Permainan dg mantra yg sangat khas “datang tak diundang, pulang tak diantar” ini akan memasukkan beberapa roh gaib kedalam boneka yg sudah dibuat sedemikian rupa.

Didalam permainan itu, orang yg bermain bebas menanyakan apa saja kepada roh yg masuk kedalam boneka tsb.
Bagaimana keseruan ceritanya? Yuk simak terus thread2 horor dari @CatatanYohanes_ . Jangan lupa like dan retweet agar mimin makin semangat untuk menulis, tentunya buat kalian semua

Cerita ini mimin angkat dari kisah nyata dimana salah seorang pemainnya adalah ayah mimin sendiri.
Sebut saja namanya pak toni, semasa mudanya dulu, pak toni dan teman2nya sering memainkan jelangkung.

Niatnya hanya sekedar mengisi waktu kosong, dan ada juga dari temannya yg meminta nomor togel.

Baik, sebelum mimin mulai ceritanya. Mari bersama2 kita berdoa terlebih dahulu 🙏
Agar kita semua selalu dalam lindunganNya, karna tidak menutup kemungkinan ketika kalian membaca thread ini, sosok2 yg ada didalamnya akan hadir diantara kalian.

Pada suatu pagi, toni, toro, agus, dan narji sudah merencanakannya.

“Nanti malam ya, mumpung malam jumat” kata agus.
Semua mengangguk.

Peralatan berupa boneka yg terbuat dari batok kelapa sebagai kepalanya, dan kayu yg membentuk plus (+) sebagai tangan dan kaki. Lalu ada jepit yg dibuat untuk menjepit kapur, kapur tersebut nanti digunakan sosok itu untuk menulis kepapan yg sudah disediakan.
Malam hari pun tiba, sesuai perjanjian sekitar pukul 10 malam, semua berkumpul ditengah sawah.

“Bonekanya biar kamu aja ji yg pegang” kata agus.

Dan diiyakan oleh toni “kan kamu yg lebih tau daripada kita” ungkap toni.

Narji menyetujui, dan dia mengambil boneka jelangkung itu.
Yg awalnya suasana dingin ditengah sawah seketika menjadi panas saat narji mulai memegang bonekanya.

Papan tulis disiapkan, semua mulai melantunkan mantra pemanggil arwah2 penasaran untuk masuk kedalam boneka tsb.

Tangan narji mulai bergerak sendiri, semakin lama semakin cepat.
Sudah ada sosok yg masuk kedalam boneka itu.

“Siapa kamu?” tanya toni.

Jelangkung itu mulai bergerak menuju papan tulis yg masih dipegang narji dan menuliskan sebuah nama.

“Amir” kata toro.

Lalu toro melanjutkan untuk bertanya “darimana kamu?”

“Paragtis” kata agus.
“Dimana itu?” Kata agus.

Tulisan yg tidak begitu jelas membuat mereka harus pintar dalam mengeja kata atau kalimat dari jelangkung tsb.

Jelangkung itu mulai bergerak kembali untuk menuliskan sesuatu.

“Paragtritis, oh mungkin maksutnya parangtritis gus” kata toro.
Meskipun tidak ada yg indigo, namun keempatnya ini tergolong manusia pemberani.

Tidak lama jelangkung itu menuliskan sebuah kata lagi “DARAH”.

Sontak membuat keempat orang itu kaget. “Darah apa?” Ditanya oleh toro.

“KEMATIAN” kata jelangkung itu dg metode tulisan.
“Kamu bunuh diri?” tanya toni.

“DIBUNUH” jawab jelangkung itu.

Mereka semua kaget, lalu bertanya lagi “dibunuh diparangtritis?” tanya toni lagi.

“TIDAK, DIRUMAH” jawab si jelangkung tsb.

Suasana mulai mencekam, toni menoleh kearah agus sambil isyarat dikeluarkan saja.
Lalu narji mencoba menyuruh arwah amir ini untuk keluar dari boneka jelangkung itu.

Namun jelangkung itu kembali bergerak dan menuliskan “CARI PEMBUNUHKU”.

Toni memberikan isyarat dg menggeleng2kan kepalanya, begitu juga dengan agus dan toro kepada narji.

“Kami tidak bisa”
Kata narji sembari melanjutkan omongannya “kamu pulang saja”.

Jelangkung itu kembali mengendalikan tangan narji dan menuliskan kata “TIDAK”.

Narji pun kembali bilang kalau mereka tidak bisa mencari pembunuhnya akan tetapi dengan nada yg agak tinggi.

Jelangkung itu marah.
Jelangkung itu mengendalikan tangan narji bergerak cepat. Seperti ingin terbang lalu turun kembali.

Karna khawatir dengan narji, agus reflek ikut memegangi jelangkung itu, namun tetap saja tidak kuat dibuatnya.

Tangan mereka berdua kalah kuat dg energi arwah didalam boneka.
Tidak lama mereka berdua terpental kebelakang dan jelangkung itu seperti terlempar.

Toro berdiri membantu membangunkan narji dan agus, lalu toni mengambil boneka jelangkung itu, “sudah keluar” kata toni.

Namun bukannya kapok, mereka malah mencoba memasukkan arwah lain lagi.
Mereka kembali duduk melingkar dan membacakan mantra2 pemanggil arwah.

Kali ini boneka dipegang oleh toni, karna narji yg sudah dibuat kelelahan oleh arwah amir.

Mantra sudah dibacakan, namun masih saja belum ada arwah yg masuk. Mereka terus mengulang mantra itu.
Baru yg ketiga kalinya mantra itu dibacakan jelangkung itu mulai bergerak pelan, “masuk masuk” kata toni kepada toro.

“Masih pelan, belum sepenuhnya masuk” jawab narji.

Lalu mereka membacakan kembali mantranya. Dan benar gerakan jelangkung mulai cepat.

Kali ini toni kuwalahan.
Toni hanya bisa diam karna bingung bagaimana cara mengendalikan jelangkung itu.

“Siapa yg ada disini?” tanya narji.

Jelangkung itu mulai menuliskan sebuah nama “SUSI ATI”

“Cewek dia cewek, seru ini” kata agus.

Semuanya tertawa.

“Darimana kamu” tanya narji.
“LAW U” kata dari tulisan jelangkung itu.

“Kamu dari bangsa manusia apa jin?” tanya agus.

“MANUSIA” kata jelangkungnya.

“Meninggalmu karna apa?” Kembali agus bertanya.

“GANTUNG” kata jelangkung itu. “SUSAH NAFAS” lalu jelangkung itu menambahinya dg tulisan susah bernafas.
“Mungkin maksutnya dia meninggal karna bunuh diri dg cara gantung diri” jelas narji.

“Lalu keluargamu sekarang dimana?” Lanjut narji.

“BARAT” jawab jelangkung tsb.

“Knpa kamu tdk kembali keluargamu?” tanya agus.

“KASIAN IBUK” kata jelangkung itu.

Toni memberi isyarat.
Dia kelelahan memegangi boneka itu yg terus bergerak.

“Tunggu, seru ini” jawab agus.

Jelangkung itu tiba2 menuliskan kata lagi diatas tulisan kasian ibuk.

“DARAH”

“Darah apa? Disini tidak ada darah” tegas narji ke arwah yg ada didalam boneka jelangkung tsb.
“Ajem Celeng” atau dalam bahasa indonesia “Ayam Hitam”.

Agus memberi isyarat menaikkan kepalanya kepada narji, maksutnya darimana kita dapat ayam hitam itu.

“Ada gus, milik pak lek mo” jawab narji sambil bercanda

“Mana mungkin kita menumbalkan ayam pak lek mo, bisa2 dia marah”
Jawab agus dengan wajah serius.

“Tenang gus, dia hanya menggertak saja” kata narji menenangkan agus.

Jelangkung itu bergerak cepat hingga membuat toni jatuh tengkurap. Masih terus bergerak cepat.

Toro dan agus mencoba membangunkan toni, namun tidak dg narji, dia hanya tertawa
Toni bangun, namun tangannya masih terus memegang jelangkung itu.

Papan tulis dihapus, jelangkung itu mulai menuliskan kata per kata lagi.

“DARAH ATAU GENTAYANGAN”

Arwah susi yg berada didalam boneka jelangkung itu mengancam mereka bertiga akan bergentayangan diantara mereka.
Agus semakin ketakutan dibuatnya, “ji, gimana ini?” tanya agus.

Narji hanya tersenyum santai menanggapi pertanyaan agus yg ketakutan.

Beda halnya dg toni, dia sudah tidak bisa mengontrol dirinya lagi, sesekali dia sampai dibuat berdiri lalu duduk kembali oleh jelangkung itu.
Gerakan jelangkung itu semakin cepat, lalu mendekati papan tulis dan menuliskan “MENGHANTUI KALIAN”

Narji masih tertawa, karna menurutnya tidak akan mungkin arwah itu mengikuti mereka hingga pulang kerumah masing2

Namun beda halnya dg agus dan toro yg tdk bisa menutupi takutnya
“Jika dia benar2 menghantui kita gmana ji?” kata toro.

“Sudah tenang, tidak mungkin” jawab narji.

“Ya sudah gini, kita akan membacakan mantra buat memulangkanmu, gmana?” Kata narji ke jelangkung itu.

“TIDAK BISA” kata dari hasil tulisan jelangkung itu.

agus menoleh ke narji.
Begitupun juga dg toro, secara reflek langsung menoleh kearah narji.

Narji langsung membacakan mantra untuk mengeluarkan arwah itu dari boneka jelangkungnya.

Namun hasilnya diluar dugaannya, arwah itu masih tidak keluar, jelangkung itu masih terus bergerak kekanan dan kekiri.
Toni merasa capek memegangnya, namun ketika toni ingin melepaskan jelangkungnya, tangannya tidak bisa ia kendalikan.

“Ini knpa bisa begini” kata toni dalam hati.

Jelangkung itu kembali menuliskan kata2 “KALIAN MATI”

Sontak semua pun kaget begitu juga dg narji.
Kali ini dia tidak lagi bisa bercanda seperti sebelumnya, mantra yg ia baca untuk mengeluarkan arwah itu gagal.

“Ton lempar saja” kata narji.

Semua panik, setelah mendengar omongan narji, toni mencoba melemparkan boneka itu, namun tangannya masih sulit untuk ia kendalikan.
“Lempar ton” kata narji.

“Ndak bisa ji” jawab toni sambil nafasnya yg mulai tidak beraturan.

Nafas toni yg ngos-ngosan membuat toni sulit mengatur fokusnya, pikirannya pun kalang kabut.

Takut dialah yg menjadi tumbal keganasan arwah susi untuk yg pertama kalinya.
Karna dia yg memegang jelangkung itu.

“Gimana ini ji” kata toni sambil tangannya terus bergerak kesana kemari sesuai keinginan dari jelangkung tsb.

“Lempar ton” agus menjawab. Narji pun mengisyaratkan kepada toni agar segera melempar jelangkung itu.

“Baca baca ton” kata toro.
“Baca apa tor” kata toni yg dibuat gugup oleh jelangkung itu.

Tangan Toro mendekat kearah jelangkung itu, dia mencoba mengambil alih untuk memegang jelangkung itu.

“Lepas ton” kata toro.

Toni mengangguk sambil jarinya mencoba sedikit demi sedikit melepaskan genggamannya.
Akhirnya toni berhasil melepaskan genggamannya, badannya tiba2 lemas dan dia pun terjatuh.

“Ton gpp kamu ton” kata agus. Sedangkan toro mulai sibuk mengendalikan jelangkung yg bergerak terus.

Toni hanya mengangguk menandakan dia gpp meskipun badannya lemas.

“Tor lempar tor”
Narji menggebu2 menyuruh toro melempar jelangkungnya.

Toro mulai tenang, menarik nafas dalam2 lalu melempar jelangkung itu sembari menghembuskan nafasnya.

Jelangkung terlempar jauh, toro juga terpental kebelakang, dia jatuh terlentang, matanya merem.

Narji dan Agus panik.
“Tor gpp km tor? Bangun tor” kata Agus, sambil tangannya menggoyang2kan badan toro.

Tidak ada jawaban dari toro, matanya masih merem.

“Tor tor” kata toni yg badannya masih terlentang sambil menoleh kearah toro.

Toni menguatkan badannya untuk bangun lalu mendekati toro.
“Jelangkungnya mana?” Kata toni.

“Ini toro tidak sadarkan diri, sedangkan kamu masih sibuk ngurusin jelangkung?” Kata agus marah, karna panik dg keadaan toro yg masih tidak sadar.

Toni hanya diam sambil matanya terus melihat kearah toro yg terkapar.

“Ji gmna ini?” Kata agus.
Agus menanyakan kepada narji, karna diantara mereka berempat hanya narji yg agak mengerti tentang gaib2.

Narji menoleh kearah agus, masih saja narji terdiam.

Sebenarnya narji sendiri bingung, apa yg harus dia lakukan agar toro bisa terbangun.

Semuanya diam tanpa kata, bingung!
Mereka saling menoleh satu sama lain, sesekali mereka melihat toro yg masih terkapar.

Cukup lama terdiam, lalu narji menyuruh teman2nya membawa toro pulang kerumah narji.

Toro pun dibopong oleh toni, mereka semua berjalan pulang melewati jalan setapak diantara tebu2 disawah.
Belum sampai setengah perjalanan, tiba2 mereka dikagetkan oleh suara orang yg berlari melewati tebu2 disampingnya.

Karna kaget, mereka semua secara reflek berhenti. Narji yg berada dibarisan paling depan menoleh kebelakang “kalian dengar?” Kata narji.

“Iya ji, dari kanan”
Kata agus.

“apa barusan ji?” Kata toni.

“Gatau juga, yaudah kita lanjut jalan lagi” jawab Narji.

Hanya beberapa langkah, suara seperti tadi pun kembali terdengar, masih dari sisi kanan mereka, namun arahnya berbalik.

Lagi2 mereka semua berhenti. Agus menoleh kearah suara itu.
Memang saja tebunya bergerak, namun agus tidak berani mengucap sepatah kata pun.

“Lanjut yuk” ajak agus kpd teman2nya.

Lalu mereka melanjutkan lagi perjalanan itu, mereka mempercepat langkahnya, toro masih saja tidak sadarkan diri.

“Gmna dengan toro ji” tanya agus lagi.
“Sudah biar, nanti kita minta tolong mbah roso” jawab narji dg terus berjalan tergesa2.

Suara itu kembali, namun kali ini tidak menghilang, sosok perempuan jelas didepan narji, yg membuat langkah narji terhenti.

Toni dan agus pun berhenti secara mendadak hingga saling menabrak.
“Setan gus, setan gus” kata toni.

“Iya ton, kabur ton” jawab agus.

Narji yg mundur beberapa langkah sambil matanya saling menatap dengan sosok perempuan didepannya.

“Hihihihihi” perempuan itu tertawa.

Toni dan agus pun berlari kembali, melihat temannya lari,
Narji mengembalikan badan lalu ikut berlari juga.

Namun kecepatan lari mereka masih kalah cepet dengan sosok perempuan itu. Karna secara tiba2 sosok perempuan itu langsung berada dihadapan mereka lagi.

“Haaaaaaa” agus menjerit keras melihat sosok tadi sudah berada didepannya.
“Apa yg kamu mau” kata narji dengan suara keras dari barisan paling belakang.

“Antarkan saya pulang” jawab perempuan itu.

“Susi, dia susi” kata agus berbisik ke toni.

“Iya gus, iya gus” jawab toni.

Narji menepuk tangan toni, mengajak toni kabur pulang.

“Kita tidak bisa”
Kata narji sambil menarik tangan toni untuk lari.

“Gus kabur” jerit narji.

Akhirnya mereka bertiga kabur kembali berharap tidak dihadang lagi oleh arwah susi.

Tidak berfikir apa2 dari ketiganya, mereka hanya fokus berlari dg cepat agar bisa cepat sampai dirumah narji.
Arwah susi masih terus membuntuti mereka hingga mereka sampai dirumah narji, namun arwah susi berada diatas pohon tua.

Niat narji yg ingin membawa toro ke mbah roso diurungkannya, karna toro sudah siuman, meskipun keadaannya yg masih lemas.

“Sudah bangun kamu tor” kata narji
“Ee ee eeehhh” toro yg masih lemas tidak sanggup untuk menjawab pertanyaan narji, namun erangannya sudah cukup buat mereka memastikan toro sudah sadarkan diri.

Ditengah2 istirhat mereka tiba2 suara tertawa susi menghancurkan ketenangan mereka.

“Susi ji” kata agus
“Iya ji, gmna ini ji” sambung toni.

Belum sempat narji menjawab tiba2 toro bangun, setelah duduk dia menanyakan kepada teman2nya “kenapa susi”

“Kita biarkan saja, kita lupakan susi agar dia tidak semakin mengganggu kita” jawab narji.

“Ada apa sih ini” tanya toro lagi.
“Susi mengikuti kita tor” jawab agus.

“Oh iya saya ingat, tadi saya bermimpi dikejar2 hantu kuntilanak hingga kesudut ruangan” kata toro.

“Lalu gmna tor” tanya narji dan toni.

“Sudah gtu aja” jawab toro.

“Tapi ji, kejadian kejar2anku sama kuntilanak itu seperti lama sekali”
Kata toro yg kembali menjelaskan kejadian dimimpinya.

“Itu susi” sontak toni nyeletuk.

“Iya susi tor” sambung agus.

“Susi? Arwah yg masuk kedalam jelangkung tadi?” tanya toro.

Mereka semua mengangguk dengan wajah penuh takut.

Toro langsung memalingkan wajahnya kedepan rumah.
Menyoroti bagian2 dari pohon2 besar didepan rumah narji.

“He liat apa tor” tanya agus

Gelagat toro membuat agus takut karna dia pikir aneh. Dari yg tadi dia pingsan lama banget, habis itu bangun cerita mimpi dikejar kuntilanak, lalu matanya tiba2 melihat kearah pohon2 besar.
“Biasanya kuntilanak itu tempatnya diatas pohon, siapa tau susi disana” jawab toro.

“Sudah lupakan saja tor” kata agus

Setelah itu mereka tidak lagi mendengar suara susi, mereka melanjutkan obrolan hingga subuh.

Sesekali waktu mereka mengobrol, memang sekelebetan sering lewat.
Namun mereka tidak menghiraukan, hingga pada akhirnya setelah subuh mereka kembali plg kerumah masing.

Arwah susi tidak berhenti disitu, saat siang hari suara tangisan susi bisa menghantui warga sekitar.

Kebetulan memang rumah toro, toni, agus dan narji masih satu desa.
Anak kecil umur 5tahun, anak dari tetangga mreka yg bernama Mas Budi pun tidak berhenti menangis

Anak kecil yg bernama Zahra itu selalu menunjuk kearah jendela ruang tamunya, “ma ada kakak cewek jelek” kata itu yg selalu terucap dari mulut Zahra

Teror arwah susi terus berlanjut
Susi selalu menampakkan diri dijendela2 rumah warga yg tidak jauh dari rumah toro, toni, agus dan narji. Rumah mereka pun sering menjadi teror arwah susi.

Hingga pada saat kesabaran sesepuh sana Mbah To telah habis, mbah to berniat melaporkan kejadian yg mengganggu ketenangan
disekitar rumahnya ini ke mbah roso, karna mbah roso memang terkenal dukun didesa tsb, mbah roso sering mengobati orang2 sakit yg terkena santet, dan juga sering menyembuhkan orang2 yg kesurupan.

Sehabis maghrib ketika mbah to berniat akan menemui mbah roso tiba2 dihentikan susi
“Mau kmna mbah” kata susi.

Mbah to yg ketakutan mencoba buat tenang lalu menjawab pertanyaan susi dg terbata2 “siapa kamu, saya mau ke mbah roso. Pergi kamu” jawab mbah to.

“Saya tidak akan mengijinkanmu pergi mbah, sebelum kamu siapkan saya darah ayam hitam” jawab susi.
“Tunggu sini kamu” kata Mbah to yg kembali kerumahnya, masuk kedalam rumahnya. Tidak lama mbah to kembali keluar rumah membawa sebilah samurai.

“Sini kalau berani” kata mbah to.

“Hihihihi” susi hanya menertawakan sikap mbah to, lalu susi terbang dan menghilang.
Mbah to pun melanjutkan perjalanannya ke mbah roso.

Kepergian mbah to diketahui oleh toro. Lalu toro beranjak pergi menjemput agus, narji dan toni untuk mengikuti mbah to.

Mbah to terus berjalan dg bantuan senter menyusuri jalanan sawah.

“Itu kesana mbah to” kata toro.
“Ayok ayok ikuti” kata agus.

Mereka perlahan membututi mbah to, mbah to terus berjalan, namun tiba2 mbah to berhenti, sepertinya dia curiga ada yg membuntuti dari belakang.

Ketika tau mbah to berhenti, mereka berempat langsung bersembunyi dibalik pohon dan semak2.
“Sini ji, ketauan kamu kalau disitu” kata agus karna narji yg bersembunyi dibalik pohon.

Sambil tengkurap narji merayap mendekat kearah agus. “Bahaya gus” kata narji.

Mereka semua sudah bersembunyi jd saat mbah to menoleh kebelakang tidak ada siapa2.

“Cuman perasaanku aja”
Kata mbah to, lalu mbah to melanjutkan perjalanannya menuju rumah mbah roso.

Toro dan kawan2nya juga ikut melanjutkan membuntuti mbah to.

Semakin dekat mbah to dirumah mbah roso, arwah susi tiba2 muncul diatas pohon. Posisi mbah to waktu itu tepat berada dibawah pohon itu.
Karna mendengar suara tawa susi, mbah to berhenti sejenak lalu menengok keatas. Kaget ada susi disana, namun emosi didalam tubuhnya membuat mbah to tidak takut sama sekali.

“Sini turun” kata mbah to sambil mengacungkan samurai yg dia bawa tadi.

Susi hanya terus tertawa
“Toron” (turun) kata mbah to.

“Susi itu ji” kata agus yg takut sambil tangannya menggoyang2kan badan narji.

“Tenang gus, nanti ketahuan” jawab narji dengan nada rendah.

Agus yang panik membuat suara pada semak2 itu.

Akhirnya fokus mbah to terpecah,
Dengan cepat mbah to melihat kebelakang.

“Siapa itu” kata mbah to.

Karna tidak ada jawaban mbah to kembali melihat kearah susi, namun susi sudah tidak ada.

“Woy kuntilanak, kemana kamu, sini kalau berani” kata mbah to menantang susi yg tiba2 menghilang.

Karna berisik
Mbah roso pun keluar dari rumahnya, “siapa itu berisik”

“Saya so” kata mbah to teriak.

“Ada apa to berisik sekali” jawab mbah roso.

Mbah roso pun melangkah mendekati mbah to yg berada dibawah pohon.

“Ada apa to” kata mbah roso.

“Panjang ceritanya so” jawab mbah to.
“Yaudah cerita saja pelan2” kata mbah roso.

“Jadi gini so, akhir2 ini ada kuntilanak yg meneror warga didesa saya, sampai anak kecil pun digodanya, anak kecil itu menangis terus setiap malam hari” mbah to menjelaskan.

“Terus” kata mbah roso.
“Setiap tengah malam, kuntilanak itu selalu nongol dijendela2 rumah warga, kadang sampai mengetok2 pintu rumah, godaannya bukan cuma malam hari saja so, siang hari pun begitu kadang suara kuntilanak itu tertawa dan menangis sangat keras, hingga menakut2i warga” jelas mbah to lagi
“Disini aku mau minta tolong ke kamu so, buat mengusir kuntilanak itu dari desa saya” kata mbah to.

“Yaudah ayok sekarang saja” jawab mbah roso

Mbah to menyutujui, mereka pun brjalan ke desa mbah to sambil mbah to trus menceritakan kejadian2 yg berasal dari ulah kuntilanak itu.
“Tadi saja sewaktu aku mau kesini, dia nongol diatas pohon itu” kata mbah to sambil menujuk ke pohon tadi.

Mbah roso hanya mengangguk2kan kepalanya sambil terus berjalan.

Toro, toni, agus dan narji mulai panik ketika tau mbah roso dan mbah to berjalan mendekatinya.
Agus mulai merayap kearah balik pohon besar yg ditutupi semak belukar begitupun dengan narji, sedangkan toro dan toni merayap bersembunyi dibalik batu besar.

“Aman ji aman” kata agus.

Agus memberi kode kearah toro dan toni kalau tempatnya sudah aman, begitupun sebaliknya.
Mbah roso dan mbah to tidak curiga, mereka berjalan terus hingga melewati ke empat anak itu.

“Sudah lewat ji” kata agus.

“Yg lain kasih tau gus” jawab narji.

Agus mencoba memanggil toro dan toni, agus melempar kerikil kearah toro dan toni.

Kerikil itu mengenai tangan toni.
Toni pun melihat kearah agus.

Agus memberi isyarat kalau suasana sudah aman, toni pun memberi tau toro.

Akhirnya mereka berempat keluar dari persembunyiannya secara perlahan, mereka terus membuntuti mbah roso dan mbah to.

“Agak jauh aja biar tidak curiga” kata narji.
Akhirnya jarak mereka agak jauh dari mbah roso dan mbah to.

Jalan setapak terus dilewatinya, hingga kurang beberapa ratus meter lagi sampai kedesanya.

“Hihihi”

“Nah, kamu dengar so” tanya mbah to.

“Iya dengar to, biarkan dia menampakkan dulu” jawab mbah roso.
Jam semakin malam, waktu sudah menunjukkan pukul 2, mereka sudah sampai didepan rumah mbah to.

“Dimana biasanya to” tanya mbah roso.

“Pindah2 so, biasanya dia nangkring diatas pohon2 itu” jawab mbah to.

“kemenyan merah yg waktu itu aku kasih masih ada to?” tanya mbah roso.
“Masih ada so, buat apa?” kata mbah to.

“Buat mengundang dia. Agar dia mau datang” jawab mbah roso.

Akhirnya mbah to pun masuk kedalam rumahnya mengambil kemenyan itu, tidak lama kemudian dia keluar sambil membawa sebungkus kemenyan merah dan prapen.

“Ini so” kata mbah to.
Mbah roso mengambilnya lalu mengeluarkan korek api dari sakunya.

Sambil menaruhnya ditanah, mbah roso mulai membakar kemenyan itu sambil membacakan beberapa mantra.

Toni, toro, agus dan narji melihat dari kejauhan dibalik pohon mangga besar.

“Sini duduk disebelahku to”
Mbah roso menyuruh mbah to ikut duduk dg nya. Mbah to mengangguk lalu duduk disebelah mbah roso sambil ikut membakar kemenyannya.

Setelah dikasih tau mantranya, mbah to pun ikut membacakan mantranya bersama2 dg mbah roso.

“Ayo kita taruhan, susi datang apa tidak?” tantang narji
“tidak akan datang, susi takut sama mbah to” jawab toni.

“Iya dia takut mati dua kali hehehe” kata toro menambahi.

“Benar, samurai mbah to tajam sekali” agus juga menambahi.

“Oke kita taruhan, aku memilih susi datang” kata narji.

Akhirnya mereka saling menunggu
Sedangkan mbah to dan mbah roso masih membacakan mantranya.

“Tidak mungkin datang ji, dia itu pengecut” kata toni.

“Kata siapa aku tidak akan datang”

Mereka semua dibuat kaget dengan suara itu, diam2 ternyata susi sudah ada diantara mereka. Suara itu adalah suara susi.
“Huaaaaa”

Serentak mereka pun keluar dari persembunyiaannya, berlari kearah mbah roso dan mbah to yg masih sibuk membaca mantra.

Teriakan mereka mengacaukan fokus kedua mbah itu, akhirnya mbah roso dan mbah to menghentikan ritualnya.

“Ada apa sih le, kok sampe teriak2”
Mbah roso bertanya kepada mereka berempat.

“Ituu mbah, susss” kata agus yg dihentikan oleh narji.

“Ada kuntilanak mbah” narji menimpali omongan agus, agar tidak ketahuan kalau sebenarnya teror susi ini akibat ulah mereka.

Mbah roso langsung berdiri. “Dimana le” tanya mbah roso
“Disitu mbah” serentak mereka menjawab sambil menunjuk ke arah pohon mangga.

Tanpa basa basi, mbah roso pun langsung berjalan cepat kearah pohon yg dimaksud.

Mbah to dan keempat anak itu juga ikut mengikuti mbah roso.

Sesampainya mereka dibawah pohon itu.
Mbah roso menengok kesana kemari mencari keberadaan susi, begitupun dg yg lain.

“Mana le, gaada ini” kata mbah roso.

Belum sempat mereka menjawab, suara tawa susi menghentikan tanda tanya yg ada dikepala mbah roso.

“Aku disini mbah” kata susi

Semua sontak menoleh keatas pohon
“Kamu siapa, apa tujuanmu mengganggu warga disini” tanya mbah roso.

“Mereka yg membawaku kesini” jawab susi.

“Siapa?” Kata mbah roso.

Sebelum susi menjawab, narji langsung menimpali omongan mbah roso, “bagaimana kita bisa membawamu plg ke tempat asalmu”

“Saya mau darah”
Kata susi sambil terus tertawa.

“Jangan macam2 kamu, disini tidak ada tumbal manusia” jawab mbah roso

“Darah ayam hitam” kata susi lagi yg kini menghentikan tawanya.

“Mbah, dirumah pean kan ada ayam hitam mbah” kata narji.

“Iya mbah kasih saja mbah ke dia” agus pun menambahi
Mbah roso menoleh kearah agus dan narji yg memelas

“Iya mbah minta tolong mbah” toni pun ikut menambahi

“Oke, saya kasih kmu darah ayam hitam, asal kamu benar2 pergi dari sini” kata mbah roso

Mereka semua pun lega karna keputusan mbah roso yg merelakan ayamnya dijadikan tumbal
Susi tertawa makin keras membuat mereka menutup telinganya.

“Besok pagi kamu datang kerumah, saya siapkan darah ayam hitamnya. Setelah itu kamu pergi dari sini dan jangan sampai kembali lagi” kata mbah roso.

Susi mengiyakan perjanjian dg mbah roso, lalu dia menghilang
Mbah roso pun menyuruh mbah to dan keempat anak itu agar datang kerumahnya menyiapkan tumbal ayam hitam esok paginya.

Mereka pun menyutujui, lalu mereka pun plg kerumah masing2, begitupun dg mbah roso yg kembali menuju rumahnya.

Singkat cerita, keesokan paginya
Satu per satu dari mereka berdatangan kerumah mbah roso.

Mbah roso pun menyuruh narji dan toni untuk menyembelih ayamnya, lalu agus, toro dan mbah to disuruh menyiapkan sesajen yg lain.

Sesudah disembelih, darah ayam itu ditaruh disebuah baskom.
“Jangan semua, dipindah aja kegelas” kata mbah roso.

Akhirnya narji memindahkan darah itu kesebuah gelas, lalu menaruhnya diantara sesajen yg lain.

Setelah membersihkan badan, mereka pun memulai ritualnya, manta dibacakan oleh mbah roso, dan diikuti oleh yg lain.
Tidak lama setelah mantra dibacakan, arwah susi pun datang. Tawanya yg khas sehingga dapat dikenali oleh mereka.

“Sudah itu darahnya” kata mbah roso.

Tidak lama dari itu, suara tawa susi pun menghilang.

Lalu mengeras kembali, seperti keluar dari dalam rumah mbah roso.
Perlahan2 suara tawa itupun menghilang.

“Sudah pergi dia?” tanya agus ke mbah roso

“Sudah le” jawab mbah roso.

Lalu mbah roso menyuruh mereka pulang kerumah masing, memastikan kuntilanak itu tidak akan datang dan mengganggu mereka lagi.

Akhirnya mereka pun pulang.
Ditengah perjalanan, mereka memutuskan untuk pisah dengan mbah to, mereka menyuruh mbah to plg dulu karna mereka masih mau nongkrong diwarung.

Setelah pisah, mereka pun berjalan kewarung kopi yg tidak jauh dari situ.

“Gampang kan cara ngusirnya” tiba2 narji nyeletuk
“Iya. Untung aja mbah roso mau mengasihkan darah dari ayam hitamnya” jawab toni.

“Bagaimana? Sudah kapok bermain jelangkung?” tanya narji.

“Ndak sih” jawab toro dan toni serentak.

“Ah sudahlah, nanti ada kejadian seperti ini lagi” kata agus.

“Kamu penakut gus” kata narji.
“Kata siapa aku penakut, oke ayo kita main lagi” tantang agus.

“Oke besok malam kita agendakan” jawab narji menerima tantangan dari agus.

Tantangan itupun juga disetujui oleh toni dan toro.
Sekian dulu untuk cerita jelangkung dari toni, toro, agus dan narji. Kelanjutan ceritanya nanti mimin tulis di Jelangkung part 2.

Terus support akun ini, agar mimin makin semangat dalam menulis. Klik tombol like dan retweet thread2 dari @CatatanYohanes_

Terimakasih 🙏

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with CatatanYohanesChannel

CatatanYohanesChannel Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @CatatanYohanes_

25 Oct
Sejatine Wong Gendeng!!!
(Sejatinya Orang Gila)

“Perjalanan Sunyi”

A thread

@autojerit @IDN_Horor @HorrorBaca @bacahorror @BacahorrorCom @ceritaht @horrorstw @Penikmathorror @ayuwidypramono @HorrorTweetID @horrornesia

Ilustrasi by Google. Image
Selamat sore menjelang senja manteman semua, cerita baru dari mimin, cerita ini hasil obrolan mimin dengan keluarga besar saat acara arisan keluarga.

Sebut saja namanya Dede, tentu bukan nama aslinya. Dede menceritakan kisahnya bertemu “wong gendeng” yang dipukuli warga.
Disana, dia berinisiatif melerai, karena kasian. Dan lebih kasiannya lagi dia melihat tubuhnya yang kotor dan kolor yg digunakan sudah compang-camping. Robek dimana-dimana.

Jadi, dia membawanya pulang, untuk sekedar memandikan “wong gendeng” itu, dan memberikan beberapa bajunya.
Read 21 tweets
25 Sep
Selamat malam manteman, mimin kembali hadir untuk menuliskan cerita buat kalian.

Terimakasih buat kalian yang selalu support mimin melalui like dan retweet dan tentu buat yang sudah berkunjung di karyakarsa mimin

Semoga Allah SWT membalas kebaikan kalian berlipat ganda 🙏 amin
Baik, tanpa basa lagi mimin langsung saja tulis ceritanya biar kalian tidak penasaran lagi.

Selamat membaca.. 🙏🙏🙏
Read 183 tweets
21 Sep
Cerita ini berdasarkan kisah nyata yang pernah dialami Rendy host dari Catatan Yohanes

Dimana pada waktu itu Rendy masih duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama, Rendy yang terpilih menjadi salah satu atlet catur Kota Probolinggo untuk kejuaraan catur di Kota Bondowoso.
Banyak kejanggalan yang dialami oleh Rendy saat berada di Bondowoso. Gangguan gaib maupun adanya sosok yang menampakkan diri kepadanya.

Keindigoan yang dia punya membuat makhluk2 gaib dengan mudah menampakan wujud, mengganggu hingga terkadang sampai melukainya.
Read 49 tweets
19 Sep
Selamat siang buat manteman, bagaimana nih jika kalian sedang sholat lalu muncul sosok mengerikan dibelakang kalian ?

Nah, kali ini mimin akan menuliskan cerita salah seorang pekerja loket di Stasiun Probolinggo.

Seberapa mengerikan kisah ini ? Kuy lah kita simak ceritanya
Kisah ini berawal saat Jayanti mulai bekerja diperusahaan kereta api di Kota Probolinggo. Dia bertugas sbg penjaga loket.

Jadi tugas Jayanti ini di Stasiun, dimana bangunannya masih bangunan kuno.

Awal bekerja disana Jayanti sudah merasakan berbagai gangguan - gangguan.
Read 31 tweets
10 Sep
Selamat hari jumat malam teman2 untuk kalian semua, ini mimin spoiler dulu thread horor selanjutnya setelah “Sebelah Kamar Mayat”.

Tapi santai dulu, thread ini mimin tulis besok.

Buat kalian yg belum baca thread sebelumnya, nih mimin kasih linknya
👇👇👇
Read 75 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!

Follow Us on Twitter!

:(