Micka Profile picture
Aug 18, 2022 70 tweets 16 min read Read on X
TEROR DI KOS-KOSAN

(Disclaimer: Nama karakter dalam cerita ini bukan nama sebenarnya. Lokasi sengaja disamarkan)
Ganjar memutuskan mencari kosan yang letaknya tidak jauh dari kantor di bilangan RS, Jakarta. Selama
4 bulan terakhir ia pulang pergi Gadog – Jakarta dengan menggunakan bus kemudian menyambung
dengan kereta dari Bogor.
Gadog itu daerah perbatasan Bogor yang menuju ke arah Puncak. Lama-
kelamaan ia merasa “tua di jalan”, di samping itu ia juga merasa lelah.
Setelah berhitung-hitung dengan upahnya sebagai karyawan Ganjar menganggarkan mencari kosan yang harga sewa sebulannya tidak lebih dari sembilan ratus ribu. Berdasarkan info dari rekan kerjanya,
di sekitar MP harga kos-kosannya variatif dan bersaing.
Ganjar membuat rencana, nanti apabila jadi ngekos setiap Jum’at sore atau malam ia pulang ke rumahnya di Gadog membawa cucian pakaian kotor. Dengan itu maka ia tak perlu mencuci di laundry,
penghematan. Lalu Senin subuh ia berangkat kerja dari Gadog.
Pada hari yang direncanakan, Ganjar mengambil waktu mencari kosan saat jam istirahat kantor. Supaya
waktunya agak panjang maka ia ijin ke atasannya jam 11 menjelang siang, dengan harapan paling telat
jam 2 siang sudah kembali ke kantor.
Tiba di wilayah MP Ganjar memulai perburuan kosan. Di bagian depan wilayah MP yang dekat dengan
jalan raya semua pintu gerbang rumah kos terpasang tulisan “Kosan Penuh”. Sedangkan yang tidak
terdapat tulisan itu harganya melebihi budgetnya.
Ganjar melihat jam tangannya, sudah jam satu kurang. “Waduh, harus dapet nih gue. Mana udah terlanjur bawa baju kerja buat seminggu,” katanya dalam hati. Lingkungan di MP berupa gang. Hanya
lingkungan bagian depan saja yang bisa dilalui mobil, itu pun tidak semua.
Sebagian besar gangnya
hanya bisa dilalui pejalan kaki atau paling banter motor.
Tiba di bagian semakin menjauh dari jalan raya, Ganjar bertemu dengan 3 orang pemuda yang sedang duduk-duduk. “Mas, nyari kosan ya?” tanya salah seorang dari mereka.
“Iya bener. Ada ga mas daerah
sini?” balas Ganjar. “Sebentar ya mas…” kata pemuda itu sambil berlalu.
Tak lama pemuda itu datang kembali. “Ada kosan yang kosong mas, kosan Ibu Sari,” katanya. Lalu ia
mengantar Ganjar ke kosan yang dimaksud. Ganjar pun bertemu dengan ibu kosnya.
Letak kosannya memang lebih ke dalam lingkungan MP, lumayan jauh dari jalan raya namun harga sewa kos sebulannya tujuh ratus lima puluh ribu. Harga yang masuk dalam anggaran budget Ganjar.
Ibu kos lalu meminta foto copy KTP Ganjar.
“Biar ini kosan campur tapi peraturannya dilarang keras
membawa pasangannya menginap ya mas. Lalu diharapkan keikutsertaannya jika ada acara warga di
sini,” papar ibu kos. “Acara apa itu bu?” tanya Ganjar. “Ya misalnya 17 Agustusan,” terang ibu kos.
“O
itu, baiklah bu… siap,” balas Ganjar.

“Kapan mas Ganjar mulai ngisi kamarnya?” tanya ibu kos.

“Malam ini juga bu,” jawab Ganjar.
Sepulang kerja Ganjar mulai pulang ke kosan. Kala itu waktu maghrib. Kamar-kamar kosan terletak di lantai 2 dari rumah si pemilik. Ada 5 pintu saling berhadapan, jadi total ada 10 kamar kos.
Setelah meletakkan tas ransel yang berisi pakaian di kamarnya ia lalu keluar kamar melihat-lihat
sekaligus bermaksud bersapa dengan penghuni kosan lain. Tapi pintu kamar-kamar lain masih tertutup dan lampunya masih gelap. Ganjar berpikir mungkin belum pada pulang kantor.
Sekitar setengah sembilan malam ia menyeduh kopi, lalu keluar kamar. Dilihatnya kamar yang lain masih
belum datang juga penghuninya.
Tapi ia melihat dua kamar dari kamarnya ada jemuran mini di depan
kamar yang terdapat beberapa potong pakaian yang sedang digantung, juga beberapa pasang sepatu.
“Tanda-tanda kehidupan,” pikirnya.
Ganjar melihat ada akses tangga ke lantai atas lagi.
Rupanya itu tangga menuju atap. Ia pun menuju ke sana. Itu merupakan atap yang dicor semen, bisa buat santai-santai sambil ngopi sambil melihat langit
malam Jakarta.
Tapi suasana tempat itu gelap sekali. Si pemilik kos tidak memberi lampu penerangan.
Sumber cahaya hanya dari pendar cahaya lampu dari tetangga sekitar saja.
Saat di atap itu Ganjar merasa gerah sekali, sampai-sampai keringatnya bercucuran. Heran juga dia,
segini panaskah kota Jakarta? Apa karena badannya masih butuh penyesuaian karena selama ini dia tinggal di daerah berhawa pegunungan.
Sampai kira-kira jam setengah sepuluh malam, karena tidak satupun penghuni kosan lainnya yang
Ganjar kira akan ke atap juga bersantai lalu bisa berkenalan ia pun kembali ke kamarnya.
Yang membuat
Ganjar heran, hawa gerah di atap itu sudah hampir satu jam dia di sana masih terasa juga, tidak mereda.
Baju kaosnya hampir-hampir lepek.
Jam 11 malam, Ganjar mematikan lampu kamarnya, berangkat tidur.
Ganjar terbangun mendengar suara pintu kamar sebelah yang dibuka, lalu ditutup lagi. Ia melihat jam tangannya, jam 1 dini hari. “Gokil juga tetangga sebelah, jam segini baru pulang,” pikirnya. Lalu ia hendak melanjutkan tidurnya lagi.
Namun tak lama kemudian ia mendengar suara anak-anak berlarian
sambil terkekeh riang.
Lalu berganti suara derap sepatu pantofel. Tak lama kemudian ia mendengar suara sepatu high heels berjalan.
Dan suara orang lelaki dan perempuan dewasa yang sedang mengobrol, tidak jelas perbincangannya. Di telinga Ganjar seperti bergumam saja. Mungkin karena ia sudah setengah tidur dengan tubuh letih juga.
Suara orang sedang mengobrol itu sesekali diselingi tawa renyah.
Lalu suara anak-anak berlarian sambil tertawa-tawa ceria juga tetap terdengar. Dan kembali suara langkah-langkah sepatu berdatangan
terdengar. Lalu suara sepatu high heels juga kembali terdengar, berjalan seperti mondar-mandir saja di
lorong kamar kos. Ramai sekali.
Dalam kondisi setengah tidur terlintas dalam benak Ganjar, itu cewek jalan mondar-mandir dia pikir lagi
di catwalk apa? Namun karena hari ini Ganjar terlalu letih ia pun tertidur kembali hingga pagi menjelang.
Pagi harinya jam tujuh, Ganjar bersiap berangkat kerja. Ia membuka pintu kamarnya, lalu mengenakan
sepatunya di luar kamar. Ia melihat suasana pintu-pintu kamar kos tetangga, tertutup semua dan tidak
ada aktivitas sama sekali.
Ia mulai merasa aneh, “semalam rame gitu tapi pagi-pagi kaya ga ada orang gini? apa pada brangkat kerja siang?”
“Anak-anak yang semalem, apa ga pada berangkat sekolah?”, pikirnya. Ia melihat jemuran pakaian tetangga kos 2 kamar darinya sudah kosong pakaiannya sudah diangkat rupanya, dan beberapa sepatu
yang semalem dilihatnya tidak ada, namun tampak kotak-kotak kardus sepatu.
Dalam perjalanan menuju kantornya Ganjar teringat ibu kos menyampaikan bahwa kosannya itu kosan
campur. Tapi dia tidak menyangka ada yang ngekos sekeluarga juga. Sampai-sampai anak-anaknya main
tengah malem lewat gitu.
Lalu katanya dilarang keras bawa pasangan, kok semalam ada cowok cewek
yang ngobrol semalaman.
Lalu suara langkah sepatu high heels waktu tengah malam, mungkinkah itu para perempuan penghuni
kos yang kerjanya di tempat hiburan malam, atau jangan-jangan mereka pekerja seks komersil.
Semua pikiran-pikiran itu berseliweran di benak Ganjar. Nanti malam Ganjar berniat menjumpai mereka.

-BERSAMBUNG-

#ceritaserem #ceritahorror #ceritahoror #malamjumat #flashhorror #threadhorror
Hari itu Ganjar sengaja pulang dari kantor lebih awal dari biasanya, jam 5 sore
teng. Sehingga sebelum maghrib dia sudah berada di kosan. Sewaktu tiba di kosan
kamar-kamar lainnya belum ada tanda-tanda kehidupan.
Dilihatnya tetangga kos 2 kamar darinya, jemuran mini dan kotak-kotak kardus
yang tadi pagi dilihatnya sudah tidak ada. “Loh ko, kaya udah pergi?” batinnya.
Setelah sholat maghrib ia keluar dari kos-kosannya bermaksud hendak membeli
makan malam dan rokok. Sekembalinya, saat hendak menaiki lantai 2 ia
kebetulan bertemu dengan ibu kos. Mereka saling bersapa.
“Maaf bu, boleh tanya, kemarin saya liat 2 kamar dari saya ada jemuran sama
sepatu-sepatu, ko sekarang udah ga ada ya? udah keluar yang ngekosnya ya bu?” tanya Ganjar. “Oh, mas Adit itu. Iya, katanya pindah kosan yang lebih deket
kantor,” jawab bu kos.
“Oo gitu. Kapan pindahnya bu?” tanya Ganjar lagi. “Tadi sekitar jam 10 pagi,”
jawab bu kos. “Oh iya bu, kalo yang lainnya pulangnya suka malem-malem sekali
gitu ya bu?” lagi Ganjar bertanya. “Yang lainnya? maksud mas Ganjar?” si ibu
kos malah seperti keheranan.
“Itu bu, tetangga kos saya kamar lainnya,” Ganjar menegaskan. “Ohh, ga ada mas,
sekarang mas Ganjar cuma sendiri yang ngekos,” jawab bu kos. “Tapi bu, semalem saya ngedenger rame banget, seperti banyak orang. Saya pikir yang ngekos juga,”
jelas Ganjar.
“Ah biasa mas, di sini kan pemukiman padat. Nempel-nempel tembok sama
tetangga. Paling tetangga-tetangga sebelah masih pada melek,” argumen bu kos. “Tapi tenang aja mas, nanti juga ada temennya, ga lama juga pasti ada yang sewa
kos lagi. Di sini kos-kosan rebutan,” sambungnya.
“Ohh, gitu ya bu. Baik bu kalo gitu saya ke kamar dulu,” Ganjar enggan membahas
lebih lanjut. Namun dalam benaknya ia tetap merasa ada yang janggal.
Saat di kamar dia membuka laptopnya, sekedar menonton film yang menjadi
koleksi dalam foldernya. Sampai-sampai kantuknya datang. Jam 11 malam ia mematikan laptopnya kemudian beranjak tidur.
“Keeekkk…Brak!!” Ganjar terbangun dari tidurnya mendengar pintu kamar
tetangga kos seperti ada yang membuka lalu ditutup. Lalu seperti malam
sebelumnya, terdengar suara anak-anak berlarian sambil terkekeh riang, kemudian suara langkah sepatu pantofel,
lalu suara orang sedang mengobrol
bercengkrama lalu ... suara langkah sepatu high heels bak peragawati berjalan di
catwalk.
Ia melihat jam tangannya, sekitar jam 2 dini hari. Lalu ia duduk di dipan kasur.
Memasang kedua telinganya agar memperjelas pendengaran. Tidak salah, ia memang mendengar jelas suara-suara itu.
Lalu ia beranjak menuju jendela kamarnya dan menyibak gordennya, tidak ada
seorangpun di luar. Dan suara-suara itu, seketika lenyap. Suasana seketika
senyap. Ganjar terperangah, ia bingung.
Kemudian ia menutup kembali gorden jendelanya, lalu suara-suara itu kembali
lagi, di luar kembali ramai! Ia lalu cepat-cepat membuka kembali gordennya,
tetap tidak ada siapapun di luar. Dan suara-suara itu, lenyap begitu saja.
Kali ini ia berpikir mencoba sesuatu. Kembali ia tutup gorden jendelanya. Benar
saja! suara-suara itu kembali terdengar, di luar kamar seperti ramai kembali. Lalu
ia buka gorden itu pelan-pelan sekali dan hanya celah kecil buat ia melihat, lebih tepatnya mengintip.
Gila! tak ada siapapun! dan lebih mengherankannya, suara-suara itu hilang
begitu saja, suasana kembali hening seketika. Bulu kuduk Ganjar mulai merinding
berdiri, mendadak rasa takut menjalar.
Ia segera ke kasurnya, menutup pendengarannya dengan bantal, berdoa doa apapun yang setahu dia katanya
mengusir hantu. Sampai-sampai dia tertidur.
Keesokan harinya sepulang kerja, setelah menjalankan sholat Isya ia mengaji
Surah Yasin. Setahunya hantu, setan dan sebangsanya akan takut mendengar
lantunan ayat-ayat suci khususnya Surah Yasin.
Selesai membaca hatinya sedikit tenang, meski tidak dipungkiri semakin malam ia
merasa was-was. Kemudian saat malam semakin larut ia pun hendak beranjak
tidur dengan terlebih dahulu berdoa.
Pagi harinya ia bangun dengan merasa bersyukur, tidak ada gangguan apa-apa. Surah Yasin berhasil mengusir “mereka”, pikirnya.
Akhirnya Ganjar berhasil melewati seminggu pertamanya di kosan. Sebagaimana
rencana di awal, pada Jum’at malam ia pulang ke rumahnya di Gadog membawa pakaian kotor untuk dicuci. Senin subuhnya ia berangkat ke kantor dari rumah.
Hari Senin itu ia pulang dari kantor jam 9 malam. Tiba di kos setengah jam
kemudian. Saat tiba di kos ia merasa gundah, karena dipikirnya akan ada
penghuni kos baru, ternyata ia masih sendirian. Setelah mandi, karena hari itu ia
begitu letih, ia langsung pergi tidur.
Sekitar jam 1 dini hari ia terbangun karena mendengar kicau burung bersahutan.
Ia tidak hafal suara-suara jenis burung. Namun yang pasti kicau burung itu tidak terdengar merdu, lebih ke kicau burung yang panik karena merasa ada bahaya
mengintai.
Ia mencoba mengabaikan namun matanya sulit terpejam. “Aduh, apalagi ini?”
lirihnya. Namun lama-kelamaan rasa kantuknya datang juga. Antara tidur dan
masih terjaga ia melihat di sudut kamarnya ada sosok hitam dengan posisi
berjongkok.
Ganjar ingin membuka matanya lebar-lebar untuk melihat siapa atau apa
gerangan yang berada di kamar bersamanya itu, namun saking terlalu lelahnya ia
kembali terlelap.
Ia kembali terbangun. Kali ini dikarenakan ada sesuatu di telapak kakinya. Lebih
tepatnya ia merasa telapak kakinya ada yang mengelitiki. Sebenarnya ia ingin bangun namun ia merasa sangat takut.
Karena ia tahu, itu pasti bukan manusia.
Saat masuk kamar sepulang kantor sampai akan beranjak tidur ia yakin seyakin-yakinnya tidak seorangpun ikut
masuk bersama dia. Lalu siapa yang saat ini mengelitiki telapak kakinya, atau apa?
Ia istighfar sebanyak-banyaknya, lalu ia tarik kakinya setinggi-tingginya sehingga
seolah menyerupai posisi janin dalam perut ibu.
Kemudian ia berdoa mencoba melawan rasa takutnya. Gelitikan itu berhenti. Hatinya masih berdebar, was-was
akan apa yang mungkin terjadi berikutnya. Akhirnya ia tertidur juga.
Hari-hari berikutnya Ganjar pulang ke kosnya tidak pernah di bawah pukul 9
malam. Rata-rata antara jam 10 sampai jam 11 malam. Alasannya adalah agar
setibanya di kosan ia sudah sangat lelah dan berharap tertidur pulas sampai pagi.
Benar-benar kosannya hanya semata buat “numpang” tidur.
Saat tidurpun kamarnya selalu dalam keadaan terang benderang, ia tidak berani
mematikan lampu.
Namun demikian tetap saja teror dari mereka yang tak kasat
mata membuatnya terjaga. Meski tidak setiap malam, namun dalam seminggu
setidaknya 2 malam ia mengalami kejadian diluar nalar.
Tujuan awal ngekos adalah untuk mengatasi kelelahan fisiknya karena jarak,
ternyata saat ngekos ia bukan saja lelah fisik, jiwanya juga merasa lelah. Akhirnya
Ganjar memutuskan keluar dari kosan itu. Ia hanya mampu bertahan sebulan di
sana.

- TAMAT -

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with Micka

Micka Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @Micka0619

Dec 30, 2023
Cerita Sebentar – Cerita Horor (Cetar-Cetor) #19

“RAFTING BERUJUNG PETAKA”

@bacahorror @ceritaht @IDN_Horor @bagihorror @threadhororr

#ceritaserem #ceritahoror #misteri #threadstorytime #threadhorror #horror #horor #threadhoror #horrorthread #misteri #kisahnyata Image
Disclaimer: Dituturkan oleh narasumber bernama kak Yola. Nama karakter dalam cerita bukan nama sebenarnya. Nama kantor, pengelola rafting dan lokasinya dirahasiakan/disamarkan.
Kami tidak akan berkomentar atas pertanyaan dan juga dugaan kalian para pembaca. Mohon maaf dan terima kasih atas pengertiannya.
Read 78 tweets
Jun 18, 2023
Telah setengah tahun usaha kafe tendaku berjalan. Pada suatu sore saat waku hendak
berdagang istriku menyampaikan kepadaku bahwa Teja mengiirim pesan wattsap mengabari
bahwa ia absen kerja hari itu dikarenakan demam.
Sebagai pengganti sementara tugas pekerjaannya dia mengajukan temannya. Namun demikian kondisi itu bukannya tidak ada masalah. Berganti orang artinya harus kembali mengajari lagi dari nol semua tugasnya.
3 hari kemudian Teja masuk kerja kembali.
Read 47 tweets
May 28, 2023
Gunung Slamet, 3.428 mdpl, merupakan gunung tertinggi di Jawa Tengah dan juga gunung
tertinggi ke 2 di pulau Jawa setelah Gunung Semeru di Jawa Timur. Sehingga dari itu Gunung
Slamet kerap disebut atap tertinggi Jawa Tengah.
Sebagaimana pada umumnya gunung-gunung yang ada di Indonesia, khususnya di pulau Jawa selain membuat terpana akan pemandangan indah yang menawan, gunung juga menyimpan sejuta kisah misteri dan angker. Termasuk juga Gunung Slamet.
Read 66 tweets
Apr 23, 2023
Cerita Sebentar – Cerita Horor (Cetar-Cetor) #15

“PULANG MUDIK”

@bacahorror @ceritaht @IDN_Horor @bagihorror @threadhororr

#ceritaserem #ceritahoror #threadstorytime #threadhorror #horror #horor #threadhoror #ceritasetan #horrorthread Image
Semenjak 3 tahun lalu Lebaran sudah berbeda, ibu sudah tidak ada lagi bersama kami, Tuhan
memanggilnya di awal tahun 2021. Beliau akhirnya kalah oleh komplikasi diabetes, jantung dan
gagal ginjal. Aku sudah hampir 8 tahun tidak tinggal berdekatan dengan kedua orangtua.
Perjalanan hidup membawaku tinggal di lain kota, beda propinsi. Mereka tinggal di kota Jakarta, justru aku yang pindah tinggal di daerah. Maka dari itulah setiap lebaran jika banyak orang “Pulang Kampung”, aku dan keluargaku justru “Pulang Kota”.
Read 79 tweets
Apr 9, 2023
Cerita Sebentar – Cerita Horor (Cetar-Cetor) #14

“TOL CIPULARANG KM 90-100”

@bacahorror @ceritaht @IDN_Horor @wv_mystic @bagihorror @threadhororr

#ceritaserem #ceritahoror #threadstorytime #threadhorror #horror #horor #threadhoror #ceritasetan #horrorthread Image
Disclaimer: Nama karakter telah disamarkan.
Tahun 2002.

Akhirnya niat Boy untuk mengenalkan calon istrinya kepada neneknya di Bandung terlaksana. Neneknya sejak semasa Boy masih duduk di bangku SMA sudah mewanti-wanti agar jika sudah memiliki calon istri hendaknya dikenalkan kepadanya terlebih dahulu,
Read 87 tweets
Mar 28, 2023
Cerita Sebentar – Cerita Horor (Cetar-Cetor) #13

“Tumbal Danau Perumahan Cluster” Bagian 2

@bacahorror @ceritaht @IDN_Horor @mwv_mystic @bagihorror @threadhororr

#ceritaserem #ceritahoror #threadstorytime #threadhorror #horror #horor #threadhoror #ceritasetan #horrorthread
Disclaimer: Nama cluster dimaksud dan narasumber sangat dirahasiakan. Nama-nama
karakter disamarkan. Kami tidak akan berkomentar atau menanggapi atas pertanyaan dan juga
dugaan para pembaca. Mohon maaf dan terimakasih atas pengertiannya.
Setelah kejadian itu pihak developer menanggapinya dengan “proporsional”, menganggap
bahwa kejadian itu tidak lebih dari musibah, namun juga mempertimbangkan pandangan dari sisi klenik sebagai masukan saran tindakan yang mungkin perlu diambil..
Read 60 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Don't want to be a Premium member but still want to support us?

Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal

Or Donate anonymously using crypto!

Ethereum

0xfe58350B80634f60Fa6Dc149a72b4DFbc17D341E copy

Bitcoin

3ATGMxNzCUFzxpMCHL5sWSt4DVtS8UqXpi copy

Thank you for your support!

Follow Us!

:(