Hai sob!
Malam ini perkenankanlah ane utk menuliskan sebuah kisah utk menemani akhir pekan kalian.
Tapi sebelum lanjut, seperti biasa yuk ramein dgn rt like dan komen sekalian biar tritnya makin seru!

Kalo udah, so let the haunt begin!
Mak Ay baru saja menyelipkan beberapa lembar uang kertas di dalam dompet nya yg sudah lusuh.
Seperti biasa di hari Minggu, kegiatan rutinnya adalah pergi berbelanja setelah selesai menunaikan ibadah sholat Subuh.
Kebiasaan ini sudah di laksanakannya sejak menikah dgn suaminya yg pekerjaan sehari-harinya sebagai tukang bangunan.
Penghasilan yg ngepas dan upah yg di terima di tiap Sabtu nya, mau tak mau membuat Mak Ay harus pandai-pandai mengakali keuangan rumah tangganya.
Salah satu caranya ya itu tadi, berbelanja kebutuhan dapurnya dgn sekali beli di setiap minggunya.

Kebetulan ada sebuah pasar kecil di depan gang rumahnya.
Tidak terlalu dekat juga jaraknya dari rumah, tapi demi menghemat pengeluaran, Mak Ay masih rela utk berjalan kaki sekian meter.
Sekalian olahraga juga, kilah mak Ay, ketika menolak utk di antar menggunakan motor oleh Ayda,anaknya.
Memang mak Ay berkomitmen utk hidup sehat, salah satunya dgn cara memperbanyak berjalan kaki. Dan walaupun usia beliau sekarang hampir menginjak 50 tahun, namun penampilannya masih lumayan bugar, sampai saat ini.

*****
Setelah merapatkan pintu depan rumahnya, mak Ay mulai melangkahkan kakinya menuju ke luar gang.

Langit masih terlihat gelap. Belum tampak semburat mentari seperti layaknya menjelang pagi.
Hawa dingin masih kentara.
"Sepi amat.. " gumam mak Ay, sadar keadaan sekeliling nya memang sangat sunyi.

Bahkan, biasanya pada jam segini, sudah ada aktifitas dari warganya yg melintas hendak ke pasar juga, ataupun anak-anak muda yg sekedar joging selepas subuh.
Perasaannya jadi jengah juga karena kesunyian tsb.
Baru saja ia hendak memutar langkah balik ke rumahnya, di depan sana ia melihat ada seseorang yg sedang berdiri.
Mak Ay mempertajam pandangannya di kondisi gelap, tapi sepertinya ia kenal dgn orang tsb.

Buru2 ia berjalan mendekat ke tempat orang itu berdiri.
" Oh mbah Mar! " tegur mak Ay, begitu melihat orangnya.
Ternyata mbah Mar, wanita tua tetangganya, yg saat ini sedang berdiri tepat di depan rumah.
Si mbah tersenyum.
"Lamanya! Aku udah menunggu dari tadi! " kata si mbah dgn suara tua yg parau.
"Nunggu saya? " tanya mak Ai. "Memang mbah mau ke pasar juga? "
Mbah Mar terkekeh.
"Iya! Aku mau belanja! " jawabnya, sambil mengangkat sebuah keranjang rotan berukuran besar di bawah kakinya.
Mak Ay mengamati benda itu.
"Mau beli apa pakai keranjang kayak gitu... " pikirnya, merasa aneh.

"Mbah mau jualan lagi? " bertanya mak Ay yg masih heran.
Si wanita tua itu hanya mengangguk pelan. Mak Ai mencoba mengerti.
Sebenarnya mbah Mar memang berjualan menu sarapan di depan rumahnya setiap hari.

Tapi itu sebelum beliau terkena serangan stroke sejak hampir empat tahun yg lalu.
Semenjak sakit, mbah Mar tak pernah lagi berjualan sama sekali.
Dan seingat mak Ai, si mbah bahkan tak sanggup berjalan lagi. Baru beberapa hari yg lalu, ia melihat beliau duduk di atas kursi rodanya-
-sambil bengong di depan rumah nya. Bahkan sewaktu di sapa pun ia tak menggubris.
Di sini mak Ai mulai merasa aneh. Sejak kapan dia sembuh? pikirnya.
"Mbah kan lagi sakit. Memangnya sekarang sudah baikan? Saya antarin masuk ke rumah ya! " tukas mak Ai.

Tapi mbah Mar menggeleng. Ia malah tersenyum lebar.
Keranjang tadi di dekatnya dgn mudah di satu tangannya , sedang kan tangannya yg lain segera meraih tangan mak Ai.
"Ayok! Nanti keburu pagi! " ajaknya sambil menggenggam tangan mak Ai.
Tangannya yg kurus meremas jari-jari mak Ai.
Tangan si mbah sejuk. Sejuk sekali malah.
Ada rasa aneh yg timbul mendadak di hati mak Ai.
Ia berjalan mengikuti langkah kaki mbah Mar yg menarik tangannya. Kakinya pun terasa ringan.
Ia bisa melihat kalau si mbah ini berjalan dgn langkah agak tertatih, seperti kepincangan.
Samar-samar, tercium oleh mak Ai aroma yg keluar dari tubuh si mbah.

Bau apak yg sengak bercampur aroma pesing terlintas di penciuman mak Ai.
Ia serasa ingin muntah.
"Aneh! Rasanya kok aneh gini... " batin mak Ai lagi.
Dan di sudut terdalam hatinya,seolah mengatakan bahwa sesuatu akan terjadi yg tak akan di duganya sesaat lagi.

*****
Sesaat lagi kita lanjutin sob!
Mereka berjalan beriringan berdua, dengan mbah Mar tetap memegang tangan mak Ai.
Ia serasa tertarik tanpa bisa melawan.

Tahu-tahu, mereka sudah tiba di gerbang masuk pasar.
Mak Ai membatin, "cepat sekali sampainya! ".
Iya, karena seharusnya, dgn berjalan kaki pun, dari rumah hingga ke pasar ini, setidaknya masih membutuhkan waktu sekitaran 20 menit.
Seperti hari-hari lainnya, pasar itu ramai akan pengunjung.
Ukurannya yg tidak begitu luas, membuat lorong nya sesak akan kerumunan manusia.
"Kau temani aku dulu! " kata mbah Mar kepada mak Ai. Ia terdiam, tanpa bisa berkata apapun.
Tangannya di tarik lagi.

Kemudian mereka berhenti di depan lapak penjual sayuran.
Si bapak penjual menyapa mbah dgn suara tak jelas.
Mereka seperti bergumam dgn keras. Mak Ai tak dapat mendengar jelas percakapan mereka.
Sesekali mbah Mar terkekeh nyaring, entah apa yg di tertawakan nya.

Mata mak Ai melihat ke arah meja tempat si pedagang sayur menggelar jualannya.
Bukan sayuran yg lazim yg seharusnya ada di situ.
Tapi malahan yg ada hanyalah daun2an seperti daun ketapang, daun nangka sampai dedaunan yg mak Ai sendiri tak tahu namanya.
"Kok jualan nya gini.. " pikir mak Ai merasa aneh.
Sedangkan mbah Mar malah asyik memilih daun2 tsb sambil memasukkan nya ke dalam keranjang.
Sekali lagi mak Ai mengedarkan pandangannya ke pasar itu.
Suasananya memang ramai, tapi suara orang2 itu terdengar janggal. Mereka seperti saling menggumam.
Tatapan mereka kosong dan gerak mereka cepat saat berjalan ke satu lapak ke lapak yg lainnya.
Dan mak Ai baru sadar kalau orang2 itu juga menenteng keranjang besar persis seperti yg di bawa oleh si mbah.
Pandangan mak Ai mulai mengaburkan, kepalanya sakit melihat suasana pasar yg berbeda pagi ini.
"Aku sudah selesai beli sayurnya! " tegur mbah Mar.
Mak Ai melirik ke dalam keranjang yg di pegangnya, hampir separuh terisi oleh daun2 itu.
"Aku mau membeli kain utk selimut! Kau bantu aku memilih nya ya! " lanjut si mbah lagi pada mak Ai yg melongo kebingungan.
Mereka bergerak maju ke bagian tengah pasar. Di situ terdapat sebuah kios kecil yg di depannya tergantung berhelai2 kain putih.
Seingat mak Ai, di pasar itu juga belum ada kios penjual pakaian ataupun kain.
Sejak kapan ada kios kayak gini? batinnya lagi.
Seorang wanita berkerudung lebar berwarna hitam dan berwajah masam menghampiri mereka.
Lagi2 si mbah dan wanita itu bicara dgn gumaman yg tak jelas. Mbah Mar mulai melihat-lihat kain lusuh yg bergantungan itu.
Mak Ai juga juga memperhatikan kain2 yg di jual.
"Putih semua kainnya, aneh... " pikirnya.
Dengan seksama ia teliti kain2 kumal tsb.
"Astaga!! Ini kan kain kafan!! " jerit hatinya.
Jantungnya berdentak kencang ketika ia sadar akan kain yg ada di depan matanya.
Sebagian memang ada yg terlihat baru, sebagian lagi penuh dengan noda bekas tanah dan warna kemerahan.
Wanita itu sudah melipat satu kemudian di serahkan nya ke mbah Mar, yg kemudian menaruhnya ke dalam keranjang.

Tangan mak Ai kembali di tarik.
"Aku masih butuh daging. Yuk kita beli! " ajak mbah Mar, dgn penuh semangat.
Bagai terhipnotis penuh, mak Ai turuti saja kemauan nya.

Padahal, sebenarnya ia ingin melawan dan kabur saat itu juga.
Ia melihat ke arah langit itu. Entah kenapa masih tetap gelap.
Jika berdasarkan durasi lamanya ia berada di pasar tsb, seharusnya saat ini matahari sudah kelihatan dan hari mulai terang.
Mak Ai ketakutan. Ia tak tahu apa yg terjadi pada dirinya sendiri saat ini.
Kembali ia ikuti langkah kaki si mbah yg tak kalah aneh ini, tanpa ada daya.

Makin masuk ke bagian terdalam pasar, makin banyak hewan2 yg berkeliaran di situ.
Yang tadinya mak Ai hanya melihat beberapa ekor kucing saja, kini adaa segerombolan anjing dan babi berwarna hitam dgn bebasnya berlalu lalang .
Sudah seringkali ia masuk ke pasar ini, tapi baru ini ia melihat ada anjing dan babi berjalan2 dgn santainya di sana.
Kepala mak Ai makin berat.
Kini mereka sudah berada di depan sebuah lapak yg berjualan daging.
Mak Ai mendadak ingin muntah seketika, saat melihat di atas meja lapak tsb.
Di sana teronggok sejumlah kepala anjing, babi dan biawak serta beberapa kepala hewan yg tak lazim utk di jual.
Bertumpuk-tumpuk daging di penuhi belatung menyebarkan aroma busuk memualkan isi perut.

Kepala mak Ai semakin pusing, matanya berat melihat itu.
Mbah Mar dan si penjual daging itu berbicara, kemudian tangan mereka mengaduk-aduk tumpukan daging di depannya.
Tangan keriput si mbah meraup segenggam daging busuk .
Sungguh menjijikkan.
Mak Ai menjerit kecil ketika merasakan sesuatu menyentuh kulit kakinya. Sesuatu yg terasa licin dan dingin. Ia mengarahkan pandangannya ke bawah dan ia pun berteriak tanpa bisa mengeluarkan suara.
Seekor ular berukuran besar berwarna gelap mengitari kakinya. Mak Ai kaget setengah mati, seumur-umur baru melihat penampakan ular yg begitu mengerikan seperti ini.
Tanpa di sangka, ular itu membelit kaki mak Ai, menyebabkan ia jatuh tersungkur ke tanah.
Kemudian tanpa ampun, ular tsb mengikatkan tubuh panjangnya kuat2 ke badan mak Ai yg sedang terkulai lemas.
Ia merasa kesakitan yg perih. Dadanya sesak, ia kesulitan utk bernafas.
Makhluk besar itu semakin menguatkan lilitannya. Mak Ai pasrah sudah. Samar-samar ia mendengar suara tawa di sekeliling nya.
Suara tawa orang-orang di pasar itu. Suara tawa mbah Mar. Suara tawa mereka yg menakutkan.
Kemudian semuanya gelap.

*****
"Mak.. Mak..! " terdengar seseorang memanggilnya. Dengan mata yg masih terasa berat, ia paksakan utk membukanya.
Yang pertama di lihatnya adalah Aida, anaknya sendiri, yg sedang berlinang air mata. Lalu ada suaminya dan beberapa warga di gang tsb.
Mak Ai bengong. Ia celingukan melihat kanan kirinya.
Di atas sana,langit mulai menjelang malam. Kemudian ia teringat peristiwa yg ia alami barusan,ia pun histeris.
Buru-buru suaminya dan beberapa warga itu membopongnya pulang ke rumah.

*****
Ternyata mak Ai hilang sepanjang hari itu. Sampai akhirnya baru di temukan di bagian belakang rumah mbah Mar, pada sore hari mendekati waktu maghrib.
Ia di dapati sedang terbaring pingsan di balik sebuah tempayan besar, yg di pakai keluarga mbah Mar utk menadah air hujan.
Seorang warga yg membantu mencari tanpa sengaja menemukan nya di tempat yg agak ganjil tsb.
Di rumah, mak Ai menceritakan semua kejadian itu, di mulai dari pertemuan nya dgn mbah Mar sampai di tahap ia menemani nya berbelanja.
Para tetangga yg mendengar kisah itu saling berpandangan. Mereka tak yakin. Ekspresi wajah mereka menunjukkan mereka tak percaya dgn semua ucapan mak Ai.
Mak Ai juga sebenarnya sangat berharap semua yg di alaminya tadi hanyalah mimpi, tapi kejadian mengerikan tsb terasa sangat nyata adanya.
Suami mak Ai akhirnya menyudahi obrolan itu.
"Yang penting sekarang kamu sudah ketemu! " ucapnya.
"Dan untuk sekarang kalau bisa jangan pergi belanja subuh-subuh lagi! ".
Mak Ai menghela nafas.
Bingung, cemas dan rasa takut itu sejujurnya masih bisa ia rasakan.

*****
Tengah malam itu, mak Ai tak tahan ingin buang air kecil. Ia bangkit dari ranjang nya dan berjalan menuju dapur.
Di dalam dapur, di balik gelapnya ruangan, matanya menangkap suatu benda tergeletak di samping toilet.
Perlahan ia mendekat ke arah benda yg sepertinya ia pernah lihat sebelum ini. Suatu benda yg di bawa sosok mbah Mar waktu di pasar.

Keranjang rotan itu.
Jantungnya berdegup, nafasnya memburu ketika ia melihat didalamnya, sekumpulan daun2 yg sudah mengering dan sehelai kain kafan dgn banyak noda merah di atasnya.
Persis seperti apa yg mbah Mar beli di pasar, ketika subuh tadi saat ia bersamanya.

Mak Ai pun menjerit histeris.

*****
Sekian cerita buat malam ini sob!
Buat yg udah mantengin dari awal ane ucapin makasih banyak atas atensi nya.

Sampai jumpa lagi di trit ane yg berikutnya.

Good night and sleep tight.

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with IndraOne

IndraOne Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @adelbert_rusty

14 Oct
Malem sob!
Cerita yg akan ane tulis di bawah ini berdasarkan pengalaman seseorang yg bernama Teguh ( nama samaran), yg mana masih ada hubungan kerabat dgn ane sendiri.
Seperti biasa, sebelum kita mulai yuk ramein tritnya dgn rt, like dan komennya sekalian biar ane semangat juga nulisnya. 😊

Kalo udah, so let the haunt begin!
Read 62 tweets
8 Oct
Malam sob!
Ijinkan kami sedikit bercerita utk menemani weekend kalian malam ini. Tapi seperti biasa, sebelum kita mulai, yuk ramein tritnya dg rt, like, komen dan follow sekalian ya😊

Kalo udah, so let the haunt begin!
Widya. Yah, Widya. Nama itu selalu terngiang-ngiang di benakku belakangan ini.
Bukan hanya namanya saja, sosok cantiknya pun selalu menari-nari di pikiranku.
Read 91 tweets
3 Oct
Met malam sob!
Kisah yg akan saya tulis di trit ini di ceritakan oleh seseorang yg bernama, sebut saja Alvin, tentang ibu beliau yg pernah mengalami sebuah kejadian mistis saat sang ibu sedang menginap di sebuah rumah sakit.
Seperti biasanya ya sob,sebelum mulai, like dan rt plus komen, biar trit ini makin rame😄

Kalo udah, so let the haunt begin!
Read 36 tweets
29 Sep
Nenek Punya Cerita

Sebuah cerita pendek tentang pengalaman mistis sang nenek sewaktu kecil.

A Horror Thread

@IDN_Horor
@bacahorror
@Penikmathorror

#bacahorror #ceritahorror
#ceritaserem Image
Malam sob!
Kisah ini di tuturkan oleh seorang wanita paruh baya, yg bernama, sebut saja Siska. Beliau akan berbagi sedikit cerita tentang kenangan masa lalu neneknya yg di ingatnya sewaktu kecil dulu.
Seperti biasa ya sob, like dan rt plus komen kalian sangat di nantikan ya sob biar tritnya rame😊

Kalo udah, so let the haunt begin!
Read 39 tweets
26 Sep
Penumpang Misterius

A horror thread

@IDN_Horor @bacahorror
#ceritahorror #ceritaserem Image
Kisah berikut ini terjadi beberapa waktu yg lalu,penulis akan menceritakan ulang dan menambah beberapa bagian dgn tujuan murni hanya utk dramatisasi cerita sja. So enjoy!
Disclaimer = Nama tokoh dan tempat akan disamarkan, demi mnjaga nama baik yg bersangkutan. Mari kita mulai!
Read 55 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!

Follow Us on Twitter!

:(