, 147 tweets, 24 min read
My Authors
Read all threads
-Thread horror-
-Horror true story-

"JIMAT"
(siung celeng sing mati ora mergo dipateni)

#bacahorror
@bacahorror
@ceritaht
Siapa yg tak kenal dg jimat? kepercayaan orang tanah jawa sebagai pelindung/ pagar diri supaya terhindar dari hal hal jahat berupa gangguan jin dan santet. Dewasa ini Jimat sudah hampir tak terdengar pamor nya lagi, seakan semua manusia sudah kembali pada kodratnya sebagai umat
Namun keluarga kami masih mempercayai hal ini. Semua berawal dari bapak ku (sebut saja pak Sudar) yg memiliki garis keturunan seorang dukun ampuh terkenal pada masanya. Meskipun pak Sudar tidak mendapatkan ilmu secara langsung dari ayahnya(kakekku) Pak Sudar membulatkan tekad
untuk mempelajari ilmu apa saja yg pernah dipunyai kakekku itu. Aku masih ingat dg jelas, saat itu aku masih duduk disekolah Dasar, disuatu malam bapak membongkar bufet milik kakekku, aku mendekati nya karena suara yg ditimbulkan membuatku terbangun. Tiba2 dari dalam bufet, bapak
mengeluarkan sesuatu. Yaitu sebuah keris lalu bapak berkata "wah iki, enek isine(yoni) opo ora yo? ojo2 iki sg marai bapak lara g mari2.. gak diopeni soale, jajal sesuk ditakokne mbah Ijan iki enek isine opo ora"(wah ini ada isinya apa gak ya? jgn2 ini yg bikin bapak sakit tapi
g sembuh2, g dipelihara soalnya, coba besok ditanyakan mbah Ijan, ini ada isinya apa gak). Mbah ijan juga kakekku, ayah dari ibu ku. Ke dua kakekku adalah sama2 dukun terkenal. Usai malam itu aku mulai susah tidur, memikirkan bapakku yg tiba2 gila dg hal mistis. Keesokannya
bapak mengajakku ke rumah mbah Ijan yg berada di kabupaten K. Hari itu hampir tengah malam, kami bertamu kerumah kakek, disana ternyata kakek sedang duduk santai, ketika kami masuk rumah, mbah ijan menyambut "Piye dar? enek opo?"(gimana dar? ada apa?). Lalu bapak merangsek duduk
berhadapan dg mbah ijan sembari mengeluarkan keris dari dalam jaket nya. "Oalah iki? jajal yo didelok bareng enek isine opo ora"(oalah ini? coba dilihat bersama sama ada isinya apa gak) aku yg masih polos sangat bingung, namun tetap memperhatikan dg seksama semua yg terjadi saat
itu. Tak lama setelah masuk ke dalam kamar tiba2 mbah ijan keluar dg membawa segulung benang jahit berwarna putih. Lalu beliau mengikatkan nya di pegangan keris tsb. Kemudian keris itu dipaksa untuk berdiri tanpa bantuan tangan, HANYA DG SEBUAH BENANG, aku sangat takjub karena
mbah ijan melakukan sesuatu diluar nalar manusia. Ketika keris tak kunjung bereaksi mbah ijan menyiapkan sesajen dan membakar kemenyan. Seketika itu tiba2 keris goyang perlahan, lalu mbah ijan berkata "Oalah, wes suwi kowe manggon nyang keris iki? lek iyo munyero ngetan ping 3
(oalah, dah lama kamu tinggal dalam keris ini? kalau ya, berputarlah ketimur 3 kali) Seketika itu keris yg digantung dg hanya sehelai benang putih, berputar sejadinya sebanya 3x. Bapak ku bersorak kegirangan dan aku kaget terkagum kagum. Mbah ijan berkata "iki openono tenanan yo,
lek sir e diopeni, tak dudohi syarate. Tapi lek sirmu diwehne uwong ya monggo gek ndang2 ae" (ini kamu pelihara beneran ya, kalau pinginnya dipelihara aku kasih tau syaratnya, tapi kalau ingin dikasih ke orang ya silahkan, lekas2 saja) Tak perlu menunggu lama bapak segera mengiya
kan niatnya untuk memelihara keris dg "yoni" tsb. Malam semakin larut namun percakapan ke dua penggila mistis tsb semakin panas, karena keris tsb dituntun untuk memilih, kepada siapa dia akan di pelihara. "Lek pancen keris iki ono isine, kowe lanang opo wedok? jenengmu sopo?
lek wedok munyero kiwo, lek lanang munyero nengen"(kalau benar keris ini ada isinya, kamu laki apa perempuan? namamu siapa, kalau perempuan berputar lah ke kiri kalau lelaki putarlah ke kanan) kata mbah ijan kepada keris itu, tiba2 keris itu berputar ke arah kiri tanpa ragu
"le sudar, keris iki wadon cubo kowe pingin takon opo?"(nak sudar, keris ini perempuan coba kamu pingin nanya apa). Bapakku bergegas, "opo wes suwi sampean manggon nang keris kuwi? yen iyo munyero nengen"(apa sudah lama kamu tinggal dalam keris itu, kalau iya memutarlah ke kanan)
dg tegas keris itu berputar kencang ke arah kanan, lalu bapak kembali bertanya "aku pengen ngerti, opo bener goro2 bapak ora ngopeni sampen, akhire sampek loro dadi kembang amben tekan patine?"(aku ingin tahu apa benar gara2 bapak tak memeliharamu sampai akhirnya bapak sakit jadi
kembang amben*istilah untuk kelumpuhan permanen tak bisa apa2 hanya berbaring ditempat tidur* sampai ajalnya) seakan tak terima dg tuduhan, keris tiba2 bergerak tanpa arah, melesat cepat berputar tak karuan hingga tali mediatornya putus lalu keris itu terbanting keras diatas meja
bapak terhentak, mbah ijan menenangkan "le cukup leren sik koyo e mbah e nesu"(nak cukup istirahat dulu sepertinya mbah marah) bapak terdiam seakan berfikir keras ingin menemukan jawaban atas kematian kakekku. Kemudian mbah ijan kembali menanyakan, "kiro2 sanggup ora le yen keris
iki pengen melu awakmu? cobo yo ditakoni maneh"(kira2 sanggup g nak kalau keris ini ingin ikut kamu ciba ya ditanya lagi) setelah sesikit komat kamit mbah ijan kembali memasang tali mediator dan menyiapkan kembali keris tadi "lek ngewehi pitakon ati ati le"(kalau memberi
pertanyaan hati2 ya nak) tukas mbah ijan. Lalu setelah memberi kode bapak kembali bertanya "mbah nduwe jeneng ora, yen ora, gelem tak weh i jeneng?"(mbah punya nama gak kalau gak, mau ku kasih nama) kemudian keris berputar ke kanan, setelah itu bapak berfikir lama seperti mencari
nama apa yg harus dia berikan, lalu tiba2 "umpomo mbah karto piye?"(seumpama mbah karto gimana?) keris hanya berputar 2 kali ke arah kiri pertanda tak setuju, bapak mengernyitkan dahi bertanya tanya apa mungkin namanya keliru? lalu bapak kembali bertanya "lek mbah karto sentono?"
(kalau mbah karto sentono?) seketika hening, tiba2 keris itu berputar sejadinya kearah kanan hingga terpelanting lepas dari tali nya. Mbah ijan terkejut hampir jatuh dari duduknya, lalu bangun dan tersenyum sambil memungut keris yg jatuh "le pancen yo jodhomu"(nak memang jodohmu"
"piye le? yakin yo"(giaman nak yakin ya) mbah ijan kembali meyakinkan, lalu apak menjawab "inshaAllah pak, kulo purun"(insyaAllah pak saya mau). Mbah ijan mengernyitkan dahi lalu tersenyum seperti ada yg beliau heran dan kagumi. kemudian mbah ijan terdiam lama sebelum akhirnya
berkata "le koe ws bener yen urip didhasari agomo,iki mung dalane, tetepo nyuwun marang gusti yo le" (nak kamu sudah benar kalau hidup berlandaskan agama, ini hanyalah sebuah perantara, tetaplah meminta apapun kepada yang maha kuasa ya nak) bapak terlihat bingung namun raut wajah
nya memancarkan ke legaan. Karena sudah ngantuk aku meminta bapak untuk segera pamit pulang, sebelum kami pulang mbah ijan berpesan "le minggu ngarep pas dino kamis malem jum'at kliwon mbalik o rene, nggowo o kembang telon wangi sak dupo ne, ojo lali menyan, tak wuruk i"(nak
minggu depan hari kamis malam jum'at kliwon kembalilah kesini bawalah bunga wangi 3 warna, sekalian dupa dan kemenyan, aku ajari) bapak mengangguk lalu berpamitan pulang. Di perjalanan aku tak berfikir macam2 hanya ingin ikut bapak saat kembali kerumah mbah ijan nanti
Hari yg ditunggu pun tiba, kamis malam jum'at kliwon. Bapak kembali kerumah mbah ijan bersamaku, disepanjang jalan aku merinding karena mencium bau kemenyan yg aneh. Sesampainya disana mbah ijan sudah menyambut didepan pintu, suasana rumah yg gelap dan berdekatan dg rumpun bambu
membuat nyaliku ciut, rumahnya memang megah namun terlihat seperti tak terurus karena beliau hanya tinggal bersama nenekku yg juga sudah sama2 tua. "Ayo le ndang mlebu, kene ndhuk ditunggoni mbah idok"(ayo nak cepat masuk, sini ndhuk ditunggu eyang putri) aku merangsek dipangku-
an nenekku, sembari mengamati apa yg dibicarakan kakek dan ayah ku. Mbah ijan(kakek dari ibuku) masuk kedalam kamar tak berapa lama keluar dg membawa kain putih, ku amati dalam dalam ternyata itu kain mori/kafan untuk orang mati, aku terkejut namun hasrat keingintahuanku meronta
sangat penasaran. Aku pura2 memejamkan mata namun telinga ku pasang untuk menguping pembicaraan mereka. "Le dar syarate mok gowo kabeh? ayo digelar nang mejo, iki lemek e kain mori"(nak dar, semua syarat kamu bawa? ayo dibuka di meja, ini alasnya kain kafan) dg mantab bapak mulai
membuka satu persatu syarat yg ia bawa. Lalu bertanya "sampun mbah, salajengipun pripun?"(sudah mbah selanjutnya gimana?) mbah ijan menjawab "dupo ne obongen, encepno nang pojok kono, menyan e obongen adahono asbak iki"(dupa nya dibakar tancapkan ke pojok sana, menyan dibakar
taruhlah di asbak ini) sembari menyodorkan asbak marmer dg gaya ukiran yg unik. Kemudian mbah ijan membuka bungkusan daun dg isi bunga wangi 3 warna, diatas kain kafan itu. Lalu "endi kerismu?"(mana kerismu) bapak hampir melupakan inti dari ritual itu. Lalu ia bergegas ke mobil
memgambil Mbah karto sentono, secepat kilat bapak kembali masuk rumah, "tumpangno duwure kembang iki le"(taruh diatas bunga ini nak) bapak mengiyakan. setelah itu entah apa mantra yg dibaca mbah ijan mulutnya komat kamit tak karuan. Karena terdengar semakin seru aku mulai membuka
mata, ku lihat tiba2 keris itu berdiri. Apa apaan ini dalam batin ku. Aku sangat ketakutan dan kembali memejamkan mata. Aku merasa memang lebih baik menguping saja, jantungku berdegup kencang, entah ritual apa yg dijalankan mbah ijan. Sepertinya adalah sebuah rutial mematenkan
kepemilikan keris tersebut
Malam itu bagiku adalah malam yg sulit kulalui, tidur tak bisa,terjaga namun ketakutan sekali. Kuputuskan untuk tidur. Ketika ritual berakhir, bapak membangunkanku dan mengajakku pulang, saat sampai dimobil aku melihat keris itu diatas dashboard mobil dg dibungkus kain mori tadi
aku bilang pada bapak "pak aku wedi ojo dideleh kene pak"(pak aku takut jgn ditaroh sini) tanpa menjawab bpk segera memindahnya ke jok belakang. Dan semenjak itulah, keanehan demi keanehan terjadi dirumah ku. Banyak hal diluar nalar terjadi pada kami sekeluarga. Akan ku ceritakan
satu per satu kejadian yg menimpa keluarga kami secara beruntun. Kejadian pertama sekitar tahun 2004, ketika aku mampu merasakan firasat ketika anggota keluargaku akan mengalami kesusahan atau kematian. Saat itu hari sudah malam tak tahu kenapa perasaan ku tiba2 kacau aku sangat
sedih, namun entah karena apa aku sendiri juga tak tahu. Tiba2 sekelebat kenangan terlintas didepan mataku sebuah peristiwa kecelakaan yg menewaskan sepupuku, tanpa disadari mulutku bergumam "sesuk arep kedadean opo?"(besok akan terjadi apa) ibu yg mendengar itu langsung bertanya
"omong opo koe? wes wengi ndang turu"(ngmong apa kamu, dah malam cepat tidur) dg sesenggukan aku merebahkan diri dikasur, tak berapa lama aku terlelap. Dalam tidurku aku bermimpi, di depan rumah nenekku(dari ayah) ramai dikerumuni orang, setelah ku teliti ditengah kerumunan itu
ada kakak perempuan ku sedang menangis, ketika aku berjalan mendekat sulit rasanya untuk memecah keriuahan itu, semakin ku berusaha semakin terhimpit kuat2, lalu seketika itu aku terbangun, ternyata hari sudah pagi. Segera aku berlari ke dapur mencari ibu siapa tahu aku akan men-
dapat jawaban atas mimpiku, "buk ibuk, aku mambengi ngipi, ng ngarepan e mbok e kok ruame banget trus mbak Sari ono nang tengah2 e wong2, arep tak parani tapi aku ketahan"(bu ibu semalam aku mimpi didepan rumah nenek ramai sekali trus mbak sari ada ditengah orang2 mau ku datangi
tapi aku tertahan) tiba2 ibu terlihat kaget sekali, dg segera menyuruhku "kono gek adus keramas, trus rambute digunting sithik gek diobong, cepet"(sana cepat mandi keramas, lalu rambutnya digunting sedikit trus dibakar, cepat) ibu nampak ketakutan,
karena penasaran, setelah melakukan apa yg ibu suruh, aku bertanya "buk bukane nek gunting rambut bar kramas njur diobong guntingane pertanda buang sial? opo mimpiku firasat g apik buk?"(bu bukanya memotong rambut setelah kramas trus dibakar potongannya pertanda buang sial, apa
mimpiku firasat g baik bu) ibu menjawab "westo menengo, ndungo o mugo2 g enek opo2"(sudahlah diam, berdoa saja semoga g ada apa2) ibu berusaha menutupi kekhawatiran nya. Memang di desaku banyak org masih percaya dg tahayul apalagi soal mimpi, dan menurut orang2 desaku kalau mimpi
dirumahnya ada keramaian, berarti akan ada kejadian menyedihkan disana. Hari itu kurasa sangat lambat, ketika sore tiba tak kulihat kak Sari pulang sekolah, hatiku bergetar saat menunggunya di teras rumah, saat aku bergegas masuk kerumah tiba2 ada seorang laki2 berbelok ke arah
rumah kami, dg motor butut dan jaket kulit hitam beliau berhenti tepat didepan rumah si mbok, kebetulan bapak ada disana sedang men-service mobil orang(bapakku montir) aku mengintip dari jendela, entah apa yg mereka bicarakan yg jelas aku hanya mendengar "pak bade tangklet mriki
nopo leres griyane mbak Sari sekolah e teng smp 2"(pak mau nanya apa benar ini rumah nya mbak sari sekolahnya smp 2)tanya orang itu, bapak menjawab "nggeh leres pak enten nopo,nggo pinarak riyen"(iya benar pak ada apa, silahkan duduk dulu) kemudian mereka duduk diteras, berbicara
serius sepertinya, sampai2 bpk tiba2 berdiri dan berkata "ya Allah, sing penting sik slamet"(ya Allah yg penting masih selamat) kemudian orang itu berpamitan pulang, kemudian bapak bergegas mencari ibu, aku pun segera berlari mengikutinya dari belakang, setelah bertemu ibu, bapak
berkata "tak kandani ning ojo susah utowo nangis bakune bocahe slamet senajan motore tugel dadi 2, Sari kecelakaan Saiki nang RS, ibu nang omah wae bapak tak rono"(kuberitahu tapi jgn sedih atau nangis yg penting anaknya selamat walau motornya patah jadi 2,sari kecelakaan skrg
di Rs ibu dirumah saja bapak yg kesana) seketika itu tangis pecah, bapak dg baju seadanya bergegas naik sepeda motor untuk menengok kakak ku di RS, dan aku? ya tentu saja lemas seketika tak menyangka firasat semalam ini jawabannya. Dan ini kejadian pertama
selanjutnya adalah yg
paling ku ingat kematian teman yg baru ku kenal, yaitu mbak Rani. Pertemuan pertama dan terakhir kami disebuah stasiun kereta api, suami nya adalah teman suamiku. Meski hanya sekali bertemu tapi beliau dg intens selalu menghubungi ku lewat medsos, hingga
suatu hari aku mengalami
lagi hal yg sudah lama ku benci yaitu firasat, malam itu jantungku berdegup kencang, emosi ku bergejolak bahkan tanpa alasan aku marah kepada siapapun, rasanya banyak sekali org disekitarku. Aku seperti dikerumuni dan dihakimi,ragaku seperti diperebutkan
jiwaku rasanya seperti magnet yg tertarik oleh magnet dg kutub yg lain namun tak nampak oleh mata telanjang, dg menahan rasa yg tdk bisa ku jabarkan air mataku menetes dan aku berkata pada suamiku "sopo sesuk sing arep mati?"(siapa besok yg akan mati) suamiku tersentak kaget
"heh ngomong opo tho ma? wes istighfar ojo marai aku bingung, pendhak2 kok muni sopo sesuk sing mati, cukup ma, aku ngerti apa sing mok alami saiki"(he ngomong apa sih ma sudah istighfar jgn membuatku bingung, dikit2 kok bilang siapa besok yg mati, cukup ma aku tahu apa yg kamu
alami sekarang) tangisku semakin menjadi saat itu, keesokan harinya sudah bisa ditebak, ketika aku melihat hp ku banyak kabar duka bersliweran di sosmed ku, iya mbak Rini meninggal dunia. Kesedihan ku tak dapat terbendung, kenapa aku bisa merasakan kematian yg dekat namun tak
mampu menebak siapa yg akan mati. Hidupku menjadi terasa was was berkepanjangan karena rentetan peristiwa firasat yg terus menerus menghampiri ku. (banyak yg ingin ku ceritakan tentang ini, namun di sesi lain saja akan ku jabarkan satu persatu peristiwa firasat tsb)Selain firasat
semenjak kehadiran mbah karto sentono dalam kehidupan keluarga kami, aku dan kakak ku sari jadi sering melihat penampakan. Awalnya kami tak merasa aneh namun lama kelamaan kami menyadari bahwa kami menjadi lebih "PEKA" terhadap kehadiran makhluk astral dan "SANTET" yg mengganggu
keluarga kami. Seperti yg ku alami sekitar th 2009 saat masih duduk dibangku SMA, disekolahku terjadi kesurupan massal, aku penasaran dg suasana kacau disekolah saat itu dan sama seperti siswa lain, aku menonton mereka yg kesurupan di bawa ke ruang UKS, saat tiba di UKS aku duduk
melihat dari kejauhan seorang siswi yg kesurupan bernama Risa, saat itu juga Risa yg dipegangi oleh 6 orang guru laki2, tiba2 bangun dan melotot ke arahku, dari sorot matanya seperti elang yg mengincar mangsanya, sungguh dahsyat 6 org lelaki tk mampu melumpuhkan tenaganya. Aku
takut namun diburu rasa penasaran, tiba2 aku melihat sosok perempuan berbaju putih dg menggendong bayi keluar dari balik tubuh Risa, berjalan menuju ke arahku, lalu tiba2 "braaaakkkkk" aku tak sadarkan diri. Ketika terbangun tubuhku rasanya sakit semua dan memar, aku heran dan
mencari tahu apa yg terjadi, kenapa aku juga ikut terbaring di ranjang UKS. Kemudian rekan PMR memberitahu bahwa aku tadi ikut kesurupan "dhek wes sadar? wes sehat? sampean sik eling aku?"(dhek dah sadar dah sehat kamu ingat aku) aku mengangguk "mbak, aku mau nyapo mbak kok awak
ku lara kabeh, iki sikil tanganku tatu"(mbak aku tadi kenapa kok badanku sakit semua ini kaki tanganku memar) mbak PMR menjawab "kamu td kesurupan, makanya kalau ada anak kesurupan jgn lihat dhek kalau g kuat ikut kesurupan, td 4 org laki laki yg memegangimu kamu tendangi sampai
g bisa nahan kamu meronta ronta, jempolmu td digigit sama pak Ari, kamu ngrasa gak? td ada juga yg video in kamu pas meracau g karuan, oiya kamu diijinkan pulang lebih awal takut kesurupan lagi td bapakmu dah ditelpon mau jemput kamu". Seketika itu ku lihat jempol kakiku, benar
ada bekas gigitan disana. Astaga kenapa lagi aku ini pikirku. Hari hari ku lalui dg perasaan galau. Ketika aku meminta untuk melihat makhluk2 ini justru mereka tak terlihat, namun ketika aku tak menginginkan nya, makhluk2 ini nampak begitu saja. Pernah suatu hari ketika adzan
magrib aku sedang dirumah kos teman dan akan pamit pulang, saat aku keluar dari pintu, kepalaku rasanya ingin sekali menoleh ke arah pintu rumah ibu kost, benar saja saat aku menoleh ada sesosok tubuh tanpa kepala dan kaki merayap dilantai hendak mengikutiku keluar, seketika itu
ku urungkan niat untuk pulang, aku tunda hingga selesai adzan. Ada kejadian lagi yg membuat ku merinding tak habis2, saat itu dirumah sudah sepi, maksud hatiku ingin mengunci pintu rumah, seperti biasa sebelum pintu2 ku kunci, aku selalu nge-check apakah semua motor sudah masuk
dan semua orang sudah tidur dikamar nya masing2? ku lihat motor sudah masuk semua, lalu aku mengechek kamar bapak, dari kejauhan pintu sedikit terbuka, kulihat ada 3 pasang kaki, tentu saja itu kaki ibu ,adik dan bapak ku yg saat itu terlihat mengenakan sarung bali dari kakakku
saat hendak mengunci pintu belakang, sayup2 ku dengar suara bapak di luar pintu sedang bercakap dg seseorang, auto terkejutlah aku, lalu yg dikamar tadi siapa? batinku. Karena ketakutan aku segera berlari ke kamar tidak jd mengunci pintu, tanganku gemetaran, lalu aku menelpon
bapak agar segera masuk kerumah. 5 menit kemudian bapak datang, menuju kamarku dan mengetuk pintu "ada apa ndhuk? kok kamu ketakutan" lalu aku menceritakan "pak tadi pas aku mau kunci pintu aku cek kamar bapak, disana ku lihat ada 3 pasang kaki kupikir itu kaki ibu, bapak, adik
ternyata aku dengar bapak masih diluar berbincang dg teman, bpk td keluar dri rumah sejak kapan?" tanyaku "bapak keluar sejak magrib tadi"jawabnya. badanku lemas seketika, dalam benakku bertanya tanya itu tadi kaki siapa?? seakan mengerti apa yg terjadi bpk langsung menunduk
mulutnya komat kamit seakan mengucap mantra. Setelah itu beliau meniup ubun2 ku, dan berkata "inshaAllah g diganggu lagi kamu", bpk mencoba meyakinkan ku Namun tetep saja hari2 ku lalui dg ketakutan karena sering melihat sekelebat sosok wanita tua dirumah, kadang ada suara namun
tak ada rupa, kadang ketika dijalan aku melihat jiwa2 tak tenang korban kecelakaan. Selain itu aku sering merasakan kedatangan santet dirumahku. Pernah beberapa hari berturut2 setiap tengah malam aku mendengar orang melempar batu kerikil di atap rumah, tak hanya satu namun banyak
sehingga mirip hujan es suaranya. aku sempat berfikir, mungkin itu suara buah yg dibawa kelelawar dan jatuh tepat diatas atap kami. Namun kenapa selalu tengah malam? kemudian keesokan harinya aku melaporkan kejadian itu ke bapak, bapak berkata "itu kiriman dari orang2 yg iri dg
kita ndhuk, kamu sadar yg mendengar suara itu hanyalah kamu dan bapak?? ibu dan adikmu tak pernah mendengar suara mirip hujan kerikil itu, itu artinya rumah kita sedang di "JARAHI"uwong(dikerjain orang), besok malem jum'at kliwon kita lihat apa yg kita temukan jangan takut ndhuk"
Saat malam jum'at kliwon tiba, bapak memberikan ku wejangan agar tidak tidur lebih awal, malam itu kami berdua benar2 terjaga, sudah hampir tengah malam, saat rasa kantuk menyerangku tiba2 diluar terdengar suara bapak mondar mandir, aku kemudian menyusul keluar "pak ada apa?"
bpk menjawab "kirimannya datang, ayo ikut bapak" akupun mengikuti bapak menuju pagar depan rumah, kemudian bapak berhenti seraya komat kamit, kemudian dia menyuruhku melihat ke arah yg ditunjuknya, "kui lho ndhuk delengen, tanah merah artinya itu tanah kuburan", mataku terbelalak
bagiku semua ini adalah hal yg mustahil namun benar2 terjadi. Ada satu kejadian lagi yg juga tak bisa ku hapus dari ingatan, saat itu April th 2012, akulah seorang pengantin baru yg diboyong suami menuju rumahnya, jauh2 sebelumnya suamiku sudah berpesan agar jgn takut kalau
sewaktu dia bekerja aku harus tidur sendiri, kalau tak malu dia menyuruhku tidur dg ibunya, karena suamiku faham aku dapat melihat apa yg tak bisa ia lihat. Benar saja, malam2 perkenalan ku dg rumah baru ini sangat menguras air mata, beberpa kali penghuninya mengajakku berkenalan
dihari pertama dan ke dua hanya nampak bayangan, namun hari2 selanjutnya semakin mengerikan. Mereka sering mampir ke kamarku ketika aku sedang tidur sendirian, puncak nya ketika sudah genap seminggu, malam itu aku gelisah karena takut sudah berhari hari terganggu, aku terjaga
hingga pukul 3 pagi, saat mataku mulai ngantuk, tiba2 lampu kamarku padam dg sendiri nya, aku berusaha menyalakan tapi anehnya lampu tetap padam padahal diluar terang artinya sedang tidak ada pemadaman listrik. Lalu aku meringsek mundur ke tembok, tiba2 angin bertiup kencang
padahal saat itu pintu kamarku hanya sedikit sekali terbuka, hanya cukup untuk mengintip, aku ketakutan dan menarik selimut menutupi sekujur tubuhku kecuali muka, tiba2 ada benda merayap di selimutku, iya ular itu adalah ular. Tak hanya satu ada 4 ekor ular hitam panjang menuju
padaku, aku ingin berteriak tapi mulutku rasanya seperti dikunci rapat, aku hanya bisa meneteskan air mata, semakin dekat jarak ular itu tiba2 mereka berubah menjadi 4 orang wanita cantik, mereka menyapa dan tersenyum seakan meyakinkanku bahwa mereka datang dg niat baik, namun
aku terlanjur ketakutan, sedari td aku mencoba mencari dimana letak hp ku namun kuraba dimanapun tak ada, aku ingin sekali ditolong, tiba2 angin berhembus kencang sehingga pintu kamarku terbuka, tiba2 munculah 2 sosok orang dg baju penganti jawa hitam, mereka nampaknya sepasang
suami istri berdiri tepat di dekat dipan ku. Si perempuan berkata "ojo wedi kui kabeh anak buahku ndhuk"(jgn takut mereka semua anak buahku nak) aku masih terus menangis karena tak akan mengira itu terjadi padaku, aku sudah tak tahan berharap malam itu berakhir sg segera, takut
dan sedih karena tak ada yg menolong, aku menangis dg menundukkan kepala, tiba2 ku dengar kumandang adzan subuh tiba2 lampu kamarku menyala seketika, dan pintu kamar tertutup rapat, aku lega meskipun masih takut, segera ku mencari hpku dan menghubungi siapapun, termasuk bapak
setelah berhasil menghubungi bapak, aku menceritakan semua kejadian tadi, lalu bapak menyuruhku "ambilo garam segenggam lalu bacalah doa sebisa mu, taburkan dikamar atau cukup letakkan saja" karena berharap tak mau lagi mengalaminya aku segera mengikuti nasehat bapak, setelah itu
aku kembali tidur. Semenjak kejadian itu bapak lebih memperhatikan aku, sampai2 suatu hari aku diminta pulang untuk mengambil sesuatu. Tanpa rasa curiga aku menuruti nya. Aku pulang kerumah, sesampainya disana bapak memberikanku sebuah bungkusan kain flanel berwarna hijau dengan
jahitan yg sangat rapi. Aku bertanya "ini apa pak?" bapak menjawab "awakmu lek sering eruh barang alus tho ndhuk, iki cekelen, nyandi2 gowonen ojo sampek kelangkahan utowo katut digowo nyang jedhing"(kamu kan sering lihat makhluk halus ya nak ini pegangen kemana2 dibawa jangan
sampai dilangkahi atau dibawa kekamar mandi) dahiku mengernyit bpk kembali memberi tahu "masih belum faham? ini jimat supaya kamu g dihantui terus, g di kerjain orang ndhuk", aku hanya diam karena ku tahu menyangkal bapak=malapetaka, aku menurutinya namun aku harus tau apa isinya
"pak pak ini isinya apa kok tak pencet keras banget, mana baunya menyan" tanyaku, "kui isine siung celeng, kembang ,menyan,lan lemah danyangan"(itu isinya taring babi hutan bunga menyan dan tanah leluhur) aku terhentak kaget, "lho pak aku takut" timpal ku, "g usah takut percyo
sama bapak yo" aku hanya mengangguk, takut namun lebih takut lagi kalau tetap melihat makhluk2 itu aku bisa gila. Dalam hatiku hanya ingin tenang siapa tau setelah ini semua berakhir. Mulai dari firasat yg ku benci sampai penglihatan ku terhadap makhluk2 halus itu hilang.
dalam hatiku bertanya, seistimewa inikah taring babi hutan. Kenapa aku harus menuruti bapak yg setiap malam jum'at kliwon melakukan ritual untuk mbah karto? aku meras semua ini harus dihentikan, namun aku masih diliputi ketakutan. Beberapa hari semenjak aku membawa jimat itu
memang benar aku sudah mulai tak lagi melihat keberadaan makhluk2 itu, hidupku sedikit tenang namun firasat itu tetap ada. Bapak pun sepertinya berhasil mempelajari ilmu dari kakekku, sampai2 bapak rela menjalani ritual tidak makan daging dan nasi dari acara kenduri, menurutnya
itu adalah pantangan ilmu kejawen nya. terdengar aneh namun aku tak begitu menghiraukan, asal hidupku tenang aku nyaman. Kemampuan bapak pun sudah terdengar kemana2, selamat bertahun2 mendalami ilmu, bapak banyak mendapat "tamu" dg berbagai problema hidupnya dan selalu berhasil
memberikan solusi. Sudah bisa ditebak solusinya sama seperti apa yg diberikan padaku, jimat siung celeng. Aku juga heran apa khasiatnya sampai bapak rela mencari ke pelosok pelosok, karena memang kata bapak "siung kui kudu teko celeng sg mati ora mergo dipateni"(taring itu harus
dari babi hutan yg matinya bukan karena dibunuh) dan selama ini bapak mendapatkan nya dari para sahabat diluar wilayah jawatimur, dg mahar per satu taringnya 300-500 rb rupiah tergantung dimana tempat ditemukannya. Semakin masuk dihutan semakin mahal harganya. Hingga suatu hari
ada seorang tamu mencari bapak, sepertinya masalah yg dialami cukup serius karena dia rela menunggu bapak sampai pulang merumput. Yg ku ingat bapak hanya berpesan pada orang itu dg pesan yg sama saat memberikan jimat itu padaku. "aah mudah sekali mendapat uang" batinku berkata..
usut punya usut ternyata org tersebut baru saja dikerjai lawan bisnisnya, dia sering dikirim tanah kuburan sehingga usahanya mati. Dimatanya dia tetap membuka usaha namun orang yg melihat selalu saja tutup tak ada tanda2 bahwa dia sedang berjualan. Seminggu kemudian dia kembali
dg tergopoh gopoh dia menemui bapak raut muka nya nampak panik dan merasa bersalah kulihat dari jauh dia nampak memohon mohon. Setelah orang itu pergi kulihat bapak wajahnya merah padam, niatku untuk bertanya ku urungkan. Aku tahu ketika marah bapak tidak mau mengalah meskipun
keliru,berhari hari aku memikirkan momen itu sembari memandangi jimat ini. Aku berfikir apa yg terjadi ketika pantangannya dilanggar? karena penasaran aku memberanikan diri bertanya pada bapak,berharap menemukan jawaban yg memuaskan. Ternyata aku salah, sebelum memberi jawaban
bapak memarahiku terlebih dahulu "koe ngerti ngopo wong kae wingi njaluk sepuro nang bapak? wonge nglanggar pantangan" aku terkejut hingga bapak semarah itu, kemudian bapak meneruskan "salahe meneh, dek e ra ndang mbalik mrene" tambah bingung aku mendengarnya, lalu aku disuruh
bapak untuk duduk. Saat kami sama2 duduk bapak menghela nafas panjang, seperti sedang menata hati bapak menatapku tajam, "jimat kui lek dilanggar pantangane iso ilang khasiate, ora guno ngerti?? trus maneh lek sampek mok langgar koe ra ndang kondo bapak, ojo nyalahne bapak lek
sampek enek opo2"(jimat itu kalau dilanggar pantangannya bisa hilang khasiatnya, g guna ngerti?trus lagi kalau kau langgar tapi tak cepat ngasih tau bapak jgn nyalahin bapak kalau sampai terjadi apa2) tiba2 nyaliku menciut, bapak paham kalau raut wajahku memperlihatkan ketakutan
setelah suasana mendingin bapak bercerita "wong kui rene mergo saben dino krungu buntelan kui krekat krekut, koyo untu gathik"(orang itu kesini karena setiap hari mendengar bungkusan*jimat* itu bersuara krekat krekut seperti gigi yg bertemu*seperti sedang mengunyah kuat*)
sial, kenapa aku dulu mau diberi jimat ini oleh bapak, "iki sik awale, mbuh maneh lek mbalekne rene kliwat suwi, bapak yo ora ngerti resikone"(ini masih awalnya,gtau lagi kalau mengembalikan kesini terlampau lama) imbuh bapak. Otakku berfikir keras,kurasakan dilema dalam hatiku
terlanjur sejauh ini aku memegang jimat ini, bila ku kembalikan ke bapak, pasti dia kecewa dan aku sendiri masih diliputi ketakutan melihat makhluk2 halus itu, namun jika jimat ini tetap bersamaku, aku bisa gila karena memikirkan resikonya. Aku harus bagaimana?? pertanyaan itu
muncul setiap hari dikepalaku. Sambil menanti jawabannya aku juga mencari tahu, bagaimana bisa siung celeng menangkal balak/santet? apakah mungkin jimat ini hanya perantara saja? untuk membuktikannya aku harus tau bagaimana proses membuat buntelan jimat itu, akhirnya aku mencari
waktu yg tepat, yaitu ketika bpk menerima "pasien" di pondok tempatnya menggelar sesaji, dg sengaja aku berpura pura menyuguhkan minuman kpd si tamu. Aku duduk disebelah bpk dan menawarkan diri untuk menjahit kan buntelan itu "pak dijahitne ye?"(pak tak jahitkan ya?) bpk menolak
beliau bilang biar ibu saja. Pada kesempatan itu aku mengamati, apa yg digelar di meja itu, ada dupa, bunga 3 warna, menyan, dan tanah leluhur. Tak lupa taring celeng sbgai inti ritual itu, stelah membakar dupa bapak berjalan kearah bufet kayu, tak ku sangka, mbah karto ternyata
punya andil dalam pembuatan jimat ini, dikeluarkannya mbah karto dari bufet itu dalam gendongan tangan bapak dg hati2 sekali, sebelum diletakkan diatas meja, mbah karto ditempelkan dikening bapak terlebih dahulu, entah apa tujuannya aku tak mengerti. Sambil komat kamit lalu bapak
menyudahi ritualnya, sama seperti pasien2 sebelumnya, bapak berpesan agar hati2 membawa jimat itu namun kali ini bapak menegaskan, "yen pantangane mok langgar, ora peduli kui tengah wengi, parakno mrene, ojo nunggu sesuk2"(kalau pantangan nya dilanggar g peduli itu tengah malam
bawa kesini jgn nunggu besok2) tampaknya kali ini bpk tak mau kecolongan, entah kenapa setakut ini saat ku lihat bpk, tiba2 bpk melihat ku dg tatapan tajam "eling2en nggo awakmu ndhuk, ojo nganti nglanggar pantangan e"(ingat2lah nak jgn sampai melanggar pantangannya) seketika itu
aku justru merasa bahwa diriku dalam bahaya bom waktu, kalau memang masalah utamanya hanya karena mata batinku yg terbuka, kenapa bapak tdk menutupnya saja agar aku tak melihat makhluk2 astral itu? tapi kenapa justru bpk memberiku jimat ini? bahkan tak hanya aku, seluruh keluarga
juga mendapatkannya. Hari hari berikutnya saat aku memikirkan bagaimana caranya lepas dari jimat ini, aku mengalami hal yg mengejutkan, takkan ku lupa seumur hidupku. Waktu itu bpk mengantarkan aku manggung(aku seorang sinden wayang saat dilokasi pementasan, semua terlihat normal
hingga tiba waktunya hampir tengah malam, disesi hiburan limbuk cangik(tokoh pewayangan) suara kembang api bersahut sahutan, dan asap mengepul tebal, dari kejauhan kulihat bpk memandangiku dg senyum, namun tiba2 dari arah belakang, muncul nenek2 tua sedang menuntun macam putih
aku terkejut dan berusaha meyakinkan bahwa ini nyata, dg sigap aku mengirim sms ke ponsel bapak, "pak, dibelakangmu ada nenek2 menuntun macan putih", seketika itu bapak menoleh kearah belakang, setelah bberapa detik bapak kembali menatapku sembari berisyarat agar aku melihat hpku
benar saja ada sms masuk dari bapak, isinya "gpp ndhuk itu dia mbah karto, sedang menjaga kita", saat itu juga rasanya aku ingin menangis karena ketakutan. Setelah itu aku kembali menatap bapak di kejauhan, nenek td sudah hilang. Namun masih sangat jelas dalam ingatanku bagaimana
perwujudtannya(mohon maaf sya tdk berani menjabarkan detail nya karena sy masih diliputi rasa takut, masih hidup serumah dg bapak dan mbah karto). Selepas kejadian itu aku justru memantabkan diri untuk meninggalkan jimat itu. Aku merasa dalam lingkaran, yg tak ada ujungnya.
dan justru keberadaan jimat ini seperti mengancam keselamatan ku. Aku ingin kembali ke jalan ku sebagai umat, tanpa memberitahu bapak. Menjaga hatinya agar tak kecewa, untuk itu aku sering membantu klien2 bpk membelikan komposisi jimat itu. Hingga suatu hari datanglah teman dekat
ku, panggil saja mbak Yosee. Saat itu pukul 9 malam, Dia datang dg muka pucat bersama suaminya, sebenarnya sudah beberapa hari dia mengeluh padaku lewat chatting, bahwa dia mengalami gangguan ghaib, sepertinya ada pesaing bisnisnya yg iri dan ingin membuat mbak yosee bermasalah
dg keluarga dan suaminya, agar keluarga nya retak dan usahanya hancur. Menyadari itu mbak yosee menghubungi ku dan meminta bantuan untuk mencarikan org pintar. Akhirnya ku tawarkan jasa bapakku. Mbak yosee datang kemari lengkap dg semua keperluan ritual, karena sebelumnya sudah
ku beri tahu lewat chat. Saat di pondok, bapak dan ibu menyambut ny dg antusias karena kami sudah saling kenal lama, namun mbak yosee blm pernah tau kalau bapakku memiliki kemampuan selayaknya paranormal. Setelah menggelar keperluan ritual, bpk mulai komat kamit kemudian meniup
gelas minum yg disediakan untuk mbak yosee lantas mbak yosee dipersilahkan untuk minum. Setelah minum mbak yosee berkata "pak kok tiba2 aku pusing mual" lali mbak yosee menangis karena tak mampu menahan rasa mualnya hingga akhirnya dia muntah2, bapak berkata "uakeh mbak lek
ngiseni ng awak smpean, westo muntahno ben santet e metu iki sampean dijarah i"(banyak mbak yg ngisi di badan mbak, sudah muntahkan saja biar santetnya keluar, ini kamu di kerjain) lalu ibu menambahkan " iyo mbak ciri2ne smpean kelebon yo iku muntah2 bar didongani, kene mbak gek
tak kerok i tak pijiti, smpean pucet banget"(iya mbak ciri2nya kamu kemasukan ya itu muntah2 stelah didoakan, sini mbak ku kerokin ku pijiti, kamu pucet sekali) kata ibu. Lalu ibu mengajak mbak yosee masuk rumah kami melewati dapur yg jaraknya berdekatan dg pondok an bapak
disana dg telaten ibu memijiti mbak yosee sembari berkata "mbak, suamimu itu org yg benar2 baik jdi jgn khawatir dia tak akan goyah, dari tutur katanya saja bisa ditebak dia itu org yg serius dan setia, agamanya juga bagus, jgn sampai bertengkar ya mbak, karena momen itu akan
dimanfaatkan pesaingmu untuk kembali mengirim santet", mendengar itu aku merasa wejangan ibu kali ini lain dari biasanya, membawa kesan yg menunjukkan kepedulian, padahal teman dekatku yg lain belum pernah ada yg di wejang seperti ini oleh ibuku. Sesaat merasa aneh namun aku
mengabaikannya. Setelah sesi pijat selesai mbak yosee dipanggil bapak kembali ke pondok, sedangkan ibu tetap didapur beliau mengajakku berbincang, dan lagi2 memberiku pesan "tenan lho ndhuk, yosee kandanono ojo oleh nukari sing lanang, sg lanang kui wong temen" aku sangat heran
ada apa gerangan, padahal biasanya ibu tdk sepeduli ini dg org lain. Lalu kami berdua menyusul ke pondok an, disana lagi2 bpk menyiapkan jimat itu masih dg pesan yg sama, jgn dilangkahi atau dibawa ke kamar mandi, dan kali ini aku sama sekali tak terkesan atau heran, justru rasa
-nya ingin sekali aku menyudahi lingkaran ini. Ingin memisahkan diri dari jimat itu. Katanya saja jimat, pelindung.. tapi aku merasa terancam dan takut. Namun semua perasaan itu ku pendam sendirian, tak ingin mendapat masalah baru dari bapak, kalau sampai beliau tau isi hatiku
ketika tekadku sudah benar2 bulat untuk meninggalkan jimat itu, tiba2 ada firasat yg kembali muncul, otakku berfikir keras "percuma saja memegang jimat, tapi firasat ini tetap singgah padaku, aku bisa gila" gumamku. Saat itu aku mendengar suara burung Emprit Ganthil, yg menurut
kepercayaan org jawa adalah burung pengirim pesan kematian, jaraknya sangat dekat dg rumahku hingga rasanya suara kicauan itu tepat berada diatas rumahku. Aku mencoba untuk tidak gegabah dan menenangkan diri, berfikir itu hanya ocehan burung yg sedang lapar. Setiap sore menjelang
malam, ocehannya semakin sering. Selama 2 hari berturut turut ia hanya mengoceh dimalam hari, namun hari selanjutnya, ia mulai mengoceh di siang hari pula. Aku merasa terganggu, bukan karena suaranya namun karena firasatku yg dikuatkan dg datangnya burung itu. Sudah merasa kacau
karena emosi yg tiba2 meledak ledak, perasaan sedih yg tak ada sebab dan tujuannya, hingga aku menangis sendirian dg tiba2, ditambah lagi hari ke 4 aku mnemukan kunang2 di kamar mandi dan pintu depan(kata ibuku kalau ada kunang2 ada yg akan meninggal) aku berusaha berdikir sehat
barangkali karena rumahku dekat dg kebun sehingga hewan2 ini datang. Namun jiwaku semakin tak tenang seolah ada angin yg membawa kabar untukku tentang kematian itu, ada aura kematian yg sangat kuat melewati kehidupanku. Fokusku untuk meninggalkan jimat itu jadi terganggu karena
firasat ini. Hingga hari ke 5 saat aku berusaha untuk tidak terlalu menanggapi firasat itu, ibu mendadak mendekatiku ketika aku memasak didapur, "nak ibu kok merasa berkeringat dingin, kenapa ya?" tanya ibu, "perut ibu sakit gak? apa perlu dikerokin buk? masuk angin kah?" tanya
-ku kembali, ibu menjawab "tak perlu ibuk g merasa masuk angin, tapi kenapa kok begini?". Karena menurut ibu tak terlalu mengkhawatirkan aku meminta ibu untuk istirahat saja, barangkali kecapekan an. Masih dg suasana di backsound i oleh si emprit ganthil, aku seperti gila rasanya
memikirkan "siapa yg akan mati kali ini". Sore itu hari ke 6, Sabtu tgl 1 Desember 2018, aku dan suami berencana menengok bayi teman kami yg baru lahir, saat itu matahari sudah condong kebarat, aku bersiap siap dg diiringi ocehan burung emprit ganthil yg bersahutan, kali ini tak
hanya satu ekor, namun ada dua. Usai menyiapkan anak2 dan bekalnya, aku melangkah hendak keluar pintu rumah, tepat didepan pintu aku secara tak sadar berhenti dg tatapan kosong, tiba2 aku marah kepada suamiku "bih bih sakjane sopo tho sing arep mati?"(ish ish sebenarnya siapa sih
yg akan mati) mendengar itu, suamiku mendekat, "husst sudah, ngomong apa kamu ini, banyak istighfar dan berdoa sayang, yakin semua baik2 saja" seakan sudah tau dg apa yg akan terjadi, suamiku berusaha menenangkan ku. Aku mengangguk lalu "aku benci dg burung itu" kataku sambil ber
-lalu pergi ke mobil. Oiya sejak hari itu, aku mencoba untuk tidak sering2 membawa jimat itu ketika pergi keluar. Karena hari mulai gelap kami bergegas, benar saja tilik bayi tersebut menghabiskan waktu selama 4jam lebih, hingga kami pulang ke rumah sudah hampir tengah malam,
sesampainya di rumah pintu tak terkunci, ternyata dirumah ibu bapak sedang menonton tv. Seketika itu aku langsung menghampiri ibu, dan menunjukan bingkisan dari acaraku tilik bayi tadi. Aku mendapat kan sebuah panci, aku meminta tolong ibu agar mau merakit tutupnya untukku, namun
ibu langsung menolak "ibuk g iso, jajal kongkon masmu"(ibu tdk bisa coba suruh suamimu) aku merasa aneh dg jawaban ibu,tak biasanya ibu menolak dan menyerah sebelum menyelesaikan sesuatu. Ah sudahlah mungkin ibu capek, pikirku. Lalu aku bergegas pergi ke kamarku untuk tidur, tapi
mataku tak dapat terpejam, seakan akan ada aura lain yg meenggoda jiwaku, mengolah emosiku sehingga naik turun, membisikan ditelingaku, esok hari akan ada duka, dihatiku bertanya tanya, siapakah yg dibisikkan oleh firasat ini?? Melihatku gelisah, suamiku berkata "lekaslah tidur
jgn difikirkan, jodoh mati rejeki sudah ada yg mengatur kita tinggal menjalani dan menerima dg ikhlas, jgn lupa berdoa ya sayang mohon yg terbaik kepada Allah, lihat anak kita sedang sakit dia membutuhkan perhatianmu" mendengar itu hatiku sedikit tenang, memang sudah 3 hari ini
anak ke 2 ku sakit dan ibu juga ikut merawatnya. Perlahan lahan aku mulai terlelap membawa sejuta kegelisahan.(mohon maaf thread ini akan di sambung di-Tweet baru tidak di utas ini, thread sempat tertunda sebab akun terkunci, maklum saya seorang pemula lanjut ke tweet baru ya)
Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh.

Enjoying this thread?

Keep Current with NNJouvina

Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

Twitter may remove this content at anytime, convert it as a PDF, save and print for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video

1) Follow Thread Reader App on Twitter so you can easily mention us!

2) Go to a Twitter thread (series of Tweets by the same owner) and mention us with a keyword "unroll" @threadreaderapp unroll

You can practice here first or read more on our help page!

Follow Us on Twitter!

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just three indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3.00/month or $30.00/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!