#BasedOnTrueStory #BerdasarkanKisahNyata

Ini sekedar tulisan tentang sebuah jembatan kampung yang sejak masa lampau dikenal angker namun berubah jadi teror yang mengincar nyawa setiap orang yang pernah melewatinya akibat efek pesugihan seorang oknum warga kampung tetangga jauh
yang memang tersohor di wilayah sini karena hartanya yang berlimpah.

[ Catatan: nama tokoh & tempat semuanya disamarkan supaya pengembangan ceritanya lebih mudah dan bebas 😎
Jujur tadinya sebenarnya saya ingin mengambil langsung potret jembatan tersebut tapi setelah menimbang-
nimbangnya maka saya memilih mengurungkannya karena ini akan menyangkut keselamatan saya ke depannya soalnya di film-film horor yang pernah saya tonton rata-rata menggambarkan kalau foto bisa menjadi media penghubung langsung antara kita dengan makhluk gaib yang berada dalam
obyek foto tersebut, contohnya film horor Thailand yang berjudul Shutter (2004) 🧐 ]
⇩ Denah Lokasi Cerita & Sekitarnya ⇩
Silahkan sejenak perhatikan dahulu baik-baik denah di atas 👆 atau disimpan saja dulu gambarnya supaya nanti lebih mudah dalam memahami alur ceritanya 🤓
➀ Pengenalan Lokasi Cerita

Nama kampung saya adalah Jengkolnunduk (Selatan) yang merupakan perbatasan langsung antara 2 kecamatan dan 3 desa berbeda dimana terdapat sebuah sungai yang menjadi batas resmi pemisahnya. Menurut cerita masa lampau konon kampung saya ini seperti
dikelilingi oleh beberapa titik yang aura kemistisannya terbilang sangat angker baik yang ada di sebelah Utara, Selatan, Timur maupun Barat. Terlebih ada beberapa Tempat Pemakaman Umum (TPU) di sebelah Utara, Timur dan Barat yang memang terbuka bagi warga kampung saya yang
meninggal dan warga beberapa kampung tetangga di sekitar sini.
Berdasarkan penuturan kakek saya, pada masa lampau ada 3 titik dalam lingkup kampung saya yang melebihi kata 'angker' karena para penghuni gaibnya bisa dibilang terlampau 'buas' sebab terusik sedikit saja maka nyawa
langsung jadi taruhannya. Pertama sebelah Timur ada sebuah lahan di dekat jembatan yang dibiarkan terbengkalai karena berupa dataran bebatuan cadas walaupun pada masa sekarang sudah berubah jadi beberapa petak sawah mungkin dulunya ditimbun tanah dahulu dengan kedalaman beberapa
meter. Kedua sebelah Selatan ada sebuah kebun yang ditumbuhi beberapa pohon buah yang terabaikan walaupun pada musim berbuah di mana letaknya tepat di seberang depan rumah saya saat ini yang sudah berdiri beberapa rumah warga. Ketiga sebelah Barat ada sebuah kebun teh milik kakek
dari nenek saya yang pada masa sekarang setengah lahannya sudah dibangun beberapa rumah warga dimana titik tersebut tepat berada di belakang rumah paman saya saat ini.
Sebelah Utara kampung saya ada kampung tetangga yang namanya kembar dengan kampung saya yaitu Jengkolnunduk cuma
belakangnya dikasih tambahan (Utara) khusus sebutan dari warga sekitar sini untuk membedakan keduanya sehingga itulah alasannya dikasih tanda kurung karena memang merupakan sebutan tambahan yang tidak resmi. Itulah sebabnya tidak sedikit kasus pengiriman barang yang saling salah
alamat karena keliru akibat nama kampungnya sama dimana yang membedakannya adalah RT/RW, desa dan kecamatannya.
Sementara sebelah Selatan kampung saya ada Kampung Kelewih yang berbeda desa tapi masih 1 kecamatan. Terakhir sebelah Timur kampung saya ada Kampung Petir yang berbeda
desa dan kecamatan dimana termasuk dalam 1 desa dan kecamatan dengan Kampung Jengkolnunduk (Utara) dan Kampung Liangngalir.
Pemisah antar kampung di sekitar sini adalah lahan persawahan yang cukup luas dan terkenal subur bahkan hasil panen padinya menjadi komoditi andalan
sekabupaten terutama untuk 'diekspor' ke kabupaten lain di Jawa Barat. Walaupun kualitas berasnya bisa dibilang perlahan menurun akibat sistem bertani yang mulai kacau karena mengabaikan metode yang diwariskan para pendahulu namun lahan pertaniannya yang memang subur tetap
membuat hasil panen padinya masih bercokol di urutan teratas berdasarkan kualitas. Terlebih ada ancaman yang lebih mematikan yaitu pembangunan rumah dan pabrik di atas lahan yang subur sekitar wilayah persawahan di sini.
➁ Riwayat Lokasi Sekitar Jembatan

Jembatan yang ada di antara 2 kampung Jengkolnunduk ini merupakan penghubung jalan pintas utama yang senantiasa digunakan oleh warga Kampung Jengkolnunduk (Selatan) dan Kampung Kelewih termasuk warga kampung sekitarnya yang hendak menuju jalur
angkot untuk bepergian ke wilayah kota dan sekitarnya seperti ke pasar dan sekolah sehingga jalur yang sangat aktif dilalui oleh manusia.
Dari cerita kakek saya memang sejak masa penjajahan Belanda pun jembatan tersebut sudah berdiri di sana walaupun masih berupa 'sasak' yaitu
jembatan yang terbuat dari bambu. Juga sebenarnya Kampung Jengkolnunduk ini asalnya 1 dimana yang di Selatan merupakan pusat kampung utama sedangkan yang di Utara mulanya hanya berupa beberapa bangunan gubuk untuk tempat peristirahatan para petani dan menunggui lahan taninya saat
malam hari namun seiring berjalannya waktu perlahan mulai berdiri rumah demi rumah sampai terlahirlah sebuah kampung baru. Serta dari cerita paman saya dulu saat ia masih kecil, anak-anak sampai para pemuda Kampung Jengkolnunduk (Utara) dan Kampung Jengkolnunduk (Selatan) cukup
sering terlibat perselisihan berupa saling ejek, cekcok sampai berkelahi untuk saling mengklaim mana Kampung Jengkolnunduk yang asli sehingga akibatnya agak menyulitkan warga di Selatan saat hendak lewat ke Utara malah kadang demi keamanan tidak sedikit yang lebih memilih dengan
memutar lewat Kampung Petir untuk menjangkau angkutan kota. Bahkan perselisihan itu masih terasa saat saya SMP yang mana tampak tatapan sinis dari remaja-remaja seumuran saya layaknya binatang yang siap memangsa buruan yang lewat di depannya. Barulah setelah saya SMK diiringi
perkembangan zaman yang semakin maju dan terbuka serta remaja-remaja seumuran saya itu sudah banyak yang bekerja di perkotaan sehingga perselisihan itu pun mulai memudar dan menghilang sampai sekarang.
Di tengah-tengah 2 kampung Jengkolnunduk ini terpisah oleh cekungan cukup
besar yang mana tepat di tengahnya mengalir sebuah sungai dipenuhi bebatuan cukup besar hasil lahar letusan gunung pada masa lampau yang sudah mendingin karena memang kecamatan saya ini bisa dibilang merupakan ujung kuku dari kaki salah satu gunung di Jawa Barat. Air yang mengisi
aliran sungai tersebut terbilang sedang hanya saat musim hujan saja volume airnya meningkat dan alirannya cukup deras sehingga lumayan bahaya untuk dilewati bagi yang menyeberang dengan lompat di atas beberapa bebatuan besar. Oleh karena itu, jembatan ini memang sangatlah vital
bagi aktivitas warga terutama saat musim penghujan tiba.
Di pinggiran sungai tersebut terbentang lahan pertanian yang sangat subur dan tampak beberapa bebatuan besar yang terdapat di beberapa petak sawah warga. Itu seperti menjadi bukti otentik bahwasannya ratusan atau ribuan
tahun lalu cekungan tersebut mungkin sebenarnya bekas sebuah sungai raksasa yang sangat lebar dan dalam dimana sungai yang saat ini mengalir hanyalah sisa-sisa palung kecil yang berada di dasar sungai raksasa tersebut. Mungkin saat pembukaan dan pembuatan lahan persawahan pada
masa lampau beberapa bebatuan yang tersisa itu mustahil dipindahkan pakai tangan kosong maupun alat sederhana lainnya alias memerlukan bantuan alat berat masa kini sehingga dibiarkan terpajang seperti saat ini.
Kata kakek saya kalau dulu tempat yang paling angker di sekitar
jembatan tersebut adalah lahan bebatuan cadas yang tepat berada di salah satu ujung jembatan. Lahan tersebut sudah sekian lama dibiarkan terbengkalai karena memang tidak ada seorang pun yang berani menyentuhnya bahkan untuk sekedar membersihkan atau memunguti daun dan ranting
yang jatuh di atasnya untuk bahan bakar di tungku pembakaran yang terpajang di setiap dapur warga kala itu. Uniknya saat paling angker di lahan tersebut bukanlah pada malam hari namun justru pada pagi hari terutama saat sedang cerah. Konon lahan tersebut merupakan tempat berjemur
bagi para penghuni gaib kampung saya terutama bangsa siluman (makhluk gaib yang berwujud binatang atau setengah binatang) untuk mendapatkan asupan energi berupa vitamin D dari sinar mentari pagi.
Lalu bagaimana lahan tersebut bisa dibuka dan diubah menjadi beberapa petak sawah
seperti sekarang⁉️
Kemungkinan besar pembukaan lahan tersebut untuk dibuat beberapa petak sawah itu terjadi sekitar tahun 1970-an atau 1980-an yang mana saat itu di Kampung Petir ada seorang kyai yang terkenal oleh berbagai karomah, kesaktian dan kelebihan di luar nalar lainnya.
Sepak terjangnya yang aneh di mata orang awam dan tak bisa dimengerti oleh pikiran orang awam ini persis dengan sosok Gus Miek terlebih hidup di zaman yang sama. Sehingga rata-rata warga sekitaran sini sepakat bahwa beliau merupakan seorang wali seperti halnya Gus Miek walaupun
bedanya Gus Miek lebih tersohor seantero Jawa dan daerah lainnya.
Menurut cerita warga yang menjadi saksinya kala itu, pada malam tertentu kyai tersebut memang senantiasa berziarah ke makam keramat yang ada di TPU sebelah Barat setelah lewat tengah malam dengan menyusuri
pinggiran sungai sambil membariskan berbagai hewan melata seperti kodok dan yang lainnya untuk berjalan mengikuti di belakangnya. Menurut saya para penghuni gaib di sekitaran kampung saya sejak saat itu mulai agak jinak sehingga bisa terjadi pembangunan yang menjadi seperti saat
ini mungkin memang berkat beliau.
Bahkan ada kisah yang sangat menarik dan penuh hikmah yaitu menurut cerita saat kyai tersebut mengajar ngaji di pondok pesantren namun pada saat yang sama beliau juga sedang masuk ke sebuah Lembaga Permasyarakatan (Lapas) sekabupaten.
👮 Sipir: “Punten ajengan, bade aya peryogi naon, nya?” (Maaf pak kyai, ada keperluan apa, ya?)
👳 Kyai: “Urang hayang dibui.” (Saya ingin dipenjara.)
Sipir itu sangat bingung sambil keheranan tentang apa yang harus diperbuatnya. Namun karena dia agak tahu tentang sepak terjang beliau maka si sipir menurutinya dengan memasukkan kyai tersebut ke dalam sebuah sel. Pas keesokan harinya saat dilihat ternyata kyai tersebut sudah
lenyap dari dalam selnya semalam. Akan tetapi di halaman depan Lapas tersebut tertancap sebuah pohon yang kelihatannya baru ditanam tadi malam. Saat ini pohon tersebut sudah tumbuh sangat besar dan rimbun di halaman depan Lapas bahkan siapapun akan mudah melihatnya karena memang
lokasinya berada di samping salah satu jalan pusat kota kabupaten. Konon dengan adanya pohon tersebut maka ilmu kesaktian apapun yang dimiliki oleh para tahanan Lapas itu otomatis lenyap sehingga membuat mereka tidak bisa seenaknya membuat keributan dan kekacauan di dalam penjara
dengan adu kesaktian.
➂ Pengenalan Awal Cerita

Sore yang sangat cerah hari itu sekitar tahun 2001 silam, sinar mentari sudah tak segarang siang ditambah hawa yang sejuk seakan membelai kulit semakin membuat setiap orang tergoda untuk menikmati sensasinya. Pria-wanita maupun tua-muda semarak
meramaikan sore itu dengan berjejer di pinggir jalan kampung di beberapa titik kerumunan membuat hati para pedagang keliling merekah indah yang memacu penuh semangatnya untuk menjajakkan dagangan karya keterampilan tangannya kepada para calon pembeli. Yang anak-anak sibuk bermain
dengan teman-temannya sambil berlarian kesana-kemari tak tentu arah seolah sedang menjelajah setiap titik lokasi sementara yang sudah dewasa sibuk bercengkrama 'ngaler-ngidul' (tak tentu arah) sambil mengawasi anak mereka sampai waktu maghrib tiba.
Berbeda dengan saya yang santai
duduk di kursi ruang tengah menonton kartun kesayangan 'Scooby-Doo' yang tayang setiap hari dari Senin sampai Jum'at di ANTV selama 30 menit dari jam 5 sore sambil memakan cilok goreng yang khusus digoreng sampai kriuk-kriuk ketika dikunyah yang dilumuri saus kacang pedas dari
tukang dagang langganan yang harga normalnya 1 cilok = Rp. 200 namun saat saya membeli dengan uang Rp. 1000 selalu dikasih 7 cilok malah kadang 8 cilok yang mana jauh berbeda dengan sekarang uang Rp. 1000 cuma berlaku untuk 1 cilok.
Saat saya sedang fokus menonton TV sambil
menikmati cilok, tiba-tiba terdengar suara gaduh dari luar yang setelah dilihat ternyata kerumunan emak-emak di pinggir jalan itu dihebohkan oleh sesuatu yang baru saja terjadi tepat di ujung kampung sebelah Timur. Seketika kabar itu pun tersebar dengan amat cepat dari mulut ke
mulut malah ada yang langsung pergi melihat ke lokasi kejadian untuk memastikannya sehingga akhirnya sampai ke telinga saya.
Sore itu seorang pedagang putu ayu (sejenis kue kelapa manis dan harum berbentuk tabung yang di dalamnya terdapat semacam selai gula merah yang asalnya
dari daerah Jawa) entah habis dari Kampung Petir atau Kampung Kelewih berjalan kaki menjajakkan dagangannya di sepanjang jalan dengan suara khas alat pemanas kuenya yang mirip suara peluit yang terus-terusan ditiup atau suara hatong (sejenis aksesoris dari bambu yang biasa
ditempel di kaki merpati dan akan bersuara ketika terbang bebas di angkasa) menuju kampung saya dari arah Timur.
Di ujung jalan kampung sebelah Timur memang terdapat tanjakan yang cukup curam sehingga setiap pengemudi kendaraan maupun para pedagang yang memanggul tempat
dagangannya harus serba hati-hati saat menaiki tanjakan untuk masuk ke kampung supaya barang bawaannya tidak jatuh maupun mendadak oleng atau meluncur mundur saat di tengah tanjakan.
Selangkah demi selangkah menyusuri jalanan sampai melewati belokan di bawah tanjakan namun tepat
saat mau menaiki tanjakan tersebut tiba-tiba dari sebelah kanan ada suara yang memanggil pedagang putu ayu tersebut untuk berhenti yang setelah dilihat ternyata ada 2 gadis menawan yang berdiri di pinggir jalan. Dia pun berhenti dalam keheranan dan perasaan janggal karena
beberapa langkah sebelum berhenti mustahil dia tidak melihat 2 orang yang sedang berdiri di pinggir jalan tersebut. Dia pun menepis perasaan tersebut karena berpikir mustahil ada hantu saat sore hari yang cerah malah mirip masih siang begini walaupun sudah sekitar pukul 17:15
WIB.
👩 Gadis ➀: “Mang, meser putu ayu.” (Mang, beli putu ayu.)
👨‍🍳 Pedagang: “Sabarahaeun, neng?” (Beli berapa, neng?)
👩‍🦰 Gadis ➁: “5 rebueun we, mang.” (Sesuai uang 5 ribu saja, mang.)
👨‍🍳 Pedagang: “Oh enya, antosan sakedap, nya neng.” (Oh iya, tunggu sebentar, ya neng.)
Harga 1 putu ayu saat itu adalah Rp. 500 jadi pedagang itu pun membuat 10 putu ayu selama beberapa menit karena memang harus dimasak dengan uap panas satu per satu dan yang sudah masak akan langsung ditaruh di wadah yang sudah disediakan yang biasanya terbuat dari daun pisang
atau semacam kertas. Sementara 2 gadis tadi mendekat dan berdiri di hadapan pedagang itu untuk mengamati proses pembuatannya sambil menunggu pesanan mereka hingga akhirnya selesai dan siap saji dalam wadah.
👨‍🍳 Pedagang: “Nyanggakeun, neng.” (Silahkan, neng.)
👩‍🦰 Gadis ➁: “Nuhun, ieu artosna, mang.” (Makasih, ini uangnya, mang.)
👨‍🍳 Pedagang: “Nampi.” (Sama-sama.)
👩 Gadis ➀: “Mangga, permios, mang.” (Permisi, kami pamit, mang.)
2 gadis itu pun langsung balik badan dan melangkah pergi namun setelah beberapa langkah mereka langsung terbang melayang sambil cekikikan menuju pohon melinjo dekat jembatan. Pohon melinjo itu berada di pojok lahan persawahan bekas bebatuan cadas tepat di sebelah salah satu ujung
jembatan. Pohon tersebut masih berdiri tegak sampai saat ini walaupun sebelum-sebelumnya sudah banyak warga yang protes kepada pemilik lahan supaya menebang pohon itu karena dianggap terlalu rimbun sehingga menghalangi penerangan area jembatan saat malam hari. Namun pemilik lahan
tetap tak bergeming paling cuma memotong beberapa ranting bagian bawahnya supaya tidak menghalangi jalan, entah karena tidak mau atau memang tidak bisa menebangnya.
Pedagang putu ayu yang menyaksikan kejadian tersebut pun langsung terkesima selama beberapa saat diam mematung
sambil mulut menganga dan setelah sadar dia langsung melihat 5 lembar uang kertas Rp. 1000 di tangannya ternyata sudah berubah menjadi 5 lembar daun melinjo. Setelah 100% yakin bahwa kejadian yang dialaminya barusan memang nyata mendadak dia langsung panik sejadi-jadinya dan
berlari menaiki tanjakan tersebut sambil berteriak-teriak minta tolong.
Setelah sampai di atas tanjakan, warga yang mendengar teriakan itu pun langsung datang untuk mengetahui apa yang terjadi. Setelah beberapa warga berkerumun menghampirinya lalu pedagang itu pun menceritakan
kronologis kejadian yang baru saja dialaminya. Kebanyakan warga yang mendengar cerita tersebut seolah tidak percaya karena merasa mustahil ada hantu di sore hari yang cerah begini. Namun bagi mereka yang sudah mendengar cerita dari para orang tua mengenai kampung ini langsung
memaklumi kejadian tersebut.
Beberapa warga berinisiatif memintakan air do'a kepada pak ustadz lalu diberikan kepada pedagang tersebut untuk diminum. Setelah diam beristirahat selama beberapa menit, saat merasa sudah cukup tenang lalu pedagang itu pun mau pamit pulang namun
meminta agar diantarkan melewati area tanjakan tersebut bersama beberapa orang warga minimal sampai melewati belokan di bawah tanjakan. Para warga lelaki itu pun menuruti permintaannya karena merasa prihatin terlebih keputusan pedagang itu memang dirasa tepat karena sebelum gelap
datang saat waktu maghrib tiba.
Sejak mengalami kejadian tersebut tukang dagang putu ayu itu langsung tidak pernah menunjukkan batang hidungnya lagi di kampung saya. Walaupun sebelum-sebelumnya dia memang tidak setiap hari menyambangi kampung saya saat dagang berkeliling ke
setiap kampung di wilayah sini paling cuma 2 atau 3 kali saja dalam seminggu. Namun efeknya selama beberapa tahun tidak ada 1 pun pedagang putu ayu yang berani nonghol ke kampung saya karena kabar tersebut sepertinya dengan cepat tersebar luas khususnya di kalangan para pedagang
keliling sampai muncul isu bahwa kalau ada yang berani dagang putu ayu ke kampung saya maka otomatis akan dibeli oleh hantu yang diduga merupakan makanan kesukaan mereka sampai menampakkan diri mereka pada saat hari masih cerah.
Padahal menurut saya kasus tersebut mungkin
kebetulan semata atau memang lagi apes saja bisa jadi sebelum berangkat dagang lupa berdo'a dulu atau sedang ngelamun atau usahanya kurang jujur atau malah dagangannya mengandung bahan yang tidak sehat alias berbahaya bagi tubuh kalau dimakan soalnya menurut kakek & nenek saya
tidak semua penghuni gaib di sekitaran kampung saya ini usil dan jahat tapi ada juga yang sifatnya baik malah menjadi penjaga kampung sekaligus melindungi warganya dari hal-hal yang tidak baik dimana orang-orang dahulu menyebutnya 'demit lembur'. Konon kalau ada maling yang
hendak menyatroni rumah warga atau ada warga yang bakal menjadi sasaran ilmu hitam seperti santet, teluh dan semacamnya maka 1 malam sebelum peristiwa itu terjadi demit lembur ini akan datang dalam wujud seekor anjing putih yang menangis hampir semalaman mirip suara manusia tepat
di depan rumah orang yang menjadi target para pelaku sebagai bentuk peringatan akan terjadinya bala atau musibah bagi para penghuni rumah.
Pada akhirnya setelah bertahun-tahun lamanya kalau tidak salah ingat barulah sekitar 2010-an ke atas mulai ada lagi tukang putu ayu yang
menjajakkan dagangannya di kampung saya, itu pun mereka datang siang hari paling telatnya jam 3 atau jam 4 sore sebelum waktu petang tiba sekitar jam 5 sore lebih karena konon kata para orang tua itu waktu para makhluk halus mulai berani menampakkan dirinya di alam manusia sampai
puncaknya waktu sandekala yaitu periode setelah sinar matahari berwarna jingga kemerahan yang menandakan akan segera terbenam sampai waktu maghrib habis setelah adzan 'Isya berkumandang. Itulah sebabnya baik di Sunda maupun Jawa orang-orang tua zaman dulu melarang keras siapapun
berkeliaran di luar khususnya anak-anak terutama setelah memasuki waktu sandekala. Bahkan dalam Islam sendiri dilarang tidur setelah sore dan waktu maghrib, itulah alasannya waktu maghrib diutamakan untuk beribadah dan mengaji supaya bisa lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT
sekaligus mempertebal pertahanan untuk melindungi diri dari gangguan jin dan makhluk gaib lainnya.
10 tahunan kemudian barulah fakta baru muncul karena tidak sedikit ojek malam yang enggan mengantar pulang warga kampung saya meskipun sudah dirayu sampai dipaksa akibat trauma yang mereka alami sebelumnya setelah mengantar pulang warga kampung saya lalu dalam perjalanan kembali
mereka biasanya memang diganggu di area tanjakan dan belokan tersebut. Sehingga muncul kesan kalau para penghuni gaib di sana memang tidak ramah kepada orang luar. Sebab warga kampung memang tidak ada yang menghadapi gangguan seekstrim yang dialami pedagang putu ayu dahulu
apalagi di saat hari masih terang. Oleh karena itu, saya pun punya kesimpulan mungkin pada masa lampau ada semacam perjanjian khusus antara para penghuni gaib di sekitaran kampung saya dengan orang yang telah menundukkan mereka dimana dilarang keras mengganggu warga kampung
kecuali tempat tinggal mereka diusik atau terpaksa disuruh oleh dukun.
Loncat dulu ke tahun 2014-an saat saya sedang berada di rumah paman yang mana tanah tempat berdiri rumahnya ini dulunya merupakan kebun teh milik kakek dari nenek saya yang sangat angker seperti yang sudah diterangkan sebelumnya dimana titik lokasi fenomenanya berada beberapa
meter di belakang rumah paman saya ini dekat dengan gang yang sejak masa lampau ada di sana. Berhubung hampir setengah lahannya sudah didirikan rumah maka kebun tersebut dialihfungsikan untuk membudidayakan tanaman hias kadaka (pakis sarang burung atau paku sarang burung) pada
beberapa pohon tinggi dan besar yang sudah berada di sana sejak dulu oleh pemiliknya yang masih saudara nenek saya yaitu anak bibinya. Kalau setiap kadaka itu sudah berukuran cukup besar dan setiap daunnya sudah menjuntai lumayan panjang maka semuanya akan dipanen untuk dijual ke
pemasok kemudian ditanami lagi dengan benih kadaka baru yang ukurannya masih kecil.
Pagi yang cerah hari itu sekitar jam 7 pagi saya memutuskan untuk tiduran dulu di kasur kamar depan lantai 2 sebelum memulai aktivitas. Kemudian saat terbangun dan melihat jam di hape ternyata
sudah jam 8 pagi sehingga saya pun beranjak dari kasur dan berdiri di dekat jendela. Saat sedang melihat lalu lalang di jalan depan, dari sebelah kanan saya teralihkan oleh seseorang yang sedang memanjat pohon tepat di pinggir rumah paman yang awalnya saya kira ada orang yang
ingin manjat secara ilegal ke lantai 2. Setelah saya amati ternyata itu Mang Atos yang sepertinya sedang memanen kadaka di setiap pohon mungkin sedang bekerja setelah disuruh oleh pemiliknya.
Jam 9 pagi saat sedang beraktivitas tiba-tiba saya mendengar ada suara jatuh seperti
seseorang atau sesuatu. Setelah saya periksa ternyata itu Mang Atos yang tak sadarkan diri akibat jatuh dari ketinggian 7 meteran saat memanjat salah satu pohon yang letaknya di samping belakang rumah paman saya. Untungnya setiap pagi memang banyak emak-emak yang ngerumpi di
teras rumah seberang gang belakang sehingga mereka yang melihat langsung pun bergegas menolong dan menghubungi pihak keluarganya.
Mang Atos pun langsung dilarikan ke RSUD kabupaten dan dinyatakan harus menjalani rawat inap karena mengalami koma. Setelah dirawat sekitar 2 mingguan
lebih, keadaan Mang Atos masih jauh dari kata pulih walaupun matanya sudah terbuka dan mulai bisa makan-minum namun tubuhnya masih lumpuh dan tidak bisa bicara. Berdasarkan keterangan beberapa ahli spiritual yang dijadikan tempat konsultasi saat Mang Atos dirawat di rumah sakit
bahwa ada faktor mistis yang begitu kuat maka keluarga memutuskan membawanya pulang sambil rawat jalan. Lalu keluarga pun melanjutkan ikhtiarnya untuk mencari ahli spiritual yang mampu mengobati Mang Atos lewat jalur alternatif.
Sampailah pihak keluarga membawa Mang Atos berobat
ke seorang ahli spiritual di Kampung Ramuanseger sebelah Timur dari Kampung Petir dan Kampung Liangngalir yang bernama Umi Darlah. Sejak tahun 2013 Umi Darlah mulai naik daun sampai tersohor di wilayah sini dalam mengobati penyakit warga yang disebabkan hal-hal mistis. Hasil
keterangan Umi Darlah ¾ sukma Mang Atos ini diambil oleh penghuni gaib di kebun itu dan menyekapnya di dalam sumur yang sudah tidak dipakai dan ditutup yang berada di seberang gang belakang sehingga tubuh Mang Atos senantiasa menggigil dan lumpuh seperti orang tenggelam.
Upaya
pengobatan Mang Atos oleh Umi Darlah pun dilakukan dalam beberapa kali selama 2 mingguan lebih sampai Mang Atos bisa bicara kembali dan berjalan dengan bantuan tongkat. Setelah Umi Darlah memastikan semua sukma Mang Atos sudah kembali ke badannya maka ia menyarankan supaya sumur
yang sudah tidak dipakai itu ditutup dengan cara menimbunnya pakai tanah supaya tidak digunakan lagi sebagai sarana untuk menyekap sukma seseorang oleh makhluk gaib.
Akan tetapi makhluk gaib yang berhasil dikeluarkan dari tubuh Mang Atos sebelumnya tetap mendiami rumahnya dan
tidak mau pergi malah mengundang teman-temannya untuk tinggal di sana sehingga membuat Mang Atos tidak bisa pulih 100%.
Setelah terasa lumayan sehat Mang Atos pun menceritakan kronologis kejadian saat dia mengalami musibah tersebut. Katanya saat dia sedang memanjat pohon yang
berada di samping belakang rumah paman saya itu ketika hampir mencapai cabang dahan yang lumayan besar untuk berpijak, setelah tangan kirinya menyentuh dahan tersebut dia melihat ke bawah sebentar untuk mengamati sekitaran pohon itu lalu pas kepalanya mendongak ke atas ternyata
di dahan tersebut sudah berjongkok sesosok makhluk yang sangat menyeramkan tepat berada di hadapan mukanya yang langsung melompat ke arahnya. Saking kaget bercampur takut setengah mati Mang Atos pun terhempas jatuh dari pohon tersebut sampai akhirnya yang dia lihat cuma gelap
gulita akibat tak sadarkan diri.
Setelah mendengar penuturan Mang Atos kala itu Umi Darlah pun menerangkan bahwa pohon tersebut terutama dahannya merupakan tempat nongkrong makhluk gaib itu terlebih saat waktu pagi memang sesuai jadwalnya digunakan sebagai tempat berjemur untuk
memperoleh energi berupa vitamin D dari sinar mentari pagi. Sedangkan terkait alasan makhluk gaib itu marah sampai melotot tajam di depan muka Mang Atos sebelum jatuh entah karena saat hendak menaiki pohon itu Mang Atos lupa berdo'a dulu atau lupa sekedar permisi dulu atau memang
selain permisi juga harus sambil meminta supaya penghuni gaib yang ada di pohon itu agar berkenan pindah dulu ke pohon lainnya yang mana minimal diucapkan secara batin terlebih biasanya makhluk gaib pun akan tahu mungkin karena sebenarnya sukma kita yang langsung bicara dengan
mereka sebab sukma manusia kan sama-sama gaib sehingga memungkinkan dapat berkomunikasi dengan para makhluk gaib 🤔 🧟‍♂️
Setelah dilakukan upaya pembersihan dan pengusiran selama beberapa bulan maka Umi Darlah pun akhirnya angkat tangan sehingga menyarankan supaya Mang Atos pindah
dari rumah tersebut.
Mang Atos sekeluarga pun mengikuti saran tersebut dan menumpang sementara di rumah menantunya yang berada di Kampung Lahankapuk sebelah Utara dari Kampung Liangngalir serta memutuskan untuk menjual rumahnya tersebut. Setelah 2 tahunan lebih barulah ada yang
membeli rumahnya dan uang hasil penjualan yang didapat Mang Atos digunakan untuk membeli sebuah rumah di Kampung Lahankapuk sehingga tetap tidak jauh dari rumah suami putri sulungnya.
Setelah itu dilakukan pula upaya pembersihan dan pengusiran oleh pemilik baru rumah namun sampai sekarang rumah tersebut tetap dibiarkan kosong layaknya gudang cuma dijadikan tempat penyimpanan barang-barangnya karena kontrakannya tidak terlalu besar. Tidak ada yang tahu alasan
pastinya rumah tersebut masih tidak dihuni padahal sudah dibeli, entah karena benar-benar sudah menjadi semacam rumah yang sangat angker atau lokasinya yang berada di dalam pemukiman tepat samping rumah paling ujung sebelah Barat kampung sedangkan kontrakan yang dihuninya
sekarang tepat berada di pinggir jalan 🤔
Sebenarnya cerita Mang Atos ini sekedar tambahan semata untuk lebih menjelaskan keadaan kampung saya karena lokasinya jauh dari jembatan yang menjadi fokus cerita. Namun tetap saya sertakan karena terkait dengan salah satu tokoh utama protagonis dalam inti cerita nanti yang mana
berupa pengenalan tentang sosok Umi Darlah.
Jadi bagaimanakah seorang Umi Darlah itu⁉️ 🕵️‍♂️🔍
➃ Masa-Masa Saat Statusnya Masih Level 'Angker'

Tahun 1997-an saat usia saya masih 5 tahunan, saya bersama teman-teman hobi bermain di sasak dengan bolak-balik lari-larian dan kadang mengamati aliran sungai dari tengah jembatan meski ada perasaan takut jatuh dari ketinggian 10
meteran. Kami menikmatinya karena saat lantai bambunya diinjak maka akan timbul sedikit pantulan ke atas layaknya main trampolin. Walaupun para orangtua sudah sering melarang setiap anak kecil supaya jangan main di sana karena takut jatuh ke sungai atau sambil nakut-nakutin
katanya nanti bisa sakit atau malah digondol hantu. Ya namanya bocah cilik yang belum ngerti apa-apa semua ucapan orang dewasa itu cuma dianggap angin lalu malah semakin dilarang justru jadi semakin penasaran ingin melakukannya.
Beberapa bulan kemudian, saat hujan mengguyur
sangat deras pada sore sampai malam hari lalu keesokan harinya warga kampung digegerkan dengan penemuan mayat pria dewasa telanjang tepat di bawah sasak. Kasus tersebut langsung dilaporkan kepada polisi dan setelah mayat diangkat ternyata mata kirinya sudah bolong oleh kepiting.
Saya yang mendengar kabar tersebut langsung meluncur ke Tempat Kejadian Perkara (TKP) bersama teman-teman karena penasaran ingin melihat kondisi mayat tersebut terutama matanya yang bolong.
Mayat itu dibaringkan di atas sebuah batu agak besar yang berada tepat di pinggir jalan
setapak sambil badannya ditutupi dengan daun pisang. Saat saya sampai di lokasi para orang dewasa sudah banyak yang mengerumuni mayat itu untuk melihatnya. Saya berhasil menerobos kerumunan tersebut walaupun cuma berhasil melihat mayat itu sekilas saja karena langsung diusir oleh
mereka dengan alasan bukan tontonan anak kecil dimana matanya yang bolong itu tidak kelihatan sebab tertutup kelopak matanya yang dipejamkan sementara dari perawakan dan muka mayat itu kemungkinan berumur 40 tahunan.
Setelah dilakukan pemeriksaan dan penyisiran TKP, polisi
langsung membawa mayat tersebut untuk melakukan penyidikan lebih lanjut. Warga menduga mayat itu merupakan korban pembunuhan namun melihat kondisinya yang tanpa luka serius seperti bekas pukulan benda tumpul, sayatan, tusukan maupun tikaman memunculkan dugaan lain bisa jadi mayat
itu memang sengaja dihanyutkan oleh warga kampung yang dari arah hulu seperti pelaku bunuh diri atau tidak diterima bumi terlebih kemarinnya turun hujan yang sangat deras seperti menjadi sebuah pertanda terjadinya kemungkinan tersebut sesuai cerita para orang tua dimana kalau ada
kasus mayat yang sengaja dibuang ke sungai maka biasanya sungai akan langsung 'melahapnya' sambil diiringi hujan yang sangat deras yang menyebabkan volume air sungai jadi meningkat pesat. Walaupun ada kemungkinan lain yang disisihkan yaitu korban terpeleset atau jatuh di sungai
namun melihat kondisinya yang tanpa mengenakan sehelai pakaian pun membuat dugaan ini langsung dicoret karena warga sepanjang aliran sungai ini sudah tidak zaman mandi di sungai alias merata sudah pakai WC kecuali mereka yang terbilang masih tinggal di pedalaman yang ada di
wilayah lain. Apapun dugaan dan kemungkinannya namun 1 hal yang pasti adalah mayat itu tanpa identitas. Pada akhirnya kasus ini berakhir tanpa ada kejelasan dan kepastian walaupun pernah muncul beritanya di koran dengan judul penemuan mayat telanjang tanpa identitas namun
berhubung waktu itu masih berada di ujung masa Orde Baru maka kasus seperti ini bisa dimaklumi terjadi karena bisa dibilang lumrah dan sudah jadi rahasia umum pada zaman itu.
Terkait batu bekas mayat itu dibaringkan, ukurannya agak besar yang mana cuma nampak setengah bagian
atasnya sementara setengah bagian bawahnya tertanam di tanah dan berada di antara jalan setapak dengan pinggiran tanah pembatas sawah yang posisinya lebih tinggi. Ada 1 hal yang unik dan misterius yaitu di atas posisi batu itu ada 1 pohon pisang yang tertanam di pembatas sawah
yang mana seingat saya sejak masih kecil sampai sekarang keadaannya selalu seperti itu dimana setelah buah pisangnya masak maka pohonnya langsung ditebang lalu penggantinya tergantung banyaknya tunas yang tumbuh kadang 2 tapi lebih sering 1 sehingga membuatnya seperti tidak
pernah berubah dan tak lekang oleh waktu. Misteri ini sepertinya cuma si pemilik sawah yang tahu rahasianya karena dia seperti sengaja menanam pohon pisang di sana serta terus mempertahankan posisi dan keadaannya tetap tidak berubah walaupun saat pohon pisang itu sudah besar
otomatis mengganggu kebutuhan padi yang sangat sensitif terhadap sinar matahari dan sering condong menghalangi jalan sehingga mengganggu pengguna jalan dimana pohon pisang itu seperti menaungi batu tersebut yang ada tepat di bawahnya.
Mendekati penghujung tahun 1999, hari itu ketika waktu siang menjelang sore turun hujan yang sangat deras diiringi angin kencang mirip badai dengan kilat yang menyala-nyala dan gemuruh yang terdengar menggelegar. Setelah hujan mengguyur lumayan lama lalu terdengarlah suara yang
memekakkan telinga akibat sambaran petir yang terdengar super keras dan terasa amat dekat. Setiap orang tentu bertanya-tanya dimanakah lokasinya dan apakah yang petir itu hujam namun perkiraan awal tentulah pohon yang tinggi seperti kelapa yang memang cukup banyak tumbuh di
sekitaran kampung maupun persawahan.
Hujan itu mulai agak reda jam 5 sore dan terdengarlah berita yang sangat mencengangkan. Ternyata perkiraan semua orang sebelumnya meleset saat ada warga yang mendapati sasak yang sangat vital bagi aktivitas warga kampung & sekitarnya sudah
roboh dan hancur terbelah menjadi 2 bagian. Petir yang terdengar sebelumnya sepertinya tepat menghujam bagian tengah sasak sehingga terbelah 2 yang menyisakan tanda gosong dan masih sedikit terbakar layaknya pucuk kelapa yang biasa terhantam petir sampai hangus. Peristiwa ini
tentu di luar nalar dan menentang hukum Fisika sebab selain lokasi sasak yang berada di tengah cekungan mirip lembah kecil juga tepat di dekatnya banyak berjejer pohon-pohon tinggi yang masih tegak berdiri mulai dari kelapa, bambu, melinjo, langsat, jambu, bintangur, jeungjing
dan banyak lagi jenis lainnya.
Seperti hal yang mustahil tapi buktinya nyata terjadi sekaligus memberi kesan lain bahwa lokasi sasak memang terbukti angker atau ada semacam hikmah bahwa sasak itu sudah harus dimodernisasi menjadi sebuah jembatan yang lebih kuat dan kokoh. Soalnya
dalam pengajian juga diterangkan menurut beberapa ulama sebenarnya petir itu merupakan panah berapi yang biasa ditembakkan para malaikat untuk membakar setan atau makhluk gaib jahat lainnya. Jadi kalau dilihat dari kacamata iman maka menjadi masuk akal menimbang lokasi sasak yang
terbilang angker tidak mustahil dihuni oleh sejenis makhluk gaib jahat.
Setelah peristiwa ini maka aktivitas warga pun menjadi cukup terganggu karena harus berjalan memutar lumayan jauh lewat jalur Kampung Petir untuk bisa menjangkau jalur angkot. Maka proposal pembangunan
jembatan pun mulai diajukan pihak RT/RW kepada pemerintah lewat jalur desa. Karena jembatan merupakan salah satu pembangunan fasilitas umum yang diutamakan pemerintah maka proposal itu pun tidak terlalu lama disetujui. Dana pembangunan langsung mengucur lalu bahan-bahan untuk
membangun jembatan mulai tiba di lokasi sedangkan pengerjaannya dilakukan oleh masyarakat secara gotong-royong. Ada pula beberapa warga yang menyumbang secara pribadi baik berupa uang, makanan, bahan material, tenaga ataupun yang lainnya demi kepentingan masyarakat umum.
Setelah
beberapa bulan masa pembangunan maka jembatan berbahan beton bercampur tembokan dari semen dan pasir itu pun sudah jadi pada awal tahun 2000. Lebarnya ± 2 meter dan panjangnya ± 10 meter dengan 3 batang besi tabung tanpa isi alias bolong dalamnya berjejer dari atas ke bawah di
masing-masing sisi kiri & kanannya yang ditopang oleh pilar tembok di kedua ujung dan tengah jembatan untuk sekedar pengaman supaya tidak ada yang jatuh ke sungai.
Awalnya jembatan itu menjadi sesuatu yang baru dan terkesan modern bagi warga kampung & sekitarnya sampai ramai
didatangi anak-anak muda untuk nongkrong sampai pacaran saat sore hari. Sedangkan pagi sampai siang hari biasanya dipenuhi anak-anak kecil untuk bermain dan berlari-larian di jembatan baru tersebut layaknya tempat mengasuh bagi para orangtuanya. Sehingga kesan angker yang selama
ini menyelimuti lokasi jembatan perlahan mulai memudar oleh keramaian yang tercipta di sana. Namun belum genap 1 tahun jembatan itu mulai rusak oleh tangan-tangan yang tidak bertanggungjawab terutama besi pengaman yang sedikit demi sedikit raib digondol orang. Keramaian di
jembatan itu perlahan mulai bubar karena menilik keadaannya yang dirasa sudah tidak nyaman dijadikan tempat nongkrong, pacaran maupun bermain sehingga aura angker pun mulai kembali menyeruak akibat dicampakkan oleh orang-orang.
Tahun 2002-an keangkeran jembatan itu mulai semerbak tercium kembali saat adanya kasus yang menimpa warga Kampung Liangngalir. Katanya ada 3 orang anak kecil yang habis pulang dari rumah kakek-neneknya di Kampung Kelewih lewat jembatan itu jam 5 sore lebih untuk pulang ke rumah
mereka di Kampung Liangngalir. Yang sulung bocah usia 10 tahunan, yang kedua bocah usia 8 tahunan sedangkan si bungsu gadis kecil usia 6 tahunan. Saat lewat di atas jembatan itu si sulung berniat menjahili dan menakut-nakuti 2 adiknya terutama si bungsu mungkin karena dia cewek
yang sudah kodratnya cengeng dan manja jadi si sulung gemes pengen ngusilin.
👨‍🦱 “Kop tah mere nu pangtukangna!”, (Ambil saja tuh yang paling belakang!) teriak si sulung sambil ngebut berlari menuju tangga untuk menaiki tanjakan di pinggir Kampung Jengkolnunduk (Utara).
2 adik yang mendengar teriakan itu otomatis kaget dan langsung ikutan berlari seperti si sulung. Si bungsu selain memang berada di posisi paling belakang juga yang namanya cewek tenaganya lebih lemah daripada 2 kakak laki-lakinya sehingga wajar tertinggal dalam berlari dan
menjadi yang paling belakang terlebih harus menaiki 40-an anak tangga untuk keluar dari lokasi tersebut. Sambil berlari berusaha menyusul 2 kakaknya, si bungsu pun sampai menangis dan berteriak-teriak minta ditungguin karena jelas dia merasa kelelahan dan ketakutan akibat
keusilan si sulung yang tanpa dikira olehnya sebelumnya sudah benar-benar kelewatan. Singkat cerita, sampailah mereka bertiga di rumah dan duduk di ruang tengah yang terlihat si sulung masih cengengesan melihat wajah si bungsu yang manyun cemberut dan marah padanya.
Mendengar
kedatangan 3 anaknya yang sudah sampai di rumah, di dapur si ibu masih melanjutkan masaknya untuk dihidangkan buat mereka makan. Beberapa menit berselang terdengar seperti ada ketukan dari pintu depan layaknya ada seseorang yang mau bertamu tapi tanpa diiringi suara salam maupun
permisi setelahnya sesuai tata krama yang berlaku sehingga masih dicuekin sama para penghuni rumah. Tak berapa lama terdengar jeritan dari 3 bersaudara yang sedang asyik beristirahat sambil nunggu hidangan makan untuk mereka yang sontak membuat si ibu berlari dari dapur ke ruang
tengah setelah mematikan kompor minyak tanah yang dipakai memasak terlebih dahulu untuk memastikan apa yang terjadi terhadap 3 anaknya. Jantung si ibu serasa mau copot saking kaget bukan kepalang dan langsung diselimuti perasaan takut yang luar biasa setelah melihat ada sesosok
makhluk yang sangat menyeramkan sedang bertengger di salah satu jendela yang dibuka sambil sekilas mengamati 3 anaknya yang sudah menangis ketakutan sambil meringkuk menutupi wajah mereka.
🧛‍♂️ “Aing rek nyokot nu pangtukangna.”, (Aku mau ngambil yang paling belakang.) tagih sosok makhluk halus penghuni jembatan sambil perlahan lenyap dari pandangan mata.
Setelah itu si bungsu tiba-tiba langsung jatuh tak sadarkan diri sambil kejang-kejang dengan kedua matanya yang memutih layaknya sedang kesurupan dan mulutnya pun berbusa. Melihat hal itu si ibu langsung bergegas merangkul tubuh si bungsu dan menangis hebat meratapi keadaannya
sambil terus memanggil-manggil namanya. Sementara 2 kakaknya cuma bisa menangis sedih atas apa yang telah menimpa adik bungsunya terutama si sulung yang tentu diliputi perasaan amat bersalah dan begitu menyesal atas apa yang telah dilakukannya tadi yang mulanya dianggap hal
sepele sekedar usil. Lalu kedua orangtua si bungsu membawanya ke rumah sakit untuk memperoleh pengobatan medis sambil dibarengi dengan jalur alternatif karena mereka tahu cukup jelas kronologi tentang musibah yang menimpa anak bungsunya.
👳‍♀️ “Atos we candak uih da ieu mah tos moal katolong.” (Mending bawa pulang saja soalnya ini sudah takkan tertolong lagi.) ungkap seorang ahli spiritual sambil memberikan sebotol air kemasan yang sudah dido'akan.
Mendengar hal itu kedua orangtuanya cuma bisa menangis terutama si ibu yang menangis tersedu-sedu sambil memanggil-manggil nama si bungsu antara mau langsung percaya omongan si ahli spiritual atau menunggu kepastian takdir Yang Maha Kuasa. Setelah beres berkonsultasi mereka pun
bergegas pamit dari rumah si ahli spiritual menuju rumah sakit tempat si bungsu dirawat yang sedang ditungguin oleh saudara mereka yang ikut membantu menjaga saat mereka pergi mencoba pengobatan lewat jalur alternatif. 30 menitan berlalu dalam perjalanan akhirnya mereka sampai di
rumah sakit dan langsung menuju ruangan si bungsu dirawat. Setelah sampai di sana terlihat dokter dan perawat habis memeriksa keadaan si bungsu. Belum sempat memberikan air do'a hasil ikhtiar barusan ternyata si bungsu sudah dinyatakan meninggal dunia yang mana hal itu membuat si
ibu cuma bisa menangis sambil selonjoran meratapi tubuh gadis kecilnya yang sudah terbujur kaku. Pada akhirnya malam itu mayat si bungsu langsung dibawa pulang dari rumah sakit dengan ambulans dan baru dikuburkan keesokan harinya.
Setelah tragedi ini terjadi, warga sekitaran wilayah sini pun semakin menjaga tingkah dan ucapan saat melewati jembatan apalagi lokasinya yang sudah dari dahulu dikenal angker. Para orangtua pun semakin mewanti-wanti anaknya untuk tidak gegabah bermain di sekitar jembatan serta
jangan belagu dan sompral saat melewati jembatan.
Setelah masuk SD saya jarang melewati jembatan dan cuma beberapa kali saja seperti saat melihat proses pembangunan jembatan, ada kepentingan keluarga di kampung tetangga dan ada urusan di wilayah perkotaan soalnya lokasi SD saya ada di kampung tetangga sebelah Barat. Barulah
semenjak pertengahan tahun 2004 saya masuk SMP sehingga otomatis melewati jembatan setiap hari cuma hari Minggu dan tanggal merah saja yang tidak soalnya libur sekolah. Alasannya lokasi SMP saya ada di dekat pusat kecamatan tepatnya pinggir jalan raya nasional jadi otomatis saya
harus naik angkot setiap hari. Walaupun hampir selama 3 tahun masa SMP saya tidak mendapati kejanggalan saat melewati jembatan cuma 1 kali saja yaitu saat kelas IX sekitaran bulan Desember 2006.
Khusus hari Jum'at sekolah SMP pulang jam 11 siang sesuai jadwal supaya para siswa
bisa sholat Jum'at di kampung masing-masing. Dalam perjalanan pulang saya lewat jembatan itu sekitar jam setengah 12 siang alias 30 menitan lagi adzan sholat Jum'at. Saat hendak melewati jembatan saya melihat 2 bocah 10 tahunan yang masih sekampung sedang menghajar seekor ular
berwarna hijau dengan batang pohon ketela tepat di tengah jembatan. Awalnya saya kira itu ular pucuk namun pas melewati 2 bocah itu saya melihat ada kejanggalan yaitu ular hijau sebesar jempol itu memiliki 2 kaki dan punya 2 tanduk berwarna kuning di kepalanya mirip dengan
gambaran naga di Cina dan Asia Timur. Saya langsung bergidik ngeri karena yakin itu bukan ular biasa yang kemungkinan merupakan penjelmaan bangsa jin atau siluman alias ular jadi-jadian. Tadinya saya mau menghentikan dan menasihati mereka namun 2 bocah itu terkenal bandel dan
kalau dinasihati oleh orang dewasa bukannya nurut malah ngelunjak terlebih waktu sholat Jum'at semakin mepet akhirnya saya mengurungkannya. Entah bagaimana jadinya ular itu namun kalau digebukin seperti itu ya kemungkinan besar mati 🤔 🐉🉐☯️🇨🇳
➄ Teror Jembatan Pesugihan

Setelah lulus SMP, pertengahan tahun 2007 saya memutuskan masuk SMK dengan tujuan utama lazimnya alasan orang-orang pada umumnya yaitu kalau sudah lulus nanti biar bisa langsung kerja. Letak SMK saya agak di pinggir pusat kabupaten dimana saya harus
naik angkot 3 kali untuk pergi ke sekolah begitu pun saat pulangnya. Waktu masuk jam 7 pagi dengan toleransi keterlambatan 5 menit saja dan waktu pulang jam setengah 2 siang dengan waktu perjalanan yang harus saya tempuh sekitar 1 jam lebih. Sehingga saya harus berangkat dari
rumah sekitar jam 6 pagi dan pulang ke rumah lagi sekitar jam 3 sore.
Itulah sebabnya saya memutuskan tidak ikut ekskul apapun karena takut pulang petang pas lewat jembatannya. Terlebih dari SMP mula saya memang tidak tertarik ikut ekskul karena lebih ingin fokus pada mata
pelajaran yang utama saja sebab nilai itulah yang dilihat saat melamar kerja nanti. Walaupun bagi mereka yang serius mengembangkan bakat atau hobinya, ekskul bisa menjadi alternatif untuk meraih prestasi sampai mendapatkan bantuan di bidang pendidikan nantinya.
Hampir selama 3
tahun di SMK pula saya tidak mendapati kejanggalan saat melewati jembatan walau kadang saya harus pulang hampir petang setelah mengerjakan tugas di warnet tapi saya usahakan masih sekitaran jam 5 sore yang memang aura mistisnya sudah sangat kental terasa meski bareng dengan
beberapa warga yang kebetulan lewat pada saat yang sama. Sampai awal semester 2 saat kelas 3 SMK, sehabis libur tengah semester sekitar bulan Januari 2010 saya pulang seperti biasa dan sampai di Kampung Jengkolnunduk (Utara) sekitar jam 3 sore menjelang adzan Ashar. Saat itu
kebetulan setelah turun dari angkot mulai turun hujan yang cukup lebat diiringi beberapa kali petir menyambar sehingga saya memutuskan berteduh dulu di pos kamling (keamanan keliling) yang biasa dipakai kumpul warga saat ngeronda yang berada di ujung Kampung Jengkolnunduk
(Utara). Kejanggalan mulai tampak saat melihat kondisi setiap rumah warga yang rapi terkunci layaknya sudah petang juga tak terlihat adanya aktivitas warga di luar rumah seorang pun bahkan warung pun sudah tertutup rapat yang otomatis membuat saya bergidik ngeri walau hari masih
terang tertutup awan hujan. Keadaan itu tentu mengundang banyak tanya di benak saya karena jauh berbeda saat sebelum libur semester yang terlihat masih normal. Apalagi saat menunggu di pos itu sambil menahan dingin mendadak tercium wangi minyak jenazah dan wangi kembang sedap
malam dari arah belakang pos semakin membuat saya pengen ngacir menembus guyuran hujan yang sangat deras karena kata orang wangi minyak jenazah menandakan kehadiran sosok pocong sementara wangi kembang sedap malam menandakan kehadiran sosok kuntilanak. Pada akhirnya dengan
terpaksa saya memutuskan untuk tetap berteduh sambil terus membaca do'a sebisanya karena takut buku pelajaran sampai basah kuyup kalau nekat pulang sambil hujan-hujanan.
Sialnya hujan baru agak mereda saat waktu menunjukkan hampir jam 5 sore sehingga saya memutuskan untuk
langsung beranjak pulang walau pakaian agak basah terkena rintik-rintik hujan. Untungnya masih ada beberapa warga kampung saya dan Kampung Kelewih yang lalu lalang melewati jembatan sehingga perasaan saya agak tenang karena ada teman nyeberang. Setelah sampai rumah saya langsung
tanya kepada ibu tentang kejanggalan di kampung sebelah namun ibu cuma memberi keterangan singkat yang mana katanya baru ada warga yang meninggal jadi mungkin membuat keadaan kampungnya seperti itu. Walaupun saya yakin ibu saya masih menyembunyikan rincian kabar yang lebih jelas
supaya saya tidak takut lewat jembatan saat pergi dan pulang sekolah setiap hari.
Awal bulan Pebruari 2010 mulai diberlakukan program 'pemantapan' yaitu belajar tambahan khusus mata pelajaran yang diujikan pada Ujian Akhir Nasional (UAN) antara lain Bahasa Indonesia, Bahasa
Inggris, Matematika & Teori Kejuruan setelah waktu sekolah usai dimana setiap siswa kelas 3 diharuskan mengerjakan soal-soal Ujian Nasional tahun-tahun sebelumnya sebagai latihan supaya lebih terbiasa dalam melakukan setiap langkah pengerjaannya karena memang kadang ada beberapa
soal yang sama persis ikut diujikan kembali juga model soalnya tidak jauh berbeda dari yang sebelum-sebelumnya sehingga saya dan teman-teman seangkatan lainnya harus pulang setiap hari sekitar jam setengah 4 sore. Hal ini tentu selain makin menguras tenaga dan pikiran para siswa
juga menambah waktu dan biaya yang dihabiskan untuk menjalaninya sebelum penentuan selama 1 tahun lamanya saat kelas 3 walaupun ada ujian susulan sekitar bulan Juni 2010 bagi yang tidak lulus UAN untuk mengulang ujian beberapa pelajaran yang tidak mencapai nilai minimal atau yang
tidak bisa ikut UAN sebelumnya karena alasan tertentu. Meskipun masih ada saja segelintir siswa yang tetap tidak lulus ujian susulan sehingga harus mengulang belajar 1 tahun lagi sebagai siswa kelas 3. Oleh karena itu saya setiap hari pulang sore dari sekolah dan lewat jembatan
sekitar jam 5 sore menjelang petang.
Hari itu dalam perjalanan pulang hujan turun cukup deras sehingga saat naik-turun angkot seragam sekolah saya agak kebasahan. Pas turun dari angkot terakhir di pertigaan yang ada di Kampung Liangngalir kebetulan hujan sudah agak mereda namun
saya memutuskan berteduh dulu di depan warung yang ada di pertigaan tersebut. Setelah 20 menitan lebih barulah hujan hampir benar-benar reda cuma ada beberapa tetes hujan yang masih jatuh sehingga saya langsung beranjak dari warung tersebut untuk melanjutkan perjalanan pulang ke
rumah.
Pas lewat jembatan waktu sudah sekitar jam setengah 6 petang sehingga membuat saya agak was-was apalagi kondisi habis hujan membuat udara sangat dingin menusuk kulit ditambah Kampung Jengkolnunduk (Utara) yang persis kampung mati membuat degup jantung semakin berpacu hebat
saat menuruni tangga sebelum jembatan. Begitu sudah dekat dengan jembatan sekitar 5 meteran lagi mendadak saya melihat siluet sosok seukuran tubuh manusia yang tampak bergerak tepat di bawah jembatan. Hal itu menyebabkan jantung saya terasa mau copot dan membuat saya berjalan
makin tergesa-gesa supaya bisa lebih cepat pergi dari lokasi tersebut. Namun saat tepat berada di tengah jembatan tiba-tiba rasa penasaran malah menghantui yang membuat saya berhenti mendadak. Seketika keberanian terasa berkobar untuk sekedar mengetahui sesuatu yang ada tepat di
bawah jembatan itu. Perlahan saya tengok sungai di bawah jembatan yang terdapat beberapa batuan besar yang bisa dipakai alternatif penyeberangan lewat bawah ternyata tepat di atas salah satu batu itu ada seorang warga kampung saya yang sedang mancing yaitu Mang Sidik karena meski
aliran air sungai cukup deras setelah hujan namun volumenya tidak terlalu meluap sampai merendam bebatuan besar yang ada di alur sungai.
Mang Sidik memang dikenal maniak mancing dan dia sudah biasa mancing sendirian di sekitaran alur sungai itu bahkan ketika malam hari sekalipun.
Kebiasaan seperti ini mungkin tidak aneh bagi para maniak mancing yang memang dikenal keberaniannya namun dengan desas-desus tentang jembatan yang sedang berhembus kencang membuat tindakan Mang Sidik ini bisa dibilang terlalu nekat malah terkesan konyol karena beberapa maniak
mancing lainnya yang ada di kampung saya pun lebih memilih pindah lokasi di sungai lain atau minimal agak jauhan dari lokasi jembatan. Sesudah mengetahui apa yang ada di bawah jembatan membuat dada lega dan perasaan pun bisa lebih tenang untuk melanjutkan perjalanan pulang.
Setelah sampai di rumah kemudian saya menceritakan kelakuan Mang Sidik barusan kepada ibu lalu ibu cuma bilang itu hal biasa bagi Mang Sidik sesuai perkiraan saya yang mana warga kampung pun sudah memakluminya.
2 hari berlalu, sore itu setelah pulang sekolah saat sampai di rumah
saya mendapat berita yang cukup mengejutkan dari ibu bahwa pagi itu setelah saya berangkat sekolah lalu Mang Sidik terlihat berangkat ke sawah untuk kuli mencangkul sampai adzan Dzuhur namun menurut kesaksian beberapa warga yang sama-sama bekerja di sawah saat baru sampai sawah
Mang Sidik langsung ambruk dan meninggal di tempat. Dugaan orang-orang ditilik dari hal medis mengira itu akibat serangan jantung namun saat desas-desus tentang jembatan yang dipakai sarana pesugihan oleh seseorang berhembus kencang membuat tidak sedikit orang yang yakin kematian
Mang Sidik erat kaitannya dengan hal tersebut terlebih menilik kelakuan Mang Sidik sebelum ajal menjemputnya yang memang hobi nongkrong di sekitaran lokasi jembatan dari sore sampai malam hari.
Fenomena janggal yang menimpa Mang Sidik membuat ibu buka mulut tentang rincian kabar
terkait hal yang terjadi di Kampung Jengkolnunduk (Utara) sebelumnya mungkin supaya saya lebih eling dan waspada saat lewat jembatan. Katanya sebelumnya ada seorang nenek warga Kampung Jengkolnunduk (Utara) yang mungut ranting dan daun garing di kebun dekat jembatan jam 5 sorean
lebih. Setelah pulang ke rumah ternyata nenek tersebut malah langsung kesurupan. Saat keluarganya sedang berusaha mengobatinya sambil dikerumuni para warga lainnya, penghuni jembatan yang sedang merasuki nenek itu memberitahukan kalau sukma si nenek mau diambil untuk dijadikan
pengasuh anak-anak para penghuni jembatan sesuai perintah atasannya sekaligus dijadikan tumbal pesugihan karena selama ini mereka memang sedang mencari korban nenek-nenek orang jauh atau warga kampung lain yang agak jauhan tapi tidak dapat-dapat sehingga terpaksa mengambil si
nenek warga kampung terdekat karena waktu persembahan tumbal sudah mepet. Si nenek sudah coba diobati oleh beberapa orang ahli spiritual namun tidak mempan sampai malamnya si nenek dinyatakan meninggal dunia dan dikuburkan keesokan paginya. Itulah sebabnya hampir 1 bulan
sebelumnya pas sore itu saya pulang sekolah maka tampak keadaan Kampung Jengkolnunduk (Utara) sangat mencekam layaknya kampung mati karena apa yang disampaikan si nenek saat kesurupan bisa dibilang merupakan suatu peringatan sekaligus ancaman dari para penghuni gaib jembatan.
Setelah mendapatkan keterangan yang lebih lengkap tentang kabar sebelumnya sontak membuat saya langsung teringat peristiwa 3 tahunan silam tentang seekor ular kecil persis naga yang digebukin 2 bocah nakal sehingga timbul beberapa pertanyaan dalam benak saya.
Apakah yang telah terjadi kepada naga itu yang kemungkinan besar mati ada kaitannya dengan peristiwa yang menggemparkan saat ini❓
Kalaupun benar ada, kenapa 2 bocah nakal itu kelihatan tidak kenapa-napa kan biasanya menurut banyak cerita kalau kita membunuh makhluk jadi-jadian akan langsung tertimpa hal buruk bahkan kematian❓
Serta kenapa para penghuni jembatan sekarang malah jadi terlampau buas bahkan sudah melewati batas karena makhluk gaib pun punya hukum & larangan yang membuat mereka tidak bisa seenaknya mengusik manusia❓
SUMBER: Google lengkap dengan sumber aslinya yang tertera da
Kala itu tepatnya 10 tahunan silam sebagai orang awam terkait hal-hal mistis saya benar-benar tidak menemukan penjelasan sama sekali prihal beberapa pertanyaan di atas ↑ yang sampai saat ini masih melekat dalam ingatan. Hingga pertengahan tahun 2019 lalu saya mulai bergabung
dengan beberapa grup pergaiban di facebook sambil melakukan semacam observasi sampai saya merasa seperti menemukan benang merah yang menghubungkan 2 peristiwa itu yang memang saya cari-cari selama ini berdasarkan pembahasan beberapa ahli spiritual & supranatural yang ilmunya
terbilang tinggi dan mumpuni soal hal-hal gaib.
Naga adalah salah satu ras atau bangsa dari golongan makhluk gaib yang masuk dalam kategori perkhodaman. Khodam yaitu makhluk gaib yang biasa mendampingi, menjaga & melindungi manusia tertentu yang mana tugasnya sesuai perintah yang
diberikan padanya. Bangsa naga punya level yang tinggi dalam kategori perkhodaman karena derajatnya luhur di alam gaib misal menjadi raja/ratu di suatu wilayah dan kalaupun bukan menempati peringkat paling atas minimal sebagai patih, komandan, panglima atau ketua keamanan di
suatu kerajaan gaib yang langsung membawahi & mengontrol seluruh pasukan kerajaan sesuai titah sang raja/ratu. Buat yang sudah baca rangkaian cerita PABRIK GULA karya
SimpleMan tentu tahu tentang sosok naga di cerobong asap gedung utama yang merupakan pusat kerajaan gaib tempat
singgasana Maha Ratu berada sepertinya si naga memang penjaga utama di kerajaan tersebut. Selain menjadi khodam manusia, naga yang mempunyai naluri dasar menjaga suatu tempat atau lokasi juga biasa dimanfaatkan manusia yang berilmu gaib alias 'orang pintar' supaya menjaga obyek
tertentu misal orang lain, rumah, gedung, lokasi sampai wilayah tertentu yang cukup luas. Selain itu naga juga merupakan khodam paling mahal yang biasa diperjualbelikan (mahar) oleh orang pintar kepada kliennya. Tingkatan naga berdasarkan kekuatannya, yaitu:
🥇 Naga Hitam;
🥈 Naga Emas; dan
🥉 Naga Hijau.
Hal ini berdasarkan kemampuannya dalam pertahanan, penyerangan & penyembuhan dimana naga hitam lebih unggul karena biasanya mempunyai ilmu sihir tingkat tinggi sehingga kebanyakan energinya negatif walaupun ada juga yang netral tergantung manusia yang menjadi tuannya bisa
baik/buruk dan mungkin cuma segelintir yang bersifat positif.
Jadi, kesimpulan yang bisa saya dapat berdasarkan data yang telah terhimpun di atas adalah mungkin si naga merupakan sosok gaib penjaga jembatan supaya para makhluk gaib di lokasi jembatan senantiasa bisa dikondisikan.
Namun saat itu si naga sedang mendapatkan serangan dari pihak makhluk gaib lainnya atau orang pintar yang ingin mengambilalih jembatan untuk dimanfaatkan sesuai keinginannya yang mana pada akhirnya si naga kewalahan bahkan mungkin hampir kalah sehingga memaksa si naga harus kabur
ke alam manusia yang sialnya malah digebukin 2 bocah nakal itu. Katanya kalau makhluk gaib menampakkan wujud aslinya di alam manusia maka dia benar-benar dalam keadaan sangat lemah sehingga orang pintar yang berduel dengan makhluk gaib biasanya akan menariknya ke alam manusia
supaya lebih mudah dikalahkan. Itulah sebabnya setelah insiden naga yang kemungkinan besar mati di tangan 2 bocah nakal, beberapa tahun kemudian lokasi jembatan menjadi tempat yang tidak terkendali karena dihuni oleh para makhluk gaib suruhan manusia biadab pelaku pesugihan untuk
mencari tumbal.
Terus terkait 2 bocah itu yang masih hidup sampai sekarang mungkin kemalangan yang menimpa mereka bukanlah kematian tetapi berupa kesialan atau penderitaan hidup. Yang satu semenjak memasuki remaja telinganya sebelah tidak bisa mendengar (budeg) sementara yang
satunya lagi kerja di sekitaran ibukota yang mana bulan lalu saya dengar kabar kalau motor kreditannya yang hampir lunas 1 bulan lagi malah kena maling di kontrakannya. Oleh karena itu, ular memang salah satu hewan yang dianjurkan supaya dibunuh namun kalau terindikasi makhluk
jadi-jadian alangkah baiknya dibiarkan saja atau cukup disingkirkan dari jalan kecuali kalau masuk rumah demi keamanan lebih baik dibinasakan saja walaupun menurut mereka yang mengerti ilmu gaib bagusnya dikeluarkan dulu dari rumah baru terserah mau dibebaskan atau dibunuh sebab
kalau ular jadi-jadian langsung dibunuh di dalam rumah maka energi negatifnya akan tetap bersemayam di rumah dan itu sangat sulit dinetralisir/dihilangkan.
SUMBER: Google. https://www.wallpaperbetter.com : Ilustrasi
Sehabis mencoba menyelisik kasus soal naga layaknya seorang 'detektif gaib', saya pun cuma bisa melanjutkan aktivitas sehari-hari sebagai seorang siswa SMK dimana ketika berangkat & pulang sekolah otomatis senam jantung pas lewat lokasi jembatan yang tak pelak membuat kemauan
untuk lulus pun semakin membara yang mana nantinya saya ingin langsung bekerja di pabrik wilayah perindustrian yang ada di perkotaan sehingga saya bisa 'pensiun' lewat jembatan setelah merantau. Di sekolah saya berbincang dengan teman sekelas, namanya Anjas, saat waktu istirahat
siang di kelas. Dia masih 1 kampung dengan Umi Darlah yang merupakan warga Kampung Ramuanseger, bedanya rumah Anjas hampir di ujung sebelah Timur sementara rumah Umi Darlah hampir di ujung sebelah Barat.
🙎‍♂️ “Jas, lembur urang keur geger euy. Urang bener-bener keueung liwat jambatan, maneh nyaho teu?”, (Jas, kampungku sedang geger nih. Aku benar-benar ngeri lewat jembatan, kamu tahu gak?) tanya saya kepada teman untuk curhat sambil mencari informasi dari kampung tetangga.
🙍‍♂️ “Ih, atut, ih.”, (Ih, takut, ih.) jawab Anjas sambil menggerak-gerakkan kedua pundaknya pertanda bergidik ngeri walau cuma sekilas mendengar prihal jembatan.
Anjas memang tergolong penakut kalau mendengar yang seram-seram prihal hantu atau sejenisnya apalagi yang dibicarakan ini sampai mengincar nyawa orang sehingga hal itu wajar membuatnya parno (paranoid) bahkan setiap kali saya baru bilang sepatah kata “jembatan” saja maka dia
otomatis langsung menutup kedua telinganya rapat-rapat dengan kedua tangannya sambil bergidik setengah gemetar seperti orang meriang. Seusai buka bersama (bukber) sambil reuni tahun 2015-an lalu setelah lama tidak bertemu, di perjalanan pulang saya nebeng di motor Anjas. Untuk
mengisi heningnya suasana di jalanan pada malam hari di bulan Ramadhan itu saya yang duduk di jok belakang bermaksud menceritakan pengalaman saya tahun 2013-an terkait jembatan yang hampir merenggut nyawa saya. Baru mendengar kata “jembatan” pas saya membuka obrolan, Anjas
langsung memohon sambil merengek supaya jangan meneruskan cerita saya. Berhubung Anjas sedang mengendarai motor jadi dia tidak bisa menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya, saya yang menyadari hal itu langsung memilih membatalkan pembicaraan demi keselamatan dalam
perjalanan pulang soalnya takut Anjas bergerak refleks melepaskan stang motornya walaupun tadinya ada niatan juga sambil menggoda dan menjahili Anjas sebagai kado pertemuan setelah 5 tahunan tidak ketemu 😁
Mulanya dia tidak mau membeberkan alasannya bersikap seperti itu seolah
itu hal yang pantang untuk diceritakan namun setelah saya coba desak akhirnya dia mau bicara. Sebenarnya desas-desus tentang jembatan itu sudah membuat geger Kampung Ramuanseger sejak tahun 2008-an yang artinya 1 tahunan setelah peristiwa naga. Hal itu bermula saat ada kerabat
warga Kampung Ramuanseger yang tinggal di kecamatan lain yang cukup jauh lewat jembatan setelah mengunjungi kerabatnya di kampung tetangga sebelah Barat kampung saya. Setelah pulang ke rumahnya ternyata ia langsung kesurupan dan tak lama lalu meninggal dunia namun saat kesurupan
itu sosok gaib yang merasukinya bilang bahwa sukmanya mau diambil oleh para penghuni jembatan untuk dijadikan pekerja paksa di alamnya. Sontak peristiwa tersebut membuat warga Kampung Ramuanseger geger setelah tahu bahwa jembatan itu sudah dijadikan sarana pesugihan dan aktif
mencari tumbal dari orang-orang yang melewatinya sehingga kalau warga Kampung Ramuanseger ada keperluan ke kampung sekitar wilayah sini maka mereka lebih memilih lewat jalur alternatif sebisa mungkin untuk menjauhi area jembatan yang nyata mengancam nyawa. Sebagai penutup teman
saya berpesan supaya jangan membicarakan lagi apa yang telah diceritakannya karena dia takut para penghuni jembatan malah jadi mengincarnya.
Saya yang baru tahu kejadian di Kampung Ramuanseger cuma bisa tercengang dan tak bisa berkata-kata, sebegitu bahayakah jembatan kampung
yang pagi & sore saya lewati setiap hari itu❔ Dari informasi yang terhimpun lewat ibu berupa hasil 'kongres' dengan para emak-emak ternyata peristiwa itu bukan cuma menimpa kerabat warga Kampung Ramuanseger saja tapi juga kerabat-kerabat warga kampung di sekitar wilayah sini
yang riwayatnya mereka pernah lewat ke jembatan kampung saya. Bahkan sebelum kejadian yang menimpa nenek warga Kampung Jengkolnunduk (Utara) pun ada juga kerabat warga kampung saya yang menjadi korban serupa malahan orang jauh yang berdomisili di Bandung hanya saja mereka memilih
bungkam karena berpikir mustahil ada bukti untuk kasus yang bersifat mistis seperti ini. Pada akhirnya fenomena ini pun menjadi semacam rahasia umum yang seperti mitos namun nyata terjadi meneror nyawa orang-orang.
Apa boleh buat, setiap hari saya tetap lewat jembatan walau
dengan suasana yang terasa semakin mencekam karena saya pun jelas merasa ada sesuatu yang mengancam tapi tidak terlihat. Sekitar pertengahan bulan Maret 2010, hari itu saat gerimis pertanda hujan hampir sepenuhnya reda saya lewat jembatan hampir jam setengah 6 petang namun
kengerian yang meneror batin sudah terasa saat hendak menuruni tangga sehingga membuat saya berjalan setengah berlari. Saat sudah dekat jembatan saya memutuskan langsung berlari melewatinya lalu berniat melipir lewat jalan gang di pinggiran tebing sungai. Namun baru 5 langkah
dari jembatan saya hampir terpeleset menginjak genangan air dan hampir jatuh ke sungai dari ketinggian 13 meteran. Saat itulah saya mengalami secara langsung fenomena mistis di lokasi jembatan tersebut.
👻 “Nya ceuk urang ge ulah lulumpatan bisi labuh.”, (Kan sudah dibilangin jangan lari nanti jatuh.) terdengar suara lelaki dewasa yang agak membuat kaget seperti memperingatkan saya yang masih berdiri lemas setelah hampir 'terjun bebas' ke sungai.
Suara itu berasal dari sebelah kiri saya tepatnya dari arah pohon melinjo belum begitu besar yang tumbuh di belakang rumah terdekat. Saya celingak-celinguk mencari sosok orang yang barusan bicara mulai dari sekitar pohon melinjo itu sampai ke segala arah di sekitar lokasi namun
tak kunjung mendapatinya karena memang tidak ada tanda-tanda kehadiran orang sebelumnya terlebih hujan juga baru mau reda sepenuhnya. Setelah yakin itu merupakan kejadian janggal berupa suara tanpa rupa yang identik dengan interaksi makhluk halus maka saya langsung kembali ngebut
berlari menyusuri gang pinggir kampung sambil lebih berhati-hati hingga selamat sampai di rumah.
Waktu terus berputar & berjalan maju, akhir bulan Maret 2010 saya menjalani UAN dan harus menunggu hasilnya selama 2 bulanan lebih. Barulah sekitar awal bulan Juni 2010 saya secara resmi dinyatakan lulus dari STM. Sesuai tujuan awal saya ingin langsung kerja di pabrik dan
merantau di wilayah industri dekat ibukota. Namun karena beberapa hal maka cita-cita saya itu pun gagal total. Sehingga pada akhirnya saya harus tetap menganggur dan diam di kampung.
Untuk mengisi waktu luang saya belajar kerja sekaligus membantu sebisanya di konfeksi milik paman
yang bertempat di rumahnya (dekat TKP insiden Mang Atos) sehingga otomatis membuat saya tidak harus melewati jembatan lagi karena tidak perlu keluar dari kampung. Sampai hampir 2 tahunan, setelah memikirkannya cukup lama dan mempertimbangkan beberapa hal akhirnya saya memutuskan
untuk kuliah. Pertengahan tahun 2012 saya mulai masuk kuliah sehingga saya pun mulai melewati jembatan lagi setiap harinya untuk naik angkot karena lokasi universitasnya tepat di jantung kabupaten.
Berbeda dengan masa sekolah SD, SMP sampai SMK, masa kuliah ini waktu belajarnya tergantung ketersediaan dosennya sehingga waktu berangkat kadang pagi atau siang sedangkan waktu pulang kadang siang atau sore bahkan petang. Oleh karena itu beberapa kali saya kadang pulang lewat
jembatan hampir jam 6 petang pokoknya sebelum maghrib saya masih memberanikan diri untuk lewat walaupun pas melewati jembatan itu saya cukup sering mencium bau anyir darah atau wangi kembang sedap malam. Sementara kalau pulang sudah lewat jam 6 petang atau sudah masuk waktu
maghrib maka sesuai saran ibu saya lebih memilih naik ojek dari pusat kecamatan lewat jalur Kampung Petir karena memang desas-desus mengenai jembatan saat itu sedang menjadi-jadi yang mana sudah sangat jarang orang yang berani lewat jembatan sore hari apalagi lewat jam 5 sore
cuma segelintir orang saja yang bisa dihitung jari dan saya salah satunya. Sebenarnya waktu itu alasannya bukan karena saya pemberani tapi lebih ke orang naif yang sama sekali tidak tahu apa-apa soal perkara gaib dimana saya berpikir dengan sholat maka cukup untuk terlindung dari
ancaman seluruh makhluk gaib padahal sebagai orang awam sholat saya masih tingkat latihan masih jauh dari sejatinya sholat seperti halnya orang-orang berilmu dan yang telah ditinggikan derajatnya.
Sekitar bulan Desember 2012, setelah saya melewati kampung Jengkolnunduk (Utara)
saat saya menuruni tangga sekitar jam setengah 6 petang pas di tengah-tengah waktu hendak melangkah kaki kanan saya seperti ada yang menarik ke arah depan untungnya saya jatuh ke arah belakang sehingga posisi saya duduk kalau sampai jatuh ke arah depan tentu saya bisa terluka
lumayan parah karena jatuh berguling dari ketinggian 10 meter lebih menuju dasar tangga. Saat posisi duduk itu jelas pantat terasa sakit karena jatuh mendadak diiringi perasaan kaget yang terasa hampir membuat jantung copot, setelah menghela nafas beberapa kali dan yakin itu
merupakan kejadian janggal apalagi memang tercium wangi kembang sedap malam dari sebelah kiri maka saya langsung melafalkan beberapa do'a perlindungan sambil berjalan setengah berlari menuruni tangga lalu melewati jembatan yang tercium bau anyir darah seperti biasa untuk bisa
segera pulang ke rumah dan beristirahat.
Hampir 2 bulanan berselang menjelang pertengahan bulan Pebruari 2013, hari Senin itu ada mata kuliah yang jadwalnya jam 4 sore jadi saya pulang dari kampus sekitar jam setengah 6 petang. Dari pusat kabupaten saya naik angkot yang agak
penuh walau tidak sampai berdesakan. Sepanjang perjalanan saya bimbang harus naik ojek atau nekat lewat jembatan. Pas angkot sudah berhenti beberapa saat di pusat kecamatan tepat di hadapan pangkalan ojek, saya memutuskan batal turun dari angkot dan memberanikan diri lewat
jembatan jam 6 petang lebih tepatnya saat sudah masuk waktu maghrib.
Alasannya 3 hari sebelumnya tepatnya hari Kamis saya pun sama persis pulang petang namun berhubung saya naik angkot jurusan desa lain dari pusat kabupaten jadi saya terpaksa turun di pusat kecamatan. Awalnya
saya mau naik ojek untuk pulang tapi saat itu kebetulan turun hujan jadi saya memutuskan untuk sholat Maghrib & sholat 'Isya dulu di masjid besar kecamatan sambil menunggu hujan reda. Setelah menunaikan sholat 'Isya kebetulan hujan sudah benar-benar reda jadi saya langsung
memutuskan pulang supaya tidak terlalu malam namun pas sampai di pangkalan ojek kebetulan ada angkot menuju desa saya yang berhenti sebentar untuk menunggu penumpang di jam terakhir. Mendadak saya ingin naik angkot tersebut karena terdorong sedikit rasa penasaran juga untuk
sekedar mengetahui bagaimana keadaan lokasi jembatan kalau malam. Setelah turun dari angkot, keadaan memang sudah gelap dengan dinginnya malam yang terasa mencubit-cubit kulit namun aura di Kampung Jengkolnunduk (Utara) dan sekitar lokasi jembatan memang terasa tidak terlalu
mencekam dibanding waktu petang. Saat lewat jembatan itu waktu sudah sekitar jam 8 malam memang keadaan jembatan terlihat gelap gulita agak sedikit remang-remang karena penerangan dari rumah terdekat terhalang oleh rimbunnya pohon melinjo yang berdiri tegak di dekat jembatan.
Melihat keadaan itu saya sudah berjalan cepat tepat saat awal menuruni tangga namun saya terus mengusahakan agar tidak melihat ke atas pepohonan terutama pas lewat jembatan karena takut melihat sesuatu yang tidak seharusnya terlihat dan nantinya malah ngikutin saya. Ternyata cara
saya itu terasa berhasil karena saya tidak mendapati kejadian mistis apapun saat melewati lokasi jembatan dan lancar sampai di rumah dengan selamat.
Pengalaman beberapa hari sebelumnya itulah yang melatarbelakangi keberanian saya sebab saya mengira jam 8 malam kan tidak terjadi
apa-apa berarti kalau jam 6 petang malah lebih aman karena lebih awal dibanding jam 8 malam. Ternyata dugaan saya ini salah besar justru waktu petang adalah saat yang paling berbahaya karena tepat waktu pergantian siang ke malam sehingga batas penghalang antara alam manusia
dengan alam gaib bisa dibilang sangat tipis sehingga membuat para makhluk gaib lebih mudah menunjukkan eksistensinya di alam manusia. Oleh karena itu, saat melewati tempat-tempat angker itu lebih baik jangan pas waktu petang mending sekalian lewatkan setelah masuk waktu 'Isya
sekitar jam 7 malam lebih tapi juga jangan terlalu malam minimal sebelum tengah malam paling sampai sekitar jam 10 malam lebih untuk menghindari gangguan ekstrem dari para makhluk gaib penunggu tempat tersebut.
Saya pun naik angkot dari pusat kecamatan sampai tersisa 3 orang
penumpang saat mencapai tempat pemberhentian di pertigaan Kampung Liangngalir. Setelah turun dari angkot ternyata ada 1 orang pria usia 40 tahunan yang jalan pulangnya searah dengan saya karena dia merupakan warga Kampung Kelewih. Batin saya yang asalnya berkecamuk oleh perasaan
takut mendadak langsung terasa lega karena ada teman yang bareng lewat jembatan. Saya berjalan menguntit sekitar 3 langkah di belakangnya namun gerak-geriknya jelas menunjukkan perasaan gelisah sampai mendekati ujung Kampung Jengkolnunduk (Utara) ternyata dia malah langsung belok
kiri menuju persawahan yang mengarah ke Kampung Petir karena dia malah memilih jalan memutar. Melihat hal itu jantung saya terasa berhenti berdetak dan membuat nyali saya seciut-ciutnya sehingga saya pun berdiri mematung di tengah jalan selama beberapa saat sambil berpikir. Akan
tetapi pengalaman 3 hari sebelumnya mendorong saya untuk tetap melewati jembatan lalu saya pun melewati Kampung Jengkolnunduk (Utara) yang tetap seperti kampung mati meski lampu-lampu di rumah warganya menyala menerangi sekitar rumah mereka.
Saat melewati jembatan waktu sekitar
jam setengah 7 petang. Pas berada di ujung Kampung Jengkolnunduk (Utara) tepat sebelum menuruni tangga, saya mengamati dulu lokasi jembatan yang berada di bawah terlihat tidak ada orang yang lewat baik yang searah maupun yang berlawanan arah. Saat menuruni tangga saya sambil
melafalkan do'a dalam hati namun setelah sampai di dasar tangga saya langsung kaget bukan kepalang karena mendadak terlihat ada sosok seukuran manusia yang sedang berdiri dan terhalang oleh pohon pisang yang miring menghalangi jalan. Saya heran kok bisa ada orang padahal saat
berjalan dari atas tangga saya terus melihat ke arah jembatan sehingga yakin tidak ada orang lain yang lewat jembatan selain saya seorang. Setelah merenung beberapa saat saya meyakinkan diri kalau itu orang sehingga saya melanjutkan langkah sampai berjarak 5 meteran dalam kondisi
remang-remang saya melihat lumayan jelas itu merupakan seorang kakek tua usia 80 tahunan lebih sedang berdiri berlawanan arah yang mana penampilannya mirip seorang ustadz dengan memakai sarung, baju koko, peci dan serban sehingga saya mengira mungkin ia habis dari pengajian di
Kampung Kelewih. Ia berjalan menunduk sampai tepat berpapasan di sebelah kanan saya bahkan melihat lubang telinganya untuk meyakinkan kalau dia memang manusia. Terakhir saya menengok ke belakang untuk menghabiskan rasa penasaran dengan melihat punggungnya tepat sebelum ia menaiki
tangga ternyata ia memang manusia. Setelah terasa lega lalu saya melanjutkan langkah tetapi pas di tengah jembatan terasa seperti ada sesuatu mirip silet yang menggores perut sebelah kiri yang membuat saya berhenti mendadak untuk memeriksanya dengan merabanya. Setelah yakin tidak
kenapa-napa lalu saya langsung bergegas pulang dengan melangkahkan kaki secepat mungkin untuk lekas minggat dari lokasi jembatan tersebut.
Sepanjang gang pinggir kampung menuju rumah, saya terus meraba-raba perut karena goresan itu terasa sangat nyata walaupun itu mustahil
terjadi sebab baju yang saya pakai tetap utuh tanpa sobekan. Masih diselimuti keheranan setelah sampai rumah saya langsung duduk beristirahat di kursi ruang tengah namun entah kenapa tiba-tiba sekujur badan saya terasa panas seperti sedang demam tinggi saat meriang. Kebetulan
saat itu saya sedang belajar puasa sunah Senin/Kamis jadi walaupun mendadak merasa tidak enak badan saya tetap memaksakan makan karena memang sudah sangat lapar. Sehabis makan saya membersihkan tubuh sekedarnya karena terlalu dingin untuk mandi malam lalu langsung tidur. Saat
berbaring di kasur rasa heran saya semakin bertambah dengan tubuh yang terasa seperti meriang sehingga membuat saya bergegas memejamkan mata supaya langsung terlelap tidur karena siapa tahu itu efek kecapekan.
Malam itu saya bermimpi diajak oleh seorang kakek tua usia 70 tahunan
untuk bertamu ke rumahnya. Di dalam rumah itu sudah menunggu istrinya yang masih muda usia 20 tahunan dan putranya usia 7 tahunan. Saya dijamu dengan berbagai macam makanan yang tersaji di atas meja dan kami duduk di kursi ruang tengah. Seusai makan saya pamit pulang namun
ditahan untuk lebih lama berada di rumah itu. Lalu mendadak saya terbangun dari mimpi tersebut dan melihat jam di hape ternyata masih jam setengah 4 dini hari sehingga saya tidur dulu lagi sampai adzan Shubuh berkumandang. Esoknya mendadak tubuh saya terasa sangat lesu seolah tak
bertenaga dan tidak nafsu makan namun panas meriang di tubuh semalam sudah hilang.
2 hari berselang tepatnya hari Rabu, saya pulang dari kampus jam 11 siang karena dosen mata kuliah terakhir tidak hadir dan cuma ngasih tugas. Saya lewat jembatan sekitar jam 12 siang namun entah
kenapa dari kemarin baik saat berangkat maupun pulang pas di tengah jembatan sambil jalan secara refleks saya selalu terpaku menatap batu sungai cukup besar yang ada di sekitar jembatan tepatnya sebelah Timur. Setelah sampai di rumah sehabis ganti pakaian saya langsung berbaring
di kursi ruang tengah karena merasa lemas bukan main malah terasa seperti mati rasa beneran sebab meski perut terdengar keroncongan tetapi anehnya saya merasa tidak lapar sama sekali layaknya jiwa dan raga tidak tersambung mungkin hampir terpisah. Sekitar 1 jam terbaring tak
berdaya, ibu datang sepulang dari kegiatan emak-emak pada umumnya. Melihat keadaan saya, ibu langsung tanya apakah saya sakit atau bagaimana. Maka saya menceritakan apa yang saya rasakan saat itu termasuk peristiwa di jembatan 2 hari sebelumnya ketika perut saya seperti digores
tepat di tengah jembatan. Seusai mendengar penuturan saya, ibu langsung berinisiatif mengajak saya ke ahli spiritual yang saat itu sedang 'naik daun' karena terbukti mujarab dalam mengobati setiap korban sakit yang terindikasi dari jembatan, namanya Umi Darlah seorang wanita usia
60 tahunan yang merupakan salah seorang ahli rukyah di wilayah sini.
Kami pun berangkat jalan kaki lewat jembatan untuk naik angkot menuju rumah Umi Darlah di Kampung Ramuanseger. Sesampainya di sana ternyata ada seorang pasien yang sedang dirukyah namun entah kenapa dada saya
mendadak panas seperti terbakar saat berada di dalam rumah Umi Darlah. Tempat tinggal Umi Darlah lazimnya rumah warga biasa pada umumnya. Hanya saja ada yang unik yaitu semua anak dan cucunya tinggal di rumah tersebut yang memang ada beberapa ruang kamar karena tidak diizinkan
tinggal di beda atap kecuali yang tinggal di kabupaten lain. Alasannya mungkin biar lebih mudah dalam melindungi mereka karena selaku ahli rukyah tentu efeknya diincar oleh banyak dukun yang terganggu pekerjaannya maupun balas dendam dari para makhluk gaib yang dipaksa keluar
dari tubuh pasien-pasiennya serta berbagai macam ancaman serangan gaib lainnya. Sedangkan proses pengobatan pasien biasa dilakukan di ruang tengah maupun ruang belakang yang ukurannya lebih kecil. Sementara suami Umi Darlah biasanya membantu mengurut tubuh pasien kalau kiriman
gaibnya sudah merembet ke penyakit fisik atau sudah lama menempel di tubuh sehingga semakin merekat erat bahkan bisa menyatu dengan tubuh. Itulah sebabnya penyakit non-medis yang disebabkan oleh hal gaib sebaiknya cepat ditanggulangi oleh orang yang ahli prihal ilmu gaib lewat
jalur alternatif, jangan sampai dibiarkan berlarut-larut karena semakin lama maka akan semakin sulit dibersihkan/diobati.
Cara pengobatan Umi Darlah ini terbilang unik karena proses pengeluaran makhluk gaib dari tubuh pasien menggunakan tubuhnya sendiri sebagai mediator bukan
tubuh orang lain seperti kebanyakan ahli rukyah sehingga si korban bisa menanyai langsung beberapa informasi prihal penyakitnya dari kiriman makhluk gaib tersebut. Kebanyakan makhluk gaib dari tubuh pasien memang bisa ditundukkan sehingga tidak sedikit si korban yang tersulut
amarah setelah mendapatkan informasi itu meminta supaya kiriman ilmu hitam tersebut dikembalikan kepada pelakunya. Berdasarkan pengakuannya menghadapi pasien yang seperti itu walaupun Umi Darlah selalu mengiyakan agar tidak berkepanjangan namun sebenarnya kiriman ilmu hitam itu
biasanya di-Islam-kan dulu untuk dikirim ke pesantren gaib supaya tidak dimanfaatkan oleh dukun lagi atau dipulangkan kembali ke tempat asalnya semula.
Pas pertama melihat seorang pasien yang sedang diobati itu saya benar-benar merasa was-was membayangkan giliran saya nanti
apalagi mendengar suara setiap makhluk gaib yang sedang berada di dalam tubuh Umi Darlah tak pelak membuat tubuh saya gemetar hebat saking merindingnya bahkan timbul juga rasa takut jikalau nanti Umi Darlah malah tidak bisa mengendalikannya lalu mencekik saya. Melihat proses
rukyah orang lain yang masih agak lama maka saya memutuskan menunaikan sholat Dzuhur dulu di masjid pesantren karena memang rumah Umi Darlah dekat dengan pondok pesantren di Kampung Ramuanseger sementara ibu saya tetap menunggu di rumah Umi Darlah supaya tidak keduluan pasien
berikutnya. Saat sedang sholat di masjid, panas di dada saya terasa semakin membara sehingga menyulitkan saya untuk fokus. Seusai sholat saya langsung kembali ke rumah Umi Darlah ternyata proses rukyah pasien sebelumnya sudah hampir selesai.
Setelah pasien sebelumnya beserta
keluarganya pamit pulang maka tibalah giliran saya berikutnya. Saya disuruh duduk bersila sambil menghadap kiblat dan membaca do'a sebisanya sementara Umi Darlah duduk tepat di belakang saya sambil menyentuh tengkuk dan punggung saya. Asli rasa takut saya kian meningkat pesat
karena khawatir nanti malah beneran dicekik sementara Umi Darlah terdengar sedang melafalkan sholawat dan beberapa do'a lainnya sampai terdengar suaranya yang tiba-tiba berubah persis layaknya suara sesosok kakek tua.
👴 “Ah aing mah, der kalakah dibawa ka dieu padahal tinggal saeutik deui.”, (Ampun dah, malah dibawa kemari sih padahal tinggal sedikit lagi.) celetuk sosok kakek-kakek yang ada di dalam tubuh Umi Darlah.
🧕 “Ari maneh timana? Ti jambatan, lin?”, (Kau ini darimana? Dari jembatan, kan?) selisik ibu sambil agak emosi.
👴 “Heueuh, aing ti jambatan.”, (Iya, aku dari jembatan.) balas sosok itu enteng.
🧕 “Nya ari maneh naon? Nu papaliwat jeung anak urang Maghrib kaheuleutan, lin?”, (Kau ini apa sih? Yang berpapasan dengan puteraku saat Maghrib 2 hari yang lalu, kan?) tanya ibu pada sosok itu berdasarkan dugaannya.
👴 “Aing mah pocong. Heueuh, pan harita teh pahareup-hareup terus papaliwat malah saentos kitu ngalieuk deui ka tukang ninggali aing tapi alus teu sieuneun sakitu jelas nenjo aing.”,
(Aku ini pocong. Iya, waktu itu kan saling berhadapan terus berpapasan malah setelah lewat nengok lagi ke belakang menatapku tapi hebat tidak ketakutan melihatku amat jelas begitu.) tutur sosok itu sambil merasa keheranan.
Berdasarkan keterangan beberapa ahli spiritual & supranatural, makhluk gaib berwujud pocong bisa jadi merupakan:
👻 Arwah gentayangan orang yang penguburannya tidak sempurna maupun meninggal tidak wajar;
👻 Sekedar penyerupaan jin tertentu yang merasa bersimpati kepada orang meninggal tersebut supaya dido'akan dan disempurnakan oleh mereka yang masih hidup; atau
👻 Penjelmaan jin yang memang ingin berbuat usil maupun menakut-nakuti manusia ataupun ingin mencelakai orang dengan alasan tertentu misal merasa terusik maupun disuruh oleh semacam dukun yang ingin berbuat jahat kepada korban.
Perbedaannya kalau pocong asli yang merupakan arwah gentayangan pergerakannya seperti terbang lurus sedangkan kalau pocong jadi-jadian bentuk penyerupaan/penjelmaan jin pergerakannya seperti melompat-lompat walaupun keduanya sama-sama melayang tidak menapak bumi.
Malahan bisa jadi merupakan bentuk penyamaran jin yang tingkat kekuatannya terbilang tinggi daripada jin biasa pada umumnya untuk sekedar menyembunyikan identitas aslinya dengan maksud tertentu misal ingin menyamarkan wujud sebenarnya ataupun sekedar memuluskan misinya saat
memata-matai maupun menyerang lawan/musuh mungkin karena wujud pocong yang terbungkus rapi menjadi pilihan paling cocok buat mereka.
Terakhir ada 1 jenis lagi yang termasuk pengecualian yaitu pocong bo'ongan (hoaks) yang merupakan wujud penyamaran manusia biasa dengan maksud tertentu misal sekedar usil yang biasa diperbuat orang iseng gak ada kerjaan atau melakukan aksi kejahatan seperti yang biasa diperbuat
oleh para begal di jalanan saat menyergap korbannya pada malam hari.
Jadi sebenarnya pocong itu ingin menampakkan wujudnya di hadapan saya mungkin untuk menakuti-nakuti saya biar saya celaka akibat ulah sendiri yang terlahap oleh rasa panik tetapi anehnya apa yang saya lihat jauh berbeda dari apa yang diharapkan olehnya sebab mana mungkin saya
ketakutan kalau yang saya lihat bukanlah sosok pocong melainkan sosok seseorang yang berpenampilan mirip ustadz. Entah termasuk kategori apa sebenarnya penglihatan mata saya ini karena kalau indigo kan bisa melihat sosok makhluk halus dalam wujud menyeramkannya seperti yang
diharapkan si pocong tersebut. Sementara kalau sedang di dalam rumah yang nampak oleh penglihatan mata saya paling berupa bayangan hitam (siluet) atau kepulan asap hitam yang tembus pandang (transparan). Para makhluk halus itu dapat nampak wujud menyeramkannya paling ketika saya
memejamkan mata saat masih sadar maupun di dalam mimpi saat tidur.
Bahkan sejak peristiwa itu beberapa kali saya kadang melihat sosok manusia yang kemungkinan besar penghuni gaib di beberapa titik yang terkenal angker di sekitar kampung saya dan kampung tetangga dimana kalau lelaki terlihat berpenampilan mirip seorang ustadz atau santri seperti
memakai peci, baju koko, sarung & serban sementara kalau perempuan terlihat berpenampilan seperti manusia pada umumnya yang mengenakan pakaian biasa. Kadang saat melihat mereka di tempat-tempat angker itu saya bingung sendiri apakah mereka manusia biasa atau cuma penyerupaan
menurut penglihatan mata saya namun perbedaannya biasanya raut mukanya datar sambil berdiri mematung persis maneken atau kalaupun berjalan itu mirip gerakan program komputer terlihat kaku/statis yang kadang mengikuti saya maupun sekedar berpapasan atau kalaupun bicara juga
ucapannya terus diulang-ulang 1 kalimat itu-itu saja dan setelah saya jawab maupun ajak ngobrol maka kalimatnya tetap sama mirip bicara dengan robot. Oleh karena itu, kalau hal seperti itu terjadi maka saya lebih memilih mengabaikan mereka dan kalaupun ada yang berjalan menguntit
saya dari belakang maka saya langsung melafalkan do'a perlindungan supaya mereka tidak ikut juga apapun yang mereka minta tidak akan saya beri karena apa yang saya dengar misal mereka minta uang bisa jadi apa yang mereka minta sebenarnya bukan itu bahkan mungkin maksudnya nyawa
atau raga saya.
Contohnya pertengahan tahun 2015 lalu wilayah sekitar kampung saya digegerkan dengan desas-desus kalau jalan kampung juga jalur khusus ojek yang ada di antara Kampung Petir dengan Kampung Ramuanseger telah dijadikan sarana pesugihan baru terlebih beberapa bulan sebelumnya memang
diadakan perbaikan jalan yang ke sekian kalinya alias sudah beberapa kali dilakukan meski kali ini berbeda berupa pengecoran sehingga ada kemungkinan sebagian dananya berasal dari si terduga pelaku pesugihan. Hal itu ditenggarai karena sering terjadinya kecelakaan fatal yang
menimpa pengguna jalan baik pengendara mobil maupun motor yang menabrak tiang listrik atau terperosok ke selokan di pinggir jalan namun semuanya tidak jauh dari letak tiang listrik tersebut. Padahal jalan tersebut merupakan jalur lurus juga tanpa hambatan berarti tetapi para
korban kecelakaan itu menderita luka parah di kepala termasuk salah satunya tetangga sebelah rumah sehingga ada beberapa yang meninggal. Kata mereka yang selamat sebelum kecelakaan biasanya mereka melihat jalan mendadak jadi ada 2 alias bercabang atau kendaraan mereka seperti
ditarik oleh sesuatu sehingga mengalami oleng. Menurut penuturan beberapa ahli spiritual di wilayah sini yang seperti membenarkan desas-desus itu katanya memang jalan itu sudah dijadikan sarana pesugihan oleh oknum tertentu yang mana suruhan gaib yang ditugaskan mencari tumbal
itu berupa sosok nenek-nenek bersama anak kecil.
Nah, sekitar bulan Nopember 2015 pokoknya 2 mingguan setelah tetangga saya kecelakaan itu saya kebetulan pulang malam untungnya saat itu masih ada beberapa unit angkot jurusan wilayah tempat tinggal saya yang masih narik penumpang
maksimal sampai jam 8 malam. Dari pusat kabupaten itu saya naik angkot kloter terakhir lalu saat turun angkot waktu sekitar jam 9 malam. Saya memilih berjalan kaki lewat jalur alternatif memutar ke Kampung Petir daripada harus lewat jembatan yang otomatis saya harus lewat jalan
yang anyar diperbincangkan itu karena menurut saya tidak terlalu mencekam dibanding lewat lokasi jembatan sebab masih ada beberapa pengendara yang lewat karena termasuk jalan yang lumayan aktif. Benar saja ada beberapa mobil dan motor yang lewat namun pas mendekati titik rawan
kecelakaan itu saya langsung fokus melafalkan do'a perlindungan untuk berjaga-jaga. Saya yang melihat sendiri merasa heran mana mungkin jalur lurus seperti itu bisa sering terjadi kecelakaan kalau bukan adanya gangguan tak kasat mata. Sepanjang jalur itu saya tidak mendapati
kejadian janggal apapun cuma terhampar pemandangan persawahan di kanan-kiri jalan saat malam hari. Namun pas di ujung jalur tersebut tepatnya di pertigaan menuju Kampung Petir, mendadak terlihat di seberang jalan tepatnya di sebelah kanan saya ada sesosok nenek tua usia 80
tahunan berjalan berlawanan arah alias berpapasan dengan saya sambil menuntun seorang bocah usia 7 tahunan. Berdasarkan penglihatan mata saya baik rupa maupun penampilannya memang persis manusia biasa pada umumnya tetapi yang janggal adalah mustahil ada nenek-nenek yang sudah
renta kelayaban malam-malam begitu karena kalaupun ada urusan keluar kampung tentu pasti diantar keluarganya ataupun naik kendaraan juga tidak mungkin hendak memeriksa pengairan di sawah terlebih tidak bawa senter kalau kakek-kakek sih masih mungkin tentu dengan membawa peralatan
utama yaitu senter. Teringat kabar yang saya dengar sebelumnya membuat saya cukup yakin kalau yang berpapasan dengan saya itu memang sosok pelaku penyebab kecelakaan di jalur tersebut sehingga membuat saya semakin fokus melafalkan do'a sambil bergegas minggat dari jalur tersebut
untuk bisa lekas sampai di rumah.
🧕 “Nya rek naon maneh aya na awak anak urang? Budakna jadi teu hayangeun dahar jeung jiga nu linglung kitu.”, (Mau apa sih kau berada dalam tubuh puteraku? Dia jadi tidak nafsu makan dan mirip orang linglung begitu.) selidik ibu sambil meratapi keadaan saya saat itu.
👴 “Pan ngahaja ku aing sina teu hayangeun jeung teu ingeteun dahar supaya awakna leuleus. Lamun geus euweuh tanagaan engkena beh babari nyabut sesa sukma na awakna pan satengah sukmana geus beunang harita, tuh ku aing keur dikeueum handapeun batu gede wetaneun jambatan.”,
(Sengaja kubuat begitu biar tidak nafsu dan tidak ingat makan agar tubuhnya lemas. Kalau sudah tidak bertenaga nantinya jadi mudah mencabut sisa sukma di tubuhnya karena setengah sukmanya sudah dapat waktu itu, noh sedang kurendam di bawah batu besar sebelah Timur jembatan.)
jawab sosok itu dengan suara lantang.
🧕 “Oh kitu, nya ti iraha maneh ngincer anak urang? Anyar keneh atawa kumaha?”, (Begitu toh, emang sejak kapan kau mengincar puteraku? Baru-baru ini atau bagaimana?) desak ibu kepada sosok itu.
👴 “Geus lila, aya lah mangtaun-taun. Ti bareto ge budak ieu teh geus dicirian ku aing ngan karek beunangna ayeuna. Mun bisa mah rek dijadikeun jiga aing supaya beuki loba batur di jambatan.”,
(Sudah lama, sekitar beberapa tahun lalu. Dari dulu juga anak ini tuh sudah kutandai tapi baru dapatnya sekarang. Kalau bisa sih mau dijadikan sepertiku agar makin banyak teman di jembatan.) ungkap sosok itu.
🧕 “Euleuh mani babari rek nyokot budak urang nu meunang cape-cape ngurus ti leuleutik. Pokona geus balikeun sakabeh sukmana ayeuna!”, (Idih segampang itu mau ngambil anak yang sudah susah payah kurawat sejak kecil. Pokoknya sudah kembalikan semua sukmanya sekarang!)
perintah ibu sambil geram kepada sosok itu.
👴 “Pan aing mah dititah. Heueuh atuh lah, kela.”, (Aku ini cuma suruhan. Iya baiklah, bentar.)
balas sosok yang ada dalam tubuh Umi Darlah itu yang diiringi dengan gerakan kedua tangan Umi Darlah terasa menepuk beberapa kali punggung saya seperti sedang memasukkan sesuatu yang tidak terlihat (sukma) ke dalam tubuh saya kembali.
🧕 “Geus can? Lamun enggeus geura kaluar. Pokona ulah sakali-kali deui ngaganggu anak urang jeung keluarga urang lamun engke liwat jambatan deui.”,
(Sudah belum? Kalau sudah cepetan keluar. Pokoknya jangan berani-berani lagi mengganggu puteraku dan keluargaku kalau nanti lewat jembatan lagi.) pinta ibu sambil membuat janji dengan sosok itu.
👴 “Heueuh lah, engke mah moal.”, (Iya-iya, tidak akan lagi-lagi.) jawab sosok itu sambil berjanji.
🧟 “Ah, meureun moal bisa ulin deui atuh!”, (Ah, kalau begini jadi tidak bisa jalan-jalan lagi!) keluh suara sosok bocah yang juga berada dalam tubuh Umi Darlah.
Saya yang merasa lemas dan sulit fokus dari tadi cuma bisa menyimak percakapan tersebut. Ternyata saya diincar sudah bertahun-tahun yang kemungkinan besar dari tahun 2008-an awal desas-desus soal jembatan muncul. Jadi setiap orang yang pernah melewati jembatan minimal 1 kali
otomatis mendapatkan tanda gaib yang tidak kelihatan di tubuhnya sehingga orang yang pertahanannya lemah mungkin 1 kali lewat saja sudah kena menjadi tumbal pesugihan. Tanda gaib itu baru bisa hilang kalau dilepas oleh 'orang pintar' yang mengerti tentang ilmu gaib seperti
Umi Darlah jadi sekalipun orang jauh tentu akan tetap bisa terhubung layaknya alat penyadap mata-mata. Sosok keluarga yang saya temui dalam mimpi malam itu sepertinya merupakan sosok makhluk halus yang telah mengincar saya bahkan berhasil menculik setengah sukma saya sehingga
membuat jiwa & raga saya seperti hampir terpisah. Serta alasan saya selama 2 hari lewat jembatan itu selalu refleks menatap batu besar sebelah Timur jembatan karena setengah sukma saya sedang ditahan di bawahnya jadi saya seperti sedang meratapi bagian diri saya yang gaib sedang
membutuhkan pertolongan.
Ibarat punya hutang membayar karcis khusus lewat jembatan meski kalau dinilai dengan uang nyata tentu tidak seberapa tapi yang namanya hutang tetaplah hutang dimana sarana yang lazim digunakan oleh para pelaku pesugihan memang biasanya berupa uang tidak
peduli seberapa besar maupun kecil yang penting kalau sudah diterima dan digunakan untuk belanja oleh korban maka otomatis menjadi semacam mahar sehingga sukma korban dapat direnggut untuk dijadikan tumbal pesugihan yang mana di sini kasusnya setiap orang yang lewat jembatan
otomatis punya hutang yang akan ditagih bayarannya berupa sukmanya oleh makhluk gaib penunggu jembatan selaku petugas loket sekaligus penagih hutang yang setiap orang punya waktu jatuh tempo yang berbeda tergantung seberapa tebal/kuat pertahanan dirinya sesuai nasib & takdirnya.
Setelah proses rukyah selesai, panas yang terasa di dada saya sebelumnya otomatis lenyap walaupun badan saya masih agak lemas dan perlu waktu untuk bisa benar-benar memfokuskan pikiran saya seperti sedia kala. Kemudian giliran ibu yang dirukyah karena ibu merasa badannya kurang
nyaman seperti ada sesuatu dimana tata caranya persis seperti saya tadi. Saya pindah ke tempat ibu duduk tadi sementara ibu berada di tempat saya duduk barusan. Lalu suara Umi Darlah kali ini terdengar berubah seperti suara seorang perempuan yang masih muda.
🧟‍♀️ “Tulungan urang, pangbebaskeun urang.”, (Tolongin aku, bebaskanlah aku.) rengek sosok wanita muda yang ada di dalam tubuh Umi Darlah sambil menangis tersedu-sedu.
🧕 “Nya maneh saha?”, (Kau ini siapa?) tanya ibu yang berusaha tetap tegar sambil melawan rasa takutnya sementara saya cuma bisa menyimak sambil tertunduk lemas.
🧟‍♀️ “Urang mah Adelia. Geus cape urang teh ditutuh-titah terus dipaksa kawin jeung aki-aki nepika boga anak 1 terus ayeuna kudu neangan tumbal ti jelema-jelema nu liwat jambatan.”,
(Aku ini Adelia. Aku tuh sudah capek disuruh-suruh kemudian dipaksa nikah sama kakek-kakek sampai punya seorang anak lalu sekarang harus mencari tumbal dari orang-orang yang lewat jembatan.) curhat sosok itu yang terdengar cukup lirih.
🧕 “Naha atuh make daek?”, (Lho, kenapa malah mau?) selisik ibu yang mulai agak gusar.
🧟‍♀️ “Pan dipaksa lamun teu nurut nya disiksa. Pan budak kasep ieu ge ku urang ka salaki titah dileupaskeun tapi kalakah dipahala nepika nyareri.”,
(Kan dipaksa kalau tidak nurut ya disiksa. Malahan anak tampan ini juga sudah kupinta kepada suami supaya dilepaskan tapi malah dipukulin sampai terasa sakit.) ungkap sosok itu.
🧕 “Terus kunaon make aya na awak urang?”, (Kenapa sih bisa ada di badanku?) selidik ibu yang penasaran.
🧟‍♀️ “Urang geus cape, menta tulung ka ditu-ka dieu tapi euweuh nu bisaeun. Tadi apal ibi rek ka dieu jadi urang milu. Urang mah hayang bebas jeung disampurnakeun sakumaha mestina.”,
(Aku sudah lelah, minta tolong kesana-kemari tapi tidak ada yang mampu. Tadi tahu tante mau ke sini jadi aku ikut. Aku cuma mau bebas dan disempurnakan sebagaimana mestinya.) curhat sosok itu sambil terisak-isak.
👵 “Geus dicobaan ku Umi jeung ku tarukang jampe di daerah urang ge ngan teu karuateun ngelehkeun. Paling nu ngalapna kur gering kadang nepika parna tapi pas meunang tumbal deui engkena langsung jagjag deui. Jadi maneh bisa bebas lamun engke we pas jelemana paeh atawa nungguan
kiamat kusabab sakumaha kuat ge nu ngarana mahluk mah kabeh ge pasti maot.”, (Sudah diusahakan sama Umi serta para ahli spiritual di wilayah sini juga hanya saja tidak sampai mampu mengalahkan. Cuma sampai pelakunya sakit kadang sampai parah tapi saat dapat tumbal lagi nantinya
langsung sembuh lagi. Jadi kamu bisa bebas kalau nanti orangnya sudah mati atau sampai datang kiamat karena sekuat apapun juga yang namanya makhluk hidup semuanya pasti mati.)
sela Umi Darlah yang sekejap sadar untuk sekedar menjawab permohonan sosok di dalam tubuhnya itu sehingga seperti orang yang bicara sendiri.
🧟‍♀️ “Atuh urang kudu kumaha deui? Ari hese mah tembak we atuh jelemana ku pestol sina modar jadi urang jeung nu lainna bisa bebas.”,
(Lalu aku harus bagaimana lagi? Kalau memang susah tembak saja sekalian orangnya pakai pistol biar mampus jadi aku dan yang lainnya bisa bebas.) rengek sosok itu yang suara tangisannya terdengar semakin keras.
👵 “Lamun aya nu bogaeun pestol oge moal waranieun nembakkeun ka jelema sarieuneun dipenjara. Sakumaha jelemana penjahat oge ari berurusan jeung nu ngarana goib mah hese buktina jadi pulisi oge kur bisa newak jelema nu nembakna. Hampura we urang teu bisa nulungan.”,
(Kalaupun ada yang punya pistol juga tidak ada yang bakal berani nembak orang takut dipenjara. Sekalipun itu memang orang jahat kalau berurusan dengan yang namanya gaib tentu sulit menemukan buktinya jadi polisi juga cuma bisa nangkep orang yang nembaknya. Mohon maaf aku tidak
bisa menolong.) jawab Umi Darlah sambil mencoba memberi pengertian kepada sosok itu.
🧕 “Urang mah teu bisa nulungan, tuh si Umi ge nu ngarti teu bisaeun. Enggeus ayeuna mah kaluar tina awak urang.”, (Aku tidak bisa menolong, kan si Umi juga yang ngerti tidak mampu. Sudahlah sekarang keluar dari tubuhku.)
suruh ibu kepada sosok itu sehabis menyimak penjelasan Umi Darlah.
🧟‍♀️ “Heueuh atuh urang rek kaluar ngan mun bisa mah engke pangbejakeun ka keluarga urang hayang dihadiahan jeung didu'akeun kituh sugan we urang bisa sampurna.”,
(Baiklah aku akan keluar tetapi kalau bisa tolong kabarin keluargaku bahwa aku ingin ditahlilkan dan dido'akan siapa tahu kematianku bisa sempurna.) balas sosok itu yang terdengar pasrah sambil titip pesan.
🧕 “InsyaAllah tapi urang mah teu janji soalna lamun dibejakeun oge engke bisa wae keluarga maneh malah teu narima terus ambekeun ka urang terus malah jadi fitnah, maning keneh datangan we langsung ku maneh misal asup ka dulur maneh jadi maneh bisa langsung nyarita. Sakitu we nya
hampura lamun engke teu bisa nepikeun.”, (InsyaAllah tapi aku tidak janji soalnya kalaupun disampaikan juga nanti siapa tahu keluargamu malah tidak terima lalu marah padaku kemudian malah menjadi fitnah, mending kamu datengin saja langsung misal rasuki salah satu anggota
keluargamu jadi kamu bisa langsung ngomong. Sudah ya maaf kalau nanti tidak bisa nyampein.) tutup ibu sambil mencoba memberi pengertian kepada sosok itu.
Proses rukyah ibu pun akhirnya dinyatakan selesai. Pada tahap akhir, Umi Darlah seperti mengusap beberapa titik di tubuh saya maupun ibu untuk menarik dan menyingkirkan sesuatu yang tidak terlihat dari badan kami. Saat itu sudah sekitar jam 3 sore menjelang Ashar, berhubung belum
ada pasien lagi yang datang maka kami melakukan perbincangan sebentar terkait apa yang baru saja saya dan ibu alami dalam proses rukyah Umi Darlah yang pertama kali bagi kami. Walaupun sebenarnya kata Umi Darlah pasien yang berobat masih tetap akan berdatangan meski sudah malam
terutama mereka yang tempat tinggalnya jauh dimana kadang bisa sampai jam 12 malam atau jam 2 malam baru selesai dan Umi Darlah pun baru bisa istirahat sementara esoknya jam 7 pagi atau jam 8 pagi pasien sudah mulai ada yang datang lagi untuk berobat.
Adelia sepertinya sosok wanita muda yang merupakan istri kakek sekaligus ibu bocah yang saya temui dalam mimpi waktu itu. Menurut kabar yang beredar, Adelia merupakan sosok gadis remaja warga Kampung Kelewih yang meninggal secara tidak wajar yang mana sejak awal memang diduga
banyak orang merupakan korban untuk tumbal pesugihan. Sejak kemunculan desas-desus jembatan pesugihan tahun 2008-an, arwah Adelia sudah banyak merasuki beberapa warga kampung sekitar termasuk anggota keluarganya sendiri untuk memperingatkan para warga bahwa jembatan sudah
dijadikan sarang makhluk gaib suruhan pelaku pesugihan untuk mencari tumbal sehingga menyarankan setiap warga untuk senantiasa waspada kalau lewat jembatan juga sambil menyampaikan pesan kepada keluarganya minta agar disempurnakan. Pihak kelurganya tentu selazimnya sudah
mengadakan acara tahlilan sesuai kebiasaan yang berlaku juga senantiasa mendo'akan Adelia supaya bisa meninggal dengan tenang dan menetap di alamnya. Akan tetapi upaya keluarganya itu seolah gagal karena memang yang namanya tumbal pesugihan itu ibarat semacam jaminan hutang
sampai hutangnya lunas dimana yang dimaksud hutang itu ya nyawa si pelaku pesugihan sehingga sukma para korban yang ditahan di kerajaan jin/siluman baru akan bebas saat si pelaku mati kemudian sukma si pelakulah yang akan menggantikan tempat mereka menjadi budak di kerajaan
jin/siluman tersebut sampai kiamat tiba. Malah terbilang sering arwah Adelia nempel di badan warga sekitar yang hendak berobat ke Umi Darlah seperti nempel di badan ibu tadi bahkan 2 bulan kemudian arwah Adelia juga nempel di badan saya saat pergi berobat lagi ke Umi Darlah. Jadi
bisa dibilang arwah Adelia sulit dikendalikan sepenuhnya oleh pimpinan suruhan si pelaku pesugihan yang mendiami jembatan sehingga terkesan tidak patuh dan malah memberontak.
Menurut keterangan Umi Darlah bukan cuma dirinya dan para 'orang pintar' di wilayah sini yang sudah mencoba menetralisir jembatan tersebut bahkan 'orang pintar' dari wilayah lain sampai luar kabupaten pun sudah didatangkan oleh salah satu keluarga terpandang di Kampung Petir
karena merasa prihatin dan mengkhawatirkan keselamatan warga sekitar dan anggota keluarga mereka yang lewat jembatan. Pada akhirnya semua gagal total karena meski berhasil diusir pun para suruhan gaib itu dengan mudahnya kembali menghuni jembatan sebab saat pembangunannya
ketempelan uang/dana dari si pelaku sehingga jembatan itu seolah menjadi sangkar milik si pelaku sebagai tempat peliharaannya. Oleh karena itu, satu-satunya cara yang paling mungkin dilakukan untuk menetralisir jembatan adalah dengan merobohkannya dulu lalu membangunnya kembali.
Soalnya konon si pelaku melakukan pesugihan kepada sosok siluman buaya putih yang tingkat kesaktiannya terbilang sangat tinggi sehingga hampir mustahil dikalahkan oleh 'orang pintar' pada umumnya termasuk bagi Umi Darlah sekalipun sementara para suruhan gaib yang menghuni
jembatan mungkin masih tergolong pasukan tingkat bawah alias baru kerocoknya sudah cukup menyulitkan apalagi berurusan dengan ratu atau rajanya.
Bagi setiap pasien yang sudah diobati, Umi Darlah selalu memberi air do'a untuk diminum, dimandikan dan dicipratkan ke seluruh
permukaan tembok rumah saat Maghrib juga kemenyan yang harus dibakar dahulu sebelum mencipratkan air mungkin untuk membujuk setiap makhluk gaib itu supaya benar-benar bersedia pergi dan tidak akan mengganggu lagi ibarat anak kecil yang dibujuk permen supaya nurut karena kemenyan
merupakan salah satu makanan kesukaan bagi para makhluk gaib pada umumnya. Terakhir Umi Darlah memberi saran supaya senantiasa eling dan lebih mendekatkan diri kepada Allah serta selalu waspada saat lewat jembatan terutama jangan sampai dalam keadaan pikiran kosong atau melamun
karena keadaan seperti itu umumnya membuat para makhluk halus lebih mudah masuk ke tubuh apalagi suruhan gaib untuk mencari tumbal seperti itu yang jelas sangat mengancam nyawa setiap orang yang lewat jembatan.
Kami pamit pulang dari rumah Umi Darlah sekitar jam setengah 4 sore lebih. Berhubung badan saya masih agak lemas walaupun kesadaran saya terasa mulai kembali sepenuhnya, kami memutuskan naik ojek dari Kampung Ramuanseger yang memakan waktu 10 menitan untuk sampai rumah. Setelah
tidur pulas semalam, barulah esok harinya badan saya terasa mulai normal kembali seperti sedia kala terutama makan pun kembali lancar selepas kemarin yang bahkan tidak nafsu sedikitpun walau perut nyaring terdengar keroncongan.
Berdasarkan kejadian yang nyata saya alami tersebut saya menduga penyebab gangguan di jalan sekitar tanjakan dan belokan di bawahnya mulai meningkat terutama dari tahun 2010 ke atas meski lebih sering dialami oleh orang luar mungkin karena penghuni gaib di lokasi jembatan
sebelumnya terpaksa menjauh dan pindah di sekitar belokan. Terlebih sejak tahun 2016-an ada saran dari seorang ahli spiritual kampung saya yang rumahnya berada tepat di atas tanjakan alias ujung Timur kampung menghimbau kepada setiap orang yang lewat belokan di bawah tanjakan
baik warga kampung maupun orang luar supaya permisi dulu sementara bagi pengendara motor/mobil cukup bunyikan klakson 1 kali atau beberapa kali biar terhindar dari gangguan para penghuni gaib di sana. Seandainya dugaan saya ini tepat, alasan mereka pindah entah karena berhasil
dikalahkan suruhan gaib penghuni jembatan atau sekedar mengalah misal sama kuat hanya saja mereka memilih agak menjauh untuk menghindari bentrokan berkepanjangan.
Meski sebenarnya saya merasa lumayan trauma tetapi setiap hari saya terpaksa masih harus lewat jembatan selama beberapa bulan sampai semester 2 usai. Selama waktu itu gangguan di lokasi jembatan terasa semakin jelas dan nyata bagi setiap orang yang lewat bahkan bau aroma darah
yang biasanya saya cium pas menjelang waktu Maghrib di sekitar jembatan saat itu mulai tercium di tengah tangga sejak pagi hari pas saya lewat jam 8 pagi atau jam 9 pagi. Suruhan gaib penghuni jembatan semakin gencar melakukan upayanya meski kebanyakan berakhir gagal yang membuat
mereka semakin kesulitan mendapatkan korban karena kebanyakan target mereka bisa ditolong oleh Umi Darlah mungkin hanya segelintir orang yang tidak percaya pengobatan alternatif dan tidak mengetahui Umi Darlah saja yang berhasil dijadikan tumbal. Sampai-sampai para suruhan gaib
itu lebih sering keluar dari lokasi jembatan untuk mencari calon korban dengan berkeliaran di beberapa titik di sekitaran kampung terdekat terutama di jalur yang biasa warga gunakan sebagai jalan alternatif selain lewat jembatan. Bahkan warga kampung sekitar yang sedang dalam
keadaan lengah pun tidak luput dari incaran mereka, contohnya seorang warga kampung tetangga di sebelah Barat yang sedang tidur sore mendadak kesurupan penghuni jembatan karena mau diambil sukmanya namun dengan mudah dinetralisir oleh ahli spiritual di kampung tersebut mungkin
karena penghuni jembatan itu mulai melancarkan aksinya jauh dari sarang mereka sehingga tidak mudah menculik bagian sukma orang yang mereka rasuki seperti kejadian yang saya alami sebelumnya. Mungkin inilah alasannya dalam Islam dilarang tidur saat waktu sore karena sangat mudah
bagi makhluk halus untuk merasuki tubuh. Upaya yang dilakukan para suruhan gaib itu sempat membuat setiap warga yang biasa menggunakan jalan alternatif merasa kebingungan mencari solusi namun berhubung efek yang ditimbulkan tidaklah sekuat di lokasi jembatan maka jarang ada yang
berhasil menjadi korban mereka.
Mulai awal semester 3 saya memutuskan pindah kelas dari yang asalnya masuk setiap hari ke kelas yang cukup masuk akhir pekan saja meski waktu itu saat berangkat dan pulang kuliah saya sudah pakai jasa ojek langganan sehingga tidak perlu lagi lewat lokasi jembatan. Setelah 1
tahunan berlalu saya memutuskan naik angkot lagi karena jadwal jemputan ojek langganan itu sering bentrok dengan langganannya yang kerja di pabrik. Saya yang cukup masuk kuliah saat akhir pekan saja lebih memilih menggunakan jalan alternatif yang ada di sebelah Barat dari lokasi
jembatan meski harus loncat di atas beberapa batu sungai yang agak besar untuk menyeberang dan melewati TPU yang ada di sebelah Utara namun saya merasa lebih aman karena para penghuni gaib di sana tentu tidak langsung mengancam nyawa orang yang lewat seperti di lokasi jembatan
walau sebenarnya semenjak diobati oleh Umi Darlah saya tidak mendapati lagi gangguan berarti dari para penghuni jembatan. Akan tetapi kalau turun hujan maka saya terpaksa harus selalu lewat jembatan lagi karena air sungai merendam batu-batu penyeberangan di jalur alternatif namun
setidaknya saya bersyukur tidak harus merasakan ngeri di lokasi jembatan yang mencekam itu sesering 2 tahun sebelumnya 😌
➅ Sepenggal Akhir Cerita Terkait Si Terduga Pelaku

Kabarnya tahun 2005-an silam Kampung Kelewih gempar oleh sebuah peristiwa. Hal itu bermula saat salah satu orang yang tersohor sangat kaya di wilayah sini membangun rumah baru di kampung tersebut, namanya Haji Labatus seorang
kakek yang usianya 70 tahunan kala itu. Dia merupakan warga Kampung Siputair yang letaknya di sebelah Timur Laut dari Kampung Ramuanseger tempat tinggalnya Umi Darlah. Entah sejak kapan kakek itu menjadi orang kaya yang jelas pekerjaannya adalah tengkulak padi dan punya
penggilingan padi pribadi di kampungnya serta lahan sawah yang luas entah berapa petak jumlahnya. Rumahnya pun cukup mewah sebagai orang kaya kampung dan punya 3 orang istri dengan beberapa orang anak serta beberapa orang pembantu di rumahnya tersebut. Meski si kakek kaya raya
yang mana harta kekayaannya itu bisa memberikan lapangan pekerjaan bagi orang banyak untuk bekerja membantu mengolahnya namun warga kampungnya sendiri justru sangat mewaspadainya dan lebih memilih tidak ingin berurusan dengannya. Penyebabnya karena kecurigaan masyarakat terkait
asal muasal harta kekayaannya yang berlimpah ruah tersebut diduga merupakan hasil pesugihan. Bahkan desas-desus tersebut sudah tersebar luas dari mulut ke mulut sehingga diketahui oleh masyarakat wilayah sini yang seperti menjadi rahasia umum.
Meski begitu Haji Labatus senantiasa
bertingkah seperti orang alim selazimnya orang yang sudah menyempurnakan rukun Islam yang ke-5 yaitu pergi berhaji ke Baitullah di Mekkah. Bahkan ia sering menyumbang dana untuk pembangunan fasilitas umum seperti jalan, jembatan, bendungan dan lain-lain juga pembangunan yang
menyangkut urusan keagamaan seperti masjid, pondok pesantren dan yang lainnya. Di Kampung Kelewih ada pondok pesantren yang bisa dibilang menjadi pusat pengajaran agama Islam di wilayah sini yang jumlah santrinya semakin meningkat sehingga perlu membangun pondok yang lebih besar
untuk menampung para santri putra & putri yang mayoritas masih muda itu. Nah, Haji Labatus merupakan santri tetap yang selalu menghadiri pengajian mingguan di pesantren itu sekaligus donatur langganan yang kerap menyumbang untuk pembangunan pondok bagi para santri di sana.
Terlebih dari kabar yang didengar oleh warga Kampung Kelewih, alasan Haji Labatus berhijrah ke kampung mereka yaitu demi bisa lebih merasa damai & tenteram untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah di kampung santri itu meskipun banyak orang yang langsung menyangsikannya dengan
mengernyitkan keningnya sambil tersenyum sinis dengan meruncingkan ujung sebelah bibirnya seolah menganggap itu cuma sebuah lelucon konyol yang sama sekali tidak lucu.
Setelah rumah barunya di Kampung Kelewih selesai dibangun, Haji Labatus pun langsung menempatinya walau itu cuma
sebagai tempat singgahnya karena dia tetap tinggal di rumah utamanya yang ada di Kampung Siputair sehingga rumah baru itu kadang kosong tanpa ada yang menghuni. Hal itu otomatis membuat warga Kampung Kelewih waspada sambil bersiaga dengan mengawasi sepak terjang si kakek selama
berada di sana meski bagi mereka yang belum dewasa tetap bersikap biasa saja karena memang belum mengerti apa-apa. Itulah celah yang dimanfaatkan si kakek dalam melancarkan aksinya untuk mencari mangsa.
Tersebutlah seorang gadis remaja yang baru lulus SD, namanya Adelia. Dia
tidak melanjutkan sekolah karena kebiasaan masyarakat di wilayah sini umumnya anak perempuan yang sudah mengenyam pendidikan dasar akan langsung dinikahkan atau mondok terlebih dahulu selama 2 sampai 3 tahun setelah dianggap cukup menimba ilmu agama baru ia akan dinikahkan.
Alasannya karena anak perempuan dianggap tidak akan menghasilkan apa-apa sekalipun sekolah tinggi-tinggi jadi percuma, ujung-ujungnya pasti akan berakhir di dapur untuk mengurusi kebutuhan suami dan anaknya nanti. Keadaan itu pun mulai berubah sejak tahun 2010 setelah berdiri
beberapa pabrik di dekat wilayah sini yang justru membutuhkan wanita sebagai tenaga kerja utamanya sekitar 90%-an lebih. Hal tersebut mulai secara berangsur-angsur membuat anak-anak perempuan di wilayah sini bisa melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi minimal sampai SMP
yang setelah lulus mereka akan langsung diserap untuk bekerja di pabrik sehingga perlahan apa yang terjadi dalam sinetron Dunia Terbalik pun menjadi kenyataan bagi para lelaki dan suami di wilayah sini yang meluas sampai sekabupaten karena yang jauh dari pelosok pun ikut tersedot
bekerja di pabrik tersebut daripada harus jauh-jauh ke luar daerah apalagi luar negeri. Maka lambat laun kasus kehamilan di luar nikah pun semakin merebak akibat pacaran yang kebablasan juga tingkat perceraian pun semakin meningkat karena masalah perselingkuhan serta naluri
wanita yang ingin mencari lelaki yang lebih tampan atau mapan ataupun keduanya.
Adelia yang kala itu masih nganggur karena belum pasti akan dinikahkan atau mondok, pagi itu sedang asyik bermain dengan beberapa temannya. Kebetulan ada seorang kakek yang tak lain dan tak bukan
adalah Haji Labatus lewat di dekatnya sambil memberi uang Rp. 500 untuk jajan. Lalu Adelia membeli permen di warung dan mengemilnya sambil bermain. Sehabis main kemudian Adelia pulang ke rumah dan menceritakan apa yang terjadi tadi kepada ibunya. Setelah mendengar penuturan
Adelia, si ibu langsung memarahinya karena sembarangan menerima uang dan membelikannya apalagi dari orang yang paling diwaspadai oleh orang-orang. Tentu itu bukan tanpa alasan karena si ibu merasa khawatir dan takut kalau terjadi hal buruk terhadap Adelia akibat uang yang tidak
seberapa itu.
Kekhawatiran ibunya pun tampaknya menjadi kenyataan setelah siangnya Adelia didapati terkulai lemas di rumahnya sehingga disuruh berbaring untuk beristirahat. Sorenya keluarganya pun seketika panik setelah melihat Adelia mendadak kejang-kejang dengan mulutnya yang
berbusa. Tak berapa lama Adelia langsung meregang nyawa dan dinyatakan meninggal dunia. Pihak keluarga yang sadar kalau Adelia meninggal secara tidak wajar langsung berkonsultasi dengan beberapa orang pintar. Kemudian dilakukan pengajian Qur'an berjama'ah di hadapan jenazah
Adelia karena konon bila hal itu dilaksanakan bisa saja orang yang meninggal secara tidak wajar ataupun mengalami mati suri maka ia akan mendadak hidup kembali layaknya orang yang siuman dari pingsan. Akan tetapi setelah dilakukan beberapa upaya tetap tidak ada perubahan maka
akhirnya pihak keluarga pun memutuskan untuk memandikan jenazah Adelia dan mengebumikannya malam itu juga di pemakaman keluarga yang terletak di pinggir Kampung Kelewih.
Warga yang sudah mengetahui kronologi Adelia sampai tubuhnya terbujur kaku dari keterangan pihak keluarga
sedari malam masih mengekang rasa geram & emosi mereka terhadap si terduga pelaku karena masih dalam suasana berkabung. Esok paginya segerombol massa yang sudah terhimpun langsung bergerak menuju kediaman Haji Labatus untuk meluapkan kekesalan mereka terhadapnya. Massa kompak
berteriak-teriak di depan rumah itu dengan berbagai cacian dan sumpah serapah sambil menyuruh si kakek minggat dari kampung mereka. Tak kunjung ada tanggapan dan tak terlihat batang hidungnya si kakek dari dalam rumah ke hadapan mereka minimal untuk sekedar mengonfirmasi
kecurigaan mereka membuat massa semakin yakin dengan apa yang sudah ada di benak mereka sehingga tindakan anarkis pun tidak dapat terelakkan. Massa mulai melempari rumah itu dengan berbagai macam kotoran hewan sampai manusia juga bebatuan dari yang ukurannya lumayan kecil sampai
yang agak besar tak pelak menghujam kediaman si kakek yang mana bau kotoran itu layaknya gas air mata yang masuk lewat bolongan di kaca dan retakan di dinding dapat memaksa siapapun yang ada di dalam rumah untuk keluar. Setelah kekesalan warga agak terlampiaskan dan rasa lelah
mulai menggelayuti badan mereka maka penghakiman massa itu pun disudahi. Seusai diperiksa dipastikanlah ternyata rumah itu kosong tak ada siapapun di dalamnya. Kemungkinan si kakek yang telah memperkirakan reaksi warga kampung terkait kematian Adelia sedari kemarin langsung
pulang ke Kampung Siputair untuk mengamankan dirinya.
Beberapa hari setelahnya Haji Labatus yang memang sudah berada di rumah utamanya itu pun mendengar berita pengrusakan rumah singgahnya oleh amukan massa. Peristiwa tersebut jelas membuat kehadiran si kakek ditolak oleh warga
Kampung Kelewih. Selama beberapa tahun rumah singgah itu dibiarkan kosong tak berpenghuni karena mustahil bagi si kakek untuk tetap melanjutkan tinggal di kampung tersebut. Sampai ada orang dari sekitaran ibukota yang pindah ke Kampung Kelewih lalu membeli rumah singgah itu dan
mendiaminya sebagai tempat tinggal setelah diperbaiki. Selama waktu itu pula Haji Labatus tidak pernah sekalipun menampakkan batang hidungnya di hadapan warga Kampung Kelewih minimal untuk sekedar memberi penyangkalan terkait semua kecurigaan terhadapnya selama ini ataupun
menempuh jalur hukum untuk memperkarakan kasus pengrusakan massa sebagai bentuk upaya pemulihan nama baiknya di mata khalayak yang telah menggunjingnya selama ini tak pelak membuat masyarakat di wilayah sini yakin kalau dugaan mereka selama ini benar adanya yang memang sudah
menjadi rahasia umum.
Bahkan pada tahun 2009-an saat suruhan gaib penghuni jembatan sudah kesulitan mencari calon korban dari orang jauh yang lewat otomatis membuat permintaan tumbal pun jadi tidak terpenuhi tepat sesuai waktunya. Haji Labatus pun kecolongan saat istri keduanya
ditemukan tewas secara mengenaskan di kamar mandi dimana kondisi mayatnya yang telanjang bulat mungkin sedang mandi dengan lubang yang menganga sebesar kepalan tangan dari kemaluannya sampai mulut yang mengeluarkan darah segar seperti bekas jalur yang dilewati oleh seekor ular
yang sekeras logam. Masyarakat yang mendengar berita tersebut pun kompak meyakini bahwa istri keduanya si kakek kemungkinan menjadi salah satu korban tumbal pesugihan suaminya sendiri.
Katanya selain istri keduanya, mereka yang bekerja di rumah Haji Labatus pun tidak jarang yang
terdengar kabar kematiannya yang memang tak wajar saat jadwal pemberian tumbal sudah melewati batas waktunya. Akan tetapi si kakek tidak begitu kesulitan mencari penggantinya karena selalu saja ada orang baru lagi yang bekerja di rumahnya baik orang luar yang tidak tahu apa-apa
maupun orang wilayah sini yang terpaksa mempertaruhkan nyawanya akibat himpitan kebutuhan hidup. Hal tersebut membuat si kakek tak kehabisan stok cadangan tumbalnya sehingga tak terdengar berita lagi kalau ada anggota keluarga Haji Labatus baik istrinya maupun anaknya yang
meninggal secara tak wajar lagi di telinga masyarakat.
Menilik penyebab kemalangan Adelia sampai menjadi tumbal pesugihan dikarenakan uang yang tak seberapa mungkin pada dasarnya memang masuk akal orang bisa terkecoh karena tak sedikit orang yang takkan menduga kalau uang receh
bisa menjadi sarana penumbalan nyawa orang yang mana berbeda kalau uang yang diterima ataupun ditemukan itu nominalnya cukup besar tentu setiap orang pun akan merasa janggal karena pasti ada maksud tertentu di baliknya, itulah upaya yang sukses dilakukan oleh Haji Labatus dalam
mengelabui korbannya apalagi yang masih tergolong anak-anak. Seingat saya pun periode tahun 2005 & 2006 yang mana 2 tahunan sebelum teror di jembatan muncul, saya yang setiap hari lewat jembatan memang pernah beberapa kali menemukan uang yang tergeletak di tengah tangga pinggir
Kampung Jengkolnunduk (Utara) begitu pun ibu saat bepergian ke pasar. Nominal uang-uang itu kadang cuma ratusan, ribuan, puluhan ribu sampai ratusan ribu Rupiah tetapi kejanggalannya adalah posisi & letak uang-uang tersebut dalam keadaan rapi berjejer seperti ada orang yang
sengaja naruh di sana sangat berbeda dengan uang yang memang kebetulan jatuh dari saku atau dompet orang. Itulah alasannya uang-uang tersebut seperti diabaikan begitu saja oleh orang-orang yang lewat termasuk saya & ibu kecuali bagi orang yang tidak tahu kalau uang biasa dipakai
sebagai sarana oleh pelaku pesugihan atau orang yang memang sedang sangat membutuhkan uang mungkin akan tergiur untuk memungutnya. Walau sebenarnya saya juga sempat tergiur tapi berhubung saya sayang nyawa sendiri maka saya senantiasa mengurungkannya. Mungkin karena dirasa kurang
efektif lagi maka si pelaku pun mengubah taktiknya dengan menempatkan sejumlah suruhan gaib di jembatan yang memang sudah ketempelan uangnya saat pembangunan dulu.
Pertengahan tahun 2013 saya mendengar rincian kabar tentang peristiwa yang pernah terjadi di Kampung Kelewih yang menyangkut kronologi nasib malang yang menimpa Adelia tersebut dari adik sambil ngobrol di kursi ruang tengah yang bersumber dari cerita teman-temannya dan penuturan
beberapa orang dewasa yang sengaja memberitahunya maupun kebetulan terdengar saat mereka sedang bercengkerama di dekatnya. Sehabis mendengarnya ingatan di benak saya beberapa bulan sebelumnya pun ada yang terpelatuk yang memicu saya untuk mengenang kembali kejadian yang memberi
bekas trauma yang takkan pernah hilang sepenuhnya.
2 hari sebelum insiden di jembatan yang hampir merenggut nyawa saya tepatnya pada hari Sabtu saat saya pulang dari pengajian yang rutin diadakan seminggu sekali di pesantren Kampung Kelewih yang memang terbuka untuk masyarakat
umum dan jama'ah yang datang pun terbilang membeludak karena mereka yang hadir berasal dari berbagai wilayah sekabupaten bahkan ada pula yang dari kabupaten tetangga sehingga jama'ah yang duduk di dalam ruangan pun sudah biasa berdesakan sampai beradu lutut juga sampai meluber ke
pinggir luar ruangan meski kurang terdengar apa yang sedang diaji karena memang tidak memakai pengeras suara sebab merupakan pesantren tradisional yang tetap menjaga ketradisionalannya sebagai warisan sekaligus amanat para pendahulunya untuk bisa lebih memahami dan menyelami ilmu
agama seperti yang mereka ajarkan yang mana memang tersohor ke-zuhud-annya dan itulah yang menjadi nilai lebih seolah menjadi magnet yang berhasil menarik banyak jama'ah selama ini. Saya biasa mengambil jalur pulang lewat gang pinggir Kampung Kelewih karena sangat lowong
dibanding gang utama yang harus berjalan merayap sambil berdesakan serta dipenuhi para pedagang di sepanjang jalur layaknya sebuah pasar yang akan langsung bubar setelah para jama'ah pulang meninggalkan Kampung Kelewih.
Saat hendak menapaki jalan gang kosong itu terlihat 2 orang
lelaki yang telah lebih dulu memasukinya yang sudah berjalan sekitar 5 langkah di depan dimana yang satu seorang kakek tua usia 80 tahunan sedangkan yang satunya lagi usia 40 tahunan. Setelah diperhatikan ternyata lelaki yang lebih muda itu berjalan sambil menggandeng badan si
kakek di sebelah kanan untuk membantunya berjalan malah lebih tepatnya menyeret kakinya sejengkal demi sejengkal seukuran panjang telapak kakinya karena tubuh si kakek terlihat seperti berdiri tegak sambil mematung dengan kedua lengannya kaku lurus ke bawah. Saya mengira si kakek
mungkin terkena stroke akibat pembuluh darah di otaknya ada yang pecah sehingga menimbulkan kelumpuhan jaringan syaraf di tubuhnya yang termasuk parah bahkan secara sepintas saya melihat lelaki yang lebih muda itu malah seperti sedang menggandeng tubuh seseorang yang sudah
terbujur kaku (mayat). Penampilan keduanya selazimnya jama'ah pengajian yang lainnya dengan setelan baju koko, sarung, peci & serban di pundak mereka masing-masing. Menilik keadaannya saya langsung berpikir kalau terus membiarkan mereka di depan sambil menguntit di belakang tentu
bakalan sangat lama. Maka setelah hampir 1 langkah di belakang mereka, saya hendak mendahului mereka sesuai tata krama yang berlaku.
👳‍♀️ “Parunten.”, (Maaf, permisi.) ucap saya untuk meminta ijin lewat karena saya pikir kalau tetap menguntit di belakang mereka justru secara tidak langsung seperti ngeburu-buru mereka supaya jalan cepat-cepat.
👳 “Oh, mangga ti payun.”, (Oh, silahkan duluan.) balas lelaki yang lebih muda itu dengan tersenyum ramah sambil menghentikan langkahnya sejenak supaya lebih mudah membiarkan saya melewati mereka di gang yang lebarnya 2 meteran lebih itu.
👳‍♀️ “Punten ah kapayunan.”, (Maaf ya keduluan.) ucap saya kembali sembari agak membungkukkan badan dengan tangan kiri lurus ke bawah sebagai isyarat numpang lewat pada umumnya dari celah pinggir sebelah kanan si kakek.
👴 “Ngan ngabuburu, nya teu neuleu leumpang ge hese⁉️”, (Malah ngeburu-buru, memangnya tidak lihat berjalan saja susah⁉️)
cerca si kakek setelah saya berada sekitar 3 langkah di depan mereka yang mana si kakek sepertinya malah merasa tersinggung karena saya justru malah mendahului jalannya.
👳 “Entos, entos.”, (Sudah, sudah.) terdengar suara lelaki yang lebih muda berusaha menenangkan si kakek.
Setelah mendengar suara marah di belakang saya itu saya cuma mengerutkan dahi sambil melancipkan sebelah ujung bibir karena saya merasa itu tanggapan yang sangat tidak lazim apalagi dari sosok yang sudah sepuh seperti itu. Sambil tetap berjalan saya pun berpikir,
“Kok bisa ya orang setua itu bersikap pemarah dan sangat tidak bijaksana selazimnya orang yang sebaya dengannya pada umumnya yang mana tentu punya pengalaman hidup sangat banyak apalagi dengan kondisi yang sudah renta juga lumpuh❔”.
Tidak mau ambil pusing juga tidak ingin memasukkannya ke hati saya cuma berpikir mungkin si kakek merupakan pribadi yang sangat tempramental juga bisa jadi akibat depresi oleh keadaannya yang lumpuh. Padahal biasanya orang-orang yang sudah tua senantiasa memberikan nasihat-
nasihat dalam hidup dan bawaannya pun adem lebih mengingatkan kita akan alam akhirat sebab hidup di dunia ini takkan selamanya, bukti nyatanya keadaan mereka yang secara umur menunjukkan ajal sudah menanti untuk menjemput mereka.
Seusai berbincang dengan adik, langsung terbersit dalam pikiran tentang sosok kakek yang berpapasan dengan saya di lokasi jembatan yang sebenarnya merupakan penampakan wujud pocong sebagai pelaku yang berhasil menculik setengah sukma saya beberapa bulan sebelumnya.
Setelah saya ingat-ingat penampilannya memang sama persis dengan si kakek pemarah yang saya lewati 2 hari sebelumnya yang saya duga merupakan orang yang telah membuat gaduh wilayah sini oleh ulahnya yaitu Haji Labatus. Jadi alasan perbedaan wujud yang ingin ditampakkan si pocong
dengan penampakan menurut penglihatan mata saya kemungkinan karena apa yang saya lihat justru menunjukkan sosok majikan yang menyuruh si pocong untuk mencari tumbal sebagai pelaku pesugihan. Saya sempat benar-benar terkecoh dan sama sekali tidak menyadarinya karena sebelumnya
saya cuma melihat bagian belakang dan sekilas bagian pinggir sebelah kanan badan si kakek pemarah serta cara jalannya yang jauh berbeda dimana penampakan kakek yang saya lihat berjalan lancar layaknya orang normal yang tidak lumpuh.
Sedangkan terkait penampakan sosok-sosok lain yang pernah saya lihat di titik maupun jalur angker lainnya berdasarkan penglihatan mata saya ini ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan bisa seperti itu, antara lain:
🐅 Merupakan sosok pelaku ilmu hitam ataupun majikan si penghuni gaib di tempat tersebut baik yang merupakan suruhan gaib untuk berbuat sesuatu maupun hanya sekedar menjaga titik tersebut dengan alasan tertentu;
🐅 Berupa penampakan 'samaran' yang dimunculkan oleh penjaga gaib (khodam) saya layaknya tampilan hasil sorotan proyektor karena kata nenek saya khusus keturunannya kalau sedang bepergian malam hari ataupun mau lewat lokasi/tempat angker cukup sambat leluhur saya atau boleh
sambil diiringi dengan menghentak bumi sebanyak 3 kali setelahnya maka di belakang saya akan muncul sosok gaib berwujud harimau yang akan mengawal perjalanan saya yang mana sosok tersebut bisa jadi merupakan sukma leluhur saya yang dulunya mempunyai ilmu yang didapat dari makhluk
gaib berwujud harimau yang memang biasa dimiliki oleh leluhur-leluhur orang Sunda pada masa lampau yang biasanya untuk penjagaan & perlindungan dari ancaman/serangan gaib atau mungkin hanya sekedar peliharaan gaib milik leluhur saya dulu; atau
🐅 Memang bentuk pertolongan dari Yang Maha Kuasa supaya saya tidak merasa takut saat bertatap muka dengan sosok-sosok gaib yang berwujud menyeramkan sebagai sesama ciptaan-Nya yang tiada daya & upaya di hadapan-Nya.
Setelah kontroversi kematian Adelia, Haji Labatus memang tidak pernah menampakkan dirinya lagi di Kampung Kelewih tetapi si kakek tetap senantiasa menyumbang dana untuk pembangunan di pondok pesantren dan beberapa fasilitas umum lainnya di sekitar Kampung Kelewih. Beberapa tahun
berselang setelah amarah warga sudah adem kembali dan tidak adanya bukti otentik yang mustahil ditemukan terkait kasus Adelia maka Haji Labatus pun mulai berani kembali datang lagi ke Kampung Kelewih mengendarai mobilnya sambil ditemani beberapa orang yang membantunya untuk
sekedar menghadiri pengajian mingguan di pesantren itu sehingga saya bisa berpapasan dengannya secara kebetulan di gang itu.
Malah anak perempuan Haji Labatus pun ada yang mondok di pesantren Kampung Kelewih sesuai kebiasaan masyarakat wilayah sini yang berlaku bagi mereka yang
tidak melanjutkan sekolah atau bekerja di pabrik yang biasanya tetap dipegang teguh oleh kalangan keluarga yang agamis maupun keluarga yang cukup berada sehingga tidak perlu menyuruh atau memaksa anak perempuannya bekerja di pabrik bahkan mungkin malah mereka yang melarangnya
bekerja. Tahun 2016-an salah satu anak tetangga yang terbilang masih kerabat juga mondok di pesantren Kampung Kelewih selain demi menimba ilmu agama juga sambil menunggu ada lelaki yang melamarnya untuk menikah karena meski keluarganya tidak mampu menyekolahkannya ke jenjang yang
lebih tinggi tetapi mereka juga tidak mengizinkannya bekerja di pabrik. Ia tinggal di pondok santri putri yang letaknya tepat di pinggir sungai dan sangat dekat dengan bendungan yang terbilang belum begitu lama dibangun yang mana baik pondok maupun bendungan dana pembangunan
keduanya termasuk berasal dari sumbangan Haji Labatus. Setelah 2 mingguan berselang ternyata ia memutuskan pulang karena merasa sangat tidak nyaman tinggal di pondok santri putri apalagi dengan keberadaan anak perempuan Haji Labatus sebagai teman mondoknya di sana semakin
membuatnya bertambah tidak betah untuk terus menimba ilmu agama di sana. Alasannya karena saban malam selalu saja ada teman mondoknya yang kesurupan penghuni jembatan meski selalu bisa diatasi oleh kyai di sana selaku pembina pesantren dengan mengeluarkan setiap suruhan gaib yang
telah berhasil merasuki para santrinya. Penyebabnya kabarnya pondok, bendungan dan beberapa titik sepanjang alur sungai telah dijadikan semacam tempat mangkal bagi para suruhan gaib itu untuk mencari korban meski jembatan tetap dijadikan semacam markas bagi mereka. Juga ada
semacam kejanggalan yang terasa di sana karena anak perempuan Haji Labatus kerap menerima kiriman makanan yang lumayan banyak beserta perbekalan untuk beberapa hari ke depan dari orangtuanya di rumah lalu sering menawari teman-teman mondoknya untuk ikut memakannya tetapi tetangga
saya beserta temannya yang lain selalu menolaknya sebisa mungkin meski itu merupakan makanan yang enak-enak dan lezat-lezat karena mereka sudah tahu desas-desus terkait ayahnya selama ini. Pada akhirnya tetangga saya pun lebih memilih tinggal di rumah sambil membantu orangtuanya
berjualan di warung serta melanjutkan mengaji di rumah ustadzah kampung saya bareng adik-adik perempuannya dan teman-temannya walau kebanyakan yang ngaji di sana masih anak kecil namun ada beberapa yang sudah agak besar termasuk dirinya.
Semakin ke sini Haji Labatus semakin kesulitan mendapatkan korban sehingga membuatnya semakin gencar menyumbang dana pembangunan fasilitas umum di setiap tempat yang dianggap dapat menjerat banyak calon korban dalam perangkapnya. Hal tersebut membuat masyarakat semakin waspada
terhadap pergerakannya karena sudah sejak dulu ada saja oknum dalam setiap pembangunan yang mengabaikan fenomena-fenomena yang sudah nyata terjadi di lapangan seolah mengabaikan keselamatan banyak orang nantinya yang penting ia dapat keuntungan lebih padahal nyawanya sendiri
jelas terancam mungkin akibat terbutakan oleh yang namanya uang. Namun usaha kerasnya tidak sesuai yang diharapkan karena masyarakat semakin meningkatkan perlindungan diri dari hal gaib terutama saat melewati titik-titik yang dianggap rawan menjadi sarana para suruhan gaibnya
beraksi.
Termasuk di lokasi jembatan para suruhan gaib itu semakin ganas dalam mengincar korban namun kebanyakan orang yang lewat sudah punya antisipasinya. Bermula saat arwah gentayangan Adelia merasuki tubuh salah seorang warga lagi untuk memperingatkan bahwa lokasi jembatan
semakin berbahaya bagi setiap orang yang lewat karena si pelaku pesugihan masih belum mendapatkan tumbal lagi. Sosok Adelia pun memberi saran untuk mengantisipasinya agar setiap orang yang lewat jembatan senantiasa mengamalkan do'a 'Arsyi sekaligus membawa tulisan do'anya dalam
kertas yang disimpan di dada untuk lebih memaksimalkan pertahanan diri. Himbauan Adelia pun tersebar cukup cepat dari mulut ke mulut dan dilaksanakan oleh kebanyakan orang yang merasa punya kebutuhan untuk lewat jembatan. Bahkan kitab tawassul dan sholawat yang terdapat tulisan
do'a 'Arsyi pun laris dibeli masyarakat di penjual kitab yang setiap minggu membuka lapak di pasar 'kaget' saat pengajian mingguan di Kampung Kelewih. Itu seperti menjadi berkah tersendiri buat para pedagang kitab yang dagangannya laku keras sedangkan masyarakat ikut tertolong
dengan dagangannya tersebut karena terbukti cukup ampuh menanggulangi keganasan penghuni jembatan yang membuat aura lokasi jembatan terasa semakin mencekam oleh kengerian yang tercipta. Terkecuali untuk wanita yang sedang haid, mereka sangat dianjurkan tidak diperbolehkan lewat
jembatan dulu karena tidak boleh (haram) membawa do'a 'Arsyi maupun tulisan ayat Al-Qur'an lainnya sesuai hukum syari'at.
Sudah jarang terdengar ada kabar orang yang menjadi korban penghuni jembatan lagi, entah karena masyarakat yang semakin meningkatkan perlindungan dirinya atau
berkat kehadiran beberapa ahli spiritual sebagai jalan pengobatan alternatif terutama Umi Darlah atau juga ada faktor lain yang berhasil meredam sepak terjang para suruhan gaib di jembatan❔ Pada akhirnya Haji Labatus pun mulai melakukan pergerakan di kampungnya sendiri padahal
selama ini ia beraksi di kampung lain terkesan demi menjauhkan sidik jarinya dari setiap kasus yang mencuat dalam pergunjingan di masyarakat tentangnya. Mungkin sekedar bentuk upaya putusasanya, Haji Labatus mulai gencar menyumbang dana pembangunan fasilitas umum di Kampung
Siputair terutama perbaikan jalan. Tak lama berselang di titik yang sudah diperbaiki tersebut mulai terdengar kabar bahwa pengguna jalan baik pejalan kaki maupun pengguna motor cukup sering mengalami kecelakaan setelah tiba-tiba jatuh tanpa sebab yang jelas sampai berujung
kematian padahal cuma menderita lecet dan luka ringan lainnya. Peristiwa janggal tersebut menjadi awal dimulainya teror bagi warga kampung si terduga pelaku pesugihan selama ini yang telah berbuat onar di kampung lain maupun bagi orang luar yang punya urusan ke Kampung Siputair &
sekitarnya saat lewat lokasi jalan tersebut.
Sejak pertengahan tahun 2014 saya memang sudah lumayan jarang lewat jembatan kecuali saat turun hujan saja. 2 tahun berselang sampai pertengahan tahun 2016, sore itu hujan turun sangat deras disertai kilatan petir yang menyambar-nyambar entah dimana dengan beberapa kali suara
geledek yang membuat gendang telinga berdengung otomatis membuat volume air sungai meluap. 3 hari kemudian saat saya lewat jalur alternatif, saya mendapati bebatuan besar yang berjejer di sungai untuk menyeberang sudah bergeser beberapa meter akibat terseret arus yang terlampau
deras sebelumnya sehingga tidak bisa digunakan lagi seperti sedia kala. Hal tersebut membuat saya amat tercengang karena sejak saya kecil sederas apapun hujan turun bebatuan tersebut tidak pernah bergeming dari posisinya sedangkan kali ini sampai bisa begitu saking hebatnya
terjangan arus 3 hari yang lalu. Di jalur penyeberangan sekarang cuma menyisakan bebatuan agak kecil meski masih bisa dibuat pijakan namun sekalipun tidak hujan kalau volume air sungai agak meningkat maka bebatuan tersebut langsung terendam sehingga tidak bisa dilewati lagi.
Semenjak saat itu saya pun terpaksa harus lumayan sering lewat jembatan lagi meski saya tidak pernah mendapat gangguan berarti lagi namun rasa ngeri akibat trauma beberapa tahun yang lalu senantiasa tetap ada. Dengan catatan tanpa ada keraguan sedikit pun dan rasa penasaran lagi,
kalau sudah petang atau malam maka saya lebih memilih naik ojek dari pusat kecamatan sesuai saran ibu sejak awal yang sudah terbukti tepat.
Dari awal tahun 2016 RW kampung saya & Kampung Jengkolnunduk (Utara) kompak mengajukan proposal pembangunan ke desa masing-masing supaya jalan pintas antar kedua kampung bisa lebih dimaksimalkan setidaknya bisa dilalui mobil. Menjelang akhir tahun 2016 proposal tersebut pun
disetujui yang otomatis jadi proyek pembangunan 2 desa & 2 kecamatan yang mana sungai dan jembatan merupakan batas pemisah & penghubung keduanya. Proyek tersebut bertujuan untuk membangun jalan setapak di kedua kampung supaya minimal bisa dilewati 1 mobil barulah kalau nantinya
sudah beres maka jembatan akan dirobohkan lalu dibangun kembali untuk diperbesar & diperlebar seukuran jalan di kedua sisi. Proyek tersebut tentu membuat warga kampung sekitar sini sumringah karena selain bakalan punya jalur alternatif baru untuk lewat kendaraan juga teror di
jembatan bisa beneran lenyap sesuai saran beberapa orang pintar di wilayah sini sejak bertahun-tahun yang lalu. Akan tetapi pada akhirnya proyek tersebut berakhir mangkrak akibat dana pembangunan yang terpangkas cukup banyak dengan alasan yang tidak jelas serta adanya kejutan
menyangkut jembatan di penghujung tahun 2018 lalu seolah mantap menghentikan proyek yang belum tuntas itu.
Sekitar akhir bulan Oktober 2018 sore itu hujan turun luar biasa deras disertai angin yang berhembus kencang mirip topan juga kilatan-kilatan petir yang membuat jantung terasa mau copot saking kaget sambil kedua tangan yang harus menutupi telinga seolah suara geledek yang
terdengar bisa membuat tuli saking kerasnya bahkan air yang meluber dari selokan memenuhi jalanan kampung mirip banjir di ibukota. Saat itu warga cuma bisa meringkuk di dalam rumah namun ada pula yang keluar untuk adzan sebagai upaya untuk meredakan situasi yang sangat
mengkhawatirkan tersebut sesuai yang dianjurkan para ulama. Menjelang jam 6 petang hujan mulai reda diiringi perbincangan warga terkait peristiwa barusan bisa jadi sebuah pertanda adanya jenazah yang tidak diterima bumi sehingga harus dihanyutkan ke sungai atau meninggalnya
seseorang yang punya ilmu hitam yang memang telah meresahkan masyarakat di suatu wilayah. Malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya dengan cuaca dingin sehabis hujan sehingga membuat warga serentak masuk rumah lebih awal serta langsung mengunci semua pintu & jendela masing-
masing. Esok paginya yang cukup cerah mulai tersiar berita dari mulut ke mulut bahwa Haji Labatus telah meninggal terlebih tetangga saya memang ada yang masih kerabat istri ke-3 Haji Labatus sehingga kabar tersebut cukup mudah sampai. Setelah mendengarnya membuat setiap orang
dalam keadaan dilema antara turut berbelasungkawa atas kematian sesama manusia atau merasa lega bercampur senang karena sumber teror di jembatan selama ini sudah tiada. Hal inilah yang seolah menyebabkan dipastikannya penghentian rencana pembangunan ulang jembatan selama ini
karena sekarang orang-orang menganggap lokasi jembatan sudah tak semengerikan dulu sehingga lewat pun terasa lebih aman. Sepertinya hal itu memang terbukti adanya karena saya pun sudah tidak mendengar lagi desas-desus kasus yang dialami warga terkait jembatan dan yang saya
rasakan saat lewat pun aura lokasi jembatan sudah tidak segelap & sekelam sebelumnya sekarang terasa lebih terbuka & terang meski kesan angkernya tetap terasa sehingga tetap harus waspada dan menjaga sikap untuk saling menghargai & menghormati dengan penghuni gaib di sana sebagai
sesama ciptaan Tuhan.
Sedangkan Umi Darlah sejak menjelang akhir tahun 2017 sudah jarang menerima tamu untuk berobat lagi karena ia sendiri pun sudah sering sakit-sakitan dan setelah diperiksa ke dokter pun didapati adanya semacam komplikasi penyakit yang dideritanya. Hal tersebut membuat saya
prihatin karena sangatlah wajar setelah bertahun-tahun lamanya menolong ribuan orang yang berobat padanya otomatis ada ribuan makhluk gaib yang dendam & ribuan dukun yang memusuhi Umi Darlah dengan berbagai macam serangan yang ditujukan padanya tentu akan berdampak pada kesehatan
badannya secara fisik. Saya cuma bisa berdo'a, semoga Umi Darlah diberikan kesembuhan & kesehatan dari segala penyakitnya sehingga dapat kembali beraktivitas dan beribadah selancar mungkin. 𝘼𝙢𝙞𝙣.
Sebagai penutup cerita, kesimpulan yang saya dapat dari kisah ini adalah ada beberapa hal yang biasa dipakai sarana untuk mencari tumbal pesugihan sehingga patut diteliti & diwaspadai demi keselamatan diri & keluarga yaitu:
1⃣ Uang menjadi favorit sebagai sarana teratas sehingga janganlah gegabah memungut uang di jalan maupun menerima pemberian dari orang lain apalagi dari orang yang telah dipergunjingkan & dicap sebagai pelaku pesugihan di suatu tempat;
2⃣ Benda tertentu yang kemungkinan sudah dijampi-jampi bisa berupa makanan, air atau barang lainnya. Jadi jangan gegabah mengonsumsi makanan & minuman dari sembarang orang apalagi dari orang tak dikenal karena yang masuk ke dalam tubuh itu sangat ampuh digunakan sebagai sarana
untuk menyusupkan kiriman gaib ke badan korban malah bisa dengan mudah masuk dan menetap di aliran darah (syaraf) yang kalau dibiarkan semakin lama maka akan semakin menyatu erat dengan tubuh sehingga kalau sudah bertahun-tahun malah bisa mustahil dikeluarkan/dinetralisir
sekalipun oleh orang pintar yang berilmu tinggi kalaupun bisa tentu akan membutuhkan waktu lama dalam proses pengobatannya. Juga jangan gegabah menerima pemberian barang terutama berupa hadiah ataupun kiriman paket yang entah dari siapa dan apa tujuannya; serta
3⃣ Fasilitas umum yang menyangkut kepentingan orang banyak. Terutama untuk panitia proyek/pembangunan janganlah gegabah menerima sumbangan baik berupa dana maupun bahan baku yang dibutuhkan dari seseorang apalagi yang punya kontroversi di masyarakat karena keselamatan diri dan
banyak orang yang dipertaruhkan di kemudian hari yang mana tindakan gegabah tersebut termasuk perbuatan dholim yang merupakan dosa besar karena dapat merugikan banyak orang nantinya. Dan kalau fasilitas tersebut sudah terlanjur menjadi sarana praktek ilmu hitam maka harus kompak
dengan dirundingkan bersama untuk mencari solusinya, jangan sampai dibiarkan menunggu berjatuhan banyak korban dulu.
Sekian saran dari saya ini sekedar bentuk upaya pencegahan dan antisipasi terjadinya hal serupa dalam cerita di tempat/daerah lain serta bukan menganjurkan berprasangka buruk (su'udhon) melainkan supaya bersikap lebih waspada karena sifat waspada merupakan salah satu ciri sifat
insan yang beriman kepada Allah SWT contohnya sayyidina Umar Al-Faruq r.a. sang kholifah Islam ke-2 & salah satu sahabat terdekat Nabi Muhammad ﷺ 😁✌
Akhir kata, saya harap mungkin ada hikmah dari tulisan ini yang bisa dipetik oleh sekalian pembaca yang kebetulan menjadikan coretan saya ini sebagai bahan bacaan untuk sekedar mengisi waktu luang anda
serta mohon maaf bila ada kesalahan penulisan dan hal yang kurang berkenan di hati setiap pembaca semuanya 🙏
Semoga semua korban yang menjadi tumbal dalam tragedi jembatan kampung saya & sekitarnya termasuk Adelia sekarang bisa terbebas dari segala belenggu gaib ilmu hitam sehingga mereka bisa meninggal secara sempurna dan tenteram di alam kubur sebagaimana mestinya. 𝘼𝙢𝙞𝙣.
[Al-Fatihah] امين يا رب العلمين

🏁⛔️✋ TAMAT 🤚⛔️🏁
@threadreaderapp まとめ
@threadreaderapp déroule
@threadreaderapp تنسيق

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with Bao Sugiono

Bao Sugiono Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!

Follow Us on Twitter!

:(