-KEBAYA HIJAU DAN LUKISAN PINGGIR RAWA -

Sebuah cerita yg ditujukan sebagai sekuel dari Sang Pejalan Malam Versi 2. Cerita akn mengangkat seputar misteri gubuk yg berisi kebaya hijau dan lukisan misterius.
@ceritaht @horrornesia @WdhHoror17 @IDN_Horor @HororBaca @Penikmathorror Image
Samar-samar yg terlihat oleh bocah lelaki itu adalah sosok perempuan yg selama ini membesarkannya, diseret keluar dari dalam rumah. Orang-orang itu membawa perempuan tersebut entah ke mana.

"Jadi ibumu dibawa orang-orang itu dalam keadaan masih memakai kebaya hijau?" tanya
Pak RT yg beberapa jam setelah kejadian, datang menemui bocah lelaki yg kini tengah terbaring lemah di dalam rumah itu.

Bocah lelaki itu hanya mengangguk lemah seraya terisak.

"Siapa sebenarnya mereka? Untuk apa mereka menculik Bu Lastri?" gumam Pak RT.
"Nak Andre tetap tenang, ya. Polisi sedang berusaha mencari ibumu serta orang-orang itu. Semoga para penculik ibumu segera tertangkap. Semoga ibumu juga segera ditemukan. Kalau nak Andre mau, nak Andre bisa tinggal dulu di rumah bapak. Di sini kan nak Andre sendirian dan
sedang sakit. Tentu harus ada yg merawatmu, nak," lanjutnya.

Andre kecil tidak berucap apapun. Ia hanya menatap ke arah Pak RT seolah tanpa berkedip.

Hari itu juga Pak RT membawa Andre ke rumahnya. Andre akan dirawatnya di sana mengingat tiadanya anggota keluarga Andre yg
di desa itu.

Pada suatu malam, saat tertidur pulas, Andre bermimpi bertemu ibunya. Ia bermimpi melihat ibunya sedang berada di pinggir sebuah danau yg airnya telah surut yg dipenuhi reruntuhan rumah maupun jalan yg diaspal.

"Ibu? Ibu? Ibu?" Andre berseru seraya berlari
menghampiri wanita itu.

Namun, tiba-tiba sesosok makhluk besar berlumuran lumpur melompat keluar dari dalam bagian danau yg masih berair, menerkam ke arah wanita itu kemudian membawanya terjun ke dalam air.

"Ibu!" Andre berteriak histeris kemudian terbangun dari tidurnya.
Pak RT yg mendengar teriakan Andre lantas segera menuju kamar anak itu.

"Nak Andre, ada apa, nak?" ujarnya seraya tergopoh kemudian membuka pintu kamar Andre yg memang tidak dikunci.

"Saya bermimpi ketemu ibu, pak. Saya melihatnya dibawa ke dalam air oleh makhluk itu," kata
seraya terisak menahan tangis.

"Makhluk apa, nak? Sebaiknya jangan dipikirkan, nak. Mimpi hanya bunga tidur. Kalau dipikirkan yg ada malah terbawa mimpi lagi," tukas Pak RT kemudian duduk di samping kasur Andre yg dihamparkan di atas lantai tanpa ranjang.
"Makhluk itu besar sekali, pak. Ia seperti gumpalan lumpur dengan wajah mengerikan. Ia membawa ibu ke dalam air," kata Andre seraya menatap kosong ke arah pintu.

Sejenak ia terkesiap saat melihat sesosok anak perempuan tengah menatap ke arahnya.

"I...i...itu siapa, pak?
Bukannya di sini tidak ada anak kecil perempuan?" Andre dengan panik menunjuk ke arah pintu.

Pak RT menggernyitkan keningnya kemudian melihat ke arah pintu. Tidak ada siapa-siapa atau apapun di sana, membuatnya merasa heran.

"Tidak ada siapa-siapa di sana, nak. Di rumah bapak
juga tidak ada anak kecil perempuan. Semua anak bapak sudah dewasa dan ada yg sudah menikah. Mungkin itu hanya perasaan nak Andre saja," kata Pak RT seraya memutarkan pandangannya.

Sementara sosok anak kecil perempuan itu telah lenyap dari pandangan Andre. Namun sosok baru
muncul dari atas langit-langit kamar Andre.

Itu adalah sesosok seperti nenek-nenek yg sedang merayap di langit-langit sembari melotot ke arah Andre.

"Aaaaahhhh.....!"
Pak RT buru-buru membawa Andre keluar dari kamarnya setelah ia juga turut melihat penampakan nenek-nenek menggantung di langit-langit itu.

"Astaga! Kenapa bisa ada hal seperti itu di sini? Padahal sebelumnya tidak pernah ada hal begituan," ucap Pak RT dengan terengah.
"Kita harus ke rumah sebelah. Semoga saja ibu mengizinkan kita menginap di sana," tambahnya seraya membawa Andre keluar dari rumahnya.

Sebagai informasi tambahan, terdapat dua rumah berdampingan yg mana keduanya adalah milik pak RT. Namun, rumah pertama yaitu yg digunakan Andre
menetap sebenarnya biasanya jarang digunakan oleh keluarga Pak RT selain dipakai menginap oleh para kerabatnya yg berkunjung.

Sedangkan rumah kedua yg berukuran lebih besar dan lebih bagus ditempati oleh istri dan anak-anak pak RT. Jika dibandingkan dengan rumah kedua ini, maka
maka rumah pertama lebih terlihat seperti rumah yg tidak terawat.

Kembali ke Pak RT dan Andre yg telah berada di teras rumah kedua, di mana Pak RT telah mengetuk pintu dan mengucap salam namun tiada jawaban.

"Pulas sekali si ibu dan Yati tidurnya. Sampai-sampai bapak ucap
salam tidak ada yg menyahut," gumam Pak RT seraya melihat ke arah jam tangannya yg menunjukkan pukul 00.45.

"Andre takut, Pak RT. Nenek itu seperti akan memangsa saya," ucap Andre gemetar.

"Iya, bapak juga melihatnya. Ini sangat aneh. Padahal sebelumnya tidak pernah ada
kejadian seperti itu. Rumah bapak yg itu aman-aman saja, kok," kata Pak RT.

"Pak, saya takutnya kejadian tadi itu gara-gara ada saya di sini. Saya takut ada sosok jahat yg terus mengikuti saya hingga mengganggu Pak RT juga. Mungkin alangkah baiknya saya kembali ke rumah saya,"
tutur Andre dengan nada sendu.

"Tidak mungkin begitu, nak Andre. Lagipula kejadiannya baru malam ini, kan? Di malam sebelumnya saat nak Andre sudah tinggal di sini tidak ada yg aneh-aneh, kok," sanggah Pak RT.

Andre terdiam seraya menatap kosong ke arah pintu rumah yg belum
juga dibuka.

"Aih, kok tidak bangun-bangun ini si ibu? Assalamualaikum. Bu? Ibu? Buka pintunya," ucap Pak RT kemudian mengucapkan salam dan berseru.

Masih tidak juga ada jawaban. Pak RT pun berinisiatif menghampiri jendela kamar istrinya dan mengetuknya seraya memanggil-
manggilnya.

"Bu? Bukain pintunya, bu. Bapak mau masuk," ucapnya kemudian tercenung. "Sudah biasa rumah tangga yg sudah tua. Si ibu lebih banyak membangkang kepada saya selaku suaminya. Ternyata rutin ikut pengajian tidak membuatnya menjadi lebih baik," gerutunya kemudian
kemudian kembali kepada Andre yg dilihatnya tengah celingukan dengan panik.

"Kenapa, nak Andre? Ada apa?" tanyanya kepada anak itu.

"Pak, sebaiknya saya pulang saja ke rumah. Saya takut, pak. Nenek itu sedang mengincar saya!" Andre membeliakkan kedua matanya ke arah satu sudut
yg dilihat oleh Pak RT tidak ada apa-apa.

"Baiklah, nak Andre. Bapak akan mengantarmu. Lagipula bapak enggan berurusan dengan ibu. Dia sudah seperti orang lain di dalam keluarga bapak. Ayo, nak Andre," tukas Pak RT.

Saat tengah malam lewat itu, Pak RT bersama Andre pergi
dengan menyusuri jalan perkampungan yg sunyi. Terkadang mereka dikejutkan oleh gonggongan anjing yg mendapati mereka berdua.

"Saya benci gonggongan anjing. Ketika ada pencuri, diam saja. Tapi ketika orang biasa lewat, gonggongannya sudah seperti kerasukkan setan saja," ucap
Pak RT dengan nada geram.

Tak berapa lama kemudian mereka berdua tiba di rumah Andre dan mendapati pintu depan terbuka.

"Rumahmu sepertinya ada yg menyatroni, nak Andre." Pak RT kemudian menyoroti pintu depan rumah Andre yg terbuka itu. "Garis polisi? Waduh, nak Andre. Rumahmu
tampaknya belum bisa diisi dulu," lanjutnya saat melihat garis polisi melintang di depan pintu.

"Pak Husin? Sedang apa malam-malam di sini?" seseorang mendadak muncul dan menegur Pak RT.

"Pak Usman? Saya juga ingin bertanya demikian," tukas Pak RT seraya melihat ke arah
kentongan yg dibawa bapak-bapak itu.

"Saya sedang melakukan ronda keliling, Pak Husin. Tadinya saya berdua sama Pak Jain. Tapi dia pulang dulu, sakit perut katanya. Oh, kenapa Andre malah dibawa kemari? Rumahnya kan dipasangi garis polisi," kata Pak Usman seraya menatap ke arah
Andre.

"Nak Andre diganggu ketika sedang di rumah saya yg pertama. Mau saya ungsikan ke rumah kedua, pintunya tidak dibukakan," tukas Pak RT.

"Diganggu? Waduh, bu Rokah selalu kebangetan. Ceraiin saja, pak. Sudah nggak benar itu," kata Pak Usman terdengar geram.
Pak RT menghela nafas.

"Pak Usman, saya tidak tahu harus mengungsikan nak Andre ke mana. Di rumah saya tidak aman. Di sini masih dalam pengawasan polisi," ucapnya.

"Saya sebenarnya tidak keberatan nak Andre tinggal di rumah saya. Masalahnya adalah di rumah saya sudah penuh
sesak oleh keluarga adik saya yg mengungsi. Pak Husin kan tahu adik saya habis diusir oleh kakak iparnya dari tanah di mana rumahnya berdiri," tukas Pak Usman seraya menghela nafas berat.

"Pak Usman tidak perlu merasa risau begitu. Saya akan ke desa malam ini juga. Biasanya di
di balai desa ada para warga yg piket. Biasanya mereka di sana hanya mengopi dan menonton bola," kata Pak RT kemudian menatap ke arah Andre.

"Ya sudah kalau begitu. Saya mohon maaf sekali tidak bisa membantu Pak Husin. Khususnya kepada nak Andre, saya benar-benar minta maaf.
Bukan karena tidak mau ketitipan, ya. Tapi ya karena itu tadi. Keluarga adik saya," kata Pak Usman sambil menepuk pundak Andre.

Pak RT kemudian membawa Andre ke balai desa, di mana selanjutnya ia menjumpai para warga yg sedang berjaga di sana. Mereka tampak terkejut dengan
kedatangan Pak RT dan Andre yg merupakan anak Nyai Lastri.

Semua orang tahu Nyai Lastri hilang diculik sekelompok orang yg menumpangi sebuah minibus dengan jendela yg telah diganti dengan penutup dari lembaran aluminium serta dicat kuning.

"Kejadiannya pada pagi hari tepat saat
orang-orang telah pergi bekerja. Rumah bu Lastri memang agak berjauhan dengan rumah tetangganya. Jadi wajar kalau kejadiannya luput dari perhatian," tutur salah seorang warga yg berjaga di sana.

"Konon para penculiknya adalah para pemuja setan. Apa benar begitu, Pak Ispin?"
"Mungkin saja, Pak Deki. Tapi kita tidak tahulah siapa sebenarnya para penculik bu Lastri. Bisa saja mantan suaminya yg pertama. Itu tidak menutup kemungkinan, lho. Mantan suami bu Lastri yg pertama kan tidak bertuhan," tukas Pak Ispin.

"Tidak bertuhan?" ucap Pak RT yg merasa
tidak setuju dengan kata-kata Pak Ispin.

"Mungkin maksud Pak Ispin, tidak percaya dengan adanya Tuhan," tukas Pak Deki.

"Ngomong-ngomong mantan suami bu Lastri. Memangnya bu Lastri sudah berapa kali kawin cerai?" tanya warga yg ikut nimbrung.
"Dua kali, Pak Idwan. Mantan suami yg pertama, nah itu yg tidak percaya dengan adanya Tuhan. Dengan yg ini ia tidak memiliki keturunan. Mantan suami yg kedua, ya ayahnya Andre ini. Jujur saya katakan ayahnya Andre adalah seorang terpelajar lagi berbudi. Ia suka menolong sesama.
Ia juga rajin serta memiliki hobi yg menunjukkan betapa jeniusnya dia. Sayangnya bu Lastri tidak menghargai akan kejeniusan suaminya itu. Karena tidak dihargai Itulah, bapaknya Andre ini lebih memilih bercerai," jelas Pak Ispin panjang lebar. "Sejak itulah bu Lastri menjanda
lanjutnya.

"Hmm, begitu, ya. Iya sih, Pak Inong orangnya memang cerdas serta ramah terhadap siapapun. Ia juga tidak pelit, tidak seperti mantan istrinya," komentar Pak Deki.

"Sudahlah, tidak perlu menjelek2kan orang yg sudah jelek. Lagipula kita belum tentu lebih baik daripada
orang yg kita bicarakan kejelekkannya," tukas Pak RT.

"Andre sudah tidur, pak? Tampaknya dia sangat mengantuk," kata Pak Ispin.

"Saya pikir sudah. Sekarang tinggal menunggu esok tiba. Saya ingin membicarakan soal Andre dengan Pak Kades. Mudah-mudahan saja ada solusi untuknya,"
kata Pak RT.

Saat esok pagi tiba, Pak RT dan Andre menemui Pak Kades yg pada hari itu tiba di balai desa lebih cepat.

"Jadi begitu ya, Pak Husin? Untuk masalah satu ini kita harus berkeliling desa untuk menanyakan apakah ada warga yg bersedia menampung nak Andre. Tapi
sebaiknya lupakan saja. Saya siap menampung nak Andre. Lagipula di rumah saya cukup longgar. Kebetulan ada satu kamar kosong. Kamarnya Ikbal, putera saya yg sekarang sedang kuliah di Jakarta," ucap Pak Kades setelah mendengarkan pemaparan Pak RT.

"Beneran Pak Kades mau menampung
nak Andre? Tapi ada satu hal yg tampaknya sangat mengganggu pikirannya, Pak Kades?" tukas Pak RT kemudian menoleh ke arah Andre.

"Saya beneran bersedia, Pak Husin. Saya akan merawat nak Andre seperti anak saya sendiri. Lalu apa yg mengganggu pikiranmu, nak Andre?" ucap Pak
Pak Kades seraya menatap ke arah Andre.

Andre terlihat seperti ragu-ragu untuk menjawab. Ia terlihat gelisah.

"Katakan saja, nak Andre. Tidak perlu ditutup-tutupi," kata Pak RT.

"Anu, Pak Kades. Saya merasa seperti sedang diikuti sesuatu yg selalu menakuti saya.
Saya khawatir kalau saya tinggal di rumah Pak Kades, nantinya justru saya malah menjadi beban. Bahkan menjadi pembawa sesuatu yg bisa membuat keluarga Pak Kades menjadi takut terhadap saya," tutur Andre seraya melirik ke arah sesosok gelap yg tengah berjongkok di sudut ruangan
balai desa.

"Itu hanya ketakutanmu saja, nak Andre. Tapi jangan khawatir, saya akan menemui Pak Isman. Beliau bisa membantu kita mengusir jin jahat yg selalu mengganggu," kata Pak Kades kemudian.

Setelah pembicaraan tersebut, Pak Kades bersedia menampung Andre hingga batas
waktu yg tidak ditentukan. Selama menampung Andre, memang selalu ada kejadian aneh yg terjadi di rumah Pak Kades.

Namun, berkat bantuan seseorang yg bernama Pak Isman, kejadian-kejadian aneh itu dapat diredam.

Hingga dua tahun berlalu. Pada suatu hari Pak Kades kedatangan
tamu yg ternyata adalah ayahnya Andre yaitu Pak Inong yg baru pulang dari luar negeri tepatnya Amerika Serikat.

"Pak Inong sudah pulang dari Amerika?" ujar Pak Kades saat bertemu dengan laki-laki itu di teras rumah.

"Iya, Pak Kades. Ini saya dari bandara langsung kemari. Saya
sudah tahu perihal penculikkan mantan istri saya sejak setahun yg lalu. Tapi saya saat itu belum bisa pulang. Saya di sana waktu itu sedang terlibat proyek pembuatan roket yg akan membawa satelit ke luar angkasa. Jadi saya tidak bisa meninggalkan proyek itu karena sudah terikat
kontrak dengan perusahaan pembuat roket," tukas Pak Inong kemudian melihat anaknya yg baru muncul dari dalam rumah.

"Andre? Kamu sudah besar sekarang, ya. Lama sekali ayah tidak bertemu denganmu. Maafkan ayahmu ini, nak. Ayah selama ini terlalu hanyut dengan kesibukkan,"
ucapnya sambil menghampiri Andre kemudian puteranya tersebut menyalaminya namun dengan ekspresi dingin.

"Ayah kebangetan. Kenapa ayah begitu jahat sama ibu? Ibu sekarang masih hilang, dan ayah tidak berusaha mencari ibu," kata Andre membuat Pak Inong terkesiap.
"Maafkan ayahmu ini, nak. Ayah kan selama ini di luar negeri. Sudah begitu di sana ayah juga sangat sibuk. Bukan ayah tidak mau bersama denganmu, nak. Tolong mengerti keadaan ayah, nak," tukas Pak Inong seraya berlutut dengan sebelah kaki di hadapan Andre.

Andre tidak berkata
sepatah kata pun. Ia malah mematung seraya menatap kosong ke arah pelataran.

"Ayah dari dulu selalu ingin merawatmu, nak. Ayah juga ingin membawamu ke Amerika. Tapi ibumu bersikeras agar kamu tetap bersamanya. Apalagi ayah kalah di pengadilan saat memperebutkan hak asuh dirimu,"
tutur Pak Inong. "Tapi sekarang ibumu menghilang. Sudah waktunya buat ayah merawatmu, nak. Ayah tidak akan kembali ke Amerika karena ayah sudah tidak terikat kontrak lagi dengan perusahaan itu," lanjutnya.

Pak Kades menatap ke arah Pak Inong seolah tanpa berkedip.
"Umm, maafkan tuan rumah yg kurang tatakrama ini, Pak Inong. Saya lupa menawari anda ke dalam dan duduk untuk menghilangkan penat setelah perjalanan jauh," ucapnya.

"Oh, tidak apa-apa, Pak Kades. Saya justru yg merasa tidak enak karena tiba-tiba datang dan mengganggu Pak Kades.
Apalagi saya juga tidak akan lama. Saya akan ke rumah mantan istri saya dahulu. Mungkin saya akan tinggal di sana bersama putera saya. Itu rumah saya juga, sih. Saya yg membelinya waktu saya dan Lastri masih berumah tangga," tukas Pak Inong.

Singkat cerita, Pak Inong memutuskan
untuk tinggal di rumahnya yg dulu ia tempati bersama istrinya yg kini telah menjadi mantan. Andre juga ia bawa ke rumah itu untuk tinggal lagi di sana.

"Rumah ini menyimpan banyak kenangan waktu ayah masih bersama ibumu. Mungkin seharusnya ayah waktu itu mengesampingkan ego
agar rumah tangga tetap bertahan. Ibumu benar, terlalu sibuk dengan hobi adalah suatu keegoisan yg hakiki. Seharusnya ayah mendengarkan apa kata ibumu agar ayah tidak diam saja di rumah untuk menekuni hobi yg tidak membawa manfaat itu," tutur Pak Inong seraya menatap foto mantan
istrinya yg terpampang di atas meja lampu.

"Terus apa sekarang ayah akan mencari ibu?" tanya Andre disambut tatapan bingung ayahnya tersebut.

"Ayah akan mencoba menelusuri segala hal yg mungkin bisa menjadi petunjuk bagi kita untuk menemukan ibumu. Ayah akan memulainya dari
Uson Lane. Dia adalah mantan suami pertama ibumu. Ayah tahu betul siapa Uson. Dia adalah orang Amerika dan seorang atheis. Ia juga adalah seorang satanis, pemuja Lucifer," kata Pak Inong setengah bergumam.

Singkat cerita, Pak Inong membuktikan komitmennya untuk menelusuri
keberadaan mantan istrinya. Meski gagal menemukan mantan suami Bu Lastri yg pertama, ia tetap melakukan penelusuran dengan cara mengumpulkan bukti-bukti yg mungkin bisa membawanya pada petunjuk yg benar tentang keberadaan mantan istrinya.

Meski demikian, apa yg dilakukan
Pak Inong sia-sia belaka karena mantan istrinya itu seolah hilang ditelan bumi. Bertahun-tahun mengumpulkan petunjuk, tidak jua berhasil menemukan atau setidaknya mengetahui di mana mantan istrinya itu berada.

Puteranya, Andre yg kini telah berusia 25 tahun, telah lulus kuliah
di Fakultas Kedokteran di salah satu Universitas ternama di Jakarta. Meski tidak lantas bekerja di rumah sakit besar, Andre cukup berbesar hati untuk bekerja sebagai mantri yg membuka klinik 24 jam tepat di depan rumahnya.

Hingga pada suatu waktu, Andre harus meninggalkan
kampung halamannya untuk mengabdi di suatu desa terpencil yg sama sekali belum tersentuh pembangunan. Di sana bahkan tidak ada fasilitas kesehatan semacam puskesmas apalagi klinik atau rumah sakit.

[Cerita mengenai Andre menjadi mantri desa terpencil telah ada di thread yg
yg berjudul SANG PEJALAN MALAM V2]

Di desa terpencil itu, Andre sempat mengalami suatu peristiwa yg cukup horor, yaitu berhadapan dengan sesosok makhluk seperti manusia namun sekujur tubuhnya berlumuran lumpur serta berjalan dengan kedua tangan dan kedua kakinya.
Dengan keberaniannya ia berhasil mengalahkan makhluk tersebut dan memaksa makhluk itu kembali ke habitatnya.

Sepulang dari menghadapi makhluk tersebut, ia justru kepikiran dengan kebaya hijau dan lukisan yg terpampang di dalam gubuk di pinggir rawa di mana ia mengalahkan
makhluk itu.

Kebaya hijau itu sangat mirip dengan kebaya yg dikenakan ibunya saat diculik orang-orang tidak dikenal pada 15 tahun yg lalu. Lukisan itu juga menampilkan sosok persis seperti sosok ibunya.

"Itu yg mengganggu pikiran saya selama ini, mang," ucap Andre saat sedang
menikmati teh hangat di ruang tengah bersama Mang Dimin.

"Ini membingungkan. Ibunya Pak Mantri ini diculik pada 15 tahun yg lalu saat Pak Mantri baru berusia 10 tahun? Sudah lama juga, ya. Terus kebayanya bagaimana bisa ada di dalam gubuk itu, ya? Apa para penculiknya membawa
ibu Pak Mantri ke Rawa Gaib? Untuk apa, ya?" kata Mang Dimin bingung sendiri.

Ketika mereka sedang berbincang, dari arah teras terdengar suara seorang perempuan mengucapkan salam.

"Assalamualaikum."

"Wa'alaikumsalaam Wr. Wb.," Andre dan Mang Dimin pun menjawab salam kemudian
serentak menuju pintu depan.

"Mbak Sarnah? Tumben kemari? Mau berobat, kah?" tegur Andre seraya menatap gadis yg mengenakan jilbab berwarna merah serta gamis berwarna hitam.

"Cuma pengen main aja, Pak Andre. Pak Andre sudah lama di sini tapi saya belum pernah berkunjung.
Kalah start saya sama Rahayu," tukas Sarnah kemudian menatap ke arah Mang Dimin. "Eh, ada pamannya Rahayu. Jadi nggak enak, nih," ucapnya.

"Rahayu itu calon istrinya Pak Mantri, lho. Saya pastikan itu. Hehehe," tukas Mang Dimin kemudian terkekeh.

Sarnah hanya tersenyum sambil
menunduk.

"Saya kan tidak sedang bersaing, mang. Lagipula kan jodoh siapa yg tahu," ucapnya.

"Benar, mbak. Yg penting mah ikhtiarnya dan jangan lupa berdoa," tukas Mang Dimin.

"Iya, mang. Oh, iya Pak Andre. Konon rumah ini dibangun di atas kuburan massal. Kalau menurut para
warga, di rumah ini sering terjadi hal-hal aneh seperti kemunculan penampakan arwah para penghuni kuburan massal ini," kata Sarnah seraya mengedarkan pandangannya.

"Saya memang sempat melihat beberapa penampakan di sini. Tapi tidak ada satupun yg mengganggu. Saya sih di
di sini merasa aman-aman saja, mbak," tukas Andre.

"Rumah ini tidak benar-benar berdiri di atas kuburan massal itu, mbak. Kuburan massal itu adanya di sana yg penuh ilalang itu, mbak. Di sana juga ada dua batang pohon beringin kecil," ucap Mang Dimin sambil melihat ke arah area
yg dimaksud.

"Oh begitu ya, mang. Emm, saya kemarin bertemu Rahayu di alun-alun. Ia membicarakan soal Pak Andre yg tiba-tiba seperti galau saat pulang dari Rawa Gaib. Apa yg membuat Pak Andre menjadi galau? Apa ada sesuatu yg mengganggu, pak?" Sarnah menatap ke arah Andre
seolah tidak berkedip.

"Saya hanya teringat ibu saya, mbak. Kebaya hijau yg saya temukan di dalam gubuk di pinggir rawa-rawa itu membuat saya kepikiran ibu saya terus. Ia sudah lama sekali menghilang." Andre menghela nafas setelah menceritakan soal apa yg mengganggu pikirannya.
"Kebaya hijau di dalam gubuk di pinggir rawa? Ada lukisannya juga kan di sana, Pak Andre?" Sarnah menatap Andre dengan serius.

"Iya, benar. Mbak Sarnah tahu dari Rahayu soal lukisan itu?" tukas Andre.

"Umm, kebaya itu sebetulnya punya saya, Pak. Mang Udin yg menaruhnya di sana
bersama lukisan ibu angkat saya. Kebaya itu awalnya milik ibu angkat saya yg kemudian beliau berikan kepada saya." Penuturan Sarnah membuat Andre terkejut dan dengan cepat melontarkan pertanyaan.

"Ibu angkat? Namanya siapa, mbak? Di mana dia sekarang?" tanya Andre seraya
menatap Sarnah tanpa berkedip.

"Pak Andre kenapa sih kok bertanyanya cepat banget? Satu-satu dong, pak nanyanya," tukas gadis itu merasa risih.

"Maafkan saya, mbak. Saya hanya merasa penasaran. Saya ingin segera tahu siapa pemilik pertama kebaya itu," tukas Andre mencoba
menenangkan diri.

"Baiklah, Pak Andre sayang. Nama ibu angkat saya adalah Ismi Rukiyah. Ia sekarang tinggal di Bulungan, Kalimantan Utara. Beliau sudah tiga tahunan tinggal di sana bersama suaminya yg seorang bule," tutur Sarnah membuat Andre semakin penasaran saja.
"Kenapa ia meninggalkanmu sendiri di sini, mbak?" tanya Andre.

"Saya tidak sendiri, Pak Andre. Saya tinggal bersama bibi saya di kampung ini. Bu Ismi tadinya hendak membawa saya ke Kalimantan. Tapi saya tidak mau karena suaminya itu mencurigakan, Pak Andre," jelas Sarnah.
"Mencurigakan?" Andre mengerutkan kening.

"Suami bulenya ibu angkat saya terlihat seperti seorang playboy, Pak Andre. Ia jelalatan jika melihat saya. Bahkan ia pernah mengintip saya saat sedang berganti pakaian di dalam kamar," tukas Sarnah.

"Mbak Sarnah, saya penasaran apa
tujuan mbak Sarnah menaruh kebaya dan lukisan di dalam gubuk itu. Apa itu semacam syarat ritual?" ujar Mang Dimin.

"Umm, seperti itulah, Mang Dimin. Dulu waktu kebaya itu masih saya simpan di rumah, sering sekali ada kejadian yg hampir mencelakakan saya. Salah satunya ketika
saya mengenakan kebaya itu ke kondangan. Waktu itu saya tiba-tiba terjatuh kemudian terseret jauh oleh sesuatu yg tidak terlihat. Bekas lukanya pun masih ada," jelas Sarnah kemudian menyingkapkan lengan gamisnya dan tampaklah bekas luka yg cukup lebar terpampang di lengannya.
"Karena itulah saya menaruhnya di gubuk itu bersama lukisan ibu angkat saya. Lagipula kebaya itu telah robek besar karena kejadian itu. Kenapa saya tidak membuang atau membakarnya? Saya hanya mengikuti saran Abah Dasri agar tidak sembarangan membuang kebaya itu. Membuangnya pun
harus sesuai dengan apa yg disarankan oleh orang pintar."

"Begitu rupanya. Rumit juga, ya," tukas Mang Dimin.

"Pak Andre, Mang Dimin. Saya ingin bertanya sesuatu, nih. Boleh nggak saya tinggal di sini?" ucap Sarnah membuat Andre dan Mang Dimin terkejut.
"Apa saya tidak salah dengar, mbak? Sebaiknya mbak Sarnah jangan yg aneh-aneh, deh. Apa kata orang, perempuan lajang tinggal bersama dua orang laki-laki yg juga lajang? Nanti bisa timbul fitnah, lho," tukas Mang Dimin dengan nada tidak setuju.
"Bukan. Maksud saya, biar saya tinggal di sini sendiri. Mang Dimin sama Pak Andre bisa tinggal di rumah Pak Sarija yg kemarin baru saja ditinggalkan pemiliknya merantau. Rumahnya yg itu tuh, yg gentingnya berwarna biru. Nggak jauh dari sini," tukas Sarnah membuat Mang Dimin
dan Andre saling pandang.

"Kenapa tidak mbak saja yg tinggal di sana? Lagipula memangnya pemiliknya membolehkan rumahnya untuk diisi oleh siapa saja?" tanya Andre penasaran.

"Pak Sarija sudah menitipkan kuncinya kepada saya, Pak Andre. Beliau juga berpesan kalau ada yg
membutuhkan tempat tinggal sementara bisa mengisi rumahnya. Tapi ia juga bilang, tolong urus rumahnya dan jangan sampai dirusak. Nah, kenapa saya tidak mau mengisi rumah Pak Sarija? Karena di sana tidak ada tempat tidur yg pernah ditempati oleh Pak Andre," tutur Sarnah seraya
menatap genit ke arah Andre.

"Ya elah, cuma itu alasannya? Mbak Sarnah ini ternyata tipe-tipe orang yg gampang tergiring oleh sesuatu yg dianggap spesial. Lama-lama mbak Sarnah ini bisa membeli tisu toilet bekas cebok artis terkenal, nih," tukas Mang Dimin seraya menepuk kening
"Saya tidak sebodoh itu, mang. Najis kalau saya ikut-ikutan tren memuja idola secara berlebihan. Itu namanya sudah nggak waras," kata Sarnah ketus.

Setelah mendapatkan keterangan dari Sarnah mengenai pemilik pertama kebaya hijau yg ditemukan di dalam gubuk pinggir rawa, Andre
menelepon ayahnya untuk memberitahukan hal tersebut.

"Kata puteri angkatnya, ia sekarang berada di Bulungan, Kalimantan Utara, bersama suami bulenya. Mungkin saja suami bulenya itu adalah Uson Lane yg ayah ceritakan dulu," ucap Andre melalui sambungan telepon. "Saya akan ikut
ayah ke sana. Saya benar-benar merasa penasaran apakah benar ibu angkatnya teman saya ini adalah ibu atau orang lain," lanjutnya.

Singkat cerita, Andre memutuskan untuk pulang ke kampungnya. Sementara tugasnya sebagai mantri desa digantikan oleh orang lain.
Setelah pulang kampung, Andre bersama ayahnya pun berangkat menuju bandara untuk selanjutnya bertolak menuju Pulau Kalimantan.

Cerita dipersingkat kembali. Andre dan Pak Inong telah tiba di salah satu kota kecil di Bulungan. Mereka pun menanyakan seputar keberadaan orang yg
mereka cari kepada orang-orang yg ditemuinya.

"Tidak kenal, tuh," tukas seorang pejalan kaki yg ditanyai oleh Pak Inong.

Hampir seharian mereka berdua menanyai orang-orang hingga kemudian seorang nenek-nenek menghampiri mereka berdua.
"Untuk apa menanyakan orang-orang ini, nak?" ujar nenek itu membuat Pak Inong menoleh ke arahnya.

"Nenek tahu mereka?" tanya Pak Inong penuh harap.

"Kalau memang nenek tahu lalu kamu mau apa? Mau nenek tunjukkan di mana mereka?" tukas nenek itu disambut tatap keheranan
Pak Inong dan Andre.

"Iya, nek. Tolong tunjukkan di mana mereka," kata Andre tidak sabar.

"Hehehe. Ikuti nenek," tukas nenek itu seraya berlalu pergi.

Andre dan Pak Inong pun segera mengikuti nenek tersebut hingga mereka tiba di suatu area yg merupakan hutan lebat yg
terletak dekat dengan kota.

"Kenapa nenek membawa kami kemari?" tanya Andre penasaran.

Nenek itu tidak menjawab. Ia menunjuk ke arah hutan sambil sesekali melihat ke arah Andre dan Pak Inong.
"Maksud nenek apa? Kenapa menunjuk ke arah hutan? Apa mereka tinggal di dalam hutan?" tanya Pak Inong tampak bingung. "Saya akan mencoba menelusurinya menggunakan drone. Itu supaya kita tidak capek-capek berjalan ke sana tapi tidak menemukan apa-apa," lanjutnya seraya
mengeluarkan drone-nya dan mengaktifkannya.

Tiba-tiba nenek itu merampas drone Pak Inong dan melemparkannya ke belakangnya.

"Nenek ini apa-apaan?" Pak Inong terkejut seraya berupaya mengambil drone-nya yg dilempar nenek tersebut.
"Menjauhlah kalian darinya! Dia nenek gila!" teriak seseorang yg baru tiba dengan sebuah truk colt diesel berwarna perak.

Orang tersebut turun dari truknya dan secara tiba-tiba mendorong nenek tersebut hingga jatuh ke jurang di pinggir jalan. Kejadian itu jelas membuat Andre
dan Pak Inong terkejut bukan kepalang.

"Apa yg kau lakukan! Kau bisa membunuhnya!" teriak Pak Inong kemudian menghampiri laki-laki yg baru saja mendorong nenek tersebut ke dalam jurang.

"Dia bukan nenek biasa. Lihat itu," tukas laki-laki itu seraya menunjuk ke bawah jurang.
Terlihat di sana nenek tersebut sedang terbungkuk-bungkuk sambil tertawa dengan sangat nyaring.

"Hehehehe... Hehehehe...."

Tentu saja Pak Inong dan Andre sangat terkejut melihat hal itu. Di benak mereka lantas bertanya-tanya siapa nenek itu sebenarnya.
"Kita harus segera pergi. Kalian ikut saya. Sangat berbahaya jika tetap berada di sini. Kita harus menjauh darinya," kata laki-laki itu seraya berjalan tergesa menuju truknya. "Ngomong-ngomong saya Arkim. Kalian berdua pasti pelancong yg sedang mencari seseorang di sini.
Ayo masuklah," ucapnya seraya membuka pintu kabin truknya.

Tanpa membantah, Pak Inong dan Andre naik ke dalam kabin truk milik laki-laki bernama Arkim itu. Selanjutnya Arkim melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.

Beberapa lama kemudian setelah mobil menjauh dari lokasi
kejadian barusan.

"Siapa nenek itu sebenarnya? Dia sepertinya tahu siapa yg sedang kami cari," ujar Andre penasaran.

"Ia biasa dipanggil Roh Hayati atau Nenek Hayati. Konon ia memiliki ajian Rawa Rontek. Bukan konon, sih. Kita sudah melihat bagaimana kemampuannya setelah saya
dorong ke dalam jurang. Sayangnya ia bukan orang waras. Ia adalah hantu hidup yg sering meneror orang-orang tertentu terutama para pendatang baru," jelas Arkim seraya melihat ke arah spion.

"Lalu soal dia tahu orang yg sedang kami cari, apakah itu beneran?" tanya Pak Inong.
"Bisa benar bisa juga salah. Ia terkadang suka bermain trik untuk kemudian memangsa lawannya yg kalah. Memangnya siapa yg sedang kalian cari?" tukas Arkim kemudian bertanya.

"Apa anda pernah melihat perempuan ini?" ucap Pak Inong sembari memperlihatkan selembar foto mantan
istrinya.

Arkim menoleh sebentar ke arah foto itu kemudian mengembalikan pandangannya ke depan.

"Saya pernah melihatnya ketika baru kembali dari hutan setelah ditahan oleh orang-orang rimba," tukas Arkim. "Namanya Ismi Rukiyah, kan?" lanjutnya membuat Andre dan Pak Inong
terkejut.

"Berarti ibu angkatnya teman saya adalah ibu, yah," kata Andre sambil menatap ke arah ayahnya itu.

"Mas Arkim ini pernah bertemu dengannya di mana?" tanya Pak Inong penuh antusias.

"Di kota tempat teman-teman berkelana saya tinggal. Saya akan membawa kalian ke sana
sekarang juga. Kebetulan dari sini tidak begitu jauh," tukas Arkim kemudian.

Andre dan Pak Inong pun merasa begitu antusias setelah mendapatkan titik terang tentang keberadaan perempuan yg sudah dipastikan adalah Bu Lastri.

Saat itu hari telah beranjak gelap. Jalanan yg akan
akan dilalui pun terlihat begitu gelap karena tiadanya lampu jalan. Hanya lampu depan truk itu yg menerangi jalan di depan.

"Oh, tidak. Di depan sana itu area pencegatan. Kita harus siap jika itu muncul," ucap Arkim dengan waswas.

"Area pencegatan? Apa itu?" tanya Andre
penasaran.

"Itu semacam tempat munculnya penampakan makhluk halus. Bisa berupa ular yg sangat besar atau hewan buas yg tidak biasa," tukas Arkim.

"Saya pikir itu hanya cerita rakyat. Lebih ke mitos biasanya," kata Pak Inong menimpali.
Saat truk melewati salah satu sudut jalan yg berdekatan dengan suatu rumpun bambu yg rindang, terlihat dua ekor harimau berukuran lebih besar daripada harimau biasa sedang menggeliat di pinggir jalan.

"Harimau? Tapi kok besar sekali, ya? Lebih besar daripada harimau kebanyakan.
Ada dua, lagi," komentar Andre yg merasa waswas dengan kemunculan dua binatang buas itu.

"Hal yg perlu kita lakukan adalah tetap tenang. Beruntung, mereka tidak menghalangi jalan," ucap Arkim seraya terus melajukan kendaraannya.

Namun kemudian Arkim melihat melalui kaca spion
jika kedua harimau tersebut mengejar truk yg dikendarainya. Alhasil, Arkim pun panik dibuatnya. Ia lantas menginjak pedal gas dalam-dalam hingga truk yg dikendarainya seperti hendak terbang.

"Jangan kencang-kencang, mas Arkim. Nanti kalau nabrak bagaimana?" pekik Pak Inong
merasa ngeri.

Karena truk melaju cukup cepat, tidak terasa mereka pun telah tiba di lokasi tujuan. Kedua harimau itu juga tidak nampak lagi di belakang truk.

Arkim pun akhirnya dapat memelankan laju kendaraannya untuk kemudian berbelok ke kanan menuju tempat tinggal
teman-temannya yg ia singgung sebelumnya.

Sesampainya di depan suatu bangunan berlantai dua, mirip dengan kos-kosan, Arkim menghentikan laju truknya.

"Kita sudah sampai. Ini adalah mess para pekerja di mana teman-teman saya tinggal," ujar Arkim kemudian turun dari kabin
truknya.

Tak berapa lama Arkim berjumpa dengan dua orang laki-laki yg tampaknya seumuran dengan Andre. Mereka berdua terlihat keheranan dengan kedatangan Arkim bersama dua orang yg bersamanya.
"Kim, ngapain malam-malam kemari bawa truk? Mau ngangkut?" ujar salah seorang teman Arkim.

"Bukan, dan. Aku kemari mengantar dua orang itu. Mereka ingin bertemu dengan Bu Ismi. Tapi aku tidak berani mengantar mereka sendiri," tukas Arkim disambut tatapan serius dari dua orang
temannya itu.

"Waduh, kim. Apa tidak salah mereka ingin bertemu Bu Ismi. Apa mereka tamu penting Bu Ismi? Kalau bukan, bisa gawat. Suami Bu Ismi kan seorang yg mengerikan. Mungkin dia bukan manusia melainkan iblis," tukas yg satunya lagi. "Dani mungkin mau mengantarmu.
Kalau aku sih ogah. Aku masih ingin hidup, lho," lanjutnya.

"Aku juga kalau untuk urusan dengan Bu Ismi, ogah banget, deh," tukas Dani.

"Waduh kalian ini. Masalahnya ini sangat urgent. Bu Ismi itu adalah ibu dari orang itu tuh yg lebih muda. Kalau yg satu lagi adalah mantan
suaminya," kata Arkim gusar.

"Jadi mereka adalah keluarganya Bu Ismi?" tukas Dani kemudian menghampiri Pak Inong dan Andre yg sedang berdiri termangu di depan bangunan mess.

"Bagaimana? Apa kalian siap mengantar kami ke rumah Bu Ismi?" ujar Pak Inong saat Dani tiba di
hadapannya.

"Siap tidak siap sih, pak. Pergi ke sana sangat berisiko. Banyak setan yg akan menghalangi," tukas Dani. "Ngomong-ngomong saya Dani. Tadi Arkim sudah menyebutkan perihal keinginan bapak dan masnya ini. Seperti yg sudah saya bilang, pergi ke sana sangat berisiko,"
lanjutnya seraya melihat ke arah Arkim dan temannya yg satunya yg menghampirinya.

"Saya tidak mengerti. Setan yg akan menghalangi? Itu terdengar tidak masuk akal," tukas Pak Inong heran.

"Pokoknya akan ada banyak kejadian mistis di perjalanan, pak. Bahkan di antaranya bisa
saja membunuh kita karena saking kuatnya entitas mistik di sana. Saya tidak tahu kenapa bisa begitu. Mungkin saja suami Bu Ismi adalah seorang pengguna ilmu hitam," jelas Dani seraya menatap ke arah Pak Inong.

Pak Inong terlihat tercenung.

"Mungkin kita membutuhkan orang
pintar di perjalanan, mas. Kita tidak bisa sembarangan pergi ke sana. Harus ada bekal untuk kita pergi ke sana," kata Andre mengusulkan.

"Bisa, bisa. Saya ada kenalan. Besok saya akan menemuinya. Nanti biar dia yg memutuskan kapan kita akan berangkat," tukas Dani kemudian.
Singkat cerita. Keesokan harinya Dani menemui seseorang yg dianggap sebagai orang pintar atau paranormal. Dani pun mengutarakan maksudnya.

"Begitu, ya? Hutan Mati Sunyi memang dikenal akan keangkerannya. Karena itulah Bu Ismi dan suaminya memilih tinggal di sana. Mereka tidak
ingin ada orang yg mengganggu kehidupan mereka. Sangat-sangat misterius," ucap laki-laki setengah baya yg ditemui oleh Dani tersebut.

"Benar, Pak Ihsan. Kehidupan dua orang itu sangat misterius. Kenapa mereka memilih hidup seperti di pengasingan? Mereka bahkan tidak mau menerima
tamu. Apalagi tamu tidak diundang," kata Dani. "Terakhir saya melihat mereka waktu setelah kita pulang dari kota itu. Mereka terlihat begitu grasa-grusu seperti sedang diuber-uber," lanjutnya.

"Iya, mereka sepertinya sedang menyembunyikan sesuatu yg sangat rahasia. Sampai-sampai
mereka memilih hidup jauh dari keramaian," tukas Pak Ihsan. "Saya siap berangkat nanti hari Rabu. Kalau besok, saya ada urusan penting yg tidak bisa ditinggalkan. Kabari mereka, ya," lanjutnya.

"Baiklah, Pak Ihsan. Saya akan mengabari mereka," tukas Dani kemudian pamit untuk
pulang.

Singkat cerita. Di hari yg telah ditentukan, Andre bersama Pak Inong, Dani, Pak Ihsan, Arkim, dan satu orang lagi yg bernama Arhan, memulai perjalanan menuju ke tengah hutan dengan menggunakan sepeda motor berboncengan. Andre membonceng ayahnya, Dani membonceng Arhan,
dan Arkim membonceng Pak Ihsan.

"Kita tidak boleh merusak motornya. Ingat ini semua motor ini adalah motor rental," ujar Arhan yg dibonceng Dani dengan motor mereka berada paling depan.

"Jangan khawatir. Paling motornya hilang pas sudah di dalam hutan," tukas Arkim kemudian
melajukan motornya.

Tiga sepeda motor trail tersebut langsung menuju ke suatu jalan tanah yg mengarah ke dalam hutan setelah keluar dari area kota kecil. Sepanjang jalur yg berupa tanah itu, rumpun-rumpun menjuntai ke jalan. Jalur itu juga tampak begitu teduh karena saking
lebatnya rumpun-rumpun bambu di sepanjangnya.

Saat mencapai area yg dipenuhi pepohonan rendah berdaun lebat, mereka merasakan ada hal ganjil yg tiba-tiba muncul.

"Kita telah memasuki lingkaran gaib yg diciptakan seseorang yg memiliki ilmu hitam. Tetap jeli melihat sekitar.
Bisa saja mereka muncul dan menyergap," ujar Pak Ihsan seraya mencabut pisau dari sarungnya yg ia selipkan di pinggangnya.

"Apa kita memang harus menggunakan senjata? Bukannya yg akan kita temui selama perjalanan adalah makhluk halus?" tanya Arhan sambil mengedarkan
pandangannya.

"Bukan tidak mungkin kita akan berhadapan dengan para bodyguard suaminya Bu Ismi. Mereka biasanya tinggal dengan berkemah di dalam hutan agak jauh dari rumah Bu Ismi," tukas Pak Ihsan seraya melirik ke arah sebatang pohon kecil di sebelah kiri yg tampak
bergoyang-goyang.

"Berhenti!" ujar Dani seraya menghentikan sepeda motornya kemudian melihat ke arah pohon kecil yg juga dilihat oleh Pak Ihsan.

Semua orang yg mengendarai sepeda motor serentak menghentikan laju kendaraannya. Mereka celingukan saat mendengar suara seperti
siulan.

"Di depan sana," ucap Pak Ihsan saat melihat siluet dari sosok-sosok berukuran kecil dan ramping yg berdiri di tengah jalan.

"Apa kita terobos saja mereka?" tanya Arkim sambil melihat ke arah Pak Ihsan.

"Jangan. Terlalu berisiko. Kita hadapi mereka secara langsung.
Biar saya saja yg paling depan. Kalian yg mahir beladiri sebaiknya bersiap-siap," tukas Pak Ihsan.

Semua orang turun dari kendaraannya masing-masing. Mereka semua berjalan menghampiri ke arah sosok-sosok kecil yg terlihat begitu samar.

"Mereka seperti bayangan. Jangan-jangan
mereka memang bayangan. Tentu senjata kita tidak akan mempan terhadap mereka," kata Arkim yg kini tengah menggenggam sebilah golok.

"Kita hanya perlu mendesak mereka. Jika mereka balik menyerang, kita harus siap," tukas Pak Ihsan seraya berjalan cepat ke arah sosok-sosok
tersebut.

Pak Ihsan dengan cekatan menusukkan pisaunya ke arah salah satu sosok yg terlihat maju sambil menyerang ke arah Pak Ihsan.

"Astaga! Kalau tahu akan begini, lebih baik kita lupakan saja ibumu. Kita tidak tahu apakah kita akan berhasil melewati sosok-sosok itu," ucap
Pak Inong yg berdiri di belakang Andre. "Sayangnya rasa kepenasaran kita justru membawa kita kemari, ke tempat yg menakutkan ini."

"Kita sudah terlanjur melangkah terlalu jauh, yah. Mungkin tidak ada jalan kembali. Yg ada hanya terus maju," tukas Andre seraya memperhatikan
Pak Ihsan dan para petarungnya, mendesak sosok-sosok yg terlihat samar itu.

"Dari sini kita berjalan kaki. Lokasinya tidak jauh dari sini," ujar Pak Ihsan seraya terus maju dengan pisau terhunus di tangannya.

Andre dan Pak Inong pun mengikuti Pak Ihsan dan yg lainnya. Mereka
berdua melihat Pak Ihsan dan para anak buahnya, terus merangsek ke arah sosok-sosok yg terus mundur itu.

"Apa ayah tidak berpikir jika sosok-sosok itu adalah bayangan mereka?" kata Andre setengah berbisik.

"Masalahnya kalau memang itu bayangan mereka, lalu kenapa posisinya
berada di arah yg berlawanan dengan posisi bayangan yg sebenarnya. Lagipula sinar matahari terhalang rerimbunan daun yg begitu tebal. Jadi otomatis di sini kita tidak bisa bayangan kita sendiri," tukas Pak Inong seraya menatap ke depan.

Tak lama kemudian sosok-sosok gelap yg
samar-samar itu menghilang ketika mencapai area yg terkena sinar matahari. Rombongan Pak Ihsan pun dapat bernafas lega.

Mereka pun melanjutkan langkahnya hingga beberapa menit kemudian berhenti di suatu jalur menurun dengan jurang di kiri dan kanannya. Dari posisi mereka saat
ini, mereka dapat melihat atap sebuah bangunan besar berupa genting dengan warna oranye.

Bangunan tersebut terletak di bawah jalur menurun dan terhalang rerimbunan daun pepohonan.

"Yang perlu kita lakukan adalah tetap berada di bawah sinar matahari.
Jika kita mencapai area yg tidak terkena sinar matahari, usahakan untuk selalu tetap waspada. Sosok-sosok itu bisa saja menjelma menjadi pasukan demit yg akan menyerang kita," ujar Pak Ihsan seraya melihat ke arah bangunan tersebut.
Kondisi di area yg dibatasi oleh tembok tinggi tampak gelap karena sinar matahari terhalang oleh rimbunnya dedaunan pepohonan. Tampak enam orang yg dipimpin oleh Pak Ihsan, berjalan perlahan sembari sesekali melongok ke sekitarnya.

Mereka terus berjalan hingga mencapai pintu
gerbang yg tertutup rapat. Sepertinya pintu gerbang itu dikunci dari dalam yg menandakan bahwa di dalam sana ada penghuni. Mungkin para penghuninya sudah mengetahui bahwa mereka akan kedatangan tamu tidak diundang.

"Permisi. Ibu Ismi, adakah di dalam?" ujar Pak Ihsan dengan
suara agak nyaring. "Bu Ismi, saya ada perlu dengan ibu. Tolong kemarilah," lanjutnya kemudian melirik ke arah kiri dari posisinya berdiri.

"Pak, sosok-sosok itu muncul lagi. Bahkan di antaranya ada yg terlihat jelas berwujud seperti serigala yg berdiri dengan dua kaki," ucap
Arhan dengan suara yg dipelankan.

"Gawat! Mana tempat ini tidak terkena sinar matahari. Seharusnya kita juga membawa gergaji mesin untuk menyingkirkan pohon yg menghalangi sinar matahari," kata Arkim sambil melihat ke arah sosok-sosok tersebut.

Sedangkan Pak Ihsan masih sibuk
memanggil-manggil nama pemilik rumah hingga berkali-kali. Namun, penghuni tetap tidak mau menyahut.

Sementara Andre dan Pak Inong terlihat saling pandang. Mereka kemudian menghampiri pintu gerbang itu.

"Lastri, ini aku Inong. Aku kemari bersama putera kita. Dia sekarang sudah
menjadi seorang lelaki yg gagah," ucap Pak Inong dengan nyaring.

"Pak Inong! Kenapa anda tidak mematuhi saya?" Pak Ihsan tampak terkejut dengan apa yg telah dilakukan Pak Inong. "Saya kan sudah bilang agar jangan dulu bersuara apalagi menyebut nama asli Bu Ismi."
Pak Inong tidak menggubris Pak Ihsan. Ia terus saja memanggil-manggil nama mantan istrinya itu. Bahkan ia memanggil nama laki-laki yg mungkin adalah suaminya mantan istrinya itu.

"Uson Lane! Kau ada di situkah? Keluar kau!" teriaknya membuat Pak Ihsan semakin merasa khawatir.
Namun Pak Ihsan tidak dapat mencegah apa yg dilakukan Pak Inong karena ia sekarang sibuk berhadapan dengan beberapa sosok makhluk bertampang menakutkan.

Arkim, Dani, dan Arhan pun turut berhadapan dengan sosok-sosok yg terlihat begitu buas itu.

"Ayah, ini bisa berakhir buruk.
Kita harus waspada," ucap Andre saat mendengar suara derap langkah kaki seseorang yg sepertinya sedang berlari ke arah pintu gerbang.

"Inong? Apa aku tidak salah dengar kamu berada di sini?" Terdengar suara seorang perempuan yg tidak asing lagi di telinga Pak Inong maupun Andre
"Ibu? Ini aku Andre. Aku juga di sini," sahut Andre dengan tidak sabar menggedor-gedor pintu gerbang yg terbuat dari besi tebal itu.

"Andre? Andre anakku?" sahut suara perempuan itu. "Ukhhhh!" Tiba-tiba terdengar suara jerit kesakitan dari perempuan di seberang pintu gerbang itu
"Ibu? Apa yg terjadi, bu?" Andre berteriak sambil berusaha membuka pintu gerbang.

"Lastri, apa yg terjadi? Bertahanlah. Kami akan segera masuk ke sana." Pak Inong sekuat tenaga mendorong pintu besi itu namun tidak bergeming.

Sementara Pak Ihsan bersama para anak buahnya yg
sedang berjibaku melawan sosok-sosok menakutkan, tampak terdesak ke arah belakang tepatnya ke arah jurang yg berhadapan dengan rumah besar itu.

"Sial! Kita bisa mati kalau begini!" ujar Arkim sambil menebaskan goloknya ke arah sosok berwujud seperti nenek-nenek yg membawa
tongkat serta berwajah menyeramkan.

Sosok-sosok mengerikan itu mengeluarkan beragam suara desisan aneh yg membuat siapapun yg mendengarnya akan merasa ciut nyalinya.

"Pak Inong, Andre. Kalian harus berhasil membuka pintu itu atau kami dan Bu Ismi akan mati. Selanjutnya kalian
harus mengalahkan bule itu!" teriak Pak Ihsan yg semakin terdesak ke belakang oleh sedikitnya selusin makhluk aneh dan mengerikan.

Pak Inong dan Andre dengan tergesa-gesa berupaya mendobrak pintu besi itu. Gagal dan gagal selalu terjadi saat mereka berdua berusaha membuka pintu
yg terbuat dari besi itu. Sementara Pak Ihsan dan yg lain hampir mencapai bibir jurang.

"Andre, Pak Inong, lakukan sesuatu!" teriak Arhan dengan nafas megap-megap sambil berusaha mengimbangi serangan para makhluk aneh itu.

Andre mendadak berlari ke arah sebatang pohon
kemudian memanjatnya sebisa mungkin. Setelah berhasil memanjat pohon tersebut, ia langsung menebas beberapa ranting menggunakan parang yg sedari awal ia bawa.

Satu hingga empat ranting belum cukup untuk membuat sinar matahari masuk ke area di mana sedang terjadi pertempuran.
Andre pun dengan terburu-buru menebas ranting-ranting sebanyak mungkin.

Usahanya pun berhasil, seberkas sinar matahari memasuki sela-sela dedaunan yg telah dikurangi kepadatannya oleh Andre.

Sinar matahari yg masuk meski tidak begitu banyak namun cukup untuk mengusir para
makhluk aneh yg sedang dihadapi Pak Ihsan dan yg lain. Mereka pun selamat dan segera berlari menjauh dari bibir jurang.

"Kerja bagus, nak Andre," ucap Pak Ihsan saat tiba di depan Andre yg baru turun dari atas pohon.

"Kita dobrak pintu itu! Menyingkir, Pak Inong!" teriak Dani
yg ternyata telah membawa sebatang pohon berukuran sedang dibantu Arkim dan Arhan.

Pak Inong sesegera mungkin menyingkir, dan...

Brakkkkkk

Batang pohon yg digotong dan ditumbukkan ke pintu gerbang, berhasil merobohkan pintu gerbang tersebut hingga terhempas ke dalam.
Setelah daun pintu terhempas, tampaklah area pelataran yg terlihat kosong tanpa seorang pun di sana.

"Ibu tidak ada di sana! Sepertinya ia telah dibawa masuk ke dalam sana," kata Andre seraya berlari memasuki area pelataran diikuti yg lain.

Pak Ihsan mengamati lahan pelataran
yg sebagian terdiri dari jalur beton yg jika diamati secara seksama akan membentuk pola lingkaran dengan bintang terbalik. Ia kemudian mendapati bercak darah yg cukup banyak di salah satu permukaannya. Kemudian terdapat beberapa bercak darah yg mengarah ke samping kanan bangunan
rumah bercat serba putih itu.

"Ibu? Jangan-jangan ibu telah dibunuh!" pekik Andre yg juga melihat bercak-bercak darah tersebut.

"Bajingan!" Pak Inong tampak tersulut amarah kemudian berlari mengikuti jejak bercak darah itu.

"Arkim, Arhan, Dani, kalian tebangi pohon-pohon
ini atau minimal kalian singkirkan dahan-dahannya. Usahakan tempat ini menjadi terang oleh sinar matahari. Kita juga harus menyelesaikan ini sebelum matahari terbenam. Atau kita akan terjebak di sini," ujar Pak Ihsan seraya berlari mengikuti Andre yg telah terlebih dahulu
mengikuti ayahnya.

Arkim bersama Dani dan Arhan pun segera memangkas dahan-dahan pepohonan yg tumbuh di pelataran rumah itu. Mereka bahkan menebangi beberapa batang pohon yg ukurannya lebih kecil.

Akhirnya setelah sinar matahari menerangi pelataran yg awalnya gelap karena
tertutup rindangnya pepohonan, ketiga orang tersebut dapat beristirahat. Selanjutnya mereka segera menyusul Pak Ihsan.

Sementara itu Pak Inong dan Andre tiba di suatu kolam renang yg terdapat di belakang rumah. Mereka terperanjat saat melihat sesosok perempuan yg badannya
berdarah di atas air kolam dengan kedua kaki digantungi batu yg cukup besar dan kedua tangannya yg diikatkan ke tiang besi di pinggir kolam.

"Ibu!" teriak Andre saat mengenali perempuan tersebut.

"Lastri!" Pak Inong segera berlari ke arah di mana mantan istrinya tengah
tergantung dengan beban batu di bawah kedua kakinya itu.

Tiba-tiba terdengar suara letusan senjata api disusul terjatuhnya tubuh Pak Inong ke atas area berbatako.

"Ayah!" pekik Andre seraya berlari ke arah ayahnya yg sedang telungkup tidak sadarkan diri.
"Kalian kemari hanya untuk mengantarkan nyawa! Berani sekali kalian mengusik kehidupanku!" Seseorang dengan sepucuk pistol muncul dari balik pintu belakang rumah yg terbuka.

"Kau? Kau yg menculik ibuku dan menghancurkan hidupnya!" Andre menatap tajam ke arah laki-laki yg adalah
seorang bule itu.

"Hahahaha.... Aku sekarang telah tiba pada saat di mana aku akan menyaksikan Lastri dan keluarganya mati di tempat ini! Tapi sebelum itu, aku ingin mengenalmu, putera istriku," kata laki-laki yg Andre yakini adalah Uson Lane, suami pertama ibunya.
"Bermimpilah, dasar perusak hidup orang lain! Aku menantangmu sekarang! Siapa yg akan mati, siapa yg akan tetap hidup setelah semua ini selesai," kata Andre tanpa tedeng aling-aling.

Uson tertawa terbahak-bahak kemudian menembakkan pistolnya ke arah Bu Lastri yg masih dalam
posisi tergantung itu.

"Keparat kau, bajingan! Kalau mau menembak, tembak aku!" Andre berteriak geram sembari menantang laki-laki yg adalah musuhnya sekarang.

"Baiklah, akan kubuat kau mati hanya dalam sekali tembak! Selamat jalan untuk kalian orang-orang yg menyedihkan.
Aku sudah tahu kau pasti Andre, putera istriku dari perkawinannya dengan orang itu," tukas Uson sambil menunjuk tubuh Pak Inong dengan pistolnya kemudian menembaknya.

Andre benar-benar merasa geram dengan apa yg dilakukan Uson. Laki-laki itu sudah keterlaluan. Namun, ia tidak
tahu harus menghadapi laki-laki bule itu dengan cara apa. Ia hanya membawa parang yg pastinya tidak akan terlalu berguna untuk melawan musuh bersenjata api.

"Pengecut! Masih saja menembaki orang yg sudah tidak berdaya! Saya sudah bilang, tembak saya! Jangan mereka!" teriak Andre
seraya berlari mengitari kolam renang untuk mencapai di mana posisi Uson berada.

"Kau tidak akan bisa kemari!" Uson menembak Andre tepat ke arah kepala.

Dorrrr......
Sementara Pak Ihsan dan yg lainnya gagal menemukan Andre dan Pak Inong. Mereka memang telah tiba di belakang rumah. Namun mereka hanya menemukan sebuah gazebo dari bambu yg dipelitur.

Tidak ada kolam renang seperti yg diceritakan sebelumnya saat Andre dan Pak Inong tiba di sana
Pak Ihsan mengedarkan pandangannya kemudian kedua matanya tertuju pada sebatang tombak yg terselip di atap gazebo. Ia lantas mengambil tombak itu.

"Mereka sebetulnya ada di sini. Tapi sialnya kita beda server dengan mereka. Jadi kita tidak melihat apa yg mereka lihat. Begitupun
sebaliknya," ujar Pak Ihsan seraya melihat ke arah pintu belakang rumah besar itu yg tampak terbuka.

"Beda server? Sudah seperti sedang main game online saja, pak. Tapi apa yg harus kita lakukan?" tukas Arhan.

"Kita tunggu dan lihat," ucap Pak Ihsan seraya menggenggam tombak
seperti sedang menggenggam lembing. "Ini satu-satunya kesempatan. Jika gagal, maka mereka semua akan mati, menyisakan satu orang penjahat yg sangat berbahaya. Bismillahirrohmanirrohiim," lanjutnya seraya melemparkan tombak itu tepat ke arah pintu yg terbuka.
Kembali ke Andre yg tampaknya sedetik lagi kepalanya akan tertembus peluru. Namun, sesuatu yg aneh terjadi.

Peluru tersebut menabrak suatu benda yg sedang meluncur keras ke arah dada Uson. Akibatnya peluru tersebut terpental dan gagal mengenai sasaran.
Sementara benda panjang yg meluncur yg ternyata adalah sebatang tombak, kini menancap tepat di dada Uson, tembus hingga ke punggung.

Laki-laki itu pun menjerit kesakitan disusul terjatuhnya tubuhnya ke atas permukaan lantai. Pistolnya juga terlepas dari pegangannya.
Darah tampak mengucur deras dari lubang yg dihasilkan oleh hantaman tombak yg tiba-tiba muncul itu.

"Kkkkau!" Uson hanya berteriak pendek kemudian ia terkulai tidak bergerak lagi.

Andre terbelalak melihat kejadian barusan. Ia seolah merasa tidak percaya dengan apa yg
disaksikannya. Ia hanya bisa tertegun melihat ke arah jasad Uson yg bermandikan darahnya sendiri.

Mendadak tempat tersebut berguncang keras. Semua apa pun yg ada di sana turut berguncang bahkan di antaranya rubuh, termasuk tembok rumah.
Andre buru-buru membuka belenggu ibunya kemudian membawa wanita itu ke tempat yg menurutnya cukup aman. Tidak lupa ia juga mengungsikan Pak Inong yg masih belum juga sadarkan diri.

Dari tempatnya mengungsi, Andre menyaksikan rumah besar milik Uson hancur berhamburan kemudian
amblas ke dalam tanah serta mengepulkan debu serta serpihan material. Kolam renang yg tadinya menjadi tempat ibunya digantung, turut amblas ke dalam bumi.

Dari arah salah satu sudut, terlihat Pak Ihsan dan yg lain berlari sekencang-kencangnya ke arah di mana Andre bersama ibu
dan ayahnya berada.

"Andre, kita harus segera tinggalkan tempat ini! Tempat ini akan segera runtuh," teriak Pak Ihsan saat mencapai tempat di mana Andre berada.

Dibantu Pak Ihsan dan yg lain, Andre membawa ayah dan ibunya yg masih belum juga siuman.

Ia tentu merasa sangat
khawatir dengan keduanya karena di tubuh mereka terdapat beberapa lubang bekas peluru.

Akhirnya mereka pun berhasil menjauh dari lokasi bekas rumah Uson Lane yg kini telah menjadi reruntuhan yg amblas ke dalam tanah. Kini di sana yg terlihat hanya reruntuhan yg memenuhi suatu
lubang besar di atas tanah.

Dari atas tanjakan itu, mereka menatap ke arah reruntuhan itu.

"Kita berhasil mengalahkannya. Sekarang saatnya kita pulang. Kita juga harus membawa mereka ke rumah sakit," ujar Pak Ihsan kemudian berjalan sembari menggotong Pak Inong bersama
Arhan.

Sementara Dani bersama Andre menggotong Bu Lastri atau yg juga dikenal sebagai Bu Ismi.

Cerita pun selesai dengan keberhasilan Andre dan Pak Inong menemukan Bu Lastri dan membawanya keluar dari rumahnya Uson Lane.
Singkat cerita, mereka membawa Bu Lastri pulang ke kampung halaman. Sesampainya di kampung halaman, Sarnah yg merupakan puteri angkat Bu Lastri, rupanya sudah di sana menunggu.

Ia tidak sendiri. Ia datang bersama kekasihnya yg juga telah jadi tunangannya.
"Oh, kalian sudah tunangan. Selamat, ya. Maaf, aku tidak sempat menghadiri pertunangan kalian," ucap Andre sambil tersenyum kemudian menggaruk kepala.

"Pak Andre jangan cemburu, dong. Kita kan sekarang saudara meski beda ibu beda ayah," tukas Sarnah seraya terkekeh.
"Iya, santai aja. Saya juga sudah menganggap mbak Sarnah ini sebagai saudara sendiri. Mengingat ibu juga sudah mengangkat mbak Sarnah sebagai anak angkat," kata Andre kemudian melirik ke arah ibunya yg tampak berdiri sambil tersenyum menatap ke arahnya dan juga Sarnah.
"Padahal dulu saya pernah berpikir bagaimana kalau putera saya berjodoh dengan puteri angkat saya ini. Ternyata kenyataannya begini," gumam Bu Lastri sambil menggelengkan kepalanya.

"Kenapa jadi ayah yg merasa sakit hati ya melihat putera kita yg seolah sedang dikecewakan
sedang dikecewakan perempuan itu?" kata Pak Inong yg muncul dari belakang Bu Lastri.

"Sudahlah, yah. Andre pasti bisa menjalani hari-harinya seperti biasa. Ia pasti seorang laki-laki yg kuat," tukas Bu Lastri seraya tersenyum.

--TAMAT--

Ceritanya udahan...

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with Acep Saepudin

Acep Saepudin Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @acep_saep88

3 Aug
-- SANG PEJALAN MALAM V2--

Halo, selamat berjumpa kembali di thread dari Acep Saep. Kali ini saya membawakan cerita lama yg di remake. Semoga menghibur...

@ceritaht @IDN_Horor @WdhHoror17 @Penikmathorror @HororBaca #ceritahorror Image
Cerita ini pernah dibuat ketika pertama kali saya aktif membuat thread di twitter. Saya membuat cerita yg sama bukan karena cerita yg lama sukses melainkan karena saya merasa cerita tersebut kurang sreg dan juga terlalu absurd.
Makanya saya mencoba membuat reboot dari cerita tersebut. Penasaran dengan ceritanya? Ayo kita simak saja.
Read 181 tweets
11 Jul
-- DUSUN ANGKER BAGIAN II --

Sebuah cerita tentang para penduduk kota yg tersesat di sebuah dusun angker di pedalaman hutan. Selain tersesat, mereka juga harus berhadapan dg pendduk lokal yg tidak ramah...

@ceritaht @IDN_Horor @WdhHoror17 @HororBaca Image
Dalam keremangan saat itu, Pak Tohar diseret oleh beberapa orang pengepung dalam kondisi dari wajah hingga ujung kaki dipenuhi tetesan darah. Laki-laki itu terlihat tidak berdaya saat orang-orang semi telanjang tersebut membawanya melewati gerbang dari tumpukkan batu yg mengarah
masuk ke perkampungan itu.

Teman-temannya tidak kalah menderitanya dari dia. Mulai dari Arkim hingga Dani, dalam kondisi yg serupa dengannya. Apalagi Cayut yg kini dalam kondisi tidak sadarkan diri.

Laki-laki itu dalam kondisi koma setelah terluka oleh sebatang anak panah yg
Read 160 tweets
28 Jun
- DUSUN ANGKER -

Sebuah cerita tentang suatu dusun yg tertutup dari dunia luar. Dusun yg angkernya tidak hanya terkait hal-hal mistik saja melainkan juga terkait warganya yg tidak ramah pendatang...

@IDN_Horor @ceritaht @WdhHoror17 @FaktaSejarah #ceritahorror Image
Cerita yg saya tulis ini kemungkinan memiliki judul yg sepertinya sudah terlalu umum. Tapi saya pastikan isi cerita bukan hasil dari menyontek karya orang lain. Bahkan cerita ini asli hasil pemikiran saya sendiri berdasarkan pada pengamatan pada sekelompok masyarakat yg memang
tertutup dari dunia luar. Bahkan masyarakat ini selalu berusaha mati-matian agar tidak ada orang asing yg memasuki wilayahnya. Mereka tidak segan membunuh orang-orang asing yg berani memasuki wilayah di mana mereka bertempat tinggal serta bermata-pencaharian.
Read 199 tweets
31 May
-- Petaka Sang Dukun Santet --

Terinspirasi dari kisah nyata tentang seorang laki-laki yg suka membuat ulah, memantik permusuhan kpd banyak orang, yg ujung2nya menggunakan ilmu ghoib untuk menyakiti orang2 yg dimusuhinya..

@ceritaht @IDN_Horor @WdhHoror17 #ceritahoror Image
Malam itu di sebuah kampung di suatu desa yg namanya dirahasiakan. Di dalam sebuah rumah berdinding bata merah yg tidak diplester, sedang terjadi suatu kepanikan luar biasa.

Bagaimana tidak, seisi rumah yg terdiri dari para penghuni rumah dan para tetangga sedang berkerumun,
mengelilingi tubuh seorang pria berusia sekitar 60 tahunan yg sedang meronta-ronta kesakitan di atas tempat tidurnya yg telah begitu lusuh dan dipenuhi tetesan darah.

Tubuh pria itu dipenuhi bintik-bintik merah seperti bekas luka tusukan dari puluhan jarum yg ditancapkan.
Read 152 tweets
2 Apr
- Jejak Rena -

Sebuah cerita dari saya pribadi. Silahkan baca jika suka. Kalau tidak silahkan abaikan. (Like bukan berarti suka. Bisa berarti hanya sekadar numpang lewat)

@IDN_Horor @ceritaht @WdhHoror17 #ceritahorror #ceritaseram Image
Thread ini merupakan lanjutan dari thread berjudul "Rahasia Reruntuhan di Tengah Hutan". Bagi yg mengikuti thread tersebut mungkin tidak akan kebingungan dengan thread lanjutan ini.

Semoga para pembaca tertarik dan terhibur dengan thread alakadarnya ini. Terimakasih
Daratan gersang yang dipenuhi reruntuhan dan pepohonan yang hangus tersebut dulunya adalah Desa Cikahuripan. Sekarang desa tersebut telah luluh lantak akibat amukan api yang disemburkan AdugLajer.

Semburan AdugLajer telah mengakibatkan sebagian wilayah itu ludes tak tersisa.
Read 112 tweets
31 Jan
- RAHASIA RERUNTUHAN DI TENGAH HUTAN -

Sebuah cerita yg tujuannya utk hiburan bukan untuk menakut-nakuti atau menceritakan sesuatu yg kebenarannya diragukan..

Selamat membaca..

@ceritaht @WdhHoror17 @IDN_Horor @bagihorror #ceritahorror #ceritahorror #ceritaseram Image
Sebelum lanjut ke ceritanya, penulis ingin menyampaikan bahwa gambar di atas hanya ilustrasi yg berasal dari platform editing cover...

Makasih
Brag, brag, brag,

Suara genderang bergema sesaat ketika di dalam rumah berbilik bambu itu sedang terjadi keributan. Keributan tersebut terjadi saat seorang perempuan muda kerasukkan, di mana kekasihnya mengamuk sambil bertingkah seperti hendak memukul gadis itu.
Read 204 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!

Follow Us on Twitter!

:(