjalan keruang dapur dan mencari asal suara tersebut.
Ia memandangai semua sudut ruang dapur terlebih dahulu dengan bantuan cahaya kuning dari belakang ruang dapur,
sampai akhirnya retno menyibak pelan tirai dapur yang menutupi jendela bersekat kaca bening. Saat ia melihat keluar tak ada apapun dibelakang rumahnya hanya sorot lampu kuning dari atas plafond.
Dengan perasaan jengkel Ia memutuskan kembali untuk tidur, tapi saat retno baru berjalan ditengah dapur suara panggilan itu muncul lagi. Kali ini Retno sudah hilang rasa takutnya, ia memutar arah dan berjalan kembali mendekat ke jendela.
Tangan Retno dengan cepat menyibak tirai ini kedua kali, saat terbuka tirai itu ia mendapati kedua mertuanya sudah berdiri tepat didepannya menjadi pocong dengan kainnya yang lusuh dan compang camping semua.
Mereka berdua membawa bau busuk yang menembus kaca dengan mukanya penuh luka sayatan.

“Ya…Allah…astagfirullah…bapak…ibuk…!!! ucap spontan Retno serta tangan kananya mengelus dada. Saat retno masih beradu pandang mematung bersamaan dengan itu,
bibir kedua mertuanya berucap bersamaan “elengno bojomu nduk, mentolone gawe bapak ibuk koyo ngene” (ingatkan suamimu nak, teganya membuat bapak ibu menjadi seperti ini).
Selesai mereka bicara tubuhnya Retno masih tidak bisa digerakkan lagi karena tertegun, dengan cepat rasa takutnya menjalar keseluruh tubuh membuat ia bisa menggerakkan tubuhnya.
Saat badannya merasa bisa digerakkan sedikit, Retno langsung berteriak histeris dan menggeleng-gelengkan kepala “bapak…ibuk….Tolongg…tolong…tolong…enek bapak ibuk neng ngguri…” (Tolong..tolong..tolong..enek bapak ibuk dibelakang).
Sri tadinya tidur terlelap dengan ketiga buah hatinya, langsung terbangun kaget dan berjingkat cepat tubuhnya. Ia berlari menuju dapur dan langsung meraih tubuh retno yang mengejang dan menyeretnya ikut duduk serta memeluknya dengan erat dilantai
“Tenang Mbak”…(huu…huuu...huuu,bapak…ibuk!!! tangis Histeris Retno mulai pecah dipelukan Sri). Ketiga anak Sri juga ikut terbangun, mereka berjalan kedapur dan beridiri dipintu memandangi Retno yang masih menangis histeris ketakutan.
Malam itu Retno dibawa keruang tengah tapi dalam kondisi masih menangis sesenggukan sampai menjelang subuh, istri dan anak-anak udin tak ada yang kembali tidur.
Dalam tangis sesenggukan Retno, ia menceritakan pesan mertuanya kepada Sri dan secara tak langsung anak-anak udin juga ikut mendengarkan. Beberapa jam kemudian Udin dan Sarji tiba, mereka langsung memarkirkan motornya di halaman rumah sarji.
Mendengar tangisan dari dalam rumah, mereka berdua bergegas untuk masuk kedalam rumah. Sarji berjalan masuk duluan dengan membuka pintu yang terkunci dan menyalakan lampu diruang tamu, sedang udin ikut berjalan dibelakang Sarji.
Saat sarji mendapati istrinya menangis ia mendekat dan mengambil alih pelukan dari tangan sri. “sak jane enek opo bu ? wes to buk, ojok nangis terus, Jam sak mene kok podo gak turu.”
. (Sebenarnya ada apa bu? sudahlah bu, jangan nangis terus. Jam segini kok pada belum tidur?). Retno masih terus menangis sesenggukan tak menjawab apapun pertanyaan dari sarji, hanya gelengan kepala serta lirikan mata sri yang bergerak diruang tengah ditujukan kepada Udin.
Sri menandakan ajakan untuk udin segera pulang kerumah.

Udin yang melihat kode dari istrinya langsung mengajak semua anggotanya pulang kerumah, Sri berharap sarji bisa menenangkan istrinya sendiri dan mendapatkan informasi darinya,
tentang apa yang terjadi jika retno sudah baikkan.
Dirumah sarji dan retno kini mereka hanya tinggal berdua, saat pagi sinar terik matahari mulai masuk kedalam ruang tamunya.
Mereka berdua duduk lama dalam keheningan dan pelukan, sinar pagi menembus celah dan kaca dirumah sarji yang menghangatkan tubuh membuat perasaan Retno ingin memulai bicara serius kepada suaminya tentang kejadian semalam...
“Pak sampean sak iki jujur karo aku, sak jene opo seng sampean delekne soko aku?” (pak anda sekarang jujur sama saya, sebenarnya apa yang anda sembunyikan dari saya). Tanya Retno sambil menghapus air matanya
“gak enek seng tak delekno bu,” (tidak ada yang saya sembunyikan bu). Jawab sarji menatap istrinya serius

“Jujuro pak!!! (jujurlah pak) Bentak Retno yang semakin menipis kepercayaannya kepada Sarji.
“Temenan buk!!! karepmu piye, nek gak percoyo yo wes!!!” (beneran buk!!! Maumu bagaimana, kalau tidak percaya ya sudah!!!) Bentak Sarji dengan kasar
Merasa pertanyaan Retno buntu, dia memutuskan untuk diam hanya memikirkan hal yang paling mengganjal didalam hatinya.
Sementara itu, Retno membiarkan saja keras kepala suaminya dari pada ribut-ribut dipagi hari. Karena ia sendiri sadar suaminya sebenarnya wataknya pemarah, dan ia tahu juga bahwa sarji baru pulang belum sempat istirahat sama sekali.
Setelah emosi keduanya mereda, Sarji langsung pergi kekamar untuk istirahat. Retno sendiri langsung menyibukkan diri dengan Sri mengurusi kelengkapan untuk acara rutin nanti malam.

Setelah siang hari, Sarji pergi entah kemana tanpa pamit kepada istrinya.
Retno sendiri yang belum memperoleh jawaban dari sarji dan melihat kondisi rumah sudah sepi ia langsung menuju kamar khusus suaminya. Tapi kamar itu selalu terkunci dari luar dan kuncinya selalu dibawa kemanapun sama sarji.
Sedikit memutar otak, istri sarji meminta istri udin untuk membantunya. Mereka membawa tangga bambu lewat samping rumah, Sedang Sri disuruh untuk berjaga didepan rumahnya, takut kalau Sarji tiba-tiba datang.

Dengan rasa penasaran yang tak terbendung,
Retno secara perlahan naik anak tangga. Saat kepalanya sampai didepan jendela kecil satu-satunya, ia bisa langsung melihat isi kamar itu. Meskipun hanya sedikit sumber cahaya dari jendela itu yang masuk melewati kaca bening berselip atas dan bawah.
Perlahan mata retno mulai mengamati seluruh isi dan sudut kamar khusus suaminya, saat matanya melihat kebawah ranjang yang memakai selambu transparan betapa terkejutnya Retno.
Ia melihat ular hitam sebesar paha orang dewasa sedang melingkar menggunung di atas ranjang, “Masya allah”…(gumam retno). Tiba-tiba ular didalam kamar itu seperti mendengar ada yang mengawasinya. Saat Retno menoleh kearah Sri sebentar untuk melihat kondisi didepan,
dengan cepat kepala ular hitam langsung mengarahkan pandangannya kemuka istri sarji. Kepala ular bergerak keatas dengan menjulurkan lidahnya dan desisan kecilnya dari mulutnya, saat Retno mengembalikan pandangannya untuk melihat isi dalam kamar.
Ia dikagetkan kepala ular yang sudah berada didepan wajahnya, dengan lidah yang keluar masuk dari mulut ular besar itu. Seakan mulut ular besar mau memakan Retno hidup-hidup.
Waktu mulutnya sudah terbuka lebar didepannya, dengan cepat ia turun sampai akhirnya retno terpeleset dan jatuh dari tengah anak tangga,

“buuugggg”…”aduhhh…yuuu”kata Retno dengan memegangi pinggangnya.Sri yang berdiri didepan rumah sarji mendengar dan melihat retno terjatuh,
ia langsung berlari menuju retno, dengan cepat sri membantunya untuk duduk.

“Enek opo to mbak, kok iso tibo ngene. Seng ati-ati mbak” (ada apa to mbak, kok bisa jatuh begini. Yang hati-hati mbak) Tanya sri sambil membersihkan baju retno dan merapikannya.
“wes ayo cepet neng omahmu ae mbak” (sudah ayo cepat kerumah kamu saja mbak) Jawab Retno yang masih meringis kesakitan

Tangan sri memegangi lingkar pinggang retno dan membantu retno berdiri pelan.
Meksi langkah retno tertatih saat dipapah sri, ia tetap berjalan dengan sisa kekuatanya. Sekian menit mereka berdua sudah sampai dirumah sri, pertama sri mendudukan retno diruang tamunya dan memberi minum. Sri sendiri kembali ke rumah retno untuk mengambil tangga sendirian.
Waktu Sampai dirumahnya sendiri ia melihat nafas dan ketakutan retno sudah mereda, ia mulai menceritakan apa yang ia lihat dikamar khusus suaminya barusan. Tapi Sri hanya mendengarkan dan tak begitu percaya dengan hal-hal semacam itu.
“Bojoku wes gak jujur mbak nang aku, wes aku bar ngene tak muleh neng omae wong tuoku dewe. Babahno mbak masio ibukku wong ra due, tapi ayem rasane neng omae ibukku.” (suamiku sudah tidak jujur kepadaku, sudah aku habis ini pulang kerumah orang tuaku sendiri.
Biarkan mbak meskipun ibukku orang tidak punya, tapi tentram rasanya dirumah ibukku). Terang Retno

“Opo gak ngenteni bojomu sek mbak?” (apa tidak nunggu suamimu dulu mbak). Pinta Sri
“wes gak usah aku tak budal sak iki ae mba, engko nek mas sarji takon sampean jawab ae gak ngerti” (sudah tidak perlu, saya berangkat sekarang saja mbak. Nanti kalau mas sarji tanya anda jawab saja tidak tahu). Jelas Retno

“tapi mbak!!! Kata Sri
“wes mbak tulungono aku, dunyone bojoku iku gak bener ketok’ane” (sudahlah mbak tolongin saya, harta suamiku itu tidak benar kelihatannya). Tegas Retno
Sri hanya tertunduk diam, dan menyetujui permintaan retno.
Dengan kondisi masih sakit, ia pinjam sepeda kecilnya udin yang berkarat untuk pergi kerumah orang tuanya retno didesa sebelah. Saat mau berangkat perutnya terasa sangat sakit seperti mau datang bulan,,,”aduhh mbak” kata retno yang baru memegangi sepeda udin,
serta tangan kirinya memegangi erat perutnya!!!

Seketika itu juga Ia mulai gemetar dan lemas. Dengan cepat sri memarkirkan sepedanya dan membantu Retno untuk duduk kembali dirumah Sri.
Keinginan pulangnya yang sudah bulat akhirnya tertunda, sampai akhirnya Retno berbaring dikamar Udin. Sambil menunggu dan merawat Retno, Sri memberikan nasehat agar tetap membicarakan baik-baik masalahnya dengan Sarji dahulu dan jangan asal menuduh suaminya yang bukan-bukan.
Sri berpikir tidak baik jika retno membawa masalah rumah tangganya kerumah orang tuanya, pastinya akan menambah beban kepada orang tuanya sebab ibu retno sendiri sudah tua.

Sore hari udin dan sarji pulang, mereka berdua langsung masuk rumah dan menanyakan keberadaan Retno.
Sri yang keluar dari dapur belum sampai menjawab, sarji yang mendengar rintihan kesakitan wanita dari dalam kamar udin langsung masuk. Saat itu juga sarji mencoba menenangkan istrinya sebentar, dan meminta udin untuk membawa kendaraan untuk mengantar istrinya periksa ke dokter.
Sehabis surya tenggelam diufuk barat sarji sendiri mengantar istrinya kedokter, sementara udin dirumah diberitahu oleh istrinya kejadian tadi pagi. Tapi udin berpesan kepada istrinya untuk tidak ikut campur rumah tangga orang lain,
dan menyuruh istrinya tidak langsung mempercayai cerita dari Retno sebelum tahu dengan mata kepalanya sendiri. Sedangkan kegiatan keagamaan dirumah sarji, udin dan istrinya yang mengambil alih beserta dua kerabat sarji.
Setelah acara keagamaan selesai sekitar tiga puluh menit sarji dengan Retno pulang dari berobat, mereka berdua langsung menuju kamar. Udin yang masih duduk-duduk dirumah sarji langsung ikut menemui retno bersama istrinya didalam kamar.
Sementara itu saat sarji kebelakang Udin juga memberikan do’a kepada retno agar terhindar dari penampakan mertuanya lagi, dan memintanya untuk lebih tenang.
Hari demi hari, Retno masih sakit dirumahnya dan tak pernah lagi menceritakan kejadian melihat ular itu lagi kepada siapapun. Berulang kali ia sudah dibawa kedokter karena perutnya semakin mengeras dan membesar.
Hanya rasa sakit yang ia rasa, karena diagnosa selama itu hasilnya juga nihil. Sewaktu ditinggal sarji keluar, Retno akan pergi kerumah Sri meski sakit. Retno hanya untuk menumpang istirahat dan mencari teman,
karena waktu itu ia benar-benar kesepian dirumah yang besar tapi menakutkan baginya.

Hari ke 35 sejak kematian ibu sarji, dipagi hari yang menjadi kegiatan baru bagi istri udin untuk merawat dan menemani Retno dirumahnya.
Sedang sarji pagi-pagi sudah berangkat ke tokonya, udin sendiri ke sawah dan kebun sarji terlebih dahulu untuk mengontrol para pekerjanya sebelum ke Toko.

Dari pagi sarji datang ketoko langsung duduk sendirian ruang administrasi dibelakang,
ia duduk termenung sambil menunggu temannya datang. Toko bangunan sarji terbilang cukup luas. Letak toko sarji menyatu dengan gudang dibelakangnya, disisi belakang toko ada ruangan untuk administrasi.
Jarak ruang ini dan depan toko sekitar tiga puluh meteran, jadi pembicaraan diruang ini tak akan terdengar dari pegawai yang berada didepan. Biasanya ruangan ini ditempati udin untuk merekap keuangan dari semua laba usaha sarji, tapi siang itu tidak demikian.
Saat sarji didalam ruang yang sudah menunggu, satu jam kemudian ronald datang keruangannya sendirian. Seperti biasa Ronald datang menagih uangnya kepada sarji untuk barang yang sudah terjual. Hari itu memang toko sarji tidak seberapa ramai,
hanya tiga sampai orang empat pengunjung. Dari kesemua pengunjung sudah dilayani oleh pegawai sarji yang berada didepan.

Udin baru datang ketoko bangunan, toko sarji juga yang sampai saat itu digunakan untuk pusat mengontrol semua usaha.
Setelah ia memarkirkan motor didepan, ia melihat semua pegawai duduk-duduk dan melayani pembeli didepan semua. Udin berfirasat dibelakang sudah ada sarji dan ronald, karena rasa sungkan hal itu menjadi lumrah dilakukan para pegawainya.
Udin langsung berjalan menuju ruang admin dibelakang, Dalam perjalan kebelakang sapa dan senyum dari semua pegawai sarji sebagian terlontar kepadanya. Disaat langkah kakinya sudah dekat dengan ruang admin,
udin terhenti seketika karena mendengar suara agak meninggi dan marah dari dalam ruangan.

“Brakkk” suara pukulan yang mengenai meja didalam ruang admin
“Jancoookk… kon asu nald, mentolo kon numbalno Erna!!!” (jancook..kon asu nald, tega kamu menunmbalkan erna). Bentak kasar Sarji

“Sepurane ji, aku kepeksan” (maaf Ji, aku terpaksa). Jawa Ronald.
“Awakmu ancen asu nald, mbiyen koen janji nang aku Erna bakal kok senengno tapi nyatane malah kon tumbalno...cookkk” (kamu memang anjing nald, dulu kamu janji ke aku erna bakal kok senengno tapi kenyataanya malah kamu tumbalkan..cokkk”.
Kata sarji yang mengeras dan memegangi kerah baju Ronald.

“Piye maneh ji, soale Nyi ratu jaluk’e Erna!!! Aku dewe yo gak due pilihan liyo waktu iku? terus sak marine Erna mati, aku gak oleh karo nyi ratu rabi maneh. Aku dikongkon nggur ngelayani wonge tok”
(gimana lagi ji, masalahnya Nyi ratu mintanya Erna. Aku sendiri ya tidak punya pilihan lain waktu itu! Terus setelah erna mati, aku tidak boleh sama Nyi ratu nikah lagi. Aku disuruh cuma melayani orangnya saja). Jawab Ronald yang bingung
Fyi. Erna waktu masih kerja dipabrik dulunya menjadi rebutan sarji dan ronald. Karena ronald berjanji mau segera menikahi erna, akhirnya sarji mundur meski sakit untuk merelakan dambaan hatinya diambil teman karibnya.
Udin yang mendengar pembicaraan kedua temannya ini langsung mencari tempat duduk karena rasa penasaran yang tinggi, ia memilih duduk disebelah ruang admin dengan pelan di kursi plastik.
Rasa penasaran udin yang memuncak akan sekilas pembicaraan kedua temannya membuat dia memberanikan diri untuk mendengarkan seluruh percakapan didalam ruang admin.
Udin duduk dengan tenang dan memegang buku catatan serta bolpoint untuk mengelabuhi para pegawai kalau ada yang melihat, jadi udin terkesan sambil merekap hasil kerjanya. Tapi udin fokus telinganya mendekat disamping tembok ruang admin untuk mendengar dengan jelas.
“Mbujuk, kon Nald?” (bohong kamu Nald). Jawab sarji sambil melepaskan pelan tangannya dikerah baju Ronald.

“Sumpah Ji, temenan cok” (sumpah ji, beneran cok). Jawab Ronald dengan keras yang meyakinkan Sarji
“Wingi bengi aku ditekani maneh karo Nyi ratu, karepe jaluk adikku seng mari babaran. Nek seng dijaluk adikku wedok siji-sijine iki, aku temen-temen gak tego Ji.
Terus piye iki Ji, aku bingung? Nyi ratu dewe, aku semayani telung dino engkas, sak marine aku gemei duit akeh gae susi assistenku iku.” (Kemarin malam aku didatangi lagi sama Nyi ratu, maunya minta adikku yang habis melahirkan.
Kalau yang diminta adikku perempuan satu-satunya ini aku benar-benar gak tega Ji. Terus gimana ini Ji, aku bingung? Nyi ratu sendiri, aku janjikan tiga hari lagi, sehabis aku memberi uang banyak kepada susi asistenku itu.” Curhat ronald yang panjang.
“Susi asprimu kok tumbalno? gendeng koen Nald!!! asli edan… Opo gelem nyi ratu disemayani?” (susi aspri kamu sendiri tumbalkan? Gila kamu nald!!! Asli gila…apa mau Nyi ratu di kasih janji?) Jawab sarji kaget dan semakin acuh
“Asuuu pancen koe iki Nald, mari erna sak iki susi” (anjing memang kamu ini nald, habis erna sekarang susi) celetuk Sarji yang munafik

“Yo embuh ji, pas tak omongi ngunu nyi ratu ketoka’ane yo kudu mureng-mureng? tapi kate piye maneh? aku emoh nak adikku dijupuk”
(ya gak tahu ji, waktu aku bicarakan begitu nyi ratu kelihatannya ya mau marah-marah!!! Tapi mau bagaimana lagi, aku gak mau kalau adikku diambil). Argumen Ronald

“Paling koe due gendak’an maneh yo, mangkane Nyi ratu sodok mureng-mureng neng awakmu. Ancen awakmu ndablek Nald”
(paling kamu punya pacar lagi ya? Mangkane Nyi ratu agak marah-marah kepadamu. Memang kamu bandel Nald). Tebak sarji

Ronald hanya tersenyum kecil saja, serta menunduk sedikit dengan rasa malu didepan sarji.
“Wes sak karepmu nald, aku dewe yo ruwet urusane karo bojoku” (sudah terserah kamu nald, aku sendiri ya ribet urusannya sama istriku). Jawab Sarji sambil memegangi kepalanya.
“Nek masalah duitmu sek gurung jangkep, soale iki jek isuk aku yo gurung neng bank. Engko sore ae duite tak terno neng omahmu mesisan aku karo nitip gae pesen wesi” (kalau masalah uangmu belum lengkap, masalahnya ini masih pagi aku juga belum ke bank.
Nanti sore saja uangnya tak antar kerumahmu sekalian aku mau nitip buat pesen besi). Pinta sarji

“Ya wes nak ngunu Ji, aku tak balik sek. (ya sudah kalau begitu ji, saya mau balik dulu” Jawab ronald.
Setelah pembicaraan mereka terhenti dan udin yang sudah mengetahui sebagain apa yang sebenarnya terjadi ia langsung berjalan cepat kedepan toko, udin membaur dengan pegawai yang sudah ada agar kedua temannya tidak curiga.
Cukup lama udin berbicara kepada beberapa pegawai yang juga bawahan udin, sampai ronald keluar ruangan dan berjalan melewati udin. “ wes mari nald” (sudah selesai nald) tanya udin dengan senyum palsunya.
“wes din, yo ngunu karo anak buahe seng rukun”(sudah din, ya begitu sama anka buahnya yang rukun) sahut ronald yang terus berjalan dan mulai naik kedalam mobilnya. Kali ini ronald sudah mempunyai sopir pribadi, ia langsung duduk bersandar dan menyalakan rokok didalam mobil.
Setelah itu sopirnya langsung melajukan mobil ronald untuk pulang…

Udin yang belum melihat sarji keluar, ia dengan cepat menuju ruang admin. Dengan wajah kesal, benci dan marah. Udin yang berjalan keruang sarji seakan mau membunuh tanpa ampun.
Saat sampai didepan pintu ia melihat sarji duduk bersandar dikursi empuknya dengan wajah gelisah. Udin tetap melangkah masuk dan langsung duduk didepannya..

“Ji, mulai sak iki aku prei melu awakmu.” (Ji, mulai sekarang aku berhenti ikut kamu) kata udin dengan tegas
“lah kenek opo awakmu din” (lah kena apa kamu din). Jawab sarji mulai kaget

“gak popo Ji, aku pengen metu ae soko kene” (tidak apa-apa Ji, aku ingin keluar saja dari sini). Tegas udin lagi
“sek…sek…din. Iki sak jane enek opo sek! Ojo ngene, aku paling ngerti awakmu kaet cilik”(sebentar..sebentar din, ini sebenarnya ada apa dulu. Jangan begini, aku paling mengerti kamu dari kecil). Kata sarji meredakan keinginan Udin yang kuat
“yo wes Ji, aku wes eruh sak iki koen numbalno bapak ibukmu gae dunyo koyo ngene iki”(ya sudah Ji, aku sudah tahu sekarang kamu menumbalkan bapak ibumu buat harta seperti ini). Terang udin dengan menaruh tasnya dimeja sarji
Sarji yang mendengar pernyataan itu langsung terhenyak dan diam seribu bahasa, kebiadabannya selama ini telah diketahui oleh sahabat karibnya. Sarji memikirkan bagaimana cara membujuk udin dan membuat alasan yang masuk akal agar udin menurut sama sarji kembali,
dia juga berpikir jika ada orang lain yang tahu akan kebiadabannya bisa mendapat masalah yang lebih fatal.

“Koen eruh soko endi din, ojo ngawur nak ngomong koen?” (kamu tahu dari mana din, jangan ngawur kalau bicara kamu?). kata sarji
“wes talah ngakuo Ji, aku yo mari krungu dewe soko awakmu karo ronald, awakmu wong loro iku podo bajingane”(sudahlah ngaku saja ji, aku juga habis dengar dari kamu dan ronald. Kamu berdua itu sama bajingannya). Cerocos udin mulai membabi buta
“sek din..sek din..tenang ojo ngamuk sek.” (sebentar din… sebentar din…tenang jangan marah dulu”. Kata Sarji

“Aku ora ngamuk ji,mulai sak iki aku metu.”(aku tidak marah ji, mulai sekarang aku keluar)Jawab udin dengan menaruh tas yang berisi buku-buku administrasi usaha sarji.
Ia langung berjalan cepat untuk keluar ruangan ..

“Braakkk” suara bantingan pintu ruangan administrasi, udin yang habis mengenakan sandal dengan cepat berjalan keluar toko.
“Diiiiinnnnnnn…udinnnn” teriak Sarji dalam ruangan, tapi hanya suaranya saja sedangkan ia tetap didalam ruangan masih memikirkan cara untuk membujuk udin.

Udin berjalan cepat, sudah tak menghiraukan panggilan sarji lagi.
Jalannya yang terburu-buru membuat sebagain pegawai bawahanya tertegun memandang curiga. Udin sudah tidak memperdulikan semuanya ia hanya punya satu tujuan, yaitu pulang kerumah dan memberitahukan semua ini kepada istrinya.

Baru saja udin memarkirkan motor diteras,
sarji yang mengikutinya dari belakang sudah sampai didepan rumahnya. Udin sudah tak memperhatikan lagi dan langsung masuk rumahnya, sarji dengan cepat mengikuti udin yang masuk kerumah. Udin ditarik dan didudukkan diruang tamunya.
“wes talah din, sepurane. Aku mari ngene bakal prei soko pegurone ronald” (sudahlah din, maaf. Aku habis ini mau berhenti dari perguruannya ronal) bujuk sarji dengan memelas
Udin hanya diam, dan mendengarkan kata-kata dari sarji tanpa menyahuti. Dengan berbagai bujuk rayu dilontarkan sarji kepada udin cukup lama, dan akhirnya udin luluh juga.
Sebab Sarji sendiri tahu kelemahan udin yang tidak tega melihat kawannya seolah-olah mengahadapi masalah besar sendirian, sore itu juga sarji minta tolong pada udin untuk menemaninya pergi kerumah Ronald untuk membayar hutang dan pesan barang.
Selepas magrib, udin dan sarji membawa mobil menuju rumah ronald dengan membawa sejumlah uang. Perjalan dari rumahnya memang memakan waktu sekitar lima jam, dari sore kedua sahabat ini memang belum makan sama sekali.
Waktu didalam mobil mereka berdua memutuskan untuk cari makan di ujung gang rumah ronald saja, sekalian istirahat dan bisa mengajak Ronald nongkrong dikampungnya.

Mobil sarji masuk kedaerah ronald sekitar jam sebelas lebih, dan berhenti disamping warung.
Warung itu biasanya memang tutupnya jam satu malam, meski didalam kampung pinggiran kota. Jadi tata letaknya warung ini menghadap ketimur di sebelah selatannya warung persis ada pos ronda. Baru selatannya lagi ada pertigaan, dan jalan yang timur adalah jalan menuju rumah ronald,
jaraknya sekitar seratus lima puluh meter dari warung. Sedang jalan yang keselatan menuju areal persawahan.
Di pos ronda ada tiga orang bapak-bapak yang jaga sambil main kartu, sedang diwarung hanya ada udin dan sarji yang sedang makan.
Malam itu tak ada firasat apapun, sarji dan udin makan nasi lodeh dengan lahap. Rencana mereka habis makan, udin akan memanggil ronald yang masih berada dirumah. Tapi rencana sarji tak sesuai harapan mereka berdua.
Selesai mereka makan, mereka baru menyulut rokok ada teriakan keras dari jalan yang mengarah rumah ronald.

“Tolonggggg…tolongggg…tolonggg,,,”

Semua saling berpandangan untuk mencari sumber suara misterius dimalam hari itu, begitu juga bapak-bapak yang jaga dipos ronda.
“sinten buk bengok-bengok tengah wengi jaluk tulung” (siapa buk teriak-teriak tengah malam minta tolong) tanya udin kepada pemilik warung. Ibu itu diam dan ikut mendnegarkan dengan seksama,
“iyo mas, sopo yo jam sak mene bengok-bengok iki” (iya mas, siapa jam segini teriak teriak ini) kata ibu pemilik warung yang seketika menghentikan aktifitasnya. Akhirnya udin dan sarji lari keluar dari warung dan bergabung dengan bapak-bapak yang sudah berdiri didepan pos ronda.
Tak lama kemudian dari yang jalan menuju rumah ronald samar- samar terdengar ada suara lagi…

“ketoplak...ketoplak..ketoplak...krimpying…krimpying… krimpying…tarrrr…tarrrr…ctaaarrr” (suara lonceng kuda yang berlari serta suara cambukan)
“tolong..tolong..tolonggg…ampun….huhuuhu..tolong” (suara teriakan minta tolong seseorang dan tangisnya)

Semua melihat dengan jelas, dari depan pos dengan mata kepala mereka sendiri. kelima orang tersebut hanya diam mematung antara tak percaya dan kenyataan didepannya.
Dijalan menuju rumah ronald terdapat lampu putih di dua rumah, sehingga kejadian malam itu terlihat sangat nyata dan mencekam. Mata mereka berlima melihat seorang perempuan membawa kereta kencana ditarik dua kuda hitam dengan mata merah.
Perempuan itu ialah Nyi ratu blorong, wujudnya waktu itu sedang mengendarai kereta kencana, tangan kiri memegang tali untuk kendali kuda. Sedang tangan kananya memegang rantai panjang yang mengikat sesuatu terseret dibelakangnya.
Ia tetap memakai baju kemben hijaunya dan berambut ular kecil-kecil diatas mahkotanya dengan mulut menganga semuanya. Serta kulitnya sebagian sudah dipenuhi sisik ular sampai kewajahnya.

Dibelakang nyi ratu blorong ada dua baris wanita berpakaian serba hijau berselendang,
masing masing barisan terdapat tiga wanita. Untuk dua wanita dibarisan terdepan, memegang cambuk sambil menghajar dan sesekali mencambuk manusia yang terikat rantai didepannya. Tapi semua perempuan ini berjalan dengan tubuh ularnya,
hanya terlihat kepalanya dan tangannya yang dipenuhi sisik ular. Sosok seseorang pria memakai celana pendek putih yang dibalut (cawet) sudah diikat mulai leher, perut, serta kedua tangan dan kakinya. Ia berjalan tertatih sambil berteriak minta tolong,
menangis histeris dan kesakitan luar biasa akan cambukan yang diterimanya.

Semakin dekat kereta itu datang menuju pos ronda dipertigaan, semakin jelas yang terlihat adalah ronald teman udin dan sarji. “IKU PAK RONALD” gumam lirih bapak yang berada disamping sarji.
Sontak mereka yang berdiri secara cepat melesat lari tunggang langgang tanpa tau arah dan tujuan. Pemilik warung yang tahu orang pada berlarian, tanpa menutup warung ibu-ibu itu ikut berlari kerumah kayu dibelakang warung.
Sarji dan udin ikut bersembunyi mendekam bersama pemilik warung, tapi mata mereka yang penasaran melihat dari celah papan kayu dari ruang tamu rumah itu. Sedang bapak-bapak tadi yang berada dipos ronda lari tak tahu kemana.
Mereka melihat Ronald ditarik dan dicambuk tanpa ampun melewati pertigaan menuju jalan arah keselatan, sampai beberapa menit suaranya menghilang semua. Saat itu juga kampung ronald menjadi sangat sepi mencekam seperti kuburan.
Ibu pemilik warung dengan ketakutan luar biasa meminta udin dan sarji untuk menutup warungnya, tapi dengan syarat yaitu permintaan udin untuk diperbolehkan menginap dirumahnya. Ibu itupun langsung masuk kekamarnya dan mengunci dari dalam.
Tanpa pikir panjang juga ibu pemilik warung itu juga menyetujuinya. Udin dan sarji dengan cepat mematikan lampu dan menutup warung, setelahnya mereka berlari kembali kerumah belakang dan berbaring diruang tamu.
Mereka yang sudah rebahan diruang tamu yang gelap hanya diam dan gelisah, tanpa ada kata terucap satupun dari mereka yang keluar tapi tubuh mereka tetap bergetar ketakutan tak karuan. Sampai pagi hari mereka tidak ada yang bisa tidur dan masih memikirkan kejadian semalam.
Cahaya pagi mulai bersinar tanpa mataharinya dari halaman rumah pemilik warung, sinar putih lembut itu membuat ruang tamu yang dipakai udin dan sarji istirahat mulai terang.
Udin dan Sarji dengan wajah kusut mulai bangkit untuk duduk, ditempat duduknya mata merah mereka yang saling berhadapan dan saling bertatap penuh ketakutan. Tatapan mata mereka yang saling berkecamuk itu dibatasi sebuah meja kayu.
Dari semalam mereka sudah tiada lagi pembicaraan, tapi dipagi ini Udin yang tak sabar akan sikap Sarji dengan terpaksa membuka pembicaraan terlebih dahulu.

"Piye iki Ji, kiro-kiro bener ta mau bengi iku Ronald seng diseret karo kereto?"
(gimana ini ji, kira-kira beneran tadi malam itu ronald yang ditarik kereta). Tanya udin dengan wajah penasaran dan raut ketakutan

"Gak roh din, mending maringene takon wong-wong kampung ae, mesisan nyetakno neng omae Ronald"
(tidak tahu Din, mending habis ini tanya orang-orang kampung saja. Sekalian memperjelas dirumah Ronald). Terang Sarji dengan gelisah

Suara pembicaraan diruang telah terdengar ibu pemilik warung,
membuat ia datang mengahampiri mereka untuk menanyakan apa maksud dan tujuan mereka datang kekampung ini. Ibu itu sendiri dari tadi malam juga belum sempat tanya karena panik dan takut.

Sarji dengan tenang tapi tetap menutupi rasa gelisah dan tukutnya,
ia menjawab semua pertanyaan ibu itu satu persatu dengan logis, intinya alasan yang dipakai adalah urusan bisnis dengan Ronald.

Dengan cepat ibu pemilik warung segera memahami alasan yg disampaikan Sarji,
kini mereka bertiga yang penasaran dengan kejadian semalam memutuskan untuk keluar rumah dan menanyakan kebenaran fakta tadi malam. Mereka berniat langsung berjalan menuju rumah ronald tapi langkah mereka terhenti dipos ronda karena warga sudah ramai berkumpul.
Begitupun jalan menuju arah rumah ronald beberapa warga sudah dijalanan bergerombol dan saling berbisik satu sama lain.

Konon waktu kejadian malam itu hampir seluruh warga kampung ronald mendengar teriakan permintaan tolongnya,
padahal warga juga yang rumahnya dilalui Nyi Ratu Blorong saat menyeret Ronald ikut mengintip dan melihat dengan jelas dari celah jendela mereka. Tapi semua warga yang mendengar dan melihat tak ada yang berani,
sampai dari sekian warga yang tahu tak ada satupun orang keluar untuk menolongnya.

Sarji dan Udin berjalan perlahan melewati kerumunan-kerumanan kecil yang sudah tersebar dijalan menuju rumah Ronald.
Ditengah perjalanan Sarji berucap kepada Udin “mosok temenan ronald wes mati Din” (masak beneran Ronald sudah meninggal Din)”, “ketok’ane temenan iki Ji”,(kelihatannya beneran ini Ji) jawab udin sambil berjalan disamping Sarji.
Sampai akhirnya mereka berhenti tepat didepan rumahnya ronald, mereka melihat kerabat ronald didalam rumah sudah ramai akan isak tangis dan raut muka penuh kesedihan.

Udin dan sarji langsung masuk rumah ronald meski melewati kerumunan kerabat almarhum diteras,
diruang tamu mereka langsung ikut duduk mendengarkan penuturan salah satu keluarga Ronald.”temenan tibak ne din” (beneran ternyata Din) bisik Sarji kepada Udin, “iyo Ji, menengo rungokno supire cerito” (Iya Ji, diamlah dengarkan supirnya bercerita) sahut Udin pelan.
Supir pribadi Ronald yang berada duduk ditengah lingkaran keluarga ronald bercerita, “Waktu selesai shalat subuh seperti biasa dia datang kerumah Ronald untuk mencuci mobil, malam itu rumah Ronald tidak ada yang terkunci.
Dengan rasa curiga ia langsung masuk rumah, waktu memasuki ruang tengah dan berhenti dipintu yang tak terkunci sang sopir memanggil-manggil Ronald untuk ijin terlebih dahulu tapi tak ada jawaban.
Sopirnya pun akhirnya memberanikan diri masuk kerumah mewah ini dan hanya berniat megambil kunci diruang tengah, meski jika ketahuan ronald sikap ini akan dianggap kurang ajar.
Tapi langnya berhenti seketika melihat Ronald sudah tidur terlentang kaku dilantai hanya memakai sarung dan kaos diruang tengah. Beberapa kali ia memanggil Ronald untuk ijin mengambil kunci, tapi waktu ia dekati Ronald sudah menjadi mayat.
Kondisi tubuhnya sudah membiru dan kaku, dengan mata melotot dan mulut terbuka lebar. Sedangkan untuk kedua tangannya menengadah keatas, seperti orang ingin memohon ampun dan melepaskan diri.
Setelah itu sopir ini berlari keluar rumah untuk mencari bantuan kepada para tetangga dikanan dan kiri rumah ronald. Cerita sopir itupun selesai ketika pemuka agama setempat datang dan ikut duduk bersama orang-orang yang berada diruang tamu.
Tak berselang lama, diwaktu yang masih pagi pihak keluarga dibantu oleh pemuka agama setempat menyucikan Ronald dan menguburkannya dipemakaman kampung tempat tinggalnya.

Tapi saat dikebumikan keadaan Ronald tetap seperti ia ditemukan pertama kali,
hanya tangannya yang dipaksa sampai terdengar patah dipergelangan sikunya agar bisa bersendekap untuk terikat sebagaimana layaknya mayat dikafani.

Sarji dan Udin mengikuti prosesi acara Ronald sampai selesai,
sewaktu masih dirumah duka Sarji juga menyerahkan uang Ronald sebagaimana layaknya hutang piutang. Uang itu diserahkan kepada ahli waris yang masih berada dirumahnya. Saat siang sudah mau berganti sore mereka berdua ijin kepada semua kerabat Ronald untuk pulang.
Dalam perjalanan pulang sarji ketakutannya semakin menjadi jadi, ia meminta dengan sungguh sungguh kepada udin untuk mencarikan solusi memutuskan perjanjian dengan Nyi Ratu Blorong. Udin sebagai sahabat sejati dengan senang hati menyetujui permintaan Sarji.
Dia juga berharap kawannya segera bisa tobat, dan tidak menyerahkan nyawa sesorang lagi sebagai imbalan kekayaannya.

Dengan semangat membara dan niat yang kuat sarji pulang tidak langsung kerumah melainkan langsung mengajak udin menuju kerumah moden, kakaknya udin.
Saat mereka sampai rumah moden mereka berkumpul dan duduk diteras, Sarji mulai bercerita panjang lebar tentang temannya Ronald sampai larut malam disertai rasa ketakutan Sarji yang mulai menjalar keseluruh tubuhnya.
Malam itu juga sarji berharap bisa mendapatkan bantuan dari moden akan niatnya.Sementara itu moden tau yang dihadapi bukan sosok sembarangan,Tapi moden yang diam mencerna penjelasan sarji terlebih dahulu,ia juga tetap berusaha serta memikirkan solusi dan moden akhirnya berkata..
“Aku salut Ji nek awakmu wani terus terang, terus ape tobat… tapi aku nek ngewangi awakmu, aku dewe iso-iso bongko” (aku salut Ji, kalau kamu berani terus terang, terus mau tobat…tapi aku kalau bantu kamu, aku sendiri bisa-bisa mati)” Tegas Moden
“Terus piye den” (terus bagaimana den). Tanya Sarji yang mulai bingung

“Wes mene ae coba neng kiai Sofyan” (sudah besok saja coba ke kiai Sofyan). Perintah moden

“Tapi cak kiai Sofyan kan wes tuo, terus ngajine neng wonge yo sewulan pisan. opo sanggup kiro-kiro ngewangi Sarji”
(tapi kak, kiai Sofyan sudah tua, terus mengajinya pada orangnya juga satu bulan sekali. Apa sanggup kira-kira bantu Sarji). Sahut Udin yang meragukan kealiman kiai Sofyan.
“Ya embuh Din. ojok ngeremehno uwong, dicobak disek ae” (ya tidak tahu Din. Jangan meremehkan orang, dicoba dulu saja). Jawab Moden

“Ya wes lah nak ngunu, mene bengi awakmu wong loro tak enteni neng omah jam woluan.
(ya sudahlah kalau begitu, besok malam kamu dua orang saya tunggu dirumah jam delapanan). Pinta moden serius

“Iyo cak suwun” (iya kak terima kasih). Jawab Sarji yang gelisah
Udin dan Sarji akhirnya bisa pulang kerumah masing-masing dengan perasaan sedikit lega meski belum ada kepastian yang jelas siapa yangg bisa membantunya untuk memutuskan perjanjian dengan Nyi Blorong.
Keesokan harinya Udin didatangi sarji dari pintu belakang, tanpa banyak bicara Sarji langsung mengajak udin keluar agar istri udin juga tidak curiga. Sarji dengan cepat membonceng udin dengan motornya, dan menuju kewarung langganan mereka.
Kondisi warung saat itu masih sepi, Sarji mengajak Udin untuk duduk berdua dipojok agar suaranya tidak terdengar.

Dalam sepinya warung sarji berpesan kepada Udin nanti malam untuk menunggunya dirumah Jam 8 malam,
rencananya mereka akan berangkat berdua kerumah kiai Sofyan bersama moden. Kegelisahan Sarji pun menjadi-jadi karena istrinya semakin hari sakitnya semakin parah. Perutnya semakin lama juga semakin membesar, tapi sekian kali dirontgen hasilnya semuanya normal.
Dirasa sudah cukup Sarji menyampaikan keluhan sebenarnya kepada udin, hari semakin sore. Sarji mengajak pulang Udin, karena ia mau mengantar istrinya chek up rutin ke dokter.
Malam semakin beranjak hingga Jam 20.00 wib, Udin yang berbaring dikursi panjang teras rumahnya mulai gelisah, berulang kali dia bangkit dari tidurnya. Langkah kakinya mondar mandir dari depan kebelakang rumah berulang kali.
Sampai istrinya yang mengamati suaminya lama-lama pusing dibuatnya,

“Sak jane enek opo pak ?” (sebenarnya ada apa pak). Tanya sri yang duduk bersama anak-anaknya di ruang tamu.

Udin masih tetap jalan keluar masuk, belum mendengarkan dengan serius pertanyaan istrinya.
“Ditakoni mbok dijawab? Kok koyok pitek kudu rabi, munyer ae kaet mau?” (ditanyai ya harus dijawab? Seperti ayam ingin kawin, berputar-putar saja dari tadi). Kata Sri semakin keras.
“Iki lo bu aku mau isuk janjian karo Sarji, sampek sak iki wes jam wolu gurung teko?” (ini lo bu aku tadi pagi janjian sama Sarji, sampai sekarang sudah jam delapan belum datang). Terang udin gelisah tak tenang
“Ape neng ndi maneh to pak?” (mau kemana lagi pak). Tanya Sri penasaran

“Neng nggone cacak, buk?” (ketempatnya kakak ,buk). Jawab Udin

“Yo sabar to pak, paling yo sek neng dalan.”(ya sabar to pak, paling ya masih dijalan). Terang Sri untuk menenangkan suaminya
“Iyo yo...” (iya..ya) Jawab Udin

Setelah mendapat suara peredam dari istrinya Udin tetap seperti semula, kakinya masih mondar mandir dengan resah. Udin sendiri tahu kebiasaan sarji, meski dia pemalas tapi kalau ada janji biasanya tepat waktu.
Jarum jam terus berjalan sampai menunjukkan angka sembilan lebih sedikit. Detik demi detik Udin lalui, menunggu adalah hal yang membosankan dan paling ia benci sebab waktu terasa sangat lama.
Dari ujung gang rumah Udin ada seseorang yang berjalan cepat dibawah lampu putih dengan tergopoh-gopoh. Udin yang melihat kejanggalan itu berhenti dan berdiri didepan teras rumahnya, memandangi dan mengamati dari kejauhan hingga sosok pria muda itu mendekat.
Semakin jelas Udin melihat ternyata ia salah satu anak buahnya yg biasa bekerja ditoko bangunan sebagai kurir.

“Pak..pak...?”
“Ooohh awakmu to Jum? tak kiroe sopo? kok mlakune koyok wong kesetanan. enek opo?” (ooohh kamu to Jum? Tak kira siapa? Jalannya kayak orang kesetanan. Ada apa?) Tanya Udin memberondong
“Iki pak,(ini pak) ...ehh...pak...ehh..pak...(ia tak bisa berbicara lancar lidahnya terasa kaku, karena masih shock dan bingung mau menyampaikan kabar)
“Sak jane enek opo Jum, ngomong seng jelas..a...u..a..u..tak kampleng ndasmu!!!” (sebenarnya ada apa Jum, bicara yang jelas…a…u…a…u…tak pukul kepalamu!!!). Ancam Udin yang gelisah
”Enek wong ra iso ngomong kok malah diseneni ae to pak, dijak lungguh disek kene lo, ancen ra ngerti blas sampean iki pak!!!” (ada orang tidak bisa bicara kok malah dimarahi saja pak, diajak duduk dulu sini lo,
memang tidak mengerti sama sekali kamu ini pak). Sahut Sri yang sudah berdiri diterasnya

Istri udin yang mendengar keributan, masuk kerumah lagi dengan pengertian membawakan segelas air putih. Ia langsung menyeret tangan Juma'in untuk duduk dahulu diteras rumahnya.
“Wes jum, ngomongo kalem-kalem. ra usah wedi, sak jane enek opo koe mrene gupuh gupuh ngene. Dungaren?” (sudah Jum, bicaralah pelan-pelan. Tidak usah takut, sebenarnya ada apa kamu kesini tergopoh-gopoh begini. Tumben?). Kata Sri yang sudah duduk disampingnya
“Ngenten buk, pak! Pak Sarji kalian bu Retno kecelakaan ten radosan ageng. Sak niki dibeto ten rumah sakit.” (begini bu, pak!!! Pak Sarji sama bu Retno kecelakaan dijalan raya. Sekarang dibawa ke rumah sakit). Jelas Jum’ain dengan masih tergagap dan mulutnya masih gemetar
“Opo (apa)???? Kecelakaan????” Bentak Udin keras dengan spontan karena kaget

“Rumah sakit endi Jum”?? (rumah sakit mana Jum). Tanya Udin dengan suara lantang
“Sabar sek to pak!!! cek mari oleh ngomong Juma'in iki loh...”(sabar dulu pak!! Biar selesai dulu bicaranya Juma’in iki loh). Tegas Sri yang berusha menenangkan keadaan

“Ten rumah sakit umum pak, tapi terose tiang-tiang wau sedanten pun pejah
”(Dirumah sakit umum pak, tapi katanya orang-orang tadi semuanya sudah meninggal). Jelas Juma’in takut dengan menundukkan kepalanya

“Piye maksdumu Jum?” (gimana maksudmu Jum). Tanya Udin yang semakin tak percaya dengan berita yang dibawa Juma'in
“Mekaten pak, kulo wau lintang radosan ageng, terus mirsani pak Sarji kalian bu Retno sampun ditutupi kloso ten mobil pick up. Mobile pak Sarji pun ajur, tiang-tiang ingkang mantun mirsani pak Sarji kalian bu Retno sanjange pun pejah sedanten."
(begini pak, saya tadi lewat jalan raya/besar, terus melihat pak sarji sama bu retno sudah ditutupi tikar di mobil pick up. Mobie pak sarji sudah hancur, orang-orang yang selesai melihat pak Sarji sama bu Retno katanya sudah meninggal semua).
Jelas Juma'in yang panjang dengan suara dan wajah sedih

“Innailahi wa ina ilaihiraji'un”…(gumam Sri dan Udin)

“Ayok cepet...cepet...Jum…ayok terno sak iki aku neng rumah sakit.” Pinta Udin yang panik dan tergopoh-gopoh
“Buk, sak iki sampean kabari keluargane Sarji karo tonggo-tonggo. Aku tak neng rumah sakit disek” (buk, sekarang anda kabari keluarganya Sarji sama para tetangga. Aku ke rumah sakit dulu). Kata Udin cepat, dan naik motor dijok belakang
“Iyo pak ati-ati, ra usah ngebut Jum.” (iya pak hati-hati, tidak usah ngebut Jum) Jawab Sri yang ikut bergegas berangkat ketetangga untuk memberi kabar kematian Sarji dan Retno.

“Injih bu”(iya bu) Jawab Juma’in yang sudah menghidupkan motor Udin dan siap berangkat.
Saat itu juga Udin berangkat bersama jumain, mereka melajukan kendaran dengan sangat kencang dan tak memperdulikan pesan istri udin lagi. Setibanya ia di IGD rumah sakit, udin langsung bertanya kepada petugas jaga.
Dengan cekatan petugas jaga pun mengantar mereka, Udin yang tak percaya akan kabar kematian sohibnya, tapi Udin berjalan setengah berlari dengan perasaan cemas serta jantung yang semakin berpacu dengan cepat.
Dalam bayangannya ia hanya ingin memastikan kebenarannya dan semoga bukan Sarji temannya yang meninggal. tak begitu lama mereka berdua seketika sampai diruang jenazah. Tulisan “Ruang Jenazah” sudah didepan menyambut Udin dan Juma’in.
Wajah layu dan pucat mulai membebani Udin, Perlahan petugas jaga membuka pintu dan langsung membukakan kain putih yang menutupi dua jenazah suami istri tersebut.
“gak mungkin, gak mungkin...iki” (tidak mungkin..tidak mungkin..ini) Kata Udin lirih dengan memegang kepalanya dan kesadarannya saat itu juga mulai sedikit menurun.

“Huuu…huuu…huuu…huuu”

Udin langsung menangis histeris dan lemas sehabis melihat temannya sudah menjadi mayat.
Apalagi bagian tubuh keduanya dibawah kepala sudah hancur dan hampir putus. Udin yang tertinduk lesu, hanya sedikit meneteskan air mata dan tubuhnya hampir pingsan, sampai akhirnya dipapah pelan-pelan oleh Jumain untuk keluar dari ruang jenazah.
”sabar pak” bisik Juma’in sambil memegangi tubuh Udin. Juma’in mendudukan sementara udin dilorong rumah sakit untuk menenangkan sementara.

Sesaat kemudin para petugas kamar jenazah mengampiri mereka yang masih duduk mohon ijin kepada Udin,
untuk memperbaiki kondisi jenazah kedua temannya. Udin yang masih duduk hanya menganggukkan kepalanya, selanjutnya ia segera dibawa Juma’in dengan dipapah keluar untuk langsung pulang saat itu juga.
Juma'in sendiri takut kalau udin semakin shock melihat temannya yang sudah meninggal. Malam itu kondisi Udin hanya diam, dengan tatapan kosong serta badannya sudah tak bertenaga lagi.
Sampai dirumahnya udin, ia langsung dibaringkan Juma’in dibantu istrinya. selanjutnya Juma’in yang masih dirumah udin menceritakan kejadian dirumah sakit tadi, selepas itu Juma’in pamit undur diri untuk pulang.
Pagi hari rumah almarhum Sarji sudah semakin ramai orang mengaji dan silih berganti, sambil menunggu kedatangan kedua jenazah suami istri. Tak berapa lama mentari yang begitu terik mobil jenazah datang dan segera menurunkan kedua jenazah tersebut,
suami istri ini langsung di letakkan diruang tamunya. Kedua jenazah yang berada diruang tamu sudah disucikan dirumah sakit, Para kerabat dan warga sekitar langsung mencari air untuk bersuci. Udin yang masih berada diteras rumah sarji, dihampiri moden.
Tiba tiba moden mengusap muka Udin dengan tangan kanannya yang masih basah.

“Delok'en sejatine kancamu iku sak iki.”(lihat sejatinya temanmu itu sekarang) Kata moden berbisik kepada Udin

“Maksute piye cak” (maksdunya gimana kak) Jawab Udin lirih
“Wes sak iki pokok’e awakmu delok'en Sarji karo bojone disek” (sudah sekarang awakmu harus melihat Sarji sama istrinya dulu). Tegas moden lirih

Udin dengan rasa penasaran berjalan mendekati kedua jenazah temannya,
kedua jenazah itu sedang dirapikan lagi dan mau dibalut dengan tikar. Sebelum terbalutnya jenazah udin sekilas melihat kedua temannya menjadi sepotong batang pisang (debog; bahasa Jawanya). “Masya Allah” Ucapnya lirih.
Orang-orang yang membalut mendengar ucapan Udin, seketika itu juga mereka menoleh dengan tatapan heran kepada Udin. Hanya senyumnya dan kepala sedikit menunduk ia lemparkan kepada orang-orang itu untuk meminta maaf, selanjutnya Udin kembali menemui moden diteras.
Udin yang sudah berdiri disamping moden, mengarahkan bibirnya ke daun telinga moden serta berbisik lirih…

“Kok iso koyok ngunu cak?” (kok bisa seperti itu kak). Tanya Udin penasaran
“Iku hasile nek mujo pesugihan Din, tapi awakmu ora melu-melu to” (itu hasilnya kalau memuja pesugihan Din, tapi kamu tidak ikutan kan?). Jelas moden dengan suara pelan
“Ngunu yo cak, aku gak melu-melu koyo ngunu kui” ( Begitu ya kak, aku tidak ikut-ikut yang begitu itu ) Jawab Udin dengan tegas tapi tetap dengan suara lirih
“Sejatine kancamu iku wes digowo neng nggone kerajaane Blorong kabeh”
(Sejatinya temanmu itu sudah dibawa ke tempat kerajaanya Blorong semua) Terang moden dengan berdiri tenang

“Terus piye cak nasipe konco-koncoku” (Terus bagaimana kak nasibnya teman-temanku) Tanya Udin polos
“Yo wes Din, iku pancen pilihane kancamu. sampek kiamat mbesuk yo panggah neng kono dadi budak’e Blorong” (Ya sudah Din, itu memang pilihannya temanmu. Sampai kiamat besok ya tetap disana jadi budaknya Blorong).
Jelas moden dengan berbisik serta melihat jama’ah yang sudah bersiap dalam barisan shaf diruang tamu untuk menyolati jenazah Sarji dan Retno.

Jama’ah yang sudah siap langsung dipimpin oleh moden untuk segera disholati, beberapa menit acara selesai.
Mereka semua bergegas segera memakamkan kedua jenazah ini. Mereka berdua dimakamkan disebelah ayah dan ibu Sarji.

Hari itu menjadi pukulan yang paling berat bagi Udin dan keluarganya, karena Sarji selama ini sebagai tumpuan utama ekonominya.
Selama dua hari ia terlihat sering termenung dan melamun sendiri dirumahnya. Udin juga sejak saat itu sudah tidak bekerja lagi ditoko Sarji. Dihari ketiga setelah selesai acara rutin dirumah Sarji,
Udin tiduran sendiri di ruang tamunya. Istri dan anak-anaknya kebetulan malam itu sedang ikut acara pengajian dikampung sebelah.

Jam delapan lebih Udin masih belum bisa tidur, tapi tubuhnya merasa sudah kelelahan. Sewaktu Udin rebahan di ruang tamunya,
dari belakang rumah terdengar suara aneh. “Sreekkk…srekkkk…srekkk” Seperti suara gesekan rumput dan daun kering. Tapi suara itu terus berbunyi dan bergerak pelan dari belakang menuju samping rumahnya.
Udin yang masih diam diruang tamu sendirian lama-lama merasa curiga akan suara itu, Karena suaranya terus berbunyi. Udin yang penasaran akhirnya terbangun dan melihat sumber suara itu dari jendela kamar, dari kamarnya ada sebuah jendela kecil berlapis kaca bening.
Dibalik jendela itu terpancar sinar kuning lampu neon diatasnya, saat ia membuka jendela mata Udin terbelalak seketika melihat sosok dibawah jendela yang terkena sorot sinar lampu kuning ada seekor ular hitam yang besar berjalan menggeliat pelan.
Besarnya ular hitam ini sebesar tiang listrik, dengan kepala menyerupai manusia berambut ular. Desisan dan juluran lidah ular itu terdengar jelas saat ular itu meliuk-liuk disamping rumah.
“Astagfirullah”ucap Udin dengan kaget dan sedikit memundurkan tubuhnya dari jendela.

Sadar akan ada hal yang janggal Udin segera berlari keluar rumah lewat ruang tamu,tapi larinya Udin terhenti di jalan depan rumah dan menoleh sebentar untuk melihat rumahnya sendiri dari jalan.
Ternyata Ular hitam yang besar itu sudah melilit rumahnya, tubuh ular hitam ini sangat panjang karena lilitannya sudah melingkarkan tiga lingkaran tubuhnya dirumah Udin.
Sedangkan kepalanya tepat diatas bubungan genting sekilas menatap Udin dengan mata merah yang tajam yang penuh kemarahan. Ular itu dari atas bubungan genting masuk kerumah dengan menembus gentingnya.
Udin teringat bahwa ini adalah seperti sosok Nyi Blorong yang pernah ia lihat waktu dikampung Ronald, sadar akan keselamatannya spontan ia langsung berlari sekencang kencangnya menuju rumah moden tanpa alas kaki.
Sekian menit ia berlari menembus kegelapan malam sampai akhirnya dirumah moden, ia langsung menabrakkan diri kepintu rumah moden. “Braaakkk” Hentakan yang cukup keras tubuh Udin tidak bisa membukakan pintu rumah kakaknya,
dengan kedua tangan yang sudah terkepal dan rasa ketakutan tinggi ia menggedor rumah kakaknya yang masih terkunci secara cepat.

“Brak…brak..brak…cak…tulungono aku cak…cak..cak..cepetan” (Brak…brak..brak…Kak…tolongi aku kak…kak..kak..buruan)
‘hosshhh…hossshhh..hosshhh’ nafas Udin yang cepat serta detak jantung berdegup kencang, dan keringat sudah membasahi bajunya.’

Kakaknya yang mendengar kegaduhan didepan rumah langsung berlari kecil kedepan dan membuka pintu.
saat Udin sudah melihat sosok kakaknya sendiri ia langsung memeluk erat tubuh kakaknya dengan ketakutan.

“Cak tulungono aku cak…temen cak…hu..hu..hu..huu” (Kak tolongin aku kan…beneran kak…hu..hu..hu..huu). Pinta Udin mulai menangis ketakutan
“Enek opo Din...enek opo…enek opo?” (Ada apa Din…ada apa…ada apa). Jawab moden dengan merenggangkan pelukan Udin serta menatapnya penuh curiga.
“Blorong nang omah wes nggubet omahku sak iki cak…huuu..huuu…huuu” (Blorong dirumah sudah melilit rumahku sekarang kak……huuu..huuu…huuu). Jelas Udin yang terus menangis
“Menengo sek! Rungokno, sak iki ngene awakmu budalo nang nggone kiai Sofyan, terus bojomu neng ndi sak iki?” (Diamlah sebentar, sekarang begini kamu berangkat ketempat kiai Sofyan, terus istrimu dimana sekarang?). Kata moden menenangkan dan menanyakan anak istrinya Udin
“Bojoku melu pengajian neng kampung sebelah cak” (Istriku ikut pengajian dikampung sebelah kak). Jelas Udin dengan nafas berderu cepat

“Yo wes koen sak iki budalo neng nggone kiai sofyan, aku tak nyusul bojo karo anak-anakmu. Engko tak parani neng omae kiai Sofyan”
(Ya sudah kamu sekarang berangkat ke tempat kiai Sofyan, aku yang menjemput istri dan anakmu. Nanti aku datangi dirumah kiai Sofyan). Pinta moden dengan tegas

“Lha kenek opo cak, kok bojo karo anak-anakku disusul” (Lha kena apa kak, istri sama anak-anakku dijemput).
Tanya Udin yang tidak mengerti

“Matamu nek wes ngene koen sak keluarga diincer karo Nyi Blorong goblok” (matamu, kalau sudah begini kamu sekeluarga diincar sama Nyi Blorong Bodoh!!!) bentak kasar moden yang tahan akan keluguan Udin
“Mlayuo ae cepetan ambi moco dungo seng wes tau tak gemei, cek gak nguber awakmu Nyi Bloronge” (Larilah saja yang cepat sama baca do’a yang sudah pernah kukasih, biar tidak mengejar kamu Nyi Blorongnya) Jelas moden singkat dan mulai panik
Dengan sisa tenaga dan tanpa tanya lagi Udin langsung berlari secepat-cepatnya menuju rumah kiai Sofyan yang berada didesa sebelah, sementara moden pergi kedesa sebelah yang lain dengan membawa motornya untuk menjemput anak dan istri Udin.
Hawa dingin rintik hujan dan suasana gelap malam ia terjang, Kaki Udin yang berlari tanpa alas kaki melaju seperti kesetanan karena rasa takutnya yang luar biasa, lecet dan berdarah pada kakinyapun sudah tak ia rasakan lagi.
Tak berselang lama Udin melihat cahaya lampu rumah sesek (dinding anyaman bambu) kiai Sofyan dari kejauhan, saat itu ia semakin mempercepat laju larinya. Dari dekat rumah sang kiai,
Udin mulai berteriak “…Kiai…kiai…kiai,”. Kiai Sofyan yang sudah tua mendengar teriakan itu bangkit dari duduknya diruang tamu, ia berjalan pelan menuju depan rumah karena teriakan keras dimalam hari dari seseorang di luar.
Sampai didepan teras kiai Sofyan berdiri seorang diri mencari sumber suara, meski dikegelapan malam pandangan beliau masih tajam. tak lama kemudian Udin berhenti tepat didepannya…

“Hosshhh…hoossshhh...hosshhh…kiai sampean tulungi kulo…huu...huuu...huuu”
(Hosshhh…hoossshhh...hosshhh…kiai anda tolongi saya…huu...huuu...huuu). Pinta Udin dengan menahan nafas tersengal-sengalnya dan sedikit membungkuk serta kedua tangannya memegangi perutnya.
“Oalah awakmu to Din,tak kiroe sopo? Mrene ayo melbu sek neng omah. Keno opo kok nangis-nangis iki?” (oalah kamu to Din, tak kiranya siapa? Kesini ayo masuk dulu kerumah. Kenapa kok menangis ini?) Tanya kiai Sofyan sambil memegang kedua bahunya Udin
Udin yang sudah bertemu dengan kiai, ia langsung bersimpuh di kaki kiai Sofyan dan hanya tangisan sedih dan ketakutan yang utarakan. Kiai Sofyan sendiri bingung sebenarnya apa yang terjadi,
perlahan kiai Sofyan mengangkat bahunya dan membangkitkan Udin untuk berdiri lalu mengajak Udin untuk berpindah keruang tengah. Beliau mendudukan serta mendiamkan dahulu sampai tangisnya sedikit mereda dan tenang didalam rumah.
Kiai Sofyan dengan tangan keriputnya segera memberikan minuman kepada Udin untuk meredakan dahaga dan rasa takut, panik bercampur sedih.

Kejiwaan Udin diruang tengah lama kelamaan mereda dengan perlahan, tapi Udin hanya tertunduk lesu disamping kiai Sofyan dengan hening.
Jiwa dan batinnya masih terguncang hebat malam itu. Baju Udin yang sudah basah oleh keringat dan kaki sudah lecet penuh darah sudah tak dirasakannya lagi. Beberapa menit kemudian kedua wajah mereka terangkat naik seketika ada sumber suara didepan.
Keheningan mereka pecah saat suara motor dua tak itu terhenti tepat di depan rumah kiai Sofyan. Motor yang diparkir moden dihalaman rumah kiai Sofyan tak berarah karena terburu-buru, Moden bersama anak istri Udin berjalan menuju rumah kiai Sofyan dengan panik dan gelisah.
Tapi langkah mereka terhenti didepan pintu ruang tamu.

“Tok..tok..tok..Asssalamu’alaikum…” Salam Moden

“Walaikum salam,,,”Jawab Kiai Sofyan disertai langkahnya sedikit tertatih keluar dari ruang tengahnya menuju ruang tamu.
Sang kiai tua bertubuh ringkih dan berambut putih langsung membuka pintu, ingatannya yang masih tajam mengamati siapa yang datang. Setelah ia tahu bahwa tamunya ialah moden dan anak istri Udin, beliau langsung mengajak mereka berkumpul keruang tengah.
Sang kiai mengajak semua bergabung diruang tengah untuk melihat kondisi Udin yang sudah memprihatinkan. Situasi rumah kiai Sofyan yang semakin ramai orang membuat bu nyai Sofyan juga ikut bergabung dengan mereka.
Udin yang sudah tenang tapi hanya diam dengan tatapan kosong dan wajahnya pucat layu, ia masih belum mampu berbicara. Istri dan anaknya mengerumuni Udin dan memeluk kepala keluarga itu yang ketakutan.
”Kenek opo sampean pak” (kena apa anda pak) tanya istri Udin serta tetesan air matanya mulai jatuh. Udin hanya tetap diam membisu, sedang Moden sendiri langsung menceritakan kejadian yang dialami Udin dari awal sampai akhir secara detail,
lalu moden yang sebagai kakaknya meminta bantuan kepada kiai Sofyan untuk membantu Udin yang nyawanya terancam oleh Nyi blorong.
“Ooohh ngunu ceritane den, ancen adekmu iki melu mangan dunyone Blorong. Yo mesti diuber den” (Oooh begitu ceritanya den, adikmu ini ikut makan hartanya blorong, ya pasti dikejar den). Terang kiai Sofyan
“Terus pripun yai” (terus bagaimana kiai). Tanya moden yang mulai bingung

“Yo engko di resik’i kabeh sak keluargane.” (Ya nanti di bersihkan semuanya seluruh keluarganya). Jawab kiai Sofyan
Belum selesai pembicaraan diruang tengah, tiba-tiba ada suara memanggil yang keras dari luar, “Metuo kabeh”…,(keluar semua) dengan suara panggilan yang keras menggelegar dari luar, Udin yang mengenal suara itu semakin meringkuk takut,
jiwanya yang sudah tergoncang bertambah takut. Udin yang duduk membenamkan wajahnya ditubuh istrinya dan kembali menangis. Anak istrinya saat itu juga memeluk Udin dan mereka semua ikut sedih serta meneteskan air matanya.
Tapi kiai Sofyan yang terkenal miskin dan ramah dengan tenang keluar dari rumah, Sedang moden mengikutinya dibelakang punggung kiai Sofyan sambil sembunyi. Sampai diteras rumah, kiai Sofyan berdiri memandang depan rumahnya sudah ada Nyi Blorong.
Jarak antara keduanya tak lebih dari dua puluh meteran.
Kali ini Nyi Blorong bersama pengikutnya yaitu siluman ular dengan jumlah sangat banyak. Ular-ular dibelakang Nyi Blorong memang sangat aneh bentuknya, tidak seperti lazimnya ular didunia nyata.
Ada yang berbentuk kepalanya ular tapi mempunyai rambut seperti manusia dan telinga seperti kelelawar. Ada juga telinga serta hidungnya mirip manusia tapi kepalanya ular, karena banyaknya jumlah sampai tidak bisa mengambarkan satu persatu bentuk para pengikutnya saat itu.
Nyi Blorong sendiri malam itu yang sedang berwujud manusia tak sempurna, karena seluruh tubuhnya bersisik ular. Ia berdiri diatas punggung ular yang besar sebagai kendaraannya. Tunggangannya yang berupa ular itu berwarna hitam, bermata merah dan berambut ular-ular hitam kecil.
Dari remang cahaya yang tersirat dari teras kiai Sofyan, terlihat jelas Nyi blorong dengan wajah yang mengerikan sudah dipenuhi kemarahan.
“Wes cukup, gak usah diterusno. Iki santriku” (sudah cukup, tidak usah diteruskan. Ini santriku) Kata kiai Sofyan dengan mengarahkan telapak tangannya kedepan rombongan Nyi Blorong.

“Wong tuek iki …heeeemmm. Awas koen… Awas koen… Awas koen”
(orang tua ini, heeemmm. Awas kamu…awas kamu…awas kamu) Jawab Nyi Blorong dengan menggeram marah, dan mengacungkan tangannya kepada kiai Sofyan.

Perlahan Nyi Blorong mundur bersama pasukannya pelan-pelan sampai akhirnya ia menghilang ditelan kegelapan malam.
Kiai Sofyan hanya tersenyum melihat kegusaran Nyi Blorong. Moden yang bersembunyi dibalik tubuh kiai Sofyan dibuat heran, ada apa dengan kiai Sofyan yang terkenal melarat ini sampai Nyi Blorong tidak mau berurusan dengan beliau.
Moden yang heran dan makin penasaran masih berdiri dibelakangnya kiai Sofyan memberanikan diri untuk bertanya,,,

“Kok saget ngonten kiai”(kok bisa begitu kiai). Tanya Moden dengan menatap sang kiai sepuh (tua)
“Wes ora usah dibahas, ayo melbu ngurusi adekmu wae den” (wes ora usah dibahas, ayo melbu ngurusi adekmu wae den). Jawab kiai Sofyan

“Nggih kyai” (iya kiai). Jawab moden yang pelan dan patuh, karena moden sendiri tak berani bertanya lebih jauh lagi.
FYI. Menurut beberapa sumber orang terdekat sang Kiai, disaat kiai Sofyan masih muda pernah berurusan dengan Nyi Blorong, mereka sempat berselisih pada akhirnya mereka berdua bertarung.
Sekian lama pertarungan akhirnya dimenangkan kiai Sofyan, selanjutnya mereka berdua membuat perjanjian bahwa kaum Nyi Blorong beserta pengikutnya tak akan menggangu keluarganya ataupun santrinya kiai Sofyan,
begitu juga kiai Sofyan tidak akan menggangu pekerjaan Nyi Blorong bersama pengikutnya.

Mereka berdua kembali keruang tengah, malam itu juga kiai Sofyan memberikan minum dan do’a kepada Udin.
Selanjutnya mereka semua diajak ritual bersama kiai Sofyan untuk membersihkan diri mereka, dari tanda tumbal yang sudah disematkan pada semua keluarga Udin. Penyemat dalam keluarga udin tak lain ialah Sarji sendiri, sewaktu masih hidup.
Malam itupun Udin beserta keluarganya tidur dirumah kiai Sofyan, moden sendiri ikut menemani keluarga adiknya.

Menjelang subuh sekitar jam tiga dini hari, Udin yang sudah tidur dengan lelap diruang tengah tiba-tiba berteriak histeris dengan mata masih terpejam,
….”Ayoo…Ayooo…Jiiiii…jiiiiii….Jiiii…huuu…huuu..huuu!!!”
Semua yang berada dirumah itu bangun dan mendatangi Udin, mereka melihat Udin berteriak dan menangis histeris dalam tidur,”Tangi pak…tangi pak!!!enek opo???”
(bangun pak…bangun pak!!! Ada apa??”. Tanya istri Udin yang sudah berada disampingnya
Udin yang terbangun seketika dan langsung duduk, moden yang sudah dari siaga disamping udin dengan segera memberikan segelas air putih kepadanya…
”Diombe sek din” (diminum dulu din). Sehabis minum air putih, kedua mata Udin mulai berkaca-kaca serta bibirnya bergetar. Lalu dengan perlahan ia mulai bercerita…

“Ya allah,,,aku delok Sarji karo Retno podo cancang dirante sikile, tangane, terus gulune.
Wong loro iku digiring ngidul lewat dalan gede seng ape melbu istana gede. Arek loro bengok-bengok jaluk tulung, tapi seng nyeret menungso papat tapi ndase ulo kabeh.
Wong loro iku yo di pecuti ambi digepuk’i gae godo nek mari bengok-bengok. Rasane koyok nyoto temenan arek loro iku digowo neng istanae Blorong. Tapi pas waktu aku ape narik tangane Sarji wes ora iso… Masya allah….huuu..huuu…huuu
” (Ya…allah, aku melihat Sarji sama Retno di ikat, dirantai kakinya, tangannya, terus lehernya. Dua orang itu digiring keselatan lewat jalan besar yang mau masih istana besar. Anak dua itu teriak-teriak minta tolong, tapi yang menarik manusia empat tapi kepalanya ular semua.
Dua orang itu ya dicambuk sama dipukuli memakai gada jikalau selesai berteriak-teriak. Rasanya seperti nyata beneran anak dua itu dibawa ke istananya Blorong. Tapi waktu aku mau Tarik tangannya Sarji sudah tidak bisa). Terang Udin yang masih duduk dengan meneteskan air mata.
“Bener din ngipimu iku, pancen ngunu nek mari melu pesugihane Blorong. Yo untung awakmu iso slamet, meski awakmu ora melu kancamu ?"
”(benar din mimpimu itu, memang begitu kalau habis ikut pesugihane blorong. Yo untung awakmu iso slamet, meski tidak ikut temanmu). Jelas kiai Sofyan yang sudah berada didepan Udin
“Ngonten nggih yai” (begitu ya kiai). Jawab Udin dengan tatapan sedih dan meneteskan air mata

“Mek sitik sing iso slamet soko Blorong Din, akeh – ekehe gak slamet seng melu pesugihane Blorong”
(hanya sedikit yang bisa selamat dari blorong Din, kebanyakan tidak selamat yang ikut pesugihane Blorong). Tegas kiai Sofyan lagi

“Wes awakmu gawien sholat bengi sak iki, awakmu wes aman. Iku mau mung tondo nyatane kancamu iku wes melbu nang alame Blorong.”
(sudah kamu pakai sholat malam sekarang, kamu sudah aman. Itu tadi cuma tanda, nyatanya temanmu itu sudah masuk ke alamnya Blorong). Jelas kia Sofyan.

Pagi hari Udin kembali pulang kerumah, memang benar kata kiai Sofyan saat itu Udin sekeluarga sudah aman.
Tapi dirumahnya saat pagi hari itu bau amis yang berasal dari rumah almarhum Sarji mulai menggangu. Begitupun kalau menjelang malam bau busuk dari belakang rumah Udin berhamburan kesegala arah, banyak tetangga awalnya mengira hanya bangkai tikus atau hewan lain.
Tapi anehnya bau ini semakin malam semakin menyebar kepenjuru gang dan aroma busuknya semakin kuat.
Disore hari saat Sri memasak didapur iapun sempat melihat bayangan Retno yang sudah menjadi pocong berada dibawah pohon keres, awalnya Sri tidak percaya hal demikian.
Tapi semenjak meninggalnya Retno kini ia merasa bisa merasakan kehadiran temannya. Sri sendiri sering kaget serta ketakutan saat ada suara suara menyerupai Retno yang memanggilnya tiba-tiba muncul.
Bahkan ketiga anak-anak Udin disore hari saat bermain dibelakang rumah juga sempat melihat sekelebat bayangan sosok Sarji yang berjalan mondar mandir. Malam hari itu juga Sri langsung mengadu kepada suaminya akan keadaan yang dirasakan Sri dan anak-anaknya.
Sejak hari itu kejadian demi kejadian yang menimpa Udin dan keluarganya, gangguan dari keluarga almarhum Sarji dan Retno semakin meningkat. Sering kali penampakan dan aktifitas yang tidak selayaknya dibelakang rumahnya terjadi.
Eksistensi Sarji dan Retno membuat Udin serta anak istrinya tidak nyaman lagi berada dirumahnya. Untungnya untuk Nyi Blorong sendiri sudah tidak pernah meneror keluarga Udin lagi.
Dengan keadaan sudah sedemikian rupa, selang tiga hari kemudian Udin memutuskan untuk menjual rumahnya meski dengan harga agak murah. Saat itu Udin tidak berusaha untuk membersihkan rumahnya karena ada beberapa alasan juga.
Yang utama Udin ingin menghilangkan kenangan yang buruk bersama keluarga Sarji, lalu ia juga ingin hidup tenang dan membuka lembaran baru ditempat baru.
Sejak Udin pindah, ia tak lagi berurusan lagi dengan kerabat Sarji maupun Ronald.
Untuk harta kedua orang temannya ini yang menjadi pemuja Blorong dengan cepat habis entah kemana, Udinpun sudah tak memperdulikan hal itu. Karena sampai saat ini jika terkenang masa lalunya ia akan merasa takut dan sedih kembali.
Setelah terjual rumahnya Udin sendiri, ia pindah ke desa sebelah. Tepatnya dekat rumah kiai Sofyan. Hingga sampai saat ini Udin dan Sri sudah menua, mereka tetap bekerja seadaanya. Untuk anak-anaknya sekarang sudah menikah semua dan tinggal jauh dari Udin dan Sri.
Sekarang mereka berdua juga sudah menjadi kakek nenek didesa kiai Sofyan dan bisa hidup dengan tenang. Selama ini juga mereka hidup sederhana, serta mengabdikan diri untuk Mushola kiai Sofyan dan kegiatan keagamaan dilingkungan sekitar tempat tinggalnya.

---TAMAT---
bisa dibaca di akun wattpad.com/myworks/214754…... terima kasih untuk apresiasinya para reader.🙏🙏🙏
Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh.

Enjoying this thread?

Keep Current with bayuuubiruuu

Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

Twitter may remove this content at anytime, convert it as a PDF, save and print for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video

1) Follow Thread Reader App on Twitter so you can easily mention us!

2) Go to a Twitter thread (series of Tweets by the same owner) and mention us with a keyword "unroll" @threadreaderapp unroll

You can practice here first or read more on our help page!

Follow Us on Twitter!

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just three indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3.00/month or $30.00/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!