Nyata Profile picture
2 Oct, 268 tweets, 33 min read
Sopo sing ngundang sesuk sing nglakoni - Rungokno wonge nyeluk kowe (Siapa yg mengundang kelak akan menjalani - Dengar Dia Memangil Mu).

Sembari tunggu 500 follower, bantu Rt nya ya.

Salam Hi.. Hi...

@IDN_Horor #penikmathoror @bacahorror #horor #bacahorror
@horrorstw #setan Image
Disaat kisah telah berakhir, semua yg terseret nyatanya kembali.

Ssssttt...... Diamlah!!!

Dengarkan dia memangil mu !!!
Alunan nya riuh meregah, seakan mengusik jiwa yg musrik.
Sstttt... Bangunlah!!!

Wahai Jiwa yg terlelap, lihatlah perjanjian sesat yg tak seorang pun akan selamat.

*SEDULUR GETIH*
-Part 2 Teluh-
*Puas sekarang kamu mas!!!!
bilang sama ibu mu, bukan aku yg mandul tapi anak nya*
Teriak seorang wanita kepada pria yg ada di didepannya.
Kala itu mereka ber dua bertemu di salah 1 RS untuk melihat hasil pemeriksaaan.

Terpaksa Wanita yg kerap di panggil Wijayanti memilih jalan tersebut, lama membina rumah tangga, namun tak jua rahim nya terisi, sementara caci terus tersaji.
*Cari Wanita yg sempurna, jgn Mandul. Ibu itu mau gendong Cucu Nak!! *Begitu lah mulut wanita tua itu menghardik Rumah tangga mereka, tanpa sedikit pun memikirkan perasaan Yanti.
Suami nya yg bernama Wanto pun seakan menutup mata, hanyut dalam bisik sesat ibunya sendiri.
*Iya Benar !! dia Ibu mu Mas, tapi tolong sedikit saja kamu jaga perasaan ku, kamu apa apa minta cerai, ibu nyuruh cerai*berkali juga kata itu terucap oleh Yanti, dgn sedikit hararapan Wanto akan mempertahankan Rumah Tangga itu.
Tapi segala berubah di sore nan cerah bagi Yanti, hatinya terasa terobati, namun tidak dengan Wanto, dia berdiri sedih dengan apa yg baru diketahui, tangannya sedikit gemetar memegang secarik kertas, kertas yg berisikan hasil uji Lab tersebut.
Belum bisa dia menerima kenyataan sebagai pria mandul, dia juga harus mnerima ucapan kasar Yanti yg penuh dengan hinaan.

Mata para pasien seakan terpaku mnatap ke arah wanto, tatapan mreka seperti kasihan terhadap Wanto yg hina.
Peristiwa singkat di Rumah Sakit kala itu memang bukan awal pertengkaran mereka terjadi.

Wanto sedari dulu tdk ingin berpisah dengan Yanti, hanya saja wanita mana pun tdk ingin dimadu hanya karna ingin mendapatkan keturunan.
Terlebih lagi bukanlah Yanti sebab akibat bahtera rumah tanga itu tidak dikarunia tangis bayi yg sangat dinantikan.
Walau semenjak saat itu mereka tdk lagi hdp dalam satu atap, namun secara hukum pengajuan perceraian tdk pernah dilakukan wanto.

Ya setidak nya sebelum Teluh yg menyerang keluarga barunya menyerang.

Teluh yg hampir mengantarkan dia kedalam rumah terakhir di dunia.
Brrrr.....
Suara lembut terdengar dari bilik kamar mandi berukuran 2x2 meter, seorang wanita menahan dingin, seiring air yg mengalir membasahi tubuh mungilnya, khusyuk dia memberiskan diri setelah seharian penuh beraktivitas.
Tubuh mungil itu masih dipenuhi oleh busa sabun yg baru di gosokan, sembari sedikit bernyanyi sumbang, Yanti asik dgn kegiatannya, namun belum sepenuhnya tubuhnya bersih, samar suara ketukan pintu kostan mengagetkan, disela suara air yg masih mengalir.
Tok...Tokk... Tok....
*Yan.. Yanti......*Suara itu kencang memangil.

Dimatikannya kran guna memastikan suara itu, namun suara air yg sudah berhenti seirama dgn ketukan yg tdk lagi terjadi, kian membuat Yanti Penasaran.
Hati nya sedikit bimbang, membayangkan maling yg mungkin masuk ke dalam kamar, bergegas dia berlalu, membalut tubuhnya, walau butiran busa tampak masih menempel di beberapa bagian tubuh.
Yanti sedikit mengeluarkan kepalanya dari bilik kamar mandi, jantungnya semakin kencang berdebar tatkala pintu kamar sudah terbuka dengan lebar.

*Astaga..* Ucap nya spontan sembari berlari kecil memastikan tidak ada harta benda yg raib di kamar itu .
Yanti sempat melihat ke luar kamar, tidak ada seorang pun orang yg didapatinya, pelan dia menutup pintu itu.
*Aaa.....*
Teriak yanti kaget tatkala ada sosok yg memeluk erat dirinya dari belakang.

Teriakan yanti langsung disambut tangan yg menutup mulutnya, tangan itu erat mengengang mulut Yanti agar berhenti berteriak.
*Sstttttt....

Jangan teriak Yan..
Ini Aku Wanto*

Ucap sosok itu pelan di telinganya, sembari dia mulai melepaskan perlahan gengaman tangannya di tubuh Yanti.
Kehadiran Wanto cukup membuat Yanti ketakutan, terlebih untuk semua yg telah dilakukan dirinya pada Wanto dan keluarga nya, selain itu status mereka juga sudah resmi berpisah, semenjak beberapa bulan lalu Wanto mantap mengajukan gugatan cerai.
Ada perasaan buruk dalam benak Yanti, bawasannya kedatangan Wanto malam itu guna membalas prilaku Yanti pada dirinya, Yanti gugup menatap Wanto, dia kwatir saat itu merupakan hari terakhir dia dapat menghirup udara di dunia.
Belum lagi raut wajah Wanto yg terlihat tak bersahaja, dengan rona kemerahan, bau alkohol menyegat dari tubuh itu.

Sesuatu yg tidak pernah sebelumnya didapati Yanti, mengingat sosok pria itu sangat jauh dari alkohol maupun hanya sebatang rokok.
* Mau apa lagi kamu kesini Mas*
Ucap Yanti dengan sedijkit membentak.

Wanto terdiam, dia merasa bingung bagaimana harus menceritakan, saat itu Wanto seperti menelan ludahnya sendiri, membuang wanita yg lama bersama dirinya, hanya untuk 1 wanita yg membuat dirinya kian hina.
Lama Wanto bertutur kata menyampaikan keluh kesah dan niatan dirinya datang menjumpai Yanti.

Yanti dihadapkan pada posisi yg bimbang mendengar kata demi kata yg terlontar dari mulut suaminya.
Dia merasa bahagia akan apa yg sekarang terjadi pada Wanto, hanya saja dia megeleng kepala, nafas panjang terhembus, tak kala Wanto siap memberikan apapun yg dia mau.
Iya semua yg Yanti mau.

Asal Yanti mau membantu Wanto membalaskan sakit hati yg amat parah di jiwa.

Yanti terdiam, karna jujur dalam batinnya, semenjak surat cerai dan bagian yg menjadi hak nya diberikan.

Yanti sudah menutup segala cerita akan apa yg pernah dilaluinya.
Dia sudah tdk mau lagi mengetahui segala urusan yg terjadi dalam hidup wanto.

Hanya saja didepan mata nya saat itu, Wanto menawarkan segala yg ada pada dirinya, dengan pertukaran yg cukup mengerikan.
*Aku janji memberikan apapun yg kamu mau. Bantu aku membalas sakit hati ini, aku ingin dia dan semua keluarganya mati dengan menyakitkan* Ucap Wanto dengan penuh emosi.
Lama percakapan itu terjadi, hingga hampir di jam set 11 malam, Wanto berpamitan pulang.

Entah apa jawaban Yanti kepadanya?? hingga dia pergi dengan raut wajah kecewa.
1000 Km kearah selatan, sedikit menjauh dari hiruk piku ibu kota, seorang gadis kecil bermain ria dengan teman sejabat, dia berlari kesana sini seperti tidak mengenal sedikit pun arti dari kata Lelah.
Beberapa bulan berpisah dengan Ibu kandungnya, tidak membuat Lena bersedih, walau sesekali keberadaan ibunya ditanya kepada Ayahanda tercinta, namun kala itu Lena seperti menemukan kehidupan baru yg lebih layak.
Lena berdiri di tepian jalan yg tak lebih dari 2 meter, wajar dia hidup didaerah pendesaan, dimana aksen masih ala kadarnya, Aktivitasnya terhenti, tajam bocah itu menatap kearah kendaraan roda 2 yang melaju dari arah depannya.
*Yeee.. Ayah pulang* Ucapnya, sembari berlari kecil menuju ke arah motor.
Darman, pria itu kerap disapa warga sekitar, sosok pria yang merupakan ayah kandung Lena, dan jua Mantan suami dari Rina, sore itu wajahnya sedikit bersedih, namun tetap dia paksakan tersenyum didepan putri semata wayang nya.
Sempat dia bermain sejenak, mengajak Lena turut serta berkendara disekitaran rumah, guna menyenangkan hati Putri kesayangannya.
Higga aktivitas tersebut selesai, Darman baru saja mau masuk kedalam rumah, namun Langkah itu terhenti sejenak oleh 1 pertanyaan di sore itu.

*Bagaimana keadaan Bapaknya Rina Nak?* Tanya ibunya kepada Darman.
Darman menarik nafas Panjang, sedikit bingung menjelaskan, sebenarnya sudah 3 minggu ini Ayahnya Rina sakit keras, dan hingga persore tadi Darman yg datang menjeguk juga tidak mendapatkan informasi pasti apa penyakit yang diderita beliau.
Bentol bentol kecil seperti bisul menghiasi tubuh mantan mertuanya, dari setiap benjolan itu mengalir nanah berwarna hitam yg sangat bau, belum lagi wajah beliau terlihat menghitam, seperti gosong, ucap Darman kepada ibunya.
Lebih jauh Darman menjelaskan, kalau Mantan bapak mertua nya tersebut juga sudah di bawa ke puskemas dan sempat di rujuk ke RS dengan diagnose terkena Lever.
Darman heran melihat keadaan ayahanda Rina, karna saat menjemuk siang tadi, dirinya seperti melihat penyakit itu tidak lazim layaknya penyakit lainnya,
“Maaf” (penyakit kusta saja tidak sampai sebau ini batinnya berkata), sempat dia berpikir, mungkin penyakit itu merupakan kiriman seseorang yg tidak senang akan sosok mantan bapak mertuanya, hanya saja Darman enggan mengatakan, apalagi dia hanya sebatas mantan menantu.
Penyakit yg di derita pria tua itu sejatinya belum sampai di telinga Rina, semenjak beberapa bulan lalu sanak keluarga tidak mendapatkan sedikitpun kabar informasi, terlebih tidak ada seorang pun yg pernah mengunjungi rumah Rina di jakarta.
Belum lagi pertikaian beberapa bulan lalu yg melibat kan Rina dengan warga lain, membuat beliau minim perhatian dan bantuan dari tetangga, sebab itu pula sang adik terpaksa harus menghubungi Darman.
Darman menjadi satu satunya tempat mengadu disaat ini, setidaknya keberadaan Lena pada nya, menjadi jalan penghubung bagi adiknya meminta bantuan untuk menolong ayahanda, atau minimal mencari keberadaan rina saat ini.
****Mulai dari sini sudut pandang Darman yg akan menceritakan****
Darman = Aku.
Hanya sebentar aku berada di rumah, ku utarakan niatan mencari Rina ke ibu kota pada ke 2 orang tua ku, mereka hanya tertegun, tampak raut yg tak merestui apa yg hendak ku lakukan.
*Kamu yakin Dar? Rina itu sudah punya kehidupan baru, apa gak lebih baik kamu tdk usah terlalu mencampuri apa yg terjadi di kelurga mereka saat ini* Ucap ayah memberikan petuah pada ku.
Perkataan itu ku telaah matang, benar ucap mereka, hanya saja masih ada ikatan yg tak akan dapat terputus, sekalipun kisah rumah tangga ku dan Rina sudah lama berlalu.
Lena satu satunya alasan itu, bagaimana pun Ayah Rina merupakan kakek dari putri semata wayang ku, dan sampai kapan pun Rina akan ttap menjadi Ibu dari Lena.
Sedikit penjelasan yg ku tuturkan akhirnya dapat memberikan restu dari ke 2 orang tua ku, hanya saja mereka berpesan kehadiran ku kesana hanya sebatas menginformasikan prihal penyakit yg diderita ayahnya.

*Jangan sampai kamu malah mengangu rumah tangga mereka* Timpal ibu pada ku
Dan sekitar jam 7 malam, selang berpamitan, kembali aku menuju ke rumah mantan mertua, kala itu maksud ku hanya sekedar membawa persediaan makanan kesana.
Bawasannya dengan tdk dapat bekerja nya beliau, tentu saja mengangu sendi prekonomian, blm lagi tdk ada kabar dari Rina, dan si bungsu adiknya yg blm memiliki penghasilan karna masih duduk di bangku sekolah kala itu.
Siang sahabat nyata, mau buat nazar disiang hari nan terik.

Kalau threat Sedulur Getih sampai jam 6 sore , kala senja udah menyapa dan saya mulai gas tipis tipis lanjutkan cerita, sampai di 110 RT,

saya akan tuntaskan setuntasnya hari ini.

Salam Hi.Hi..Hi..
Singkat cerita aku tiba di rumah Rina, rumah yang sempat menjadi tempat ku bernanung beberapa warsa lalu.

Terngiyang jelas, 1 kamar kosong yg ada disana, tempat pertama kali suara tangis Lena mengema ditengah tawa kebahagian kami menyambut kehadirannya.
Aku tertawa mengingat itu, dunia memang sungguh lucu, kehangatan tetiba sirna, seiring dewi fortuna yg tidak lagi berpihak, ikatan antara aku dan keluarga ini harus berakhir dengan tragis.
Masih membekas sedikit di hati, kala ku terbayang perlakuan tidak mengenakan yg pernah meraka lakukan, dan anehnya hari ini entah mengapa aku malah Kembali hanya untuk menjadi manusia bodoh yg ikhlas membantu.
Kala itu langit semakin gelap, aku menginap disana, sembari bernostalgia, aku lupa kapan terakhir kali hal itu terjadi, mungkin sudah 4 atau 6 tahun lalu, tidak ada yg berbeda selang kepergian ku, ucap ku dalam hati.
Kursi santai yg dulu aku belikan masih tertata rapi di teras rumah, walau penampakannya sudah usang termakan usia namun masih layak tuk diduduki.
Aku bersantai disana, sembari menghisap sebatang rokok, dalam khayal ku berpikir bagaimana aku harus mencari Rina tanpa alamat yg jelas, hanya bermodal nama tempat dengan luas berpuluh KM menjadi patokan, belum lagi bilamana daerah itu ternyata bukan tempat tinggalnya?
Apa iya 1 demi 1 Komplek disana harus aku  kunjungi menanyakan nama WANTO atau Karina
Ah… Sudahlah semoga ada jalan, memikirkan itu terlalu lama hanya membuat pusing diri ini, guman ku.

Ku Tarik sekali lagi rokok itu dalam dalam, ku hembuskan perlahan sebelum aku melemparkan puntung rokok tersebut kearah depan.

*Duaarrrrrr…*
Ledakan terdengar keras dari dalam rumah, sempat ku terdiam kaget mendengar dentuman itu, sebelum langkah ku kembali bergerak mencari tau apa yg terjadi.
Ku dapati atap kamar tempat dimana Ayah mertua terbaring bolong, disisinya sudah ada adek ipar yg memegangi tangan beliau yg tampak gemetar, mata ku tajam menilik setiap sudut ruangan hanya puingan atap yg berserak dilantai, tidak ku temui benda mencurigakan lainnya.
Apakah hanya penyanga genteng rumah ini sudah usang, sehingga genteng ini jatuh ? tanya ku dalam hati.

*Bapak ga apah dek? Ga da yg luka kan? Kwatir genteng nya jatuh mengenai bapak.* Ucapku kepada mantan adek ipar.
Dia kembali mengecek sekujur tubuh bapaknya, hanya saja sulit baginya untuk membedakan, karna semenjak beliau menderita penyakit itu, tubuh ayahnya kerap mengalirkan darah dan lebam yang disertai nanah busuk.

*Entahlah Mas Dar* Jawabnya bimbang pada ku.
Lama aku menemani mereka, sempat pula kubersihakan puing itu, sebelum rasa kantuk mengangu ku, terlebih besok aku harus berangkat ke Jakarta untuk mengabari Rina akan kondisi Ayahnya.
Setelah berpesan dengan adek ipar agar menemani bapak malam itu, Langkah ku beranjak menuju kamar yg dulu aku miliki, belum jua sepenuh nya aku keluar dari kamar itu, terdengan suara bapak.

*AAA…ar…….argg….*
Aku menoleh kembali padanya, dia mengengam erat tangan adek ipar, matanya menghadap diriku sembari terus mengeram histeris, seperti menahan rasa takut yg sangat mengerika.
ku berjalan kembali mengarah ke dirinya, bukan membuat bapak mertua tenang, raungan nya semakin menjadi, dia semakin mencengkram mengengam tangan anak bungsunya.
Sontak aku sedikit panik, karna aku merasa menjadi sumber ketakutan beliau, beberapa kali aku coba berinteraksi mendekat kepada beliau, malah membuat dirinya semakin histeris.
Aku semakin bergedik, Tatapan beliau tidak berhenti memelototi sedari tadi, sungguh membuat ku tak nyaman berada disana.

Belum lagi prilakunya semakin aneh, dia melempar, memukul apa saja yg ada di dekatnya.
bahkan anaknya sendiri jua tak luput dari amukan, ku tarik dirinya secepat mungkin, karna pria tua ini semakin meresahkan, tangannya sedari memukul wajah anak kandungnya.
*Pergi.. pergi ... kalian dari rumah ku* Teriaknya melanjutkan kisah mencekam malam itu
*Cari bantuan dek !!!!* pinta ku segera, dia berlari ke luar guna meminta tolong pada tetangga sekitar.
Kini tinggal aku dan beliau yg ada di rumah itu, aku ttap berjaga di depan pintu, tanpa berani mendekatkan jarak dengannya, dan apa yg ku lihat selanjutnya sungguh mengerikan dan hampir membuat ku gila, bahkan mengurungkan niat untuk membantu keluarga itu.
Beliau semakin kencang berteriak.

*Pergi.. pergi.. jangan gangu keluarga ku*
ucapnya berkali kali.

Dug... dug..

Kepalanya dia hantamkam keras pada dinding, darah mengalir deras, bahkan tembok itu pun berubah warna, terciprat darah dari hantukan kepala yg tiada henti.
Orang normal pasti nya akan kesakitan dan mengerang menahan hantukan seperti itu, tapi tidak dengan beliau, semakin keras antukan, semakin kencang tawanya terdengar.
Tragedi brutal tanpa sensor di depan mata, sudah tidak dapat dinalar dengan akal sehat.

Bukan, ini bukan penyakit, pasti ada hal goib yg sedang merundung rumah ini.

*Ini pasti Teluh*
Ucap ku spontan melihat hal gila itu.
10 menit berlalu sibungsu tiba dengan Bersama beberapa warga, raut wajah mereka terlihat mengerut keheranan melihat keadaan bapak mertua.

“Bapak mu kenapa ini Dar?” Tanya salah 1 warga Bernama Pak Kasim.

“Ndak tau pak, Aku juga bingung “ jawab ku.
Dengan dibantu beberapa warga, kami menvcoba memegangi tubuh beliau agar tidak melanjutkan aksinya membenturan kepala , butuh 6 tenaga pria dewasa untuk menahan ronta perlawanan dari tubuh pria tua itu.
Pak Kasim tampil sebagai sosok yg berjasa kala itu, bermodalkan segelas air dan bacaan doa yg diminumkannya ke mulut beliau, dapat membuat mantan mertua ku seketika langsung terdiam, dan tidak sadar kan diri.
Namun masih ada pekerja lain yg menanti, sangkin banyaknya darah mengalir dari kepala, aku langsung berinisitif mengotong tubuh itu, langkah kami sigap membelah malam dengan hanya mengunakan sepeda motor guna menuju RS.
Aku masih berharap pria tua ini dapat terselamatkan, sekalipun benak dijiwa berkata bahwa dia sudah berpulang.
Sesampainya di RS beliau langsung mendapatkan penanganan khusus di UGD, sementara aku dan 2 warga yg menemani duduk di ruang tunggu, sembari menyemagati si bungsu agar kuat dengan apa yg belakangan ini terjadi pada keluarganya.
Disisi lain aku semakin ragu untuk melanjutkan niatan baik membantu, ada kekwatiran terror mencekam yg baru terjadi, bukan tak mungkin juga menyasar pada ku.
Selang beberapa jam, kami dipanggil oleh dokter yg menangani beliau, tidak banyak yg disampaikan nya, selain menyuruh kami agar banyak berdoa, sehingga bapak dapat melewati masa krisisnya.
Saat itu hanya tinggal aku dan si bungsu, ke 2 warga yg sedari tadi menemani sudah pamit pulang, mengingat kala itu malam
semakin larut,
Ber 2 kami menjaga beliau di ruangan ICU, tampak tubuh rentan itu lengkap mengunakan alat medis, dengan perban yg terbalut di kepala.
*Dek kamu jaga Bapak disini ya, masalah biaya nanti Mas bantu. Mas mau pulang ke rumah dulu, ngambil perlengkapan buat kalian, bsk pagi mas kesini lagi * Ucap ku.
Belum sempat aku mengutarakan niatan mundur mencari Rina ke Jkt.

Wajah polos memelas sibungsu membuat ku Iba. Aku bahkan tak sampai pikir, seorang lelaki yg beranjak dewasa itu berlutut sembari memohon pada ku.
*Mas Dar. Maaf keluarga kami sangat meropoti, sekali lagi saya mohon, bantu untuk cari Mba Rina* Katanya memelas.
Hanya hembusan nafas panjang dapat ku lakukan, berat hati ini terasa untuk ikut lebih jauh mencampuri sesuatu yg bukan urusan ku.

*Iya, mas coba bawa mbak mu pulang* janji ku padanya
Sekalipun lisan ku tegas berkata layak nya pria, namun dalam pikir ku masih sedikit terusik dengan jawaban terpaksa yg terlontar dari mulut.

Entah perkataan ini akan membawa
dampak baik atau buruk bagi ku di kemudian hari nanti.
Ku tilik jam sudah menunjukan set 2 malam, bergegas aku pergi meninggalkan mereka.

Aku keluar dari kamar dengan kondisi sibungsu telah terlelap dilantai dengan beralaskan tikar tipis.
Ku tutup pintu itu perlahan agar tdk mengusik mimpi indah mereka, baru beberapa langkah aku pergi, langkah kaki dari arah belakang terdengar di keheningan.
*Tap.. Tap.. Tap... *

*Kreeek...*
Suara nyaring dorongan pintu terdengar, ku balikan badan melihat siapa sosok yg sepertinya masuk di ruang Icu itu.

Samar terlihat perawakan wanita mengunakan baju dinas. suster ??? tanya ku penasaran.
Aku terdiam, mematung di depan pintu itu, sembari menunggu suster itu keluar, kali ada yg sesuatu yg mau disampaikannya, baik itu prihal kesehatan bapak, maupun masalah admnistrasi, pikir ku.
5 menit aku menanti sosok itu tak kunjung pergi, yg semakin membuat aku penasaran dan melangkah kembali ke kamar itu.

Ku buka pintu itu perlahan, terlihat si bungsu masih terlelap, hanya saja kenapa horden pasien menutupi ranjang, apa bapak lg diperiksa?
Aku begedik dan tak berani melangkah masuk ke dalam, samar terlihat di dinding pantulan bayang yg semakin membesar dengan perujudtan tdk lazim, terdengar pula erangan kesakitan dari ranjang yg tertutup horden itu.
Suasana kian tak nyaman bagi ku, kenapa si bungsu tdk terbangun untuk erangan sekencang itu, dan ........
*srekkkk*

Gorden itu tersibak dengan pemandangan menjijkan, makhluk berbentuk setengah ular ada tepat diatas tubuh bapak, kepalanya bersadar di bagian perut sembari mulut nya seperti mengunyah bagian tubuh itu.
Deg.. Deg.. Deg...
Jantung ku berdebar kencang, aku merasa tdk sangup, ku tutup pintu perlahan dan langsung berlari meninggalkan kejadian terkutuk itu.

Maaf !!! Aku tdk lg berpikir pria tua itu masih dapat melihat mentari di esok hari, ucap ku di hati.
Lega, begitulah perasaan ketika motor yg ku kendarai keluar dari pelataran Rumah sakit, walau masih terbesit sedikit pikiran akan akhir takdir dari beliau, namun ku coba menepis hal buruk, mengenai 1001 pertanyaan yg singah dikepala.
*Siapa manusia yg tega berbuat sesadis ini ?* Tanya ku terus menerus didalam pikiran.
Jalanan malam itu sepi dengan track lurus Panjang membosankan, hmbusan angin jua terasa kencang brtiup membawa hawa dingin yang mretakan sendi tubuh, pelan ku pacu kndaraan kala itu, karna selain mata ku yg mulai sayup mnahan kantuk, ada kekwatiran tersendiri yg membatin di jiwa.
Aku takut sosok goib atau mungkin musibah akan datang disaat yg na’as, wajar aku berpikir buruk, mengingat sudah terlalu jauh aku mencampuri masalah ini.
Tak lama waktu tersedia untuk berleha, berita lelayu tiba di pagi nan buta, seperti apa yg ku bayangkan, beliau meregang nyawa di hari itu.
Prosesi pemakaman dadakan dibuat secepat mungkin. Hanya beberapa warga saja yg melihat kondisi almarhum, bukan tdk menghargai, hanya saja kwatir jasad beliau yg penuh dengan luka mengenaskan.
Terlebih bagian mata nya tdk dapat dipejamkan, seolah memberitau betapa sakit pendertiaan yg harus dijalani menjelang detak jantung terakhir berdetak.
Hal itu sudah pasti menjadi Aib, terlebih lagi tidak ada sosok anak tertuanya Rina kala itu, yg semakin membuat keluarga ini menjadi bahan omongan tak mendasar bagi warga sekitar.
Menjelang sore pemakaman berakhir, ada inisiative warga mengadakan tahlil bagi almarhum, dan mau tak mau aku lagi lagi harus andil bagian, karna sibungsu yg belum mengerti apa apa, dan juga psikisnya yg masih tergangu tanpa ada tempat bersanding.
Intermezzo sedikit, mau buat quiz.
*Kira kira akhir cerita ini bagaimana ya?*

2 minggu selang cerita ini selesai, ada hadiah buat 1 org yg benar menjawab. klu ada 2 org yg benar menjawab, akan dipilih siapa yg pertama kali menjawab benar.
====>>>>>>>>
Syarat =

*berlaku bila ada 20 peserta yg ikut memberikan analisisnya.

*wajib follow akun ini.

Hatur Tq.

Salam Hi..Hi..Hi..
*****************

Indah pagi dengan kicauan burung yang menyapa ramah, berbanding terbalik dgn keadaan seorang wanita yg masih terjaga diranjang empuk, air mata berlinang di wajah, penuh dengan tanya akan situasi yang tak pernah ada jawabnya.
Hari yang silih berganti seolah mengantungkan dirinya dalam sebuah teka teki yang mendalam, sejenak dia larut dalam jeritan, meratapi kebiadapan dunia. namun tak jarang dia pun tersenyum meratapi nasib sial yg tak kunjung berakhir.
Apa yang ditakdirkan adalah sepenggal cerita, namun tidak semua cerita dituliskan sebagai takdir.
Wanita itu berdiri melihat senja diujung sana, bersama Angin yang berhembus pelan, ia berayun, seolah melambai dan berbisik padanya, dan tatkala senjapun berlalu, kabut hitam lantang bersanding bersama teror mencekam yg akan dimulai.
*Ampun.. Ampun Mas*
Teriak Rina memohon pada Wanto di malam hari itu.
Hidung dan bibir rina mengeluarkan darah menahan hantaman tangan yg dilayangkan Wanto saat itu.

*Ampun Mas, Maafin Rina* ucap nya rina terus menerus, memohan maaf.

*Haa..... Maaf.... Maaf kata mu!!!!,
aku akan maafin kamu setelah kamu mampus perlahan* balas Wanto padanya
*Anak siapa itu Lo*te.. bilang anak siapa?, murahan kamu an*ing* caci wanto sembari melayangkan tamparan ke wajah rina.

Rina terkapar pasrah, tanganya memegangi perutnya yg membesar karna rasa nyeri yg teramat sangat, tetesan darah mengalir dari sela pahanya.
Wanto menatap rina, wajah nya penuh dengan rasa dendam, kembali wanto menjambak rambut Rina, wanto mengangkat kepala itu dengan kasar kearah wajahnya sembari mencium bbir rina.

*Jgn mati dulu!! aku mau anak haram ini lahir melihat ibu nya mati dengan perlahan*. bisik wanto
Saat itu Wanto meninggalkan Rina dalam keadaan babak belur, dia terkapar pingsan dalam kehororan prilaku Wanto.

Rina tidak tau bawasannya apa yg dihadapinya hari ini baru awal dari segala petaka yg dibuatnya sendiri, sesuatu yg lebih menakutkan didepan tlh menunggunya.
Back sudut pandang Rina, Rina =Aku. episode 2, sebelum babak penutup .

*****************
Pagi itu aku terbangun dengan keadaan tubuh yg terasa remuk, hampir disekujur tubuh nyeri menyegat yg membuat ku tidak bisa beranjak sedikitpun dari ranjang ini.
Kudapati tubuh ini penuh dengan luka memar membiru, hanya saja posisi diri ku terakhir pingsan berbeda dengan saat aku terbangun, baju yg ku kenakan jua tak lagi sama.

Ku tatap ke arah lantai tempat pristiwa kemarin terjadi tidak ada lagi kucuran darah segar menempel.
Wanto seperti nya membersihkan segala nya, dia seperti menunaikan janji, tak ingin melihat ku segera menemui azal.

Aku bergedik, merinding ketakutan, merasa trauma membayangkan dia akan melakukan hal yg sama nanti malam.
Terlebih kaki kiri ini dilingkarinya dengan rantai tergembok, memasung aku di kamar belakang.

Ku lemparkan makanan yg ada disamping tempat ku berbaring,

*Kenapa Psikopat ini tdk membunuhku saja?* Pinta ku sembari menangis.
*Andai saja aku mendengarkan Yanti, mungkin aku hidup tenang bersama bapak saat ini* ucap ku kembali.

Tidak ada jalan bagi ku untuk kabur, badan ku yg sakit ditambah pasungan rantai ini, hanya membuat kau terduduk meratapi nasib.
Belum lagi alat komunikasi ku juga disita olehnya, aku sangat ingin mati saat ini.

*Mas Wanto, bunuh aku, tolong bunuh aku* teriak ku kala itu oenuh dengan rasa frustasi.
Aku benci kala malam tiba, suasan horor kian kental terasa,

Grenggggggg...
Suara pintu gerbang yg terbuka menjadi tanda harian mimi buruk akan menjadi nyata.

Mas wanto selalu mencaci memaki aku, tangannya kerap melayang di wajah hari demi hari.
Tak jarang dia juga melepaskan syahwat secara brutal, memperkosa ku sejadi jadinya.

Perlakuannya seolah membuat diri ku tak ubah wanita murahan yg dapat di perlakukan semau dirinya.
Hingga kehamilan ini memasuki usia 6 bulan, sesuatu yg ganjil terasa dalam diri ku.

Sesuatu yg hitam kembali ke rumah ini.
Aku hanya termenung, berpikir agar dapat kabur dari mimpi buruk, namun belum sempat terbesik bagaimana cara merealisasikannya, sesuatu seperti menyentak, mengingatkan kembali akan sesuatu yg kasat di kamar ini.
Kembali aku bergedik dalam bayang kelam ruangan bernaung saat ini, lama terasa aku tdk mendengar bunyi itu, bunyi yg membuat bulu kuduk ku merinding.
*hempasan pasir* Ucap ku pelan sembari membayangkan kisah horor beberapa bulan lalu.
Kepulangan Mas Wanto disetiap harinya selalu membuatku takut, tapi malam ini aku berharap dia segera pulang.

Terlebih pintu itu kembali tergedor, seperti ingin menunjukan kegerian di luar kamar ini.

ZzzzzzZz...
Aku semakin panik, Tatkala lampu dikamar ini tetiba padam.
Spsang tangan seperti memeluk tubuh ku dalam kegelapan.

Tngan itu meaba perut, ku rasakan hntakan kuku tajamnya sedikit mncengkram.

Aku mronta brusaha menepis tangan itu. Sbelum 1 suara melengking yg membuat ku semakin histeris

*Hi..Hi..Hi..* Cekikikan itu nyaring terdengar.
Suara itu lama bergema, terus berdengung di telinga ku, walau keadaan ruangan sangat gelap, namun bayang masa lalu akan sosok demid yg saat ini ada bersama ku, seolah dapat tergambar utuh di dalam pikiran.
Suara lain terdengar memangil.

*Rin..Rin...* ucap suara yg sepertinya tak asing ku rasa.

Samar terlihat sosok lain seperti berdiri tepat di depan pintu, dia mengenakan kafan terbungkus layaknya jenajah.

Aku bergedik, bukan lagi takut akan 2 demis yg ada bersama ku saat ini
Firasat ku berkata, kengerian ini bukan lagi menyerang diri ku.

Dalam akhir kesadaran diri ini, samar ku rasa fatamorgana sosok seperti bapak yg sudah menjadi pocong berbicara tepat di hadap ku.
*Sopo sing ngundang sesuk sing nglakoni - Rungokno wonge nyeluk kowe (Siapa yg mengundang kelak akan menjalani - Dengar Dia Memangil Mu)* Ucap bapak yg ku akhiri dengan air mata, kembali aku pingsan dalam kengerian malam itu.
*Rin... Rin... Ndok.. bangun nak* bisik itu selalu tergaung di telinga menyadarkan ku dalam kelap fatamorgana.
Hampir setiap hari bapak hadir dalam mimpi, memohon sesuatu hal yg tak dapat ku pahami, wajah beliau tampak lesu, pucat seperti lelah menangung beban yg teramat besar, beliau selalu menangis, memohon tolong, maaf dan berpesan agar aku segera mengakhiri apa yg telah ku mulai.
Tak pernah ku duga, niatan balas dendam yg sudah matang ku rencanakan malah menjadi bomerang yg menghancurkan diri ku secara perlahan.

Semua seperti karma, yg tak dapat ku hindari.

*Pak, maafin Rina* isak ku kala terbangun dari mimpi yg menyayat hati.
Hasrat sesaat yg membutakan hati, membuat ku melampiaskan dengan cara yg salah.

Pertemuan dengan Darman mantan suami ku kala itu bukan lah sesuatu yg kurencanakan. Salah ku terbuai hingga menceritakan hal yg seharusnya tak patut tertuturkan.
Terlebih lagi aku malah terjerumus kedalam dosa dan melupakan kodrat sebagai istri yg seharusnya menjaga kehormatan suaminya.
Dan sampai aku kembali bertemu yanti, semua telah terlambat, tak pernah terbesik Mas Wanto akan membalas kesalahan ku dengan sekejam ini.
Memasuki usia kandungan 7 bulan, aku sudah tidak merasakan nikmatnya arti kehidupan.

Teror horor dari prilaku mas Wanto maupun demid biadab rutin ku terima hari lepas hari, yg membuat aku mulai kehilangan akal sehat.

Andai bisa ku pilih kematian, sudah pasti aku akan meminta
Pagi itu Mas Wanto datang dengan wajah yg sedikit murung, lama dia memandang dengan riak muka iba terhadap keadaan yg sebenarnya dilakukan olehnya.

Dibukanya pasung yg mejerat kaki, perlahan dia membelai diri ku, memapah ku tuk membersihkan diri.
Entah apa yg dipikirkannya, aku merasa aneh atas kebaikan itu, terlebih untuk penyiksaan tak manusiawi yg dilakukan pada ku.

*Dek, aku ga tau harus berkata apa* Ucap nya pada ku.

Aku hanya terdiam, engan membalas ucapannya.
Ada apa dengan manusia ini tanya ku membatin, apa pintu hati nya sudah memaafkan aku? atau hanya akal akalan nya saja untuk membuat diri ku semakin merana.

Terlebih 1 perkataannya pada ku, yg semakin membuat aku tdk habis pikir akan apa yg terjadi dipagi itu.
*Siang nanti Mas antar kamu pulang, kamu ga usah bingung*
katanya kembali, aku masih tertegun diam, sembari menatap wajahnya, hal yg tdk pernah berani ku lakukan dalam beberapa bulan terakhir.

*Kamu serius atau hanya mempermainkan ku ? Tanya ku padanya.
Lama dia memandang, wajahnya kembali sinis.

*Aku masih dendam, sangat dendam malahan dek, ingin aku membunuh mu* serunya yg kembali membuat ku bergedik.
*Ibu tau nya kamu hamil, ibu pingin ketemu kamu, bagaimana bisa aku berkata padanya itu bukan anak ku, mau kemana wajah ibu atas semua yg sudah dikatakannya pada Yanti, aku ga bisa bayangi hancurnya beliau kala mengetahui anaknya mandul* tutur Mas Wanto pada ku
Mas Wanto menangis, dilayangkan kepalan tangan tepat disamping wajah ku, berkali kali tembok kamar itu dipukulnya dengan keras.

*Tega kamu Rin.. Tega kamu Rin* ucapnya berkali kali sembari terus memukul dinding kamar itu
*Maaf mas, kalau kematian ku menjadi satu satunya pengobat dendam itu, aku ikhlas* ucap ku memelas, tdk tau harus berkata apa lagi padanya.
Singkat cerita kami berangkat pulang siang itu, ada perasaan senang dalam diri, namun perasaan menganjal masih ttap terasa.

Aku kwatir ini hanya jebakan yg niat dilakukannya untuk membuat diri ku semakin menderita.
Terlebih 1 pesannya membuat ku merinding, takut sesuatu yg buruk sedang terjadi ditengah keluarga ku.
Sekitar jam 10 malam, kami tiba di rumah, keadaan terlihat sepi, hanya lampu penerangan di depan rumah yg tampak bersinar.

Aku melangkah mengetuk pintu rumah.

Tok.. Tok.. Tok..
*Assalamualaikum .. Pak... * ucap ku yg tak mendapat balasan dari dalam rumah.
Lama aku memangil mereka, bahkan sempat aku mencari celah lain, mengetuk jendela kamar bapak atau adik ku, berharap pintu itu akan dibukakan bagi ku.

Semua usaha percuma, tidak ada org dirumah itu, aku merasa heran kemana mereka pergi.
Berbanding terbalik dengan diri ku yg disibukan mencari keberadaan keluarga, Mas Wanto hanya berdiam diri di teras rumah tanpa sedikit berkata apa apa.

Dia seperti gelisah, tangannya mengepal dengan mata yg sesekali melirik diri ku, seperti ingin mengatakan sesuatu.
*Kamu kenapa Mas* Ucap ku.

*Ma.. Maaf Rin* Kita pulang karna..
belum sempat dia berkata.

berberapa rombongan warga melintas dan mengarah ke rumah ketika melihat ku.
Wajah mereka terlihat panik, sembari melangkah lebih cepat menyampari ku.

*Kamu dari mana saja Ndok* Ucap pak Kasim bertanya.

Aku bingung harus berkata apa, terlebih mata mereka memandang tubuh ku yg berbadan 2 ini, belum lagi mata mereka seperti mengamati lukas lebam di wajah.
kok seperti nya terjadi delay di tweetnya ya. partnya ga sesuai...

benarkah??
Mas Wanto diam tertegun, seperti takut melihat keberadaan warga disana.

Dan sesuatu yg mengejutkan terungkap, hari itu aku memahami arti kehadiran bapak berkali kali ke dalam mimpi ku.

Ucapan Pak Kasim tak dapat ku terima, dan membuat mental ku semakin hancur.
* Anu rin, bapak mau tanya, kamu sdh tau kan , Ayah mu sebulan lalu sudah berpulang, sementara adik mu, kemarin pagi ditemukan tewas* seru nya pada ku.
Semua terasa gelap,pikiran ku kosong mendengar apa yg dituturkan oleh pak kasim, aku menjerit, dan berharap ini hanya omong kosong ,atau mimpi buruk yg selalu ku alami.
*Gak.. Gak .. Mungkin... ini pasti mimpi.. Ha... Ha.. , kalian semua pasti demid kiriman Wanto, iya kan?*

Aku terus menampar pipi ku, sembari terus berharap ini hanya mimpi.

*Bangun Rin..Ini ga nyata* ucap ku berkalo kali berusaha melawan takdir yg teramat menyakitkan ini.
Mas Wanto mendekap tubuh ku, Dia memeluk ku erat.

*Sabar dek, Mas juga baru tau kemarin mengenai info ini* katanya pada ku.

Aku menangis sejadi nya, ku dorong tubuh menjijikan itu dari sisi ku.

*Apa salah mereka mas? kenapa kamu tega?*bentak ku padanya.
Mendengar perkataan ku membuat semua mata tertuju ke arah Mas Wanto.

Warga tampak bingung akan apa yg baru ku katakan, Mas Wanto tdk dapat berkata kata, manusia biadab itu hanya terdiam, sembari terus menahan pukulan yg ku lakukan padanya.
Rumah itu seketika ramai, amukan yg sudah tak dapat ku bendung, memancing kehadiran warga untuk melihat kegaduhan di larut malam ini.

Kelakuan dan teriakan yg semakin keras ku lakakuan, memaksa beberapa ibu ibu membopong ku, terlebih mereka melihat keadaan ku saat itu.
Sigap beberapa warga wanita menahan dan mencoba memisahkan ku dari wanto.

Aku dibawa ke salah satu rumah tetangga, disana aku dibalingkan disuruh untuk beristirahat.

Dan malam itu entah aku terlalu lelah dan depresi, sebelum mata ini terlelap bapak dan adik ku tampak di dpan ku
Wajah mereka sungguh sangat mengerikan, dengan berbalut kain kafan yg sangat kotor.

Mereka menandangi ku, seperti menyalahkan apa yg terjadi pada diri mereka merupakan kesalahan ku.
itulah hal terakhir yg ku ingat, sebelum aku terlelap dari rasa letih yg sudah sangat menghantui.
Dan dipagi pagi buta, aku terbangun dengan cerita lain yg lebih memilukan,

Teriakan 2 orang pria yg sedang berbalas caci dan tinju, kembali membuat gaduh warga kampung ini.
Badan ku masih terasa lemas, namun aku harus mendapati Mas Wanto dan Mas Darman sedang berkelahi di depan rumah.
Ada rasa senang melihat Mas Darman hadir disana, terlebih dia adalah ayah dari anak yg ada di perut ini, namun aku juga takut, karna manusia yg ku sakiti hatinya jua ada disana, dan seperti hendak ingin membuat perhitungan pada Darman.
Nyaris pertikaian itu menjurus kearah anarkis, walau sempat dilerai dan warga kampung ini menyuruh Darman kembali pulang, namun Darman malah kembali membawa rekan rekannya mengepung rumah itu.
Mas Darman tdk dapat menerima perlakuan Mas Wanto padanya, wajar saja, karna dia belum mengetahui apa yg terjadi pada ku.

Dan pertemuan mereka secara langsung pagi itu, langsung di artikan Wanto sebagai ajang balas dendam.
Amarah nya tdk dapat terbendung kala Darman memperkenalkan diri sebagai mantan suami ku
Perkataan Darman padanya, sudah cukup membuat wanto naik pitam, dan berasumsi bahwa dia lah sosok yg sudah merusak keharmonisan rumah tangga kami.

Sekalipun pernyataan itu belum pernah terucap pada ku, firasatnya terlalu kuat untuk dapat mengetahui awal keretakan ini.
Singkat cerita baik Mas Darman dan Mas Wanto digelandang warga menuju ke balai desa.

Disana mereka dipertemukan dengan pengawalan ketat warga yg dipimpin langsung oleh Kepala Desa dan polisi setempat.
Saling tuding di lontarkan ke 2 belah pihak, yg membuat keadaan semakin semeraut, hal itu suka tdk suka membuat warga terpaksa menghadirkan aku ke sana jua.

Sebagai peredam amarah Wanto, dan supaya dapat membujuk Darman agar mengikhlaskan perbuatan Wanto pagi tadi padanya.
Aku sangat kwatir aib ini akan terbongkar didepan seluruh warga, namun aku tdk bisa menolak karna semua sudah mengarah pada ku.

Untung nya saat itu Mas Wanto sama sekali tdk menyingung soal anak di perut ku.

Smntara Mas Darman, sedikit kecewa, dia terkejut melihat kehamilan ini
Tak salah baginya kecewa, karna aku tau dia masih mencintai ku, dan dia pastinya masih berpikir anak ini merupakan hasil pernikahan ku dengan Mas Wanto.
Akhir perdebatan itu akhirnya dapat diselesaikan dengan legowonya Darman.

Sementara Wanto diharuskan memberikan sejumlah uang damai, untuk Darman berobat kala itu.
Hati ku sedikit tenang, kekwatiran akan aib masih dapat tertutup dengan rapat, hanya saja selesai dari sini apa yg akan terjadi pada ku.
Apa kah Wanto akan kembali menyiksa ku di rumah? Apa yg harus ku lakukan, tdk mungkin jua aku pergi bersama Darman, apa yg akan warga katakan nanti.

Sudah pasti aku akan menjadi bual bualan omongan sadis dari mereka bila itu sampai terjadi.
Singkat cerita aku kembali ke rumah dengan Mas Wanto. Aku mempersiapkan diri bilamana dia akan kembali menganiaya ku.

Selain itu aku juga ingin mendengar langsung dari mulutnya, apakah kematian ke 2 orang yg ku sayangi merupakan perbuatan dirinya?
Aku mau semua ini tuntas di hari ini, bila benar ini merupakan ulah dari dirinya, aku bertekad akan membunuhnya dan juga bunuh diri, hanya itu jalan keluar yg ada dipikir ku.
Baru selangkah kaki kami masuk ke dalam rumah, belum sempat hal lain tuk dilakukan, Mas Wanto sudah menyecar pertanyaan yg sedari tadi menganjal di batinnya.

*Dia bapak anak yg dikandungan mu Rin?* Tanya nya.

*Iya* Kata ku tegas menjawab pertanyaan nya.
*Apa kamu yg ada dibalik kematian adik dan bapak ? * tanya ku balik padanya.

Mas Wanto terdiam, dia memandangku dengan sedikit gugup.

*Benar kamu yg melakukannya Mas?, Anjing kenapa kamu tega* Teriak ku kembali mengulang pertanyaan.
Hanya senyum tipis yg dilakukannya sebagai jawab atas pertanyaan itu. Seolah mengatakan iya secara terselubung pada ku.

*Aku pulang malam ini, kamu bisa menikmati hidup mu, akan ku urus surat cerai kita setiba di Jakarta* ucapnya pada ku.
Dilemparkannya sejumlah uang kearah ku, kita berakhir disini, ambil uang itu buat berobat mu, nanti akan ku berikan lagi sebagai tanda maaf dari ku.

1 pesan ku pada mu, jgn pernah kembali ke pria yg sudah berpisah dari mu, jadi wanita yg punya sedikit harga diri.
Nikmati apa yg kini engkau hadapi, karna ini masih jauh lebih baik dari apa yg telah engkau perbuat.

*Aku pulang, jaga diri mu, mungkin nanti engkau yg akan mati selanjutnya* Katanya pada ku sembari pergi meninggalkan rumah ini.
perkataan itu seperti peringatan keras pada ku, karna sesaat setelah malam semakin menghitam.

Apa yg dikatakannya akan segera terjadi, badan ku seperti terbakar, sungguh panas terasa hingga membuat kulit tangan dan kaki ku melepuh bak disiram minyak panas.
Aku merintih, menahan luka disekujur tubuh, belum lagi ada sesuatu yg seperti menjalar di tubuh.

Bukan gerakan bayi yg ada di perut, aku merasa ada binatang yg seperti mengerogoti tubuh ini dari dalam.
Tubuh ini kian menjadi jadi, rasa panas yg sangat menyengat harus ditambah gatal yg membuat ku semakin meronta.

Ku garugi tangan, pungung, bahkan perut, luka semakin menganga disekujur tubuh, kasur ini dengan cepat terbanjiri tetesan dari yg mengalir dari tubuh
Keadan ku semakin lemah, namun tangan ini tak dapat berhenti untuk terus mengaruk sekujur badan.

Sudah tiba waktu berpulang, Aku memohon ampun kepada Sang Pencipta, bila memang hari ini aku harus mati, aku sudah ikhlas menjalani.

Mata mulai berkunang, melihat samar sekitar.
Dalam keadaan sakaratul yg kujalani, sekelebat sosok masuk,

*Dia .. kenapa dia kembali* tanya ku

Wanto menatap ku di depan pintu kamar., dia seperti berkata, namun aku sudah tdk dapat mendengar caci yg mungkin terucap

*Apa dia ingin melihat kematian ini?kata ku dalam batin
*Bagi yg masih malu malu follow, bagi yg masih engan rt threat ini, masih ditinggu kebaikan hati nya, kl blm tergugah ndak apa, stay hingga akhir saja sudah luar biasa*

Nanti malam kita finiskan threat ini semoga semua masih setia.
Sama 1 lg, kali ada teman yg mau menyawer sedikit rejeki nya buat berbagi. sok monggo.

saweria.co/Algacain

All dana yg masuk, akan dipergunakan untuk berbagi berkah bagi yg membutuhkan.

Hatur Tq

Salam Hi..Hi..Hi...
*Bunda bangun pa* ucap Lena kepada Mas Darman.

Aku tidak dapat memahami alur cerita detail, kenapa dan siapa yang membawa ku ke Rumah Sakit, mata ini terbuka dengan Lena dan Mas Darman yg sudah berdiri tepat disamping diri ini berbaring.
Tampak wajah Lena bersedih, melihat keadaan ku yg semerawut penuh dengan luka borok menganga, ku lihat dia menangis.

*unda napa? Jangan tinggali ena agi!* Pinta nya pada ku, yang langsung membuat aku terharu dan turut menangis sembari mengelus wajahnya.
Mas Darman coba menenangkan kami ber 2, terlebih di ruangan itu bukan saja aku yg terbaring pesakitan disana, ada pasien lain yang jua membutuhkan ketenangan untuk Kesehatan mereka.
Dibawanya Lena keluar guna menitipkan kepada Mbah Uti, yang juga hadir menjeguk aku pada saat itu, tak lama berselang Mas Darman kembali masuk menemani.
Ditatapnya seluruh luka yang ada ditubuh ini, raut wajahnya mengiba , seperti mengasihani keadaan diri ku.

*Ada yang mau Mas omongi Rin* katanya pelan sembari menarik kursi mendekatkan diri.
Aku tidak langsung mengubris ucapannya, dan belum ada niatan memberitau anak yg sedang kukandung merupakan darah dagingnya.
Aku masih trauma dengan apa yg terjadi, terlebih rasa gatal dan panas di kulit ini tidak sedikit pun berkurang, tubuh ini terasa sangat sakit, sekalipun hanya untuk sekedar sedikit berbicara.
*Maaf bila menyakitkan mu, aku tau kondisi mu sedang tidak baik, tapi harus ku katakan sebelum semua terlambat* ucapnya kembali pada ku.
*Mas merasa ada yg tidak beres dengan apa yg sedang menaungi keluarga mu, berpulangnya bapak dan adek, sungguh sangat tidak wajar* serunya pelan seperti berbisik pada ku.
Aku langung menolehkan pandangan melirik ke arah Mas Darman.

*Maksudnya bagaiman mas?* kata ku dengan suara sedikit serak.
*Bapak dan Adik mu mati dengan luka yang sama dengan apa yg kamu rasakan saat ini, sekujur tubuh mereka seperti hangus tebakar, penuh dengan borok yang menganga, aku kwatir kamu yg jadi korban selanjutnya, dan tak menutup kemungkinan Lena pun bisa terkena* Ucapnya mulai serius.
Mendengar perkataan Mas Darman sudah pasti membuat ku panik ketakutan, aku sudah tidak perduli bila detik ini aku yang harus mati, tapi tidak dengan anak ku, aku kwatir apa yg dikatakan Mas Darman akan menjadi kenyataan >>>
>> dan saat itu mulai ku jabarkan rentetan tragedi, dimulai dari kehadiran mantan suami mas Wanto untuk memberikan peringatan pada ku, hingga penganiayaan yang dilakukannya.
Seketika ku lihat muka Mas Darman memerah, tanpa dia sadari, mulutnya spontan memaki dan menyumpah Wanto.

*A*U , kenapa kamu ga bilang kemarin waktu aku kerumah dek? Pasti ku matiin dia* kata Mas Darwan pada ku.
*sudah lah mas semua salah ku* jawab ku padanya.

*Kalau saja kita tidak melakukan nya waktu itu, mungkin aku tidak akan seperti ini* seruku yang seketika membuat Mas Darwan sedikit binggung.

*Maksud mu dek?* tanya nya heran.
Pelan ku bertutur padanya, ku raih tangan Mas Darman sembari meletakan tepat diatas perut ku.

*Aku berharap ini anak Mas Wanto, tapi dia Mandul mas, itu yg mebuat dia bercerai dengan istrinya*.
Mas Darman semakin keheranan, dia menatapku dengan sangat serius, keringat tampak di wajah seolah tidak siap mendengar apa yang akan segera ku katakan padanya.

*Apa yg hendak kau sampaikan dek??* bisiknya pelan.
*Ini anak mu, tidak ada pria lain selain Wanto dan Kamu, yang melakukan hal itu Bersama ku, dengan taunya aku Mas Wanto ternyata mandul, sudah dapat dipastikan kamulah bapak dari anak yang ada dirahim ku saat ini* Ucap ku padanya.
*maaf finish nya ga jadi kemsrin, badan rentak dihajar hujan. moga hari ini dapat kita selesaikan*

Mari kita gas tipis tipis sampai kelar.
Mas Darman menarik tangannya menjauh dari perut ku.

*Jangan bohong kamu dek!!* Ucap nya dengan sedikit membentak, wajah nya terlihat kesal dengan apa yg ku katakan.
Perkataan Mas Darman jua langsung menghebohkan seisi ruangan itu, pasien lain tampak menoleh ke kami.
Aku menjadi kesal, kesal dengan diri ku sendiri. Aku terlalu bodoh bermain api, dan kini harus menelan malu, bagaimana nasib anak ku kelak pikirku.
Bahkan Mas Darman yg ku yakini sebagai org yg harus bertanggung jawab malah engan mengakui dan turut mengangap diri ini berbohong.
*Kamu jangan berbohong, ini pasti ulah kamu kan Yan* bentak Wanto pada yanti.

Yanti tampak bingung, sore itu wanto datang dengan luapan emosi, belum lagi didapatinya wajah dan tangan wanto tampak kotor dengan luka borok.
*Apa lagi Mas? aku sudah ga mau berhubungan dengan sesuatu yg ada sangkut pautnya sama kamu, Paham kamu!!* balasnya.
*Sudahlah, ini perbuatan kamu kan, belum
cukup teror yg kamu lakukan ke aku, Ayah dan adik rina sudah mati, apa kamu masih mau tunggu rina dan aku mati juga* bentak Wanto kembali.
Lama perdebatan itu terjadi, hingga akhirnya satu gelengan kepala dan perkataan maaf terucap dari mulut Yanti.
Yanti tdk mau melanjutkan debat kusir yg hanya menjadi tontonan org lain, karna desakan wanto, Yanti akhirnya menuruti perintah Wanto untuk menemui dukun yg pernah dimintainya untuk mengirimkan Teluh.
Tabir misteri semakin terkuak, kala mereka akhirnya tiba dan menemui seorang yg dipanggil Yanti dengan sebutan Mbah Wi, wanita tua yg mungkin sudah berumur diatas 70 tahunan.
Wanto geram melihat wanita tua dan Yanti malam itu, hanya saja ada keinginan dalam hatinya untuk membesakan rina dan juga dirinya.

Karna semenjak kepulangan nya dari rumah Rina, kulitnya terasa panas dan gatal, malah seminggu dari kejadian itu banyak luka borok di tubuhnya.
*Ini siapa cu?, bau nya sungguh busuk, tar lagi juga mati* katanya tanpa berbasa basi .
Lama obrolan itu berlangsung, jantung wanto tak berhenti berdentum kencang, setiap perkataan Mbah Wik membuat dia semakin bergedik.
*sudah tidak ada yg dapat dilakukan, selain hanya menungu kematian* ucap nya pada Wanto malam itu.
*Harusnya kamu koreksi diri, sampai sesuatu yg busuk bersemayam di tubuhmu, aku nda bisa narik teluh itu*

*Jaga keluarga mu, semua yg ada hubungan darah dari garis keturunan, akan mati tragis menunggu antiran, Itulah teluh sedulur getih* aujarnya kembali kepada Wanto.
Wanto tak dapat berbuat apa apa, tak bisa jua dia membalaskan dendam kepada Yanti, karna saat itu keadaan rumah ramai dan yanti pun engan pulang bersama dia.
Dan pagi hari setibanya di rumah, keadaan dirinya semakin kacau, belum selesai urusan borok yg pada tubuh, dirinya harus dipusingkan dengan sms yg menginformasikan ibunda tercinta dalam kondisi sekarat di RS.
Saat itu Wanto bergegas menuju ke rumah sakit, rencana awal untuk kembali menjemput rina terlupa, dirinya hanya fokus pada malaikat yg saat ini terbaring lemah di RS,.

Dan tak sampai habis pikir dirinya, kala melihat ibunda tercinta sakit karna sebab yg sama.
Tubuh wanita tua itu juga dipenuhi dengan luka borok yg menjijikan.
Wanto terduduk, melihat apa yg tersaji di depan mata, Teluh ini ingin menghabisi seluruh keluarga Rina dan Aku, hanya itu yg aku pahami, namun siapa yg orang yg tega melakukan ini semua pada kami?
Hari itu wanto hanya menghabiskan waktu menjaga ibunda tercinta, padahal dirinya pun dalam keadaan sakit dan harus menahan rasa panas dan gatal di tubuh, namun 1 keajaiban kembali menaungi.
Tak kala sore itu dia bertemu dengan sosok pria parauh baya, yg sedang menemani anaknya di runah sakit yg sama.

Sosok yg dlu juga menolong dirinya, Ust Maliq ada diwaktu yg tepat, beliau ada disana bukan karna diundang, tapi sedang menjaga anaknya yg dirawat.
Dan singkat cerita, nyawa dari Wanto, serta ibundanya dapat terselamatkan berkat bantuan Ust Maliq, atau lebih tepatnya atas ridho Allah, melalui pelantara Ust Maliq.

Dan Apa yg dituturkan oleh Ust Maliq, mmbuat Wanto harus brgrak cepat.
Saat itu bisa saja Wanto membiarkan Rina membusuk menunggu kematian, namun masih ada sedikit rasa kemanusian pada nya, apalagi mengingat Lena bukanlah seorang yg jua harus menangung akibat dari semua ini.
Sebuah skenario besar akhirnya terungkap, Ust Maliq bisa memperdiksi arah jalan dan tujuan kemana Teluh ini ingin digiring.
Dan bagi kalian yg suka sama cerita ini, masak RT Aja susah, tapi sedari tadi mantengin update tweet per tweet.

hihihi......

Malam kita kelar kan 1 episode akhir..

Hatur tq.
Salam Hi..Hi..Hi..
Kurang lebih 3 minggu selang kepulangan dari rumah Rina, kehidupan Wanto kembali normal, dan Ust Maliq menjadi orang yg membuat Wanto tersadar, banyak petuah dan perkataannya yg membuat otak ini kembali dapat berpikir jernih.
Dan ats bantuannya juga aku kembali ke rumah Rina, berharap semua belum terlambat, ust Maliq turut serta dalam perjalanan kala itu, sudah pasti Wanto mengajaknya, karna beliau lah kunci untuk mengakhiri semua ini.
*Kalau kamu belum mati, harusnya Rina juga belum mati* kata ust Maliq pada

*karna Terluh semengerikan itu, tidak butuh waktu lama untuk membunuh targetnya, aku tidak percaya dia ingin menyiksa kalian perlahan, ada sesuatu yg pastinya dia harapkan* Kata beliau menambahkan.
Singkat cerita kami tiba di rumah Rina, keadanya sungguh sangat mengerikan, dia tidak lagi dapat berbicara dan hanya terbaring lemah dengan perut yang semakin membesar seperti hanya tinggal menunggu hari.
Hari itu sosok Darman dan lena pun ada disana, sempat terjadi pertikaian antara Wanto dan Darman, namun posisi Wanto yg masih sah menjadi suami Rina, membuat Darman mengalah.
Namun tidak untuk Lena, Darman bersikeras tetap membawa Lena, sekalipun aku sudah berjanji padanya dan warga setempat untuk merawatnya seperti anak kandung ku sendiri.
Pengobatan Rinapun mulai selang kepergian Darman dan Lena, malam itu juga kami membawa Rina ke rumah ku, akan lebih baik baginya mendapatkan tempat bernaung yg aman selama masa pengobatan, butuh hampir sebulan lebih Rina dapat lepas dari pengaruh Teluh itu.
Dan seorang Anak Wanita terlahir, wanto coba mengikhlaskan hatinya, terlebih tangis bayi itu sangat dinantikan oleh Ibundanya sedari dulu, singkat cerita 6 bulan berlalu dan semua kembali normal, kembali kami kekampung halaman Rina, guna menjemput Lena hidup Brsama kami kmbali
*******************************************

Tidak ada yg bisa Darman katakan, 1 tamparan ku bersarang di wajahnya, saat dia masih mencoba berucap bohong membela dirinya.

*Aku sudah tau semua, jangan sekali kali Kau gangu keluarga kui lagi* Ucap ku (Rina) pada Darman.
Darmanlah yang mengirimkan Teluh itu pada kami, dengan maksud membalas perlakuan keluarga ku pada dirinya pada masa dulu.
Sementara di luar dugaannya kala melihat aku hamil, ada niatan dalam dirinya untuk mendapatkan harta Mas Wanto pula, singkat cerita, kelahiran anak ini dan berpulangnya Mas Wanto sudah pasti menjadikan anak inilah sebagai ahli waris utama.
Namun itu hanya bayangan pikiran yg ada dikepala, karna sampai saat ini dia tidak pernah mengakui perbuataanya, tapi dapat dipastikan dialah orang yg mengirimkan teluh itu setidaknya itu yg dikatakan Ust Maliq.
Begitu pula dengan penuturan Mas Wanto kala pergi menemui Mbah Wik, dukun yang sempat dipergunakan jasanya oleh Yanti, santet kiriman Yanti sudah lah sirna kala Ust Maliq menetralisir dan membakar teluh itu.
Dan apa yg dikatakan Mbah Wik pada malam itu bahwa bukan dia yg mengirimkan Teluh itu, dan Dia pun enggan membantu, karna level dari teluh tersebut diluar kemampuan dirinya.
Mohon maaf bila cerita ini tidak sepenuhnya saya detailkan, karna sangkin tertatiknya saya akan kehidupan seseorang yg memeng sangat dekat sama hidup saya, ada keinginan akan saya  buat menjadi buku dengan cerita detail.

Tambahan>>>
Kisah ini diangkat dari kisah nyata, tapi tak saya pungkiri banyak penambahan alur yang dilakukan, bahkan bisa 50 % dari kisah awalnya. Kenapa ??
Karna secara garis besar, baik Yanti maupun Wanto memang teman saya, kedua alur kisah ini ya sama seperti saya ceritakan, ada kekecewaan pada diri Yanti, dan disaat berlainan Wanto bertemu dengan sosok Wanita lain.
Yanti memang mengirimkan gangugan goib, karna pada saat itu wanto tidak memberikan apa yg menjadi hak Yanti, sementara Sedulur Getih, bukan lah nama santet aslinya, ada imajinasi dari otak saya, karna memang 2 keluarga itu diserang hal yg sama.
Terkahir untuk anak yg dikandung oleh Rina merupakan anak asli dari Wanto, hasil pemeriksaan kala itu memang mengatakan Wanto sebagai sumber masalah tidak dikaruniakannya mereka keturunan, namun sebenarnya tidak ada kata mandul terucap di dokter.
Hanya saja Wanto memiliki kelainan pada sel Sperma yg katanya gampang mati (entahlah penyakit apa ini), hal itu yg membuat dia kecil kemungkinan untuk mendapatkan keturunan atau dapat dikatakan Mukzijatlah yg dapat membuat wanto dapat memperoleh keturunan.
Namun saat ini mereka sudah dikaruniakan anak ke 2, walau sempat keluarga itu cek cok lagi, Tuhan berkata lain, hasil dari cek anak yg dituduhkan buah hubungan bersama Darman nyatanya anak kandung Wanto.
Prihal Darman? Wallahualam mereka sudah menutup pintu cerita untuk sosok terkahir, cukup bagi mereka kisah itu sampai disini, dan hidup mereka sudah Bahagia dengan 2 orang anak kandung, serta bidadari yg mulai beranjak dewasa Bernama Lena.
Dan Yanti sendiri sudah menikah kembali, setidaknya seperti itulah yg ku ketahui dari foto padanya IG. Tidak perlu ada pertanyaan kembali, apalagi kepo akan Aib pada masa lalu, Anggap saja certia yang menemani malam sepi mu.

Tamat.

Hatur Tq.

Salam… Hi..Hi..Hi…
Dan yg mau cerita detail nya, tunggu buku nya terbit ya. tadi mau kasih Hadiah bagi yg mau memperdiksi akhir cerita tapi batal karna persyaratan tak terpenuhi.

Hatur Tq.

Salam Hi..Hi..Hi...

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with Nyata

Nyata Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @nyata74042956

26 Sep
*Petaka Sungai Serayu*
Iya semua salah ku.

@bacahorror @IDN_Horor @horrorstw @Penikmathorror
#bacahorror #horor Image
Cahaya mentari samar bersinar, seakan malu dengan hempitan langit yg berwarna abu kehitaman.

Saat itu baru jam 6 pagi, namun hujan sepertinya akan turun seiring guntur yg terus berdentum mengetarkan dinding rumah Mbah Dirgo pagi hari itu.
5 bulan lamanya Mbah Dirgo sudah hidup sebatang kara tanpa aktivitas jelas, hari hari nya hanya dihabiskan sendiri, maklum saja istri tercinta nya sudah 2 tahun lalu berpulang, sementara anak semata wayangnya Burhan sudah membina rumah tangga, dan memilih tinggal ditempat lain.
Read 153 tweets
4 Sep
Kamu Harus Mati
*TELUH*

#bacahorror @bacahorror @IDN_Horor #Penikmathorror #threadhorror #horor #Thread

Gas tipis tipis lagi ketika senja mulai menyapa.
Salam Hi.Hi.Hi.. Image
Saya terima Nikah nya Karina bin Yustria dengan maskawin seperangkat alat sholat dan uang tunai 1 juta rupiah.

Sah..

Sah....

Alhamdulilah....
Riuh suara tamu undangan memberikan selamat kepada ku dan suami ku pada pagi hari itu.

Oiya..

Perkenalkan saya Karina Yustika, orang yg akan menjadi korban pesakitan dalam cerita kali ini.
Read 229 tweets
18 Aug
Kala senja kembali tertawa, saat itu pula mereka mendapat PETAKA.

Kisah tentang pembangunan kantor baru yg penuh dengan teror hal hal GOIB.

*KANTOR BARU*

@nyata74042956
@bacahorror
#hororthread
#HOROR
#nyata
#kisah

Rilis tipis tipis ketika senja mulai menyapa. Image
seperti biasa nama dan tempat disamarkan, dan jgn lp follow, share akun ini.

dukungan anda, merupakan boster saya dlm berkarya.
#bacahorror #bacahoror

Selamat ya Mas bro, semoga sukses dan amanah ditempat baru terdengar ucapan satu persatu karyawan memberikan ucapan kepada ku.
Read 67 tweets
17 Aug
Kisah nyata, nama/tempat disamarkan.
jangan lupa follow dan share nya ya pembaca, sebagai boster penyemangat saya menulis.

*TALI GAIB KEMAMANG*
#bacahorror
#bacahoror
#hororthread
#horror

PICT BY @Google
Siang itu keadaan gudang disalah satu kawasan ibu kota tampak semeraut. Tensi kerjaan terasa sesak mengisi seantero ruang penggap tak bertuah, seiring dengan lalu lalang supir dan petugas packaging yang akan melakukan rutinitas bongkar muat.
Ditengah aktivitas para pekerja, samar terdengar suara gaduh yang seketika mengheningkan aktivitas saat itu. Seorang pria baya bernama Asep mencoba menegur partner kerjanya dalam mengantarkan barang.
Read 89 tweets
16 Aug
(sudut pandang mbak leny dan suaminya). Waktu itu 2006, mbak leny merupakan ibu rumah tangga, dia mempunyai anak lelaki yg saat itu baru berumur 2 tahun bernama luiz paskah, sementara suami mas wanda, nya merupakan abdi negara di salah satu instansi pemerintah.
Jam telah menunjukan angka 10 malam, agenda miting akir nya usai setelah seharian berkutat pada pembahasan rencana kerja yg tiada akhir, Mas Wanda bergegas pulang untuk menjemput anak dan istri nya yg dititpkan di rumah mertuanya.
Kuda roda 4 miliknya dipacu dengan kencang seolah menembus angin malam yg mulai mengrogoti tubuh, dengan sebatang rokok kretek sebagai penghangat dinginnya malam itu, dan baru di sekitar jam 11 malam mas wanda tiba dilokasi.
Read 76 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!

Follow Us on Twitter!

:(