-- Rahasia Terpendam Reruntuhan di Tengah Hutan --

Suatu reruntuhan rumah mewah yg berdiri di tengah hutan yg lebat dan kelam.
@ceritaht @IDN_Horor @bagihorror @Penikmathorror @WdhHoror17 @HorrorBaca @FaktaSejarah Image
Pada pagi itu di suatu kota kecil. Di salah satu sudut jalan tampak seorang laki-laki yg adalah Arhan sedang mengendarai sepeda motornya jenis bebek manual. Ia sepertinya hendak menuju suatu tempat yg merupakan di mana para kenalannya sedang berkumpul.

Sesampainya di tempat yg
dituju, ia menghentikan sepeda motornya kemudian melihat ke arah dua orang satpam yg sedang berjaga di posnya. Mereka tampak melihat ke arah Arhan kemudian salah seorang di antaranya berseru.

"Arhan, tumben kemari? Sepertinya ada proyek baru, nih," ujar salah seorang satpam
dengan pelang nama Hadi Susanto.

"Ya, begitulah, di. Tapi bukan proyek baru, sih. Cuma sebuah pekerjaan sampingan," tukas Arhan seraya memarkirkan sepeda motornya di pinggir jalan dekat pos satpam itu.

"Pekerjaan sampingan? Apa itu bisa membuat kita menjadi kaya? Aku bosan,
lho, hidup kekurangan terus, sementara utang di mana-mana," tukas satpam satunya lagi yg berpelang nama Furhan Asiap.

"Apa kabar kalian berdua? Seperti biasa ya di pos sempit ini," kata Arhan saat menghampiri kedua orang itu. "Pekerjaan sampingan tidak akan membuat kaya kalau
tidak dikerjakan dengan serius. Nah, pekerjaan ini bisa saja berisiko. Kita harus siap menanggungnya kalau kita bersikeras tetap ingin melakukan pekerjaan itu," lanjutnya.

"Kami begini-begini saja, han. Aktivitas kami sehari-hari ya begini, tidak jauh-jauh dari pos jaga," tukas
jaga," tukas Hadi. "Semua pekerjaan pasti ada risikonya, lah. Tapi risiko yg seperti apa yg kamu maksud? Juga pekerjaannya seperti apa?" lanjutnya penasaran.

"Begini, di, fur. Sebulan yg lalu aku habis dari misi penyelamatan di sebuah lokasi di tengah hutan. Tempat itu adalah
sebuah rumah besar yg sekarang tinggal reruntuhan. Nah, rumah itu kan milik orang kaya yg sekarang sudah mati. Di bawahnya ternyata ada ruangan bawah tanah yg sangat luas. Aku berani bertaruh kalau di sana ada harta simpanan orang kaya itu," jelas Arhan.

"Rumah besar di tengah
hutan? Yg kamu maksud pasti rumah milik Pak Uson. Dia memang orang kaya tapi dia juga aneh. Jadi dia sudah mati, ya?" kata Furhan agak bergumam.

"Kamu tahu dia, fur?" ucap Arhan sambil menatap ke arah Furhan.

"Iya, aku tahu orang itu. Dia orang bule. Salah satu pemilik
pertambangan emas yg lokasinya dekat dusun-dusun di tengah hutan itu," tukas Furhan.

"Lalu apa yg akan kita lakukan dengan reruntuhan rumah Pak Uson?" tanya Hadi penasaran.

"Lah? Kan di bawah reruntuhan rumah itu ada ruangan bawah tanah yg sangat luas dan dalam. Di sana
kemungkinan besar Uson menyimpan hartanya," tukas Arhan yg sepertinya ingin menegaskan keyakinannya.

"Kemungkinan, ya? Kalau pun memang ada harta milik Pak Uson di sana, memangnya kita tidak akan dianggap kriminal kalau mengambilnya?" tanya Furhan bingung.

"Tenang saja.
Tempat itu belum dikunjungi siapapun lagi. Bahkan polisi atau pihak pemerintah pun belum ada yg ke sana. Jadi tempat itu benar-benar diabaikan," tukas Arhan kemudian. "Dengan begitu, kita bisa leluasa masuk ke sana. Anggap saja ini akan menjadi cara kalian refreshing setelah
setelah bekerja hampir tidak ada libur," lanjutnya.

"Kalau benar demikian, aku siap ikut, han. Nah, apakah hanya kita bertiga yg akan ke sana?" tukas Hadi kemudian bertanya.

"Awalnya aku mau mengajak Dani dan Arkim. Tapi mereka sedang sibuk dengan pekerjaannya. Dani sibuk di
perkebunan sawit, dan Arkim sibuk dengan muatan kayunya. Jadi, ya kita bertiga saja yg ke sana. Jangan lupa membawa senjata. Itu akan berguna jika kita dihadapkan pada situasi yg genting," jelas Arhan.

"Okelah. Besok, ya kita berangkatnya. Besok kebetulan aku dan Furhan libur,"
tukas Hadi.

Arhan mengiyakan perkataan Hadi. Setelah itu ia menghampiri sepeda motornya untuk kemudian pulang. Namun kemudian ia sejenak terpaku pada sesosok nenek-nenek berpakaian serba putih agak dekil, yg sedang berjalan terseok-seok.

Arhan kemudian teringat pada cerita
Arkim mengenai sesosok nenek-nenek yg mencurigakan. Kata Arkim, nenek-nenek yg dimaksudnya itu memiliki Ajian Rawa Rontek.

"Kata Arkim, nenek-nenek itu berpakaian serba putih dekil seperti nenek ini. Hmm, lebih baik aku segera pergi," gumamnya kemudian melajukan sepeda motornya
menjauh dari tempat kerja Hadi dan Furhan itu.

Singkat cerita. Keesokan harinya, Arhan bersama Hadi dan Furhan berangkat menuju lokasi reruntuhan di tengah hutan yg Arhan percayai menyimpan harta peninggalan Uson Lane yg telah tewas saat misi penyelamatan Bu Ismi.
Tidak diceritakan bagaimana di jalannya, Arhan bersama rekan-rekannya telah tiba di depan pintu gerbang reruntuhan yg masih berdiri tegak itu. Pintu gerbang tentunya dalam kondisi telah terbuka karena telah didobrak saat misi penyelamatan.

"Luas juga, ya, reruntuhannya. Pasti
Ralat *depan gerbang reruntuhan yg berdiri tegak itu.
tadinya ini adalah rumah yg sangat besar, ya. Kok bisa rumah ini tiba-tiba runtuh?" ujar Furhan sembari menatap ke arah reruntuhan itu.

"Entahlah. Setelah pemiliknya terbunuh, rumah ini runtuh begitu saja. Didahului gempa lokal yg begitu dahsyat. Itu benar-benar aneh tapi nyata.
Kami menyaksikan rumah ini runtuh saat diguncang gempa. Keruntuhannya pun sangat cepat. Benar-benar cepat," tukas Arhan kemudian memperhatikan sebagian badan bangunan yg runtuh yg terbenam ke dalam tanah.

"Mungkin itu bagian dari ruangan bawah tanahnya. Aku jadi penasaran,"
ucap Hadi seraya memasuki pelataran reruntuhan itu.

Ketiga orang tersebut terlihat mengitari reruntuhan rumah Uson Lane kemudian berhenti di satu titik di mana mereka melihat tangga turun yg mengarah ke bawah tanah. Namun, sebagian badan tangga tertutup material reruntuhan.
"Ini tangganya. Tapi kita harus menyingkirkan reruntuhannya terlebih dahulu agar kita bisa lewat," ujar Arhan kemudian mulai menyingkirkan reruntuhan yg menimun badan tangga.

Hadi dan Furhan juga turut menyingkirkan material reruntuhan hingga kemudian mereka berhasil membuat
celah yg cukup untuk dilewati oleh seorang manusia dewasa.

Saat celah terbentuk, mereka merasakan seperti ada udara dingin yg berhembus keluar dari dalam ruang bawah tanah di balik celah di reruntuhan yg menimbun tangga itu.

"Han, aku kok jadi merasa merinding begini, lho.
Aku jadi berpikir yg enggak-enggak deh soal ruang bawah tanah ini," ucap Furhan merasa ngeri.

"Iya, han. Aku bahkan ngerasa kalau apa yg kita lakukan ini salah," timpal Hadi setuju dengan rekannya itu.

Arhan menoleh ke arah dua orang rekannya itu kemudian mendengus.
"Apa kalian ingin mundur? Padahal kita sudah berhasil membuat jalan masuk ke sana. Memangnya apa yg kalian takutkan? Hantunya Uson Lane?" Arhan berkata dengan gusar seraya melongok ke dalam celah itu. "Aku melihatnya. Lemari-lemari besi itu. Di dalamnya bisa saja banyak emasnya,"
lanjutnya seraya melangkah masuk ke dalam celah itu kemudian menuruni badan tangga yg berada di dalam celah itu.

Hadi dan Furhan hanya saling pandang. Mereka tampak ragu-ragu untuk mengikuti apa yg dilakukan Arhan.

"Ayo kita ikuti dia, fur. Ini bukan soal ada atau tidaknya
harta di dalam sana. Ini adalah soal kebersamaan. Kita tidak bisa membiarkannya pergi sendiri, kan? Kita harus bisa memastikan bahwa kita bertiga akan baik-baik saja," kata Hadi kemudian menyusul Arhan diikuti oleh Furhan.

Mereka bertiga pun menyusuri badan tangga yg berada di
di belakang celah di antara reruntuhan itu. Semakin ke dalam, semakin gelap saja. Udara dingin terasa seolah menusuk hingga ke tulang. Semakin dalam semakin dingin.

Arhan kemudian mengeluarkan senternya. Selanjutnya ia menyoroti area di hadapannya setelah badan tangga berakhir.
"Ruangannya berpintu dan mungkin itu terkunci," ucap Furhan saat melihat sebuah pintu terpampang, menghalangi posisi mereka dengan ruangan di baliknya.

Arhan kemudian maju, mencoba membuka pintu tersebut. Benar saja pintu tersebut terkunci.

"Aku akan menjebolnya.
Pegang senternya," katanya seraya memberikan senternya kepada Hadi.

Selanjutnya ia mengeluarkan beberapa benda seperti paku dan obeng kecil. Dengan benda-benda itu, ia menjebol pintu yg terkunci itu.

Menjebol rumah kunci memang bukan hal yg mudah. Terbukti Arhan berkali-kali
gagal melakukannya.

"Sial! Sepertinya kita harus mendobrak pintunya dengan bongkahan tembok itu," ucapnya seraya menjatuhkan peralatannya ke lantai.

"Arhan, aku jadi semakin ragu dengan apa yg sedang kita lakukan ini. Mendobrak pintu properti milik orang lain tanpa izin sama
saja dengan perbuatan kriminal. Terlepas apakah pemiliknya masih ada atau nggak," kata Furhan yg keraguannya semakin menjadi.

Arhan mendelik ke arah Furhan kemudian berjalan mendekati laki-laki itu.

"Kalau kau merasa ragu, kenapa tidak pulang saja? Lebih baik kau tidak usah
mengikutiku lagi. Pulanglah daripada hanya membebaniku," kata Arhan dengan nada tidak senang.

"Tenang, han. Jangan kebawa emosi begitu. Furhan hanya mengutarakan keraguannya soal apa yg sedang kita lakukan ini. Mungkin ia memiliki firasat buruk soal itu," kata Hadi menimpali.
"Kau juga sama seperti dia, di. Apa kau juga ingin pulang? Pulanglah kalian berdua. Biar aku sendiri yg mendapatkan hartanya. Kalian tidak usah meminta bagian jika memilih tetap pulang," tukas Arhan sambil menoleh dengan tatapan tajam ke arah Hadi.

"Lah, kamu ini kenapa, sih,
han? Kok kamu menjadi sinis begini? Apa tempat ini telah mengubahmu menjadi seperti ini?" Hadi menatap gusar ke arah Arhan.

"Lebih baik kamu diam, di. Kalau kamu mau lanjut ayo kita lanjutkan pekerjaan ini. Kalau tidak, silahkan pulang bersama Furhan," ucap Arhan seraya
mengambil sebongkah material reruntuhan kemudian menghantamkannya ke pintu.

Furhan dan Hadi hanya bisa menggeleng melihat apa yg dilakukan Arhan. Mereka merasa aneh dengan sikap Arhan yg tiba-tiba menjadi sinis bahkan cenderung mudah tersulut emosinya.

Arhan telah beberapa
kali menghantam pintu dengan bongkah material reruntuhan hingga akhirnya pintu tersebut berhasil dijebolnya, dan menyisakan kerusakan yg cukup parah di bagian rumah kuncinya.

Saat pintu dibuka, udara dingin berhembus kencang menerpa, keluar dari dalam ruangan di belakang pintu
itu. Mereka bertiga serentak bergidik saat hembusan udara dingin yg menerpa mereka.

"Uhuk, uhuk. Sial! Kenapa dadaku terasa engap setelah terkena angin barusan?" keluh Furhan seraya terbatuk-batuk.

Tanpa merespon apa yg dikeluhkan Furhan, Arhan langsung memasuki ruangan itu
seraya menyoroti ruangan bawah tanah yg ternyata cukup luas itu. Ruangan itu dalam kondisi gelap karena lampu-lampunya dalam keadaan tidak menyala.

Di dalam ruangan itu, memang banyak sekali lemari, baik itu yg terbuat dari kayu maupun besi, berjejer rapi.

Arhan kemudian
mencoba menyalakan lampu-lampu tersebut dengan menekan sakelar lampu yg terdapat di dinding. Namun, lampu-lampu itu tidak mau menyala.

"Aku tidak melihat ada kabel listrik yg mengarah kemari. Mungkin kelistrikan rumah ini bersumber dari Genset atau tenaga surya," ujar Hadi
seraya memperhatikan salah satu lemari besi dengan simbol Biohazard berwarna abu-abu. "Aku sering melihat simbol seperti ini di drum-drum yg entah apa isinya. Tapi ini kenapa ada di lemari, ya?" katanya setengah bergumam.

"Yg pasti, emasnya tidak di lemari yg itu. Tinggalkan
lemari yg itu. Bisa saja isinya memang sesuatu yg berbahaya," tukas Arhan seraya berjalan menuju barisan lemari lainnya.

Ia kemudian membuka pintu salah satu lemari yg memang tidak terkunci. Di lemari tersebut ia menemukan sebuah map berwarna hitam dengan tulisan 'CLASSIFIED'
yg dicetak tebal dengan font Arial berukuran 100.

Arhan selanjutnya membuka map tersebut, namun tertahan saat Hadi menepuk pundaknya.

"Han, ini bukan tempat untuk menyimpan uang atau barang berharga. Aku rasa ada ruangan lain yg memang dikhususkan untuk itu. Tidak mungkin
tempat penyimpanan uang dan barang berharga disatukan dengan barang-barang lain yg tidak begitu berharga," kata Hadi seraya melihat ke arah suatu pintu yg tertutup tepat di ujung ruangan di mana saat ini mereka berada.

"Kau benar juga. Baiklah, ayo kita temukan tempat
penyimpanan harta itu. Lemari-lemari ini sepertinya hanya berisi tumpukan map yg sama dengan yg kubawa ini," tukas Arhan seraya memperlihatkan map hitam yg ia dapatkan dari salah satu lemari.

Arhan kemudian berjalan menuju pintu yg dimaksud oleh Hadi. Sementara Hadi dan Furhan
mengikuti dari belakang.

"Di, map itu seharusnya dia taruh kembali ke lemari asalnya. Aku jadi curiga kalau map itu berisi semacam dokumen rahasia yg bisa saja sangat penting bagi negara pemilik dokumen itu," katanya sambil menatap ke arah Arhan yg agak jauh berjalan di depan
sambil mengempit map itu.

"Atau dokumen itu akan menjadi bukti penting bagi negara kita. Siapa tahu itu adalah data intelijen negara asing yg belum sempat diserahkan oleh agen rahasianya yg disusupkan ke negara kita," tukas Hadi seraya menyorotkan lampu senternya ke beberapa
penjuru di ruangan nan luas itu.

Ia kemudian mengerutkan keningnya saat melihat dua pucuk pistol tergeletak di lantai tepat di samping noda yg cukup besar di atas lantai itu.

"Pistol?" ucap Furhan yg juga melihat kedua senjata api itu.
"Ini adalah noda darah. Sudah menghitam dan kering. Sepertinya sudah lama. Bukan tidak mungkin tempat ini dulunya adalah lokasi pembunuhan. Tapi dua pistol ini apakah sengaja ditinggalkan?" tukas Hadi seraya memperhatikan noda besar itu.

"Di, Fur? Sedang apa kalian? Cepat kemari
Lihat yg kutemukan." Itu adalah Arhan yg berseru saat telah mencapai pintu yg sebelumnya telah disebutkan.

Hadi dan Furhan pun segera menghampiri Arhan, meninggalkan lokasi yg mereka duga sebagai lokasi pembunuhan. Namun, kedua pistol tersebut telah raib dari tempatnya.
Belum diketahui siapa yg mengambilnya baru-baru ini.

Sesampainya di depan pintu yg memiliki jendela kaca itu, mereka mengintip melalui kaca itu ke dalamnya.

"Brankas besar? Itu penyimpanan hartanya? Wah, tantangan berat, nih. Kita tidak bisa membukanya dengan cara manual.
Kita membutuhkan laptop untuk meretasnya," ujar Furhan setelah melihat penampakan brankas besar di dalam ruangan di balik pintu yg masih tertutup itu.

"Kau ahli IT?" tanya Arhan.

Furhan menggelengkan kepalanya. "Aku hanya tahu sedikit tentang cara meretas sistem keamanan tapi
hanya terbatas pada sistem keamanan website. Untuk yg satu ini aku nggak faham sama sekali. Aku belum pernah menjebol brankas yg menggunakan kode keamanan yg rumit. Brankas ini hanya bisa dibuka dengan memindai retina dan sidik jari pemilik. Bahkan, verifikasi wajah dan suara
pemilik harus dilakukan agar pintu brankas bisa dibuka. Ini kabar buruk," jelasnya membuat Hadi dan Arhan hanya bisa menggelengkan kepala.

"Kita sudah tiba di tempat tujuan. Kekayaan sudah di depan mata. Haruskah kita mundur hanya karena sistem keamanan brankas yg begitu rumit?"
"Tidak, tidak, aku tidak akan mundur. Aku harus bisa membuka brankasnya!"

Arhan yg terlihat begitu frustrasi, dengan sembrono mendorong pintu sekuatnya. Pintu itu lantas terbuka karena tidak dikunci. Ia pun terhuyung ke dalam ruangan brankas setelah mendorong pintu tersebut.
Hadi dan Furhan hanya bisa mengusap wajah. Mereka berdua pun menyusul Arhan sambil terus menyoroti ruangan yg memang gelap tanpa penerangan.

"Tidak ada aliran listrik di tempat ini. Otomatis brankas ini tidak memiliki arus listrik. Sedangkan listrik sangat penting agar brankas
ini dapat dibuka. Tanpa listrik, si pemilik tidak akan bisa memindai retina, wajah, sidik jari, dan suara. Itu pemilik, lho. Apalagi kita yg penjarah ini," kata Furhan sembari mengamati sebuah alat pemindai yg begitu komplit.

"Aku merasa tidak perlu itu. Lebih baik kau
diam saja daripada membuatku bertambah muak!" Arhan berkata dengan nada tinggi kemudian menaiki tangga kecil yg mengarah ke pintu brankas yg berupa baja serta berbentuk bulat.

Ia kemudian mengeluarkan sebuah obeng kecil dan pisau lipat. Selanjutnya ia mengorek-orek bagian engsel
pintu brankas itu.

"Kamu tidak sabaran ya, han. Memangnya kau pikir bisa menjebol pintu brankas yg begitu tebal dan beratnya menggunakan pisau lipat dan obeng?" seru Hadi yg merasa semakin jengah dengan apa yg dilakukan Arhan.

Sementara Furhan yg sedang berdiri memperhatikan
apa yg dilakukan Arhan, merasakan seperti ada seseorang yg sedang berdiri di pintu, melihat ke arah mereka bertiga. Ia pun segera menoleh dan menyorotkan lampu senter ke arah pintu, namun tidak apa-apa.

"Fur, kenapa kamu menyoroti pintu? Apa kamu merasa seperti sedang
diperhatikan seseorang dari arah pintu?" ucap Hadi yg melihat apa yg dilakukan Furhan.

"Iya, di. Apa kamu merasakan hal yg sama?" tukas Furhan sambil menoleh ke arah Hadi.

"Iya, fur. Aku merasa orang itu seperti sedang melihat ke arah kita sambil menodongkan senjata api.
Sepertinya itu adalah pistol dengan peredam," kata Hadi yg juga turut menyoroti pintu.

Sementara Arhan yg sedang berusaha mendobrak pintu brankas, sejenak melihat ke arah dua temannya itu. Ia mengerutkan keningnya saat melihat siluet hitam di belakang sebuah lemari yg berdiri
memisahkan antara ruang di mana brankas berada dengan ruang kecil yg berbatasan langsung dengan dinding dan pintu.

"Siapa itu?" Arhan segera menyorotkan senternya ke arah siluet hitam yg dengan cepat menghilang.

"Kau lihat apa, han?" seru Hadi seraya melihat ke arah lokasi yg
yg disorot oleh Arhan.

"Entahlah. Mungkin itu hanya perasaanku saja. Kalian berdua sebaiknya mencari sesuatu yg bisa digunakan untuk mendobrak pintu brankas ini," tukas Arhan kemudian menyoroti area dalam ruangan di mana saat ini ia berada.

"Mungkin kita membutuhkan gerinda
tapi di sini tidak ada listrik. Gergaji besi bisa dicoba. Ayo, fur. Kita cari itu gergaji besi," kata Hadi seraya melangkah menuju pintu keluar ruangan itu.

Furhan kemudian menyusul Hadi seraya kedua tangannya meraba-raba pinggangnya yg entah untuk apa ia melakukannya.
Sementara Arhan kembali mencoba mencongkel pintu brankas dengan obengnya. Ia terus melakukannya meski terus gagal.

Ia kemudian tersentak kemudian celingukan. Ia hanya melihat seliweran cahaya lampu senter dua temannya yg sedang mencari peralatan.
"Apa itu barusan? Kenapa aku merasa di sini seperti ada seseorang tapi bukan Furhan ataupun Hadi. Apa dia semacam assasin? Aku selalu gagal menemukannya," gumamnya seraya menyoroti setiap jengkal ruangan.

Selanjutnya ia merasakan angin yg begitu dingin berhembus menerpa
tengkuknya. Kemudian ia merasakan kepalanya menjadi berat seperti sedang ditindih sesuatu yg berat di atasnya.

Sementara itu, Hadi dan Furhan yg tidak berhasil menemukan apa yg mereka cari hanya bisa melenguh seraya kembali ke ruangan di mana Arhan berada. Sembari berjalan,
mereka mengamati deretan lemari besi yg memiliki simbol Biohazard dengan satu di antaranya memiliki simbol berwarna kuning.

"Fur, yg itu beda sendiri warna simbolnya. Yg lain kan simbolnya berwarna abu-abu. Sedangkan yg ini berwarna kuning," ucap Hadi.

"Bisa jadi di dalamnya
berisi sesuatu yg lebih berbahaya lagi. Kita sebaiknya tidak menyentuh lemari itu." Furhan mengalihkan pandangan pada pintu ruangan di mana brankas berada.

Ia kemudian tertegun saat melihat jika pintu brankas yg dapat dilihat dari posisinya saat ini sudah dalam kondisi terbuka.
"Di, brankasnya sudah terbuka. Wah, hebat Arhan. Ia berhasil membukanya," ucapnya sambil menyorotkan lampu senternya ke arah di mana brankas besar itu berada.

"Lah, iya, fur. Berarti dia nyuruh kita pergi nyari peralatan supaya dia bisa konsen membuka pintu brankasnya," sahut
Hadi seraya berjalan terburu-buru menuju brankas bersama Furhan.

Sesampainya di depan brankas besar yg sudah terbuka itu, mereka mendapati Arhan tidak ada di sana. Mereka hanya menemukan alat pemindai wajah, sidik jari, retina, dan alat verifikasi suara dalam keadaan menyala.
Itu terlihat dari beberapa buah lampu indikator yg berwarna hijau, kuning, dan merah, menyala. Di antaranya terlihat berkedip-kedip.

"Kok alatnya bisa menyala? Padahal di sini tidak ada listrik. Apa alatnya menggunakan baterai?" kata Hadi heran.
"Meskipun alat ini menyala. Arhan seharusnya tetap tidak bisa membuka pintu brankasnya karena ia bukan pemiliknya. Kecuali alatnya error sehingga orang asing terdeteksi sebagai pemilik. Tapi apa itu mungkin?" timpal Furhan seraya melongok ke dalam brankas. "Dalamnya luas sekali.
Bahkan ada lorong yg tidak terlihat ujungnya di dalam sana," lanjutnya saat melihat seisi ruang brankas besar itu.

"Aku tidak melihat tumpukan uang atau emas batangan di dalam sana. Apa lokasi penyimpanannya masih dalam lagi?" gumam Hadi kemudian menoleh ke arah Furhan.
"Apa kita ke dalam saja? Sepertinya Arhan ada di dalam sana. Mungkin dia sudah menemukan hartanya," ucapnya.

"Ayo, kita lanjutkan saja, di. Lagipula kita juga harus mencari Arhan. Meski kita tidak ingin melanjutkan penjarahan ini, kita harus tetap melangkah untuk mencari Arhan.
Tidak baik jika kita meninggalkannya sendirian di tempat mengerikan ini," tukas Furhan kemudian memasuki brankas besar itu diikuti oleh Hadi.

Furhan dan Hadi pun memasuki brankas yg memang memiliki ukuran begitu besar. Di dalamnya begitu luas bahkan memiliki semacam lorong yg
lorong yg mengarah ke suatu tempat yg belum diketahui.

Kedua laki-laki itu pun menyoroti bagian ruangan brankas jengkal demi jengkal dengan harapan dapat menemukan sesuatu yg mungkin bisa dibawa pulang.
Furhan yg berjalan paling depan, menghentikan langkahnya secara mendadak. Ia terlihat sedang menunduk, memperhatikan sesuatu yg tergeletak di hadapannya, yaitu map hitam yg sebelumnya dibawa oleh Arhan.

"Benar, Arhan memang kemari. Map ini ia tinggal di sini. Mungkin ia ingin
memberitahu kita bahwa ia sudah kemari," ujar Furhan seraya berjongkok untuk mengambil map itu.

"Mapnya robek? Waktu dibawa Arhan, kan mapnya masih dalam kondisi utuh," kata Hadi seraya memperhatikan map itu.

Furhan membuka map itu kemudian membaca tulisan di atas selembar
kertas di dalam map itu.

"Bahasa Inggris, bung. Intinya orang yg membuat dokumen ini ingin memberitahu atasannya tentang kegagalan subjek percobaan. Percobaan apa, ya?" gumamnya kemudian menutup kembali map itu.

"Tidak usah memikirkan itu. Lebih baik kita susul Arhan," tukas
Hadi seraya berlalu.

Furhan pun segera menyusul Hadi. Sesaat kemudian mereka tiba di ujung lorong yg ternyata buntu. Namun, mereka mendapati semacam lubang dengan tangga besi yg mengarah ke dalam lubang yg dapat dimasuki manusia itu.

"Lorong brankas ini mengarahkan kita ke
lubang yg mengarah ke bawah? Kemungkinan Arhan sudah memasukinya, di. Tapi apa di bawah sana masih ada ruangan lagi?" gumam Furhan.

"Pastinya ada, fur." Hadi menyorotkan lampu senternya ke dalam lubang di lantai lorong brankas itu.

Mendadak sesuatu berkelebat di bawah
sana dengan begitu cepat, membuat Hadi tersentak.

"Apa itu? Cepat sekali," ucapnya.

"Arhan? Apa kau di bawah sana?" seru Furhan memanggil Arhan.

Tidak ada jawaban dari bawah sana. Namun kemudian terdengar suara seperti seseorang sedang menghembuskan nafas namun dengan suara
nyaring.

"Arhan? Apa itu kau?" Kali ini Hadi yg memanggil.

"Suara itu berasal dari bawah sana. Aku jadi penasaran, di. Kita harus menemukan Arhan. Dia pasti ada di bawah namun agak jauh dari ujung tangga," kata Furhan seraya bersiap menuruni tangga yg berada di dalam lubang
itu.

"Tunggu dulu, fur. Aku jadi curiga dengan kelebatan itu. Di kertas itu kan tertulis soal subjek percobaan yg gagal. Jangan-jangan..." kata Hadi tidak dilanjutkan.

"Mungkin saja itu hanya kelelawar, di. Sebaiknya kamu jangan berpikir yg nggak-nggak. Kita harus menemukan
Arhan, kan? Ayolah, di. Kita turuni tangga ini," tukas Furhan kemudian menyoroti lagi bagian dalam lubang itu.

Ia tidak melihat apapun selain dasar lubang yg berupa ubin dengan beberapa tumpukan material. Namun, ia kembali mendengar suara orang sedang menghembuskan nafas dengan
nyaring tepat dari bawah sana.

"Apa itu Arhan, ya? Tapi untuk apa dia mengeluarkan suara seperti itu? Apa dia sedang mencoba memanggil kita?" gumam Hadi yg juga mendengar suara barusan.
"Nah itu dia. Takutnya dia sedang dalam masalah sedangkan ia tidak bisa berteriak untuk memanggil kita," kata Furhan. "Makanya kita harus turun. Kita harus temukan Arhan," lanjutnya.
Setelah sempat berdebat mengenai lanjut atau tidaknya menuruni tangga di dalam lubang yg mengarah ke bawah lantai lorong brankas itu, Hadi dan Furhan pun memutuskan melanjutkan untuk menuruni tangga meski hati keduanya diliputi tanda tanya serta kekhawatiran yg cukup besar.
Karena mereka merasa harus menemukan Arhan, maka mereka melanjutkan pencarian itu.

Perlahan namun pasti, mereka berdua telah tiba di ujung tangga yg menggantung dari lubang di lantai lorong brankas besar itu. Mereka berjalan bersijingkat setelah menjejakkan kaki di
atas lantai di bawah tanah itu. Mereka merasa bergidik saat beberapa ekor tikus berlarian di atas jalur yg sedang dilewati.

Hadi menyoroti area di sekitar tempat itu dengan harapan dapat segera menemukan Arhan.

Sedangkan Furhan sibuk meneliti jalur yg sedang dilewatinya dengan
harapan akan menemukan petunjuk tentang keberadaan Arhan.

"Ini seperti di dalam sebuah gua tapi berlantai tegel. Rajin sekali ya orang yg membangun tempat ini. Tapi ini bau apa, ya?" ucap Furhan sesaat setelah mencium bau aneh yg seperti datang dari arah belakangnya.
"Ini seperti bau kamper tapi lebih menyengat," tukas Hadi seraya menyorotkan senternya ke belakang sekaligus mengalihkan pandangannya ke arah di mana ia menyorot.

Wwuuusshhh

Sesuatu berkelebat begitu cepat dan menimbulkan terpaan angin cukup keras, membuat Hadi dan Furhan
terlonjak kaget kemudian mundur beberapa langkah.

"Apa itu barusan?" ucap Hadi seraya berusaha mencari sosok yg baru berkelebat itu.

"Kelelawarkah itu? Tapi sepertinya itu terlalu besar untuk seekor kelelawar," kata Furhan turut menyoroti seisi ruangan yg mirip ruangan di
dalam gua itu.

Wwuuusshhh....

Sosok yg diperkirakan dapat terbang itu kembali berkelebat, menghembuskan udara dingin serta berbau menyengat ke arah Furhan dan Hadi. Saat keduanya menengok dengan cepat ke arah di mana sosok itu menuju, suatu penampakkan asing yg begitu
menakutkan terlihat menyeringai dengan air liurnya yg berhamburan.

Penampakkan menakutkan itu terlihat seperti manusia namun serba hitam seperti warna kelelawar dan memiliki dua pasang sayap seperti sayap kelelawar di punggungnya. Makhluk itu juga memiliki sepasang telinga yg
berujung runcing serta bertanduk pendek.

Melihat penampakkan mengerikan itu, otomatis Furhan dan Hadi lari pontang-panting menuju tangga di mana mereka sebelumnya menggunakannya. Mereka berniat untuk kembali ke lorong brankas untuk kemudian melarikan diri.
Namun, ketika teringat akan Arhan, mereka menjadi ragu untuk melakukannya.

"Di, Arhan masih belum ketemu. Apa kita akan meninggalkannya begitu saja?" ujar Furhan seraya celingukan dengan panik.

Deru nafasnya pun naik turun. Keringat dingin bercucuran di sekujur tubuh.
Ia benar-benar merasakan ketakutan yg teramat sangat setelah menyaksikan penampakkan sosok mengerikan itu.

"Makhluk itu benar-benar mengerikan. Pasti makhluk telah memangsa Arhan. Aku melihat air liurnya seperti bercampur dengan darah. Makhluk itu sepertinya baru memakan
sesuatu yg hidup," Hadi menimpali dengan deru nafasnya yg juga naik turun.

"Apa itu mengikuti kita?" ucap Furhan seraya memberanikan diri menyorot ke arah lokasi di mana mereka sebelumnya bertemu makhluk itu.

Wwuuusshhh....
Terpaan angin berbau menyengat kembali dirasakan kedua orang itu. Mereka pun dengan kalang kabut menaiki tangga menuju ke atas, ke arah lorong brankas. Mereka berhasil menaikinya dan tiba di dalam lorong. Mereka sudah tidak peduli soal Arhan lagi karena mereka pikir laki-laki itu
sudah dimangsa makhluk asing yg mengerikan tersebut.

Mereka berlari kencang menuju pintu brankas dengan dugaan pintu tersebut masih terbuka. Namun, sesampainya di pintu brankas, mereka hanya bisa mengerang frustrasi karena pintunya kini dalam kondisi tertutup serta terkunci.
Terbukti mereka berdua tidak bisa membuka pintu besi tersebut.

"Sial! Kita terkurung di sini!" pekik Hadi dengan panik.

Furhan menggedor-gedor pintu brankas meski ia tahu itu sama sekali tidak membantu.
Mereka kembali mencium bau menyengat serta hembusan angin dingin dari arah belakang. Selanjutnya mereka hanya bisa berteriak-teriak dengan ketakutan yg luar biasa.
Cerita beralih pada sekumpulan petugas Kepolisian yg sedang berlarian menuju lokasi reruntuhan rumah Uson Lane. Mereka berdatangan ke sana setelah mendapatkan laporan dari teman-teman Arhan, bahwa temannya tersebut hilang bersama dua orang lainnya.
Selain itu polisi telah mendapatkan kesaksian dari beberapa orang yg melihat Arhan bersama dua orang lainnya pergi menuju lokasi reruntuhan di tengah hutan.

Selain para polisi, para pelapor yg adalah Arkim, Dani, dan Sulman juga turut ke sana. Wajah mereka terlihat begitu
tegang saat salah seorang polisi menunjukkan obeng dan dua kawat kecil yg bergeletakkan di ruang bawah tanah tepat di depan pintu yg telah hancur.

"Apa sih yg ada di otaknya dia? Nekat sekali ke tempat ini hanya demi hartanya Uson Lane yg ia pikir ada di bawah sana," ucap Dani
dengan nada tinggi.

"Arhan kan pemburu harta karun. Ia selalu tertarik dengan perburuan harta. Aku pikir, sih dia seharusnya bergabung dengan kelompok bajak laut kalau memang suka berburu harta," tukas Sulman seraya mengedarkan pandangannya.
"Arhan, Hadi, dan Furhan mungkin ada di dalam sana. Tapi para polisi ini tidak ada yg berani masuk ke dalam sana. Ukh, bau kamper pretos ini, mah," lanjutnya.

"Apa harus kita yg masuk ke sana? Tapi para polisi tidak akan membiarkan kita." Arkim berjalan menghampiri salah seorang
polisi kemudian berdialog sebentar.

"Mohon maaf, Pak Arkim. Kami tidak bisa membiarkan anda memasuki ruangan itu. Kami telah memasang garis yg tidak boleh dilewati siapapun kecuali petugas yg berwenang," kata polisi itu setelah Arkim mengutarakan maksudnya.

"Lah, kok bisa
begitu, pak? Memangnya di dalam ada apaan sampai dipasangi garis polisi? Teman-teman saya belum ditemukan, kan? Kenapa dipasangi garis polisi segala?" tanya Arkim penasaran.

Polisi tersebut menghela nafas.

"Ruangan itu menyimpan barang-barang berbahaya. Di antaranya bahkan
menimbulkan kontaminasi yg dapat mengakibatkan gangguan serius pada kesehatan makhluk hidup. Sederhananya di dalam sana terdapat zat berbahaya yg belum ditemukan lokasi pastinya," terangnya.

"Maksud bapak ruangan ini adalah ruang penyimpanan bahan-bahan berbahaya? Tapi kalau
saya lihat dari sini, di dalam sana lebih banyak lemari daripada drum atau galon besar berisi cairan berwarna hijau muda," kata Arkim heran.

Saat Arkim sedang berbicara, mendadak dari arah dalam ruang bawah tanah di hadapannya, terdengar beberapa suara teriakan yg sepertinya
berasal dari para petugas yg sedang menyelidiki tempat itu.

"Aaaaa.... Awas! Cepat keluar!"

"Uhukkk, baunya sangat menyengat!"

"Apa itu! Aaaaarrrhhhh...!"

Semua orang yg berada di luar ruangan sangat terkejut ketika mendengar suara teriakan dan jeritan para petugas yg sedang
berada di dalam ruangan bawah tanah itu.

"Apa yg sedang terjadi? Kalian melihat apa?" seru polisi yg sedang bersama Arkim.

Tak lama dua orang polisi bermasker dengan tabung oksigen di punggung, muncul, setengah berlari mereka keluar dari dalam ruangan itu.
"Pak Asren, anu, pak. Itu Pak Irin diserang!" ucap salah seorang polisi yg baru keluar dari ruangan itu.

"Diserang apa?" tanya polisi bernama Pak Asren itu.

"Makhluk itu sangat mengerikan. Itu keluar dari dalam brankas besar. Mulut makhluk itu dipenuhi darah. Mungkin dia baru
memangsa entah itu orang atau apalah," tukas polisi yg baru keluar itu.

"Satu hal lagi. Makhluk itu bisa terbang," polisi yg satu lagi berkata.

"Lalu apa makhluk itu masih ada di dalam sana?" tanya Pak Asren dengan raut wajah tegang.
"Tidak, pak. Makhluk itu kembali ke dalam brankas dengan membawa Pak Irin. Anehnya brankas itu pintunya tertutup dan terkunci sendiri setelah makhluk itu masuk ke dalamnya," tukas polisi berpelang nama Adi Suratman.

"Gawat! Jangan-jangan teman saya juga telah dimangsanya," ucap
Arkim dengan panik. "Apa tdk ada hal yg bisa kita lakukan untuk menemukan teman-teman saya, pak?" tambahnya.

Pak Asren tidak langsung menjawab. Ia terlihat seperti sedang berpikir seolah sedang mempertimbangkan langkah yg akan dilakukannya dan juga rekan-rekannya sesama polisi.
"Kami akan masuk. Kami akan mencoba membuka pintu brankas itu," ucapnya kemudian.

"Tapi saya akan ikut, pak. Saya merasa penasaran dengan makhluk yg meneror kita," kata Arkim disambut gelengan kepala Pak Asren.

"Di dalam sana udaranya telah terkontaminasi zat asing yg
berbahaya. Lihat saja Pak Adi dan Pak Sugeng harus mengenakan masker dengan tabung oksigen," tukas Pak Asren.

"Kalau begitu, berikan tabung dan maskernya kepada saya, pak. Percayalah, saya bisa menjaga diri, pak," kata Arkim ngotot.

"Kalau anda ikut berarti teman-teman saya yg
sesama polisi tidak usah ikut karena masker dan tabungnya terbatas. Seharusnya ini menjadi tugas kami tapi apa boleh buat kalau anda memaksa," tukas Pak Asren seraya meminta dua rekannya agar memberikan perlengkapannya kepada Arkim dan seorang lagi yg bersedia ikut, yaitu Dani.
"Aku hanya bisa membantu dengan doa. Maaf, bukannya tidak mau ikut. Perlengkapannya yg kurang. Bapak ini bagaimana, sih? Kok bertugas bawa perlengkapannya ngirit begini?" ucap Sulman disertai dengan protesnya terhadap para polisi itu.
"Kami hanya memiliki sedikit perlengkapan seperti itu karena anggaran untuk pembeliannya belum cair. Sudahlah, tidak usah protes. Tunggu saja di sini atau pulang jika tidak mau menunggu," tukas Pak Asren seraya mengenakan maskernya kemudian menggendong tabung oksigen.
Arkim dan Dani pun melakukan hal yg sama. Selanjutnya mereka berdua menunggu instruksi dari Pak Asren untuk memasuki ruangan bawah tanah di bawah reruntuhan rumah Uson Lane.

"Ayo, kita bergerak sekarang. Perhatikan langkah kalian," ujar Pak Asren seraya memasuki pintu ruangan
itu.

"Kalau memang udaranya mengandung zat berbahaya, maka garis polisi tidak akan bisa menahannya, lho. Seharusnya udara dari dalam ruangan ini terhirup juga oleh yg berada di luar ruangan," ucap Sulman sembari menatap kepergian rekan-rekannya.
"Mungkin udara yg terkontaminasinya lebih betah berada di dalam sana daripada pergi keluar," tukas Pak Adi seraya berlalu ke arah tangga yg mengarah ke permukaan.

Sementara Pak Asren, Dani, dan Arkim telah mencapai ruangan di mana brankas besar berada. Sebelum tiba ke sana,
mereka memang tidak terlalu mempedulikan barisan lemari di ruangan sebelumnya. Sehingga mereka melewatkan salah satu lemari yg pintunya telah rusak serta menumpahkan sebuah kaleng seukuran kaleng cat satu liter bersimbolkan Biohazard berwarna kuning.

"Pintu brankasnya tertutup.
Apa kita bisa membukanya?" ucap Dani saat melihat brankas tersebut.

"Tidak ada yg bisa kita lakukan jika ada alat ini. Kecuali kita membawa gerinda tangan yg menggunakan baterai itu," tukas Pak Asren seraya mengamati suatu alat yg merupakan alat pemindai sidik jari, wajah,
dan retina.

"Rumit juga, ya. Tapi kenapa alatnya bisa menyala? Padahal tidak ada listrik di sini," kata Arkim saat melihat lampu indikator peralatan yg tampak menyala itu.

Pak Asren mendekati pintu brankas kemudian menempelkan telinganya ke sana.
Wwhuuussshhh....

Ia kemudian mundur dari pintu brankas itu kemudian menoleh ke arah Arkim dan Dani.

"Itu sedang kemari. Kita harus bersiap," ucapnya seraya mencabut pistolnya dari pinggang.

"Itu?" Arkim berucap seraya meraih gagang pisau yg dibawanya.
Beberapa saat kemudian setelah ketiga orang yg berada di depan brankas tersebut bersiap menyambut kemunculan makhluk yg berada di dalam brankas besar itu.

Pintu brankas terlihat terbuka sedikit demi sedikit disertai suara deru nafas yg terdengar begitu berat. Semakin lebar
pintu terbuka maka terlihat pulalah apa yg mendorong pintu itu dari dalam.

"Arhan?" ucap Dani saat melihat siapa yg muncul dari balik pintu brankas dengan terhuyung-huyung serta seluruh pakaian yg dikenakannya sobek-sobek.

"Arhan, kamu selamat? Di mana Hadi dan Furhan?"
tanya Arkim seraya beringsut hendak menghampiri Arhan namun dicegah oleh Pak Asren.

"Diam di situ, Pak Arkim. Jangan coba-coba mendekatinya. Dia adalah pelakunya. Makhluk itu adalah dia," kata Pak Asren sambil menodongkan pistolnya ke arah sosok Arhan yg tidak bergeming.
Arhan tampak tersenyum sinis.

"Aku telah mendapatkan semua hartanya. Bahkan aku mendapatkan bonus yg tak ternilai. Kekuatan ini kini menjadi milikku juga," ucapnya disambut tatapan kebingungan dari Arkim, dan yg lain.

"Arhan, apa yg kau katakan? Kau pasti sedang mabuk. Jangan
bilang kalau kau terinfeksi virus berbahaya," kata Arkim sambil melihat dengan penasaran ke arah Arhan.

Arhan tidak menyahut. Ia hanya menghentikan langkah kemudian bersandar pada pintu brankas.

Tiba-tiba kemudian ia melompat ke hadapan Arkim dan yg lain.
"Huaaaahaha..... Aku sekarang adalah manusia terkuat!" teriaknya seraya mencakarkan tangan kanannya ke arah Arkim.

Arkim terkejut saat melihat tangan Arhan tiba-tiba berubah menjadi tangan yg memiliki kuku-kuku yg panjang dan runcing berwarna hitam. Wujud Arhan juga mendadak
berubah menjadi wujud sesosok makhluk seukuran manusia bersayap berwarna hitam dan sangat mengerikan.

Arkim yg mahir beladiri lantas menghindar dari serangan makhluk jelmaan Arhan itu. Selanjutnya ia melompat mundur sambil terbelalak melihat ke arah sosok makhluk itu.
Sementara Dani dan Pak Asren turut mundur beberapa langkah. Mereka berupaya mencari jalan yg bisa digunakan untuk keluar dari sana.

"Ini sangat tidak terduga. Ternyata sosok itu adalah teman kalian. Apa yg sebenarnya yg telah terjadi terhadapnya?" ucap Pak Asren dengan panik.
"Entahlah, pak. Bagaimana bisa dia menjelma menjadi makhluk mistis? Padahal ia tidak pernah mempelajari ilmu hitam," tukas Dani sambil melihat dengan waspada ke arah sosok menakutkan jelmaan Arhan yg kini sedang melayang-layang dengan dua pasang sayapnya yg terbentang di
punggungnya.

Sosok itu kemudian menukik ke arah di mana Pak Asren dan Dani berada. Namun, Arkim tidak tinggal diam. Ia lantas menghadang serangan sosok itu dan melayangkan tendangannya kuat-kuat.

"Arggh!" Arkim berteriak kesakitan setelah terkena tendangan makhluk itu.
“Arkim!” seru Dani saat melihat rekannya tersebut terkena serangan makhluk jelmaan Arhan.

Dorrrr….

Terdengar letusan dari pistol yg ditembakkan oleh Pak Asren ke arah makhluk tersebut di mana makhluk itu langsung mengarahkan serangannya ke laki-laki itu. Pak Asren yg merasa
terancam lantas menembaki makhluk itu, namun tidak ada sebutir pun peluru yg bisa melukainya.

“Sial! Makhluk ini kebal senjata!” pekik Pak Asren seraya berlindung di balik sebuah lemari besi yg berada di dalam ruangan itu.

“Awas, Pak Polisi!” teriak Dani saat melihat makhluk
jelmaan Arhan mencakarkan tangannya ke arah lemari di mana Pak Asren sedang berlindung.

Arkim yg melihat situasi gawat tersebut, tanpa berpikir panjang lagi langsung menikamkan senjatanya ke punggung makhluk yg kini dalam posisi memunggunginya. Tikaman Arkim mengenai pangkal
salah satu sayap di punggung makhluk itu.

Tiba-tiba makhluk tersebut melolong panjang dengan tubuhnya yg menggeliat hingga menjadi kayang. Setelah itu makhluk itu terjatuh dalam kondisi telentang.

Bummm…

Tubuh makhluk tersebut menghantam lantai kemudian menggelepar-gelepar.
Terdengar suara nafasnya yg berat yg terengah-engah. Dari mulutnya keluar darah bercampur cairan berwarna kuning.

Beberapa lama kemudian sosok makhluk itu berubah wujud menjadi Arhan yg kini dalam keadaan lemah namun masih sadarkan diri.

“Arhan?” Dani menghampiri Arhan diikuti
Pak Asren dan Arkim. “Apa yg telah terjadi, han. Kenapa kamu bisa menjadi begini?” lanjutnya.

Arhan hanya bisa melenguh dengan lemah. Kedua matanya tampak mendelik ke atas, mulutnya menganga seperti sedang kesulitan bernafas.

“Han, kenapa kamu bisa jadi begini? Apa kamu telah
menghirup udara di dalam sini?” tanya Arkim yg masih mengenakan masker dan tabung oksigen, begitupun Pak Asren dan Dani.

Mendadak terdengar suara seperti kepakan sayap besar dari arah dalam brankas.

Semua orang lantas saling pandang.

“Celaka! Kita harus segera keluar.
Kita bawa Arhan,” ucap Arkim kemudian menggotong Arhan dibantu Dani dan Pak Asren.

Namun, sebelum mereka mencapai pintu ruangan di mana brankas berada, dua sosok makhluk yg sama dengan jelmaan Arhan telah keluar dari mulut brankas. Namun kedua makhluk itu tidak menyerang meski
keduanya menghadang Arkim dan yg lain.

“Arkim, Dani, ini kami Furhan dan Hadi. Tolong kami! Bagaimana caranya supaya kami bisa kembali seperti semula.” Salah satu makhluk itu berbicara dengan suara serak dan agak bergema.

“Tidak mungkin!” Arkim bergumam saat menyaksikan kedua
makhluk yg berdiri di hadapannya itu berbicara.

“Furhan, sebenarnya apa yg telah terjadi kepada kalian? Kenapa kalian bisa menjadi seperti ini?” tanya Dani dengan waspada melihat ke arah dua sosok makhluk yg adalah Furhan dan Hadi itu.

“Kami diserang saat berusaha keluar dari
brankas itu. Setelah itu kami tidak ingat apa-apa. Tahu-tahu kami telah berada di ruang bawah sana. Ruangan yg mirip ruangan gua dengan banyak sekali kotak kaca berisi cairan berwarna hijau dan berbau menyengat,” tukas salah satu makhluk yg diperkirakan adalah Hadi.
“Diserang siapa? Diserang Arhan?” tanya Arkim penasaran.

“Bukan. Yg jelas itu bukan Arhan ataupun makhluk jelmaan Arhan. Itu sangat cepat gerakannya,” tukas Hadi.

“Maksudmu di tempat ini ada orang atau sesuatu yg mendiami?” ucap Pak Asren.

“Benar sekali, Pak Polisi. Saya tidak
tahu apakah itu Uson Lane atau siapa.” Sosok jelmaan Furhan menukas.

“Uson Lane sudah mati atau diduga sudah mati. Apa mungkin itu memang dia?” ucap Arkim seraya mengingat kejadian saat misi penyelamatan Bu Ismi.

“Lalu apa kamu bertemu dengan orang lain yg mengenakan seragam
polisi di dalam sana? Kami kehilangan personel saat sedang mengamankan tempat ini. Ia diculik makhluk yg saya sendiri tidak tahu apakah itu salah satu dari kalian yg menculiknya atau bukan,” kata Pak Asren.

“Kami melihat makhluk itu membawanya ke ujung ruangan di bawah sana.
Saya tidak tahu akan dibawa ke mana dia. Kami memilih untuk segera keluar dari sana karena kami khawatir makhluk itu segera kembali,” tukas Furhan seraya melihat ke arah pintu brankas yg kini tertutup namun seperti sedang didorong dari dalam.

“Apa itu makhluknya? Atau
jangan-jangan itu teman Pak Polisi,” kata Arkim saat melihat pintu brankas terlihat beringsut-ingsut hendak terbuka.

“Entahlah. Tapi yg jelas kita harus bersiap. Mungkin saja itu memang Pak Irin. Semoga saja ia masih memiliki kesadaran seperti kalian berdua,” tukas Pak Asren
seraya melihat ke arah sosok Hadi dan Furhan.

Lama mereka menunggu kemunculan makhluk yg diduga berada di balik pintu brankas besar itu. Memang pintu tersebut berguncang sedikit seperti hendak terbuka selama hampir setengah jam. Namun kemudian pintu tersebut tidak lagi
berguncang-guncang. Pintu tersebut kini dalam keadaan tenang tanpa gerakan sama sekali pertanda tidak ada lagi dorongan dari belakangnya.

“Lah, pintunya berhenti bergerak. Makhluk itu tidak jadi keluar?” ucap Arkim seraya berjalan kemudian menaiki tangga kecil yg mengarah ke
pintu brankas itu.

“Hati-hati, kim. Aku khawatir brankasnya tiba-tiba meledak setelah terdiam beberapa lama,” kata Dani memperingatkan Arkim.

“Kamu khawatir secara berlebihan, dan. Apa coba yg akan meledakkan brankas ini? Bom? Makhluk itu menggunakan bom untuk membuka pintu
brankas? Bukannya semua makhluk yg sama bisa membuka pintu brankas ini tanpa kesulitan? Lihatlah Hadi dan Furhan. Mereka berdua bisa keluar dari dalam brankas tanpa kesulitan. Artinya makhluk yg sama bisa melakukan hal yg sama. Kecuali yg di dalam sana barusan itu masihlah
manusia, belum bermutasi,” tukas Arkim seraya menjulurkan tangan kanannya hendak menyentuh layar pemindai sidik jari.

“Arkim! Awas!” teriak Dani dan yg lain hampir berbarengan saat mendengar suara penghitung waktu mundur berbunyi ‘nit’ dalam tempo yg cukup cepat.

Blarrrrrr...
[Suspended]

Cerita ini menemui jalan buntu.... Dengan terpaksa saya tidak melanjutkannya.....

Tpi jngn khawatir saya akan membuat cerita yg lebih layak, yg arahnya lebih baik daripada cerita yg ini.

Mohon maaf jika saya telah mengecewakan para pembaca semuanya....

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with Acep Saepudin

Acep Saepudin Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @acep_saep88

13 Aug
-KEBAYA HIJAU DAN LUKISAN PINGGIR RAWA -

Sebuah cerita yg ditujukan sebagai sekuel dari Sang Pejalan Malam Versi 2. Cerita akn mengangkat seputar misteri gubuk yg berisi kebaya hijau dan lukisan misterius.
@ceritaht @horrornesia @WdhHoror17 @IDN_Horor @HororBaca @Penikmathorror Image
Samar-samar yg terlihat oleh bocah lelaki itu adalah sosok perempuan yg selama ini membesarkannya, diseret keluar dari dalam rumah. Orang-orang itu membawa perempuan tersebut entah ke mana.

"Jadi ibumu dibawa orang-orang itu dalam keadaan masih memakai kebaya hijau?" tanya
Pak RT yg beberapa jam setelah kejadian, datang menemui bocah lelaki yg kini tengah terbaring lemah di dalam rumah itu.

Bocah lelaki itu hanya mengangguk lemah seraya terisak.

"Siapa sebenarnya mereka? Untuk apa mereka menculik Bu Lastri?" gumam Pak RT.
Read 204 tweets
3 Aug
-- SANG PEJALAN MALAM V2--

Halo, selamat berjumpa kembali di thread dari Acep Saep. Kali ini saya membawakan cerita lama yg di remake. Semoga menghibur...

@ceritaht @IDN_Horor @WdhHoror17 @Penikmathorror @HororBaca #ceritahorror Image
Cerita ini pernah dibuat ketika pertama kali saya aktif membuat thread di twitter. Saya membuat cerita yg sama bukan karena cerita yg lama sukses melainkan karena saya merasa cerita tersebut kurang sreg dan juga terlalu absurd.
Makanya saya mencoba membuat reboot dari cerita tersebut. Penasaran dengan ceritanya? Ayo kita simak saja.
Read 181 tweets
11 Jul
-- DUSUN ANGKER BAGIAN II --

Sebuah cerita tentang para penduduk kota yg tersesat di sebuah dusun angker di pedalaman hutan. Selain tersesat, mereka juga harus berhadapan dg pendduk lokal yg tidak ramah...

@ceritaht @IDN_Horor @WdhHoror17 @HororBaca Image
Dalam keremangan saat itu, Pak Tohar diseret oleh beberapa orang pengepung dalam kondisi dari wajah hingga ujung kaki dipenuhi tetesan darah. Laki-laki itu terlihat tidak berdaya saat orang-orang semi telanjang tersebut membawanya melewati gerbang dari tumpukkan batu yg mengarah
masuk ke perkampungan itu.

Teman-temannya tidak kalah menderitanya dari dia. Mulai dari Arkim hingga Dani, dalam kondisi yg serupa dengannya. Apalagi Cayut yg kini dalam kondisi tidak sadarkan diri.

Laki-laki itu dalam kondisi koma setelah terluka oleh sebatang anak panah yg
Read 160 tweets
28 Jun
- DUSUN ANGKER -

Sebuah cerita tentang suatu dusun yg tertutup dari dunia luar. Dusun yg angkernya tidak hanya terkait hal-hal mistik saja melainkan juga terkait warganya yg tidak ramah pendatang...

@IDN_Horor @ceritaht @WdhHoror17 @FaktaSejarah #ceritahorror Image
Cerita yg saya tulis ini kemungkinan memiliki judul yg sepertinya sudah terlalu umum. Tapi saya pastikan isi cerita bukan hasil dari menyontek karya orang lain. Bahkan cerita ini asli hasil pemikiran saya sendiri berdasarkan pada pengamatan pada sekelompok masyarakat yg memang
tertutup dari dunia luar. Bahkan masyarakat ini selalu berusaha mati-matian agar tidak ada orang asing yg memasuki wilayahnya. Mereka tidak segan membunuh orang-orang asing yg berani memasuki wilayah di mana mereka bertempat tinggal serta bermata-pencaharian.
Read 199 tweets
31 May
-- Petaka Sang Dukun Santet --

Terinspirasi dari kisah nyata tentang seorang laki-laki yg suka membuat ulah, memantik permusuhan kpd banyak orang, yg ujung2nya menggunakan ilmu ghoib untuk menyakiti orang2 yg dimusuhinya..

@ceritaht @IDN_Horor @WdhHoror17 #ceritahoror Image
Malam itu di sebuah kampung di suatu desa yg namanya dirahasiakan. Di dalam sebuah rumah berdinding bata merah yg tidak diplester, sedang terjadi suatu kepanikan luar biasa.

Bagaimana tidak, seisi rumah yg terdiri dari para penghuni rumah dan para tetangga sedang berkerumun,
mengelilingi tubuh seorang pria berusia sekitar 60 tahunan yg sedang meronta-ronta kesakitan di atas tempat tidurnya yg telah begitu lusuh dan dipenuhi tetesan darah.

Tubuh pria itu dipenuhi bintik-bintik merah seperti bekas luka tusukan dari puluhan jarum yg ditancapkan.
Read 152 tweets
2 Apr
- Jejak Rena -

Sebuah cerita dari saya pribadi. Silahkan baca jika suka. Kalau tidak silahkan abaikan. (Like bukan berarti suka. Bisa berarti hanya sekadar numpang lewat)

@IDN_Horor @ceritaht @WdhHoror17 #ceritahorror #ceritaseram Image
Thread ini merupakan lanjutan dari thread berjudul "Rahasia Reruntuhan di Tengah Hutan". Bagi yg mengikuti thread tersebut mungkin tidak akan kebingungan dengan thread lanjutan ini.

Semoga para pembaca tertarik dan terhibur dengan thread alakadarnya ini. Terimakasih
Daratan gersang yang dipenuhi reruntuhan dan pepohonan yang hangus tersebut dulunya adalah Desa Cikahuripan. Sekarang desa tersebut telah luluh lantak akibat amukan api yang disemburkan AdugLajer.

Semburan AdugLajer telah mengakibatkan sebagian wilayah itu ludes tak tersisa.
Read 112 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!

Follow Us on Twitter!

:(