Sekedar menambahi apa yang diutarakan Babeh @haikal_hassan, saya mau share sedikit soal Boedi Oetomo, SDI/SI, Muhammadiyah, Taman Siswa, dan Hasyim Asy'ari/NU.

Karena [1] banyak yang menggugat Harkitnas yang berdasar pada BO agar diganti dengan tanggal pendirian SDI/SI...
[2] Penggantian Hardiknas dari tanggal lahir Ki Hadjar Dewantoro pada tanggal lahir Ahmad Dahlan [bahkan bisa pada Roehanna Koeddoes]...
[3] Beserta konflik-konflik di antara SI dan Hasyim Asy'ari, Muhammadiyah dan Taman Siswa, juga Boedi Oetomo pada ummat Islam di Pulau Jawa dan Sumatera pada khususnya.
Kita mestilah paham bahwa organisasi semacam BO atau Taman Siswa merupakan antitesa terhadap gerakan-gerakan yang dilakukan ummat Muslim, khususnya di Jawa dan Sumatera.
Bicara Harkitnas [Hari Kebangkitan Nasional], misalnya, dulu Boedi Oetomo dibentuk oleh Priyayi/Bangsawan Jawa kepanjangan tangan Belanda sebagai reaksi dari gerakan Jamatul Khair [1905] yang digagas oleh Habaib dan Sayyidan di daerah Betawi/Jayakarta.
BO digagas dan dibentuk oleh para penggerak keyakinan Theosofi/Kebatinan yang konon merupakan para mahasiswa STOVIA. Apa yang begitu jelas adalah mereka bukan Bangsawan/Priyayi pemberontak, melainkan kepanjangan tangan Belanda untuk meredam pergerakan ummat Muslim.
Sejarah berulang. Saat itu media-media banyak memberitakan soal BO dan "menenggelamkan" nama dan aktivitas Jamatul Khair di Pulau Jawa. BO digadang-gadang sebagai organisasi nasionalis, padahal hanya diisi oleh Bangsawan/Priyayi Jawa.
Menurut catatan sejarah, Boedi Oetomo mengambil kemiripan dari nama Jamiatul [ralat: bukan Jamatul] Khair. Perlu digarisbawahi kalau BO bukan nama orang, tapi memang didirikan, salah satunya, oleh Dr. Soetomo.
Melalui Soeara Oemoem, Boedi Oetomo mengatakan bahwa Digul lebih utama daripada Makkah. Hal ini melanjutkan apa yang dilakukan oleh Theosofie Borat Indonesia yang menyebut Borobudur adalah Baitullah di Tanah Jawa.
Serta Majalah Bangoen yang melecehkan istri-istri Rasulullah seperti apa yang dituliskan oleh Soemandari, pun ada juga penghinaan terhadap Rasulullah sebagai pemadat dan pemabuk dalam Djawi Hisworo.
Karena hal itu CSI [Central Sjarikat Islam] melontarkan protes keras di Gedung Concordia, dan dengan segera membentuk Tentara Kandjeng Rosoel untuk memerangi segala bentuk hinaan terhadap Islam.
Agak mundur ke belakang, pendirian SI sebagai organisasi politik ummat Islam di Hindia Belanda mendapat penolakan keras dari Hasyim Asy'ari, yang kemudian ditegur oleh gurunya di Makkah, Syaikhul Ahmad Khatib.
Mendapat teguran keras dari Makkah, akhirnya Hasyim Asy'ari mundur perlahan dan membentuk Nahdlatul Ulama yang sebenarnya punya corak [atau permisif terhadap] ajaran Kejawen dan Kebatinan.
Apakah SI dan NU akhirnya bersatu?

Tentu tidak, dan perlu diperhatikan bahwa pertentangan ini berlanjut pada tahun-tahun pasca-kemerdekaan Indonesia. NU merapat pada Nasakom, meninggalkan Masyumi.
Kembali lagi pada poin-poin awal. Theosofie ini sejatinya punya masalah dengan ummat Islam, dan itu ditandai dengan pendirian Taman Siswa oleh Ki Hadjar Dewantoro untuk menyaingi Muhammadiyah yang sudah lebih dulu menyelenggarakan lembaga pendidikan.
Taman Siswa yang berdasar pada aliran Theosofie atau Kebatinan ini memang sejak awal mempropagandakan anti-Tuhan dan anti-agama, dan mengamalkan apa yang disebut dengan Panca Dharma [istilah ini diulang oleh seseorang pada pidatonya di Sidang BPUPKI].
Karena kenyataannya adalah Taman Siswa memang dibikin untuk meredam pergerakan Muhammadiyah yang dianggap "radikal" dan non-kooperatif.
Sekedar trivia, sekolah pertama di Nusantara itu mungkin adalah Sakola Kautamaan Istri [sekolah khusus perempuan] yang didirikan oleh Dewi Sartika pada 1904. Selang 7 tahun, ada juga Sekolah Amai Setia yang digagas oleh Roehanna Koeddoes.
Di tahun yang sama, Ahmad Dahlan mendirikan Sekolah Muhammadiyah. Sekolah Amai Setia lahir di bulan Februari, sedang Sekolah Muhammadiyah didirikan di bulan November.
Apa yang menarik mungkin ada pada Sekolah Amai Setia yang menggunakan bahasa Melayu/Pegon sebagai bahasa pengantar, alih-alih bahasa daerah seperti yang digunakan oleh Sakola Kautamaan Istri atau Sekolah Muhammadiyah.
Di sisi lain, "kompetisi" atau "perseteruan" ini juga melibatkan peran media. Dulu ummat Muslim berlomba untuk menerbitkan surat kabar, majalah, atau brosur untuk mengimbangi media mainstream yang dibiayai oleh Priyayi dan Belanda.
Jadi sebenarnya sejarah "terulang" lagi sekarang. Selain protes keras CSI yang melibatkan HOS Tjokroaminoto dan Agus Salim, ummat Muslim saat itu berusaha untuk menerbitkan media independen yang tugasnya tidak hanya untuk syiar Islam saja.
Melainkan untuk menggelorakan semangat kemerdekaan melalui seruan Tauhiid, penyebaran ilmu pengetahuan, dan bantahan-bantahan langsung terhadap tuduhan-tuduhan media mainstream saat itu terhadap Islam dan ummat Muslim.
Missing some Tweet in this thread?
You can try to force a refresh.

Like this thread? Get email updates or save it to PDF!

Subscribe to Common Sense Revolution
Profile picture

Get real-time email alerts when new unrolls are available from this author!

This content may be removed anytime!

Twitter may remove this content at anytime, convert it as a PDF, save and print for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video

1) Follow Thread Reader App on Twitter so you can easily mention us!

2) Go to a Twitter thread (series of Tweets by the same owner) and mention us with a keyword "unroll" @threadreaderapp unroll

You can practice here first or read more on our help page!

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just three indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member and get exclusive features!

Premium member ($30.00/year)

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!