My Authors
Read all threads
Apa sih bedanya introvert, pemalu, dan social anxiety?
.
.
.
.
.
A THREAD
“Ah lo mah pasti introvert ya, mau ngomong di depan panggung sampai susah napas gitu”, “Introvert tuh termasuk gangguan tau, lo harus disembuhin sama psikolog!”
Pernah ga sih lo dengar pernyataan kayak gitu?
Well, kalo dari lo sendiri, lo menemukan pernyataan tadi aneh ga?

Hal-hal yang barusan gua sebut, sebenarnya berkaitan dengan dengan introvert, social anxiety disorder, dan pemalu. Tiga buah konsep yang terkadang tertukar-tukar di pikiran kebanyakan orang.
Tiga konsep ini, memang kelihatan mirip, padahal sebenarnya tiga hal ini cukup berbeda.
Pertama-tama, apa sih yang lo pikirkan ketika mendengar ketiga istilah itu? Apakah lo termasuk orang-orang yang suka ketuker-tuker juga antara satu istilah dengan istilah lain?
Pertama, Introvert adalah salah satu bentuk trait kepribadian yang dikembangkan oleh Carl Jung, yang menekankan bahwa introvert merupakan kecenderungan seseorang tentang bagaimana mereka memperoleh energi untuk beraktivitas dari dalam diri mereka sendiri.
Biar lebih jelas, anggap saja manusia itu punya baterai yang kita sebut sebagai energi. Baterai ini dibutuhkan agar manusia bisa semangat menjalani kegiatannya sehari-hari. Mulai dari main, makan, pergi kerja ke kantor, sampe berinteraksi dengan orang-orang yang ada di rumah.
Sama halnya seperti baterai, ada waktunya, energi pada manusia, akan sama-sama menurun lalu habis. Nah, disinilah manusia butuh charging. Bagi seseorang yang introvert, cara mereka charging energinya kembali adalah dengan melakukan aktivitas sendirian, jadi ga sama orang lain.
Misalnya, baca buku di kamar sendirian, minum kopi sendirian di kafe, atau main game online sendirian di rumah. Jadi, introvert itu ngomongin soal energi yang didapatkan dari waktu sendiri. Ini yang pertama.
Kedua adalah pemalu. Pemalu merupakan aspek yang berbeda dengan introvert. Kalo introvert adalah cara individu charging energi; pemalu adalah kecenderungan orang buat merasa canggung, khawatir, atau tegang saat mereka ada di lingkungan sosial.
Nah, ini bisa makin parah kalo misalnya orang yang pemalu ini dikelilingi oleh orang yang tidak mereka kenal. Kenapa bisa kayak gitu? Well, salah satu sebabnya adalah karena seorang pemalu itu cenderung memiliki ketakutan dilihat secara negatif oleh orang lain.
Pemalu itu termasuk sebuah trait yang wajar dan umum ditemui di masyarakat. Jadi, ini sebenarnya wajar banget. Yang perlu lo perhatikan adalah: Pemalu ini mengganggu diri lo di aspek apa aja sih? Kalo misalnya aspeknya spesifik, maka tinggal diselesaikan aja di aspek itu.
Misal, lo hanya jadi pemalu ketika ketemu orang baru, tapi kalo sama temen lama, sama dosen, biasa aja. Berarti kan aspeknya spesifik. Kalo gitu sih ya tinggal dikembangkan aja.
Nah, kalo misalnya lo merasa lo ga bisa berkomunikasi sama semua orang. Semuanya hampir negatif, lo selalu cemas all the time, sampai akhirnya mengganggu banyak hal dalam hidup lo. Nah, mungkin ada masalah lain selain lo orangnya pemalu.
Tapi kalo ini ga mengganggu aktivitas lo, ga mengganggu keberlangsungan hidup lo, maka jatuhnya itu bukan masalah yang perlu terlalu lo cemasin. Nah, pemalu ini berbeda dengan introvert. Baik ekstrovert maupun introvert bisa juga jadi orang pemalu.
Balik lagi ya, introvert dan ekstrovert itu ngomongin soal energi didapatkan dari mana, apakah dari eksternal, ketemu orang, atau saat lo sedang sendiri.
Ketiga, gangguan kecemasan sosial/social anxiety disorder. Kecemasan sosial sudah termasuk sebuah gangguan mental, sehingga seseorang harus didiagnosis oleh psikolog atau psikiater terlebih dahulu sebelum dapat dikatakan memiliki social anxiety disorder.
Ciri-ciri dari gangguan kecemasan sosial adalah adanya perasaan ketakutan atau kecemasan yang intens banget, terhadap situasi sosial karena individu tersebut merasa bahwa orang akan memberikan penilaian negatif terhadap dirinya.
Orang yang punya gangguan kecemasan sosial juga khawatir dan cemas karena mereka menganggap bahwa mereka akan dinilai sebagai sosok yang cemas, lemah, gila, bodoh, membosankan, mengintimidasi, kotor, atau gak menyenangkan buat orang lain.
Ada juga gejala fisik yang dialami kalo orang mengalami gangguan kecemasan sosial. Pipinya merah, gemetaran, berkeringat, dan lain sebagainya.
Sekali lagi, perlu gue ingatkan, dan tolong digarisbawahi kalo misalnya orang dengan gangguan kecemasan sosial itu hanya bisa didiagnosis oleh psikolog atau psikiater. Jadi, tolong hindari untuk melakukan labeling atau mendiagnosis diri sendiri sebagai gangguan kecemasan sosial.
Curiga itu gapapa. Kalo lo merasa ada masalah, cari-cari info juga bagus. Tapi ingat selama lo belom didiagnosis, maka ada kemungkinan lo akan salah mendiagnosis diri lo sendiri.
So, gua saranin, kalo lo emang khawatir banget, dan merasa bahwa “oh kayaknya ini gue deh”, buat nyari info, tapi kesimpulan akhirnya lo ambil dari psikolog/psikiater. Satu Persen juga sekarang sudah melayani Konseling dengan Psikolog, lo bisa daftar aja di layanan itu.
Nah, tapi, di Satu Persen sendiri, karena kita sama-sama tahu, Psikolog itu dikit banget ada di Indonesia. Jumlahnya cuman seribuan, untuk menangani masalah ratusan juta orang. Kebanyakan, masalah-masalah orang itu ga sampai ke disorder, gaa sampe ke gangguan.
Secara statistik, dari yang gue tahu ya, jumlah gangguan mental pada populasi biasanya hanya ada di angka 1 sampai dengan belasan persen. Ga bisa dibilang dikit, tapi gak bisa dibilang banyak banget juga.
Cuma, bayangin kalo orang yang butuh banget Psikolog jadi harus nunggu karena banyak banget yang daftar padahal ga punya gangguan, gak salah sih, cuman ya jadi kurang efektif dan efisien aja.
Nah, makanya kalo di Satu Persen, semisal lo mau daftar konseling sama Psikolog dari Satu Persen, pertama-tama, lo pasti kita anjurkan dulu untuk Mentoring sebagai penanganan dan deteksi awal. Kenapa? Biar nanti orang yang benar-benar punya gangguan, ditangani sama Psikolog.
Kalo yang masalahnya adalah non-klinis, jadi bukan gangguan mental, sebenarnya secara etis, masih bisa ditangani oleh non-Psikolog, seperti Coach, Mentor, dan lain sebagainya.
Karena kebanyakan orang biasanya cemas, takut, dan merasa ada gangguan, lalu dia pergi ke Psikolog. Ternyata, memang masalahnya ga seberat itu sampai harus ke Psikolog. That’s why, Mentoring ngebantu Psikolog dan banyak orang karena setiap orang bisa dapat penanganan yang sesuai.
So, gimana? Udah bisa ngebedain kah antara introvert, pemalu, social anxiety? Gua harap thread ini dapat membuat lo menjadi lebih baik, setidaknya Satu Persen setiap harinya :)
Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh.

Enjoying this thread?

Keep Current with Satu Persen - Indonesian Life School

Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

Twitter may remove this content at anytime, convert it as a PDF, save and print for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video

1) Follow Thread Reader App on Twitter so you can easily mention us!

2) Go to a Twitter thread (series of Tweets by the same owner) and mention us with a keyword "unroll" @threadreaderapp unroll

You can practice here first or read more on our help page!

Follow Us on Twitter!

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just three indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3.00/month or $30.00/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!